[Donghae’s Day] Jebal, Don’t Forget Me.

growingpains33

Judul           : Jebal, Don’t Forget Me

Author         : Falin

Main Cast    : Lee Donghae, Jung Hyein (OC)

Genre          : Romance, Sad

Rating                  : 15

Ps               : No copast and plagiator. Typo bertebaran bebas and happy reading

***************

 

“Saranghae Jung Hyein”

“Nado,,, nado saranghae Lee Donghae”

Pletakkk….

Tepat sasaran, sebuah spidol mendarat dengan mulus di kepala Hyein. “Berhentilah bermimpi, kau pikir ini ajang pengakuan cinta” Park sangjanim memandang Hyein dengan geram. Semua temannya tertawa melihat apa yang terjadi. Hyein hanya mampu menundukan wajahnya yang memerah.

 

Sebuah pasang mata disudut ruangan memandang Hyein dengan tatapan geram. Mengintimidasi tepatnya. Bagaimana tidak menyebalkan untuknya. Kejadian Ini entah sudah keberapa kali semenjak mereka berada dalam satu kelas. Lee Donghae pemilik sepasang mata itu kembali menggeram. Ini benar-benar tidak adil untuknya, setelah dua tahun dirinya tidak bisa menghindar dari aksi bodoh Hyein. Sekarang ia harus sekelas dengan gadis itu. Yang berarti siksaan pada dirinya akan bertambah. Dengan amarah yang masih coba direndamnya Lee Donghae kembali menekuni bukunya. Mencoba fokus pada apa yang sedang dibacanya.

 

Ini memang terdengar aneh, bahkan ia sendiri masih heran. Bagaimana seorang Hyein yang kadarnya dibawah rata-rata bisa satu kelas dengannya. Walaupun hanya dalam beberapa pelajaran tapi tetap saja ini akan mengganggu hari-hari terakhir di sekolah menengahnya. “Baik anak-anak pelajaran kita akhiri sampai di sini” Donghae tersentak. Sudah berapa lama dirinya melamun. Ia tidak menyadari kalau pelajaran ternyata sudah berakhir.

 

“Donghae kau tidak pergi ke kantin” ucap Hyukjae teman sebangkunya.

 

“Kau pergi saja dulu, aku akan menyusul” Donghae kembali berkutat dengan bukunya. Rasa laparnya sudah lama hilang melihat gadis menyebalkan itu. Bukan tanpa sengaja ia membenci Hyein, kejadian ini sudah berlalu hampir dua tahun. Saat itu pertama kali ia menginjakan kaki di sekolah ini.

 

“Jung Hyein, apa yang kau gambar?”

 

Hyein menarik kertas yang hampir direbut oleh sahabatnya Naari. Melihat gelagat Hyein membuat Naari semakin penasaran, sehingga tanpa sadar aksinya menyebabkan Hyein kehilangan keseimbangan. Tubuhnya oleng dan sukses terjerembab mencium lantai. Sepersekian detik Hyein merasakan nyawanya akan melayang karna terjatuh, namun perasaan sakit itu belum menjamah tubuhnya. Sampai terdengar suara merdu yang menyentakan alam bawah sadarnya.

 

“Hei nona, sampai kapan kau akan menimpaku” Hyein membuka matanya. Beberapa menit berlalu Hyein masih memasang tampang polosnya. “Yak…sampai kapan kau akan menikmati adegan ini?”

 

Tersadar akan apa yang terjadi Hyein bangkit dari jatuhnya meninggalkan tubuh laki-laki yang menopang berat badannya.

 

“Kau tidak apa Donghae-ya?” temannya membantu untuk berdiri. Baru saja Donghae beranjak, kakinya kembali berbalik saat tak sengaja ia mendengar celotehan salah satu siswa.

 

“Pangeran turun dari kayangan…Donghae-ya bukannya ini dirimu”siswa itu menyerahkan selembar kertas dengan gambar yang kalau diliat secara seksama memang mirip dirinya.

 

Panik, Hyein merampas kertas dari tangan Donghae, saat itulah suara tawa terpecah mengisi keramaian lorong sekolah.

Mengingat kejadian itu selalu membuat Donghae naik pitam, bagaimana tidak hal itu berlangsung sampai saat ini. Bahkan kini dirinya di panggil sebagai pangeran kayangan oleh hampir seluruh sekolah yang mengenalnya.

******

 

“Jung Hyein aku tahu kau sangat mengagguminya bahkan rela mati untuknya, tapi sampai kapan objekmu hanya tentangnya!” Naari bersungut, ini sudah kesekian kalinya bahkan hampir dua tahun ini objek lukis sahabatnya hanyalah Lee Donghae. Bagaimana klub melukisnya bisa bangkit kalau begini terus. Naari mengakui bakat Hyein di bidang lukis karena mereka sudah berteman sejak kecil. Tapi bakat ini akhirnya harus terpaku hanya pada satu objek dan Naari menyayangi hal itu.

 

“Naari-ya bukankah sudah ku katakan aku akan berhenti melukisnya kalau dia sudah benar-benar menerimaku” jawaban Hyein sontak membuat Naari melongo. Pasalnya sudah lebih dari dua tahun ini sahabatnya mengejar Lee Donghae tapi tak satupun gubrisan yang ditanggapi. Ia hanya mampu menggeleng pasrah.

******

 

Donghae terlihat santai menikmati bacaannya, tanpa sadar susu coklat ditangannya telah kosong. Ia hendak beranjak ketika langkah kakinya terhenti akibat satu sosok mahluk berdiri tidak wajar dihadapannya dengan sekotak susu coklat.

 

“Untukmu…aku suka menatapmu menikmati minum susu seperti itu benar-benar sangat tampan” tersenyum senang Hyein menyodorkan susu yang tak jadi diminumnya. Donghae mendengus meninggalkan Hyein yang masih diam terpaku dengan posisi semula. Ini kesekian kalinya dirinya menemukan wajah bodoh Hyein.

******

 

“Itu bukan hakmu melarangku!”

 

“Apa kau bilang, apa kau tak sadar diri kalau dia sama sekali tidak mencintaimu, jangankan itu melirikmu pun dia sama sekali tidak mau”

 

Adu mulut itu menarik sekelompok siswa untuk berhenti dan melihatnya. Wajar saja suara mereka berhasil mengalahkan pertandingan basket yang sedang berlalu. Tak terkecuali Donghae yang hendak menuju kantin. Langkahnya ikut terhenti dan mengikuti sumber keributan. Baru saja dirinya sampai semua mata langsung tertuju padanya. Melihat atmosfer yang terjadi membuat Donghae menatap heran seperti bertanya ada apa denganku. Barulah ia sadar apa yang terjadi ketika salah satu gadis yang terlibat pertengkaran itu bertanya padanya.

 

“Oppa…sekarang kau putuskan kau memilih aku atau dia?” tuding gadis itu pada Donghae. Menanggapi ini Donghae hanya mampu menggeram tertahan dan menarik salah satu gadis yang tak lain adalah Hyein ketempat dimana hanya ada mereka berdua.

 

Tarikan kasar Donghae membuat Hyein meringis “Donghae-ya sakit…” tapi Donghae tak melepaskan pegangannya, malah makin semangat menarik Hyein. sampai di belakang sekolah yang dirasa cukup sepi Donghae melepaskan genggaman tangan Hyein kasar.

 

“Yak Jung Hyein sampai kapan kau akan mempermalukanku, kau tidak sadar kalau perbuatanmu kali ini cukup keterlaluan, selama ini aku sudah sabar menghadapimu tapi kali ini sikapmu benar benar tak dapat ditolerir! Kau sudah tau kalau aku tak pernah menanggapimu jadi berhentilah dan menjauhlah dariku” Donghae menghembuskan nafas beratnya, lega. Berhasil menyalurkan emosi yang sudah dua tahun ini ditahannya.

 

“Aku minta maaf, aku tidak bermaksud melakukannya…gadis itu lebih dulu yang memulai…” sesekali Hyein menatap pada Donghae yang masih memasang wajah garangnya. Sejujurnya baru kali ini Hyein melihat wajah Donghae yang begitu menakutkan, bahkan nyalinya hampir ciut. “Sekali lagi aku minta maaf…”

 

Hyein berhasil berucap ketika Donghae sudah tak lagi berdiri dihadapannya. Ia terkulai, tubuhnya sudah tak mampu lagi menopang, ia bersender pada sebatang pohon dan terduduk lemah.

******

 

Hyukjae masih terheran melihat sikap sahabatnya yang seharian ini terlihat sangat bahagia.

“Donghae-ya sudah seharian ini kau bersikap tidak wajar, ada apa denganmu?”

 

“Lee Hyukjae, bukankah kau harusnya senang melihat sahabatmu bahagia?” Donghae kembali bertanya.

 

“Yah…tapi itu malah terlihat aneh, tidak seperti kau yang biasa”

 

Donghae acuh menanggapi pernyataan Hyukjae, saat ini ia tidak mau ambil pusing dengan protes Hyukjae. Pasalnya seharian ini ia terbebas dari mahluk yang bernama Hyein. ya sudah sehari ini Donghae tak melihat Hyein disekitarnya, bahkan saat ia menikmati bacaannya di belakang sekolah Hyein bahkan tak pernah absen mengikutinya. Tapi sekarang dewi keberuntungan sedang berpihak padasanya. Ternyata ada gunanya juga kejadian kemarin yang membuatnya menumpahkan segala kekesalan pada Hyein. ia kembali menikmati bacaannya sambil tidak lupa meminum susu coklat favoritnya.

******

 

Nasib buruk memang tak bisa dihindari, baru saja sehari Donghae menikmati dunia tanpa Hyein disisinya dan sekarang ia harus kembali menelan pahitnya kehidupan di sekolah. Tepatnya pagi yang indah ini sudah ternoda dengan kehadiran gadis bodoh itu yang menyambutnya di gerbang sekolah.

 

“Anyeong Hae-ya, apa kabarnya hari ini? Seharian kemarin aku hampir mati karna merindukanmu, tapi aku bersyukur karna hari ini aku bisa melihatmu lagi”

 

Hyein terus berceloteh membuat Donghae geram mendengarnya, ia melangkah tanpa berniat mendengar dan menatap Hyein kembali. Memang hari yang sial, saat ini dirinya kembali menjadi sorotan orang disekitar. Pasalnya Hyein terus membuntutinya sampai kelas dan yang membuatnya makin prustasi selama jam pelajaran pertama Hyein tak pernah melepaskan pandangan dari Donghae.

 

“Kenapa kebahagiaan tak pernah berpihak kepadaku..”

 

Cekikikan terus menghinggapi wajah Hyukjae saat mendengar pengakuan Donghae. Saat ini mereka tengah berada di kantin sekolah menikmati jam istirahat berlalu. Hyukjae tak habis pikir dengan temannya yang selalu terlihat cool ini. Pasalnya baru kemarin Hyukjae melihat keanehan pada Donghae dan sekarang sahabatnya sudah kembali pada kenormalannya. Bahkan sekarang ia sudah berani berargumen panjang. Semua ini adalah hal baru bagi Hyukjae karena temannya bisa bertingkah seabnormal ini yang tak lain penyebabnya adalah teman sekelas mereka Jung Hyein –putri kayangan-.

 

“Sudahlah Donghae-ya mungkin itu sudah menjadi nasibmu” dengan masih terkikik Hyukjae menanggapi ocehan sahabatnya. Yang dibalas sebuah tinjuan oleh Donghae.

******

 

Minggu cerah Donghae masih bermalas di atas kasur empuknya kalau saja oemma tidak membangunkannya dengan gusar. Oemma menyuruhnya untuk menemaninya membeli beberapa bahan kue untuk menyambut kedatangan sepupunya. Dengan tampang masih mengantuk Donghae mengekor kemanapun ibunya melangkah memilih berbagai belanjaan.

 

“Ahh…Hae-ya oemma lupa mengambil keju, tolong kamu ambilkan di rak sebelah sana”

 

“Dasar oemma padahal hampir sejam memutari arena ini masih saja lupa”. Sambil berjalan Donghae melayangkan aksi protes pada ibunya. Omelannya berhenti ketika melihat seorang nenek hampir terjatuh ditabrak oleh segerombolan remaja untung saja ada gadis berbaik hati menolongnya.

“Nenek baik-baik saja?”

 

“Ya…terima kasih nak, nenek tak tau apa yang akan terjadi…”

 

“Taka apa nek, berhati-hatilah…”

 

Donghae masih memperhatikan gadis itu, gadis itu baru tersadar kalau barang belanjaanya kini sudah berserakan di lantai. Tanpa sadar Donghae menggapai salah satu barang milik gadis itu yang terjatuh. Detik berikutnya Donghae sudah lupa kemana raganya pergi. Gadis yang sekarang berbeda jauh dengan gadis yang sering dilihatnya sehari-hari disekolah dengan tampang bodohnya. Gadis itu Jung Hyein sangat berbeda dengan riasan minimalis di wajahnya dan gaun putih selutut yang dipakainya memberikan kesan dewasa dan cantik.

 

“Donghae-ya…” Hyein pun tak kalah terkejut melihat Donghae berjongkok dihadapannya membantu mengambilkan barang belanjaannya ya terjatuh. fokusnya teralih saat satu suara meneriaki namanya “Ne…oemma”gomawo Donghae-ya..anyeong”.

 

Donghae masih terpaku menatap kepergian Hyein, raganya baru kembali saat ibunya memanggil. “Sedang apa kau berjongkok disana?””Hmm…anio oemma” satu senyuman terpatri di wajah tampannya

******

 

Seminggu sudah sejak kejadian Donghae melihat metamorposa Hyein. di hari itu pulalah pandangannya berubah terhadap Hyein. walaupun perubahan itu hanya dilihatnya beberapa saat, tapi dampaknya berpengaruh pesat. Bahkan sekarang ia tak lagi menampakan kegusaran saat Hyein menatapnya atau mengganggunya. Melihat perubahan yang signifikan pada Donghae Hyukjae selaku sahabatnya merasa senang dan heran. Pasalnya saat ini sahabatnya menunjukan ketertarikan atas Hyein.

 

“Lee Donghae, kau tidak mau bercerita padaku apa yang sudah terjadi?”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Ya..jangan pernah membohongiku, aku tau pasti ada sesuatu yang terjadi antara kau dan putri kayanganmu itu. Karena sudah sehari ini kau berlaku aneh, bahkan saat dikelas kau jadi sering memperhatikannya dan gadis itu saat ini hanya tersipu malu tak berniat mengganggumu lagi”

 

“Lee Hyukjae, tampangmu sangat lucu saat mengomel”

 

Keanehan Hyukjae makin menjadi saat ucapannya tak ditanggapi dengan serius bahkan Donghae saat ini hanya tersenyum simpul tanda kalau ia puas.

******

 

“Hyein-a,,aku lihat kau sudah berhenti melancarkan aksimu mendekati Donghae, apa rasa cintamu sudah mencair seperti es, sehingga kau sudah bisa melupakannya”

 

“Kau salah, bukankah sudah pernah ku katakana, kalau aku akan berhenti mengganggunya saat dia sudah mengingatku”

 

Naara semakin tidak mengerti apa yang diucapkan Hyein. ia hanya mengiyakan apa yang menjadi pikiran Hyein saat ini. Tepatnya seminggu yang lalu Donghae tiba-tiba saja memanggilnya. Ia sudah merasa takut karna kejadian di supermarket itu. Tapi diluar dugaan Donghae tersenyum manis menatapnya. Lalu ia menyerahkan selembar kertas dan berlalu pergi. Kertas lusuh itu berisi lukisan dirinya sedang menatap terbenamnya matahari yang dibuat oleh Donghae sepuluh tahun lalu saat mereka masih tinggal di amerika. Kertas itu selalu menemaninya kemana pun pergi dan melangkah, selalu tersimpan rapi dalam dompetnya. Karena Hyein yakin suatu saat dirinya akan bertemu kembali dengan laki-laki itu. Bahkan sampai ia menekuni seni lukis.

 

Doanya terjawab tatkala ia menginjakan kakinya di sekolah ini, sayangnya orang yang paling dirindukannya tak mengenalnya sama sekali saat pertama kali pertemuan mereka. Tapi seminggu ini ia merasa senang karena walaupun tanpa berucap setidaknya Donghae sudah mengaggapnya ada, dan itu sudah cukup untuknya.

******

 

“Aku benar-benar kaget, aku tidak menyangka, pantas saja Donghae tidak pernah menggubris perasaan kita, ternyata ia sudah punya seseorang” Obrolan segerombolan siswi membuat langkah Hyein terhenti “iya bahkan gadis itu sangat cantik” Hyein akhirnya berbalik menatap segerombolan siswi itu “dan yang paling membuatku tersentuh ia ternyata menjempunya di bandara,,,aah…gadis itu benar-benar beruntung” Hyein tak jadi melanjutkan, kakinya langsung ia putar kembali menuju kelas.

 

Di pintu Hyein berpapasan dengan Donghae dan Hyukjae, namun gadis itu acuh tak acuh. Melihat adegan ini membangkitkan ketertarikan dalam diri Hyukjae, pasalnya akhir-akhir ini mereka sudah terlihat akrab walau hanya bicara lewat bahasa isyarat.

 

“Apa terjadi sesuatu lagi antara kalian?”

 

“Hmm…”

 

“Tak apa, masalahnya saat berpapasan denganmu tadi dia sama sekali tak melirikmu, biasanya dia tak akan melewatkan kesempatan dengan tak menatapmu barang semenit”

 

Ucapan Hyukjae membuat Donghae terpaku, bukan ia tak menyadari perubahan Hyein barusan. Donghae hanya tak mau berpikiran negative, tapi tetap saja pikiran jeleknya menguasai. Karena tak mungkin Hyein melakukan itu padanya, walaupun dunia hancur bahkan setelah kejadian Donghae membentaknya Hyein akan kembali tersenyum padanya tapi tidak untuk kali ini.

******

 

Beberapa hari berlalu sikap Hyein masih sama terhadap Donghae. Hyein masih mengacuhkan Donghae saat mereka berpapasan. Di dera rasa penasaran Donghae akhirnya memberanikan diri menemui Hyein ketika gadis itu sedang sendiri di klub lukisnya.

“Hyein-a,,ada yang ingin aku bicarakan denganmu”

 

“Katakan saja, aku akan mendengarkanya” Hyein menjawab tanpa melihat Donghae.

 

“Anni, tidak di sini aku akan menunggumu di gerbang sekolah pulang nanti” setelah itu Donghae berlalu.

 

Hyein masih menatap kepergian Donghae. Ia menyadari kalau dirinya terlalu egois memperlakukan Donghae seperti itu. Kecemburuan terlalu menguasainya, yang ia tak ketahui kebenarannya. “Mianhae Donghae-ya”

******

 

Di gerbang sekolah Donghae sudah harap cemas. Donghae takut kalau Hyein tak menyetujui ajakannya untuk bertemu. Tapi kecemasan itu sudah diganti kelegaan tatkala Hyein menghampirinya. Baru saja Donghae melangkahkan kaki hendak menghampiri Hyein, satu pelukan telah berhasil medarat di tubuh Donghae. Adegan ini membuat langkah kaki Hyein terhenti dikejauhan. Dengan gerakan cepat Hyein berbalik arah tanpa melihat bahwa sebuah mobil sedang melaju cepat kearahnya. Bagai sebuah film yang dipercepat kejadian itu berlalu di depan matanya. Detik berikutnya tubuh Hyein sudah terhempas beberapa meter dengan darah mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Menyaksikan kejadian ini Donghae terpaku ditempatnya tak dapat bergerak.

 

Sudah hampir tiga jam lampu ruangan oprasi itu menyala. Tak terlihat tanda-tanda seseorang akan keluar. Donghae menunggu dengan cemas, ia terlihat berantakan dengan baju masih bersimbah darah. Pasalnya tanpa pikir panjang ia menggendong Hyein dan membawanya ke rumah sakit. Detik berlalu lampu itu akhirnya mati. Dengan sigap Donghae menghampiri dokter yang baru saja keluar tak lama orang tua Hyein pun datang.

 

“Dokter bagaiman keadaan anak saya? Saya keluarganya”

 

“Ibu tak perlu hawatir, oprasinya berjalan lancar”

 

Mendengar pernyataan dokter tak urung membuat Donghae bernafas lega. Hyein sudah melewati masa keritisnya, Hyein langsung dipindahkan keruangan rawat inap untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

******

 

Ini sudah bulan ketiga Hyein di rawat di rumah sakit. Tapi tanda-tanda bahwa ia akan bangun tak Nampak sama sekali. Donghae masih rajin mengunjungi Hyein saat pulang sekolah. Ia tak berhenti berharap bahwa Hyein akan kembali sadar dari tidur panjangnya.

 

“Hyein-a kenapa kau masih menutup mata? Apa kau tak ingin lagi melihatku? Tak ingin lagi menggoda dan menggangguku? Kau tau kenapa setiap kali kau menggangguku aku merasa kesal, itu semua karena aku terlalu mencintaimu orang yang selalu aku harapkan dan tak ingin aku gantikan tempatnya dihatiku…” ucapan Donghae terheti tatkala tangan Hyein menunjukan pergerakannya. Perlahan kelopak matanya berkedip dan menampilkan seluruh bola mata yang sudah lama Donghae rindukan. “Akhirnya…kau bangun” Donghae berhasil menguasai rasa senangnya. Ia menekan tombol tanda meminta bantuan pada dokter.

 

“Ini dimana…” Hyein masih menyesuaikan pandangannya ke satu fokus, begitu tatapannya bertemu dengan Donghae “Siapa…kau?”

 

Donghae di hantam rasa tak percaya “Kau tak mengenaliku…ini aku Donghae, Lee Donghae” Hyein mengejapkan matanya tanda ia tak memahami ucapan Donghae. Detik selanjutnya dokter sudah memeriksa kembali menyetabilkan keadaan Hyein.

******

 

“Donghae kau tidak ikut kami masuk?” Naara menatap Donghae antusias. Tapi yang ditanya tidak menunjukan pergerakan sama sekali. Sepeninggalan Naara, Donghae menatap Hyein dari luar pintu, Hyein tersenyum manis mendapati teman-temannya datang menjenguk. Tak terasa air mata jatuh menetes membasahi sebuah kertas yang kini dipegang oleh Donghae. Di kertas itu yang tak lain adalah gambar lukisan Hyein terpatri jelas tulisan tangan Hyein yang rapih “LEE DONGHAE AKU TAK AKAN PERNAH MELUPAKANMU!! SARANGHAE”. Donghae berjalan gontai meninggalkan kerumunan orang yang sedang berbahagia itu. Sambil berharap dalam hatinya “Aku yakin bahwa suatu saat dengan lukisan ini kau akan kembali mengingatku” Donghae memasukan lukisannya ke dalam dompet dan berlalu pergi.

 

Diary Donghae, 14 Februari 2010.

Jung Hyein sudah tiga bulan lamanya kau tertidur, apa kau tidak cape terus berbaring di ranjang? Tidak kah kau rindu untuk melihatku lagi? Bukankah kau pernah mengatakan kau paling tak tahan jika tidak melihatku walau semenit. Tapi lihat sekarang, apa kau sedang menghukumku karna aku tak mengingatmu pertama kali kita bertemu lagi?

 

Kau tahu hari dimana aku mengajakmu bertemu di belakang sekolah ketika aku mengembalikan lukisan dirimu, saat itu aku ingin mengatakan semua padamu. Bahwa aku telah mengingat semua tentangmu, semua yang ada pada dirimu dan satu hal yang tak pernah terlupakan bahwa aku mencintaimu bukan sangat mencintaimu. Tapi aku hanya berlalu pergi menghilangkan rona dimatamu. Aku berharap semoga kau cepat bangun dari tidurmu agar aku bisa mengatakannya langsung betapa aku mencintaimu. Bahwa Kau telah memiliki hatiku sepuluh tahun yang lalu bahkan saat aku tidak mengenalimu kau telah memilikinya dan itu tak akan pernah berubah.

 

Tuhan kalau hari ini kau memberikan satu kesempatan padaku untuk kembali melihat rona matanya, maka aku tak akan mengharapkan apapun lagi darimu. Walaupun aku harus kehilangan harta paling berharga dalam diriku.

JUNG HYEIN SARANGHAE ❤

 

-END-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: