Teacher And I [4/?]

Teacher and I - BabyChoi

[Chapter 4] Teacher and I

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF)

*kalian bisa baca ff Rien di sini ^^ => http://riechanieelf.wordpress.com/ *

Cover by : BabyChoi

Cast :

  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)
  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun

Genre : romance, hurt

Rated : T

Length : chapter

So, HAPPY READING, readers~!!!

Please, DON’T BASH and DON’T PLAGIAT~!!!

—Teacher and I—

“Ini masih tentang bungkamnya dirimu. Lalu tentang seseorang yang menyukaimu. Dan tentang bagaimana sebuah perasaan akan terjelaskan padamu. Rumit, memang. Tetapi itulah sebuah proses…”

—Teacher and I—

“Kau terlihat lesu sekali hari ini? Uhm, dia tak memberikan apa-apa lagi padamu pagi ini?”

Hyo Na langsung menatap Jang Mi yang menggodanya pagi ini hingga dia hanya melemparkan sebuah gumpalan kertas yang di dapatnya dan mengenai dahi gadis itu dengan cukup keras. Jang Mi bahkan tak terlihat kesakitan karena kertas yang di lempar itu memang tidak terasa sakit saat mengenainya hanya saja dia merasa geli menatap Hyo Na yang terdengar mendengus untuk membalasnya.

Dia jadi duduk di samping gadis itu dan lagi dia kembali mengisengi Hyo Na hingga membuat gadis itu berulang kali berteriak kesal, “Ayolah, cerita padaku, Hyonnie!”

Hyo Na menatap Jang Mi yang ada di sampingnya dengan tajam, lalu beberapa menit setelah dia hanya diam karena Jang Mi juga hanya memberikan wajah bertanya dan penasarannya. Hyo Na malah memilih menumpukan kepalanya di atas meja dan membuat Jang Mi mendesah kecewa dan menggoyangkan lagi lengannya dengan pelan, “Ck, sebenarnya aku bisa menebakmu, Hyonnie. Tapi, aku hanya malas saja hari ini hingga ingin mendengar semuanya darimu!”

“Jang Mi-ya, aku benar-benar tak ingin bicara hari ini,” ucapnya kemudian membuat Jang Mi mendengus dan menghentikan kelakuannya.

Hyo Na saja memilih untuk membiarkan Jang Mi yang ada di sampingnya tengah menatap khawatir, mungkin masalah beberapa minggu yang lalu tentang kedatangan guru baru dan kemungkinan terbesarnya Hyo Na tengah memikirkan hal yang sebenarnya tak harus dia pusingkan sendiri.

Kyu Hyun baru saja memasuki kelas di pagi ini, kali ini dia tak datang telat seperti beberapa hari lalu dan perubahan sikapnya juga membuat para guru jadi tertarik dengannya daripada saat pertama kali dia datang. Yah, dia jadi lebih bersahabat dan mulai berteman, walau terkadang sikapnya terlihat dingin untuk beberapa orang lain.

Hyo Na tersentak begitu matanya menangkap sosok Kyu Hyun yang sudah menduduki tempatnya membuat Jang Mi mengikuti arah pandangnya juga untuk menyelidiki mengapa dengan sikap Hyo Na hari ini. Dia jadi bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi diantara keduanya, tentang apa yang di sembunyikan Hyo Na lebih tepatnya.

“Uhm, kau tidak berpikir akan meninggalkan orang itu dan mencoba hal baru dengan yang lain, kan, Hyonnie?”

“Apa maksudmu, Jang Mi-ya?”

Jang Mi jadi memperlihatkan tawanya yang memaksa, sungguh di pandangan mata Hyo Na benar-benar mengundang curiga hingga dia jadi menatap serius ke arah gadis pemilik mata bulat tersebut. “Jangan berpikir yang aneh-aneh, Jang Mi-ya! Kau terlalu banyak menarik kesimpulan tentangku,” Jang Mi jadi salah tingkah juga akhirnya mendengar Hyo Na yang mengetahui sikapnya.

“Lagi pula, semua keputusan ada padaku saat ini,” dan membuat Jang Mi jadi menatap serius pada Hyo Na yang sudah menunjukan senyuman palsunya.

Dia jadi teringat saat dia pertama kali memberitahukan sesuatu yang memang harus Hyo Na ketahui. Saat itu memang Hyo Na tak banyak berbicara tetapi dia hanya menyuruhnya diam dan memberikan senyuman yang sangat palsu, sama seperti saat ini. Jang Mi jadi khawatir dan berniat sekali akan menemui guru Lee—Lee Dong Hae—untuk menyampaikan semua yang dia tahu.

“Aku akan menemui Kyu Hyun dulu!” Jang Mi ikut berdiri kemudian dan tak sempat bertanya lagi pada Hyo Na yang terlihat sudah berlalu darinya untuk menarik Kyu Hyun.

“Apa… aku harus ikut campur saat ini? Oh, Tuhan, Hyonnie benar-benar membuatku khawatir?!” dan gumaman frustasi milik Jang Mi yang terdengar setelah dia terlihat mengacak tatanan rambut panjangnya.

Terlihat tenang di sebuah ruangan yang cukup terbuka tetapi tak akan ada satu pun orang yang bisa menemukan mereka di pagi hari yang cukup bisa di katakan sibuk seperti ini. Yah, Dong Hae yang sudah berdiri di hadapan sosok wanita yang dia temui beberapa hari kemarin secara tak sengaja atau hanya si wanita itulah yang berniat menemuinya. Sungguh, Dong Hae tak menyukai pertemuan mereka setelah beberapa tahun yang lalu.

“Aku tidak menyangka kalau kita di pertemukan seperti ini, Lee Dong Hae? Jadi, bagaimana kabarmu? Uhm, lebih tepatnya kabar pernikahanmu?”

“Kau terlalu berbasa-basi sekali, Park Jae Rin? Kau sudah cukup untuk memberikanku kejutan dan bersyukur aku tak langsung mati di tempat saat itu. Dan seperti yang kau lihat. Aku cukup baik,” tenang sekali dia berkata membuat wanita berkacamata di depannya menyunggingkan senyuman cantiknya membuat Dong Hae berdecih pelan.

“Kau benar-benar tidak berubah bahkan sepertinya semakin keterlaluan setelah menikah dengan Tuan Choi, ya?”

Dan tertawalah Jae Rin mendengarnya membuat Dong Hae hanya menatapnya dengan tatapan tenang. Dia sungguh ingin sekali mengakhiri pertemuan yang tak baik ini, sungguh. Bukan hanya mereka berakhir dengan tak baik saja, tetapi Dong Hae sungguh mengenal baik bagaimana wanita di depannya ini hingga dia jadi ingin selalu menghindarinya.

“Ck, ternyata kau sudah tahu sejauh itu juga, ya? Uhm, baiklah aku memang tak berubah di matamu dan sepertinya kau lah yang banyak berubah,” Dong Hae menatapnya dengan tak minat membuat Jae Rin yang masih bertahan dengan senyumannya jadi terdengar tertawa. “Aku sudah bertemu dengan Cho Hyo Na dan beberapa hari lalu mengajar di kelasnya. Dia anak yang sangat manis, tetapi aku lebih cantik darinya,” sungguh sombong terdengar membuat Dong Hae berdecih menyikapi ketidaksetujuan pernyataan tersebut.

“Oh, ayolah, Dong Hae, kulihat dia seperti belum mencintaimu. Uhm, kau ingat pertem…”

“Aku akan membuatnya mencintaiku!”

Jae Rin tersenyum kecil menyadari kalau perkataan Dong Hae tak main-main di telinganya hingga dia menarik sebuah kesimpulan konyol. Kalimat milik Dong Hae benar-benar serius saat ini. Dan kalau di lihat dari satu sisi mungkin Park Jae Rin adalah wanita jahat, tetapi sebenarnya dia adalah wanita baik-baik yang memang berasal dari masa lalu Dong Hae. Yah, mantan kekasih dari Lee Dong Hae lebih tepatnya.

“Aku bisa membantumu untuk mendapatkan anak manis itu. Uhm, lagi pula ini sangat menarik, Lee Dong Hae.”

“Nyonya Choi, kau harusnya ingat untuk mengurusi rumah tanggamu bersama si Tuan Choi itu. Jadi, jangan urusi rumah tanggaku bersama dengan Hyonnie!”

“Hyonnie? Jadi, kau memanggilnya dengan panggilan semanis itu? Bahkan dulu kita tak pernah seperti ini Dong Hae. Ayolah, anggap saja aku membalas semua kebaikanmu dulu karena telah menyakitimu,” ucap Jae Rin terdengar santai membuat Dong Hae jadi tertawa mengingat masa-masa kelamnya.

Yah, dia pria berambut brunette yang sekarang telah menjadi suami dari seorang Cho Hyo Na dulu di tinggalkan begitu saja oleh wanita cantik bernama Park Jae Rin karena masalah perjodohan dan pihak keluarga yang menentang hubungan mereka. Sungguh, drama sekali kisah percintaan mereka namun itulah sebuah kenyataan yang harus kalian ketahui tentang dua orang ini.

“Kau akan membuatnya semakin berantakan nantinya,” ucap Dong Hae menolak dan membuat Jae Rin terdengar mendengus kecil. “Ck, aku bisa membantumu… kau mau darimana? Ah, ku dengar hampir seluruh siswa sudah mengetahui tentang hubungan masa lalu kita, Lee?”

Dong Hae tercekat mendengarnya hingga dia menatap tak percaya pada Jae Rin yang sepertinya santai sekali. Lama menatapi wanita yang dulu pernah dia cintai kini tiba-tiba saja bayangan Hyo Na tengah tersenyum manis di depannya muncul begitu saja dan tergantikan dengan wajah Hyo Na yang tengah menangis. Oh, Dong Hae jadi merasa takut kalau wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut akan sakit hati dan dia sungguh bodoh tidak pernah menceritakan sesuatu tentangnya pada Hyo Na.

“Aku tak mengerti mereka mengetahui hal ini darimana? Dan yang aku pastikan adalah hampir seluruh siswa sudah tahu dan ku pikir Hyo Na pasti sudah mengetahuinya saat ini,” ucap Jae Rin kemudian membuat Dong Hae jadi mengepalkan tangannya geram.

Sungguh dugaan awalnya kemarin benar tentang kehadiran Park Jae Rin yang di pikirnya hanya ilusi adalah sebuah kebohongan. Lihat saja sekarang ini, Park Jae Rin yang sudah menyandang status marga Choi terlihat berdiri di depannya seperti mengejek walaupun dia tak bermaksud seperti itu.

“Dan biar aku tebak kalau kau juga belum memberitahukan semuanya pada Hyonnie, kan?”

“…”

“Aku bisa membantumu, Lee Dong Hae. Apalagi ku dengar dari beberapa siswa kalau Cho Kyu Hyun juga menyukai istrimu itu,” dan inilah yang sudah di ketahui Dong Hae saat pertama kali melihat Cho Kyu Hyun.

Yah, fakta bahwa Kyu Hyun menyukai Hyo Na memang sudah sampai di telinganya hingga dia hanya merasa sakit sendiri dan beranggapan dengan yakin kalau mereka hanya sebatas teman saja. Tetapi ketika mendengar beberapa siswa sering memperhatikan betapa dekatnya kedua orang itu membuat Dong Hae harus mendera perasaan cemburu yang seharusnya tak ada pada Hyo Na hingga tak sadar malah menjadikan beberapa murid sebagai bumerangnya sendiri.

“Jangan menjanjikan sesuatu yang tak bisa, Jae Rin! Kau akan membuat semua ini jadi rumit nantinya,” Dong Hae berucap tenang menutupi kekalutannya sendiri, Jae Rin menganggukan kepala membenarkan perkataan tersebut.

“Tapi, Dong Hae, sedikit bermain-main ku pikir tidak ada salahnya? Aku hanya ingin memastikan apa benar Hyonnie itu menyukaimu atau dia hanya bersikap baik saja padamu. Dan apa kau tak pernah penasaran padanya, huh?”

“Hyonnie sudah bilang kalau dia akan mencobanya dan akan berhenti jika tak…”

“Kau bodoh! Kau benar-benar masih seperti Lee Dong Hae yang dulu pernah ku kenal. Aku pikir awalnya kau benar-benar akan membuat Hyonnie jatuh cinta padamu, tetapi kenapa kau malah menyerah?”

“Jae Rin ini bukan tentang menyerah seperti yang kau katakan. Tetapi ini masalah hati dan aku tak bisa memaksa gadis yang aku cintai untuk mencintaiku. Aku… aku tidak ingin memaksanya untuk mencintaiku karena itu akan menyiksanya sendiri,” Jae Rin terdengar mendecih kecil, sungguh menyebalkan Dong Hae kali ini, pikirnya.

Dong Hae rasa sudah cukup untuk pertemuan tak menyenangkan seperti ini dengan Jae Rin hingga dia meninggalkan gadis itu secara sepihak. Dan membuat Jae Rin jadi mengikutinya dari belakang, “Kau menolaknya, huh? Aku akan berusaha bagaimanapun untuk memperlihatkan padamu kalau Hyonnie mencintaimu!”

“Terserah padamu saja,” ucap pelan Dong Hae lalu memilih berjalan jauh dari Jae Rin yang sudah berhenti di langkahnya.

—000—

“Jadi, kali ini kau membolos, Nona Cho?”

Hyo Na mendongak memperhatikan Kyu Hyun yang sudah berdiri di belakangnya dengan psp yang dia pegang. Hyo Na sedikit menunjukan sebuah senyuman kecil lalu menganggukan kepalanya, “Aku sedang bosan berada di kelas beberapa hari ini,” akunya pelan membuat Kyu Hyun yang mendekatinya jadi duduk di samping tempat dia yang kosong.

“Apa ini ada sangkut pautnya dengan perasaanmu?” Hyo Na kaku mendengar pertanyaan Kyu Hyun yang tepat hingga dia bungkam beberapa menit kemudian. Kyu Hyun menarik napasnya pelan, tebakan dia sungguh tepat dan membuat gadis di sampingnya jadi bingung akan menjawab apa di hadapannya saat ini.

“Sama sepertiku. Tapi, aku tidak pernah lari dari hal itu,” Kyu Hyun berkata lagi membuat Hyo Na jadi menatapnya dari samping. Lama-lama Hyo Na jadi mengingat tentang ungkapan perasaan Kyu Hyun padanya dan dia jadi menyesal mengapa Kyu Hyun bisa jatuh cinta padanya yang bahkan sudah memiliki seorang suami dan mirisnya dia belum tahu tentang dia sudah atau belum mencintai sang suami.

“Aku hanya akan berjuang keras walau aku sudah tahu kalau pada akhirnya aku tidak akan mendapatkan apapun. Dan lagi pula, aku cukup untuk menikmatinya saat ini walau itu menyakitkan,” Hyo Na dapat dengar bagaimana suara Kyu Hyun mentertawakan dirinya sendiri hingga dia menundukan kepalanya merasa bersalah.

Dia cukup tahu kalau Kyu Hyun juga tengah menyindirnya saat ini, tentang perasaan yang tak mungkin terbalaskan lagi. Apa Hyo Na kejam, namun inilah sebuah kenyataan dan Kyu Hyun yang malang harus rela merasa sakitnya. Sungguh, di sini banyak sekali orang yang tersakiti dan tak sadar telah menyakiti, benar-benar percintaan yang rumit.

“Dan, ku pikir kau harus menghadapinya, Hyonnie. Bukannya melakukan hal yang tidak kau sukai seperti saat ini,” akhir dari perkataan Kyu Hyun membuat Hyo Na menyadari kebodohannya sendiri. “Terimakasih atas nasihatmu, Kyu. Aku tak menyangka jika kau akan sebaik ini padaku,” ucap Hyo Na membuat Kyu Hyun ikut tersenyum mendengarnya.

“Kau tahu bukan? Hanya dengan melihatmu tersenyum seperti ini saja aku sudah bahagia,” katanya terdengar membuat Hyo Na jadi serba salah hingga hanya menatapnya dari samping sedangkan Kyu Hyun masih mempertahankan senyumannya. “Dan bersyukur sekali bertemu denganmu di sekolah ini, setidaknya aku tak akan merasa bosan,” tambahan lagi membuat Hyo Na jadi tertawa kecil sambil menepuk bahu Kyu Hyun yang ada di sampingnya.

Tak lama Hyo Na pun terlihat berdiri dari tempatnya membuat Kyu Hyun menatapnya tanpa berpindah. Dan kemudian satu uluran tangan dia dapatkan dari gadis berambut sebahu yang di kuncir satu itu untuknya, “Ayo, kembali ke kelas, Kyu!” dan tanpa banyak bicara Kyu Hyun menerima uluran tangan tersebut dan meninggalkan tempat mereka.

—Teacher and I—

“Aku ingin berkunjung ke rumahmu, Hyonnie!”

Hyo Na merasa tercekat mendengarnya apalagi itu keluar dengan lancar dari mulut Jang Mi dan bahkan dia dengan konyolnya sempat memeriksa suhu tubuh gadis bermata bulat itu untuk dia bandingkan dengan dirinya. Jang Mi yang di perlakukan seperti itu sampai harus menepis tangannya dan menatapnya dengan tajam, “Kau pikir aku sakit apa? Ck, ayolah, ajak aku ke rumahmu sekarang ini!”

“Uhm, Jang Mi-ah… kau… kau tahu, kan?”

Jang Mi sukses menggandeng lengan Hyo Na dan menyeret gadis itu untuk berjalan bersama dengannya. Hyo Na bahkan tak di beri kesempatan untuk berbicara sama sekali hingga dia hanya menunjukan wajah cemasnya, “Jang Mi-ah, aku…”

“Sudahlah! Hm, sepertinya kau harus mengenalkan Guru Lee padaku sebagai sahabat! Kau sungguh kejam tak mengenalkan suamimu padaku?”

Mereka berhenti di loker untuk mengganti sepatu mereka, Hyo Na bahkan terlihat salah tingkah sekali saat ini hingga hanya menggigit ujung bibirnya di hadapan Jang Mi yang sudah mengganti sepatu dan terlihat menunggunya. Jang Mi tak melihat pergerakan dari Hyo Na hingga dia dengan santai membuka loker milik gadis berambut sebahu itu dan memberikan sepatunya, “Cepat ganti! Kau lama sekali, Hyonnie?!”

Dan Hyo Na menuruti permintaan gadis yang ada di depannya dengan setengah hati dan dengan gerakan yang sangat lambat. Bagaimana pun juga, Hyo Na tak berniat sama sekali untuk mengajak Jang Mi ke rumah dan mengenalkannya pada Dong Hae. Sungguh, dia tak ingin melakukan hal tersebut karena mungkin saja Dong Hae akan marah padanya karena dia belum pernah menceritakan tentang Jang Mi yang sudah tahu pernikahan tersembunyi ini.

“Jadi, aku tak bisa menumpang mobil denganmu, Lee Dong Hae?”

“Park Jae Rin bisakah memintanya dengan yang lainnya? Ah, kau ini…”

“Lee Dong Hae, kau pelit sekali? Dulu kau tak pernah seperti ini padaku?”

Pergerakan Hyo Na tiba-tiba saja berhenti saat suara yang di kenalnya terdengar begitu saja. Hyo Na dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri Dong Hae dengan seorang guru wanita bernama Park Jae Rin itu tengah berjalan bersama, tidak bisa di katakan dalam artian bersama sebenarnya karena Dong Hae berjalan lebih dahulu daripada Jae Rin. Jang Mi ada di dekatnya hingga dia bisa merasakan perbedaan pada Hyo Na yang sedikit meremas sepatu berwarna putihnya yang sudah dia letakan secara kuat di lokernya sendiri.

“Aku ke rumahmu saja, Jang Mi-ah!”

“Eh?!”

Hyo Na menatap tajam mata Jang Mi di hadapannya hingga Jang Mi merasakan kalau Hyo Na yang ada di depannya benar-benar berbeda sekali. Dia saja sampai merasa takut di tatap seperti itu, “Oh, Hyo… Hyonnie? Kau…”

“Kenapa? Kau tidak mengizinkanku untuk datang? Ah, baiklah. Aku akan pergi saja bersama… uhm, Kyu Hyun!”

Dan entah bagaimana Hyo Na rasa Kyu Hyun adalah salah satu tempat pelarian yang paling bagus. Hingga dia dengan cepat melesak mengejar Kyu Hyun yang berhenti begitu saja karena merasa terpanggil dan ketika pria berambut ikal itu mencari asal suara yang memanggilnya dan mendapati Hyo Na sudah ada di dekatnya dengan napas tersengal.

“Kau kenapa berlarian?”

“Hosh, bawa… hosh, bawa aku pergi sekarang!”

“Eh?!”

Dan tanpa aba-aba lagi lengan Kyu Hyun di tarik Hyo Na begitu saja meninggalkan Jang Mi yang tak berhasil mengejarnya. Ah, sungguh sial sekali gadis bermata bulat ini. Rencana untuk datang ke rumah Hyo Na gagal dan lebih parahnya lagi gadis itu sekarang pulang bersama Kyu Hyun. Oh, Tuhan benar-benar tengah mengujinya saat ini. Dan tepat saat dirinya berbalik ingin pulang, dia malah menatap sebuah sepatu berwarna merah telah berpijak di dekatnya dan ketika dia mendongak untuk melihat siapa orangnya, Jang Mi seketika tercekat.

“Ah, Han Jang Mi? Jang Mi-ssi, bisakah kau menemaniku pulang?”

“Oh, Guru Park? Uhm, baiklah!”

Dan dia sudah berjalan berdampingan dengan wanita yang bernama Jae Rin tersebut. Jang Mi jadi merasakan ada aura-aura aneh di sekitarnya saat ini, aura membunuh mungkin saja. Tetapi mengingat Jae Rin adalah gurunya dia langsung dengan cepat menepis pemikiran konyolnya dan lebih memilih menuruti apa perkataan gurunya tersebut.

Jae Rin sendiri sekilas sempat melihat Hyo Na dan Kyu Hyun yang pulang bersama. Ah, dia jadi merasa miris juga mengingat Dong Hae sempat berkata padanya ingin menunggu Hyo Na untuk pulang bersama. Dia jadi merasa khawatir pada dua orang itu saat ini, semoga saja tak terjadi hal-hal buruk, pikirnya kemudian.

“Jadi, apa yang membuatmu tiba-tiba menarikku ke dalam masalahmu, Hyonnie?”

Hyo Na tersentak saat Kyu Hyun baru saja menghampirinya, sebelumnya dia izin untuk meninggalkan Hyo Na yang duduk di tepi danau karena ingin membelikannya minuman. Ya, walau awalnya menolak tetapi Kyu Hyun tetap saja memaksa hingga Hyo Na tak bisa lagi berkata-kata karena Kyu Hyun langsung saja meninggalkannya sendirian.

“Ah, maaf malah membawamu seperti ini,” ucap Hyo Na saat mendapatkan sebuah kaleng minuman dingin yang sudah di tempelkan di pipinya oleh Kyu Hyun. Pria berambut ikal itu sudah terduduk di sampingnya dan meminum minumannya, Hyo Na masih menatapi kaleng minumannya dengan perasaan kalut.

“Kau sudah menggunakanku untuk pelarian dan sekarang kau hanya bungkam seperti ini? Kau tahu, aku jadi tak berguna sekali di matamu, Hyonnie?”

“Eh, Kyu… maafkan aku kalau begitu,” ucapnya kemudian khawatir dan membuat Kyu Hyun yang menahan tawa akhirnya tertawa kecil dan membuat Hyo Na jadi mengernyit menatapnya. “Kau tengah menjahiliku, eh?!” dan Kyu Hyun sudah benar-benar tertawa saat Hyo Na malah menampilkan wajah polosnya.

Ah, Kyu Hyun jadi merasa terhibur di satu sisi dan tak sadar membuat Hyo Na jadi melupakan masalahnya. Lihat saja gadis itu kini sudah memukuli Kyu Hyun menggunakan minuman yang di beri Kyu Hyun, walau tak sakit tapi melihat dia memukulinya berulang kali membuat kita bergidik ngeri saja. Ah, tetapi Kyu Hyun terlihat sangat menikmati sekali saat seperti ini.

“Menyebalkan!?”

“Ck, aku hanya bercanda. Lagi pula salahkan dirimu yang memang benar-benar menjadikanku sebuah pelarian! Dan lagi, harusnya kau bisa saja bercerita padaku dan aku bisa membantu… uhm, kalau aku bisa,” Hyo Na jadi menatapnya dengan tatapan tak percaya.

Yah, Kyu Hyun yang sempat dia cap pria aneh dan pria yang memiliki tempramental tinggi kemarin langsung sirna. Perilaku Kyu Hyun sungguh berubah beberapa hari yang lalu dan dia entah bagaimana sangat menikmati perubahan ini. Kyu Hyun memang lebih hangat dan sungguh sangat menyenangkan, walau terkadang sikap dinginnya keluar begitu saja di saat tak menentu.

“Aku tahu, wajahku sangat tampan hingga kau jadi melamun seperti itu,” Hyo Na tersadar ketika suara menyebalkan itu masuk menyentuh telinganya, Kyu Hyun sudah terawa kecil lagi. “Wajahmu jelek tahu!” balasnya sengit dan membuat Kyu Hyun jadi mengernyit namun ide jahilnya benar-benar tengah muncul sekarang ini, “Lalu mengapa kau menatapiku seperti itu tadi?”

“Eh?!”

Kyu Hyun menampilkan senyumannya, bukan sebuah seringaian yang sering dia tampilkan di hadapan dirinya kemarin atau di hadapan Dong Hae. Ah, Hyo Na benar-benar baru sadar bagaimana Kyu Hyun bisa membentuk sebuah senyuman yang sangat tampan seperti sekarang ini. Eh, tunggu dulu, “Ck, aku hanya merasa bersalah saja kau katakan seperti itu,” Hyo Na tiba-tiba menjawab dengan nada seriusnya.

Dan Kyu Hyun menggelengkan kepalanya pelan lalu menjatuhkan dirinya di atas rerumputan yang dia duduki saat ini. Hyo Na memperhatikan pria berambut ikal itu sempat memejamkan matanya beberapa detik sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu kembali membuka kedua kelopak matanya yang menyembunyikan manik hitam tersebut.

“Maafkan aku kalau begitu, Hyonnie,” ucap Kyu Hyun kemudian membuat Hyo Na tak mengerti. “Maaf membuatmu merasa bersalah, padahal jelas-jelas akulah yang bersalah di sini,” tambahnya lagi membuat Hyo Na jadi sedih memandanginya.

“Kyu harusnya kau tak menyalahkan dirimu sendiri saat ini.”

“Ah, benar juga katamu! Baiklah, mari kita lupakan masalah itu dan kembali lagi pada masalahmu saat ini!”

Kyu Hyun tatap intens Hyo Na yang memilih duduk di sampingnya. Ah, melihat Hyo Na dari sudut sini benar-benar terasa sempurna, matanya yang memiliki tatapan sendu namun bercahaya, pipinya yang berisi begitu serasi dengan bibirnya yang merah alami dan rambut sebahu yang dia kuncir satu menyamping dan membiarkan rambutnya menutupi bagian bahunya. Hyo Na sungguh manis di matanya dan membuatnya melupakan fakta kalau Hyo Na sudah di miliki orang lain.

“Ah, sayang sekali,” ucapnya yang di tangkap Hyo Na. “Sayang kenapa?” Kyu Hyun menggelengkan kepala sambil berusaha bangkit dari tempatnya membuat Hyo Na menjaga jarak untuk tetap di samping Kyu Hyun.

“Baiklah, ceritakan padaku tentang masalahmu, Hyonnie!”

Hyo Na jadi meragu saat ini tentang dia harus atau tidak menceritakan apa masalahnya pada Kyu Hyun. Dia memang tak dapat percaya pada siapapun, pada sahabatnya saja pun dia masih meragu—Han Jang Mi—lalu apa kabarnya dengan Kyu Hyun yang hanya sebatas teman baginya. Namun, ketika dia dapat melihat sebuah kesungguhan di balik manik Kyu Hyun dia jadi luluh juga hingga dia mulai menarik napas dan mencoba bercerita, “Jadi, seperti ini ceritanya…”

—000—

“Kau membolos lagi hari ini, Hyonnie?”

Hyo Na yang baru menyuapkan makanannya jadi berhenti mengunyah dan memandang Dong Hae yang duduk di depannya, sama sepertinya tengah melahap makan malam. Hyo Na jadi menundukan kepalanya merasa kalau mata milik Dong Hae menatapinya dengan rasa penasaran atau mungkin marah, Hyo Na tak begitu tahu karena dia tak berani menatapnya saat ini.

“Kenapa membolos lagi, hm?”

Hyo Na tak menjawab dengan suara melainkan dengan sebuah gelengan kepala, Dong Hae menghela napasnya pelan lalu kemudian dia tersenyum kecil. “Kau memiliki sebuah masalah? Seingatku sampai sekarang pun kau belum menceritakan apapun padaku, Hyonnie?”

‘Kaulah masalahku, Lee Dong Hae… jadi mana bisa aku menceritakannya padamu?!’ pikir Hyo Na menahan kesal.

Dong Hae hanya memperhatikan gadis berambut sebahu di depannya dengan lembut, cukup untuk di katakan khawatir juga sebenarnya karena dia mendapatkan sebuah laporan dari guru Jang kalau Hyo Na beberapa kali membolos. Dan hal ini, tentu saja membuat guru Jang khawatir karena beberapa nilai Hyo Na juga menurun, “Kau masih tak ingin cerita padaku?”

“Maafkan aku…”

Dong Hae jadi terdiam ketika suara Hyo Na mulai terdengar membuatnya kini menatap dalam ke arah Hyo Na yang sudah berani melihatnya. Raut cemas tergambar jelas di wajah manisnya, tatapannya sebenarnya sangat ragu namun dia masih saja berani menatap Dong Hae dengan tatapan seperti itu. “Aku… aku sedikit merasa tertekan akhir-akhir ini,” tambahan terdengar membuat Dong Hae hanya menghembuskan napas cukup lega.

“Kalau kau memang seperti itu lebih baik beristirahatlah di ruang kesehatan. Tetapi, jangan sampai membolos seperti ini, Hyonnie. Kau tahu? Aku sangat khawatir dengan keadaanmu dan di tambah kau menjadi diam akhir-akhir ini,” Hyo Na jadi merasa serba salah mendengar penuturan Dong Hae.

‘Dong Hae… aku ingin saja bertanya padamu… tapi… aku takut…’ lagi dia hanya berteriak dalam hati.

Satu tangan Dong Hae bergerak menggapai tangan Hyo Na yang memegangi sumpit, mata teduhnya sudah menyelami mata sendu milik Hyo Na untuk dia tatap dengan lembut di sana. Hingga Hyo Na merasakan rasa bersalah saat ini, dia benar-benar tak ingin merepotkan sosok yang sebenarnya telah membuatnya bingung saat ini, tetapi dia juga tak bisa mengenyahkan perasaan itu karena dia juga tak ingin. Oh, ini benar-benar aneh.

“Cepatlah bercerita seperti dulu lagi, Hyonnie. Aku tak terlalu suka dengan sikap diammu selama beberapa hari ini, aku seperti tak mengenalmu… ku mohon.”

Dan Hyo Na hanya menganggukan kepalanya pelan untuk kemudian Dong Hae yang sedikit mengusap helaian rambut milik Hyo Na dengan lembut. Dia berusaha sekali menyalurkan semua perasaannya pada Hyo Na yang masih bingung saat ini.

—Teacher and I—

Keduanya masih terdiam di dalam mobil, tak ada pergerakan berarti atau percakapan yang biasanya menghiasi perjalanan mereka. Hanya ada sebuah sekat diam yang menyelimuti kedua orang itu saat ini, sebuah sekat cemas dan penasaran juga terasa jelas dari salah satunya. Namun yang lebih dewasa malah terlihat lebih menutupi dan kini terlihat melirik salah satu yang berseragam sekolah.

“Jadi, nanti apa kau akan pulang sendirian seperti kemarin?”

“…”

“Hyonnie, aku tak tahu jelas apa yang tengah kau rasakan akhir-akhir ini. Kau membolos dan mengatakan padaku kalau kau cukup tertekan, aku sudah dapat memakluminya. Tapi kali ini…”

“Hae-ah, ini di sekolah. Bisakah kita membahasnya di rumah saja? Dan maafkan aku kemarin karena tak sempat menghubungimu,” ucap Hyo Na memotong pembicaraannya, Dong Hae memasang raut datar di wajahnya.

Dia ingin saja marah pada gadis ini. Dia cukup khawatir kemarin, menunggu di tempat biasa mereka akan bertemu saat pulang sekolah selama berjam-jam, Hyo Na tak menghubunginya atau memberikan pesan apapun padanya. Hingga dia mengira kalau Hyo Na pulang ke rumah lebih dahulu dan bahkan Dong Hae sempat bertanya pada kedua orangtua gadis itu kemarin, beruntung kedua orangtuanya tak curiga karena Dong Hae dengan cepat memilih alasan yang tepat. Namun, ketika dia putus asa dan memutuskan untuk pulang, matanya malah menangkap Hyo Na baru saja pulang dan baru akan memasuki rumah kemarin.

Hyo Na baru akan keluar dari mobil namun pergerakannya tertahan begitu saja oleh cengkraman tangan dari Dong Hae. Hyo Na tak meliriknya sama sekali hingga dia tarik cengkraman yang mulai terasa menyakiti tangannya, “Dong Hae-ah… bisakah ka…”

Grep.

Dan berakhir dengan Dong Hae yang menarik Hyo Na ke pelukannya. Hyo Na yang sudah bersandar pada dada bidang milik Dong Hae dengan tangannya yang mendekap kepalanya dan bahkan pelukan tersebut sangat erat. Dia sungguh khawatir kemarin, apakah itu tidak terlihat jelas di matanya saat menatapi Hyo Na yang kemarin malam makan di meja makan dengan santainya.

Yah, saat mereka tak sengaja berpapasan kemarin Dong Hae memang sempat bertanya namun Hyo Na hanya menjawab seadaanya dan membuat Dong Hae merasa tak puas akan itu. Dia memang ingin lagi bertanya namun ketika Hyo Na berinterupsi kalau dia tengah lelah, niatan awalnya hancur dan berakhir dengan perasaan cemas yang tertahan hingga pagi ini dapat dia tumpahkan.

“Aku khawatir padamu, Lee Hyo Na!”

Deg.

Mata Hyo Na membulat mendengar ungkapan tersebut keluar dari mulut Dong Hae saat ini. Bahkan pengucapan marganya yang sudah di ganti sama dengan marga Dong Hae, yaitu Lee. Dia ingat Dong Hae sangat mencintainya. Namun ketika bayangan Dong Hae bersama Jae Rin kemarin membuatnya kembali menampik semua itu, dia rasa Dong Hae tak pantas bersamanya seperti saat ini. Dia mencoba meregangkan dekapan tersebut, namun Dong Hae terlalu erat memeluknya.

“Sebentar saja kau biarkan aku seperti ini. Selanjutnya kau boleh memarahiku,” ucap Dong Hae pelan dan Hyo Na tak bisa lagi menolak karena dia pun mengakui kalau dia merasa nyaman dengan perlakuan Dong Hae padanya.

Jae Rin sedikit menatap ke arah mobil yang dia kenal, mobil milik Dong Hae. Senyuman terulas kecil saat matanya samar-samar menangkap bayangan Dong Hae dan Hyo Na di dalam sana, bersyukur sekali tempat parkir ini sangat jauh dari kelas dan sangat sepi dari jangkauan murid-murid lain. Dia jadi mengingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Hyo Na dan salah satu temannya, lalu dia sangat mengingat ada salah satu pria lagi yang mengincar Hyo Na, yaitu Cho Kyu Hyun.

“Harusnya memang aku tak ikut campur. Namun karena ini demi kebahagiaan Dong Hae dan gadis polos itu… aku pikir sedikit terkena masalah, tak apa-apa.”

Dan dia pergi meninggalkan tempat tersebut sambil mengeluarkan ponselnya untuk menekan pesan pada salah satu orang yang baru dia temui kemarin. Ah, Han Jang Mi yang sudah ada di kelasnya kini cukup menatap ponselnya cemas karena satu pesan dari orang yang dia curigai kemarin sudah mengiriminya pesan, Park Jae Rin yang adalah gurunya.

.

.

.

TBC

Yatta~ adakah yang masih menunggu ff ini?! XD kukukukukuk~ uhm, ketemu lagi dengan Rien di chap 4~!!! *sorak-sorak*

Ah, bagaimana dengan chap 4 kali ini? Uhm, maaf yah kalo ternyata alur dari ff ini terlihat kelamaan atau malah tidak jelas sama sekali… lalu untuk tiap narasi yang terasa amat panjang dan membosankan~ dan maaf kalau Hae di sini sangat OOC… yah, sisi romantisnya belum begitu kelihatan, tapi untuk chap-chap selanjutnya Rien akan berusaha lebih baik lagi~~ ^^

Dan sedikit curhat~ Rien ngerjain chap 4 ini sampe menghasilkan dua versi lho~?! X3 Yap, karena alasannya adalah ketidak cocokan dari chap 3 kemarin, makanya banyak yang Rien pertimbangkan untuk mempostingnya~ lalu, bagaimana dengan chap 4 kali ini? Uhm, Rien mohon review deh buat cari tahu tentang kelemahannya~ *bow*

Dan maaf juga atas keterlambatan posting~ T^T

Dan juga Rien mau tanya tentang pairing di sini? bagaimana dengan HyoHae momennya? Duh… entahlah~ semakin bertambahnya chap Rien jadi merasa apa… gitu sama pairing ini? Adakah yang ingin memberikan saran pada Rien? >.< duhhhh~

Heheheheheh, dan terimakasih sekali yah yang uda setia nunggu dan baca ff ini~ karena tanpa kalian Rien ga tau mau ngelanjut atau malah memberhentikan ff ini~ terimakasih semuanyaaaaa~ ^^ *hug satu-satu*

Dan kali ini Rien mohon reviewnya lagi, yaaaaaaaa~~~ ^_____^

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: