[Donghae’s Day] Un-regret

dongh

 

Judul             :    Un-regret

Nama            :    Cho Kyuri

Cast              :    Lee Donghae

Support Cast    :         Kim Hana (OC)

Kim Jongwoon

Kim Kibum

Kim Heechul

Lee Hyukjae

Lee Donghyun (OC)

Genre            :    Wrong

Relationship

Unseen People

Rating           :    General

***

Donghae berjalan sambil memperhatikan suasana sungai han yang sangat sepi malam ini. Entah apa yang membawanya kesini, tapi yang pasti dia senang berada di tempat ini. Tempat yang mampu membantunya melupakan kehidupan beratnya walau untuk sementara.

Donghae duduk di tepi sungai han yang terlihat lebih gelap dan lebih sepi dari biasanya. Dia menghirup udara sebanyak yang dia bisa lalu menghembuskannya perlahan dengan mata terpejam. Merasakan angin yang berhembus membelai wajahnya.

Dari kejauhan seorang wanita memperhatikan Donghae, kemudian berjalan mendekat. Sekarang wanita itu dapat memperhatikan Donghae dari jarak yang lebih dekat, mencondongkan badannya dan menatap wajah Donghae yang terkena pantulan cahaya lampu itu dengan jelas. Tampan. Itulah yang dia simpulkan.

Tiba-tiba Donghae membuka matanya.

Mata mereka bertemu, tapi mereka hanya saling menatap sampai akhirnya Donghae merasa kesal karena wanita itu tidak hilang juga dari pandangannya.

“apa yang kau lakukan?” tanya Donghae dengan wajah datar.

Wanita itu tidak menjawab. Dia hanya diam sambil menatap Donghae.

“siapa kau? apa yang kau mau dariku? Dan apa yang kau lakukan malam-malam begini?” Ucap Donghae dengan perasaan yang semakin kesal karena wanita itu masih tetap diam menatapnya seperti patung.

hei! Cepat menyingkirlah.”

Tapi sedikitpun wanita itu tidak merespon. Dia malah melangkah mundur, lalu berlari menjauh. Donghae bingung melihat kelakuan wanita itu. Tapi dia tidak melakukan apapun.

Donghae melirik jam tangan berwarna hitam dipergelangan tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 01.57 pagi. Merasa sudah bosan, Donghae memutuskan untuk pulang.

Donghae melangkah menuju Audi A6 nya yang diparkir di pinggir jalan. Dia memasang seatbelt lalu mulai menstater mobilnya. Sebelum menginjak gas, dia melihat ponsel yang tergeletak di jok sebelahnya. Setelah berpikir sejenak dia menggapai ponsel itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan satunya masih tetap memegang stir. Dia menekan tombol turn on pada Samsung Galaxy SHW-M110S-nya yang memang sengaja dia matikan. Merasa tidak ada sesuatu yang penting, dia melempar kembali ponselnya ke jok disamping. Dan setelah itu dia segera melajukan mobilnya.

Saat dalam perjalanan, Donghae melihat wanita tadi sedang menangis di halte bus. Dia memelankan laju mobilnya sambil memperhatikan wanita itu. Mungkin saja dia ‘sedikit’ merasa bersalah melihatnya menangis, karena dia berpikir bahwa mungkin dia lah yang menyebabkan wanita itu menangis. Donghae berpikir sejenak, apa harus dia menghampirinya, bertanya, dan meminta maaf?

Tapi bukan Donghae namanya jika hatinya luluh dengan mudah begitu saja. Seorang pria biasanya akan memeluk dan mengusap air mata seorang wanita yang menangis seperti wanita itu. Tapi sayang, Donghae bukan tipe pria yang akan dengan mudahnya merasa peduli dan jatuh untuk orang lain. Tanpa perlu berpikir ulang, Donghae langsung menancap gas meninggalkan tempat itu.

Lee Donghae.

Seorang pria yang mempunyai jalan hidup yang jauh dari apa yang dia bayangkan saat usianya masih kanak-kanak dulu. Ketika usianya 12 tahun, orangtuanya mati dibunuh oleh pria yang tidak dikenal di depan matanya sendiri. Kejadiaan yang membuatnya hidup seperti sekarang. Hidup tanpa rasa peduli pada siapapun.

“kau tau Donghae-ya? Anak tertua presdir Jung masih ada di Paris. Jika dia tiba kembali ke korea, kau harus cepat bertindak.” Ucap Hyukjae. Teman yang bekerja bersama dengannya.

“ya, aku tau.” Donghae menyahut pelan.

hei, aku sedang tidak ingin mengotori tanganku hari ini. Jadi apa kau mau menggantikan aku? Targetku hanya seorang kakek tua.”

Merasa bahunya ditepuk, Donghae berbalik.

hei, aku sedang tidak mau menambah dosa hari ini. Apa kau mau menanggung dosaku?” Donghae meledek, membuat Jongwoon geram.

hah, sebenarnya mau sampai kapan kita seperti ini? Aku lelah.” gumam Jongwoon pelan. Tapi masih bisa didengar oleh yang lain.

“mungkin aku akan melakukannya seumur hidupku.” Kibum mengendikkan bahunya.

“kau tau? Sebenarnya aku ingin berhenti jika saja Heechul tidak mendesakku. Mungkin aku bisa lebih bahagia diluar sana.” Ucap Jongwoon sambil menerawang.

Tiba-tiba terdengar ponsel berdering. Hyukjae, si pemilik ponsel langsung menerima panggilan itu. Tak lama Hyukjae memutuskan sambungan lalu menutup flip ponselnya.

“ada apa?” tanya Kibum dengan nada tak tertarik.

“Donghae-ya, ayo ikut aku. Heechul menyuruh kita-.”

“aku tidak mau. Dengan yang lain saja.” Potong Donghae.

“kau tampak tak bersemangat akhir-akhir ini. Baiklah, bagaimana denganmu Kibum-ah?”

“aku-“

“jangan menolak.” Potong Hyukjae sambil melotot.

“baiklah.” Akhirnya Hyukjae pergi bersama Kibum.

“kau kenapa?” tanya Jongwoon pada Donghae.

“aku sedang malas.” Jawab Donghae asal.

“kalau begitu apa kau mau-“

“jangan ganggu aku Kim Jongwoon-ssi.”

Jongwoon langsung menghilang dari hadapan Donghae setelah mendengar perkataan atau lebih tepatnya perintah yang penuh penekanan dari Donghae.

Merasa tidak ada hal yang harus dilakukan, Donghae memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Sebuah ruang bawah tanah yang biasa dijadikan tempat mereka berbagi informasi atau hanya sekedar tempat peristirahatan mereka.

Donghae melangkahkan kakinya dengan malas, dalam kondisi pekerjaan yang mempertaruhkan keselamatannya menghirup udara bebas tidak membuatnya harus hidup dalam ketidakbebasan. Karena ketelitian dan kehati-hatian mereka memang tidak bisa diragukan. Terbukti dengan Donghae dan teman-temannya yang masih dapat menghirup udara bebas tanpa pernah seharipun merasakan tinggal dalam ruangan sempit berjeruji besi.

Dalam perjalanan, tanpa Donghae sadari ada seseorang yang mengikutinya. Sampai dia tiba di tempat yang biasa dia sebut rumah, Donghae masih belum menyadari kehadiran orang itu.

Donghae berhenti tepat di depan pintu masuk. Ternyata salah, sebenarnya sejak pertama orang itu mengikutinya Donghae sudah menyadari. Tentu saja seorang sepertinya harus bisa merasakan kehadiran orang-orang di sekitarnya bukan?

“apa yang kau inginkan?” tanya Donghae tanpa menoleh pada orang itu.

“maaf mengganggumu. Tanpa sengaja tadi aku melihatmu dan aku tidak punya tempat tujuan.” Jawab orang itu yang terdengar oleh Donghae suara seorang wanita.

“lalu?”Donghae menoleh.

“bisakah kau membantuku? Aku mohon.” Kata wanita itu memelas.

“kenapa harus aku? Kau bisa minta bantuan pada orang lain. Aku ini bukan orang baik, kau tahu? jadi pergilah.” Donghae berbalik, tapi wanita itu menahan lengan Donghae.

“hanya kau yang bisa membantuku.”

“aku bilang pergilah. Jangan ganggu aku.” Donghae melepaskan genggaman wanita itu dari lengannya perlahan.

“kau bilang kau bukan orang baik, dengan menolongku kau akan menjadi orang yang sedikit lebih baik.” Ucap wanita itu sambil tersenyum ceria.

Donghae menyunggingkan senyum palsunya lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya.

“tempat apa ini? jelek sekali.” Komentar wanita itu setelah melihat isi rumah itu.

“tempat yang kau bilang jelek ini rumahku.”

“memang tidak mengherankan juga sih kalau rumahmu jelek dan tampak tak terawat seperti ini.” Gumam wanita itu tanpa sadar.

“jangan banyak komentar nona.”

“Hana. Namaku Kim Hana.” Wanita itu memperkenalkan diri tanpa diminta.

“baiklah nona, lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Tapi jangan ganggu aku ok?” Donghae merebahkan tubuhnya di sofa lalu menutup matanya. Semakin hari terasa semakin melelahkan baginya.

Wanita yang mengaku bernama Hana itu mengangguk mengerti lalu melangkah menuju dapur. Tapi tak lama kemudian dia kembali.

“maaf tuan, apa tidak ada makanan?” tanya Hana hati-hati.

“aku tidak tau. Kau bisa beli diluar.” Donghae menjawab tanpa mengubah posisinya.

“apa . . kau bisa membelinya untukku? Aku mohon? Atau kau bisa membeli bahan makanannya saja.” Pinta Hana ragu.

“tidak bisa, aku sangat lelah. Ambil saja uangku.” Donghae mengeluarkan dompetnya lalu menyimpannya di meja.

“tapi aku-“

“Kim Hana-ssi.” Ucap Donghae dengan penuh penekanan.

Akhirnya Hana menyerah dan kembali ke dapur, berharap akan menemukan sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.

Tengah malam saat orang sudah terlelap, beberapa orang justru harus melakukan pekerjaannya.

drrrt..drrtt.’

“mm? . . . ya baiklah, aku kesana sekarang.”

Setelah menutup sambungan teleponnya, Donghae bergegas untuk pergi.

“mau kemana tengah malam seperti ini?” tanya Hana yang tiba-tiba terbangun.

“belum tidur?”

“aku tiba-tiba terbangun tadi. Mau kemana?”

“bukan urusanmu. Aku pergi dulu.” Donghae pun berlalu meninggalkan Hana.

“kita bawa mereka ke atas.” Ucap Donghae yang masih sibuk dengan seorang wanita paruh baya yang sedang tak sadarkan diri.

Donghae mengangkat wanita itu menaikki tangga, sedangkan Hyukjae mengurus dua anak perempuan yang juga tak sadarkan diri. Donghae dan Hyukjae membawanya ke pojok ruangan dan memposisikan mereka seperti ibu dan anak yang sedang berpelukan.

Hyukjae dan Donghae kembali ke bawah. Tersisa satu orang lagi yang harus mereka urus. Mereka berdua mengangkat tubuh seorang pria yang juga tak sadarkan diri itu ke atas. Setelahnya mereka juga memposisikan tubuh pria itu seolah-olah dia memeluk istri dan anak-anaknya.

hah, ini sungguh dramatis.” Gumam Hyukjae melihat perbuatan mereka.

“cepatlah, nanti mereka sadar.”

Donghae memberikan satu deligen minyak tanah pada Hyukjae. Mereka menyiram lantai atas dan bawah rumah itu. Hyukjae mengeluarkan pematik api lalu menyalakannya.

“baiklah, ini dia.”

“telah terjadi kebakaran pada pukul 02.15 dini hari tadi, dilaporkan 4 orang tewas dalam kebakaran itu. Tidak diketahui apa-“

Donghae mematikan televisi dan menyusuri setiap sudut rumahnya.

“apa orang itu sudah per- ya ampun apa yang dia lakukan?”

Donghae langsung menghampiri Hana yang tergeletak di dalam kamar mandi.

“kau kenapa? apa kau bisa mendengarku?” Donghae berjongkok sambil menepuk-nepuk pipi Hana.

Hana sedikit mengerang.

hei! Ada apa denganmu?”

“aku . . perutku . . perutku sakit.” Jawab Hana lemas.

“perutmu kenapa?”

“aku belum . . makan.”

“ya ampun kau ini. Cepat bangun.” Suruh Donghae sedikit kesal. Hana hanya menggeleng.

“kenapa kau menyusahkanku?” ucap Donghae lagi lalu membantu Hana bangun.

Donghae membantu Hana tidur di sofa lalu dia mengecek dapurnya. Donghae membuka setiap lemari yang ada disana dan kosong. Benar-benar tidak ada makanan yang layak disana.

“dasar gadis bodoh.” Cibir Donghae.

Akhirnya saat itu juga Donghae keluar membeli makanan. Tak seberapa lama kemudian Donghae kembali dengan kantong makanan ditangannya. Hana tertidur saat Donghae kembali.

hei! Nona! Kim Hana-ssi, bangunlah.” Donghae membangunkan Hana, tapi wanita itu tak merespon sedikitpun.

“nona! Bangunlah dan cepat makan makanan ini.” ucap Donghae sedikit lebih keras.

Berhasil! Hana membuka matanya perlahan.

“makan, atau ingin mati. Terserah.” Ucap Donghae dingin.

Hana mulai melahap makan yang dibelikan oleh Donghae itu dengan cepat. Donghae hanya memperhatikan Hana tanpa tertarik untuk bergabung. Hingga Hana menghentikan aktivitasnya lalu melirik pada Donghae.

“kau sudah makan?” tanya Hana polos.

“habiskan saja jika kau mau.” Jawab Donghae yang disambut senyum ceria oleh Hana.

“kau benar-benar kelaparan.” Gumam Donghae tak percaya melihat semua makanan yang dia beli tadi habis tanpa sisa.

“aku tidak makan apapun selama dua hari ini. Hanya minum air putih yang ada di lemari pendinginmu.”

“kau keterlaluan.”

“aku adalah seorang ‘wanted’. Kau tau kan? Jadi aku tidak bisa keluar sembarangan.” ucap Hana cepat.

Donghae manatap Hana tak mengerti. Sebenarnya ada apa dengan wanita ini? pikir Donghae.

“aku harap kau mengerti keadaanku. Aku sangat membutuhkanmu saat ini. Aku yakin kau mengerti.” Wanita itu tersenyum getir.

Donghae hanya terdiam lalu meninggalkan Hana yang menatapnya penuh arti.

“bagaimana? Sukses?” Tanya Heechul sesaat setelah Donghae dan Kibum masuk kedalam ruang bawah tanah itu.

“seperti biasa.” Sahut Kibum malas.

“kenapa kau ada disini? tumben sekali.”

hei, Donghae-ya, ini kan tempatku juga. Jadi tidak perlu ada alasan untukku datang kesini.” Jawab Heechul sewot.

“bagaimana jika kita pergi keluar? Sudah lama sekali sejak terakhir kita pergi keluar untuk bersenang-senang.” Usul Jongwoon yang mendapat anggukan dari Hyukjae dan Kibum.

“ide yang bagus. Aku juga sedikit jenuh.” Pikir Donghae.

“tempatnya aku yang memutuskan.” Ucap Heechul, tanda bahwa dia juga menyetujuinya.

ok, tapi . .” Donghae melihat jam tangan di pergelangan tangannya. “ah, sepertinya aku tidak bisa. Sudah hampir seharian ini aku keluar rumah.”

“kau bahkan sering tinggal disini berhari-hari. Kau seperti anak manja saja.” Cibir Hyukjae.

“ya, pulanglah anak manja. Ayo kita pergi.”

Heechul, Kibum, Jongwoon dan Hyukjae berlalu meninggalkan Donghae. Dia ingin pergi juga, tapi dia teringat pada Hana. Merasa kasihan juga pada wanita itu. Donghae tidak tau apa yang dikatakan wanita itu kemarin malam benar atau tidak. Tapi melihat wanita itu yang hampir mati kelaparan, dia sedikit yakin akan hal itu.

Donghae meninggalkan tempat itu dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Tapi sebelum itu dia mampir ke Supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan. Tanpa banyak berpikir Donghae memasukan sayur, buah dan daging secara acak. Apapun itu yang penting bisa dimakan pikir Donghae.

Donghae pulang dengan dua kantong besar berisi belanjaannya tadi. Didepan rumahnya terlihat ada sebuah mobil yang dia tau itu adalah mobil milik Heechul.

“kenapa mereka ada disini?” gumam Donghae kemudian masuk ke dalam rumahnya

“Donghae-ya, kau darimana saja? Kenapa baru tiba. Kami menunggumu dari tadi.” Sambut Jongwoon di depan pintu.

“kenapa kalian bisa disini?” tanya Donghae heran.

“tadinya kami ingin pergi ke club malam, tapi kami pikir disini juga menyenangkan. Oh ya, tadi rumahmu tidak dikunci, jadi kami langsung masuk saja.” Terang Kibum.

“benarkah?” gumam Donghae pelan. ‘apa mereka belum melihat Hana?’ lanjut Donghae dalam hati.

Donghae mengelilingi tiap sudut rumah sederhananya itu tapi dia tidak melihat sosok Hana dimanapun. Kemana dia?

“kau mencari apa? Apa ada yang hilang?” tanya Hyukjae melihat Donghae yang terlihat mencari sesuatu.

“apa kalian tidak . . ah aku membeli makan tadi, ayo kita makan.” Donghae mengalihkan pembicaraan.

“baguslah, kami hanya membeli minuman tadi.”

kemana perginya orang itu?’ pikir Donghae bertanya-tanya.

“Donghae-ya, tolong bantu aku.”

“bagaimana aku bisa membuatmu mengerti?”

“aku mohon tolong aku.”

Donghae terbangun karena mendengar suara-suara aneh dalam mimpinya. Tiba-tiba dia teringat pada Hana dan bergegas bangkit dari tidurnya untuk mencari sosok itu. Tak perlu waktu lama, sosok itu telah terlihat sedang duduk diatas sofa tengah menonton tv.

oh, kau sudah bangun.” Ucap Hana melihat Donghae yang berjalan menghampirinya.

“semalam kau kemana?”

“aku tidak pergi kemana-mana.” Jawab wanita itu tanpa menatap wajah Donghae.

“tapi semalam kau tidak ada.”

“aku di kamarku. Memang kenapa?

“kau tidak ada di kamarmu semalam.”

“aku . . “ Hana terdiam sesaat. “memang kau pikir aku kemana? Aku ‘kan sudah bilang padamu kalau aku tidak bisa pergi keluar. Karena itulah aku datang meminta bantuanmu.” Sambung Hana dengan suara yang lebih tinggi.

“bolehkah aku bertanya, sebenarnya apa yang sudah kau lakukan?” tanya Donghae yang membuat Hana menoleh padanya.

“apa?” tanya Hana balik.

“kau bilang kau seorang ‘wanted’. Memang apa yang sudah kau lakukan?” akhirnya pertanyaan yang sejak lama tersimpan di otaknya bisa dia keluarkan juga.

“bisakah aku percaya padamu Donghae-ssi?”

“aku hanya ingin tahu. Tapi jika kau tidak ingin katakan aku tidak masalah.” Donghae merasa kecewa dengan ucapannya sendiri.

“aku . . membunuh.”Jawab Hana ragu.

Donghae terlempar dari pikirannya sesaat. Tak disangka wanita seperti dia pernah melakukan hal itu. Tapi ekspresinya tidak menunjukan bahwa dia benar-benar melakukannya. Apa wanita ini juga memiliki kehidupan yang berat seperti Donghae?

 

“jangan lupa pakai sarung tanganmu.” Cegah Jongwoon kepada Donghae yang baru saja akan membuka pintu mobil.

Pukul 02.00 pagi, waktunya Donghae memulai pekerjaannya. Dia mengendap-endap masuk ke halaman belakang rumah tua itu bersama Jongwoon yang terus mengawasi di belakang. Dengan gerakan yang terlatih, Donghae dapat membuka pintu itu dengan mudah walaupun hanya menggunakan seutas kawat sepanjang 10 cm. Donghae masuk ke dalam rumah itu dengan perlahan yang diikuti oleh Jongwoon. Ruangan tampak gelap dan sepi. Tentu saja orang normal pada umumnya sudah tidur pada jam segini bukan?

Donghae dan Jongwoon menaikki anak tangga tanpa ada suara langkah kaki sedikitpun. Ada dua pintu didepan mereka. Donghae dan Jongwoon saling melirik satu sama lain, lalu mereka masuk ke dalam kamar yang terpisah. Tak lebih dari 1 menit mereka keluar dari dua kamar itu. Apa yang mereka lakukan? Jawabannya adalah tidak ada. Orang yang mereka cari ternyata tidak ada disana.

Tak lama akhirnya mereka menemukan orang yang mereka cari. Di salah satu sudut rumah itu ada seorang pria ber-jas yang tertidur diatas sofa.

“kenapa kau tak bilang kalau kau ada disini tuan.” Gumam Jongwoon begitu pelan pada pria yang tertidur pulas itu.

“kau pikir siapa yang akan berteriak untuk membangunkan harimau yang ganas.” Donghae terkekeh.

“pria yang diketahui bernama Cha Jongwook 46 tahun, ditemukan gantung diri di belakang rumahnya pagi tadi. Tak diketahui apa alasan-“

Hana mematikan televisi di hadapannya.

“kenapa orang mengakhiri hidupnya sendiri saat tuhan masih memberikan kehidupan padanya? Padahal masih banyak orang yang mati disaat dia masih ingin merasakan kehidupan.” Gumam Hana tak mengerti.

“pikirkan saja kehidupanmu sendiri dan ini sudah satu minggu, segeralah keluar dari tempat ini.” tanggap Donghae yang tetap fokus pada laptopnya.

oh ayolah Donghae-ssi, lagipula aku tidak tinggal gratis disini. Aku bekerja membereskan tempat ini setiap waktu.”

“aku tidak memintamu untuk melakukan itu dan aku tidak perlu kau untuk membereskan tempat ini. Jadi cepatlah cari tempatmu sendiri.” Donghae menoleh tapi wanita itu sudah tidak ada ditempatnya tadi.

“kemana orang itu?” pikir Donghae

“kau mau makan apa? Akan aku masakkan apapun untukmu.” Tiba-tiba Hana muncul dari dapur.

Donghae berpikir sebentar. “terserahmu saja.” Putus Donghae.

“baiklah.” Hana pun kembali ke dapur.

Selang 30 menit, Hana selesai dengan pekerjaannya.

“makanan sudah siap. Ayo kita makan malam.” Teriak Hana dari dapur.

Mendengar itu Donghae memutuskan untuk menghentikan aktivitas lalu melangkah menuju dapur.

“ayo makan sebelum dingin.” Hana memasang tampang cerianya.

Tanpa banyak bicara Donghae memakan masakan yang dibuat oleh Hana itu. Cukup lezat menurutnya. Hana memperhatikan Donghae makan sambil tersenyum.

“setiap masakanku yang kau makan adalah bayaran aku tinggal selama sebulan disini.”

hah? Maksudmu?” Donghae melirik pada Hana sekilas, lalu melanjutkan makannya.

“aku memasak untukmu sekali, aku boleh tinggal disini selama sebulan. Aku memasak untukmu dua kali, aku boleh tinggal disini dua bulan. Dan kalau kau makan 12 kali, itu berarti aku boleh tinggal disini untuk 1 tahun.”

Donghae menatap Hana dengan tatapan ‘apa kau bilang?’ sedangkan Hana tersenyum lebar.

“baiklah, tapi kau harus keluar dalam waktu yang di tentukan ok?”

“tentu saja. Tapi aku selalu bisa menambah waktuku jika aku melakukan sesuatu untukmu ok?” Hana membalas. Dia mengulurkan tangannya bermaksud untuk berjabat tangan sebagai tanda bahwa mereka telah menyetujui perjanjian itu.

“aku setuju.” Donghae membalas uluran tangan Hana. Hana tersenyum puas.

Sebenarnya tidak ada ruginya bagi Donghae jika wanita itu tetap tinggal di rumahnya. Hanya mungkin saja dia merasa tidak nyaman dan belum terbiasa berbagi kehidupan dengan orang lain. Karena sudah lama sejak orang tuanya meninggal Donghae selalu hidup sendiri.

‘Yoo Jinwook, seorang pengusaha muda ditemukan tak bernyawa di dalam kamar mandi. Dugaan sementara pria itu meninggal karena tersengat aliran listrik. Tak ada orang lain di rumah saat kejadian itu terjadi. Dan sampai sekarang belum diketahui dari mana asal aliran listrik itu.’

Entah sudah keberapakalinya aksi Donghae dan teman-temannya itu diberitakan di televisi. Tak ada satu pun korban yang dikatakan dibunuh dalam setiap kasusnya, karena mereka selalu punya akal untuk menutupi kejahatan yang mereka lakukan dengan hati-hati.

“kasihan sekali orang itu.” Gumam Hana pelan namun masih dapat terdengar oleh Donghae.

“itu takdirnya.” tanggap Donghae cuek.

“ya, itu memang takdir. Tapi ceritanya lain jika kehidupan orang itu diambil secara paksa oleh orang lain.”

Donghae menatap Hana tak mengerti.

“tak sedikit orang yang kehilangan nyawanya secara paksa ‘kan? kau tau pembunuhan bukan? Tak masalah jika kehidupan seseorang diambil oleh tuhan. Tapi jika orang itu kehilangan hidupnya karena disengaja oleh orang lain, tentu ceritanya menjadi lain.”

Donghae tetap diam menatap Hana. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena dialah orang yang Hana bicarakan. Orang yang membuat orang lain kehilangan hidupnya. Apa Hana sudah mengetahui apa yang dilakukan Donghae selama ini? Rasanya ada sesuatu dibalik kata-katanya itu. Tapi tunggu, bukankah Hana pernah mengatakan bahwa dia pernah melakukan itu juga? Jadi mungkin kata-kata itu ditujukan untuk dirinya sediri. Mungkin saja.

“Donghae-ssi, bahan makananmu sudah habis.”

“sekali-kali kau beli saja sendiri. Kau bisa keluar di malam hari dengan menggunakan masker kacamata atau alat penyamaran lainnya jika kau mau. Dijamin aman.” Ucap Donghae yang sibuk dengan laptopnya.

hah, aku malah akan disangka teroris nanti.” Hana berkata sambil cemberut.

“baiklah, baiklah.” Donghae menutup laptop lalu memakai jaketnya.

Hana mengunci pandangannya pada Donghae hingga pria itu menghilang dibalik pintu. Dia menarik nafas lega. Dengan terburu-buru Hana pergi keluar entah kemana. Matahari masih bersinar begitu terang saat ini, tapi kenapa wanita itu pergi keluar rumah? Dia mungkin bisa dengan mudahnya dikenali diluar sana. Dia bersikeras tidak mau keluar saat Donghae menyuruhnya, tapi kenapa dia malah pergi diam-diam saat Donghae tidak ada? Sudah hampir 3 tahun mereka tinggal bersama, mereka tidak pernah saling membuka diri.

Di sebuah taman yang sepi, seorang wanita muda tengah berdiri membelakangi Hana sambil memandang langit. Perlahan wanita itu berbalik. Parasnya terlihat cantik, pandangan matanya begitu teduh, mampu membuat siapa saja merasa tenang ditambah dengan senyumnya yang ramah. Hana membalas senyuman wanita itu.

“2 bulan lagi, pasti itu sudah cukup untukmu.”

“bagaimana jika seandainya aku punya kekasih? Itu pasti akan menyenangkan bukan?” Jongwoon yang sejak tadi diam itu mengeluarkan suara.

yah sepertinya memang sudah waktunya.” Kibum mengangguk-anggukan kepalanya.

“lebih tepatnya kau sudah tua.” Celetuk Hyukjae dengan wajah tanpa dosa.

“kau!” Jongwoon melemparkan balpoin kearah Hyukjae.

“aku yakin tidak ada yang mau denganmu.” Ucap Hyukjae kesal.

“tentu saja ada. Aku tidak mau tua sendirian.” Jongwoon menggumam.

“apa yang bisa diharapkan? Untuk mencintai saja tidak pantas, apalagi dicintai.”

Sebagai manusia yang normal tentu saja mereka punya keinginan yang sama seperti manusia normal lainnya. Mereka tahu apa yang mereka perbuat dan tahu apa kosekuensinya. Dilihat dari luar mereka tampak seperti pria yang mempunyai kehidupan yang biasa-biasa saja. Tapi sebenarnya di dalam hati mereka ada beban yang begitu berat. Hanya saja mereka belum atau mungkin berusaha untuk tidak merasakannya.

Diantara empat orang itu hanya Donghae yang tidak mengeluarkan suara sejak tadi. Dia hanya duduk termangu di depan televisi. Matanya menatap televisi dihadapannya tapi pikirannya melayang entah kemana.

hei! Kenapa kau diam saja?” Kibum menepuk pundak Donghae.

ah, sepertinya aku harus pergi.” Donghae bangkit dari duduknya tanpa menjawab pertanyaan Kibum terlebih dahulu.

“kemana?”

“tentu saja aku mau pulang.”

“kalau begitu kita pergi bersama. Aku bosan berada disini.” Jongwoon ikut bangkit dari duduknya.

“kau sendiri saja. Aku mau ke Supermarket dulu.”

Donghae melangkah keluar meninggalkan tempat itu. Menyusuri jalanan malam seperti biasa. Sengaja dia tidak menggunakan mobil karena berjalan kaki di malam hari terasa jauh lebih menyenangkan. Tak perlu waktu yang lama Donghae sudah sampai di sebuah Supermarket. Tak ingin berlama-lama di tempat itu Donghae memasukan berbagai sayur, buah dan beberapa daging secara acak ke dalam troli lalu segera menuju kasir.

Padahal biasanya Donghae tinggal memesan makanan atau makan di tempat-tempat di pinggir jalan. Tapi semenjak ada Hana, dia selalu membeli bahan makanan sendiri dan memakan makanan yang dibuat oleh Hana. Teman-teman Donghae belum tahu soal Hana. Bukan karena Donghae menyembunyikan keberadaan Hana, tapi karena dia merasa dia tak perlu untuk memberitahukannya pada teman-temannya itu. Lagipula mereka tidak pernah bertanya dan Hana selalu menghilang saat Jongwoon cs datang kerumahnya.

“kenapa kau lama sekali? Kau pergi sejak pagi dan malam baru kembali. Aku kan kesepian disini sendirian.” Hana mengoceh setelah membukakan pintu untuk Donghae.

“aku menemui teman-temanku.”

Hana mengambil kantong belanjaan Donghae dan segera membawanya ke dapur.

Setelah makan malam, Hana dan Donghae kembali ke ruang tengah. Donghae tak niat membuka pembicaraan dan hanya diam memperhatikan seorang reporter di layar televisi. Hana juga yang biasanya punya topik untuk dibicarakan kini hanya diam memperhatikan Donghae diam-diam. Dia terlihat sedang berpikir dengan wajah putus asa.

“menurutmu apa yang membuat orang tega melakukan kejahatan?” Hana mulai membuka suara.

Donghae terlihat menautkan alisnya. “mungkin karena dia punya dendam? Atau mungkin juga karena hidupnya yang memaksa.” Sahut Donghae dengan nada acuh.

“memaksa? Contohnya?” tanya Hana menuntut.

“bukankah kau juga tahu? bukankah kau juga pernah melakukan kejahatan? Kenapa kau bertanya?” Donghae menoleh pada Hana membuat wanita itu salah tingkah.

“aku . . “ Hana memutar bola matanya. “aku hanya ingin tahu pendapatmu.”

Donghae menyandarkan tubuhnya. “kebanyakan orang menganggap orang yang melakukan kejahatan adalah orang yang buruk. Tapi menurutku belum tentu sepenuhnya buruk.”

“Sudah pasti mereka itu orang yang buruk.” ucap Hana sewot.

“bagaimana kau bisa mengatakan itu? seperti kau tidak pernah melakukannya saja.” Donghae mendelik.

“berhenti membicarakan tentang aku. Anggap saja ki- ah maksudku aku tidak pernah melakukan apapun ok?”

Donghae menghela nafas lalu kembali bercerita. “tidak semua orang melakukan kejahatan adalah karena keinginannya sendiri. Bisa saja orang itu terdesak atau mungkin karena dendam. Tak ada orang yang dapat benar-benar mengerti keadaan orang lain. misalnya . .” Donghae berdeham. “orang yang membunuh. Mungkin saja dia punya dendam pada orang yang telah menyakiti orang yang sangat dia sayangi karena itu dia membunuhnya.”

“bagaimana dengan menyakiti orang yang tak tak ada hubungan sama sekali dengannya?”

Donghae dan Hana bercerita sepanjang malam. Tanpa sadar Donghae menceritakan kisah hidup dan perasaannya secara tidak langsung saat itu. Hana mungkin tidak tau bahwa apa yang keluar dari mulut Donghae bukan hanya sekedar jawaban.

“Donghae-ah, kenapa kau terus tiduran seperti itu? Kita harus cepat sebelum hari semakin siang.” Kibum berkata melihat Donghae yang hanya diam padahal malam ini mereka harus mulai pekerjaan lagi.

“bisakah dengan yang lain saja?”

“kenapa?” tanya Kibum balik.

‘meskipun seseorang melakukan kejahatan karena alasan-alasan tertentu. Orang yang dengan tulus menyayangi mereka pasti akan merasa kecewa.’

Ucapan Hana itu terus berkelebat dalam ingatannya akhir-akhir ini dan membuatnya selalu bertanya mungkinkah orang tuanyanya juga merasa kecewa di atas sana?

“Donghae-ah.” Seru Kibum kesal karena Donghae masih saja diam.

“ya baiklah.” Putus Donghae akhirnya.

‘orang itu akan menyesal dia akhir hidupnya nanti.’

Donghae melajukan mobilnya di jalanan Daegu dengan perasaan yang tak menentu. Ia tiba di sebuah rumah di pedalaman kota yang terlihat cukup terawat. Donghae turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Donghae mendapati seorang pria cantik duduk di sofa tengah memandangnya sambil tersenyum.

“ada apa? Aku tidak ingat kapan terakhir kau berkunjung.” Sambut pria itu.

“Heechul-ah, tak apa kan jika aku berhenti?” tanya Donghae to the point.

“berhenti?” Heechul menautkan sebelah alisnya.

“aku ingin menjalani hidupku dengan normal.”

“jadi menurutmu hidupmu selama 6 tahun ini tidak normal?” Heechul tertawa.

“maksudku aku ingin hidup seperti orang lain. Bekerja di siang hari, dan pulang di waktu malam, bergaul dengan banyak orang, berpesta, menjadi orang yang dicintai dan mencintai, hidup bahagia selamanya.”

“lantas apa yang akan kau lakukan? Menyerahkan diri pada polisi?”

“Sepertinya begitu. Lagipula jika aku yang menyerahkan diri terlebih dahulu, hukumanku akan sedikit lebih ringan.”

“kau gila.” Heechul terperangah.

“tekadku sudah bulat Heechul-ah. Baiklah, aku pergi dulu. Sampai bertemu entah berapa tahun lagi.” Donghae meninggalkan tempat itu.

Untuk pertama kalinya Hana mengajak Donghae pergi keluar bersama. Donghae sempat menolak pada awalnya. Tapi setelah dipikir bahwa mungkin ini hari terakhir untuk dia bisa menghirup udara bebas, dia menyetujuinya.

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah tempat peristirahatan terakhir orang tua Donghae. Donghae menatap dua gundukan tanah yang ditumbuhi rumput itu dengan mata sayu dan bergumam pelan.

“ibu, ayah, maafkan aku.”

Hana mendekati Donghae. Tangannya menyentuh bahu Donghae lalu meremasnya perlahan, berharap dapat memberikan kekuatan pada pria itu. Donghae tersenyum lalu membungkukkan badannya sambil berkata dalam hatinya, aku pasti kembali sebagai orang yang lebih baik.

“ayo kita pergi.” Donghae meninggalkan tempat itu.

“selamat tinggal bibi, paman. Semoga kita dapat bertemu di lain waktu.” Hana membungkukkan badannya lalu berlari kecil mengikuti Donghae.

Hari ini adalah hari yang cukup menyenangkan bagi mereka. Mungkin untuk yang pertama dan terakhir. Tak banyak yang mereka lakukan. Hanya berjalan dan mengobrol sepanjang jalan, sesekali mereka beristirahat jika menemukan tempat yang nyaman. Sebenarnya Donghae sempat memaksa untuk kembali karena dia melihat banyak orang yang memperhatikan mereka lalu saling berbisik dan Donghae khawatir orang-orang itu mengenali Hana. Tapi Hana tidak mau dan meminta Donghae untuk menghiraukan mereka.

Hari sudah semakin gelap. Hana dan Donghae memutuskan untuk pergi ke taman bermain sebelum mengakhiri acara mereka. Hana dan Donghae duduk di ayunan sambil memandang langit yang bertabur ribuan bintang itu.

“Hana-ssi, sepertinya aku harus pergi.” Donghae memulai percakapan. Hana menoleh ke arah Donghae. “kau tau aku bukan orang baik dan aku ingin menjadi orang yang lebih baik.” Lanjutnya.

“benarkah? Berjanjilah padaku.” Hana mengangkat jari kelingkingnya.

“aku berjanji.” Donghae mengaitkan kelingkingnya.

Senyum mengembang di wajah mereka berdua. Perasaan mereka terasa lebih lega walaupun mereka tidak tau apa yang akan terjadi esok, dan di kemudian hari.

Donghae sedang bersiap-siap sekarang. Tak banyak, hanya mengumpulkan mental agar punya keberanian untuk mengatakan yang sejujurnya pada polisi nanti. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi kau tak akan merasa sebegitu gugup dan gelisahnya jika kau tak merasakannya sendiri.

“Hana-ssi!” panggil Donghae seraya mencari sosok itu di setiap sudut rumahnya. “kemana dia?” gumamnya pelan.

tok tok tok

Donghae melangkahkan kakinya mendengar suara pintu rumahnya diketuk. Tapi setelah dilihat tidak ada siapapun disana. Donghae kembali ke dalam dan mendapati sebuah surat tergeletak di meja.

“tadi tidak ada apapun disini.” pikir Donghae.

 

‘temui aku di taman kota.’

Kim Hana.

 

Donghae pergi ke taman setelah membaca surat dari Hana itu. Dia tak merasakan sesuatu apapun. Hanya berpikir mungkin Hana akan memberikan kejutan padanya. Tak perlu waktu lama untuk mencari, Donghae sudah menemukan sosok Hana yang sedang duduk di salah satu kursi taman. Donghae berjalan mendekati Hana dengan senyum diwajahnya begitupun dengan Hana.

“kenapa-“

“aku mohon jangan bicara. Duduklah dan hanya dengarkan aku. Kau mengerti kan?” Hana memotong ucapan Donghae.

Donghae menurut. Dia duduk disamping Hana dan hanya diam. Hana tersenyum melihat sikap penurut Donghae dan mulai bercerita.

“Donghae-ssi, sebelumnya aku mau minta maaf. Selama ini aku sudah berbohong padamu. Sebenarnya dari awal aku sudah mengetahui siapa dirimu, apa yang kau lakukan, apa pekerjaanmu dan semua hal tentangmu. Aku senang kau mempunyai keinginan untuk berubah. Kau akan menyerahkan dirimu kepada polisi hari ini bukan? Jangan sampai kau mengurungkan tekadmu itu. Kau sudah berjanji padaku. Orang tuamu juga akan senang melihatmu hidup sebagai orang yang baik.” Hana menghela nafas panjang. Terlihat olehnya ekspresi wajah Donghae yang berubah-ubah ketika dia bercerita. Hana pun kembali melanjutkan ceritanya. “Donghae-ssi, sekarang aku harus pergi. Kita mungkin tidak akan pernah bertemu lagi. Pertemuan kita yang tidak disengaja ini akan berakhir sekarang dan aku berharap kau akan menepati janjimu untuk menjadi orang yang lebih baik. Soal membunuh dan ‘wanted’ itu, aku berbohong padamu. Aku berkata begitu karena aku tidak bisa bertahan di luar. Aku tidak nyata Donghae-ssi, aku mati sebelum waktunya, mereka memberikan sisa hidupku selama kurang lebih tiga tahun. Tapi aku menyesal, karena kenyataanya hanya kau yang dapat melihat dan merasakan kehadiranku. Hanya bersamamulah aku bisa bertahan hingga sekarang dan waktuku sudah hampir habis.”

Tiba-tiba Donghae tertawa ditengah penjelasan Hana. Hana memandangnya kesal.

”diam Donghae-ssi, semua orang memperhatikanmu. Tolong dengarkan aku baik-baik. Aku tidak sedang bergurau sekarang. Aku benar-benar tidak nyata. Kau ingat saat kemarin kita pergi keluar dan orang-orang memperhatikan kita? Bukan aku yang mereka lihat, tapi kau. Kau tau apa itu artinya?”

Donghae diam tak merespon.

“masih tak percaya?”

Hana bangkit dari duduknya lalu berdiri di keramaian. Saat itu ada seorang gadis SMA yang berjalan kearahnya dan menembus tubuhnya. Terasa begitu sakit memang, tapi dengan itu Hana berharap Donghae dapat percaya. Donghae masih diam tak merespon.

“berjanjilah kau akan hidup dengan baik Donghae-ssi. Aku menyayangimu.” Terdengar suara Hana yang lebih terdengar seperti bisikkan. Hana tersenyum lalu sosoknya semakin memudar.

Seorang pria melangkahkan kakinya di tengah-tengah ilalang. Dia memejamkan matanya lalu menghirup udara yang terasa sejuk di sore hari. Terasa semilir angin membelai wajahnya. Pria itu tersenyum.

Hana-ssi, bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu. Hari-hari itu terasa seperti mimpi bagiku. Kau datang dan pergi secara tiba-tiba. 10 tahun berlalu, dan kau tau? Aku telah menepati janjiku. Janji untuk hidup dengan baik. Walaupun hidupku belum sepenuhnya baik, tapi aku akan berusaha menjadikannya sempurna. Ibu, ayah bagaimana kabar kalian disana? Maafkan aku karena aku telah mengecewakan kalian. Maafkan aku karena aku sempat menyia-nyiakan hidupku untuk hal yang sebenarnya tidak perlu aku lakukan. Tapi aku tidak akan menyesalinya, aku tau ini memang jalan takdirku. Aku bisa tersenyum karena hal-hal menyakitkan itu telah aku lalui.

“apa yang sedang ayah lakukan disini?” seorang anak lelaki berusia 5 tahun menghampirinya.

oh, Donghyun-ah.” Serunya lalu mengendong anak lelaki yang dia panggil Donghyun itu.

“ibu menunggu kita di mobil.”

Pria itu tersenyum lalu menurunkan Donghyun dari gendongannya.

“ayo.” Pria itu mengenggam tangan anaknya lalu mereka berjalan berdampingan.

‘aku, Lee Donghae. Telah menemukan jalan untuk mencapai kebahagiaanku. Yaitu dengan cara menghargai hidupku.’

FIN

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: