[Donghae’s Day] The Melody Of Loneliness

doooo

Author                        : i’mARP19

Lenght             : OneShoot

Genre              : Romance, Loneliness

Cast                 : Lee Donghae

Han Byung Hee (OC)

 

Disclaimer       : FF ini murni bersumber (?) dari pikiran ‘tumpul’ saya, jika ada kesamaan merupakan unsur ketidak sengajaan semata.

A/N                 : Ini fanfiction pertama saya, saya juga tidak tahu ini pantas disebut fanfiction atau bukan –‘  Fic ini full of Donghae POV

 

***

 

Manis. Kesan pertama yang ku tangkap ketika mengenalnya. Tidak! Mungkin lebih tepatnya pertama kali melihatnya.

Aku selalu melihatnya di sini-di taman ini, setiap malam, memetik gitar bermelodi sendu, tanpa bersenandung sedikitpun. Aneh memang, untuk apa seorang yeoja bermain gitar setiap malam di tempat seperti ini? Bodoh. Mungkin itu yang orang orang ucapkan ketika melihatnya.

 

 

“Bolehkah aku duduk di sini Agasshi?” Untuk pertama kalinya aku berani menyapanya. Asal kau tahu, selama ini aku tak pernah berani menyapanya. Malu dan takut jika ia tak merespon ku.

“……………” Diam. Dugaan ku benar. Ia hanya diam-tak bergeming, tampak acuh seolah aku hanya angin lalu, bahka ia tak sedikitpun menoleh padaku-tetap memetik gitarnya. Menyedihkan.

“Maaf Agasshi, bolehkah aku duduk di sini?” Aku bertanya untuk yang kedua kalinya.

“…………..” Ia tetap diam tak sedikitpun menoleh padaku. Detik berikutnya ia berlalu pergi dari hadapanku dan masih tampak enggan menoleh padaku.

 

***

Malam ini, aku melihatnya lagi. Duduk sendiri di bangku taman sambil memetik gitar. Manis.

Annyeonghasimnika” Aku duduk di sampingnya, menyapanya.

“……………” Seperti hari sebelumnya ia tetap diam, memetik gitarnya tanpa mengindahkan sapaanku.

Agasshi?” Aku memanggilnya. Jujur, hingga sekarang aku tak mengetahui namanya. Gadis manis yang selalu duduk di taman ini, memetik gitar yang bermelodi sendu tapi indah.

“…………..” Lagi-lagi ia tetap diam. Apa suaraku kurang keras? Hingga ia tak bisa mendengarku?

Agasshi?” Aku kembali menyapanya. Detik berikutnya ia berhenti memetik gitarnya, menoleh padaku-tanpa ekspresi, tapi aku senang setidaknya ia mendengarku. Entah mengapa aku merasa ia lebih cantik jika dilihat dari dekat.

“Apa yang kau lakukan di sini Agasshi?” Bodoh. Aku tahu ini pertanyaan yang amat bodoh untuk ku lontarkan, sudah jelas-jelas bahwa ia sedang memetik gitarnya-seperti biasa.

“Apa aku mengganggumu?” Aku kembali bertanya padanya, ia tetap memandangku, dari raut mukanya tergambar jelas bahwa aku mengganggunya. Tak butuh waktu lama, ia bangkit dari bangku taman ini. Melangkah pergi. Lagi-lagi ia tak menjawab satupun pertanyaan yang ku lontarkan padanya.

 

***

 

Misterius, tertutup dan sedikit terkesan angkuh, mungkin? Hah…seperti apapun ia, aku tetap termangu akan pesonanya.

Malam ini lagi dan lagi aku kembali menyapanya. Dan kau tahu tanggapannya? D I A M. Entah mengapa aku merasa ia suka sekali diam. Apa diam adalah kegemarannya selain bermain gitar? Jika memang iya, kurasa ia gadis yang bisa dibilang aneh.

Tak lama ia beranjak dari bangku taman ini. Pergi dan lagi-lagi ia mengacuhkanku.

 

***

 

Malam ini aku menunggunya di sini, di bangku taman ini. Aku sengaja datang lebih awal hanya untuk menunggunya. Menunggu seorang gadis manis yang tiap malam duduk di bangku ini hanya untuk memetik gitar, sendirian.

 

Malam semakin larut, tapi ia tak kunjung datang. Seharusnya sekarang ia ada di sini, duduk di bangku taman ini sambil memetik gitarnya. Mengapa ia tak datang? Apa selama ini ia terganggu oleh ku? Apa besok ia akan datang? Atau jangan jangan ia tak akan pernah datang lagi? Berbagai macam persepsi telah menggelayut manja dalam pikiranku. Kuharap besok ia akan datang.

 

***

 

Aku melihatnya. Ia datang, duduk di sana-memetik gitarnya. Aku baru sadar, selama ini ia selalu memainkan lagu yang sama setiap malam. ‘Coagulation’ apa itu lagu favorite nya?

Malam ini kuputuskan hanya mengamatinya dari sini-di balik pohon autumn berbunga kuning ini.

 

***

 

Mworago malhaji,

Eoddeoke butjapeulji nado moreugetjjana

Eoddeoke nan eoddeoke hajyo

“Apa kau tahu Agasshi? Lagu ini adalah lagu favorite ku, apa kau juga menyukainya?” Aku duduk di sampingnya, ia memetik gitar dan aku menyanyi.

“Apa kau tak suka menyanyi Agasshi? Aku bahkan tak pernah mendengarmu menyanyi, kau hanya memetik gitar tiap kali kau duduk di bangku ini.” Aku bertanya padanya. Ia hanya diam, tapi aku tahu ia mendengar setiap ucapanku.

“Aku selalu melihatmu di sini Agasshi. Aku selalu mengamatimu, kau selalu duduk di bangku ini, setiap malam, memetik gitar dengan lagu yang sama-Coagulation kali ini ia menoleh padaku, seolah ia ingin berkata “Apakah yang kau katakan benar?”

“Aku tidak berbohong Agasshi. Aku selalu melihatmu disini.” Ia tetap menoleh padaku, mendengarkan setiap kata yang ku ucapkan.

Detik berikutnya ia memetik gitarnya lagi, memainkan lagu yang sama. Tak menanggapi satupun pertanyaan dariku. Malam ini aku duduk di bangku taman ini bersamanya. Aku menyanyi di iringi melodi sendu darinya.

 

***

“Apa kau tinggal di daerah sini Agasshi? Malam ini aku duduk di bangku taman ini lagi, bersamanya. Seperti hari sebelumnya, ia memetik gitar, aku menyanyi. Kau tahu? Ia tetap diam. Entah mengapa walaupun ia selalu diam, aku tak pernah merasa jengah.

“Bisakah sekali saja kau menjawab pertanyaanku Agasshi?” Ia berhenti memetik gitarnya, menoleh padaku. Detik berikutnya ia menunduk, menangis tanpa suara.

Agasshi? Mengapa kau menangis? Apa aku menyakitimu? Apa ada yang salah dengan ucapanku?” Ia tetap menangis. Ya Tuhan…apa yang harus aku lakukan?

Uljima Agasshi, maaf jika aku menyakitimu” Kuusap air matanya, setidaknya hanya ini yang bisa ku lakukan.

Tapi apa yang ia lakukan? Ia menepis tanganku, melangkah pergi. Meninggalkan ku sendirian disini dengan berbagai macam pertanyaan yang menguak dalam benak ku.

 

***

Aku bernyanyi, ia memetik gitar. Malam ini kami-aku dan dia kembali melakukan hal yang sama seperti kemarin. Tak banyak pertanyaan yang ku lontarkan padanya. Aku takut ia akan menangis seperti hari sebelumnya. Banyak yang berubah darinya, ia tak lagi terganggu akan kehadiranku di sini-disampingnya. Tapi tetap saja, hingga kini ia tak pernah mau bicara padaku.

 

“Malam yang indah, bukankah begitu Agasshi? Ia mendongakkan kepalanya sebagai respon dari pertanyaanku. Memandang indahnya malam yang berhias bintang dan sinar rembulan.

 

Malam ini kami habiskan dengan sebuah agenda baru, memandang bintang di bawah payung sinar sang bulan.

 

***

“Apa kau suka sekali bermain gitar Agasshi?”

“Sejak kapan kau suka bermain gitar?”

“Dari mana kau mendapatkan gitar ini? Apa gitar ini pemberian orang tua mu?”

Bagai seorang wartawan aku melontarkan berbagai macam pertanyaan padanya, sebagai seorang ‘narasumber’ harusnya ia menjawab pertanyaan yang dilontar oleh seorang wartawan bukan? Walau setidaknya hanya sebuah jawaban. Tapi yang ia lakukan hanya diam, memandangku tanpa suara.

“Apa aku begitu tampan Agasshi? Hingga kau hanya memandangku, tak menjawab pertanyaanku?” Ia berpaling tak memandangku lagi. Tampak jelas rona merah di pipinya. Apa ia malu?

“Mukamu memerah Agasshi. Apa kau malu?” Aku menyeringai-bangga.

Ia bangkit dari bangku taman ini.

“Tunggu Agasshi…bolehkah aku tahu siapa namamu?”

Ia menepis tanganku, tetap melangkah pergi.

 

***

Aku hanya memandangnya dari sini. Malam ini ia duduk di bangku taman sendirian-tanpa aku di sampingnya.

Tak lama ia bangkit-melangkah pergi. Aku mengikutinya, mengikuti setiap langkah kecilnya.

Tunggu dulu, apa ini? Apa aku tak salah lihat? Ini rumah penyandang cacat, apa yang ia lakukan di sini? Apa ia tinggal di sini? Tapi untuk apa? Setahuku ia tak memiliki suatu kekurangan apapun.

“Maaf tuan, Anda siapa? Seorang pria paruh baya bertanya padaku.

“Oh… annyeonghasimnikka Ahjussi, Lee Donghae imnida” Aku memperkenalkan diri.

“Apa yang kau lakukan di sini Donghae-ssi?

“Aku sedang mencari seseorang, Ahjussi. Bisakah kau membantuku?” Aku bertanya.

“Tentu saja, boleh ku tahu siapa nama orang yang sedang kau cari Donghae-ssi?

“Hmm…maaf Ahjussi, tapi aku tak tahu siapa namanya, yang ku tahu ia selalu bermain gitar setiap malam di taman yang tak jauh dari sini. Apa kau mengenalnya?”

“Han Byung Hee…”

“Han Byung Hee? Apa itu namanya Ahjussi? Apa ia benar tinggal di sini?”

Ne…Han Byung Hee. Ia tinggal di sini, ia bagian dari keluarga kami. Tapi untuk apa kau mencari Byung Hee, Donghae-ssi?

“Aku ingin berbincang dengannya. Kau bilang ia tinggal di sini Ahjussi, maaf tapi bukankah ini rumah penyandang cacat? Setahuku ia tak memiliki kekurangan apapun.”

“Ketahuilah Donghae-ssi, tak semua yang terlihat sempurna selalu indah seperti yang kau kira.”

“Apa maksud mu Ahjussi? Aku tak mengerti.”

“Han Byung Hee…ia seorang tuna wicara.”

“Tu tu…na wicara?”

“Ne…Ia seorang tuna wicara. Ia gadis yang baik, ia selalu berusaha membuat kami tersenyum dengan permainan gitarnya. Walau aku tau ia juga tak sesempurna kami di sini.”

“Benarkah? Tapi ia tak pernah sekalipun tersenyum padaku Ahjussi.”

“Ketahuilah Donghae-ssi, bagaimana perasaan seorang tuna wicara? Mereka akan merasa terkucilkan bila berada di dekat orang yang bisa di bilang ‘sempurna’. Ia akan merasa terpojokkan. Ia tak pernah sekalipun tersenyum pada orang yang tak dianggapnya keluarga. Dengan kata lain ia tak akan tersenyum kecuali pada orang yang ia percayai, Donghae-ssi.”

“Pernah sekali ia bicara padaku Donghae-ssi, tentunya dengan bahasa isyarat. Ia berkata ia membutuhkan teman-untuk menemaninya bermain gitar, ia ingin seseorang menyanyi dengan iringan melodi gitarnya. Ia membutuhkan tempat bersandar Donghae-ssi dan aku tahu kau bisa melakukannya.”

 

***

Malam ini aku duduk lagi bersamanya, di sini-di bangku taman ini. Ia memetik gitar dan aku? Tentu saja menyanyi di iringi melodi indahnya.

“Han Byung Hee…”

Ia berhenti memetik gitarnya, menoleh padaku-terkejut.

“Han Byung Hee, tetaplah bermain gitar. Aku akan bernyanyi untukmu.” Ia tetap menatapku.

“Han Byung Hee…” Aku menoleh padanya.

Detik berikutnya ia tersenyum padaku-untuk pertama kalinya.

THE END

 

 

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: