[Donghae’s Day] Silluete

Silluete

 doo

 

Author                        : Prilly Priskylia

Main cast      : Lee Donghae Super Junior and Cho Gaeun (OC)

Genre             : mad and romance

Rating                        : PG-13

 

 

 

 

Gaeun POV

 

Ah, akhirnya selesai juga,” kataku puas sambil melihat setumpuk file yang siap untuk diserahkan kepada penyunting besok. Akhir-akhir ini aku sering lembur karena banyak artikel yang harus diperbaiki. Aku memang tidak berbakat dalam hal tulis menulis. Entah apa yang membuatku memutuskan untuk bekerja di majalah “Urban“. Takdir? Ya, kurasa itulah alasannya.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku segera berkemas dan bersiap untuk pulang. Kulemparkan pandangan ke seluruh ruangan. Gelap. “Ah, aku benci gelap,” kataku seraya menyambar tas kecil milikku.

“Wanita itu masih seperti anak kecil saja. Takut gelap,” kata seorang wanita beraksen Jepang dengan setengah berbisik.

“Oh my God. Did you know? She is a weak girl. Not only weak but also freak. I hate everything which she does. Oh, forget it,” kata seorang wanita lainnya menimpali.

Aku terus berjalan meninggalkan tempat ini. Tak mau lagi mendengarkan suara-suara itu, kuputuskan untuk menyumpal telingaku dengan headset. Segera kupercepat langkahku meninggalkan gedung tempatku bekerja. Ah, lega rasanya bila sudah berada di tempat yang terang. Aku menyusuri tepi jalanan kota Seoul yang lengang sambil menikmati alunan lagu dari Jessie. J. Aliran musik yang enak didengar dan suara Jessie. J yang merdu membuatku jatuh hati pada penyanyi yang satu ini. Yah, walaupun aku tidak begitu mengerti dengan syair lagunya karena aku tidak pandai dalam berbahasa Inggris. Tapi, bukankah itu kekuatan musik?

BRUK…

Hey! Kalau jalan hati-hati. Lihat ini! Bajuku jadi kotor,” cerca seorang gadis padaku setelah mengetahui bajunya menjadi kotor terkena tumpahan es krim. Dan akulah yang tidak sengaja menabraknya tadi. “Mianhae[1]. Gwaenchanhayo[2]?” tanyaku sembari membersihkan bajunya dengan menggunakan tisu.

Laki-laki paruh baya yang ada di sebelah gadis itu mendekat dan membentakku,               “Hey! Kau tahu, aku baru saja membelikannya baju ini. Dan sekarang karena ulahmu, baju ini jadi rusak. Kau harus menggantinya!” Tercium aroma alkohol dari mulutnya. Ya ampun, sungguh hari yang menyebalkan. Aku takut sekali dengan orang mabuk. Dia bisa melakukan apapun padaku. Eottohkajo[3]?

“Oh God. What a pity she is. She can’t do anything, right?” ejek seorang wanita yang diam-diam melihat kejadian itu.

“Kurasa kau benar. Lalu?” tanya wanita berlogat Jepang.

“Look! And you’ll know it.”

 

 

****

 

 

Author POV

 

Setelah berhasil keluar dari permasalahan kecil yang menimpanya tadi, Gaeun melangkahkan kakinya menuju sebuah cafe. Ia mengambil tempat duduk di dekat jendela dan meneguk tequila yang telah ia pesan sebelumnya. “Cih, dasar laki-laki. Apa ia pikir dengan membentak seorang wanita dia akan menjadi makhluk yang ditakuti? umpat Gaeun pada laki-laki mabuk yang baru saja berurusan dengannya. Sejak dulu Gaeun sangat membenci laki-laki yang semena-mena terhadap perempuan. Itu semua karena kenangan buruk yang sampai saat ini masih melekat di otaknya. Perlahan, kenangan itu bermunculan kembali. Gaeun meneguk tequila nya lagi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat dan berharap kenangan itu tidak muncul kembali.

Nuna[4], café nya akan tutup. Nuna… Nuna…” seorang pelayan mencoba membangunkan Gaeun yang sedang mabuk. “Ah, selalu saja. Mengapa orang mabuk susah sekali dibangunkan?” keluh pelayan itu.

Hyung[5], wae[6]?” tanya Donghae pada pelayan yang ia panggil hyung itu. “Bisakah kau membantuku untuk membangunkannya?” tanyanya. “Ne[7]. Serahkan padaku,” kata Donghae seraya menepuk dadanya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Gaeun dan menatapnya dengan tatapan gadis-macam-apa-ini.

Nuna… Nuna… Bangunlah!” Donghae berusaha membangunkannya dengan mengguncang-guncangkan bahu Gaeun. Merasa terganggu, akhirnya Gaeun pun bangun. “Yak! What are you doing here? Don’t bother me!” titah Gaeun. “Nuna, mianhae. Café akan kami tutup, jadi bisakah…” Pelayan itu belum menyelesaikan kalimatnya namun Gaeun sudah memotongnya. “Yes Sir! I know and I’ll go right now,” Gaeun segera bangkit dan berjalan namun tubuhnya kembali oleng dan ia pun terjatuh. Donghae segera menolongnya untuk berdiri. “Nuna, gwaenchanhayo?” Tidak ada respon dari Gaeun membuat Donghae memutuskan untuk mengantarnya pulang. Walaupun tindakan ini tidak sopan, tapi Donghae terpaksa menggeledah dompet Gaeun untuk menemukan identitasnya. Setelah menemukan apa yang ia cari, Donghae pun menggendong Gaeun dan mengantarkannya pulang.

 

 

****

 

 

Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela kamar Gaeun membuatnya terbangun. Gaeun mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke retinanya. “Oh, sudah pagi rupanya.” Gaeun mencoba bangkit tapi kepalanya terasa begitu berat. “Auw, kepalaku pusing sekali!” Dengan langkah yang terseok-seok Gaeun masuk ke kamar mandi dan menemukan dirinya masih memakai baju kerja. “Hah?! Kenapa aku masih memakai baju kerja dan kenapa tubuhku penuh dengan bau alkohol? Tidak biasanya aku seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam?” Gaeun mencoba mengingat-ingat. Namun hasilnya nihil. “Sudahlah, sebaiknya aku bergegas berangkat ke kantor.”

 

 

****

 

 

“Gaeun, artikelmu kuterima.” Mendengar kalimat yang meluncur dari mulut penyunting membuat senyum Gaeun mengembang. “Tapi jangan senang dulu! Artikel yang kau buat ini tidak sebagus artikelmu di edisi kemarin. Ingat, sebagai penulis kau harus bisa konsisten dalam membuat tulisan. Jangan kadang bagus kadang jelek.” Nasihat ini disambut anggukan mantap dari Gaeun. “Ne. Arrasseo[8].”

“Untuk edisi berikutnya kau kutugaskan untuk membuat artikel tentang musisi café,” kata penyunting tanpa banyak basa-basi. “Musisi café?” tanya Gaeun memperjelas. “Ya benar. Saat ini banyak sekali musisi café yang masuk industri hiburan. Jadi buatlah artikel tentang hal itu. Kutunggu hasilnya empat hari lagi.”

 

 

****

Gaeun POV

 

Gaeun, artikelmu kuterima.” Sebaris kalimat itu berhasil membuat kakiku seakan tidak menginjak bumi lagi. Rasanya aku ingin sekali berteriak dan membagi kebahagiaan ini. Tapi pada siapa? Sesampainya di luar ruangan penyunting, belasan tatapan mata aneh menghujamiku. Tatapan mata itu seolah-olah mengatakan kebencian. Ya,selama tiga bulan bekerja di sini aku sama sekali tidak memiliki teman. Hey, mengapa aku harus bersedih? Bukankah hal ini sudah biasa kau alami hah?! Ayolah Gaeun, semua mata menatapmu sekarang. Uljima[9].

 

 

****

 

 

Author POV

 

Langkah Gaeun berhenti di depan sebuah café bernuansa Paris yang bernama “Je t’aime”. Tempat ini seperti tak asing lagi baginya. Tanpa pikir panjang ia pun segera masuk ke dalam.

Annyeonghasseo[10], bisakah aku menemui penyanyi itu?” Gaeun menunjuk seorang penyanyi pria yang sedang “bergulat” dengan gitarnya di atas panggung. “Oh, kau pasti mau berterima kasih padanya ya?” tebak pelayan yang tempo hari menolong Gaeun yang sedang mabuk. “Berterima kasih? Berterima kasih untuk apa?” Terlihat raut wajah Gaeun kebingungan. “Aish, kau tidak ingat? Kemarin malam kau mabuk dan Donghaelah yang mengantarmu pulang,” pelayan itu menjelaskan seraya menunjuk penyanyi itu. “Mwo[11]? Aku mabuk?” Pelayan itu tidak menjawab pertanyaan dari Gaeun. Ia malah melambaikan tangan pada Donghae saat ia turun dari panggung.

Hyung, wae? Ah, kau nuna. Bagaimana keadaanmu? Kepalamu sudah tidak sakit lagi kan?” tanya Donghae bertubi-tubi. Mendengar sederet pertanyaan yang meluncur bebas dari mulut seorang namja[12] yang baru saja dikenalnya itu membuat Gaeun semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya kemarin malam. “Aku mabuk? Menyentuh minuman beralkohol saja tidak pernah. Bagaimana aku bisa mabuk?” batin Gaeun.

HeyGwaenchanhanayo?” Donghae menggerak-gerakkan tangannya tepat di depan wajah Gaeun. Ia mencoba menarik kembali kesadaran gadis itu. “AhNe. Oh ya, perkenalkan, aku Gaeun dari majalah “Urban”. Aku ingin mewawancaraimu untuk artikel edisi minggu depan. Apa kau bersedia?”

 

 

****

 

 

Hari ini Gaeun benar-benar penat. Tenaganya terkuras untuk menyelesaikan artikel yang sudah entah berapa kali mengalami revisi. Sudah diputuskan, ia akan menikmati secangkir hot chocolate di “Je t’aime”, café yang beberapa hari lalu dikunjunginya. Tujuan lain gadis berambut ikal itu datang ke sana adalah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam di mana ia mabuk.

Gaeun memosisikan tubuhnya senyaman mungkin di tempat duduk. Ia sengaja memilih untuk duduk di dekat jendela. Café ini dikelilingi oleh jendela yang memungkinkan pengunjungnya melihat dengan bebas ke luar ruangan. Lampu-lampu jalanan kota Seoul menyuguhkan pemandangan indah yang dapat dinikmati pengunjung dari dalam café.

Baru saja Gaeun menyesap secangkir hot chocolate miliknya, seorang namja yang ia kenal bernama Donghae menghampirinya dengan sedikit berlari. Tentu saja hal ini membuat Gaeun tersentak kaget. “Donghae ssi[13]. Ada apa?” tanya Gaeun. “Nuna, bisakah kau menolongku? Jebal[14],” pinta Donghae seraya mengatupkan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar memohon pada Gaeun untuk mengabulkan permintaannya itu. “Eh…” Gaeun yang masih kebingungan tidak sempat memberikan jawaban karena Donghae sudah memaksanya lagi. “Nuna, jebal. Sudah tidak ada waktu lagi. Kau hanya perlu berpura-pura menjadi pacarku. Oke?”

Seorang wanita berparas cantik datang menghampiri mereka. Rambut hitam panjang yang tegerai membuatnya tampak sensual. Melihat jarak wanita itu semakin mendekat, Donghae segera menggamit tubuh Gaeun erat. Gaeun pun tak bisa melepaskan diri. Donghae mendekatkan bibirnya ke telinga Gaeun. Bila dilihat dari kejauhan seolah-olah Donghae sedang mencium Gaeun, padahal ia sedang membisikkan sesuatu padanya.

Nuna, bisakah kau bertingkah wajar seperti layaknya orang berpacaran? Wajahmu tampak merah. Kalau seperti ini kita bisa ketahuan.” Mendengar Donghae berkata seperti itu malah membuat wajah Gaeun semakin memerah. Bagaimana tidak? Kini ia sedang berada sangat dekat dengan seorang namja yang tampan. Tidak ada jarak lagi antara tubuhnya dengan Donghae. Bahkan ia bisa merasakan deru nafas Donghae yang mengenai telinganya. Gaeun pun mengatur nafasnya, mencoba tenang dan melakukan perannya sebaik mungkin, walaupun ia terlihat sangat kikuk.

Kini wanita itu telah berada di depan mereka. Donghae berpura-pura sedang menikmati kebersamaannya dengan Gaeun. Seolah tidak menyadari kalau Minra sedang menatap mereka dengan nanar saat ini. “Donghae ah[15]! A… Apa yang sedang kau lakukan dengan wanita ini?” Donghae tidak menjawab, ia malah mempererat pelukan di tubuh Gaeun. “Donghae! Jawab!” Emosi Minra memuncak. “Menurutmu apa yang sedang kulakukan?” Pertanyaan retoris ini berhasil membuat Minra menangis. “Donghae ah mengapa kau tega melakukan ini padaku? Padahal aku sangat mencintaimu,” kata Minra.

“Lalu, mengapa kau tetap mencintaiku sedangkan kau sendiri tahu kalau aku sama sekali tidak menyukaimu?” Donghae balik bertanya. “Setelah apa yang kulakukan padamu, tidak ada alasan bagimu untuk menolakku. Kau harus menjadi milikku!” Minra mendorong tubuh Gaeun sekuat tenaga untuk memisahkannya dengan Donghae. Kontan saja Gaeun terjatuh. “Yak! Apa yang kau lakukan Minra?” Donghae segera membantu Gaeun untuk berdiri. Gaeun yang sedari tadi hanya diam mendengar perdebatan antara mereka berdua, kini angkat bicara.

“Minra ssi. Aku tahu, seharusnya aku tidak mencampuri urusan kalian berdua. Tapi aku harus mengatakan hal ini. Tidak selayaknya seorang wanita memaksakan diri untuk memiliki seorang pria. Apa lagi pria itu sudah memiliki kekasih sekarang. Kau bebas mencintai siapa saja. Bukankah itu hakmu? Aku yakin Donghae mengerti untuk hal yang satu itu, dan karena itulah kau seharusnya juga menghormati setiap keputusan yang Donghae ambil. Setiap orang pasti menginginkan menjalani hubungan yang dilandasi dengan cinta bukan paksaan. Aku rasa kau juga menginginkan hal itu,” jelas Gaeun tanpa emosi. Minra pun tertunduk lemah. Ia menangis menyadari tindakan bodohnya selama ini. Dan tanpa sepatah kata ia meninggalkan Donghae dan berjalan ke luar café.

Donghae sendiri kaget mendengar penjelasan dari Gaeun yang berhasil membuatnya terbebas dari masalah ini. “Nuna… Kamsahamnida[16]. Huft, akhirnya aku bisa keluar dari masalah ini. Kau benar-benar hebat nuna! Donghae mengacungkan kedua jempol tangannya dan tersenyum hingga membuat deretan gigi putihnya terlihat. Sedangkan yang dipuji hanya tersenyum. “Apa aku benar-benar sehebat itu?” tanya Gaeun.

“Sungguh. Aktingmu benar-benar bagus. Aku saja tidak menyangka kau akan berkata seperti itu. Ah, aku menyesal mengapa tidak dari dulu aku bertemu denganmu? Kalau tahu hal ini akan terselesaikan dengan mudah, pasti aku sudah meminta bantuanmu sejak dulu.” Mendengar pernyataan dari Donghae membuat Gaeun tersipu malu. Baru kali ini ia merasa ada seseorang yang berada di pihaknya. Baru kali ini pula ia merasa dirinya diterima. Mungkin Donghaelah orang pertama dan satu-satunya yang melakukan hal ini padanya. Malam itu adalah pertama kalinya Gaeun bisa tersenyum dan tertawa lepas. Ia sungguh menikmati saat-saat ini. “Jadi, seperti ini ya rasanya memiliki seorang teman? Sungguh menyenangkan,” kata Gaeun dalam hati.

 

 

****

 

 

21 Juli 2010

Dear diary…

Ah, mungkin aku akan memanggilmu chingu[17]. Yap! Mari kita mulai!

Nae chingu[18]

Hari ini Donghae memberikanku sebuah buku harian. Dia bilang, “Penulis macam apa kau ini? Membuat artikel saja tidak bisa. Ini untukmu. Kalau sudah terbiasa menulis, pasti tidak akan sulit bagimu untuk membuat artikel yang baik.” Baiklah Donghae ssi aku akan menggunakannya sebaik mungkin.

 

 

****

 

 

 

 

 

24 Juli 2010

Nae chingu…

Hampir tiga bulan sejak bertemu Lee Donghae hidupku berubah. Aku sudah bisa tertawa sekarang. Dan… Kini aku juga mengerti apa yang disebut bahagia itu. Walaupun, akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh denganku. Aku sering lupa dengan apa yang sudah kulakukan. Termasuk kejadian saat aku mabuk. Bagaimana bisa aku mabuk? Seumur hidupku aku belum pernah menyentuh minuman beralkohol. Tapi apapun itu, aku tetap bersyukur. Sebab, hal itulah yang akhirnya mempertemukanku dengan Donghae. Aish… Ige mwoyeyo[19]? Cinta? Molla[20]. Oh ya, kami besok akan pergi ke festival lumpur Boryeong di pantai Daechon. Pasti menyenangkan. Semangat!!

 

 

****

 

 

Donghae POV

 

Hari ini aku akan pergi berkencan dengan Gaeun. Berkencan? Aku sendiri juga tidak yakin dengan kata “berkencan”. Apakah yeoja[21] itu merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan? Ah, molla. Langkahku akhirnya terhenti di depan sebuah apartment yang tidak terlalu besar. Apartment ini hanya memiliki tiga lantai. Sementara mataku sedang “berkeliaran” melihat bangunan tersebut, seorang wanita bernama Cho Gaeun sudah berada di depanku.

Annyeonghasseo,” sapanya lembut yang sukses membuat perhatianku teralihkan padanya. “Neomu yeppeo[22],” batinku setelah mataku puas menatapnya. “Ah nuna, annyeonghasseo,” balasku. “Tolong jangan panggil aku nuna. Kedengarannya aku ini sangat tua,” ucapnya. “Tapi kenyataannya memang begitu. Kau kan lebih tua dua tahun dariku,” jelasku sambil menyejajarkan wajahku dengan wajahnya. Kini aku bisa melihatnya dengan sangat jelas. Dia benar-benar sangat cantik. Hey, apa ini? Wajahnya memerah. “Yak! Nuna, kenapa wajahmu jadi merah seperti itu? Kau terlalu banyak memakai perona wajah ya?” godaku. “Aish, sudahlah bocah. Ayo kita berangkat sekarang!” ajaknya seraya memalingkan wajahnya dari pandanganku. “Jawab dulu nuna! Wajahmu memerah karena perona wajah atau… Karena aku?” godaku lagi dengan penekanan di bagian akhir kalimat. “Ppalli[23], kajja[24]!” Ia menarik tanganku. Deg. Kali ini aku yakin wajahkulah yang memerah. Secara otomatis kakiku pun bergerak mengikuti langkah kaki nuna ini.

Hari ini adalah hari libur. Jadi wajar saja kalau stasiun sangat ramai. Kami berdua masuk ke dalam kereta yang akan membawa kami ke pantai Daechon. Aku menggandeng tangannya erat. Huft, akhirnya kami mendapatkan bangku kosong. Sepanjang perjalanan, ia selalu melihat ke luar jendela untuk menikmati hamparan kebun bunga yang tersaji di tepi rel. Aku tidak bisa melukiskan apa yang ia rasakan saat ini. Yang jelas ia begitu bahagia. “Perjalanan ke Daechon memakan waktu satu jam, apa kau tidak lelah melihat bunga-bunga itu sepanjang perjalanan?” tanyaku. “Aniyo[25],” jawabnya tanpa mengalihkan sedikit pandangannya dari bunga-bunga itu. “Sangat indah, bukan? Sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan secantik ini,” lanjutnya. “Baiklah kalau begitu, aku juga akan melihat “bungaku” sendiri.” Tentu saja yang kumaksud dengan “bungaku” adalah dirinya, Cho Gaeun.

Setelah satu jam lamanya terkurung di sebuah kotak besi yang berjalan di atas rel ini, akhirnya kami pun sampai di pantai Daechon. Tak ubahnya seperti suasana di stasiun, di sini pun dipadati oleh ribuan manusia. Festival lumpur Boryeong memang sudah terkenal sampai ke manca negara. Tak heran banyak turis yang datang untuk menikmati festival ini. Setelah berganti pakaian, kami siap untuk menikmati perang lumpur. “Nah, mana dulu yang ingin kau coba? Gulat lumpur, selancar lumpur, atau pijat lumpur?” tawarku pada Gaeun.

 

 

****

 

 

Author POV

 

Crot…

Sebuah hantaman lumpur mendarat sempurna di wajah Gaeun. “Yak! Bocah! Apa yang kau lakukan?” Walaupun Gaeun meninggikan suaranya, ia sama sekali tidak terlihat judes. “Nuna, berhentilah memanggilku bocah. Aku hanya berumur dua tahun di bawahmu,” Donghae sedikit berteriak, sebab jarak keduanya agak jauh. “Kalau begitu, jangan panggil aku nuna.” Gaeun mendekati Donghae. Dengan secepat kilat ia mencoreng muka Donghae dengan lumpur yang ada di tangannya. “Ah, kau tega sekali nuna. Mengotori wajahku yang tampan ini dengan benda kotor itu.” Ia menunjuk-nunjuk wajahnya yang terkena lumpur sambil memasang tampang manja. “Kau tahu? Lumpur ini mengandung mineral yang baik untuk kulitmu. Jadi…” Gaeun tidak meneruskan kalimatnya. Ia melihat Donghae berancang-ancang untuk mencoret wajahnya dengan lumpur. Bak seorang ninja, Gaeun mengelak. Namun, gerakan yang tiba-tiba ini membuat Gaeun hampir terjatuh. Untung saja Donghae segera menangkap Gaeun. Lengannya yang panjang melingkar di tubuh Gaeun. Keduanya terdiam dan mencoba menenangkan jantung mereka yang berdegup tak karuan. “Aku ingin membersihkan tubuhku dulu.” Gaeun melepaskan tangan Donghae yang masih membelitnya. “Oh, aku juga.”

 

 

****

 

 

Setelah membersihkan tubuhnya yang penuh dengan lumpur dan mengganti baju, Gaeun mematut diri di depan cermin yang terpasang di toilet. Ia mengamati semburat warna merah di kedua pipinya. Senyumnya pun kembali mengembang. “Oh, apa yang sudah kulakukan tadi? Memalukan,” gumamnya. Saat ini rasa senang dan malu bercampur menjadi satu.

Tiba-tiba seorang pria mendekap Gaeun dari belakang dan menggiring wanita itu ke sudut ruangan. Gaeun pun panik. Ia melihat ke seluruh ruangan. Gaeun baru menyadari kalau tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Toilet yang terletak jauh dari keramaian membuat lelaki hidung belang itu dapat masuk dengan mudahnya. “Si… Siapa kau? Dan mau apa?” Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum penuh arti. “Jangan macam-macam atau aku akan berteriak!”

“Aaaaaaaaaaaa!!”

“Gaeun?!” mendengar jeritan Gaeun, Donghae yang sedari tadi menunggunya di luar langsung masuk ke toilet wanita tanpa pikir panjang. Toilet kosong itu hanya menyisakan Gaeun dan lelaki hidung belang yang sedang dihajar Gaeun habis-habisan. “Ampun nona,” pinta pria itu sambil menutupi wajahnya. “Ampun? Sudah terlambat! Rasakan ini.” Gaeun melayangkan pukulannya lagi namun dapat ditahan oleh Donghae. “Sudah hentikan nuna! Kau tidak apa-apa kan?” Gaeun menganggukkan kepalanya berkali-kali sebagai jawabannya. Donghae mendekati pria itu dan menarik kerah bajunya. “HEY! Apa yang sudah kau lakukan tadi? JAWAB!” Donghae rupanya sudah kehilangan kesabarannya. “Aku tidak melakukan apa-apa,” jawab pria itu ketakutan. “Bohong!” bantah Gaeun. Ketika perhatian Donghae teralihkan, pria itu berhasil meloloskan diri dan kabur. Donghae hendak mengejarnya namun ditahan oleh Gaeun. “Sudah oppa[26], kau tak perlu mengejarnya. Yang penting aku baik-baik saja.” Gaeun menggelayut manja di lengan Donghae. Tentu saja ini membuat Donghae kaget, karena tidak biasanya Gaeun bersikap seperti itu. “Oppa? Kenapa ia memanggilku seperti itu?” pikir Donghae.

 

 

****

 

 

Sesampainya di depan panggung, barulah Gaeun melepaskan lengan Donghae. Ia segera bergerak maju dan membaur dengan penonton yang lain. Donghae yang ada di belakangnya hanya mengamati setiap tingkah Gaeun yang tiba-tiba menjadi aneh. Gaeun dan penonton lainnya melonjak-lonjak diiringi electric music yang sedang diputar oleh DJ. Tak jarang Gaeun berteriak-teriak memanggil sang DJ. “DJ Key! Kimi wa hansamu desu[27]!” teriak Gaeun yang disambut senyuman dari sang DJ.

“Kenapa sikap Gaeun tiba-tiba berubah seperti ini? Dan… Tunggu. Kenapa logat Gaeun juga seperti orang Jepang?” pikir Donghae menyadari keanehan yang muncul pada diri Gaeun.

 

 

****

 

 

Kini, kedua manusia itu sudah berada di kereta dalam perjalanan pulang. Donghae hanya terdiam memikirkan perubahan sikap Gaeun. “Oppa, apa kau baik-baik saja?” tanya Gaeun. “Ya, aku baik-baik saja,” jawab Donghae singkat. “Kalau begitu syukurlah. Sekarang aku yang tidak dalam keadaan baik,” kata Gaeun sembari menutup hidungnya. “Kau kanapa?” tanya Donghae khawatir. “Aku alergi dengan bunga-bunga itu. Karena itulah aku benci dengan bunga,” jelas Gaeun yang semakin membuat Donghae bingung. “Tadi dia bilang ia sangat menyukai bunga, tapi kenapa sekarang ia berkata lain? Oh, satu lagi. Ia tadi tampak baik-baik saja dengan bunga-bunga itu. Kenapa sekarang ia jadi alergi?” pikir Donghae. Gaeun menggeser duduknya mendekati Donghae. Ia menyandarkan kepalanya di bahu lelaki yang ada di sampingnya itu. “Donghae ni san[28], arigatou gozaimasu[29].” Sedetik kemudian Gaeun pun tertidur.

 

 

****

 

 

Seminggu berlalu sejak festival lumpur di Daechon. Kini status hubungan Donghae dan Gaeun sudah meningkat. Mereka berdua sudah resmi menjadi pacar. Dan, kalian tahu siapa yang menyatakan perasaanya terlebih dahulu? Gaeun, bukan Donghae. Tentu saja ini membuat Donghae sangat terkejut. Karena Gaeun yang ia kenal bukanlah orang yang pandai mengutarakan perasaanya. Tak ada pilihan lain selain menerima cinta Gaeun, toh Donghae juga memiliki perasaan yang sama.

Hari ini sudah 20 kali Donghae mencoba menghubungi Gaeun, namun tak ada respon. “Akhirnya,” kata Donghae setelah nada sambung tergantikan dengan suara Gaeun. “Kau di mana sekarang? Dari kemarin aku menelefonmu, tapi tak kau angkat. Aku juga ke apartmentmu, tapi kau tak ada di sana.” Nada suara Donghae agak meninggi. Ini semua karena ia menghawatirkan Gaeun.

“Aku di Busan,” jawab Gaeun singkat. “Mwo? Busan? Untuk apa kau ke sana?” tanya Donghae lagi. “It’s not your business.” Gaeun memutuskan sambungan secara sepihak. “Halo… Halo. Aish, kenapa kau menutup telefonnya,” protes Donghae. Ia kembali memikirkan sesuatu. “Kenapa Gaeun sangat cuek hari ini? Setelah pulang dari Daechon ia bertingkah sangat manja. Sebelumnya ia sangat pendiam. Argh, aku tidak mengerti.” Donghae menjambak rambutnya pelan. “Tunggu. Kenapa logatnya juga berubah? Sekarang ia berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Sebenarnya apa maksud dari semua ini?” Donghae mengomel sendiri dan kembali menjambak rambutnya. Sekelebat pikiran buruk melintas di pikirannya. “Tuhan, kuharap itu jangan sampai terjadi.” Donghae memjamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat, berharap pikiran buruk itu segera terhapus.

 

 

****

 

 

Gaeun duduk dengan angkuhnya. Di hadapannya ada seorang pria paruh baya. Pria itu mengisap cerutu yang dipegangnya dalam-dalam dan sesaat kemudian keluar gumpalan asap putih dari mulutnya. Pria yang berdandan seperti mafia itu tampak berfikir dengan keras. Mata dan konsentrasinya hanya tertuju pada sederet kartu yang dipegangnya. Melihat hal tersebut membuat Gaeun tersenyum penuh arti. “It’s your turn sir!” tantang Gaeun. Pria itu menjejerkan kartu-kartunya di atas meja dan hal serupa juga dilakukan oleh Gaeun. “Okay, I’m win.” Gaeun mengambil setumpuk uang yang ada dihadapannya. “Tunggu! Kita bermain sekali lagi.” Gaeun pun menyetujui permintaan pria itu. Permainan baru berjalan setengahnya, namun Gaeun melihat kecurangan yang dilakukan oleh lawannya. Dengan kasar, ia melempar kartu yang dipegangnya tepat di wajah pria itu. “Selesaikan permainanmu sendiri! Aku tidak mau bermain lagi.” Gaeun bangkit dari duduknya dan melenggang ke luar ruangan.

Seketika itu juga, tangan Gaeun dicengkram oleh seorang pengawal pria paruh baya itu. Dengan sigap Gaeun berbalik. Tangan pengawal itu sudah terkunci. Sedetik kemudian, Gaeun membantingnya. Perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Beberapa pukulan yang mendarat dengan tepat di tubuh si pengawal membuatnya tak dapat bangkit kembali. Gaeun menatap bos mafia itu dengan tajam dan membuat nyali pria itu menciut. Gaeun pun sudah siap memberikannya pelajaran.

 

 

****

 

 

Sepulang dari café, Donghae memutuskan untuk mampir ke apartment milik Gaeun. Seperti berharap sebuah keberuntungan. “Semoga Gaeun sudah kembali,” pinta Donghae. “Annyeonghasseo. Kakek, apa Gaeun sudah pulang?” tanyanya sopan pada penjaga apartment. “Kau rupanya. Belum. Tapi tadi siang ada polisi yang mencari Gaeun dan menitipkan dokumen ini padaku. Ini. Sebaiknya kau saja yang menyimpannya.” Donghae menerima dokumen itu. Setelah mengucapkan terima kasih pada penjaga apartment ia pun berpamitan.

“Polisi mencari Gaeun? Apa yang sebenarnya telah terjadi?” Donghae sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri. Ia yakin, jawaban dari pertanyaannya itu ada dalam dokumen yang ia pegang. Daripada mati karena penasaran, akhirnya Donghae membuka dokumen itu dan membacanya. Mata Donghae terbelalak ketika membaca sebaris kalimat yang menetapkan Gaeun sebagai tersangka penganiayaan yang terjadi di Busan. Ia sama sekali tidak yakin dengan hal tersebut. Gaeun yang dikenalnya bukan gadis urakan seperti itu. Ia kembali mencermati dokumen tersebut dan menemukan sebuah kejanggalan. Dokumen itu benar di alamatkan ke apartment Gaeun, tapi mengapa dokumen itu ditujukan untuk Sherly? Siapa itu Sherly?

 

 

****

 

 

Kemarin Gaeun sudah kembali dari Busan. Dan malam ini Donghae akan pergi ke apartmentnya. Tentu saja tujuan Donghae ke sana adalah untuk meminta penjelasan Gaeun mengenai dokumen yang diterimanya beberapa hari lalu.

Suhu malam ini sangat dingin. Ditambah salju yang perlahan mulai turun. Donghae membenamkan kedua telapak tangannya di kantung jaket untuk mengusir dingin yang menyerang. “Sepertinya udara dingin ini telah membekukan otakku. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Dia harus menjelaskan semuanya padaku.” Donghae semakin mempercepat langkahnya. “Donghae,tunggu!” Tiba-tiba Minra menghampiri Donghae dan memeluknya erat. “Tolong aku! Ada yang mengikutiku dari tadi. Aku takut.” Minra semakin mempererat pelukannya. Tubuhnya yang bergetar karena ketakutan dapat dirasakan oleh Donghae.

Dari kejauhan, sepasang mata mengawasi Donghae dan Minra. Ia bertambah geram ketika pria yang dicintainya membalas pelukan Minra. Ia bisa merasakan, pelukan itu bukanlah sekedar pelukan biasa. Dekapan yang begitu hangat dan menenangkan. Tak tahan lagi melihatnya, Gaeun langsung menghampiri keduanya. Dengan sekuat tenaga ia memisahkan pelukan yang membelit tubuh Minra dan mendorongnya hingga Minra jatuh tersungkur. Kini Gaeun berhadapan langsung dengan Donghae. Sebuah pukulan melayang ke wajah Donghae hingga membuatnya terjatuh. Ia merasakan nyeri di sudut bibirnya. Terang saja, cairan berwarna merah keluar dari bagian itu. Donghae mencoba berdiri, namun sebuah benda keras mengenai kepalanya. Dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

 

 

****

 

 

 

Donghae mencoba membuka matanya. Kepalanya terasa begitu sakit. Bau khas rumah sakit yang menyengat ikut masuk ke dalam rongga paru-paru seiring ia menghirup udara yang ada. “Syukurlah kau sudah sadar. Gwaenchanhayo? Aku begitu mengkhawatirkanmu karena sudah dua hari kau tak sadarkan diri,” kata Minra. Dengan sangat telaten ia membantu Donghae untuk duduk.

Ne. Kamsahamnida,” jawabnya singkat. Pikiran Donghae kembali tertuju pada perubahan sikap Gaeun. Dan hal ini sangat mudah dibaca oleh Minra melalui ekspresi wajah Donghae yang tiba-tiba menjadi murung. “Kau masih memikirkan Gaeun?” tanya Minra. Donghae hanya mengangguk lemah. “Apa kau merasa ada yang aneh dengan sikap Gaeun?” tanya Donghae kemudian. “Iya. Walaupun aku hanya bertemu dengannya sekali, tapi aku yakin Gaeun bukan gadis liar seperti itu,” jelas Minra. “Itulah yang kupikirkan, apa yang sebenarnya terjadi padanya?” Donghae tertunduk lemah. “Apa kau tidak mencurigai sesuatu?” tanya Minra kemudian. “Mencurigai apa?” Donghae masih tidak mengerti dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Minra. “Kau tahu kan kalau appa[30] ku seorang psikolog? Aku pernah mengetahui salah seorang pasien appa mengalami hal yang sama seperti Gaeun. Sikap dan kepribadiannya berubah 180 derajat. Awalnya dia adalah seorang gadis yang ceria dan bersemangat, lalu keesokan harinya dia berubah menjadi gadis yang brutal. Ia bahkan melakukan pembunuhan. Saat ditanya oleh pihak kepolisian, ia tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan yang dilakukannya itu. Setelah dilakukan pemeriksaan kejiwaan barulah diketahui bahwa ia mengalami Multiple Personality Disorder atau kepribadian ganda. Dan mungkin saja Gaeun mengalami hal yang sama.” Penjelasan itu membuat Donghae terpukul. Ia sama sekali tidak percaya bila Gaeun memiliki kepribadian ganda. “Minra! Jaga ucapanmu! Aku sangat mengenal Gaeun. Tidak mungkin ia memiliki kepribadian ganda.” Donghae mencengkram kerah baju Minra kuat-kuat. Ia berharap dengan Minra mengubah argumennya keadaan juga ikut berubah. Tapi sepertinya ia harus menerima kenyataan ini dan menghadapinya. Perlahan ia mulai melepaskan cengkramannya. “Mianhae,” kata Donghae lirih. Minra mengerti betul apa yang dirasakan Donghae saat ini. “Tapi kau tak perlu khawatir. Penderita MPD bisa disembuhkan.” Sebaris kalimat itu ternyata dapat memberikan sebuah harapan pada Donghae. Ia mulai bisa mengendalikan perasaanya. “Lalu, apa yang menyebabkan seseorang bisa memiliki kepribadian ganda?” tanya Donghae. “Kepribadian ganda biasa terjadi pada orang yang memiliki trauma psikis yang hebat. Biasanya alter[31] muncul saat seseorang berada dalam posisi tersulit. Karena tidak mampu menghadapi permasalahan yang ada akhirnya alter itu terbentuk dari pemikiran pasien MPD itu sendiri. Ia membentuk karakter yang lebih kuat dari dirinya untuk menghadapi permasalahan tersebut. Namun lama kelamaan alter itu dapat “menguasai” pikirannya. Tidak heran kalau penderita MPD sering kehilangan dirinya dan lupa dengan apa yang telah ia lakukan saat pikirannya dikuasai oleh si alter.”

Piip…Piip…

“Ponselmu berdering. Angkatlah.” Minra menyodorkan ponsel berawarna biru tua itu pada namja yang ada di hadapannya.

Yeoboseo[32]. Donghae ah ini aku Gaeun. Tolong aku Donghae… Tolong…” Suara isakan Gaeun pun terdengar. “Gaeun?! Ada apa? Kau di mana sekarang?” Donghae terlihat begitu panik. “Bisakah kau datang ke sini? Aku sekarang berada di Tokyo.”

 

 

****

 

 

 

Gaeun mengakhiri sambungan telefonnya dengan Donghae. Ia duduk lemas di sudut ruangan dan merangkul kedua lututnya erat-erat untuk menghilangkan rasa takut yang kini menyelimutinya. “Tuhan… Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa aku bisa ada di Tokyo? Seingatku hal yang terakhir kali kulakukan adalah pergi ke Daechon bersama Donghae. Dan… Dan itu ternyata terjadi tiga bulan lalu. Setelahnya apa yang sudah kulakukan? Apa yang terjadi? Aku sama sekali tidak ingat apapun. Aaargh…” Gaeun membentur-benturkan kepalanya ke dinding yang ada di sampingnya. Berharap ia bisa mengingat apa yang terjadi selama 3 bulan ini. Sayangnya, ia tetap tidak dapat mengingatnya.

 

 

****

 

Donghae dan Gaeun duduk berseberangan dengan seorang psikolog terkenal, Kim Kwangjin, yang tak lain adalah ayah dari Minra. Gaeun memegang lengan Donghae erat. Wajahnya masih tampak ketakutan. Gaeun takut bila tiba-tiba ia kehilangan dirinya lagi dan tak dapat mengingat apapun.

“Perkenalkan, aku Kim Kwangjin. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menolongmu nona. Kau tak perlu khawatir.” Donghae membantu Gaeun untuk berbaring di tempat tidur semi-flowler yang ada di sudut ruangan. “Donghae, kajima[33]! Temani aku,” pinta Gaeun. Ia sama sekali tak mau melepaskan pegangannya dari tangan Donghae. “Tenanglah. Aku di sini dan semuanya akan baik-baik saja.”

“Nona, tarik nafasmu dalam-dalam. Lihatlah bandul ini. Fokuskan mata dan pikiranmu hanya pada benda ini.” Kwangjin ssi mulai menggerakkan bandul itu ke kanan dan ke kiri. Mata Gaeun terasa begitu berat. “Semakin melihatnya kau akan semakin mengantuk. Jangan lawan perasaan itu dan masuklah ke alam bawah sadarmu. Lelap dan semakin lelap. Kau merasakan tubuhmu sangat ringan. Pikiranmu tenang. Tinggalkan semua masalah yang membebani pikiranmu. Dan jiwamu bebas sekarang.” Seketika itu juga Gaeun tertidur. Lalu Kwangjin ssi menjentikkan jarinya. “Ireona[34]!” Gaeun pun bangun, namun ekspresi wajahnya begitu berbeda. Ia menyentakkan tangan Donghae yang sedari tadi dipegangnya. “Cih! Why I hold your hand? Ini pasti ulah gadis itu!” umpatnya. “Kau siapa nona?” tanya Kwangjin. “I’m Sherly. And what are you doing here?” tanyanya sinis seakan tidak nyaman dengan kondisi ini.

Melihat hal tersebut membuat Donghae percaya bahwa kepribadian ganda bukanlah isapan jempol atau hanya sebuah cerita yang muncul dalam novel. Kini ia mengalaminya sendiri. Ini nyata. Dan Donghae harus menghadapi kenyataan ini. “Hey boy! How about your scar?” Jari jemari Sherly mulai menjelajahi wajah Donghae. “Is it still pain? Sorry I hit your head with stone. I have no choice, because you have hurt Gaeun’s heart.” Jelasnya lagi tanpa rasa bersalah.

“Sherly, selain kau apakah ada alter lain dalam tubuh Gaeun?” tanya Kwangjin ssi. “Why do you ask about it? What do you want?” Sherly enggan menyebutkan alter lain yang ada di dalam tubuh Gaeun. “SEBUTKAN SAJA! SIAPA YANG LAIN!” Donghae mulai kehilangan kesabarannya. Ia menghimpit leher Sherly dengan lengannya sedangkan tangan yang lain memegang sebilah pisau yang siap melukai wanita itu. Sherly tampak begitu ketakutan, dan akhirnya ia mau bicara. “Ka… Kaori.”

Kemudian Kwangjin ssi menghipnotisnya lagi. Kini yang muncul adalah sosok wanita yang begitu manja. Ia tampak seperti remaja usia 15 tahun. “Oppa. Lama sekali aku tak bertemu denganmu. Oh, kepalamu luka ya? Kenapa bisa seperti itu?” Kaori menggelayut manja di lengan Donghae sama persis seperti yang ia lakukan saat di Daechon. “Kaori. Benar itu namamu?” tanya Kwangjin ssi memastikan. “Iya benar. Paman siapa?” tanya Kaori. Ia terlihat begitu polos. “Paman adalah psikolog yang akan menolongmu, Sherly, dan Gaeun.” Kaori tidak memperhatikan Kwangjin ssi sama sekali. Ia malah sibuk mengamati wajah Donghae. “Kaori, selain kamu dan Sherly siapa lagi yang ada di tubuh Gaeun?” tanya Donghae lembut. Ia berusaha memancing Kaori untuk mengaku. “Tidak ada lagi,” jawabnya dengan nada manja.

 

 

****

 

 

Gaeun POV

 

Sungai Han. Kulangkahkan kakiku menuju tepi sungai itu. Angin di sini begitu kencang. Dingin yang menusuk tak dapat lagi kurasakan. Rasanya aku sudah mati. Kuamati lekat-lekat pantulan wajah menyedihkan yang dibentuk oleh air di sungai ini. Itu bukan wajah manusia, melainkan monster. Mana ada manusia yang tega melukai orang yang dicintainya?

“Walaupun mereka bilang tindakan penganiayaan itu bukan aku yang melakukan, tapi tetap saja itu aku. Sherly adalah aku. Apanya yang beda? Tidak ada! Hey kalian, dengar! Jika aku mati, kalian juga akan ikut mati, bukan? Sekarang aku yang memegang permainan ini. Dan kalian, tidak bisa berbuat apa-apa!”

Kulangkahkan kakiku hingga berada tepat di tepi sungai. Aku sudah siap untuk mengakhiri semuanya. “Gaeun!” Suara itu, Lee Donghae. Aku berbalik dan menatapnya. “Jika kau mati, Sherly dan Kaori juga akan mati. Tapi tidakkah kau tahu ada satu orang lagi yang akan ikut mati. Kau tahu itu siapa? JAWAB GAEUN!” Donghae menatapku tajam. Sekilas, aku bisa melihat matanya penuh dengan air mata, namun ia menahannya. Hilang sudah kekuatanku untuk menjawabnya. Menatapnya pun aku tak mampu. “Nuna, JAWAB!” Ia semakin mendesakku. “Tidak ada gunanya kau menahanku Lee Donghae. Aku bisa melukaimu kapan saja. Aku ini berbahaya untukmu. Jadi, biarkan saja aku mati.”

Tiba-tiba ia menarik tanganku dan mendekap tubuhku kuat-kuat. “Donghae ah,” kataku lirih. Leherku tercekat karena sebisa mungkin aku menahan diri untuk tidak menangis. Wajahku terbenam di dadanya yang bidang hingga bisa kudengar setiap detakkan jantungnya. Donghae menghela nafas, kemudian barulah ia bicara. “Nuna, yang memiliki tubuh yang sedang kudekap ini adalah kau, bukan mereka. Kau yang seharusnya menguasainya, bukan mereka. Dan yang pantas untuk mati adalah mereka, bukan dirimu. Arraseo[35]?”

Mendengar penjelasannya bisa membuatku bernafas lega. Ya, setidaknya untuk saat ini. Aku tak bisa menahannya lagi, tangisku pun pecah dalam pelukkannya. Kupejamkan mataku dan mulai berteriak sekencang-kencangnya. Berharap semua akan menjadi lebih baik setelah aku membuka mata. Dapat kurasakan tangan besarnya mengusap lembut kepalaku. “Menangis dan berteriaklah sekencang-kencangnya, bila dengan melakukannya bisa membuatmu kuat kembali.”

 

 

****

 

 

Author POV

 

Gaeun bersiap untuk menjalani hipnotis. Kwangjin ssi bilang alter-alter itu bisa dihilangkan dengan cara “menyatukannya” kembali dengan pikiran Gaeun. Sherly dan Kaori memiliki karakter yang lebih kuat dibandingkan Gaeun. Karena itulah kedua alter ini bisa menguasai pikiran Gaeun sewaktu-waktu.

Donghae menghampiri Gaeun dan memegang tangannya erat. “Kau ingat apa yang kukatakan? Ini adalah tubuhmu, jadi hanya kau yang berhak mengaturnya. Bukan mereka. Arraseo?” Gaeun mengangguk mantap. Kini ia telah siap untuk mengakhiri semuanya. Dan, hipnotis pun dimulai.

“Gaeun ssi, kau sudah siap?” Sekali lagi Gaeun mengangguk dan menunjukkan kesungguhannya “Aku sudah siap. Aku ingin semuanya cepat berakhir,” jawabnya. “Baiklah, kita mulai. Gaeun perhatikan bandul ini. Lihat dan fokuskan pikiranmu hanya pada benda ini. Bagus, pertahankan konsentrasimu. Rasakan tubuhmu semakin ringan dan…” Gaeun mulai membuka matanya. Namun, wanita ini bukanlah Gaeun. “Oppa! Senang sekali rasanya bisa bertemu denganmu. Akhir-akhir ini sangat susah bagiku untuk muncul. Apa kabarmu?” Ternyata itu Kaori. “Baik. Kaori, apa oppa bisa meminta tolong padamu?” pinta Donghae. “Tentu saja. Oppa, mau meminta tolong apa?” jawabnya. “Kau, Sherly, dan Gaeun adalah orang yang sama, walaupun kalian memiliki karakter yang jauh berbeda. Kaori, kau ini bagian dari Gaeun kan?” tanya Donghae yang disambut anggukan oleh Kaori. “Kumohon, kembali bersatulah dengan Gaeun,” pinta Donghae akhirnya. “Apa? Jadi oppa menolak kehadiranku?” Kaori menyentakkan tangan Donghae yang sedari tadi dipegangnya dengan kasar. “Bukan begitu maksudku. Kumohon.” Donghae menatap kedua manik mata Kaori lekat-lekat. “Baiklah, apa yang bisa kulakukan lagi selain menerima permintaanmu itu oppa. Kulihat kau sangat mencintai Gaeun. Bila aku bersatu lagi dengannya, apa itu artinya kau juga akan mencintaiku?” tanya Kaori. “Tentu saja.” Senyuman hangat dari Donghae dibalas pelukan oleh Kaori. “Kau anak yang baik dan ceria. Senang bisa mengenalmu,” lanjut Donghae.

Hipnotis kembali dilakukan untuk “memanggil” Sherly. Tak butuh waktu lama Sherly pun muncul. Ia memandang Kwangjin ssi dan Donghae dengan tatapan sinis. “Oke. What do you want?” tanyanya pada Donghae. “Kembalilah menjadi satu dengan pikiran Gaeun!” jawab Donghae tanpa basa-basi. “What? Kau pikir aku mau melakukannya?” Donghae jengah bernegosiasi dengan Sherly. Ia mendekatkan dirinya dengan Sherly dan menatap matanya tajam. “Ini tubuh Gaeun. Kau hanya pikiran yang diciptakan olehnya. Jadi menyingkirlah!” titah Donghae. “Aku berhak atas tubuh ini! Kau pikir siapa yang menyelamatkannya dari penganiayaan yang dilakukan pria mabuk 20 tahun lalu? Aku yang menyelamatkannya. Aku yang melawan pria itu! Kau tahu apa yang Gaeun lakukan waktu itu? Dia hanya diam dan menangis. Bila aku tidak muncul, mungkin dia sudah mati!” Ia berteriak tepat di depan Donghae. “Tapi tetap saja. Kau hanyalah pikiran yang diciptakan oleh Gaeun. KAU TIDAK NYATA!” balas Donghae. Ia meraih kerah Sherly dan mencengkramnya kuat-kuat.

Sherly tak bergeming. “Kalau kau berpikir aku ini tak berguna, kau salah. Gaeun adalah wanita lemah. Ia terlalu takut untuk menghadapi masalah. Untuk itulah aku ada. AKU ADA UNTUK MELINDUNGINYA! Aku kasihan pada Gaeun yang tak bisa berbuat apa-apa saat ia ditindas.” Donghae tersenyum penuh arti. Ia melepaskan cengkeramannya. “Kalau ada seseorang yang sanggup melindunginya, apa kau mau kembali bersatu dengan pikiran Gaeun?” Sherly hanya tersenyum meremehkan. “Kau? Apa kau sanggup?” Donghae kembali menatap Sherly tajam. “Kau tak perlu khawatir. Aku mampu menjaganya.” Sherly melihat sebuah kesungguhan dalam kata-kata Donghae. Akhirnya ia pun mempercayainya. “Baiklah kalau begitu, aku bersedia.”

Kwangjin ssi kembali menghipnotis wanita itu. Dan beberapa saat kemudian Gaeun pun tersadar. “Sherly?” Tak ada respon. “Kaori?” tanya Donghae lagi. “Siapa yang kau panggil? Aku Gaeun,” sahut Gaeun saat kesadarannya telah kembali. Donghae seketika memeluk yeoja chingu[36] nya itu. Kini ia bisa bernafas lega. “Aku hanya memastikan kalau mereka sudah tidak ada.” Mata Gaeun terbelalak. Ia melepaskan pelukan Donghae dan memastikan kebenaran hal yang baru saja ia dengar. “Benarkah?” tanyanya. “Yang dikatakan Donghae ssi benar. Semuanya sudah berakhir,” jelas Kwangjin ssi. Mendengar hal itu senyum Gaeun mengembang dan menghiasi wajah cantiknya.

 

 

****

 

 

 

Gaeun POV

 

Musim dingin telah berlalu. Mari kita ucapkan selamat datang untuk musim semi. Ya, walaupun hawa dingin masih menyelimuti Seoul tapi aku bisa melihat kuncup-kuncup bunga itu mulai tumbuh. Mereka akan tumbuh menjadi bunga-bunga yang cantik. Ini adalah awal bagi mereka dan tentu saja bagiku.

Aku sudah terbebas dari alter-alter itu dan kasus penganiayaan yang dilakukan oleh Sherly di Busan juga telah ditangguhkan. Kini aku bagaikan terlahir sebagai manusia yang baru. Setelah ini banyak hal yang ingin kulakukan. Ehm baiklah, bagaimana kalau dimulai dengan menjadi wartawan profesional? Ya, itulah hal pertama yang ingin kulakukan. Aku yakin, aku pasti bisa melakukannya. Karena kini aku tidak sendiri. Ada Donghae yang selalu berdiri di belakangku untuk menopangku ketika aku terjatuh.

Kulangkahkan kakiku menuju balkon apartment yang kutinggali. Kuhirup dalam-dalam udara pagi yang menyejukkan ini. “Selamat pagi dunia. Kini Gaeun telah kembali!” Ternyata jeritanku ini mengundang perhatian beberapa orang yang lewat. Tak kuhiraukan mereka. Yang perlu kulakukan hanyalah menjadi kuat dan semakin kuat. Kupasang headset di telingaku dan lagu “This is Me” milik Demi Lovato mengalun dengan indah.

This is real. This is me. I’m exactly where I’am suppose to be now. Gonna let the light shine on me. Now I’ve found who I’am. There’s no way to hold it in. No more hiding who I want to be. This is me.”

 

 

-THE END-

[1] Maaf.
[2] Apa kau baik-baik saja?
[3] Apa yang harus kulakukan?
[4] Panggilan yang diberikan oleh laki-laki pada wanita yang usianya lebih tua darinya.
[5] Panggilan yang diberikan oleh laki-laki pada laki-laki lain yang usianya lebih tua darinya.
[6] Kenapa?
[7] Ya.
[8] Aku mengerti.
[9] Jangan menangis.
[10] Sapaan yang biasa diberikan oleh orang Korea ketika bertemu dengan orang lain.
[11] Apa?
[12] Pria.
[13] Panggilan untuk orang yang belum terlalu dikenal atau yang dihormati.
[14] Kumohon.
[15] Panggilan untuk orang yang akrab
[16] Terima kasih.
[17] Teman.
[18] Temanku.
[19] Apa ini?
[20] Entahlah.
[21] Wanita.
[22] Cantik sekali.
[23] Cepat.
[24] Ayo!
[25] Tidak.
[26] Panggilan dari wanita yang ditujukan untuk pria yang lebih tua darinya.
[27] Kau tampan.
[28] Kakak.
[29] Terima kasih.
[30] Ayah.
[31] Diri lain yang dibentuk oleh pemikiran penderita MPD.
[32] Halo.
[33] Jangan pergi.
[34] Bangunlah!
[35] Mengerti?
[36] Pacar.

1 Comment (+add yours?)

  1. yeonlee
    Oct 21, 2015 @ 23:30:45

    awalnya sempet bingung kenapa si gaeun bisa begitu, ternyata gaeun itu punya kepribadian ganda toh. Awalnya juga ga tau tentang penyakit ini. dan setelah baca ff ini sedikit nambah pengetahuan tentang kepribadian ganda dan itu beneran ada. oke keep writing thor!!! Ditunggu ff yang lainnya..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: