WAY TO LOVE YOU

WAY TO LOVE YOU

 Way to Love you

 

Kim Jongwoon | Park Sojin

 

 

Note: this story is not originally mine. the story ideas, i get from a passage that I found since a few years ago. with some changes and improvements in various sides finally I could finish this fanfiction. hope you guys, will be enjoy this story.

Visit my personal blog and read my another ff >> https://eunhaewife.wordpress.com/

 

Jalanan di sekitar Yeouido tak akan pernah sepi. Terlebih ketika sudah memasuki malam hari, setiap orang akan mulai berlalu lalang di daerah ini. Mereka yang baru saja pulang dari kantor-kantor yang berada di gedung-gedung pencakar langit dari daerah ini, para remaja yang masih memakai seragam karena baru saja pulang dari kegiatan sekolah mereka, ataupun anak-anak muda yang sedang bergandengan mesra dengan lawan jenisnya seolah memperkenalkan pada dunia bahwa mereka adalah pasangan raja dan ratu.

Sojin memasuki sebuah restoran yang menyajikan menu ala-ala Mexico di dalamnya sambil menenteng beberapa tas-tas berisi bahan-bahan makanan wajib yang selalu ada di dalam lemari esnya. Hari ini adalah awal bulan baru, dan seperti kebanyakan karyawan lainnya ketika baru saja menerima uang gaji bulanannya maka mereka akan berbondong-bondong membeli seluruh persediaan bahan makanan mereka untuk satu bulan di berbagai supermarket yang menyajikan potongan diskon besar-besaran.

Dengan sedikit terpincang, wanita itu melangkah. Kaki sebelah kanannya, tepatnya di pergelangan kaki kanannya sedikit terkilir tadi saat turun dari tangga supermarket setelah ia selesai membelanjakan uang gajinya hari ini. Tapi gadis itu berusaha cuek dengan kondisi tersebut. Tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menatapnya sejak tadi baru saja memasuki restoran, latas saling berbisik dan tersenyum, mungkin mengejek.

Seorang waiter datang membawakan buku menu kepadanya, setelah melihat-lihat beberapa daftar menu dan juga potongan gambar contoh yang ada di dalam buku menu tersebut ia memutuskan untuk memesan beberapa, sebuah Citrus Chicken Salad ditambah dengan dua gelas Soy Milk Horchata yang ia pesan. Sesungguhnya ia sama sekali tidak lapar sore ini, ia hanya hanya haus, oh tidak saking hausnya ia bahkan memesan dua gelas cocktail sekaligus untuknya sendiri.

Sambil menikmati minumannya, Sojin mencoba mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu kemudian mulai beralih ke jalanan luar yang hanya dibatasi oleh dinding kaca di restoran tersebut. Ia memang tidak terlalu asing dengan suasana di daerah tersebut, karena jarak rumahnya dari tempat ini bahkan mungkin hanya berjarak tak lebih dari empat ki;ometer. Ia hanya perlu menaiki satu kali is tanpa mengoper ke jalur lainnya.

Seoul setiap hari memang tidak pernah menjadi kota yang mati, terlebih lagi ketika awal bulan seperti ini, seluruh supermarket dan tempat-tempat hiburan pasti akan selalu ramai dipenuhi pasangan-pasangan muda. Sojin berkali-kali tersenyum sendiri menyaksikan beberapa polah tingkah anak muda yang melintas di hadapannya, mereka yang sedang asyik mengobrol bersama temannya, bergandengan tangan dan juga bahkan saling merangkul kekasihnya, berjalan bak para model dengan pakaian yang nampak cukup mahal terlihat dari model dan juga bahannya.

“Seperti itukah aku dulu?”

TIDAK. Wanita itu menggelengkan kepalanya berkali-kali menolak apa yang baru saja ia katakan sendiri. Dulu ia tak pernah melakukan hal semacam ini karena di daerah asalnya di Gweongju bahkan hampir tidak ada tempat seperti ini. Dulu, untuk berangkat sampai di sekolah saja gads itu harus menyeberangi sebuah sungai besar dengan menaiki perahu terlebih dahulu.

Tapi tunggu. Tiba-tiba saja Sojin menangkap sosok yang sangat berbeda dari yang sebelumnya ia lihat. Darimana datangnya sosok itu? Mungkinkah dia adalah orang yang barusaja turun dari pegunungan atau bahkan dia adalah seorang yang baru saja kembali dari Planet Mars? Sungguh kontras dengan kebanyakan orang0orang lain yang terlihat di hadapannya saat ini.

Sojin kembali meneguk minumannya sambil menyipitkan matanya. Pria itu sempat menoleh dan mereka saling melakukan kontak mata satu sama lain, tapi hanya untuk sepersekian detik. Lalu pria itu kembali pada posisinya semula, menyender lemas di sebuah tiang lampu di pinggir trotoar. Mengantukkah ia? Matanya setengah terpejam, namun bibirnya berkali-kali mendecak. Bahkan tak segan beberapa kali pria itu tampak menggigit bibir bawahnya sendiri.

Matanya terbuka lagi secara tiba-tiba. Kali ini giliran Sojin yang dibuat salah tingkah. Pandangan mereka bertemu kembali. Tidak, gadis itu menggeleng berkali-kali. Pria itu tidak juga memindahkan pandangannya kearah lain, ke samping atau ke bawah mungkin. Sial. Justru saat ini pria itu terkesan seperti sengaja mengadu pandang. Sojin menundukkan kepalanya cepat-cepat sambil memasukkan sepotong Chicken Salad ke dalam mulutnya dengan tergesa-gesa.

Sial. Ia benar-benar gugup.

“Mwoya? Ani, ani, mengapa dia berjalan masuk?” umpat Sojin saat ia sempat melirik pria itu tadi kini tengah berjalan masuk ke dalam restoran dan mendekat pada meja tempatnya duduk.

Sojin mendongakkan kepalanya, namun pandangannya hanya mencapai dada pria itu. Bukan, ini bukan karena pria itu memiliki badan yang terlampau tinggi, hanya saja karena pria ini adalah orang asing sehingga Sojin tidak berani untuk menatapnya secara langsung seperti ini.

SIAAAAL, umpatnya lagi dalam hati.

“Hyeri-ah?”

Sojin mendongak kembali. Cih, sebenarnya ia ingin menutup hidungnya saat ini juga, tapi jelas hal ini akan terlihat sangat tidak sopan. Tapi, Ya Tuhan, pria ini.. bau. Bau keringatnya tajam sekali. Mungkin ditambah dengan bau yang menguap dari pakaiannya juga.

“Memangggilku?” tanya Sojin. Kali ini matanya tepat menatap mata sipit pria itu yang tidak memiliki lipatan di kelopaknya.

“Oh, mian,” kata pria itu sambil memukul dahinya sendiri beberapa kali.

“Kau salah orang?”

Pria itu tampak salah tingkah sendiri kemudian, “Mian, kupikir kau Hyeri,”

“Gwenchana,” kata Sojin lega dan akan semakin lega jika saat ini juga pria itu segera melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Sojin agar nafsu makannya tidak hilang.

Tapi harapan Sojin musnah seketika, ketika pria ini justru mengambil duduk di depannya. Sojin kembali dibuat salah tingkah, dengan hati-hati dan pelan, wanita itu kemudian tampak memotong kembali Chicken Saladnya dengan pisau di tangan kanannya. Berusaha untuk tidak mempedulikan apa yang sedang dilakukan pria itu di hadapannya.

“Enak?”

“Ne?”

“Makanannya?”

“Oh,” jawab Sojin ragu.

Oh tidak, batin Sojin. tangan itu tiba-tiba terulur ke depan, meraih garpu milik Sojin yang sempat ia letakkan bebapa saat sebelumnya. Sojin membulatkan matanya, melihat kuku-kuku yang hitam dari pria ini. Benar-benar jorok.

“Kau mau?” Sojin menyeringai, “Ambilah!”

Diluar dugaan Sojin, pria itu tanpa basa-basi lagi meraih piring berisikan Citrus Chicken Salad milik Sojin dan langsung melahapnya. Melihat cara makannya, wanita itu berani bertaruh jika pria ini pasti tidak makan selama satu bulan lamanya.

“Kau lapar?”

“Sangat,” jawab pria itu spontan.

Dalam waktu tidak lebih dari lima menit, makanan yang tadi ia pesan telah habis. Sojin hanya mampu menatap heran pada pria ini sambil berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang sedang dibuat terperangah oleh makhluk di hadapannya.

“Pesanlah, sesukamu, biar aku yang bayar.”

“Jinja?”

Sojin mengangguk.

Pria itu tersenyum tipis, memandang Sojin agak lama, lalu cepat ia mengangkat tangannya, memanggil seorang waiter untuk mengantarkan menu kepadanya. Saat ia memesan menu yang ada, tak salah dengan dugaannya, Sojin benar-benar dibuat terperangah dengan apa yang sedang dipesan pria ini.

Satu set Pork Kimcheese Fries dan juga satu set Grilled Steak Burrito yang entah berapa kali lipat harganya dibandingkan dengan apa yang tadi Sojin pesan.

“Minumannya?” tanya Sojin sambil menelan ludahnya.

“Itu?” pria itu menunjuk satu gelas Soy Milk Horchata miliknya yang belum tersentuh dan masih penuh.

“Oh, baiklah,” dimajukannya gelas minuman tersebut kemudian mendekat pada pria itu. Gelandangan ini memiliki hati juga, pikir Sojin. Dengan menambah pesanan minuman lagi, tentu saja tagihan pembayaran makanannya hari ini pasti akan bertambah, tapi justru pria ini memilih untuk meminum minuman yang telah ia pesan tadi.

Selanjutnya, setelah makanan pesanannya datang, Sojin hanya bisa menjadi penonton. Benar, pria ini tidak makan selama satu bulan penuh. Di planet tempatnya tinggal, pasti tidak ada makanan seperti ini. Atau mungkin disana orang hanya bisa memakan dan mengolah batu menjadi makanan sehari-hari?

Melihat cara makannya, mendadak Sojin merasa teramat kenyang sekali. Ia sering lapar, tapi rasanya ia tidak pernah bisa sama sekali makan dengan gaya makan seperti ini. cepat dan tidak berhenti sama sekali, seolah takut jika ada orang lain yang akan merebut makanannya.

Sojin bergidik melihat pria ini yang telah menyelesaikan makanannya lalu mengusap mulutnya yang berminyak dengan pergelangan tangannya

“Mau pesan lagi?”

“Ani, aku sudah kenyang,”

Bagaimana mungkin dia tidak kenyang? Seluruh makanan yang ada di depannya sudah berpindah posisi di dalam perutnya. hanya tinggal tersisa piring dan juga sepasang garpu dan sendok yang ada diatas meja saat ini.

“Gomawo. Apa kau juga sudah kenyang?”

Mata Sojin menyipit. Pria muda ini sungguh tidak memiliki sopan santun. Bagaimana tidak, mereka bahkan belum juga saling mengenal dan dia sudah seenaknya menggunakan bahasa informal dengannya. Sojin berani menebak, jika usia pria ini mungkin terpaut beberapa tahun lebih muda dari dirinya. Tapi meskipun begitu tentu saja dia masih lebih tua dan sudah sepantasnya jika pria ini setidaknya memanggil dia dengan embel-embel noona atau semacamnya. Ahh, tapi bukankah seperti itu gelandangan? Mungkin dia memang tidak pernah diajari sopan santun sebelumnya.

“Bisakah kau lebih sopan sedikit? Usiaku mungkin lebih tua darimu,”

“Maaf, tapi bukankah usiamu sekitar dua puluh delapan tahun?”

“Kau salah! Aku sudah tiga puluh tahun!” jawab Sojin, “Anakku bahkan sudah berusia sepuluh tahun,”

Pria itu mendongak sambil memperlihatkan mulutnya yang terbuka, tak percaya jika wanita di hadapannya ini telah berusia tiga puluh tahun dan telah memiliki anak. Tak banyak memang orang yang mudah percaya jika Sojin mengatakan bahwa usianya tahun ini telah mencapai tiga puluh tahun. Tapi itulah kenyataannya, ia sudah cukup tua jika harus bermain-main lagi seperti gadis-gadis lain yang mungkin memiliki wajah seumuran dengannya.

Tapi tak lama kemudian, pria asing tadi tampak menaikkan salah satu sudut bibirnya. Ia tersenyum mengejek, membuat Sojin merasa seperti sedang dipermainkan olehnya.

“Kau yang seharusnya memanggilku oppa,” kata pria, “Aku sudah tiga puluh dua tahun,”

“Mwo?”

Sojin terkejut, tak percaya. Selama ini banyak orang yang menganggap jika Mia masih cukup muda, padahal usianya sudah tiga puluh tahun. Tapi pria ini, ternyata lebih parah dari dirinya. Ketika banyak orang berpikir bahwa ia masih dua puluh delapan tahun, dan itu terpaut dua tahun lebih muda dari usia aslinya. Sedangkan pria ini, sungguh, tadinya Sojin mengira jika dia masih berusia dua puluh lima tahunan, tapi ternyata dia bahkan memiliki usia dua tahun lebih tua dari dirinya.

Pria itu tertawa, melihat ekspresi terkejut di wajah Sojin. Seperti kebanyakan orang-orang lain jika mengetahui usianya, begitupula dengan gadis itu. Jadi mereka berdua memiliki satu kesamaan, yakni banyak orang yang mengira usia mereka berdua lebih muda daripada usia asli yang mereka miliki.

Keduanya kemudian tertawa bersama, menyadari hal itu. Begitu juga dengan Sojin yang pada akhirnya ikut tertawa. Aneh, hari ini bagaimana bisa di melakukan hal ini. tertawa bersama dengan seorang gelandangan. Mimpi apa dia semalam?

“Apa kau sering kemari?”

“Ani, baru satu kali ini,”

“Benarkah?”

Pria itu tak menjawab, hanya saja tangan kanannya kemudian terangkat, memperlihatkan jari telunjuk dan juga jari tengahnya kepada Sojin, mengatakan bahwa saat ini ia memang sedang tidak berbohong.

“Dimana kau biasanya..”

“Maksudmu?” tanya pria itu. Belum sempat Sojin menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah terlebih dahulu memotong ucapannya. “Apa kau pikir aku adalah seorang pengemis?”

“Ani,” sahut Sojin cepat-cepat, takut membuat pria itu tersinggung dengan maksud ucapannya yang sebenarnya adalah benar. Bukankah tadi ia memang berpikir bahwa pria ini adalah seorang gelandangan?

“Apa kau pikir ada pengemis yang seperti ini?”

Pria itu berdiri tegak, membiarkan Sojin meneliti sekujur tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Saat ini barulah Sojin sadar dan menyesali batunnya yang sempat memberikan tuduhan salah. Sepatu, pakaian, celana jeans dan kaos oblong serta jaketnya, semuanya adalah barang-barang dengan merek terkenal dan berkelas. Hanya saja, semuanya memang telah lusuh dan kumal, mungkin karena tidak pernah dia lepaskan dari tubuhnya.

“Mian, aku tidak bermaksud sombong padamu. Tapi apa benar orang lebih suka menilai orang lain hanya dari penampilannya saja?”

Astaga. Cara bicaranya yang tegas, benar-benar membuat Sojin detik itu juga merasa tertohok. Saat ini juga ia telah kalah, dan harus mengakui bahwa ia memang kalah dari pria ini.

“Uangku memang sudah habis. Aku jujur, bahkan di dalam kantong celanaku saat ini sudah tidak ada uang sepeserpun. Sudah sehari aku bertahan dengan kondisi ini,” kata pria itu masih melanjutkan kalimatnya.

“Arra, arraseo.” Kata Sojin memotongnya. Bukankah saat ini ada cukup banyak trik yang digunakan orang lain untuk menipu? Atau jangan-jangan saat ini ia tengah berhadapan dengan…

“Mau kemana kau sehabis ini? baru pulang dari kantor?”

“Ne?”

“Mau pergi ke dokter?”

“Apa yang bicarakan?”

“Kakimu sakit kan? Terkilir?”

“Kau…”

“Aku sudah memperhatikanmu sejak tadi, saat kau baru masuk ke dalam restoran ini dengan kaki yang terpincang.”

“Ne, lalu apa hubungannya?”

“Tidak perlu pergi ke dokter. Aku akan membereskannya,”

Belum sempat Sojin berkata, tiba-tiba pria itu sudah lebh dulu bangkit dari duduknya dan berjongkok memegangi betisnya. Hampir saja wanita itu menjerit, buru-buru ia merapatkan pahanya dan merapikan rok pendek yang ia kenakan. Sojin tak bisa mencegaj ketika pria itu sudah membuka sepatu kanannya dan mulai mengurut pergelangan kakinya.

“Aaarrrghh.” Jeritnya tak tahan dengan rasa sakit yang timbul.

Setelah itu Sojin hanya bisa semakin menyesal karena nyatanya jeritannya tadi justru mengundang semakin banyak orang untuk memperhatikan mereka. Membuatnya merasa malu saat itu juga karena menjadi bahan tontonan seluruh pengunjung restoran saat itu. Tapi harus bagaimana lagi? Pria ini benar-benar nekat.

“Sekarang gerakkan ke atas-bawah, seperti ini. Regangkan. Masih sakit?” tanya pria itu sambil membantunya menggerakkan kaki.

“Masih,” jawab Sojin sambil meringis.

Pria itu mulai memijit-mijit kembali kakinya.

“Awas, jangan terlalu keatas!” seru Sojin saat melihat gerakan tangan pria itu yang semakin naik ke atas kakinya.

“Mian,” jawabnya pelan, lalu kemudian kembali memijit betis Sojin. menekankan ibu jarinya dari atas ke bawah hingga ke mata kaki Sojin.

Buru-buru Sojin mengusir sensasi aneh yang ia rasakan ketika itu.

“Coba lagi,” perintahnya.

Sojin tersentak dan mulai menggerakkan telapak kakinya. Ajaib, rasa sakitnya sudah jauh berkurang. Hanya tertinggal sedikit rasa nyeri di sana.

“Lebih baik kan?” tanya pria itu.

“Ne,”

Pria itu kemudian tersenyum lega. Ia menggosok-gosokkan kedua telapan tangannya dengan ekspresi puas setelah mendengar bahwa rasa sakit Sojin telah menghilang.

“Darimana kau belajar hal itu?”

“Aku pernah menjadi trainee dulu, dan tidak jarang saat berlatih kakiku terkilir,”

Sojin mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, mengerti. Pantas saja jika dia memiliki kemampuan memijit jika ternyata dulunya dia pernah menjadi trainee. Menjadi seorang trainee tentu saja memiliki cukup banyak jadwal latihan yang menyita waktu. Dan dari latihan-latihan tersebut tidak jarang mereka sering mendapatkan cedera-cedera baik itu ringan sampai cukup parah.

Wanita itu kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah cukup malam. Dia berdiri dan seketika merasakan kakinya yang sudah normal kembali. Rasa sakitnya yang tadi benar-benar sudah tak tersisa.

“Kamshamnida, untuk tangan saktimu,” ucap Sojin.

“Dan itu artinya kita impas?”

“Impas?” Sojin mengernyitkan dahinya sejenak karena tak mengerti.

“Aku sudah tidak punya hutang lagi karena mendapatkan makanan darimu. Asal kau tau, aku bukan orang yang bisa menerima kebaikan orang lain dengan begitu saja, apalagi hanya untuk belas kasihan,”

“Terserah kau saja,” jawab Sojin.

Sojin kemudian bergegar menuju meja kasir sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat digit angka yang ditulis pada selembar bill yang harus ia bayar. Sementara pria itu tanpa menunggu selesainya Sojin segera berdri dan kemuar dari area restoran. Menuju tempat awalnya tadi, berdiri di samping tiang pinggir trotoar dan menyandarkan tubuhnya kembali disana.

Selesainya membayar tagihan makanannya, Sojin berbalik dan segera berjalan keluar dari restoran. Menghampiri mobilnya yang terparkir beberapa meter di sebelah kanan lokasi restoran Mexico tadi. Hei, wanita itu seperti tersadar kemudian dan menunduk. Kakinya benar-benar tak terasa sakit lagi.

Sojin menghentikan langkahnya dan menepi ke samping tembok pinggir jalan ketika dirinya terpaksa harus berpasasan dengan sekerumunan orang yang berkelompok memenuhi jalan ketika itu. Bahkan salah satu dari mereka kemudian tampak mencolek pinggangnya sambil menyeringai menjijikkan. Tapi ia hanya membiarkannya, tidak mungkin ia marah karena urusannya hanya akan lebih panjang nanti. Mungkin memang seperti itulah remaja sekarang ini, iseng.

”MINTA MAAF ATAU KUPATAHKAN TANGAN JAHILMU,”

Suara yang begitu keras saat itu juga muncul. Sojin menoleh, melihat beberapa orang gadis-gadis muda menjerit takut. Pria gelandangan tadi berada disana, tak jauh di belakangnya, berkutat bersama dengan lelaki muda yang tadi mencoleknya. Pria itu menelikung tangan lelaki muda tadi ke belakang dan membuatnya mengaduh kesakitan. Lelaki itu yang mencoleknya tadi berusaha melepaskan diri, namun pria gelandangan itu mencengkeram rambutnya dengan kasar dan mendorong tubuh lelak muda itu ke hadapan Sojin.

“Minta maaf!!” perintah pria itu.

Lelaki muda itu meringis kesakitan, wajahnya pucat. Lalu terbata-bata ia mengatakan maaf pada Sojin, “Jong..jongsohamnida,” katanya.

“Sudahlah, sudah,” potong Sojin yang pada akhirnya merasa risih karena harus menjadi tontonan begitu banyak orang di tempat itu.

Pria itu kemudian melepaskan lelaki muda itu dan melangkah santai menjauh dari hadapan Sojin seperti tidak terjadi apapun sebelumnya.

**

Bodoh. Sia-sia sudah Sojin mengelurkan seluruh isi tasnya. Tetap saja tidak ada. Begitujuga ketika ia berusaha memerkasa seluruh saku mulai dari rok, blus dan juga kemeja yang dia pakai. Tetap saja nihil. Wanita itu panik, tidak tahu lagi harus mencari kemana kunci mobilnya saat ini.

Seingatnya tadi ia sudah memasukkan kunci mobil itu ke dalam tas, di tempat biasa seperti ia memasukkan kunci itu di dalam tasnya. Tapi mengapa kali ini ia tidak menemukan kunci itu.

“Mencari ini?”

Pria gelandangan itu lagi, dia datang mendekat pada Sojin sambil mengacungkan sebuah kunci mobil miliknya. Sojin meringis gembura. Dengan bernafsu, wanita itu menyambar kunci mobilnya dengan cepat.

“Ketinggalan di meja tadi?” tanya Sojin pada pria itu.

“Ani, lelaki muda tadi yang mengamblnya,”

“Mworago? Jadi dia berniat mencuri mobilku?”

“Molla, bisa jadi dia hanya iseng di hadapan teman-temannya yang lain,”

“Gomawo, jinja gomawo,” kata Sojin kemudian, “Jadi skor kita dua satu?”

“Tidak perlu, biarkan saja,” balasnya.

Sojin tersenyum, sementara pria itu kemudian mempersilahkan Sojin untuk segera masuk ke dalam mobilnya.

Tepat saat ia sudah masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin mobilnya, pria itu masih bediri di samping mobilnya. Menatap Sojin dengan senyum yang terukir di wajahnya, menunggu sampai Sojin pada akhirnya nanti benar-benar telah pergi dar hadapannya. Tapi entah mengapa saat itu juga Sojin merasa ada hal yang mengganjal.

“Kau mau pulang? Biar kuantarkan, bukankah kau bilang uangmu sudah habis?”

“Yah, aku tidak punya pilihan lain,” ucapnya, dengan cepat pria itu kemudian segera menghambur masuk ke dalam mobil Sojin. Memasang seatbelt di tubuhnya, lalu memandang lurus ke jalanan depannya.

“Kemana?” Sojin menyalakan lampu mobilnya, karena hari itu sudah mulai gelap.

“Molla, aku sendiri tidak tahu harus kemana,”

“Huh? Boleh kutahu siapa namamu?”

“Yesung,”

**

Malam hari di kota Seoul adalah malam yang semakin ramai. Kelap-kelip lampu di seluruh bagian kota ini seolah memberikan akses pada seluruh warga kota agar tidak membiarkan kota ini menjadi kota yang mati meskipun itu hanya satu menit. Beruntung, Sojin memiliki mobil pribadi sehingga ia tidak harus bernasib sama seperti pada karyawan kantor lainnya yang harus pulang ke rumah dengan berdesak-desakan di dalam angkutan umum pada jam-jam ini.

Diputarnya musik lembut yang bisa membuatnya turut bersenandung malam itu. Yesung setengah memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya dengan santai. Seperti tidak peduli dengan suasana diluar dan juga apa yang sedang dilakukan oleh Sojin.

Sesekali wanita itu melirik ke kiri dan merasa tidak habis pikir. Dorongan macam apa yang telah membuatnya mau membawa pria ini. Ia sama sekali tidak mengenalnya, dan juga tak tahu apakah pria kecil berpenampilan gelandangan ini adalah orang baik-baik atau sebaliknya. Mengapa tidak ia biarkan saja? Lagipula, kenapa justru ia sendiri yang menawarkan jasa baik itu tadi?

Karena pria ini telah berbuat baik? Menolongnya?

Sojin menepis perasaan itu. Tidak! Sama sekali bukan karena ia menerima jasa baik Yesung. Karena jika hanya karena kebaikan dan pertolongan, ia sudah cukup sering mendapatkannya. Kyuhyun, teman satu kantornya juga sering memberikan pertolongan kecil-kecilan, tapi sampai sekarang tidak sekalipun ia menggubris ajakannya untuk makan malam bersama. Begitu juga dengan Heechul, dia juga baik, sering memberikan ide-ide yang cemerlang, tapi toh nyatanya Sojin tidak pernah sekalipun tergerak untuk balas berbaik-baik. Seorang pria, selalu memiliki maksud lain dari setiap perbuatan baiknya.

Wanita itu menggelengkan kepalanya beberapa kali lagi, lalu melirik ke arah Yesung yang ternyata sudah tertidur. Atau mungkin dia hanya berpura-pura tidur? Tangannya kemudian terulur ke samping, mencoba mengguncangkan bahu Yesung, kenalan barunya itu. tapi pria itu tidak bereaksi, kecuali hanya mendecap sekali-dua kali.

Tiba-tiba kepala Yesung bergerak dan matanya terbuka. Buru-buru Sojin menarik kembali tangannya dan berpura-pura mengatur volume musik dalam mobilnya lagi.

“Dimana aku harus menurunkanmu?” tanya Sojin.

Yesung memutar pandangan dan mengeluh. Ia memang harus turun, tapi dimana? “Molla, turunkan saja aku di perkampungan mana saja yang tidak terlalu ramai, biar aku bisa tidur sampai pagi,”

Sojin tercekat, “Sebenarnya dimana rumahmu?”

“Hamada, Jepang.”

“Mworago? Kau turis? Sedang berlibur atau..”

“Aniyo, aku sebenarnya orang Korea, tapi tujuh belas tahun yang lalu mengganti kewarganegaraanku. Sudah dua hari aku disini, tidur di bangku taman yang entah itu sendiri dimana, tapi sepertinya itu sudah masuk Seoul.”

Sojin mengelu dalam hati, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan. Tidak, ia tidak bisa terlibat terlalu banyak pada pria ini.

“Akan kucarikan penginapan untukmu,” kata Sojin tegas.

“Aku tidak punya uang,”

“Aku yang bayar,” kata gadis itu kekeuh.

Yesung melemparkan pandangannya keluar sesaat, lalu kemudian menatap ragu Sojin, “Mmm,, mian, tapi boleh kutahu siapa namamu?” tanyanya.

“Sojin, Park Sojin.”

“Sojin-ssi, kau tidak perlu mengeluarkan uangmu untukku lagi, turunkan aku dimana saja,” kata Yesung tegas.

Detik itu juga tiba-tiba Sojin membanting mobilnya ke kiri, mengeram keras mobilnya hoingga tubuh mereka berdua saat itu juga maju ke depan dan hampir saja membentur dasbor. Sojin mengatur nafasnya baik-baik, lalu kemudian menoleh menatap Yesung yang masih cukup kaget dengan gaya menyetirnya barusan.

“Shit!” keluhnya pendek, lalu kemudian ia kembali menarik gas moblnya dan menjalankannya lagi.

“Kau mau membawaku kemana?” tanya Yesung yang melihat Sojin telah kembali menjalankan mobilnya.

“Kau tidur di rumah saja!”

Yesung mengangkat satu alisnya lagi. Rumah? Apa wanita ini bermaksud mengantarkannya pulang ke Jepang? “Rumah?” tanyanya lagi.

“Rumahku,”

Mendengar hal itu mulut Yesung terbuka seketika, sedikit tak percaya akan apa yang baru saja dia dengarkan. Inilah yang terbaik karena tentu saja, wanita ini tidak mungkin akan mengantarkannya pulang ke Jepang malam ini juga.

Wanita ini adalah wanita yang baik, Yesung tahu itu. setidaknya wanita ini memiliki kepedulian yang tinggi dengan melihat bagaimana keadaan dan kondisi Yesung. Dan juga setidaknya setelah dua malam ia tidur di alam luas tanpa atap, tapi malam ini setidaknya ia bisa merasakan tidur dengan lindungan atap, bukan langsung menghadap ke langit lagi.

“Tapi apa ini tidak merepotkanmu?”

“Kau memang merepotkan, tapi..” Sojin menghentikan ucapannya sejanak.

“Tapi kasihan?”

“Tapi kau bukan pria jahat kan? Kenapa kau lari? Apa kau ditinggalkan oleh kekasihmu?

Yesung terkekeh kemudian.

“Aku membunuh orang,”

“MWO?”

Lagi-lagi pria itu terkekeh melihat respon Sojin. Paham jika pria ini sedang mencoba menakut-nakutinya, Sojin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, “bercandamu kelewatan Yesung-ssi.”

**

Apartemen yang tidak terlalu besar. Sebuah apartemen yang hanya cocok didiami oleh sebuah keluarga kecil. Kesan pertama yang dapat Yesung rasakan tepat setelah dia masuk ke dalam apartemen ini adalah sepi. Tidak ada suara penyambutan apapun dari penghuni rumah yang lain ketika Sojin dan juga Yesung masuk ke dalamnya.

Yesung memperhatikan ke sekitar, dan tidak menemukan tanda-tanda orang lain disana. bukankah tadi wanita ini bilang jika dia memiliki seorang anak berusia delapan tahun? Tapi mengapa suasana rumah ini sangat sepi? “Apa mereka sedang pergi?” tanya Yesung sambil melepaskan sepatunya dan menaruhnya berjejer rapi dengan sepatu Sojin.

“Oh?” Sojin seperti tersadarkan pada pertanyaan Yesung, lalu kemudian tersenyum memaksa, “Masuklah,”

Sojin menyalakan lampu ruang tamunya, dan Yesung mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kecil namun rapi. Sebuah lukisan langit menghiasi dinding yang bercat putih di sisi ruang tamu. Setelah itu, tepat di samping ruang tamu ada sebuah meja makan berukuran kecil yang menghadap langsung dengan dapur dan juga ruang televisi.

“Kau bisa tidur disana,” Sojin mengarahkan jari telunjuknya pada kamar yang terletak di samping dapur.

Yesung berjalan mendekat, melihat kamar tersebut yang ternyata memiliki sebuah tangga ke atas sementara bawahnya hanyalah sebuah ruangan kosong. Pria itu berniat untuk naik keatas, melihat apa yang ada diatas kamar tersebut, namun Sojin lebih dahulu menghentikannya.

“Bukan diatas, diatas tempat tidurku, kau tidur di bawah sini maksudku, aku akan mengeluarkan kasur lipat untukmu,” ucap Sojin.

Pria itu menggangguk mengerti, lalu menunggu Sojin mengelurakan sebuah kasur lipat yang ia simpan di dalam lemari besar yang tadinya ia pikir itu adalah dinding biasa. Setelah itu, Yesung segera menggelar kasur tersebut dan menghempaskan tubuhnya disana.

“Ini benar-benar lebih baik,” ucapnya.

Sojin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah pria itu. ia lalu berjalan naik ke kamarnya diatas dan mengganti bajunya, lalu sebentar turun lagi menuju kamar mandi yang terletak di balik dapur. Ia ingin segera mandi sebelum Yesung mandi. Jika tidak, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kamar mandinya akan tertular bau badan Yesung. Jangan-jangan pria tu membawa kuman penyakit?

Cepat sekali Sojin mandi, lalu kembali masuk ke dalam kamar melewati Yesung yang sudah tertidur pulas. Saat itu juga Sojin menghentikan langkahnya, menatap Yesung yang bahkan sudah mendengkur. Matanya kemudian menatap baju lusuh yang masih melekat di tubuh Yesung, lau kemudian kepalanya menggeleng beberapa kali.

Kembali ia naik ke atas, membuka salah satu lemari bajunya dan mencari-cari sebuah baju yang bahkan sudah tak pernah lagi ia sentuh. Dilihatnya beberapa kali baju tersebut, lalu kemudian ia segera turun menemui Yesung lagi.

Dikoyakkannya tubuh Yesung beberapa kali, membangunkan pria itu tadi tidur singkatnya, “Mandilah, kau bisa pakai ini,” kata Sojin sambil memberikan satu stel baju dan celana yang ia bawa tadi pada Yesung.

Mata Yesung menatap Sojin tanpa berkedip. Dadanya berdesir aneh. Mungkin ini adalah hal yang biasa ketika mendengarkan seorang wanita memitanya untuk segera mandi, tapi tidak bagi Yesung. Ia benar-benar suka mendengar wanita mengucapkan kata-kata demikian. Alangkah sejuknya, seperti masih ada di dunia ini orang yang memikirkan dirinya.

Segera Yesung mengambil baju tersebut, lalu bangkit dan berjalan masuk ke kamar mandi. Sudah dua hari ia tidak menyentuh air, jadi rasanya seluruh tubuhnya terasa begitu segar setelah mendapatkan bilasan air ini.

Sojin sudah selesai mengenakan baju tidur terusan selutut, memakai night cream untuk wajahnya, dan sudah selesai pula menghidupkan anti nyamuk di dalam kamarnya dan juga kamar Yesung. Tepat setelah ia selesai membuat dua gelas teh hangat untuknya dan Yesung malam ini, pria itu keluar dari dalam kamar mandi dengan penampilan yang benar-benar berbeda.

Pria itu benar-benar menjelma, tampak segar berseri dengan aroma sabun mandi dan shampo yang menguar dari tubuhnya. Ia bukanlagi pria dekil yang bau dan berpenampilan aneh. Ia adalah pria yang amat menarik. Wajahnya yang tampan seolah telah membuat Sojin terhipnotis detik itu juga. Inilah Yesung yang sebenarnya, seorang pria dewasa yang sangat tampan.

“Belum pulang?”

“Siapa?”

“Suami dan anakmu?”

“Aku sendirian,” jawab Sojin lembut, wanita itu kemudian menunjukkan segelas teh hangat yang baru ia buat tadi pada Yesung, lalu kemudian meninggalkannya disana dan naik ke kamarnya diatas.

Yesung mengerutkan keningnya, lalu matanya menyipit, “Park Sojin?” katanya lembut. Mungkinkah tadi ucapannya yang bertanya tentang suami dan juga anaknya telah menyakiti hatinya? Karena tepat setelah itu tadi, Yesung benar-benar bisa melihat ada semburat wajah berbeda yang terlihat dari Sojin.

Pria itu kemudian meminum teh hangat buatan Sojin, menyesapnya habis dan segera masuk ke dalam kamar yang dipinjamkan Sojin untuknya. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya, namun meskipun demikian kedua matanya terasa susah sekali untuk terpejam lagi.

Berjam-jam pria itu belum juga bisa memejamkan matanya. Berbagai bayangan bermunculan di kepalaya saat itu yang kemudian membuatnya merasa sedikit pusing. Terlalu banyak bayangan.

Ryeon. Wajah manisnya nampak muram. Ada air mata di kedua sudut matanya. Mata yang menyedihkan dan juga putus asa.

Donghae. Wajah malaikatnya yang ternyata benar-benar berbanding terbalik dengan hatinya yang penuh dosa dan menyebalkan. Sebilah belati yang berkilat di bawah cahaya lampu diskotik, lalu merah darah. Mungkin usus dan isi perutnya telah terurai keluar.

Yesung makin gelisah dan tetap gelisah ketika ia telah tertidur menjelang dini hari. Terlalu banyak mimpi buruk yang akan tetap mengganggunya dan selamanya mimpi itu akan tetap mengikutinya.

**

Alarm ponsel Sojin terus berbunyi. Wanita itu tersentak bangun. Astaga, alarm yang kedua! Seharusnya ia sudah berangkat dari rumah. Astaga! Bahkan bunyi alarm yang pertama sama sekali tidak erdengar olehnya dan mengusik tidurnya.

“Terlambat dan pasti menerima teguran dari Tuan Choi!”

Tergopoh-gopoh Sojin menyambar handuk bersih dari dalam lemari da menghambur turun ke bawah. Di ruang tamu, dilihatnya Yesung tengah membuka-buka beberapa koleksi majalah miliknya yang ia simpan di rak tv. Tanpa menyapa, Sojin cepat-cepat mandi. Mandi asal basah! Sial, ini karena semalam ia sulit tidur, lebih sulit dari malam-malam biasanya.

“Selalu tergesa?” Yesung menyapa dengan pertanyaan ketika Sojin selesai mandi.

“Kadang-kadang,” jawab Sojin sekenanya.

Semuanya serba cepat. Berpakaian kantor cepat, berdandan cepat, dan keluar kamar dengan cepat.

“Sarapan, sudah terlanjur dingin,”

Sojin mengerucutkan bibirnya. Di meja makan semua sudah lengkap. Ada roti panggang yang benar-benar matang sempurna, telur mata sapi yang juga terlihat sangat enak, dan juga dua gelas susu coklat.

“Hanya itu yang bisa kubuat,” kata Yesung sambil menarik kursi untuk Sojin.

Terdengar bunyi bel dari depan pintu apartemennya. Sojin tersentak dan berlari mengintip dari layar intercom. Dua detik kemudian wanita itu kembali berlari menghampiri Yesung.

“Yesung-ssi, buka pintunya, katakan bahwa aku sudah berangkat,” kata wanita itu gugup. Ia bahkan hampir saja menumpahkan susu yang dibuat ileh Yesung tadi.

“Tapi?”

“Sssst..” potong Sojin, wanita itu kemudian segera menghambur masuk ke dalam kamar dan tepat sebelum ia menutup pintu tersebut kembali ia menatap Yesung, “Cepat!” perintahnya.

Akhirnya, meski dengan wajah kurang senang, Roga keluar menemui sosok yang berdiri di depan sambil mengunyah roti panggang buatannya.

“Sojin sudah berangkat,” kata Yesung dengan gaya cuek lalu segera menutup pintu kembali.

“Hei!” sahut pria itu tepat sebelum Yesung benar-benar menutup pintunya.

Yesung menoleh, menatap pria itu baik-baik. Tidak suka mendengarkan seruan ‘hei’ ditujukan padanya.

“Apa?”

“Kau siapa?”

“Kau sendiri siapa?” Yesung balik bertanya dan meneruskan menutup pintunya.

Laki-laki itu mengumpat, dapat Yesung dengarkan suara umpatannya meskipun saat ini pintu telah tertutup dan mereka tidak saling menatap lagi.

“Bagus, aku suka caramu.” Sojin keluar dari balik pintu kamar dengan wajah puas.

“Jinja?” kata Yesung dengan wajah yang dia buat-buat agar terlihat lucu membuat Sojin tertawa melihat cara pria itu menunjukkan nakat aegyi yang dia miliki. “Pagi ini siapapun yang berniat mengganggumu, harus berhadapan denganku,” kata Yesung kemudian.

“Cih..” Sojin memukul pinggang Yesung dengan tangan terkepal, tapi dengan gesit pria itu lebih dahulu menghindarinya.

“Habiskan telurnya,” protes Yesung saat Sojin menarik kembali tasnya dan bersiap untuk berangkat.

Saat itu juga Sojin dengan gesit memukul kembali pinggang Yesung dan tepat sasaran karena sebelumnya pria itu tengah fokus memerintah Sojin agar menghabiskan terlebih dahulu sarapannya. Yesung mengaduh kesakitan, wajahnya meringis menahan sakit akibat pukulan Sojin.

“Hanya sebesar itukah kekuatan pembunuh?” tanya Sojin.

Tapi berbeda dengan respon Yesung, detik itu juga pria itu hanya diam mendengar kalimat yang barusaja dikatakan Sojin.

**

Jam istirahat siang. Seluruh karyawan yang lain telah meninggalkan mejanya untuk pergi makan siang. Tapi Sojin masih duduk di belakang mejanya dengan gelisah. Dua tumpuk pekerjaan yang seharusnya ia selesaikan besok, yang artinya harus ia berikan pada Heechul sampai saat ini masih belum jelas arahnya. Terlalu sulit untuk membuat rangkaian kata menjdai sebuah kalimat yang menjanjikan.

Sojin bekerja pada sebuah biro iklan yang cukup ternama, sebagao sopy-writer. Pembuat teks iklan untuk beberapa media cetak dan media elektronik.

Pikiran Sojin tengah terpecah belah. Dan belahan terbanyak lari ke rumahnya. Sedang apa Yesung di rumahnya sekarang?

Tidakkah ia terlalu sembrono, membiarkan orang asing ada di rumahnya. Jika Yesung berbuat jahat, apa yang bisa dia perbuat? Kenapa ia baru menyadari bahwa terlalu banyak kejahatan yang bisa dilakukan oleh orang asing.

Sojin mendadak mengemasi kertas-kertas berserakan di atas meja dan memasukkannya ke laci sekenanya. Setelah meraih tasnya ia berdiri sambil meyakinkan diri bahwa ia harus pulang sekarang juga.

Tuan Choi, bosnya, memberikan reaksi pertama yang khas, memandangnya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan satu alisnya yang dinaikkan, dan dia hanya bisa menunggu sampai bosnya tersebut memberikan reaksi lainnya.

Sojin telah mempersiapkan semua. Dan alasannya tadi pagi, yang ia katakan ketika terlambat, diulangnya lagi untuk meminta ijin pulang. Sakit dan tak memiliki tenaga untuk bertahan di kantor.

“Tapi besok kau harus bekerja kembali seperti biasa, iklan untuk produk kosmetik dan kertas itu harus selesai!”

Sojin hanya mengangguk dan keluar dari ruangan Tuan Choi. Kepalanya tertunduk, takut jika bosnya tersebut tahu betapa leganya dia setelah mendapatkan ijin pulang tersebut.

Lepas dari pandangan Tuan Choi, Sojin segera melesat menuruni tangga dan hampir saja menabrak tubuh Kyuhyun yang hendak keatas.

“Kemana?” tanya Youngwoon sambil menyeka mulutnya yang tercium bau rokok, “Menemui Youngwoon?” tanya Kyuhyun lagi, agak sengit.

“Pulang!” jawab Sojin cuek dan tak ingin menegok lagi.

**

Debaran jantung Sojin terasa begitu kuat kali ini. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumahnya saat ia masuk ke dalam, tidak ada tanda-tanda Yesung berada disana. pria itu sudah lari sambil membawa barang-barang berharga miliknya, batin Sojin cemas.

“Yesung-ssi?” panggil Sojin tak yakin, “Yesung-ssi?” panggilnya yang kedua.

Tidak ada sahutan. Isi ruang tamunya masih lengkap termasuk guci mungil antik yang ia beli di Macau dua tahun lalu dengan harga fantastis. Guci yang pernah ditawar SunGyu dengan harga puluhan juta won. Pintu kamar atasnya masih tetap utuh. Tertutup rapat. Masih utuh juga barang-barang yang ia jumpai di dalam kamar itu. Sojin menghembuskan nafasnya lega.

Kemana pria itu?

Sojin membalikkan langkahnya, turun, kali ini ingin mendapatkan kepastian. Sampai di ruang tamubarulah ia sadar kenapa tadi saat masuk ada sesuatu asing yang dirasakannya. Ah, pria itu telah merubah posisi meja dan kursi. Merapat ke tembok, membuat ruang kecil itu terasa sedikit lapang. Lebih dari itu, sebuah lukisan yang semula tergantung di sebelah kanan dindingnya, kini berubah menjadi di sisi sebelah kiri.

Pria itu memiliki taste yang cukup baik. Ia juga rajin. Sojin tersenyum hambar. Selama ini ia memang sendirian dan sengaja membuat dirinya disibukkan dengan urusan kantor dan pekerjaan, sehingga ia kurang sempat memperhatikan isi rumahnya, kecuali sekedar membersihkannya. Terkadang ia bahkan berpikir, untuk apa dibuat bagus jika toh nantinya hanya dinikmati seorang diri? Percuma.

Kemana perginya pria itu? akhirnya pikiran tersebut mengisi kepalanya kembali. Sojin memnating dirinya ke sofa, ia pasti sudah pergi tanpa pamit. Oh, begitu saja? Biar, biar saja. Toh Yesung juga bukan siapa-siapa, kecuali pria yang pernah dikenalnya.

Sudah satu jam lebih Sojin tidak bergerak diatas sofa itu, matanya yang semula menerawang menatap langit-langit ruang mulai terasa berat. Mulai mengantuk. Sudah lama ia tidak menikmati waktu bebas di siang hari. Selama ini ia bahkan sudah tidak pernah lagi bisa merasakan tidur siang tanpa dibebani oleh tugas kantor yang tak pernah ada habisnya.

**

Yesung terkejut ketika menyadari ada tanda-tanda orang lain di dalam rumah. Bagaimana ia harus menjelaskan tentang dirinya pada suami Sojin atau mungkin itu adalah anaknya? batin Yesung. Mereka mungkin tidak mengenal dirinya, atau bisa juga mereka mengira bahwa Yesung adalah pria jahat.

Memasuki rumah dengan langkah hati-hati, Yesung menyenderkan tubuhnya di salah satu dinding. Lega hatinya melihat sojin yang tertidur di sofa, terlalu lelap, sehingga suara berisik yang ia buat sama sekali tidak mengusiknya. Ia terlambat bangun tadi pagi, dan mungkin saja saat ini ia masih mengantuk.

Dipandanginya wajah cantik Sojin. Rambutnya yang lurus panjang dan hitam, alis matanya yang tebal alami, bibirnya yang basah, garis v-line nya yang natural, dan matanya yang bahkan terlihat besar ketika ia sedang tertidur. Sojin adalah gads yang menarik. Pertahanan Yesung sedikit koyak. Jiwa laki-lakinya tergetar ketika menyaksikan tubuh Sojin yang tak bergerak. Eksotis, sensual!

Matanya kemudian menatap pintu kamar yang semalam ia tempati, dengan agak berjingkat Yesung masuk ke kamar hendak mengambil selimut. Namun sebelum sempat ia mengambil selimut, pria itu sempat menengok keatas sekali, melihat pintu kamar atas yang terbuka. Kakinya kemudian bergerak naik keatas, memilih untuk mengambil selimut dari kamar wanita itu untuk menutupi perutnya yang terbuka. Matanya memandang isi kamar itu dan terpaku pada sebuah foti berukuran 5R yang terbingkai dan terpajang di meja. Yesung mendekat, mengamati foto itu dan menyentuhnya. Foto seorang gadis kecil yang barangkali saat tu usianya masih enam tahunan. Gadis kecil yang cantik, memamerkan senyumnya yang nakal.

Putri Sojin?

Tidak ada lagi yang menarik perhatian Yesung, termasuk beberapa pakaian dalam yang tergantung di kapstok di balik pintu. Diambilnya selimut berwarna hijau lumut itu. selimut yang lembut dan tak terlalu tebal. Setelah itu Yesung keluar, turun dan dengan hati-hati menyelimut tubuh Sojin.

Tapi tiba-tiba Sojin membuka matanya. Ia terkejut melihat Yesung yang berada di dekatnya. Dengan cepat Sojin menyingkirkan selimut tersebut yang ujungnya bahkan masih dipegang Yesung. Wanita itu duduk.

“Kemana saja kau?”

“Jalan-jalan, dan menemukan kesejukan di lapangan golf sana. Kenapa kau sudah pulang?”

“Sedang ingin pulang saja,”

“Mengkhawatirkanku yang ada di rumah?”

“Ani, wae?”

“Takut jika aku mengambil barang-barangmu dan kabur dari rumah ini.”

Sojin tertawa dalam hati. yesung benar-benar menebak dengan tepat sekali. “Yah, kita belum tau satu sama lain. Bisa saja kan?”

Yesung melangkah menjauh, mengacak rambutnya dengan frustasi dan kemudia membanting kakinya berkali-kali di lantai, “Akhirnya aku memang lebih baik berada di jalanan. Untuk apa peduli..”

“Makan apa kita siang ini?”

Yesung tertegun, ia sama sekali tidak menyangka reaksi Sojin begitu sederhana. Hatinya yang sudah sedikit panas kembali terasa sejuk. Yesung menggaruk keningnya dengan ekspresi lucu kemudian.

“Sudah membuka lemari makan?”

“Telur tadi pagi?”

“Itu karena kau tidak menghabiskannya tadi pagi,” celoteh pria itu kemudian.

Ingin rasanya Sojin memandang terus mata polos Yesung yang kini mewakili kesungguhannya itu. mata yang jujur dan terkadang tampak sedikit manja, benar-benar berbeda dengan usianya yang sebenarnya.

“Kita keluar makan, kau pasti sudah lapar kan?”

“Bolehlah,”

**

Ini lebih mirip seperti jalan-jalan do sore hari.

Sojin tidak tahu persis mengapa, tapi saat ini hatinya terasa teramat riang. Disaar teman-teman kerjanya mungkin saat ini masih mengerjakan tugasnya dan bahkan mungki bersiap untuk lembur hari ini, tapi ia bahkan telah terdampar disini, di sebuah taman kota yang cukup ramai oleh anak-anak kecil berlarian kesana-kemari.

Sementara disamping Sojin, yesung tengah memanjakan sensai aneh ketika menyeret tangannya melintasi lapangan parkir yang padat. Berkali-kali Yesung harus meyakinkan diri sendiri bahwa kini tengaj tengah bersama seorang ibu-ibu muda, karena yang nampak di matanya saat ini adalah Sojin yang berpenampilan seperti anak anjing yang lincah.

Sojin mengenakan sepatu kanvas, bercelana jeans dengan beberapa lubang di bagian lututnya, persis seperti gaya anak muda jama sekarang. Mengenakan tshirt polos berwarna putih, siapa yang menduga jika wanita ini telah berkepala tiga?

Saat ini ia lebih mirip remaja belasan tahun yang lincah dan ceria. Lihat betapa berserinya wajah itu!

Akhirnya mereka makan sambil berceloteh tentang banyak hal di sebuah cafe yang letaknya tak begitu jauh dari taman kota yang baru saja mereka lintasi. Berbicara tentang banyak hal, tentang mode, tentang kesukaan, penyanyi, kehidupan entertaiment, dan tentang apa saja yang bisa mereka bicarakan.

“Aku lihat foto gadis kecil di kamarmu,”

“Anakku,” jawab Sojin pelan.

“Ayahnya?”

Mia tersedak. Yesung menyesali kenapa ia mengatakan itu. sekarang ada mendung bergayut di mata Sojin. Di wajahnya yang cantik itu. mendung yang tidak juga segera sirna, ketika mereka telah berada di mobil menuju rumah. Sojin tetap membisu.

**

Sudah lepas senja ketika Sojin dan Yesung kembali ke aprtemennya. Mata Yesung langsung menangkap selembar kertas kecil yang tergeletak di lantai di bawah pintu. Dipungutnya kertas tersebut dan dibacanya tulisan singkat:

“Aku kesini tapi kau tidak ada. Hanya mampir saja. Besok atau lusa aku akan datang lagi. Kumohon jangan menghilang. KWANGSOO.”

“Mwoya?” Sojin berdiri di belakang Yesung.

Pria itu mengangsurkan pesantersebut pada Sojin, “Untukmu!”

Sojin membaca cepat sekali dan langsung meremas kertas itu lalu melemparkannya ke tempat sampah di samping pintu. Wajahnya keruh, lebih keruh dari sebelumnya.

“Siapa? Pria yang tadi pagi?” Yesung menyusul Sojin, membuat wanita itu urung naik ke kamarnya.

Sojin menggeleng, “Lain lagi, tapi sama-sama lelaki!”

Merinding bulu kuduk Yesung mendengar nada ucapan Sojin yang seperti sengaja diberi tekanan begitu rupa. Ada kebencian tersirat di balik kata-katanya. Yesung belum pernah merasa mampu memahami perasaan wanita, dan kini ia semakin merasa bodoh. Misteri apa di balik semua sikap Sojin ini?

“Aku mau tidur. Mungkin sampai pagi. Terserah kau mau melakukan apa saja. Tapi jika kau keluar dan ada yang bertanya tentang siapa kau, bilang sepupuku dari Gwangju,”

“Tapi..”

GUBRAK! Sojin menutup pintu kamarnya dan membiarkan Yesung berdiri dengan wajah bodoh di bawah.

Baru saja pria itu bermaksud segera mandi, tiba-tiba terdengar bel di pintu depan. Buru-buru dia melihat siapa sosok itu dari layar intercom dan berlari mengetuk pintu kamar Sojin. “Ada tamu..” Yesung mengetuk pintu kamar itu tiga kali.

“Temui dulu sepupuku yang tampan,” Sojin menjawab dengan malas-malasan.

“Pria yang tadi pagi, Otte?”

Saat itu juga terdengar suara yang berisik dari luar kamar Sojin, seperti suara sisir yang dibanting ke lantai.

“USIR DIA.”

“MWO?”

“USIR DIAAA!!!!”

Setengah jam setelah itu, sepi, tidak ada suara dari dalam apartemen Sojin. Yesung masih duduk dianak tangga paling atas di depan kamar Sojin, mengerti jika wanita itu di dalam sebenarnya masih belum tertidur. Entah apa yang sedang dia lakukan di dalam seorang diri.

“Kau tak suka dengan lelaki itu tadi?” Yesung memecah kesunyian karena bosan dengan suasana yang tercipta.

“Oh,” jawab Sojin dari dalam kamarnya.

“Juga penulis pesan yang tadi datang kemari? SooKwang?”

“Kwangsoo. Dia teman lamaku. Teman sekolah.”

“Lalu apa salahnya seorang teman lama?” tanya pria itu hati-hati.

“Ia muncul lagi, belakangan ini setelah..” Sojin urung meneruskan kalimatnya, “Kau adalah orang baik, Yesung-ssi.” Ucapnya kemudian.

Yesung menggeram, “YAK!! PARK SOJIN!!!” bentaknya kemudian.

Diam beberapa saat, tak ada suara apapun dari kedua belah pihak. Tapi kemudian pintu kamar Sojin terbuka dan Yesung segera berdiri menatap wanita itu. Perkataan Yesung yang cukup keras membuat Sojin merandek, membuka pintu kamarnya dan kemudian berjalan turun ke sofa di ruang tamu dengan diikuti Yesung di belakangnya.

“Aku memang orang baru yang kau kenal, tidak pantas mengetahui urusan orang lain!” kata Yesung tepat saat Sojin mulai duduk di sofa tersebut.

“Kau marah?” tanya Sojin lembut.

“Aku? Mana bisa. Kau adalah orang yang telah memberiku tumpangan meskipuntidak mengenalku. Perkara kau mau menyimpan persoalan itu adalah hak pribadimu. Lagipula apa yang bisa kulakukan? Hanya memukuli orang-orang yang mengganggumu. Mereka yang membuatmu merasa terganggu, itu saja.”

“Kau jagoan?”

Yesung mendecih.

Sojin tecenung. Sebentar, lalu perlahan menggerakkan tangannya meminta Yesung untu duduk di sampingnya.

“Menjadi seorang janda bukanlah hal yang mudah, Yesung-ah,”

“Apalagi seorang janda muda,” tukas Yesung santai.

“Kau bisa memahami?”

“Aku memiliki saudara yang seorang janda,”

“Punya pacar?”

“Siapa? Saudaraku?” Yesung melotot.

“Kau!”

Yesung hanya diam.

“Hyeri?” desak Sojin.

“Siapa Hyeri?”

“Orang yang mirip denganku itu?”

Yesung bengong.

“Kau berpikir aku Hyeri kan? Saat kita bertemu di restoran, kau pikir aku Hyeri.”

Yesung tertawa tiba-tiba. Tawa lepas yang panjang, lalu “Ya Tuhan, aku bakan sudah lupa. Itu.. itu hanya alasan. Alasan untuk mengatasi kelaparan.”

Mata Sojin terbelalak. Baru sadar sekarang bahwa ia telah terkecoh oleh akal Yesung.

“Untuk apa mengingat itu? bukan hal yang penting,”

“Kau! Sok kenal, usiamu, asalmu, apa lagi? Masih berapa kebohonganmu, hah?” saat itu juga Sojin memukul keras lengan Yesung.

“TIDAK PENTING!”

“BAIKLAH!”

“Tapi setidaknya aku harus punya alasan jika terpaksa memukul Youngwoon atau Kwangsoo.”

“Lupakan.”

“Sojin-ah..”

Sojij terpaku. Sepasang mata mereka bertemu, saling memandang dan seolah-olah meneliti. Sojin melihat sepasang mata penuh kepedulian, sedangkan Yesung melihat sepasang mata yang gelisah.

Sojin tiba-tiba merasakan pandangannya berangsur kabur. Air matanya mendesak keluar dan akhirnya meluncur di pipinya yang cantik itu. Sosok Yesung makin mengabur, tergantikan dengan air mata yang berubah menjadi tangis.

Dan Sojin menghambur memeluk Yesung dengan pelukan yang teramat kencang disertai isakan pilu. Tubuh Yesung mengejang sesaat , lalu tanpa sadar tangannya mulai membelai rambut Sojin lembut.

“Aku merindukan Aleyna..” Sojin semakinterisak.

Yesung diam, hanya bisa membelai rambut Sojin pelan sambil menungu sampai wanita tu menenangkan dirinya.

“Anakmu?”

Sojin mengangguk.

“Dimana dia?”

“Disebuah tempat, yang jauh disana. Dan tidak akan pernah kembali lagi,”

“Surga?” tanya Yesung hati-hati.

Lagi Sojin kembali menggangguk.

Yesung mengambil selembar tisu yang ada idatas meja di depan sofa tempat mereka duduk dan mengangsurkannya pada Sojin. Dengan patuh, wanita itu menghapus air matanya.

“Tahun ini seharusnya ia telah menginjak usia sepuluh tahun,” Sojin memejamkan matanya. Berkali-kali disekanya pipi dan hidungnya. “Seorang gadis kecil yang cantik, lucu, dan menggemaskan. Semua serba indah sebelum peristiwa itu terjadi.”

**

“Aku menyudahi masa remajaku teramat awal, ketika usiaku baru delapan dua puluh tahun. Aku berkencan dengan Hyukjae, yang akhirnya menjadi suamiku. Belum lagi tiba saatnya aku lulus sekolah, Hyukjae telah merenggut segalanya yang kumiliki. Semuanya dengan alasan cinta. Ya, kami memang saling mencintai. Paling tidak saat itu, yang kemudian semuanya kuanggap sebagai kebodohan paling besar dalam hidupku.

Dengan susah payah aku meyembunyikan kehamilanku dan berhasil lulus sekolah. Langsung menikah demnngan hadiah diusir kedua orangtuaku dan dobenci oleh seluruh saudaraku. Orangtua Hyukjae cukup berada dan mampu mendukung Hyukjae meraih jenjang karir yang lumayan. Dan akhirnya kami hidup di Seoul. Ketika Aleyna, anakku yang pernah tak kuhendaki kehadorannya itu berusia satu tahun, aku masuk univeritas mengejar ketinggalan. Aku tak mau menghabiskan masa mudaku hanya diam di rumah dan mengurus anak.

Kupikir semua lancar dan baik-baik saja, seperti halnya semakin baiknya karir Hyukje dan ekonomi keluarga kamu. Tapi ternyata tidak. Badai itu sebenarnya telah datang ketika aku masuk universitas.

Hyukjae mash muda, tampan, dan punya segalanya yan di dambakan oleh setap wanita. Ia agaknya menyadari semua itu dan memanjakannya dalam affairaffair yang tak berkesudahan dengan banyak wanita. Tak banyak yang kutahui, kecuali sekali-dua kali yang kuanggap sebagai warna hidup yang biasa. Hanya angin keras, tapi bukan badai.

Tapi yang terjadi empat tahun yang lalu adalah sejarah paling buruk dalam kehidupanku. Jauh lebih buruk daripada ketika masa remajaku terampas sebelum waktunya. Seorang perempuan muda bernama Hyeonmi telah benar-benar membuat Hyukjae berpaling dariku. Singkatnya kami bercerai. Hyukjae memilih Hyeonmi dan aku memilih Aleyna yang mulai tumbuh besar. Seorang anak yang yang kutumpahkan segenap kasih sayang yang kumiliki.

Tapi perceraian itu bukanlah sebuah hal yang diinginkan oleh setiap anak, begitu pula dengan Aleyna yang tidak menghendaki perceraian kami. Saat itu, gadis itu berlari mengar mobil ayahnya yang menjauh dari apartemen lama yang kami tempati, dan kemudian sebuah truk bermuatan besar tiba-tiba menghantamnya.

Bisakah kau memahami semua ini?”

**

Lama Yesung terpekur mendengar penuturan panjang itu. lama ia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya memandang Sojin yang terkulai. Matanya yang kosong dan tak lagi bercahaya.

Cerita panjang seorang janda muda yang diincar banyak kumbang jantan adalah hal yang biasa, bahkan teramat sering terdengar. Semula ia duga hanya itu saja. Bahkan sempat Yesung mengira jika Sojin adalah seorang wanita yang kesepian. Tak sampai ia mengira, bahwa ada sesuatu yang tragis di balik semua itu.

ALEYNA.

Seperti apa gadis itu seharusnya saat ini?

Ketika aku menemukan kejahilanmu, sekaligus kebaikanku tempo hari, aku tersadar, aku merindukan semua ini. bermimpi bahwa semuanya terjadi dalam kehidupan lamaku dahulu, aku, Hyukjae, dan Aleyna.”

Yesung mengangguk paham. Amat paham.

“Ketika kau kesal dan ingin pergi dari rumah ini, sesungguhnya aku takut. Akan kehilangan mimpiku, mengertikah kau?”

Yesung tidak menjawab. Perih hatinya mendengar itu. haru yang teramat luar biasa.

“Siapa kau? Akan kemana kau esok hari?” kalimat Sojin mengambang.

“Siapa aku? Ya, siapa aku?” Yesung tersentak. Bayangan itu kembali menyeruak mengisi kepalanya.

Ryeon yang nelangsa dan putus asa. Akankah ia menjadi seperti Sojin? Lalu Donghae. Wajah malaikatnya yang sangat berbanding terbalik dengan hati yang ia miliki. Sebilah belati dengan noda penuh darah.

Yesung menjerit tertahan.

AAAAAARRRGGGHHH…..!!!

“Yesung-ah, Yesung-ah, wae? Wae geurae?”

Yesung berdiri tersentak, lalu setengah berlari a menghambur keluar apartemen Sojin. Tepat di pintu depan apartemen tersebut, Yesung melemah, jatuh ke lantai.burukkah dirinya kini? Burukkah masa depannya nanti?

“Seberat apapun persoalan, itu akan terasa lebih ringan jika kau mau membaginya pada orang lain. Itupun jika kau mempercayai orang tersebut.”

Yesung menoleh. Sojin tengah berdiri di belakangnya, menatap Yesung darisana.

**

Alarm di ponsel Sojin berbunyi, membuat wanita itu terbangun. Alarm pertama. Sojin berkaca dan mendapat matanya yang agak membengkak karena terlalu banyak menangis. Saat turun ia tidak melihat Yesung berada di kamar yang ia berikan untuk ditempati. Begitupula dengan kasur lipatnya yang masih terlipat manis di pojok ruangan. Sojin cemas. Semalam ketika ia berangkat tidur, Yesung masih ada di luar dengan kondisiyang teramat frustasi. Jangan-jangan..

Oh, ternyata Yesung tertidur di sofa ruang tamu. Sepertinya begitu lelap, dengan dada bergerak naik turun teratur. Matanya sembab, mungkin semalam ia juga menangis. Hm, pria ini bisa juga menangis. Sojin tak berniat membangunkannya. Tak ingin mengganggu kelelapan tidurnya. Ia segera memasak air, menyiapkan nasi sarapan untuk mereka berdua dan mandi. Selesai mandi, ternyata Yesung masih belum bangun dari tidurnya dan Sojin memutuskan untuk sarapan pagi seadanya sendirian. Setelah itu barulah ia berdandan.

Sojin sudah siap hendak pergi ke kantir dan bermaksud membangunkan Yesung untuk berpamitan. Tapi ia mengurungkan niatnya karena dilihatnya Yesung masih terlelap dan sama sekali tak berubah posisi tidurnya.

Seperti tersihir, mata Sojin tak lepas memandang wajah Yesung. Ada banyak hal di wajah pria itu yang mengingatkannya pada Aleyna. Garis bibirnya, bentuk rahanyanya. Sojin mendesah ketika itu. Lalu tubuhnya seperti kehilangan kendali dan begitu saja membungkuk, mencium kening Yesung dengan lembut. Tak puas sampai disitu, ia mencium pipinya lebih hati-hati. Membelai rambutnya dan terakhir mencium bibir Yesung. Entah mengapa Yesung seperti tersenyum ketika itu. bibirnya bergerak sedikit. Sojin menciium bibir tu sekali lagi dan tersentak ketika ada sensasi aneh manjalari dadanya.

Tidak, ini tidak mungkin.

Sojin merasakan wajahnya panas. Barangkali saat ini jika ia bercermin, ia akan menjumpai wajahnya yang memerah.

Diambilnya selembar kertas memo dari dalam tasnya, menulis pesan untuk Yesung.

“Terlambat bangun sudaraku yang tampan? Aku harus pergi ke kantor dantak sanggup membangunkanmu. Urus dirimu sendiri, arra?”

Diletakkannya pesan tu di meja dan diatasnya ia telakkan beberapa lembar uang. Yesung pasti memerlukan uang untuk makan siang nanti.

Sojin sudah hendak mengnci pintu dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara, tapi mendadak ia mendekati Yesung lagi. Memandangnya lag lalu mencium kening pria itu yang terlelap. Ada senyum tpis di wajah Sojin. “Jaga dirimu, Yesung-ah..”

**

Beberapa sapaan yang menanyakan kesehatannya, diterima Sojin sewaktu ia baru duduk di nelakang mejanya. Sojin menjawab riang semua perhatian atau sekedar basa-basi itu. riang juga hatinya ketika ia mengerjakan seluruh tugas yang harus ia selesaikan. Membuat teks iklan dua produk yang dilimpahkan padanya. Yang lebih mengejutkan, ternyata Tuan Choi sangat menyukai teks untuk salah satu produk itu.

“Kau bisa gila juga, Sojin-ah.” Choi Siwon tertawa saat meng-acc pront out yang disodorkan oleh Sojn. “Tapi jika pemesan tidak menyukai ini, kau harus membuat yang lebh gila lagi!”

Sojin benar-benar riang. Rasanya seluruh kepenatannya kemarin telah habs dan selesai sejak semalam, yah meskipun semalam saat menjelaskan semua itu ia harus berjuang mengingat kembali rasa sakit yang pernah ia alami.

Saat ini ia tengah berpacu dengan awaktu agar berjalan lebih cepat. Ia ingin jam kantor segera berakhir. Hari ini hari sabtu. Hari pendek. Jam kerjanyapun lebih sedikit dan ia bisa sampai di rumah lebih sore. Ada waktu untuk membersihkan rumah, mencoba beberapa menu masakan baru, mencuci mobil dan…

Ah tidak! di rumah ada Yesung yang memiliki tangan kuat. Yesung yang rajin dan tampaknya menyukai pekerjaan rumah. Wanita itu tertawa lepas kemudian.

“Makan, Sojin-ah?”

Seojin menoleh, mendapati Yura yang melambaikan tangannya. Sekertaris yang manis itu memang sering bergantian dengannya mentraktir makan sang.

“Sedang tidak lapar, Yura-ya!”

“Taulah, pasti karena ada yang menunggu di rumah.”

DEG! Dada Sojin serasa terpukul.

“Apa yang kau bicarakan?”

Someone in the house!”

“Kim Yura!”

Yura mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Sojin baru tahu sekarang jika Yura memiliki kebiasaan yang sangat menjijikkan itu. Kedipan mata itu! Jahat!

Agak gusar Sojin berdiri, menghampiri Yura dan mengamit lengannya.

“Aku yang traktir!”

“Hei, bukankah tadi kau bilang tidak lapar?”

Di kedai makannya siang ini, Sojin hanya mengaduk-aduk sup kuah yang ia pesan. Hampir-hampir tanpa memasukkannya ke mulut sama sekali. Sementara seperti biasanya, Yura makan dengan gaya anggunnya. Gaya makan yang menurut banyak kabar yang ebredar, amat menarik di mata Choi Siwon, bos besarnya. Cara makan yang cantik!

“Apa maksud yang kau katakan tadi?” tanya Sojin hati-hati saat Yura telah menyelesaikan makanannya.

“Yang di rumahmu? Oh, mian. Youngwoon yang mengatakannya,”

“Youngwoon? Sampah apalagi yang di katakan pada semua orang?” Sojin berbedar keras.

“Kau seperti tidak mengenal Youngwoon saja. Mungkin dia cemburu pada lelaki barumu itu.” dan Yura tertawa mengikik, seperti setan perempuan. Bukan tawa yang cantik.

Ingin rasanya Sojin meremas wajah wanita di hadapannya ini.

Brengsek sekali Youngwoon! Dan lebih brengsek lagi karena ia mengatakan semua ini pada Yuran, pemilik bibir tpis sensual yang paling banyak bicara. Memiliki hobi bercerita ke seluruh pejuru kantor dan pada siapapun yang dia temui. Jika Yura sudah mengetahui ini, sudah bisa dipastikan seluruh karyawan di kantor pasti akan mengetahuinya. Sojin mengumpat dalam hati.

“Jangan malu, santai saja. Bukankah wajar jika wanita seusia kita seperti ini?” Yura tertawa lagi, “Apalagi kau sudah terlalu lama sendiri. Tapi, darimana kau mengenal pria ini?”

Telinga Sojin mendadak tak bisa mendengarkan lebih jelas apa yang dikatakan Yura. Wajar? Wajar? Wajar? Sojin tersenyum getir. Wajar? Ya, kenapa tidak? Persetan dengan apa yang dipikirkan orang lain. Persetan jika Yura menyebarkan hal ini. Siapa peduli? Bukankah ini justu akan menguntungkannya? Youngwoon akan berhenti mengikutinya, dan Kwangsoo yang mendengarnya lantas akan berhenti juga mengganggunya. Dan semua gangguan itu akan mereda dan berangsur hilang.

Berpikir begitu Sojin tertawa pelan. Tawa getir yang hanya bisa dirasakannya sendiri.

“Aku mau cepat-cepat pulang,”

“Arra, arraseo!” kata Yura.

**

Masih ada cukup waktu untuk sedikiy memutar jalan. Sojin memiliki rencana hendak membuat kejutan untuk Yesung. Pria itu sempat mengatakan jika di daerah asalanya di Jepang dulu adalah daerah yang cukup dekat dengan laut sehingga makana-makanan seperti seafood adalah makanan konsumsinya sehari-hari.

Pria itu mungkin sudah rindu memakan seafood. Hmm.. ada banyak pilihan yang bisa dibawanya pulang ke rumah untuk Yesung. Kepiting? Sashimi? Atau makanan ain yang diberi bumbu-bumbu khas Jepang.

Dan Sojin sudah membelokkan mobilnya ke sebuah kedai khusus makanan Jepang di jalanannya pulang ke rumah, yang khusus menyediakan makanan-makanan laut dengan bumbu-bumbu khas Jepang. Sojin memesan beberapa jenis makanan sekaligus untuk dibawanya pulang. Selagi menunggu, wanita itu menatap sebuah tv kecil yang dipasang di pojok kedai tersebut yang ternyata adalah sebuah saluran tv kabel dari salah satu stasiun tv di Jepang yang sedang menampilkan acara berita.

“Agashi, sudah selesai.”

Mata Sojin tengah terpaku pada sebuah berita yang muncul. Mulutnya terbuka takjub dengan berita yang tengah dibacakan oleh sang pembaca berita.

“Agashi.”

Sojin tersentak. Pelayan memberikan tiga bungkus makanan pesanannya.

“Ne, ne, kamshamnida.”

Sojin menyambar pesanannya dan setengah berlari menuju mobilnya yang terparkir di depan kedai, wanita itu mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Tangannya kemudian bergerak mengambil ponsel, membuka sambungan internet dan mula mengetikkan satu nama dengan menggunakan huruf kanji kemudian.

YESUNG! Mata Sojin memelototi sebuah potret setengah badan yang muncul di dalam pencariannya. Ya, Yesung atau yang memiliki nama lain Kim Jongwoon.

Sojin meletakkan kembali ponselnya, menghidupkan mobilnya dan melarikan mobilnya seperti orang gila.

**

SURPRISE !!!

Sojin terkejut, berbagai pikiran yang tengah berkecamuk di kepalanya mendadak berantakan demi apapun sesaat setelahnya ia membuka pintu, dan Yesung menyambutnya dengan lonjakan gembira.

Sojin makin terkejut memandang ruang tamu yang berhias pita berwarna-warni dan beberapa buah balon. Sbuah kue tart kecul berhias angkat tiga puluh dari lilin yang sudah menyala di atas meja.

“Tanpa hadiah, Park Sojin-ssi. Tanpa hidangan pesta. Hanya ada sebuah kue tart kecil dan murahan. Tapi.. saengil chukhae!”

Sojin masih terbengong ketika menerima pelukan dan ciuman di pipinya.

“Semoga kau menjadi wanita yang selalu kuat menghadapi seluruh cobaan dalam hidupmua,”

Lemas menjalari sekujur tubuh Sojin rasanya. Ya Tuhan, ia baru ingat bahwa hari ini adalah har ulang tahunnya yang ke tiga puluh tahun. Ia benar-benar terlupa. Tak ada yang mengingatkannya apalagi merayakannya atau sekedar memberikan ucapan selamat. Bukan teman sekantor, bukan Youngwoon maupun Kwangsoo.

Tapi Yesung. Yesung seorang!

“Gomawo! Tapi darimana kau..?”

“Hanya kebetulan. Semalam aku membuka album foto di wak bawah tv. Sekedar untuk lebih mengenal Aleyna dan Hyukjae, tapi ternyata aku menemukan foto kenangan pesta ulang tahunmu yang ke dua puluh tiga. Kau memangku Aleyna?”

Ahh.. Sojin teringat foto yang dimaksud oleh Yesung. Entah suda berapa lama ia melupakan hari kelahirannya sendiri.

“Tiup lilinnya, da jangan lupa berdoa.”

Seperti orang yang kehilangan arahnya, Sojin hanya mengkuti saja apa yang diperintahkan Yesung padanya. Pria itu membimbingnya mendekati kue tart dan meniup lilin berbentuk angka tiga pulu tersebut.

Yesung bertepuk tangan dan memeluk Sojin sekali lagi, tapi cepat-cepat kemudian wanita itu mengindarinya. “Cukup, tubuhku bisa hancur,”

Sojin memandang Yesung dengan perasaan tak menentu. Di tangannyamasih tergenggam ponselnya yang tadi ia gunakan untuk mencari-cari berita di Jepang. Sekian banyak kalimat dari artikel-artikel yang dia temukan masih diingatnya dengan baik. Tapi tegakah a menghancurkan keceriaan di wajah Yesung? Keceriaan anak muda yang bahkan sangat berbeda sekali dengan usianya yang telah mencapai tiga puluh dua tahun.

Dilemparkannya kemudian ponsle tersebut ke atas sofa begitu saja.

“Kita punya pesta kecil.” Kata Sojin sambil tersenyum gembira.

“Uang yang kau tinggalka hanya cukup untuk membeli kue dan juga beberapa balon ini. aku bajkan harus berjalan kaki untuk kembali ke rumah karena uang itu sudah habis.”

Ahh.. Sojin tersenyum. Siapa yang tidak akan merasa terharu mendengar hal ini?

“Lupakan saja, aku membawakanmu makananan yang mungkin sangat kau rindukan. Kau belum makan kan?”

Yesung menggeleng.

“Kita potong kue dulu, baru makan besar,” ajak Yesung.

Mereka lantas memotong kue dan menikmatinya berdua. Setelah itu Yesung melonjak gembira setelah mengetaui apa yang dibawa Sojin. Persis seperti seorang anak kecil yang barusaja diberikan kado oleh orang tuanya.

Sama-sama suka, sama-sama berkesan rakus, keduanya menghabiskan seluruh makanan yang ada malam itu. Saat makan, diam-diam Sojin sering mencuri-curi pandang ke arah Yesung.

Berita itu!

Kejahatan apa yang sebenarnya telah ia lakukan? Ia benar-benar tidak bisa membayangkan pria sebaik ini telah melakukan hal itu. Akan menghabisi nyawa seseorang? Seperti apa warna hatinya? Hitam? Putih? Atau abu-abu? Yang pasti, polosi dan seluruh pihak yang berwaji di Jepang saat ini tengah mencarinya, beruntung karena pria ini kabur ke Korea sehingga tidak ada yang mengenali identitasnya.

“Aku membunuh seseorang,”

Benar, bukankah dulu saat mereka pertama kali bertemu, Yesung pernah mengatakannya sendiri? Dan saat itu Sojin hanya menganggapnya sebagai sebuah lelucon.

**

Yesung berjalan modar-mandir tanoa mengerti harus melakukan apa. Sejak tadi Sojin hanya membisu, asik menatap layar ponselnya sendiri dan seperti mengacuhkan Yesung.

“Wae geurae?” akhirnya pria itu bertanya kesal, “Bosan dengan pekerjaan kantor atau waiting fo someone?”

“Ada salam untukmu,” jawab Sojin.

Yesung mengerutkan keningnya tak mengerti.

“Dari Donghae, Lee Donghae!”

Yesung terbelalak. Langkahnya mundur, menjauhi Sojin hingga punggungnya membentur tembol.

“Kau adalah buronan, Yesung-ssi?” tenggorokan Sojin terasa pahit ketika mengucapkan itu.

“Dari mana? Darimana kau tahu?”

“Kau membunuh seseorang? Kau pembunuh?”

Yesung menutupi wajahnya, dan menjerit. “Aku membunuhnya, aku kehilangan pikiran sehatku,aku penjahat! Aku pembunuh!”

“Dan kau melarikan diri kesini?berharap tidak akan ada seorangpun yang tau tentangmu. Nyatanya..”

“Darimana kau tahu?” tanya Yesung putus asa.

“Artikel disini, berita di stasiun tv negaramu, semuanya..” sojin memperlihatkan artikel berita di ponselnya pada Yesung. Pria itu bergerak ingin merebut ponsel itu, tapi Sojin lebih cepat bergerak menyemnbunyikan di balik punggungnya.

“Aku sudah menceritakan tentangku, tapi kau belum,” kata Sojin datar, “Ini tidak adil. Skor kita masih satu kosong!”

Yesung menutup wajahnya lagi. Keringat dingin membasahi punggungnya. Matanya gelisah dan ketakutan.

“Ceritakan, ceritakan padaku,” bisik Sojin lembut.

Yesung menarik nafasnya panjang seperti menghimpoun kekuatan. Lalu agak tersendat ia mulai berbicara,

“Seorang pria brengsek, bernama Lee Donghae megencani adikku dan membuatnya hamil.”

Some old story..” desahan Sojin memotong kalimat Yesung. Sama seperti kisahnya dulu.

“Ryeon memang bukan lagi anak kecil, dia sudah dua puluh dua tahun. Dia anak perempuan satu-satunya di keluarga kami, karena adikku yang kedua adalah lelaki sepertiku. Ryeon adalah gadis yang rapuh! Tapi Donghae lebih tidak bermoral, karena lari dari kenyataan. Orangtuaku mungkin masih bisa pasrah, tapi aku dan adikku yang kedua tidak. Kami memburu Donghae dan menuntut pertanggung jawabannya. Aku mungkin adalah seorang pria brengsek, tapi aku tidak sebrengsek pria itu.

Dan yang ku temukan, Donghae justru merasa tidak bersalah. Dia justru menuduh bahwa Ryeon telah berkencan dengan orang lain saat mereka berjalan bersama. Tidakkah itu konyol? Aku ingin merobek-robek wajahnya yang tampak seperti malaikat itu. aku muak dengan gayanya yang seperti tak bersalah itu!”

“Dan belatimu merobek perutnya?”

“Begitu artikel itu tertulis? Ne, aku kehilangan kendaliku, aku terpengaruh apa yang dikatakan orang-orang lain dan juga adikku yang kedua, Kim Jongjin. Bunuh saja bangsat itu!”

“Lalu selesai begitu saja?”

Kepala Yesung menggeleng berkali-kali. Ia tidak tahu, ia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. ia meninggalkan Donghae yang terkapar di dalam diskotik dan lari menuju pelabuhan yang mulai sepi. Ia ketakutan, bingung, dan ngeri. Ia bersembunyi d sebuah kapal yang sedang menepi dan menjadi penumpang gelap dari kapal yang ternyata menuju ke Korea tersebut. Tak banyak uang yang ia bawa saat itu, semua uangnya bahkan telah habis karena ia tak sempat menukarkan pecahan uang Jepangnya tersebut ke mata uang Korea. Tidak ada pilihan lain saat itu selain lari dari Jepang. Polisi akan dengan mudah membekuknya jika ia bertahan disana.

“Apa yang etrjadi setelah itu?” desak Sojin.

“Aku bertemu dengan Park Sojin, seorang wanita yang sangat baik hati. seorang wanita yang tampak kuat dari luar, tapi ternyata hatinya begitu rapuh.”

“Bukan itu! Orang tuamu, Ryeon? Jongjin? Adikmu?”

“AKU TAK TAU!!!!” Yesung menjerit.

“Aku tau apa yang harus kau lakukan saat ini.” kata Sojin kemudian.

“Kembali ke Jepang, menyerahkan diri dan meringkuk di dalam penjara? Tidak. Kau pikir berapa lama hukuma di Jepang untuk seorang pembunuh?”

“Entahlah? Sepuluh tahun? Atau lebih? Atau seumur hidup? Aku bahkan tidak paham tentang hukum di Korea. Jadi bagaimana mungkin aku tahu hukum di Jepang? Tapi.. menyerah sajalah..”

“Tidak.” mata Yesung memberingas, membuat Sojin bergidik. “Arra,arraseo, aku akan pergi dari rumah ini sekarang juga. Kau takut terlibat kan? Takut dituduh menyembunyikanku?”

“Tunggu!” Sojin menghardik. “Donghae tdak matu! Ia hanya sekarat dan berhasil diselamatkan di rumah sakit, bacalah!” Sojin mengulurkan ponselnya pada Yesung, menunjukkan artikel tersebut pada pria itu.

Ragu-ragu Yesung menerima ponsel itu dan langsung membawa artikel itu. artikel yang menyebutkan nama lengkap dan juga nama panggilannya, serta fotonya wajahnya.

Lee Donghae tidak meninggal. Tusukan itu memang merobek perutnya dan membuahkan dua puluh jahitan, tapi tak sampai merenggut nyawanya. Keterangan Donghae yang membuat polisi tahu suapa yang harus mereka cari dan mintai pertanggung jawaban.

“Fotomu terlihat jelas di artikel ini. Polisi mungkin akan segera bergerak kesini juga. Dimana kau akan bersembunyi? Di rumah ini terus? Memenjarakan dirimu sendiri, atau?”

Yesung masih membisu.

“Menurutku, kau punya alasan dan latar belakang yang cukup meringankan. Setidaknya hukumanmu pasti akan berkurang. Bukankah kau punya Ryeon? Itu fakta yang akan meringankanmu. Yesung-ah, selama ini kau lari karena berpikir kau telah membunuh seseorang. Tapi sebenarnya tidak. Bayangkan semua, Ryeon, Jongjin, orang tuamu yang pasti sangat kehilangan dirimu. Mereka mengharapkan kedatanganmu!”

“tapi..?”

“Atau aku yang menghubungi polisi dan menyuruh mereka meringkusmu? Aku tidak ingin kehilanganmu disini, tapi aku tahu penyerahan dirimu saat ini adalah hal yang terbaik,”

“Aku takut,”

“Ayolah, kau cukup jantan karena telah membela adikmu. Lebih jantan lagi jika kau berani menanggung seluruh akibatnya, bukanlari dari kenyataan. Pulanglah!”

Yesung tergugu.

“Pulanglah,” Sojin mendekap Yesung, membelainya dengan penuh cinta.

 

*END*

2 Comments (+add yours?)

  1. leeechoika
    Sep 27, 2015 @ 21:14:24

    authoorrrrr!!! ini butu sequeeeell!!! kepengen tau akhirnya sojin dan donghae gimana… ini gantung banget..

    Reply

  2. Lla
    Sep 28, 2015 @ 22:04:02

    Sequel sequel sequel author yg baik hatiiii minta sequelnya pliiiiiiiiiiisssssss

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: