Wonderful It’s Meet You [2/?]

 

Judul               : Wonderful it’s meet you (2/?)

Author                        : i’m2IP

Main cast        : Choi Siwon dan Hye Woo (OC)

Other cast       : Member suju

Genre              : Drama, Romance

Rating              : Semua Umur

 

Catatan Author :

Haiii semuanya.. sebenarnya aku gak mau ngelanjutin ff ini tapi karena ada author lain yang bilang ff nya dilanjutin makanya coba ku lanjutin. Entah ini bagus atau membosankan. Semoga kalian suka ff ini hohoho dan disini ada part untuk siwonnya. Silahkan membaca~~ komennya diperlukan untuk menunjang kehidupan ku berikutnya (?) wkwkwk Xp #plaaksss_ditimpuk_elf

 

Hye woo ingin menulis lagi semua imajinasi yang ia pikirkan hingga tersusun rapih dikertas berwarna putih tersebut. ia membayangkan tentang bagaimana kelanjutan dari cerita yang akan di ajukannya sebagai novel dalam perlombaan minggu depan. Entah akan berakhir menarik atau justru membosankan. Bagi hye woo itu tidak masalah bahkan jika novelnya tidak menang sama sekali asalkan semua perasaan yang ia rasakan sudah tersalurkan.

Hye woo belum juga pulang dari aktivitasnya disekolah. Sedikit terlambat memang sekarang jam sudah menunjukkan pukul 17.00 KST ia baru bisa keluar dari perpustakaan setelah membereskan semua buku yang harus tersusun rapih di rak seperti semula. Pekerjaan membantu petugas perpustakaan sudah satu tahun ini ia lakukan karena Hye woo selalu kasian melihat seongsangnim yang sudah paruh baya masih harus merapikah buku yang diletakkan sembarangan oleh pembaca.

Lagi pula ini menguntungkan bagi Hye woo. Ia bisa dengan mudah meminjam buku dalam jumlah banyak dan tak perlu mengikuti aturan peminjaman yang harus mengembalikan buku tidak lebih dari tiga hari. Dalam waktu tiga hari tidak mungkin menamatkan satu novel yang memiliki hampir ribuan halaman.

Meski Hye woo suka sekali membaca tapi bukan berarti ia berpenampilan seperti yang biasa kalian pikirkan. Hye woo tidak menggunakan kacamata tebal dan rambutnya juga tidak dikuncir kuda. Ia sangat memperhatikan penampilannya. Hye woo terbilang cantik dan berwibawa dengan rambut berwarna kecoklatan dan panjang rambut sepinggang serta sedikit bergelombang. Hye woo juga memiliki postur badan ideal dan jangan lupakan lesung pipit, gigi kelinci dan matanya bulat.

Ia termasuk primadona disekolahnya bahkan banyak agensi dari label ternama yang ingin merekrutnya hanya saja sifatnya yang tertutup dan hanya perduli dengan dirinya membuat Hye woo terbilang keras kepala dan sesuka hatinya. Ia tidak begitu tertarik dengan hubungan social oleh sebab itu tak banyak teman yang ia miliki. Hye woo bisa menganggap semua orang dikelasnya adalah teman tapi ia menarik garis yang jelas diantara mereka.

Hanya kepada novel dan kumpulan buku yang menemani kesehariannya. Terdengar membosankan memang tapi bagi Hye woo itu satu-satunya teman terbaik yang pernah ia miliki. Hampir semua orang yang bertemu dengannya mengatakan ia sangatlah sombong tapi Hye woo tak ingin ambil pusing. “ini hidupku dan bukan hidup anda” itu yang selalu ia lontarkan dalam hatinya.

“hah… ternyata cukup melelahkan juga. Kenapa buku disini banyak sekali yang berantakan? Padahal aku harus pulang cepat seminggu ini”. Gerutu Hye woo dalam hati. Ia meletakkan tubunya diatas bangku berwarna coklat sambil menenggelamkan wajahnya diatas meja. Ia sudah merapihkan semua buku dan sudah dapat kembali ke rumahnya.

 

“10 menit… aku ingin duduk sebentar saja disini dalam 10 menit”. Ia mulai merilekskan tubuhnya. Memukul-mukul pundaknya yang terasa pegal dan kaku. Tanpa sadar ruangan ber-AC membuatnya semakin mengantuk dan ia pun sukses mendarat dialam mimpinya.

 

  • Hye Woo Dreams –

 

“tunggu kau siapa?”. Aku mengejar namja tinggi yang berlari ditengah padang rerumputan yang luas. Daerah ini sangat aneh untuk ku sepertinya baru kali ini aku melihat tempat ini. Begitu asing rasanya. Hanya sehamparan rumput dan ilalang yang terbentang sangat luas. Aku berusaha mengejarnya hanya untuk sekedar bertanya dimana aku sebenarnya.

 

Semilir angin menerpa rambutku yang panjang meniupkannya hingga terurai ke sembarang arah. Aku berhenti sejenak saat langkah namja itu tiba-tiba terhenti. Aku memperhatikan namja itu dari belakang seperti bernostalgia rasanya. Aku pernah melihat punggung itu dari kejauhan tapi entah dimana. Aku mencoba melangkah perlahan berharap tak terlalu mengusiknya.

Jarak kami semakin dekat. Aku ingin menyentuh pundaknya agar ia menoleh kearahku. Tapi belum saja jemari ku menyentuhnya ia sudah menoleh kearahku dan kalian dapat menebak siapa seseorang yang berada didepan ku. Iya benar aku bahkan tak percaya apa yang ku lihat kali ini. Mimpi kah?.

Tubuhku mundur perlahan. Refleks begitu saja saat jemari tangannya ingin menyentuh lembut pipiku. Aneh kenapa tubuhku bergerak tanpa diperintah olehku?. Dan sebenarnya apa yang sedang terjadi. Terakhir seingat ku aku sedang berada didalam perpustakaan dan bukan dipadang rerumputan ini dengan seseorang yang tak lagi asing oleh ku tapi hal yang sangat tidak mungkin jika aku berada didekatnya.

 

“ kau tidak bermimpi. Berhentilah memukul kepalamu. Aku sangat mengkhawatirkanmu”. Aku masih memproses semua perkataannya bukan hanya wajahnya bahkan suaranya sangat aku kenal. Ia menarik tangan kananku sambil tersenyum berwibawa. Aku bingung harus bagaimana oleh sebab itu aku hanya tersenyum kikuk padanya.

 

Aku berjalan di jalan setapak dengan rerumputan dan ilalang tinggi di sekeliling ku. Ia masih mengenggam tanganku dan berjalan di depanku. Aku ingin terjatuh rasanya saat langkahnya semakin cepat dan aku tidak bisa mengimbanginya.

 

“bisakah kau berjalan pelan?”. Ucapku masih dengan nada yang kikuk. Lalu ia menoleh kearahku. Kami berhadapan sangat dekat kali ini. Aku bisa memandang matanya yang kecoklatan. Mata kami saling bertemu dan mendeskripsikan setiap lekukan wajah yang kami lihat. Aneh apa yang salah dengan jantungku? Rasanya ada drum yang dimainkan keras hingga telingaku dapat dengan jelas mendengarnya.

 

Aku masih ingin memandangi wajahnya yang terpaut sempurna dan juga senyumnya yang begitu menawan tapi aku segerah mengalihkan pandanganku saat kurasa detak jantungku tak dapat ku kendalikan. Aku takut ia mendengar dentuman suara yang memalukan ini. Aku menundukkan wajahku tak berani memandang kedua matanya.

Ia mulai membalikkan wajahnya dan menggengam tanganku kembali. Hangat itu yang kurasakan saat kulitnya menyentuh lembut tanganku. Aku tersenyum ada perasaan senang yang cukup aneh. Aku masih mengikuti langkahnya hanya saja kali ini ia mulai menyetarakan dengan langkahku.

Setelah jalur setapak kami lalui. Aku melihat ada dua anak kecil sedang asik bermain di rerumputan. Salah satunya adalah diriku. Aku cukup terkejut dan mengedip-ngedipkan mataku sebanyak mungkin takut jika aku salah melihat tapi sungguh mata ku belum mengalami kerusakkan dan aku tidak mungkin salah mengenali wajahku sendiri.

Itu diriku saat umurku sekitar empat tahun. Aku tak dapat mengingat masa kecilku karena ada sesuatu hal yang terjadi dan sampai saat ini aku tidak mengetahui alasannya. Eomma dan appa tak pernah bercerita tentang masa kecilku. Disaat semua orang tua menceritakan kejadian lucu yang dialami anak-anak mereka tapi kedua orang tuaku berbeda mereka tak pernah bercerita tentang masa kecilku tidak dengan orang lain atau pun diriku sendiri. Apa yang salah dengan masa kecilku dan apa ini memori dari ingatan terpendam ku selama ini? Lalu siapa anak kecil yang berumur sekitar 12 tahun tersebut?.

Anak kecil itu menggunakan jas berwarna hitam dan dasi berwarna abu-abu. Pipinya yang gembul dengan senyuman yang tak asing lagi bagiku. Ia bermain kejar-kejaran dengan diriku yang satunya lagi dengan diriku yang masih kecil. Aku melihat kedua anak kecil itu sangat bahagia sekali. Anak laki-laki itu mengejarku yang sedang membawa dua boneka sepasang berbentuk manusia.

Anak laki-laki itu berhasil menangkapku dan ia dengan gemasnya mencubit pipi gembulku lalu mengenggam tanganku dan membawaku hingga berdiri di atas pasir berwrna cokelat. Lalu ia mengambil ranting yang entah sejak kapan sudah berada di gengaman tangannya dan mulai menuliskan sesuatu. Tulisannya tak bisa dibilang rapih dengan posisi disini yang terhalangi oleh tubuh anak laki-laki itu aku tak dapat membaca tulisannya.

Lalu aku mulai melangkah menghampiri mereka. Baru saja aku ingin mendekat ada tangan yang menggenggam tanganku dan membuat langkahku terhenti. Aku menoleh ke arahnya rupanya namja itu yang menahan langkahku. Lalu aku melihat kembali ke arah yang seharusnya ada kedua anak kecil tersebut tapi mereka sudah pergi entah kemana. Cepat sekali pikirku.

Meski kedua anak kecil itu telah menghilang tulisan mereka masih terukir disana. Aku mencoba membacanya dari kejauhan tapi belum sempat aku membacanya tulisan itu sudah terhapus oleh angin yang berhembus.

 

Putri Hye

&

Pangeran ___

 

Aku mengalihkan pandanganku ke arah namja yang kini berada disampingku. Untung aku sadar bahwa ini hanya mimpi atau sekedar imajinasiku jika tidak mungkin aku sudah berteriak histeris dan pinsan ditempat saat melihat wajahnya dan dirinya yang begitu elegant. Hah. Mungkin karena aku terlalu sering berkhayal tentangnya sampai-sampai didalam mimpiku ia hadir.

Ada yang sedikit aneh namja yang kini berada disampingku menggunakan jas dan dasi dengan warna senada seperti yang digunakan anak kecil tadi.

 

“apa yang baru kulihat adalah masa kecilmu?”. Tanya ku dengan nada yang sedikit bingung lalu dia hanya menanggapinya dengan senyum yang sudah sering kali ku lihat. Senyum yang selama ini membuatku terhipnotis.

 

“bangunlah. Semakin banyak memori yang kau gali akan semakin terluka dirimu”. Kali ini namja itu menunjukkan ekspresinya yang sangat datar seperti banyak hal yang membuatnya terluka lalu ia memalingkan pandangannya dari tatapanku yang sarat akan ke khawatiran dan detik berikutnya aku merasa mataku mulai tebuka ditempat dimana seharusnya aku berada.

 

  • Hye Woo Dreams Off –

 

“Mimpi yang aneh” gumam Hye woo dalam hati masih belum tersadar penuh hingga ia merasakan ruangan disekelilingnya terlalu gelap. Lalu dengan matanya yang masih setengah terbuka ia meraih handphone yang ada didalam tasnya. Menyalakan benda persegi itu dan terkaget saat melihat sudah pukul 7 malam.

 

Hye woo merutuki dirinya yang bodoh dan mudah sekali tertidur disaat ia mulai merasa lelah. Ia tidak tau harus berkata apa pada eommanya saat pulang selarut ini. Ia mencoba keluar dari perpustakaan yang gelap dengan disinari cahaya handphone. Tak jarang kakinya tersandung bangku dan meja hingga ia menemukan pintu keluar.

Hye woo berlari disepanjang koridor. Ia mulai takut kali ini karena ia berada sendirian disekolahnya yang luas ini. Bukan karena Hye woo percaya akan adanya hantu hanya saja ia takut dengan keadaan gelap. Ini sudah terjadi dari ia masih kecil. Untungnya Hye woo dengan cepat keluar dari sekolahnya dan mulai berjalan ke arah halte tempat ia menunggu bus.

Tak lama ia menunggu bus sudah datang lalu ia melangkahkan kaki menaiki bus tersebut dan duduk disamping jendela dibangku kedua. Hye woo menatapi gedung-gedung tinggi dan jalanan yang dipenuhi dengan lampu warna-warni dipinggir jalan. Indah sekali. Hingga butiran salju mulai turun perlahan dan membuat kota seoul terlihat sangat indah.

Hye woo membulatkan matanya. Terkagum dengan pemandangan yang ia lihat. Butiran-butiran salju itu turun satu persatu menutupi jalanan. Uap dingin mulai mengembun di sekeliling kaca bus yang ditumpangi Hye woo lalu ia tanpa sadar menulis pangeran?. Hye woo masih teingat akan mimpinya yang terbilang aneh.

Bus sudah berhenti dan Hye woo segera turun dari bus tersebut lalu berjalan sekitar 15 menit untuk sampai kerumahnya. Sebelum itu Hye woo sudah mengirim pesan ke eommanya yang jangan khawatir karena Hye woo pulang terlambat. Ia berjalan dengan butiran salju yang mengenai dirinya.

Tak disangka Hye woo hari ini akan turun salju meskipun ia sudah tau sebentar lagi akan mulai musim dingin. Untungnya ia membawa jaket dan syal tapi tetap saja pipinya dan telinganya memerah menahan dinginnya terpaan salju. Di jalan Hye woo masih memikirkan tentang mimpi anehnya tersebut tapi detik kemudian Hye woo mulai merasa itu hal yang wajar bisa jadi itu hanya imajinasinya karena ia suka sekali membuat cerita.

Hye woo mulai berpikir untuk menambahkan mimpi anehnya itu ke dalam novel yang sedang ia buat. Ia berjalan sambil melompat-lompat kecil. Entah mengapa hari ini ia merasa senang. Mungkin karena mendapatkan imajinasi yang sebelumnya tak pernah dibayangkannya. Ia juga penasaran dengan namja yang hadir didalam mimpinya. Apa judul yang tepat untuk mimpinya itu. Oh iya benar. Pertemuan yang tak terduga itu judul yang tepat.

 

Tapi ada satu lagi yang mengganjal pikirannya tentang namja yang berada dalam pikirannya. Apa itu benar Choi Siwon?

 

 

  • Siwon POV –

 

Aku berhenti mengendarai mobil ku lalu bergegas turun dan memasuki dorm. Belum aku

membukakan pintu eunhyuk sudah membukannya terlebih dahulu.

 

“hyung, kau baru pulang sepertinya lelah sekali”. Tanya eunhyuk yang melihat wajah kusam ku sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke benda persegi berwarna putih yang ia genggam. Aku hanya tersenyum lesuh dan bergegas meninggalkan eunhyuk yang masih betah berada di luar rumah yang penuh dengan salju yang berjatuhan. Padahal diluar dingin sekali dan eunhyuk hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Aku yakin setelah ini donghae akan sangat direpotkan dengan sikap manjanya yang masuk angina atau demam.

 

Tak repot-repot aku menyuruh eunhyuk masuk ke ruangan. Aku justru berlalu dan mengarah ke dapur untuk mengambil sebotol air mineral. Setelah membuka kulkas dengan cepat ku raih air mineral itu dan kuteguk hingga tak tersisa setetespun. Rasa lelah membuatku mendengus kasar.

Lalu ku lihat kyuhyun berjalan mengarah ke arahku dengan mata masih terfokus ke PSP yang sedang dimainkannya. Ku kira ia akan menanyakan keadaan ku tidak taunya ia hanya mengambil air mineral dan meneguknya dengan cepat hingga habis setengah lalu bergegas meninggalkan ku.

 

“hei. Magnae! Kau lihat leetuk-hyung”. Tapi seperti biasanya ia tak melihat ke arahku dan juga tak menjawab pertanyaanku lalu pergi begitu saja. Yasudahlah aku bisa mencari leetuk-hyung sendiri. Siapa yang butuh bantuan magnae evil sepertimu.

 

Aku memijat-mijat leher ku yang terasa sangat pegal lalu berjalan mencari leetuk-hyung. Aku mencoba ke kamarnya tapi hanya kangin-hyung yang ku temui sedang tertidur pulas di kasurnya. Lalu aku mulai mencari hingga ku temukan leetuk-hyung tertidur pulas di sofa dengan posisi yang masih duduk.

Aku menghampirinya lalu menepuk pundaknya pelan mencoba membangunkannya tapi setelah ku pikir-pikir ini kurang sopan membangunkan seseorang yang sedang tertidur. Lalu aku mulai membenarkan posisi tidurnya agar leetuk-hyung tidur dalam posisi berbaring.

Badannya pasti akan terasa pegal dan sakit sekali jika tidur dalam posisi duduk lagipula ia tidak menggunakan selimut padahal suhu ruangan disini cukup dingin meskipun sudah dipasang penghangat ruangan. Baru saja aku ingin membenarkan posisi tidurnya. Leetuk-hyung sudah terbangun.

 

“jam berapa sekarang siwon-ahh?”. Ucap leetuk-hyun masih mengumpulkan kesadarannya sambil mengusap matanya yang terasa berat.

“jam 3 pagi. Maaf membangunkanmu hyung”.

 

“tidak apa. Lagipula aku tertidur disini untuk menunggumu. Takut jika kau pulang dan dorm sudah terkunci. Aku takut kau akan tidur di mobil mengingat apartemen mu sedang diperbaiki”. Aku merasa terharu leetuk-hyung masih memikirkan ku dan aku malah mengganggu waktu istirahatnya. Kau benar-benar keterlaluan choi siwon dan wajar saja julukan leetuk-hyung adalah malaikat gumam ku dalam hati.

 

“sudah kau harus beristirahat. Pagi ini kita ada latihan”. Leetuk-hyung ingin menuju ke kamarnya hingga ku tahan gerakannya dan bertanya sesuatu.

 

“hyung bisakah aku mengambil libur sebelum tour Asian kita?”. Tanyaku dengan hati-hati karena meski leetuk-hyung sangat baik tapi ia ketat dalam masalah jadwal. Lalu leetuk-hyung kembali duduk disampingku dan bertanya kenapa? Apa yang terjadi?.

 

“hyung kau ingat cerita ku saat tanpa sengaja aku bertemu yeoja saat aku sedang mencoba menhilangkan rasa penatku dengan bermain ayunan di taman?”. Ucapku untuk memulai cerita yang belakangan ini mulai mengganggu pikiranku

 

“iya aku ingat. Lalu apa hubungannya?”. Jawab leetuk-hyung yang masih bingung.

 

“entah mengapa aku seperti pernah bertemu dengannya tidak… bukan bertemu sekilas tapi sepertinya aku pernah menghabiskan banyak waktu dengannya meski aku tak ingat jelasnya tapi sepertinya aku merasa terikat olehnya”. Jawabku seandanya.

 

“itu aneh choi siwon. Kau merasa terikat padanya tapi kau tak mengenalnya. Apa kau dan dia pernah hidup bersama dikehidupan sebelumnya? Makanya kau merasa seperti mengenalnya”.

 

“entahlah hyung aku juga bingung dan belakangan ini aku seperti bermimpi dua anak kecil aneh salah satunya adalah aku dan satunya lagi anak kecil perempuan yang aku rasa aku pernah mengenalnya dulu”. Ucapku sambil mengacak rambutku frustasi

“lalu apa hubungannya yeoja itu dengan anak kecil itu?”. Tanya leetuk yang semakin bingung ke arah mana sebenarnya pembicaraan ini.

 

“entahlah hyung. Aku belum tau makanya aku merasa harus mencari tau sesuatu hal”. Ucapku dengan melipatkan kedua jari ku dan memasang wajah terpolosku sambil mengedipkan mata ku yang bulat meminta ijin darinya.

 

“kau tau jadwal kita padat sekali dan kita juga harus berlatih koreo sesering mungkin. Lagipula bagaimana caranya kau menemukan dia?”.

 

“aku tanpa sengaja saat pulang tadi melihatnya didalam bis dan tanpa sadar aku justru mengikutinya makanya tadi aku sedikit terlambat saat pemotretan”.

 

“kau tau rumahnya?”

 

“iya dan ia tidak sadar aku ikuti. Rumahnya tidak jauh dari taman yang waktu itu ku ceritakan”.

 

“baiklah tapi kau harus kembali sesegera mungkin. Istirahatlah kita harus berlatih besok”.

 

“terima kasih hyung”. Ucapku dengan senyum lebar dan mata berbinar. Rasanya ingin sekali aku memeluk leetuk-hyung. Hihihi tapi aku membatalkan niat ku karena leetuk-hyung sedang serius saat ini sebagai leeder sikap tegas leetuk-hyung taka da tandingannya.

 

Lalu aku mengekor dibelakang leetuk-hyung lalu menunggunya hingga masuk ke kamar setelah itu aku memasuki kamarku dan berbaring di atas kasur dengan santainya. Huuh hari yang cukup melelahkan dan apa yang akan terjadi saat aku bertemu dengannya ya? Apakah akan ada pertemuan yang lebih membingungkan lagi. Entahlah aku hanya bisa tersenyum membayangkannya dan ku rasa diriku sudah akan terlelap dan mulai memasuki alam mimpiku lagi.

 

To Be Continued…

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: