[Eunhyuk’s Day] Birthday Kiss From Los Angeles

Eunhyuk (3)

.

.

“The only thing I really know how to do is being myself, and sometimes I fuck that up too, Hyukjae.”

.

.

 

Los Angeles

Southern California

California, America.

 

HAN CHEONSA menutup pintu apartemen mereka dengan satu kakinya, dan satu tanganya berusaha untuk menemukan saklar lampu. Dia berjalan kearah pantry dapur, mengambil satu kaleng Mountain Dew dari lemari pendingin—hanya untuk menemukan tulisan tangan Heechul yang menempel di antara magnet kulkas berbentuk kucing hitam dan lambang ikonik Hollywood.

‘Out for killing spree in Malibu, be back for business in short time.—Heechul.’

Si sialan Heechul sepertinya selalu berhasil untuk meliburkan dirinya sendiri ketika pekerjaan mereka menumpuk. Dia duduk di atas pantry dapur dengan satu tangan meneguk kaleng Mountain Dew hingga habis. Satu tanganya menekan tombol voicemail di pesawat telefon yang sudah di penuhi oleh coretan tangan Hyukjae, tentang setiap nomor penting yang seharusnya dia catat di dalam buku alamatnya.

“Hai, it’s me Tablo. If anyone hear—well, Hyukjae aku tidak bisa mengubungimu. Mafia kartel narkotika dari Sacramento ingin menyewa kita untuk mengamankan selundupan heroinya yang akan melewati pelabuhan Puerto Rico. Hubungi aku jika tertarik.”

Dia membiarkan voicemail itu terus memutar pesan masuk yang lain, dia memejamkan matanya. Hari yang melelahkan, bahkan untuk seorang wanita psikopat seperti dirinya. Pagi tadi dia berada di San Diego untuk membunuh seorang mata-mata yang diselundupkan oleh pejabat penting disana, lalu siangnya dia sudah menuju ke San Francisco untuk menyelesaikan tahap akhir dari renovasi apartemen milik Lee Donghae—seorang polisi yang mempunyai kepribadian menarik dan terobsesi untuk menelanjanginya di atas ranjang.

Dan kini dia berhasil kembali ke apartemenya, walaupun dia harus menemukan apartemen itu dalam kondisi kosong karena Heechul sedang menikmati waktunya di Malibu dan Hyukjae mungkin kini tengah berada di atas kapal dengan selundupan heroinya mengarungi perairan Meksiko.

“Hey, ini aku—Donghae—Lee Donghae. Jika kalian mendengar pesan ini, apakah Cheonsa sudah sampai dengan selamat? Karena dia mengemudi dalam kondisi tidak baik, juga karena aku tidak memiliki nomornya—Well Cheonsa, hubungi aku jika kau sudah berada di rumah.”

Suara Donghae bergema di dalam pesawat telefon itu. Benar bukan, apa yang dia bilang ketika dia berkata bahwa polisi itu memiliki kepribadian yang menarik? Donghae akan selalu mencemaskanya seperti seorang remaja yang khawatir bahwa kekasihnya tidak akan kembali dalam acara summer camp di musim panas.

“Cheonsa? Hyukjae? Are you home? Are you there?—Apakah kalian baik-baik saja?”

Mendengar suara cemas Heechul di kotak suara membuat Cheonsa membuka matanya dengan lebar, ini bukanlah sifat Heechul yang biasa—Heechul tidak pernah bertanya apa mereka baik-baik saja, apalagi pria gila itu kini sedang menikmati hangatnya matahari dari pantai Malibu.

“Kalian masih ingat Dean? Bos narkotika yang menyuruh kita untuk membunuh salah satu pengedarnya di Seattle sekitar tiga minggu yang lalu?”

Suara Heechul masih terputar disana, Cheonsa merasakan nafasnya sedikit terhentak ketika mendengar nama Dean disana.

“Salah satu anak buahnya yang bernama Yunho, baru saja menghubungiku—Dean mencari Cheonsa. Apa yang terjadi? Bisa kalian jelaskan mengapa Dean mencari Cheonsa?—Hubungi aku secepatnya setelah kalian menerima pesan ini.”

Cheonsa menekan tombol itu dengan cepat, dan ruangan itu kembali sunyi. Dean sedang mencarinya—dia telah mengetahui bahwa Taeyong masih berada di luar sana. Dean telah mengetahui bahwa Cheonsa membiarkan salah satu pengedarnya hidup. Dan ini bukanlah hal yang bagus, untuk dirinya maupun Taeyong.

“I know you didn’t kill Taeyong,” Hyukjae berdiri disana dengan tatapan datarnya, dia menatap Cheonsa yang masih menggenggam kaleng Mountain Dew nya yang sudah kosong.

“Siang tadi ada beberapa orang mencarimu—mereka berkata kau membuat Dean gusar, dan itu bukanlah hal yang bagus karena kau baru saja membuat ketua jaringan mafia yang berada di Seatlle geram.” Suara Hyukjae tidak menghakimi, dia bahkan tidak terlihat marah dengan apa yang dilakukan Cheonsa.

“Fuck you. Fuck this Han Cheonsa.” Kali ini suaranya sedikit meninggi, dia mengumpat beberapa kali sebelum menatap partner in crime nya tersebut.

“Kau tidak bisa membunuhnya karena kau menemukan Lee Donghae di dalam dirinya? Apakah si polisi brengsek itu tahu bahwa beban moralnya membuatmu kini menjadi incaran mafia narkotika paling berbahaya di Amerika?” suaranya semakin meninggi, rahangnya mengeras ketika menyebutkan polisi brengsek di dalam kalimatnya.

Jangan tanya darimana dia tahu bahwa alasan Cheonsa tidak membunuh Taeyong, karena wanita psikopat itu teringat dengan sosok Lee Donghae. Hyukjae bahkan bisa menebaknya ketika melihat tatapan buas Cheonsa berubah menjadi tatapan seekor kucing jinak yang memakan Whiskas di atas karpet beludru yang nyaman, setiap kali dia mendengar nama Lee Donghae.

Dia telah mengenal Cheonsa lebih dari dia mengenal dirinya sendiri. Dia tahu apa yang wanita itu sukai, dan apa yang tidak dia sukai—dan sepertinya Lee Donghae termasuk ke dalam hal yang wanita itu sukai.

“Kau bisa kembali ke San Francisco sekarang, dan meminta perlindungan kepada polisi brengsek itu—Well, bukankah itu memang tugasnya? Melindungi dan mengayomi setiap orang yang membutuhkan pertolonganya?” Hyukjae mengucapkanya dengan sarkastik, jika Heechul berada disini, dia yakin bahwa Heechul akan mengkategorikan ini sebagai pertengkaran terbesar dan terserius yang pernah terjadi di antara dia dan Cheonsa.

“Maafkan aku—akhir-akhir ini aku memang tak bersikap seperti diriku. Kau benar, si polisi brengsek itu akan melindungiku. Tapi aku tidak membutuhkanya, aku tidak membutuhkan polisi brengsek itu.” Suaranya tidak pernah terdengar selemah ini, dia bahkan tidak tahu sejak kapan persahabatanya dengan Hyukjae berubah menjadi sedingin ini.

“The only thing I really know how to do is being myself, and sometimes I fuck that up too, Hyukjae.” Cheonsa berkata dengan sangat tenang, untuk seukuran orang yang mungkin akan terbunuh dalam hitungan jam—dia sangat tenang.

“Aku akan mengambil pesawat pertama ke Seattle—untuk bertemu Dean. Mungkin aku akan kembali dalam beberapa hari—“

“Atau mungkin kau tidak akan pernah kembali.” Potong Hyukjae dengan singkat, dia maupun Cheonsa tahu bahwa wanita itu tidak akan pernah kembali dari sana—mungkin Cheonsa akan kembali tapi di dalam kantung jenazah.

Dia menatap Cheonsa yang sudah mengambil jaketnya dan tas kecil yang tadi dibawanya ke San Diego. Hyukjae menundukan wajahnya, mengumpat dengan kasar beberapa kali sebelum menatapnya lagi.

“Aku tidak akan pernah membiarkanmu terbunuh.” Dia menarik tangan Cheonsa dari sana, dan membawanya ke atas sofa.

“Aku tidak akan membiarkanmu terbunuh di malam ulang tahunmu.” Suaranya kini terdengar lebih rendah, Cheonsa menatap Hyukjae untuk beberapa saat sebelum dia menarik nafasnya ketika menyadari bahwa malam ini adalah malam ulang tahunya.

“Kau tahu bahwa kau adalah manusia psikopat bodoh brengsek?” tanya Hyukjae dengan kedua tangan yang masih berada di bahu Cheonsa. Wanita itu hanya mengangguk, tidak memberontak atau mengeluarkan pisau lipatnya seperti biasa.

“Kau tidak akan pernah ke Seattle, aku akan menjagamu disini.—Dan jika sesuatu yang buruk terjadi, aku akan tidak akan pernah meninggalkanmu.” Hyukjae menatap wajah Cheonsa yang masih tidak ber-reaksi.

“Oh! Sudahlah kau terlalu bodoh untuk mengetahui apa inti dari pembicaraan ini. Aku membelikanmu kue tart di meja makan, kau bisa meniup lilinya sendiri. Selamat ulang tahun pembunuh bayaran yang sudah tidak bisa membunuh lagi. Selamat malam.” Ucap Hyukjae tetap dengan sarkastik yang tinggi.

Dia berjalan kearah kamarnya dengan kesal—tapi langkahnya terhenti ketika Cheonsa menahan tanganya.

Dan ciuman lembut itu menyentuh bibirnya. Han Cheonsa kini mencium bibirnya dengan lembut, sebuah ciuman yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Sebuah ciuman dari wanita yang selalu dia anggap sebagai wanita terlarang yang tidak boleh dicintainya, hanya karena mereka bersahabat.

Cheonsa melepaskan bibirnya dari bibir Hyukjae. Dia menatap Hyukjae dengan senyuman puasnya.

“Itu adalah ucapan terima kasih untuk kue tartnya dan lilin yang harus aku tiup sendiri. Semoga kau tidak berharap bahwa aku akan tampil telanjang di dalam mimpimu. Selamat malam, Hyukjae.” Bisiknya di ikuti sebuah kecupan singkat di sudut bibirnya.

Hyukjae menatap Cheonsa yang kini sudah berjalan tenang dengan lilin ulang tahun yang berada di tanganya. Satu menit yang lalu mereka bertengkar dengan hebat, dan satu menit kemudian wanita itu sudah menciumnya dengan lembut, dan sekarang wanita itu meninggalkanya begitu saja seperti tidak ada yang terjadi.

“Oh—dia benar-benar membuatku ingin membunuhnya sekaligus menelanjanginya.” Bisik Hyukjae dengan kesal—di ikuti sebuah senyuman kecil bahwa Han Cheonsa baru saja menciumnya.

Di malam ulang tahunya.

.

.

.

-END OF BIRTHDAY KISS FROM LOS ANGELES-

 

.

.

.

 

 

xo

IJaggys

 

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. Han Maeri
    Nov 05, 2015 @ 15:04:20

    Pembunuh bayaran??? WOW!!! Ini yang gue bilang tentang extraordinary dalam setiap tulisan Ijaggys.

    Beruntungnya dirimu, Han berada di antara para lelaki Lee.

    Waktu berdamainya itu pas banget. Ahh, sudahlah habis kata-kata saya.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: