[Donghae’s Day] It’s not END but AND

d

Author: Blue Angel (blueangel1015.wordpress.com)

 
Title: It’s not END but AND

 
Main casts:
-Shin YeonMi
-Lee DongHae

 
Genre: Marriage Life, Romance, LITTLE Hurt

 
Length: Oneshot

 
Rating: PG-15
 
Disclaimer: This is my original fanfict! The plot of story pure from my brain~ This story just fiction. Lee DongHae and this story, ARE MINE 😄
SO DON’T BE A PLAGIATOR OR BASHING ME~^^
Sorry for typo(s)
 

Recommended songs:
=A Short Journey – Super Junior 
=All of Sudden – Krystal

 

 

 

 

Waktu hampir menunjukan tengah malam, kamar ini terasa sunyi dan tak terlalu terang, karena hanya mengandalkan lampu diatas nakas sebagai penerangan.
Dengan senyaman mungkin, ku sangga kepala ku dengan tangan kanan, sementara tangan satunya ku gunakan untuk mengusap rambutnya pelan.

Ku pandangi wajah pria yang tengah tidur disamping ku ini dengan seksama. Mengagumi betapa tampannya lekukan wajahnya dan menikmati kelembutan yang ku rasakan saat jari ku bersentuhan dengan kulit wajahnya.

Ia tetap tampan walau model rambutnya telah berubah siang ini, yah, kini rambutnya hanya sedikit lebih pendek saja. Sebenarnya sekitar empat atau lima tahun lalu ia pernah memilih gaya rambut seperti ini dan sama sekali tak mengurangi karismanya.
Justru ini membuatnya terlihat lebih dewasa.
Itu sebabnya, memandangi pria ini lekat-lekat saat ia tidur menjadi hobi baru ku. Yah, aku baru saja mendapat kesempatan untuk melakukan ini secara leluasa kapanpun ku mau.
Tepatnya tiga bulan belakangan. Semenjak pria yang ku cintai ini resmi menikahi ku.

 

Ia bahkan mengenyampingkan karirnya dan tetap bersikukuh untuk menikahi ku walau saat itu rasanya terkesan sangat tergesa -kami belum menyiapkan apapun untuk pesta pernikahan-  Tapi aku menerimanya, tentu saja. Menghabiskan hidup ku didampingi Lee DongHae, membuat keluarga kecil yang bahagia bersamanya adalah keinginan ku.
Namun baru satu minggu menjalani kehidupan kami, tiba-tiba di pagi yang cerah itu.. ia mengajak ku berbincang, duduk berdampingan di taman belakang rumah yang baru dibelinya ini.
“Waeyo, DongHae-ya?” Tanya ku saat raut wajah suami ku ini terlihat lebih serius dari biasanya. Aku yakin ada sesuatu penting yang ingin dikatakannya.

Ia menatap ku dalam, menggenggam tangan ku dengan tangannya yang saat itu sedingin es, memanggil nama ku pelan dan dengan ragu ia bertanya,
 

“Apa kau percaya pada ku?”

Aku mengernyit sesaat lalu mengangguk bingung-dengan ucapan DongHae tadi-, namun justru ia malah terdiam. Membuat ku makin tak mengerti.

Aku tahu ada yang tertahan di lidahnya, akupun mendesaknya untuk segera mengatakan apapun yang ingin dikatakannya.
 

Ia sejenak mengambil nafas, bibirnya bergerak pelan kemudian dengan lirih menjelaskan bahwa.. diam-diam ia telah menyelesaikan ujian dari kepolisian untuk mengikuti wajib militer dibidang tersebut.
 

Aku terdiam, menatapnya penuh tanya.. Bingung karena sebelumnya ia tak pernah bercerita apapun tentang tes wajib militer dan sekarang ia sudah berhasil melewati tes itu?

“Aku akan pergi sekitar… 4 bulan lagi” Cicitnya lemah yang seketika membuat pikiran ku kosong.
Sebentar… Itu artinya ia akan pergi dalam waktu dekat ini? Selama… 2 tahun??
 

Ia menggedikan bahunya pelan saat aku tak kunjung menghilangkan tatapan bingung ku yang ku tujukan padanya.
Aku tak bisa mengatakan apapun kini, aku hanya merasakan sesak yang perlahan memenuhi dada ku.

“Yah.. Sekarang kau tahu alasan mengapa aku terburu-buru menikahi mu. Dengan menikahi mu sebelum pergi wajib militer…” Ia tampak sekilas meneguk salivanya sebelum melanjutkan kalimatnya.

“..Apa.. aku terlalu memaksa mu untuk menunggu ku, YeonMi-ya?” Lanjutnya dan rasa bersalah tampak di mata jernihnya, membuat hati ku terasa hancur seketika.
 
Aigoo, sekarang aku baru mengerti mengapa ia ingin mempercepat pernikahan kami, aku baru mengerti mengapa ia begitu tergesa-gesa untuk menjadikan ku istrinya…

Jadi ia sudah merencanakan ini?
Pria bodoh!! Mengapa ia baru mengatakannya sekarang?! Apa hanya aku yang baru mengetahui ini?!
Aku ingin sekali marah… Tapi tak ada yang bisa disalahkan disini.

 
“21 bulan.. Apa kau mau menunggu ku, YeonMi-ya? Tunggu aku, ku mohon” Pintanya dan bisa ku rasakan genggaman tangannya yang makin erat. Dan aku hanya terdiam, perasaan ku menjadi tak menentu dan entah mengapa leher ku mendadak terasa lemas, menyebabkan aku menunduk begitu saja, mengambil nafas dalam ditengah dada yang terasa tertekan.

 

Astaga Lee DongHae, tidakkah kau begitu keterlaluan!?
Kami baru menikah minggu lalu, apakah kami harus berpisah dalam waktu dekat? 3 bulan lagi?
Tak bisakah kau memberi ku waktu lebih lama agar membuat mu senang sebelum keberangkatan mu?

Banyak hal yang belum ku lakukan untuknya sebagai seorang istri.
 

“Jebal, YeonMi-ya… Ini bukan akhir, kan?” Panggilnya lagi dan aku baru menyadari bahwa sedaritadi aku belum mengeluarkan sepatah katapun.

 

Aku mencoba menatapnya, tepat dimatanya dan.. terlihat buram. Aigoo, sejak kapan air mata ku berkumpul?
Aku mencoba tersenyum, berusaha membuka mulut ku dan sebisa mungkin menstabilkan suara ku walau kini tenggorokan ku terasa tercekat. Aku tak boleh membuatnya khawatir!
 

“Eoh jinjjayo?” Aku berusaha tersenyum, menahan sesak tak tertahankan yang melanda ku dengan satu kali menelan saliva ku.
 
“G-geureom.. Itu memang kewajiban mu sebagai pria, bukan? Pergilah, Aku akan menunggu mu DongHae-ya! Jangan khawatir.. Aku.. Aku–” Tanpa seizin ku, air mata menuruni kedua pipi ku, bersamaan dengan isakan yang tanpa sengaja keluar.

Pertahanan ku runtuh begitu saja saat membayangkan bahwa dua tahun ini kami akan berpisah. Aku tidak tahu bagaimana jika ia tak ada disamping ku.

Berbagai hal buruk yang mungkin terjadi selama ia tak ada, memenuhi pikiran ku. Membuat ku kesulitan menghentikan isakkan ku.
Tidak! Tak seharusnya aku menangis dihadapannya.

 

Detik berikutnya yang ku rasakan adalah tangan hangatnya meraih kedua bahu ku dan menarik ku kedalam pelukan hangatnya, membiarkan ku bersandar pada dada bidangnya yang terlapis sweater rajutan warna biru muda.
 

“Mianhaeyo YeonMi-ya” Bisiknya dan aku segera menggeleng, ia tak seharusnya minta maaf.
 

“Aniyo, jangan berkata seperti itu. Aku yang salah, tak seharusnya aku menangis karena ini. Mianhae DongHae-ya” Ujar ku sesekali menggigit bibir bawah, menahan agar tangis ini tak berlanjut.

 

Bisa ku rasakan ia menghela nafas berat sebelum akhirnya mengusap kepala belakang ku, mengizinkan ku untuk menangis sepuasnya dalam pelukannya sementara mulutnya tak berhenti menggumamkan kata maaf dan memohon agar aku menunggunya.

Harusnya aku tak terkejut dengan ini. Usianya akan menginjak 30 tahun dan aku tahu sendiri bahwa ia belum melaksanakan kewajiban sebagai warga negaranya itu. Harusnya aku sadar bahwa ia pasti akan mengikutinya tahun ini, disaat kami telah menikah.

Paboya! Aku tak bisa berpikiran sejauh itu karena terlalu senang dengan lamarannya yang mendadak.

 

Usapan tangan ku di kepalanya makin lemah saat teringat hari itu, cairan bening nan hangat kini telah banyak mengalir dan membasahi pipi ku.

Aku tidak tahu akan betapa hampanya hari ku tanpanya, betapa senyapnya rumah yang cukup besar ini tanpa pertengkaran kecil yang bisa terjadi diantara kami akibat perbuatan bodohnya, betapa sedihnya karena tak akan ada yang mengirim ku sangat banyak pesan yang berisi hal-hal tak penting dan dua tahun ini aku tak bisa mengawali hari ku dengan membangunkannya. 3 bulan ini kami sudah terlalu banyak mencetak kenangan manis yang membuat ku makin sulit melepaskannya.

 

Kegiatan tangan ku benar-benar berhenti kala aku mencoba membekap mulut ku sendiri.

Berusaha menahan isakkan ku agar tak terdengar. Ya Tuhan, bisakah aku menjadi sangat kuat sampai dua tahun kedepan? Ia akan pergi, mana mungkin aku bersedih setiap hari?

 

Aku memutuskan untuk berbaring normal di sampingnya, membalik tubuh ku membelakanginya, berusaha meredam isakkan ku.
Aku melihat jam dinding kamar ini yang beberapa menit lagi akan menunjukan pukul 12 tengah malam, masih membekap mulut ku sendiri, ku coba menyentuh dada ku, memukulnya pelan.
Mengapa disana sangat sakit dan sesak? DongHae-ya.. Jika aku boleh jujur.. Aku belum siap! Aku merasa kehilangan karena kau pergi!
Dan mengapa kau tega memilih hari ulang tahun mu sendiri menjadi hari yang akan membuat ku menangis?
Aku tersentak kala merasa sebuah tangan yang begitu familiar merangkul bahu ku.

DongHae-ya….

Aku terdiam, mencoba mengatur dada ku yang masih naik turun seraya melirik ke belakang.

Aku menahan nafas. Apa.. Ia terbangun?
“Sudah ku bilang untuk tak menangis sendirian, bukan?” Mata ku melebar saat mendengar suara serak itu. DongHae benar-benar bangun.
Aku terdiam sejenak, haruskah aku berbalik dan menunujukan air mata yang berceceran ini? Wajar bukan seorang istri menangis karena suaminya akan pergi dalam waktu yang lama? Tapi melihat ku seperti ini pasti akan membuatnya sedih.

 

Setelah terdiam singkat, ku coba berbalik dan pandangan ku langsung tertuju pada wajahnya yang terlihat khawatir. Tidak, jangan tunjukan raut seperti itu DongHae-ya!

Aku menggeleng dan berusaha tersenyum, namun air mata ku malah terjatuh lagi saat tangan hangatnya menyentuh pipi ku, menyeka air mata ku lembut.

Aku menatapnya dan meraih tangannya. Aku pasti akan merindukan sentuhan ini.

 

“Mianhae.. Aku tahu tak seharusnya aku menangis lagi” Ucap ku. Ia tersenyum tipis, namun ku tahu ada rasa perih yang sama tersirat disana.
“Aku protes bukan karena kau menangis. Tapi karena kau menangis sendirian, sudah berapa kali ku katakan untuk menangis saja dihadapan ku!” Ujarnya, ada nada tercekat diakhir kalimatnya.
Aku hanya menatap kosong, tak berani menatap wajahnya. Apa aku membebaninya?
“Mianhae” hanya kalimat itu yang bisa ku katakan dan DongHae  membalasnya dengan mengusap lembut pipi ku.

Perlahan ia menarik ku kedalam dekapan hangatnya, dan aku langsung menyandarkan wajah ku di dadanya yang terlapis kaos hitam. Tangan ku meremas pelan lengan kekarnya.
Aku mencintainya dan aku harus bisa bersabar untuk membuktikannya.

Walau menurut static, 9 dari 10 orang diluar sana akan mengakhiri hubungan mereka karena wajib militer, tapi untuk ku.. Bahkan jika ia belum menikahi ku dan meminta ku untuk menunggunya, tentu aku akan bersedia.

Dan aku menyadari.. bahwa tak seharusnya aku menangis karena kepergiannya, karena itu akan membebaninya dan membuatnya khawatir.
Menjelang kepergiannya, seharusnya aku berusaha mencetak kenangan bahagia dan meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja selama ia pergi.
“DongHae-ya…” Panggil ku dan ia sedikit menjauhkan tubuhnya,  menunduk menatap ku.
Mata itu… Aku pasti akan merindukan saat-saat dimana aku bisa menatapnya sedekat ini.

Aku berusaha mengangkat kedua sudut bibir ku, membentuk senyuman yang setidaknya bisa membuatnya berpikiran bahwa aku tak apa-apa,
“Saengil chukhahae..” Lanjut ku.
Sekilas ia terlihat bingung namun kemudian ia melihat ke arah belakang ku, jam dinding.
DongHae menatap ku sejenak dan terkekeh tanpa suara lalu mengangguk.
“Ne, gomawoyo” Pria itu meraih tangan ku, mengecupnya pelan. Membuat pipi ku yang basah mendadak hangat.
“Apa aku mendapat hadiah?” Tambahnya dengan wajah kekanakan.
Seraya menghapus air mata, aku tertawa kecil dan menatapnya geli. Ya, saat ulang tahun ia selalu menagih hadiahnya dengan wajah polos seperti anak lima tahun yang mengincar mainan baru sebagai hadiahnya.
“Tentu saja aku sudah menyiapkannya! Perlu ku ambilkan–” Ia menahan tangan ku saat ku hendak bangkit, membuat ku menatapnya heran.
“Diamlah disini” Titahnya dan mengarahkan ku agar bersandar di tangannya yang terlentang.
Ia menatap ku, tersenyum kecil dan berkata,

“Untuk tahun ini… Ah tidak! Sampai 2 tahun selanjutnya… Aku tak menginginkan apapun, Aku hanya ingin kau bisa menunggu ku. Jangan melirik pria lain, tunggulah aku, aku akan kembali sebagai pria yang lebih baik dan setelahnya kita bisa memulai kehidupan baru yang sebenarnya. Bisa kau melakukannya?”
Hening.

Aku hanya tersenyum menatapnya, namun diam-diam aku mengepal tangan ku, menahan agar aku tak menangis lagi.
Mungkin kalian berpikir bahwa aku berlebihan karena… bagaimana mungkin aku menangis bila DongHae sudah sering bertanya seperti ini?

Tidak. Kalian salah, Ini baru yang kedua kalinya ia bertanya apakah aku mau menunggunya. Tiga bulan yang kami lalui, tak pernah sekalipun ia membahas tentang keberangkatannya nanti.

Ia benar-benar membuat 3 bulan yang membahagiakan. Mungkin itu sebabnya mengapa waktu terasa begitu cepat.
Aku mengangguk pelan,
“Geureom DongHae-ya. Aku akan tetap disini, menunggu mu mu tanpa merubah hati ku. Dan kita bisa memulai kehidupan kita yang sebenarnya setelah kau kembali” Jawab ku seraya meraih tangannya yang menelusuri wajah ku, menghirup nafas dalam. Mencoba menikmati aroma tubuhnya sebelum kehilangan ini dua tahun lamanya.
Ia terdiam sejenak dan tersenyum lebar. Aku senang sekali melihatnya tersenyum seperti itu.
“Umm.. Jinjjayo? Geurae, akan ku pegang ucapan mu, YeonMi-ya. Jadi kau tak perlu menangis seperti ini lagi, arraseo? Karena aku hanya pergi sebentar, bukan pergi selamanya. Kau pun masih bisa mengunjungi ku sesekali, dan saat  aku mendapat libur istirahat, akan ku gunakan untuk menemui mu”

Aku hanya mengusap tangannya yang sedaritadi menggenggam tangan ku yang satunya.
Senyum masih tersungging di bibir ku. Ya Tuhan, betapa indahnya melihat suami ku tersenyum seperti ini.
“Tapi.. kau juga harus berjanji pada ku” Ujar ku.
“Hm? Mwo?”
Perlahan ku ulurkan tangan ku, mengusap pipinya yang sementara ini tak akan lagi dihiasi make up untuk menunjang penampilannya sebagai idol.
Kontraknya dengan SM akan dijeda selama kepergiannya. Ia akan hidup sebagai Lee DongHae, bukan SJ DongHae.
“Selama disana, jangan sampai jatuh sakit, jangan melakukan diet atau semacamnya, karena penampilan mu bukanlah yang terpenting. Makanlah makanan sehat, jangan tidur terlalu larut dan kau harus bisa bangun pagi tanpa dibangunkan seseorang, kau juga tak boleh ceroboh, bersikaplah dewasa! Usia mu sudah 30 tahun, kau–”
Ucapan ku terhenti saat tiga jarinya yang dirapatkan menutup bibir ku. Membuat ku menatap pria yang tengah menatap ku geli ini dengan tatapan tak terima ku.
Aish!! Apa-apaan ia!? Aku hanya sedang menasihatinya agar ia baik-baik saja selama disana.
“Arraseo YeonMi-ya, arraseo~~” Jawabnya sambil memejamkan mata santai. Lucu sekali, mungkin ia pusing mendengar ocehan ku. Hhh~ Tapi aku melakukan ini karena aku khawatir padanya.
Ia membuka matanya cepat dan mendekatkan wajahnya tiba-tiba. Aishh.. Tak bisakah ia terlebih dahulu melepaskan jarinya dari bibir ku?

“Terimakasih telah mengingatkan ku, aku tak akan membuat mu khawatir” Lanjutnya cepat lalu menjauhkan tangannya dari bibir ku. Namun tanpa di duga justru bibirnya lah yang kini gantian menempel disana.
Aku sempat tersentak namun itu tak berlangsung lama karena aku memejamkan mata begitu merasakan sesapannya yang hangat dan menggetarkan hati.
Aku selalu menyukai cara DongHae mencium ku, tak tergesa dan sangat tenang.

 

Setelah beberapa saat, ia menjauhkan wajahnya,

“Maaf karena aku menunda untuk kita memiliki anak, aku tak mungkin membiarkan mu dua tahun mengurusnya tanpa ku. Kau mengerti, kan?”
“Lagipula masih ada orang tua mu dan Eomma ku, ada DongHwa Hyung juga. Kau tak akan kesepian YeonMi-ya” Ungkapnya agak melas.

Ya, aku memang sempat mengatakan bahwa aku sangat ingin memiliki bayi agar tak kesepian selama ia pergi.

Tapi ia langsung menolaknya dengan cepat. Ia bilang ia tak mau melewatkan masa-masa perkembangan anaknya. Karena masa-masa seperti itu tak akan terulang, bukan?
Ia bilang ia juga tak sampai hati membiarkan ku sendiri saat aku mengandung dan… masih banyak lagi alasan lain. Baiklah, baiklah, aku mengerti.
Aku tertawa kecil dan menangkup kedua pipinya, menekannya gemas dan sesekali mencubitnya.
“Ne~! Aku sudah berkata itu tak masalah kan?”
“Ya!! Jangan memperlakukan ku seperti itu! Aku sudah 30 tahun sekarang!” Sungutnya dengan wajah yang sama sekali tak dewasa. Astaga.

Aku mencibir pelan. Tiba-tiba ia tersenyum penuh arti seraya menatap ku intens.
“Lakukan semuanya setelah aku kembali. Aku juga sangat ingin memiliki bayi. Bagaimana jika memiliki 13 anak?” Ku daratkan jitakan begitu kalimat itu meluncur dari mulutnya dengan sangat tenang. 13 anak? Apa ia gila….
“Kau bercanda!?”
“Waeyo!? Rumah ini luas, kita bisa membuat kamar baru” Eluhnya dengan alasan yang sangat tak tepat.
“Bukan itu masalahnya!” Dengus ku. Astaga.. Yang benar saja memiliki 13 anak? Apa ia berniat membuat Super Junior versi kedua?
“Aku sudah lama memikirkannya. Aku ingin membeli rumah di Amerika, rumah besar dengan pemandangan yang sangat indah. Aku juga ingin membeli kebun binatang dan mengurus hewan-hewannya bersama anak ku. Aigoo, betapa sempurnanya hidup ku” Angannya seraya memejamkan mata, entah apa yang ada di benaknya.
Aku tak kuasa menahan tawa ku, entah film apa lagi yang di tontonnya sehingga memiliki angan-angan seperti itu.
“Geurae, ayo lakukan semua itu dua tahun lagi. Tapi tidak dengan 13 anak” Ucap ku masih tetap menolak keinginan gilanya itu.
“Ah waeyo?? Ah.. Bagaimana jika 12?”
“Ya!!”
“Ahh, geurae 10!” Ia mengerjap sok polos. Aku hanya dapat memutar mata karena tak ada perubahan signifikan di tawarannya.
“Shireoyo!” Tegas ku.

 

Akhirnya pembicaraan itu berlanjut sampai fajar menjemput, tanpa merubah posisi kami yang berbaring berhadapan.

DongHae mengungkapkan apa yang berada di bayangannya mengenai pernikahan kami dua tahun lagi, ternyata keinginannya sangatlah banyak.

Dan aku hanya bisa melontarkan protes ku kala bayangannya melebihi batas. Ya, ia terlalu imajinatif. Dan perdebatan itu akan berakhir dengan aksi saling jitak.

 

Aku hanya bisa berdecak kala ia terus mengingatkan ku agar tak mendekati pria lain selama ia tak ada. Ayolah! Mengapa aku harus mencari pria lain disaat aku memilikinya?
Tapi tak bisa dipungkiri, peringatannya itu membuat ku senang. Karena artinya ia sungguh-sungguh mencintai ku, bukan?

Aku tertawa mendengar cerita konyolnya mengenai para member Super Junior. Pembicaraan panjang yang selalu berganti topik tiba-tiba, begitulah cara kami menghabiskan quality time.

Jam telah menunjukan pukul 3 pagi, tapi tak ada sedikitpun timbul rasa kantuk. Siang nanti ia akan berangkat, sangat sayang bukan jika kami melewati sisa-sisa waktu ini dengan tidur?
“Saranghanda neoreul saranghanda. Jinjja neoreul saranghanda. Nae YeonMi-ya saranghanda~ saranghanda~” Ucapnya dengan suara yang sangat dalam dan tulus.

Aku membalas pelukan eratnya dan memejam ketika ia mencium puncak kepala ku sekilas.
Ia akan meninggalkan ku dua tahun, dan tahun depan mungkin kami tak bisa merayakan ulang tahunnya seperti biasa, tapi aku akan baik-baik saja dengan itu.

Kami telah saling mencintai lebih dari dua tahun, berkali lipat waktu dari itu telah ku lewati dengan mencintainya. Harusnya dua tahun bukan masalah bukan?

Waktu inilah yang bisa ku manfaatkan untuk membuktikan bahwa aku memang mencintainya dengan bersedia menunggunya.

Aku ingin menjadi orang pertama yang menyambut kepulangannya, menyambut sosok Lee DongHae yang lebih baik dan dewasa kemudian berkata bahwa aku telah menepati janji ku dua tahun lalu.
Dan setelahnya kami bisa melakukan semua mimpinya terhadap keluarga kecil kami.
Ku sandarkan dagu ku di bahu kokohnya dan menghirup nafas dalam-dalam.
Ya, Tuhan aku menjadi tak sabar. 14 Juli 2017…. Cepatlah datang!
Lee DongHae, aku tak akan membuat mu menyesal karena telah menikahi ku. Aku sudah banyak membebani mu selama ini, maka aku akan berusaha melakukan semua yang terbaik.

 

Kepergiannya… Ini bukanlah titik yang membuat kami harus mengakhiri segalanya, tapi ini hanyalah sebuah koma yang mengharuskan kami berhenti sejenak.

Mungkin akan ada rasa bosan yang menghampiri ku sesekali. Tapi aku percaya semua itu tak akan merubah apapun dalam diri ku. Aku akan tetap menantinya walau sangat lama.

 

DongHae-ya saranghae! Saengil chukhahae!

-fin- 

 

Visit my wordpress at blueangel1015.wordpress.com also follow me on haewookfocus ^^

Thanks for reading^^

15 Comments (+add yours?)

  1. memey
    Oct 15, 2015 @ 19:41:12

    Donghae masih sempet – sempetnya ngelawak aigooo.. -_- aaahh donghaeyaaaa 😭😭

    Reply

  2. Anisa
    Oct 15, 2015 @ 19:51:11

    13??? :v bikin boyband aja oppa :v trs bkn 2 lg dh dichina biar genap 15 =D daebak thor ff nya =) bikin sequel donghae nya plg wamil dan punya baby dong thor pasti lucu =D

    Reply

  3. Shafira
    Oct 16, 2015 @ 15:31:48

    Ih thor jadi kangen sama donghae baca ff ini author keren 👍

    Reply

  4. chintya
    Oct 16, 2015 @ 15:42:30

    iya… minta sequel na donk pas hae oppa na pulang wamill.. cerita na seru.. author na mantap

    Reply

  5. Rien Rainy
    Oct 17, 2015 @ 16:17:50

    demi apa?! setelah baca ini jadi kangen sama donghae?! T.T hiks..
    tapi thanks buat cerita.a.. ini sangat2 menghiburku.. :”) ck, ah, kalo di ingat2 lagi rambut cepak hae emg buat pnampilan.a jd dewasa. dewasa banget malah~!!!

    Reply

  6. fatimatus19
    Oct 17, 2015 @ 21:18:51

    Sedih

    Reply

  7. Laili
    Oct 18, 2015 @ 11:27:04

    Donghae romantis bgt ya padahal dah mau wamil. Yang sabar ya Yeonmi… Kita ELF juga akan menunggu mereka kembali…

    Reply

  8. blueangel1015
    Oct 26, 2015 @ 23:45:30

    Aku juga kangen diaaaa T.T wah seneng deh kalo kamu terhibur;) yasshh dia nambah ganteng tau ih sebel ;;;; malah….pengen nyeret dia pulang buat nikahin aku :((((( lmao. ,akasih komentarnya:)

    Reply

  9. blueangel1015
    Oct 26, 2015 @ 23:45:51

    Aku juga kangen diaaaa T.T wah seneng deh kalo kamu terhibur;) yasshh dia nambah ganteng tau ih sebel ;;;; malah….pengen nyeret dia pulang buat nikahin aku :((((( lmao. Makasih komentarnya:)

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: