[Donghae’s Day] The Stranger Next Door (Donghae Version)

Cover The stranger next door (donghae)

Title : The Stranger Next Door (Donghae Version)

Author : Zeya Kim

Cast : Donghae | Shin Eunhyang (OC)

Genre : AU, friendship, comedy

Length : Oneshoot

Rating : PG-15

Disclaimer : I only own the plot and OC. No money making here. Made for entertainment purposes only.

A/N : FF ini sudah pernah dipublikasikan di blog pribadi saya www.lonelyzeya.wordpress.com dengan sedikit penyuntingan. So, enjoy ^^

 

©2015 by Zeya Kim

.

Ya, Eunhyang-ah!” Aku menyapanya (meskipun kenyataannya, nada suaraku lebih terkesan seperti meneriakinya) melalui video call untuk memastikan apa dia ada di apartemennya atau tidak. Tapi yang terlihat di layar ponselku adalah sebagian wajah manusia yang tertutup wajah penguin. Ada tangan mungil yang menggapai-gapai kepayahan untuk menarik kepala penguin itu. Hingga sebentuk wajah akhirnya nampak.

Gadis tetangga kesayangan kami akhirnya berhasil menyingkirkan tudung piyama itu dari kepalanya.

“Hm…. Apa…?” Dia menyahut ogah-ogahan. Suaranya terdengar parau seperti bebek jelek. Dia menggosok-gosok matanya, menggaruk lehernya sambil menguap selebar Goa Gossi. Astaga…. Aku sampai takut bisa menyeberangi layar ponsel dan tersedot ke dalamnya. Gadis ini benar-benar—bagaimana dia bisa bersikap seperti itu di hadapan pria tampan?! Artis idola pula!

Ya, itu—hapus dulu ilermu.” Aku menunjuk malas ke arah bibirnya. Tempat di mana sesuatu berwarna putih tercetak memanjang ke pipinya. Eewwh…. “Ya, bukan yang itu. Sebelah kanan. Atas, atas. Ke kanan lagi. Terus ke kanan. Astaga, aku tidak mengerti kenapa aku melakukan ini.”

Ya, Oppa, geumanhae…. Kau mengganggu hibernasiku, tahu! Kenapa video call jam segini?” dengusnya sebal, tampak mati-matian untuk tidak mengatupkan matanya. Kalau dilihat-lihat, suasana ruang tengah menjadi latar di belakanganya. Apa dia tidur di sofa lagi?

“Hibernasi—memangnya kau tupai? Lagipula ini sudah jam 10! Kau mau tidur sampai kapan, eoh?”

“Aisshh…. Aku belum tidur tiga hari, Oppa…. Aku tutup!”

Ya, ya, andwae!” Aku cepat-cepat mencegahnya saat dia membuang arah ponsel. “Aku ada kejutan untukmu. Tidak ada hari lain kecuali hari ini. Tunggu aku, oke? Aku akan datang ke tempatmu dalam waktu 5 detik.”

“Lima detik pantatmu! Kalau kau bisa teleportasi seperti Gil Perez, aku percaya k—“

Aku tidak peduli lagi kelanjutan racauannya dan cepat-cepat mengakhiri video call kami. Kuulurkan jari telunjukku untuk menekan bel pintu apartemennya.

“Eunhyangie~ Donghae Oppamu yang tampan sudah tibaaa….”

Hening sesaat. Kemudian ada suara gedebak-gedebuk kecil dari dalam. Tak beberapa lama kemudian, pintu terbuka dan menampilkan sosok gadis dengan onesie penguin menatapku terkejut.

“Halo, penguin jelek!” Diiringi senyum secerah matahari aku melambaikan sebuah tiket konser di depan hidungnya.

*

“Konser Tour Asia D&E?” Masih duduk di sofa panjang itu, dia menatap bolak-balik tiket konser yang Eunhyuk belikan untuknya. Aku mengangguk-angguk percaya diri. Dia pasti tidak akan menolak tiket gratis. Ya, tentu saja.

“Apa Changmin akan jadi bintang tamu juga? Atau Onew? Atau Key?”

“Tentu saja tidak. Ini konser kami, kenapa harus ada mereka? Lagipula mereka semua sedang sibuk dengan jadwal masing-masing.”

“Jadi, maksudmu—“ Suaranya mulai melemah (dan aku mulai merasakan firasat buruk). “Maksudmu … aku harus datang ke konsermu? Ke Thailand? Sendirian?! Melihat dua pria dewasa dengan rambut kuncir dua berlari-lari di atas panggung seperti anak kecil lari-lari di taman hiburan?!”

Aku mengangguk. Kemudian menggeleng. Tunggu dulu—apa katanya?!

Dwaesseo! Lupakan!” Dia kembali menghempaskan punggungnya ke sofa seraya mengubur dirinya di balik selimut bergambar kartun The Penguin of Madagaskar. Aku berusaha menangkap tiket yang melayang-layang setelah dia lempar barusan, lalu bersiap memprotes.

“Kenapa? Kau tidak mau?”

“Tentu saja aku tidak mau!” Suaranya teredam.

Wae?”

“Aku tidak mau pergi sendiri.”

“Kalau begitu ajak temanmu. Belikan dia satu tiket untuk menemanimu.”

“Apa kau bodoh?!” semburnya. “Akan ada bedanya kalau kau langsung memberikanku dua!”

“Ya sudah. Kau bisa pergi bersama kami.”

“Apa kau bodoh?!”

“Aku tidak bodoh!”

Hening.

Aku menghampirinya, mendorong pelan bahunya dengan telunjukku. Tapi tidak ada reaksi.

Yamagnaeya…..” Aku berusaha merajuk. Tapi dia tidak bergerak.

“Ini konser tur terakhir kami. Jadi kau harus melihatnya dan menyemangati kami. Ng?”

Hening.

Ya, jebal….”’

Tak ada suara.

“Aku akan menunjukkan aegyo. Lagu tiga beruang kecil?”

Dia masih tak bergerak.

Ya, tunjukkan wajahmu. Aku akan mulai!”

Masih tetap sama.

Gom se mari ga—“ Belum selesai satu baris, dia sudah menyuruhku berhenti. Tapi aku lanjut bernyanyi sambil menari aegyo, “—han jib ae isseo.”

“Kubilang berhenti!”

“Lalu apa yang harus kulakukan supaya kau mau datang?!”

Dia diam lagi.

YA, SHIN EUNHYANG!”

“JANGAN BERTERIAK DI RUMAHKU!”

Aku menghela napas lelah. Bahuku melorot sampai ke perut (dengan maksud hiperbolis). Tapi, karena tak ingin menyerah begitu saja, aku segera berjongkok di depannya. Kubuka selimutnya perlahan hingga wajahnya terlihat. Mata itu memicing lurus menghunus mataku.

Aku berdeham gugup sambil mendekati wajahnya perlahan. Kemudian melanjutkan nyanyianku sambil berbisik. “Appa gom, Eomma gom aegi gom.”

Gadis itu terlihat menahan tawa, membuatku semakin percaya diri untuk menyanyikan sisa lagu (meskipun masih harus dengan bisikan). Dia benar-benar tertawa ketika aku menggunakan sepasang sandal penguinnya sebagai properti. Ah, apa yang kulakukan? Aku berusaha terlalu keras.

Dia tertawa lepas setelah lagu selesai kunyanyikan. Kemudian beranjak pergi setelah mendorong dahiku dengan telapak tangannya hingga membuatku terjengkang ke belakang. “Kenapa kau melakukan itu, bodoh?”

Aku tercenung menatap kepergiannya. Shock atas apa yang baru saja dia katakan.

Ya, baiklah…. Mungkin, bodoh memang nama tengahku.

Oppa, hari ini kau libur?” Suaranya lebih ramah dari sebelumnya, terdengar agak berteriak dari arah dapur. Antara ruang tengah dan dapurnya terhalang dinding yang tertempel akuarium LED berukuran dua meter. Yeah, ubur-ubur penghuni mutlak akuarium itu hanya seorang diri. Dan gadis itu membuatkan akuarium seluas ukuran hiu. Dia benar-benar tipe orang yang bisa melakukan hal seperti itu. Jangan heran.

“Tidak. Aku punya jadwal jam satu nanti. Masih ada satu jam lagi untuk bersiap-siap.” Aku mulai beranjak menyusulnya. Sempat melambai-lambai ceria demi menyapa Boogi—si makhluk mungil penghuni akuarium. Tapi dia mengabaikanku dan malah berlari kesana-kemari. Dasar tidak sopan! Persis seperti pemiliknya.

“Apa aku harus memberikan Nemo-ku untuk teman bicaranya? Sepertinya Boo gi kesepian dan butuh teman bermain.” Aku tidak tertarik lagi dengan ubur-ubur lucu itu dan duduk di kursi tinggi mini bar. Gadis itu berdiri memunggungiku, tampak sibuk membuat sesuatu.

“Apa kau baru saja bertanya padanya, bahwa dia kesepian dan butuh teman?”

“Tentu saja. Salah satu keahlianku adalah bercakap-cakap dengan hewan laut.”

“Dasar gila.” Dia tertawa. Aku ikut terkekeh. Tidak menyangka aku segila ini. Apa jadwal wajib militer yang semakin dekat tanpa kusadari membuatku stres?

“Hey, kau membeli coffee maker baru?” Tepat ketika tanganku terulur ingin menyentuh benda berwarna perak-hitam itu, gadis itu segera memutar leher dan menghujamkan tatapan membunuhnya padaku.

“Jangan. Menyentuh. Barang-barangku.” Tajam. Berbahaya. Impresif. Peringatan itu spontan saja membuatku mati kutu dan tidak jadi menyentuhnya.

Ya, ya. Selama aku di sini, dia tidak akan pernah melepaskan peringatan itu sedetikpun. Menyentuh sesuatu dan bertanya “Apa ini?” atau “Benda apa itu?” atau “Apa aku boleh pinjam?” adalah hal yang haram untuk kulakukan. Penyebabnya, karena dulu aku secara tidak sengaja merusak kabel USB miliknya dan dia memarahiku habis-habisan. Aku juga tidak sengaja membuat laptopnya terkena virus saat sedang memindahkan file materi lagu. Aku merasa bersalah karena draft novelnya yang sudah 200 halaman ikut menjadi korban. Setelah itu, dia mengabaikanku selama satu bulan lebih. Tahu-tahu aku mendapat julukan “King of Destruction” darinya.

“Eunhyang-ah…, aku lapar. Beri aku makanan.”

“Kau belum makan? Lalu apa saja yang kau lakukan? Perusahaan tidak memberimu makan?”

“Hm. Aku belum makan. Aku sangat lapar. Jadi tolong beri aku makanan….” Aku menggunakan cara aegyo super norak dengan menendang-nendang udara dan memukul-mukul meja.

“Menjijikan sekali.” Gadis itu tertawa. Meskipun tampak masih sibuk-melakukan-entah-apa. Terus bolak-balik membuka kulkas, lemari penyimpanan makanan dan alat gelas, kulkas lagi.

Dari sini dia benar-benar terlihat seperti penguin raksasa. Kalau tidak salah, ini onesie untuk pasangan. Heechul hyung juga memilikinya—juga yang berbentuk Doraeman, panda dan kelinci. Ah, tidak heran. Makhluk 4 dimensi seperti mereka memiliki cara pesta piama yang serupa.

Aku mengamati sekeliling selagi dia membuatkan sesuatu. Mungkin ini salah satu tempat yang paling kurindukan nanti. Selama bertahun-tahun, banyak hal yang terjadi di sini. Hubungan kami terlalu dekat jika hanya disebut sebagai tetangga. Kami menjalaninya dengan nyaman, bebas, namun tetap terkendali. Penuh kedewasaan dan tetap saling menghargai batas teritorial masing-masing.

Termasuk, mengenai ruangan tertutup di ujung sisi barat, yang tak pernah salah satu dari anggota Super Junior memasuki area itu. Ada password pintu yang melindungi keamanan ruangan itu. Beragam spekulasi sempat menyeruak di antara kami. Aku beranggapan ruangan itu semacam banker—penyimpan uang dan harta benda, seperti yang dimiliki Siwon di rumahnya (jangan salah, gadis ini memiliki kekayaan yang tidak akan pernah bisa kau bayangkan). Heechul hyung mengatakan tempat itu menyimpan buku-buku ilegal atau dokumen penyelundupan. Kyuhyun lebih parah, menganggap ruangan itu sebagai tempat penyimpanan mayat, seperti apa yang dibacanya dalam novel kriminal gadis itu.

Gadis itu hanya tertawa dan meneriaki kami satu-satu. Kemudian menjelaskan dengan amat sangat santai bahwa ruangan itu sangat rahasia. Dia hanya akan menunjukkannya pada orang yang menurutnya tepat.

Sejak saat itu, tidak pernah ada lagi yang membahas apapun yang berkaitan dengan ruangan itu.

“Selesai! Silahkan diminum! Aku yakin kau akan ketagihan,” ujarnya, sambil duduk di seberangku, dengan semangat dan keyakinan penuh. Segelas cairan bening-kehijauan tersaji di depan mata. Eoh, bukankah ini yang sering diminum Kyuhyun?

“Apa ini teh hijau? Tapi … aromanya berbeda.” Aku menghirup aromanya yang melayang-layang menggoda. Harum sekali. Ku cicipi satu teguk. Dan setelahnya, aku merasa ada energi aneh yang mengaliriku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tegukan kedua, masing-masing sudut bibirku tertarik begitu saja, seperti ada dorongan aneh yang membuatku ingin tersenyum. Tegukan ketiga, cairan ini sudah menjadi sahabatku. Tegukan lainnya, aku mulai bisa merasakan surga.

Oppa—“ Aku agak terkejut ketika tangan gadis itu menepuk lenganku. Pikiranku segera teralih untuk mendengarnya berbicara, “Kau menyempatkan diri untuk datang kemari bukan hanya untuk menyerahkan tiket itu padaku, kan? Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya santai seraya menyeruput minuman yang sama denganku.

“Kau sungguh gadis pengertian, Eunhyangie….” Aku tersenyum manis. Dia mencibir. Ah, hanya dia satu-satunya perempuan yang tidak tersihir dengan senyuman mautku. Jutaan gadis di luar sana bahkan mengaku kaki mereka berubah menjadi jelly setelah melihat senyumanku ini.

Sial memang berurusan dengan perempuan berhati batu.

“Sudah kuduga. Jadi, kau ingin menceritakan sesuatu? Berita besar? Skandal artis?!”

“Euiii…. Memangnya aku penggosip seperti kau dan Ryeowook! Ini adalah hal yang lebih penting. Lebih dalam dan lebih personal dari itu.”

“Wow…. Apa, apa?”

“Sebentar lagi, aku akan pergi wajib militer.” Belum sempat kuselesaikan ucapanku, dia sudah menurunkan bahunya dan menunjukkan wajah bosan.

“Tidak ada topik yang lebih menarik dari itu?”

“Tidak ada! Ini adalah topik paling hangat dan mendebarkan sepanjang sejarah gelombang Hallyu. Kau tidak membacanya di internet?”

Dia menggeleng sambil menjawab santai. “Aku tidak peduli kecuali sesuatu yang menarik tentang Changmin dan SHINEe, si makhluk-makhluk lucu.”

Ya, Ahjumma! Kau harus sadar umur!”

Ya, Oppa! Aku hanya lebih tua satu tahun dari Taemin, ya—ku ingatkan karena kau sepertinya lupa. Ah, iya, benar. Kau, kan sudah kakek-kakek. Jadi, apa kau sudah mengidap alzheimer dan melupakan umurmu sendiri?”

Aku tidak segan untuk menjitak kepalanya. Dia memekik kesakitan. Akan terlihat lebih menggemaskan jika aku mencubitnya dan membuat pipinya menjadi semerah tomat. Tapi aku tidak sejahat itu.

“Fokuskan saja dirimu pada pria tampan di hadapanmu ini. Mengerti?”

Dia memajukan bibirnya lucu dan terlihat hampir menangis—sepertinya jitakanku terlalu keras. Tetap saja. Wajah tertindasnya benar-benar menjadi penghiburan yang sempurna. Ha!

“Jadi, kau sudah mulai mencemaskan sesuatu? Kau takut kehilangan penggemar?”

“Hmm, itu salah satunya. ELF adalah salah satu yang paling berharga bagiku. Melihat satu persatu di antara mereka pergi, aku seperti kehilangan nyawa.”

“Dan setelah itu, kalian akan vakum untuk waktu yang cukup lama. Sepertinya hubungan kuat dan manis yang mengikat kalian akan menemui ujian tertinggi. Siapa yang dengan tulus mendukung kalian sampai akhir akan benar-benar terlihat sekarang.”

“Hm, begitulah. Meskipun pada kenyataannya, apapun yang akan terjadi setelah tiga tahun nanti, atau tahun-tahun selanjutnya, kami akan tetap berdiri dengan bangga sebagai Super Junior.”

“Aku suka pernyataan itu.” Dia tersenyum.

“Tapi, ada hal lain yang juga agak menggangguku, sebenarnya. Teukkie hyung-ku—aku hanya ingin kau ikut membantu Heechul hyung menjaga Teukie hyung selama aku pergi. Dia tipe orang yang tidak bisa diam dan akan terus bekerja sampai-sampai lupa dengan dirinya sendiri.”

Oppa, tidakkah kau terlalu menggangguku? Kau memintaku menjaga Teukie oppa sementara aku satu-satunya perempuan di sini. Seharusnya aku yang dijaga dan dilindungi. Seorang gadis manis yang lugu sepertiku kau suruh menjaga pria dewasa. Apa itu tidak keterlaluan?”

“Tapi bagaimana, ya…. Mengganggumu adalah salah satu kegiatan paling asyik di dunia. Kuharap kau bisa bertahan dan tidak memutuskan untuk mengakhiri hidupmu sebelum usia 30 tahun.” Aku tertawa puas. Dia ikut tertawa.

“Eunhyang-ah, kau mengerti apa yang kukatakan tadi itu serius, kan? Meskipun Teukie hyung punya banyak teman, tapi aku ingin kau menjadi pendengar untuk dia juga. Selama ini dia yang paling kelelahan mengurus kami. Kami sudah bersama-sama dalam waktu yang lama. Dia juga sudah berusaha dengan sangat baik memerankan posisi ayah bagiku. Banyak hal sulit yang sudah dia lalui—bahkan hingga saat ini dia masih harus menempuh ujian sulit. Aku merasa khawatir jika tidak ada di sisinya untuk melalui masa sulit itu. Kau yang paling kupercaya untuk melakukannya.”

Oppa, kau membuatku tersentuh.” Aku merasakan usapan lembut di atas punggung tanganku. Tatapan penuh simpati darinya membuatku merasa lebih baik. “Araseo, aku akan melakukannya. Dengan tulus. Jangan khawatirkan itu, ng?”

Gomawo, Eunhyangie….” Aku mencubit gemas pipinya. Rasanya seperti ada lubang besar di dadaku yang berhasil kututupi dengan sempurna.

Oppa, kau yakin masih punya banyak waktu sebelum jadwal hari ini?”

Aku mengikuti arah pandangnya menuju jam dinding. Benar. Sudah hampir setengah jam aku di sini.

Eoh, aku harus segera bersiap.” Aku meneguk minumanku sedikit demi sedikit. Seolah tak ingin melewati kenikmatan yang menyentuh setiap inchi rongga mulutku. “Tapi, Eunhyangie…, sebenarnya ini minuman apa?”

Dia meneguk minumannya sampai habis dan menyeka sisa-sisa di mulutnya dengan lidah. “Ramuan penambah berat badan,” jawabnya kemudian. Aku mengangguk paham. Seharusnya tidak perlu heran juga. Dia memang membutuhkan asupan semacam ini.

“Kau membuatnya sendiri?”

“Hm! Hanya buah, sayur, rempah-rempah aromatik dan beberapa bahan rahasia.”

“Lalu bagaimana caranya bentuknya seperti teh begini? Kau benar-benar membuatnya sendiri?”

“Tentu saja! Tapi itu rahasia juga. Hanya Ryeowook oppa yang tahu.”

Aku mengangguk-angguk lagi. “Aku sering melihat Kyuhyun meminumnya.”

“Benarkah? Tidak heran…. ”

Eoh?!” Aku baru ingat sesuatu. “Apa dia tidak tahu betapa berbahayanya minuman ini? Apa kau dan Ryeowook bersekongkol? Jika Kyuhyun tahu tubuhnya melebar gara-gara minum ini dia bisa membenci kalian seumur hidup. Ada buah dan sayurnya pula!”

“Siapa peduli. Toh, aku tidak membutuhkan dia di dunia ini,” jawabnya acuh tak acuh. “Tapi, Ryeowook oppa pernah bilang dia ingin membantu temannya di Sukira—yang memiliki masalah berat badan sepertiku. Mungkin Ryeowook oppa menaruhnya di tempat yang terlalu mudah dilihat Kyuhyun oppa dan tidak tahu dia suka meminumnya. Bagaimanapun Ryeowook oppa tidak mungkin menjebloskan teman sendiri. Jadi, kau yang harus memberitahunya.”

Araseo, akan aku lakukan.” Aku meneguk cairan itu hingga tandas. Menyusut sisa di sekeliling bibir dengan lidahku. Bagaimana mungkin bisa senikmat ini? Sulit dipercaya.

“Tapi, kau benar-benar tidak menyadari sesuatu, Oppa? Bukankah hal seperti ini menjadi perkara paling sensitif di mata artis idola?”

“Maksudmu?”

“Kenyataan bahwa minuman itu sudah masuk ke dalam tubuhmu. Beberapa jam lagi akan dicerna oleh lambung dan efeknya tidak akan membutuhkan waktu lama.” Dia berdiri menghampiriku, menggaruk-garuk daguku sambil menari berputar dan menyanyi lagu A Whole New World sebelum akhirnya berlalu. Meninggalkanku yang tertegun menatap gelas kosong dengan pikiran kosong.

Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu—

 

YA! AKU SEDANG DIET!”

 

Gadis itu tertawa membahana.

 

Sial!

 

FIN

 

4 Comments (+add yours?)

  1. meynininx90
    Oct 18, 2015 @ 20:39:33

    Wkwkwkw…..rmuan rhsia….kena tuch dkrjai

    Reply

  2. Nath~
    Jun 29, 2016 @ 18:18:52

    aw~ kuyt kuyt ❤

    Reply

  3. LC_Ovan
    Aug 09, 2016 @ 11:25:57

    Wkwkwkwkwk emang enak dikerjain dasar Prince Mokpo babo

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: