[Eunhyuk’s Day] The Home is in Your Eyes

151013-eunhyuk-enlist-by-m3h-optye6958fe8b5abe6b5b7e8b4a4e58f8be68385e7ab99-3

Author: Primrose Deen

Title: The Home is in Your Eyes

Cast: Lee Hyukjae (Eunhyuk), Haru

Genre: Romance

Rating: PG-15

Length: Oneshot

***

Semuanya seperti cerita dongeng untukku, Hyuk. Terjadi tanpa bisa diduga-duga. Bertahap dan berawal dari hal-hal kecil yang menyenangkan. Hal-hal kecil yang membuatku merasa tak sabar untuk datangnya hari esok, namun juga tak ingin waktu cepat berlalu. Ini semua terasa agak aneh. Tapi rasanya nyaman, seperti pulang ke rumah. Terkadang, rumah bukanlah tempat, Hyuk. Rumah adalah seseorang.

***

Ini adalah tahun ketiga aku mengenalmu. Oh, tepatnya adalah memperhatikanmu. Memperhatikan setiap gerak-gerik tubuhmu yang semakin hari semakin menampilkan ototmu, walau tertutup oleh baju-baju bermerek tersebut. Memperhatikan setiap kali kau membuat gestur-gestur aneh dari balik meja kasir, menyibukkan diri dengan bermain bersama Choco—anjing Pomerania kesayanganmu, mengenakan aksesori tanduk rusa kala Natal hampir datang, menyapa setiap penggemar yang datang, bahkan kau tak sungkan untuk sedikit mengobrol dengan mereka, menanyai dari mana mereka datang, berbicara dalam bahasa mereka (ketika mereka datang dari luar negeri) walaupun kau tahu pengetahuanmu terbatas, menjabat tangan mereka sambil mengatakan hal-hal lucu, dan masih sangat banyak hal yang kau lakukan.

Aku tak tahu apa pun mengenai dirimu, selain kau adalah seorang personil salah satu grup terkenal tingkat dunia, Super Junior, dan merupakan laki-laki dengan senyum termenarik yang pernah kulihat. Ketika kedua bibirmu tertarik ke arah yang berlawanan, gigi-gigi yang berderet rapi itu menampakkan dirinya bersama dengan gusi merah jambu yang memikat.

Aku bukanlah penggemar beratmu, yang selalu menunggumu dengan kamera-kamera profesional yang dikalungkan di leher, yang selalu datang ke setiap panggungmu, yang selalu mengikuti seluruh aktivitasmu di dunia maya. Bukan. Aku hanyalah orang yang kebetulan beruntung, bisa lahir di negara yang sama denganmu, berbicara dalam bahasa yang sama denganmu, dan dikenal olehmu.

Jika aku harus menghitungnya dengan teliti, ini adalah hari ke-1198 sejak aku melihatmu. Di sini, di tempat yang sama. Di tempat aku duduk sekarang dan kau yang sedang berdiri di balik mesin kasir dan tersenyum seperti sekarang ini.

***

Mata kami bertemu ketika aku sedang memperhatikannya yang sibuk bercakap-cakap singkat dengan penggemarnya, lalu dengan ramah memberikan pesanan minuman mereka. Ia menyunggingkan seulas senyum ke arahku, lalu sedikit menundukkan kepalanya.

Aku terkesiap, tak dapat mengendalikan kedua mataku yang melebar secara tiba-tiba setelah mendapat senyum itu. Aku cepat-cepat memutar tubuhku, membelakangi arah meja kasir dan kembali menyeruput caffe latte-ku.

“Sudah berapa kali datang ke sini?” Suara asing yang anehnya terdengar sangat nyaman di gendang telingaku menyapa.

Aku merasakan kehadiran seseorang di sisi kananku. Sontak, aku pun mengangkat wajah. Mata kami bertemu lagi. Kali ini, aku merasa seperti nyaris tenggelam di kedua mata cokelat gelapnya.

“S-sekitar tiga kali.” Aku menyeruput minumanku kembali dengan sedikit gugup.

Ia duduk di kursi yang ada di hadapanku. Masih dengan senyum yang ramah, ia bertanya,“Apakah ada kritik atau saran yang ingin kau sampaikan untuk kami?”

“T-tidak ada.”

Aku mengutuk diriku sendiri karena tak dapat membalas keramahannya. Tapi, sungguh, aku tak dapat memikirkan jawaban lain selain kata-kata payah itu, bahkan dengan tergagap.

“Kuharap kau bisa menyampaikan sesuatu di pikiranmu padaku. Apa pun itu.”

Tangannya meletakkan secarik kertas kecil sebelum beranjak kembali ke balik meja kasir. Aku menatap kertas yang disobek dengan sembarangan itu dengan mata menyipit. Guratannya sedikit dalam karena ditulis dengan terburu-buru.

ID KakaoTalk: dalnim_eunhyukee

Apakah dia baru saja memberikan ID KakaoTalk-nya kepadaku?

Aku menatap meja kasir, namun ia sudah tidak ada di sana.

***

Aku tidak bisa memikirkan kritik atau saran apa pun untuk coffee shop-mu.

Oh, jadi namamu Haru. Nama yang bagus! ^^

Terima kasih.

Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku? Padahal tadi kau terus memandangiku.

Memandangi apanya?

Oh, ayolah. Aku melihat semuanya tadi.

Daripada mengatakan sesuatu, ada yang membuatku penasaran.

Apa itu?

Apa kau benar-benar anggota Super Junior?

Apa kau sedang bercanda atau kau benar-benar tidak tahu?

Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda?

Namaku Lee Hyukjae. Bukan Eunhyuk.

Bukankah kau Super Junior Eunhyuk?

Benar. Tapi entah kenapa, di hadapanmu, aku ingin memperkenalkan diri sebagai Lee Hyukjae.

***

Aku tak pernah menyangka bahwa kencan pertamaku akan terjadi seperti yang ada di dalam drama; aku berkencan dengan seorang laki-laki yang berprofesi sebagai artis, sehingga aku harus terima ketika kau mengenakan berlapis-lapis penyamaran berupa topi, kacamata hitam, dan maskermu itu. Rasanya menegangkan sekaligus menyenangkan. Ketika aku harus diam-diam berbaur dengan kerumunan orang, berupaya agar tetap terlihat seperti tak terjadi apa-apa, namun tetap dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Kencan pertama kita sederhana; makan odeng, ddeokbokki, dan jajanan kecil lainnya yang tak kunjung membuat perut kita merasa puas, lalu setelah selesai makan, kita berjalan sambil minum kopi, dan perlahan-lahan jemarimu menggenggam jemariku, mengisi kekosongan yang ada di sela-sela jariku. Tanganmu yang hangat dan nyaman terasa seperti menawarkan sebuah perlindungan. Aku menyukainya. Aku menyukaimu.

***

Kita berhasil tiba di hari ke-100 kita tanpa diketahui oleh pihak mana pun kecuali keluargamu dan para member Super Junior. Kau membawaku ke Namsan Tower, menuliskan nama kita pada gembok, menguncinya, lalu membuang kuncinya.

“Kau bilang, kau ingin melakukan ini seperti pasangan-pasangan pada umumnya, bukan?” Suaranya terdengar nyaring di telingaku, walaupun mulutnya tertutup oleh masker hitam. Tatapan matanya tetap teduh, walaupun musim panas terasa sangat gerah. Kedua matanya menyipit seiring senyumnya yang kuyakini sedang terkembang lebar.

Aku tersenyum dan mengeratkan genggamanku di tangannya. “Terima kasih, Hyuk. Terima kasih telah berusaha.”

“Terima kasih telah mengerti.”

Aku mengembuskan napas sedikit keras, lalu tersenyum lebar. “Ini seperti mimpi.”

“Aku akan memberi tahumu sesuatu yang nyata.”

Aku menatapnya dengan kepala dimiringkan.

“Aku mencintaimu.”

***

Hari ini, ia sedikit memotong rambutnya. Ia mengaturnya sedemikian rupa agar tetap terlihat supertampan dengan rambut yang ditata berdiri. Sejak tanggal wajib militernya ditetapkan, ia telah mengecat rambutnya dengan warna hitam. Kini, sedikit demi sedikit, ia memotong rambutnya sebelum akhirnya menyisakan sedikit saja nantinya.

Aku menatapnya yang tak kunjung menyurutkan lautan keramahan serta senyum di wajahnya. Ia dengan keramahtamahan dan kelucuannya, melayani setiap penggemar yang datang ke ChocolatBonbon dan bertransformasi menjadi seorang pelanggan.

Tepat saat itu, mata kami bertemu. Ia tersenyum ke arahku, seperti senyum yang sama seperti yang ia berikan padaku tiga tahun yang lalu.

Datanglah ke belakang.

Begitu isi pesannya yang baru saja masuk ke ponselku. Aku menatapnya yang melirikku sekilas dengan senyum penuh pesan.

Oh, baiklah tuan kopi.

Setelah menunggunya selama beberapa saat, ia berjalan masuk dari arah coffee shop. Ia mengambil sesuatu dari paperbag yang ada di sebelah sofa.

“Pakailah. Musim gugur sudah tiba.”

Aku menatap jaket tebal berwarna hitam dengan bulu putih di tepian hoodie-nya yang ia acungkan ke arahku dan menatapnya secara bergantian. “Terima kasih.”

“Aku juga mengenakan jaket dengan warna yang sama.” Ia mengangkat jaket yang ia ambil dari paperbag yang lain.

Tawa kami berderai. Ini adalah hal kekanak-kanakan yang selalu kulakukan bersama Hyukjae. Sebelumnya, ia pun memberiku sepasang sepatu yang berpasangan dengan miliknya. Aku juga memberi sebuah phonecase dan topi dengan model serta warna yang sama.

“Coba pakailah,” ujarnya setelah mengenakan jaket barunya.

Ia membantuku melepaskan jaket yang sedang kukenakan, lalu kembali membantuku memakai jaket pemberiannya.

Aku mengangkat kedua tanganku, lalu berputar. “Bagaimana?”

“Oh, cantik sekali. Ini cocok untukmu.”

“Haruskah kita mengambil selca bersama?”

“Tentu saja.”

Ia merangkul pundakku dan merapatkan tubuhku ke tubuhnya, lalu mengangkat ponselnya sedikit ke atas. Ia memamerkan giginya dan aku mengankat jariku membentuk pose V. Kami mengambil beberapa foto dengan pose-pose berbeda, lalu terkikik setelah melihat hasilnya.

“Aku akan mengenakan jaket ini di hari keberangkatanku.”

Sesuatu menghujam jantungku setiap kali aku mengingat keberangkatan wajib militernya yang sudah kurang dari dua puluh empat jam. Rasanya, ia seperti akan pergi meninggalkanku ke tempat yang jauh. Dan itu membuatku takut.

“Ah, coba cek sakumu, apakah ada barangku yang tertinggal di sana. Kurasa aku meninggalkan sesuatu di sana tadi.”

“Oh ya? Barang apa memang—” Aku menatap sesuatu yang ada di tanganku. Sebuah kotak kecil berbahan beludru warna hitam. Aku menatapnya yang sedang tersenyum hangat, seakan-akan sedang menyembunyikan kegirangannya karena rencananya berjalan seperti yang ia inginkan.

Aku membuka kotak itu dengan hati-hati dan menemukan sesuatu yang kecil berkilau di sana. Sebuah cincin.

Manik mataku bergerak kembali ke arah Hyukjae yang tersenyum kian lebar. Aku ingin menanyakan banyak hal, namun semuanya seperti terkunci di dalam mulutku. Aku tak mampu menemukan kata-kata yang tepat.

Hyukjae mengambil cincin yang ada di tanganku dan merendahkan tubuhnya di hadapanku—berlutut. “Maukah kau menjadi tempatku untuk pulang? Maukah kau menikah denganku?”

Aku tetap tak dapat menemukan kata-kata yang tepat di antara lautan kata-kata yang ada di kepalaku. Semuanya seperti tercampur baur, menjadi satu, acak, membuat lidahku terasa kebas. Sebagai gantinya, justru air mataku yang menetes setelah tertahan di pelupuk mata.

Aku mengambil satu langkah mendekati Hyukjae dan memeluknya erat. “Aku bersedia, Lee Hyukjae. Aku bersedia.”

***

Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, pun bukan waktu yang lama. Menunggunya kembali bukanlah sesuatu hal yang mudah, pun bukan sesuatu yang sulit. Namun, bukankah sejauh apa pun kita melangkah, pada akhirnya kita akan selalu memilih untuk pulang?

Ketika aku melihat punggungmu menjauh, kupastikan bahwa dua tahun lagi, kau tak akan melihat punggungku menjauhimu.

Aku akan menunggumu pulang, Lee Hyukjae.

 

~ THE END ~

 

If you are interested to read my fanfics, kindly please visit:

http://primrosedeen.wordpress.com

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: