Go Green!

Go Green!

|| Author :: @GO_vanny || Tittle :: Go Green! ||

|| Cast :: Kim Ryeowook, Park Song Na (OC), ||

|| Genre :: Romance, Comedy, Date-life || Rated :: PG || Length :: One-Shot || Note : For fun fact… Mereka adalah pasangan favorit author dalam sejarah penciptaan karakter di berbagai FF. Enjoy this and don’t forget to review or comment! J

***

“Dating Song Na is always overwhelm with joy. I’ve never get bored or tired. She’s busy being herself and that’s made me loving her more. I can’t wait until she can be my date forever” – Kim Ryeowook

“Maybe it’s like a worth opportunity to spending time with him. Moment is very impotant thing for both of us. Grateful words doesn’t enough for all his effort. But, I must say… thank you” – Park Song Na

***

Kim Ryeowook yang saat itu sedang duduk di meja makan sehabis sarapan dan meminum vitamin hariannya, mengambil ponsel dengan gerakan cepat lalu menekan nomor yang sudah dia hapal di luar kepala.

Deringan nada sambung pun terdengar saat ia mendekatkan ponsel ke telinganya. Lima detik berlalu, masih belum ada jawaban dari sambungan tersebut. Ryeowook mengetukkan jarinya tidak sabar sambil melirik jam dinding.

Masih tidur rupanya, katanya dalam hati.

Saat nada dering terakhir berbunyi, Ryeowook langsung tersenyum kecil setelah mendengar suara serak dari wanita yang sangat dikenalnya.

Mwoya?!” Tanya wanita bernama Park Song Na itu tidak ramah.

Lagi-lagi Ryeowook tersenyum. “Good morning…” Sapanya ceria.

Park Song Na mendengus kesal lalu berdeham dua kali untuk mencoba menghilangkan suara seraknya. “Sudah pagi? Rasanya aku baru tidur sebentar” Kata wanita itu lebih kepada dirinya sendiri.

“YA! Kau tidur jam berapa?”

“Subuh mungkin?” katanya memberinya jeda, “Ah… tidak tahu.”

“Sudah ku bilang tadi malam! Tidur lebih awal Song Na-ya!” Omel Ryeowook pada kekasihnya.

Song Na mengusap keningnya sambil membetulkan posisi ponsel ditelinganya. “Kau yang telat memberitahuku! Aku juga punya rencana, kau tahu?” ujar Song Na mengomel balik.

“Rencana? Ya ampun Park Song! Movie marathon semalam kau sebut rencana? Bagiku itu cuma buang-buang waktu.”

Sempat terjadi jeda beberapa detik sebelum Ryeowook mendengar suara pasrah Song Na. “Oke, terserah kau saja.”

Park Song Na selalu berhasil membuat Ryeowook bersalah. Jika respon kekasihnya sudah seperti ini, hanya ada satu yang bisa di lakukannya. “Mianhae, Song Na-ya. Itu adalah hobimu, hal yang kau sukai. Seharusnya aku tidak berbicara seperti itu.”

“Hmm… tidak apa-apa,Wook-ah. Lagipula kau tahu aku hanya butuh tidur beberapa jam saja. Lihat ‘kan! Aku sudah punya tenaga untuk berkelahi denganmu?”

Tawa mereka terdengar dari speaker ponsel masing-masing. Hal inilah yang mereka lakukan selama empat tahun terakhir. Beberapa hal itu berhasil membuat mereka sampai sejauh ini. Bagi mereka, hubungan ini sangat pantas untuk di perjuangkan dan syukurlah semua berjalan baik sampai saat ini. walaupun di selingi dengan berbagai insiden menyenangkan atau tidak menyenangkan.

“Song Na-ya, sekarang dengarkan kata-kataku, oke?” Ryeowook memerintah.

Park Song Na yang saat ini sudah duduk di pinggiran tempat tidurnya menggumam mengiyakan.

“Pertama, bangun dari tempat tidurmu lalu bukalah jendela.” Perintah lelaki itu lagi.

Song Na baru saja akan beranjak menuju jendela setelah menangkap kecurigaan dalam perintah kekasihnya itu. “Kim Ryeowook… tidak mungkin ‘kan kau ada didepan rumahku?” selidik Song Na.

Ryeowook yang mengerti kecurigaan Song Na hanya tertawa. “Maaf, tapi untuk hari ini aku sedang tidak berniat menjadi pria romantis.”

Park Song Na mendengus. “Bodoh sekali aku menanyakan itu.” Katanya sambil menuju jendela lalu membukanya.

“Sudah kau buka?” tanya Ryeowook lagi.

“Sudah. Lalu?”

“Hiruplah udara segar sebanyak mungkin.”

“YA!!! KIM RYEOWOOK! Kau benar-benar tidak penting.” Maki Song Na.

“Lakukan sajalah…” ujar Ryeowook.

Anehnya, Song Na menuruti perintah itu dan menutup mata sambil tersenyum senang saat paru-parunya di isi oleh udara segar pagi itu. Wanita itu mungkin akan terus menutup matanya jika Ryeowook tidak menyadarkannya di seberang telepon.

“Sekarang yang kedua, Song Na-ya…”

“Oke.” Katanya kecewa karena belum puas mengisi full paru-parunya dengan udara bersih.

“Bukalah lemarimu, pilih baju apa saja kecuali dress.”

“Kau selalu saja menyuruhku membuka sesuatu.” gerutu Song Na saat membuka lemarinya. “Hmm… Baju selain dress…” gumamnya pada diri sendiri saat melihat isi lemarinya. “Jeans?” Tanya Song Na yang ditunjukkan pada Ryeowook.

Ryeowook bergumam. “Pakai saja baju kebangsaanmu.”

Song Na mengangguk lalu mengapit ponselnya di antara telinga dan pundak untuk mengambil baju yang di maksudnya. “Jika kau menyuruhku tidak memakai dress, itu berarti hari ini kita tidak berkencan bukan?”

“Tidak juga, aku hanya ingin membuatmu nyaman. Kita akan melakukan sesuatu yang berbeda.” Jawab Ryeowook.

“Sesuatu yang berbeda? Wow… aku suka ini.” kata Song Na menggoda.

Terdengar tawa Ryeowook dari seberang telepon. Mungkin jika ada wanita itu dihadapannya, muka Ryeowook pasti sudah bersemu merah.

“Oke… selanjutnya apa lagi?” Tanya Song Na tidak sabar.

“Temui aku di pintu keluar 5 stasiun Shin Non Hyeon satu jam lagi. Jangan lupa mandi!” jawab Ryeowook.

Song Na mendengus. “Kau juga jangan lupa memakai sol sepatu yang lebih tinggi dari biasanya! Sepertinya tinggiku bertambah lagi…” balas Song Na cerdas.

Kim Ryeowook terkekeh. “Baiklah… Sampai nanti, Park Song… Saranghae…”

“Ehm… oke… nado saranghae…” jawab Song Na lalu memutus hubungan teleponnya dengan Ryeowook.

***

Hari rabu pukul sembilan pagi bisa dibilang waktu yang cukup bagus untuk Ryeowook menunggu Song Na tepat di pintu keluar stasiun yang keadaannya saat ini tidak terlalu ramai, mungkin karena sebagian besar para karyawan dan siswa sekolah sudah sampai di kantor ataupun sekolahnya masing-masing.

Tentu saja Ryeowook tidak lupa memakai senjata andalannya yaitu topi, kacamata, dan masker. Tapi setelah mengecek keadaan, ia memutuskan untuk melepas topi dan kacamatanya. Memakai masker saja mungkin sudah cukup untuk menutupi identitasnya sebagai Kim Ryeowook Super Junior yang sedang menunggu kekasihnya di tempat umum.

Senyum lelaki itu merekah saat menyadari wanitanya sedang berlari-lari kecil menujunya. Ryeowook melambaikan tangannya ke arah Song Na untuk menyapanya. Wanita dengan topi di kepalanya serta ransel yang ada di punggungnya itu, langsung melepaskan topi yang dipakainya dan segera memakaikannya pada Ryeowook tepat saat wanita itu ada di hadapannya. Alhasil, rambut wanita itu menjadi berantakan akibat membuka topinya tiba-tiba.

“Dasar bodoh! dalam jarak seratus meter semua orang tahu kau adalah Kim Ryeowook.” Omelnya saat menaruh topinya di kepala Ryeowook.

Sementara itu, Ryeowook menggapai rambut Song Na dan merapihkannya. Menata dan menyisir lembut rambut kekasihnya adalah hal favoritnya, sedangkan Song Na lebih suka memainkan telapak tangan Ryeowook.

“Sudah berapa lama kita tidak bertemu?” tanya Song Na saat Ryeowook telah selesai merapihkan rambutnya.

“Dua minggu.” Jawab Ryeowook cepat.

“Lama juga ternyata…” ujar Song Na menerawang. “Tapi… kenapa janjian di sini?”

“Ingin saja… untuk sesuatu yang berbe—” Ryeowook cepat-cepat berdeham untuk menutupi keceplosannya. Tapi semua itu terlambat saat Song Na berkata, “Sesuatu yang berbeda, maksudmu?” goda wanita itu. Seperti perkiraannya, wajah Ryeowook bersemu merah dan Song Na masih bisa melihatnya walaupun tertutup masker dan topi.

“Kita akan naik kereta, Wook-ah?” tanya Song Na semangat.

“Hmm… Mian, Song Na-ya. Naik keretanya kapan-kapan saja, ya? Hari ini kita akan naik mobil lagi.” Kali ini rasa bersalah Ryeowook kembali muncul, jika bisa, ia akan mengambil resiko apapun untuk membuat Song Na-nya senang. Tapi masih ada tanggung jawab yang harus di jalaninya dan yang membuatnya semakin merasa bersalah, Park Song Na tidak pernah mengeluh dengan keadaannya ini. Maka dari itu, Ryeowook selalu berusaha agar Song Na tidak meninggalkannya. Walau dia tahu Song Na tidak akan seperti itu.

Song Na segera menghilangkan rasa kecewanya, yang penting mereka bisa bersama. Itulah yang dipikirkannya saat ini. “Untuk apa minta maaf, Wook-ah? Toh, kereta tidak akan punah. Kita masih bisa menaikinya berpuluh-puluh tahun ke depan. Sekarang, di mana mobilmu?”

Ketika mendengar Song Na berkata seperti itu, tidak ada yang lebih di syukuri Ryeowook saat mengetahui kenyataan bahwa wanita ini adalah miliknya.

***

“Aku tahu ini semacam surprise atau apalah namanya. Tapi, boleh beri aku clue mau kemanakah kita?” Song Na menyuapi Ryeowook dengan Kimbap yang baru saja di belinya di rest area. Karena keadaan rest area yang selalu ramai, mereka berdua memutuskan untuk makan di sepanjang perjalanan.

“Song Na-ya… kau tahu ‘kan,” Kata Ryeowook dengan kimbap di mulutnya. “Jika punya rumah nanti, aku ingin bercocok tanam dihalaman belakang… nah, kita kesana untuk latihan.” Lanjutnya.

Song mengangguk-angguk sambil menguyah lahap kimbapnya. “Hmm… aku ingat! Jadi sekarang kita akan wisata cocok tanam?”

“Kurang lebih seperti itu.” Ucap Ryeowook menyetujui.

Song Na lalu bertepuk tangan seperti anak kecil. Sangat menyukai ide Ryeowook dalam kencan kali ini.

***

Kim Ryeowook menuntun Song Na menuruni sawah yang siap ditanami padi. Ia memegang erat tangan gadis itu saat dirinya sendiri masih mencoba menyeimbangkan tubuhnya di atas tanah lumpur sawah tersebut. Akibatnya, mereka terjatuh bersama-sama karena gagal mengontrol kaki mereka yang tertelan lumpur dan malah menertawai kebodohan masing-masing.

Selain Ryeowook dan Song Na, ada juga satu keluarga dengan dua anak yang juga mengikuti wisata cocok tanam itu. Tampaknya keluarga tersebut tidak mempersalahkan kenyataan bahwa Kim Ryeowook Super Junior sedang berkencan dengan kekasihnya. Keluarga Han bahkan mengajak mereka untuk makan siang bersama setelah ini.

Ahjussi yang notabene seorang petani itu kini sedang menjelaskan instruksi bagaimana cara menanam padi. Park Song Na terkekeh saat melihat ke arah Ryeowook yang sangat serius memperhatikan. Wanita itu lalu mencelupkan tangannya ke dalam lumpur dan langsung mengoleskannya ke seluruh wajah Ryeowook.

Ryeowook yang tidak sadar dengan serangan Song Na harus menerima wajahnya berlumuran tanah lumpur. Tapi bukan Ryeowook namanya jika ia hanya menerima tanpa membalas dendam. Ia kemudian mencelupkan kedua tangannya ke dalam lumpur lalu cepat-cepat merengkuh kedua sisi wajah Song Na yang sialnya gagal menghindar. Melihat kekacauan tersebut, keluarga Han juga mengikuti jejak kedua pasangan muda itu. Mereka akhirnya melupakan instruksi petani ahjussi tersebut.

***

“Yang benar saja, Kim Ryeowook! Kau tidak bermaksud menanam padi di halaman belakang rumahmu nanti, ’kan?” Song Na menghela napas lelah akibat tanam menanam ini. Tangannya masih penuh dengan puluhan jumput padi siap tanam.

Sementara itu, Ryeowook telah selesai menanam jumput padi terakhir, ia kemudian meregangkan otot-ototnya akibat menunduk terlalu lama, lalu menjawab pertanyaan Song Na. “Jika memungkinkan…”

Song Na mengerutkan keningnya tak habis pikir dan langsung melanjutkan pekerjaannya dengan jumput-jumput padi itu. Tepat saat ia menunduk untuk menanam jumput padi itu di dalam lumpur, Ryeowook dengan sigap mengambil semua sisa jumput padi yang ada di tangan Song Na lalu langsung menanamnya tanpa banyak kata.

“Cih, dasar…” dengus Song Na sambil tersenyum senang. Ia pun dengan sigap pula menyeka peluh-peluh keringat di dahi kekasihnya dengan lengan bajunya yang masih bersih.

***

Seperti yang di janjikan, keluarga Han mengajak Ryeowook dan Song Na untuk makan siang bersama. Mereka makan di sebuah bungalow yang ada di pinggiran sawah. Hanya dalam waktu singkat, Ryeowook dan Song Na sudah lebih dekat dengan keluarga Han. Keluarga Han mempunyai dua balita kembar berumur tiga tahun laki-laki dan perempuan, Jin Ho dan Jin Hee. Seperti layaknya keluarga sungguhan, Jin Ho ada di pangkuan Song Na sedangkan Jin Hee ada di pangkuan Ryeowook, sementara Tuan Han beserta istrinya sedang sibuk menyuapi makanan satu sama lain.

Melihat hal tersebut, Ryeowook dan Song Na hanya tersenyum memaklumi dan secara alami menyuapi Jin Ho dan Jin Hee secara bergantian. Tuan Han dan istrinya yang menyadari pemandangan tersebut tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat Ryeowook dan Song Na tersenyum canggung.

“Kalian berdua cepatlah menikah dan membuat anak!” perintah Tuan Han santai, tidak menyadari bahwa Ryeowook dan Song Na langsung menghentikan aktivitasnya masing-masing.

Nyonya Han mengangguk mengiyakan, “Benar, untuk apa lama-lama berkencan? Kalian sudah siap membangun rumah tangga.” Lanjut nyonya Han sama santainya seperti Tuan Han.

Ryeowook dan Song Na tidak berani menatap satu sama lain dan hanya tersenyum canggung merespon perkataan itu.

***

Setelah belajar bercocok tanam, kini saatnya Ryeowook dan Song Na berjalan-jalan di taman wisata tersebut. Keluarga Han sudah tidak bersama mereka lagi, tapi mereka berjanji untuk bertemu kembali suatu saat.

Ryeowook dan Song Na sekarang berada pada event yang ditunjukkan khusus untuk pasangan. Mereka mendengarkan dengan serius tentang instruksi event ini. Seorang panitia menjelaskan, “Kali ini kalian akan menanam sebuah pohon, kami menyebutnya pohon cinta. Setelah menanam pohon tersebut, kalian akan diberi time capsule yang ditanam tepat diantara pohon yang kalian tanam. Time capsule ini dapat dibuka sepuluh tahun mendatang, biasanya berisi surat atau benda-benda yang memiliki makna bagi pasangan. Jadi, silahkan memulainya dengan menulis surat yang akan ditanam di time capsule.”

Untungnya, hanya ada dua pasangan yang mengikuti event ini. Meski begitu, Ryeowook tetap harus memakai masker dan topinya. Tapi semua itu tidak masalah baginya.

Ryeowook dan Song Na menulis surat untuk masing-masing dengan serius. Mereka selesai hampir bersamaan dan langsung memasukkan surat tersebut ke dalam time capsule. Lalu selanjutnya mereka menuju sebuah lahan kosong untuk menanam pohon dan mengubur time capsule tersebut.

“Apa yang kau tulis?” tanya Ryeowook selidik.

“Apa yang kau tulis?” tanya Song Na balik.

Pada akhirnya, mereka tidak memberitahu satu sama lain dan berharap bisa membukanya bersama-sama sepuluh tahun kemudian.

“Sepuluh tahun… lama sekali, Song Na-ya…” keluh Ryeowook sambil menepuk-nepuk tanah tempat ia menanam pohonnya.

Song Na mendengus. “Kau tidak percaya diri kita masih akan bersama sepuluh tahun lagi?” tantang Song Na.

“Tentu saja aku percaya diri.” Bantah Ryeowook.

“Cepat masukkan time capsule-mu…” perintah Song Na.

“Bersama-sama?” ajak Ryeowook.

“Satu… dua… tiga…”

Mereka bersama-sama memasukkan tersebut dan langsung menguruknya dengan tanah. Beharap time capsule itu masih ada di tempat yang sama sepuluh tahun mendatang dan bisa membukanya bersama-sama.

“Aku akan kembali besok dan menggalinya diam-diam.” Canda Ryeowook.

“Itu yang tadi aku pikirkan!” kata Song Na tak percaya. Tanpa aba-aba mereka ber-high five lalu tertawa bersama…

***

Ryeowook menyetir hanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sedang di teliti oleh Song Na yang memiliki kebiasaan aneh memainkan tangan seseorang. Ryeowook beberapa kali melihat Song Na menguap, tapi wanitanya tidak akan pernah tidur di mobil betapapun ia mengantuk. Alasannya karena saat ia tidur di mobil, ia tidak akan sadar jika ada kecelakaan yang terjadi. Sungguh, kekhawatiran wanita itu memang sangat berlebihan. Dan lagi-lagi, Ryeowook melihat Song Na menguap.

“Tidurlah…” perintah Ryeowook lembut. Seperti yang ia kira, wanita itu hanya menggeleng. “Pegang tanganku erat-erat, maka tidak akan terjadi seperti yang kau pikirkan.”

Song Na menggeleng lagi.

“Aku berjanji akan hati-hati. Tidurlah, oke?”

Song Na lagi-lagi menggeleng. “Kalau aku tidur, kau juga akan mengantuk. Dan itu sangat bahaya.” Bantah Song Na lemah, Ryeowook lalu melihat mata Song Na yang sudah layu dari kaca spion.

“Tidak, aku tidak akan mengantuk. Mana mungkin aku membahayakan wanita yang aku cintai?” kata Ryeowook lembut.

Mendengar hal tersebut, Song Na tersenyum dan langsung menutup matanya sambil menggenggam erat tangan Ryeowook di pangkuannya. “Terima kasih untuk hari ini, Wook-ah…” ucap Song Na, dan itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum tertidur pulas.

***

Ryeowook memarkirkan mobilnya tepat menghadap sungai Han. Tempat tersebut merupakan dating car spot yang biasanya di datangi oleh mereka berdua dan mungkin pasangan lainnya. Di karenakan hari ini adalah hari rabu, maka hanya terlihat beberapa mobil yang terparkir di sana.

***

Song Na mengerjapkan matanya dua kali hingga akhirnya menyadari Ryeowook yang sedang sibuk dengan ponselnya di balik kemudi. Untuk membuat Ryeowook sadar akan eksistensinya,Song Na menyentuh pipi lelaki itu dengan punggung tangannya dengan gerakan cepat. Hal tersebut langsung berhasil membuat fokus Ryeowook berubah haluan.

“Tidurmu nyenyak?” tanya Ryeowook tersenyum manis. Song Na mengangguk-angguk sambil meminum air dari botol dan segera menyadari dimana mereka berada saat menengok ke arah jendela. “Belum bisa dikatakan berkencan jika tidak kesini bukan?” tanyanya masih melihat situasi di luar jendela.

“Aku ingin mengatakan sesuatu. Maka dari itu, aku membawamu kesini.” Kata Ryeowook berubah serius.

“Ada apa, Wook-ah?”
“Jika suatu hari…” Ryeowook memberi jeda, “Jika suatu hari, aku—pada akhirnya—memintamu untuk disisiku untuk waktu yang sangat-sangat lama, apa kau akan mempertimbangkannya?”

Song Na menatap mata Ryeowook dalam-dalam. Ia lalu tersenyum saat menemukan kesungguhan di mata pria tersebut. “Menurutmu, apa yang aku lakukan tiga tahun terakhir ini?” tanyanya menggoda.

“Jadi, kau akan mempertimbangkannya?” tanya Ryeowook tidak sabar.

Song Na mendengus. “Tentu saja!”

Ryeowook lalu memeluk Song Na tanpa aba-aba apapun dengan senyum senang di bibirnya. Ia mengusap pelan rambut Song Na dan berharap momen ini tidak pernah berakhir.

“Tapi, Wook-ah…” ujar Song Na masih dalam pelukan Ryeowook. “Aku harap ‘suatu hari’ itu tidak akan lama lagi…”

Lengkungan senyum dibibir Ryeowook bertambah lebar, ia lalu menjawab. “Jangan khawatir, Park Song. Tunggulah beberapa saat lagi.”

 

END FOR THIS SECTION

 

 

 

 

 

 

6 Comments (+add yours?)

  1. Imyneohins
    Sep 27, 2015 @ 15:49:33

    Sweet >o< jarang2 dating bercocok tanam😄

    Reply

  2. wookpil
    Sep 28, 2015 @ 23:00:39

    Ini dating bercocok tanam abis itu pulangnya ryeowook semacam ngelamar kek gitu ya?
    Yaampuuun sweet banget.

    Reply

  3. Monika sbr
    Oct 01, 2015 @ 07:00:49

    Manis banget…
    Semoga aja mereka benar2 menikah hinggah 10 thn kemudian mereka aka menggali surat yg mereka tanam

    Reply

  4. Whin
    Feb 25, 2016 @ 23:22:34

    Sweet… nice story authornim. Aku suka karakter mereka… manis romantis tapi nggak berlebihan. Percakapannya juga nggak cheese jadinya enak aja dibaca hehe.
    Do you have personal blog? Cause I’d like to read your other ff..🙂
    Keep writing authornim

    Reply

  5. vannyradiant
    Mar 13, 2016 @ 18:28:55

    Hei, Whin… thanks for your feedback~
    I do have personal blog, you can just click on my avatar and it goes straight to my personal blog🙂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: