[Donghae’s Day] Waiting For You

do

Title          : Waiting For You

Author       : mekeyworld

Cast           : -Lee Donghae

-Park Kyurin

Genre        : The Reunion, Pain&Hurt

Rate            : G

 

 

 

Covering my eyes to listen to you

Shutting my eyes to imagine you

 

Seorang yeoja tersenyum manis ke namja di hadapannya, matanya bersinar turut tersenyum, menularkan kebahagiaan dan ketenangan.

 

“Kyurin-ah…” gumam namja itu pelan padanya. Kyurin melangkah memperkecil jarak dengannya.

 

“Donghae-ya~”

 

“Waeyo? Ada sesuatu yang menyenangkan?”

 

“Aku mendapatkannya!” sahut Kyurin dengan nada riangnya, Donghae mengerutkan keningnya dan menatap Kyurin lekat, meminta penjelasan. “Beasiswa! Aku bisa ke Oxford university, Hae-ya. Sungguh aku tak mengira aku akan mendapatkannya.”

 

“Jinja? Chukhae, kau pantas mendapatkannya Rin-ah.” Puji Donghae, tangannya mengusap pelan puncak kepalan sahabat kecilnya itu. “Kapan kau berangkat?”.

 

“Ya! Kau ingin aku segera pergi eo?”

 

“Hahahaha.. annia, aku hanya bertanya. Jadi kapan?”

 

“Minggu depan.”

 

Someday, we will meet again

 

Kyurin menunggu kedatangan pesawat yang akan membawannya ke tempat impiannya dengan gelisah. Orang yang dinantikannya tak kunjung datang.

 

Pesawat yang dinantinya telah tiba, para penumpang telah di panggil berkali-kali agar segera memasuki pesawat. Kyurin menunduk dalam-dalam, setidaknya sebelum kepergiannya ia ingin melihat senyumnya dan memeluknya. Dengan berat hati Kyurin beranjak dengan selalu menoleh kearah lobby utama, nihil.

 

Donghae berlari memasuki Lobby Incheon International Airport, tangannya dingin. Ia berharap tak terlambat sedetik pun. Namun harapannya telas pupus saat itu juga, pesawatnya telah lepas landas.

 

Lututnya seakan tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Dengan bodohnya ia melewatkan hal ini hanya karna sebuah masalah konyol.

 

“Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi, pada saat itu akan ku katakan segalanya padamu Rin-ah” batin Donghae. Setelah mengumpulkan kekuatannya ia pergi meninggalkan tempat itu.

 

 

3 Years Later

 

 

“O nan.. Nege jul su inneunge eobseo. Missing you Ttatteutan maldo motae. I missing you-I don’t have anything I can give you. Missing you. I can’t even give you loving words. I’m missing you-” Donghae bersenandung di sebuah taman tempatnya dan Kyurin bertemu pertama kali, lebih dari sepuluh tahun silam.

 

“Ya! Lee Donghae!. Apa yang kau lakukan disini?” seru salah seorang namja dari arah belakang. Donghae membalik badannya dan mendapati sahabatnya, eunhyuk sedang berjalan menghampirinya. Eunhyuk duduk di samping kanan Donghae, tangannya meraih gitar yang ada dipangkuan Donghae, dengan lincah jari-jarinya memetik senar gitar hingga tercipta nada-nada indah.

 

“Apa dia sudah menghubungimu?” Tanya Eunhyuk dengan mata yang terpejam menikmati nada yang diciptakannya dan semilir angin malam yang berhembus menerpa tubuh kurusnya. Donghae menggeleng, dan tersenyum pahit. “Lalu kenapa tidak kau saja yang menghubunginya? Kau tidak mungkin diam menunggu terus kan ,Lee Donghae?”.

 

“Menunggu bukan berarti diam. Ini sebuah proses berjalan, dan pasti ada batas akhirnya. Aku percaya itu, suatu saat ini akan berakhir, entah bagaimana akhir dari semua ini.”

 

“Proses apa? Ini sudah lebih dari 5 tahun sejak kau menyadari semuannya, Lee Donghae.”

 

“Mungkin Tuhan memberiku waktu untuk menjadi pria yang lebih baik untuknya nanti, mungkin saja.”

 

“Ya ya ya, mungkin saja. Tapi setidaknya kau berusaha, eo? Bukan begitu?”.

 

“Menurutmu, apa yang bisa kuusahakan?”

 

“Hmm.. menghampirinya mungkin, lalu mengatakan yang sejujurnya padanya. Itu jauh lebih baik dari pada melamun, dan memikirkannya setiap waktu disini.”

 

You are always faint to me
I’m the only one standing in place,
Not being able to take that first step
I’m always lingering around you like this,
Though you probably don’t know.

 

 

><><><><><><><><><>><><><><><><><>><><><><><><><><><><><><><><><><><><

 

 

Donghae POV

 

 

Disinilah aku sekarang, menantimu tanpa ada kepastian. Meski kupercaya ini adalah sebuah proses, tapi kenapa proses ini tak kunjung usai?, tanpa ada yang bisa kulakukan. Hanya menantimu yang kulakukan, mungkin Eunhyuk benar bahwa aku hanya diam disini, entahlah.

 

“Annyeong oppa, kenapa oppa ada disini? Tidak masuk?” sebuah suara lembut menyadarkanku dari lamunanku. Benar, kenapa aku bisa ada disini? Di depan rumahnya, dan memandang kearah kamarnya?.

 

“Annyeong ddo, Hyerin-ah. Kau baru pulang?”

 

“Ne, oppa masuklah.” Tawarnya, aku menurut dan mengekorinya memasuki kediaman keluarga Park. “Kau mau minum apa oppa?, akan kubuatkan”

 

“Anni, tidak perlu. Kau pasti lelah, istirahatlah. Aku ingin melihat kamar Kyurin, bolehkah?” tanyaku meminta ijin padanya, Hyerin tersenyum manis. Senyum yang sama seperti Kyurin. Kyurin, aku merindukanmu.

 

Aku menaiki tangga menuju ke lantai 2, dimana kamar Kyurin berada. Tanganku menggenggam knop pintu, dengan hati-hati aku memutarnya dan pintunya terbuka memperlihatkan sebuah ruangan yang di dominasi warna putih yang tenang, kamarnya.

 

Aku pernah kesini sebelumnya, tak sering memang. Tapi itulah yang membuatku mengingat setiap detik saat aku duduk disini, melontarkan canda dan tertawa bersama dengannya, dengan Eunhyuk juga tentunya. Kami bertiga telah lama bersahabat, aku mengenal Kyurin terlebih dahulu karna rumah kami yang tidak terlalu jauh. Berikutnya aku bersahabat dengan Eunhyuk, dan memperkenalkannya dengan Kyurin.

 

Tanganku meraih sebuah foto yang terbingkai rapi, di atas meja riasnya. Senyum itu, senyum itu juga terbingkai dengan rapi dihatiku. Melihat senyumnya adalah kebahagian terindah untukku.

 

Yang dapat kulakukan hanya menunggu, menunggunya kembali dan tersenyum padaku. Menyalurkan kehangatan dan ketenangannya padaku. Mendengarkan kisahnya yang tak pernah habis, meskipun aku tak pernah menanggapinya dengan baik, dan terkadang ia mengulangi hal yang sama, tapi itu tak pernah membuatku bosan.

 

“Sepertinya, eonnie ku sangat penting untukmu.” Suara Hyerin menyadarkanku. Segera kuhapus sisa airmata di pipiku-yang entah sejak kapan aku menangis-, dan menatap dirinya yang masih berdiri di ambang pintu.

 

“Nado oppa. Akupun juga sangat merindukannya. Entah apa yang dilakukannya sekarang, tapi semalam eonnie menelfon eomma dan mengatakan bulan depan ia mendapatkan hari liburnya. Bersabarlah sebentar lagi.” Lagi, Hyerin tersenyum padaku. Sungguh semakin membuatku merindukan Kyurin. Hyerin melangkah kearahku, dan menepuk bahuku.

 

“Oppa, mau mengantarkanku kesuatu tempat? aku harus mencari inspirasi. Kau juga pasti membutuhkan udara segar.”

 

“hmm, ida bagus. Kajja!”

 

Hyerin membawaku kesebuah tempat yang dulu sering kukunjungi dengan Kyurin. Sudah lama sekali sepertinya.

 

Sementara Hyerin melakukan apa yang ingin dilakukannya. Aku memejamkan mataku, menikmati hembusan angin musim semi, dan alunan musik yang mengalun merdu dari headphone yang kusambungkan dengan MP3 Player-ku.

 

Terbayang saat kami menghabiskan waktu ditempat yang sama, di padang bunga dandelion ini. Saat ia tersenyum secerah sinar matahari. Saat aku tertidur diantara hamparan rumput, dan ia membangunkanku karna ia merasa bosan. Saat aku menggenggam tangannya. Waktu seakan berputar kembali, aku terlalu merindukannya.

 

Mungkinkah saat kau kembali nanti, kau masih Kyurin-ku? Kyurin yang selalu tersenyum untukku, Kyurin yang selalu kubuat marah, mungkinkah senyum itu masih untukku?

 

Bahkan aku tak bisa berharap kalau kau akan menjadi milikku, tapi aku sangat merindukanmu. Jadi, aku menghindarinya. Namun, melebihi semua orang didunia ini, aku mencintaimu, meski aku tak dapat mengatakannya di hadapanmu. Tanpa ada kesempatan untuk mengutarakannya, dan sekarang kau sangat jauh dariku. Bagaikan memanggilmu, tapi tanpa kau dapat mendengarnya.

 

Jika tiba saatnya nanti, bisakah aku mengatakannya?, bisakah kau mendengarku?, tahukah kau jika aku disini menunggumu?, sepanjang tahun, selama aku masih bisa bernafas aku akan menunggumu. Tahukah kau aku sangat merindukanmu, tak bisa mendengar suaramu, tak dapat melihat senyummu, menyiksaku perlahan-lahan.

 

Ketika mataku terpejam, seperti waktu berputar begitu cepat. Melihat senyummu yang menyambutku, menggenggam tanganmu dan pergi bersamamu, sungguh seperti nyata. Tapi ketika membuka mataku, semuanya seakan menghilang, memudar, dan itu hanyalah mimpi, betapa aku merindukanya.

 

 

><><><><><><><><><>><><><><><><><>><><><><><><><><><><><><><><><><><><

 

AUTHOR POV

 

One Month Later (D-Day)

 

 

Seorang Gadis berbalut Mini dress berwarna putih tulang, melangkah pasti dengan senyuman yang merekah diwajah cantiknya. Setelah terhitung 3 tahun ia menimba ilmu di Negri orang, kini ia kembali, meskipun tak lama. Setidaknya ia dapat melepaskan bebannya, menemui seseorang yang selama ini begitu berharga untuknya.

 

“Aigoo~ anakku semakin cantik.” Puji seorang wanita paruh baya. Garis wajah merekapun mirip, cantik.

 

“Bogoshipo eomma.” Gadis itu segera masuk kedalam pelukan hangat seorang Ibu.

 

“Nado, Kyurin-ah. Apa kau senang disana? Menyenangkan eo? Sampai kau tak pernah pulang, untuk bertemu eomma.”

 

“Anni eomma, sungguh melelahkan. Mianhae aku tak sempat pulang hingga selama ini.” Sesal Kyurin. Masih didalam pelukan sang ibu, matanya mencari sosok yang sangat dirindukannya. Melihat itu Hyerin tersenyum, kemudian menarik eonnienya kedalam pelukannya.

 

“Siapa yang kau cari eonnie?” bisik Hyerin jahil, dan itu sontak membuat Kyurin kaget.

 

“Donghae oppa ada test hari ini. Berilah kejutan untuknya.” Lanjutnya, masih dengan nada yang sama. Mendengarnya, Kyurin tersenyum dan mulai menyusun rencananya.

 

 

><><><><><><><><><>><><><><><><><>><><><><><><><><><><><><><><><><><><

 

 

Somewhere Street. Seoul, South Korea.

 

 

Donghae sedang berjalan santai diselingi candaan dari Eunhyuk dan teman-temannya. Donghae menangkap siluet seorang gadis yang begitu dikenalnya, ia menghentikan langkahnya dan memperhatikannya dengan baik-baik, saat gadis itu menatap kearahnya dengan tersenyum, Donghae justru merasa bahwa ia sedang bermimpi.

 

Eunhyuk yang menyadari Donghae tidak mengikutinyapun, segera kembali menghampirinya dan mengikuti arah pandangnya. “Inikah akhir penantianmu? Semoga berhasil.” Bisiknya, kemudian menepuk bahu Donghae dan meninggalkannya disana.

 

Donghae masih diam ditempatnya. Benarkah itu dirinya?, Batinnya. Gadis yang sedari tadi beradu pandang dengannya, mulai berjalan kearahnya. Masih dengan senyum manisnya, ia melangkah dengan pasti setelah memastikan bahwa jalanan dalam keadaan aman.

 

 

In between the cracks of sunlight

In between the flowing white clouds

In between the blowing wind, you shine.

 

 

 

Mata indahnya menatap lurus ke Seorang namja yang selama ini telah mengisi hatinya. Sementara Donghae masih meyakinkan dirinya untuk membalas senyuman yang sangat dirindukannya itu.

 

 

 

CIIIITTTTT !!!

 

 

DDUUAAARRRR !!!!

 

 

Suara benturan benda tumpul terdengar begitu memekakkan telinga. Donghae mengerjapkan matanya berkali-kali. Apa yang baru saja terjadi di depan matanya sungguh tak pernah terlintas dipikirannya. Ini pertama kali untuknya melihat sebuah kecelakaan beruntun. Naas, orang yang sangat dicintainya terlibat dalam kecelakaan maut itu.

 

Eunhyuk yang mendengar keributan, sontak membalikkan badannya dan segera berlari menghampiri Kyurin yang terbaring lemah dan berlumurah darah. Dengan sigap pula ia menghubungi ambulance, dan segera mengamankan sahabatnya.

 

Sedangkan Donghae? Masih ditempat yang sama, tak bergerak sedikitpun. Hingga saat ia menyadari apa yang baru saja terjadi bukanlah bagian dari film action, lututnya melemah hingga iapun bersimpuh disana.

 

“Kyurin-ah~ apakah akan berakhir seperti ini? Andwae!” batin Donghae frustasi.

 

“Saat aku akan mengatakannya di hadapanmu, saat kesempatan itu ada di depan mataku. Kenapa terjadi hal yang sama sekali tak pernah terduga. Kyurin-ah~. Apa yang harus kulakukan?. Yang dapat kulakukan hanya melihat. Yang kulakukan hanya menunggu. Benarkah aku tak berguna?.” Hatinya menjerit. Ini saat yang sangat dinantinya. Air matanya mengalir, tanpa bisa mendekatinya, dan hanya dapat melihatnya dari kejauhan. Betapa sakitnya hatinya, melihat seseorang yang begitu dicintainya, terbaring berlumuran darah. Menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.

 

“Donghae-ya ppali kajja. Kita harus mengantarnya ke rumah sakit.” Ujar Eunhyuk, ia membantu Donghae berdiri kemudian menuju Rumah sakit.

 

Di ruang tunggu Ruang Gawat Darurat, Donghae sama sekali tak mengangkat kepalanya. Ia menenggelamkan kepalanya dalam-dalam, entah seperti apa perasaannya sekarang.

 

Keluarga Park yang baru saja tiba, langsung bertanya pada Eunhyuk apa yang telah terjadi pada putri sulungnya. Tapi Eunhyuk-pun juga tak begitu jelas bagaimana kejadiannya. Donghae lah yang melihatnya, tapi ketika melihat keadaanya. Mungkinkah mereka bertanya padanya?.

 

Seorang berjubah putih panjang, keluar dari ruangan dimana Kyurin berada. Mengetahui kedatangannya, semua yang ada disana-termasuk Donghae- segera berdiri dan menannyainya tentang gadis yang terbaring lemah disana. Namja yang dapat diterka umurnya sekitar 30 tahun itu, memasang ekspresi yang sungguh tak pernah diinginkan semua orang, ketika menunggu seseorang yang dikenalnya terbaring didalam sana.

 

“Kyurin-ssi kehilangan banyak darah, dan terjadi pendarahan di otaknya. Kami harus segera menjalankan operasi. Kuharap orang tua dari Kyurin-ssi dapat menemuiku di ruanganku untuk membicarakan hal ini.” Begitu penjelasan dari pria berjubah putih yang bisa di sebut dengan ‘Dokter’.

 

Setelah menimbang-nimbang keputusan yang terbaik. Akhirnya tim bedah siap menjalankan tugasnya. Menurut tim medis keberhasilan dari operasi ini hanya 2:5, entah apa yang akan terjadi setelah operasi usai nanti.

 

Waktu terasa begitu lama, sudah terhitung lebih dari 4 jam tak ada tanda-tanda operasi telah usai. Kenapa ini berlalu begitu lambat?.

 

Tepat menit ke 43 setelah 4 jam menunggu sebuah titik terang, akhirnya tim medis keluar dari medan perangnya, dan siap melaporkan apa yang telah mereka kerjakan.

 

“Operasinya berjalan dengan lancar. Tapi Kyurin-ssi masih belum juga sadarkan diri.”

 

“Bolehkah kami melihatnya uisa-nim?”

 

“Jwosonghamnida, kalian tak dapat melakukannya sekarang ini. Kami baru saja selesai membedah bagian terpenting tubuhnya, yaitu otak. Otak adalah tempat menyaring semua yang ia dapatkan. Otaknya membutuhkan penyesuaian, mungkin lusa kalian baru dapat menemuinya. Saya permisi.”

 

“Permisi, kami dari kepolisian Seoul. Apakah ada saksi mata, dalam kecelakaan nona Park?” seseorang bertubuh tinggi tegap hadir diantara mereka. Dengan segenap kekuatan yang tersisa Donghae berdiri, dan menyatakan bahwa dirinya melihat secara keseluruhan.

 

“Apakah dia baik-baik saja?” gumam Nyonya Park saat melihat punggung Donghae menjauh.

 

“Gwenchana Ahjumma. Donghae bukan namja yang lemah.”sahut Eunhyuk.

 

 

 

><><><><><><><><><>><><><><><><><>><><><><><><><><><><><><><><><><><><

 

 

 

Donghae, berdiri didepan kaca besar. Satu-satunya celah dimana ia dapat melihat tubuh lemah Kyurin.

 

“Kyurin-ah, yang dapat kulakukan hanya melihat, dan menunggu. Kembalilah aku masih menunggumu disini.” Batin Donghae. Matanya mengalirkan sebutir cairan bening.

 

“Donghae-ya.” Lirih Eunhyuk yang kini telah berada tepat disamping kanannya. Tangannya menepuk-nepuk bahu Donghae, memberi kekuatan. “Dia pasti akan kembali. Kyurin tak akan mengecewakanmu.”

 

“Kau tahu Hyuk? Aku akan menunggunya hingga waktu berhenti.” Jawab Donghae pasti.

 

 

The words I want to say In front of you

The words I couldn’t say

Without the chance to say them

You left me alone in this place

All I can do is watch

All I can do is hold on

And wait for you here.

 

 

“Ahh, Donghae-ssi. Kau sudah tiba rupaya? Setelah kupastikan keadaannya, sekarang kau boleh melihatnya.” Ujar Dokter yang baru saja keluar dari pembaringan Kyurin.

 

“Kamsahamnida uisa-nim.” Sahut Eunhyuk, kemudian mengikuti Donghae yang sudah sedari tadi memasuki ruangannya.

 

“Kyurin-ah, aku disini. Aku ada disini Rin-ah, bangunlah. Bukalah matamu, aku merindukanmu. Sangat. Aku telah sampai pada titik ini, aku tak akan berhenti Rin-ah. Aku masih terus menunggumu kembali padaku.” Batin Donghae. Tangannya menggenggam erat telapak tangan putih pucat Kyurin.

 

Matahari telah berganti tugas dengan bulan. Donghae masih terjaga disisi Kyurin, bagaikan tak mengenal lelah. Semuanya telah membujuknya untuk pulang dan mendapatkan istirahat yang cukup. Tapi tak satupun yang berhasil membujuknya.

 

Menjadi orang pertama yang dilihat Kyurin adalah tekadnya. Menunggu Kyurin adalah buktinya. Kyurin sedang berusaha membuka matanya dan melihat Donghae.

 

Perlahan tapi pasti Kyurin membuka matanya, hidungnya mencium aroma khas rumah sakit. Meskipun hanya 4 hari totalnya koma, badannya serasa kaku. Donghae yang tertidur di sisi kanan ranjangnya, sangat dikenalinya. Kyurin mencoba mengangkat tangan kanannya dan mengelus puncak kepala Donghae.

 

Donghae membuka matanya perlahan dan mengerjapkan matanya beberapa kali, setelah itu ia menegakkan punggungnya dan mendapati sebuah senyum terukir dengan indah di wajah cantik Kyurin.

 

“Kyurin-ah.” Gumamnya pelan, dan dibalas dengan anggukan lemah oleh Kyurin. Donghae segera memanggil dokter, dan keluarga Kyurin yang sedang makan malam, di café rumah sakit.

 

“Ini keajaiban, sebelumnya belum ada pasien yang dapat melewati masa kritisnya secepat ini. Apalagi keadaannya yang naik pesat. Ini sebuah keajaiban. Selamat.” Ujar sang Dokter. Semua yang mendengarnya sangat bahagia, mereka bergantian melihat keadaan Kyurin.

 

Hari demi hari berlalu begitu menyenangkan. Meski Kyurin belum sepenuhnya pulih, dan masih harus bermalam di rumah sakit, dan Donghae masih senantiasa disisinya. Donghae masih menimbang-nimbang perkataannya. Menurutnya bukan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya disaat seperti ini, masih menunggu kesempatan yang tepat.

 

“Hae-ya, temani aku jalan-jalan.” Pinta Kyurin. Donghae tersenyum dan segera membantunya duduk di kursi roda. Setelah memastikan Kyurin duduk dengan nyaman, Donghae mendorongnya dari belakang.

 

“Kau mau kemana Rin-ah?” Tanya Donghae lembut.

 

“Sepertinya ke taman menyenangkan.” Setelah mendengarnya, Donghae segera mendorong kursi roda menuju taman, yang terdapat di halaman belakang Rumah Sakit tersebut.

 

“Cuaca hari ini sangat bagus.”

 

“Donghae-ya. Apa tidak ada yang ingin kau kataakan padaku?”

 

“Hmm? Apa maksudmu Rin-ah?”

 

“Kau… menungguku kan?, tidak ada kah yang ingin kau katakan? Sejak aku sadar kau hanya diam, kalaupun berbicara kau hanya menanyakan keadaanku saja.”

 

“Igeo… aku hanya tak tahu harus memulainya dari mana.” Donghae menundukkan kepalanya. Tangan Kyurin bergerak mendekati tangan Donghae yang menggantung disisi badannya. Kyurin menggenggam erat tangan Donghae, sama seperti yang dilakukan Donghae selama ia koma.

 

“Aku menunggumu Hae-ya.”

 

Donghae manarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskan nafas beratnya.

 

“Tak ada yang bisa kulakukan untukmu Kyurin-ah. Yang kulakukan hanya melihat dan menunggu, aku tak berguna Rin-ah. Sudah lama aku ingin mengatakannya, bahwa aku mencintaimu, alasanku menunggumu selama ini adalah karna aku mencintaimu. Tapi aku terlalu pengecut untuk bersanding denganmu. Aku telah memikirkannya. Kyurin-ah…… jangan pernah membalas cintaku, dan anggaplah kau tak pernah mendengarnya.”

 

I’m holding back, eventhough it hurts

Even tears are luxury for me

I don’t even have the right to look at you

Don’t look at me.

 

“Waeyo Hae-ya? Aku juga menunggumu mengatakannya.”

 

“Aku tak dapat menjagamu Rin-ah. Aku tak pernah melakukan sesuatu yang berarti. Lupakanlah.”

 

“Anni, kau telah melakukan yang terbaik selama ini Hae-ya. Menungguku, selalu ada di sisiku. Kau telah melakukan yang terbaik.. dan aku juga mencintaimu Hae-ya.”

 

“Andwae Rin-ah. Jebal andwae.”

 

“Waeyo?? Lee Donghae! Nan bwa bwa!! (lihat aku!) kenapa aku tak boleh mencintaimu? Wae?! Daedaphae?! (jawab) akhh-” Kyurin memegang kepalanya yang terasa begitu sakit. Mungkinkah karna ia berbicara terlalu keras?.

 

“Rin-ah, gwenchanayo? Sudahlah, lupakanlah. Kumohon jangan seperti ini, ini akan menyiksamu.”

 

“Daedaphaejwo Donghae-ya” lirih Kyuri. Mata sayu nya menatap lekat tepat di mutiara hitam Donghae. Donghae memejamkan matanya sebentar dan mengambil nafas dalam.

 

“Dengarkan aku, lupakan semua ini. Anggaplah kau tak pernah mendengarnya. Kita kembali ke kamarmu sekarang.”

 

Donghae membawa Kyurin kembali kekemarnya, dan segera memanggil dokter. Kyurin tak henti-hentinya merintih kesakitan. Tim medis memberinya suntikan penenang dan segera melanjutkan pemeriksaan.

 

15 menit berlalu dan tim medis baru saja meninggalkan ruangan, setelah memberikan kabar terbaru Kyurin.

 

“maafkan kami, kami telah melakukan sebisa kami. Ini bukan kehendak kami.” Ujar perwakilan tim medis beberapa waktu lalu, kepada semua orang yang menanti Kyurin. Nyonya Park sontak menjerit dan menangis, Hyerin dan Tuan Park yang tak kalah kalud mencoba menenangkan Nyonya Park. Donghae hanya mampu menelan ludahnya saat perkataan itu diakhiri.

 

“Akhirnya ini semua berakhir, inilah akhir penantian panjangku. Aku tetap akan menerimanya. Selamat tinggal Park Kyurin. Sampai jumpa dikehidupan berikutnya. Terima kasih atas segala kenangan yang tak kan pernah bisa kulupakan.”

 

I Know that my heart is wherever you are.

You are always in the same place of my heart.

Thank you for the unforgettable memories,

I always love You, Park Kyurin.

 

 

 

~FIN~

 

1 Comment (+add yours?)

  1. memey
    Oct 22, 2015 @ 23:14:48

    Jadi kyurinya meninggal ? Lah donghae oppanya ottokhaee huweee 😭 baguss ceritanya bagusan lagi kalo ada sequelnya thor 😄😄

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: