Meet You

meet-you 

 Meet You

Cho Kyuhyun || Park Hyo Reen

Oneshoot, Romance, AU PG-17+

©chiezchua

Visit my personal wep : chievachiezchua.wordpress.com

.

.

.

 

 

Love is like the wind, you can’t see it but you can feel it – Nicholas Sparks

Cinta itu seperti angin, kau tidak bisa melihatnya tapi kau bisa merasakannya.

 

 

 

 

 

 

30 Januari 2014

Benar jika ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘cinta itu seperti angin, kau tidak bisa melihatnya tapi kau bisa merasakannya.’ Seperti apa yang ku rasakan saat ini. Gelombang- gelombang tak kasat mata itu seolah ingin menjeratku. Menguasai penuh sel-sel di dalam otakku. Membuatku tidak bisa berfikir rasional. Tubuh ini mengapa seolah ingin bergerak cepat untuk segera menghampirinya. Andai saja sudut lain dalam otakku tidak mengatakan ‘Jangan.’ Mungkin saat ini juga gadis itu sudah duduk di sampingku.

Syukurlah akal sehatku masih bisa bekerja meski hanya separuh. Karena separuhnya lagi telah terpenuhi keinginan untuk memilikinya saat ini juga. Ya! Tuhan, bisakah kau jelaskan padaku?, apa yang ku rasakan saat ini sungguh tidak wajar.

Hanya dalam waktu sepersekian detik saja, perasaan ingin memiliki itu sangat kuat menguasai diriku. Mungkinkah saat ini aku merasakan apa yang biasanya orang lain rasakan?. ‘Jatuh cinta’, Sialan! Aku tidak tahu bahwa efeknya akan semengerikan ini, sebelumnya aku tidak pernah merasakan apa itu jatuh cinta dalam arti yang sebenarnya.

Mengapa ia hanya sendiri?

Apa yang sedang gadis itu fikirkan?

Mengapa wajahnya selalu menunduk?

Segala pertanyaan tentang sosok yang sama sekali belum aku kenal berkecamuk mengisi otakku, memenuhi segala sudut yang berada di dalamnya. Tubuhku seolah berada di antara dua pilihan.

Di satu sisi, aku ingin segera menghampirinya dan membawanya bersamaku. Namun di sisi lain sebuah kesadaran seolah menampar pipiku begitu keras. Apa yang akan kau katakan padanya bodoh?, kau bahkan belum pernah mengenalnya, lakukanlah secara benar. Mungkin jika kesadaran itu bisa menyuarakan protesnya seperti itulah kalimat yang seharusnya aku dengar saat ini.

Tubuhku menegang saat kesadaran itu lebih mendominasi di dalam otakku. Bahkan ruas-ruas jemariku sama sekali tidak bisa kugerakkan saat sorot mataku menangkap siluet tubuhnya menghilang seiring berlalunya bus yang berada tidak jauh dari tempatku saat ini.

Bodoh’, kalimat itu kembali menamparku. Mengapa kau membiarkannya pergi? Sisi lain dalam diriku ikut menyuarakan protesnya. Namun apa yang bisa ku lakukan. Semuanya telah terjadi. Aku hanya bisa berharap semoga Tuhan masih berbaik hati padaku.

Aku bersumpah, jika masih ada kesempatan kedua. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu lagi untuk bisa memilikinya.

 

 

***

 

 

03 Februari 2014

Berharap dan selalu berharap, semoga dewi fortuna kali ini berpihak padaku.

Terhitung sudah lima hari aku melakukannya, layaknya orang bodoh yang tidak memiliki pekerjaan. Berdiam diri di halte tempat di mana terakhir kali aku melihat sosoknya. Untuk saat ini aku tidak akan lagi menjadi pengecut yang hanya menyembunyikan diri di dalam mobil. Aku sudah bertekad ingin memilikinya saat ini juga.

‘Menunggu’ hanya itu yang bisa kulakukan. Semoga kejaiban datang dan aku bisa melihat gadis itu berdiri di sampingku saat ini.

Tepat pada hari di mana aku terlahir di dunia ini , Bolehkah aku berharap sejauh itu?, bertemu dengannya akan menjadi kado terindah dalam hidupku.

 

Satu jam,

.

Dua jam,

.

.

Tiga jam,

.

.

.

Hingga tak terhitung sudah berapa jam lagi aku menunggunya, hingga tanpa ku sadari, sinar terang yang beberapa saat lalu begitu menyilaukan pandanganku, kini nyaris menghilang sepenuhnya. Surya mulai tergelincir dari singgasananya, memancarkan bias berwarna oranye di ufuk barat. Di ikuti hamparan luas langit yang semula membiru kini hampir menggelap. Malam mulai beranjak seiring dengan banyaknya kilauan-kilauan kecil yang menggantung di atasnya.

Bintang-bintang seolah menertawakanku dengan kebersamaan mereka yang tak terhitung jumlahnya. Sedangkan aku di tempat ini hanya sendirian dengan wajah menunduk merutuki nasib. Sepertinya apa yang kuharapkan kali ini sama sekali tidak akan pernah terwujud. Mungkin setelah ini aku harus menghapusnya dari segala bayanganku. Benar-benar menghapusnya. Ya! Tuhan, memikirkannya saja aku sudah tak sanggup. Benarkah secepat ini aku harus melupakan sosoknya yang bahkan belum ku kenal sama sekali.

Kakiku bergetar, seolah tidak ingin beranjak saat otakku memerintah untuk segera pergi dari tempat ini. Ada apa ini?, mengapa tubuhku selalu berkhianat pada diriku sendiri.

Tiba –tiba kepalaku berdenyut keras. Jemariku bergerak perlahan memijit pelipisku, sekedar ingin meredakan rasa pening ini sejenak, mungkin setelah ini, lebih baik aku mengkonsumsi obat tidur saja agar keesokan harinya tubuhku kembali segar, tidak lagi merasakan perasaan sesak yang tidak jelas ini.

“Ada yang bisa kubantu Tuan, sepertinya anda sedang sakit?”

Suara itu, bolehkah aku berharap bahwa itu ‘dia’. Kepalaku menoleh kesamping dengan gerakan cepat. Detik itu juga retina mataku menangkap sosoknya. Sosok gadis yang beberapa hari ini kutunggu dan nyaris membuatku gila. Benarkah apa yang kulihat saat ini, Tuhan! Tolong sadarkan aku. Yakinkan aku bahwa ini semua bukan hanya sekedar ilusi belaka .Kelopak mataku mengerjab-ngerjab, meyakinkan diriku sendiri atas kehadirannya yang nyaris terlihat seperti kasat mata di depanku.

Surainya begitu indah, Terlihat panjang bergelombang dengan warna kecoklatan. Semakin berkilau akibat terpaan cahaya lampu yang berada di atasnya. Tubuh proposionalnya berbalut dress selutut berwarna peach. Jangan tanyakan lagi bagaimana setiap lekukan wajahnya. Bagaikan dewi-dewi Yunani, hidung mancungnya, bola mata bulatnya, pipi merahnya tidak lupa bibir ranumnya. Semuanya terpahat sempurna nyaris tanpa cela dan alami. Penampilannya terlihat begitu sederhana tapi tidak mengurangi sedikitpun kadar kecantikan yang dimilikinya. Terkutuklah Tuhan jika tidak mentakdirkan gadis seindah ini pada diriku.

“Aku tidak apa-apa” Jawabku cepat. Aku bersyukur mulutku masih bisa bekerja dengan cukup baik, saat fikiranku sudah kacau seperti ini. tanpa kusadari sejak tadi tatapan mataku tidak pernah lepas darinya.

“Kalau begitu syukurlah, namun wajah anda terlihat begitu pucat.” Ia berjalan mendekatiku. Kemudian menghempaskan tubuhnya. Duduk pada kursi panjang yang sama denganku.

Suara merdunya mengalun begitu indah menyapa pendengaranku. Aku masih mengamati segala apapun yang ada pada dirinya. Bolehkah saat ini aku meneriakkan kata ‘bahagia’ sekencang mungkin. ‘Bahagia’ hanya kata itu yang mampu menggambarkan isi hatiku yang tak mampu terucap.

Mendengar ucapannya yang seolah menghawatirkanku, membuatku merasakan bahwa ini bukanlah pertemuan pertama kami secara langsung. Ia mulai sibuk memainkan ponsel yang berada di genggamannya.

Keinginan itu semakin kuat menguasai diriku. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Bibirku sudah siap melontarkan segala apapun yang kini telah berkecamuk di dalam fikiranku.

Aku mulai membuka suara mencoba mengalihkan perhatiannya. Tentu saja Cho Kyuhyun lebih menarik dipandang daripada benda kecil dengan layar datar sialan itu. “Aku Cho Kyuhyun.”

Ia menoleh seraya memamerkan senyum menawannya padaku. Astaga! di saat tersenyum seperti itu mengapa kadar kecantikannya semakin bertambah banyak. Aish! membuatku gila saja.

“Aku Park Hyo Reen.” Park Hyo Reen sebentar lagi akan menjadi Cho Hyo Reen. Ia mengulurkan tangan kanannya padaku, dengan senang hati aku langsung menyambutnya. Merasakan kehalusan telapak tangannya membuatku tidak rela melepaskannya begitu saja. Aku baru tersadar saat ia mencoba menarik tangannya kembali. “Ma’af.” Melemparkan senyuman lebar padanya.

“Apa yang kau lakukan disini?” satu pertanyaan meluncur dengan sukses dari sela bibirku.

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya demikian, apa yang anda lakukan disini sendiri, bukankah sudah ada mobil yang terparkir manis disana.” Bukannya menjawab gadis itu malah melemparkan pertanyaan serupa padaku. Ekor matanya melirik ke arah Audi R3 yang terparkir sempurna di pinggir jalan tidak jauh dari halte ini.

Aku hanya menggaruk tengkukku yang tidak gatal sama sekali, merasa bingung dengan jawaban apa yang harus kuberikan padanya. Apa aku harus jujur?, ataukah memilih opsi lain agar ia tidak menganggapku sebagai penguntit.

Tidak ada pilihan, aku sudah bertekad ingin mengungkapkan isi hatiku padanya. Biarlah dia menganggapku pria sinting sekalipun. Aku tidak perduli. Mencoba peruntungan, berharap belum ada seseorang yang memilikinya. Tanpa kusadari, kepalaku menggeleng cepat. Tidak boleh! Hyo Reen hanya milikku. Aku yakin gadis ini belum bersama siapapun.

“Sebelum menjawab pertanyaanmu, bolehkah aku bertanya lebih dulu padamu.”

Ia masih menatapku, dengan sorot mata kebingungan. Namun gadis itu tetap menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia setuju dengan keinginanku.

“Tidak adakah seseorang yang akan menjemputmu?” Menguatkan hatiku mendengar apa yang akan ia katakan selanjutnya. Semoga tidak seperti apa yang kutakutkan.

“Aku tidak memiliki siapapun.” Jawabnya cepat. Suaranya terdengar bergetar sarat akan kesedihan. Apakah aku salah bertanya?. Mungkinkah aku sudah menyakitinya?, Padahal aku hanya ingin tahu ia sudah memiliki kekasih atau tidak. Biasanya seorang kekasih tidak akan membiarkan kekasihnya sendirian di tempat seperti ini. Apalagi malam hari. Karena itu akan sangat berbahaya.

“Saudara, keluarga, maupun Kekasih?” aku masih penasaran. Dengan terpaksa bibirku kembali melontarkan sebuah pertanyaan padanya.

“Aku tidak memiliki saudara, orang tua ku sudah meninggal satu tahun yang lalu, sedangkan kekasih, aku belum pernah merasakan apa itu dicintai dan mencintai.” Ia menggingit bibir bawahnya. Seolah merasa menyesal telah mengucapkan berbagai hal pahit pada seseorang yang baru saja di temuinya.

Keinginan itu semakin kuat terpatri kuat di dalam hatiku. Tentu saja aku tidak akan membiarkan gadis seindah ini hidup sendirian. Terselip sedikit perasaan lega diantara perasaan perih yang lebih mendominasi dalam hatiku saat ia mengatakan tentang keluarganya. Aku merasa bersedih sekaligus sangat bersyukur, karena apa yang kutakutkan tidak terjadi. Lupakan tentang kekasih yang tidak dimilikinya.

“Ma’af sudah membuatmu mengingat masa lalu.”

“Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa hidup sendiri.”

Aku menghela nafas sejenak sebelum mengatakan apa alasanku berada disini. “Apa kau benar-benar ingin tahu, apa yang kulakukan di sini.”

Ia hanya mengangguk. “Aku sedang menunggumu.” Ujarku kemudian. Seketika itu juga bola mata kecoklatan miliknya melebar sempurna sedetik setelah aku menyelesaikan kalimat itu.

“Untuk apa?” tanyanya dengan suara nyaris tercekat.

“Untuk memilikimu.”

“…..”

Hening. Tidak ada sahutan apapun yang kudengar. Mungkinkah ia menganggapku pria gila yang tidak sengaja berbicara melantur padanya, hingga ia tidak ingin menanggapiku sama sekali. Atau mungkin ia terlalu syok dengan apa yang baru saja aku ucapkan?, sepertinya opsi kedua jauh labih baik. Aku berusaha meneruskan apa yang ingin ku ucapkan padanya.

“Dengarkan aku baik-baik.” Bola matanya menatap lurus padaku.

“Aku melihatmu di tempat ini beberapa hari yang lalu. Kau hanya diam dengan kepala menunduk, membuatku penasaran dengan apa yang kau fikirkan, aku ingin sekali menghampirimu, tapi aku belum berani menampakkan diriku di depanmu, khawatir kau justru akan menjahiku”

“Hari berikutnya, aku kembali menunggumu tapi kau tidak ada di tempat ini, bahkan hingga malam telah larut kau sama sekali tidak datang begitupun dengan hari-hari berikutnya, membuatku nyaris gila karena berfikir aku sudah benar-benar kehilanganmu.”

“Tapi aku tidak berhenti mencoba, hingga pada hari ini, kau benar-benar datang kembali, dan aku sudah bersumpah. Jika aku bertemu denganmu untuk kedua kalinya maka aku akan membuatmu menjadi milikku selamanya.”

“Mungkin ini memang terlalu cepat, tapi aku sangat yakin dengan keputusanku bahwa aku ingin memilikimu, Kalimat picisan seperti love at first sight mungkin bisa menggambarkan apa yang ku rasakan saat ini padamu.” Aku menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan kalimatku.

“Tapi kau juga harus yakin dengan pepatah yang mengatakan bahwa ‘Cinta itu seperti angin, kau tidak bisa melihatnya tapi kau bisa merasakannya’. Dan aku sangat yakin bahwa aku memang mencitaimu meskipun itu belum terlihat olehmu tapi aku bisa merasakannya.”

Beranjak dari tempat dudukku, kemudian berlutut di depannya dengan menekuk sebelah kakiku, menumpukan pada kerasnya lantai dingin di halte ini.

“Jadi maukah kau menikah denganku?.” Tak ada cincin atau apapun, yang ada hanya ucapan tulus yang meluncur dari sela bibirku, sesuai dengan apa yang ku rasakan. Setelah ini apapun yang ia inginkan, dengan senang hati aku akan memberikannya.

 

***

 

 

Siapapun disana tolong sadarkan aku saat ini juga. Mungkinkah semua ini hanya mimpi, tapi mengapa terasa begitu nyata. Dan lagi sosok di hadapanku saat ini, membuatku terlalu syok. Jika semua ini hanyalah mimpi tolong cepat sadarkan, agar aku tidak terjebak pada kebingungan yang semakin mendalam.

Tubuhku terasa kaku, jantungku nyaris melompat dari tempatnya jika saja aku tidak meremas dadaku terlalu kuat. Otakku tidak bisa bekerja dengan semestinya, semuanya terjadi begitu cepat membuatku tidak bisa berfikir secara rasional. Untuk sekedar membuka suara saja aku nyaris tidak mampu. Apalagi memberikan jawaban atas apa yang ia katakan.   Ya! Tuhan aku harus bagaimana?.

Bertemu dengan seseorang. Hanya satu kali. Lalu tiba-tiba kau dilamar. Di sebuah halte. Pada malam yang sudah beranjak larut.

Apa aku bisa menyimpulkan bahwa dia hantu. Astaga! pikiran bodoh macam apa Park Hyo Reen, otakmu terlalu banyak mengkonsumsi film horor tidak jelas. Bagaimana mungkin lelaki tampan yang saat ini sungguh-sungguh ingin melamarmu kau anggap hantu. Sangat tidak masuk akal. Bahkan lutut dan kakinya saja masih tetap menapak di tanah. Sedangkan sorot matanya jelas tertuju padamu. Menunggu jawaban darimu tentu saja.

Aku tidak tahu harus merasa, bahagia, senang, terharu atau semacamnya. Mungkinkah ia pangeran baik hati yang dikirim Tuhan untuk menjagaku. Menjaga gadis sebatang kara yang tidak memiliki siapa-siapa, mungkinkah aku terlihat sangat menyedihakan, hingga orang lain saja merasa simpati padaku. Atau mungkin saja ia lelaki jahat yang ingin memanfaatkanku saja. Kepalaku terasa semakin pening memikirkan itu semua.

Tanpa kusadari sudah beberapa menit yang lalu ia berada di posisi yang sama, menunggu sesuatu terucap dari sela bibirku. Akhirnya aku putuskan untuk bertanya lebih dulu padanya.

“Aku akan mengatakan lebih dulu sebab mengapa beberapa hari-hari yang lalu kau tidak melihatku di tempat ini, sekarang duduklah kembali.” Aku menghembuskan nafas sesaat. Menimbang-nimbang apa lagi kalimat yang harus ku ucapkan padanya. Mungkinkah dari awal?, Ya! sepertinya memang begitu, agar lelaki ini tahu siapa gadis yang sedang ia pilih.

“Aku hanya gadis sebatang kara yang berasal dari Busan. Tidak memiliki siapapun. Saudara ibu maupun ayahku tidak ada yang ingin menampungku, karena menurut mereka aku ini hanyalah gadis yang merepotkan”

“Tapi aku masih bersyukur karena memiliki teman di Seoul, hingga pada akhirnya aku tinggal bersamanya di kota ini.”

“Selama hampir dua bulan aku tinggal bersamanya, dan kini aku tidak ingin merepotkannya lagi, karena itu aku memutuskan pergi dan mencari pekerjaan.”

“Saat berada di sini pada waktu itu aku sedang kebingungan mencari pekerjaan, karena itu yang kulakukan hanya menunduk sedih tanpa tahu kemana arah hidupku selanjutnya.”

“Aku sempat putus asa, hingga beberapa hari kemudian yang kulakukan hanya mendekam di dalam kamar sepetak yang kutinggali sendirian di pinggiran kota ini. Karena itulah kau tidak lagi melihatku saat itu. ”

“Dan pada akhirnya entah mengapa hari ini semangatku tiba-tiba muncul kembali, seolah ada suatu magnet yang menarikku dan memaksaku keluar dari persembunyian. Dan ternyata benar takdir baik itu menghampiriku. Aku berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah Toko Roti, karena itulah aku baru pulang menjelang malam seperti ini.” Menyunggingkan seulas senyum padanya. Diapun ikut tersenyum membalasnya.

“Astaga! semoga saja masih ada bus yang lewat.” Aku sempat tersadar, bagaimana kalau aku tidak bisa pulang malam ini. haruskah aku bermalam di halte ini. Achh! Itu tidak mungkin. Bola mataku mengamati arah jarum pada jam butut yang bertengger sempurna pada pergelangan tanganku. Menunjukkan pukul sembilan kurang seperempat. “Syukurlah, sepertinya masih ada satu bus lagi bus yang akan lewat.”

Pandanganku kembali mengarah padanya. “Jadi seperti itulah sedikit cerita hidupku, mungkin kau bisa mempertimbangkan lagi apa yang baru saja kau katakan.” Aku tersenyum dan mulai beranjak dari tempatku duduk saat bus yang kutunggu mulai kelihatan.

“Tidak ada alasan untuk tidak memilihmu, aku mohon sekali lagi, menikahlah denganku Reen-ah.”

Deg,

Kakiku terasa berat, tidak mampu melangkah lebih jauh lagi, apa yang ia katakan barusan. Ya! Tuhan haruskah aku berkata ‘iya’ padanya.

Aku merasakan suhu panas tubuhnya yang kini mulai mendekatiku dari arah belakang. Tidak! Tolong jangan mendekat padaku. Jika begini ceritanya aku tidak akan mungkin bisa menolaknya. Ya! Tuhan. Apa yang hrus kulakukan cepat berikan jawabanmu. Mungkinkah pria ini memang takdirku?

“Jika kata ‘iya’ yang meluncur dari bibirmu, maka kaulah kado paling spesial yang kudapatkan selama hidupku.”

Tubuhku semakin menegang mendengar penuturannya. Astaga! sejauh itukah pria ini mengiginkanku?, membalikkan tubuhku padanya, dan seketika itu juga hatiku mencelos seutuhnya saat mendapati sorot matanya yang menggambarkan ketulusan penuh. Aku tidak berhasil menemukan satupun kebohongan di dalamnya.

“Iya.” Tiga huruf itu meluncur dengan sendirinya dari sela bibirku, seolah mengerti apa yang memang harus kukatakan padanya.

Ku rasakan tubuhku semakin menghangat saat kusadari kini aku sudah berada di dalam rengkuhannya.

“Terimakasih, Aku berjanji akan membuatmu selalu bahagia.” Gumamnya di samping telingaku.

Kedua tanganku mulai terangkat membalas pelukannya. Dan apa yang kulakukan selanjutnya hanya mengangguk di dalam dekapannya seraya mengeratkan pelukanku.

 

***

 

Wkwkwk aku tahu ini GJ bin ajaib banget, semoga gak ada yang pengen muntah ya, kalau ingin tau story2 awal mereka sama waktu nikah and honeymoon, kalian bisa mampir ke wep pribadi aq,,, thankyu buat yang udah baca n coment,,,, ^^

 

3 Comments (+add yours?)

  1. chocogrill
    Sep 28, 2015 @ 12:58:06

    Udah baca di blogmu:D tapi te2p masih kebawa meltingnya di pertemuan pertama kyu-reen jumpa 😀

    Reply

  2. wiwiex lee
    Sep 29, 2015 @ 18:16:42

    ada ga ya cinta ky gt di dunia nyata??

    Reply

  3. esakodok
    Sep 30, 2015 @ 14:31:11

    huee…deg degan banrt bacanya. terharu juga..tulusnya kyu ras apengen melindunginya juga dapet bangetidenya juga oke

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: