[Eunhae’s Day] Getting Together

eunhaeee

Title                :Getting Together

Author            : KimDESha

Main Cast       :

  • Lee Donghae a.k.a Donghae
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
  • Park Jungsoo a.k.a Leeteuk

Genre              : Friendship, Bromance(not Yaoi), a little bit humor (i think)

Rated               : G-15

Length             : Oneshot

Summary         : Menyusahkan saja. Apa kau masih seperti ini jika tidak ada kami? Mungkin ada benarnya juga, Tapi Super Junior tanpaku? Mereka akan kesulitan.

Notes and Warning : Cerita ini hanya imajinasi belaka. Bukan karya penjiplakan. Jika ada kesamaan cerita, itu faktor yang tidak sengaja atau mungkin kita sehati (?). Typo? Itu manusiawi. Jadi harap maklum 😀

Do you DISLIKE the CAST? I’ll give you a simple way: DONT READ this story. And one more, NO BASHING ! Once again, I HATE SILENT RIDERS. So, could you comment this story? The Last, Happy reading ^^

_

 

 

Donghae memasuki kamar tidurnya dengan langkah terseok-seok. Ia baru saja selesai membersihkan taman bersama Donghwa Hyung, kegiatan yang beberapa hari ini kerap ia lakoni setiap sore. Donghae segera merebahkan diri di atas kasur empuk miliknya. Donghae tidak berniat untuk terlelap dalam tidur. Ia hanya mencari posisi nyaman untuk menghilangkan rasa penat dan mencoba menenangkan hatinya. Ia mengembuskan nafas kasar kemudian memejamkan kedua matanya sembari memikirkan sesuatu yang beberapa hari ini mengganggu dalam kepalanya.

Tak merasa nyaman dengan apa yang dilakukannya, Donghae kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju meja belajarnya dan bersandar lesu pada sandaran kursi. Matanya menyapu ruang yang beberapa hari ini sudah menaunginya dalam tidur.

Donghae pikir dengan menghabiskan waktu bersama ibu dan kakaknya setidaknya dapat membuat perasaannya yang berkecamuk sedikit berkurang. Bukannya ia tidak merasa tak nyaman di rumahnya sendiri, tapi Donghae merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.

“Ah, apa yang salah denganku? Bukankah seharusnya aku menghabiskan waktu bersama dengan keluarga sebelum akhirnya aku akan jarang bertemu dengan mereka?” gumam Donghae.

Tangannya bergerak meraih sebuah figura yang diletakkannya di sudut meja belajar. Tanagnnya bergerak mengusapnya. Sekali lagi ia mengembuskan nafasnya keras. Kini Donghae lebih memilih mengitari ruang kamarnya yang cukup luas. Langkahnya terhenti di depan lemari berpintu tertutup dengan beberapa rak terbuka yang menampilkan deretan rapi beberapa karya yang sudah ia torehkan bersama kawan-kawannya. Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya berusaha mengambil sesuatu di belakang beberapa CD yang ada di rak lemari. Sebuah kunci kini berada dalam genggamannya. Entah apa yang membuatnya harus mengunci rapat lemari tersebut.

Ketika kedua pintu lemari berukuran sedang itu terbuka, ada beberapa kado dan benda-benda lain yang tersusun rapi dalam rak lemari tersebut. Mungkin jika melihat isi lemari tersebut,orang akan mengira jika Donghae yang membeli benda-benda itu. Donghae meraih salah satu kotak kado yang berada di rak tengah. Ia membuka kotak bermotif bunga, sebuah kartu menyambut Donghae ketika ia membuka tutup kado itu.

‘Donghae, tetaplah tumbuh dengan baik dan selalu tampan. Aku adalah fans pertamamu dan akan tetap menjadi fansmu. Kau harus mengingatku jika kau sukses nanti.’

Bibir Donghae tersenyum saat membaca kalimat yang tertera dalam kartu. Ia ingat jika kado ini berasal dari teman semasa ia duduk di sekolah tingkat akhir. Seingatnya ia dulu bukanlah salah satu siswa populer di sekolahnya, tapi berkat temannya ini ia justru memiliki fancafe di sekolahnya.

Donghae kemudian menaruh kartu dalam kotak yang berisi photobook dirinya, lalu ia meletakkan kembali kado itu di tempat semula. Tangan Donghae bergerak meraih kado berbentuk lingkaran dengan motif polkadot.

‘Donghae oppa, aku adalah fansmu. Aku sudah tidak sabar menunggumu debut. Tetap semangat untuk terus berlatih. Aku akan selalu mendukungmu.’

Sebuah handuk kecil berwarna biru bertuliskan namanya adalah isi kado itu. Donghae kembali tersenyum. Ia meletakkan kembali kado berbentuk lingkaran itu pada tempatnya dan mengambil kado berbentuk hati berwarna merah muda.

‘Donghae oppa, kau dan Super Junior memang yang terbaik. Aku yakin kalian akan menjadi idol grup paling hebat’

Membaca tulisan tangan pda kartu bersama kado yang ia terima dari orang-orang yang mencintainya, membuat Donghae tak lelah untuk terus menyunggingkan senyuman di bibirnya.

‘Selamat ulang tahun Donghae oppa, jaga selalu kesehatanmu dan semoga kau selalu bahagia.’

Donghae beranjak pada sebuah kado berbentuk persegi panjang yang terletak di rak paling atas. Ia membuka kado yang didalamnya berisi foto dirinya dan teman-teman yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Foto itu menampilkan ekspresi bahagia dari mereka. Foto yang menggambarkan bagaimana hubungan diantara mereka begitu erat ditampilkan pada saat mereka berjajar bersama saling menggenggam satu sama lain dan berpelukan. Donghae meraih kartu di dalamnya.

‘Oppa, aku adalah salah satu dari sekian banyak fans yang mencintaimu. Meski kalian tidak memenangkan penghargaan tapi yang terpenting kalian tetap memanngkan penghargaan di hati kami para ELF. Oppa, tetaplah berkarya dengan baik karena kami para ELF akan selalu mendukung dan memberikan cinta kami pada kalian sampai akhir. Donghae Oppa Fighting ! ^^’

Donghae terkekeh pelan setelah membaca tulisan itu. Meskipun ia menerima banyak hadiah dari teman-teman yang selalu memberikan cinta padanya, tapi Donghae akan tetap menerimanya dan menyimpannya atau menggunakannya. Karena ia benar-benar merasa berterimakasih kepada mereka yang selalu memberikan cinta padanya. Tidak hanya di lemari itu tapi Donghae masih menyimpannya di tempat lain atau ia telah menggunakannya.

Tawa Donghae menyurut, namun masih memancarkan senyum di wajahnya. Ia kembali teringat fakta bahwa ia akan meninggalkan mereka. Mungkin jika bisa memilih, lebih baik Donghae akan selalu menemani mereka para pembawa sinar biru yang selalu memberikan kekuatan baginya.

Mata Donghae bergerak memandang bingkai foto yang ada di meja kecil di samping tenpat tidurnya. Pria itu kemudian beringsut duduk di atas tempat tidur dan bersandar sambil meraih pigura tersebut. Ia merasa sangat bersyukur memiliki teman-teman yang sudah ia anggap sebagai keluarga. Pikirannya berkelana pada kejadian belasan tahun lalu. Saat dirinya menjadi salah satu trainee dari perusahaan tempatnya sekarang bernaung.

Ia masih ingat kesan pertama dirinya yang masih malu-malu untuk dapat bergaul dengan trainee lainnya. Leeteuk yang kala itu menghampiri dirinya yang sedang duduk di kafe dan menawarkan diri untuk menjadi Hyungnya. Kemudian pertemuannya dengan Eunhyuk yang berakhir menjadi teman yang paling berarti baginya sampai saat ini. Heechul pria berwajah cantik dengan tempramen yang mengerikan. Kangin yang terlihat menakutkan namun ternyata ia adalah pria yang memiliki hati yang baik. Yesung salah satu hyung yang dekat dengannya.

Sungguh, ia tidak benar-benar melupakan semua pertemuannya dengan member Super Junior. Mereka selalu bersama sejak mereka bertekad untuk mewujudkan impiannya. Ia selalu berada di samping Leeteuk saat pria yang terlihat tegar itu akan menitikkan air matanya ketika turun dari panggung. Meskipun Donghae sendiri bukan tipe orang yang dapat menguatkan diri tapi setidaknya ia juga harus kuat demi keluarganya.

Mengingat fakta beberapa hari lagi ia jarang menghabiskan waktu bersama dengan member lain membuatnya sedikit sedih. Ia akan meninggalkan untuk sementara waktu orang-orang yang selalu memberikan cintanya pada Super Junior.

Donghae menghela napas setelah menyadari penglihatannya mulai mengabur karena air mata menggenang di sudut matanya.

“Hhhh… Aku merindukan kalian”

Belum genap satu bulan ia berada di rumah bersama dengan eomma dan Donghwa hyung tapi ia sudah mulai merindukan keluarganya yang lain. Sebenarnya ia ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya daripada dengan member lain. Tapi entahlah, hati tidak bisa dibohongi. Donghae saat ini ingin berkumpul dengan member yang lain. Semoga saja member lainnya bisa mengobati kegalauan hatinya.

Donghae meletakkan pigura foto yang dipegangnya dan segera meraih ponsel yang ada di sampingnya. Ia segera menyentuh layar itu beberapa kali sebelum akhirnya menempelkan ponsel itu di telinganya. Nada sambung terdengar dari ujung. Tak lama kemudian suara yang tak asing baginya terdengar.

“Heum. Wae?”

Hyung. Ayo jalan-jalan!” ajak Donghae semangat.

Donghae segera beranjak dan menyambar jaket yang ada di gantungan belakang pintunya. Ia segera keluar kamar dengan wajah sumringah. Ia mematut diri pada cermin yang ada di ruang tengah dan segera berjalan menuju pintu rumah dan mengganti sandalnya dengan sepatu canvas yang ada di rak di depan pintu.

Suara wanita paruh baya yang menyerukan namanya dari ujung ruang, seketika itu juga mampu membuatnya menghentikan langkah.

“Hae-ya! Kau mau kemana? Bukankah kau baru saja membersihkan kebun? Kau belum makan juga kan?” ujar sosok tersebut dengan sepasang mata yang menelusuri penampilannya dari puncak kepala hingga ujung kaki, menyadari penampilan Donghae yang teralu rapi.

Donghae menghela nafas, bersiap melontarkan jawaban untuk menghentikan berendelan pertanyaan yang baru saja didengarnya.

“Aku akan makan diluar bersama member lainnya eomma” jawab Donghae dengan seulas senyuman.

Ia memeluk wanita paruh baya itu sekilas sebelum akhirnya meninggalkannya dan keluar dari rumah segera menuju tempat yang ia tuju.

****

“Payah!” umpat Donghae kesal.

Pria yang baru saja keluar dari sebuah kamar di salah satu apartemen itu terlihat berjalan dengan menunduk. Pasalnya, ia baru saja mendapati hal yang membuatnya sedikit kecewa. Yesung yang baru saja ia temui tidak dapat menepati kesediaannya untuk pergi bersama dirinya.

Donghae harus menelan kekecewaan akibat ajakannya yang ditolak sepihak oleh Yesung dengan alasan ia akan pergi bersama Jongjin dan ia sudah mewanti-wanti tak ingin melibatkan Donghae dalam acaranya.

“Jauh-jauh pergi kesini tapi tak ada orang lain selain Yesung hyung?” keluhnya.

Donghae menyesal mengapa keinginannya untuk menghabiskan waktu dengan member lain di hari-hari sebelum kepergiannya baru saja dirasakannya saat ini. Padahal jauh-jauh hari saat kegiatannya sudah luang, Heechul sempat mengajaknya pergi bersama tapi ditolak olehnya. Seharusnya ia menyetujuinya saja karena setidaknya ia bisa menyempatkan waktu untuk berkumpul. Semenjak hari-hari mendekati kepergiannya untuk wajib militer, memang Donghae lebih memilih untuk tinggal di rumah bersama keluarganya. Dan entah angin apa yang membuatnya tiba-tiba ingin bertemu dengan member yang lain.

“Donghae!” seseorang berseru padanya.

Donghae kemudian mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Di ujung koridor sosok lelaki berambut hitam dengan senyum lebar khasnya berjalan ke arah Donghae. Tiba-tiba saja rasa kesepiannya menguap begitu saja. Donghae ikut tersenyum melihat sosok tersebut.

“Hyung!” Donghae segera berlari menghampirinya.

Wae?” pria itu kebingungan dengan aksi menarik yang Donghae lakukan padanya. Pria itu hanya pasrah saat Donghae menariknya paksa menuju parkiran.

“Teuki hyung. Ayo pergi jalan-jalan. Aku merasa bosan di rumah dan sepertinya makan bersama denganmu di luar akan membuatku senang” jelas Donghae. Pria itu masih bergelayut manja di lengan Leeteuk dengan tatapan yang ia buat memelas. Leeteuk mendesah ringan membalas tatapan Donghae.

“Padahal aku ingin beristirahat. Aku baru saja pulang dari syuting Donghae. Kau ajak yang lain saja dan—“

“Setuju! Aku akan mencoba menghubungi Eunhyuk” seru Donghae girang memotong ucapan Leeteuk.

Donghae segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Ia segera menghubungi sosok yang ia maksud. Tak menunggu beberapa lama setelah nada panggilan tersambung, suara Eunhyuk sudah menyapanya.

“Heum?”

“Cepat bersiap-siap. Aku akan menjemputmu. Kita pergi jalan-jalan dengan Teuki hyung”

Donghae segera menutup panggilannya sebelum Eunhyuk sempat mengucapkan sesuatu. Leeteuk hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Donghae.

Leeteuk menengadahkan tangannya pada Donghae.

“Hyung kau yang menyetir?” tanya Donghae.

“Aku tahu” jawab Leeteuk seadanya seolah tak menghiraukan pertanyaan Donghae.

Hal yang paling Donghae sukai saat pergi keluar dengan member lain adalah seperti saat ini. Ia tak perlu repot-repot menyuruh mereka untuk mengendalikan kemudi karena mereka akan dengan senang hati menawarkan diri. Karena jika Donghae yang melakukannya pasti mereka akan memasang wajah ‘kau mau aku tinggal kenangan?’. Mereka masih memiliki keinginan untuk memiliki umur yang panjang.

***

Leeteuk dan Donghae yang baru saja memberhentikan mobil di depan apartemen Eunhyuk ternyata harus mengurungkan niat mereka. Mobil mereka tak perlu repot-repot masuk ke tempat parkir karena Eunhyuk sudah berdiri di depan pintu masuk apartemen.

“Mengapa kau memintaku keluar? Ini hari minggu seharusnya aku tetap berada di rumah tidur sore” meski Eunhyuk datang dengan menggerutu tapi pria itu tetap memasuki mobil dan duduk di samping Donghae.

“Lalu kenapa kau justru meuruti permintaan Donghae?” tanya Leeteuk yang mulai menjalankan mobilnya.

“Aku sama sepertimu hyung” ucap Eunhyuk malas.

Donghae senang dengan fakta tersebut. Leeteuk dan Eunhyuk memang yang terbaik. Jika itu mereka maka tidak akan ada penolakan.

Mobil berhenti di perempatan jalan menunggu rambu lalu lintas berwarna merah itu akan berganti menjadi hijau. Donghae yang sejak tadi menikmati pemandangan dari kaca mobil tak sengaja menemukan sebuah kedai makanan tak jauh dari tempat mereka berada.

Tangan Donghae bergerak menarik tangan Eunhyuk. Donghae masih terpaku dengan kedai makanan tersebut tanpa memperhatikan Eunhyuk saat ini menatap kesal tangan Donghae yang sejak tadi mengganggunya.

“Wae?”

“Ayo kita beli bungeoppang[1]” ucap Donghae. “Hyung, tepikan mobilnya aku ingin beli bungeoppang di sana” titah Donghae pada Leeteuk.

Seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, Donghae menunggu Leeteuk menepikan mobilnya dengan antusias. Pria itu segera melepaskan sabuk pengamannya dan menatap Eunhyuk dan Leeteuk bergantian.

“Aku yang membelinya?”

Eunhyuk mengernyitkan keningnya mendapati pertanyaan Donghae.

“Mengapa kau bertanya? Bukankah kau yang menginginkan bungeoppang itu?” tanya Leeteuk bingung.

“Ah, kalian ini bagaimana sih? Seharusnya kalian peka, kalau aku tidak ingin pergi kesana sendiri. Apa kalian tidak mengkhawatirkan diriku jika aku pergi kesana dan akan diculik oleh para alien lalu—“

“Mana dompetmu?” Eunhyuk segera memotong ucapan melantur Donghae.

“Heuh?” Donghae mengerjapkan matanya terdiam. Tangannya bergerak merogoh saku jaket dan celananya. Eunhyuk kemudian merasakan gelagat aneh Donghae. Tak lama kemudian Eunhyuk mendapati Donghae kini menatapnya dengan senyuman lebar yang mungkin mampu membuatnya luluh.

Jika senyuman itu Donghae tujukan pada gadis di luaran sana mungkin saja mereka akan berteriak kegirangan, tapi tidak untuk Eunhyuk. Senyum itu justru senyuman dari temannya yang sangat bodoh. Si bodoh ini sekarang sedang membohonginya dengan berpura-pura lupa membawa dompetnya. Ia harus sadar diri jika Donghae itu terlalu banyak bergaul dengannya jadilah ia seperti ini dan mungkin Eunhyuk lebih bodoh dari Donghae karena sekali lagi ia terjebak dengan perangkap yang sama.

“Hyung, keluarkan dompetmu”

“Aku?” seru Leeteuk.

“Aku pergi keluar karena ajakan dari orang lain jadi kupikir aku tidak perlu membawa dompet karena ada kalian berdua” papar Eunhyuk.

Leeteuk menelan ludah. Sebenarnya ia merasa tidak rela jika harus mengeluarkan uang dari dompetnya. Tahu begini ia tidak usah enuruti keinginan Donghae.

“Ah, begini saja. Daripada kita terlalu banyak membeli makan dan untuk menghemat pengeluaran hari ini kita pergi saja ke tempat makan yang kemarin direkomendasikan oleh temanku. Donghae karena kali ini aku yang akan membayar kau harus menurut padaku” ucapan Leeteuk itu langsung membungkam mulut Donghae yang ingin melayangkan protes.

Leeteuk segera melajukan mobilnya. Ia melirik Donghae yang duduk di belakang dari balik kaca depan. Ia sedikit menahan senyumannya sat melihat bagaimana Donghae tengah menatap kedai makanan yang ingin dikunjunginya tadi. Benar-benar seperti seseorang yang baru saja patah hati.

Membiarkan Donghae dan Eunhyuk pergi keluar membawa dompetnya untuk membeli bungeoppang sendiri, Leeteuk menggelengkan kepalanya. Meski mereka berdua adalah dongsaengnya tapi tetap saja tingkah mereka harus ia waspadai. Jika mereka membeli bungeoppang berdua, bisa saja mereka akan membeli semua makanan yang mereka lihat. Tidak peduli jika uang yang mereka gunakan adalah hasil jerih payah penuh perjuangan dari Leeteuk.

“Padahal aku ingin makan bungeoppang” gumam Donghae yang masih setengah kesal dengan Leeteuk yang tak jadi memberikan uangnya.

“Siapa suruh kau justru meninggalkan dompetmu. Kau snediri yang mengajak kami pergi tapi justru kau meninggalkan dompetmu” Donghae mencibir ucapan Leeteuk. Ia sedikit menyesali kecerobohannya.

Mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Leeteuk melajukan mobilnya pelan saat mencoba memarkirkannya. Ia segera melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil disusul Donghae dan Eunhyuk. Leeteuk mencoba memastikan tempat yang ia maksud dan memang ia tidak salah tempat.

“Wah, hyung kau memang yang terbaik. Hari ini kita makan seafood?” suara penuh kegirangan dari Donghae menyadarkan Leeteuk.

Eunhyuk juga terlihat tersenyum puas melihat restoran tempat ia akan memuaskan rasa laparnya. Donghae bahkan menatap restoran di depan mereka dengan kilat mata berbinar-binar. Mereka berdua sudah seperti manusia purba yang tidak pernah keluar dari dalam gua dan terjebak dalam masa sekarang yang semuanya terlihat menakjubkan bagi mereka.

Leeteuk sedikit terganggu ketika menyadari sosok layaknya anak kecil sedang bergelayut manja di sisinya. Tingkah Donghae memang aneh. Kapan pria ini akan menjadi dewasa?

“Oh? Ada patung lobster?” Donghae berseru saat kedatangan mereka disambut sebuah patung lobster merah.

“Namanya juga restoran seafood jadi sudah sepatutnya ada patung lobster. Akan jadi aneh kalau mereka menempatkan patung dirimu di sini” ucap Eunhyuk datar.

“Memang salah? Bukankah mereka bisa menarik perhatian pengunjung dengan wajah tampanku ini?” Donghae memasang senyum lebarnya.

Eunhyuk mencibir melihatnya. “Wajah tampan? Yang ada orang-orang lari terbirit-birit melihat wajah horormu”

Donghae mencebik mendengar ucapan Eunhyuk. Ia segera memalingkan wajahnya dan segera mengikuti Leeteuk.

Dan setelahnya mereka bertiga secara bergantian memesan makanan yang mereka inginkan setelah mendapatkan tempat duduk. Tak menunggu waktu yang cukup lama pesanan mereka sudah diantarkan tepat di depan mereka.

Donghae dan Eunhyuk menatap senang hidangan di depan mereka. Entah karena ia sudah hati dengan patung lobster di depan tadi, akhirnya Donghae menjatuhkan pilihannya untuk memesan lobster panggang. Berbeda dengan Donghae, Eunhyuk lebih memilih untuk memesan kepiting rebus. Dan untuk alasan menghemat pengeluaran, Leetuk memilih sup ikan laut untuk makanannya.

Ia hanya berjaga-jaga jika dua manusia aneh di hadapannya nanti akan menghabiskan uangnya jadilah ia harus sedikit menghemat pengeluarannya. Agak berlebihan mungkin, tapi memang mereka berdua bisa saja menghabiskan uang Leeteuk kaena ingin memesan makanan apa saja yang mereka inginkan tanpa bersusah-susah memikirkan biaya itu membebani orang lain atau tidak.

“Jadi?” ucap Leeteuk memecah keheningan ketika menyadari jika dua pria dihadapannya sudah selesai dengan makanan mereka.

“Aku boleh nambah lagi?” tanya Eunhyuk antusias.

Leeteuk kemudian memberikan tatapan tajam pada pria yang kini tengah tersenyum lebar hingga menampilkan gusi merah muda khas darinya. Senyum lebar Eunhyuk hilang seketika, ia memberengut karena melihat wajah Leeteuk yang seakan memberikan penjelasan ‘jangan lakukan hal yang tidak-tidak!’.

Leeteuk menyengir puas melihat Enhyuk kini tertunduk lesu.

“Sudahlah Hyuk, kan kita hanya numpang makan? Nasibmu sama sepertiku, besok-besok kalau kita pergi jangan lupa bawa dompet ya?” ucap Donghae memberi nasihat.

Melihat raut Eunhyuk yang berubah muram berhasil meluluhkan hatinya. Donghae mendekat ke arah Eunhyuk dan menepuk pelan bahunya.

“Hyung, kalau kau takut kehabisan uang kenapa harus ke tempat ini? Kenapa tidak datang ke warung makan lain misalnya bibimbap[2] atau ramen? Bukankah lebih irit?” kata Donghae setelah beberapa saat hanya keheningan yang menyelimuti mereka.

“Ramen sudah biasa. Tapi tempat ini…Bukankah sedikit istimewa dan tidak biasa?”

“Maksudmu istimewa karena ada patung lobster di depan tadi?” sela Donghae polos. Matanya mengerjap menatap Leeteuk yang kini kehilangan senyumannya akibat ucapan Donghae.

“Aku hanya ingin mengembalikanmu ke habitat asalmu dan ingin kau bertemu dengan teman-temanmu sebelum kau pergi jauh meninggalkan mereka” kesal Leeteuk.

“Aku bercanda hyung. Hhhh… mendengar ucapanmu membuatku merasa… Yah, kau tahulah hyung” ucap Donghae menggantungkan ucapannya.

Eunhyuk mengerutkan keningnya, “Maksudmu?”

“Ahh…Kau ini bagaimana bisa tidak peka? Bukankah sebentar lagi kita akan pergi. Apa kau tidak merasakan sesuatu yang berat begitu?”

Eunhyuk tertawa kecil mendengar Donghae. Eunhyuk juga melihat Leeteuk yang terkekeh di depannya. Membuat Donghae yang sejak tadi menunduk mendongak heran.

“Yak! Kau berlebihan sekali. Harusnya aku yang merasa sedih karena akulah yang lebih dulu wamil dan kau kan masih punya dua hari lebih panjang untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan member?” ucap Eunhyuk sambil menerawang jauh ke depan.

“Mungkin sebagian orang berpikir aku selalu terlihat senang tanpa memiliki beban apapun. Tapi sungguh, melihat member lain pergi satu persatu meskipun aku sudah terbiasa, itu masih cukup sulit bagiku dan sekarang giliranku yang akan pergi” Eunhyuk terdiam sejenak sebelum akhirnya terkekeh menertawai perkataannya yang terdengar berlebihan.

Melihat kedua dongsaeng kesayangannya mengungkapkan masalah yang mengganjal di hati mereka membuat Leeteuk yang sejak tadi bungkam, tersenyum hangat. Ia menepuk bahu keduanya ringan. “Aku yakin kalian pasti bisa melaluinya. Kehidupan di militer itu cukup menyennagkan seperti yang Heechul katakan”

Eunhyuk mendengus diantara rasa gelinya, sedangkan Donghae kini terlihat jelas jika matanya sudah berkaca-kaca. “Mungkin yang kalian rasakan saat ini sama seperti yang aku rasakan saat dulu. Tapi percayalah, kalian pasti bisa melakukannya meski awalnya sedikit belum bisa meninggalkan kehidupan kalian saat ini tapi seiring berjalannya waktu kalian justru akan menikmatinya” ucap Leeteuk panjang lebar.

Donghae mengerjap mencoba menghilangkan genangan air matanya dan Eunhyuk hanya mengangguk mendengar ucapan Leeteuk.

“Jika kalian khawatir mengenai ELF, yakinlah jika masih ada ELF yang akan setia menunggu kalian. ELF kita sudah dewasa”

“Iya. Kupikir banyak ELF yang meninggalkan kita tapi ternyata di luar sana tak kalah sedikit ELF yang masih memberikan cintanya pada kita” Donghae tersenyum memikirkannya.

Sedih dan senang diantara kehilangan dan perpisahan sementara yang telah mereka lewati setidaknya masihdidapati olehnya rasa kelegaan yang membuatnya senang saat melihat bagaimana ELF yang terus saja memberikan cinta pada mereka.

Apapun yang terjadi pada mereka, tapi ELF mereka tetap berdiri di belakang mereka menunggu mereka dan berada di samping mereka untuk selalu memberikan kekuatan. Dan untuk para member yang semakin dewasa. Rasa kekeluargaan mereka tumbuh semakin erat dan mereka dapat saling memahami satu sama lain. Itu semua adalah buah dari perjuangan yang telah mereka lakukan bertahun-tahun yang lalu.

Hal itu tidak luput dari peran sosok pria yang kini duduk di depannya. Sosok Hyung yang sangat dicintainya sama seperti cintanya pada Donghwa Hyung. Leeteuk adalah pria tangguh yang mampu memimpin dongsaengnya meski ia juga tengah melewati masa sulit. Ia juga terus memberikan dukungan untuk adik-adiknya meski ia terpaksa harus kehilangan beberapa dari mereka.

Dongha menghela nafas. Ia meski sebuah senyum ringan terhias di wajahnya namun ada sebersit kerinduan yang ia rasakan saat dimana ia bersama dengan para member yang masih bersama dalam formasi lengkap. Itu waktu yang cukup singkat baginya.

Menyadari keadaan berubah menjadi melankolis dan mata Donghae mulai berair lagi, Eunhyuk segera mengeluarkan suara, “Jadi, apa yang kau inginkan sebelum kita pergi wamil?”

“Eum?” Donghae terlihat memiringkan kepalanya berpikir. “Makan bersama dengan Hyung dan dongsaeng, Jalan-jalan bersama hyung dan dongsaeng, Menonton film dengan hyung dan dongsaeng lalu—“

“Yak! Waktumu tidak lama lagi kenapa kau justru menuntut yang aneh-aneh. Donghae, realistis! Apa kau tidak ingin menghabiskan waktu bersama keluargamu?” sergah Eunhyuk dengan nada memerintah yang dibuat-buat.

“Sudah sebulan aku di rumah menghabiskan waktu dengan Eomma dan Donghwa hyung. Tapi tadi sore tiba-tiba saja aku ingin menghabiskan waktu dengan para member” Donghae menarik nafas. “Karena Yesung Hyung sudah memberikan harapn palsu padaku dan akhirnya aku bertemu dengan Teuki Hyung jadilah seperti saat ini. Kalau begitu aku ingin menghabiskan waktu hari ini bersama Teuki hyung dan uri Hyukie” ucap Donghae dengan nada senang.

“Haish… Donghae berhenti bersikap kekanakan, usiamu sudah tak muda lagi. Bagaimana nanti aku akan mencari jodoh?” keluh Eunhyuk.

“Kau pikir kau masih muda? Dan memang kau sudah punya pacar?” cecar Donghae tak terima.

“Hehe… Sebenarnya aku sudah dalam tahap pencarian. Lagipula diluar sana ada banyak gadis muda belia yang mengantri untuk bisa dikencani dengan pria tampan dengan baby face sepertiku”

“Hei, kenapa jadi menyinggung usia dan penampilan? Aku jadi merasa sedikit tersinggung” Leeteuk mencoba melerai keduanya.

“Maaf, aku lupa jika mengajak ahjussi tua nan tampan disini” Eunhyuk terkekeh ringan dengan ucapannya.

Leeteuk menatapnya tajam tak terima dengan perkataan Eunhyuk. Niat baiknya untuk menyelesaikan adu mulut Donghae dan Eunhyuk justru dibalas dengan ejekan menusuk hati dari Eunhyuk.

“Sudahlah hyung, setidaknya Eunhyuk mengakui dirimu tampan”

Eunhyuk mengangguk menanggapi perkataan Donghae. Leeteuk menghela nafas sejenak.

“Kuharap kalian segera pergi karena dengan begitu semua beban pikiranku akan lenyap begitu saja” Leeteuk menunduk memijat pelipisnya.

“Apa maksudmu hyung?” ucap Eunhyuk tak terima. “Jadi kau menyaahkan kami karena penuaan di wajahmu itu sedikit banyak karena memikirkan kami?”

“Wah, hyung kau tidak boleh seperti itu. Bagaimanapun kami ini dongsaeng kesayanganmu” timpal Donghae.

Keduanya saling terkikik melihat reaksi Leeteuk. Pria itu kini tengah merelaksasikan pernafasannya seolah mengabaikan ucapan Donghae dan Eunhyuk.

“Oh, hyung lihat! Disana ada anak kecil yang berfoto dengan orang tuaya” Donghae berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk pintu masuk restoran.

Eunhyuk mengikuti arah tangan Donghae.

“Ayo kita berfoto bersama patung lobster itu. Cepat” Sebelum Eunhyuk memprotes Donghae sudah menarik lengannya. Tak lupa juga Donghae menarik paksa Leeteuk untuk segera bangkit dari tempat duduknya.

Donghae ersenyum melihat bagaimana keluarga itu berfoto dengan senyuman mereka. Donghae yang sudah berada di samping mereka memberanikan diri untuk meminta bantuan pada pria yang mungkin ayah dari gadis kecil berambut sebahu yang ada di sampingnya, untuk memotret mereka.

“Ayo cepat. Kalian duduk di sini” Donghae segera menarik Leeteuk dan Eunhyuk.

“Menyusahkan saja. Apa kau masih seperti ini jika tidak ada kami?” keluh Eunhyuk singkat sebelum akhirnya ia mengikuti Donghae.

Mau tak mau Leeteuk dan Eunhyuk segera menuruti keinginan Donghae. Mereka segera menampilkan senyum termanis mereka di depan kamera.

Mereka berganti gaya untuk beberapa gambar yang mereka potret. Sebagian lagi mereka mengambil selca.

Donghae memang belum bisa memenuhi keinginannya untuk bertemu dengan member lainnya. Tapi setidaknya ia bersyukur karena Teman dan Kakaknya ada di sisinya. Keluarga selain eomma dan Donghwa hyung. Mungkin ada benarnya juga jika Donghae tanpa mereka akan seperti apa nantinya. Tapi Super Junior tanpa Donghae? Mereka akan kesulitan. Buktinya mereka harus menunggunya dua tahun lagi untuk melakukan kegiatan bersama. Donghae boleh berbangga akan hal itu.

 

~END~

Note :

[1] Bibimbap adalah masakan Korea berupa semangkuk nasi putih dengan lauk di atasnya berupa sayur-sayuran, daging sapi, telur, dan saus pedas (gochujang).

[2] Bungeoppang adalah makanan korea yang berupa roti (Heoppang) yang berisi kacang merah.

 

 

Holla I’m back. Huhuhu… bawa satu lagi tulisan absurd. Bikin tulisan genre bromance itu agak gimana gitu… 😀 Dan ini terinspirasi dari postingan Leeteuk bareng duo maut (read:EunHae)

Dan ini entah gimana lagi, hati rasanya semakin ‘Nyesss’ tahu Donghae dan Hyukjae udah pada cukur rambut. Niatnya sih mau ikutan cukur rambut tapi besok aja ya Hyuk *Plak*

Oke abaikan!

Yang pasti, dua tahun tanpa bias itu ‘something wrong’ from me. Dan saya akan mulai mencari pelarian setidaknya bisa sedikit mengurangi rasa galau saya ditinggal pacar *uhuk slapped*

As usual. Anyone who read this? Review please. ^^

Nanti berhadiah piring cantik *gubrak*

Oke silahkan kunjungi laman kami jika berkenan ingin membaca tulisan gaje lainnya https://specialelfsilversea.wordpress.com/

*Maaf Numpang Promo* 😀

 

3 Comments (+add yours?)

  1. teukkie
    Oct 18, 2015 @ 08:38:38

    seruu banget baca tentang persahabatan mereka. baca ff ini tuh ngingetin aku sama mereka bertiga yang lagi liburan bareng di swiss wkwkwk keren thor (y)

    Reply

  2. Laili
    Oct 18, 2015 @ 11:25:59

    Jadi kangen liat Suju bisa bareng2 lagi, walaupun mustahil dalam waktu dekat ini.
    Semoga Donghae oppa, Hyukjae oppa, Sungmin oppa, Shindong oppa sehat selalu di camp sana.

    Reply

  3. chintya
    Oct 19, 2015 @ 09:28:37

    yup.. setuju banget, seru baca cerita kedekatan antar member, aduh fishy oppa gag manggung 2 tahunn.. cia yoo oppaa, fighting!!! ELF pasti menunggu

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: