[Eunhae’s Day] They

eunhhaeeee

Title    : They

Author : Aira

Casts  : Lee Hyukjae as Eunhyuk, Lee Donghae, and others

Genre : Friendship, family

Rating            : PG 15

Length            : Oneshot

Dua orang yang tidak saling kenal pada awalnya, dapat lebih saling memahami pada akhirnya.

—They—

Menyesuaikan dengan ritme musik, namja itu terihat fokus meliuk-liukkan badannya yang kurus.

Kiri.

Kanan.

Putar.

Lompat.

Namja itu segera menyandarkan tubuhnya ke dinding putih yang terasa dingin saat dirasa kaki kirinya mendadak berdenyut sakit. Namja itu masih berusaha mengatur nafasnya sembari menatap kesal pergelangan kakinya. Namja berambut hitam itu kini berusaha meraih ponselnya yang masih memainkan musik yang ia putar tadi. Begitu handphone berada di tangan, namja itu segera mematikan music playernya dengan kesal.

Kakinya kembali berdenyut sakit. “Argh… sial!” rutuknya. “Padahal sudah lewat empat hari dari kecelakaan memalukan itu, tapi kenapa masih sakit sih?!” namja itu masih mengumpat kesal. Tak ia sangka jika terperosok ke selokan kecil di dekat kantin sekolah empat hari lalu, menimbulkan sakit yang tidak bisa diremehkan. Terdengar seperti kecelakaan kecil memang, tapi nyatanya sakitnya luar biasa. Ruam biru keunguan bahkan masih terlihat di pergelangan kaki kirinya.

Dan bodohnya namja itu. Sudah tahu pergelangannya bengkak, masih saja memaksa untuk menari. Jangankan menari, untuk berjalan saja, namja itu masih terlihat pincang. Meski sudah diurut, kaki kirinya itu belum sepenuhnya pulih.

“Apa audisinya tidak bisa diundur?” namja itu menggaruk rambutnya lagi. Frustasi. Jika begini, bisa-bisa penampilannya kacau. Tidak maksimal.

Dua hari lagi, namja itu akan mengikuti audisi pencarian bakat yang diselenggarakan oleh salah satu management terkemuka di Korea Selatan. Tapi sialnya, insiden kecil yang memalukan itu terjadi. Namja itu hanya berharap jika lusa sakit di kakinya bisa berkurang. Atau jika diizinkan, namja itu ingin kakinya segera pulih. Bisa berjalan dengan normal kembali. Bahkan, bisa digunakan kembali untuk menari.

—They—

“Donghae-ya, tidak baik bernyanyi sambil makan seperti itu.” Sebuah suara lembut menginterupsi kegiatan makan namja berambut kecokelatan yang duduk di sebrang sang ayah. “Hm? Aku hanya bersenandung kecil saja, eomma,” kilah namja itu. Menatap ibunya lembut sambil teraenyum tipis. Sang ibu menghembuskan nafas lemah. “Kau jadi ikut audisi itu lusa?” tanya sang ayah yang hanya menatap Donghae sekilas. Donghae –namja berambut cokelat itu- mengangguk semangat. Bola matanya seketika berbinar. “Lusa? Maksudmu hari sabtu besok? Bukankah gurumu mengadakan tes mingguan matematika?” Sang ibu menatap tajam sang anak. “Aku kan masih bisa belajar hari minggunya, eomma…” rengek Donghae kesal. Tak percaya akan sang ibu yang malah memikirkan tes matematika mingguan anaknya.

Setidaknya Donghae ingin mendengar kalimat penyemangat dari kedua orangtuanya.

“Terserah kau sajalah. Pokoknya, nilaimu harus meningkat kali ini.” Sang ibu menatap Donghae dalam. Donghae menghembuskan nafas kesal.

“Ibumu hanya ingin kau tidak lupa untuk belajar,” kata sang ayah berusaha menengahi. Donghae menatap ayahnya. Sang ayah balas menatap anaknya dengan lembut. “Kau boleh mengejar cita-citamu menjadi penyanyi. Tapi kau juga tidak boleh melupakan kewajibanmu sebagai pelajar.” Sang ayah tersenyum. Donghae masih memasang ekspresi tak bersemangatnya. Dengan perasaan yang masih belum sepenuhnya membaik, namja itu mengangguk tak bersemangat.

—They—

Audition’s day

“Ya! Eunhyuk-a! Mau kemana kau?! Bantu eomma bereskan toko dulu!!” teriak wanita paruh baya sambil mengacungkan sebuah sapu di tangannya. Wanita itu berlari ke arah pintu masuk toko untuk mengejar anak laki-lakinya yang sudah berada di luar toko. Namja itu berbalik sekilas, menatap eommanya yang setengah menundukkan badannya untuk mengatur nafas. Iba juga melihat ibunya yang terlihat lelah seperti itu di depan toko. Eunhyuk mengusap tengkuknya.

“Eomma, maaf. Aku bisa terlambat. Setelah audisi aku akan membantumu, aku janji. Sampai jumpa.” Namja berambut hitam itu segera berlari dengan adak terpincang menuju halte terdekat.

Sang ibu hanya mendesah pasrah melihat tingkah anaknya. “Sama sekali tidak memikirkan kondisinya sendiri,” cibir sang ibu, kemudian segera masuk kembali ke toko.

—They—

Eunhyuk mencoba merileksan tubuhnya. “Ambil nafas…” Eunhyuk menahan nafasnya selama beberapa detik. Detik kesepuluh, namja itu menghembuskannya secara perlahan.

“Nomor 134,” teriak salah satu staff dari balik pintu. “Ne. Saya.” Eunhyuk berseru dengan semangat. “Silahkan masuk.” Kemudian staff itu mempersilahkan Eunhyuk masuk ke ruangan bertembok cokelat yang luas. Eunhyuk membungkuk kepada tiga orang yang duduk di hadapannya.

“Annyeong haseyo.. nama saya Eunhyuk.” Namja itu tersenyum riang. “Eunhyuk-ssi, apa yang ingin kau tunjukan?” tanya salah satu pria yang bertubuh gemuk di depan sana. “Aku akan menari,” jawab Eunhyuk meyakinkan dirinya sendiri. Ya. Namja itu akan tetap berusaha meski pergelangan kirinya belum pulih sepenuhnya.

“Bisa bernyanyi juga?” tanya pria yang duduk di antara kedua pria lainnya. “Tidak terlalu,” jawab Eunhyuk. Nyalinya mulai menciut. “Coba kau tunjukan kemampuan menarimu dulu.” Pria yang terlihat lebih muda dari yang lainnya mempersilahkan.

Musik mulai mengalun dari speaker. Eunhyuk mulai meliuk-liukkan badannya seperti saat ia latihan. Sakit di pergelangan kakibya masih terasa. Mati-matian ia berusaha menahan sakitnya.

Kiri.

Kanan.

Putar.

Lompat.

‘Aw.’ Eunhyuk meringis dalam hati. Namja itu tetap berusaha menampilkan yang terbaik.

Kiri.

Kanan.

Lompat.

“Stop.” Pria bertubuh gemuk segera menginterupsi Eunhyuk begitu dilihatnya wajah Eunhyuk yang tampak menahan sakit. “Apa ada masalah?” tanya pria bertubuh gemuk itu lagi. EUnhyuk tersenyum di sela-sela rasa sakitnya yang kian menjalar.

“Aku bisa melakukannya,” kilah Eunhyuk. Ketiga pria di depan sana menatap Eunhyuk serius. Eunhyuk gugup.

“Kami ingin mendengarmu bernyanyi,” kata si pria yang duduk di antara kedua juri lainnya. Eunhyuk semakin gugup. “B-baik.” Eunhyuk mencoba untuk tetap tersenyum meski dirinya tegang. Ia bisa bernyanyi. Tapi, menurutnya, kemampuan bernyanyinya berada di bawah level standar.

Musik mulai mengalun. Beruntung, lagu Akon – Right Now yang ia dapatkan. Eunhyuk berusaha menyanyikannya dengan baik. Hingga lagu selesai, namja itu masih berusaha menghembuskan nafasnya dengan benar.

“Berapa umurmu?” tanya pria yang terlihat paling muda setelah Hyukjae menyelesaikan lagunya. “17 tahun,” jawab Eunhyuk gugup. “Masih muda ya.” Pria itu tersenyum kepada Eunhyuk, memang wajahnya pria itu tampak lebih bersahabat dari pada kedua juri lainnya yang tampak serius. Eunhyuk hanya membalas dengan cengiran gugup.

“Kemampuan menarimu hebat, tapi kelihatannya hari ini tidak maksimal ya?” tanya pria muda itu. “Jeosonghamnida.” Eunhyuk membungkukkan badannya gugup. Pria muda itu tersenyum. “Kami tahu kau sudah berusaha, tapi kau masih belum bisa lolos,” kata pria muda itu lagi. Eunhyuk melongo. Detak jantungnya mulai bergemuruh. “A-apa karena aku tidak bisa bernyanyi?” tanya Eunhyuk polos. Pria muda itu tersenyum ramah. “Kau bisa bernyanyi. Tapi, kemampuanmu masih kurang, nak.” Kini pria bertubuh gemuk ikut menimpali.

Eunhyuk menatap ketiga juri itu bergantian. “Kau masih muda, jalanmu masih terbentang panjang,” lanjut pria bertubuh gemuk itu. Tenggorokan Eunhyuk mengering. Ingin bersuara namun tertahan. “A-aku mengerti,” sahut Eunhyuk lemah. Ketiga juri di depan sana tersenyum. “Kau masih punya waktu untuk mengasah kemampuanmu,” kata si pria muda bijak. Eunhyuk mencoba tersenyum. Kepalanya mengangguk dengan patuh.

“Terimakasih sudah mencoba.” Begitu kalimat itu terlontar dari pria muda itu, Eunhyuk balas berterima kasih dan perlahan melangkahkan kakinya menuju pintu. Rasanya pintu itu begitu jauh. Kaki Eunhyuk bergetar. Tubuhnya lemas. Tak ia pedulikan rasa sakit yang masih menyerang pergelangan kakinya. Karena rasa sakit yang Eunhyuk rasakan saat ini lebih dari sekedar cidera fisik yang sering ia alami saat berlatih menari.

—They—

“Aku pulang.”

Hening. Eunhyuk tak peduli. Ia masih melangkah menuju kamarnya yang terletak di lantai atas. Rumahnya tidak besar, tapi setidaknya cukup dan nyaman untuk dihuni oleh 4 orang.

“Kau sudah pulang? Bagaimana?” Eunhyuk berpapasan dengan kakak perempuannya yang baru akan turun. Eunhyuk mendongak menatap gadis yang 3 tahun lebih tua darinya. “Noona benar. Seharusnya aku tidak memaksakannya. Kakiku malah tambah sakit sekarang,” cengir Eunhyuk. Sang kakak menatap si adik lembut. “Gwaenchana. Kau tetap dongsaengku yang terhebat dalam urusan menari.” Sang kakak memeluk Eunhyuk. “Ya! Noona, aku bisa jatuh nanti.” Namja itu berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terguling dari anak tangga yang ia pijak sekarang. Sang kakak segera menarik diri begitu mendengar suara memekakkan dari adiknya.

“Sekarang lebih baik kita bantu eomma.” Gadis itu merangkul pundak adiknya dengan cepat. Eunhyuk mencibir kesal. “Ish.. aku kan mau istirahat dulu,” cibir Eunhyuk. Sedikit terseok, langkahnya tetap mengikuti langkah kakaknya yang tetap membawanya ke toko. “Istirahat di toko saja. Kita minta Eomma dan Appa memasak makanan yang enak siang ini.” Sang kakak menepuk-nepuk punggung Eunhyuk dengan semangat.

‘Ya Tuhan. Apa dia mau menghancurkan tubuhku?’ Eunhyuk membantin. Matanya mendelik kesal ke arah kakaknya yang hanya tetap bersenandung ceria. Melihat kecerian di wajah kakaknya, tanpa sadar, bibir namja itu sempurna tertarik menampilkan senyum ceria. Eunhyuk balas merangkul pundak sang kakak dengan semangat.

Mereka beradu pandang. Keduanya tersenyum ceria dan Eunhyuk ikut bersenandung bersama sang kakak.

—They—

Back to Audition Room.

“Annyeong haseyo, saya peserta nomor 152. Nama saya Lee Donghae.” Namja berambut cokelat gelap itu memperkenalkan dirinya dengan semangat. Di tangannya kini sudah ada gitar. Ketiga juri di hadapannya melemparkan senyum kepada Donghae. “Silahkan mulai.” Pria gemuk mempersilahkan Donghae untuk mulai bernyanyi. Donghae mengatur perasaannya. Detak jantung yang menggila, tangan yang berkeringat –meski ruangan berAc- cukup menandakan jika Donghae sedang gugup.

Donghae perlahan mulai memetik gitarnya dan suara lembutnya pun perlahan mulai terdengar. Donghae memilih menyanyikan lagu milik 98 degrees – My Everything. Meski sudah sering memainkannya, namja itu masih merasakan gugup yang luar biasa.

Donghae membungkuk gugup menyudahi lagu. “Percampuran suara anak-anak dengan suara berat seorang remaja.” Pria yang duduk di tengah-tengah juri lainnya mulai berkomentar. Donghae hanya tersenyum malu.

“Apa ada keahlian lain selain bernyanyi?” tanya pria gemuk kepada Donghae. “Mm… aku senang menulis lagu, tapi aku masih sering meminta bantuan ayahku,” jawab Donghae yang masih gugup. ‘Tenang, Lee Donghae!’ Doghae masih berusaha menghilangkan kegugupannya. “Mengapa tidak menyanyikan lagu ciptaanmu?” tanya pria yang terlihat paling muda. Donghae berusaha menelan paksa salivanya.

“A-aku, a-aku belum memiliki keberanian untuk itu,” jawab Donghae jujur. Donghae mencengkram kuat ujung kemejanya. Sudah empat lagu yang Donghae ciptakan dengan ayahnya. Sementara Donghae sendiri baru menyelesaikan lagu pertama hasil ciptaannya sendiri seminggu yang lalu.

“Kau harus memupuk rasa percaya diri, Donghae-ssi,” timpal pria gemuk. Donghae hanya mengangguk patuh. “Maaf, kau belum bisa lolos,” kata pria yang duduk di tengah. “Ne?” Donghae terkejut. “Emosimu masih kurang berperan. Suaramu berkarakter tapi sayangnya kau belum bisa mengontrol karakter suaramu itu tadi.” Pria yang duduk di tengah itu melanjutkan. Donghae terdiam. Dadanya sesak.

“Kau masih muda. Jangan patah semangat!” Pria yang paling muda mulai menyemangati begitu menangkap aura sedih dari Donghae. “Benar. Berapa umurmu? Kau masih SMA kan?” tanya si pria gemuk. Donghae mengangguk setengah semangat. “Umurku 17 tahun,” jawab Donghae lemas. “Ah– 17 tahun. Masih muda sekali. Kau bisa memanfaatkan masa mudamu untuk bisa jadi lebih baik lagi nanti.” Si pria yang duduk di tengah ikut menyemangati Donghae yang masih terlihat murung.

“Tak banyak anak muda yang mampu mengenal potensi dirinya sendiri. Kau harus bersyukur karena kau sudah mengetahui potensimu, tinggal diasah lebih sering agar semakin berpotensi,” tutur lembut si pria paling muda. Donghae menganggukan kepalanya. Senyuman tipis kini terlihat di bibirnya. Meski hanya sekilas.

“Terimakasih Lee Donghae, kau sudah mencoba mengikuti audisi ini,” kata si pria gemuk. Donghae tersenyum, kali ini lebih lama. “Kamsahamnida.” Donghae membungkuk sopan. “Aku salut kepada generasi muda seperti kalian,” kata si pria yang duduk di tengah. “Sebelumnya juga banyak murid SMA yang ikut audisi ini,” timpal pria yang paling muda. “Tapi aku terkesan dengan seorang siswa SMA seusiamu, kalau tidak salah, siswa itu juga berasal dari sekolah yang sama denganmu.” Pria muda itu melirik Donghae yang tampak terkejut. ‘Benarkah? Satu SMA denganku? Seusia? Siapa?’ benaknya dipenuhi dengan pertanyaan. Belum sempat ia bertanya, juri muda itu sudah melanjutkan, “kemampuan menarinya hebat, tapi sayangnya, hari ini dia tidak tampil maksimal.”

“Lalu, apa kalian meloloskannya?” tanya Donghae. Donghae merupakan orang yang rasa penasarannya lumayan tinggi. Si pria muda itu menggeleng sembari tersenyum. Donghae terkejut. “Kalian tidak meloloskannya?” tanya Donghae memastikan. Dan jawabannya sama. Donghae benar-benar tak mengerti.

“Jika kalian tahu kemampuannya hebat, mengapa kalian tidak meloloskannya?” tanya Donghae. Emosinya tanpa sadar bergejolak. Jika Donghae yang berada di posisi orang itu, Donghae akan benar-benar kesal.

“Karena yang kami butuhkan bukan hanya kemampuan hebat. Kami menginginkan orang-orang yang selalu berusaha tampil sempurna. Memang tidak ada yang sempurna, tapi untuk menjadi sempurna itu pilihan. Kau mau berusaha semaksimal mungkin untuk sempurna atau memilih berusaha seadanya.” Pria muda itu menatap Donghae dalam. Donghae terdiam. Bulu kuduknya meremang. Detak jantungnya kian bergemuruh.

“Jika kau tidak melakukannya sebaik mungkin di tiap kesempatan, masih banyak di luar sana yang akan melakukannya dengan sebaik mungkin,” lanjut pria itu. Dadanya sesak. Namja itu berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Kalimat tadi seolah menamparnya. Ini bukan penampilan terbaiknya. Donghae masih kurang berusaha. Masih banyak di luar sana yang bersedia menggantikan Donghae untuk melakukan yang terbaik. Namun Donghae seolah mengabaikannya.

“Jeongmal kamsahamnida.” Donghae kembali membungkuk sopan. Kini matanya mulai memanas. Ketiga juri di sana tersenyum lembut. Donghae mulai melangkah menuju pintu. Pandangannya mengabur. Namja itu mempercepat langkahnya.

Meski ia gagal, tapi ia mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berharga.

—They—

Begitu Jung seonsaengnim keluar kelas, Donghae dan murid lainnya segera membereskan barang bawaannya. Beruntung tes matematika mingguannya diadakan di jam terakhir. Oh, tapi malang bagi Donghae karena ia masih harus pergi ke tempat les.

Hari ini, Donghae tidak memilih untuk segera pergi ke tempat les. Namja itu melangkahkan kakinya ke taman belakang sekolah. Di jam pulang seperti ini, taman itu pasti sepi. Namja itu berjalan santai sembari bersenandung kecil.

Langkah Donghae terhenti saat matanya menangkap sosok namja lain yang ada di taman. Donghae terdiam menatap gerakan namja itu. Suara musik terdengar dari dekat namja itu. Gerakan tubuh namja itu seirama dengan ritme musik.

“Wah…,” gumam Donghae tanpa mengalihkan pandangan dari tubuh namja itu. “Andai tubuhku selentur itu.” Sinar mata Donghae meredup. Matanya masih fokus mengamati tubuh namja itu. Donghae kini terlihat seperti penguntit. Mengamati diam-diam dari balik pohon rindang.

Tiba-tiba ingatannya terlempar kembali ke saat dirinya mengikuti audisi dua hari lalu.

“Tapi aku terkesan dengan seorang siswa SMA seusiamu, kalau tidak salah, siswa itu juga berasal dari sekolah yang sama denganmu.”

“Kemampuan menarinya hebat, tapi sayangnya, hari ini dia tidak tampil maksimal.”

“Jika kau tidak melakukannya sebaik mungkin di tiap kesempatan, masih banyak di luar sana yang akan melakukannya dengan sebaik mungkin.”

“Ah..” Donghae memekik tak percaya. Matanya mengerjap beberapa kali. Namja itukah yang dimaksud? Donghae mengakui jika kemampuan menari namja asing itu benar-benar hebat. Menakjubkan bagi Donghae.

Donghae dikagetkan oleh getar ponselnya yang ia genggam. Donghae menatap malas layar ponselnya.

“Yeoboseyo,” sahut Donghae agak malas. Donghae sudah tahu apa yang ingin dikatakan si penelpon. “Dimana kau sekarang? Sudah di tempat leskah?” tanya si penelpon. Donghae menghembuskan nafas jengah. “Eomma, bel bahkan baru berbunyi 10 menit yang lalu. Aku mau refreshing dulu, apa tidak boleh?” tanya Donghae. “Eomma hanya mengingatkkan, kau kan sering lupa waktu dan pada akhirnya tidak masuk les,” sindir sang ibu. Donghae mengurucutkan bibirnya.

“Iya, eomma. Aku tidak akan bolos untuk hari ini.” Nada suara Donghae sengaja dibuat semanis mungkin. “Bukan hanya hari ini saja. Tapi setiap kau les,” ralat sang ibu membuat Donghae mendengus pasrah. Donghae hanya bergumam.

Setelah percakapan singkatnya selesai dengan sang ibu, Donghae segera memutus sambungan telpon. Donghae melirik namja asing yang kini sudah terbaring di kursi di dekatnya. Sebenarnya, Donghae ingin menghampirinya, tapi ia masih belum terlalu yakin. Donghae bukanlah seseorang yang gampang menjalin percakapan. Donghae lebih sering menjadi pengikut arus percakapan. Jarang sekali ia menjadi pembuka dan penguat sebuah percakapan.

Akhirnya, Donghae memilih meninggalkan taman. Donghae merasa lebih rileks sekarang.

—They—

Keesokan harinya, Eunhyuk berjalan santai keluar dari kelasnya. Melewati koridor kelas yang sepi. Langkahnya terhenti saat telinganya menangkap suara petikan gitar dan suara merdu seseorang.

*Party rock is in the house tonight

Everybody just have a good time

And we gonna make you lose your mind

Everybody just have a good time

Langkah Eunhyuk mendekat menuju ruang kelas yang diyakini sebagai tempat berasalnya suara. Eunhyuk menjelajahi ruang kelas melalui pandangannya yang menyapu melalui jendela di sisi kirinya dengan rasa penasaran yang tinggi.

Eunhyuk mendapati seorang siswa laki-laki yang tengah bermain gitar sambil bernyanyi di kursi yang berada di depan meja guru.

*Party rock is in the house tonight

Everybody just have a good time

And we gonna make you lose your mind

We just wanna see you… shake that!

Bahkan tanpa sadar Eunhyuk sudah mengikuti nyanyian si namja itu. Reflek, tubuhnya kini ikut bergerak menciptakan sebuah tarian. Hingga tubuhnya kini sudah berada di dalam kelas.

*In the club party rock, lookin’ for your girl,

She on my jock (huh) non-stop when we’re in the spot

Booty move the weight like she owns the block

Where I drank I gots to know

Tight jeans, tattoos cause I’m rock and roll

Half black half white, domino

Gain the money Oprah Doe!

Donghae –namja yang bermain gitar-, tak melanjutkan nyanyiannya saat mendengar suara orang lain ikut bernyanyi. Dirinya begitu terkejut saat melihat seorang siswa yang tak ia kenal masuk ke dalam kelasnya.

Selain terkejut, Donghae terpana dengan gerakan tubuh orang itu. Lentur sekali.

Donghae kaget saat pandangannya bertemu dengan bola mata hitam orang itu. Donghae merasa semakin tak mengerti ketika orang itu tersenyum ramah kepadanya seolah memberi kode untuk bernyanyi bersama.

*Yo!

I’m running through these hoes like Drano

I got that devilish flow rock and roll no halo

We party rock yeah! that’s the crew that I’m repping

On a rise to the top no lead in our Zeppelin

Hey!

Orang itu berhenti bernyanyi. Seolah memberi Donghae ruang untuk melanjutkan sendiri. Donghae hanya melanjutkan saja, sambil sesekali mengamati gerakan tarian namja asing itu.

*Party rock is in the house tonight (whoa)

Everybody just have a good time (yeah)

And we gonna make you lose your mind

Everybody just have a good time

 

Let’s go

 

Party rock is in the house tonight

Everybody just have a good time (I can feel it baby!)

And we gonna make you lose your mind

We just wanna see you… shake that!

 

Every day I’m shuffling

*LMFAO – Party Rock Anthem

Donghae menghentikan permainan gitarnya. Dan namja asing itu juga menghentikan tariannya. Donghae tersenyum. Senang, takjub, dan terkejut. Ini pertama kalinya Donghae bernyanyi bersama seseorang yang juga melakukan tarian.

Namja asing itu segera menyenderkan tubuhnya ke dinding kelas. Nafasnya tersengal tapi Donghae dapat melihat ekspresi senang di wajahnya.

“Aku suka permainan gitarmu. Suaramu juga bagus,” kata orang itu. Donghae tersenyum di tengah-tengah kebingungannya. “Terimakasih. Dancemu juga keren,” balas Donghae jujur. Namja asing itu menatap Donghae. “Terimakasih,” balasnya sambil tersenyum. Donghae mengamati wajah orang itu.

Dia.. namja yang kemarin menari di taman sepulang sekolah. Donghae baru mengingatnya. Dan apakah namja ini benar-benar peserta audisi yang dimaksudkan oleh juri? Donghae akan menanyakannya jika ia bisa memupuk keberaniannya.

“Oh iya, maaf ya tiba-tiba aku mengacaukan nyanyianmu,” kata namja itu diakhiri senyum kikuk. Donghae menggeleng dengan ekspresi bodohnya. Donghae masih belum bisa menanyakannya langsung.

“Gwaenchana. Aku malah senang,” sahut Donghae jujur. Namja itu tersenyum lega. Namja itu terlihat merileksan tubuhnya dan mulai meneguk air mineral miliknya. Donghae mengamati dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki namja itu. Alis mata Donghae bertaut ketika pandangannya menemukan sebuah memar di pergelangan kiri kaki namja itu.

“Pergelangan kakimu kenapa?” tanya Donghae polos. Namja itu menghentikan kegiatan meminum airnya. Namja itu menatap Donghae dan memar di kakinya bergantian. Setelahnya ia tersenyum dan berkata, “oh ini karena terperosok di selokan,” jawab namja itu tak ragu. Donghae bergidik membayangkan dirinya sendiri yang terjerembab ke dalam lubang. “Pasti sakit,” gumam Donghae tanpa sadar. Namja itu terkekeh melihat ekspresi Donghae yang terlihat sekali sedang membayangkan jika dirinya yang terjatuh.

“Ne. Ternyata lumayan sakit juga,” sahut namja itu pelan. Donghae hanya mengangguk-anggukan kepalanya paham. “Tapi, tarianmu tadi bagus. Maksudku, tidak terlihat sedang cidera,” kata Donghae tiba-tiba. Donghae menatap tak percaya namja itu. Dilihat dari memarnya, Donghae yakin peristiwanya belum lama terjadi. Dan namja itu tetap menari dengan memar seperti itu?

“Kau hanya tidak memperhatikan kakiku saja tadi,” balas namja itu kalem. Donghae menautkan kedua alisnya. “Lalu, mengapa kau tetap menari?” tanya Donghae langsung. Namja itu tak segera menjawab. Bola matanya menerawang ke air mineral dalam botol yang masih berada di genggamannya. Namja itu menggoyang-goyangkan botol itu pelan. Tersenyum ketika melihat air dalam botolnya ikut bergoyang ke kanan dan kiri sesuai irama.

“Karena aku menyukainya,” jawab namja itu. Bola matanya kini sudah menatap Donghae. Tidak ada rasa tersinggung di mata namja itu, dia justru terlihat mantap mengakuinya.

Donghae terdiam. Ingin bicara tapi lidahnya kelu. Ia ingin sekali berkata, ‘aku tahu kau akan mengikuti audisi saat itu. Tapi, kau juga harus tetap memperhatikan kondisimu.’

Tapi ini bukan saat yang tepat. Toh, belum tentu namja itulah yang dimaksudkan oleh si juri. Dan, namja itu pasti akan merasa aneh mendengar perkataan Donghae nantinya. Pasalnya, mereka belum saling mengenal. Alhasil, ia hanya bisa membalas tatapan namja itu.

“Oh iya, namaku Eunhyuk,” lanjut namja itu. Donghae perlahan menaikkan sudut bibirnya. “Namaku Donghae. Senang bertemu denganmu,” balas Donghae sambil tersenyum. “Senang bertemu denganmu juga. Mulai sekarang, bagaimana jika kita berteman?” tanya Eunhyuk tanpa ragu. Donghae semakin mengembangkan senyumnya. Dan dengan mantap Donghae mengangguk senang.

“Hey, aku selalu penasaran dengan orang yang pandai menari,” ucap Donghae tiba-tiba. Ia mulai tertarik dengan sosok Eunhyuk. Melupakan kebiasaannya yang lebih sering diam dan pemalu ketika berbicara dengan orang asing.

Eunhyuk menaikkan sebelah alisnya. “Wae?”

“Mm… bagaimana cara kalian –orang-orang yang pandai menari- melakukan gerakan dance yang luar biasa rumit? Maksudku, bagaimana bisa selentur itu?” Donghae menaap Eunhyuk sekilas. “Apa kau tidak pernah merasakan sakit di tubuhmu ketika kau menari? Jujur, aku pernah sekali mencoba menari, dan ya.. gerakanku benar-benar memalukan! Sialnya, tubuhku setelah itu merasakan pegal dan sakit yang luar biasa.” Donghae melanjutkan.

Sepertinya, Lee Donghae mulai terbuka dengan teman barunya ini.

Eunhyuk tertawa mendengar keluh kesah teman barunya. “Aku merasa belum pantas disebut sebagai salah satu orang yang pandai menari seperti yang kaubayangkan.”

Donghae mengernyit. “Tapi tubuhmu bisa bergerak selentur tadi. Menurutku, itu keren!” timpal Donghae.

“Kau bisa karena terbiasa,” kata Eunhyuk.

“Jawaban klasik,” cibir Donghae. Eunhyuk mendelik ke arah Donghae dengan senyum tipis.

“Lalu, bagaimana kau mampu bernyanyi dengan suara yang merdu seperti tadi, hm? Kau bisa mengcover lagu beat menjadi akustik dengan tambahan sentuhan dirimu. Bagaimana kau melakukannya?” Eunhyuk bertanya balik dengan tenang.

“Ayahku sering mengajariku bermain gitar dan bernyanyi setiap malam,” jawab Donghae spontan.

“See! Kau juga bisa karena terbiasa berlatih,” kata Eunhyuk bersemangat. Donghae terdiam. Matanya menatap Eunhyuk dan setelahnya ia tertawa seperti orang bodoh.

“Tidak ada yang terjadi jika tidak mencoba. Tidak ada yang bertambah lebih baik jika tidak belajar. Dan jika tidak mengeluarkan yang terbaik di tiap kesempatan, akan ada orang lain yang bersedia merebut kesempatan itu.”

Eunhyuk menatap Donghae takjub.

“Jadi intinya, keep trying and show them with your best,” lanjut Donghae.

Eunhyuk tersenyum lebar. “Hey, aku merinding mendengar kalimatmu,” canda Eunhyuk. Donghae tersenyum. “Semua itu ialah kalimat dari orang-orang yang tidak ingin melihatku menyerah,” kata Donghae dengan pandangan menerawang. Eunhyuk tersenyum lagi.

“Jadi, maukah kau mengajariku untuk membuat tubuhku tidak kaku lagi untuk menari?” tanya Donghae tiba-tiba. Eunhyuk terlihat tak mengerti.

“Kau tiba-tiba ingin belajar dance?” Eunhyuk berusaha memastikan. Senang tentu saja. Ia hanya ingin memastikan jika Donghae tidak mencoba setengah-setengah –hanya untuk gaya- seperti teman-temannya dulu saat ia masih menjadi siswa SMP.

Donghae mengangguk mantap. “Sudah sejak SMP aku ingin belajar dance. Kakakku selalu mengatakan tubuhku perlahan akan mati jika tidak digerakkan. Dan, dengan polosnya aku memilih dance sebagai altenatif untuk bergerak. Sialnya, baru sekali mencoba, tubuhku benar-benar pegal dan sakit. Semenjak saat itu, aku tidak ingin mencoba dance. Dan entah karena apa, aku mulai tertarik lagi dengan gerakan-gerakan dance.

Aku sering menonton video yang menampilkan dance, tapi lumayan frustasi juga ternyata belajar sebuah koreografi sendirian.” Donghae menjelaskan tanpa ragu. Eunhyuk lagi-lagi terperangah. Eunhyuk pikir Donghae merupakan tipe pendiam yang berbicara singkat. Tapi ternyata seperti inilah kenyataan yang ia lihat sore ini.

Donghae sendiri tidak mengerti, bagaimana bisa dia berbicara terbuka seperti ini? Seolah, mereka sudah saling mengenal. Padahal, kurang dari satu jam mereka baru berkenalan.

“Jadi, bagaimana, Hyuk-a?” tanya Donghae pasrah. Dalam benak Donghae, mungkin Eunhyuk mulai merasa risih dengan sikap Donghae ini. Donghae merasakannya dari sorot mata Eunhyuk.

“Tentu boleh! Kita bisa belajar bersama-sama. Seperti yang kau katakan, lumayan frustasi juga belajar sebuah koreografi sendirian. Aku senang jika kau mau mulai belajar dance lagi,” jawab Eunhyuk pada akhirnya.

“Jinja?!” tanya Donghae tak percaya. “Ne. Tapi, kau jangan menganggap aku sebagai orang yang lebih hebat atau apapun itu. Karena aku juga masih dalam proses belajar,” kata Eunhyuk mewanti-wanti. Donghae mengangguk antusias. Ekspresi senang sangat terlihat dari wajah Donghae. Eunhyuk tertawa pelan melihat ekspresi Donghae.

“Oh, lain kali, kita harus berduet lagi!” ucap Donghae bersemangat.

“Sejujurnya, aku tidak terlalu bisa bernyanyi,” sahut Eunhyuk. Donghae menatap Eunhyuk. “Gwaenchana. Kita akan sama-sama belajar juga,” balas Donghae mantap. Eunhyuk melebarkan bola matanya. Kini Eunhyuk semakin terlihat bersemangat.

Semuanya terasa mengejutkan bagi Eunhyuk.

Mengacaukan nyanyian orang lain tapi ternyata membuatnya bertemu dengan seorang teman baru. Teman baru yang meminta untuk mengajari gerakan dance. Teman baru yang mengajaknya berduet lagi. Dan teman baru yang bersedia mengajaknya belajar bernyanyi bersama.

Donghae kembali memetik gitarnya dan mulai bernyanyi. Sementara Eunhyuk terlihat menikmati suara Donghae yang melantun lembut di telinga.

Aku berharap, setelah hari ini, aku tidak menjadi penghambatmu untuk tetap maju.

Hingga aku benar-benar menjadi sosok sahabat yang baik bagimu. Dimana pun dan kapan pun.

 

—END—

Akhirnya kelar jugaaa…. maaf atas kesalahan pengetikan dan bahasa yang tidak sesuai EYD. Maaf juga kalo ceritanya ga jelas.

Ini pure friendship. Sama sekali ga berniat dan ga mau bikin YAOI -_-

Dan ini semua cuma cerita fiksi yang mucul dari imajinasi author begitu saja hehehe.

Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca ^^

4 Comments (+add yours?)

  1. Laili
    Oct 18, 2015 @ 01:52:35

    Banyak nilai kehidupan yg bisa diambil. Bagus ceritanya tapi masih agak berantakan paragrafnya. Smoga bisa lebih baik lagi.
    Keep writing….. 😀

    Reply

  2. isti
    Oct 18, 2015 @ 23:57:52

    nice fanfiction ..
    I will miss eunhae so much..

    Reply

  3. Yoohee
    Oct 22, 2015 @ 12:31:02

    FF ini kek ngeflashback pertemuan EunHae dulu yang akhirnya jadi teman baik sampe skarang 🙂 aku baca ini sampe nangis terharu ;(keinget mereka lagi yang lagi wamil jadi baper sendiri ;(

    Reply

  4. Hana
    Sep 01, 2016 @ 20:49:17

    kece thor *two thumbs up :v agak sdkit gaje sih tp bagus, pesan moralnya kece. aww~

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: