[Sequel – Just Moment] After For Moment

11892132_1454760724831643_9086855978384946128_n

After for Moment

*kalian bisa baca ff Rien di sini ^^ => http://riechanieelf.wordpress.com/ *

Cover by : Wonnie’ Art

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF)

Cast :

  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Cho Hyo Na (OC)
  • Choi Woo Ri (OC)

Genre : romance, comedy

Rated : T

Length : drabble

So, HAPPY READING~!!!

And, please DON’T BASH and DON’T PLAGIAT~!!!

—After for Moment—

“Bagaimana caranya mengakhiri sesuatu yang manis seperti ini? Apa harus dengan memperjelas semuanya maka kau akan mendapatkan apa itu kebahagiaan?”

Pintu ruangan kesehatan terbuka membuat Hyo Na mendongak dan mendapati Dong Hae baru saja masuk dan menutup pintu itu. Dia jadi menundukan kepalanya ke bawah, bingung harus melakukan apa jika hanya berdua saja dengan Dong Hae sedangkan pria itu saja hanya bersikap biasa dan terlihat lebih santai menghampiri Hyo Na.

“Apa kakimu tidak apa-apa, Hyonnie?”

“Oh? Uhm, tidak apa-apa, Dong Hae-ya!”

Dong Hae menganggukan kepalanya mengerti lalu dia menyodorkan satu bungkus roti pada Hyo Na dan membuatnya jadi melihat ke arah roti itu dengan tatapan heran. Dong Hae menangkap tatapan itu hingga dia terdengar berdecak dan menarik salah satu tangan Hyo Na untuk menerima pemberiannya.

“Tapi aku tidak meminta, kan?”

“Ck, kau sudah cukup kelelahan dan sekarang masih saja keras kepala seperti ini?”

Hyo Na tak membalas perkataan tersebut namun dia sudah terlihat membuka bungkus roti itu di samping Dong Hae yang menarik kursi dan duduk di hadapannya. Sekarang posisi mereka seperti ini, Hyo Na tengah duduk di sisi ranjang dengan kedua tangan yang masih membuka bungkus roti dan di depannya ada Dong Hae yang duduk dengan memperhatikannya.

“Kau sendiri bagaimana? Apa kau merasa tidak kelelahan, eh?”

Dong Hae mengerjapkan matanya karena terlarut pada pandangannya sendiri hingga dia terdengar tertawa lalu menggaruk tengkuk lehernya. Hyo Na tak memperhatikan itu karena masih sibuk dengan bungkus roti yang tiba-tiba saja lebih menarik di matanya, entah apa yang di pikirkan gadis itu saat tengah gugup seperti saat ini.

“Kenapa kau tertawa?”

“Tidak. Aku cukup kelelahan mendapat hukuman seperti itu, Hyonnie. Apa kau tidak lihat aku tengah mencoba untuk duduk di sini dan beristirahat?”

Hyo Na menjadi mendongak untuk memperhatikan seperti apa yang di katakan Dong Hae padanya hingga kedua mata kelamnya mendapati Dong Hae yang duduk dengan senyuman kecilnya. Dapat dia lihat juga kedua tangannya yang sedikit memukul sesekali pahanya, mungkin kelelahan akibat hukuman yang di beri guru Song.

“Lalu kenapa kau tidak memakan roti seperti yang aku lakukan saat ini?”

Dong Hae entah bagaimana tersentak mendapat pertanyaan tersebut. Benar apa yang di katakan Hyo Na harusnya dia juga membeli roti untuk dirinya sendiri tetapi kenapa dia harus membeli roti hanya untuk Hyo Na saja. Dia tak menjawab membuat Hyo Na mengernyit sambil mengunyah roti miliknya. Lama tak mendapatkan jawaban membuat Hyo Na jadi memukul dahi Dong Hae, “Kau melamun, heh?”

Dong Hae terlihat menggelengkan kepalanya lalu matanya yang teduh jatuh saja pada roti milik Hyo Na membuat dia memikirkan sebuah ide yang cukup nekat. Hingga tak ada jawaban lagi dia jadi mendekati roti yang ada di tangan Hyo Na untuk dia gigit dan membuat Hyo Na membulatkan matanya tak percaya, “Dong… Dong Hae-ya? Dong Hae-ya apa yang kau lakukan pada rotiku?”

Dan pria bersurai brunette itu tak menjawab dia hanya memberikan senyuman kecil dan mengacak asal rambut Hyo Na hingga membuat gadis itu jadi merona diam-diam.

“Lalu apa ini hanya kesengajaan Tuhan untuk mempermainkanku… saat aku ingin menjauhinya malah aku merasa selalu saja berada pada jangkauannya…”

Woo Ri baru saja terlihat sampai di kelasnya dan menuju tempat duduknya. Bolos hari ini dia habiskan untuk berkunjung tiba-tiba ke ruangan kesehatan karena Hyo Na juga berada di sana bersama Dong Hae karena sebuah hukuman membuat keduanya lelah. Dan setelah menghabiskan waktu bolos bersama mereka berdua dan setelah itu kembali ke kelasnya untuk memulai pelajarannya saat ini.

“Woo Ri-ya, kau di panggil Guru Oh ke ruangannya sekarang!”

“Heh? Uhm, baiklah, aku akan ke sana!”

Baru beberapa menit sebenarnya dia duduk di bangku lalu tiba-tiba saja seorang teman sekelasnya memanggil dia untuk menghadap pada salah satu gurunya. Sebenarnya Woo Ri cukup untuk bertanya-tanya mengapa gurunya memanggilnya, apa dia melakukan sebuah kesalahan atau mendapatkan sebuah peringatan kecil dari kebolosannya yang sebenarnya sudah sering di pelajaran yang sama atau yang paling sering terjadi adalah sebuah ajakan untuk mengikuti sebuah kompetisi perlombaan.

Baru saja dia akan melangkah masuk untuk menemui seorang guru yang memanggilnya, tiba-tiba saja langkahnya merasa terdahului oleh sosok yang selama ini sudah secara tidak langsung menjadi rivalnya, Cho Kyu Hyun.

“Ck, kenapa dia ada… eh?”

Dan secara mengejutkan dia mendapati Kyu Hyun yang juga sepertinya tengah berhadapan dengan guru Oh. Dia jadi memiliki sebuah firasat buruk setelahnya, ingin sekali dirinya melarikan diri dari tempat ini. Apalagi menghindarkan dirinya dari sosok Kyu Hyun yang entah bagaimana terlihat menyebalkan di matanya. Namun hal ini gagal saat telinganya menangkap kalau guru Oh sudah memanggil namanya, “I… iya, Guru Oh? Uhm, aku baru saja ingin masuk ke dalam,” dan perkataannya yang setengah kesal dia tekan di hadapan sang guru.

Sungguh dia juga melihat kalau Kyu Hyun sempat menunjukan seringaian menyebalkan di wajahnya karena dia cukup mengerti kalau dirinya di benci. Oh, siapapun setelah ini jangan ada yang berani dekat-dekat dengan Woo Ri…

“Saat di mana kedua orang yang masih belum mengerti mulai bercerita satu sama lain… dalam sebuah komunikasi pasti akan ada si pendengar dan si pencerita…”

Dong Hae baru saja terlihat pamit lebih dulu dan meninggalkan kedua gadis itu di dalam sebuah ruangan kesehatan. Awalnya mereka terlihat tersenyum menatap kepergian Dong Hae, terlebih lagi pada Hyo Na yang tak bisa menyembunyikan semburatan merah pada pipinya hingga Woo Ri yang tak jauh dari tempatnya terdengar tertawa kecil.

“Ck, kalau kau menyukainya bilang saja, Hyonnie!”

Hyo Na kaku mendengarnya membuat dia jadi terlihat salah tingkah dan menatap Woo Ri dengan pandangan kesal. Woo Ri yang di beri tatapan itu hanya tersenyum lebar saja, gadis pemilik rambut hitam panjang itu masih senang menggoda salah satu temannya ini.

Keduanya memang berada di kelas yang berbeda, Hyo Na berada di kelas 2-B sedangkan Woo Ri berada di kelas 2-A namun mereka saling kenal karena berada pada salah satu klub, yaitu klub teater. Woo Ri memang mengikuti dua klub, sedangkan Hyo Na hanya fokus pada satu klub saja. Dan mereka cukup di kenal dekat karena sama-sama terkenal di klub teater karena bakat mereka sendiri.

“Kau memang mahir memainkan sebuah peran, Hyonnie! Tapi, ini sebuah kehidupan dan kau tak bisa berpura-pura,” ucap Woo Ri terdengar membuat Hyo Na memajukan bibirnya kesal. “Ck, jangan sangkut pautkan dengan klub teater, Woo Ri-ya!”

Dan Woo Ri tertawa mendengarnya langsung dari Hyo Na. Benar apa yang di katakan Woo Ri padanya, Hyo Na memang mahir menirukan dan memainkan sebuah peran hingga dia cukup terkenal di klub teater dan sekolahnya namun ketika di dalam kehidupan Hyo Na sendiri bahkan sulit hanya untuk menutupi rasa sukanya pada seseorang.

“Lalu apa yang kau tahu? Aku hanya seorang perempuan dan tak akan mungkin mengatakan hal itu lebih dulu… apalagi kau tahu aku…”

“Kau terlalu penakut!”

Hyo Na jadi menatapnya dengan lemas, lagi-lagi Woo Ri benar tentang dirinya sendiri. Woo Ri sungguh dapat membaca semuanya pada Hyo Na lalu dia hanya menepuk kedua tangan Hyo Na dan menggenggamnya, “Katakan padanya atau kau akan menyesal selamanya? Kau memilih yang mana, Hyonnie?”

“Tentu saja mengatakannya!”

Woo Ri tersenyum lembut, “Anak pintar!”

“Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri? Ku lihat, si Tuan Cho yang pintar itupun seperti mengincarmu?”

Woo Ri menatap datar kemudian wajah Hyo Na hingga gadis berambut sebahu itu hanya memberikan tatapan polos khasnya. Hembusan napas terdengar dari Woo Ri, entah mengapa itu yang membuat Hyo Na merasa khawatir melihatnya.

“Ck, kau pasti selalu membentak dan memarahinya, kan? Ah, Woo Ri, sudah berapa kali aku bilang untuk bersikap baik padanya?”

“Tak semudah itu, Hyonnie. Kau tahu, kan? Dia cukup memiliki penggemar tersendiri di sekolah, jika penggemarnya sampai tahu aku berhasil dekat dengannya maka akan banyak orang-orang yang mulai mengusikku dan aku tak suka itu!”

Hyo Na tiba-tiba saja memukul dahi Woo Ri dan membuat gadis berambut panjang itu menatapnya kesal karena tak mengerti akan halnya. “Kau bodoh! Kau, kan, memang sebenarnya sudah terbiasa kalau banyak yang mengusikmu? Apalagi kau terkenal dengan… uhm, sebutan Gadis Beringas?”

Dan Woo Ri memberikan tatapan tajamnya pada Hyo Na yang sudah terlihat tertawa kecil karena sebutan yang di katakannya. Woo Ri memang tak memungkiri lagi, dirinya memang di kenal baik di sekolah namun karena wataknya yang terlalu galak jika tengah marah itu berdampak baik untuknya yang kalau di usik akan selalu bisa melawan. Berbeda jauh dengan Hyo Na yang terlalu ramah hingga kalau di usikpun dia akan merasa kesulitan karena tak bisa melawan.

“Aku yakin penggemarnya tak akan mengusikmu, Woo Ri! Kau kuat… dan kau galak!”

Dan Hyo Na kembali lagi meledeknya membuat Woo Ri jadi tertawa akhirnya hingga dia hanya mengacak-acak rambut milik Hyo Na dan membuat gadis itu juga merasa kesal akhirnya.

“Lalu kapan kau akan mengatakan perasaanmu itu?”

Woo Ri tersentak namun kemudian dia memilih menggedikan bahunya tak tahu dan membuat Hyo Na memukul bahunya dengan keras. “Ck, lambat sekali? Bukannya kau juga bilang padaku untuk segera mengatakannya? Lalu kenapa kau?”

“Uhm, biarkan sajalah, Hyonnie! Nanti juga kisahku akan berakhir,” ucapnya kemudian dan membuat Hyo Na mendengus. “Ck, menyebalkan! Kenapa denganku kau menyuruh untuk segera dan untukmu hanya menunggu?”

“Jalan kisah kita berbeda, Hyonnie. Mengertilah nanti kau akan tahu jawabannya kalau semua sudah selesai,” ucap Woo Ri dan membuat Hyo Na yang menatapnya jadi menggedikan bahu kecil.

“Kau memilih mengatakannya agar tak menyesalinya… namun apa momennya sudah tepat?”

Berjalan bersama di antara rintik hujan dengan payung yang menjadi tempat berlindung. Hyo Na terlihat memegangi gagang payung untuk Dong Hae yang hanya memilih diam atau sebenarnya kedua orang itulah yang hanya memilih untuk saling diam.

Tak ada pembicaraan yang berarti di antara keduanya, hanya ada suara rintik yang beradu pada permukaan payung dan pijakan mereka yang beradu dengan genangan air. Hingga tanpa di sadari mereka sudah sampai di tempat parkir dan tiba-tiba saja Hyo Na merasa telah membuang waktunya saat ini, “Uhm, sampai sini saja, Hyonnie,” suara Dong Hae terdengar membangunkan membuat dia mendongakan kepala dan mengangguk kecil.

Dong Hae terlihat merogoh saku celananya lalu mengerluarkan kunci motor miliknya. Hyo Na hanya menatapi dia dari samping sambil memberikan payung itu padanya, dia tak berniat setitik air akan menjamah Dong Hae. “Uhm, mungkin aku bisa saja mengantarmu pulang, tapi ku pikir kita akan sama-sama terkena basah nanti,” Dong Hae bersuara lagi dan kini sudah tak di lindungi payung.

“Uhm, Dong Hae-ah?”

Dong Hae yang bahkan sudah terlihat basah dan mau tak mau Hyo Na menyodorkan payungnya begitu saja hingga membuat dirinya basah. Dong Hae yang melihatnya malah menarik lengan Hyo Na agar mendekat supaya dia tak kebasahan juga. “Kau sudah kelelahan karena hukuman tadi, jadi jangan membuat dirimu sakit lagi! Kau mengerti, Hyonnie?” Hyo Na menganggukan kepala saja.

“Kalau begitu pulanglah dan… sampai jumpa besok!”

“Tunggu Dong Hae-ah!”

Dong Hae baru akan menjalankan motornya namun dia langsung mematikannya dan Hyo Na kembali mendekat dengan payung yang ada di tangannya. Gugup mulai menerkam Hyo Na, lagi-lagi percakapannya di ruangan kesehatan bersama Woo Ri terngiang jelas di kepalanya. Dong Hae masih menunggu hingga dia terdengar bergumam hanya untuk membangunkan Hyo Na dari lamunannya, “Ada apa lagi?”

“Uhm… maafkan aku!”

Dan Dong Hae tiba-tiba saja terheran mendengar Hyo Na yang meminta maaf padanya sambil membungkukan badannya. “Maafkan aku, harusnya aku melihat kondisi saat ini, Dong Hae-ya. Tapi, ini terlalu menggangguku!?”

“Mengganggumu? Memangnya apa yang mengganggumu?”

Dong Hae sedikit terheran namun ketika Hyo Na kembali menegakan tubuhnya lagi kini dia dapat melihat jelas bagaimana semburatan merah sudah ada di kedua pipi Hyo Na hingga dia saja hanya membulatkan matanya tak percaya. Lalu dengan tak terkontrol malah menyentuh salah satu bagian pipi itu, “Kau sedikit demam sepertinya, ya? Apa…”

“Aku menyukaimu Dong Hae-ah!”

“Eh?!”

Dan belum sempat Dong Hae mulai berkata Hyo Na langsung saja melesat mengecup sebelah pipi basah milik Dong Hae dan berlalu dari hadapan pria itu. Bahkan Hyo Na tak sempat melihat bagaimana wajah Dong Hae yang bersemu dan tersenyum kecil, “Hm, sebenarnya aku sudah tahu sejak dulu, Hyonnie!” ucapnya kemudian lalu tersenyum dan menjalankan kendaraannya agar cepat pulang.

“Bagaimanapun juga nanti malam aku akan berkunjung ke rumahnya untuk memberitahukan padanya tentang apa yang aku rasakan juga!” ucapnya dalam hati.

“Mungkin inilah yang akhirnya membuatku merasa bodoh… aku menemuinya yang sudah jauh… lalu semua menjadi terjelaskan begitu saja…”

“Oh, Choi Woo Ri? Hm, ada apa ke sini?”

Woo Ri hanya meringis kecil sambil memberikan sebuah payung milik Kyu Hyun pada seorang kakaknya, Cho Ah Ra.

“Apa Kyu Hyun ada di rumahnya sekarang ini?”

Ah Ra menganggukan kepalanya dengan senyuman hangat lalu Woo Ri ikut mengangguk juga. Ah Ra membuka lebar pintunya membuat Woo Ri menatapnya dengan heran, “Masuklah ke dalam! Ku pikir, dia agak demam setelah pulang ke hujanan tadi, Woo Ri-ya,” Woo Ri yang mendengarnya hanya meringis kecil dan membungkuk pelan, “Maafkan aku karena membuatnya seperti itu, eonni,” dan Ah Ra yang mendengarnya hanya tertawa kecil.

“Ck, tidak apa-apa! Masuklah ke dalam dan temui Kyu Hyun!”

Dan Woo Ri sudah tak bisa menolak ajakan itu karena Ah Ra sudah menuntunnya untuk berjalan bersama menuju kamar Kyu Hyun, mungkin. Kyu Hyun memang tengah di kamarnya, mungkin beristirahat setelah meminum obat dan sekarang dia tengah bermain dengan benda kesayangannya, yaitu psp.

Pintu terbuka dengan Ah Ra yang mengintip Kyu Hyun yang tak sadar sama sekali hingga dia masuk ke dalam dengan Woo Ri yang ada di sampingnya. “Bukannya dia tengah sakit, eonni?”

“Dia hanya berpura-pura ternyata.”

Dan Kyu Hyun terkejut ketika mendengar suara-suara itu hingga matanya menangkap sosok kakak perempuannya yang sudah tertawa dan Woo Ri yang menatapnya dengan pandangan datar dan tak berminat. Pspnya dia jauhkan dan dia tarik selimut tebal yang ada di dekatnya, “Aku sungguh sakit, noona! Dan itu juga gara-gara gadis bodoh yang ada di sampingmu!”

“Ck, kau yang bodoh! Rumah kita berdekatan tetapi kau bukannya berbagi payung malah hanya memberikan kepadanya saja?”

“Tapi noona…”

“Ck, berhentilah berbicara lagi Kyunnie!”

Woo Ri hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua saudara itu bertengkar. Faktanya memang benar telah di ucapkan Ah Ra, rumah keluarga Choi dan Cho itu memang berdekatan hanya sebatas dua rumah barulah dapat di temukan rumah Choi dan Kyu Hyun dengan bodohnya hanya memberikan payungnya pada Woo Ri dan membiarkan dirinya sakit.

“Aku tinggalkan Kyunnie bersamamu dulu, aku kebelakang ingin membuatkan minuman hangat untukmu, Woo Ri,” Woo Ri akan menolak namun Ah Ra bersikap keras dengan tersenyum lembut dan langsung meninggalkan tempatnya.

Kyu Hyun sudah terduduk lagi di tempat tidurnya lalu meraih psp yang sempat dia jauhkan untuk dia mainkan. Woo Ri menangkap hal itu di matanya hingga dia kesal dan menarik benda itu dari tangannya, “Kenapa kau mengambilnya?”

“Kau sedang sakit, bodoh!”

Kyu Hyun tak berniat membalas hingga hanya di tatapnya Woo Ri yang juga menatap ke arahnya dengan tatapan tajam. Dan, sungguh Kyu Hyun tak tahan di tatapi gadis itu hingga dia hanya membuang pandangannya ke arah lain dan mendengus kecil.

“Uhm, terimakasih untuk payungmu tadi, Kyu Hyun,” ucapan Woo Ri terdengar pelan dan membuat Kyu Hyun merasa tertarik hingga dia mengulum seringainya. “Kau tidak merasa bersalah padaku, eh?” Woo Ri hampir saja terpancing emosi akan kalimat milik Kyu Hyun hingga dia yang tadinya mencoba bersikap lembut harus menahan kepalan tangannya dan kembali memasang wajah tersenyum yang di buat-buat.

“Kau tidak boleh marah, Woo Ri! Kau tahu? Aku sedang sakit dan itu karena kau!”

“Ya, ya, ya, aku tahu Kyu Hyun! Maafkan aku karena telah membuatmu sakit seperti ini,” ucapan Woo Ri terdengar lembut yang di buat-buat hingga mengundang suara tawa dari Kyu Hyun.

Woo Ri jadi serba salah saat ini, sebenarnya niat dia ke sini hanya mengembalikan payung Kyu Hyun. Namun bertemu dengan Ah Ra adalah hal yang tak terduga apalagi ketika kakak Kyu Hyun yang baik itu dengan ramah menyuruhnya untuk berkunjung dan mengatakan padanya kalau Kyu Hyun tengah sakit. Dan Woo Ri tiba-tiba saja merasa bersalah juga karena yang dia ingat saat Kyu Hyun memberikannya payung pria itu langsung saja berlari pulang.

“Kau benar-benar merasa bersalah hingga menunjukan wajah penuh penyesalanmu? Hm, Choi Woo Ri, demam tak akan membuatku lemah. Aku bisa sem…”

“Bodoh!”

Woo Ri bahkan sudah memasukan perasaannya saat ini hingga Kyu Hyun yang di tatapinya hanya mengernyit heran lalu merasa kalau Woo Ri tengah mengajaknya untuk serius. Woo Ri pun tak mampu mengontrol dirinya sendiri hingga dia hanya menarik napas dan membuangnya perlahan, “Bodoh! Kau bodoh, ya? Aku mengkhawatirkanmu, Cho Kyu Hyun!”

Satu tarikan di sudut bibir Kyu Hyun terbentuk, dia sudah tahu jika ini yang akan di katakan oleh gadis yang ada di depannya. Namun dia memilih bungkam untuk melihat bagaimana sisi lain dari Woo Ri yang sudah keluar, sebuah kejujuran yang sangat sulit di jelaskan gadis itu padanya.

“Kau tahu? Aku sudah cukup untuk melupakanmu tapi aku tak bisa! Aku terlalu mengkhawatirkanmu! Kau… kau…”

“Aku mengerti, Woo Ri-ya!”

Woo Ri membulatkan matanya menatap tak percaya pada Kyu Hyun di depannya yang sudah menampilkan wajah penuh senyuman, tak ada seringaian seperti biasanya. Kepalanya mengangguk begitu saja lalu dia bangkit hanya untuk berdiri berhadapan dengan Woo Ri agar dapat mengusap rambut gadis itu dengan lembut, “Aku mengerti semuanya, Woo Ri-ya! Hm, tak perlu berbicara lagi! Aku sangat mengerti!”

Dan Woo Ri menjadi diam saat tubuh Kyu Hyun yang demam mendekapnya dengan erat dan memberikan beberapa kali kecupan pada rambutnya. “Aku tahu semua yang kau lakukan karena kau terlalu menyukaiku,” ucap Kyu Hyun kemudian dan Woo Ri terlihat membalas pelukan tersebut.

“Dan akhir dari setiap momen yang sudah terjelaskan. Lagi-lagi, ini hanya masalah waktu dan bagaimana cara kau menjelaskannya. Ketika kau bisa kenapa kau harus menahannya? Dan kalau sudah terjelaskan biarlah cinta mulai menuntunmu dan mulai memberikan kebahagiaan di setiap harimu…”

.

.

.

.

END

Hayoooo~ siapa yang kemarin pada minta sequel? >.< hahahahah~ yah, walau ga di minati sekali~ tapi, akhirnya Rien usahakan membuat sequel lhoooo~ hahahahah~

HyoHae dan KyuRi… Ada yang minat ingin memberikan respon untuk kedua couple ini? Rien ambil vote deh karena Rien punya ‘sedikit’ rencana untuk membuat salah satu couple menjadi oneshoot~~ hayooooo~ ada yang minat? Kalo ada langsung vote di kolom komentar dan doakan Rien supaya dapat ide bagus, yaaaahhh~!? ^^

Bagaimana dengan dua couple pada satu ff ini? Apa ini terlihat membosankan atau apa? Rien butuh masukannya, yaaaah~!!! ^^ Oh, iya~ ini masih drable lhooo~ >.< dan maaf tidak terjelaskan sama sekali di setiap narasi karena Rien hanya ingin menceritakan beberapa potongan dan bagian dialognya saja, ya~

Dan terimakasih untuk yang sudah baca dan memberikan komentar~ ah, iya, yang belum baca ff Just Moment sok atuh baca dulu biar mengerti bagaimana jalan cerita absurd ini~?!😄 ehehehehe~

Dan terakhir, Rien tunggu reviewnya, yaaaa~!!! ^^

2 Comments (+add yours?)

  1. meynininx90
    Oct 11, 2015 @ 16:01:16

    Daebak…..plih kyuRi kax….hehehe
    Yg lge jujur ma prsNny

    Reply

  2. esakodok
    Oct 12, 2015 @ 10:24:10

    hahahaha..akhirnya wwory megeluarkan semua perasaanya..jd ikut lega

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: