[Eunhyuk’s Day] Pseudo Romance

PSEUDO-ROMANCE2

PSEUDO ROMANCE

Judul                          : Pseudo Romance

Author                        : @izzEvil

Main Cast                  : Lee Hyukjae (Eunhyuk), Kim Hyuri (OC)

Genre                         : Romance, Friendship, Sad.

Rating                         : PG-15

Lenght                         : Oneshot

A/N                             :

Mohon maklum dengan typo yang ada.
FF ini pernah diposting di blog pribadi aku https://gameizzeyong.wordpress.com/

***

Ini berawal dari halusinasi.

Lee Hyukjae tahu dia tidak bisa memutar kembali waktu. Dia hanya bisa berharap dan berdoa.

Menyakiti perasaan seorang wanita adalah hal yang paling dia hindari, dia bersumpah tidak akan pernah melakukan hal tersebut kepada wanita mana pun. Dia tahu karena dia juga memiliki seorang ibu dan kakak perempuan, dia tidak ingin dua orang paling berharga dalam hidupnya itu tersakiti.

Ketika dua wanita itu pergi meninggalkannya dan tidak mungkin bisa kembali, hanya ada satu wanita yang mengisi hari-hari kosongnya. Wanita yang selalu dikaguminya, wanita yang membuatnya kembali bisa merasakan kasih sayang dan cinta. Dia merasa dicintai, dia merasakan cinta, dan dia berjanji akan menjaga wanita ini baik-baik.

Namun Hyukjae tidak punya pilihan lain kali ini.

Dia harus melepas Hyuri, meskipun secara terpaksa.

***

Hujan lebat tidak menghentikan Hyukjae dari kebiasaannya berdiri tanpa tujuan di sebuah tempat pemberhentian bus.

Tempat itu adalah tempat favoritnya bersama Ibu dan Sora, dua wanita terpenting dalam hidupnya. Sepeninggal Ibu dan Sora dalam sebuah kecelakaan bus, pria itu selalu datang ke sana setiap sore tepat pukul 3. Di sana banyak sekali kenangan yang tidak bisa dia lupakan, salah satunya adalah mengantar Sora ke kafe dan Ibu ke toko kue, tempat keduanya bekerja. Maka setiap harinya, di jam yang sama, dia akan pergi ke sana dan berdiri bersandar di tiang penyangga lampu kota selama dua jam. Merenung dan mengenang, lalu pulang dengan wajah berderai air mata.

Cengeng.

Memang, dia adalah pria yang cengeng.

Hanya saja hari ini berbeda, sedikit di luar harapan Hyukjae. Tidak pernah terbayang olehnya bahwa hari-hari seperti ini akan datang. Suara tawa mengejek seorang wanita mengalihkan perhatiannya, membuyarkan konsentrasinya. Bahkan membuatnya penasaran.

“Kau tahu, ada beberapa daun kering yang menyangkut pada rambutmu.” Wanita itu berujar sambil memperhatikan Hyukjae dari atas sampai bawah, masih terkekeh geli seraya menutupi mulutnya dengan telapak tangan.

Hyukjae mengerling dirinya sendiri sebelum akhirnya menatap nanar wanita aneh yang memandanginya dengan tampak geli itu. Wanita muda itu sama sekali kering, sementara dirinya basah kuyup oleh hujan. Tentu saja karena aku berdiri di bawah tiang lampu, sementara dia di bawah naungan pemberhentian bus. Pikir Hyukjae, sedikit kesal ditertawai seperti itu.

Mengernyit pada dirinya sendiri, Hyukjae heran. Ini adalah kali pertama dia merasakan perasaan lain, selain sedih, selama beberapa minggu sejak kematian Ibu dan kakak perempuannya. Perasaan kesal, ya, kalau dia tidak salah memastikan.

“Apakah kau baru saja menertawaiku?” Hyukjae menemukan dirinya bertanya pada wanita itu. Itu juga membuatnya heran. Hebat, ternyata aku masih mampu berbicara. Dia berkomentar sinis dalam hati.

Wanita itu mengangguk, kegelian masih menyentuh bibirnya.

“Apa yang kau lakukan di tengah hujan deras seperti ini? Kau bisa sakit.” Wanita itu menarik lengan Hyukjae supaya mereka sama-sama berdiri di bawah naungan. Itu membuat Hyukjae mengernyit lagi. “Sini, biar kubantu.”

“Apa yang kau—”

Sebelum Hyukjae sempat menyelesaikan perkataannya, wanita itu sudah berjinjit di hadapannya kemudian meraih dedaunan yang menempel di rambut pria itu.

“Tenanglah, aku hanya berniat mengambil ini.” Dia menunjukkan tiga helai daun kering di depan wajah Hyukjae. Pria itu hanya memandangi daun itu tanpa ekspresi. “Kau tidak akan berterima kasih padaku?” Tuntutnya penuh jenaka, sebuah senyum merekah dan tak pernah hilang dari bibir mungilnya.

“Aneh,” Hyukjae menyeletuk pelan. Segera setelah kata itu keluar, dia langsung menyesalinya. Dia takut kalau wanita ini akan marah.

Di luar dugaan, wanita itu malah tertawa. “Baiklah, kurasa itu adalah salah satu caramu untuk berterima kasih. Sama-sama, Tuan…”

Tanpa pikir panjang, dengan herannya Hyukjae memberitahu wanita itu. “Lee Hyukjae.”

“Kau itu lucu, kau tahu, Tuan Lee Hyukjae?” Dia terkekeh lagi. “Ah, busku sudah datang.”

Tepat saat itu, sebuah bus berhenti. Wanita itu segera berlari ke arah bus, tapi berhenti sebentar seraya berbalik menatap Hyukjae. Tersenyum, dia berkata. “Omong-omong namaku Kim Hyuri. Sampai jumpa lain kali, Hyukjae Oppa!”

Jantungnya berdegup tak terkendali, seperti genderang. Tiba-tiba saja bibirnya merekah membentuk sebuah senyum lebar, Hyukjae berharap dia bisa bertemu lagi dengan si Aneh Kim Hyuri.

Karena kalau tidak, dia bisa gila. Atau mungkin dia memang sudah gila?

***

“Kau memang selalu ada di sini atau sengaja menemuiku?” Tanya Hyuri blak-blakan, membuat Hyukjae menganga tanpa sadar. Pria itu hampir tidak percaya bahwa seorang wanita bisa terus terang seperti ini di hadapan seorang pria yang baru sekali bertemu.

“Dua-duanya.” Hyukjae merespon apa adanya.

“Baiklah,” Hyuri menghela nafas dalam-dalam, dia tersenyum lagi. “aku menyimpulkan bahwa kau menyukaiku.”

Hyukjae berdiri kaku dan tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya dia mengangguk. “Ya.”

Kali ini senyuman Hyuri lebih lebar. “Kurasa aku juga menyukaimu.” Itu adalah pernyataan yang sangat berani dari seorang wanita, tapi Hyukjae malah lebih tertarik dari sebelumnya. Hanya saja, dia masih belum bisa menanggapi pernyataan itu dengan baik. Jadi, dia hanya diam. Hyuri tertawa melihat reaksi minimnya. “Bagaimana kalau kau mengajakku nonton?”

“Ide bagus.”

***

Donghae sedang duduk di atas matras di kamar Hyukjae. Kedua tangan bertumpu pada lututnya, memegangi kepalanya yang tertunduk letih. Tubuhnya langsung berdiri tegap ketika sang pemilik kamar tersebut datang membuka pintu. Hyukjae berhenti di ambang pintu, agak terkejut melihat dirinya.

Anehnya, Hyukjae tidak tampak sesedih hari-hari biasanya. Bahkan jauh lebih baik, sebuah senyum mengembang di bibir pria itu. Berbanding terbalik dengannya, kecemasan menyelimuti Donghae sepanjang malam.

“Hyuk, kemana saja kau?” Tanya Donghae, tangannya sesekali mengacak rambutnya dengan gusar.

“Ke luar.” Hyukjae memasuki ruangan, berjalan menuju lemari es. “Kenapa?” Tanyanya sambil membuka sebuah kaleng soda.

“Semalaman?”

“Ya.”

Donghae tertawa getir. “Aku mencemaskanmu semalaman, dan apa yang kau lakukan sebenarnya di luar sana sendirian?” Dia menghampiri Hyukjae yang memunggunginya.

“Aku tidak sendirian,” Hyukjae berbalik, menyandarkan punggungnya pada lemari es seraya menatap Donghae. Dia tersenyum. “aku bertemu teman baru dan kami memutuskan untuk menonton dan sedikit berjalan-jalan.”

Donghae mengernyit, seperti tidak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar. Ini aneh, sangat aneh. Baru saja kemarin dia menemukan Hyukjae sedang menangisi kematian anggita keluarganya, dan sekarang dia melihat sahabatnya itu tersenyum bahagia. “Teman baru, huh?”

“Jangan bertingkah seperti ini, Donghae. Seolah-olah hanya kau temanku.”

Donghae menyilangkan tangannya di depan dada. “Bukan itu maksudku.” Sanggahnya. “Aku hanya cemas. Lagipula, kau tidak mengajak teman barumu untuk nonton kecuali kalian berkencan. Temanmu seorang wanita, ‘kan?”

Hyukjae tersenyum malu-malu. “Ya, tapi kurasa ini tidak bisa dibilang kencan.” Sambil mengedikkan bahu, dia meletakkan kaleng soda di atas meja lalu berjalan menuju ranjang. “Kupikir kami sedang berjalan ke arah sana.”

Melihat wajah riang itu, tentu saja Donghae merasa begitu lega. Mungkin ini adalah jalan terbaik dari Tuhan tunjukkan, Hyukjae menemukan kembali kebahagiaannya. Tidak ada duka, tidak ada air mata.

Menurunkan tubuhnya pada ranjang, Donghae duduk di samping tubuh Hyukjae yang sedang berbaring. “Jadi, apakah dia cantik?”

“Dia manis.” Hyukjae memulai, melipat kedua tangan di bawah kepala sementara matanya menatap langit-langit kamar. Menerawang jauh. “Senyumnya sungguh langka dan dia juga sedikit aneh, tapi itu yang membuatku tertarik.”

“Apanya yang aneh?”

“Tingkahnya.” Hyukjae menjawab dengan antusias, kali ini dia menatap Donghae. “Kau tahu, aku tidak pernah menemukan wanita seterus terang dan segamblang dirinya. Dia sangat blak-blakan dan tak kenal malu.”

“Lalu menurutmu, itu baik atau buruk?”

“Baik, tentu saja pertanda yang baik. Itu menunjukkan bahwa dia adalah wanita yang jujur.”

Donghae tersenyum, dia tidak dapat menyembunyikan kelegaannya. “Kau pasti sangat menyukainya.”

Hyukjae kembali menatap langit-langit, lalu menggeleng pelan. “Kau salah, Lee Donghaek.” Dia menekankan. “Sahabatmu ini sedang jatuh cinta.”

***

Hyukjae tersenyum sambil memandangi wajah bidadari di hadapannya. Tangan kiri memangku dagunya, sementara tangan kanannya bermain dengan permukaan gelas berisi wine putih.

Dalam tiga pekan terakhir, hubungannya dengan wanita manis bernama Kim Hyuri berjalan mulus. Seringnya mereka bertemu membuat keduanya cepat akrab. Mulanya hanya ketidaksengajaan kemudian berujung pada rasa penasaran Hyukjae yang semakin membesar, dia sengaja menemui Hyuri untuk dapat mengobrol dengan wanita itu. Respon Hyuri sungguh di luar dugaan, wanita itu bahkan sangat senang dan meminta Hyukjae untuk bertemu lagi dan lagi.

Jalan-jalan di taman, nonton, minum kopi di kedai, membaca buku di perpustakaan, hingga makan di tempat makan di tempat makan pinggir jalan. Semua mereka jalani kurang dari satu bulan, tapi tidak satu pun Hyukae memiliki kesempatan untuk bertanya pada wanita itu tentang asal-usulnya.

Hyukjae tidak hanya menyukai wanita ini, dia sangat dan sangat ingin mengenal wanita ini lebih dalam. Harinya tidak pernah semenarik ini, dan dia menemukan dirinya ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Hyuri. Bersama wanita ini, rasanya dia bisa melupakan semua kesedihan dan kemeranaannya. Hyuri adalah wanita yang memiliki pemikiran yang luas, wanita itu juga pintar. Dia bisa menimpali pernyataan Hyukjae, atau bahkan membuat lelucon yang membuatnya tertawa terbahak-bahak. Hyuri seperti sengaja diciptakan untuk mencerahkan hari-harinya yang kelam.

Mungkin, hidup bersama wanita ini akan sangat menyenangkan. Membuat dirinya lebih baik, membuat semuanya lebih baik. Batin Hyukjae.

Kini, keduanya duduk berhadapan di kursi mewah yang dipisahkan oleh meja yang sama mewahnya di dalam sebuah restoran terkenal di Seoul. Malam istimewa untuk sebuah pertemuan istimewa.

“Kau suka tempat ini?” Tanya Hyukjae.

Hyuri mendongak, mengalihkan tatapannya dari spagetti dan menatap Hyukjae tepat di mata. “Kau ingin aku jujur?” Hyuri bertanya balik, membuat Hyukjae mengangguk cepat-cepat. “Sejujurnya, aku tidak suka dengan pelayan yang mengantarkan makanan tadi. Dia benar-benar menggodamu tepat di hadapanku.” Komentarnya. “Selebihnya aku suka.”

Hyukjae tidak tahu harus tersenyum atau mengernyit, tapi akhirnya dia malah tertawa. “Aku tidak melihat dia melakukan itu.”

Hyuri menggelengkan kepalanya dalam ketidakpercayaan. “Dia memandangimu seolah kau adalah makanan lezat yang pantas untuk dibungkus dan dibawa pulang.”

Kali ini Hyukjae tertawa keras, membuat tamu lain melirik aneh padanya. Dia segera bergumam oops! “Jadi, kau cemburu?” Bisiknya pelan, tidak tahan untuk menggoda Hyuri lebih jauh.

“Tentu saja.” Jawab wanita itu blak-blakan.

Lima belas menit selanjutnya berlalu dalam diam. Masing-masing menikmati makan malam dengan khidmat. Saat Hyukjae meletakkan garpunya di atas meja dan mengangkat kepalanya untuk menatap Hyuri, ternyata wanita itu sudah terlebih dahulu menyelesaikan makanannya.

“Kau makan dengan cepat,” Komentar Hyukjae.

“Apakah itu pujian?”

Sambil mengelus dagunya menggunakan telunjuk, Hyukjae tersenyum. “Ya.”

“Terima kasih.” Hyuri tersenyum geli.

“Kau benar-benar menggemaskan.” Tangan Hyukjae meraih kepala Hyuri, mengelus rambut wanita itu pelan. “Hyuri, aku boleh bertanya sesuatu?”

“Tentu. Apa itu?”

“Aku hanya ingin tahu di mana kau bekerja, karena setiap sore aku menemukanmu di halte bus itu berpakaian kantor.”

Hyuri memajukan tubuhnya, meletakkan sikunya di atas meja. “Aku bekerja di perusahaan marketing.” Katanya. “Kau tidak perlu tahu di mana dan bagaimana, Hyuk Oppa. Itu akan sangat membosankan.”

“Aku tidak pernah menganggapmu membosankan.”

Hyuri terkekeh. “Gombal.”

“Aku serius.”

“Baiklah, Oppa.” Hyuri mengangguk, memilih untuk tidak berdebat. “Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sana?”

Itu merupakan pertanyaan yang sangat sensitif, jika saja orang lain yang menanyakannya. Tapi Hyukjae merasa biasa saja ketika wanita ini yang bertanya. “Mengenang seseorang.”

“Pasti orang yang sangat berarti dalam hidupmu.”

Hyukjae mengangguk. “Ya, kakak perempuan dan ibuku.”

“Kau terlihat menggenaskan.” Komentar wanita itu enteng.

“Memang.” Hyukjae mengaku. “Tapi tidak lagi, karena aku menemukanmu.”

***

“Kemari,”

Hyukjae menuntun tangan Hyuri, menggiring wanita menuju tempat yang dia inginkan. Awalnya mereka memasuki sebuah gedung perkantoran yang sempat Hyuri kira adalah tempat Hyukjae bekerja, ternyata bukan. Mereka hanya numpang lewat, karena Hyukjae membawa mereka ke lantai paling atas. Ruang terbuka di lantai tertinggi di gedung itu.

“Woah!” Seru Hyuri dalam kekaguman.

Hyukjae membawa wanita itu ke gedung tertinggi di Seoul untuk memperlihatkan pemandangan kota pada malam hari. “Ini adalah tempat favoritku.” Ujarnya.

“Kukira kau bekerja di sini.” Hyuri berkata, suaranya agak serak karena masih begitu terkejut dengan pemandangan yang disuguhkan di sekitarnya.

Lampu kota dan gedung-gedung menjulang tinggi. Sangat memanjakan mata, membuatmu rileks.

“Tadinya, ya. Tidak lagi sepeninggal Sora Eonni dan Ibu.” Tutur Hyukjae. Dia membentangkan tangannya lebar-lebar, kemudian menghirup dalam-dalam udara malam itu ke dalam paru-parunya. “Bagaimana menurutmu?”

“Indah, sangat indah.” Hyuri melangkah mendekati Hyukjae. Berdiri di samping Hyukjae, dia mengikuti gerakan pria itu tapi sambil memejamkan mata.

Hyukjae menatap lekat makhluk lembut di sebelahnya. Dia begitu takjub dan begitu kagum. Bukan pada pemandangan di luar sana, tetapi pada wanita ini. Jika tadinya dia tidak percaya cinta pada pandangan pertama, maka sekarang dia percaya. Hatinya berdegup dan menarikan tarian aneh, itu tidak pernah ada di sana sebelumnya. Namun sekarang tiba-tiba saja muncul dan dia langsung menyadarinya saat itu juga.

“Ya, sangat indah.” Gumamnya sangat pelan.

Saat Hyuri membuka mata dan menemukan Hyukjae sedang menatapnya intens, dia tersenyum. “Kau mengatakan sesuatu?”

Merogoh sakunya, Hyukjae mengeluarkan sebuah cincin yang terbuat dari emas putih dengan aksen permata putih kecil di tengahnya. Itu adalah cincin pernikahan sang Ibu yang selalu dia bawa, kemana pun dia pergi. Kini, saatnya cincin itu berpindah tangan.

“Maukah kau memakai ini?” Tanya Hyukjae, suaranya parau. Dia hampir tidak dapat menahan emosi yang membuncah di dalam hatinya. Emosi yang jarang sekali mampir dan tiba-tiba saja terbentuk di sana.

“Hyuk—” Hyuri terbata, matanya bepindah dari Hyukjae ke cincin itu berulang kali. “Kenapa?”

Hyukjae terkekeh seraya menggaruk kepalanya menggunakan sebelah tangan. “Haruskah kau bertanya?” Dia tersenyum sambil mengedikkan bahu. “Karena kurasa aku jatuh cinta padamu, Kim Hyuri. Jika kau mau menjadi milikku, pakailah ini.”

Hyuri memeluk Hyukjae saat itu juga. “Aku akan senang memakainya, Hyukkie Oppa.” Saat dia melepas pelukannya, bibirnya mendarat singkat di pipi Hyukjae. “Terima kasih untuk semua ini.”

***

“Kau pulang larut.”

Hyukjae terlonjak mundur mendapati sahabatnya telah duduk dengan posisi seperti biasa di atas ranjangnya. “Donghaek!” Serunya. Sambil menghampiri sang sahabat, dia memukul lengan pria itu. “Kau mengagetkanku.”

“Bagus, ‘kan? Artinya jantungmu masih berfungsi dengan baik.”

“Aish.” Gerutu Hyukjae. “Kenapa akhir-akhir ini aku sering mendapatimu di tempatku? Bukankah kau punya rumah sendiri?”

Mengangkat kepala, Donghae melemparnya dengan tatapan sinis. “Harusnya aku yang heran, Myeolchi. Kau sering pulang larut akhir-akhir ini, dan apa itu? Tidak biasanya kau mengenakan jas.”

“Seperti tidak mengerti anak muda jaman sekarang saja.” Hyukjae duduk di sofa panjang yang terletak tepat di seberang ranjang. Menyender ke belakang, dia menghela nafas dalam-dalam sambil berusaha melepas dasinya.

“Kau ini sudah tidak muda, bro.” Donghae menekankan. “Jadi ini kencan, huh?”

“Ya, kau bisa mengatakannya seperti itu.” Hyukjae tersenyum, kemudian ekspresinya berubah seperti baru ingat akan suatu hal. “Kurasa aku perlu mengenalkanmu pada Hyuri. Bagaimana menurutmu?”

“Akan kupikirkan.”

“Hei, ayolah!” Hyukjae menepis kaki Donghae yang tak jauh darinya. “Jangan berpura-pura sibuk seperti itu, kau ini ‘kan CEO.”

“Ya dan kau seorang pengangguran yang hanya bisa meminjam uangku.” Donghae meliriknya tajam. “Lagipula, apa kaitannya dengan statusku sebagai CEO?”

“Jangan pelit.” Cibir Hyukjae. “Kau punya lebih banyak waktu luang daripada seorang karyawan biasa. Kau harus bertemu dengannya, aku yakin kau akan sangat menyukainya.”

***

Hyukjae mengulurkan tangannya di depan Hyuri, senyuman nakal memenuhi wajahnya. Hyuri merengut padanya, memanyunkan bibirnya dengan cara yang Hyukjae anggap begitu menggemaskan. Rasanya dia ingin mencium bibir mungil itu. Tapi tidak, ini adalah waktu yang tepat untuk membuat kagum gadisnya. Bukan untuk merusak suasana.

Ice skating?” Hyuri mengernyit. Dia menunduk untuk memperhatikan sepatu luncurnya, naik dan meneliti baju hangatnya kemudian kembali menatap Hyukjae.

Hyukjae mengangguk sambil merentangkan kedua tangannya, dia berdiri begitu tegap di tengah lantai es yang luas. “Jangan bilang kau tidak bisa berseluncur di es.” Ejeknya.

Sontak Hyuri memukul pundak Hyukjae, membuatnya mengaduh kesakitan. Tentu saja Hyuri tidak terima dibilang seperti itu, karena gadis ini sangat ahli bermain ice skating. “Mau taruhan?” Tantang gadis itu.

Tersenyum sombong, Hyukjae melipat kedua tangan di depan dadanya. “Jangan bercanda. Kau berani melawanku?”

“Kejar aku kalau begitu!” Serunya sambil tertawa keras, dia sudah melesat jauh menghindari Hyukjae.

“Awas kau Kim Hyuri!”

Misi pengejaran pun dimulai. Keduanya tampak begitu riang, yang satu mencoba untuk menangkap dan yang lain mencoba untuk menghindar. Sungguh seperti sedang menangkap seekor anak kucing.

Hyuri meluncur sangat mulus, semakin menjauh dari jangkauan Hyukjae. Pria itu membiarkan gadisnya melakukan apapun yang disukainya. Hyuri bahkan sempat menoleh ke arah Hyukjae sambil terus meluncur, dia menjulurkan lidahnya ke arah pria itu tapi tidak memerhatikan di depannya. Sampai dia lepas kendali dan menubruk orang hingga tubuhnya jatuh terduduk.

“Aw!”

Hyukjae sedang tersenyum lebar ketika dia menyadari bahwa Hyuri terjatuh. Dia segera melesat untuk menghampiri Hyuri. Heran, sangat heran. Bodoh atau apa sih? Jelas-jelas orang yang menabrak Hyuri melihat dengan jelas siapa yang belari ke arahnya, tapi kenapa orang itu tetap tidak menghindar dan malah berdiri di sana seperti orang tolol? Kesal dan amarah membutakan Hyukjae.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Hyukjae cemas seraya mengusap pipi gadisnya, sementara Hyuri hanya mengangguk lemas. Tiba-tiba saja dia berdiri tegap, suaranya lantang saat berteriak. “Hey, kau!”

Seorang pria bertubuh dua kali lebih besar dari Hyukjae menoleh, menampak wajah datarnya. Dahinya berkerut, tapi Hyukjae tidak gentar. Berkacak pinggang, Hyukjae menatap kesal pria di hadapannya.

“Aku?” Tanya pria itu.

“Ya, kau!” Bentak Hyukjae. “Kau melihatnya meluncur ke arahmu tapi kau sama sekali tidak menghindar. Lihat, dia terjatuh karenamu!”

Pria itu mengenyit heran, alisnya terangkat satu. “Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti.”

“Jangan main-main denganku, kekasihku terjatuh dengan sangat keras!” Hyukjae menunjuk Hyuri yang masih duduk di lantai es.

Pria itu bukannya meminta maaf tapi malah terkekeh geli. “Kau sedang mabuk ya?” Dia melirik Hyuri, lalu menggeleng pelan dan mulai meluncur pergi.

“Hey!” Hyukjae mencoba memanggil pria itu lagi, tapi sia-sia.

“Hyukkie Oppa, sudahlah.” Hyuri menarik lengan Hyukjae. “Aku tidak apa-apa.”

Hyukjae mendesah kesal. “Jika saja pria itu lebih kecil dariku, aku akan berlari ke arahnya dan menumbangkannya.”

Hyuri terkikik mendengar penuturan konyol dari Hyukjae. “Kau ini luar biasa, Oppa.” Dia bangkit, meskipun harus di bantu Hyukjae. Tangannya melingkar sempurna di leher Hyukjae, dia tersenyum sambil berbisik di telinga pria itu yang membuatnya memelototkan mata dalam kekagetan. “Kurasa aku mulai mencintaimu, Oppa.”

***

“Apa katamu?” Donghae menaikkan suaranya satu oktaf, antara terkejut dan marah. “Kau yakin? Kalau tidak, aku akan memecatmu sekarang juga.”

Pegawai Donghae yang merupakan seorang pelayan dari restoran mewah milik pria itu kini hanya bisa mengangguk takut-takut.

“Benar, Tuan. Dia datang ke sini memesan menu spagetti andalan kita, dua porsi dan dua gelas wine. Tapi dia tidak membawa teman kencan seperti yang Tuan katakan tadi.” Si pelayan menjelaskan lagi, kepalanya masih tertunduk. “Tidak hanya saya, tetapi yang lain juga tahu betul apa yang Tuan Lee Hyukjae lakukan di sini.”

Donghae sempat menghela nafas dalam-dalam kemudian memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mencerna baik-baik pengakuan pegawainya. Tidak masuk akal. Kemarin malam Hyukjae bilang padanya bahwa dia berkencan dengan wanita bernama Hyuri, tapi nyatanya pegawainya berkata bahwa pria itu datang sendiri.

Apakah Hyukjae telah membohonginya?

Kenapa dia harus melakukan itu?

Pasti ada yang salah. Donghae merasa dia harus menemukan sesuatu yang salah itu. Cepat atau lambat.

***

Donghae menanti kedatangan Hyukjae beserta kekasih barunya di Grill5 Taco, sebuah restoran miliknya yang menyediakan berbagai macam jenis taco. Mereka janji bertemu pukul 9, tapi sekarang sudah mendekati pukul 10. Donghae resah menunggu.

Pada pukul 10.15, Hyukjae datang mengenakan pakaian santai. Dia datang dengan sebuah senyum memenuhi bibirnya. Ada yang senang rupanya. Pikir Donghae.

“Hai, Donghaek.” Sapa Hyukjae dengan riangnya. Pria itu menarik dua buah kursi, tapi meninggalkan satu kursi yang berada di hadapan Donghae dan malah duduk di kursi yang lain. “Maaf aku terlambat.”

“Tidak masalah.” Donghae berkata sambil mengernyitkan dahi dalam keheranan. Ada yang aneh. “Mana kekasihmu?”

Hyukjae menatap bingung ke arah Donghae, kemudian tertawa keras tapi canggung. “Kau ini tidak lucu sama sekali.” Komentarnya. “Hyuri, perkenalkan, ini adalah sahabatku Lee Donghae. Dan Donghae, ini Kim Hyuri.” Dia mengerling kursi di sebelahnya.

Dahi donghae mengerut lebih dalam, dia tidak mengerti permainan apa yang sedang Hyukjae lakukan. Dia sama sekali tidak menganggap ini lucu. Tidak ada seorang pun di Grill5 pada jam seperti ini kecuali Donghwa, kakaknya, dia sendiri, dan Hyukjae. Jadi, yang mana yang dia panggil Hyuri? “Hyuk, jangan main-main denganku.”

“Kau tidak menjabat tangan Hyuri?” Hyukjae melirik kursi kosong di sampingnya kemudian pada Donghae secara bergantian. “Kalian ini ada apa?”

Habis sudah kesabaran Donghae. Di saat seperti ini, dia tidak ingin bercanda. Sama sekali tidak. Hari ini sudah cukup melelahkan, ditambah dengan kelakukan konyol sahabatnya tidak membuat suasana hatinya membaik. Hyukjae baru saja memancing amarahnya.

Donghae memukul meja dengan telapak tangannya, sekuat tenaga meredam amarah yang melua-luap dan siap menyembur. “Lee Hyukjae,” Dia menekankan setiap kata. “seharusnya aku yang bertanya, ada apa dengan otakmu?”

“Apa maksudmu?”

“Ini tidak lucu.”

Ekspresi Hyukjae yang tadinya berbinar dan penuh keceriaan, kini berubah menjadi sangat serius, bahkan berbahaya. “Donghae, aku membawa Hyuri ke hadapanmu dan sekarang kau menganggap aku sedang bercanda?” Tanyanya kesal.

Donghae menggeleng, bukan dalam sangkalan. Hanya saja dia tidak menyangka bahwa sahabatnya akan bertingkah kekanakan seperti ini.“Kemarin malam, kau datang ke restoran sendirian, ‘kan?” Dia memastikan. “Kau berbohong padaku, lalu sekarang kau bertingkah seolah-olah aku ini anak kecil yang mudah ditipu. Kau tidak perlu mengarang cerita tentang seorang wanita yang kau kencani, Hyuk.”

Hyukjae mengernyit. “Apa yang bicarakan, Donghae?”

“Pegawaiku mengatakan bahwa kau pergi ke sana seorang diri.”

“Demi Tuhan! Aku ke sana bersama Hyuri!” Hyukjae bangkit dari bangkunya, amarah mulai membayanginya. “Aku tidak percaya kau meragukan sahabatmu sendiri.”

“Tapi pegawaiku tidak mungkin berbohong—”

“Hyuri, ayo kita pergi.” Sela Hyukjae cepat-cepat.

Donghae memicingkan matanya saat dia melihat tangan Hyujae bergerak seperti meraih lengan seseorang, tapi tidak ada siapapun di sana. Apakah dia meraih angin? Batin Donghae.

“Kau sudah gila ya?” Donghae menggeram tertahan, Hyukjae berbalik dan menatapnya heran. Suara Donghae pecah ketika dia membentak, “Tidak ada seorang pun di sebelahmu!”

***

Hyukjae duduk di atas karpet, punggungnya bersandar pada sofanya. Matanya memandang dengan cermat setiap ekspresi yang Hyuri tampakkan. Tangan kirinya membelai kepala Hyuri yang berada di pangkuannya, sementara tangan yang lain menggenggam tangan Hyuri.

“Kau tahu,” Dia memulai. “aku sangat marah dengan sikap Donghae.” Tuturnya pelan.

“Kurasa Donghae hanya kesal dengan keterlambatan kita tadi.” Simpul Hyuri

“Ya, kurasa.” Dia terhenti. “Tapi perkataannya sungguh keterlaluan. Jelas-jelas kau duduk di sana di sampingku, tega sekali dia menganggapmu tidak ada. Juga para pelayan restoran itu, mereka buta atau apa? Kau di sana malam itu, makan malam denganku. Kau sangat cantik dengan gaunmu, mereka bahkan tidak menyadari itu? Sangat disayangkan.” Dia berdecak.

Hyuri terkekeh, disusul dengan Hyukjae yang ikut tertawa.

Untuk beberapa saat, kesunyian menyelimuti mereka. Hanya ada suara angin dari jendela, kencang tapi tidak terlalu kencang. Hanya cukup untuk membuka dan menutup jendela dengan sendirinya. Di luar semakin gelap, tanda bahwa malam semakin larut.

Hyuri mendesah sebelum dia sempat membuka mulutnya untuk membuka pembicaraan lagi. “Oppa,”

“Hmm?”

“Apakah aku cukup nyata bagimu?” Tanya gadis itu dengan polosnya.

Hyukjae bergeser, membetulkan posisinya, sehingga keduanya kini duduk dan saling menatap satu sama lain. “Apa maksudmu?”

Hyuri tersenyum. “Maafkan dia.” Hyuri berkata lembut, “Aku tidak ingin menjadi sumber masalah di antara kalian. Karena bagaimanapun, Donghae adalah sahabatmu. Dia hanya kesal, perkataannya jangan dimasukkan ke hati.”

Saat itu, Hyukjae baru sadar betapa murah hatinya sang kekasih. Seharusnya dia yang berkata seperti itu kepada Hyuri, bukan malah sebaliknya. Tapi di sini lah dia menemukan sang kekasih menyuruhnya untuk tidak membenci sahabatnya sendiri. Bagaimana dia bisa tidak semakin cinta pada gadis ini?

Pria itu tersenyum, sedetik kemudian memeluk Hyuri dengan sangat erat sambil berbisik. “Aku tahu…”

***

“Trauma karena kehilangan ya…”

Donghae mengangguk. “Ya, sahabatku.”

Pria tua di hadapan Donghae menundukkan kepalanya, memandangi kertas di atas mejanya kemudian mulai menuliskan sesuatu. Donghae tidak yakin apa, tapi yang jelas Dokter ini dapat membantu sahabatnya. Dia berharap bahwa dengan datang ke sini, mungkin bisa memperbaiki keadaan.

“Tindakan apa saja yang dia lakukan?”

“Selama beberapa minggu setelah kematian Ibu dan kakak perempuannya, sahabatku selalu datang ke tempat kejadian perkara di mana mereka meninggal karena kecelakaan. Dia selalu ke sana dan melamun, kemudian pulang saat malam.” Donghae menjelaskan lirih, matanya menerawang. Sama sekali tidak menatap sang Dokter. “Dia tidak pernah bicara, bahkan hampir tidak pernah makan. Aku harus menyuapi dan memaksanya untuk membuatnya tetap hidup. Tapi malam itu…”

“Apa yang terjadi?”

“Dia pulang dengan sangat ceria. Tidak seperti Hyukjae yang baru kehilangan orang-orang yang dicintainya, dia seperti kembali ke jati dirinya yang dulu.”

Sang dokter mengernyit, “Bukankah itu pertanda baik?”

“Ya, memang. Kukira dia telah pulih, tapi nyatanya…” Donghae menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan. “dia bertingkah seperti orang mabuk.”

“Apa yang dia lakukan?”

“Dia memberitahuku bahwa dia bertemu dengan seorang gadis, mengencaninya, dan akhir-akhir ini pegawaiku mendapatinya datang ke restoran milikku. Hyukjae bilang bahwa dia ke sana dengan gadis yang dia kencani, tapi pelayanku mengatakan lain. Sahabatku itu datang sendirian.”

“Kau yakin pegawaimu tidak berbohong?”

“Aku yakin sekali, Dok.” Tekan Donghae. “Dia bahkan berjanji padaku untuk mempertemukan kekasihnya denganku, tapi malam itu saat kami bertemu tidak ada seorang gadis pun yang dia bawa. Dia terus berkata bahwa kekasihnya sedang duduk di sampingnya, di hadapanku. Sedangkan pada kenyataannya, aku sama sekali tidak melihat siapapun di sana.”

“Aku mengerti.” Sang dokter mengangguk mengerti.

“Aku sempat berpikir bahwa sahabatku sudah gila.” Donghae berkata lirih. “Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada sahabatku, Dok?”

“Tuan Lee, sahabatmu tidak gila.” Sang dokter meyakinkan. “Kurasa dia hanya sedang berhalusinasi, tapi aku tidak yakin jika aku tidak mendengar penuturannya langsung.”

“Apa maksud Dokter?”

“Maksudku adalah kau perlu membawa sabahatmu kemari untuk berkonsultasi denganku.”

***

“Ahjumma, kami pesan dua botol soju dan dua porsi kue beras.” Hyukjae mengangkat tangannya.

“Tunggu sebentar.” Sahut sang penjual.

Hyukjae menoleh pada Hyuri, tangannya memegangi telapak tangan gadis itu yang mulai bergetar. “Kau kedingingan?” Pertanyaan Hyukjae mendapatkan sebuah anggukan dari Hyuri. “Kuharap kau suka kue beras di sini.”

“Aku suka ke mana pun kau membawaku, asal bersamamu.” Tutur Hyuri.

“Haruskah aku tersanjung dengan perkataanmu?” Hyukjae tersenyum jahil.

“Harus.”

Mereka tertawa keras pada candaan mereka sendiri, tepat ketika Ahjumma penjual kue beras datang membawakan pesanan mereka.

“Ini dia pesananmu, Nak.” Kata Ahjumma itu.

“Terima kasih, Ahjumma.”

“Sama-sama.”

Merasa sedang dipandangi, Hyukjae menoleh ke samping. Di sana si Ahjumma sedang memperhatikannya dengan heran. “Ada apa, Ahjumma?”

Si Ahjumma tersenyum ramah sambil menggelengkan kepala. “Sejak tadi aku memperhatikanmu dari kejauhan, aku bertanya-tanya apa yang membuatmu begitu senang sehingga tersenyum selebar itu.” Akunya.

“Bukan apa, tapi siapa.” Hyukjae mengoreksi. “Wanita ini yang membuatku banyak tersenyum akhir-akhir ini.” Dia menunjuk Hyuri yang duduk di hadapannya.

Si Ahjumma mengernyit. “Wanita mana?” Tanyanya tiba-tiba.

Hyukjae cukup terkejut dengan pertanyaan si Ahjumma. Baru saja dia ingin menampik keheranan si penjual kue beras itu, karena percaya atau tidak dia mulai sebal. Kenapa semua orang memperlakukannya seperti orang bodoh. Jelas-jelas Hyuri sedang duduk di hadapannya. Kenapa mereka… Hyukjae cepat-cepat mengerling ke arah Hyuri, namun Hyuri sudah tidak lagi duduk di sana. Dia terlonjak mundur, sehingga dia terjatuh dari kursi dan mendaratkan bokongnya di tanah. Antara syok dan takut memenuhi wajahnya, sementara si Ahjumma hanya bisa bertanya kenapa berulang kali.

Kenapa Hyuri menghilang begitu saja? Kemana dia pergi?

“Ahjumma, kau tidak lihat wanita yang barusan duduk di sini?” Tanya Hyukjae dalam kepanikan.

Ahjumma itu menggeleng sambil memegangi pundak Hyukjae. “Wanita mana?” Pertanyaan itu lagi. “Aku tidak melihat siapapun sejak kau datang ke sini, Nak.”

Kesal, kecewa, dan marah.

Dia bangkit dari tanah. “Sudahlah, lupakan saja.” Katanya seraya menyodorkan beberapa ribu won ke dalam tangan si Ahjumma.

Berbalik, Hyukjae mulai berjalan menjauh dari kedai pinggir jalan itu.

“Nak, kau tidak akan menghabiskan makananmu?” Teriak sang Ahjumma dari kejauhan.

Pada saat itu, Hyukjae tidak peduli. Dia tidak menghiraukan sahutan itu, bahkan dia terus berjalan. Meskipun dia sendiri tidak tahu harus berjalan ke mana.

Kenapa orang-orang di sekitarnya menganggap Hyuri tidak ada? Bahkan seorang Ahjumma yang tidak dikenalnya. Lalu ke mana Hyuri pergi? Kenapa gadis itu tega sekali meninggalkannya?

Apakah perkataan Donghae benar?

Hyuri tidak nyata?

Hyukjae mengacak rambutnya dalam kefrustasian, ini benar-benar menguras pikirannya. Dia lelah. Dia hanya ingin tidur, tapi dia tidak akan bisa tidur jika dia belum mendapatkan jawaban atas keanehan sore ini. Maka, tujuan yang paling jelas adalah pergi ke rumah Hyuri.

Rumah Hyuri. Beruntung sekali bahwa Hyukjae sempat berkunjung ke rumah gadis itu, jadi dia sama sekali tidak buta dengan harus ke mana dia mencari gadisnya.

Hyukjae sempat berhenti di sebuah toko bunga, berencana memberikan hadiah istimewa pada gadis itu ketika dia berkunjung untuk ketiga kalinya ke sana. Dia membeli satu buket mawar merah, itu adalah bunga favorit Hyuri.

Saat berjalan menuju rumah Hyuri yang cukup jauh jika hanya ditempuh dengan berjalan kaki, perasaan Hyukjae sangat tidak menentu. Dia masih tidak mengerti apa yang terjadi dan dia kesal, bahkan hampir naik pitam dengan kelakuan semua orang padanya. Hyuri itu nyata dan gadis itu adalah kekasihnya. Dia terus berjalan dan berjalan sambil menekankan kalimat itu di kepalanya.

“Hey, lihat-lihat kalau berjalan!”

Seseorang berteriak memakinya saat Hyukjae menabrak seseorang yang entah siapa, dia tidak peduli. Yang Hyukjae tahu dia hanya harus terus berjalan, dia berlari ketika dia bisa. Terus berlari melewati jembatan besar dan menuju ke dalam sebuah hutan, sampai dia berdiri di depan sebuah bangunan sederhana yang di kelilingi pohon. Dia telah sampai di rumah Hyuri.

Hari sudah gelap. Pria itu bahkan tidak menyadari waktu yang telah dia habiskan untuk sampai ke tempat ini hanya dengan berjalan kaki, tapi di sinilah dia berada. bukannya melangkah maju kemudian mengetuk pintu rumah gadisnya, dia malah mematung di tempatnya sambil memandangi rumah itu.

Ini nyata.

Hyuri nyata.

Kemudian dia maju satu, dua, tiga langkah. Dia berhenti mendadak saat tiba-tiba Hyuri keluar dari rumahnya, membawa payung di tangan kanan. Gadis itu sama sekali tidak menyadari keberadaannya, dia bahkan tidak melihat ke arahnya dan terus menundukkan kepala.

Ketika akhirnya Hyuri hampir lewat begitu saja, wanita itu menoleh. Dia berhenti di sebelah Hyukjae, wajahnya memberikan sebuah tatapan kecewa. Saat itu Hyukjae benar-benar tidak mengerti, dia sama sekali buntu dengan apa yang terjadi.

Sambil menyodorkan buket bunga mawar, Hyukjae mencoba untuk tersenyum. Percayalah, pria itu mencoba dengan sangat keras. Tanpa menatap mata Hyuri, pria itu bertahan di sana dan menunggu.

Ketika Hyuri meraih satu tangkai dari puluhan bunga yang dia bawakan, hatinya mencelos. Terlebih ketika gadis itu berkata, “kau tidak yakin kalau aku cukup nyata.” Bisiknya. “Aku benar, ‘kan, Oppa?”

Hyukjae tidak menemukan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu, alih-alih hanya bisa diam di tempatnya. Dia tidak yakin lagi apakah semua yang terjadi padanya adalah nyata, bahkan ketika bayangan Ibu dan Sora terbersit di kepalanya. Itu semua masih tidak nyata. Mungkinkah ini juga…

Tepat saat itu, Hyukjae melihat satu tangkai bunga mawar jatuh ke tanah mengenai kakinya. Hyuri membuang bunga itu seraya berjalan menjauh darinya. Hatinya semakin tertohok. Tidak… dia tidak ingin kehilangan Hyuri, tapi gadis ini menjauhinya. Untuk dapat menggapainya kembali, dia harus yakin akan satu hal. Tapi saat ini, keyakinannya meluntur. Jadi, dia membiarkan gadis itu pergi. Jauh dan semakin menjauh, tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipi.

Hujan turun dengan derasnya. Membasahi bumi dan menghapus jejak kepergian Hyuri. Hatinya begitu sakit, dia melempar bunga itu ke tanah. Bunga mawar merah tercecer di sana tanpa bentuk. Ini sama sekali bukan keinginannya.

Apa yang sedang dia tangisi?

Kemeranaan?

Ataukah…

Kesendirian?

***

Hyuri tidak datang malam ini ke rumahnya, gadis itu tidak pernah datang lagi semenjak kejadian di kedai kue beras di pinggir jalan dan di depan halaman rumahnya. Sekarang, semua terasa sepi lagi.

Hyukjae sempat berharap bahwa dia bisa memperbaiki keadaan, tapi pernyataan semua orang tentang Hyuri membuatnya ragu. Jika dia ingin Hyuri kembali, maka dia harus menghilangkan keraguannya.

Beberapa hari terlewat begitu saja. Tanpa kabar dari kekasihnya, Kim Hyuri. Tanpa kabar pula dari sahabatnya, Donghae.

Lee Donghae…

Kini Hyukjae mulai cemas. Donghae selalu mampir ke tempatnya, sesibuk apapun pria itu. Tapi sekarang, dia sama sekali tidak melihat batang hidup pria Mokpo itu.

“Hyuk,”

Hyukjae mendongakkan kepalanya saat dia mendengar suara itu, dia menemukan Donghae berdiri di ambang pintu. Ekspresi cemas yang sama tersirat di wajah sahabatnya itu.

“Donghaek.” Hyukjae menyapa dengan sapaan konyolnya, mencoba untuk mencairkan suasana.

“Hyuri ada di sini?” Tanya Donghae, berhati-hati dengan ucapannya.

Hyukjae menggelengkan kepala. “Dia tidak datang hari ini.” Jawabnya, mencoba untuk tidak menyiratkan wajah sedihnya. “Kenapa?”

Hyukjae hampir merasa percakapan ini kembali normal, seperti tidak pernah terjadi pertengkaran hebat di antara mereka. Nyatanya tidak, karena ekspresi Donghae belum menunjukkan bahwa mereka baik-baik saja.

“Kau masih berbicara padanya?” Hyukjae tidak segera menjawab pertanyaan Donghae, malah terdiam untuk beberapa saat. “Hyuk, aku bertanya padamu.” Donghae mengingatkan.

Menggeleng, Hyukjae menatap Donghae tepat di mata. “Tidak.” Gumamnya, kemudian tiba-tiba bertanya. “Kenapa semua orang mengangapnya tidak ada?”

Donghae mendekat, dia menepuk pundak sahabatnya. “Percayalah, aku tidak sedang mempengaruhimu. Tapi itulah kenyataannya.” Tuturnya. “Kau harus bertemu dengan kenalanku untuk membicarakan mengenai ini.”

***

“Aku tidak bisa mengatakan kau mabuk atau gila, Tuan Lee.” Dokter menyatakan. “Kau mengalami masa yang sulit dengan kematian orang terdekatmu, itu menyebabkan pukulan yang berat sehingga kau mulai berhalusinasi.”

Hyukjae hanya diam di kursinya. Setelah menjelaskan keadaan yang terjadi padanya, pria itu diam seperti batu di sana. Mendengarkan dan menunduk patuh. Tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini, selain berharap bahwa dia keluar dari kesengsaraan yang telah dia buat sendiri.

Halusinasi katanya? Apa sekarang dia adalah seorang yang delusional?

“Ini bisa disebut skizofrenia, namun biasanya penderita penyakit ini lebih memandang orang yang dihalusinasikan bahaya baginya. Dalam kasusmu, kedatangan wanita ini ke dalam hidupmu memang membangkitkan semangatmu, itu adalah hal yang bagus. Kau mengalami perkembangan yang pesat dengan kehadirannya, tapi kau akan kesulitan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarmu jika kau terus membawanya dalam kehidupan nyata.” Dokter menjelaskan panjang lebar. “Ada berbagai macam pengobatan yang harus dilakukan, tapi itu hanya akan membuatmu menderita. Kurasa kau masih bisa ditangai dengan hipnotis, Tuan Lee.”

“Hip…notis?” Hyukjae terbata.

“Ya.” Sang dokter mengangguk. “Ini adalah pilihan paling bijak daripada membius atau mengurungmu di sel rumah sakit. Apakah kau bersedia melakukan ini? Maksudku, apakah kau bersedia menghilangkan kehadiran wanita ini dalam hidupmu? Karena, Tuan Lee, semua ini harus berawal dari keinginanmu sendiri.”

Selama beberapa menit, Hyukjae berpikir.

Ini harus dia lakukan demi masa depannya. Jika dia tidak memiliki orang yang masih peduli padanya, mungkin dia akan melanjutkan kepura-puraan ini. Tapi tidak, masih ada Donghae yang peduli padanya. Dia yakin dia bisa sembuh dan dia akan mencobanya.

“Aku bersedia, Dok.”

***

Hyukjae berdiri di gedung tertinggi pada malam itu. Sendirian. Tempat favoritnya saat memandang kota di malam hari. Angin kencang berhembus meniup rambutnya, dia sadar seseorang dari halusinasinya mencoba mendatanginya lagi.

“Oppa,”

Memejamkan matanya rapat-rapat, dia berusaha keras membuang suara itu. Namun, nada memohon itu seolah memaksanya untuk membuka mata. Saat itulah dia menatap Hyuri berdiri di hadapannya mengenakan gaun abu-abu.

“Kau seharusnya tidak kembali, Hyuri.” Hyukjae berkata lirih. “Kau tidak nyata.”

“Aku membantumu keluar dari penderitaan dan kau menolak kehadiranku sekarang, teganya kau.” Hyuri berbisik.

“Hyuri, kumohon, pergilah.”

Hyuri terisak, benar-benar isakan yang sangat menyedihkan. Tapi Hyukjae bertahan pada pendiriannya, dia tidak ingin bayang-bayang ini membelenggunya lagi dan membuat retak hubungannya dengan orang sekitar yang lebih nyata ketimbang wanita ini.

Hyuri mengembalikan cincin dari Hyukjae, menyodorkannya langsung ke tangan pria itu sambil berkata. “Kau tahu, kau telah menyakitiku, Oppa.” Dengan itu dia memalingkan wajah dan pergi.

Benar-benar pergi dan menghilang dari halusinasinya.

Hembusan nafas lega keluar begitu saja dari mulut Hyukjae. Tangannya meraih pagar pembatas di gedung pencakar langit itu, bertumpu pada benda metal itu karena khawatir tubuhnya bisa ambruk kapan saja. Kelegaan itu membawanya kembali pada dunia nyata yang ada di hadapannya. Ini memang harus segera di akhiri, batinnya.

Donghae menghampirinya tak lama kemudian. Pria itu berdiri di sampingnya, memandang kota di bawah sana. “Kau sudah lepas darinya?”

Hyukjae mengangguk. “Ya, kurasa.”

“Selamat datang di dunia nyata, Lee Hyukjae.”

***

EPILOGUE

Donghae menyesap kopinya dalam khidmat. Siang itu dia sengaja pergi makan siang di Grill5 Taco. Selain untuk bertemu dengan Hyukjae, dia juga lebih senang makan makanan produksi kedainya sendiri.

Donghae sedang duduk di dekat jendela yang menyuguhkan suasana kota pada saat itu, ramai dan sibuk. Dia bisa melihat banyak orang berlalu lalang di jalanan sana. Dia tesenyum dan bersyukur karena masih bisa makan dengan tenang dan nyaman.

“Kau terlambat,” Komentarnya ketika Hyukjae baru saja duduk.

“Aku belum mendaratkan bokongku pada kursi ini saja kau sudah mengomel, dasar Donghaek.” Protes Hyukjae tidak terima. “Aku ini ‘kan sibuk, kau tahu itu.”

“Sibuk apa, huh?” Cibirnya. “Aku heran, kenapa kau mau bekerja menjadi biro jodoh padahal kau sendiri belum mendapatkan jodohmu. Seharusnya kau menerima tawaran untuk bekerja di perusahaanku saja.”

“Hey, Donghaek. Jangan meremehkan pekerjaanku.” Katanya sambil mengembat taco yang ada di piring Donghae. “Banyak orang di luar sana yang berterima kasih karena diriku.”

Menghela nafas dalam, Donghae mengabaikan sahabatnya itu. Dia mengalihkan pandangannya dari Hyukjae yang tiba-tiba saja merebut makan siangnya ke jendela, lalu mematung di tempatnya karena syok.

“Lihat, betapa cantiknya wanita itu!” Seru Donghae kagum saat matanya menangkap sesosok wanita karir melewati trotoar dengan pakaian kantornya.

“Hihat, hau hemhutuhan hasa hiro hodohu.” Lihat, kau membutuhkan jasa biro jodohku. Hyukjae berkata di sambil menguyah taconya.

“Kau ini bicara apa, sih?” Dengus Donghae, matanya masih memperhatikan gerak-gerik wanita cantik itu. “Ini berbeda, dia wanita idaman para lelaki.”

Penasaran, Hyukjae membuang pandangannya ke samping untuk dapat melihat apa yang Donghae lihat. Matanya membulat, mulutnya ternganga—terlepas dari kenyataan bahwa dia sedang berusaha menelan taco—sehingga menumpahkan isi mulutnya ke meja.

“Sial, Hyuk! Kau ini sangat jorok!” Donghae menggerutu kesal, lalu ekspresinya berubah saat melihat Hyukjae menatap nanar sosok wanita di seberang sana. “Ada apa?” Tanyanya cemas.

“Katakan padaku kalau aku sedang tidak berkhayal, Haek.” Hyukjae menampar pipinya sendiri dengan cukup kencang, sampai Donghae mau tidak mau harus menghentikan aksi bodoh sahabatnya itu.

“Kau tidak mengkhayal. Itu benar-benar wanita yang sangat rupawan.” Terang Donghae. “Aku berani bertaruh bahwa ini adalah kali pertama kau melihat wanita secantik itu, iya, ‘kan?”

Hyukjae menggelengkan kepalanya. “Haek, ini adalah kesekian kalinya.”

Donghae mengernyit. “Huh?”

“Aku sudah pernah melihatnya,” Hyukjae mengaku. “Dialah sosok halusinasiku, dialah Kim Hyuriku.”

END

 

2 Comments (+add yours?)

  1. annisaputriramadhani
    Oct 14, 2015 @ 20:48:47

    Wowwww,keren ceritanya apalagi cast nya hyukkie oppa tercintaku

    Reply

  2. hapmichan
    Oct 16, 2015 @ 10:48:08

    cerita nya di awal sediiih. tapi ini semacam adegan di mv growing pains bukan siii? agak mirip waktu si hyuri tiduran di paha hyuk,terus ambil cuma satu tangkai dan balikin cincin diatas gedung? kkk~ tapi kereeeeen. disitu hyuk yang awalnya halusinasi jadi ketemu beneran di dunia nyatanya:3

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: