[Eunhae’s Day] Silience

silience

Silience

  1. the kind of unnoticed excellence that carries on around you every day

Cherry Hee

.

.

“Aku menyukai pacarmu.”

Barangkali Hyukjae sempat berpikir kalau kalimat itu bisa mengakibatkan perpecahan diantara mereka. Meski mulanya ia mengenyahkan keraguan itu atas dasar persahabatan dan kebaikan seorang Lee Donghae. Temannya itu selalu mengalah untuknya.

Seperti saat mereka berdua terpilih menjadi calon ketua kelas, Donghae memberi jabatan nomor satu di kelas itu untuknya sebelum pemilihan dilakukan. Atau ketika Donghae yang memberi sebagian besar bekal makan siangnya saat Hyukjae lupa membawa miliknya sendiri.

Kali itu Hyukjae hanya berharap kalau Donghae mau mengalah untuk masalah asmara. Di mana hal itu datang saat Hyukjae juga punya rasa suka pada seorang gadis yang saat itu sudah menjadi milik kawannya. Tapi kata orang, cinta itu buta. Kebutaan itu juga ternyata berlaku dalam merenggangkan persahabatan yang telah mereka jalin.

Helaan napas lagi.

Hyukjae menunduk dan menemukan isi gelas ekspresonya nyaris kosong. Ia lupa berapa kali menyesap minuuman pahit itu, tapi tak lupa sudah berapa kali ia menghela napas untuk hari ini. Mungkin ada puluhan kali.

Hyukjae tergelak lirih. Mengasihani dirinya sendiri dan merasa bodoh sekali. Dia pikir, mungkin waktu itu otaknya belum dapat berkerja logis mengingat ia masih diusia belasan. Anak remaja suka seenaknya sendiri dan jarang memikirkan risiko jangka panjang. Risiko Donghae akan membencinya dan mengambil kembali cap ‘kawan baik’ darinya menjadi ‘mantan kawan baik yang brengsek’.

Uh!

Hyukjae mencengkeram keningnya ketika pikiran itu menyerang kepalanya. Akhir-akhir ini perasaan bersalah itu sering datang. Karena bagaimana bisa persahabatan sepuluh tahun dirusak oleh cinta konyol anak SMA.

Angin pelabuhan Cassis memerangkapnya dalam udara dingin sekaligus sejuk. Di bawah lindungan kanopi kafe tempatnya berteduh, Hyukjae dapat merasakan sengatan mentari hari ini cocok untuk dihabiskan jalan-jalan. Bangunan bercat warna-warna pastel yang merapat sepanjang pelabuhan membuat semangatnya perlahan bangkit. Mungkin ia akan melanjutkan destinasi ke lembah dan teluk karang yang terkenal itu. Calanque, surga kecil Prancis yang sudah Hyukjae masukkan dalam daftar pelancongan mendadaknya.

Setelah membayar kopi dan meregangkan ototnya sejenak dengan gerakan sederhana, Hyukjae kembali memasang backpack di punggung.

Menuju langkahnya yang kelima, ia baru akan mengecek ulang peta yang dibawanya ketika matanya lebih dulu menemukan sesuatu yang menarik tidak jauh dari bibir pelabuhan. Seorang laki-laki dengan gitar melingkari tubuhnya sedang berjongkok mengelus anjing kecil yang sibuk makan. Itu bukan pemandangan menarik jika saja sosok itu tidak terlihat familiar diingatannya.

Sedikit ragu, Hyukjae tetap memutuskan berjalan mendekat. Ketika ia telah berdiri di depan laki-laki itu, lidahnya mendadak kelu. Ini tidak ada hubungannya dengan angin beku langit Prancis—well, lagi pula musim dingin sudah jauh berakhir. Namun sesuatu meredam suaranya.

Ketika laki-laki itu mendongak untuk melihat siapa orang bodoh yang berdiri diam di depannya, kedua manik hitam mereka akhirnya bertemu. Setelah sekian lama—lima tahun jika Hyukjae tak salah hitung. Laki-laki itu tak berubah. Masih tersisa keluguan diwajah yang kini terlihat lebih dewasa itu. Kumis halus yang tak sempat tercukur tidak membuat kebaikan dalam matanya meredup.

“Hyukjae?” Dan selalu seperti itu. Donghae diberkahi sifat kebaikan yang berlebihan.

Hyukjae tersenyum kecil. Menyembunyikan rasa haru atas sapaan kawan lamanya itu. Mengumpulkan suaranya yang tercecer dalam rasa malu, Hyukjae balik menyapa lirih, “Hai, Donghae.”

“Aku datang ke Paris untuk bekerja.” Donghae mulai bercerita lebih dulu ketika dua pasang kaki mereka saling berjejer, bergelantungan di pembatas pelabuhan. Gradiasi biru-hijau laut mengintip di sela-sela barisan kapal yang ditambatkan.

“Wow, kau mendapat pekerjaan di Paris?”

“Eum, bukan pekerjaan sebenarnya. Hanya musisi jalanan,” sahutnya sambil menunjuk sebuah gitar usang yang tersandar di sisinya. Donghae mengangkat bahu. “Kau tahu seberapa suka aku pada musik dan Prancis, kan.”

“Itu keren.”

Hyukjae berkata jujur. Karena benar itu keren, ketika ia yang jarang bisa keluar dari kubikel kerjanya ternyata mempunyai seorang teman pemberani yang menyeberang benua demi mewujudkan impiannya.

“Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku baru menyelesaikan misi dari ayahku untuk membujuk seorang klien kami dari Paris.”

“Wah, berarti perkebunan gingseng kalian berkembang pesat ya.”

“Tidak juga,” balas Hyukjae, merendah. “Kami lumayan kesulitan menembus pasar luar negeri, meskipun ekspor ke Hongkong dan Taiwan tidak dibilang kalah saing.”

“Dan karena aku tak ingin melulu dikejar masalah gingseng, di sinilah aku sekarang.Mencuri waktu untuk berlibur sendiri.”

Donghae mengangguk mengerti. Senyum di wajahnya tak juga hilang.

Tiba-tiba sesuatu yang pertama kali dipikirkannya sebelum kemunculan laki-laki itu meluncur deras dari mulut Hyukjae. “Bagaimana dengan dia. Kau masih berhubungan dengannya?”

Hyukjae tahu itu bukan pertanyaan terbaik saat ini, tapi dia hanya penasaran apa Donghae benar-benar sudah memaafkannya. Dan ketika melihat lengkungan di bibir laki-laki itu, Hyukjae merasa lega.

“Aku sudah tidak berhubungan dengannya setelah sadar kalau dia tidak sungguh-sungguh menyukaiku juga. Tapi itu sudah lama, tidak perlu diungkit lagi. Kau sendiri, sudah tidak memikirkannya lagi, kan?”

“Tentu saja tidak.” Hyukjae meringis lebar. “Aku baru menemukan seorang gadis yang menarik kemarin saat berkunjung ke rumah klienku.”

“Oh, ya?” Mata Donghae berbinar-binar. Gerak-gerik yang sama saat dulu mereka saling berbagi rahasia. “Aku juga sebenarnya sedang mendekati seorang gadis,” akunya kemudian.

“Wah, sejak kapan kau jadi seorang pria yang berani mendekat lebih dulu?” goda Hyukjae menghasilkan gelak tawa kawannya.

“Aku bukannya pengecut tapi para gadis itu yang lebih dulu mengejarku. Itu bukan salahku.”

“Oh, kita lupakan masalah kau yang pengecut.” Donghae melotot, Hyukjae tak acuh dan terus bertanya. “Jadi sekarang ceritakan bagaimana kau mendekati gadis itu.”

“Yah, dia manis. Berhasil menghilangkan satu daftar tipe ideal calon wanita pendampingku, rambutnya pendek. Kau masih ingatkan aku paling benci dengan gadis berambut pendek. Tapi dia manis, aku bisa apa?”

Hyukjae mengangguk-angguk sambil terus mempertahankan ringisannya.

“Namanya Celin. Selain manis, dia gadis berhati malaikat.”

Ada lima detik yang menjeda bagi Hyukjae untuk memutar memorinya disatu hari yang lalu.

“Dia—”

“Tunggu.”

“Apa?” Donghae menoleh dan menemukan dahi kawannya berkerut. Tiba-tiba ia punya perasaan tak enak. Seolah-olah Hyukjae mengiriminya sinyal bahaya lewat tatapan.

“Ada apa Hyuk?”

“Gadis yang aku ceritakan padamu. Yang aku temui di rumah klienku itu.” Donghae mengangguk-angguk, rautnya mengantisipasi. Sampai Hyukjae mengatakan sesuatu yang membuat mereka membeku.

“Dia memakai kalung berbandul tulisan Celin.”

Jika dulu mereka saling menonjok karena wanita dan cinta, kali ini mereka bisa tertawa bersama. Tangan Donghae menepuk-nepuk bahu Eunhyuk sambil terus terbahak, sementara mata Hyukjae sudah berair.

.

“Aku akan menyerahkan gadis itu untukmu jika kau mau menemaniku ke Calanque sekarang.”

“Oh, itu bukan masalah besar. Aku akan jadi tour guide untukmu khusus hari ini. Aku sudah puluhan kali ke sini, jika kau meragukanku. Jadi Mr. Lee, kau mau menikmati pemandangannya dari jalur darat atau laut?”

“Darat menurutku lebih menantang.”

“Baiklah Mr. Lee, kita hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai ke sana.”

“Oh oke, aku percayakan padamu, Mr. Lee”

.

.

Jika Hyukjae ditanya apa yang membuat Donghae terlihat hebat, maka ia akan menjawab, kawannya itu punya hati besar untuk memaafkan seorang brengsek seperti dirinya. Sesuatu yang baru ia sadari ada pada karibnya.

 

 

 

2 Comments (+add yours?)

  1. Laili
    Oct 18, 2015 @ 01:56:06

    Donghae di sini baik bgt ya? Emang aslinya dah baik mau diapain.
    Persahabatan mereka keren…
    Nice story. Keep writing…. 😀

    Reply

  2. slovesw
    Oct 18, 2015 @ 20:14:51

    kak cherry aku baru baca ini ya ampun enak banget sahabatan merekaaaaaaaa!!! gimana ya, donghae di sini tipe tipe temen yang “alah yaudah buat lu aja semua” dan hyukjae-nya jatohnya ya nggak ngelunjak HAHAHAHA BESTFRIEND GOALS. terus kak cherry ceritanya juga ringan dan ha bikin kangen sama mereka ehe ehe masalahnya udah lama banget aku nggak update merekaa:( jadi waktu baca ini jadi kaya semacem nostalgia gitu WKWKKW. aku sbenernya agak suka-nggak-suka sama karakternya eunhyuk di sini. tapi ya temennya baik banget gitu aku mah bisa apa:( aaaah aku malah bingung mau komen apa kak malah ngelantur LOL pokoknya ini bagus bangettt!!! keep writing kak cherry!!❤

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: