Destiny

Destiny by BabyChoi

Destiny

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF / Riechanie Elf)

*kalian bisa baca ff Rien di sini => http://riechanieelf.wordpress.com/ *

Cover : BabyChoi

Cast :

  • Kim Ki Bum Super Junior as Kim Ki Bum
  • Cho Hyo Na (OC)

Genre : romance, hurt

Rated : T

Length : oneshoot

Disclamier : Semua tokoh yang ada di dalam FF ini adalah milik Tuhan YME. Dan apabila ada yang menemukan kesamaan dari segi tempat, nama, lalu alur-alur gaje lainnya mohon di maafkan karena tentu saja Rien engga tahu kenapa bisa sama~ >.< *plak*

WARNING~!!!

Ff ini OOC, terkadang OOT, gaje, alurnya berantakan dan ga sesuai EYD, banyak typo dan mungkin ceritanya buat bingung readers… -_- hehehehehe~ ._.v

So, happy reading readers~!!!

And, please DON’T BASH and DON’T PLAGIAT~!!!

Future for coment please~!!!^^

—Destiny—

“Hanya bersama denganmu aku merasakan kebahagiaanku sudah tercukupi…”

—Destiny—

Lagi, dia mendatangi tempat yang sama ini untuk entah yang ke berapa kalinya sejak beberapa tahun yang lalu. Dan, tentu dengan tempat yang selalu sama dia duduki dan dia ratapi, entah apa yang ada di pikirannya hingga membuatnya selalu berada di tempat yang sama dan melakukan hal yang sama tanpa merasa adanya kebosanan dalam hidupnya. Tak ada yang membuatnya bosan dan lelah, sungguh.

Duduk sendirian di tempat yang seperti ini membuat dia tentu saja bukan hanya mengingatkannya pada seseorang, tetapi juga mengingatkannya pada Tuhan. Entahlah, entah berapa banyak doa yang dia rapalkan hanya untuk kembali melihatnya di tempat yang sama dan di jam yang sama seperti saat ini. Entah berapa kali dalam hidupnya setelah beberapa tahun yang lalu.

“Kau datang lagi ke sini, Hyonnie?”

Gadis itu yang bernama lengkap Cho Hyo Na mendongak menatap sosok wanita tua yang khas dengan pakaian susternya, dia adalah kepala suster di gereja yang tentu sering dia datangi. Hyo Na memilih berdiri dan membungkuk hormat seperti pada biasanya lalu membalas perkataan itu dengan senyuman yang selalu sama, “Hanya berkunjung sebelum pergantian hari, Suster Ahn,” Ahn Hee Jung, nama suster wanita itu kini terlihat ikut duduk di sampingnya.

Dan kini dia seperti menyerahkan sebuah kalung berbandul salib yang indah pada Hyo Na yang ada di sampingnya. Kernyitan bingung sudah muncul di dahinya, lalu di tatapnya suster Ahn dengan pandangan meminta penjelasan, “Ambilah. Kau membutuhkan ini, Nak,” dan Hyo Na menerimanya dengan canggung.

“Dia juga selalu datang dulu. Berdoa di sini dan kemudian pulang ke panti untuk menjagamu,” tambahan terdengar dari suster Ahn membuat Hyo Na kini menjadi tersenyum kecil, “Itu sudah menjadi kebiasaannya, Suster Ahn,” ucapnya sambil mengingat kembali bagaimana cerita tentang orang yang mereka bicarakan saat ini.

“Dan dia sekarang jadi sangat jarang berkunjung karena kesibukannya sendiri,” ucap suster Ahn pelan lalu mengambil sebelah tangan milik Hyo Na untuk dia usapkan dengan lembut. Manik mata hitam itu menatap tepat pada usapan lembut itu, senyumannya terlihat miris saat tahu dia sangat merindukan sosok yang di ceritakan tersebut, “Keberadaannya saja aku tak tahu, Suster Ahn,” kata Hyo Na pelan lalu terdengar hembusan napas berat darinya.

“Kau tahu? Tuhan selalu memberikan setiap garis takdir pada umat-Nya?”

Hyo Na menatap suster Ahn dari samping dengan seksama, dia sepertinya akan mendapatkan pencerahan lagi dari suster yang berumur tiga puluhan itu saat ini hingga dia menyamankan posisi duduknya untuk mendengarkan dengan baik.

“Mungkin kalian memang terpisahkan saat ini. Tetapi, pasti ada saatnya kalian di pertemukan seperti janji tak terlihat yang di tuliskan Tuhan pada tiap-tiap takdir kalian,” suster Ahn tersenyum menatap Hyo Na yang menunjukan matanya yang sedikit berembun karena menahan tangis.

Satu usapan tepat pada pipinya dia dapatkan, rasanya sangat lembut dan bahkan sangat nyaman di rasakan oleh Hyo Na hingga dia tersenyum sambil memejamkan erat kelopak matanya. Suster Ahn dapat melihat lagi kini senyuman gadis yang sudah di kenalnya sangat lama jadi terlihat lebih tulus dan hidup, tak seperti sebelumnya yang terlihat palsu dan memaksakan.

“Kau tak perlu menangisinya itu akan membuatnya merasa sedih tanpa kau sadari. Kau hanya perlu berdoa dan terus berharap agar dia kembali padamu, Hyonnie.”

Satu tetes air mata dengan selukis senyuman akhirnya muncul. Rasanya lega sekali saat mendengar betapa perkataan suster Ahn menguatkan perasaannya selama ini. Ya, perasaan hancur dan kehilangan yang selalu menenggelamkannya hingga dia selalu merasa hidupnya sungguhlah palsu.

Kalung berbandul salib sudah tersemat manis melingkar pada lehernya. Helaian rambut sebahunya bahkan seperti membingkai wajahnya yang memang manis, dia tersenyum melihat bandul tersebut dan menggenggamnya untuk berdoa dalam hati.

Suster Ahn tak bisa berkata lagi, dia hanya memandang ke arah depan tepat pada salib besar yang terpampang di depan matanya. Lalu dia juga berdiam hanya untuk merapalkan doa-doa pada Tuhan untuk gadis di sampingnya dan harapan-harapannya.

Damai sekali suasana gereja di sore hari ini. Sepi memang dan sungguh membuat Hyo Na dan suster Ahn merasakan jika gereja ini hanya milik mereka berdua. Mereka yang selalu bercengkrama mengenai Tuhan, lalu mereka yang saling berbicara untuk menguatkan perasaan satu sama lain dan berakhir dengan Hyo Na yang tak pernah lelah selalu mengunjungi panti dan berbagi kebahagiaan di sana.

“Kau masih ingin di sini, Hyonnie?”

Suster Ahn sudah berdiri hendak pergi menuju panti, Hyo Na terlihat menggelengkan kepalanya dengan senyuman lembutnya. Suster Ahn tak mampu memaksa gadis tersebut hingga dia akhirnya memilih untuk menganggukan kepala dan pergi pamit menuju panti, “Singgahlah ke sana jika kau ingin dan kalau bisa makan malamlah bersama kami. Kau mau, kan?”

Hyo Na tak menjawabnya dengan suara melainkan dengan anggukan kepala dan lagi dengan senyuman tulus yang dia miliki. Lalu, suster Ahn terlihat pergi meninggalkannya sendirian di gereja yang memang sepi tersebut. Dan, lagi, keadaan menjadi hening dan hampa namun Hyo Na tetap menyukainya walau sebenarnya hati dia tak menyukai semua ini.

Tangannya terlihat terkepal di depan dada bersamaan sebuah bandul salib yang dia pegang erat. Matanya tertutup rapat-rapat dengan mulutnya yang merapalkan beberapa banyak doa dan harapan agar apa yang dia pinta bisa segera terwujud, lalu kemudian dia membuka matanya dan menatap lama ke arah kalung berbandul salib tersebut.

“Aku ingin dia ada di sini. Satu kali. Dua kali. Atau berapa kali pun. Aku ingin melihatnya!”

—000—

Dia terlihat bersembunyi di balik tubuh suster Ahn yang baru saja memasuki ruangan penuh dengan anak-anak yang tentu tengah bermain-main. Tak ada yang memperdulikan sosok yang bersembunyi tersebut karena suster Ahn masih ada di dekatnya dan mencoba untuk mengajaknya berbaur dengan anak yang lain.

“Hyonnie harus bermain dengan yang lain, ya? Kau mau, kan?”

Gadis kecil itu justru menunjukan wajah ingin menangisnya dan menggeleng kepalanya dengan kuat. Dia menolak. Dia ketakutan. Dan dia merasa asing berada di tempat yang baru seperti ini. Hingga suster Ahn hanya terdengar menghela napas pelan dan mengusap punggung gadis kecil itu dengan lembut untuk memberikan kesan nyaman dan melindungi padanya.

Tak di perhatikan mereka berdua bahwa dari kejauhan ada sosok anak lelaki yang memperhatikan dengan mata datarnya. Dia terlihat sendiri dengan beberapa buku-buku dan tak berbaur dengan anak-anak yang lain karena sikapnya yang di cap aneh. Tetapi, dia sungguh tertarik pada sosok baru yang ada di balik tubuh suster Ahn hingga tanpa sadar dia berjalan mendekati keduanya.

“Oh, Kibummie? Ada apa, Sayang?” suster Ahn bertanya lembut sambil mengusap helaian hitam legam milik anak yang bernama lengkap Kim Ki Bum tersebut.

Hyo Na semakin menyembunyikan dirinya saat Ki Bum tak menjawab malah mendekatinya dengan wajah datar. Sungguh dia benar-benar ketakutan di tatap seperti itu dan di dekati seperti itu hingga dia tak sadar membuat tubuh suster Ahn sedikit tertarik karena dirinya yang memeluk erat.

“Hiks, Ibu… hiks, hiks…”

Dan berakhir dengan Hyo Na yang sudah menangis karena ketakutan. Suster Ahn panik dan akhirnya menggendong Hyo Na dengan tangannya yang mengusap punggung gadis itu, Ki Bum masih melihatnya dengan tatapan datar, “Kibummie tak boleh menatap Hyonnie dengan tatapan seperti itu! Kau tahu? Itu akan menakutinya, Sayang,” nasihat suster Ahn pada Ki Bum.

Tetapi apa yang di dapati suster Ahn saat ini, saat tepat nasihatnya selesai Ki Bum terlihat merogoh saku celananya dan mengeluarkan satu bungkus permen coklat di hadapan Hyo Na dan membuat gadis kecil itu terdiam dengan air mata yang masih membanjiri wajahnya, “Suster Ahn, aku mau menjaga Hyonnie, boleh, kan?”

Suster Ahn sampai harus menahan senyumannya saat mendengar Ki Bum berbicara seperti itu padanya hingga dia melirik sekilas pada Hyo Na yang ada di gendongannya. Suster Ahn tak menjawab melainkan dia menatap lagi pada Ki Bum dengan tatapan tanya, “Kenapa ingin menjaganya? Suster juga bisa menjaga…”

Ki Bum menggelengkan kepalanya membuat suster Ahn mengernyit bingung, “Biar aku saja yang menjaganya! Aku yang akan menjaga Hyonnie!” ucapnya terdengar keras kepala hingga suster Ahn kini mulai menurunkan Hyo Na dengan pelan.

Setelah gadis kecil itu turun dari gendongannya terlihatlah Ki Bum yang menyodorkan permen coklat itu padanya. Hyo Na takut untuk menerimanya hingga dia memilih menundukan kepalanya dengan kedua tangannya yang meremas ujung pakaiannya, “Ambilah! Aku ingin bermain denganmu, Hyonnie!”

Dan Hyo Na sudah terlihat mendongak untuk menatap permen yang ada di tangan Ki Bum bergantian dengan Ki Bum yang sudah menunjukan senyuman pada wajahnya. Sedikit tertegun melihatnya tetapi Hyo Na pelan-pelan menerima uluran permen itu dan setelahnya dia di tarik Ki Bum untuk bermain bersama.

Suster Ahn hanya memperhatikan dua orang yang baru mengenal itu dengan senyumannya. Tak salah jika dia membawa Hyo Na dan sudah secara tak langsung mengenalkannya pada Ki Bum, tak salah sikapnya karena Ki Bum yang meminta dan Hyo Na yang sepertinya terlihat menerima.

“Syukurlah,” ucapnya pelan lalu di matanya kedua anak kecil itu bahkan sudah terlihat tertawa bersama sambil bermain-main.

—000—

Hyo Na terlihat baru saja memasuki gereja setelah dia mengganti seragam sekolahnya dan memakai baju santai. Ya, memakai kaos berwarna biru muda dan rok yang tak terlalu pendek berwarna putih dan menambahkan bandana hitam pada rambutnya. Hyo Na jadi terlihat manis di masa-masa remajanya, lebih tepatnya usia dia yang sudah memasuki bangku tahun kedua masa-masa SMP.

Dia berjalan terus ke dalam gereja itu sambil menyandungkan lagu-lagu rohani yang dia ingat karena sering menyanyikannya bersama teman panti yang lain. Lalu ketika matanya menangkap sosok yang dia kenal tengah duduk diam di salah satu bangku, dia jadi berjalan mendekat dan menghentikan lagu-lagu dari bibirnya.

“Kenapa kau belum mengganti seragammu, Kibummie?”

Ki Bum kini menoleh ke arah Hyo Na yang sudah duduk tepat di sampingnya. Gadis itu dengan rambut sebahu dan bandana yang tersemat pada helaian rambutnya entah bagaimana membuat Ki Bum yang melihatnya menjadi berdebar-debar hingga dia tak sadar jadi tak menjawab apa yang di tanya gadis itu.

“Kibummie? Ck, kenapa kau melamun, eoh?”

Dan, syukurlah dia cepat sadar dan mengalihkan pandangannya pada salib yang ada di depannya. Lalu kedua orang itu terdiam satu sama lain, Ki Bum tak kunjung menjawabnya dan Hyo Na yang sepertinya memilih diam saja karena sudah mengerti bagaimana sikap Ki Bum.

“Aku akan ke sekolah lagi setelah ini,” Hyo Na menoleh tiba-tiba menatap bingung ke arah Ki Bum, “Aku akan membantu beberapa temanku untuk belajar. Kau tak ingat jika aku sudah tingkat tiga?” dan Hyo Na menganggukan kepalanya sambil sedikit tertawa kecil seperti menyadari betapa bodohnya dirinya.

“Hm, kalau begitu selamat belajar buatmu!” riang sekali nada itu untuk telinga Ki Bum hingga pria yang memakai kacamata itu kini melirik Hyo Na yang tersenyum ke arahnya, “Ah, aku akan membuatkanmu bekal? Boleh, kah?” dia terdengar bertanya lagi pada Ki Bum untuk meminta izin.

“Hyonnie…”

“Uhm, aku harap kau tidak menolaknya! Ck, kau selalu saja menolak apa yang aku berikan? Membuatkan bekal, menemanimu piket… uhm, membantumu kalau kau merasa susah… uhm, apalagi, yah?”

Dan Ki Bum tersenyum sendiri mendengar Hyo Na yang bermonolog ria tentang dirinya. Tak habis dia pikir, mengapa dirinya benar-benar merasa di perhatikan Hyo Na dan lebih melupakan dirinya sendiri hanya untuk Hyo Na. Ki Bum jadi merasa konyol untuk dirinya sendiri, “Apa aku memang seperti itu menurutmu?”

Hyo Na menganggukan kepalanya dengan cepat lalu dia membuka mulut untuk berbicara lagi dengan suara kekanakan khasnya, “Iya, kau selalu seperti itu padaku. Uhm, makanya kau sering melakukan pekerjaanmu tanpa sepengetahuanku,” Ki Bum tertawa mendengar apa yang di katakan Hyo Na untuknya.

Lalu sebelah tangannya terangkat tanpa sadar mengacak rambut milik Hyo Na dengan lembut. Bahkan tangan itu terasa hangat bagi Hyo Na hingga dia mematung sebentar dan kemudian merasakan panas pada pipinya hingga membuat dia menundukkan kepala tanpa dia suruh.

“Aku hanya tak ingin menyusahkanmu, Hyonnie. Ck, tetapi, terimakasih kalau kau sudah sangat memperhatikanku selama ini!”

Dan entah mengapa kalimat Ki Bum padanya terdengar seperti mengiris perasaan lain di hatinya. Ya, dia memang selalu memperhatikan Ki Bum sejak dulu. Lebih tepatnya sejak mereka kecil dan tumbuh bersama-sama. Keduanya yang sama-sama tak bisa beradaptasi karena dunia baru dan sama-sama ketakutan, sungguh saat itu hanya diri mereka sendiri yang merasakan ada hal lain yang membuat nyaman hingga bertahan sampai sekarang.

Senyuman itu muncul tetapi terlihat tak tulus dan itu tak tertangkap jelas di mata Ki Bum. Tetapi, demi niat baiknyalah Hyo Na mendadak bangkit dari tempatnya dan berdiri di hadapan Ki Bum dengan senyuman yang sudah dia rubah, “Uhm, jadi, kau akan menerima bekal buatannku, kan?”

Dan Ki Bum tak bisa menolak. Apalagi ketika mendengar pertanyaan manja yang keluar dari bibir Hyo Na padanya, memohon untuk tak menolak dan menerima apa yang dia berikan untuk Ki Bum. Di pikiran Hyo Na saat ini adalah bagaimana membuat Ki Bum tak sadar pada perasaannya dan membalas apa yang telah Ki Bum berikan padanya.

—Destiny—

Hyo Na terlihat baru saja masuk ke dalam panti di mana anak-anak kecil lainnya tengah asik bermain dengan teman mereka dan bermain dengan mainan mereka. Dia tersenyum kecil saat beberapa pasang mata anak kecil itu menatapnya dengan polos dan beberapa anak mendekatinya dengan senyuman dan sapaan kecil padanya.

“Huwa, Hyo noona datang berkunjung hari ini?”

Salah satu anak kecil yang paling dekat dengan Hyo Na mendekatinya dan memeluk Hyo Na erat sambil berjongkok. Anak-anak lain terdengar memekik bahagia dan mendekati kedua orang itu dengan wajah-wajah polos, Hyo Na entah bagaimana merasa terhibur sekali melihat senyuman setiap anak-anak kecil.

“Uhm, kali ini apa Hyo eonni akan membacakan dongeng lagi?”

“Iya, eonni, bacakan kami dongeng lagi, ya?”

“Hyo eonni…”

Dan begitulah terdengar beberapa anak yang memohon padanya hingga dia tak bisa menolak dan memilih duduk di sana dengan seorang anak kecil yang tiba-tiba saja mengantarkannya sebuah buku dongeng. Hyo Na mengelus puncak kepala anak tersebut dengan lembut, lalu membaca judul pada buku itu dengan senyuman yang entah mengapa dia paksakan keluar, “Snow White? Uhm, bukannya aku sudah pernah membacakannya?”

Anak-anak kecil itu terlihat menganggukan kepalanya dan berkoar menjawab jika apa yang di tanyakan Hyo Na benar. Dan, Hyo Na menjadi menatap mereka satu per satu, “Kami hanya ingin di bacakan itu saja!” salah satu anak berbicara dan Hyo Na jadi tertawa mendengarnya.

“Hyo noona cocok seperti Snow White yang berambut pendek!”

Hyo Na jadi menganggukan kepala mendengar berbagai macam alasan yang masuk pada telinganya. Dia tersenyum lagi lalu terlihat membuka halaman pertama pada buku itu dan mulai membacakannya pada anak-anak kecil yang sudah berkumpul di sana.

Tak jauh dari sana suster Ahn mengamati Hyo Na dengan senyuman lembutnya. Wanita itu memandang sendu pada gadis yang sebenarnya terlihat mati-matian harus menahan perasaannya pada sosok yang di rindukannya. Apalagi mendapati fakta kalau cerita dongeng yang dia bacakan adalah salah satu cerita favorit yang sering Hyo Na dengar dari sosok yang di rindukan.

Selesai mengamati suster Ahn memilih untuk undur diri dari tempat itu, namun baru saja dia akan melangkah ke depan tetapi tiba-tiba saja langkahnya berhenti saat menatap sosok yang tak asing lagi tengah berdiri di depannya.

Pria berkacamata dengan rambut hitam legam dan jangan lupakan tatapan datar yang terlihat di balik senyuman ramahnya. Suster Ahn sampai harus membekap mulutnya dan mencoba meyakinkan dirinya jika apa yang dia lihat adalah nyata bukanlah khayalan.

“Suster Ahn, sudah lama sekali tidak bertemu?”

Dan suster Ahn merasa lemas ketika sosok itu berbicara menyapanya hingga dia hampir kehilangan keseimbangan kalau tak segera di tahan oleh sosok itu yang kini menatapnya dengan khawatir. Suster Ahn sekilas menatap pintu yang dia tutup, tempat di mana ada Hyo Na dan kumpulan anak-anak yang tengah mendengarkan dia berdongeng. Remasan pada tangan sosok itu di dapatinya dan suster Ahn jadi terlihat menangis kecil, “Kibummie, Anakku… hiks,” dan kata itu tak mampu keluar karena sosok yang bernama Ki Bum itu memeluk suster yang sudah dianggapnya ibu dengan erat.

“Aku kembali Suster Ahn,” ucapnya pelan dan tak sadar ikut menangis.

—000—

Kedua orang itu terduduk di bangku yang sama setiap bertemu di gereja. Tetapi kali ini bukan karena ingin berdoa akan harapan yang mereka buat, tetapi mereka memilih terdiam satu sama lain dengan sebuah kertas yang berada diantara mereka. Sebelumnya ada pembicaraan kecil yang tentu tak berarti dan berhenti tiba-tiba karena sebuah kertas yang di bawa Ki Bum.

“Jadi, kau akan menerima tawaran itu?”

Ki Bum tak menjawab melainkan menganggukan kepalanya dengan ragu. Hyo Na yang ada di sampingnya jadi menghela napas berat lalu dia berusaha menampilkan senyuman di wajahnya sebaik mungkin, “Jadi, kenapa kau terlihat murung seperti sekarang?”

Ki Bum menatap dia dari samping dengan pandangan yang menusuk, tak suka nada bahagia yang tentu di buat-buat Hyo Na untuknya. Hingga Hyo Na menutupi ketakutannya hanya dengan kekehan kecil dan sedikit gurauan, “Ck, kenapa menatapku seperti itu?”

Satu tangan dia tarik membuat Hyo Na menatapnya dengan sempurna, Ki Bum jadi tak ingin melepaskan tangan yang sudah teramat sering dia genggam selama ini. Apalagi dengan kebiasaannya yang selalu mengusap helaian rambut Hyo Na, “Jangan berpura-pura bahagia seperti itu di depanku!”

Mutlak dan terdengar memerintah. Hancur sudah pertahanan Hyo Na saat kalimat itu terucap dari Ki Bum hingga dia merasakan pandangannya mengabur karena air mata yang sudah terlihat turun melalui pipinya. Ki Bum terenyuh menatapnya hingga dia tarik Hyo Na dalam dekapan hangatnya dan mengusap punggung kecil itu dengan lembut.

Tak di pungkiri lagi Hyo Na yang terisak sedih sambil menarik seragam sekolah milik Ki Bum dengan erat seakan tak rela melepaskannya dan di tinggalkan. Inilah yang akhirnya menjawab ketakutan Ki Bum selama ini, sebuah perpisahan yang sebenarnya tak benar-benar memisahkan mereka mengingat betapa kuat setiap perasaan yang tercipta diantara keduanya, walau belum terucap lewat kata-kata.

“Inilah yang aku takutkan selama ini, Hyonnie. Maafkan aku,” lirih pelan Ki Bum sambil menanamkan kecupan pada puncak kepala Hyo Na yang menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mendongak ke arah Ki Bum, “Aku… hiks, aku rela hanya untuk menunggumu kembali!”

“Hyonnie, ini tak seperti yang kau…”

“Kim Ki Bum, cepat raih apa yang kau inginkan! Jangan hanya karena menjagaku dan karena kau…”

“Aku menyayangimu Hyonnie!”

Dan hening menyelimuti keduanya. Tangis dari Hyo Na berhenti mendadak karena gadis itu masih membeku mendengar kalimat yang paling ingin dia dengar dari Ki Bum untuknya. Sedangkan Ki Bum menatapnya dengan penuh keseriusan tepat pada manik matanya sambil berusaha meyakinkan Hyo Na dengan apa yang dia ucapkan adalah sebuah fakta.

“Aku menyayangimu hingga aku tak bisa…”

“Kim Ki Bum!” sentakan terdengar dingin dari Hyo Na membuat Ki Bum sempat terpana mendengarnya, satu tarikan napas Hyo Na tunjukan di hadapannya menandakan jika dia tengah serius, “Kau mengambil apa yang kau inginkan atau aku akan membencimu selamanya? Kau akan memilih apa?”

“Hyonnie…”

“Aku tak ingin menjadikanku sebagai bebanmu! Jadi, jangan pikirkan aku dulu saat ini, pikirkan bagaimana kerja kerasmu mulai membuahkan hasil!”

Dan gadis itu terlihat berdiri memunggungi Ki Bum yang hanya bisa memandangnya sendu. Dia tak mampu memegang tangan Hyo Na untuk terakhir kalinya, mungkin. Ingat dia akan pergi jauh untuk mengejar impiannya seperti apa yang di katakan Hyo Na padanya. Sedangkan Hyo Na mulai menangis dalam diamnya, belum cukup mampu hanya untuk beranjak dari tempatnya hingga dia meremas ujung baju miliknya erat-erat.

“Hyonnie…” lagi panggilan lembut Ki Bum yang entah bagaimana membuatnya lemah dan dia memutuskan untuk meninggalkan Ki Bum sebelum berucap, “Kau ambil impianmu dan kembalilah ke sini secepatnya! Aku berjanji akan selalu menunggu dan menjaga hatiku untukmu!”

Dan jelas sudah pernyataan tersebut. Hyo Na sudah pergi jauh meninggalkan Ki Bum yang kini menatap kosong ke arah pintu gereja yang terbuka dan sudah tak menampilkan sosok Hyo Na lagi.

—Destiny—

Hyo Na baru saja meletakan salah satu anak yang sepertinya tertidur karena mendengar dongeng yang dia bacakan di atas kasur di bantu dengan suster lainnya. Lalu dia memilih menduduki kasur itu masih memerhatikan anak yang tertidur itu dengan senyuman sambil mengelus helaian rambut miliknya dengan lembut.

Suster Ahn baru saja datang dan melihat Hyo Na yang duduk di sana dengan lamunannya. Tak ingin mengejutkan gadis itu hingga dia kini hanya mengusap pelan helaian rambut milik Hyo Na dengan lembut dan membuat gadis itu mendongak untuk menatap suster Ahn dengan senyumannya.

“Berhasil lagi membuat Nae Jin tertidur seperti biasanya?” Hyo Na tertawa kecil mendengarnya lalu memfokuskan menatap seorang anak kecil yang bernama Nae Jin itu dengan senyuman dan masih memainkan helaian rambutnya.

“Ah, Hyonnie… kau harus ke gereja lagi sebelum pulang!”

“Ada apa Suster Ahn? Uhm, tak seperti biasanya kau menyuruhku untuk datang berkunjung lagi ke sana?”

Suster Ahn tersenyum kecil sambil mengelus pipi milik Hyo Na lalu kemudian dia menarik bandul salib yang dia berikan tadi untuk dia tatap. Hyo Na hanya diam saja memerhatikan tingkah laku suster Ahn yang entah mengapa sangat berbeda dari biasanya bahkan entah sadar atau tidak suster itu menangis bahagia di depannya membuat Hyo Na jadi khawatir.

“Aku tidak apa-apa, Hyonnie! Uhm, ku pikir, cepatlah berkunjung ke gereja lagi sepertinya tak ada salahnya, kan?”

Dan Hyo Na mengangguk membenarkan perkataan suster Ahn tanpa menyadari sebuah hal lain yang coba di sampaikan suster Ahn padanya. Lalu dia terlihat bangkit dari tempatnya dan menatap suster Ahn dengan senyuman kecil, “Hm, baiklah aku akan ke gereja sebentar! Dan, aku pikir setelahnya aku akan pulang saja ke rumah! Aku takut membuat khawatir Jang Mi karena aku belum izin keluar tadi,” dan suster Ahn menganggukan kepalanya sambil tersenyum.

Sebelum benar-benar Hyo Na pergi suster Ahn sempat memeluknya erat sekali. Ini sebenarnya adalah hal biasa yang selalu di lakukan suster Ahn padanya sebelum pulang ke apartemennya, memeluknya dan selalu mendoakan kebahagiaan untuknya. Hyo Na selalu saja berterimakasih pada suster yang sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya, mengingat kedua orangtua Hyo Na yang sudah tiada dan keluarganya menyerahkan sepenuhnya Hyo Na pada panti.

Dan Hyo Na sungguh tak akan marah pada keadaan yang dia rasakan. Ya, keluarga dari kedua orangtuanya sampai sekarang masih dengan baik hatinya selalu memperhatikan dan membantunya walau hanya sebagian kecil dan membuat Hyo Na jadi terlihat ada di muka bumi ini. Bukan seperti sebelum-sebelumnya saat keluarga dari kedua orangtuanya belum menemukannya.

Hyo Na baru saja melangkah memasuki gereja yang sebelumnya dia datangi lalu menatap sekeliling gereja yang terlihat sepi dan tak ada pengunjung kecuali seorang pastor yang masih duduk di dekat piano sana. Dan tiba-tiba saja matanya menatap heran pada sosok pria yang tentu tak dia kenali tengah duduk di bangku miliknya.

Sebelumnya dia tak habis pikir bagaimana bisa ada yang duduk di sana mengingat jam malam sudah ada di depan matanya, sungguh kalau pun itu orang lain dia tak akan mungkin memilih bangku yang sering dia duduk bersama dengan seseorang yang dia rindukan.

Oh, sungguh saat ini dia jadi bertanya-tanya tentang siapa orang itu hingga dia membawa langkahnya mendekat ke bangku yang selalu dia duduki. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Dan berakhir entah ke langkah berapa sebelum menjadi sangat dekat dan akhirnya Hyo Na merasakan sesak pada bagian hatinya membuat dia tanpa sadar menitihkan air mata sambil membekap mulutnya dengan kedua tangan.

Dia terkejut bukan main ketika apa yang dia lihat entah mengapa sungguh nyata hingga dia takut jika kenyataan ini hanya fatamorgana saja. Dia memilih terisak diam di samping pria yang kini sudah melihat ke arahnya, “Hiks, Kim… Kim Ki Bum?”

Dan pertahanannya hancur sudah saat pria yang selama ini selalu dia tunggu dan dia rindukan ada di hadapannya. Ki Bum bahkan tersenyum lembut ke arahnya membuat dia merasakan jika sendi-sendinya melemas dan membuatnya ambruk hingga terduduk dengan isakan kecil. Tak sadar jika dia juga meremas bandul kalungnya yang bergambar salib dengan ucapan syukurnya.

Ki Bum menjadi berjalan mendekati Hyo Na yang sepertinya masih terlalu kalut pada pertemuan mereka saat ini. Ya, ini pertemuan mereka yang entah di tahun ke berapa setelah kelulusan Ki Bum saat SMA dan meninggalkan Hyo Na yang duduk di tingkat tiga SMA saat itu. Ya, saat hanya suster Ahn lah yang tahu jika itu adalah tahun-tahun yang berat untuk Hyo Na jalani tanpa Ki Bum di sisinya.

Ki Bum mengangakat Hyo Na untuk berdiri dan dia tuntun untuk duduk di bangku yang memang sering mereka duduki. Ki Bum bahkan tak lupa untuk mengusap air mata milik Hyo Na yang masih membasahi pipinya lalu memberikan senyuman terbaik yang dia miliki, “Aku sudah pulang dan tentu menepati apa yang aku impikan selama ini,” Hyo Na tak tahan lagi mendengar suara Ki Bum hingga dia mendekap pria itu erat.

Dan bersyukurlah Ki Bum memiliki reflex yang cepat hingga membuat dirinya tak terjatuh karena Hyo Na yang memeluknya mendadak. Dia jadi terlihat tersenyum merasakan Hyo Na kembali menangis di atas dadanya, benar-benar masih sama seperti saat mereka masih kecil dan hidup bersama.

“Hiks, jangan tinggalkan aku lagi! Ku mohon, Kibummie!”

Dan Ki Bum mengelus punggung Hyo Na dengan lembut dan tersenyum kecil, “Tidak akan. Dan tidak akan pernah. Hei, berhentilah menangis seperti ini! Uhm, ini sambutan yang kau berikan padaku setelah sekian lama tak bertemu?”

Hyo Na memberi jarak pada keduanya hingga dia mengusap air matanya dengan cepat dan entah mengapa di mata Ki Bum gadis yang sebenarnya sudah dewasa itu kembali lagi menjadi sosok yang kekanakan. Dia tak berubah sama sekali, pikirnya senang. Dan matanya kini menangkap sebuah pandangan yang mengundang dia ingin menyentuh, bandul salib yang di pakai Hyo Na.

“Suster Ahn yang memberikannya padaku,” Ki Bum menatap wajah Hyo Na yang baru saja menyelesaikan penjelasannya. “Kibummie, kau berjanji tidak akan meninggalkanku lagi?” tanya lagi yang di lontarkan Hyo Na padanya akhirnya membuat Ki Bum menarik gadis itu hingga mengecupnya di dahi sangat lama.

“Aku berjanji!”

Senyuman muncul dari kedua wajah mereka. Ki Bum masih mempertahankan kecupannya pada dahi milik Hyo Na tak ingin melepaskannya walau sebenarnya dia masih ingin menatap wajah manis milik Hyo Na.

“Aku akan menikahimu, Hyonnie,” pengakuan terdengar kemudian membuat Hyo Na tiba-tiba mendongak dan memperhatikan Ki Bum yang sudah menatapnya dengan lembut.

Kedua tangan pria itu sudah menggenggam tangan Hyo Na dengan erat dan menariknya mendekat pada dadanya. Dia tersenyum sambil memerhatikan betapa wajah Hyo Na jadi sangat kekanakan dengan pandangan matanya yang berkilat polos dan masih belum mengerti, “Aku akan menikahimu dan akan membawamu kemanapun aku pergi. Kau bersedia, kan, menjadi istri dari anak-anakku kelak?”

Dan lagi Hyo Na tak bisa menyembunyikan segala tangisnya. Sungguh, bukan karena tangis itu karena dia sedih. Cukup untuk kesedihan karena dia sangat merindukan Ki Bum selama beberapa tahun terakhir ini. Tetapi saat ini, sungguh tangisnya adalah sebuah bentuk kebahagiaan yang sudah tak bisa lagi dia utarakan dengan kata-kata.

“Wah, Hyo eonni akan menikah!”

“Ah, Hyo noona persis seperti Snow White!”

Dan keduanya kini saling melihat ke arah pintu di mana di sana sudah ada beberapa anak kecil dan tentu saja suster Ahn ada di sana tengah tersenyum menatap kebahagiaan yang di rasakan Hyo Na dan Ki Bum.

Hyo Na saja sampai harus menutupi rona pipinya saat mendengar banyak anak kecil yang terus menggoda dan memujinya, sedangkan Ki Bum dia sudah menggenggam erat tangan Hyo Na dan tak akan melepaskannya atau berniat meninggalkannya lagi.

Ki Bum terlihat berjongkok di hadapannya membuat Hyo Na merasakan ada begitu banyak letupan kebahagiaan yang di rasakannya. Mata itu masih sama, pandangannya yang menunjukan kalau dia sangat menyayangi dan tentu saja mencintai Hyo Na saat mereka masih kanak-kanak dan hingga sekarang.

“Hyonnie mau kah kau menerimaku sebagai seorang suamimu?”

Dan tanpa mampu di katakan lagi olehnya Hyo Na hanya beringsut mendekap Ki Bum sebelum dia mengucapkan kata, “Aku ingin! Aku sangat ingin menjadikanmu suamiku! Hiks, Kibummie, aku mencintaimu!”

Dan berakhir sudah penantian Hyo Na selama ini tentang rasa rindunya pada sosok Ki Bum yang tak tertahankan. Tentang dirinya yang selalu duduk sambil berdoa di tempat yang sama. Lalu tentang bagaimana dia mencoba merangkai kebahagiaan bersama dengan Ki Bum yang sudah ada di sisinya.

Lalu, inilah bentuk dari segelintir kebahagiaan yang Hyo Na dapatkan. Yah, hanya karena ada Ki Bum di sisinya dia sudah merasa bahagia.

.

.

.

END

Yuhhuuuu~~ annyeong yeoreobeun~ uhm, kali ini Rien bawa ff dengan maincast Kibum~!!! Adakah yang merindukan Kibum seperti Rien merindukannya? Ck, cukup untuk Rien katakan kalo Rien bener-bener merindukannya hingga terciptalah ff ini~

Yah, sekedar mengingatkan juga bahwa masih ada satu member lagi yang masih belum kembali dari kesibukannya dengan impian yang dia miliki *ingat kata Hyuk dan Teuki oppa kan kalo impian Kibum oppa adalah di dunia seni peran dan mereka sangat bersedia jika membawa Kibum kembali?* :’D

Hehehehe~ yah, kita doakan saja semoga Kibum benar-benar kembali bersama ke dalam Super Junior. Yah, pasti pada kangenkan dengan Kibum? Dan, masih adakah yang menantikannya berdiri di atas panggung bersama dengan member lain? :’)

Duh, Rien sampe baper~ ah, semoga kalian terhibur ne sama apa yang Rien buat~!!! ^^

Oke, gomawo buat yang sempat baca ff Rien, ne~! and next time in my ff~!!! ^^

[Wednesday, July 24, 2015]

1 Comment (+add yours?)

  1. Imyneohins
    Sep 27, 2015 @ 06:23:50

    Kyaaaaaaa jadi kengen kibum T.T feelnya kerasa thor, daebak Dx

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: