[Donghae’s Day] Someone’s Voice

DONGHAEPRESIDENT

.

.

.

“Ever wanted to hug someone’s voice?”

.

.

.

Han Cheonsa berjalan dengan langkah panjangnya menyusuri lorong yang beralaskan karpet dari beludru berwarna merah tua, beberapa pelayan yang tidak sengaja melewati lorong itu membungkuk dengan hormat setelah melihat sosok sempurna itu berjalan dengan tatapan datarnya melewati mereka.

Pewaris tunggal hotel itu baru saja melangkahkan kakinya di sana tanpa pemberitahuan sebelumnya, untuk para pelayan baru mungkin sosok wanita itu hanya terlihat seperti tamu dari kalangan atas yang akan memanggil layanan kamar setiap lima menit sekali hanya untuk memastikan bahwa pesananya di kerjakan dengan sempurna.

Tapi bagi para petinggi disana, sosok wanita itu bagaikan sebuah lambang atutentik tentang kepemilikan hotel termegah dan termewah di London tersebut. “Dia baru datang dari Vietnam, kini berada di Royal President’s Suite dan memesan layanan kamar untuk makan malam beberapa menit yang lalu.” Jelas seorang Manager On Duty ketika Cheonsa menanyakan kedatangan tamu istimewa itu.

“Maaf tapi Tuan Presiden, tidak bisa di ganggu oleh siapapun tanpa perintah resmi dari pemerintahan,” Cheonsa mendengar tolakan samar dari seorang kepala pengawal berjas hitam dengan lambang Alpha di bahu jas hitamnya.

“Tapi yang ingin menemuinya detik ini, adalah pemilik hotel ini. Kami memiliki kebijakan bahwa pemilik hotel bisa bertemu dengan semua tamu untuk mengetahui tingkat pelayanan dari hotel ini.” Jelas Manager On Duty tersebut dengan wajah sedikit khawatirnya, jika dia tidak berhasil mendobrak tim keamanan ini, dia yakin Nona Besar Han tidak akan menyukai kejadian ini.

Alpha? Kalian adalah tim keamanan yang di pilih oleh Badan Pertahanan Internasional Seoul bukan?” Mereka bisa mendengar suara rendah dengan intonasi berkelas itu memecah keheningan disana,

“Segera hubungi Menteri Pertahanan bahwa tim Alpha yang dipilihnya baru saja menolak putri dari ketua parlementer Britain untuk bertemu dengan tamu di hotelnya sendiri.” Lanjutnya dengan tatapan dingin, sebelum akhirnya seluruh pengawal itu menundukan kepalanya dan membiarkan wanita itu menemui atasan mereka.

Travis? Aku sudah bilang bahwa aku tidak ingin bertemu siapa—” pembicaraan itu terhenti ketika dia menatap sosok sempurna dengan tatapan samudranya menatap dari ujung ruangan. Travis adalah nama samaran salah satu pengawalnya, dan apa yang di lihatnya detik ini bukanlah Travis.

“Mr. President,” suara rendah Cheonsa kembali terdengar memenuhi udara yang kosong, di dalam suite mewah khusus untuk para Presiden yang mengunjungi London.

“Aku tidak percaya kau berani untuk menginjakan kakimu di sini setelah membuat perjanjian pemberdayaan nuklir dengan Amerika.” Lanjut Cheonsa sambil memutar globe yang berada di meja kerja Tuan Presiden itu dengan satu jarinya.

“Mungkin sama gilanya ketika aku menunjukan senyumanku di pesta afternoon-tea di hadapan Philip dan anggota kerajaan setelah membawa kabur putri semata wayangnya ke utara Mayfair.” Balas pria itu dengan senyuman lembutnya yang selalu membuat Cheonsa menyesal dipertemukan dengan senyuman seindah itu.

“Bagaimana dengan Ibu Negara?” Kali ini Cheonsa bertanya dengan suara lebih bersahabat tapi tetap menyelidik, dilahirkan di dalam keluarga Political British Party yang kuat membuat Han Cheonsa tumbuh menjadi sosok yang menganut sistem liberal sekaligus demokrat di dalam pandanganya.

Dia? Well, Ibu Negara sedang menikmati peranya untuk membantu korban-korban konflik di daerah perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Dia mendapatkan banyak sorotan dan ulasan nomor satu di setiap surat kabar, dan aku rasa dia memang menyukai segala jenis sorotan utama itu.” Tukas pria yang paling berpengaruh di Korea Selatan tersebut.

Cheonsa menjawabnya dengan tatapan bahwa -Wanita Yang Di Pilih untuk menjadi First Lady mu ternyata sangat payah-.

“Aku tidak ingin mendengar sudut pandangmu tentang keputusanku membiarkan birokrasiku melakukan pemilihan acak untuk siapa yang menjadi Mrs. President-ku, Han Cheonsa.” Cheonsa memutar bola matanya, sedikit mengejek ke arah Presiden yang sudah dikenalnya delapan tahun yang lalu.

Dia menatap pria itu yang kini kembali tenggelam dengan laporan telegraph udara dari perbatasan Pyongyang, Korea Utara.

“Mereka bilang kau lembut,” pria itu menatap Cheonsa sekilas sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabaikan tugasnya malam ini dan mendengarkan boneka porselen dengan mata samudranya yang kini sudah duduk di atas meja kerjanya.

Boneka porselen itu selalu melakukan apapun yang dia inginkan.

“Byungshin, ketua pelayan khusus Presiden berbicara kepada seorang reporter dari harian New York Times tentang dirimu. Dia bilang kau adalah presiden termuda dalam sejarah Korea Selatan, ketika kau pertama kali masuk ke dalam istana negara kau menyapa semua pelayan dan pegawai disana dengan mengubar janji bahwa kau akan berusaha dengan keras untuk mengingat nama mereka satu per-satu. Dia bilang kau menjalani masa kepimpinanmu dengan lembut.”

Lee Donghae, pria itu, kini tersenyum kecil mendengar cerita itu. Dia hanya tidak menyangka bahwa seorang Han Cheonsa, mau meluangkan waktunya untuk membaca kabar di surat harian tentangnya.

“Menyenangkan mengingat sesuatu hal yang tidak berhubungan dengan negara dan nuklir di setiap titik kordinat di bawah lautan.”  Serunya dengan sedikit semangat yang tergambar di wajah lelahnya.

Cheonsa menatap raut wajah Donghae selama beberapa detik—mungkin satu layanan kamar lagi adalah hal yang bagus, dan dia akan memastikan bahwa semua pelayan itu akan kepayahan dengan pesanan Caviar diatas quiche-nya yang membutuhkan setidaknya 10 kali perbaikan hingga makanan itu layak untuk di nikmati Donghae dan dirinya.

“Bagaimana keadaanmu, Han?” Kali ini Donghae yang bertanya, memberikan beberapa detik untuk Cheonsa berpikir.

“Sama buruknya seperti ketika krisis misil di Cuba tidak jadi menghancurkan Amerika pada saat pemerintahan Kennedy.” Cheonsa adalah orang yang sangat patriotik, dia menyukai politik lebih dari dia menyukai koleksi terbaru Chanel yang keluar setiap tanggal lima di setiap bulanya.

Donghae masih teringat dengan pertemuan pertama mereka, mereka adalah mahasiswa tingkat akhir di Oxford. Donghae tidak pernah mengenalnya, Han Cheonsa selalu berjalan dengan tatapan angkuh, dan empat pengawal yang mengekor seperti anjing Rotweiller di sekitarnya.

Delapan tahun yang lalu, Cheonsa  duduk dengan tatapan angkuhnya di meja yang berada di sudut ruangan, satu tanganya memegang buku besar berwarna coklat gelap dengan kulit buku yang mulai mengelupas termakan rayap.

Oxford memiliki perpustakaan yang luas, tapi dia tidak pernah bisa mengalihkan pandanganya dari sosok gadis yang seharusnya lebih cocok berjalan di dalam etalase Harrords dibandingkan tenggelam di antara buku berdebu yang akan membuat mantel halus Bvlgari coklat mudanya terlihat sedikit usang.

Baru ketika di penghujung musim panas, Donghae memberanikan diri untuk menawarkan satu gelas karton berlambang hijau khas Starbucks ke arahnya.

Mereka memiliki hubungan yang fantastis setelah itu. Dia tidak akan pernah mempercayai bahwa hal itu akan terjadi pada hubunganya dengan Cheonsa. Mereka adalah orang-orang yang tahu bagaimana caranya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.

Donghae selalu berhasil memompa adrenalinya setiap kali menyusup ke dalam kamar Cheonsa melewati lorong bawa tanah di dalam rumah megah Cheonsa.

Dia akan memulai gerakanya dengan lembut, satu tanganya akan menarik tubuh mungil Cheonsa ke dalam pelukanya, lalu satu tanganya lagi akan terjatuh merengkuh wajah Cheonsa ke dalam ciumanya. Dia akan bergerak dengan halus, membiarkan Cheonsa mengerang dengan kencang dan membisikan namanya dengan indah diantara desahan mereka berdua.

Setelah itu dia akan membiarkan Cheonsa berjalan mengelilingi kamarnya tanpa menggunakan sehelai benang yang menutupi tubuhnya. Cheonsa akan duduk di kursi merah mudanya yang menghadap ke perapian, bercerita tentang Gus–pelayan pribadinya, yang salah mengartikan pesanan makan siangnya di Harrods. Dia akan bercerita tentang apapun yang terjadi kepadanya hari itu ke Donghae.

Setelah itu dia akan berjalan ke arah Cheonsa, mengajaknya kembali ke atas tempat tidur. Mereka tidak melakukan apapun di atas sana, Donghae bersumpah walaupun hasrat bajinganya sebagai seorang pria normal ingin terus melakukanya dengan Cheonsa, tapi dia tidak mengikuti nafsu binatangnya, dia tidak ingin menjadikan wanita sempurna seperti Cheonsa sebagai alat seks.

Han Cheonsa jauh lebih berharga dari semua itu.

Dia hanya akan melakukanya satu kali di setiap kunjungan adrenalinya menyusup ke rumah ketua parlementer Great Britain. Donghae akan mengecup kening Cheonsa, dan membiarkanya tertidur di dalam pelukanya sebelum dia menghilang di balik jendela kamar itu.

Tapi itu semua tidak berlangsung lama, perlahan hubungan mereka mulai merenggang saat Donghae memenangkan posisi pertamanya sebagai seorang Senator muda dari Seoul. Lalu semuanya berjalan dengan sangat cepat, dan secara perlahan mereka mulai melupakan semua kisah itu di belakang sana.

“Lalu pindahlah ke Seoul, dan aku akan menjadikanmu Ibu Negara disana.” Walau terdengar seperti sebuah gurauan di malam hari, Cheonsa tahu bahwa Donghae bersungguh-sungguh dengan tawaranya. Oh, dia lebih tahu dari siapapun bahwa Presiden Korea Selatan ini sangat serius dengan tawaranya.

“Kau akan terbangun setiap paginya, untuk mencarikan warna dasi yang pas untuku, kemudian kau akan tenggelam dalam berbagai acara sosial yang membosankan, lalu kau akan memastikan bahwa jamuan makan malam di Istana Negara akan berjalan sempurna. Sebenarnya kau tak lebih dari pelayan pribadiku, tapi kau terhormat, kau adalah First Lady di Seoul.”

Donghae telah kembali memiliki sense of humour-nya, gurauanya memang tidak terdengar lucu—tapi dia pandai berkelakar, sehingga hal itu mampu mengantarkanya sebagai presiden termuda dalam sejarah South Korea.

“Aku tidak ingin merasa terkekang.”

Donghae tahu Cheonsa akan menjawabnya seperti itu. Cheonsa selalu memiliki seribu alasan mengapa dia lebih memilih meninggalkan Donghae, dan melepaskan apa yang sangat di inginkanya di dunia ini—berada di sisi Lee Donghae.

“Kau selalu merasa terkekang.”

Ini bukan pembahasan yang dia harapkan ketika bertemu dengan wanita ini setelah sekian lamanya. Dia juga tidak mengerti mengapa Han Cheonsa berada disini—

“Aku akan menikah dengan Putra Perdana Menteri Jepang.”

Hening.

Lee Donghae tidak menjawabnya, kini dia tahu mengapa alasan wanita itu berada disini. Sekilas memori tentang masa-masa indah mereka terus berputar di dalam kepalanya, menyerupai putaran film berwarna putih abu-abu di setiap kedipan matanya.

“Aku tidak ingin membuatmu terkejut, Lee.”

Kau selalu membuatku terkejut, Han.

“Aku harap kau bisa menghadiri upacara pernikahanku besok.”

Aku tidak ingin datang.

“Lee?” Cheonsa mengulang pertanyaanya, menyadari raut wajah Donghae yang telah berubah. Dengan cepat Donghae sudah merubah raut wajahnya, dan memulaskan senyumanya untuk Cheonsa—jenis senyuman otomatis yang dia umbar selama menjadi seorang Presiden bukan senyuman hangatnya yang selalu dia tunjukan pada Cheonsa.

Ever wanted to hug someone’s voice? I am, Han.

I want to hug your voice.

Jika saja Han Cheonsa bisa mendengar suara hatinya, mungkin kini dia tidak akan pernah kehilangan wanita itu dari pelukanya. Tapi dia lebih memilih ego-nya dan menatap Cheonsa sebagai bagian masa lalu yang tidak akan pernah berpijar lagi di dalam hidupnya.

“Maaf, aku tidak bisa hadir. Besok pagi aku harus terbang ke Korea Utara untuk melakukan beberapa perjanjian.” Dia bersyukur karena dia tidak harus berbohong kepada Cheonsa—dia memang di jadwalkan untuk bertemu dengan kepala pemerintahan North Korea besok pagi.

“Aku mengerti.” Cheonsa bangkit dari atas meja dan mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu utama.

“Kau tidak marah, bukan?”

Cheonsa menatap Donghae untuk beberapa detik sebelum wanita itu tertawa. Tawa yang sangat disukai Donghae setiap kali dia berkata bahwa dia sangat mencintai wanita itu. Tapi semua itu telah berada di masa lalu, apa yang mereka miliki hanyalah detik ini dan masa depan yang tidak pernah berpihak pada mereka.

“Tidak ada yang bisa memarahi Mr. President.”

Tapi kau adalah pengecualian, Han Cheonsa.

“Semua orang menginginkanmu, mereka tidak akan pernah merasa kecewa kepadamu.”

Tapi kau tidak menginginkanku, Han.

“Good luck for whatever’s up with you, Mr. President.” Cheonsa mengecup wajah Donghae dengan singkat sebelum langkahnya kembali menjauh dari sosok yang masih menatapnya.

“Han,”

Cheonsa kembali menghentikan langkahnya disana saat mendengar suara Donghae bergema di ruangan itu. Dia menatap Donghae yang berdiri di ambang pintu, tanpa memperdulikan penampilanya yang berantakan dan kemejanya yang kusut.

“Kau tahu apa yang aku inginkan di dunia ini?”

Pertanyaan itu terlepas di udara, dengan gampang Cheonsa bisa menebaknya. Dia telah mengenal Donghae lebih dari dirinya sendiri, dia tahu apa yang pria itu inginkan—dan Donghae telah mendapatkanya. Menjadi seseorang yang sangat berkuasa.

“Aku menginginkanmu sebagai orang terakhir yang aku tatap sebelum aku menutup mataku untuk selamanya, Han. Aku ingin kau menjadi kenangan terindah yang berada di dalam mataku saat aku meninggalkan dunia ini.”

“Dan setelah perpisahan kita, aku tidak pernah bisa berhenti dihantui oleh rasa takut—bahwa aku tidak akan pernah bisa menatap matamu sebelum aku meninggalkan dunia ini.”

Donghae tersenyum kecil, membiarkan kata-katanya menggantung di udara sebelum matanya kembali bertemu dengan mata terindah yang pernah mengisi hidupnya.

“Tapi kini, kau berada disini—Aku telah bertemu denganmu, dan rasa takut itu tidak bisa menghantuiku lagi, Han.”

Donghae mendekatkan tubuhnya ke arah Cheonsa, sebelum dia mengecup kening Cheonsa dengan lembut dan membisikan sesuatu yang tidak akan pernah dia lupakan untuk selamanya.

“Aku sangat mencintaimu, Han Cheonsa.”

Menutup sebuah malam dimana takdir mempermainkan mereka dengan begitu kejam.

.

***

.

.

-EPILOG-

.

.

Breaking News

 

Presiden Korea Selatan, Lee Donghae, di nyatakan tewas terbunuh dalam kecelakaan pesawat menuju Korea Utara dari London—waktu dini hari tadi. Penyebab kecelakaan telah di konfirmasi sebagai tindak pembunuhan dari gerakan Komunis di Tiongkok dan Korea Utara yang menolak misi perdamaian dari Korea Selatan.

.

.

.

 

“…..Aku ingin kau menjadi kenangan terindah yang berada di dalam mataku saat aku meninggalkan dunia ini, Han Cheonsa…..”

.

.

.

 

-THE END-

.

.

.

Because, this is my biggest breaking moment and the worst present birthday ever from Lee Donghae for me. Ugh, nearly, crying in corner.

xo

IJaggys | @IJaggys 

8 Comments (+add yours?)

  1. Anisa
    Oct 15, 2015 @ 19:58:50

    Author… Masih gantung… Trs gmn nasibnya cheonsa ditinggal donghae? Kirain happy ending ternyata sad ending =( wajib sequel nich thor =D

    Reply

  2. fairyuspark
    Oct 15, 2015 @ 20:46:46

    Apa ini ???? Ketika suasana hati tengah galau kakak bikin yang beginian. Gue kan baper hahahhahaha
    Duh ampun gue salah fokus nih. Gue malah penasaran sama mrs. President nya.
    Serasa pengen peluk donghae. Walau end nya nyesek yaaa cerita mu selalu memuaskan kak 😁😊😊😊😀😀😀😀😘😙

    Reply

  3. leekhom
    Oct 16, 2015 @ 08:20:45

    Oh my….cerita’a sdh keren bgt tp sayang sad end😦

    Reply

  4. Ririn Setyo
    Oct 17, 2015 @ 11:55:05

    Yaaa Donghae??? emangnya Donghae itu paling cocok buat cerita sad ending, entahlah mungkin karna mukanya yg terlalu lembut menjurus ke galau #eeaaa
    Paling cocoklah setting ginian buat FF km Ay, Cheonsa anak ketua parlementer Britain dan Dongek Presiden… Presiden?? untung gak dibikin jadi Nelayan lagi Dongeknya lol

    aku selalu suka ama alur yg kmu buat Ay, kapan ya aku bisa bikin seKECE ini hahaha Aku Pada-mu Ay😀😀😀

    Reply

  5. NuRulKyu
    Oct 17, 2015 @ 14:59:44

    Sad….
    Teranya Omngan Donghae bner2 terjadi….
    Melihat Han Cheonsa sblum dia menutup mata, dan itu selamnya…

    AAAAAA….
    Kenapa Donghae hrus mati, Yak…
    Trus kenapa Cheonsa gg mau am Donghae, emg di gg cinta am Donghae…

    Reply

  6. Laili
    Oct 18, 2015 @ 01:09:04

    Wah!! Keren bgt….
    Haha Donghae jadi presiden di sini. Tapi kasian akhirnya Donghae meninggal dibunuh. Harapannya Donghae terkabul.
    Jadi inget Donghae wamil… huhu T.T

    Reply

  7. Han Maeri
    Nov 05, 2015 @ 12:26:46

    Oh, DAMN! What the hell is this??!! You’re definately success to make me crying TT TT I miss you so bad, Lee.

    Serve well, stay health, and come back save ♥

    Aku suka dengan panggilan sayang Cheonsa dan Donghae—Lee dan Han.

    Tulisan ini hanya dalam rangka kepiluan hati para ELFishy atas national duty-nya Dongaek kan, Ijaggys? *baper berlanjut*

    I ♥ Ijaggys

    Reply

  8. KNisa
    Dec 10, 2015 @ 12:16:01

    Keren + menyentuh, aku suka penulisan’a gak berantakan dan berkualitas

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: