[Donghae’s Day] Another Day

Another Day

Judul : Another Day

Author : Joanne Andante

Main Cast : Donghae

Genre : Family, Sad

Length : Oneshot

Catatan : Kunjungi andantecho.wordpress.com bila ada kesempatan. Terima kasih telah membaca.

I’m afraid that another day might betray me.

-=-

Akhir-akhir ini, Jepang cukup dingin mendekati musim salju. Donghae memegang kameranya dengan sedikit bergetar karena ternyata sarung tangan tebal tak mampu menutupi rasa dingin. Beberapa daun yang telah rontok terinjak olehnya ketika berjalan di trotoar, menimbulkan suara renyah sesekali. Mata penuh daya tarik milik Donghae menatap semua objek yang ada di sekitarnya, mencari apapun yang bisa ia foto dengan kameranya.

Sesosok gadis kecil, kira-kira usia sepuluh tahun, menartik perhatiannya. Gadis itu berambut hitam panjang tergerai, tengah berjinjit untuk menyerahkan selembar kertas pada seorang polisi yang berdiri di depannya. Polisi tersebut tersenyum ramah, lalu berkata-kata pada gadis itu. Donghae pun memakai kameranya untuk mengambil foto, memusatkan fokus pada gadis kecil itu.

Namun, apa yang dilihat Donghae dari kameranya membuat pria itu bingung. Gadis tadi nampak kacau dan sedikit ketakutan, membuat gerakan gelisah dengan tangannya sambil menggelengkan kepala beberapa kali. Donghae menurunkan kameranya, mengambil fokus pada lembaran kertas yang dipegang polisi tadi, lalu memperhatikan tulisan yang begitu familiar baginya yakni huruf Hangeul Korea.

“Orang Korea? Apa dia tersesat?” pikir Donghae sambil mendekati gadis itu.

“Apa kau tidak bisa berbahasa Korea?” tanya gadis itu pada polisi di depannya, samar-samar terdengar di telinga Donghae.

Polisi tadi menjawab dengan kalimat Jepang yang Donghae artikan sebagai ‘apa kau tersesat?’. Sepertinya komunikasi itu tak berlangsung lancar hingga Donghae berdiri di samping kedua orang itu dan berkata-kata dalam Bahasa Jepang, “Apa kau perlu bantuan? Aku bisa berbahasa Korea.”

Nampak lega, polisi tadi membalas, “Gadis ini sepertinya orang Korea yang tersesat. Bisakah kau membantunya?”

Donghae mengangguk, lalu berbalik pada gadis tadi dan memakai bahasa ibunya untuk berbicara. “Hai, aku Donghae. Apa kau tersesat?”

Gadis itu mengembangkan senyuman bahagia. Ia mengangguk cepat. “Ya. Aku terpisah dari orangtuaku. Ini alamat hotel tempat aku menginap. Hanya saja, mereka menuliskannya dalam Hangeul.”

“Boleh aku melihatnya?”

“Ini,” ujar gadis itu sambil menyerahkan kertas di tangannya.

Nampak mengerti, Donghae berkata, “Aku tahu alamat ini. Aku bisa mengantarmu ke sana.”

“Sungguh?” ujarnya antusias. Namun tiba-tiba, ia teringat sesuatu yang dikatakan orangtuanya. “Ahjusshi tak bermaksud menculikku, kan?”

Tertawa, Donghae berkata, “Tentu saja tidak. Aku benar-benar akan menolongmu. Aku bukan orang jahat.”

“Baiklah, aku akan ikut ahjusshi.”

Donghae menjelaskan beberapa hal pada polisi tadi, lalu mengucapkan terima kasih. Ia lantas menggandeng tangan kecil milik gadis di sampingnya dan mulai berjalan perlahan.

“Apa kau tinggal di Korea?” tanya Donghae sembari mereka berjalan bersama di sepanjang trotoar.

“Iya. Aku hanya berlibur di Jepang. Bagaimana dengan ahjusshi?”

Bagi Donghae yang sudah di atas tigapuluh tahun, dipanggil ahjusshi oleh seorang gadis kecil bukanlah masalah. “Aku bekerja di sini.”

“Keren sekali,” ujar gadis itu sambil mengeratkan pegangannya pada tangan Donghae.

Donghae merasa nyaman dengan genggaman lembut gadis kecil itu. Ia tersenyum manis dan berkata, “Apa kau anak tunggal?”

“Tidak. Aku punya saudara laki-laki. Ia juga berlibur bersama kami.”

“Berapa umurmu?”

“Sepuluh tahun.”

Lalu hening di antara mereka. Yang terdengar hanya suara dedaunan kering yang terinjak. Hingga pada suatu ketika, mata gadis itu teralihkan oleh penjual gelang yang mereka lewati.

Ahjusshi, apa itu?”

Donghae menoleh. “Itu gelang keberuntungan. Orang Jepang percaya bahwa gelang tersebut bisa membawa keberuntungan jika memakainya.”

“Aku ingin melihatnya.”

Entah bagaimana, Donghae seperti tersihir dan menurut saja begitu ditarik ke penjual gelang tersebut. Gadis tadi begitu antusias, menatap berbagai gelang yang ada di hadapannya.

“Aku mau ini,” pintanya.

“Kau bisa pilih satu. Aku akan membelikannya untukmu.”

“Tapi aku bingung. Semuanya bagus.”

Mata Donghae menangkap tulisan-tulisan Jepang yang berisikan tata cara memilih gelang keberuntungan itu. Ia bertanya, “Apa warna favoritmu?”

“Biru.”

Donghae mengambil gelang biru, lalu membaca tulisan Jepang di gelang itu. “Tenang, lembut, penuh kasih, dan penuh kebahagiaan. Sepertinya cocok untukmu,” ujar Donghae sambil memakaikan gelang tersebut di tangan gadis itu.

“Bagaimana dengan ahjusshi?”

“Aku suka hijau,” jawabnya dan mengambil gelang berwarna hijau sambil membaca karakteristik yang ada di sana. “Artinya abadi, kesetiaan, penantian, dan penuh pengharapan.”

Pria itu membayar kedua gelang tersebut, lalu kembali memegang tangan gadis itu.

“Sebentar lagi kita sampai,” ujar Donghae ketika melihat gadis di sampingnya nampak lelah. Dan benar saja, mereka tiba di depan sebuah hotel sekitar lima menit berlalu. “Apa ini hotelmu?”

“Benar!” jawab gadis itu bahagia. “Terima kasih banyak, ahjusshi!”

Donghae mengusap kepala gadis itu, lalu berkata, “Jangan sampai tersesat lagi.”

Dan gadis itu menghilang di balik pintu lobby hotel, meninggalkan Donghae sendirian, menatap gelang di tangannya dengan wajah penuh arti.

Abadi, kesetiaan, penantian, dan penuh pengharapan.

Salahkah jika ia berharap bertemu gadis itu lagi di hari lain?

-=-

Setelah sepuluh tahun berlalu, Donghae kembali ke Korea. Pria itu langsung mengunjungi café yang ada di dekat rumah barunya. Seusai menghabiskan kopi pesanannya, Donghae keluar dari café dengan terburu-buru. Langit sudah mulai mendung dan ia khawatir akan kehujanan bila mendekam lebih lama lagi di café tersebut. Tangannya mengaduk-aduk saku jaketnya, mencoba menemukan kunci mobilnya dengan segera. Namun tak berhasil. Merasa frustasi, ia tak berkonsentrasi saat berjalan dan menabrak seseorang di hadapannya.

Gadis yang ditabraknya itu langusng menjatuhkan sebuah map dan membuat isinya berhamburan. Donghae buru-buru menunduk dan membantu gadis itu memunguti isi mapnya yang tercecer. Ia sempat melihat sebuah gelang biru terjatuh di dekat kakinya. Donghae memungut gelang itu dan segera berdiri.

“Ini milikmu?”

Gadis itu menyelipkan rambutnya yang tergerai ke telinga lalu mengangkat kepalanya untuk melihat Donghae. “Ya. Itu milikku,” ujarnya sambil meraih gelang tersebut.

Donghae terpaku melihat wajah gadis itu. Wajah yang begitu akrab dan tak asing sampai-sampai Donghae tak bisa berhenti menatapnya.

Wajahnya sangat familiar…

“Maaf. Aku tidak sengaja,” ujar gadis itu tulus ketika menyadari Donghae menatapnya tak nyaman, mengira bahwa pria itu tengah menunggu permintaan maaf.

Segera saja Donghae menggeleng pelan dan menjawab spontan, “Tak apa-apa, Hyunrae-ya.”

Di luar dugaan, jawaban Donghae membuat gadis itu terkejut. “Hyunrae? Kita baru pertama kali bertemu, bukan? Bagaimana mungkin ahjusshi bisa memanggilku dengan nama asliku?”

Bahkan, Donghae sendiri tak sadar mengapa nama Hyunrae bisa meluncur dari mulutnya.

“Namamu… Hyunrae?”

“Ya, namaku Cho Hyunrae. Tapi aku lebih suka dipanggil Kim Hyerin. Nama Hyunrae membuatku seperti… disamakan dengan orang lain.”

“Orang lain?”

Jadi gadis ini… namanya juga… Cho Hyunrae…

“Begitulah. Bukan tak mungkin bila ada orang lain bernama Cho Hyunrae yang mirip denganku.”

Apa yang gadis itu katakan adalah hal yang sangat tepat. Donghae memang tengah memikirkan Hyunrae lain yang mirip dengan gadis itu. Sekilas, Donghae berpikir bahwa gadis itu bisa membaca pikirannya atau membaca masa lalunya. Tapi segera ditepisnya jauh-jauh karena itu jelas tak masuk akal. Kata kebetulan jauh lebih masuk akal.

“Kau-”

Sebelum Donghae melanjutkan pertanyaannya, setetes air jatuh membasahi kepalanya. Keduanya menoleh ke atas, mendapati tetes-tetes hujan mulai berjatuhan membasahi bumi. Refleks, Donghae menarik tangan gadis tadi dan berlari ke teras café untuk berteduh di sana. Mereka terengah sesaat, lantas menyadari tangan keduanya yang bertaut erat. Salah tingkah, Donghae menarik tangannya duluan.

“Tadi aku mau bertanya tentang namamu. Kau mau aku memanggilmu Hyunrae atau Hyerin?”

“Hyerin lebih baik. Siapa nama ahjusshi?”

Ahjusshi? Aku tak setua itu.”

“Tapi ahjusshi terlihat memiliki usia yang sama dengan orang tuaku.”

“Sungguh? Ah, baiklah. Namaku Lee Donghae.”

“Donghae ahjusshi, senang bertemu denganmu.”

“Ya. Senang bertemu denganmu juga, Cho- maksudku, Kim Hyerin.”

Donghae menatap langit sejenak. Hujan masih turun deras dan nampaknya akan lama berhenti. Ia menatap Hyerin yang terlihat kedinginan dan sedikit basah.

Gadis itu memeluk dirinya sendiri dengan gesture yang bahkan serupa dengan Cho Hyunrae…

“Di mana rumahmu?” tanya Donghae mengambil inisiatif.

“Aku? Ah, tidak jauh dari sini. Biasanya aku pulang jalan kaki. Kadang-kadang saudara kembarku yang menjemputku.”

“Apa tak sebaiknya aku mengantarmu pulang?”

“Tidak perlu, ahjusshi. Itu akan merepotkanmu nanti.”

“Tidak apa-apa. Aku tak mau orangtuamu khawatir. Mobilku diparkir tak jauh dari café ini. Kita hanya perlu sedikit berlari ke arah parkiran dan masuk ke mobilku.”

Ahjusshi tak bermaksud menculikku, kan?”

Tertawa, Donghae berkata, “Tentu saja tidak. Aku benar-benar akan menolongmu. Aku bukan orang jahat.”

Donghae tak menunggu jawaban ataupun persetujuan. Dengan sigap, Donghae membuka jaketnya dan melebarkannya di atas kepala Hyerin.

“Hitungan ketiga, kita berlari bersama ke arah parkiran. Satu. Dua. Tiga!”

-=-

“Berapa umurmu?”

Hyerin menoleh pada Donghae yang akhirnya memulai pembicaraan sembari menyetir. Sejak tadi, mereka tak berbicara satu sama lain, kecuali tentang alamat rumah Hyerin.

“Aku duapuluh tahun.”

Donghae terkekeh mendengarnya. “Tidak salah bila kau memanggilku ahjusshi. Aku sudah empatpuluh tahun.”

Keduanya tertawa mendengar ucapan spontan Donghae.

“Gelangmu bagus,” puji Donghae tiba-tiba.

“Ini?” tanya Hyerin sambil mengangkat tangannya. “Biru berarti tenang, lembut, penuh kasih, dan penuh kebahagiaan.”

Dan Donghae hanya mengiyakan.

“Aku tak pernah melihat ahjusshi di café tadi sebelumnya. Apa ahjusshi bukan pelanggan tetap café tadi?”

“Itu… aku baru pulang dari Jepang kemarin. Sebenarnya itu café favoritku saat aku muda dulu. Aku sudah sekitar… duapuluh tahun di Jepang dan tidak pernah kembali ke Korea.”

“Sungguh? Itu juga café favoritku.”

Dan itu juga café favorit Hyunrae-ku…

“Apa orangtuamu bekerja?”

“Ya, begitulah. Mereka sangat… sibuk.”

“Kau berbicara seolah kau tidak begitu dekat dengan mereka.”

“Whoa… ahjusshi menebak dengan sangat tepat. Aku memang tak begitu akrab dengan orangtuaku. Terutama saat aku sudah mulai kuliah.”

“Kenapa?”

“Bisa dibilang keluargaku tidak menyenangkan. Ayah ibuku menikah di usia duapuluh tahun. Mereka awalnya adalah sahabat baik sejak anak-anak. Ibuku punya kekasih, begitupun ayahku. Tetapi, kakek tidak menyukai pacar ayahku dan memaksanya menikah dengan wanita lain. Ayah memohon pada ibuku agar mau menikah dengannya dan menyelamatkannya dari perjodohan itu.”

“Ibumu terima?!”

“Ya, tentu saja. Ia bahkan rela berpisah dengan cinta pertamanya demi ayahku. Padahal, setelah menikah, ayah masih berhubungan dengan pacar lamanya dan ibuku selalu menderita karena itu. Ibuku mati-matian mempertahankan pernikahan mereka. Tapi ayahku lebih banyak menghabiskan waktu dengan… pacar lamanya.”

Cerita mengalir begitu saja dari mulut Hyerin. Semuanya dikeluarkan Hyerin tanpa mempedulikan fakta bahwa ia dan Donghae baru bertemu.

“Miris sekali…” bisik Donghae.

Sama sepertiku…

“Bagaimana dengan ahjusshi? Apa ahjusshi punya istri?”

“Tidak. Aku single. Sangat single.”

“Sungguh?”

“Ya. Ini semua karena cinta pertamaku pergi meninggalkanku demi pria lain. Selama duapuluh tahun aku mencoba menghapus bayangannya dengan pindah ke Jepang. Tapi tetap saja, sekembalinya aku ke Korea, aku malah bertemu seseorang yang mirip dengannya.”

Hyerin menoleh cepat. “Aku?”

Setengah terkekeh, Donghae berkata, “Ya. Kau. Namamu, wajahmu, cara bicaramu, gesture-mu, semuanya benar-benar mirip mantan pacarku.”

“Nama? Namanya Hyunrae juga? Kim Hyunrae atau Lee Hyunrae?”

“Cho Hyunrae. Hebat kan? Nama depannya juga sama denganmu.”

“Nama keluarga ayahku Cho. Hyunrae adalah gabungan dari nama belakang ayah dan ibuku.”

“Di bagian itu perbedaannya. Hyunrae-ku memang bernama depan Cho. Dan kebetulan ia menikah dengan pria bernama depan Cho juga. Dan ah, ya! Suaminya adalah sahabatnya sejak kecil. Sama seperti orangtuamu.”

Cho Kyuhyun adalah nama suaminya sekarang…

“Kenapa mirip sekali?” ujar Hyerin sembari tertawa keras.

Donghae mengangkat bahu dengan wajah lucu. Ia kembali memperhatikan deretan rumah yang mereka lewati sejak tadi.

“Rumahmu yang mana?”

“Yang cat biru itu,” ujar Hyerin sembari menunjuk rumahnya.

Mobil Donghae berhenti tepat di depan rumah Hyerin. Hujan sudah mereda sejak tadi dan langit hanya sedikit mendung. Hyerin mengucapkan terima kasih pada Donghae dan membuka pintu mobil. Gadis itu melambai sejenak pada Donghae dan menghilang di balik pagar rumahnya.

Mata Donghae menangkap selembar kertas di bawah dashboard mobilnya. Sepertinya jatuh dari saku Hyerin. Ia membungkuk dan memungut kertas berupa foto itu. Pria itu melebarkan mata tak karuan begitu melihat foto tersebut. Foto seorang pria dan wanita dewasa, bersama anak laki-laki dan perempuan yang nampak sepantaran.

Setengah gemetar, ia membalik foto itu dan membaca tulisan di belakangnya.

Ayahku, Cho Kyuhyun. Ibuku, Cho Hyunrae. Kakak kembarku Cho Kyuhyun dengan nama yang diambil dari nama tengah ayah ibuku. Dan aku, Cho Hyunrae, dengan nama yang diambil dari nama belakang ayah ibuku.

Keluarga yang tak harmonis. Dan tak akan pernah…

Karena cinta pertama membutakan segalanya.

Seolah belum cukup, Donghae menatap foto gadis yang ia yakini sebagai Hyerin di usia kecilnya. Pria itu menggigit bibirnya tak percaya, lalu mengeluarkan handphone dari sakunya. Ia mencari-cari galeri fotonya selama di Jepang, lalu menekan salah satu foto yang pernah diambilnya dengan kameranya dulu.

Foto seorang gadis kecil yang tengah berjinjit, memberikan selembar kertas pada seorang polisi Jepang dengan wajah penuh harapan. Gadis yang sama dengan gadis di foto milik Hyerin. Dan gelang biru di tangan Hyerin yang gadis itu jatuhkan ketika Donghae menabraknya seolah memperjelas segalanya.

Donghae tertawa miris, hingga air matanya jatuh tanpa sadar. Hatinya terasa sakit karena takdir seolah mempermainkannya. Bahkan, di hari lain, ketika ia pikir ia sudah bisa mendapatkan kebahagiaannya, ia masih dipertemukan dengan masa lalunya. Ia pikir, di hari lain, ia berhak bahagia setelah ditinggal cinta pertamanya. Tapi ternyata ia telah bertemu dengan anak dari cinta pertamanya sejak sepuluh tahun lalu.

Ia pikir, di hari lain, ia sudah bisa melepaskan Cho Hyunrae setelah sekian lama. Tapi kini, ia tak menginginkan hari lain lagi.

Ia takut hari lain pun berkhianat padanya.

-End-

4 Comments (+add yours?)

  1. putrifairuz1
    Oct 16, 2015 @ 23:07:31

    Ceritanya agak ngegantung

    Reply

  2. Laili
    Oct 18, 2015 @ 11:26:39

    Jadi Donghae ketemu sama anak cinta pertamanya ya… Kasian Donghae gk bisa lepas dri bayang2 cinta pertamanya.

    Reply

  3. i'm2IP
    Oct 21, 2015 @ 18:02:22

    Duhh.. miris ceritanya.. awalnya sempet gak ngerti karna umurnya. Kan donghae pas umur 30 ketemu anak umur 10 trus pas donghae umur 40 ketemu anak 20 tahun dan ternyata anak itu anak dari anak kecil 10 tahun… howalahh -,-” pusing.. tapi ff nya keren thor.. alurnya gak biasa.. good job

    Reply

  4. Yoohee
    Oct 22, 2015 @ 12:05:15

    Woho! Genre’a gk ketebak . Tapi donghae d bkin move on aja . Masa’ dibayang2i masa lalu mele . Kasian

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: