[Donghae’s Day] Recollect

donghh

Author: mutkyu (Sukma Muthia M.)

Tittle: Recollect

Cast:

  1. Lee Donghae
  2. Kim Hyerin

Genre: Happy Ending

Rating: PG 13

Length: Oneshoot

Disclaimer: Plot dan alur cerita adalah milik saya dan murni dari imajinasi saya. Kalau ada kesamaan tempat atau jalan cerita, maka itu merupakan suatu ketidaksengajaan belaka.

Enjoy reading ^^

 

 

Aku duduk sembari memandang sebuah album usang di tanganku. Dengan gerakan perlahan, aku membuka album itu. Tiba-tiba selembar foto terjatuh dari dalamnya. Fotoku dengan seseorang yang sangat aku cintai hingga saat ini. Aku ingat foto ini, ini diambil saat hari kelulusanku di Kyunghee University.

 

Flashback on

“Rin-ah chukkae!” serunya dengan mata berbinar sembari menyodorkan sebuket bunga lily putih. Bunga kesukaanku.

Aku tersenyum dan mengusap pipinya sekilas. “Gomawo”

Wajahnya yang tadi bersinar ceria tiba-tiba menjadi berubah menjadi mendung. “Itu saja?”

Aku mengerutkan keningku. “Apanya?”

“Setelah aku berusaha datang tepat waktu disela-sela pekerjaan kantorku yang menumpuk masa kau cuma mengatakan ‘gomawo’,” ujarnya dengan bibir mengerucut. Ck! Sebenarnya berapa umur pria ini?

“Terus aku harus bagaimana hmm?” ucapku dengan salah satu alis terangkat.

Seketika ia kembali tersenyum cerah. “Poppo.”

Bugghh!

Aku meninju pelan bahunya. “Dasar mesum! Shireo!!” aku memalingkan wajahku yang merona. Dasar dia selalu saja bisa membuatku salah tingkah.

“Ahahaha… Rin-ah wajahmu merah.”

Sial! Dia malah menertawakan aku. Aku menoleh ke arahnya dan memelototkan mataku. Tiba-tiba tawanya berhenti dan terganti dengan senyumnya yang menawan. Ia mengacak pelan rambutku.

“Gwaenchana Rin-ah, aku suka wajahmu yang memerah karena perkataanku,” ck! Bisakah dia tidak membuat jantungku berdebar kencang dan sesak nafas dengan semua perlakuannya? Huftt.. sepertinya berada di dekatnya memang berbahaya untuk kesehatan jantungku.

“Hyerin-ah, Donghae-ya, ayo berpose aku akan memfoto kalian berdua,” ujar sebuah suara tiba-tiba. Itu suara Yoojin, sahabatku. Sesaat kemudian Donghae telah melingkarkan tangannya di pinggangku lalu menarikku lebih rapat ke arahnya. Dan…

“Cekrekk!”

Flashback off

 

Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Rasanya aku ingin kembali ke masa itu dan mengulang semua hari yang sudah terlewat. Merasakan kembali kebahagiaan itu bersamanya. Seseorang yang selalu bisa membuat darahku berdesir hebat dan jantungku berdetak cepat kala berada di dekatnya. Seseorang yang menjadi tempatku bersandar untuk melepas penat. Seseorang yang selalu bersedia memberikan pelukan hangatnya kapanpun aku butuh. Seseorang yang membuatku mengerti bagaimana rasanya dicintai dan mencintai.

Bibirku mengulum senyum tipis saat mataku menangkap kilau benda yang melingkar indah di jari manisku. Sebuah kenangan kembali berputar di dalam kepalaku.

 

Flashback on

“Untuk apa kau kemari?” ujarku dingin pada pria yang tengah berdiri di depan pintu apartementku dengan senyum tak berdosanya.

Dia beringsut mendekat kemudian memelukku. “Rin-ah mianhae…”

Aku menarik diriku —dengan sedikit enggan dari pelukannya. “Pulanglah, ini sudah larut. Aku mengantuk.”

Ia meraih tanganku, menatapku dengan mata teduhnya. “Mianhae Rin-ah, jangan marah.”

Aku memalingkan wajahku, tak bisa menatap matanya lebih lama. Mata yang selalu bisa menghipnotisku dengan keindahannya.

“Aku tak melupakan hari ini Rin-ah, kau jangan marah.”

Aku menoleh ke arahnya dengan kesal. “Lantas kenapa kau baru kesini sekarang? Kemana kau seharian ini Lee Donghae? Mengapa tak menghubungiku sama sekali?” nafasku memburu. Aku sudah kelewat kesal dengan pria dihadapanku ini. Seenaknya saja datang dan meminta maaf setelah mengacaukan hari yang seharusnya bahagia ini. Apa sebenarnya yang ada dalam otaknya itu?

Hening. Tiba-tiba ia berlutut di hadapanku. Ia mengeluarkan sebuah kotak biru dengan pita putih di atasnya kemudian membuka kotak itu. Aku menutup mulutku.

“Alasannya adalah karena aku sedang menyiapkan ini. Aku tak mungkin lupa dengan hari ini Rin-ah, hari ini adalah 3rd anniversary kita dan aku ingin memberikan sesuatu yang berbeda. Aku sudah menunggu lama untuk bisa mengatakan ini, dan… aku pikir hari ini adalah hari yang tepat.”

Ia kemudian menarik nafas dalam seakan sedang mengumpulkan keberanian. “Kim Hyerin, bersediakah kau melewati sisa umurmu bersamaku? Melahirkan anak-anakku dan menua bersamaku? Bersediakah kau menikahiku Rin-ah?” lanjutnya sambil menatap tepat di manik mataku.

Aku kehilangan kata-kataku. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain menganggukkan kepalaku. Ia memasangkan cincin emas putih dengan permata kecil di tengahnya itu ke jari manisku kemudian ia berdiri dan memelukku. Aku membalas pelukannya. Aku bahkan sudah lupa dengan amarahku terhadapnya.

Flashback off

 

Aku mengusap air mataku —yang entah sejak kapan turun kemudian menatap sekilas foto itu sebelum ke masukkan kembali ke dalam album usang tadi. Album usang yang penuh dengan kenangan tentang aku dan dia. Jika melihat semua foto di dalamnya, rasanya kejadian-kejadian itu baru saja ku alami kemarin. Waktu memang cepat berlalu.

Aku tersentak kaget saat tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangku dan bau maskulin yang sudah sangat kukenal menyeruak ke dalam indera penciumanku. “Apa yang sedang kau lakukan Rin-ah?”

Aku tersenyum kemudian mengusap punggung tangannya. “Kau sudah pulang Hae-ya? Ani, aku hanya bernostalgia ke masa lalu kita.”

Ia melepaskan tangannya dari pinggangku lalu membalikkan badanku. “Saking asiknya kau bernostalgia sampai-sampai tidak mendengar suamimu yang tampan ini pulang hmm?”

“Aish! Kau narsis sekali! Kkeundae, mianhae aku terlalu asik tadi,” ujarku sambil menatap matanya. Mata coklat kesukaanku.

“Bogoshippo…” ia mengecup keningku sekilas kemudian menarikku ke dalam pelukannya.

Aku membalas pelukannya. “Kita baru berpisah beberapa jam Hae-ya, buat apa kau merindukanku hmm?”

“Beberapa jam berpisah denganmu membuatku sedikit sulit bernafas, kau tau?” ia memperat pelukannya.

“Berhentilah menggombaliku Hae-ya,” ujarku sambil memukul punggungnya pelan.

Tiba-tiba aku merasakan ujung bajuku ditarik. Aku melepaskan pelukannya dan menoleh ke samping. Aku tersenyum saat mengetahui siapa yang menarik ujung bajuku.

“Haerin-ah, waeyo chagi?” tanya Donghae seraya menggendong Haerin. Putri kami.

Haerin menatapku dengan senyum berbinar di wajahnya. “Eomma, hari ini kita akan makan di restoran enakkan? Kemarin eomma kan sudah janji padaku.”

Aku kembali tersenyum kemudian mengusap kepalanya sayang. “Ne chagi, hari ini kita akan makan di restoran enak.”

“Horeee!! Appa, hari ini kita makan di restoran enak!” seru Haerin sambil tersenyum pada Donghae.

“Ne, Haerin senangkan?” tanya Donghae.

Haerin mengaggukkan kepalanya bersemangat. “Ne, Haerin senang appa.”

“Kalau begitu Haerin bilang apa sama eomma?” tanya Donghae lagi.

Haerin menoleh padaku. “Eomma, gomawoyo.”

“Cium eomma dulu dong chagi,” aku mendekatkan pipiku ke wajah Haerin, ia mengecupnya sekilas.

“Appa juga mau dicium sama Haerin,” ujar Donghae manja. Haerin menoleh ke arah Donghae kemudian mengecup pipinya sekilas.

Aku tersenyum melihat kehangatan keluarga kecilku. Tuhan, terima kasih karena membuatku berjodoh dengan Lee Donghae, terima kasih karena kau memberikan Haerin di tengah-tengah kehidupan kami, terima kasih untuk semua kebahagiaan yang telah kau berikan dalam hidupku.

***

-THE END-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: