[Eunhyuk’s Day] The Stranger Next Door (Eunhyuk’s Version)

Cover The stranger next door (Eunhyuk)

Title : The Stranger Next Door (A Fifteenth Member)

Author : Zeya Kim

Cast : Eunhyuk | Shin Eunhyang (OC) | other Super Junior’s member

Genre : AU, friendship, comedy, romance

Length : Oneshoot

Rating : PG-15

Disclaimer : I only own the plot and OC. No money making here. Made for entertainment purposes only.

A/N : FF ini sudah pernah dipublikasikan di blog pribadi saya www.lonelyzeya.wordpress.com dengan beberapa penyuntingan. So, enjoy ^^

 

© 2015 by Zeya Kim

 

*

Perempuan adalah makhluk paling rumit di dunia—salah satu fakta yang berhasil kutemukan setelah bertahun-tahun hidup bertetangga dengannya. Gadis itu, Shin Eunhyang, yang membantuku menemukan fakta itu. Fakta lain yang cukup mencengangkan bagiku adalah mengetahui bahwa karakter “rumit” dan “aneh” bisa berkombinasi demikian hebatnya dan bersemayam di dalam satu tubuh. Gadis itu, Shin Eunhyang, yang juga membantuku menemukan fakta (lain) itu.

Bagaimana, ya…. Sulit juga menampik kenyataan tersebut jika kau sudah mengenalnya. Dia satu-satunya penghuni lantai 11 apartemen ini sebelum kepindahan Super Junior ke Star City. Awalnya dia adalah tipe orang yang tidak akan pernah memulai pembicaraan dengan orang yang baru dikenal. Tapi jika ada satu kriteria dari dirimu yang bisa membuatnya merasa nyaman, dia akan bertransformasi menjadi orang yang berbeda, yang bisa membuatmu mengelus dada sampai geleng-geleng kepala. Menghadapinya mungkin sama repotnya dengan menghadapi Heechul hyung dan Yesung hyung.

Perlu bukti?

Biar kutunjukkan.

*

“Eunhyang-ah, kau di dalam?” Aku bertanya dari luar pintu apartemennya. Pertanyaan retoris, karena dia sudah mengonfirmasinya di chat Line barusan. Tapi sudah hampir tiga menit aku berdiri di sini, bertanya sambil menekan bel dengan irama yang sama. Sayangnya pintu tak juga dibuka—atau minimal menyambutku dengan sahutan dari dalam. Kalau sudah begini, tak perlu diragukan lagi, dia pasti sedang-melakukan-ritual-entah-apa. Biasanya, sih hal-hal absurd yang tidak pernah dilakukan manusia normal.

Geurae, Eunhyuk oppa-mu yang tampan ini akan masuk!” Aku menekan beberapa digit sandi dan pintu pun terbuka. Jangan menghakimiku sebagai tetangga tidak sopan, ya (Heechul hyung bahkan lebih parah—tidak mengetuk pintu dan langsung menerobos masuk begitu saja). Gadis ini sendiri yang mengatakan jika kami menekan bel pintu dan tidak memberi respon lebih dari tiga menit padahal sudah dipastikan dia ada di dalam, kami boleh masuk.

Aku memanggilnya sekali lagi sambil berjalan menuju ruang tengah. Dan pemandangan tidak normal itu menyambutku (Ha! Aku benar, kan). Jika orang yang pertama kali melihatnya pasti akan menjerit kaget, atau paling tidak membelalak tanpa suara kemudian lari terbirit-birit. Tapi aku—kami—menganggap hal ini adalah hal yang paling wajar dilakukan makhluk semacam Shin Eunhyang ini (atau dia satu-satunya yang ada di bumi?).

“Eunhyangie, mwohae?”

Dia diam selama beberapa detik, kemudian menjawab lirih. “Membenahi … sesuatu….”

Ya, ya…. Yang dia sebut “membenahi sesuatu” adalah kegiatan berbaring dengan posisi terbalik di atas sofa. Pandangan matanya melayang menatap langit-langit. Kakinya menjuntai ke belakang punggung sofa. Rambutnya yang dikuncir sebelah menggantung hampir menyentuh lantai karpet. Dia masih menggunakan piama Spongebob kebanggaannya, dan kaus kaki garis-garis biru-putih pemberian Kyuhyun. Kertas-kertas bertebaran di atas meja sampai ke lantai. Laptopnya teronggok begitu saja, memunculkan screensaver dengan tulisan “LACKED” yang bergerak-gerak.

Aku menghela napas. Pemandangan ini sudah terlalu biasa kulihat jika dia sedang mengalami Writer’s Block kronis. Atau ketika dia sedang menulis tema kriminal.

Tak ingin terlalu ambil pusing, aku melenggang santai menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil beberapa kaleng bir titipan, kembali berbalik lalu mengamatinya sebentar sebelum keluar. Ah, aku bahkan tidak mampu hanya sekedar berdecak dan geleng-geleng kepala sambil mengomelinya. Yang jelas, aku akan bertanya tentang apa yang sedang mengusik pikirannya. Nanti. Jika dia sudah memutuskan untuk keluar sementara dari dunianya.

*

Yeah, dia memiliki dunia 4 dimensi, yang orang anggap sebagai sebuah kelangkaan di muka bumi. Aku pernah mencoba memasukinya. Setelah itu, aku mendapati diriku tersesat di dalamnya. Entahlah, segalanya serba rumit. Tidak ada kesederhanaan. Pemikirannya terlalu dalam. Pelik. Absurd. Sekeras apapun aku mencoba untuk memahami, aku tetap tidak mengerti. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk tidak terlibat lagi. Aku hanya bisa menerima itu, mengamatinya dari kejauhan, lalu menikmatinya diam-diam.

Hubungan kami cukup dekat (yeah, kami yang aku maksud di sini adalah dia dan para anggota Super Junior). Dia adalah yang pertama kami cari ketika kami membutuhkan “tempat sampah”, karena dia adalah pendengar yang baik. Jika salah satu member sedang kesal dengan member lainnya, gadis itu akan menjadi pendengar pertama sebelum member yang bersangkutan menyelesaikan perkara mereka.

Kurasa dia yang paling banyak menaruh rahasia kami, individu maupun grup. Jika kalian pernah mendengar tentang pertengkaran yang sering terjadi antara kami dibahas dalam acara televisi (ataupun pertengkaran dahsyat yang tak diketahui publik), maka gadis itu adalah satu-satunya orang di luar anggota yang menjadi saksi bisunya. Benar-benar saksi bisu. Karena dia hanya akan berubah wujud menjadi arca, menontonnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu pergi diam-diam. Dan ketika kami ingin meminta maaf atas kejadian yang tidak seharusnya dia lihat, dia akan dengan santai bersikap seolah tidak mendengarnya.

Gadis itu benar-benar mengerti cara menyimpan rahasia. Rahasia kami akan selalu aman di tangannya (kalaupun ada mulut ember yang membocorkannya, itu adalah Kangin hyung!).

Dia juga satu-satunya saksi hidup dan matiku, rahasia tentang kotoran hidung yang sengaja kutempelkan di bawah tempat tidur Kyuhyun saat aku sedang kesal setengah mati karena mulut pedasnya. Walaupun gadis itu akan memanfaatkan hal ini sebagai ancaman demi memuaskan hasratnya (seperti meminta foto dan tanda-tangan Changmin saat di belakang panggung, tiket gratis Super Show dan konser SHINEe, atau hal-hal yang agak remeh seperti minta traktir jajangmyeon), entah mengapa, aku akan dengan sukarela melakukannya, walaupun 1000% aku yakin dia tidak akan pernah membocorkannya meski aku tidak melakukan apa yang dia inginkan.

Apartemennya juga menjadi tempat pertama sebagai tempat penitipan barang kami. Kyuhyun dan aku biasa menitip beberapa kaleng bir di kulkasnya. Ryeowook biasa menitip paket yang datang dari rumahnya, atau beberapa makanan yang membutuhkan tempat yang lebih luas, atau alat-alat kosmetik yang dibeli secara online. Hadiah-hadiah dari penggemar yang tidak cukup ditaruh di tempat kami juga akan singgah sementara di apartemennya sebelum kami bawa pulang ke rumah kami masing-masing. Sebenarnya bisa saja kami menitipkannya di lantai atas, di tempat tinggal Leeteuk hyung, Heechul hyung dan Donghae. Tapi kami terlalu malas naik turun. Lagipula gadis itu tidak pernah menolak, tidak pernah protes, tidak pernah berniat mengambil keuntungan apapun. Seharusnya itu menjadi keuntungan bagi kami. Yeah, seharusnya. Tapi terkadang aku kasihan juga padanya.

Karena sikapnya yang tidak menyukai konfrontasi dan selalu berlapang dada itu menjadi lahan empuk bagi Heechul hyung, Kyuhyun, dan Ryeowook dalam melancarkan aksi penindasan.

Mereka adalah partner terbaik dalam hal menindas Eunhyang (seringnya, sih verbal bullying), bahkan terkadang Ryeowook yang paling sadis melakukannya. Tapi pada kenyataannya, ketiga iblis itu yang paling menyayanginya. Karena Heechul hyung tak pernah berpikir lama untuk merogoh dompet dua kali lebih banyak demi membelikan gadis itu ayam goreng, ketimbang kami, adik-adiknya. Ryeowook yang paling sering membuatkan puding cokelat kesukaan gadis itu, atau apapun masakan yang enak-enak. Dan Kyuhyun yang tidak pernah lupa menghadiahinya barang-barang lucu (meskipun gratisan, sih). Bagiku itu cukup melegakan, dan agak menakjubkan. Karena gadis itu bisa membuat ketiga makhluk semprul itu memunculkan sisi lain dari diri mereka ketika memperlakukan perempuan.

Tapi, sekejam apapun trio iblis itu, mereka tetap masuk ke dalam lima besar member Super Junior yang tidak membuatnya merasa canggung. Aku nomor satu! Kemudian Ryeowook, Kyuhyun, Donghae, dan Heechul hyung yang terakhir (yang paling tua tetap harus yang paling dihormati, begitu katanya, yang dibalas dengan jitakan kecil Heechul hyung di kepalanya saat kata “tua” tercetus). Jadi, kami tidak perlu terkejut satu sama lain ketika mendapati Ryeowook dan gadis itu tengah menonton drama malam-malam sambil ber-masker ria. Atau ketika suara gadis itu memekik nyaring karena kalah tanding bermain PS dengan Kyuhyun. Atau pemandangan seorang Lee Donghae dimarahi habis-habisan oleh gadis yang lebih muda darinya (yang justru terlihat seperti seorang ibu memarahi anaknya) setelah merusak kabel USB gadis itu. Termasuk suasana berisik piama party dua makhluk absurd berbeda gender (Heechul hyung bahkan tidak pernah ketinggalan mengajak Heebum bersamanya dan Leeteuk hyung akan kerepotan untuk menyeretnya pulang).

Meskipun hal-hal tersebut tidak membuat kalian terkejut, tapi cobalah untuk menahan kepala kalian agar tidak menggeleng prihatin.

*

Pernah di sebuah kesempatan yang amat sangat langka karena member sedang berkumpul bersama, Leeteuk hyung mengundang gadis itu untuk ikut mencicipi kue beras pastanya yang melegenda saat makan malam. Aku segera meneleponnya dengan mode loudspeaker. Tapi gadis itu tak lantas menerima ajakan kami.

“Ini tidak benar. Seorang dewi tidak cocok berada di tengah-tengah sarang iblis dengan alasan apapun.”

Kurang ajar, bukan?

Tentu saja itu hanya candaan. Tapi di luar dugaan, gadis itu benar-benar tidak datang. Jadi, dengan senang hati, kami yang datang ke tempatnya dan mengacaukan isi apartemennya. Kami makan bersama, tertawa bersama, mengobrol hal-hal random, berseloroh tidak penting (yang ini kelakukan Donghae), berteriak sok dramatis saat menanggapi cerita siapapun (Donghae lagi), dan juga melakukan kejahilan menyebalkan (ini Kyuhyun dan Ryeowook). Setelah kenyang dan situasi bergerak agak membosankan, kami bermain mok-jji-ppa untuk memutuskan siapa yang akan cuci piring dan beres-beres. Tim yang menang kembali bersenang-senang dengan bermain monopoli.

Gadis itu tampak menikmatinya, meskipun aku tahu, di beberapa momen dia pasti ingin menjerit-jerit tersiksa. Tapi yang keluar dari ekspresinya hanya senyuman memelas campur pasrah.

“Seharusnya kau menjadi manajer kami saja. Supaya bisa bersenang-senang lebih banyak dengan pria-pria tampan seperti kami,” celetuk Donghae. Tidak penting dan tidak bermutu.

“Ch, maaf saja, ya. Aku ini seorang penulis, bukan guru TK. Jika aku harus menghabiskan waktu untuk mengurus kalian, hidupku akan berakhir sebelum usiaku 30 tahun.” Jawaban yang mengundang seruan nyaring dari berbagai arah dan cubitan gemas dari berbagai tangan. Kasihan sekali. Pipi dan hidungnya jadi merah-merah.

“Dia lebih cocok jadi member ke-15 setelah ELF.” Leeteuk hyung berceloteh selagi mencuci piring. Gadis itu tertegun selama beberapa detik. Raut wajahnya seketika berubah.

“Itu sebuah kemewahan bagiku…,” lirihnya penuh haru.

*

Dia adalah seorang penulis. Jika kau menemukan mata panda, pipi cekung, dan salah satu lubang hidungnya tersumpal tisu, percayalah, itu berarti dia baru saja menulis seperti kesetanan. Kami bahkan pernah menemukannya duduk mengetik di tempat yang sama, posisi yang sama, baju yang sama, selama berhari-hari. Bukan karena dikejar deadline. Tapi dia sedang benar-benar masuk ke dalam dunianya. Rasanya aku ingin sekali menariknya keluar dari kerumitan isi kepalanya, hanya sekedar untuk memberinya kesempatan menarik udara segar.

“Aku hanya takut kau tersesat terlalu jauh. Dan kau tidak bisa kembali,” ucapku di sebuah kesempatan. Aku berusaha menegurnya yang sampai lupa makan, lupa tidur, dan yang terpenting lupa mandi.

“Kemana pun jalan yang kulalui, sekalipun aku tersesat, instingku selalu menemukan arah untuk kembali.”

Jawaban pamungkas yang tak mengobati kekhawatiranku.

Jujur saja, di antara belasan karya yang dia terbitkan, aku hanya mampu membaca salah satunya. Bukan berarti aku tidak suka, tapi bagaimanapun, komik adalah tetap yang terbaik! Tetap saja aku membeli semuanya, dan sampai sekarang masih terpajang apik di rak buku di rumahku. Aku berfoto bersama mereka, mengirimkan gambar itu padanya melalui kakaotalk, lalu berakhir dengan dia menraktirku makan jajangmyeon.

Hobi kami makan jajangmyeon. Jika aku sedang libur, atau ada beberapa jadwal yang longgar, atau sedang hampir mati kebosanan tapi malas untuk melakukan apapun, kami selalu menghabiskan waktu bersantai bersama dengan makan jajangmyeon melalui layanan pesan-antar langganan. Seringnya dia yang mentraktirku. Tapi ujung-ujugnya, dia akan tetap menganggap itu sebagai hutang.

*

Eunhyukkie :

Hai

Ubur-ubur manis :

Hai

Eunhyukkie :

Sedang apa?

Ubur-ubur manis :

Hmm… Hanya ini… dan itu…

Kau?

Eunhyukkie :

Tidur-tiduran di kasur

Ubur-ubur manis :

Ooh…

 

Satu detik

Sepuluh detik

Tiga puluh lima detik

Satu menit

Ooh?

Ooh?? Hanya itu?! Heol, gadis ini memang tidak bakat basa-basi!

Aku menendang guling hingga jatuh ke lantai—umpatan kecil tak berhasil kutahan. Jariku kembali mengetik chat dengan cepat.

 

Eunhyukkie :

Hari ini aku libur

Ubur-ubur manis :

Ooh~

Eunhyukkie :

Di dorm tidak ada orang

Ubur-ubur manis :

Hmm~

Eunhyukkie :

Mereka semua sibuk

Ubur-ubur manis :

Yeah~

Eunhyukkie :

Aku bosan

Ubur-ubur manis :

Tidur saja

Eunhyukkie :

Tidak bisa tidur

Ubur-ubur manis :

Nonton TV?

Eunhyukkie :

Malas

Ubur-ubur manis :

Ch…

Eunhyukkie :

Kenapa?

 

Read.

Tapi tidak ada balasan.

Eunhyukkie :

Ya~ kenapa tidak jawab?

Ya ya ya!

Ya~

Apa aku mengganggu?

 

Aku membanting ponsel ke samping sampai memantul-mantul di atas ranjang. Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan?

Tiga menit berlalu begitu saja. Tapi kenapa aku gelisah begini? Ada yang salah. Seharusnya aku menjadi makhluk paling bahagia jika tidak ada gadis itu. Aku bisa tidur seharian, bebas mengupil tanpa harus takut diadukan pada Kyuhyun dan Kangin hyung, main PS tanpa perlu mendengar jeritan sumbangnya tiap dia kalah tanding. Tapi—tapi dia menggantungku! Di saat jutaan gadis berharap mendapat balasan komentar di sosial media, dan dia salah satu yang beruntung bisa chatting denganku, tinggal di samping dormku, tapi malah mengabaikanku?

Heol, dasar seenak perut! Gadis ini memang paling ahli melakukannya. Tidak bisa dibiarkan lagi.

Baru saja aku mengambil ponselku kembali, notifikasi chat darinya berbunyi.

 

Ubur-ubur manis :

Oppa, kau masih punya hutang padaku

Bayar sekarang atau kucabuti bulu ketiakmu satu-satu!

 

Seketika itu senyumku terkembang lebar, dari telinga ke telinga. Kubalas chatnya tanpa ragu.

Eunhyukkie :

Jajangmyeon?

Ubur-ubur manis :

Call! =D

 

Aku melompat dari kasur, membuka lemari dan berjalan ke kamar mandi sambil bersenandung.

*

Jal meok geseumnida~”

Kami menyeruput jajangmyeon bersamaan. Suaranya saling beradu di ruang tengahnya yang nyaman ini. Kemudian dia menyalakan televisi. Kebetulan sekali, acara musik saat itu sedang menayangkan penampilan Devil-Super Junior.

“Astaga!”

Terkejut, aku hampir menjatuhkan sumpitku ketika tiba-tiba saja dia memekik. Gadis itu menghalau wajahnya dengan kedua tangan.

“Apa? Kenapa?” tanyaku panik.

“Kalian terlalu bersinar. Bagaimana ini?”

Euiii~ berani menggombal dia. Tapi tetap tak mampu membuatku menahan cengiran. “Kau benar-benar tahu cara bertahan hidup.”

Tawa renyahnya menggaung di udara. Selanjutnya kami membicarakan hal-hal ringan sambil makan. Sudah cukup lama aku tidak mengobrol dengannya seperti ini. Jadwalku sudah cukup padat untuk kegiatan konser dan comeback. Seluruh persendianku rasanya rontok. Mendapat libur satu hari di tengah jadwal ketat rasanya seperti menemukan harta karun rampasan Jepang pada Perang Dunia ke-2. Tapi entah mengapa bersantai seperti ini lebih mudah mengembalikan semangatku daripada harus tidur seharian.

Apa karena aku bisa melihat wajahnya dan mendengar suaranya?

“Kami mendapat kesempatan akting bersama gadis bule. Jangan cemburu, ya.”

“Uuhh, aku cemburu sekali pada gadis itu. Dia memiliki tubuh yang bagus dan mata yang cantik—tentu saja, dia kan model. Aku bahkan harus melakukan berbagai cara agar tubuhku tidak terlalu terlihat kurus,” keluhnya.

Hoho, itu salah satu kemiripan kami selain pemilik status “pecinta jajangmyeon sejati”. Kami tidak akan mudah gemuk sekalipun banyak makan. Satu-satunya keajaiban yang membuat Kyuhyun iri setengah mati.

Tapi, tunggu dulu. Kenapa dia malah cemburu karena bule itu punya tubuh bagus dan mata cantik? Bukannya karena kami menggoda gadis bule itu?

Ah, hatinya sudah terlanjur membatu kalau menyangkut urusan seperti ini. Dia bahkan tidak pernah menganggap kami sebagai pria.

“Lalu, siapa yang menurutmu paling tampan?”

“Leeteuk oppa, Yesung oppa, lalu … Donghae oppa? Oh iya, tolong katakan padanya untuk jangan menggunakan kacamata hitam lagi, atau dia bisa membunuh banyak gadis dengan pesonanya itu,” racaunya cepat.

“Jadi aku tidak termasuk?”

“Aku tidak suka model rambutmu.”

Aku mencibir. Dia tertawa.

Oppa kau marah? Hahaha…. Aku sudah pernah mengatakannya padamu. Bagiku, kau satu-satunya yang memiliki tempat berbeda di antara mereka.” Dia menepuk-nepuk pundakku. “Di semua kategori.”

“Apa itu pujian? Apa aku harus merasa bangga?” Aku mendengus. Terlanjur tidak berminat lagi dengan topik ini. Sedangkan dia terus menyeruput jajangmyeonnya sambil mengoceh.

Omo, omo, Siwonie oppa! Yaaa … dia benar-benar lambang kesempurnaan seorang pria. Awalnya aku tidak terlalu suka kulit gelapnya. Tapi ternyata seksi juga. Ya, Oppa, tidakkah kau kasihan padanya?”

“Maksudmu?”

“Hhhh.. Siwon oppa benar-benar tidak cocok berada di grup kalian. Dia terlalu sempurna, kau tahu. Tapi, selama sepuluh tahun kalian bergaul, kesempurnaannya ternoda gara-gara kalian. Kesehatan pikirannya itu—ck, aigoo, aku meragukan kewarasannya melihat postingan video di SNS-nya. Sungguh tidak tertolong. ”

“Anggap saja itu cara dia beradaptasi.”

Ch, dia terlalu menjiwai sampai tidak sadar sudah benar-benar menjadi gila. Haha…. Sepertinya tidak akan sembuh sampai dia menikah.”

“Menikah?”

“Ah, apa aku menyinggung hal yang sensitif? Sawry….” Dia mengucapkan “sorry” dengan logat sok bule ala Cheon Song Yi. Ryeowook juga sering melakukannya sampai membuatku geli. Mereka memang partner menonton drama yang sempurna.

Tapi bukan itu intinya. Melainkan topik menikah yang tak sengaja dia singgung, yang seharusnya menjadi hal tabu baginya.

“Tidak. Tentu saja tidak. Menikah adalah salah satu hal yang diimpikan semua orang. Menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai, membangun rumah tangga, memiliki anak yang lucu-lucu, bermain dan berlibur bersama, bukankah itu menyenangkan?”

“Tentu saja menyenangkan.” Dia terkekeh sinis. “Tapi bagi orang lain.”

Cepat-cepat aku menyeka bibir dengan tisu, lalu meminum air putih satu teguk. “Eunhyang-ah, kau … masih menganggap menikah dan berkeluarga adalah hal yang mengerikan? Tidak—kau tidak bisa mempertahankan doktrin itu selamanya.”

Ch, kau tahu apa.” Cengiran sinis itu semakin membuatku takut. Konsep pernikahan, atau memiliki komitmen khusus bersama seorang pria tidak pernah ada dalam kepalanya. Dia tidak pernah percaya pada pria. Meskipun hubungan kami tidak bisa hanya disebut sekedar sopan santun, tapi kami tetap tidak bisa lebih dari sekedar teman dekat. Dia memiliki benteng yang tak bisa ditembus dalam urusan percintaan.

Jadi, apa aku harus mengalah lagi? Selama ini aku selalu berusaha untuk bisa memasuki hatinya. Sayangnya, selalu berakhir dengan kegagalan. Aku tidak pernah bisa membangun kepercayaan diri yang lebih untuk mengubah pemikirannya.

Eoh, bagaimana persiapan wajib militermu? Kudengar kau akan ditempatkan sebagai tentara aktif?”

“Hm, begitulah.”

“Aku tidak sabar melihatmu memakai seragam tentara itu. Kau pasti akan sangat keren!”

“Tentu saja.”

“Jadi, apa kau akan datang menyelamatkanku kalau suatu saat aku diculik?”

Aku tertawa. “Memangnya kau anak Presiden sampai harus diselamatkan tentara militer? Lagipula … penculik itu mungkin hanya iseng saat menangkapmu. Tidak ada yang perlu dicemaskan.”

“Kalau aku tenggelam di sungai, kau akan datang?”

“Bukankah kau punya selaput di kakimu? Gunakan saja itu untuk menyelamatkan diri.”

“Sial! Memangnya aku bebek?” gerutunya. “Lalu, kalau aku dirampok atau sesuatu semacam itu, kau akan muncul menyelamatkanku dan menghajar pelakunya sampai babak belur?”

“Perampok itu pasti bodoh karena berpikir untuk merampokmu. Wajahmu itu … terlihat kau tidak memiliki apapun yang layak dicuri.”

Oppa, mau kuberitahu sesuatu?”

“Apa?”

“Kau kurang ajar! Aigoo, bagaimana masyarakat bisa merasa aman kalau begitu? Kedamaian di muka bumi ini akan terancam.”

Aku tertawa geli mendengar gerutuannya. Ponselnya berbunyi ketika aku berhasil menelan suapan terakhir. Dia membelalak antusias saat melihat layarnya. Kemudian menerima panggilan itu dengan sapaan aegyo.

Yoboseyong~ Oppa?”

EOH, EUNHYANGIE!”

Aku memutar bola mata. Itu suara Ryeowook, aku bisa mendengarnya, tentu saja, dengan tipe suara seperti itu dia bisa menciptakan intensitas bunyi ratusan desibel, hampir setara dengan suara pesawat jet atau halilintar. Apalagi jika mereka berdua mengobrol. Desibelnya akan bertambah hingga setara dengan suara roket.

Oh, aku punya firasat buruk sebentar lagi.

JINJJA??!! HARI INI BARANGNYA DATANG??!!”

Ah, tolong selamatkan telingaku, Tuhan….

Ng, araseoyong~ gomawoyo, Oppa…. Mumumu….”

Aku menghela napas sambil geleng-geleng kepala, merasa prihatin jika mereka sudah bertingkah seperti itu. Seharusnya aku sudah terbiasa dengan hal ini. Tapi tetap saja melihatnya langsung bisa memicu timbulnya sakit perut dan mual-mual.

“Kenapa? Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Aku dan Ryeowook oppa patungan memesan alat pijat praktis dan minimalis, bonus bantal leher. Aku butuh alat pijatnya, dia butuh bantal lehernya—oh, ada gambar jerapah di sana!” Dia terkekeh riang.

“Simbiosis mutualisme yang menarik.” Aku ikut terkekeh geli.

Tidak banyak percakapan setelah itu. Aku terlalu sibuk memperhatikannya menghabiskan makanannya, mengganggunya saat membereskan dapur, bersantai di sofa selagi dia membersihkan karpet dengan vacuum cleaner, atau membantunya memberi makan Boo gi—si ubur-ubur mungil peliharaannya.

“Sepertinya kau yang akan paling kurindukan saat wajib militer nanti.”

“Aku akan sering mengunjungimu. Jangan khawatir.”

“Jangan pernah datang dengan tangan kosong! Call?”

Call!”

Dan tawa kami pun menyatu di udara.

 

FIN

 

2 Comments (+add yours?)

  1. cixiii
    Oct 13, 2015 @ 22:36:49

    aih berasa jadi eunhyang. manis dan ringan keep writing🙂 apa masih ada lanjutannya?

    Reply

    • Zeya Kim
      Oct 14, 2015 @ 11:30:09

      Humm, ini ga ada kelanjutannya sih kkk~ Tp aku bikin beberapa versi, utk Donghae dan Siwon🙂
      Makasih yaa udh baca n komen ^^

      Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: