Marriage Not Dating : Our Wedding, Right? [1/?]

aquamarine009

Title : Marriage Not Dating : Our Wedding, Right? 1 of 2
Cast :
• Cho Kyuhyun
• Yoo Hyunjin
• Cho Ahra
• Lee Donghae
• Lee Hyukjae
• Shin Jihye
• Their Parent
Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, Family
Rated : PG 13
Length : Chaptered
Author : Garini Cho
Before :

  1. https://superjuniorff2010.wordpress.com/2014/11/22/marriage-not-dating-how-it-begins/
  2. https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/04/18/marriage-not-dating-our-wedding-right-1/

Homepage : https://kyujinzone.wordpress.com/

 

Sejak tadi siang hingga sekarang Hyunjin hanya mengurung diri di dalam kamar. Setelah insiden di kacau di butik siang tadi, Hyunjin langsung diajak pulang untuk menenangkan diri. Dan tentu saja Nyonya Cho dan kedua anaknya ikut ke rumah Hyunjin. Bahkan kini jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Hyunjin masih belum juga mau keluar dari kamar.

Para ibu-ibu itu sedari tadi membahas apa yang diucapkan Hyunjin tadi siang, dan mereka tidak ambil pusing. Karena mereka mengartikan sikap Hyunjin hari ini hanya karena gadis itu sedang stress pra nikah. Dan para ibu-ibu itu beranggapan itu merupakan hal yang wajar bagi seseorang yang akan menikah.

Tetapi tidak dengan Kyuhyun. Ia sedari tadi hanya diam dan hanya mendengar obrolan para ibu-ibu itu yang topiknya adalah Hyunjin. Dia tidak bisa bersikap santai dan tidak mengambil pusing dengan apa yang Hyunjin katakan tadi siang seperti mereka. Sedari pertama mendengar ucapan Hyunjin siang tadi hingga sekarang, kepalanya terasa pusing. Bagai ada beban berton-ton yang menghantam kepalanya. Bayangkan saja, apa yang ditakutkannya kini menjadi kenyataan. Dan ia bisa apa? Ikut membujuk Hyunjin yang sedari tadi mengurung diri didalam kamar untuk segera keluar dan ikut makan malam bersama? Tidak terima kasih. Bahkan membayangkan melihat wajah Hyunjin yang kini sembab saja Kyuhyun tidak sanggup.

“Kyu, coba kau bujuk Hyunjin untuk keluar” saran Nyonya Cho dengan tatapan penuh harap pada Kyuhyun.

“Kurasa Hyunjin butuh waktu untuk sendiri, Eomma” Jawab Kyuhyun lesu.

“Tapi dia belum makan daari tadi siang, Kyu. Ayolah~apa salahnya mencoba” kali ini Ahra yang memaksa Kyuhyun untuk membujuk Hyunjin.

Kyuhyun melirik sekilas ke depan dan ia mendapatkan tatapan penuh harap dari para ibu-ibu dihadapannya. Dan merasa tidak enak dengan Eomma Hyunjin yang juga menatapnya seperti memohon untuk melakukan hal tersebut.

Kyuhyun memejamkan matanya sebentar lalu menghela nafasnya kemudian bangkit dari duduknya. Menaiki undakan tangga menuju kamar Hyunjin yang berada di lantai dua kediaman Yoo. Langkahnya kian lama kian terasa berat. Ia masih belum siap melihat wajah Hyunjin saat ini. Ia juga tidak tahu harus berbuat seperti apa nantinya.

Sementara Kyuhyun yang kini tengah melangkah berat menuju kamar Hyunjin, para ibu-ibu yang tadi memasang wajah penuh harap kini sudah berganti dengan tampang sumringah karena berhasil menyuruh Kyuhyun untuk membujuk Hyunjin.

Kini Kyuhyun sudah berdiri tepat didepan pintu kamar Hyunjin. Hanya diam. Tanpa ketukan pintu, tanpa suara memanggil Hyunjin. Tangannya terlalu kaku untuk diangkat dan di ketukkan di pintu kamar Hyunjin.

15 menit berlalu dan Kyuhyun masih dengan posisinya yang berdiri tegap di depan daun pintu kamar Hyunjin tanpa melakukan apa-apa. Menatap pintu kamar itu seolah-olah itulah Hyunjin. Entah sadar atau tidak, kini tangannya terangkat dan terarah menuju kenop pintu. Dengan perlahan diputarnya kenop pintu itu dan terkejut saat mengetahui bahwa pintu tidak terkunci.

‘Tidak terkunci? Bukankah sedari tadi yang lain bergantian membujuk Hyunjin untuk keluar kamar?’

Lalu dengan ragu, Kyuhyun masuk kedalam kamar Hyunjin dan mendapati Hyunjin kini berdiri di balik daun pintu tersebut.

“Akhirnya kau masuk juga” suara Hyunjin terdengar serak khas orang yang baru selesai menangis.

“Aku tidak.. bermaksud lancang.. tadi .. itu pintunya.. tidak terkunci.. jadi..” Kyuhyun salah tingkah mendengar pernyataan Hyunjin. Masih belum berani menatap langsung ke wajah Hyunjin dan juga karena gadis itu menundukkan kepalanya sehingga jika Kyuhyun melihatnya hanya puncak kepalanya saja yang terlihat.

“Aku baru membuka kuncinya saat mendengar langkah kakimu ditangga” potong Hyunjin lalu kemudian ia membalikkan badannya dan berjalan menuju balkon kamar.

Kyuhyun belum beranjak dari tempatnya dan malah memikirkan bagaimana Hyunjin bisa tahu langkah kakinya?

“Kau belum puas berdiri sejak tadi?” pertanyaan Hyunjin menginterupsi Kyuhyun.

“Kemarilah” ajak Hyunjin.

Kyuhyun pun langsung mengambil langkah menuju balkon kamar Hyunjin dan duduk dikursi sebelah Hyunjin duduk. Malam ini langit terlihat cerah karena bintang-bintang masih bisa terlihat, walaupun angin di bulan Oktober tidak bisa dikatakan ‘biasa saja’.

Hyunjin dan Kyuhyun kembali tidak mengeluarkan suara. Sepertinya ini menjadi hobi baru mereka berdua setelah bermain game bersama.

Hyunjin melirik sekilas kearah Kyuhyun yang sedang menatap lurus kedepan dengan wajah dinginnya. Dan ia menyimpulkan bahwa Kyuhyun marah dengan ucapannya tadi siang. Dihelanya nafas panjang sebelum mengeluarkan suaranya.

“Kurasa aku telalu egois” pernyataan yang barusan dilontarkan Hyunjin mau tak mau membuat Kyuhyun mengalihkan pandangannya untuk menatap Hyunjin. Ia masih belum mau mengeluarkan suara karena ingin mengetahui apa yang selanjutnya akan Hyunjin ucapkan.

“Aku kira aku bisa melewati masa-masa seperti ini dengan biasa saja. Ternyata tidak. Selama ini aku bahkan tidak pernah memikirkan masalah pernikahan. Dan baru-baru ini aku merasa aku ingin memiliki pernikahan yang aku rancang sendiri. Memilih sendiri semua hal yang bersangkutan dengan pernikahan. Memilih sendiri gaun yang akan aku kenakan di altar nanti.” Hyunjin mengambil nafas untuk melanjutkan ceritanya.

“Hhhh.. aku kira hal-hal seperti itu bisa terselesaikan hanya dengan aku saja yang menentukannya. Ternyata tidak. Seharusnya aku memikirkannya sejak awal bahwa pernikahan itu bukan hanya sekedar aku dan kau yang menjalaninya, tetapi keluargaku dan keluargamu yang juga akan bersatu menjadi satu keluarga besar. Dan bisa dikatakan pernikahan ini bukan hanya pernikahan kau dan aku. Dan aku terlalu egois karena hanya memikirkan keinginanku saja.” Hyunjin masih saja menundukkan kepalanya setelah mengeluarkan cerita panjang lebar barusan.

“Bahkan dari beberapa yang kau inginkan di pernikahanmu belum ada yang terwujud, bukan? Dimana letak egoisnya?” akhirnya Kyuhyun mengeluarkan suaranya untuk menanggapi cerita panjang lebar Hyunjin.

“Dan..” Kyuhyun menatap Hyunjin tepat dimatanya.

“Tidak masalah jika kau ingin membatalkan pernikahan kita” lanjut Kyuhyun yang jelas sekali terdengar nada tidak rela mengeluarkan kata-kata itu. Hyunjin sedikit membelalakkan matanya tidak menyangka Kyuhyun akan mengatakan hal tersebut. Ia mengira Kyuhyun akan kecewa karena ucapannya tadi siang. Dan sebenarnya ia ingin memperbaiki dan meralat ucapannya dengan mengajak Kyuhyun bicara.

“Kyu..”

“Aku mengerti posisimu. Kau menikah denganku karena memenuhi janjimu pada kedua orangtuamu. Kau pasti belum siap untuk menikah. Dan lagi, pernikahan kita mendadak dan atas campur tangan orang tua kita. Jika kau merasa tidak enak untuk mengatakannya pada orang tua kita, aku yang akan menyampaikannya” setelah melontarkan kalimat tersebut Kyuhyun langsung memalingkan pandangannya karena tidak kuat lagi menatap wajah Hyunjin. Nafasnya sedikit tercekat karena mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tidak ingin ia keluarkan. Tapi dia tidak boleh egois, bukan?

Hyunjin tidak menjawab apa-apa. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri mencerna kalimat yang barusan diucapkan Kyuhyun dan memikirkan apa yang akan ia lakukan.

Kyuhyun masih menunggu reaksi apa yang akan ia terima dari Hyunjin, tapi masih memalingkan wajahnya kearah lain. Namun saat ini dia sangat ingin mendengar tanggapan Hyunjin dengan apa yang dia ucapkan tadi.

“Kyu” saat namanya disebutkan lagi, sekuat tenaga Kyuhyun meredamkan perasaannya yang takut mendengarkan apa jawaban Hyunjin.

“… Aku lapar…”

Rahang Kyuhyun hampir saja lepas dari tempatnya mendengar penuturan Hyunjin barusan.

“…Aku belum makan dari tadi siang” lanjut Hyunjin.

“Lapar? Ah, Lapar! Ya sudah, ayo kita makan dibawah” Kyuhyun hanya menjawab dengan linglung dan baru teringat juga kalau tujuan utamanya adalah membujuk Hyunjin untuk makan.

“Shireo. Aku mau makan diluar saja” tolak Hyunjin langsung saat Kyuhyun mengajaknya untuk makan bersama di ruang makan.

Hyunjin beranjak dari duduknya kearah lemari, mangambil jaket kemudian memakainya. Sedangkan sedari tadi tatapan Kyuhyun tidak lepas dari Hyunjin.

“Yak! Palli!”

♥♥♥

 

 

Kini Hyunjin dan Kyuhyun berada di salah satu café dekat rumah Hyunjin setelah sebelumnya Hyunjin meminta – memaksa Kyuhyun untuk makan diluar. Kyuhyun tidak banyak berbicara sejak tadi karena ia masih bingung dengan sikap Hyunjin saat ini yang seolah tidak ada terjadi apa-apa. Seolah-olah dia tidak mengatakan hal yang berhasil memporak-porandakan perasaan Kyuhyun. Kyuhyun hanya menyahuti seadanya saat Hyunjin bertanya padanya atau memanggilnya.

Pesanan mereka datang, dan seperti kebiasaan Hyunjin, ia mengatupkan kedua telapak tangannya sambal memejamkan matanya untuk berdoa sebelum makan. Dan sepertinya hal tersebut juga menjadi kebiasaan baru Kyuhyun.

Hingga saat makanpun, tidak ada suara lain selain dentingan sendok dan piring dari Kyuhyun dan Hyunjin. Dan mereka sepertinya lebih tertarik untuk menghabiskan makanan didepan mereka daripada harus saling berbincang. Bahkan sampai makanan didepan mereka habis, mereka juga belum mengeluarkan suara.

Suasana café ini tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang yang duduk di meja dan sisanya hanya membeli minuman dan langsung pergi.

Hyunjin melirik ke Kyuhyun yang seperti sedang memperhatikan jalanan dari jendela disampingnya, karena meja yang mereka duduki bersebelahan dengan jendela kaca besar café ini. Jelas sekali kalau Kyuhyun bukan sedang memperhatikan jalanan, ia sedang berpikir. Memikirkan bagaimana kelanjutan perjodohannya dan Hyunjin.

Hyunjin tahu apa yang Kyuhyun pikirkan saat ini karena dirinyalah yang menjadi penyebab kekacauan hari ini. Dia sebenarnya masih enggan berbicara banyak dengan Kyuhyun, karena merasa tidak enak telah menyebabkan kekacauan. Tetapi ia tahu ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Maka Hyunjin memberanikan diri untuk memulai berbicara dengan Kyuhyun. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan.

“Hmm..” gumaman tidak jelas Hyunjin menginterupsi kegiatan Kyuhyun sehingga mau tak mau Kyuhyun menatap Hyunjin.

“Undangan sudah disebar, Kyu” Hyunjin yang tidak tahu harus memulai percakapan dengan kalimat seperti apa, hanya mengeluarkan kata-kata tersebut. Walaupun terdengar sedikit ganjil untuk dijadikan sebagai kalimat pembuka.

“Ah, Ya, aku sudah tahu hal itu.” Kyuhyun menjawab sambil menganggukkan kepalanya sedikit.

“Tapi mau bagaimana lagi?” lanjutnya lagi dan kali ini ditambah dengan senyum di wajahnya yang kentara sekali senyuman itu senyuman miris. Hyunjin yang mendengar hal itu semakin merasa tidak enak. Lalu, pandangannya yang sebelumnya tertuju pada Kyuhyun kini sudah dialihkan kearah lain.

“Hhh.. karena undangan sudah disebar, sepertinya aku tidak jadi membatalkan pernikahannya” setelah mengucapkan hal itu, Hyunjin masih saja belum menatap lagi kearah Kyuhyun. Masih berusaha mengalihkan pandangannya kemana saja.

“Ne?” Kyuhyun yang kurang yakin dengan pendengarannya atas apa yang baru saja dia dengar, bertanya untuk memastikan apa yang didengarnya itu tidak salah.

“Sepertinya aku tidak jadi membatalkan pernikahannya” ulang Hyunjin dengan sabar. Kini dia menyerah untuk tidak menatap Kyuhyun dan ingin melihat bagaimana reaksi Kyuhyun saat ia mengatakan hal barusan.

“Bukankah tadi siang kau…” Kyuhyun sudah membelalakkan matanya tidak percaya dengan keputusan Hyunjin yang mendadak berubah tanpa harus ia minta. Bahkan kini Kyuhyun hampir saja menganggap Hyunjin sebagai wanita yang labil.

“Aku hanya terlalu terbawa emosi saat mengucapkan hal itu” potong Hyunjin saat Kyuhyun masih belum selesai mengeluarkan pertanyaannya karena keterkejutannya. Dan Hyunjin tersenyum geli melihat tingkah Kyuhyun.

“Jadi…” entah pertanyaan atau pernyataan yang akan Kyuhyun lontarkan, akan tetapi ia masih memasang wajah tidak percayanya yang menurut Hyunjin wajah itu sangat lucu.

“Yah, sebenarnya aku ingin membatalkannya saja, tapi memikirkan undangan yang sudah disebar, aku tidak jadi membatalkannya.” Jahil Hyunjin mengatakan bahwa alasannya adalah karena undangan. dan Hyunjin masih saja berusaha menyembunyikan senyum gelinya.

“Kau hanya memikirkan undangannya saja” ekspresi wajah Kyuhyun berubah drastis dari yang sebelumnya wajah tidak percaya kini menundukkan kepalanya. Dan melihat hal tersebut, Hyunjin tidak bisa menahan lagi tawanya. Tingkah Kyuhyun seperti anak kecil, mudah sekali merubah suasana hatinya.

“Hahaha, tidak mungkin aku hanya memikirkan undangannya saja. Aku juga memikirkan dirimu” kali ini Hyunjin mulai serius menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Jinja?” Kyuhyun yang baru saja mendengarkan pernyataan Hyunjin bahwa gadis itu memikirkannya langsung saja menegakkan kepalanya yang sebelumnya tertunduk dan kembali memasang wajah tidak percayanya. Dan tentu saja Hyunjin tidak bisa menahan tawanya lagi. “benarkan! Lelaki ini seperti anak kecil. Gampang sekali merubah suasana hatinya”

“Hahahaha. Pasti akan keluar berita tentang dirimu yang ditinggal calon pengantinnya seminggu sebelum menikah kalau aku membatalkan pernikahannya. Hahahaha! Kau pasti akan dijadikan lelucon di Korea, Kyu!” kembali Hyunjin dengan jahilnya meledek Kyuhyun karena ia tidak ingin Kyuhyun besar kepala.

“Eiiisshh! Jinja!” kesal Kyuhyun atas ledekan Hyunjin padanya. Dan sepertinya mereka sudah melupakan situasi beberapa menit yang lalu.

“Betapa baiknya aku~” kata Hyunjin sambil memasang mimic wajah yang dilebih-lebihkan.

“Baik pantatku” balas Kyuhyun tetapi malah membuat keduanya tertawa geli. Hampir saja mereka diusir dari café ini karena tertawa terlalu keras.

“Jadi?” tanya Kyuhyun setelah berhasil menguasai dirinya dari tertawa berlebihan barusan.

“Jadi apa lagi? Kau sering sekali bertanya ‘jadi?’ padaku”

“Hmm.. kita akan tetap menikah?”

“Sayangnya, kurasa begitu” jawab Hyunjin sambil memeletkan lidahnya.

♥♥♥

Keesokkan harinya, keluarga Cho dan keluarga Yoo kembali mengadakan pertemuan. Kali ini membahas kelanjutan perjodohan antara Kyuhyun dan Hyunjin. Walaupun para ibu-ibu tahu kalau Hyunjin hanya stress pranikah, tetapi Tuan Cho dan Tuan Yoo tidak berpikiran seperti itu sebelum mereka sendiri yang mendengar hal tersebut dari Hyunjin. Sehingga diadakanlah pertemuan dua keluarga kembali pada malam ini.

“Jadi apa benar Hyunjin, kau ingin membatalkan pernikahan kalian yang sebentar lagi akan diadakan?” Tuan Yoo yang pertama mengajukan pertanyaan pada Hyunjin. Walaupun Nyonya Yoo sudah berkali-kali mengatakan pertemuan malam ini tidak harus, karena Hyunjin hanya mengalami stress pra nikah. Tetapi Tuan Yoo ingin mendengar langsung alasan yang sebenarnya dari Hyunjin dan juga Kyuhyun.

“Joesonghamnida Appa, dan semuanya. Saat itu aku hanya terlalu terbawa emosi. Aku tidak serius mengatakan bahwa aku ingin membatalkan pernikahanku. Bahkan saat itu aku tidak sadar aku mengatakan itu. Maafkan aku” jelas Hyunjin panjang lebar dan langsung disambut senyum sumringah semua orang yang mendengarkan hal itu.

Nyonya Yoo menyenggol lengan Tuan Yoo dan langsung memberikan tatapan bahwa apa yang telah ia katakan benar.

“Lalu, mengapa saat itu kau bisa sampai terbawa emosi?” kali ini Tuan Cho yang melontarkan pertanyaan pada Hyunjin. Kyuhyun yang sedang duduk disebelah Hyunjin menolehkan wajahnya kesamping untuk melihat Hyunjin dan juga menunggu apa jawaban yang akan Hyunjin lontarkan.

Sedangkan Hyunjin sedikit kikuk mendapat pertanyaan barusan karena terlalu malu untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Dan juga ia merasa tidak enak untuk mengungkapkan hal tersebut didepan orang banyak seperti ini.

“Itu..”

“Hyunjin sebenarnya ingin mempersiapkan pernikahan seperti apa yang ia inginkan, Appa. Tetapi ada perbedaan pendapat antara Hyunjin dan Eomma, dan Eommoni. Dan Hyunjin tidak bisa mengatakan keinginannya, dan sampai puncaknya kemarin, ia tidak bisa menahan lagi perasaan yang ditahannya.” Potong Kyuhyun saat dilihatnya Hyunjin ragu untuk mengatakan maksudnya. Hyunjin yang mendengar penuturan Kyuhyun terkesiap. Bagaimana lelaki ini bisa mengerti apa yang akan ia katakan?

“Maafkan aku, semuanya. Aku terlalu egois. Sekali lagi maafkan aku” pinta Hyunjin yang kini sedang membungkukkan badannya berulang-ulang kali.

“Apa yang harus dimaafkan? Bukankah itu merupakan hal yang wajar?” ujar Tuan Cho dengan bijaksana. Kyuhyun mengulas senyum tipis mendengar ucapan Appanya.

“Jadi semuanya, apa bisa untuk masalah gaun dan cincin pernikahan, kami sendiri yang menentukannya?” Tanya Kyuhyun seperti sedang bernegoisasi dengan para orang tua.

“Tentu saja. Memang para ibu-ibu ini terlalu bersemangat. Hahaha”

“Benar, kami terlalu bersemangat. Jadi Hyunjin, jika ada yang mengganjal hatimu, jangan kau pendam sendiri lagi, oke? tidak perlu merasa tidak enak pada kami. Dan juga maafkan kami, ne? kami tidak mengerti kemauanmu” kini Nyonya Cho yang mengeluarkan suaranya. Hyunjin yang mendengar permintaan maaf dari Nyonya Cho langsung mengibaskan tangannya.

“Tidak eommoni. Aku yang harusnya meminta maaf. Maafkan aku sekali lagi. Joesonghamnida” kembali ia membungkukkan badannya untuk meminta maaf.

Kini beban yang sebelumnya mengganjal di hati Kyuhyun hilang sudah karena terselesaikannya kekacauan ini. Ditolehkannya kepalanya kesamping untuk melihat Hyunjin dan merasa malu seketika karena pada saat yang bersamaan Hyunjin juga sedang menoleh kearahnya.

Sadar bahwa Kyuhyun juga tengah menatapnya, Hyunjin langsung memalingkan wajahnya kearah lain. Dan sekilas dapat terlihat oleh Kyuhyun semburat merah dipipi Hyunjin. Entah Hyunjin masih merasa malu karena tadi menjelaskan masalah atau pipinya memerah karena malu matanya beradu pandang dengan Kyuhyun. Dan tentu saja kejadian itu tidak luput dari pandangan seisi ruangan ini. Bahkan kini diam-diam mereka ikut-ikutan tersenyum tidak jelas melihat sikap malu-malu Hyunjin dan Kyuhyun.

‘aigoo manisnya’

‘hahaha, mereka masih malu-malu kucing’

‘ah, aku jadi ingat masa mudaku dulu’

Begitulah pikiran orang-orang yang sedang senyum-senyum tidak jelas itu saat ini.

♥♥♥

Hari ini sengaja Kyuhyun mengosongkan kegiatannya untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Hyunjin. Ia juga sudah membuat janji dengan Hyunjin akan menjemput Hyunjin saat makan siang.

Kyuhyun sedang bersiap-siap untuk berangkat menuju Klinik tempat kerja Hyunjin, tetapi langkahnya terhenti karena suara deringan ponsel di sakunya. Dan langsung mengangkat telepon tersebut saat melihat id callernya.

“Eoh” sahut Kyuhyun lalu kembali melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil.

“Kau dimana sekarang?” tanya Donghae yang merupakan si penelpon.

“Di jalan”

“Aku dan Eunhyuk ada di café biasa. Kau mau gabung tidak?” tawar Donghae mengajak Kyuhyun untuk makan siang bersama.

“Aku sudah ada janji makan siang dengan Hyunjin” Kyuhyun membuka pintu mobil dan kemudian masuk kedalam mobilnya, tetapi belum menyalakan mobil tersebut karena masih menelpon.

“Hyunjin? Calon istrimu, kan?” tebak Donghae yang memang belum tahu siapa nama gadis yang akan menikah dengan Kyuhyun.

“Eo” jawab Kyuhyun santai.

“Kenapa adik ipar, Hae-ah” dapat Kyuhyun dengar walau sedikit samar suara Eunhyuk yang ikut nimbrung dalam percakapan Kyuhyun dan Donghae.

“Kyuhyun akan makan siang dengan adik ipar. Sepertinya kita akan makan berdua saja, Hyuk” Donghae menjawab pertanyaan Eunhyuk yang tentu saja dapat didengar Kyuhyun. Dan Kyuhyun menyerngitkan dahinya, merasa sedikit aneh saat mendengar panggilan ‘adik ipar’ untuk Hyunjin dari kedua makhluk tersebut. Sejak kapan mereka mengklaim Hyunjin sebagai adik ipar mereka?

“Wah kebetulan sekali! Sekalian saja ajak adik ipar untuk makan siang bersama kami, Kyu!” kini suara Eunhyuk dapat didengar dengan jelas oleh Kyuhyun karena ponsel Donghae sudah pindah tangan ke Eunhyuk.

“Shireo!” tolak Kyuhyun langsung saat mendengar tawaran Eunhyuk.

“Yaak! Kami kan mau bertemu juga dengannya!” sungut Eunhyuk karena langsung mendengar penolakan dari Kyuhyun.

“Ayolah, Kyu. Kali ini Eunhyuk yang traktir” mendengar pernyataan Donghae barusan, Eunhyuk langsung melototkan matanya kearah Donghae, sedangkan Donghae hanya memasang wajah bocah tidak bersalah.

Kyuhyun berfikir sesaat. Ini kesempatan langka. Kapan lagi bisa ditraktir Eunhyuk yang pelit itu. Dan juga ia baru ingat kalau belum memberikan undangan pernikahannya untuk kedua makhluk itu.

Setelah berfikir sesaat, Kyuhyun menjawab, “Oke. Aku akan sampai 30 menit lagi” dan langsung memutuskan sambungan telepon tersebut.

Sedangkan Eunhyuk kini meringis meratapi dompetnya yang sebentar lagi mengeluarkan isinya. Melihat hal tersebut, Donghae menghibur. “Kita kan jadi bisa melihat adik ipar, Hyuk-ah”

♥♥♥

Kurang dari 30 menit, mobil yang Kyuhyun kendarai sampai di café tempat Eunhyuk dan Donghae menunggu. Jam makan siang masih ada 1 jam lagi, jadi masih sempat bagi Eunhyuk dan Donghae untuk menunggu.

Sebelumnya Kyuhyun memberitahu Hyunjin bahwa mereka akan makan siang dengan sahabat Kyuhyun sekalian memberikan undangan pernikahan mereka secara langsung kepada kedua sahabat Kyuhyun tersebut.

Dan juga mereka sudah membuat janji dengan salah satu butik gaun pengantin sesudah jam makan siang nanti. Sehingga Hyunjin pun izin untuk pulang lebih awal hari ini.

Kini mereka memasuki café tersebut dan langsung mendapat lambaian tangan dari kedua makhluk yang sudah menunggu sedari tadi. Kyuhyun dan Hyunjin pun menghampiri meja yang diduduki Eunhyuk dan Donghae.

Sesampainya di meja tersebut, Hyunjin langsung membungkukkan badannya kepada Eunhyuk dan Donghae sambil memberikan seulas senyum manis.

“Annyeong haseyo” sapa Hyunjin ramah. Ia dan Kyuhyun langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Eunhyuk dan Donghae.

“Waaah~” kagum Eunhyuk dan Donghae serentak sejak pertama melihat Hyunjin.

“Adik ipar cantik sekali” puji Donghae. Mendengar itu Hyunjin langsung tersipu, dan hal tersebut tidak disukai Kyuhyun. ‘Kenapa Hyunjin harus tersipu didepan kedua makhluk ini? Tau kalau akan seperti ini, aku tidak akan mengajak Hyunjin bertemu dengan mereka’ sungutnya dalam hati.

“Benar, pantas saja Kyuhyun dulu…” sadar bahwa Eunhyuk akan melontarkan kata-kata yang akan membuatnya malu di depan Hyunjin, Kyuhyun langsung menendang kaki Eunhyuk dari bawah meja.

“Aww!” pekik Eunhyuk karena merasakan sakit di tulang keringnya dan langsung menatap Kyuhyun yang berada didepannya. Sedangkan Kyuhyun langsung memasang tatapan ‘apa-yang-akan-kau-katakan’ pada Eunhyuk dengan kesalnya.

Kyuhyun mendecakkan lidahnya lalu kini mengalihkan pandangannya ke Hyunjin disampingnya. Dan untung saja Hyunjin tidak sadar dengan pekikan Eunhyuk barusan.

“Hyunjin, kenalkan mereka berdua orang yang selalu merecoki hidupku. Yang mirip monyet namanya Lee Hyuk Jae. Kalau kau mau, panggil saja dia monyet” terang Kyuhyun dan mendapat sambutan kekehan dari Hyunjin.

“Yaaak! Ani, adik ipar. Panggil aku Eunhyuk. Eunhyuk Oppa”

“Tidak usah sok akrab” sindir Kyuhyun yang masih kesal karena mulut Eunhyuk yang ember.

“Dan yang mukanya mirip ikan itu, namanya Lee Donghae. Jangan dekat-dekat dia, dia bau amis” masih saja Kyuhyun mengenalkan kedua makhluk itu dengan hinaan.

“Eiii dasar setan!” kesal Donghae.

“Yaa, kalian! Kenalkan ini Hyunjin” acuh Kyuhyun karena tidak ingin membuat kedua makhluk itu terlalu kenal dengan Hyunjin.

“Kami tidak mau kau yang mengenalkannya. Biarkan dia yang mengenalkan dirinya sendiri” tukas Eunhyuk. Dan kembali terdengar decakan kesal dari Kyuhyun.

Hyunjin yang sedari tadi tertawa melihat kelakuan 3 laki-laki dihadapannya, mulai mengendalikan dirinya. Lalu membungkukkan lagi badannya untuk mengenalkan dirinya.

“Namaku Yoo Hyunjin. Senang bertemu dengan kalian”

“Haaaai Hyunjin~” balas Donghae dan Eunhyuk serentak.

“Menjijikkan! Kalian seperti Ahjusshi hidung belang” kembali Kyuhyun mengeluarkan hinaannya.

Kemudian datang pelayan mencatat pesanan mereka. Setelah pelayan café pergi, Kyuhyun mengeluarkan dua buah undangan yang memang ia bawa untuk Eunhyuk dan Donghae. Lalu disodorkannya kedepan masing-masing.

“Usahakan kalian datang dengan pasangan” walaupun Kyuhyun mengucapkan hal tersebut dengan tenang, tetapi tetap saja ada terselip hinaan untuk kedua makhluk itu.

Donghae dan Eunhyuk hanya melengos dan pura-pura tidak mendengar perkataan Kyuhyun yang menurut mereka begitu menyakitkan.

“Adik ipar, kau masih punya kesempatan untuk membatalkan pernikahan ini” seloroh Eunhyuk sambil melihat undangan yang diberikan Kyuhyun tadi. Walaupun niatnya hanya bercanda, tetapi saat Hyunjin mendengar hal tersebut, dia sedikit merasa tidak enak. Merasa seperti disindir secara tidak langsung.

Dan tentu saja Kyuhyun merasakan hal yang sama karena ucapan Eunhyuk barusan seperti mengingatkannya kembali dengan kekacauan yang baru saja selesai beberapa hari yang lalu.

“Kau tidak membutuhkan pengiring pengantin pria, Kyu?” pertanyaan Donghae berhasil membuyarkan lamunan sesaat Hyunjin dan Kyuhyun. Dan keduanya langsung mengenyahkan perasaan tidak enak yang beberapa detik yang lalu mereka rasakan.

“Kenapa memangnya? Kalian ingin menawarkan diri? Tidak, terima kasih.” Balas Kyuhyun dengan memasang smirk diwajahnya. Dan tentu saja Eunhyuk dan Donghae kini merasakan kesal mendadak.

Tak berapa lama kemudian, pesanan mereka datang. Eunhyuk sudah siap-siap untuk memasukkan makanan kedalam mulut, terhenti karena melihat apa yang Hyunjin dan Kyuhyun lakukan saat ini.

Diletakkanya kembali sendok yang berisi penuh makanan yang siap ia telan ke atas piring, lalu melirik kesamping – kearah Donghae, yang sedang melirik kearahnya juga.

‘Apa sekarang hari minggu?’

‘Kyuhyun berdoa sebelum makan?’

Dan masih banyak lagi pemikiran konyol yang ada di kepala mereka berdua. Tetapi, yang kini mereka lakukan adalah ikut-ikutan mengatupkan tangan dan memanjatkan doa sebelum makan.

Saat semuanya sudah mulai makan, Eunhyuk mencondongkan badannya kearah Donghae dan mengeluarkan suara berbisik.

“Kyuhyun beruntung mendapatkan Hyunjin, Hae-ah” bisiknya pada Donghae dan Donghae langsung mengangguk setuju.

Eunhyuk kembali menegakkan badannya dan mengeluarkan suara.

“Adik ipar, apa kau punya teman perempuan yang seperti dirimu?”

♥♥♥

Kini mobil yang Kyuhyun kemudikan sudah meluncur menuju salah satu butik gaun pengantin di daerah Gangnam. Sepanjang perjalanan, Hyunjin asyik menceritakan tingkah Donghae dan Eunhyuk yang konyol saat mereka makan siang tadi. Dan tentu saja hal tersebut membuat Kyuhyun jengah. Kenapa Hyunjin harus membicarakan laki-laki lain saat dia ada dihadapannya? Cemburu? Tentu saja. Sudah beberapa pertanyaan yang Hyunjin lontarkan tentang kedua makhluk itu pada Kyuhyun, dan Kyuhyun hanya menanggapi pertanyaan Hyunjin seadanya saja.

“Kenapa sampai sekarang mereka tidak punya kekasih, ya? Padahal wajah mereka tidak buruk” tanya Hyunjin lagi. Kyuhyun harus kembali meredam rasa cemburunya dan melirik sebentar kearah Hyunjin yang tengah menatapnya menunggu jawaban.

“Tidak ada yang mau sama mereka” jawab Kyuhyun asal dan tak lupa hinaan untuk kedua makhluk tersebut.

“Ada apa dengan gadis Korea zaman sekarang? Mengapa mereka melewatkan 2 orang laki-laki yang menarik itu?” ujar Hyunjin yang berhasil membuat kepala Kyuhyun hampir berasap. Dan dia lebih memilih diam dari pada harus menjawab pertanyaan Hyunjin yang entah ditujukan untuknya atau tidak.

Tak lama kemudian mobil Kyuhyun berhenti didepan butik yang mereka tuju. Setelah melepas seatbeltnya Kyuhyun langsung keluar dari mobil dan menutup pintu mobil tersebut sedikit keras. Sedangkan Hyunjin yang masih berada didalam mobil terkejut karena debuman pintu mobil yang ditutup Kyuhyun barusan. Bertanya-tanya dalam hati kenapa Kyuhyun melakukan hal tersebut. Dan Hyunjin hanya menggidikkan bahunya karena tidak menemukan jawaban. Ia pun menyusul Kyuhyun yang sudah masuk kedalam butik.

Butik ini tidak terlalu berbeda dengan butik gaun pengantin yang sebelumnya Hyunjin datangi. Hyunjin dan Kyuhyun sudah bersama dengan designer gaun pengantinnya, dan mulai menentukan gaun dan jas apa yang akan dikenakan Hyunjin dan Kyuhyun.

“Hmm.. apa boleh aku memilih dulu gaun disini sendiri?” tanya Hyunjin meminta izin.

“Tentu. Silahkan nona.”

Selagi Hyunjin berkeliling butik untuk mencari gaun yang ia suka, Kyuhyun menunggu di tempat tadi sambil mengobrol dengan sang designer.

“Jas untukku sesuaikan saja dengan gaun yang dipilihnya nanti” ujar Kyuhyun saat designer butik tersebut bertanya tentang jas seperti apa yang ia inginkan.

Tak berapa lama Hyunjin kembali dengan sebuah gaun ditangannya. Senyumnya terkembang karena merasa senang tidak ada yang menginterupsi kegiatannya kali ini.

“Aku coba yang ini” kemudian Hyunjin menyodorkan gaun yang ia bawa tadi ke si designer lalu designer tersebut mengiringnya ke dalam fitting room. Sedangkan Kyuhyun pindah duduk di depan fitting room yang baru saja dimasuki Hyunjin.

Didalam fitting room, Hyunjin dibantu 2 orang untuk mengenakan gaun yang ia pilih tadi. Dan ia hampir saja menangis terharu merasakan perasaan hangat yang menyelimuti hatinya saat ini. Gaun pilihanku. Lalu ia menatap cermin didepannya dengan tersenyum.

Dan tanpa ia perintah, detak jantungnya bekerja 2 kali lebih cepat. Perasaan seperti ini tidak ia rasakan saat mencoba gaun beberapa hari yang lalu. Apa ini karena Kyuhyun yang akan melihatku? Kemudian Hyunjin merasakan panas di daerah pipinya karena memikirkan hal tersebut.

“Pengantin sudah siap” ucap salah seorang yang tadi membantu Hyunjin mengenakan gaun barusan.

Mungkin kini detak jantung Hyunjin sudah berdetak berkali-kali lipat dari yang sebelumnya karena tirai yang menjadi penghalang antara ia dan Kyuhyun akan dibuka. Lututnya melemas, dan kepalanya sedikit pusing. Ia memejamkan matanya mencoba menenangkan seluruh anggota tubuhnya yang bereaksi aneh. Bukannya tenang, Hyunjin malah memikirkan bagaimana reaksi dan pendapat Kyuhyun tentang dia saat Kyuhyun melihatnya nanti.

Saat tirai akan dibuka, Hyunjin mencegahnya.

“Chakkaman” bahkan suaranya hampir tidak keluar karena saking gugupnya.

Kedua orang yang baru saja Hyunjin cegah itu mengerutkan keningnya tidak mengerti mengapa Hyunjin mengentikan kegiatan mereka yang akan membuka tirai. Mereka masih diam seperti menunggu kelanjutan ucapan Hyunjin.

“Ah.. itu.. aku.. Hmm..” ucap Hyunjin tidak jelas yang kemudian memancing tawa kedua orang yang berada didepannya.

“Tenang saja nona, kau terlihat sangat cantik” ujar salah satunya dan diikuti acungan jempol dari yang satunya lagi.

Mendengar hal tersebut membuat Hyunjin sedikit – hanya sedikit, tenang. Dihirupnya udara dalam-dalam hingga paru-parunya terasa penuh lalu dihembuskannya perlahan. Mencoba membuat dirinya lebih tenang lagi.

Setelah beberapa kali melakukan hal tersebut, untuk saat ini anggota tubuhnya bisa diajak kerjasama. Lalu ia menganggukkan kepala kepada 2 orang yang sedari tadi menunggunya tanda bahwa mereka bisa membuka tirainya sekarang.

Sedangkan diluar tirai, Kyuhyun menunggu dengan bosan. Moodnya sedang tidak bagus karena pembahasan Hyunjin di dalam mobil yang membuatnya uring-uringan. Lalu sekarang ia harus menunggu hampir setengah jam untuk melihat Hyunjin mengenakan gaun yang ia pilih tadi. Sempat tadi ia mendengar suara wanita dari balik tirai tersebut berkata bahwa Hyunjin sudah siap, lalu mengapa sampai sekarang Hyunjin tidak keluar juga? Maka sedari tadi ponselnyalah yang menjadi pelampiasan rasa jenuhnya. Memainkan game yang terdapat di ponselnya walaupun tidak terlalu fokus.

Bohong jika Kyuhyun tidak merasakan penasaran dengan penampilan Hyunjin walaupun suasana hatinya saat ini tidak baik. Bahkan sedari tadi kakinya bergoyang tidak jelas. Entah itu tanda dia gugup, atau mengalihkan rasa bosan, atau juga mungkin ia sedang menahan pipis.

Kemudian tirai dibuka perlahan dan kali ini tanpa aba-aba. Kyuhyun yang sedang memainkan game di ponselnya mengalihkan pandangannya untuk melihat Hyunjin yang sedari tadi betah berada di balik tirai.

Seketika jenuhnya hilang dan bahkan suasana hatinya kini berubah. ‘calon pengantinku’ ucapnya dalam hati.

 

Kyuhyun berdiri dari duduknya dan menghampiri Hyunjin. Tatapan memujanya belum luput dari wajahnya tetapi hal tersebut tidak diketahui Hyunjin karena saat ini ia memilih untuk melihat lantai. Ia malu melihat reaksi Kyuhyun saat melihatnya. Kini Kyuhyun sudah berdiri tepat dihadapan Hyunjin, tetapi masih memberikan jarak beberapa langkah agar ia dapat leluasa menikmati pemandangan yang menurutnya sangat indah itu.

“Hei” panggil Kyuhyun setelah mengontrol dirinya sendiri dan mendapati Hyunjin yang sedang berdiri kaku sambil menatap lantai.

Hyunjin yang sebelumnya berhasil sedikit menenangkan dirinya, kini kembali merasakan detak jantungnya yang berdetak luar biasa. Apalagi saat ia mendengar suara langkah kaki Kyuhyun yang menghampirinya, semakin menjadi saja detak jantungnya. Bahkan telapak kaki dan tangannya sudah sedingin es saat ini. Ia tidak tahu reaksi apalagi yang akan dia rasakan kalau saat ini ia menatap wajah Kyuhyun. Tetapi Kyuhyun malah menyapanya dan mau tidak mau ia menegakkan kepalanya agar berhadapan dengan Kyuhyun.

Hyunjin menyesal telah memilih mengangkat kepalanya menghadap Kyuhyun karena mendapati Kyuhyun sedang tersenyum dan hal tersebut membuat lututnya semakin lemas saja.

“Kau terlihat …” Kyuhyun yang sudah berhasil mengendalikan dirinya mulai mengeluarkan suara lagi dan kali ini menatap Hyunjin seperti sedang menilai.

Cantik.

“… seperti Elsa” kata itu yang keluar dari mulut Kyuhyun kemudian diikuti seringaian jahil dibibirnya.

“Elsa?”

“Eo, Elsa di Frozen. Gaunnya mirip seperti gaun yang kau pakai saat ini”

“Berarti tidak bagus?” tanya Hyunjin lemas. Awalnya dia gugup karena memikirkan bagaimana tanggapan Kyuhyun tentang penampilannya. Apakah Kyuhyun akan mengatakan ia cantik dalam balutan gaun seperti ini. Dan saat mendengar tanggapan Kyuhyun yang meleset dari perkiraannya, hilang sudah semua rasa gugup yang ia rasa sejak tadi.

Sejujurnya Hyunjin berharap Kyuhyun akan memujinya cantik. Ia teringat omongan Jung Ahjumma yang mengatakan kalau suaminya memujinya terlihat sangat cantik saat mengenakan gaun pernikahan. Tetapi, ia malah mendapat komentar Kyuhyun yang mengatakannya seperti pemeran utama Film Animasi Frozen. Hei, dia juga wanita. Apa salah ia menginginkan calon suaminya memuji dirinya cantik saat memakai gaun pernikahan? Terlepas dari fakta bahwa pernikahan mereka berdua terjadi karena perjodohan kedua orang tua mereka. Yah, harapan hanya harapan.

“Siapa yang bilang tidak bagus? Elsa itu kan seorang Princess juga” pernyataan ambigu Kyuhyun membuat Hyunjin mengedipkan matanya berkali. Entah Hyunjin mengerti atau tidak. Sedangkan orang-orang yang ada didalam ruangan itu berusaha menutupi senyum mereka melihat Hyunjin dan Kyuhyun yang menurut mereka sangat manis. Kyuhyun membalikkan badannya dan kemudian menghampiri designer yang berada di ruangan itu juga.

“Kami beli gaun yang ini. Jas untukku pilihkan saja yang sesuai dengan gaun yang ia kenakan ini”

Kyuhyun kembali membalikkan badannya untuk melihat Hyunjin yang masih belum bergerak dari tempatnya.

“Jinnie, apa kau sebegitu inginnya menikah denganku sampai-sampai kau masih belum melepaskan gaun itu? Tenang saja, kau akan memakainya lagi nanti saat acara pernikahan kita” goda Kyuhyun yang langsung membuat Hyunjin sadar dengan keadaannya saat ini yang masih belum bergeming. Diberikannya Kyuhyun tatapan kesal dan dengusan kasar yang malah membuat Kyuhyun terkekeh geli. Bahkan bukan hanya Kyuhyun saja yang terkekeh geli, orang-orang diruangan ini yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua juga ikut terkekeh geli melihat tingkah Kyuhyun dan Hyunjin.

♥♥♥

H-1

Jam 7 malam, Kyuhyun sudah berguling didalam selimut. Bukan sedang tidur, hanya mengistirahatkan dirinya. Hari ini memang ingin dihabiskannya untuk beristirahat karena besok ia akan melangsungkan acara pernikahan. Kyuhyun sudah mengambil cuti kerja untuk 1 minggu dengan alasan pernikahannya.

Ditengah istirahatnya, pintu apartement Kyuhyun berbunyi tanda ada yang sudah memasukkan password dan masuk kedalam apartemennya. Dengan malas ia turun dari tempat tidur dan segera keluar kamar untuk melihat siapa yang datang.

Ternyata Eunhyuk dan Donghae lah yang masuk kedalam apartemennya. Mereka berdua langsung memasang wajah bocah sambil mengangkat plastik berisi beberapa botol soju dan ayam goreng yang mereka tenteng.

“Pesta bujangan!” teriak keduanya bersamaan.

Kyuhyun yang sedang dalam mode malas hanya menyerngitkan dahi sambil menggaruk kepala.

“Kalian tidak lupa kan besok aku akan menikah?”

“Karena kami tidak lupa, makanya kami merayakan pesta bujangan untukmu” kata Donghae sambil berjalan menuju ruang tengah dan meletakkan plastik yang ia tenteng di atas meja. Dan Eunhyuk juga melakukan hal yang sama.

“Bagaimana bisa aku minum-minum malam ini sedangkan besok aku ada acara penting?” tanya Kyuhyun tidak percaya dengan ide 2 makhluk didepannya ini.

“Eeeiiyy, ayolah. 1 gelas saja. Sisanya biar kami yang habiskan” bujuk Eunhyuk dan Kyuhyun hanya memutar matanya malas.

Eunhyuk dan Donghae sudah larut dengan botol-botol soju yang mereka bawa tadi, sedangkan Kyuhyun hanya memperhatikan mereka tanpa mau ikut meminum soju tersebut.

“Bagaimana perasaanmu, Kyu” tanya Donghae disela-sela kesibukannya menghabiskan ayam dihadapannya.

“Perasaan apa?”

“Ya perasaanmu akan menikah. Apa kau merasa gugup?” jelas Donghae. Sedangkan Eunhyuk yang sangat berkonsentrasi makan seperti takut kehabisan mulai ikut nimbrung dan ikut menunggu jawaban apa yang akan Kyuhyun ucapkan.

“Entahlah” jawab Kyuhyun asal.

“Hhh.. apa yang sedang adik ipar lakukan sekarang, ya? Apa dia sedang menyesali takdirnya karena besok harus menikah denganmu?” Eunhyuk mengalihkan pertanyaan tetapi malah membuat Kyuhyun memberikannya tatapan apa-kau-ingin-mati.

“Biasanya seorang gadis yang akan menikah pasti merasa gelisah dan gugup. Di drama-drama yang aku tonton sih seperti itu” kini Donghae yang menyambung perkataan Eunhyuk. Kyuhyun hanya menggidikkan bahunya menanggapi kedua makhluk didepannya

Donghae dan Eunhyuk kembali larut dengan soju mereka masing-masing. Bahkan mereka seperti melupakan tujuan awal mereka yang ingin mengadakan pesta bujangan untuk Kyuhyun karena pada akhirnya merekalah yang menghabiskan semuanya.

Hingga Donghae dan Eunhyuk tepar dilantai karena mabuk, dan Kyuhyun tidak mau repot-repot membangunkan mereka untuk menyuruh mereka pulang atau untuk menyuruh mereka pindah ke dalam kamar. Ruang tengah Kyuhyun yang semula rapi, kini sudah berantakan dengan botol soju dan bungkus-bungkus makanan yang bertebaran dimana-mana.

Kyuhyun merebahkan badannya disofa dengan meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala untuk dijadikannya bantal. Pikirannya sedari tadi tidak lepas dari kegelisahan akan pernikahannya besok. Lalu, kegelisahannya bertambah karena memikirkan Hyunjin akibat omongan kedua makhluk yang sedang tepar itu. Diambilnya ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Dilihatnya jam saat ini sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Kemudian mulai mengetikkan sesuatu diponselnya.

♥♥♥

Hari ini dihabiskan Hyunjin untuk perawatan diri karena pernikahannya akan dilangsungkan besok. Ia ditemani Ahra yang kali ini tidak mengajak serta anaknya. Sebenarnya perawatan diri ini merupakan ide Ahra dan Ahra berhasil memaksa Hyunjin untuk melakukannya. mulai dari badan, kuku, rambut, wajah semuanya diberikan perawatan.

Sepulangnya dari perawatan diri bersama Ahra, Hyunjin langsung masuk kedalam kamar. Dengan kondisi badan yang baru diberikan perawatan, otomatis badannya Hyunjin terasa lebih ringan. Dan seharusnya dia dapat tidur dengan nyenyak malam ini. Akan tetapi yang dilakukannya kini hanya berguling-guling tidak jelas diatas tempat tidurnya. Ia mengira posisi tidurnya salah sehingga ia tidak dapat terlelap. Sudah berbagai macam posisi tidur yang ia coba tetapi tetap tidak bisa membuatnya tidur dengan tenang.

Diliriknya jam di atas nakas, sudah menunjukkan pukul 1 malam. Seharusnya ia sudah tidur sekarang mengingat besok ia akan melaksanakan acara pernikahan. Tetapi ia malah gelisah diatas tempat tidurnya.

Entahlah, ia belum pernah merasakan gelisah seperti ini sebelumnya. Pikirannya menerawang memikirkan besok statusnya sudah menjadi seorang istri. Ia akan tinggal bersama suaminya dan tidak menempati dikamar ini lagi. Tidak ada lagi sarapan yang diawali teriakan Eommanya yang memanggilnya untuk segera turun. Perasaan ini berbeda saat ia akan pergi keluar negeri untuk melanjutkan kuliah dulu. Saat itu ia juga merasakan perasaan takut kehilangan moment-moment yang ia lalui bersama kedua orang tuanya dirumah ini. Tetapi perasaan kali ini bukan hanya tentang takut kehilangan tersebut, tetapi ada perasaan lain yang membuatnya gelisah.

Aku akan menikah.

Apa Kyuhyun memang pilihan yang terbaik?

Apa aku tidak akan menyesal menikah dengannya?

Apa pernikahan kami akan bahagia?

Apa dia bisa … mencintaiku?

Ditengah kekalutannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Segera diambilnya ponsel yang berada diatas nakas tersebut untuk mengetahui siapa yang mengiriminya pesan pada jam segini. Dan mata Hyunjin membulat melihat siapa pengirim pesan tersebut. Cho Kyuhyun.

From: Kyu

Hai. Kau sudah tidur?

Dahi Hyunjin berkerut. Untuk apa Kyuhyun mengirimnya pesan hanya untuk menanyakan ia sudah tidur apa belum pada jam segini? Berarti Kyuhyun belum tidur juga?

To : Kyu

Belum. Ada apa, Kyu?

Tidak sampai 5 detik kemudian ponsel Hyunjin kembali berbunyi tetapi kali ini bukan pesan masuk, melainkan sebuah panggilan. Lalu segera mengangkatnya karena nama Kyuhyun yang tertera diponselnya.

“….” Hyunjin tidak mengeluarkan suara saat mengangkat teleponnya. Sengaja menunggu sampai Kyuhyunlah yang membuka percakapan diantara mereka.

“Hai” setelah menunggu beberapa saat barulah terdengar suara Kyuhyun dari sebrang sana memecahkan keheningan.

“Hai” balas Hyunjin.

“Ada apa?” lanjutnya.

“Eerr.. Aku… hanya tidak bisa tidur”

“Aku juga”

“Kenapa kau tidak bisa tidur?”

“Entahlah. Mungkin hanya karena tidak bisa tidur” Hyunjin mengganti posisinya saat ini dengan meletakkan salah satu tangannya untuk menyangga kepalanya dan tangan yang satunya untuk menahan ponselnya agar tetap berada ditelinganya.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Hmmm.. kau sendiri?”

“Aku duluan yang bertanya, Jinnie”

“Bagaimana yaa? Hmm.. aku tidak tahu”

“Jawaban macam apa itu?” terdengar suara Kyuhyun yang kesal dari sebrang sana dan membuat Hyunjin terkekeh pelan.

“Lalu kau?”

“Apakah terdengar aneh kalau aku bilang aku merasa gugup saat ini?” Hyunjin kembali terkekeh pelan mendengar jawaban Kyuhyun.

“Hehe, tidak aneh sama sekali”

“Apa kau tidak merasa gugup, Jinnie?”

“Yaah, aku merasa gugup, Kyu”

“Apa kau berencana membatalkan pernikahan lagi?” Hyunjin mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan Kyuhyun yang terdengar sangat menyindir dirinya.

“Yaak! Jangan bahas itu lagi” sungut Hyunjin. Dan dapat didengar Hyunjin kali ini Kyuhyunlah yang terkekeh. Ia menunggu Kyuhyun puas dengan kekehannya.

“Kyu…” panggil Hyunjin saat sudah tidak terdengar lagi kekehan dari Kyuhyun.

“Hmm” deheman halus Kyuhyun sempat membuat darah Hyunjin berdesir. Entahlah, terdengar sangat intim.

“…Kau tahu …” lanjut Hyunjin ragu setelah mengalihkan rasa berdesir di tubuhnya.

“… sedari tadi aku memikirkan tentang pernikahan kita. Apa pernikahan kita nanti akan bahagia? Apa pernikahan kita akan berlangsung selamanya? Pertanyaan itu sedari tadi menghantuiku. Kau dan aku tahu dengan jelas bahwa kita dijodohkan, lalu bagaimana kita menjalani pernikahan kita nanti?” akhirnya Hyunjin berhasil mengatakan semuanya pada Kyuhyun. Perasaan yang sedari tadi menghantuinya. Bohong jika Hyunjin tidak merasa malu saat ini, tetapi untuk apa menyembunyikan hal tersebut dari Kyuhyun?

“Kau benar”

“Kenapa kita baru membicarakannya sekarang, ya?” Hyunjin yakin saat ini Kyuhyun mulai mencairkan kembali suasana.

“Apa kau yakin dengan pernikahan ini, Kyu?”

“Aku yakin” jawaban Kyuhyun terdengar sangat tegas ditelinga Kyuhyun.

“Kau seyakin itu?”

“Tentu. Mengapa aku harus tidak yakin?” Hyunjin tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun yang sebenarnya lebih terdengar sebagai pernyataan. Masih belum mengeluarkan suara karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

“Hmmm.. Jinnie..” panggil Kyuhyun yang langsung menyadarkan Hyunjin.

“Ya?”

“…kau bisa mengandalkanku”

“…”

“Aku akan berusaha menjadi suami yang bisa membahagiakanmu. Aku akan berusaha agar pernikahan kita berlangsung selamanya. Aku akan berusaha membuatmu tidak merasa menyesal karena telah menikah denganku. Aku akan berusaha.”

“…”

“Aku akan berusaha melakukan semua hal itu, asal kau bersedia menjadi partnerku”

“Partner?”

“Ne, Partner. Partner yang selalu berada disampingku.”

“…”

“Bukankah dulu kita adalah partner? Kita dulu Partner in Game, bukan?”

“Ne, Majayo”

“Jadi?”

“Huh?”

“Jadi, apa kau bersedia menjadi partnerku seumur hidupmu, Jinnie?”

“Hmm… Apa ini sebuah lamaran?”

“Kau boleh menganggapnya seperti itu”

“Hmm… kedengarannya tidak buruk”

“Seharusnya terdengar menyenangkan”

“Kyu…”

“Hmm…”

“Apa… aku bisa memegang kata-katamu?”

“Kau bisa mempercayaiku, nae parteuneur”

FIN

3 Comments (+add yours?)

  1. lieyabunda
    Sep 29, 2015 @ 03:26:45

    gak sabar liat mereka nikah……

    Reply

  2. rain3126
    Sep 29, 2015 @ 20:21:57

    Nah loh, hampir aja pernikahan nya gagal rh ternyata hyunjin lg galau. Kekeke,,, ternyata kyuhyun bisa cemburu juga sama sahabatnya sendiri. Hmm, jd ng sabar nunggu mereka nikah deh.

    Reply

  3. Mairajuu
    Oct 03, 2015 @ 07:34:21

    Manisyaaaa

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: