Sorry and I Love You

de

Title : Sorry and I Love You

 

Author : Meika Refiana a.k.a Shin Na Young

 

Cast : Park Ji young (OC)

Lee Donghae

Lee Hyukjae

Im Yoona

Park Jung Soo

Other cast

 

Genre : friendship, family, school life, continue.

 

Visit my personal wp : meikarefiana.wordpress.com

 

*Chapter 1

 

Meika’s Speech :

Ini FF gaje karya author yang tergaje. FF yang muncul dari imaginasi seseorang yang telah jatuh cinta kepada ketampanan Lee Donghae. Donghae lagi memenuhi otak saya sehingga jadilah FF gaje ini. Maaf kalau banyak kata yang tidak sesuai EYD atau banyak Typo, authorkan bukan makhluk yang sempurna, walaupun udah di cek berulang kali tetep aja Typo masih ada jadi maklumin ya. Maaf juga kalo bahasa yang digunakan kurang jelas, atau terkesan terlalu cepat. Kritik dan saran author terima, tapi gunakan bahasa yang sopan ya.. Author sadar masih banyak kesalahan dalam FF ini, tapi tolong hargai kerja keras author.

 

Eh iya, sampul FFnya jelek. Maaf karena author kan masih newbie ya jadi tahu sendiri laah, nggak pinter ngedit fotonya. Hihihi.. semoga kalian nggak bosen ya baca FFnya, semoga bisa baca sampe akhir. Gomawo udah mau baca.

 

Selamat membaca ^_^

 

Pagi hari saat matahari tengah muncul dan tersenyum. Perlahan kubuka kedua mataku bersiap menyapa mentari pagi. Pancaran cahayanya membuatku terbangun dari tidur lelapku. Hari ini aku akan memulai kembali hari hari yang seperti biasa kulalui. Kulihat jam di meja kamarku, sekarang jam 06.10, ini belum terlalu siang. Kuusap kedua mataku untuk menyempurnakan kesadaranku dan bergegas bersiap untuk sekolah hari ini.

Tiba saatnya sarapan, aku bergegas menuju ruang makan dengan dandanan layaknya seorang siswa. Ternyata semua anggota keluarga sudah berkumpul.

“Ji young-a” Sapa lelaki paruh baya.

“Nde appa, mianhae apa kalian sudah lama menungguku?”
“Ani..”

“Pagi eomma..” Sapaku pada eomma, dia seperti cuek saat aku datang tadi. Jadi aku akan menyapanya terlebih dahulu.

“Eemmm.. duduk” Jawabnya cuek. Itu bukan jawaban yang aku inginkan, setidaknya dia mengatakan ‘hai’ atau ‘pagi’ kepadaku. Tapi baiklah, tidak apa apa.

“Pagi eonnie..” sapaku pada eonnie

“Pagi…”
Aku segera duduk dan menyantap sarapan yang sudah tersedia di meja makan pagi ini.

 

Aku melewati koridor kelasku, aku berangkat terlalu pagi sepertinya. Keadaan disini masih sepi, bahkan jumlah orang yang berada di bangunan ini bisa dihitung dengan jari. Tapi lebih baik seperti ini dari pada aku harus telat dan mendapat hukuman. Aku pernah mendapat hukuman karena terlambat, saat itu aku bangun kesiangan aku mengira hari itu adalah akhir pekan. Setidaknya ini lebih baik daripada terlambat. Tak ada seorangpun dikelas, lebih baik aku jalan jalan dulu. Udara disini cukup segar karena disekolah ini banyak ditumbuhi pohon. Saat aku melewati taman sekolah, aku melihat seseorang sedang duduk sendirian. Aku menghampirinya, mungkin dia juga mengalami hal yang sama dengannya yaitu berangkat terlalu pagi.

“Hai…” Sapaku pada gadis itu. Gadis itu menoleh kepadaku, sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan gadis ini.

“Emm.. apakah aku mengganggu?”

“Anio..” Jawab gadis itu

“Kau kenapa? Kenapa sendirian?” Tanyaku pada sang gadis yang belum kuketahui namanya itu. Tapi gadis itu tetap diam, mungkin dia tak ingin ada yang mengganggu. Mungkin sebaiknya aku pergi saja. Aku beranjak dari kursi taman tersebut.

“Tunggu…” gadis itu telah menahanku agar tidak pergi, aku duduk kembali.

“Nde.. mianhae jika aku menggangu.”

“Anio, sudah kubilang tidak, perkenalkan namaku Im Yoona.”

“Aku Park Ji young.”

“Ini jam berapa? Kau berangkat pagi sekali.”

“Emm jam setengah delapan. Kau sendiri kenapa sendirian disini?” Tanyaku penasaran, sejak tadi aku mengamatinya, seperti terjadi sesuatu dengannya, mungkinkah aku lancang menanyakan kepada orang yang baru kukenal?

“Aku…” Dia berhenti mengatakannya, padahal aku ingin sekali tahu. Tapi apa hakku untuk mendesaknya bercerita kepada orang yang baru dia kenal.

“Gwaenchana kalau tidak mau cerita, mungkin itu sesuatu yang pribadi untukmu. Tapi apa kau murid baru? Sepertinya aku belum pernah melihatmu.” Tanyaku padanya, karena setelah diperhatikan aku belum pernah melihatnya di sekolah ini.

“Iya.. aku murid baru disini.”

 

oOo

 

Sekarang aku berada di sebuah gedung yang cukup besar. Tidak, sangat besar. Ini adalahsekolah baruku. Aku baru saja pindah ke Seoul dari Mokpo.

Kucari tempat kelas baruku, sekolahan ini cukup luas jadi aku harus mengingat jalan menuju kelas.

 

Jam pelajaran telah usai, aku segera pergi dari kelas. Saat aku ingin keluar dari kelas aku menabrak seseorang. Buku buku yang dibawanya terjatuh, aku membantunya mengambil dan mengemasi kembali buku buku yang jatuh tersebut.

“Mianhae…” ucap orang yang kutabrak.
“Anio.. aku yang minta maaf.”

“Tapi aku juga ceroboh, maafkan aku.” dia menunduk kepadaku dan pergi.

 

oOo

 

Hari ini aku kembali melakukan aktivitasku yaitu sekolah, sejak kemarin aku bertemu Yoona aku merasa aku harus menghiburnya. Walaupun aku tidak tahu apa masalahnya setidaknya aku bisa menjadi temannya. Aku berangkat pagi hari seperti kemarin dan segera menuju taman, benar saja Yoona ada disana.

“Yoon…” Sapaku padanya.

“Ji young.” Dia menoleh kepadaku

“Hai…” Aku duduk disebelahnya, kuperhatikan wajahnya. Masih seperti kemarin.

“Yoon, kulihat dari kemarin sepertinya ada sesuatu denganmu. Maaf aku lancang, tapi apa aku boleh tahu masalahmu?”

“Ji young-a… aku tidak bisa bercerita dengan orang yang baru kukenal, tapi denganmu sepertinya aku bisa berbagi cerita.”

“Nde…” Ucapku sambil mengamati wajah Yoona lekat lekat.

“Aku sedih karena pindah ke Seoul, aku harus berpisah dengan sahabat sahabatku dan…” Dia menghentikan perkataannya, sepertinya orang yang akan disebutkannya adalah orang yang berarti untuknya.

“Yoon, kau bisa dapat teman juga disini. Dan jika kau mau, aku juga bisa menjadi sahabatmu..” Kataku tulus kepadanya, sejak pertama melihatnya aku merasa dia adalah orang yang baik.

“Jiyoung.. terKimakasih sudah mau menjadi temanku.” Dia memelukku. Yah, selama ini memang aku tak punya teman dekat. Setelah lulus SMP aku harus berpisah dengan sahabatku, Na Youngra.

“Yoon, jangan bersedih lagi, mulai saat ini aku akan menjadi sahabat barumu..” Aku mencoba meyakinkannya dan membuatnya tersenyum.

“Jiyoung, terKimakasih.” Kini dia tersenyum kepadaku, aku melihat senyumnya tapi kurasa masih ada kesedihan dihatinya.

“Yoon, tadi kau belum menyelesaikan ucapanmu. Apa orang itu sangat berarti untukmu?” Tanyaku, mungkinkah aku terlalu lancang menanyakannya?

“Dia.. dia adalah kekasihku, namanya Taecyeon. Rasanya baru saja aku menemukan orang yang bisa membuatku bahagia, tapi kini aku harus berpisah dengannya.” Ceritanya kepadaku, aku tahu sejak awal pasti dia orang yang sangat berarti untuk Yoona.

“Yoon, aku yakin kalau kalian berjodoh kalian akan dipertemukan kembali. Percayalah bahwa Tuhan selalu melakukan yang terbaik” kali ini aku berusaha membuatnya sedikit lega.

“Youngie.. gomawo, sekarang aku sudah sedikit lega.”

 

Bel berbunyi tanda waktu istirahat telah tiba, semua siswa bergegas menuju kantin. Aku berjalan menuju tempat Yoona, sahabatku. Aku berencana mengajaknya ke kantin bersama.

“Yoon, ayo kita ke kantin bersama.” Ajakku pada gadis berparas cantik tersebut.

“Ayo.. aku juga lapar.” Dia tersenyum kepadaku dan menarik tanganku untuk segera menuju kantin. Aku bersyukur dia sudah tersenyum sekarang, bagaKimanapun hal yang paling seorang sahabat inginkan adalah melihat sahabatnya tersenyum. Aku dan Yoona mengambil beberapa makanan ringan dan jus buah.

 

“Yoon aku kesana dulu, aku mau mengambil tempat, nanti keburu penuh.”

“Baiklah, aku akan menyusul.”

 

Saat aku berjalan menuju kursi yang kosong, aku menabrak seseorang. Suasana kantin memang ramai, makanan ringan dan jus yang kubawa terjatuh. Aku segera memungutinya, syukurlah bajuku tidak kena tumpahan. Kulihat tangan seseorang juga ikut mengambil makanan yang jatuh. Aku menoleh ke atas dan berdiri. Dia, orang yang menabrakku adalah salah satu siswa baru di kelasku.

“Mianhae, aku tadi tidak sengaja.” Dia meminta maaf kepadaku, benar dia adalah murid baru itu.

“Gwaenchana..”

“Bukankah kau yang kemarin aku tabrak di kelas?” Ucap lelaki itu setelah menyadari bahwa dia pernah bertemu dengan gadis di hadapannya.

“Ne? Oooh mianhae, saat itu aku tidak sengaja.” Ucap Jiyoung merasa bersalah.

“Gwaenchana, aku juga minta maaf. Oh iya, namaku Lee Donghae.” Donghae berkata dengan mengulurkan tangannya.

“Aku, Park Jiyoung.” Dengan senang hati Jiyoung membalas uluran tangan Donghae.

“Jiyoung, sekali lagi aku minta maaf.” Ucap Donghae kemudian dia beranjak pergi dari hadapan Jiyoung.

 

Setelah kejadian itu, aku bergegas menemui Yoona, dia sudah duduk dikursi dan mulai memakan makanannya. Aku segera menghampirinya.

“Maaf, tadi aku..” Sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku Yoona menyelanya.

“Tidak apa apa, kau tidak apa apa? Bajumu kotor tidak?”

“Tidak..”

“Aku lihat tadi makananmu jatuh. Kau jadi tidak makan, ayo makan ini. Sepertinya aku tidak bisa menghabiskannya sendiri”

“Kau saja yang makan aku sedang tidak ingin makan.” Kataku berbohong, sesungguhnya aku ingin memakan sesuatu tapi jika aku harus mengambil kembali makanan di kantin waktuku tidak akan cukup karena sudah hampir masuk.

Perut Jiyoung berbunyi dengan kerasnya. Ouuhhh.. benar benar perut ini!

“Heish.. jangan berbohong, perutmu tidak bisa membohongiku, ayo makan bersama.”

 

Sekarang jam pulang sekolah, aku berniat untuk pergi ketaman setelah pulang sekolah. Sebenarnya aku ingin mengajak Yoona, tapi dia ada kursus hari ini. Aku duduk dibangku taman, akhir akhir ini banyak tugas dari guru. Aku cukup stress karena itu. Setelah merasa sedikit tenang, aku berjalan keluar dari taman. Tak sengaja aku bertemu Donghae. Sebenarnya sejak pertama melihatnya aku suka dengan dia, entahlah ini cinta atau bukan. Yang pasti aku merasa dia adalah pria yang baik. Aku tak sengaja menabraknya saat bel pulang sekolah, aku yang malu langsung pergi berlari dari hadapannya. Sungguh, apa aku jatuh cinta? Tidak tidak. Mana mungkin.

 

“Jiyoung, sedang apa kau disini?” Sanya seseorang di sebelah Jiyoung.

Jiyoung tersentak kaget dan menoleh ke arah sumber suara dan menyadari bahwa orang yang di sebelahnya adalah Donghae.

“Aku.. tadi habis jalan jalan di taman.” Jawabku seadanya. “Kau sendiri kenapa disini?” Lanjutku bertanya padanya.

“Aku akan pergi ke rumah Hyukjae.”

“Begitu, aku pergi dulu.” Aku beranjak pergi dari hadapan pria itu, sesungguhnya aku gugup berhadapan dengannya. Aku menyembunyikan rasa gugupku mati matian tadi.

Aku tahu, semenjak Donghae pindah kesini dia dekat dengan Hyukjae –ketua kelas di kelasku-. Apa aku benar benar jatuh cinta kepadanya? Kenapa tadi aku sangat gugup? Aaah, molla… aku juga tak tahu.

 

 

*Chapter 2

 

Setelah selesai kursus seni musik, aku langsung pulang menuju rumah. Aku bertemu dengan salah satu murid baru di Royal Presiden High School juga, sama sepertiku. Sedang apa dia disini? Dari pada penasaran aku menemuinya.

“Hai.. kau murid baru Royal Presiden High School ya?” Tanyaku padanya. Sepertinya aku tidak salah, dia memang murid baru itu.

“Iya, kenapa?” Tanyanya balik kepadaku.

“Tidak apa apa. Sedang apa kau disini?” Tanyaku. Aku penasaran kenapa dia ada disini. Apa mungkin dia tinggal di daerah sini?

“Rumahku disekitar sini.” Jawabnya. Aaahh.. benar bukan dugaanku.

“Benarkah?? Aku juga tinggal disini. Rumahku yang itu” Kataku sambil menunjuk ke arah rumah bercat kuning dengan halaman yang luas.

“Oh begitu, rumahku didekat supermarket di ujung jalan sana.” Ucapnya.

“Begitu.. tidak terlalu jauh.” ucapku padanya. “Kalau begitu aku duluan ya.” Pamitku padanya karena kini aku sudah berada di jalan tepat di depan rumahku.

 

Yoona memasuki rumahnya meninggalkan Donghae yang masih harus berjalan beberapa ratus meter lagi sebelum sampai di rumahnya.

 

Pria yang ditinggalkan masih menatap gadis itu lekat lekat sampai pintu rumah itu tertutup. Pria itu masih memandangi pintu rumah yang sudah tertutup itu.

“Yoona, iya namanya Yoona. Dia juga salah satu murid baru di Royal Presiden High School.” Ucapku setelah tersadar. Dia gadis yang cantik, pikir Donghae.

 

Matahari bersinar terik, hingga panasnya dapat membuat orang mencela sang matahari yang terlalu bersinar terlalu terik itu. Jam istirahat telah usai, sekarang semua murid Royal Presiden High School masuk ke kelas masing masing. KKim songsaenKim masuk kelas dengan santainya. Dengan membawa beberapa buku di tangannya dan tak lupa kacamata yang selalu dipakainya. Semua murid sudah siap menerKima pelajaran dan tugas dari KKim SongsaenKim.

 

“Untuk pelajaran hari ini saya tidak akan menerangkan apapun karena materi ini sudah saya jelaskan minggu kemarin. Saya akan memberi tugas kepada kalian tentang materi kemarin yang sudah saya sampaikan. Saya sudah membagi kelompoknya, setiap kelompok ada empat anggota. Sekarang kalian diskusi tema apa yang akan kalian gunakan untuk karya ilmiah kalian. Saya beri waktu 15 menit untuk menentukan tema. Saya akan keluar ruangan, maka dKimohon jangan berisik. ” Ucap KKim songsaenKim panjang lebar. Kemudian dia mengumumkan kelompok dan keluar ruangan. Aku satu kelompok dengan Yoona, Hyukjae, dan… Donghae. Bisakah aku bersifat biasa di depan Donghae? Aku akan berusaha menyembunyikannya. Waktu 15 menit telah usai, KKim songsaenKim kembali ke kelas.

“Yap, kalian sudah menentukan tema kelompok kalian masing masing, saya beri waktu membuat karya ilmiah itu selama 2 minggu. Kalian sanggup?” ucap KKim songsaenKim dengan meninggikan nada suaranya saat kata ‘sanggup’ terucap.

“Sanggup!” teriak semua siswa dengan tegas pula. Semua siswa disini memang diharuskan disiplin dan bisa mengerjakan tugas sesuai dengan waktu yang di tentukan. Jika terlambat maka yang didapat adalah hukuman dari guru.

 

Pulang sekolah rencananya kami akan mengerjakan tugas dari KKim songsaenKim. Rasanya aneh sekelompok dengan Donghae. Aku harus terlihat biasa saja ketika berhadapan dengannya. Dia tidak boleh tau kalau aku menyukainya, aku akan malu nanti.

 

oOo

 

Sekarang aku sedang berada di rumah Yoona, aku tak sendiri ada Donghae dan Hyukjae juga. Kami mulai mendiskusikan karya ilmiah yang harus secepatnya kami buat. Yoona datang dengan membawa gelas dan beberapa camilan, walaupun dengan baju yang sederhana dia masih terlihat cantik. Dia benar benar gadis yang cantik, beruntungnya jadi dia pasti mudah untuk menaklukan hati seorang lelaki.

 

Diskusi sudah selesai, setidaknya kami sudah membuat seperempat dari karya ilmiah itu. Donghae adalah anak yang cerdas, dia seperti sudah sangat menguasai tema karya ilmiah yang kami usung.

‘Sudah tampan, cerdas lagi’ pikirku ‘BagaKimana bisa ada lelaki menakjubkan seperti itu’. Aku tersadar dari pikiranku dan bergegas merapikan buku bukuku.

“Diskusinya sudah selesai, jadi aku harus pulang. Sampai jumpa..”

Ketika aku akan berdiri Yoona tiba tiba menahan tanganku.

“Youngie, kau kan bisa pulang dengan Hyukjae dan Donghae. Lagi pula rumah Hyuk juga dekat bukan dengan rumahmu?” kata Yoona sambil melirik kearah Hyukjae yang masih asik berbicara dengan Donghae.

“Mianhae, tapi setelah ini aku akan pergi kesuatu tempat lebih dahulu” jawab Hyukjae menghentikan obrolannya dengan Donghae setelah tahu dirinya disebut sebut.

“Geurae, aku bisa pulang sendiri” Aku sebenarnya bukannya tidak mau, tapi aku takut jika terlalu lama berdekatan dengan Donghae nanti aku ketahuan kalau aku menyukainya, aku bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Daritadi aku benar benar mencoba menahan diri untuk terlihat biasa saja di depan Donghae, tapi aku tak bisa lama lama lagi sekarang. Lagipula diskusi sudah selesai untuk hari ini.

“Kalau begitu Donghae saja yang pulang dengan Jiyoung” kini Yoona melirik Donghae. “Kau setelah ini langsung pulang kan?” tanya Yoona pada Donghae.

“Iya, aku langsung pulang” jawab Donghae datar.

“Tidak usah, aku akan pulang sendiri. Lagian Donghae kan rumahnya dekat sini, sedangkan rumahku masih jauh” Jawabku asal. Kenapa Yoona menyuruh Donghae mengantarku? Itu bener benar membuat jantungku berdegup cukup kencang.

“Youngie.. Kau ini keras kepala sekali” Ucap Yoona sambil menatap Jiyoung yang keras kepala itu.

“Gwaenchana, aku pulang sendiri saja ya?” Jawabku. Aku bergegas pergi. Benar benar, aku akan mati kalau pulang dengannya. BagaKimana bisa aku menahan perasaanku kalau aku dekat dekat dengannya.

 

Setelah pulang dari rumah Yoona aku memutuskan kerumah kakak sepupuku terlebih dahulu, sudah lama aku tak mengunjunginya. Dibanding dengan JKimin Eonni, aku justru lebih dekat dengan Jungsoo Oppa. Entah apa yang membuatku merasa nyaman tiap bersama Jungsoo Oppa, aku juga tak tahu. Mungkin karena dia orang yang baik dan kadang suka bercanda. JKimin Eonni memang selalu sibuk, apalagi sekarang dia sedang melanjutkan studinya di Amerika. Jarang pulang ke rumah dan pastinya kita jarang bertemu. Sejak kecil kami memang tidak begitu dekat, aku juga tak tahu kenapa itu bisa terjadi.

“Jung soo Oppa..” Panggilku memasuki rumah dengan membuka pintu utama.

“Iya, eh Jiyoung sudah lama tak berkunjung” Kulihat Jungsoo Oppa keluar dari dapur dan menghampiriku. Dia mempersilahkanku masuk dan duduk dikursi ruang tamu.

“Aku sibuk.” Kataku padanya sambil merenggangkan otot otot kecilku. Berjalan cukup membuat otot otot menjadi tegang. Tiba tiba Jungsoo Oppa menjitak dahiku pelan, walaupun pelan jitakkan itu cukup membuat dahiku sakit.

“Ya! Appo..” Rintihku sambil mengusap dahiku yang terasa sedikit sakit.

“Sesibuk apapun dirKimu kau tak boleh melupakanku” Katanya. Ciih, dia pikir dia siapa? Dia kan hanya kakak sepupu, bukan pacar ataupun kakak kandung. “Arra?” sekarang dia berteriak kepadaku.

“Arraseo..” Jawabku tak kalah keras.

“Kau dari mana? Masih membawa tas.” Tanyanya padaku sambil melirik tasku.

“Aku tadi habis mengerjakan tugas kelompok” Jawabku seadanya

“Benarkah? Kau tidak sedang berkencan dengan seseorang kan?” Selidiknya.

“Ani, memangnya aku punya pacar?” Jawabku enteng.

“Masa iya gadis secantik dirKimu tak punya pacar? Aku tidak percaya” Ucap Jung Soo tak percaya.

“Aku tidak berbohong, tapi kalau kau tak percaya yasudah” Ucapku sambil memalingkan muka darinya.

“Arra,aku percaya. Malam ini eomma akan memasak sesuatu yang istKimewa. BagaKimana kalau kau tidur disini?” Ucap Jungsoo Oppa sambil masih terus memperhatikan wajah Jiyoung yang barusan berpaling dari wajahnya.

“Masak apa?” Kini Jiyoung memalingkan wajahnya lagi sehingga dia berhadapan lagi dengan Jungsoo Oppa.

“Sepertinya hidangan baru untuk restorannya” Jawab Jungsoo Oppa.

“Jinja? Wah, pasti enak. Baiklah, tapi aku harus menghubungi appa dulu” Ucapku padanya. Aku takut nanti Appa mencariku kalau aku tidak pulang dan tak menghubunginya.

“Biar nanti aku saja yang ijin pada ayahmu” Ucap Jungsoo sambil menarik tangan Jiyoung ke dapur, mengajaknya melihat Kimonya memasak menu makan malam.

 

Makan malam telah siap di meja makan, tertata rapi menggiurkan lidah. Aromanya benar benar membuat perut Jiyoung semakin tidak bisa menahan rasa laparnya. Masakan Kimo memang selalu enak, aku selalu rindu dengan masakannya. Segera ku lahap makanan yang ada di depan mata, tak peduli bahwa yang lain belum memulai untuk makan.

“Kimo.. ini benar benar lezat. Eem.. mashitayo” Ucapku dengan mengacungkan jempol dengan mulut penuh makanan.

“Geurae? Bagus kalau begitu, jadi Kimo akan segara menjualnya di restoran” Ucap Kimo sambil sedikit terkekeh melihat tingkah Jiyoung.

“Emm..” Jawabku singkat.

 

Setelah makan malam, aku bergegas ke kamar yang sudah disiapkan Kimo untukku. Ranjang di kamar itu terasa sedang melambai lambai memintaku untuk segera terlelap di atasnya. Aku merebahkan tubuhku pelan di atas ranjang dan mulai tertidur, memasuki alam mKimpi.

 

 

Suara seorang gadis terdengar menggema. Terlihat dia sedang kesal sembari mengacak ngacak rambutnya.

“Aigoo.. aku kan tidak bawa baju untuk sekolah. BagaKimama ini? Arrrgh..” Ucapku frustasi setelah mandi.

Tiba tiba pintu kamar terbuka. Aku menoleh ke arah pintu untuk mencari tahu siapa yang membukanya.

“Wae? Ada apa?” Tanya Jung soo Oppa padaku.

“Aku tidak membawa baju sekolah, aku bisa terlambat” Ucapku padanya dengan muka kebingungan.

“Ini masih jam setengah tujuh, kupikir kau tidak akan terlambat jika pulang sekarang dan cepat cepat ganti pakaian”

“Em, arra. Aku akan ganti pakaian dan setelah itu kau antar aku kerumah” Ucapku masih dengan keadaan panik.

“Arra, aku tunggu di teras. Aku akan segera menyiapkan motorku” Dia secepat kilat pergi. Sepertinya dia juga ikut panik.

“BagaKimana aku bisa lupa? Aish..” Gerutuku pada diriku sendiri.

 

Aku membonceng Jungsoo Oppa menuju rumah, sampai rumah aku bergegas masuk. Sebelum membuka pintu aku menoleh dan berteriak.
“Gomawo sudah mengantar Oppa..” kataku padanya. Jungsoo Oppa hanya mengangguk dan beranjak pergi dengan melambaikan tangan.
Aku berlari menuju rumah. Aku sungguh takut kalau nanti bisa bisa aku terlambat sekolah. Terdengar ada suara gaduh di rumah, tepatnya di kamar Appa. Ada apa ini, aku mendekat ke kamar ayah dan mendengar percakapan yang sedang terjadi di dalam sana.

“Kau masih berhubungan dengan wanita itu?” Teriak seorang wanita

“Aku tidak berhubungan dengannya, aku hanya ingin memastikan dia baik baik saja. BagaKimanapun juga dia ibu dari anakku”
“Ooh, ternyata kau masih memperdulikan keadaannya?”

“Terserah kau saja lah” Jawab seorang pria pasrah, dia sudah lelah menghadapi sang istri.

“Kau tau betapa sakitnya aku ketika mengetahui kau memiliki anak dari perempuan lain?” Teriak sang istri namun suaminya masih tidak menghiraukan teriakan itu.

“Setelah itu aku harus merawat anak dari perempuan itu dan berpura pura sebagai ibu kandungnya?” Teriaknya kembali.

“Tapi kau tidak pernah menganggap Jiyoung seperti anak kandungmu sendiri, kau bersikap acuh padanya. Kau lebih menyayangi JKimin, semua terlihat jelas dari caramu memperlakukan mereka” Teriak sang suami.

DEG! Detik itu juga semua badanku terasa lemas, aku seperti tidak sanggup lagi berdiri.

 

 

*Chapter 3

Seorang lelaki paruh baya keluar dari kamarnya, dia melihat kondisiku sekarang. Dia berjalan mendekatiku dan seperti ingin menjelaskan sesuatu padaku, semua itu tampak dari raut wajahnya yang terlihat cemas. Tapi sebelum dia menjelaskan sedikitpun aku segera berlari pergi meninggalkan rumah.

“Jiyoung..” panggil lelaki itu. Aku tak memperdulikannya, aku terus berlari keluar dari rumah itu.

 

Di taman kota Seoul aku menangis sejadi jadinya. Aku tak ingin pulang setelah mendengar kenyataan itu. Biarlah aku melepaskan semuanya disini. Biarlah taman ini menjadi saksi tangisanku. Situasi cukup sepi disini, setidaknya aku bisa menangis tanpa harus memikirkan orang lain akan terganggu.

 

Hari sudah mulai gelap, aku masih terdiam ditaman, aku tak tahu harus bagaKimana sekarang. Tangisanku mungkin sudah mulai mereda, namun aku masih tak tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Kembali ke rumah? Tentu aku belum ingin untuk kembali ke rumah itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?

 

oOo

 

Sekarang aku sedang berada di salah satu supermatket di kota Seoul untuk membeli beberapa bahan masakan untuk membuat menu baru di rumah. Eomma menyuruhku untuk membeli beberapa bahan itu karena persediaan bahan di rumah telah habis. Setelah membeli bahan makanan tersebut aku keluar dari supermarket dan menyalakan mesin motorku menuju rumah. Namun di tengah perjalan aku melihat adik sepupuku -Jiyoung- berjalan sendirian di area taman, sedang apa dia disini malam malam begini. Aku memperhatikannya dengan seksama, dan benar saja bahwa itu Jiyoung.

“Youngie..” Sapaku padanya setelah mematikan mesin motorku dan turun.

“Oppa..” lirihnya kepadaku. Astaga, dia habis menangis. Ada apa dengannya?

“Young, kau kenapa?” Tanyaku padanya.

“Oppa.. eomma bukanlah ibu kandungku” Katanya dengan raut sedih. Dia berusaha menahan air matanya, itu yang kulihat. Aku yang mendengarnya berkata seperti itu terkejut, aku tidak pernah mengiranya sama sekali.

“Young…” Lirihku padanya berusaha menenangkannya, aku mendekat padanya dan berusaha untuk mendekap tubuhnya.

“Ternyata itu alasan kenapa dia memperlakukan aku dan JKimin Eonnie berbeda. Hiks..” Jelasnya kembali dengan isakan.

“Young, Oppa tau kesedihanmu” Aku memeluknya lebih erat lagi untuk meredakan tangisannya.

 

Aku memutuskan membawa Jiyoung pulang kerumahku, keadaan sedang buruk jadi tidak mungkin kalau aku mengantarnya pulang kerumahnya. Eomma yang sudah kuberi tahu keadaan Jiyoung pulang dengan wajah khawatir.

“Jungsoo, bagaKimana keadaan Jiyoung?”

“Dia baik baik saja, hanya saja dia pasti masih sedih dan belum bisa menerKima kenyataan bahwa dia bukan anak kandung ibunya” Jawabku. Eomma bergegas ke kamar Jiyoung dan memeriksa keadaannya.

“Kasihan sekali anak ini, dia pasti sangat terpukul” Ucap Eomma sambil mengelus pelan rambut Jiyoung.

Jiyoung kecil berlari kecil menghampiri ibunya setelah ia dipanggil sang ibu untuk segera pulang setelah lama bermain di taman. Jiyoung kecil berlari dengan kencangnya dan tak sengaja tersandung oleh batu sehingga membuatnya terjatuh dan menKimbulkan luka di lututnya. Jiyoung kecil menangis merasakan perih di lututnya. Sang ibu menghampirinya dan mendekat.

 

“Jiyoung… seharusnya kau tidak usah lari, jadi jatuh kan. Kalau begini siapa yang repot?” Ucap sang ibu sambil menarik tangan Jiyoung kecil untuk berdiri dan menariknya pulang.

 

Jiyoung tengah berjalan di mall dengan ibu dan kakaknya. Dipegangnya tangan ibunya erat.

“Eomma… Aku mau beli boneka Hello Kitty itu…” Tunjuk JKimin pada boneka besar berbentuk Hello Kitty di salah satu toko.

“Kau mau itu? Baiklah… ayo kita membelinya.”

Jiyoung mau tak mau berjalan mengikuti ibu dan kakaknya untuk membeli boneka yang kakaknya minta. Sesampainya di toko, Jiyoung melihat sekeliling dan mendapati boneka beruang berukuran sedang berwarna biru. Jiyoung menginginkan boneka itu.

“Eomma.. Aku mau boneka itu.” Tunjuk Jiyoung pada boneka beruang itu. Ibunya menoleh dan mengetahui boneka yang diinginkan Jiyoung.

“Jiyoung, tidak usah beli yang itu ya.”

 

Ucapan sang ibu tidak bisa dibantah oleh Jiyoung, Jiyoung terlalu penurut.

 

Jiyoung tampak terbangun dari tidurnya, sekelebat bayangan itu tiba tiba berputar di otaknya. Tak mau pusing dengan itu, Jiyoung bergegas bangun dari ranjangnya dan mengikat rambutnya yang panjang. Dia sadar bahwa kini dirinya sedang berada di rumah Kimonya. Jiyoung bergegas menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering, mungkin efek karena kemarin menangis seharian. Jiyoung menuju dapur dan melihat Kimonya tengah memasak bahan makanan untuk sarapan, dengan langkah pasti Jiyoung mendekatinya.

 

“Kimo.. aku haus.” Kata Jiyoung pada Kimonya yang tengah memasak, Kimonya tampak terkejut dengan kehadirannya yang tiba tiba itu.

“Airnya disitu.” Jawab Kimo sambil menunjukkan kulkas tempat botol air berada.

Jiyoung bergegas menuju kulkas dan mengambil botol air di dalamnya, menuangkannya di gelas dan meminumnya dengan cepat. Dia nampak sangat haus.

“Aahhh.. segar sekali. Kimo masak apa hari ini? Aku boleh membantu Kimo memasak bukan?” Kata Jiyoung pada Kimonya yang sedari tadi masih memperhatikan Jiyoung minum.

“Geurae, boleh saja. Kimo akan memasakan makanan kesukaanmu dan Jungsoo”

“Aa, jinja? Kimo memang paliiing baik.” Kata Jiyoung padanya. Kimo memang pengertian dan baik, dia sosok ibu yang baik. Sebenarnya Jiyoung masih belum bisa melupakan masalah yang kemarin, bahkan kalKimat ayahnya yang sangat mencengangkan itu terua berputar di otak Jiyoung. Namun Jiyoung sudah berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan menampakkan kesedihannya lagi.

 

Makanan sudah siap, kami memakan hidangan pagi ini bersama sama. Sungguh keluarga yang ideal, pikirku. Walaupun hanya tinggal berdua mereka terlihat bahagia, rasanya ingin sekali punya keluarga yang seperti ini. Aku memakan dengan lahap makananku. Masakan Kimo memang selalu enak.

Setelah acara makan pagi, aku duduk diteras. Udara akhir pekan.. aku memandang halaman rumah, nampak hijau karena ditumbuhi banyak pohon. Rasanya sangat segar, apalagi ditemani secangkir teh. Lengkap sudah. Aku memang berusaha keras melupakan masalah kemarin. Aku teringat dengan handphoneku, dari kemarin aku tak memeriksanya. Waah, ada banyak panggilan. Yoona juga meneleponku? Aku bergegas menelfon Yoona, takut dia khawatir.

“Yeobosoyo, Jiyoung..” teriaknya diujung sana.

“Yoon, ada apa kau meneleponku?” Tanyaku padanya.

“Harusnya aku yang bertanya, kenapa kemarin tidak sekolah? Kau tahu aku mencemaskanmu”

“Aigoo, kau mencemaskanku? Aku tidak apa apa kok, besok juga sekolah.”

“Iya, tapi kenapa?” Tanyanya padaku. Nampaknya dia benar benar mencemaskanku.

“Tidak apa apa, aku hanya ada masalah sedikit.”

“Baiklah… tapi kau harus berjanji kau harus menceritakan masalahmu besok. Sampai jumpa..” Ucapnya mengakhiri percakapan.

 

Tiba tiba Jiyoung teringat bahwa besok dia harus sekolah. Tapi seragamnya ada di rumah. BagaKimanapun Jiyoung belum mau menginjakkan kakinya di rumah itu.

 

Aku pergi kerumah Jiyoung untuk mengambil pakaian sekolahnya dan beberapa pakaian ganti untuknya. Tadi Jiyoung berkata padaku bahwa dia akan sekolah besok dan tidak punya seragam. Aku tahu kondisinya sekarang, dia pasti belum ingin pulang.

 

Kemarin aku sempat menghubungi ayah Jiyoung untuk memberitahu bahwa Jiyoung baik baik saja di rumahku. Ayah Jiyoung yang mendengar berita itu sedikit lega, setidaknya Jiyoung baik baik saja di rumah Kimonya. Aku berjanji akan menjaga Jiyoung dan membuat Jiyoung tidak sedih lagi.

 

“Annyeonghaseo, samcon..” Sapaku pada ayah Jiyoung setelah dipersilahkan masuk dan mendapati ayah Jiyoung sedang membaca koran di depan rumah.

“Ooh, Jungsoo. Mau apa kau kemari?” Ucap Ayah Jiyoung berdiri dan menyambut kedatangan Jungsoo.

“Aku mau mengambil beberapa pakaian Jiyoung dan seragam sekolahnya.”

“Geurae, Ahn ahjumma.. ambilkan beberapa pakaian Jiyoung dan seragam sekolahnya.” Suruhnya kepada salah satu pekerjanya. “Jungsoo, kau duduk lah.” Suruh samcon padaku.

“TerKimakasih sudah mau merawat Jiyoung untuk sementara waktu, keadaan sangat kacau sekarang, jadi aku titip Jiyoung padamu. Suatu hari aku akan menjemputnya pulang”

“Nde, samcon..”

 

Setelah mengambil beberapa pakaian dan seragam Jiyoung aku bergegas pulang. Kulihat kini eomma dan Jiyoung sedang membicarakan sesuatu, mereka terlihat akrab. Syukurlah, setidaknya Jiyoung bisa sedikit melupakan masalahnya.

“Eh.. Jungsoo sudah kembali.” Teriak eomma ketika melihatku datang. Kulihat Jiyoung menoleh setelah Eomma menyebut namaku.

“Oppa… Kimo bercerita tentang masa kecilmu dulu, katanya kau sering memakai topi buatan Kimo khusus untukmu. Walaupun sudah rusak kau tidak mau melepaskannya sama sekali, bahkan tidak mau untuk dijahitkan kembali. Dan saat topi itu hilang kau menangis, aigooo.. aku tak bisa membayangkan Jungsoo Oppa kecil yang menangis. Hahah” ucapnya dengan tawa. Aku yang mendengarnya tak tau kalau aku dulunya seperti itu, aku tak mengingatnya sama sekali.

“Yaah, aku tak ingat. Ini bajumu.” ucapku dan menyerahkan baju Jiyoung yang dKimasukkan ke dalam tas itu.

 

Hari ini aku berangkat sekolah kembali, yaah jika ada masalah keluarga bukan berarti aku harus mengabaikan pendidikanku. Kuhampiri sosok wanita berparas cantik itu, sahabatku.

“Yoon..” sapaku

“Ji!!” ucapnya histeris, seperti lama tak bertemu denganku. Dia memelukku erat sampai aku kesulitan bernafas.

“Yoon, lepaskan. Aku sesak.. uhuuk” ucapku terbata

“Hehe.. mianhae, habis aku kangen.” UCapnya dengan melepas pelukannya yang menyesakkan itu.

Aku mengatur nafasku setelah adegan pelukan itu. Pelukan Yoona sungguh membuat dadaku sesak.

“Kau berhutang penjelasan padaku, ingat?” Ucap Yoona padaku tak peduli bahwa aku masih mengatur nafas setelah tadi dia memelukku sangat erat.

 

Tiba tiba suara bel berbunyi. Aku merasa bersyukur karena bel itu aku tidak perlu menjelaskan masalah yang kualami pada Yoona. Ini masalah keluarga, menurutku tak seharusnya aku menceritakan padanya.Kami bergegas ke kelas dan mengikuti pelajaran.

Setelah pelajaran usai, kulihat Donghae dan Hyukjae menghampiri kami.

“Yoon, Jiyoung..kalian mau ke kantin bersama kami?” tanya Donghae kepada aku dan Yoona.

“Mau!” ucapku. Yaa bagaKimana aku akan menolak diajak namja setampan Donghae?

“Kalau begitu kajja. Aku lapar..” Ucap Hyukjae.

Kami berempat makan bersama dikantin. Yaah aku tak bisa konsentrasi terhadap makananku, bagaKimana tidak. Seorang Lee Donghae -orang yang kusuka- ada didepanku. Dengan wajah sedekat ini, Donghae terlihat semakin tampan.

“Jiyoung, kenapa tidak makan?” Tanya Donghae kepadaku. Aah aku bahkan lupa makan karena memandanginya. Bisa terlihat kalau Yoona dan Hyukjae juga menatapku.

“Emm.. iya, aku makan kok.” Jawabku gugup. Aku melahap makananku dengan cepat, aku malu karena Donghae memergokiku menatapnya.

 

Setelah acara makan bersama itu, aku jadi semakin yakin kalau aku menyukai atau lebih tepatnya mencintai Lee Donghae. Astaga… aku bisa gila karenanya.

“Jiyoung, apakah kau suka dengan Donghae?” Tanya Yoona kepadaku. Pertanyaan itu tentu saja membuat mataku membulat sempurna, bagaKimana Yoona tau?

“Yoon.. “ ucapku gugup.

“Terlihat jelas dari caramu menatapnya” ucap Yoona seakan tau kalau aku ingin menanyakan bagaKimana dia tau kalau aku menyukainya.

“Sstt.. Yoon jangan bicara pada siapa siapa, aku malu” Ucapku menahan malu padanya.

“Kenapa harus malu? Rasa suka atau cinta itu wajar untuk anak seumur kita, kita kan sudah beranjak dewasa pasti akan merasakan cinta.” Ucapnya kepadaku dengan penuh pengertian.

“Yaah, aku tau. Tapi aku tetap malu seandainya orang lain tau kalau aku menyukai Donghae.”

“Tenang saja, aku tak akan bercerita pada siapapun.”

Ucapan Yoona membuatku tenang, aku bisa mempercayainya untuk merahasiakan ini semua.

 

*Chapter 4

 

Hari hariku berjalan indah karena setiap hari aku bisa memandang wajah lelaki pujaanku -Lee Donghae. Setelah kejadian dKimana kami dikelompokkan dalam kelompok yang sama kami berempat sering bersama entah ke kantin atau jika ada waktu senggang. Sesekali setelah pulang sekolah kami juga berkumpul bersama untuk menyelesaikan tugas karya ilmiah kami. Di saat saat seperti ini aku berusaha akrab dengan Donghae dengan cara bertanya dan mengajaknya bicara.

“Donghae, hobKimu apa?” tanyaku padanya saat kami berempat berkumpul ditaman setelah pulang sekolah.

“Aku suka main basket, mendengarkan musik, dan bermain bola.”

“Waah, aku juga suka mendengarkan musik.” Ucapku diiringi dengan senyuman. Aku berusaha tersenyum seindah mungkin untuk Donghae.

“Kalau aku suka membaca dan memasak.” TKimpal Yoona.

“Aku suka bermain basket dan bermain game!” Ucap Hyukjae penuh semangat.

 

Aku cukup senang setelah mendengar jawaban Donghae, setidaknya kami memiliki satu hobi yang sama yaitu mendengarkan musik. Itu membuat hatiku cukup berbunga.

 

Setelah menyelesaikan tugas karya ilmiah aku dan Yoona berencana berjalan jalan di sekitar kota Seoul. Yoona mengajakku ke sebuah coffe shop. Yoona tampak berbeda hari ini. Apa terjadi sesuatu?

 

“Yoon, kulihat hari ini ada yang berbeda darKimu.” Ucapku melihat Yoona berjalan menuju ke arahku setelah memesan kopi untuk kami berdua.

“Apa? Tidak ada yang berbeda.” Ucap Yoona sambil mengambil posisi duduknya.

“Tidak, aku yakin ada yang berbeda. Eum… Kau sedang bahagia ya?” Ucapku menebak apa yang membuat Yoona tampak berbeda hari ini.

“Memang itu tampak ya?”

“Tentu, wajahmu tampak berbinar.” Ucapku sambil terus mengamati wajah Yoona, kupikir itu memang benar bahwa dia sedang bahagia hari ini. Tapi kenapa?

“Ah… kau benar benar.” Umpat Yoona.

“Ayolah, ceritakan padaku.” Desakku padanya.

“Baiklah, sebenarnya hari ini aku mendapat pesan singkat dari kekasihku.” Ucap Yoona dengan sedikit menundukkan kepalanya.

“Maksudmu laki laki bernama Taecyeon itu? Laki laki yang pernah kau ceritakan?” Tanyaku berusaha memastikan pernyataan Yoona tadi.

Yoona menganggukkan kepalanya pelan.

“Ah… sungguh? Kau pasti sangat senang karena dia akhirnya menghubungKimu. Itu artinya dia mencintaKimu Yoon.”

“Iya, aku sempat tak mengenali nomor teleponnya karena dia mengganti nomornya.”

“Itulah kenapa kau tidak bisa menghubunginya akhir akhir ini dan kau mengira bahwa dia melupakanmu. Tapi, sekarang dia menghubungKimu terlebih dahulu. Dia pasti mencintaKimu.” Ucapku ikut bahagia mendengar bahwa kekasih Yoona menghubunginya.

“Iya, aku menyesal sempat meragukan cintanya.”

 

Aku berangkat diantar Jungsoo Oppa, yah Oppa selalu mengantarku sekolah dan menjemputku jika aku memintanya. Dia selalu mau jika aku minta untuk mengantarkan aku bersekolah.

Kulihat Donghae datang dengan Yoona membonceng motor yang dikendarainya. Entah kenapa aku merasa marah, karena mereka berangkat bersama. Astaga, Yoona kan sahabatku dia mana mungkin menghianatiku lagipula dia mencintai kekasihnya. Aku berusaha menghapus pikiran-pikiran burukku tentang hubungan mereka.

“Hai..” sapa Yoona kepadaku

“Hai Yoon.. Donghae..”

“Hai..” Jawab Donghae.

“Kajja ke kelas” Ajak Yoona kepadaku. Pandanganku tetap ke arah Donghae, pagi hari memang waktu yang tepat untuk melihat lelaki tampan seperti Donghae.

”Ji!!” Teriak Yoona membuyarkan pandanganku terhadap Donghae.

“Yaa, kajja!” Perintah Yoona.

Aku pun akhirnya pergi meninggalkan Donghae bersama Yoona.

 

Aku menghampiri Donghae yang terlihat sendirian.

“Hai, mana Hyukjae?” tanyaku padanya.

“Dia ikut rapat ketua kelas”

“Oo begitu”

“DKimana Yoona?” tanyanya kepadaku

“Eem, tadi dia bilang padaku mau ikut lomba memasak.”

Setelah pertanyaan itu suasana hening menerpa kami berdua, sebelum aku berbicara dia tak mau berbicara. Yaah, apa boleh buat aku saja yang tanya duluan.

“Kau tidak mau ke kantin?”

“Aku sudah kenyang” jawabnya datar.

“Baiklah” jawabku diriingi anggukan kepala.

“BagaKimana kalau pulang sekolah nanti kita melihat perlombaan memasak? Kita bisa menyemangati Yoona” lanjutku.

“Boleh, ide bagus. Nanti aku ajak Hyukjae juga” ucapnya bersemangat. Melihatnya bersemangat kembali aku menjadi bahagia. Kuperlihatkan kembali senyumku padanya.

 

Setelah pulang sekolah aku bersama Donghae dan Hyukjae menuju tempat Yoona mengikuti lomba memasak. Suasana disana cukup ramai. Semua orang berkumpul di depan panggung, rupanya sudah saat pengumuman pemenang lomba.

“Juara pertama adalah… Neul Paran High School” Semua orang bertepuk tangan tapi tidak dengan kami bertiga. Kami secepatnya berlari mencari keberadaan Yoona. Yoona terlihat menundukkan kepalanya dan bermaksud pergi dari area perlombaan.

“Yoon..” panggilku.

“Jiyoung” lirih Yoon.

“Yoon jangan menyerah, walaupun sekarang kau tidak menang lain kali masih ada kesempatan” Ucapku berusaha meyakinkannya.

“Youngi.. gomawo sudah menyemangatiku” ucapnya dengan memelukku. Aku membalas pelukannya, dia adalah sahabat terbaikku. Aku akan selalu berada disampingnya kapanpun dan saat apapun itu.

“Kalau begitu, ayo kita pulang.” Ucapku sambil melepas pelukan.

“Hyuk.. bukankah KKim songsaenKim juga memanggilmu ke sekolah?” tanya Yoona tiba tiba kepada Hyukjae.

“eh, iya. Kau juga?”

“Kalau begitu kita kembali kesekolah dulu ya..” ucap Yoona dengan segera menggandeng Hyuk pergi.

 

Aku yang ditinggalkan berdua dengan Donghae hanya bisa diam di tempat.

“Kalau begitu kita pulang.” Ucap namja bersuara serak itu.
“Iya..” Ucapku lirih, aku tak sanggup berkata apa apa setelah kejadian Yoona meninggalkanku hanya berdua saja dengan Donghae.

 

“Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Donghae setelah kami sampai diparkiran motor.

”Eem, iya. TerKimakasih” Ucapku kikuk. Aku diantar Donghae ke rumah Kimo, yaah sampai sekarang aku belum kembali kerumahku. Aku melambaikan tanganku padanya, setelah itu dia melesat pergi dari hadapanku. Rasanya aku ingin kembali ke waktu yang tadi, saat aku berada satu motor dengan LEE DONGHAE.

 

Aku bergegas masuk, sepertinya ada tamu karena pintu terbuka lebar. Aku segara masuk tapi langkahku terhenti diambang pintu, aku menguping pembicaraan Kimo dengan seseorang.

“Syukurlah, jiyoung baik baik saja disini. Aku khawatir dengannya.” Ucap seseorang yang diketahui suara seoarang lelaki.

“Tenang saja, Jiyoung aman dan baik baik saja disini.”

“TerKimakasih Anna, kau adalah ibu yang baik. Tetap jaga anak kita, Jiyoung.” Ucap lelaki itu, aku mengenal dengan jelas suara itu. Seketika mataku terbelalak. Aku, anak Kimo? BagaKimana mungkin? Kudengar langkah derap kaki menghampiriku, dia adalah jungsoo Oppa. Dia melihatku yang masih berdiri di ambang pintu.

“Kenapa tidak masuk?” Tanyanya kepadaku. Karena pertanyaan itu Kimo dan lelaki itu menyadari keberadaanku dan menghampiri kami.

“Jiyoung, apa kau..” Sekarang appa memandangku, mencoba menelisik dugaannya benar atau tidak.

“Appa, apa maksudmu anak kita?” Tanyaku kepada appa dengan menatap matanya, mencoba mencari kebenaran.

“Youngi..” Ucap Kimo sambil menatap Jiyoung.

“Appa, jangan berbohong lagi kepadaku.” Desakku meminta pernyataan yang sebenar benarnya.

“Ya, Kimomu adalah ibu kandungmu..” Ucapnya lirih.

Jungsoo oppa yang mendengar itu syok, sama sepertiku.

“Appa, kenapa merahasiakannya dariku?”
“Mianhae, jeongmal mianhae Young”

Jadi.. Jiyoung adalah adikku?” Tanya Jungsoo Oppa tak percaya.

“Iya, nak.” jawab Kimo

“Astaga,jadi ini kenapa aku selalu merasa ingin melindunginya.” Ucap Jungsoo Oppa

“Oppa..” Lirihku, segera aku peluk Jungsoo Oppa. Aku tak menyangka kalau dia adalah kakak kandungku.

“Youngi, maafkan Eomma karena sudah merahasiakannnya.” Ucap Kimo, ada wajah khawatir diwajahnya, mungkin dia khawatir aku takkan memaafkannya.

“Eomma, maafkan Jiyoung yang tidak menyadari bahwa eomma adalah ibu kandungku.” Ucapku, kemudian memeluknya. Dia memelukku hangat, sudah lama aku memKimpikan dipeluk oleh Eommaku.

“Maafkan appa juga..” Ucap appa

“Appa..” Sekarang aku memeluknya.

 

Kami makan malam bersama layaknya keluarga. Ya ampun, ini adalah saat saat yang paling membahagiakan. Setelah kenyataan itu terungkap aku tau kalau sebenarnya Appa menikah dengan Minji Eomma karena dipaksa oleh orang tuanya. Dia mencintai Eommaku, mereka sempat menikah dan mempunyai dua nak yaitu aku dan Jungsoo Oppa, tapi kemudian mereka bercerai karena orang tua appa. Jungsoo bersama eomma, sedangkan aku ikut dengan Appa. Appa lah yang sengaja membuat seolah Eomma adalah Kimoku, supaya aku tetap mengenalnya walaupun sebagai seorang Kimo. Sejak dulu aku tak melihat bagaKimana wajah haraboji dan halmoni ku, mereka meninggal beberapa bulan setelah perjodohan ayah dengan salah satu anak rekan bisnisnya. Astaga, ini sangat menyedihkan. Cinta mereka ditentang, hingga akhirnya harus dipisahkan. Mendengar cerita tentang cinta, aku jadi teringat dengan Donghae. Apakah aku akan berakhir dengannya? Entahlah,takdir siapa yang tau.

 

Pagi hari yang cerah aku berangkat sekolah dengan diantar Oppa kesayanganku -Jungsoo. Ya, setelah kejadian itu hatiku sangat senang. BagaKimana tidak? Aku sekarang tahu kalau Jungsoo oppa kakak kandungku. Aku sangat menyayanginya. Setelah turun dari motor Jungsoo oppa aku menemukan Yoona memasuki gerbang sekolah, aku menyapanya.

“Yoon…” Sapaku. Yoona menoleh kepadaku, dia menghentikan langkahnya.

“Ji…” Ucapnya. Aku segera memeluknya, aku sangat bahagia hari ini.

“Kau kenapa? Sepertinya bahagia sekali.” Ucapnya. Pertanyaan itu membuatku melepaskan pelukanku padanya.

“Aku memang sedang sangat bahagia.” Ucapku padanya dengan senyum merekah.

“Tapi kenapa? Kau dapat pacar baru?” Telisiknya

“Apaan, bukan itu.” Yoona ini berpikirnya yang tidak tidak saja.

 

Setelah menceritakan semuanya pada Yoona, aku merasa kebahagiaanku bertambah. Memang selalu begini kalau sudah bercerita dengan Yoona, setelah bercerita dengannya semua beban seperti terangkat dengan sendirinya.

“Jadi ibumu yang selama ini tinggal bersamamu bukan ibumu? Dan Kimomu adalah ibu kandungmu? Aigoo.. dramatis.”

“Iya, aku bahagia sekali.”

 

Tiba tiba seseorang datang menghampiri kami berdua.

“Yoon, Ji kalian sedang apa? Sepertinya Jiyoung terlihat senang.”

“Ya, Hyukjae mengganggu saja!” Aku kaget karena kedatangan Hyukjae yang tiba tiba.

“Memangnya aku tidak boleh bertanya eoh?” Tanyanya dengan muka polosnya.

 

Datang lagi seseorang yang bukan lain adalah Lee Donghae.

“Hyuk, kau ini benar benar. Kenapa meninggalkanku eoh?” Tanyanya pada Hyukjae. Yang ditanya hanya nyengir tanpa arti.

“Hai Yoon, Ji..” Sapanya padaku dan Yoona

“Hai..” Jawabku kompak dengan Yoona.

Aigoo, dia tersenyum. Senyumnya bisa membuatku pingsan seketika. Untung saja ada dinding untuk tempatku bersandar.

Yoona tiba tiba saja mengajakku menemuinya disebuah cafe. Tanpa pikir panjang tentu saja aku menemuinya tanpa beban.

 

“Ji..” Teriak Yoona setelah menyadari kedatanganku.

“Yoon.. ada apa kau..” Ucapku terhenti karena dia tiba tiba memelukku erat. Apa yang terjadi? Kurasa dia habis menangis.

“Kau kenapa? Apa yang terjadi?” Tanyaku padanya sambil mengelus bahunya lembut berusaha membuatnya tenang.

“Ji.. aku salah.” Ucap Yoona kemudian melepaskan pelukannya. Menatapku dengan mata sembabnya.

“Salah? Salah tentang apa?”

Kuperhatikan Yoona baik baik, mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengannya. Namun hasilnya nihil, aku tak menemukan apapun. Aku memang bukan orang yang ahli dalam membaca pikiran orang.

“Taecyeon, dia tidak mencintaiku lagi. Bahkan dia sudah punya kekasih baru.” Ucap Yoona dengan wajah sedihnya. Yoona menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan air matanya yang cepat atau lambat akan menetes.

“Yoon… kau baik baik saja bukan?”

“Tentu saja aku tidak baik baik saja..” Ucap Yoona diikuti satu bulir air mata yang jatuh di pipinya. Ya ampun, baru kali ini aku melihat Yoona menangis seperti ini. Kasihan dia, dia pasti merasa sangat terpukul sekarang.

“Bersabarlah Yoon, pasti akan ada laki laki lain yang bisa mecintaKimu. Mungkin dia memang bukan jodohmu.” Ucapku berusha menenangkannya dan sedikit menghiburnya.

 

*Chapter 5

 

Pulang sekolah aku pergi ke taman sekolah untuk sekedar berjalan jalan, aku bosan sekarang. Aku duduk di kursi taman dengan tenang. Tiba tiba terdengar suara seseorang tepat di belakang kursi yang kududuki. Ada semak yang menghalangi pandanganku, aku tak tahu siapa yang ada di balik semak itu. Aku segera mengacuhkan orang yang ada di belakang semak, namun ketika aku mendengarkannya baik baik aku seperti mengenal suara itu. Aku menguping pembicaraan itu.

“Yoon, aku menyukaKimu..” suara lelaki serak kepada seorang wanita.

“Hae, tapi…” Suara wanita itu terhenti.

“Yoon, maukah kau menjadi pacarku?” Tanya lelaki itu langsung ke intinya. aku yang mendengarnya menyadari kalau pemilik suara itu adalah Lee Donghae. Jadi dia menyukai Yoona. Aku bergegas berdiri dari tempatku duduk dan berlari sekencang mungkin pergi dari tempat itu. Pikiranku kacau.

Aku berlari sekencang mungkin menjauh dari area taman menuju toilet sekolah. Menangis disana tanpa ada seorangpun yang mendengar. Ini memang sudah jam pulang sekolah, tidak banyak siswa yang masih bertahan di sekolah.

Apakah mungkin Donghae itu jodoh Yoona yang sesungguhnya? Setelah Yoona putus dengan Taecyeon, mungkin ini jawaban Tuhan tentang jodoh Yoona yang sesungguhnya. Dan mana mungkin Yoona menolak pria setampan Donghae. Yoona pasti menerKimanya.

Semua pikiran itu membuatku gila dan frustasi. Tidak ada harapan lagi untukku.

 

oOo

 

Yoona masih terngiang pernyataan Donghae padanya siang itu. Pria itu menyukainya, lalu bagaKimana kalau Jiyoung sampai tahu ini? Pasti dia akan sakit hati. Aku mengatakan pada Donghae kalau aku tidak bisa menjadi pacarnya, ya selain aku tidak mencintainya aku juga tidak mau menghianati sahabatku.

 

Esok hari, aku berangkat seperti biasa. Kulihat sosok Jiyoung berjalan dengan langkah yang lemas. Kenapa dia?

“Ji…” Sapaku padanya. Dia menoleh dan membalikkan badannya padaku.

“Yoon..” Sapanya lirih, bahkan hampir tak terdengar. Tak biasanya Jiyoung selemas ini.

“Ji, kau kenapa?” Tanyaku padanya, aku sungguh heran dengan perilakunya.

“Selamat…” Ucapnya sambil memajukan tangannya padaku. Aku yang melihatnya tambah heran, kenapa dia memberiku selamat?

“Selamat atas apa?”

“Atas jadianmu dengan Donghae..” Ucapnya lemas. Astaga, apa apaan ini?
“Ji…” Ucapku menatapnya ingin menjelaskan yang terjadi kemarin.

“Sekali lagi selamat.. aku pergi dulu” Ucapnya berangsur pergi. Astaga, dia salah paham.

“Ji.. tunggu, aku akan menjelaskannya padamu..” Ucapku berusaha mengejarnya.

“Yoon, aku ingin sendiri” Ucapnya menghentikan langkahku untuk menjelaskan semua yang terjadi padanya.

 

Baiklah, saat ini aku tak akan memaksakan untuk menjelaskannya. Dia pergi dengan langkah yang masih sama seperti sebelumnya, lunglai dan lemas.

 

oOo

 

Kejadian kemarin membuatku sangat terpukul. Aku sangat terpukul dengan jawaban Yoona kemarin, bagaKimana bisa dia menolakku. Hari ini berangkat sekolah dengan tak bersemangat, tentu saja setelah penolakan itu. Aku jadi tidak semangat lagi, tapi aku harus membuktikan pada Yoona kalau aku benar benar mencintainya.

Saat jam istirahat aku mengajaknya ke kantin. Berusaha untuk meluluhkan hatinya dan membuatnya bisa menerKima perasaannya. Bukan Donghae namanya kalau langsung putus asa.

“Yoon, ayo kita ke kantin.. aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Ucapku menghampiri Yoona yang tengah duduk.

“Tidak, Hae.. aku tidak lapar” Ucapnya. Apa dia benar benar tak menyukaiku?

“Tapi, aku akan mengatakan sesuatu padamu.” Ucapku padanya berusaha mengajaknya kembali.

“Hae..” Ucapnya. Aku tahu dia akan berusaha menolak lagi ajakkanku ini tapi aku dengan cepat menarik tangannya menuju taman sekolah. Aku benar benar ingin membuktikan kalau aku mencintainya.

Sesampai di taman, aku langsung mendudukkannya di kursi taman.

“Hae.. kenapa kau membawaku kemari? Sudah kubilang aku tidak mau pergi.” Ucapnya. Dia tampak kesal karena aku memaksa untuk membawanya pergi.

“Yoon, aku serius. Aku sungguh mencintaKimu..” Ucapku padanya. Berusaha meyakinkan dan meluluhkan hatinya.

“Tapi aku tidak mencintaKimu, ada orang lain yang mencintaKimu..” Ucapnya.

Aku tak peduli siapa yang menyukaiku, yang pasti aku menyukaKimu Yoon, ucapku dalam hati.

“Yoon..” Ucapku lirih padanya.

 

Jiyoung tengah berjalan menuju kelasnya. Baru sampai di ambang pintu dia melihat Donghae melintas dihadapannya dan menuju ke seseorang, tepatnya Kim Yoona. Astaga, hatiku begitu sakit saat ini. Kulihat dia mengatakan sesuatu pada Yoona kemudian membawanya pergi. Mungkin harapannya untuk mendapatkan Donghae pupus sudah. Dia tidak akan mengharapkan pria itu, pacar sahabatnya. Dia harus merelakan Donghae, bagaKimanapun caranya. Tapi itu tidak akan mudah, dia terlalu mencintai pria itu.

 

Hari hari berlalu begitu kelam bagi Jiyoung, harapannya sudah tidak bisa tercapai. Sekarang dia harus memendam perasaannya dalam dalam kepada pria itu, rasa sakit itu menjalar ke tubuhnya mengakibatkan nafsu makan dan gairahnya untuk melakukan suatu kegiatan menghilang. Dia seperti mayat hidup sekarang, pucat dan selalu diam.

“Young.. kau harus makan, sudah tiga hari kau tidak makan.” Ucap Jungsoo berusaha membujuk sang adik untuk makan. Jiyoung tetap bersikukuh tidak mau memakan makanannya, padahal ia paling suka masakan buatan ibunya. Tapi dia benar benar tak bersemangat lagi. Ternyata dampak yang diakibatkan Lee Donghae sangat luar biasa sehingga membuat Jiyoung benar benar seperti sekarang ini, seperti mayat hidup –tanpa semangat.

 

Sudah tiga hari lamanya Jiyoung tak masuk sekolah, itu membuat Yoona gelisah. Dia kesepian, dia tak punya teman lagi selain Jiyoung. Jiyoung adalah sahabat yang selalu ada untuknya, kapanpun itu saat sedih maupun senang. Tapi sekarang sosok itu tak hadir, dia benar benar rindu sosok itu.

Dan Lee Donghae, dia juga merasa ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya. Entah apa itu, tapi itu sangat mengganjal dihatinya. Setelah penolakan Yoona yang kesekian kalinya, dia berusaha menghapus cinta itu. Mungkin Yoona memang bukan takdirnya.

 

Hyukjae tiba tiba datang menemuinya.

“Hai, kenapa sendirian? Kau ini tidak mau mengajakku sekarang.” Ucap Hyuk.

“Maaf Hyuk, aku sedang ingin sendiri.” Ucapku seadanya.

“Baiklah, aku pergi..” Ucap Hyuk, tapi sebelum dia pergi Yoona datang.

“Hyuk.. aku khawatir dengan keadaan Jiyoung. Apa dia baik baik saja? Apa dia sakit parah?” sederetan ucapan Yoona membuat Donghae menoleh sekilas, namun kembali acuh. BagaKimanapun dia sakit hati karena gadis ini.

“Memangnya kau tidak menghubunginya?” Tanya Hyuk

“Aku sudah meneleponnya tapi dia tak kunjung mengangkat telepon dariku.” Ucap Yoona lemas.

Suasana hening sekejap. Yoona masih berpikir bagaKimana bisa mengetahui keadaan Jiyoung sekarang.

“Aku khawatir dia sakit hati karena dia tahu Donghae menyukaiku.” Ucap Yoona setengah berbisik.

Walaupun Yoona mengatakannya dengan berbisik Donghae masih dapat mendengarnya, dia langsung menoleh pada Yoona. Jadi, Jiyounglah yang menyukainya. Pantas saja Yoona menolaknya. Yoona kemudian pergi untuk berusaha menghubungi Jiyoung lagi untuk yang kesekian kalinya.

“Donghae, kau ini.. Jiyoung sakit sepertinya kau tidak peduli.” Ucap Hyuk pada Donghae.

Donghae tak menjawab pernyataan Hyukjae, dia masih berada pada pikirannya. Apa yang sebenarnya beberapa hari ini hilang dari kehidupannya. Kalau jawabannya Yoona tentu bukan, karena dia sudah mulai bisa melupakannya sekarang, dan menganggapnya sebagai sahabat kembali.

 

Sepulang sekolah Donghae masih memikirkan apa yang sudah hilang dari hidupnya. Dia teringat pada senyum Jiyoung yang begitu tulus padanya, senyum yang selalu diacuhkannya. Pertanyaan pertanyaan Jiyoung padanya, usaha Jiyoung untuk akrab dengannya meskipun dia mengacuhkannya. Dia terlalu sibuk dengan perasaannya kepada Yoona. Astaga, dia baru sadar kalau ia merindukan gadis itu, gadis dengan senyum merekah yang tulus diberikan untuknya. Entah kenapa hatinya bergetar mengingat senyum tulus Jiyoung padanya. Dan sekarang dia tahu kenapa Jiyoung tersenyum begitu tulus padanya, karena dia mencintai dirinya. Astaga, betapa bodoh dirKimu Lee Donghae. Tiba tiba ponselnya berdering membuyarkan lamunannya. Segera ia tekan tombol hijau untuk mengangkat telepon.

“Yeobosoyo..” Ucapnya

“Yeobosoyo.. Donghae, cepat kerumah sakit. Jiyoung sekarang di rumah sakit, dia terlihat begitu pucat.” Ucap Hyuk diseberang sana. Tanpa pikir panjang dia berlari menuju sepeda motornya dan bergegas menuju rumah sakit.

 

Sesampai dirumah sakit ia melihat Hyuk dan Yoona bersama keluarga Jiyoung -pikirnya- berdiri di depan sebuah ruangan.

“BagaKimana keadaan Jiyoung?” Ucapnya panik

“Dia sedang diperiksa dokter.” Jawab Jungsoo.

Setelah cukup lama menunggu dokter keluar dari ruangan.

“Dok, bagaKimana keadaan anak saya?” Tanya wanita berusia sekitar empat puluhan yang Donghae tebak adalah ibu Jiyoung.

“Dia hanya kekurangan nutrisi karena tidak makan selama tiga hari, dia akan segera sadar setelah mendapat nutrisi dari suntikan dan infus. Tubuhnya masih sangat lemah.” Ucap dokter itu, kemudian pergi.

Donghae begitu terkejut, kenapa Jiyoung tidak mau makan? Mungkinkah karena dirinya? Astaga, dia benar benar merasa bersalah sekarang. Semua masuk ke ruangan untuk melihat keadaan Jiyoung, tapi tidak dengan Donghae. Dia merasa bersalah dan merasa malu untuk menjenguk Jiyoung, bagaKimanapun Jiyoung sakit karena dirinya. Donghae tetap menunggu di depan ruangan, sebenarnya dia ingin melihat keadan Jiyoung secara langsung, tapi dia sungguh merasa bersalah pada gadis itu.

Pintu ruangan terbuka, kini Yoona menatap Donghae yang duduk di depan ruangan.

“Kenapa tidak masuk?” Ucapnya pada Donghae.

“Aku… aku yang telah membuatnya seperti ini, aku tidak pantas menjenguknya.” Ucap Donghae lirih.

“Jiyoung pasti senang kalau kau menjenguknya.” Ucap Yoona.

“BagaKimana mungkin? Aku yang menyebabkannya menjadi sakit seperti ini.” Ucap Donghae putus asa.

“Jiyoung orang yang baik dan pemaaf, dia pasti akan memaafkanmu.”

“Tidak Yoon, lebih baik aku pulang. Kalau keadaannya membaik kabari aku secepatnya.” Ucap Donghae dan bergegas meninggalkan rumah sakit.

 

*Chapter 6

 

Dua minggu berlalu. Selama dua minggu itu Donghae merasa kesepian. Dia rindu saat Jiyoung selalu tersenyum cerah padanya, selalu menanyakan sesuatu padanya.

 

Kenapa Aku baru menyadarinya sekarang? aku menyukai Jiyoung, aku merasa sangat kehilangan dia dua minggu ini, sungguh aku tidak berbohong. Sekarang aku tidak dapat mengungkiri kalau memang sebenarnya aku mencintainya -Jiyoung.

 

Aku tersadar dari lamunanku saat tiba tiba seseorang masuk ke ruang kelas. Gadis itu, gadis dengan senyum cerah yang selama ini ia rindukan. Dia berjalan mengacuhkan keberadaan dirinya. Biasanya gadis itu akan menyapanya atau mengatakan ‘hai’ dengan penuh keceriaan di wajahnya, tapi kini bahkan gadis itu hanya mengacuhkan dan melewatinya begitu saja. Hatiku mencelos, mungkinkah dia benar benar marah kepadaku? Disaat aku menyadari kalau aku mencintainya? Ya, aku akui aku terlambat menyadarinya. Kalau ada kesempatan untuk mengulang waktu, aku ingin mengulang disaat dia selalu menyapa dan tersenyum padaku lagi.

 

Seharian aku mengikuti gadis itu diam diam, dia sedang duduk di taman sekarang. Dengan rambut tergerai, dia terlihat begitu cantik ditambah sapuan angin yang membuat beberapa helai rambutnya terbang. Wajahnya yang mungil dengan hidung dan mata yang indah. Astaga, kenapa baru sekarang ia menyadari betapa cantiknya Jiyoung. Gadis itu sendirian, ia berpikir untuk duduk disampingnya dan berusaha menanyakan kabarnya.

“Hai, Ji..” ucapku padanya. Gadis itu hanya menoleh dan seperti tak memperdulikan kedatanganku.

“Kau sudah baikan? Sudah tidak lemas?” Lanjutku, mencoba bertanya mengenai kesehatannya.

“Aku baik.” Ucapnya dingin, tanpa ekspresi. Aku benci ekspresinya, seakan aku bukan orang yang dia kenal saja.

“Emm, syukurlah.” Ucapku seadanya. Mungkin Jiyoung memang benar benar membenciku sekarang, sifatnya benar benar berubah padaku.

Suasana berubah menjadi hening, namun keheningan itu terpecah akibat suara seseorang.

“Ji.. kau disini rupanya, aku dan Hyukjae mencarKimu.” Ucap gadis cantik diikuti laki laki tampan di belakangnya –Lee Hyukjae- mereka mendekati kami.

“Hae, ternyata kau disini. Aku juga mencarKimu tadi.” Ucap Hyukjae setelah melihat aku duduk bersama Jiyoung.

“Apakah kami mengganggu?” ucap Yoona bertanya pada kami.

“Tidak, mengangganggu apanya? Ayo duduk, aku ingin bercerita. Aku kangen” Ucap Jiyoung.

Yoona dan Hyukjae duduk juga dikursi yang aku dan Jiyoung duduki.

“Kau tau, karena kau tak ada suasana menjadi sepi Ji..” Ucap Hyukjae.

“Benarkah?” Tanya Jiyoung pada Hyukjae.

“Em, benar. Kami sangat rindu padamu.” Jawab Yoona.

 

Kulihat Jiyoung tersenyum. Senyumnya sungguh indah. Senyum pertama yang kulihat setelah dia sembuh dari sakitnya. Senyumnya masih sama, tulus dan penuh arti.

 

Jiyoung sebenarnya tadi sangat senang karena Donghae datang menemuinya, namun dia tidak mau berharap lagi pada pria itu. Ia sadar bahwa Donghae tidak mencintainya. Mungkin kalau sekarang keadaannya masih sama seperti dulu aku akan merasa senang dan mengajaknya banyak bicara. Setelah sekolah berakhir aku menyempatkan diri ke restoran Eomma. Di perjalanan aku bertemu Donghae.

“Ji, kau mau kemana?” Tanyanya padaku.

“Aku, aku mau ke restoran Eomma” Ucapku singkat. Sesungguhnya aku kaget akan kedatangannya yang tiba tiba.

“Kalau begitu aku antar ya.” Ucapnya.

“Tidak, tidak usah aku bisa sendiri.” Mulutku memang berkata demikian namun hatiku berkata sebaliknya.

 

BagaKimanapun tidak mudah melupakan rasa cintaku kepada Donghae.

“Aku akan mengantarmu, kalau begitu aku akan ambil motor terlebih dahulu.” Ucapnya kemudian pergi ke tempat parkir mengambil motornya. Tak lama dia datang dan mengajakku untuk naik.Sesampai di restoran, aku disambut Oppaku.

 

“Ji..” Teriaknya.
“Oppa..” Teriakku juga padanya.

“Kau sudah tidak lemas lagi kan? Di sekolah tidak merasa pusing atau apapun?” Tanya Jungsoo kepada adiknya, yang kemudian dibalas anggukan oleh sang adik.

Jungsoo melihat sekilas lelaki yang mengantar Jiyoung, dia masih berdiri di ambang pintu restaurant.

“Hai, teman Jiyoung ya? Ayo masuk.” Ucapnya pada Donghae.

 

“Ji, maafkan Oppa malam ini oppa harus lembur dengan Eomma untuk mencoba beberapa resep baru. Bahan di rumah masih kurang, jadi kami memutuskan membuatnya disini. Maafkan Oppa..” Ucap Jungsoo Oppa padaku.

“Baiklah Oppa, tidak apa apa.” Ucapku seadanya. Aku mengerti keadaannya.

“Biarkan Jiyoung saya saja yang mengantar..” Ucap Donghae tiba tiba.

“Benarkah itu Donghae?” Tanya Oppa kepada Donghae.

“Ya, Hyung.. tenang saja, aku akan mengantarnya dengan selamat.” Ucap Donghae mantap.

Aku yang mendengarnya sedikit cengo, kenapa Donghae seperti ini? Aku berpikir mungkin dia menganggapku sahabat saja tak lebih, aku harus tahu diri kalau Donghae milik Yoona sekarang.

Setelah perbincangan itu aku mengikuti Donghae menuju motornya, tentu saja untuk diantarkan pulang. Sesungguhnya hatiku sungguh berdebar hebat saat berada di dekatnya. Kenapa seperti ini? Ini tidak benar, Donghae mencintai Yoona sahabatku. Motor berjalan dengan perlan. Perjalanan terasa begitu lama, aku terus saja berusaha mengontrol detak jantungku. BagaKimanapun rasa itu masih ada.

Motor pun akhirnya berhenti, kuperhatikan daerah sekeliling. Rasanya ini belum sampai di rumah Eomma, kenapa Donghae berhenti?

 

oOo

Aku sengaja memperlambat laju motorku, aku senang bersama Jiyoung sekarang. Aku berfikir untuk menyatakan cintaku padanya saat ini, lebih cepat lebih baik kan? Aku menghentikan motorku di salah satu taman kota Seoul, tekatku sudah bulat untuk menyatakan cinta kepada Jiyoung.

“Hae, kenapa berhenti?” Ucapnya dengan nada kebingungan.

“Em.. kita duduk duduk dulu sebentar ya, aku belum ingin pulang.” Ucapku lembut padanya.

“Tapi Hae, ini sudah malam. Lebih baik kita langsung pulang saja.”

“Sttt.. sebentar saja.”

 

Setelah itu kami duduk di kursi taman itu, suasana hening. Aku sedang berusaha mengumpulkan tenagaku untuk menyatakan cinta kepada Jiyoung.

“Jiyoung..” Ucapku lirih.

“Ne..” Ucapnya dengan lembut. Suara itu juga sangat ia rindukan.

“Mmm.. sebenarnya aku mau mengatakan kalau aku suka padamu.” Ucapku mantap dengan menatap matanya dalam.

“Hae, kau bercanda! Kau mencintai Yoona, dan aku tahu kalau kalian sudah berpacaran.” Ucapnya mengalihkan pandangannya dariku.

 

Astaga, apa yang sudah Jiyoung katakan barusan. Aku tidak ada hubungan apa apa dengan Yoona. Apa Yoona belum mengatakannya? Mungkinkah Yoona belum mengatakan kepada Jiyoung karena tidak mau mengungkit kembali kejadian yang membuat Jiyoung sakit.

“Ji.. aku bersungguh sungguh..”

“Bohong! Jangan berbohong. Sudah cukup Hae, jangan permainkan perasaanku. Jika memang tidak menyukaiku kau tinggal bilang saja, dan aku akan melupakanmu.” Ucapnya. Kulihat matanya memerah kemudian dia berbalik membelakangiku.

“Ji…” Ucapku lembut untuk meyakinkan Jiyoung, memegang bahunya.

“Cukup! Kalau kau seperti ini justru akan membuatku selalu mengharapkanmu..” Ucapnya masih tetap membelakangiku.

“Ji.. aku sungguh sungguh, aku tidak ada hubungan apa apa dengan Yoona.” Ucapku mencoba menjelaskan semuanya.

“Kubilang cukup! Aku pulang sendiri saja!” Ucapnya kemudian beranjak dari duduknya.

Aku berusaha mengejarnya, hingga sampai di pinggir jalan namun dia sudah naik taksi sebelum aku bisa mengejar dan mencegahnya.

 

Argh.. kenapa semuanya jadi seperti ini? Begitu rumit.

 

*Chapter 7

 

Aku berangkat sekolah seperti biasa. Kuperhatikan tempat di sekelilingku, aku belum menemukan sosok Jiyoung hari ini. Aku berjalan menuju taman sekolah, hanya tempat itu satu satunya yang belum aki kunjungi. Benar saja, Jiyoung disana dengan mengenakan earphone dan membaca buku di tangannya.

“Eheem..” Aku berdehem sedikit keras, takut dia tak mendengarnya karena memakai earphone.

“Hae, kenapa disini?” Ucapnya dingin setelah mengetahui keberadaanku. Dia melepas earphonenya.

“Bolehkah aku duduk?” Ucapku mengacuhkan pertanyaannya.

“Hm, ne..tentu.” Ucapnya.

“Kau mencari Yoona ya? Aku belum lihat dia hari ini.” Ucapnya sambil kembali membaca bukunya.

 

Akhir akhir ini Jiyoung menjadi wanita yang pendiam dan suka menyendiri di taman. Sebelum semuanya terjadi Jiyoung adalah gadis yang riang, cerewet dan selalu bersama Yoona kemanapun dia berada. Tapi sekarang? dia sungguh berbeda.

“Kenapa harus mencari Yoona?” Ucapku bertanya padanya, bagaKimana mungkin dia menyKimpulkan seperti itu.

“Kalau begitu Hyukjae? Aku juga belum bertemu dengannya.” Ucapnya dengan tetap membaca buku di pangkuannya.

“Ji.. aku mencarKimu” Ucapku padanya.

 

Kulihat dia sedikit tersentak, dia mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca.

“Kenapa aku?” Ucapnya bingung.

 

oOo

 

“Ji.. aku mencarKimu,” ucap Donghae lirih. Aku tersentak dengan ucapan Donghae, aku segera mengalihkan pandanganku dari buku yang kubaca.

“Kenapa aku?” Ucapku bingung padanya.

“Tentu kau sudah tau alasannya.” Ucapnya.

“Kau bercanda!! Jangan begitu kalau Yoona tahu bagaKimana?”

“Sudah kubilang aku tidak berpacaran dengannya.” Ucapnya menatapku.

 

Tidak terlihat dKimatanya suatu kebohongan, namun aku menepisnya dan berusaha mengalihkan pandanganku darinya.

“Terserah kau saja, mau suka kepada siapapun. Aku tidak peduli.” Ucapku.

 

Sebenarnya aku masih mencintaKimu Hae tapi aku tahu kau tidak menyukaiku jadi aku tak boleh terlalu berharap. Mungkin saja Donghae hanya ingin membuatku bahagia, tapi tidak Hae aku justru bertambah sakit karena mengingat kau menyukai Yoona sahabatku, bukan aku.

“Ji.. sudah kubilang kalau aku mencintaKimu, hanya mencintaKimu.”

“Tapi kau menyukai Yoona, aku..” Ucapanku terhenti.

“Tidak. Dulu memang iya, tapi aku menyadari sesungguhnya aku mencintaKimu..” Ucapnya berusaha meyakinkanku.

Jika itu adalah suatu kejujuran betapa senangnya aku,tapi jika itu adalah suatu kebohongan aku akan merasa sangat sakit. Jujur aku tak tahu Donghae serius dengan ucapannya atau tidak. Hatiku terisak, aku bingung dengan keadaan ini. Disatu pihak aku sangat senang Donghae mengatakan itu padaku, tapi aku takut dia hanya berbohong padaku.

“Percayalah padaku..” ucapnya mencoba meraih tanganku. Aku mencoba menepis tangannya yang berusaha menggapai tanganku.

“Hae, kau mencintai Yoona bukan aku.” Ucapku kemudian berdiri, aku melangkah meninggalkan Donghae.

Setelah beberapa langkah kurasakan ada tangan yang menarik tanganku dari belakang.

“Ji.. kumohon percayalah padaku, aku sangat kehilangan saat kau tak ada. Jangan tinggalkan aku lagi.” Ucapnya padaku.

“Sudahlah Hae, jangan bercanda lagi denganku. Aku sudah muak dengan semuanya.” Ucapku melepaskan tangan dari cengkramannya.

 

Aku berlari meninggalkan Donghae sendirian di taman. Sungguh, sebenarnya jantungku berdetak sangat kencang sejak tadi. Tapi aku harus tahu bahwa donghae tidak mencintaiku. Aku akan berusaha melupakannya perlahan demi perlahan.

 

Sudah beberapa hari ini Jiyoung tidak lagi melihat Donghae berada di sekitarnya. Setelah kejadiaan di taman hari itu, Jiyoung tak lagi melihat batang hidung seorang Lee Donghae. Lee Donghae memang sedang sibuk akhir-akhir ini. Dia ditunjuk sebagai ketua tKim basket di sekolahnya. Dia harus berlatih setiap hari bersama kawan tKimnya karena pertandingan basket antar sekolah akan segera dilaksanakan. Tentu hal itu membuat Donghae sedikit frustasi karena mengingat masalahnya dengan Jiyoung masih belum selesai, tapi dia tak punya cukup banyak waktu untuk menyelesaikan masalah itu dan segera membuat Jiyoung percaya padanya.

 

Jiyoung berjalan sambil membaca buku bacaannya. Yoona datang dari belakang tubuh Jiyoung dan menepuk bahunya. Jiyoung berhenti sebentar dari aktifitasnya, menoleh pada gadis yang kini sudah berada di sampingnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

“Yoon.. Kau baru berangkat?” Tanya Jiyoung menoleh pada Yoona kemudian kembali fokus pada buku bacaannya.

“Iya, aku baru berangkat. Kau tahu, aku senang sekali hari ini.” Ucap Yoona dengan nada sumringah.

Yoona menatap Jiyoung yang masih saja berkutat dengan buku di tangannya itu.

“Kenapa? Apa yang terjadi sehingga kau tampak sangat bahagia hari ini?” Jiyoung menutup bukunya untuk menoleh dan memperhatikan wajah Yoona dengan seksama, dia memang benar benar terlihat bahagia hari ini.

“Kau tahu kan bahwa aku mendapat surat akhir akhir ini dari penggemar rahasia?” Ucap Yoona sambil memegang lengan Jiyoung penuh semangat.

“Iya, aku tahu. Kenapa? Kau sudah tahu siapa orangnya?” Tanya Jiyoung mencoba menebak.

“Aku belum tahu siapa orangnya.”

“Lalu? Kenapa kau tampak bahagia?” Jiyoung mengerutkan dahinya karena salah menebak.

“Yah, aku memang belum tahu siapa orangnya. Tapi secepatnya aku akan tahu siapa dia. Kau tahu, dia mengajakku bertemu di sebuah cafe sore ini.” Ucap Yoona masih dengan nada sumringah.

“Ohh… begitu..” Ucap Jiyoung kemudian melepaskan cengkraman Yoona dari tangannya dan kembali membaca bukunya yang tadi sempat tertunda.

“Ish… kau ini lama lama menyebalkan. Kau selalu sibuk dengan bukumu. Kau tidak memikirkan masalahmu dengan Donghae lagi?”

 

Jiyoung menutup bukunya lagi, dia teringat dengan Donghae kali ini.

“Yoon.. sudah kubilang, aku akan melupakannya.” Ucap Jiyoung menoleh sekilas pada Yoona.

“Tapi kupikir, Donghae mungkin mulai menyukaKimu. Kau tahu kan bahwa aku dan dia itu tak ada hubungan apa apa. Jadi kau harus berusaha mengejar cinta Donghae lagi.”

“Apa yang kau bicarakan Yoon, aku akan melupakannya.” Jiyoung berkata kemudian berjalan meninggalkan Yoona di belakang.

“Ji… tunggu.” Yoona menyusul Jiyoung yang sudah melesat pergi dari hadapannya.

 

Hari ini Jiyoung sedang duduk sambil mendengarkan musik dari Iphonenya sambil tetap membaca bukunya penuh minat. Membaca buku adalah salah satu cara Jiyoung untuk melupakan Donghae. Setelah kejadian di taman Donghae tak lagi menemuinya. Cih… aku salah jika berpikir bahwa Donghae mengatakan hal yang sesungguhnya saat di taman. Buktinya dia tak lagi menemuiku. Yang Donghae ucapkan waktu itu hanya omong kosong belaka. Aku terlalu bodoh jika mempercayai omong kosongnya itu.

 

Sesekali bibir mungil Jiyoung bersenandung mengikuti lagu yang di dengarnya. Mengikuti alunan musik, kemudian terkadang terbawa suasana musik.

Yoona datang tiba tiba dari belakang mengejutkan Jiyoung. Membuatnya mematikan musik dari Iphonenya dan sedikit bergeser memberi ruang duduk untuk Yoona. Yoona duduk dengan tergesa dan menarik tangan Jiyoung. Jiyoung hanya bisa pasrah dan menatap Yoona. Yoona terlihat ingin menyampaikan sesuatu.

 

Yoona datang tiba tiba dari belakang mengejutkan Jiyoung. Membuatnya mematikan musik dari Iphonenya dan sedikit bergeser memberi ruang duduk untuk Yoona. Yoona duduk dengan tergesa dan menarik tangan Jiyoung. Jiyoung hanya bisa pasrah dan menatap Yoona. Yoona terlihat ingin menyampaikan sesuatu.

“Ji.. aku tahu siapa penggemar rahasiaku sekarang.” Ucapnya sambil mengeratkan genggamannya di jari tanganku.

“Iya, kau sudah bertemu dengannya sore kemarin bukan? Siapa orangnya?” Jiyoung bertanya dengan tenang sambil melepaskan tangannya dari cengkraman Yoona. Cengkramannya tadi cukup kuat, membuat jari Jiyoung merasa sakit, sedikit.

“Kau tahu Lee Seung Gi Sunbae?”

“Ya? Seung Gi sunbae?” Jiyoung sedikit terperanjat mendengar nama yang disebut sahabatnya ini.

“Iya, ternyata dialah penggemar rahasiaku. Aku memang bertemu dengannya beberapa kali. Pernah suatu hari dia datang ke tempat kursus memasakku untuk melakukan adegan syuting bersama yang lainnya. Kau tahu kan bahwa dia itu ikut kursus seni peran?” Yoona menjelaskan panjang lebar seakan Jiyoung tidak mengenal sosok Lee Seung Gi.

“Yaah… aku tahu, di sekolah ini siapa si yang tidak tahu Seung Gi sunbae.” Ucap Jiyoung santai.

“Dan yang paling mengejutkan, dia memintaku untuk menjadi kekasihnya saat itu juga.”

“Mwo?” Mata Jiyoung membulat sempurna mendengar apa yang dikatakan Yoona.

“Iya, kau pasti sangat kaget.”

“Lalu? Apa kau…” Jiyoung berkata penuh selidik.

“Tentu, aku menerKimanya.” Ucap Yooa santai tidak mengalihkan pandangannya pada Jiyoung.

“Hei… kau baru mengenalnya, kenapa kau menerKimanya begitu saja. Ini tidak benar. Kau belum mengenalnya jauh bagaKimana kau menerKimanya begitu saja?” Ucap Jiyoung penuh penekanan.

“Kau jangan khawatir, aku percaya Seung Gi Oppa itu orang yang baik. Dia sudah meyakinkanku.” Ucap Yoona mantap.

“Tapi… bagaKimanapun… dia orang yang baru kau kenal.” Ucap Jiyoung sedikit kesal dan tidak percaya dengan keputusan Yoona menerKima cinta dari orang yang baru dikenalnya.

“Aku berani memulainya karena aku mengikuti kata hatiku. Aku tidak akan berani mengambil keputusan yang tak diinginkan oleh hatiku.”

 

Ucapan Yoona barusan sedikit banyak membuka jalan pikiran Jiyoung ‘Aku tidak akan berani mengambil keputusan yang tak diinginkan hatiku’. Beberapa waktu ini dia tak pernah mengikuti apa yang hatinya inginkan. Ketika ia bahagia mendengar Donghae menyukainya, dia justru mengelak dan menyembunyikan kebahagiaannya. Tapi itu semua dia lakukan karena ragu dengan yang Donghae katakan. Dia juga berusaha menutup hatinya rapat rapat supaya bisa melupakan Donghae padahal dia ingin sekali bersama Donghae lagi dan berharap bahwa ucapan Donghae benar bahwa dia mencintai dirinya. Tiba tiba hati Jiyoung menjadi sakit mengingat semua kejadian itu.

 

*Chapter 8

 

Jiyoung berjalan sambil membaca bukunya, seperti biasa. Membaca di taman sudah cukup membosankan bagi Jiyoung, dia ingin suasana dan tempat yang baru untuk membaca bukunya.Jiyoung berjalan tanpa tahu arah yang akan dituju. Dia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Tak perduli dengan orang orang yang berlalu lalang. Dia tetap melangkahkan kakinya. Sesekali dia menabrak bahu seseorang karena tak memperhatikan jalannya. Jika itu terjadi dia akan menunduk dan meminta maaf kemudian kembali fokus pada bukunya dan berjalan mengkuti kakinya melangkah, lagi. Adegan tabrak dengan seseorang sebenarnya mengingatkan Jiyoung pada satu sosok, Lee Donghae. Yah, dulu dia dan Donghae pernah bertabrakan sampai buku yang dibawanya terjatuh.

 

Jiyoung memasuki arena yang cukup sepi sepertinya. Masih tetap fokus membaca bukunya, Jiyoung mendengar decitan suara sepatu yang bergesekan dengan lantai. Sedang dKimana dia sekarang? Namun Jiyoung tak menghiraukannya, dia hanya fokus pada bukunya dan tak memperdulikannya. Tapi lama kelamaan Jiyoung penasaran juga, dia menutup bukunya dan menoleh ke asal suara decitan itu. Oh… sekarang dia sedang ada di lapangan basket. Mata Jiyoung menemukan sosok Lee Donghae sedang berlari sambil membawa bola basket dan memasukkannya ke dalam ring. Dan bola pun masuk. Entah kenapa tangannya ingin bertepuk tangan melihat aksi Donghae tadi, tapi belum sampai dia menepuk kedua tangannya dia segera sadar bahwa ia tak perlu melakukannya. Tangannya bergerak turun dan kembali membuka bukunya yang sempat ia tinggalkan kemudian berbalik untuk meninggalkan tempat itu. Baru selangkah kakinya berjalan, ada suatu benda keras menghantam kepalanya. Itu cukup membuatnya pusing dan akhirnya tak sadarkan diri.

 

Donghae sedang membawa bolanya ke arah ring dan berusaha memasukkan bolanya. Bola masuk ke ring kemudian bola itu diambil alih oleh Siwon. Siwon melempar bola itu menuju Ryeowook tapi Ryeowook tak bisa menangkapnya dan bola itu terus melaju ke luar area lapangan.

 

Kulihat ada seseorang yang berdiri di pinggir lapangan. Aku memperhatikannya mencoba mencari tahu siapa dia. Itu Jiyoung! Pekik Donghae dalam hati. Kemudian dia melihat arah bola sedang menuju ke Jiyoung. Dia akan berteriak ‘Awas!’ tapi sebelum kata itu terucap bola itu sudah mendarat di kepala Jiyoung. Sepertinya bola itu mendarat dengan cukup keras di kepala Jiyoung. Jiyoung terlihat memegang kepalanya kemudian beberapa detik kemudian jatuh tak sadarkan diri. Aku bergegas lari menghampirinya untuk menolongnya. Aku sangat mengkhawatirkannya. Dia tak sadarkan diri.

“Jiyoung… kau tidak apa apa.” Ucapku sambil menggerak gerakkan badannya pelan berusaha membangunkannya.

“Sepertinya dia pingsan, kurasa lemparan bolaku tadi cukup keras sehingga bisa membuatnya pingsan seperti ini.” Ucap Siwon sambil menggaruk kepalanya pelan.

“Aku akan membawanya ke unit kesehatan, kalian lanjutkan latihannya.” Suruhku pada kawan team basketku.

“Baik.”

 

Donghae menatap Jiyoung yang masih memejamkan matanya itu. Dia khawatir jika terjadi sesuatu dengan Jiyoung.

“Donghae… bagaKimana keadaan Jiyoung?” Yoona bertanya dengan nafas tersengal karena berlari menuju le unit kesehatan setelah dia bertemu dengan anak basket yang sedang membicarakan Jiyoung.

“Dia masih tidak sadarkan diri. Sepertinya benturan tadi cukup keras.” Ucapku padanya. Terlihat bahwa dia cemas dengan keadaan Jiyoung.

“Ah… aku sangat mengkhawatirkannya. Tapi setelah ini aku ada kursus memasak, aku tidak bisa menunggunya sampai sadar.” Ucap Yoona penuh penyesalan.

“Tidak apa, aku akan menunggunya sadar dan mengantarnya pulang. Kau pulanglah, jangan sampai lewatkan kursusmu.”

“Baik. Jaga Jiyoung baik baik. Aku menyerahkan dia sepenuhnya padamu.”

 

Yoona beranjak pergi meninggalkan aku dan Jiyoung di ruang ini, berdua. Donghae kembali fokus memandangi wajah Jiyoung. Wajah itu selalu dirindukannya. Beberapa hari ini aku tak sempat melihatnya karena cukup sibuk dengan persiapan pertandingan basket yang akan segera dilaksanakan. Dan aku bersyukur sekarang aku bisa melihatnya lagi, dengan mata tertutup. Kulihat matanya mulai bergerak, perlahan dia membuka matanya dan mata itu kini bertemu pandang dengan mataku. Aku seperti terhipnotis oleh matanya, tak ada niatan untuk mengalihkan pandanganku darinya. Tapi tidak dengannya, dia mengalihkan pandangannya dariku dan bangun dari tidurnya.

“Kau sudah baik baik saja? Apa kepalamu merasa pusing?” Tanyaku padanya namun dia tetap bergerak mengenakan sepatunya dan berdiri mencoba meninggalkanku.

 

Aku tidak akan membiarkannya pergi, aku sudah bilang bahwa aku akan mengantarnya pulang. Aku terus mengikutinya, berjalan di belakangnya. Terkadang langkah kaki Jiyoung menjadi tidak stabil, dia terhuyung seperti akan jatuh sambil terus memegangi kepalanya.

“Aku akan mengantarmu pulang. Sini aku bantu berjalan, kau masih pusing.” Ucapku menawarkan bantuan padanya.Berusaha memapahnya namun tanganku ditepisnya. Meskipun tidak cukup keras, tapi aku segera mengurungkan karena dia menolak.

“Apa kau sangat membenciku sekarang?” Tanyaku to the point padanya.

Jika benar dia membenciku maka aku akan perlahan meninggalkannya walaupun itu akan sulit.

“Jika iya, aku tidak marah. Tapi izinkan aku untuk membantumu kali ini saja.” Ucapku kemudian.

 

Suasana hening sekejap.

“Aku tidak membencKimu dan tidak akan bisa membencKimu Lee Donghae.” Ucapnya sambil terus berjalan dan menatap lurus ke depan.

Mendengar ucapan Jiyoung aku menjadi senang, namun agak bingung. Jika dia tidak membenciku kenapa dia selalu berusaha menghindar.

“Sungguh? Lalu apa alasan kau selalu menghindar dariku?”

“Karena… karena aku tidak bisa membencKimu.” Ucap Jiyoung dengan tetap memandang lurus jalan di depannya, tak mau melihat ke arahku.

“Kenapa kau tak bisa membenciku?” Penasaran, aku menanyakan alasan kenapa dia tidak bisa membenciku.

Aku tak yakin dia mau menjawabnya, tapi aku memang ingin menanyakannya.

“Karena aku masih belum bisa melupakanmu. Terlebih setelah tahu bahwa Yoona dan kau memang tak ada hubungan. Aku selalu bersikeras mengatakan bahwa kalian punya hubungan. Setelah Yoona mengatakan bahwa dia berpacaran dengan Seung Gi Sunbae itu membuatku menyalahkan diriku sendiri dan aku justru semakin tak bisa melupakanmu. Selama ini aku selalu berkata omong kosong, apa yang kukatakan tak sesuai dengan apa yang hatiku inginkan. Aku ini munafik.”

 

Jadi dia tidak membenciku, tak peduli seberapa besar aku melukainya dia masih tetap tidak membenciku. Dan masalah Yoona dan Seung Gi Sunbae, aku baru tahu sekarang.

“Ji.. apa yang kau maksud dengan apa yang kau katakan tak sesuai dengan yang hatKimu inginkan?”

“Aku munafik. Ketika hatiku merasa bahagia saat kau mengatakan kau menyukaiku, aku justru mengelaknya dan mencari cari alasan. Ketika aku mengatakan bahwa aku baik baik saja pada setiap orang, semua itu bohong. Aku tidak pernah merasa baik baik saja setelah aku tahu kau menyukai Yoona.”

Seketika Donghae terdiam. Itu pasti menyakiti hati Jiyoung.

“Ji… aku dan Yoona memang tak pernah menjalin hubungan. Memang benar bahwa aku pernah menyukainya. Bahkan walaupun dia menolakku aku terus mengejarnya, tapi tetap saja hasilnya sia sia. Aku memutuskan menyerah. Tanpa aku sadari ada sosok yang hilang dari hidupku, sosok yang periang, sosok yang selalu tersenyum saat bersama denganku, sosok yang selalu bertanya dan memperhatikanku. Dan sosok itu adalah kau. Aku baru menyadarinya setelah kau merasa sakit. Aku memang bodoh, menyadarinya saat sudah berhasil menyakitKimu. Aku terlambat menyadarinya. Setelah kau kembali muncul di hidupku, aku selalu memperhatikanmu. Berusaha menyatakan perasaanku. Tapi kurasa kau terlalu membenciku. Mungkin aku terlalu dalam menyakitKimu. Aku minta maaf.”

Kulihat Jiyoung menoleh setelah mendengarkan ucapanku barusan. Dia memperhatikanku, seperti ingin mengatakan sesuatu.

 

“Maaf karena aku munafik, maaf karena aku bersifat seperti itu kau jadi mengira bahwa aku membencKimu. Tapi satu hal yang harus kau tahu bahwa aku tidak membencKimu dan tidak akan pernah membencKimu. Semua sifat yang kutunjukkan selama ini hanyalah kemunafikanku saja. Aku minta maaf.”

 

Jiyoung meneteskan air matanya. Tidak, ini tidak benar. Disini aku yang salah, tidak seharusnya Jiyoung yang minta maaf.

“Tidak Ji, aku yang salah. Aku yang minta maaf. Jangan menangis, aku benci melihat air matamu terbuang sia sia.”

 

Aku mengusap pelan air mata di pipi Jiyoung. Air mata itu sangat berharga, sudah cukup aku membuatnya sakit selama ini. Sekarang aku tak mau membuatnya sedih.

“Ji… maafkan aku karena telah membuatmu sakit. Dan…. aku mencintaKimu. Tidak peduli kau akan membalas perasaanku atau tidak, tapi aku hanya ingin berkata bahwa aku menyukaKimu.”

 

Jiyoung menatap Donghae. Sungguh, ini semua seperti mKimpi.

 

“Kau tidak harus membalas perasaanku, cukup biarkan aku memapahmu dan mengantarmu pulang hari ini.”

 

Jiyoung tetap menatap Donghae lekat mencerna setiap ucapannya. Tidak, dia tidak akan lagi menjadi munafik. Dia akan mengikuti kata hatinya. Jiyoung memeluk Donghae, mengikuti apa yang hatinya inginkan. Donghae cukup kaget dengan pelukan Jiyoung, tapi pada akhirnya Donghae membalas pelukan itu.

“Aku juga mencintaKimu…” Ucap Jiyoung di sela pelukannya.Donghae tersenyum mendengar Jiyoung mengucapkannya.

 

*Chapter 9 (END)

 

Jiyoung berlari secepat mungkin menuju lapangan basket. Dia rasa dia akan segera ketinggalan menonton pertandingan itu jika telat sedikit saja. Dia tidak mau ketinggalan menonton pertandingan itu untuk menyemangati orang yang sangat dia cintai.

Nafas Jiyoung tersengal saat sudah sampai di tempat yang dituju. Sudah ramai orang disana, semua ingin menonton dan menyemangati sekolahnya masing masing. Jiyoung menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari bangku yang kosong. Dan bingo! Di depan sana ada bangku kosong. Jiyoung segera berlari kesana dan duduk. Sembari mengatur nafasnya, mata Jiyoung terus mencari seseorang di lapangan sana. Dia menemukannya, dilihatnya Donghae melambai padanya. Tanpa ragu Jiyoung juga membalas lambaian tangan itu dengan gembira.

 

“Fighting!” Bisik Jiyoung pelan sambil mengepalkan tangannya dan memandang sang kekasih di arena pertandingan.

Donghae hanya bisa mengangguk dan tersenyum melihat semangat yang di berikan oleh Jiyoung padanya.

 

“Donghae melambaikan tangan pada siapa?” Bisik seseorang di belakang Jiyoung yang masih bisa ditangkap oleh telinga Jiyoung.

“Apakah Donghae melambaikan tangan pada Jiyoung? Jangan jangan mereka…” Ucap yang lain.

“Tidak, kurasa mereka berteman.” Tambah yang lainnya.

“Tapi jika hanya teman tak perlu sampai begitu kan….” Kimbuh yang lainnya lagi.

 

Jiyoung hanya bisa menghela nafasnya pelan, tak mau memperdulikan perkataan orang lain. Dia hanya perlu fokus melihat pertandingan.

 

Pertandingan telah usai, Jiyoung bermaksud untuk datang ke ruang ganti anak basket. Ingin bertemu dengan Donghae dan memberi selamat atas kemenangannya. Sampai di pintu ruang ganti basket, dia bertemu dengan Heejin. KKim Heejin, salah satu adik kelasnya.

 

Kulihat Heejin sedang berada di depan ruang ganti basket. Kalian bertanya kenapa aku bisa mengenalinya? Dia itu cukup populer sejak pertama sekolah disini. Dia ketua tKim dance di sekolah ini. Oh ayolah… dia memang cukup populer. Tapi kenapa dia disini? Apakah dia ingin menemui seseorang? Hyukjae?Yang aku tahu Hyukjae memang sedang dekat dengan Heejin. Entah bagaKimana caranya Hyukjae bisa dekat dengan gadis populer seperti Heejin. Selama ini aku tidak pernah mendengar kabar bahwa Heejin mempunyai kekasih. Apa yang telah Hyukjae lakukan sehingga dia bisa dekat dengan gadis populer seperti Heejin. Sedangkan kudengar banyak laki laki yang mengejar Heejin tapi tak pernah diterKima.

“Heejin.. sedang apa kau disini?” Tanyaku padanya, berusaha memastikan dugaanku.

“Eum… aku..” Ucap Heejin tergagap.

“Mau bertemu Hyukjae?” Tebakku.

“Eum…. Eonni… Itu..”

 

Tiba tiba datang seseorang yang menghampiri kami, aku menoleh dan mendapati Hyukjae berjalan kearah kami berdua.

“Ji.. kau mau apa kesini?” Tanyanya padaku.

“Aku mau menemui seseorang.” Ucapku lugas.

“Heejin… sejak kapan kau kemari?” Tanya Hyukjae menoleh kearah Heejin, mengalihkan pandangannya dariku setelah mendengar jawabanku tadi.

“Heem… baru saja, Oppa.” Heejin tampak tersenyum.

“Selamat atas kemenangan hari ini!” Teriak Heejin penuh semangat.

 

Kuperhatikan, Hyukjae hanya mengusap kepalanya pelan yang aku yakin sepertinya tidak gatal.

 

“Tapi aku tidak ikut bertanding hari ini, aku hanya menjadi cadangan.” Ucap Hyukjae kemudian.

“Ya, tapi tetap saja aku harus memberKimu semangat.” Ucap Heejin dengan tetap tersenyum.

 

Oh.. ayolah, kalian ini menganggap aku patung atau apa? Kalian hanya asik mengobrol berdua tanpa peduli aku ada di samping kalian.

 

“Heejin, ayo kita ke kantin. Aku lapar.” Ajak Hyukjae dengan tampang menjijikkan, menurutku.

Iuh… itu tampang yang sangat menjijikkan, baru kali ini aku melihatnya memasang tampang semacam itu. Apa semua lelaki melakukannya saat di depan wanita yang mereka suka?

“Baik. Ayo…” Ucap Heejin menarik tangan Hyukjae pergi.

 

Aku tak percaya, mereka berlalu pergi tanpa peduli keberadaanku. Benar benar menganggapku patung atau apa.

 

“Ji…” Sapa seseorang.Aku menoleh dan melihat Donghae ada disana.

“Hae… Selamat atas kemenanganmu. Kau sungguh keren tadi.” Ucapku menghampirinya.

“Tentu saja. Aku sangat bersemangat karena kau menonton dan memberiku semangat tadi.” Donghae menyikut bahuku pelan. Aku hanya tersenyum, mencoba menstabilkan perasaanku yang membuncah akibat ucapan Donghae. Hanya dengan ucapan seperti tadi bisa membuat hatiku berbunga bunga. Payah sekali kau Park Jiyoung.

 

Aku merasakan ponsel di sakuku bergetar, segera kuambil dan mendapati nama Yoona tertera di layar. Astaga, aku lupa. Hari ini rencananya aku dan dia akan menonton pertandingan basket bersama, tapi tadi pagi aku terburu buru dan lupa dengan janjiku. Aku justru menontonnya sendiri.

“Yeobosoyo..” Ucapku.

“Kau dKimana? Apa masih belum berangkat? Pertandingannya mungkin akan segera berakhir.” Ucapnya di ujung telepon sana.

“Pertandingannya sudah selesai Yoon..”

“Hah? Apa kau sudah menontonnya?” Tanya Yoona.

“Yah, bahkan aku sekarang sedang di ruang ganti basket. Pertandingan sudah selesai, dan sekolah kita menang.”

“Eissshhh… kau menyebalkan, kenapa kau menonton sendiri? Tak mengajakku.” Yoona nampak kesal, bisa dipastikan dari caranya berbicara.

“Maaf… aku benar benar minta maaf, tadi aku lupa. Sebaiknya kau ke ruang ganti basket saja.”

 

Tuuut… tuuuttt suara telepon tertutup. Kurasa Yoona benar benar marah padaku.

“Yoona?” Tanya Donghae setelah aku menutup telepon.

Aku hanya membalas pertanyaan Donghae dengan cengiran. Kupikir Donghae pasti sudah tahu jawabannya, siapa lagi yang dekat denganku selain Yoona.

 

Yoona datang dengan wajah kesalnya. Wajah itu membuatku sedikit bergidik ngeri. Selama aku bersahabat dengannya baru kali ini aku melihat dia memasang muka seperti itu. Sekarang dia ada di depan wajahku. Ngeri, itu yang kurasakan. Dia seperti ingin menerkamku hidup hidup.

“Mm… Yoon, aku minta maaf.” Ucapku sambil memasang wajah bersalah.

“Kau memang menyebalkan. Jangan memasang wajah seperti itu. Aku jadi tidak tega memarahKimu.” Ucapnya. Wajahnya mulai berubah, tidak lagi menyeramkan.

“Sekali lagi maaf.”

“Hei… Yoon jangan marahi Jiyoung. Kasian dia.” Ucap Donghae di belakangku.

Yoona terlihat menyipitkan matanya pada Donghae.

“Kau penyebab ini semua, bodoh!” Ucap Yoona pada Donghae.

“Dia meninggalkanku karena takut melewatkan pertandinganmu walaupun satu detikpun.” Lanjut Yoona.

“Heish… kau cemburu karena Jiyoung lebih mementingkanku sekarang?” Tanya Donghae.

“Apa yang kau bicarakan. Aku tidak cemburu, lagipula aku kan sudah punya pacar.” Ucap Yoona mencoba membantah.

“Haha… iya aku tahu Seung Gi sunbae bukan? Tapi kau bicara seakan kau cemburu.” Ucap Donghae sedikit terkekeh.

Yoona hanya bisa terdiam.

“Hei… sudah, kalian asik ngobrol berdua saja. Kalian ingin membuatku seperti patung? Sama dengan yang Hyukjae dan Heejin lakukan padaku beberapa menit yang lalu?” Ucapku kesal.

Aku tidak mau lagi diperlakukan seperti patung dalam jangka waktu berdekatan.

“Aku tidak bermaksud begitu, sayang. Aku hanya ingin membelamu.” Ucap Donghae sambil merangkul pundakku.Aku hanya terdiam di tempat dan tak bisa melakukan apapun lagi.

“Heish… dasar pasangan baru.” Cibir Yoona.

“Kau bilang kau tadi dianggap patung oleh Hyukjae dan Heejin? Kenapa bisa? Memangnya tadi Heejin datang kemari?” Tanya Donghae padaku kemudian melepaskan rangkulannya di pundakku.

Aku menghembuskan nafas lega, setidaknya sekarang jantungku berdetak normal kembali.

“Ya, tadi Heejin kesini untuk bertemu Hyukjae.” Ucapku kemudian.

“Apa mereka berpacaran?” Tanya Yoona padaku.Aku hanya mengendikkan bahuku pertanda bahwa aku tidak tahu kepastiannya.

“Belum, Hyukjae belum ada hubungan dengan Heejin. Dia bilang hari ini dia akan mencoba menyatakan perasaannya pada Heejin.” Ucap Donghae membalas ketidaktahuanku dan Yoona.

“Begitu ya. Tadi Hyuk mengajak Heejin ke kantin. Apa mungkin Hyukjae akan menyatakan cintanya di kantin?” Tanyaku penasaran.

“Itu mungkin saja. Astaga, pasti akan sangat romantis. Ayo kita ke kantin. Aku ingin melihatnya.” Ucap Yoona antusias.

 

Aku dan Donghae saling pandang. Mencoba bertanya satu sama lain ‘apakah kita tak akan menggagu mereka?’ lewat pandangan mata.

 

Yoona tampak memperhatikan kami.

“Hei… ayo, nanti kita tidak sempat melihat.” Ucap Yoona masih tetap bersemangat.

 

Ponsel Yoona berdering pertanda ada sebuah panggilan masuk. Yoona membalikkan badannya dan mengangkat telepon itu.

“Aku mau ke kantin. Ayo bertemu disana.” Ucap Yoona pada seseorang yang kuyakini adalah Lee Seung Gi.

 

Dia berbalik ke arah kami dan tersenyum.

“Dari Seung Gi sunbae?” Tanyaku padanya.

“Emm…” Ucap Yoona menganggukkan kepala.

“Dia bicara apa?” Tanya Donghae.

“Sebaiknya kita segera ke kantin aku tidak mau melewatkan pernyataan cinta Hyukjae pada Heejin.” Ucap Yoona kemudian menarik tanganku pergi.

Donghae membuntut di belakang, mengikuti langkahku dan Yoona.

 

Di kantin sudah banyak orang bergerombol. Aku, Yoona dan Donghae berhasil menembus gerombolan itu. Di depan kami terlihat Hyuk sedang berlutut di depan Heejin, menyatakan perasaannya. Sebenarnya aku tidak yakin kalau Heejin mau menerKima Hyuk, mengingat bahwa dia gadis populer. Tapi aku salut dengan Hyuk, dia mau menyatakan perasaannya di depan umum seperti itu. Itu pasti membutuhkan mental dan kepercayaan yang kuat.

 

Dari sisi kanan kulihat seseorang datang menghampiri kami. Itu Seung Gi sunbae.

“Yoong…” Panggilnya pada Yoona.Yoona menoleh dan terlihat bahagia menemukan kekasihnya di sana. Terlihat Seung Gi sunbae mendekati Yoona dan menggenggam tangan Yoona. Mereka saling melemparkan senyum satu sama lain. Kemudian pergi menjauh dari kami.

 

Semua orang berteriak.”TerKima… terKima…” Sambil bertepuk tangan.

Aku kembali melihat ke arah Hyuk yang tengah menunggu jawaban Heejin. Semoga Heejin menerKimanya, bagaKimanapun Hyukjae sudah berjuang.

“Aku mau menjadi kekasihmu.” Ucap Heejin malu malu.

Semua orang bertepuk tangan untuk jawaban Heejin. Aku juga ikut bertepuk tangan. Kulihat Hyukjae berdiri dan memeluk Heejin. Ooh… sungguh romantis. Tak mau lama lama memandangi Hyuk dan Heejin, aku kembali menoleh kearah Yoona. Disana Yoona tampak tersenyum tanpa henti. Entah apa yang dibisikkan Seunggi sunbae padanya, yang pasti itu berhasil membuat Yoona tersenyum tanpa henti bahkan cenderung salah tingkah.

Di samping kiriku Donghae tiba tiba menggenggam tanganku lembut. Aku menoleh padanya dan mendapati dia tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya.

“Maaf aku tidak bisa membuatmu terkesKima saat menyatakan perasaanku padamu. Maaf juga aku tidak bisa membisikkan kata kata romantis yang bisa membuatmu bahagia. Maaf karena aku tidak bisa menjadi kekasih yang baik untukmu.” Ucap Donghae terus memandangku penuh arti.

“Hae, aku tidak perlu itu semua. Aku hanya butuh cintamu. Aku tidak butuh pernyataan cinta seperti yang Hyuk lakukan, atau kata kata romantis. Aku tidak perlu. Cukup untukku mengetahui bahwa kau mencintaiku. Jangan mengatakan hal buruk tentangmu. Kau adalah anugrah terindah yang tuhan berikan padaku. Kau adalah salah satu mKimpi besarku. Kau cukup mencintaiku dan jangan pernah tinggalkan aku. Cukup itu.” Ucapku membalas tatapannya, mencoba meyakinkannya bahwa semua hal itu tidak perlu dia lakukan.

“Maaf karena aku pernah menyakitKimu, Saranghae Park Jiyoung.”

 

Donghae memeluk Jiyoung erat, tak mau lagi menyakiti gadis di pelukannya ini. Tidak mau lagi menyia-nyiakannya.

Jiyoung membalas pelukan Donghae sama eratnya. Tak mau lagi kehilangan pria yang sedang memeluknya ini.

 

 

-the end-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: