The Time I Love You

7

Author           :           Betty Dwinastiti

Judul Cerita :           The Time I Love You
Tag                 :           Cho Kyu Hyun, Shin Rhae Hoon, Lee Dong Hae
Genre             :           Romance, Married life, sad, comfort
Rating            :                       PG 15
Length           :                      One-Shot

 

Happy reading guys, silakan berkunjung ke https://shinrhaehoonstalkerchokyuhyun.wordpress.com untuk membaca ff-ku lainnya, makasih juga buat superjuniorff210 yg mau memposting ceritaku.

 

“Aku tertahan di hatimu. Tidak tahu jalan untuk kembali. Tak pernah berpikir untuk pergi.”

***

DONG HAE sama sekali tidak menyentuh minumannya. Pria itu bergerak gelisah di kursinya seolah ada duri di sana. Dia lalu mengeratkan syal di leher, udara musim dingin tahun ini benar-benar berpotensi membunuhnya. Di luar sana sedang hujan salju dan Dong Hae mulai mengkhawatirkan bagaimana cara bisa pulang tanpa harus mati kedinginan.

“Apa yang ingin kausampaikan?”

Suara lembut itu mengalun begitu saja. Pemiliknya adalah gadis berkulit putih susu dan bermata cokelat yang sedang duduk di hadapan Dong Hae. Dia tiba-tiba berpikiran buruk.

“Ada sesuatu. Hmm – “ Dong Hae mengulum bibir, mengepalkan tangan. Demi Tuhan! Ini sulit sekali, seperti ada jarum yang menyumbat tenggorokannya. “Mari kita berpisah. Aku sudah tidak bisa mempertahanmu, itu terlalu sulit.”

Suara musik instrumental di kafe itu terasa redam, telinga gadis itu serasa menerima suara badai. Apa yang baru saja dia dengar? Apa Dong Hae sedang mencoba membunuhnya?

“Rhae Hoon-ah, ibuku mencoba bunuh diri tadi pagi.”

Wanita yang dipanggil dengan nama Rhae Hoon itu tidak tahu apa yang sedang ia rasakan sekarang. Mendadak ia ingin jadi tuli saja.

“Ibuku mengancam akan mengakhiri hidupnya jika kita terus berhubungan.”

Rhae Hoon tertawa keras – dia sudah terlalu banyak menangis selama dua bulan terakhir. Dia juga menangis saat melihat ayahnya masih terkulai lemas di bangsal rumah sakit tadi pagi. “Jadi karena ayahku bangkrut maka ibumu meminta supaya kita putus. Yah, aku mengerti.”

Tidak ada kata yang Dong Hae ucapkan. Lelaki bermata teduh itu sangat mencintai Rhae Hoon, bahkan dua bulan lalu dia sudah menyiapkan sebuah cincin bermata berlian untuk melamarnya. Tapi apa daya, perusahaan milik Shin Hyung Joo – ayah Rhae Hoon – mengalami kebangkrutan. Semua aset milik keluarga Shin disita tanpa menyisakan apa-apa. Hal mengerikan itu membuat keluarga Dong Hae menyuruh putranya itu memutuskan hubungan dengan Rhae Hoon.

“Kau bisa pergi, Lee Dong Hae.”

“Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”

“Tidak, ibumu bisa minum racun jika melihatmu bersamaku. Aku tidak ingin hal buruk menimpamu.” Rhae Hoon menahan air matanya dengan baik, dia ingin memeluk Dong Hae untuk terakhir kalinya. Tapi dia tahu, dia takkan melepas lelaki itu jika melakukannya.

***

Rhae Hoon sudah menabrak banyak orang yang berlari di koridor rumah sakit. Rok selututnya mengayun seirama dengan kedua kakinya yang terbingkai sepatu hak tinggi berwarna putih. Berkali-kali pula dia mengucapkan kata maaf pada orang-orang yang menghalangi jalannya. Ayahnya sedang sekarat, dia benar-benar merasa mau mati detik ini juga. Harusnya dia tidak meninggalkan Hyung Joo terlalu lama.

 

Appa!” gadis itu membuka ruang rawat ayahnya. Dia kembali bernapas saat tahu ayahnya sudah baik-baik saja. Seorang dokter berjalan menuju dirinya yang masih berdiri dengan keringat dingin di dekat pintu.

“Ayahmu sudah baik-baik saja, tadi dia sedikit mengalami syok.”

Pria berjubah putih itu berlalu dan Rhae Hoon menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Dia benar-benar kehabisan energi. Rasanya seluruh persendiannya lemas.

“Nona, kau tidak apa-apa?”

Sebuah tangan terulur padanya. Dan saat Rhae Hoon mendongak dia melihat seorang pria tengah menatap cemas padanya.

***

“Ada yang ingin Appa bicarakan.”

Rhae Hoon berhenti mengupas buah apel merah. Dia meletakkan pisau dan melihat ayahnya. Di samping sang ayah ada seorang pria yang duduk dengan tenang. Rhae Hoon menatap pria itu sekilas lalu kembali terfokus pada sang ayah.

Appa ingin melihatmu segera menikah.”

Dia baru saja kehilangan pria yang dia cintai dan sekarang ayahnya mengatakan hal yang di luar nalar. Adakah yang lebih buruk dari ini? Gadis berambut panjang itu memijit keningnya.

“Aku akan menikahimu.”

Rhae Hoon mengangkat wajahnya. Pernyataan gila itu baru saja keluar dari mulut pria yang baru dilihatnya selama sepuluh menit ke belakang. Apa dunia sudah mau runtuh? Gadis itu membuka mulutnya, tapi tak ada kata-kata yang berhasil ia ucapkan.

“Namanya Cho Kyu Hyun. Mungkin kau tidak tahu sudah tiga minggu ini dia sering mengunjungi Appa saat kau sedang sibuk mencari pinjaman uang ke teman-temanmu.” Hyung Joo menghela napas berat. “Dia adalah salah satu dari anak yang Appa beri biaya pendidikan dan karena prestasinya dia juga mendapat beasiswa S2. Dia sudah lulus dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan besar.”

“Jadi kenapa aku harus menikah dengan orang ini?” Rhae Hoon meninggikan suaranya dan menatap ayahnya geram.

“Karena Appa merasa umur Appa sudah tidak akan lama lagi, karena Appa merasa dia bisa membuatmu bahagia. Dan Appa rasa dia – “

“Cukup!” Rhae Hoon menggigil. “Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak kukenal!”

Kyu Hyun hanya diam – dia sama sekali tidak berekspresi saat Rhae Hoon melihatnya dengan tatapan mirip pembunuh.

“Ini adalah permintaan terakhir dari Appa. Apa kau tetap tak bisa melakukannya?” Hyung Joo menitikkan air mata. “Appa yang memintanya untuk menikah denganmu.”

Appa!”

Appa ingin kalian segera menikah, sebelum Appa mengembuskan napas terakhir.”

***

“Kau cantik sekali bahkan di saat paling menyedihkan dalam hidupmu.”

Rhae Hoon sedang berbicara dengan wanita yang ada di dalam cermin. Wanita itu memakai gaun putih menjuntai dengan sebuah kerudung transparan yang ditata rapi dia atas kepalanya. “Siapa yang akan kaunikahi? Wanita bodoh?” ucapnya lagi sambil melihat bayangan dirinya tersenyum miring. “Apa kau bahagia? Apa kau bahagia karena akhirnya menuruti permintaan ayahmu? Kehidupan macam apa yang akan kaujalani setelah ini?”

Seorang tukang make up yang sedang membereskan peralatannya menganga tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Dia benar-benar ngeri melihat tatapan calon pengantin itu. Dia segera bergidik dan berlalu. Sepanjang jalan dia berpikir, pantas saja gadis itu terlihat seperti habis menangis saat didandani.

“Sudah saatnya.”

Rhae Hoon berbalik, dia menatap Jung Yeong Dal yang berjalan menuju dirinya. Lelaki paruh baya itu adalah supir ayahnya sebelum mereka bangkrut. “Aku akan mewakili Ayah Nona mengantarka Nona ke altar, semoga Nona tidak keberatan.”

Gadis itu tersenyum dengan tenggorokan tercekat. Tak ada yang bisa ia lakukan selain meraih tangan Yeong Dal sebelum dirinya diserahkan pada Cho Kyu Hyun.

***

Lelaki itu mengenakan tuxedo hitam. Wajahnya terlihat jauh lebih berseri daripada biasanya. Dia sedang menunggu pengantin wanitanya. Sesekali dia melirik Hyung Joo yang duduk di bangku deretan paling depan, di sisinya Hyung Joo ada dokter Han yang setia menemaninya.

Kyu Hyun merasa sangat cemas. Dia merasakan dingin pada ujung jemarinya.

Lalu gerbang itu terbuka bersamaan dengan lagu pernikahan yang mengalun syahdu. Lelaki itu sama sekali tak berkedip saat pengantinnya berjalan anggun meski dengan kepala tertunduk. Kyu Hyun berjanji akan membuat gadis itu menjadi wanita paling bahagia yang pernah hidup di dunia.

Yeong Dal berhenti sesaat sebelum sampai di altar. Lelaki itu tahu Rhae Hoon menggenggam tangannya erat – begitu kencang – sampai dia berpikir gadis itu ketakutan. Yah, mana ada gadis yang tidak takut jika harus menikah dengan pria yang tak dikenalnya sama sekali?

“Nona, aku harus menyerahkan tanganmu pada Kyu Hyun.”

Kyu Hyun menulikan pendengarannya. Dia merasa sakit saat tahu gadis itu menolaknya. Lalu tangan Kyu Hyun terulur di udara, dalam sepersekian detik dia merasa hampa udara – menunggu apa yang akan Rhae Hoon putuskan. Dan pada detik ke sembilan belas, akhirnya gadis itu melepaskan tangan Yeong Dal dan menyambut uluran tangan calon suaminya.

Kyu Hyun tersenyum lalu mulai membawa gadis itu berjalan menuju altar bersamanya. Pastur di hadapannya tersenyum ramah seolah menguatkan dirinya yang sedang bergemuruh. Dadanya hampir pecah saking bahagianya. Tapi kemudian pemuda itu melirik pada calon pengantinnya, wanita itu sedang menggigit bibir – mati-matian – menghalau air mata di kedua samudera cantiknya.

Saat itulah Kyu Hyun sadar bahwa dia sedang mempertaruhkan kebahagiaannya.

***

Kyu Hyun terduduk setelah beberapa detik mengumpulkan nyawanya. Lelaki itu mendengar suara telur digoreng dan menghirup wangi sup kimchi yang sedap. Dia lalu tersenyum. Paginya selalu ramai oleh suara ribut yang tercipta dari dapur – dari istrinya yang selalu bangun satu jam lebih pagi dari dirinya.

“Kau sudah bangun?”

Kyu Hyun mengangguk lalu mengambil tempat di bangku meja makan. Untuk beberapa menit dia melihat punggung istrinya yang sedang menghadap kompor. Kyu Hyun menyukai punggung itu. Terlebih pemiliknya. Dia menopang wajah dengan tangan sambil bersyukur dengan hidupnya kini.

“Selamat makan!” oceh lelaki itu saat Rhae Hoon sudah duduk di depannya. Mereka lalu makan tanpa berkata-kata. Hampir seperti ini setiap hari selama sebulan terakhir.

Rhae Hoon akan menyapa suaminya dengan kalimat “kau sudah bangun?” dan Kyu Hyun berucap “selamat makan” ketika mereka mulai sarapan. Hanya sesederhana itu, tapi Kyu Hyun sudah sangat bahagia.

“Aku akan ke makam Appa nanti.”

Kyu Hyun meletakkan sendoknya, itu adalah kalimat pertama yang Rhae Hoon ucapkan sepanjang sejarah makan pagi mereka. Well, wanita itu hanya sedang memberitahu apa yang akan dia lakukan.

“Ingin kutemani?”

Rhae Hoon menggeleng. Kyu Hyun mengangguk lalu mulai menekuni sarapannya lagi. Shin Hyung Joo meninggal dunia seminggu setelah putrinya menikah. Pria itu benar-benar meninggalkan putrinya setelah memastikan gadis itu menikah dengan pria yang baik.

***

Mengingat Rhae Hoon yang sedang mengunjungi makam ayahnya membuat Kyu Hyun tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya di kantor. Pria itu memegang jabatan sebagai manajer senior di sebuah perusahaan penerbitan buku. Dia sama sekali tidak mendengar rekan editornya yang sedang meminta pendapat tentang mana naskah novel yang harus diterbitkan lebih dulu.

Dia hanya terkenang air mata istrinya saat ayah mertuanya meninggal. Gadis itu tidak makan dan tidak tidur selama berhari-hari. Gadis itu juga tak pernah mau menerima pelukan Kyu Hyun meski pria itu memaksa. Gadis itu benar-benar menyedihkan.

“Kyu Hyun-ssi, jadi novel mana yang harus terbit lebih dulu?” wanita berkaca mata tebal yang duduk di sampingnya itu terpaksa menarik kemeja Kyu Hyun karena diabakan.

“Kyu Hyun-ssi?”

“Ah , y – ya?” Kyu Hyun mengerjap beberapa kali. Dia benar-benar menyesal memperlakukan Editor Lee seperti ini. “Maafkan aku. Heum, terbitkan manapun yang kau anggap paling bagus.”

Editor Lee tertegun lalu mengangguk kecil. Sepertinya atasannya itu sedang dalam mood yang tidak baik dan dia tak ingin mengganggunya lagi.

***

Rhae Hoon pulang ke rumah Kyu Hyun. Dia tahu dia adalah gadis beruntung yang mendapat suami paling baik di dunia. Tapi hatinya tetap tak bisa menerima kebaikan itu. Gadis itu melepas sepatunya dan masuk. Rumah itu tidak terlalu besar, ruang tamunya hanya diisi dua sofa panjang dan satu meja kecil. Di pojok ruangan yang menjorok ke dapur ada sebuah televisi layar datar yang akan menjadi temannya menghabiskan waktu sampai ia tertidur di sofa. Ada dua kamar tidur di rumah itu dan semuanya hanya seukuran kamar mandi Rhae Hoon di rumah mewahnya dulu.

Ada pesan masuk. Rhae Hoon melihatnya ponselnya dan menemukan nama Kyu Hyun di sana.

                “Kau sudah makan?”

Rhae Hoon tidak berminat menjawabnya. Dia bahkan tidak pernah menjawab pesan pria itu tapi pria itu selalu merepotkan diri mencemaskan dirinya.

Ada pesan masuk lagi.

                “Aku sudah makan. Hari ini Editor Lee ulang tahun dan mentraktir kami makan enak. Aku sangat merindukanmu, aku jadi merasa bersalah karena bersenang-senang tanpa tahu apa kau sudah makan atau belum.”

Rhae Hoon meletakkan ponsel dan menghidupkan televisi. Dia membenci Kyu Hyun karena pria itu selalu memedulikannya.

Sebuah pesan masuk untuk ketiga kalinya, ke empat, ke lima, ke enam, ke tujuh. Pria itu benar-benar keras kepala.

***

“Kau sedang sms-an dengan istrimu?”

Kyu Hyun tersenyum. Dia sedang berada di meja panjang yang penuh dengan makanan. Ada sekitar delapan orang yang diundang makan Editor Lee untuk merayakan ulang tahunnya.

“Istrimu itu cantik sekali. Kenapa dia tidak pernah datang ke kantor?” tanya Yeon Ah – junior manajer – yang duduk di hadapan Kyu Hyun.

“Ah, dia itu pemalu.” Kyu Hyun lagi-lagi hanya mengulum senyum.

“Kau tidak mengundang kami saat menikah!” sindir Editor Lee.

“Kapan-kapan aku akan mengundang kalian makan di rumahku,” ucap Kyu Hyun tanpa berpikir. Teman-temannya bertepuk tangan dan terlihat berbinar, dan saat itulah Kyu Hyun berpikir alangkah indahnya jika itu dapat terjadi suatu saat nanti.

***

Salju menumpuk dimana-mana. Membuat pepohonan di depan rumah kecil di pinggiran kota itu terlihat memutih. Kyu Hyun berjalan sedikit tertatih saat membuka pintu rumah. Lelaki itu lalu melepas mantel tebalnya dan melepas sepatu.

“Aku pulang,” sapanya pada wanita yang tengah duduk bersandar menghadap televisi. Lalu Kyu Hyun tersenyum saat sadar istirnya sudah pulas. Lelaki itu berdiri mematung selama beberapa detik sebelum memutuskan menggendong Rhae Hoon dan meletakkan tubuh cantik itu di kamar.

Setelah menyelimuti tubuh istrinya, yang dilakukan Kyu Hyun adalah duduk di dekat pembaringan sambil menatap wajah polos yang tampak damai dalam mimpinya itu. Sejak hidup dengannya, lelaki itu tak pernah melihat Rhae Hoon tersenyum. Gadis itu seolah sudah mati, dia sama sekali tidak memperlakukan Kyu Hyun sebagaimana seorang istri melayani dan mencintai suaminya. Tapi dengan semua itu Kyu Hyun tidak pernah merasa sedih. Bisa melihat gadis itu dalam jarak pandangnya sudah lebih dari cukup, dapat memastikan gadis itu tidak kekurangan makan dan mendapatkan tempat tinggal yang layak adalah kebahagiaan terbesar bagi lelaki itu. Dia tidak bisa menemukan cara selain menikahi Rhae Hoon. Sebenarnya, Kyu Hyun sendiri lah yang meminta ayah gadis itu menikahkan dirinya dengan Rhae Hoon, supaya dia bisa melindungi gadis itu.

“Apa yang sedang kau impikan?” Kyu Hyun membelai kening gadis itu dengan sayang. Ada kerinduan yang menghangat di dadanya. “Sedetik saja dalam hidupmu, pernahkah kau mengingatku?”

***

“A – apa ? Kantor polisi?”

Kyu Hyun menjatuhkan naskah novel yang baru saja sekretarisnya berikan. Pria itu mendengarkan dengan baik apa yang sedang lawan bicaranya katakan dan tak perlu menunggu lama dia sudah meninggalkan kantor demi memacu mobilnya menuju kantor polisi kawasan Sungai Han. Polisi baru saja menelepon dan memberitahu kalau istrinya membuat masalah di sebuah butik elit di pusat perbelanjaan. Apa gadis itu sudah sinting? Apa yang sebenarnya terjadi?

Lelaki itu tidak memedulikan hawa dingin yang membuat buku jarinya memutih. Dia hanya memikirkan Rhae Hoon, wanita itu pasti sedang ketakutan sekarang.

Setelah mengemudi selama setengah jam lebih, pria bermantel biru tua itu tiba dan segera mencari keberadaan sang istri. Dia membelah kantor yang ramai oleh hiruk pikuk tersebut sampai tatapannya tertuju pada seorang gadis yang terduduk dengan wajah merah padam. Kyu Hyun menjerit dalam hati saat melihat luka di sudut bibir istrinya. Rambut Rhae Hoon juga kusut, bajunya robek di daerah lengan dan seketika lelaki itu melepas mantel dan mengenakannya di bahu istrinya.

Rhae Hoon menoleh dengan mata yang berkaca-kaca, gadis itu lalu kembali menunduk dan meremas kedua tangannya.

“Apa yang terjadi?”

Rhae Hoon tidak menjawab.

“Dia tiba-tiba menyerang pemilik butik dan menimbulkan kekacauan di sana.”

Kyu Hyun mendongak dan seorang perwira polisi duduk di hadapannya.

“Kau suaminya?”

Kyu Hyun mengangguk. “Apa Anda yakin? Istriku bukan orang seperti itu.” Kyu Hyun menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ada kekecewaan di balik sinar matanya. Hatinya sudah remuk redam sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi? Yang ia tahu Rhae Hoon adalah sosok tenang yang cenderung pendiam. Tapi apa yang terjadi hari ini benar-benar di luar penalarannya.

“Dia bilang aku sudah merebut kekasihnya!”

Kyu Hyun kembali dikejutkan saat seorang gadis cantik dengan mata besar datang –entah darimana.

“Aku harus menerima beberapa perban di tubuhku akibat tindakannya!” ucap wanita itu sambil menunjukan luka di sudut siku kanannya. Ada juga perban di kening, pipi, dan pahanya.

“Kau tidak melakukannya bukan?!” Kyu Hyun mengguncangkan bahu istrinya. Sungguh, dia benar-benar sakit kepala.

“Jika yang kaumaksud itu adalah Lee Dong Hae, dia memang akan ditunangkan denganku minggu depan. Keluarga kami yang memutuskannya. Aku sungguh tidak menyangka dia pernah memiliki sejarah dengan wanita mengerikan seperti dirimu!”

“Cukup Nona!” Kyu Hyun menegakkan tubuhnya, hatinya terasa seperti ditusuk sembilu saat seseorang menghina wanita yang selalu ia lindungi itu. “Kau tidak berhak mengatai istriku seperti itu!”

Wanita itu bergidik melihat neraka di kedua mata Kyu Hyun. “Jadi kau suaminya? Urus perempuan yang kau sebut istri itu dengan baik! Memang apa yang kau lakukan sampai dia masih mencintai lelaki lain? Suami macam apa kau ini?”

Kyu Hyun tidak bisa berkata-kata. Gadis itu benar, sebenarnya dirinya itu orang macam apa? Kyu Hyun melirik Rhae Hoon sebentar, gadis itu terlihat sangat terluka.

“Jebloskan dia ke dalam penjara!” sentak gadis itu pada polisi yang sejak tadi hanya menjadi penonton setia.

“Dan kau! Cepat ajari wanita sialan itu agar minta maaf padaku!” gadis itu menunjuk hidung Kyu Hyun.

“Dia bukan wanita sial! Jaga ucapanmu, Nona!”

Wanita itu hendak mengucapkan sumpah serapah lagi tatkala seorang pria tampan yang entah datang darimana mendekat dan menarik wanita itu sedikit menjauh. “Hyomi! Hentikan!”

Rhae Hoon menaikkan pandangannya. “Dong Hae-ya?”

Untuk beberapa detik, Kyu Hyun benar-benar merasa mau mati saat Rhae Hoon menatap pria yang baru saja tiba itu dengan tatapan memuja. Lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali saat dadanya terus terasa perih yang menghujam.

“Rhae Hoon-ah, apa yang kaulakukan pada Hyomi? Kenapa kau menyerangnya?” Dong Hae bersuara. Lelaki bermata teduh itu tak habis pikir bagaimana bisa ia mendapat kabar mengerikan seperti ini. Dia pikir Rhae Hoon sudah hidup lebih baik setelah menikah, tapi apa yang terjadi sekarang? Diam-diam jantungnya serasa diremas melihat gadis yang pernah ia cintai terluka karena terlalu mencintainya. Dia merutuki dirinya yang tak bisa mempertahankan gadis itu.

“Aku – aku – “ Rhae Hoon menggigit bibir. Dia tidak tahu apa yang harus ia katakan.

***

“Mungkin akan terasa perih.”

Kyu Hyun menempelkan kapas yang sudah ia beri alkohol pada sudut bibir Rhae Hoon yang sedikit koyak. Lelaki itu duduk di lantai sementara tangannya membersihkan bekas luka di wajah istrinya dengan telaten. Rhae Hoon sendiri duduk di sofa tanpa berekspresi. Gadis itu hanya berpikir, apa yang sudah dilakukannya di kehidupan lalu sehingga nasibnya sejelek ini.

Dong Hae berhasil membujuk Hyomi – calon tunangannya – supaya berdamai saja. Setelah mengurus beberapa dokumen perdamaian akhirnya Kyu Hyun bisa membawa Rhae Hoon dengan selamat dari perbuatan brutalnya. Dia ingat, Dong Hae sempat berpesan supaya dia menjaga Rhae Hoon baik-baik. Lelaki itu berkata Rhae Hoon adalah gadis yang sangat kuat, jika hari ini dia bertingkah di luar logika berarti gadis itu sudah sangat tertekan.

“Kau mau mandi dulu? Atau mau kubuatkan makan malam?” tawar Kyu Hyun lembut. Lelaki itu tahu Rhae Hoon tidak akan menjawab apa-apa. Tapi setidaknya dia harus mencoba bukan?

“Cho Kyu Hyun!”

Kedua mata Kyu Hyun melebar saat gadis itu menepuk tempat di sebelahnya. Pria itu menurut lalu berpindah tempat dengan sangat hati-hati.

“Kenapa kau tidak marah padaku?”

“Kenapa aku harus marah padamu?”

“Aku sudah melakukan hal bodoh. Aku sudah mempermalukanmu di depan semua orang.”

Pria bermata indah itu tersenyum. “Lalu kenapa? Apa itu bisa menjadi alasan supaya aku marah? Apa kalau aku marah kau bisa bahagia?”

Rhae Hoon melebarkan matanya. Apa pria ini adalah malaikat yang terlempar dari surga? Mana ada manusia yang begitu sempurna seperti dirinya?

“Apa yang kauinginkan dariku? Kenapa kau mau saja menikahiku?”

Kyu Hyun tertegun.

“Kenapa kau tidak marah? Harusnya kau menamparku setelah aku mempermalukanmu! Harusnya kau marah karena setiap hari aku keluar rumah tanpa tujuan yang jelas! Harusnya kau – “ gadis itu merasa sakit kepala dengan apa yang sudah ia lontarkan. “Harusnya kau tak pernah mencoba masuk ke dalam hidupku yang hancur, harusnya kau tak pernah mencoba menjadi penyelamat hidupku!”

Kyu Hyun bukan orang bodoh. Lelaki itu bahkan terlalu pintar untuk mengetahui semua itu. “Kau sudah selesai? Apa kau sudah merasa lega setelah memakiku?”

Bahu Rhae Hoon melorot. Bukan reaksi seperti ini yang ia harapkan. Dia ingin Kyu Hyun menamparnya, membentaknya, atau mengusirnya dari rumah ini. Dia tidak tahu Kyu Hyun itu terlalu baik atau terlalu bodoh.

“Sepertinya buburnya sudah matang. Aku akan mengambilkannya dan kau harus makan,” ujar Kyu Hyun lembut sebelum berjalan ke arah dapur.

Selang beberapa menit dia kembali dengan bubur tawar yang mengepulkan asap. Entah mengapa wangi bubur itu membuat Rhae Hoon merindukan ayahnya. Apa ayahnya pernah cerita pada Kyu Hyun bahwa dia selalu mau makan bubur setelah mengalami hal yang buruk?

“Aku tidak pernah memintamu melakukan apapun. Tapi hari ini aku ingin memintamu memakan bubur ini supaya kau merasa lebih baik.”

Entah keajaiban darimana yang membuat Rhae Hoon menurut. Dia menerima suapan pertama dari sendok yang Kyu Hyun angsurkan untuknya. Gadis itu perlahan-lahan menangis, tapi dia terus memakannnya sampai mangkuk itu kosong. Baru setelah gadis itu meminum air, Kyu Hyun menghapus air mata di wajah cantik itu.

“Kau bahkan masih terlihat cantik saat menangis. Bukankah aku begitu beruntung bisa menikahimu?” Kyu Hyun tersenyum lalu menurunkan ibu jarinya dari kedua pipi gadis itu. “Sekarang saatnya tidur. Mau kuantarkan ke kamarmu atau kugendong mungkin?”

***

Lelaki itu tertidur dengan sangat pulas di tempat tidurnya. Lelaki itu sama sekali tidak bergerak. Hanya sesekali napasnya tersengal kemudian kembali tenang. Apa dia bermimpi buruk? Rhae Hoon meremas jemarinya yang sedetik lalu terulur ke kening lelaki itu. Dia pasti sudah tidak waras karena berpikir ingin menyentuh kulit pria itu.

Lelaki itu – suaminya. Entah sejak jam berapa gadis itu masuk ke dalam kamar Kyu Hyun dan duduk diam memperhatikan wajah suaminya. Gadis itu baru sadar bahwa dia telah menikahi seorang lelaki tampan yang begitu baik. Apa dia jelmaan malaikat? Hati gadis itu berbisik. Rhae Hoon baru sekali ini menatap wajah suaminya dari jarak yang begitu dekat. Dia baru tahu bahwa wajah Kyu Hyun begitu menyenangkan untuk dilihat, begitu disayangkan jika dilewatkan begitu saja.

***

Kyu Hyun membuka kedua matanya saat dia merasa dadanya hangat. Dia merasa pasti sedang bermimpi saat tahu tubuh gadis itu ada di sebelahnya.

“Rhae – “

Napas Kyu Hyun tercekat. Gadis itu tidak tidur, gadis itu ada di kamarnya, gadis itu sedang menatapnya. Dia merasakan sensasi menyenangkan sekaligus mendebarkan.

“Apa yang kaulakukan di sini?”

“Aku ingin kau meniduriku! Sekarang!”

Benar. ini pasti mimpi. Kyu Hyun terlonjak dan mendudukkan dirinya dengan wajah pias luar biasa. Dia pasti sudah gila, telinganya pasti sedang bermasalah. Gadis itu tidak mungkin…

“Aku ingin kau menyentuhku!”

Suara lembut terdengar berat dan menggoda. Kyu Hyun benar-benar mengutuk dirinya yang tergoda habis-habisan. Dia bahkan selalu menampar dirinya sendiri kala otaknya memaksa dirinya menginginkan tubuh gadis itu.

“Apa aku tidak semenarik itu untuk kau sentuh?”

Dan Kyu Hyun baru sadar kalau Rhae Hoon hanya mengenakan dalaman tipis di tubuhnya. Seketika dirinya menggigil. Lelaki itu tetaplah seorang manusia biasa. Terlalu lama dia mencintai gadis ini tanpa pernah berpikir gadis itu akan masuk ke dalam selimutnya dan mendesah meminta ditiduri.

Ya Tuhan, kendalikan dirimu, Cho Kyu Hyun!

Tidak! Kyu Hyun tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Salahkan saja Rhae Hoon yang sudah merubuhkan dinding kokoh itu.

Lelaki itu bergetar saat menurunkan wajahnya, dia bisa mencium wangi lili yang harum dari tubuh gadis itu. Dia benar-benar memabukkan!

Kyu Hyun menyentuh bibir itu selama beberapa detik. Dan dia berani bersumpah itu adalah momen paling indah yang tidak ada apaapanya jika dibandingkan saat dirinya merasa keren ketika mampu menjadi yang terbaik dalam olimpiade matematika – atau ketika dia mendapatkan beasiswa penuh dari kampus untuk menyelesaikan kuliahnya. Sentuhan kecil dari tubuh gadis itu benar-benar menumpulkan otaknya.

“Tapi kenapa tiba-tiba kau ingin tidur denganku?”

Rhae Hoon merasa kehilangan saat wajah Kyu Hyun menjauh. Mereka hanya berjarak satu kepalan tangan. Gadis itu sendiri sama sekali tidak mengerti kenapa dirinya melakukan semua ini.

“Karena aku ingin membalas kebaikanmu terhadapku selama ini. Aku sama sekali tidak punya kekuatan untuk pergi darimu karena aku tidak punya keterampilan untuk bertahan hidup. Bukankah takdir sudah menjebakku untuk hidup selamanya denganmu? ”

Kyu Hyun berkedip beberapa kali. Pengangannya di bahu wanita itu mengendur dan bahkan terlepas begitu saja. Dia benar-benar merasa sedang dikubur hiduphidup sekarang.

Gadis itu hanya ingin membalas budi.

“Aku akan tidur di luar!” Kyu Hyun menyelimuti tubuh Rhae Hoon dan keluar dari kamar itu dengan kepala yang berdenyut luar biasa. Rasanya jauh lebih sakit dari begitu banyak kesakitan yang sudah pernah ia rasakan selama hidup.

***

Kyu Hyun mengabaikannya sejak hari itu. Lelaki itu tidak pernah mengajak bicara Rhae Hoon. Dia seolah lupa bahwa ada seorang wanita di rumahnya. Kyu Hyun akan berangkat pagi-pagi sekali sebelum gadis itu bangun dan pulang ke rumah saat gadis itu sudah tertidur. Lelaki itu akan tinggal di kamarnya selama akhir pekan dan hanya akan keluar saat kelaparan. Lelaki itu benar-benar kacau dan terlihat jauh lebih kurus dari biasanya. Senyum ceria di wajahnya menghilang tergantikan kilatan neraka di matanya.

Dia juga tak pernah mengirimi pesan singkat untuk Rhae Hoon. Lelaki itu berubah, seolah tak lagi memedulikan gadis itu. Padahal sebelumnya, dia begitu hangat dan penuh cinta.

Ini sudah hampir dua minggusejak Kyu Hyun memperlakukannya seperti kucing yang dibuang. Rhae Hoon benar-benar sudah tidak tahan. Dia sengaja masuk ke kamar Kyu Hyun sebelum pria itu pulang dari kantor.

Kyu Hyun terperanjat begitu masuk kamarnya. Wajahnya nampak lelah, namun seketika dia berbalik dan meraih kenop pintu.

“Apa aku begitu menjijikan untukmu?”

Dia melepas kenop pintu. Napasnya putus-putus. Kyu Hyun merasa otaknya sudah dibekukan.

“Kenapa kau mendiamkanku?”

Kyu Hyun berbalik. Dia tidak tahu caranya menghadapi gadis itu lagi. Rasanya seluruh perhatian yang ia berikan untuk gadis itu sama sekali tidak berarti.

“Kenapa kau berpikir membalas kebaikanku dengan memberikan tubuhmu?!”

Wanita itu menegang di tempatnya. Dia serasa tengah dilemparkan ke padang pasir.

“Kyu Hyun!”

“Aku tidak peduli kau tidak menganggap kehadiranku, aku juga sama sekali tak keberatan menghapus air matamu jika kau merindukan mantan kekasihmu yang sialan itu.” Mata Kyu Hyun berkilat merah. Jantungnya serasa diremas. “Aku tak peduli jika sampai mati kau hanya memandangku sebagai pengawal pribadimu, tapi kumohon…jangan perlakukan aku seperti orang yang hendak merampas kebahagiaan dalam hidupmu. Aku tidak akan bahagia hanya karena bisa mendapatkan tubuhmu. Tidak, aku tak sepicik itu!”

Rhae Hoon merasa otaknya sudah tumpul untuk bisa mengerti.

“Aku menginginkan hatimu. Tapi kini aku sadar kau takkan pernah memberikannya untukku. Benar, aku terlalu naïf saat berpikir yang penting bisa melihatmu makan dan tidur dengan baik selama hidup denganku. Aku salah. Aku salah karena pada akhirnya kita tetaplah dua orang asing yang tak mengerti satu sama lain.”

“Tidak bisakah kau mengajariku bagaimana caranya?”

Kyu Hyun mengerutkan dahi. Apa gadis itu sedang mempermainkannya?

“Aku hanya seorang gadis yang tiba-tiba kehilangan ayahku lalu harus menikah dengan pria yang tak kukenal sama sekali. Setidaknya katakan padaku apa yang kau inginkan.”

“Apa setelah itu kau akan menuruti apa yang kuinginkan?”

Rhae Hoon menunduk. “Aku tidak tahu,” ucapnya lesu. Dia tidak bisa memercayai siapa pun di dunia kecuali Kyu Hyun – suaminya. Dia juga tak bisa mengandalkan siapa pun selain dirinya sendiri. Gadis itu menggigit bibir dan perlahan mendengar langkah kaki seseorang mendekat.

“Apa kalau aku ingin memelukmu sekarang, kau akan mengizinkannya?”

Gadis itu meneguk ludah. Dia tidak bisa mengeluarkan suara, jadi dia hanya mengangguk dan beberapa detik setelahnya dia merasa seribu kali lebih hangat.

Kyu Hyun sedang memeluknya sekarang. Dan saat itulah Rhae Hoon tahu bahwa lelaki itu sangat mencintainya.

***

Mereka berdua jauh lebih normal sekarang. Sudah sejak dua bulan lalu hari-hari dingin itu tergantikan kehangatan yang Kyu Hyun ciptakan.

Setiap pagi Rhae Hoon menyiapkan sarapan lalu membangunkan Kyu Hyun lalu mereka akan sarapan sambil mengobrol. Kyu Hyun benar-benar terpesona melihat gadis itu semakin banyak tersenyum ketika bersamanya. Gadis itu juga mengunjunginya di kantor beberapa kali dengan membawakan makanan yang banyak. Lelaki itu merasa seribu kali lebih hidup. Dia tidak pernah meminta lebih tapi Tuhan memberikan bonus yang begitu tak terhingga.

Rasanya benar-benar luar biasa. Meski Rhae Hoon tidak mencintainya – Kyu Hyun bisa tahu hanya ketika melihat kedua mata gadis itu. Tapi gadis itu memperlakukannya dengan baik. Mereka saling menghormati dan hidup seperti kakak adik yang rukun dan Kyu Hyun menikmati peran barunya sekarang.

Seperti senja ini, ketika keduanya tertawa berdua sambil menonton acara komedi konyol yang sama sekali tidak lucu. Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Kyu Hyun yang kokoh. Entah sejak kapan dia kecanduan dengan kebiasaan baru yang menurutnya sangat menyenangkan itu.

Dia benar-benar merasa nyaman bersama Kyu Hyun sekarang. Gadis itu hanya berpikir lelaki itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan untuknya dan dia harus menjaga anugerah itu baik-baik.

“Kyu Hyun-ah! Berapa usiamu sekarang?”

“Istri macam apa kau ini? Bahkan kau tidak tahu usia suamimu sendiri!” Kyu Hyun pura-pura mendengus lalu menggenggam tangan Rhae Hoon. Dia bisa mendengar gadis itu terkikik geli.

“Aku 27 tahun.”

“Kau sudah tua!”

“Kita hanya terpaut empat tahun, jangan melebih-lebihkan!”

“Selama 27 tahun, hal apa yang paling kauinginkan?”

“Hal yang paling kuinginkan?” Kyu Hyun berpikir. Rhae Hoon menegakkan duduknya, entah sejak kapan dia suka melihat raut wajah lelaki itu saat sedang serius. Diam-diam dia suka memfoto lelaki itu saat sedang sibuk lembur di malam hari. Tentu saja sampai hari ini Kyu Hyun tidak tahu.

“Saat remaja, aku sangat menyukai seorang gadis. Kupikir, aku jatuh cinta padanya.”

“Wah, cinta pertamamu!”

Kyu Hyun tertawa. Dia menarik hidung gadis itu sampai pemiliknya mencubit perut lelaki itu.

“Aku sangat ingin menikah dengan gadis kecil itu,” ucap Kyu Hyun sungguh-sungguh.

Entah mengapa kedua pipi Rhae Hoon memanas. “Tapi kau malah menikah denganku.”

“Menikahimu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku.”

Hening sesaat. Kyu Hyun sibuk mengenang masa lalunya dan Rhae Hoon benci karena diabaikan. Lelaki itu sesekali tersenyum sambil menatap layar televisi.

“Lalu kau sendiri, apa hal yang paling kauinginkan dalam hidup ini?”

“Entahlah.” Rhae Hoon mengangkat bahu. “Dari dulu aku biasa hidup senang, jadi aku terbiasa mendapatkan apapun yang kumau.”

Kyu Hyun mengangguk mengerti. “Satu-satunya hal yang tidak bisa kauraih adalah mantan kekasihmu yang sialan itu,” ucapnya sambil mencomot kue beras di atas meja.

“Benar, aku tidak bisa memilikinya sebanyak apapun aku menginginkannya,” tanggap Rhae Hoon sambil merebut kue beras itu sebelum masuk ke mulut Kyu Hyun. Gadis itu memakannnya dengan lahap.

Kyu Hyun tertegun sambil menatap wajah cantik istrinya. Andai ia bisa membuat Lee Dong Hae kembali pada Rhae Hoon. Apa gadis itu akan meraih kebahagiaannya lagi?

***

“Aku terbiasa mendapatkan apapun yang kumau.”

Kyu Hyun melamun sepanjang rapat dewan direksi. Lelaki itu tidak mengikuti pertemuan dengan serius bahkan sampai acara tersebut selesai. Beberapa menit kemudian semua orang sudah meninggalkan tempat. Hanya tersisa dirinya dan Editor Lee yang penasaran dengan tingkah atasannya akhir-akhir ini.

“Kau sedang ribut dengan istrimu eh?”

“Eh?” Kyu Hyun menggeleng cepat. “Editor Lee, boleh aku tanya sesuatu?”

“Apa? Tingkahmu aneh sekali sejak seminggu terakhir.”

Kyu Hyun mengulum senyum, dia selalu murung sejak perbicangannya di senja itu bersama Rhae Hoon. Diam-diam dia merasa gagal – tidak mampu – membuat gadis itu bahagia.

“Istriku sangat menginginkan sesuatu. Menurutmu, kalau aku bisa mengambulkan keinginannya apa dia bisa bahagia?”

Editor Lee terkekeh. “Dasar anak muda! Begitu saja tidak tahu. Tentu setelah kau mengabulkan keinginannya dia akan sangat bahagia dan makin menyayangimu.”

“Jadi begitu?”

“Tentu saja. Memang apa yang dia inginkah? Rumah baru? Mobil baru? Atau apa?”

Kyu Hyun tidak bisa mengatakan kalau yang diinginkan istrinya adalah suami baru kan? Lelaki itu hendak mengucapkan sesuatu saat sekretarisnya masuk dan mengabarkan bahwa ada seorang tamu yang menunggunya.

“Tamu Anda menunggu di ruangan Anda sekarang,” tambah sekretarisnya lagi. Kyu Hyun mengangguk. Setelah mengucapkan terima kasih pada Editor Lee, Kyu Hyun bergegas menemui tamunya.

Setelah berjalan beberapa menit lelaki tampan itu membuka pintu ruangannya. Ada seorang pria yang kini berdiri menghadap kaca-kaca besar di belakang meja kerjanya.

Kyu Hyun menahan napas untuk beberapa saat, dan ketika pria berambut hitam kelam itu membalikkan tubuhnya dia merasa setengah hatinya sudah terkoyak.

“Kyu Hyun-ssi! Boleh kita bicara sebentar?” tamunya – Lee Dong Hae – memasang sebuah senyum penuh arti. Ada kekhawatiran yang bercampur kerinduan di balik sinar matanya. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, Kyu Hyun merasa dunianya akan segera berakhir. Firasat buruk menyergapnya, ketakutan segera membuat tubuhnya menggigil meski awal tahun sudah dimulai dan musim dingin hampir berlalu.

***

Rhae Hoon benar-benar senang tatkala Kyu Hyun mengiriminya pesan. Lelaki itu berkata akan mengajaknya makan malam di restroran Italia. Sudah lama sekali gadis itu tidak makan makanan yang enak. Dia sempat merasa kesal karena lelaki itu tidak menghubunginya sejak kemarin. Kyu Hyun juga tidak pulang ke rumah, dalam pesannya lelaki itu juga berkata sedang banyak pekerjaan di kantor. Padahal biasanya Kyu Hyun selalu pulang meski harus menghabiskan sepanjang malam di depan komputer. Lalu Rhae Hoon akan menemaninya sampai gadis itu tertidur dan menemukan dirinya sudah ada di ranjang kala terbangun di pagi hari.

Diam-diam ada rasa rindu yang menyelinap di lubuk hati gadis itu. Perasaan itu, dia tidak tahu namanya. Hanya saja tidak melihat Kyu Hyun selama hampir dua hari membuat dia tidak bisa berhenti memikirkan lelaki itu.

“Nona, kita sudah sampai.”

Rhae Hoon tersadar. Gadis itu lalu turun dari taksi dan melangkah masuk ke restoran Italia yang indah itu. Dulu dia sering ke tempat ini bersama Dong Hae dan teman-temannya.

“Dia bilang menunggu di meja nomor berapa ya?” Rhae Hoon melihat ponselnya lagi – membaca pesan Kyu Hyun yang sangat panjang mirip rel kereta api. Dia tak habis pikir, kenapa lelaki itu tidak meneleponnya saja?

“Meja nomor tujuh belas,” ucapnya lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan. Dia berjalan mantap sambil sesekali melirik kaca besar di sampingnya. Rhae Hoon sengaja berdandan demi bertemu suaminya malam ini. Entah mengapa dia ingin tampil cantik di mata Kyu Hyun. Apa itu efek kerinduan?

Meja itu memang tidak kosong. Ada seorang lelaki berkemeja hitam di sana. Tapi dia bukan Kyu Hyun. Gadis itu berhenti bernapas dalam beberapa detik. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tapi tetap saja tidak menemukan Kyu Hyun.

“Rhae Hoon-ah!”

Wanita itu melebarkan mata, dia tidak tahu sejak kapan lelaki itu berjalan menuju dirinya. “Dong – Dong Hae- ya?”

Lee Dong Hae tersenyum. Sangat menawan. Dan saat itu juga Kyu Hyun yang melihat dari luar gedung merasa kesakitan yang luar biasa.

***

“Mulai sekarang kita akan tinggal bersama di sini!” Dong Hae merentangkan kedua tangannya sementara Rhae Hoon tersenyum. Tak berapa lama lelaki itu berjalan ke arah gadis itu dan memeluknya erat. “Terima kasih karena sudah mau kembali,” ucapnya.

Wangi white musk dari tubuh Dong Hae sejenak menenangkan gadis itu. Dia gantian memeluk punggung lelaki itu. Mereka baru saja tiba di sebuah apartemen elit di kawasan Gangnam Gu. Dong Hae berkata bahwa dia menemui Kyu Hyun. Pria itu memohon pada suami Rhae Hoon agar menyerahkan gadis itu padanya. Selama sebulan belakangan rupanya Dong Hae berusaha keras menggagalkan pertunangannya dengan Hyomi. Demi Rhae Hoon dia meninggalkan rumah mewahnya, demi gadis itu Dong Hae bersedia menanggalkan semua kekayaan yang akan diwariskan padanya.

Rhae Hoon tidak tahu harus bersedih atau berbahagia atas semua yang terjadi. Dia terlalu terkejut dengan kejutan yang Tuhan berikan beberapa bulan ini. Yang dia tahu, sekarang dia sudah mendapatkan kembali Lee Dong Hae. Bisa bersama pria yang ia cintai lagi setelah terpisah secara paksa dan menjalani kehidupan asing bersama orang yang sama sekali tidak ia kenal.

Di akan memulai hidup baru di sini. Apartemen besar dengan semua fasilitas modern yang membuat dia bisa merasakan kembali pada kehidupan mewahnya yang dulu.

Dong Hae melepas pelukannya lalu tersenyum. “Kyu Hyun bilang akan segera mengurus perceraian kalian.”

Gadis itu tertegun. Kini dia yakin bahwa dirinya merindukan pria itu.

“Apa kau bahagia? Kyu Hyun bilang hal yang paling kauinginkan di dunia ini adalah diriku.”

Untuk sesaat Rhae Hoon ingin mengangguk, tapi dia tak jadi melakukannya tatkala dia sadar kalau senyum yang kini tercetak di wajah Dong Hae terbuat dari pengorbanan yang sudah Kyu Hyun lakukan untuk dirinya.

“Apa dia langsung melepaskanku begitu saja saat kau memohon padanya?”

Dong Hae mengerutkan kening, wajah tampannya terlihat menggemaskan. “Dia sangat terkejut. Tapi beberapa menit kemudian lelaki itu tersenyum dan mengiyakan keinginanku.”

Rhae Hoon tersenyum hambar. Dia tidak tahu kalau dirinya akan kecewa. Kyu Hyun tidak keberatan sama sekali, itu artinya lelaki itu sama sekali tidak menyimpan cinta untuk dirinya bukan?

“Shin Rhae Hoon, aku sangat merindukanmu,” ungkap Dong Hae lalu memeluk gadis itu lagi. Rhae Hoon sendiri justru ingin sekali menangis sekarang. Dia merindukan Kyu Hyun, tetapi lelaki itu sudah tidak peduli padanya. Tapi bukankah dia menginginkan Dong Hae?

***

“Aku mohon padamu, berikan Rhae Hoon padaku. Aku akan membahagiakannya, aku ingin memperbaiki kesalahanku di masa lalu. Harusnya aku tidak meninggalkannya seperti itu. Harusnya aku mempertahankan dirinya apapun yang terjadi.”

Kyu Hyun meremas rambut cokelatnya yang masai berantakan. Dia teringat apa yang sudah Dong Hae sampaikan padanya. Rasanya seperti tersambar petir, dia seperti terlempar ke negeri antah berantah, atau dipaksa memakan duri setiap hari. Tapi mau bagaimana lagi? Bukankah Shin Rhae Hoon sangat menginginkan kembali pada mantan kekasihnya yang sialan itu? Setidaknya hanya dengan mengembalikan gadis itu pada Dong Hae, maka citacitanya yang selalu ingin membahagiakan gadis itu akan terwujud.

Dia sudah melakukan hal yang benar.

Kyu Hyun bangun dari tempat tidurnya meski dia hampir tak bisa tidur semalaman. Dia tak bisa lagi menemukan wangi telur yang digoreng dan harumnya sup buatan istrinya. Setelah berjalan tertatih dan berhasil mencapai dapur, hal pertama yang dia lakukan adalah duduk dan menelungkupkan kepalanya di atas meja makan. Kepalanya terasa kosong, otaknya tak mampu mengingat apapun selain istrinya. Apa gadis itu sedang menyiapkan sarapan untuk Dong Hae? Apa gadis itu sedang tertawa dengan lelaki itu? Apa dia sebahagia itu sampai tak menghubungi sama sekali hanya untuk sekadar mengucapkan terima kasih?

Kyu Hyun mengubah persepsi dirinya. Dia baru saja melakukan kesalahan karena sudah melepaskan gadis itu. Melepaskan sumber kebahagiaan terbesarnya.

***

“Ini dokumennya. Kau bisa membubuhkan tanda tanganmu sekarang,” ucap Dong Hae. Lelaki itu setengah tersenyum saat mengangsurkan sebuah amplop berwarna cokelat di atas meja.

“Dia benar-benar melakukannya,” lirih Rhae Hoon tanpa melepas tatapan dari benda laknat di atas meja bundar itu. Dadanya sesak dan air mata hampir melesak di kedua pelupuk matanya.

“Sudah tiga minggu ini aku jarang sekali melihatmu tersenyum,” ujar Dong Hae sambil memegang tangan gadis itu.

“Aku hampir lupa caranya tersenyum saat ayahku sakit dan meninggal.”

Dong Hae merasa tercabik mengingat di saat-saat berat itu dirinya tidak mendampingi Rhae Hoon. Saat itu dia malah mencemaskan nasibnya sendiri apabila tetap tinggal di sisi gadis itu.

“Aku akan membuatmu kembali mengingat cara tersenyum, aku juga akan membuatmu kembali mengingat rasanya bahagia.”

Rasanya bahagia? Rhae Hoon terkesiap. Detik itu juga dia terkenang senyum Kyu Hyun. Kenapa justru hal itu yang tercetak dalam benaknya?

“Aku akan membukakannya untukmu.” Dong Hae melepas genggamannya lalu mulai menyobek sisi kanan amplop. Dia mengeluarkan surat yang ada di dalam, lalu kembali menyerahkan pada Rhae Hoon. “Kyu Hyun sudah menandatanganinya.”

Detik itu juga, Rhae Hoon merasa hidupnya – kebahagiaannya – sudah terampas secara paksa.

***

“Kau yakin akan pindah ke Jepang?”

“Aku tidak bisa melepaskannya dari benakku. Aku selalu penasaran apa yang terjadi di hidupnya sekarang, aku sering tidur di kamarnya dan berharap dia akan ada sisiku pagi kala aku terbangun. Aku tidak ingin menjadi orang gila.”

“Cho Kyu Hyun!” pekik Editor Lee. Wanita itu benar-benar merasa marah pada sosok Rhae Hoon. Wanita sialan itu sudah merubah Kyu Hyun begitu banyak. Lelaki itu benar-benar berantakan dengan mata cekung dan pipi yang tirus. Rambutnya juga selalu kusut, pakaiannya tidak terurus. Kyu Hyun tidak pernah tersenyum dan selalu uring-uringan. Semua orang sudah tahu kalau lelaki itu akan bercerai.

“Semua orang di kantor ini mencemaskanmu.”

Kyu Hyun setengah tersenyum. Dia menatap langit di balik jendela sementara tangan kanannya memegang cangkir berisi kopi panas yang Editor Lee berikan padanya lima menit lalu.

“Kalau begitu kalian harus izinkan aku pergi.”

“Kau yakin?”

Lelaki berkemeja putih itu menggeleng. Gadis itu memengaruhinya sampai seperti ini. Wanita itu begitu berpengaruh sampai-sampai membuat dunianya jungkir balik.

“Di sana aku akan jadi pemimpin kantor cabang kita,” ujar Kyu Hyun mencoba menenangkan Editor Lee. “Aku ke sana bukan untuk melakukan harakiri.”

“Demi Tuhan itu sama sekali tidak lucu!”

“Kau terlihat lebih tua kalau sedang marah!” Kyu Hyun tertawa, lalu menghirup wangi kopinya. “Besok aku akan berangkat, kau akan mengantarku ke bandara?”

***

“Sebenarnya kita mau kemana?” tanya Dong Hae sesaat setelah Rhae Hoon menjemputnya dari galeri. Lelaki itu memang bekerja sebagai pelukis sekarang. Dia amat terkejut saat Rhae Hoon menculiknya. Apa yang terjadi?

“Dong Hae-ya, dengarkan aku baik-baik.” Rhae Hoon memfokuskan tatapannya. Gadis itu merekam garis wajah Dong Hae baik-baik, menyimpannya baik-baik supaya di masa depan dia bisa ingat bahwa ada pria yang begitu mencintanya.

“Kau harus kembali pada keluargamu.”

Sinar mata Dong Hae meredup. Dia terus berpikiran buruk.

“Kau tidak bisa meninggalkan ibumu.”

“Itu bukan alasanmu yang sebenarnya,” potong Dong Hae cepat sebelum gadis itu menceramahinya panjang lebar. “Itu karena kau tidak menandatangani surat ceraimu.”

Rhae Hoon tidak bereaksi apa-apa. Dia mencoba bernapas, tapi dadanya terasa sakit.

“Kau mencintai Kyu Hyun. Itulah penyebabnya,” kata Dong Hae lagi. “Kaupikir aku tidak tahu kalau kau selalu merindukan lelaki itu setiap hari?”

“Hae!”

“Kau tidak sadar kan kalau beberapa kali mengucapkan namanya dalam tidurmu? Kau juga selalu menggoreng telur padahal kau tahu aku tidak suka makan telur. Mungkin dulu kau selalu menggorengkannya untuk Kyu Hyun. Kau selalu mencoba menghadirkannya dalam benakmu – dalam hari-harimu.”

“Aku minta maaf.”

“Permintaan maafmu diterima.” Dong Hae tersenyum. Mungkin dia sama sekali tidak pernah memikirkan hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Dia tidak tahu kalau mencintai bisa semenyakitkan ini.

“Apa kau juga sesakit ini saat aku memintamu melepaskanku?”

Rhae Hoon tidak menjawab. Gadis itu menatap ke depan dan bisa melihat supir taksi itu melongo melihat adegan menyedihkan di taksinya.

Dalam beberapa menit Dong Hae mencoba tersenyum, dan dalam beberapa menit ke depan lelaki itu menatap jendela – menghalau air mata yang sudah hendak membanjiri pipinya.

***

Harusnya bunga sakura yang berjatuhan di tanah membuat perasaannya lebih baik. Harusnya musim semi bisa mengusir kesedihannya. Harusnya dia tidak menyia-nyiakan waktunya dengan duduk terpekur di taman kompleks dekat rumah Kyu Hyun. Harusnya dia segera ke rumah itu dan meminta Kyu Hyun merobek surat cerai yang kini ia cengkram kuat-kuat.

Tapi kemudian air matanya mengalir. Dia tidak punya keberanian kembali ke rumah itu setelah pemilknya sudah mengusir dirinya beberapa waktu lalu.

Sekali ini di dalam hidupnya, dia memiliki sebuah keinginan kuat.

Cho Kyu Hyun.

Pria itu membuat dirinya bergantung padanya. Melihat wajah pria itu setiap hari sudah menjadi kebutuhannya. Seperti udara, seperti air, seperti makanan. Rhae Hoon sadar dia membutuhkan pria itu setara dengan kebiasaannya setiap hari.

Saat dia tak menemukan pria itu di pagi hari, saat tak lagi melihat senyumnya, saat tak lagi bisa mengomeli orang itu, rasanya seperti dipaksa bunuh diri.

Pria itu sudah memengaruhinya sampai mendekati level mengkhawatirkan.

***

                Tokyo, enam bulan kemudian.

“Aku masih hidup, Editor Lee! Kenapa kau mengomel karena aku tak mengangkat teleponku? Hei, kau menelepon saat di sini jam empat pagi kalau kau tahu! Ya, aku mengerti. Novel roman itu bagus, sepertinya akan meledak di Tokyo. Aku akan segera hubungi penterjemah. Kau tenang saja, tim kerjaku sangat bagus. Ya, ya. Aku mendadak lapar mendengar ocehanmu dari tadi. Sudah dulu ya!”

Kyu Hyun tertawa lalu melempar ponselnya ke ranjang. Demi Tuhan, ini adalah hari minggu dan bawahannya itu benar-benar tidak bisa melihatnya hidup tenang. Lelaki itu kembali mengutuk rekannya tersebut karena dia tidak bisa memejamkan matanya kembali. Lelaki itu lalu beranjak ke dapur.

Ini bahkan sudah enam bulan sejak kepergiannya. Tapi bahkan dia masih bisa mencium wangi Rhae Hoon dimanapun dia berada. Sebenarnya itu adalah kesalahannya sendiri. Lelaki itu sekarang memakai sabun dengan wangi bunga lili, supaya tubuhnya memiliki bau yang sama dengan wanita itu. Supaya dia bisa berkhayal kalau gadis itu ada di sisinya. Itu sama sekali bukan kejahatan, bukan?

Kyu Hyun lalu menggoreng telur dan mengambil nasi di mangkuk. Dia memakannya pelan-pelan padahal semalam teman kerjanya mengirimkan mie udon yang sangat enak. Lelaki itu lalu mengecek agendanya. Oh, hari ini dia ada janji dengan seseorang dari Korea. Ada seorang pengusaha yang hendak membangun toko buku besar di Tokyo dan temannya meminta Kyu Hyun menjadi penterjemah.

Lelaki itu melihat ponselnya bergetar. “Oh, Watanabe? Ada apa?” tanya Kyu Hyun setelah menempelkan benda persegi itu di telinganya.

“Ah, jadi pertemuannya dimajukan. Apa? Satu jam lagi? Baiklah, aku akan segera ke sana.”

***

Gadis cantik itu tertegun setelah menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Dia melepas celemeknya dan setelah berpamitan pada pemilik Gwen Florist – toko bunga tempatnya bekerja – dia berjalan santai menelurusi jalan pinggiran kota Seoul.

Musim dingin kembali membunuhnya . Diam-diam dia membenci musim dingin, karena tahun lalu saat musim dingin Tuhan sudah mengambil ayahnya. Tapi dia tidak bisa terang-terangan membencinya, karena saat musim dingin pula gadis itu menemukan pria yang begitu berpengaruh di hidupnya.

Gadis itu memakai terusan selutut berwarna merah muda. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa poni. Wajahnya terlihat lebih segar dengan bedak tipis dan lipstick red apple di bibirnya.

Dia memiliki hobi baru berdiri di dekat sebuah rumah makan Jepang. Di dinding rumah makan itu ada banyak poster yang menunjukkan keindahan negeri matahari terbit tersebut. Rhae Hoon lupa persisnya melakukan itu, tapi yang jelas dia selalu melakukannya setiap pulang kerja.

Bukan, dia bukan menyukai negara itu. Tapi dia merindukan seseorang yang kini hidup di sana.

                Cho Kyu Hyun.

Orang yang sudah dengan sangat tidak sopan masuk ke dalam hidupnya dan menjungkir balikkan keadaan hatinya. Rhae Hoon tahu kalau pria itu pergi ke sana empat bulan lalu. Saat itu dia memberanikan diri pergi ke kantor penerbitan karena rumah Kyu Hyun selalu terlihat kosong, seperti tidak ada penghuni.

Dia benar-benar terkejut saat tahu lelaki itu meninggalkannya dengan cara seperti ini.

Rhae Hoon tahu udara semakin dingin, tapi gadis itu malah duduk di tepian toko. Dia membuka tas tangannya dan mengeluarkan dompet. Ada alamat dan nomor telepon Kyu Hyun yang berhasil dia dapatkan dari resepsionis kantor penerbitan. Kemudian dia mengeluarkan buku tabungannya.

“Kalau seperti ini caranya, aku baru bisa pergi ke Jepang satu atau dua tahun lagi. Bagaimana caranya supaya bisa dapat uang dengan cepat? Shin Rhae Hoon! Kau itu bodoh sekali! Kenapa kau tidak punya keterampilan? Kenapa kau tidak memiliki bakat apapun?”

Rhae Hoon mulai menangis. Bukan karena dingin yang menyempitkan paru-parunya, tapi karena rasa rindu yang menyesakkan dan belum menemukan penawarnya.

***

Kyu Hyun hampir menjatuhkan cangkir espresso-nya saat tahu siapa yang sedang menuju padanya bersama Watanabe. Sama seperti dirinya, orang itu juga sama terkejutnya.

Dia, Lee Dong Hae.

“Kau?”

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Watanabe dalam bahasa Jepang.

Dong Hae mengerjapkan matanya sebentar. “Apa kabar, Kyu Hyun-ssi?”

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri?”

“Seperti yang kaulihat, aku juga baik.”

Kyu Hyun mendengus. Dong Hae bisa terlihat sebaik dan sesehat itu karena ada Rhae Hoon di sisinya.

“Kenapa kita tidak duduk saja kalau begitu?” Watanabe merasa mulai terabaikan. Dia lalu memaksa dua pria Korea yang kini terlihat aneh itu untuk duduk.

“Bisa kita mulai pembicaraan kita?” tanya Watanabe pada Kyu Hyun.

“Kyu Hyun? Kau mendengarku?” kata Watanabe lagi.

Kyu Hyun sendiri terlihat pucat. Dia merasa tidak nyaman berada di sekitar Dong Hae. Dia lalu mulai mengajak Dong Hae bicara. Watanabe terlihat lega, lelaki itu tidak tahu apa yang sedang Kyu Hyun ucapkan pada Dong Hae dalam bahasa Korea.

“Aku tahu aku tidak sopan menanyakan hal ini dalam diskusi kerja,” ucap Kyu Hyun serius. “Tapi aku sangat peasaran.”

Dong Hae mengerutkan dahi.

“Bagaimana kabar Rhae Hoon? Apa kalian hidup bahagia?”

Satu detik kemudian Lee Dong Hae merasa pusing, ada yang tidak benar di sini.

***

                Seoul, tiga minggu kemudian

Rhae Hoon naik ke kursi di depan rumah lotengnya. Gadis itu sedang mencoba memperbaiki lampu gantung di teras. Biasanya dia bisa melakukannya, tapi kenapa kali ini dia gagal meski sudah berkali-kali mencoba?

Kegelapan menyelimuti tempat itu. Wanita itu lalu mendesah, dia mendengar suara kaki berjalan dan seketika firasat buruk membayang di benaknya. Hari sudah sangat gelap, dia ketakutan. Samar-samar seseorang – yang mungkin bertubuh tinggi – naik ke atas kursi dan mengambil lampu putih itu dari tangannya.

Rhae Hoon bersyukur ada seseorang yang membantunya. Apa dia anak pemilik rumah di bawah?

“Terima kasih!” ucapnya saat suasana sudah kembali terang. Dia mendongakkan kepalanya atas, dan detik berikutnya rasanya dia sudah menemukan kembali cahaya yang sudah meninggalkan dirinya dalam kegelapan yang cukup lama.

***

Kyu Hyun mendengar gadis itu mengucapkan terima kasih, dan gadis itu terlihat terkejut luar biasa saat melihat wajahnya.

Tapi anehnya sampai mereka sudah saling berhadapan selama kurang dari lima menit tak ada yang gadis itu katakan atau perbuat padanya.

Kyu Hyun melihat wajah Rhae Hoon yang sama sekali tidak berubah, lelaki itu menatap kedua mata yang sedang menatapnya penuh kerinduan. Ada luka yang terlihat dengan sangat jelas di sana.

“Rhae Hoon-ah!”

Gadis itu tersenyum. Rasanya seperti dihidupkan kembali dari kematian. Rasanya seperti mendapatkan kembali sesuatu yang hilang. Dia benar-benar merasa utuh lagi saat mendengar suara lelaki itu.

“Kau! Bagaimana bisa kau ada di sini? Apa yang kau lakukan di sini ?”

Kyu Hyun tersenyum lega. Gadis itu mulai mengomelinya lagi. Rasanya seperti dipulangkan dari daerah konflik. Butuh beberapa minggu baginya menemukan orang ini dengan banyak bertanya pada resepsionis kantor, mengorek informasi dari Dong Hae dan meminta polisi mencarikan gadis ini untuknya. Dia juga harus merengek pada Editor Lee supaya membantunya kembali ke Korea.

“Dasar merepotkan! Kenapa bersembunyi di tempat jelek ini? Apa rumahku kurang layak untuk kautinggali?”

Kyu Hyun mengomelinya, dan Rhae Hoon tahu hidupnya akan berjalan dengan baik mulai sekarang.

***

“Kau adalah orang paling bodoh dalam sejarah peradaban manusia!”

Rhae Hoon tersenyum. Dia tidak percaya jika sekarang dia sudah berada di kamar Kyu Hyun. di ranjang pria itu. Tidur bersebelahan sambil saling menatap. Kenapa mereka harus saling kehilangan, saling meninggalkan, jika ternyata takdir kembali membuat keduanya bertemu?

“Aku ingin menyusulmu ke Jepang. Dulu, aku sama sekali tidak punya keberanian menemuimu, yang aku tahu semuanya berjalan dengan tidak benar saat kau tak ada di sisiku. Dan saat aku menyadarinya, kau sudah menghilang!”

“Kau bisa meneleponku, gadis bodoh!”

“Aku terlalu takut untuk melakukannya,” aku Rhae Hoon.

“Itu karena kau bodoh!” omel Kyu Hyun lagi. Terbayang olehnya hari-hari menyedihkan yang harus Rhae Hoon jalani seorang diri. Dia mengingat janjinya pada Shin Hyung Joo, dan detik berikutnya dia merutuki dirinya.

“Aku minta maaf,” ucap Kyu Hyun akhirnya.

“Kalau ada yang harus minta maaf, maka orang itu adalah aku.” Rhae Hoon tak mampu membendung air matanya, bukan karena dia sedih. Dia justru sangat bahagia sampai tidak tahu harus berekspresi seperti apa.

“Aku penasaran tentang apa yang kaulakukan pada surat cerai itu.”

“Aku membakarnya.”

Kyu Hyun tersenyum kecil. “Kalau aku bangun besok pagi apa kau masih ada di sisiku?”

“Tentu saja.”

“Aku masih tidak percaya.”

“Kalau begitu kita jangan tidur, jadi kau bisa tetap melihatku sampai matahari terbit.”

Kyu Hyun berpikir sebentar. “Kau benar.”

“Lalu kita mau melakukan apa sampai matahari terbit?” tanya Kyu Hyun akhirnya. Entah mengapa dia jadi memikirkan sesuatu yang akan membuatnya menampar diri sendiri di masa lalu.

“Melakukan apa? Kau punya usul apa yang akan kita lakukan?” tanya Rhae Hoon polos. Benar-benar polos sampai Kyu Hyun terkekeh dalam hati.

“Bagaimana kalau aku mengabulkan permintaanmu di masa lalu.”

“Permintaan yang mana?”

Kyu Hyun tertawa. Dalam beberapa detik dia mengisi paru-parunya dengan bau lili yang berbaur dengan wangi rambut istrinya.

“Permintaanku yang mana?”

Kyu Hyun mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir gadis itu lembut. Dalam beberapa detik dia merasa jantungnya hampir meledak. “Menidurimu. Kau ingat pernah meminta aku melakukannya ?”

“A – apa?” Rhae Hoon tersentak, kedua pipinya memerah. Jantungnya hampir melompat keluar. Ya, dia baru ingat.

Dan, ya.

Dia sangat ingin tidur dengan lelaki ini. Dia sangat ingin lelaki ini mencumbu tubuhnya tanpa terlewat sesenti pun.

***

 

“Ganti saluran televisinya!” omel Rhae Hoon sambil mencomot apel yang baru saja Kyu Hyun kupaskan untuknya.

Kyu Hyun lalu menurutinya.

“Ambilkan minum!”

Kyu Hyun berjalan ke kulkas dan mengambil air dingin.

“Jangan yang dingin!” pekik Rhae Hoon lagi.

Kyu Hyun mengelus dadanya. Dia tidak tahu kalau istrinya bisa menyerupai monster. Pria itu lalu mengambilkan air dari botol di atas meja makan. Lelaki itu harus melayani istrinya yang budiman sejak beberapa jam lalu.

Sejak pria itu menghabisinya, Rhae Hoon kehabisan energi. Tubuhnya hampir remuk dan hampir tidak bisa digerakkan. Dia bisa berpindah ke ruang televisi juga setelah digendong suaminya. Kyu Hyun juga harus menggendong wanita itu saat mandi tadi.

Benar-benar merepotkan.

“Kau lihat apa? Ini juga gara-gara ulahmu!” Rhae Hoon berkoar lagi saat Kyu Hyun menatapnya horor.

“Aku mengerti, gadis manis!”

Rhae Hoon melirik suaminya. Dia seperti akan memakan pria itu hidup-hidup. “Kuingatkan padamu ya kalau kau mendadak amnesia. Aku sudah tidak gadis lagi sejak dua belas jam yang lalu dan itu akibat perbuatanmu!”

Kyu Hyun tertawa. Dia benar-benar bahagia sampai tidak tahu kiasan apa yang cocok untuk melukiskan perasaannya. Dia lalu menggeser duduknya sedikit dan mengeluarkan sebuah foto dari kantong celananya. Rhae Hoon menghentikan kegiatan makannya dan menatap foto itu.

“Darimana kau mendapatkan fotoku saat remaja?”

Itu adalah fotonya saat berusia enam belas tahun. Apa ayahnya pernah memberikan foto itu?

“Aku mencurinya di rumahmu saat berusia dua puluh tahun.”

Rhae Hoon mengerjap. Dia terdiam. Apa suaminya pernah jadi pencuri?

“Saat itu aku datang karena ingin menunjukan prestasiku di bangku kuliah. Saat itu aku baru saja memenangkan olimpiade matematika. Aku ingin menunjukkannya pada Tuan Hyung Joo. Tapi dia tidak ada di rumah.” Kyu Hyun mengenang saat-saat indah itu.

“Lalu aku melihatmu sedang menanam bunga di taman belakang rumahmu. Kau cantik, sangat cantik sampai membuat dadaku bergemuruh.”

Rhae Hoon hampir meneteskan air matanya. Jadi Kyu Hyun sudah mengenalnya sejak lama?

“Dan saat itulah, untuk pertama kalinya aku jatuh cinta padamu.” Mata Kyu Hyun berbinar saat mengatakannya. Dia seperti sedang mengangkat batu besar di bahunya. Dia sudah menyimpan rahasia itu bertahun-tahun. Dia mencintai Rhae Hoon dan menjadikan wanita itu penyemangat hidupnya dalam diam.

Tanpa ada yang tahu.

“Cho Kyu Hyun. Maaf, maaf karena aku tidak tahu.”

Kyu Hyun menggeleng. Dia benci melihat Rhae Hoon menangis seperti ini.

“Aku mencintaimu, Cho Kyu Hyun. Sangat mencintaimu.”

Kyu Hyun lega mendengarnya. Itu adalah kalimat terindah yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya. Dia mengecup kening istrinya untuk waktu yang lama.

Lalu dia berujar lirih, “Aku juga mencintaimu. Cho Rhae Hoon. Sangat mencintaimu. Jangan pernah meninggalkanku atau kau akan berada dalam masalah besar.”

Rhae Hoon tertawa lalu mencium bibir suaminya. Dia tidak akan pernah melakukannya. Memikirkannya saja membuat dia bergidik ngeri.

“Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan selalu di sisimu dan melahirkan anak yang tampan dan cantik untukmu.”

Kyu Hyun tersenyum dan memeluk wanita itu. Tanpa pernah berpikir akan melepaskannya lagi. Tidak akan pernah lagi.

                -END-

 

17 Comments (+add yours?)

  1. shoffie monicca
    Oct 03, 2015 @ 14:02:16

    kyu sosweet bngt ak mau donk

    Reply

  2. esakodok
    Oct 03, 2015 @ 14:12:15

    happy ending. semuanya sama sama.berkorban ya
    hae sama kyuhyun oppa juga tulus banget mencintai raehoonnya

    Reply

  3. Laili
    Oct 03, 2015 @ 16:06:53

    KYA..!!! Kyuhyun sayang bgt sama Rhae Hoon. Kyuhyun, Rhae Hoon, Donghae perbah ngerasain kehilangan semua…
    keep writing, thor…🙂

    Reply

  4. resha
    Oct 03, 2015 @ 17:11:04

    i like thor… bagus bagus bagus

    Reply

  5. Monita yemo
    Oct 03, 2015 @ 19:45:03

    Aaaah.. Akhirnya happy ending jgak.
    Andai saja ada seorg pria kayak kyuhyun di dunia ini, mencintai seorg gadis dan sngat2 mencintainya dengan tulus.

    Aku ingin memiliki suami seperti kyuhyun di masa depan..
    Amiiin…
    Terus berkarya thor..
    Semangat…

    Reply

  6. Mairajuu
    Oct 03, 2015 @ 21:38:59

    Tumben si kyu disini kagak evil jg egois hehe

    Reply

  7. putrywinonys
    Oct 04, 2015 @ 21:47:39

    Ceritanya bagus ^^

    Reply

  8. putrywinonys
    Oct 04, 2015 @ 21:49:39

    suka bgt sama karakter kyuhyun di sini ^^

    Reply

  9. leeechoika
    Oct 05, 2015 @ 22:17:56

    seneng sama karakter kyu disini. bahasanya jg bagus thor. sequel mereka punya anak doong hehehe

    Reply

  10. Jung Haerin
    Oct 06, 2015 @ 00:16:36

    Great ff!!!, i love it, really…… ^^

    Reply

  11. starlily16
    Oct 06, 2015 @ 08:18:35

    Sukaaa bgt sama jalan ceritanya.. meskipun mungkin mainstream tp kamu mengemasnya dgn sgt baik, aku suka bahasa dan penulisannya… ^^ tetap berkarya ya, ditunggu karya2nya yg lain . Semangat!!^^

    Reply

  12. NuRulKyu
    Oct 08, 2015 @ 12:56:55

    AAAAA….
    Ternyata Happy End…
    aKu kira Rae Hoon bner2 milih Donghae dan ninggalin Kyuhyun…
    paN kasian Kyuhyun, pengorbanany, kesbrannya..
    Ugh…

    Reply

  13. minrakyu
    Oct 10, 2015 @ 08:20:23

    omg.. romantis banget ceritanya. ..
    aku kira dia bakal milih hae.. ternyata g yah..

    Reply

  14. arni07
    Oct 19, 2015 @ 06:05:42

    terharu bgt,perjuangan kyuhyun yg akhirnya mereka saling mencintai dan membutuhkan

    Reply

  15. soulmy
    Dec 06, 2015 @ 00:16:50

    so sweet bgt ceritax….

    Reply

  16. Futry
    Jun 22, 2016 @ 08:24:01

    Jatuh cinta banget sama ff ini 😍
    Keep writing thor! Hwaiting!^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: