[Donghae’s Day] A PIECE OF WISH

j

A PIECE OF WISH

by Primrose Deen

© 2015

Lee Donghae, Chloe Dawson

Romance

Teenager

Ficlet

P.s.

Donghae resmi menjalankan wajib militernya tepat di hari ulang tahunnya yang ke-30 (umur Korea) dan jujur saja, ini membuat saya sedih T_T. Ditambah lagi, Eunhyuk dan Siwon juga pergi wajib militer tahun ini. But let’s hope the best for them. I believe we will pass these hard days and they will come back safely in a blink of an eye. Salute!!

***

Hujan masih terasa sama ketika rintiknya menyentuh kulitku. Petrichor pun aromanya masih khas ketika menyapa indera penciumanku. Awan mendung yang menggantung di langit pucat di sana pun masih sama. Kepulan kopi panas yang baru saja disajikan di hadapanku masih menjadi favoritku. Semuanya masih sama, kecuali satu hal; sendirian. Dan hal itu membuat suhu dingin terasa lebih menusuk kulit daripada tahun-tahun sebelumnya.

Menghabiskan perputaran jarum jam bersama secangkir kopi di hari ulang tahun ketika berada di sebuah kota yang bermil-mil jauhnya dari tanah asal memang bukan hal buruk, tapi harus kuakui, rasanya sepi. Aku beruntung, hari ini kafenya buka setelah tutup berhari-hari. Aku sempat khawatir jika kafenya tidak buka ketika hari ulang tahunku tiba, karena aku benar-benar tidak memiliki rencana cadangan dalam otakku tentang tempat tujuan untuk menghabiskan hari ulang tahuku sendirian.

Ini bukan pertama kalinya aku berulang tahun di Seoul—kota yang menjadi pilihanku untuk mendapatkan gelar sarjana. Aku masih ingat, di tahun pertama aku berulang tahun di Seoul, aku membeli kue ulang tahun superkecil dengan sebuah lilin yang sama kecilnya. Aku duduk di meja yang berada di sudut ruangan dan mulai “merayakan” ulang tahunku sendirian. Aku melakukan beberapa hal layaknya orang yang sedang berulang tahun; memejamkan mata dengan kedua telapak tangan saling menggenggam sambil berdoa di dalam hati. Ketika aku membuka mata, seseorang telah duduk di hadapanku dengan dua cangkir kopi di atas meja.

“Selamat ulang tahun,” ujarnya lirih. Senyum tersungging lebar di bibirnya yang tipis. Kedua gigi kelincinya tampak rapi berderet dengan gigi-giginya yang lain.

Aku mengerjap, mencoba mengingat wajah ini yang rasanya pernah kulihat di suatu tempat. Kendati tak asing, namun aku jelas tidak pernah mengenal laki-laki ini sebelumnya. Lalu kenapa tiba-tiba ia bisa muncul di hadapanku, bahkan mengucapkan selamat ulang tahun?

“T-terima kasih.” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Otakku sedang bekerja terlalu keras untuk mencoba mengingat wajah ini.

“Ini hadiahku untukmu.” Tangannya mendorong pelan secangkir cappuccino ke arahku, masih dengan senyum yang terukir.

“Terima kasih.” Aku mengambil cangkir tersebut agar lebih dekat denganku.

“Apa hanya itu kata-kata yang bisa kau ucapkan untukku?”

“Apa?”

“Hari ini juga ulang tahunku.”

“Oh ya?”

“Bukankah kau harusnya mengucapkan selamat untukku juga?” Ia mengangkat dagunya, berpura-pura tidak terima. Namun kemudian, senyum kembali terulas. “Aku juga sedang sendirian di ulang tahunku. Walaupun harus kuakui, Twitter dan Instagram-ku dibanjiri ucapan selamat ulang tahun. Tapi tetap saja aku sendiri. Untung saja aku melihatmu sedang membuat permohonan di depan sepotong kue ulang tahun yang sangat kecil, jadi aku memutuskan untuk bergabung denganmu.”

Ulang tahun sendirian di perantauan untuk pertama kalinya sudah cukup buruk, ditambah lagi sekarang aku harus merayakan ulang tahun dengan laki-laki entah-siapa-namun-wajahnya-tak-asing yang mengaku bahwa hari ini adalah ulang tahunnya juga. Ini akan menjadi ulang tahun terburuk.

“Apakah kau terganggu jika aku di sini?”

“Sejujurnya, aku memang sedikit terganggu. Karena aku tidak tahu siapa kau dan apa maksud tersembunyi dibalik pengakuanmu bahwa kau sedang berulang tahun hari ini, lalu kenapa kau ingin bergabung denganku, sehingga kau membuatku tidak segera meniup lilin ulang tahunku.”

“Apa kau selalu begini? Bicara sepanjang itu dalam satu tarikan napas?” Laki-laki itu tertawa ringan. “Oh, tunggu. Dan kau tidak memercayaiku bahwa aku sedang berulang tahun?”

“Yah, sepertinya begitu.”

“Ambil ponselmu, lalu cari di Google.

Aku menatapnya sambil mengerutkan alis. “Apa yang harus kucari?”

“Tentu saja tanggal ulang tahunku.”

Aku mengambil napas dan mengembuskannya dengan cukup keras. “Baiklah,” gumamku sambil mengambil ponsel di tasku. “Siapa namamu?”

“Kau benar-benar tidak tahu atau kau memang tipe orang yang membuat lelucon semacam ini?”

Aku mengerjap beberapa kali seraya menatapnya tak mengerti.

Lee Donghae. Ketik itu di Google.”

Donghae? Apa maksudnya adalah…

“Masih tidak tahu? Super Junior. Kau pasti tahu Super Junior, bukan?”

Donghae Super Junior? Ah, pantas saja wajahnya tidak asing. Aku sudah ingat sekarang. Aku sering melihat wajahnya terpampang di papan-papan iklan besar seperti SPAO, Lotte Duty Free, dan masih banyak lagi.

“Maaf, aku lupa.” Aku tersenyum meminta maaf.

“Tidak apa-apa. Namun, sebagai gantinya, kau harus mengizinkanku meniup lilin ulang tahun itu bersamamu. Lihat, lilinnya sudah tinggal setengah.”

Aku mengikuti arah pandangnya dan tertawa kecil. “Baiklah. Buatlah permohonanmu.”

Donghae tersenyum lebar sebelum memejamkan matanya beberapa detik.

Dalam hitungan ketiga, kami meniup lilin yang tinggal tersisa setengah itu bersama-sama.

“Selamat ulang tahun, Donghae-ssi.”

“Selamat ulang tahun…”

“Chloe Dawson.”

Donghae menyunggingkan senyum. “Selamat ulang tahun, Chloe-ssi.”

***

Jika beberapa orang menganggapnya sebagai sebuah kebetulan, maka aku menyebutnya sebagai takdir. Karena aku percaya, sesuatu terjadi untuk suatu alasan. Bahkan angin yang berembus pelan dapat membantu mekarnya bunga-bunga. Begitu pun pertemuanku yang selanjutnya dengan Donghae. Kami dipertemukan lagi di sebuah toko kue yang menjual tartlet yang enak.

Kala itu, aku pergi bersama dua orang temanku. Kami pergi memesan tartlet-tartlet pilihan kami setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk sekadar memilih rasa dan bentuk hiasan yang kami inginkan. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya tartlet-tartlet yang kami tunggu-tunggu agar dapat segera disantap di dorm pun siap. Setelah membayar di kasir dan hendak pergi dengan langkah ringan, tiba-tiba timbul keinginanku untuk menilik tartlet-tartlet yang sudah terbungkus rapi di dalam kotak yang ada di tanganku itu.

Aku mendelik ketika mengetahui bahwa tartlet-tartlet tersebut bukanlah tartlet yang kami pesan tadi.

“Tunggu dulu, teman-teman. Ini bukan tartlet kita.” Aku kembali melangkah ke dalam toko kue tersebut setelah mendorong pintu masuknya yang terbuat dari kaca berat dengan sebelah tangan. Aku menghampiri karyawan toko kue yang sedang membersihkan salah satu meja pelanggan. “Maaf, ini bukan tartlet pesananku,” ujarku sambil mengangkat kotak berisi tartlet itu.

“Ah, maaf. Kalau begitu, aku akan mengeceknya terlebih dahulu.” Karyawan toko kue itu mengambil alih kotak yang sedang kubawa.

“Apa ini tartlet pesananmu?” Seseorang tiba-tiba bersuara tepat di sebelahku. Di depanku terdapat sebuah kotak kue yang sedang terbuka dan menampilkan tartlet-tartlet yang sesuai dengan pesananku dan teman-temanku tadi.

“Benar, ini…” Kata-kataku terhenti ketika aku mengangkat wajah untuk menatap si empunya suara. “Donghae-ssi?”

“Kita berjumpa lagi, Chloe-ssi.” Ia mengembangkan senyumnya lagi dengan hangat seperti di saat pertemuan pertama kami hari itu.

Melalui sudut mataku, aku bisa menangkap karyawan toko kue yang sedang membawa kotak yang kuserahkan tadi menatapku dan Donghae secara bergantian.

Donghae beralih menatap karyawan toko kue tadi dan menunjuk kotak yang sedang dibawanya. “Dan itu, pasti adalah milikku.”

Karyawan toko kue itu bergeming beberapa saat sebelum menyerahkan kotak yang ada di tangannya. Entah karena masih sibuk mencerna apa yang sedang terjadi di hadapannya atau karena wajah tampan Donghae yang membiusnya.

Ya, Donghae memang tampan. Aku sudah tahu itu sejak melihatnya ada di papan-papan iklan besar yang ada di Seoul. Dan aku semakin meyakininya ketika aku memiliki kesempatan untuk berhadapan dengannya secara langsung di hari itu.

“Chloe-ssi,” panggilnya ketika kembali mengalihkan tatapannya kepadaku,“karena kau sudah keliru membawa kotak tartlet-ku, kau harus datang ke SBS besok siang untuk melihat penampilan comeback-ku di Inkigayo.”

Apa?

“Aku akan memastikanmu mendapatkan akses untuk pergi ke backstage dan menemuiku. Sampai jumpa di sana.”

***

Sesuai dugaanku, di sini dipenuhi oleh gadis-gadis muda berusia belasan hingga awal tiga puluhan yang membawa balon-balon berwarna sapphire blue dengan ukiran inisial D&E. Donghae and Eunhyuk. Aku memang menyukai lagu-lagu K-Pop, namun aku baru mendengarkan beberapa lagu Super Junior. Sebagian besar lagu Super Junior yang kudengarkan adalah lagu yang lahir dari tangan dingin Donghae. Selain suaranya yang merdu dan lembut, ia juga mahir menulis lagu. Dan aku menyukai semua lagunya. Semua lagu tulisannya, baik lagu bertempo cepat ataupun lambat selalu saja mampu membuatku menyetel lagu tersebut dalam mode repeat setidaknya tiga kali. But I like his ballad songs better, karena lagu-lagu tersebut memiliki makna yang dalam. Dan yang spesial dari lagu Donghae adalah setiap lagunya selalu memiliki ciri khas tersendiri, yang membuat setiap orang yang mendengarnya langsung mengenali bahwa lagu tersebut adalah lagu yang ia tulis.

Ketika sedang mengantre untuk masuk ke studio, seorang laki-laki dengan name tag bertuliskan “All Access” menghampiriku. Ia mengatakan bahwa ia diminta untuk membawaku ke backstage atas permintaan Donghae. Aku sendiri masih bertanya-tanya bagaimana orang ini dapat mengenaliku, namun aku tak memiliki pilihan lain selain mengikutinya yang membawaku ke backstage.

Backstage tak kalah ramainya. Hanya saja, di sini tidak dipenuhi fans, melainkan para staf yang sibuk menyiapkan panggung dan hal-hal lainnya demi berjalannya penampil comeback Donghae dan partner-nya yang bernama Eunhyuk itu.

Laki-laki yang sejak tadi berjalan di depanku berhenti di depan pintu bertuliskan “Donghae & Eunhyuk” dalam ukuran yang cukup besar. Ia mengetuk pintu tersebut sebelum membukanya dan mempersilakanku masuk. Setelah menggumamkan terima kasih, aku melangkah ragu-ragu ke dalam ruangan tersebut. Di sana, beberapa staf—yang aku yakin adalah para stylist—sedang berdiri di sekeliling dua laki-laki yang duduk tak berjauhan dan menghadap cermin besar dengan beberapa bolam lampu di bagian tepi atas dan sampingnya. Para stylist itu melakukan hal yang berbeda-beda. Ada yang sedang menata setiap inci rambut mereka, ada yang sedang sibuk dengan make-up mereka, dan ada juga yang sedang sibuk bicara tentang penampilan mereka di panggung nanti.

“Hai, Chloe-ssi.” Ia menatapku dan tersenyum melalui pantulan cermin. “Duduklah dulu.”

Aku tersenyum dan menundukkan kepalaku singkat.

“Oh, rupanya ada yang sedang menyelundupkan seseorang ke backstage sekarang.” Eunhyuk terkekeh sambil melirik jahil ke arah Donghae, kemudian menatapku dengan seringai lebar yang menampilkan gigi dan gusinya.

“Diam kau, Eunhyuk-a.” Donghae tertawa sambil balas melirik Eunhyuk. Tak lama setelah itu, Donghae berdiri dan menatap pantulan wajahnya di cermin sambil tersenyum singkat. Setelah puas dengan make-up, tatanan rambut, dan kostumnya, ia berjalan mendekatiku. Sebelum menjatuhkan dirinya di sofa, ia berdiri di hadapanku sambil berkacak pinggang. “Apakah aku sudah tampan?” tanya Donghae sambil sedapat mungkin menahan senyum, tampak setengah menyesal dan malu telah melontarkan pertanyaan tersebut.

Aku menatapnya dengan mata disipitkan. “Kau benar-benar sedang bertanya atau kau memang tipe orang yang menyukai pujian?”

Donghae akhirnya terbahak. “Aku hanya sedang senewen.”

“Bukankah kau sudah melakukan ini berkali-kali? Bahkan di panggung yang jauh lebih besar seperti di Tokyo Dorm.”

Donghae duduk di sebelahku. “Bagaimana pun, comeback selalu membuatku jauh lebih gugup daripada konser. Seolah-olah penampilan ini akan menentukan baik tidaknya penjualan album nanti.”

“Tidak usah khawatir. Kau pasti akan melakukannya dengan baik.”

Donghae menatapku beberapa detik sebelum menyunggingkan seulas senyum. “Terima kasih, Chloe.”

Aku menghabiskan beberapa detik untuk menatapnya sebelum akhirnya mengerjap, lalu menyahut,“Sama-sama. Lalu kenapa kau memintaku ke backstage segala? Kau tahu, tadi aku mendapat banyak tatapan penasaran dari ujung rambutku hingga kaki dari para penggemarmu.”

“Untuk membuatku tidak gugup lagi. Walaupun aku justru lebih gugup ketika sedang bersamamu.”

“Apa?”

“Bukan apa-apa.” Donghae tersenyum singkat sebelum beranjak dari sofa dan mengembuskan napas cukup keras. “Nah, sekarang sudah saatnya aku naik ke panggung.”

“Baiklah.”

Tiba-tiba tangan Donghae membuat gerakan aneh yang tampak sedikit kikuk. Sebelum sempat menanyakan apa pun, tangan Donghae terulur ragu-ragu ke hadapanku. “Ayo. Kau harus mengantarku sampai tepat ke belakang panggung sebelum kembali ke studio.”

Aku menatap Donghae dan tangannya secara bergantian. Namun, bagai tergerak dengan sendirinya, tanganku menyambut uluran tangannya yang membantuku berdiri dan membawaku sampai tepat ke belakang panggung. Tangan besar dan lebarnya yang seharusnya terasa hangat justru terasa begitu dingin. Aku bisa saja melepaskan genggaman tangannya dan pergi, but I stay. Mungkin dia terlalu gugup, sehingga ia perlu tangan seseorang untuk digenggam erat oleh tangannya yang berkeringat dingin ini. Bahkan wajahnya yang sejak tadi selalu tersenyum, kini berubah datar dan cenderung serius.

“Relaks,” gumamku.

Ia menoleh ke arahku lalu tersenyum dengan kegugupan yang kentara di setiap garis wajahnya. “Aku sangat gugup.”

Aku menggenggam tangannya yang sedang menggandeng tanganku. “Kau pasti akan melakukannya dengan baik. Jangan terlalu khawatir. Lakukan sesuai dengan latihan tadi.”

Masih dengan senyum yang kikuk, Donghae mengangguk pelan.

Aku mengangkat sebelah tanganku dalam keadaan terkepal. “Semangat!”

***

Dalam penampilan comeback ini, Donghae dan Eunhyuk membawakan dua lagu dari mini album mereka yang bertajuk “The Beat Goes On”. Dua lagu tersebut itu adalah “The Beat Goes On” dan “Growing Pains”. Aku menikmati penampilan mereka yang energik namun tetap menebar senyum ramah pada para penggemar mereka. Fanchant yang telah disiapkan oleh para penggemar mereka terdengar memenuhi studio, bersahut-sahutan di antara lagu yang mereka bawakan. Suasana seperti ini membuat hatiku tergerak. Donghae telah bekerja keras. Ia pantas mendapatkan semua ini.

Setelah selesai membawakan dua lagu tersebut, Donghae dan Eunhyuk mendapatkan sesi untuk menyapa penggemar-penggemar mereka dan mengatakan beberapa hal seperti ucapan terima kasih atas dukungan keluarga dan para penggemar selama ini.

“Dan kudengar Donghae ingin menyampaikan sesuatu. Apa itu, Donghae-ssi?” Eunhyuk menoleh ke arah Donghae sembari menyeringai lebar.

Wajah Donghae berubah merah. Gerakan tubuhnya kembali kikuk, ia tertawa-tawa kecil sambil memukul pelan Eunhyuk. “Aku… Sebenarnya…”

“Ada apa, Donghae-ssi? Katakan saja. ELF pasti sudah sangat penasaran.” Eunhyuk terus mendesak sambil menyiku lengan Donghae.

“Jadi… Mmm… Begini…” Donghae tertawa kecil sebelum mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan. “Aku ingin berterima kasih pada seseorang yang bersedia datang hari ini setelah kuminta datang secara tiba-tiba kemarin.”

Suasana studio berubah riuh. Para penggemar Donghae langsung menjerit pelan sambil menggumamkan banyak hal untuk menolak hal tersebut. Donghae sedang membicarakan siapa? Kenapa aku merasa…

“Oh? Siapa itu, Donghae-ssi?” Eunhyuk bertanya dengan nada penasaran yang dibuat-buat sambil menggerak-gerakkan kepalanya, lalu tertawa.

“Dia ada di sini, menyemangatiku, bahkan mengantarku hingga ke belakang panggung tadi.”

Riuh protes kian terdengar keras memenuhi studio. Ya Tuhan, kenapa Donghae mengatakan hal tersebut? Apa dia sedang menggiring kamera reporter untuk menyeretnya ke lubang skandal? Dan yang lebih parah, dia menyeretku! Bagus, Lee Donghae. Kau membuatku kelabakan sekarang.

Namun tampaknya dugaanku salah. Donghae tetap baik-baik saja walaupun banyak artikel yang terbit untuk mempertanyakan siapakah sosok yang ia maksud hari itu. Penjualan albumnya sangat baik, bahkan menduduki peringkat pertama semua tangga lagu. Ia tak mendapatkan kasus skandal apa pun, termasuk denganku. Karena sejak hari itu, aku tak pernah bertemu lagi dengan Donghae. Kami tidak bertukar nomor telepon atau apa pun yang bisa ditukar. Sesaat sesudah acara comeback-nya hari itu selesai, aku langsung pulang tanpa kembali ke backstage lagi.

***

Besok pukul delapan pagi datanglah ke kafe tempat pertama kali kita bertemu.

-Lee Donghae

Aku mengerutkan kening membaca pesan dari nomor tak dikenal yang masuk ke ponselku. Apa ini benar-benar Lee Donghae? Lee Donghae yang sebenarnya agak pemalu tapi dengan sok berani mengucapkan terima kasih untuk seseorang di atas panggungnya? Teringat tentang hari itu, tiba-tiba sesuatu yang aneh bergerak dalam diriku. Sesuatu yang membuat darahku berdesir lembut dan jantungku berdebar-debar tanpa alasan. Sesuatu yang meronta, menuntut untuk dibebaskan. Dan apa ini? Dia memintaku pergi ke kafe pukul delapan pagi? Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa bangun pagi besok.

Di luar dugaan, aku justru bangun dua jam sebelum waktu yang ditentukan oleh Donghae. Mataku terbuka begitu lebar, bahkan langkah kakiku terasa begitu ringan dan gesit ketika melangkah ke kamar mandi. Ini benar-benar tidak seperti biasanya. Bahkan yang lebih mengejutkan dari hari ini adalah aku menyibukkan diri memilih baju yang akan kukenakan untuk bertemu Donghae. Aku bahkan menghabiskan waktu di depan cermin lebih lama daripada biasanya. Sebenarnya ada apa dengan diriku ini?

Ketika aku sampai di kafe tempat pertemuan pertamaku dengan Donghae, belum banyak pengunjung yang datang. Namun dari semua pengunjung yang datang, semuanya datang berpasangan, baik dengan suami, istri, kekasih, teman, atau apa pun itu, kecuali seorang laki-laki yang duduk di sudut kafe dengan cap hitam yang bertengger di kepalanya. Bagaimana pun, aku yakin bahwa itu Donghae. Dan sesuatu yang aneh yang ada dalam diriku kembali bergerak, menimbulkan sensasi aneh yang membuatku gugup dan nyaman dalam waktu yang bersamaan.

Aku berjalan mendekati punggungnya yang semakin lama semakin membuatku gugup. Rasanya ingin sekali aku bersandar di punggung itu dan melingkarkan kedua tanganku di sekeliling pinggangnya, lalu menghirup aroma tubuhnya. Entah bagaimana, aku… merindukan laki-laki ini.

Aku berjalan menghampirinya dan mencondongkan tubuhku ke arahnya sebelum akhirnya duduk di hadapannya. “Sudah menunggu lama?”

“Belum,” jawab Donghae sambil menundukkan kepala menatap macchiato yang kepulnya sudah sangat tipis, menandakan bahwa ia sudah berada cukup lama di sini.

Menangkap sesuatu yang aneh dari sikapnya, aku cepat-cepat bertanya,“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”

Donghae mengangkat wajahnya. “Besok aku akan pergi wajib militer.”

Aku menatap kedua mata cokelat gelapnya tanpa kata-kata, berusaha mencerna perkataannya barusan. “W-wajib militer?”

“Hm-m.”

Aku menyunggingkan seulas senyum yang terasa berat, entah kenapa. “Baguslah. Laki-laki Korea memang harus pergi wajib militer, bukan? Dan kau pergi di saat hari ulang tahunmu. Itu benar-benar spesial.”

“Ya, kau benar.” Donghae membuka cap hitamnya dan menunjukkan seluruh rambutnya yang ia semir hitam serta kepalanya yang sudah hampir plontos. “Lihat, aku mendapatkan hadiah ini dari salon.”

Suara tawa kami berderai bersama dan melebur memenuhi seisi ruangan kafe yang masih sepi pengunjung, mengalahkan musik yang mengalun lembut sejak tadi.

“Apakah kau merindukanku?”

Aku tertegun mendengar pertanyaannya barusan, lalu tercenung sesaat. Rindu. Seolah-olah aku baru saja menemukan kata yang paling tepat untuk menggambarkan sesuatu yang aneh dalam diriku yang sejak kemarin membuatku kesulitan untuk tertidur. Sesuatu yang membuatku ingin memeluknya erat-erat dan membenamkan wajahku di dada bidangnya saat ini juga. “Anehnya, ya.”

Donghae tersenyum lembut. Kedua mata cokelat gelapnya menyorotkan kehangatan. “Syukurlah, rinduku tidak bertepuk sebelah tangan.”

Kami diliputi keheningan selama beberapa detik sebelum akhirnya Donghae membungkuk di balik mejanya dan kembali dengan sebuah kue ulang tahun dan sebuah lilin yang keduanya berukuran sama ketika aku bertemu dengannya pertama kali kala itu.

“Karena besok kita tidak dapat merayakan ulang tahun bersama-sama,” ujarnya sambil mengembuskan napas,“jadi aku memutuskan untuk merayakannya sekarang.” Donghae menyulutkan api kecil pada lilin tersebut melalui pemantik yang ia bawa di sakunya.

“Mari kita membuat permohonan.”

Donghae mengangguk mengiyakan, lalu ia memejamkan matanya masih dengan senyum yang tak kunjung pudar dari bibirnya. Aku menatapnya beberapa detik sebelum ikut memejamkan mata.

Terima kasih, Tuhan, kau telah mengabulkan permohonanku tahun lalu agar aku tak merayakan ulang tahunku sendirian. Satu tahun ini terasa begitu menyenangkan. Aku tidak tahu sejak kapan ia mulai memiliki tempat di hatiku, tapi aku berharap agar dia selalu bahagia.

Ketika aku membuka mata, Donghae sedang menatapku lembut sambil tersenyum. Senyumnya melebar yang membuat gigi kelincinya tampak lucu. Aku tertawa kecil melihatnya menatapku seperti itu.

“Ayo, kita tiup lilinnya.” Donghae melirik lilin kecil itu sekilas.

Dalam hitungan ketiga, kami meniup lilin bersama-sama. Tepuk tangan kecil yang kami hasilkan berbaur dengan suara tawa kami yang kembali memenuhi seisi ruangan.

“Besok aku akan berangkat pagi-pagi tanpa liputan dari reporter. Aku tidak ingin fotoku yang sedang menangis terpampang di berbagai media.”

Aku tertawa hambar, tak tahu harus berkata apa lagi. Seharusnya hal ini menjadi sesuatu yang lucu, tapi aku tidak bisa benar-benar tertawa. Aku tak tahu kenapa, tiba-tiba suasana hatiku berubah buruk. Langit cerah di luar terasa mendung bagiku. Suasana hangat di kafe ini seketika berubah dingin.

“Aku memintamu datang ke sini karena aku memastikan sesuatu, agar aku tidak menyesal,” gumam Donghae pelan sambil menatapku lurus-lurus.

“Memastikan sesuatu?”

“Setelah aku menyelesaikan wajib militerku,” kata Donghae dengan nada rendah yang pelan,“apakah kau bersedia menikah denganku?”

***

Pukul lima pagi, sebuah pesan masuk ke ponselku. Ini dari Donghae.

Tunggu aku kembali, calon istriku.

END

 

Hello, you can read my other fanfics on:

http://primrosedeen.wordpress.com

See you there!

8 Comments (+add yours?)

  1. Anisa
    Oct 15, 2015 @ 16:21:14

    Daebak thor ff nya =) jadi bayangin jadi chloe deh thor =)

    Reply

  2. memey
    Oct 15, 2015 @ 19:50:32

    Sweetnya ikan nemoku 😘😘

    Reply

  3. yeonlee
    Oct 15, 2015 @ 23:06:27

    kalimat terakhirnya bikin senyum-senyum ga jelas hahaha

    Reply

  4. tabiyan
    Oct 16, 2015 @ 08:22:12

    Iiihhhh so sweet gini donk kali2 cweknya dr luar gt kan keren hahahaha, oppa2 itu sma bule.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: