[Eunhyuk’s Day] RAINY BOY

Eunhyuk-Super-Junior

Title                : RAINY BOY

Author            : Lulu K. Mamluah

Main cast       :

  • Lee Hyukjae
  • Lee Soojin [OC]

Minor cast     :

  • Lee Donghae
  • Choi Siwon
  • Choi Heeyoung

Genre             : Friendzone, Rain, Romance.

Rating             : PG-13

 

Seorang yeoja tengah duduk termenung di kusen jendela kamarnya. Matanya menatap lurus ke arah derasnya hujan yang turun. Sebuah lagu terdengar menggema di seluruh penjuru kamar, menemani si pemilik kamar yang sedang menyatu dengan kepingan-kepingan kenangan dalam hidupnya. Kenangan-kenangan tentang.. DIA.

 

Heaven knows what you’ve been through

So much pain

Even though you can’t see

I’m not far away

We always say if one of us

Somehow went away

We’d light a candle and say a prayer

Know that love still remains

 

Close your eyes, go to sleep

Know my love is all around you

Dream in peace, when you wake

You will know I’m still with you

[Eric Benet – Still With You]

 

November 4, 2004

Suasana sebuah sekolah menengah pertama tampak lengang, karena jam sekolah memang sudah usai sekitar dua jam yang lalu. Hanya beberapa siswa saja yang masih tampak. Tiba-tiba saja hujan turun begitu deras, membuat beberapa siswa yang akan pulang mau tidak mau harus mengurungkan niat mereka untuk menghindari serangan hujan. Salah satunya seorang yeoja yang kini tengah berteduh dengan siswa-siswa lainnya. Yeoja itu tampak sibuk mengacak-acak isi tas ranselnya, mencari sesuatu yang tak kunjung ditemukannya. Sesekali gerutuan kecil meluncur dari bibir mungilnya. Hujan yang turun seolah tak memedulikan kekesalan yeoja itu.

“Aku benar-benar tidak membawa payung ya? Jarak menuju halte kan lumayan jauh. Bodoh~~” yeoja itu menepuk kepalanya sendiri, hanya sebuah tepukan ringan untuk melampiaskan rasa kesalnya terhadap dirinya sendiri.

Akhirnya yeoja itu hanya bisa pasrah, berdiri untuk berteduh sampai hujan sedikit mereda.

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..

16.15 KST

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..

16.50 KST

Namun hujan tak kunjung mereda, masih betah berlama-lama untuk bermain-main di bumi. Membuat kegelisahan dan kejengkelan yeoja muda itu makin menjadi. Tidak, dia tidak benci hujan. Dia sangat menyukai hujan. Baginya suasana saat turun hujan adalah suasana ternyaman untuknya. Air hujan yang turun dari langit menuju bumi terlihat begitu eksotis baginya. Terlebih dia sangat menyukai wangi tanah setelah terkena siraman air hujan. Salah satu wangi favoritnya. Tapi semua itu tidak dalam fokus dalam pikirannya sekarang. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah cepat-cepat sampai di rumah sebelum kedua orang tuanya pulang dari kantor. Karena seharusnya ia sudah berada di rumah sejak pukul 14.00 KST. Namun karena tadi ia terlalu keasyikan membaca buku di perpustakaan membuatnya lupa waktu. Selalu seperti itu.

Yeoja itu menggosok-gosokkan kedua tangannya yang mulai terlihat memucat karena kedinginan. Selain lupa membawa payung, yeoja itu juga lupa membawa sweater atau jaket atau apapun yang bisa menghangatkan tubuhnya pada musim hujan ini.

“Bodohnya ternyata kuadrat ya hari ini,” ujarnya kecut.

Untuk mengurangi rasa kesal bercampur gusar, yeoja itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya yang sempat tidak menarik minatnya. Mata yeoja itu tiba-tiba terpaku pada satu titik. Seorang namja yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Namja itu berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding tempatnya berteduh, kedua telinganya terpasangi sebuah headphone berwarna biru, senada dengan jaket yang dipakainya. Mulutnya tampak berkomat-kamit, mungkin tengah menyenandungkan lagu yang tengah didengarnya.

“Indah,” gumam yeoja itu.

Pesona namja itu tampaknya berhasil menyihir yeoja itu, membuat rasa gundah dan kesal yang ia rasakan menguap begitu saja.

________

 

Kejadian itu terus berulang. Hujan, berteduh, dan namja itu. Lupa membawa payung lagi? Tidak, yeoja itu tidak pernah lupa untuk membawa payungnya lagi. Payungnya selalu ada di dalam tasnya tapi tidak pernah ia keluarkan. Alasannya, namja itu.

Musim hujan kali ini tidak akan meninggalkan cerita kelabu baginya. Langit musim hujan kali ini tidak akan terlihat mendung baginya. Ia tidak memusingkan matahari yang menjadi malu-malu untuk menampakkan diri. Baginya, kehadiran namja itu sudah cukup menerangi hari-harinya.

Pernah beberapa kali sahabat baiknya bertanya alasan kenapa ia lebih memilih untuk bertenduh dan menunggu hujan mereda ketimbang menggunakan payungnya. Ia hanya tersenyum. Hanya sebuah senyuman, namun sahabatnya itu sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Yeoja itu tengah jatuh cinta. Jatuh cinta kepada namja yang setahun lebih muda darinya. Masalah? Tentu saja tidak. Usia tidak pernah menjadi masalah dalam cinta.

“Aku, jatuh cinta? Bukan, bukan cinta. Hanya kagum, ya, hanya kagum,” gumam yeoja itu kepada dirinya sendiri.

Kalau saja sahabatnya tidak mengungkit-ungkit masalah cinta, mungkin yeoja itu tidak akan pernah memikirkan kemungkinan kalau ia mencintai namja yang hampir seminggu ini mencuri seluruh perhatiannya. Cinta? Usianya baru 13 tahun dan dia masih terlalu polos untuk memahami perasaan serumit itu untuk anak seusianya.

________

 

November 11, 2004

Wajah yeoja itu tampak tak secerah biasanya ditengah-tengah cuaca semendung siang ini. Hujan. Siang ini hujan kembali turun. Tapi yeoja itu tidak melihat namja itu di tempatnya biasa berteduh.

Yeoja itu terkejut saat merasakan sebuah tangan menggenggam sebelah tangannya, erat dan hangat. Dan ia lebih terkejut lagi ketika mengetahui siapa orang yang menggenggam tangannya. Namja itu.

Tuhan! Namja itu ..

Dia merasakan kakinya seperti tidak menapak pada bumi. Ia ingin pingsan saat itu juga. Yeoja itu berusaha mengontrol dirinya. Akan sangat memalukan kalau sampai namja itu mengetahui betapa gugupnya dia sekarang.

Namja itu tersenyum.

Hati yeoja itu mencelos melihat senyumnya. Tampan!

Namja itu semakin erat menggenggam tangan yeoja di sampingnya lalu menariknya untuk berjalan beriringan di bawah rinai hujan.

Tidak, ia tidak ingin melepaskan genggaman tangan namja itu dari tangannya. Genggaman itu terlalu hangat untuk dilepaskan. Hari ini tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

________

 

Matahari

Namja itu benar-benar menjadi matahari pada musim hujannya. Memberikan kehangatan di tengah-tengah dinginnya hari-hari hujannya. Semuanya terus berlanjut sampai musim hujan berikutnya. Dan yeoja itu berharap akan terus berlanjut sampai musim hujan pada tahun-tahun berikutnya.

________

 

November 11, 2005

Memangnya hari ini akan ada sesuatu yang spesial ya?” tanya seorang namja pada seorang yeoja yang tengah sibuk dengan kegiatannya menata makanan di atas meja makan.

Yeoja itu hanya memamerkan senyumnya, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya. Makanan biasa yang akan menjadi luar biasa untuk disantap dihari yang luar biasa untuknya. Untuk mereka.

“Aku butuh jawaban bukan senyuman, noona-ya..” ujar namja itu dengan nada mengejek saat menyebut kata noona.

Yeoja itu langsung memelototkan matanya saat mendengar namja itu memanggilnya noona. Ia memang setahun lebih tua dari namja yang sekarang berdiri di sampingnya. Senior namja itu di sekolah. Tapi keduanya sepakat tidak akan memakai embel-embel noona atau nam-dongsaeng untuk memanggil satu sama lain. Mereka berdua suka menggunakan panggilan itu hanya untuk menjadi bahan ejekan mereka.

Teman, sahabat, atau lebih dari itu. Mereka berdua tidak memusingkan status apa yang mereka jalani selama ini.

Memang ada yang spesial tapi kamu tidak perlu tahu. Kamu cukup hanya tahu kalau kamu aku izinkan untuk ikut menghabiskan semua makanan ini.”

“Whatever, yang penting makan.”

Ini kan hari kita. 11 November itu hari kita. Dasar bodoh …

“Di luar hujan. Nanti kita hujan-hujanan, eo.” ajak namja itu dengan antusias begitu dilihatnya hujan mulai turun membasahi bumi.

Ne, nam-dongsaeng-i,” sahut yeoja itu dengan nada mengejek.

Namja itu hanya memutar kedua bola matanya lalu tertawa, membuat si yeoja tersenyum melihat tingkahnya.

___________

 

February 6, 2006

“Argh,” Soojin sedikit terlonjak saat merasakan sepasang tangan memasangkan sebuah headset ditelinganya.

“Bisa tidak pakai cara yang tidak mengejutkan,” protes yeoja itu.

Ti-dak,” sahut Hyukjae, orang yang memasangkan headset ditelinganya, dengan gaya cueknya seperti biasa.

Sekarang mereka berdua sedang berada di perpustakaan. Soojin yang asyik dengan buku-buku yang sedang ia baca dan Hyukjae dengan ketenangan yang dicarinya.

Judulnya apa, Hyuk-ah?”

“Still with you, Eric Benet.”

 

Heaven knows what you’ve been through

So much pain

Even though you can’t see

I’m not far away

We always say if one of us

Somehow went away

We’d light a candle and say a prayer

Know that love still remains

 

Close your eyes, go to sleep

Know my love is all around you

Dream in peace, when you wake

You will know I’m still with you

[Eric Benet – Still With You]

 

Sejak saat itu, lagu itu menjadi lagu spesial bagi Soojin. Sebuah lagu yang memiliki kekuatan untuk membangkitkan kenangan-kenangannya dengan namja bernama Lee Hyukjae.

________

 

July 27, 2007

“Kita satu sekolah lagi,” seru Hyukjae riang.

Hari ini namja itu sudah resmi menjadi siswa Seoul Art High School. Sedangkan bagi Soojin, tahun ini adalah tahun keduanya bersekolah di sekolah itu.

“Selamat datang,nam-dongsaengi.” Soojin mengacak-acak rambut Hyukjae penuh sayang.

Aish, noona-ya, rambutku jadi berantakan meskipun tidak akan mengurangi ketampananku.” Seru Hyukjae sambil menata kembali rambutnya menggunakan jari-jari tangannya.

Soojin berpura-pura ingin muntah mendengar perkataan Hyukjae. Narsis seperti biasa.

Soojin membuka zip tasnya, lalu mengeluarkan tumpukan amplop dari dalam tasnya itu.

Ini,” yeoja itu menyerahkan tumpukan amplop itu kepada Hyukjae.

Mwo?”

“Surat dari penggemar-penggemarmu. Baru juga sehari, daebak!” goda Soojin.

Tentu saja,” sahut Hyukjae percaya diri.

Soojin memutar kedua bola matanya mendengar kata-kata Hyukjae. Yeoja itu masih menyodorkan surat-surat ditangannya dihadapan Hyukjae yang masih bergeming.

“Buang saja,” ujar Hyukjae cuek.

Eyy, jahat sekali.”

Hyukjae mengangkat kedua bahunya tidak peduli, aku tidak butuh surat-surat itu, aku sudah punya kamu.”

Selesai mengatakan kata-kata itu, dengan cueknya Hyukjae berjalan melewati Soojin yang terdiam, terkejut mendengar kata-kata namja itu.

________

 

September 21, 2007

YA! Soojin-a, kamu tidak sedang mabuk kan? Kamu menolak pernyataan cinta Siwon sunbaenim. Siwon sunbaenim, Jin-ah,” ujar seorang yeoja yang merupakan teman satu kelas Soojin.

Kelas 11-1 baru saja mengalami kejadian yang menggembarkan pada jam istirahat hari ini. Ada seorang senior yang menyatakan perasaannya kepada Soojin, namun ditolak oleh yeoja itu. Membuat teman-teman satu kelasnya, terkecuali sahabat baiknya, Heeyoung, menganga tak percaya karena yeoja itu menyia-nyiakan kesempatan yang sangat diinginkan oleh setiap yeoja dipenjuru sekolah. Menjadi kekasih dari namja yang sangat populer di sekolah siapa yang tidak mau? Tampan, pintar, ramah, mantan ketua OSIS, mantan kapten Basket. Choi Siwon, sosok namja yang nyaris sempurna.

“Kamu berpacaran dengan Hyukjae dari kelas 10-7 ya? Makanya kamu menolak Siwon sunbaenim?” tanya seorang teman lainnya.

Soojin hanya mengangkat bahunya. Yeoja itu lalu beranjak dari duduknya, memberikan kode kepada Heeyoung, sahabatnya untuk ikut beranjak.

“Kami keluar dulu .”

Sepeninggal Soojin, para yeoja di kelas itu tetap sibuk membicarakan kejadian yang baru saja terjadi di kelas mereka.

Hyukjae tidak buruk, dia juga termasuk ke dalam jajaran namja populer di sekolah ini tapi dia lebih muda dari Soojin. Daripada dengan yang lebih muda kenapa tidak memilih Siwon sunbaenim saja yang jelas-jelas lebih baik segalanya dari namja itu.

Tanpa mereka semua sadari, sejak awal, ada seorang namja yang memperhatikan kejadian di dalam kelas itu.

_______

 

Oktober 31, 2007

Hyukjae tidak masuk ya?”

Soojin hanya mengangkat kedua bahunya untuk menjawab pertanyaan salah seorang teman satu kelasnya. Soojin dan Hyukjae. Seantero sekolah juga sudah tahu di mana ada Soojin di situ pasti ada Hyukjae, begitu juga sebaliknya. Awalnya tidak sedikit orang yang berkomentar tidak suka. Apalagi setelah kejadian penolakan Soojin terhadap namja yang paling diinginkan oleh semua yeoja diseantero sekolah. Tapi Soojin dan Hyukjae tidak pernah memusingkannya.

Teman, sahabat, atau lebih dari itu, hanya mereka berdua yang tahu. Cinta. Tidak pernah ada kata cinta diantara mereka berdua. Mereka tetap menjalani apa yang sudah hampir tiga tahun mereka jalani seperti biasanya.

Soojin noona,” panggil seorang namja.

Lee Donghae, sahabat baik Hyukjae.

Ne, waeyo Donghae-ya?

Ada titipan dari Hyukjae.” Donghae menyerahkan sebuah amplop kepada Soojin.

Gomawoyo.

“Cheonma ~”

“Err, Donghae-ya..”

Ne, noona?

Hyukjae tidak masuk?” tanya Soojin.

Donghae menjawab pertanyaan Soojin dengan anggukan.

“Tumben sekali. Wae?” tanya Heeyoung penasaran.

Err ~ baca saja suratnya. Nanti Soojin noona dan Heeyoung noona akan tahu alasannya.” Jawab Donghae.

Ada wajah miris yang coba disembunyikan namja itu dari Soojin, tapi mampu terbaca oleh Heeyeong, sahabat baik yeoja itu.

 

Dear Soojin noona ~ ^^

 

November 11, 2004

Kamu pikir aku tidak tahu kenapa setiap tanggal 11 Nopember kamu selalu tersenyum lebih lebar dari biasanya. Aku tahu, jadi berhenti memanggilku bodoh dibelakangku setiap tanggal itu, noona-ya ~ 😛

 

November 4, 2004

Aku melihat seorang yeoja yang tampak kesal saat berteduh menunggu hujan reda. Ekspresi wajahnya tampak menggemaskan. Apalagi saat melihat hidungnya yang terlihat memerah karena kedinginan. Aku sempat berpikir, yeoja bodoh dari mana yang tidak membawa payung dan sweater atau jaket atau apapun untuk menghangatkan tubuhnya pada musim hujan seperti itu.

Dan kejadian itu terus berlanjut sampai hari-hari berikutnya. Kamu yang berdiri untuk berteduh, bedanya kamu mengenakan sebuah jaket berwarna biru, senada dengan warna jaket yang aku pakai. Kita serasi,kkkk ~

Tahu tidak apa yang ada dalam pikiranku? Yeoja ini seteledor apa sampai tidak pernah bawa payung, atau jangan-jangan yeoja ini pelit sampai tidak mau membeli payung, kkkk ~ Tapi itu menguntungkan untukku, karena aku bisa berlama-lama memandangi wajah yeoja itu. Karena entah kenapa aku suka melakukannya. Melihat hidungnya yang selalu memerah karena kedinginan. Dan pada akhirnya, aku mengambil sebuah keputusan paling ekstrim seumur hidupku, untuk ukuran namja yang baru berumur 12 tahun. November 11, 2004, aku menggenggam tangan yeoja itu sebagai salam perkenalanku ^^ ~

 

Kita tidak pernah memusingkan dengan status dari hubungan yang kita jalani. Teman, sahabat, atau lebih dari itu. Kita berdua menjalaninya apa adanya. Sampai pada hari itu, ada sebuah kejadian yang menyadarkanku. September 21, 2007, aku melihat semuanya dari awal sampai akhir. Aku mendengar gema suara-suara itu, aku tidak ada apa-apanya dibanding namja sempurna itu. Aku memikirkan semuanya sejak hari itu sampai tiga hari yang lalu akhirnya aku membuat sebuah keputusan. Keputusan yang sejujurnya sangat berat untuk aku ambil. Aku memutuskan untuk pergi, bukan sebagai seorang namja pengecut. Aku pergi untuk belajar, untuk masa depanku, untuk menjadi Hyukjae yang pantas untuk seorang yeoja bernama Soojin. Gadisku.

Aku tidak tahu sampai kapan, tapi pada waktunya nanti, aku pasti kembali.

 

Close your eyes, go to sleep

Know my love is all around you

Dream in peace, when you wake

You will know I’m still with you..

 

Percaya aku, aku pasti kembali..

 

With L

 

Lee Hyukjae

 

Jinni-ya.” Heeyoung meremas bahu sahabatnya, memberikan kekuatan.

“Aku tidak apa-apa, Young-ah. Aku percaya Hyukki.

_______

 

Kini jari-jari Soojin bergerak lincah di atas keypad notebook miliknya.

 

November 11, 2004 – November 11, 2011

HAPPY 7th ANNIVERSARY..

Thanks for being YOU in my life. Teach me about happiness and sadness..

My Rainy Boy..

I will never cease to ‘believe’ you.

 

Sampai detik ini, dia selalu mempercayai kata-kata Hyukjae. Namja itu pasti akan kembali untuknya.

Soojinn memejamkan matanya. Suara syahdu Eric Benet masih mengalun merdu, menggema di seluruh ruang kamarnya, beriringan dengan suara merdu rinai hujan di luar sana.

 

THE END

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: