At Halte

At Halte by BabyChoi

At Halte

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF / Riechanie Elf)

*kalian bisa baca ff Rien di sini => http://riechanieelf.wordpress.com/ *

Cover by : BabyChoi

Cast :

  • Kim Jong Woon aka Yesung Super Junior as Kim Jong Woon
  • Han Ye Rim (OC)

Genre : romance, comedy

Rated : T

Length : oneshoot

Disclamier : Semua tokoh yang ada di dalam FF ini adalah milik Tuhan YME. Dan apabila ada yang menemukan kesamaan dari segi tempat, nama, lalu alur-alur gaje lainnya mohon di maafkan karena tentu saja Rien engga tahu kenapa bisa sama~ >.< *plak*

WARNING~!!!

Ff ini OOC, terkadang OOT, gaje, alurnya berantakan dan ga sesuai EYD, banyak typo dan mungkin ceritanya buat bingung readers… -_- hehehehehe~ ._.v

So, happy reading readers~!!!

And, please DON’T BASH and DON’T PLAGIAT~!!!

—At Halte—

“Saat kembali di pertemuan yang ketiga kita bisa melihat ada jawaban yang tersirat. Dan akhirnya menjadi sebuah kejelasan yang sungguh indah…”

—At Halte—

Gadis itu terlihat menengadahkan kepalanya memandang langit mendung yang masih saja menurunkan rintik hujan. Tangannya juga ikut menengadah membiarkannya bebas terkena rintik yang dingin di ikuti helaan napasnya pelan dan wajahnya yang tertekuk karena lagi-lagi dia harus meninggalkan payung di saat musim penghujan saat ini.

“Sepertinya kita terjebak hujan lagi, ya?”

Dia terlihat menoleh saat mendengar suara seorang pria di sampingnya. Tangannya yang terjulur menyentuh rintik hujan ikut tertarik ke dalam genggamannya, lalu dia menganggukan kepala dengan sedikit kaku dan membawa dirinya jauh dari pinggiran menuju tempat teduh di halte.

“Aku benci saat hujan seperti ini,” pria yang memiliki mata sipit itu terlihat menarik sudut bibirnya lalu menganggukan kepala membenarkan apa yang di katakan gadis yang ada di sampingnya.

“Lalu kau? Apa kau juga lupa membawa payungmu, Yesung-ah?”

Dan pria yang memiliki nama asli Kim Jong Woon itu terlihat menganggukan kepalanya lalu mentertawakan dirinya sendiri. Dan, sepertinya di sisi lain tak dia perhatikan jika si gadis tengah terdengar mendengus sebal, “Apa menurutmu lucu melupakan payung di hari penghujan seperti ini, huh?”

Yesung menatapnya dari samping lalu terlihat berpikir sebentar, “Lucu. Uhm, aku pikir lucu jika yang meninggalkan payung itu kau, Han Ye Rim!”

Dan candaan Yesung sungguh di tanggapi Ye Rim dengan rengutan di wajahnya. Sesungguhnya Ye Rim juga tak habis pikir mengapa Yesung masih bisa meledek dan mengajaknya bercanda seperti saat ini. Dia yang memikirkan ini menjadi kesal sendiri hingga terlihat menghentakan kedua kakinya dan menggenggam erat tali tas sandangnya.

“Tapi, ku pikir…” kalimat itu terdengar menggantung membuat Ye Rim yang ada di sampingnya melirik dengan rasa penasaran.

Yesung memberikan senyuman misteriusnya pada Ye Rim yang mengerling tak mengerti lalu gadis itu mengusapkan kedua tangannya sambil berdiam diri, “Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, huh?”

Dan lagi, Yesung sebenarnya sangat menyukai bagaimana nada ketus itu keluar dari bibir milik Ye Rim hingga dia tertawa lagi dan membuat gadis yang memiliki rambut panjang berwarna hitam itu jadi kehilangan kesabaran sendiri, “Kau ini? Ck, kenapa senang sekali…”

“Aku pikir kita berjodoh, Ye Rim!”

Dan mata Ye Rim membulat sempurna saat kalimat itulah yang memotong kekesalannya hingga tanpa sadar dia malah menunjukan wajah bodohnya di hadapan Yesung. Ah, benar-benar terlihat bodoh karena gadis itu menatapnya dengan raut wajah yang benar-benar tak cantik seperti wajahnya. Tapi, bukan Yesung namanya jika dia hanya kembali tertawa mengagumi sosok Ye Rim yang selalu bertingkah apa adanya. Sangat natural dan sungguh tidak di buat-buat sebagaimana dia bertingkah dan bersikap di depannya. Dan sungguh, Yesung mengagumi gadis itu.

“Hei! Ck, kau tahu?! Sekarang tingkahmu jadi mirip kekasih Hyo Na kau tahu? Uhm, atau jangan-jangan si Dong Hae memang benar-benar mengajarimu cara menggoda wanita, ya?”

Tapi kali ini Yesung tak meresponnya dengan senyuman atau pun tawa lagi melainkan dia tatapi gadis itu dengan mata sipitnya yang serius hingga yang di tatapi pun merasa sulit sekali hanya untuk menelan salivanya. Ya, siapa yang tak gugup jika kau di tatapi oleh. Ya, katakanlah memang Yesung itu sangat tampan dengan matanya yang sipit dan senyuman manis di wajahnya yang baby face. Oh, sungguh benar-benar membuat wanita manapun yang di tatapi seperti itu pasti akan berdebar aneh.

“Aku tidak belajar dengan siapapun. Aku melakukannya dengan tulus hanya untukmu.”

Ye Rim jadi menatapnya dengan horor. Baginya mendapati seorang Yesung menjadi berbicara serius seperti saat ini benar-benar tak nyaman. Oh, ayolah, gadis itu cukup mengenal Yesung walau sebenarnya tak baik juga mengingat ketika mereka bertemu hanya pertengkaran kecilah yang menghiasinya. Jadi, jarang sekali mereka akan bisa berbicara serius seperti saat ini contohnya.

Hujan masih saja turun di ikuti angin yang berhembus dengan pelan. Suasana halte masih sepi mengingat tak ada orang bodoh seperti mereka yang berdiam diri karena masing-masing orang membawa payung dan ada yang sudah menaiki bis. Jadi, hening menyelimuti mereka berdua, tetapi hal itu lebih terlihat pada Ye Rim yang sebenarnya tak tahu akan membalas apa perkataan Yesung.

“Jadi, kau tidak percaya padaku?” Ye Rim menatapnya dengan bingung, Yesung kembali menganggukan kepalanya lalu tersenyum kecil seperti mengingat sesuatu, “Baiklah, aku akan menceritakan sesuatu hal yang mungkin akan membuatmu percaya kalau aku tak sedang bercanda atau menggodamu seperti hari-hari biasanya,” ucapnya terdengar percaya diri lalu Ye Rim hanya terlihat menggigiti ujung bibirnya gelisah.

—000—

Ye Rim menatap nyalang pada layar ponselnya lalu dia terlihat menekan lagi layar berwarna hijau hanya untuk menghubungi kakak lelakinya yang mungkin saja sudah pulang ke rumah. Lalu setelah menunggu untuk panggilannya di terima dia harus menelan kekecewaan yang sama, yaitu kakaknya tak mengangkat teleponnya. Dan inilah yang membuat dia membenci hari hujan ini.

“Ck, kenapa dengan Yeol San?! Kenapa dia tidak mengangkat telepon adiknya sendiri, huh?! Ck, oppa macam apa dia!”

Akhirnya kembali umpatan kesal dia keluarkan membuat beberapa orang yang berdiri di halte menatapnya dengan takut-takut namun Ye Rim sama sekali tak menghiraukannya. Berbanding terbalik dengan sosok Yesung yang ada di sana, pria bermata sipit itu hanya memerhatikan Ye Rim dengan senyuman jahilnya, “Percuma kau mengumpat bagaimanapun juga hujan tak akan berhenti turun dan oppa mu juga belum tentu akan mendengarnya.”

Ye Rim mendelik kesal ke arahnya. Sungguh, menurut Ye Rim sudah cukup ketika mereka bertemu di kelas dan selalu melihatnya bertingkah meledek dan merendahkannya yang tentu saja membuat Ye Rim kesal. Janganlah sampai pria bermata sipit itu bertemu dengannya di luar kelas dan lagi-lagi membuatnya naik darah karena kesal, “Ck, bukan urusanmu!”

Yesung tertawa kecil mendengar sentakan dari Ye Rim lalu dia terlihat berdiri untuk mendekati gadis itu. Ye Rim sungguh bukan senang mendapat perlakuan dari pria yang sudah dia cap aneh dan menyebalkan itu, dia justru menggeser tempatnya lalu duduk menyamping tanpa mau melihat ke arahnya.

“Awas saja jika dia ada di rumah. Aku akan memukul kepalanya dengan raket tenis ku!”

Yesung yang ada di sampingnya hanya bergidik ngeri mendengar sebuah rencana jahat yang di katakan Ye Rim. Tetapi tak menutup kemungkinan kalau dia menyukai wajah kesal yang di miliki Ye Rim, wajah gadis itu jadi terlihat menggemaskan. Oh, benar-benar pemikiran yang sangat aneh.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu, huh? Kau sudah gila, Yesung?”

Yesung terdengar jadi mentertawakan dirinya sendiri lalu dia melirik Ye Rim yang menatapnya dengan pandangan aneh. “Ck, ya memang aku pikir diriku sudah gila,” dan Ye Rim jadi terdengar mendecak lalu menggelengkan kepalanya.

“Uhm, tapi, aku bisa memberikanmu tumpangan,” tambah Yesung kemudian membuat Ye Rim menatapnya dengan bingung. “Aku bisa menghubungi Jong Jin dan… mungkin aku juga bisa mengantarmu. Dan, itu jika kau mau?”

Ye Rim menatapnya dengan heran dan di beri senyuman manis oleh Yesung. Dan ketika dia mendapati senyuman itu entah mengapa membuat jantungnya jadi berdebar aneh, tak ingin lama-lama memandangi wajah pria yang di capnya aneh itu lalu dia memilih membuang pandangannya ke arah lain. Hening menyerang keduanya dan hanya ada bunyi rintik hujan dan percakapan orang-orang di sekitarnya.

Yesung bergidik heran lalu dia memilih merogoh saku jaketnya dan mulai mencari nama adiknya. “Bagaimana kau mau tidak? Aku menawarkannya hanya…”

“Hm, baiklah aku mau!”

Yesung kini menatapnya tak percaya. Ye Rim bahkan mengatakannya tak melihat ke arahnya sama sekali, tetapi bagi Yesung itu sudah membuatnya bahagai dan tanpa banyak tanya atau bicara lagi dia langsung menganggukkan kepala dan menghubungi adiknya, Kim Jong Jin.

—000—

Ye Rim menepuk-nepuk bagian bajunya yang terkena rintik hujan lalu mengusap helaian rambutnya yang sedikit basah dengan tangannya. Matanya menatap murung kepada rintik hujan yang sepertinya muncul di saat yang sangat tidak tepat. Ye Rim jadi membuang napas berat lalu menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, “Ck, Yeol Nam pasti sudah di rumah sekarang,” ucapnya lalu dia mengusap kasar wajahnya.

Ye Rim bukannya ingin menghubungi Yeol Nam, kakak lelakinya, seperti saat bulan lalu dia menghubungi Yeol Chan untuk menjemputnya pulang. Ya, itu karena Yeol Nam baru saja pulang ke Seoul karena telah menyelesaikan pekerjaannya di Jepang dan dia jadi kesal mengapa dirinya harus telat pulang ke rumah hanya untuk menyambut salah satu kembaran dari Han Yeol Chan, yaitu Han Yeol Nam.

“Hah, padahal aku sangat merindukan Yeol Nam,” ucapnya lemas dan dia memandangi rintik hujan dengan memelas, “Tidak bisakah berhenti sebentar dan mengizinkanku untuk pulang cepat? Tahu tidak? Salah satu oppa kesayanganku pulang hari ini?” tambahnya lagi terdengar menyebalkan lalu dia memilih merogoh saku bajunya untuk mencoba—lagi, seperti bulan yang lalu—menghubungi Yeol Chan yang mungkin saja mau menjemputnya.

Flip.

Ye Rim jadi mendongak mendengar suara yang mengagetkannya lalu dia dapat melihat payung berwarna biru dan seorang pria tengah berdiri di sampingnya. Kernyitan muncul di dahinya karena dia tak mengerti siapa pria itu hingga dia semakin menolehkan kepalanya dan menemukan pria yang di capnya aneh tengah berdiri dengan payung.

“Yesung?”

Yesung memilih melirik dari tempatnya lalu memberikan senyumannya yang manis pada gadis itu membuat dia menampilkan wajah masamnya. Dan payung terlihat menurun dan tertutup untuk kemudian dia mengambil tempat kosong di samping Ye Rim, “Kau selalu bodoh untuk meninggalkan payung di saat yang penting, ya?”

Ye Rim mengernyit mendengar pria di samping itu meledeknya. Dan sungguh dia jadi ingin sekali melemparkan tas sandang yang berisi buku-buku tebal ini ke kepalanya, “Kalau niatmu hanya ingin meledekku lebih baik kau pulang saja!”

“Kau ketus sekali padaku?”

“Lalu buat apa aku tersenyum padamu, huh?”

Yesung jadi terlihat menganggukan kepalanya seakan mengerti apa yang di katakan Ye Rim padanya. Ya, dia sungguh ingat kalau dirinya pun sebenarnya tak bisa dengan sukarela mendapatkan senyuman manis Ye Rim karena dirinya selalu saja menggodanya dan meledeknya seperti contoh yang baru saja dia lakukan.

“Yeol Chan tak menjemputmu lagi?” Ye Rim diam saja membuat Yesung mengernyit bingung, “Kenapa? Dia belum pulang dari tugasnya?” tanya dia lagi membuat Ye Rim lagi-lagi diam saja.

Menghela napas pelan lalu Yesung memilih tersenyum kecil dan memerhatikan rintik hujan yang belum menunjukan tanda-tanda akan reda sama sekali. Tak di sadari pria itu bahwa kini Ye Rim terdiam hanya karena pertanyaan yang dia lontarkan sebelumnya.

“Kau ketus sekali padaku?”

Ye Rim jadi berpikir, apakah dia sejahat itu di mata Yesung dan apakah dirinya memang tak pernah sopan pada pria yang seharusnya dia panggil dengan sebutan oppa di kampusnya. Ah, Ye Rim jadi merasakan perasaan salah padanya, tapi di satu sisi dia jadi mempertanyakan pada dirinya, yaitu mengapa dia harus merasa bersalah pada Yesung bukankah sikap dia dengan Yesung memang sudah sewajarnya.

“Aku akan mengantarmu jika kau mau?”

Ye Rim menolehkan kepalanya ke arah Yesung yang tak memperhatikannya. Ya, sepertinya hening yang lama dan di temani suara rintik hujan akan membuat suasana semakin memburuk mengingat Yesung juga sedikit bersalah karena dia sadar sudah sering membuat gadis yang di kaguminya kesal. Yesung melirik ke arah Ye Rim lalu dia bangkit dari tempatnya sambil mengembangkan lagi payung miliknya, “Mau tidak aku antar? Waktu sudah sangat…”

“Baiklah. Aku mau, Yesung oppa!”

Yesung mengedipkan matanya tak percaya pada panggilan yang baru saja dia dengar dari Ye Rim untuknya membuat dia menjadi terheran untuk beberapa menit sebelum akhirnya dia melihat Ye Rim sudah berdiri dan menepuk bagian bajunya. Gadis berambut hitam panjang itu menatapnya dengan ragu lalu sedikit menunjukan senyuman yang terlihat sangat manis di mata Yesung, “Maafkan aku selalu merepotkanmu, oppa? Hm, aku jadi berpikir memang selama ini sikapku selalu ketus padamu dan… aku benar-benar minta maaf,” dan Yesung sudah tak bisa lagi menahan senyumannya saat mendengar semua pengakuan Ye Rim.

—At Halte—

“Bagaimana kau sudah mengerti, kan?”

Yesung menatapnya dengan senyuman kecil membuat Ye Rim menggelengkan kepalanya tak mengerti. Sungguh, di kepala gadis itu jadi berpikir mengapa Yesung harus menceritakan tentang dua kali pertemuan mereka di halte dan suasana yang sama, yaitu saat hujan turun dan dia tak bisa pulang.

Yesung hanya terdengar menghela napasnya pelan lalu wajahnya entah bagaimana bisa terlihat memohon pada Ye Rim. “Jadi, kau tidak mengerti dengan semua apa yang aku ceritakan padamu? Han Ye Rim?”

“Aku tidak mengerti, sungguh! Kau hanya menceritakan tentang pertemuan kita. Lalu apa yang harus aku mengerti, huh?”

Dan Yesung jadi tertawa mendengar pengakuan yang terdengar polos di telinganya membuat Ye Rim jadi menunjukan wajah tidak terimanya. Sungguh, dia benar-benar tak mengerti dan sekarang Yesung mentertawakannya. Apa itu di matanya yang sipit jadi terlihat lucu, sungguh menyebalkan.

“Kau ternyata polos juga, ya?” Yesung berkata lalu entah mengapa satu tangannya terangkat untuk mengusap helaian rambut hitam milik Ye Rim.

Ye Rim membelalakan matanya tak percaya. Sentuhan tangan Yesung pada helaian rambutnya sungguh pemandangan yang langka dan ini adalah hal pertama yang dia dapatkan dari pria yang sedari dia kenal sudah di capnya sebagai pria yang sangatlah aneh. Dia jadi terlihat menjauhkan tangan milik Yesung dan menatapnya dengan kesal, dia sungguh tak sadar saat ini jika wajahnya merona dan Yesung menangkap jelas di matanya.

“Kenapa kau melakukan itu, huh?”

“Uhm, awalnya aku berpikir untuk membuatmu merasa jelas dan mengerti tentang bagaimana perasaanku padamu,” ucap Yesung entah bagaimana terdengar manis di telinga Ye Rim hingga membuat jantungnya berdegup aneh. Tapi, dia menghiraukannya karena tidak ingin terjebak dengan ucapan-ucapan itu.

“Omong kosong! Ck, berhentilah bertingkah seperti Dong Hae si tukang gombal itu!?”

Senyum muncul lagi di wajah Yesung. Sungguh dia jadi tertarik mendengar apa yang di katakan Ye Rim entah mengapa jadi merasa berkebalikan dengan respon yang di berikan gadis itu, bagaimana dia bisa tahu posisinya sekarang ini. Lihat, Ye Rim tak sadar jika dia benar-benar merona dan masih berkilah tak suka pada tingkah Yesung. Itu munafik atau tingkah apa, Yesung tak mengerti tetapi dia sungguh menikmati apa yang dia lihat sekarang ini.

“Aku sudah bilang padamu, kan? Aku melakukannya karena selama ini… uhm, lebih tepatnya selama dua kali pertemuan yang lalu adalah karena aku mengagumimu, Ye Rim,” jujurnya terdengar serius dan membuat Ye Rim jadi terdiam dengan degupan jantung yang masih saja berdetak menyakitkan namun di satu sisi jadi terasa menyenangkan.

“Pertemuan kita memang konyol, mungkin. Siapa sangka kita akan selalu bertemu di halte dan suasana yang sama, saat hujan. Dan aku jadi tanpa sadar selalu menyukai tiap-tiap momen saat bisa melihatmu dari dekat contoh saja saat mengantarmu pulang dua kali,” tambah Yesung membuat Ye Rim mengernyit bingung namun dia tak berniat menjawab ataupun membalas apapun yang di katakan Yesung.

“Hingga akhirnya di hari kedua di mana aku kembali mengantarmu pulang aku diam-diam berjanji,” menggantung terdengar membuat Ye Rim menatapnya dengan tanya dan meminta penjelasan yang sangat banyak, “Berjanji ketika kita bertemu ketiga kalinya, aku akan mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu,” akhir pengakuan Yesung berakhir dan Ye Rim jadi merasakan adanya banyak kehangatan di tengah dinginnya hujan.

Sungguh di sudut hatinya tertarik mendengar pengakuan yang membuat dirinya jadi berpikir selama ini jika dia juga menyimpan perasaan yang sama. Ya, sungguh munafik ketika kau tahu bahwa ada seseorang yang menjahilimu dan kau malah merasakan nyaman saat kejahilan itu menerpamu dan merasakan kehilangan saat tak ada lagi yang menjahilimu. Dan setidaknya itulah perasaan yang pernah hinggap pada Ye Rim selama dia berada di dekat Yesung tetapi tak pernah di goda atau di ledek.

“Jadi, apa kau sudah mengerti? Ini pertemuan kita yang ketiga kalinya, lagi pula aku sudah mengakui semua perasaanku padamu…”

“Katakan sekali lagi!”

Yesung jadi mengernyit heran namun tak menutup kemungkinan jika dia menjadi tersenyum bahagia. Jadi, apa pernyataan tentang perasaannya sudah di setujui oleh Han Ye Rim yang selalu membenci jika dia lupa bawa payung dan sangat membenci hujan.

“Cepat katakan sekali lagi atau kau akan menyesalinya!”

Dan Yesung tak ingin membuang kesempatan ini kedua kalinya hingga dia tersenyum sambil menggenggam sebelah tangan Ye Rim dan membawanya mendekat dada, “Aku mencintaimu selama ini, Han Ye Rim,” ucapnya lembut dan pipi Ye Rim terlihat merona.

“Jadi bagaimana? Kau menerimaku menjadi kekasihku atau tidak? Karena aku sebenarnya membawa payung dan mungkin bisa mengan…”

“Aku tak perlu memberikan jawaban yang jelas padamu, Kim Jong Woon!”

Senyuman jahil keluar di wajah Ye Rim dan membuat Yesung tanpa sadar menarik gadis itu dalam pelukan hangatnya, “Baiklah, aku anggap kau menerimaku, Han… ah, bukan, tapi Kim Ye Rim!”

Dan mereka terlihat saling memandang satu sama lain. Sungguh, hujan mendadak terlihat sedikit reda daripada sebelumnya dan mungkin itu berkat langit yang melihat ada pancaran kebahagiaan yang menguar dari sepasang kekasih baru, Kim Jong Woon dan Han Ye Rim.

Ah, cinta itu manis ternyata…

.

.

.

.

END

Yatta~ akhirnya ending~ gimana pada suka sama ff perdana dengan maincast Yesung ga??? >^< Eheheheheheh~😀

Uhm, ini adalah pertama kalinya Rien bawa Yesung untuk jadi maincast di ff… dan sedikit memberikan bumbu Hyo-Hae di dialog?!😄 ahahahaha~

Sedikit Rien jelasin yah mengapa ff ini tercipta~ uhm, harus Rien akui lihat mv Devil membuat Rien jadi berpikir entah bagaimana bisa Yesung jadi terlihat… em, sexy? Him so sexy with sexy dance?!😄 kkkkk~ lols~ just kidding, readersdeul~!

Tapi, sungguh! Rien suka sama tatapan Yesung yang… menggoda? Bisa di katakan begitu di mv Devil dan Rien jadi berpikir untuk membuat ff dengan cast Yesung. Dan tadaaa~ akhirnya ff ini tercipta begitu saja~ ^^ eheheheheh~

Dan Rien meresmikan untuk nama couple ini adalah… Ye-Ye couple~~!!! ^^ hohohohoh~ aneh? Atau malah lucu, ya? Uhm, Rien serahin pada kalian untuk menanggapinya~!!!

Dan mianhae kalo ini gaje dan aneh sama seperti Yesung~ *pletak* dan semoga aja kalian suka dengan ff perdana ini, ya~~~!!! And the last, thanks to my readersdeul for reading my ff~! don’t bored for playing in my blog~! See u next time in my ff~!!! ^^

[Friday, July 24, 2015]

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: