[Donghae’s Day] SOMEDAY

someday

SOMEDAY

Author : Azmi

Cast :

  • Lee Donghae
  • Im Yoon Hee

Genre : Hope, Sweet, Romance, School Life

Rating : PG 13

 

Akhir pekan merupakan hari yang paling menyenangkan. Tak ada bangun pagi untuk berangkat sekolah, tak ada terburu-buru karena takut terlambat. Minggu pagi memang waktu yang sangat tepat untuk bermalas-malasan di atas tempat tidur. Meneruskan mimpi yang sempat tertunda, menikmati hangatnya selimut tebal kesayangan ditambah dengan hangat sinar mentari yang sayup-sayup mengintip di sela gorden yang sedikit tersingkap.

Namun tidak bagi Yoon Hee, gadis yang sebentar lagi genap berusia 16 tahun itu lebih memilih keluar rumah. Menikmati udara pagi dan berlatih untuk turnamen musim panas beberapa minggu lagi. Tak ada waktu untuk bersantai bagi gadis itu kalau ia masih menginginkan tropi juara satu turnamen lari interhigh yang akan ia ikuti di Seoul nanti.

Kakinya selalu terasa gatal kalau tak dipakai untuk berlari. Lari adalah segalanya bagi Yoon Hee. Kalau ia mau hidup maka ia harus berlari. Kalau hanya dengan berjalan sama saja dengan memperlambat dirinya untuk meraih apa yang menjadi tujuan hidupnya. Itulah sebabnya semua orang yang menganal Yoon Hee memberikan julukan si jaguar yang penuh semangat padanya. Yoon Hee selalu bersemangat dalam melakukan apa pun, ia gadis yang ceria.

Senyum Yoon Hee terkembang sempurna begitu mata bulatnya menangkap siluet seseorang. Satu lagi moto dalam hidup Yoon Hee, sambil menyelam minum air. Sebentar ia mengelap keringat yang mengucur di dahinya dengan handuk kecil kemudian menghampiri seseorang yang membuatnya berkali lipat lebih semangat. Membawa tubuh lelahnya ikut terduduk di tempat kosong di bangku taman itu.

Matanya tak berkedip menikmati wajah yang tengah terpejam itu, tampak sangat menikmati apa yang menjadi mainan di pangkuannya. Sebuah gitar akustik mengeluarkan suara yang tertata indah seiring dengan petikan jari pria itu, membuat siapa pun terpesona dengan nada itu-setidaknya bagi Yoon Hee.

Yoon Hee terhanyut dengan alunan musik akustik itu, dipadukan dengan suara lembut khas seorang Lee Donghae-pujaan hati Yoon Hee-hingga membuat gadis itu tanpa sadar ikut memejamkan matanya. Dalam benak Yoon Hee terlukis siluet Lee Donghae yang tengah berlutut dengan membawa setangkai mawar merah untuknya. Pangeran dengan kuda putih tengah melamar dirinya, menjemputnya untuk ikut tinggal di istana di atas bukit.

Betapa bahagianya Yoon Hee seandainya hal itu menjadi kenyataan, namun sayangnya suara petikan gitar dan senandung Lee Donghae yang tak terdengar lagi membuatnya bangun dari angan-angan liarnya.

Dapat ia lihat wajah terkejut Donghae saat mendapati dirinya duduk di sampingnya. Yoon Hee memberikan senyum termanisnya. “Apakah sudah selesai? Sayang sekali, aku masih ingin mendengarkan suara Donghae sunbae[1] yang indah itu!”

“Sejak kapan di sini?” tanya Donghae canggung. Entah mengapa Donghae kini merasa gugup saat berada di dekat gadis itu. Apa lagi saat mengingat pernyataan cinta gadis itu tempo hari saat jam istirahat makan siang di kantin. Jujur itu pertama kalinya bagi Donghae mendapat pernyataan cinta dari seorang gadis secara langsung.

“Sejak tadi! Aku sangat menikmati nyanyian Donghae sunbae lho!” senyum manis masih senantiasa terkembang menghiasi wajah Yoon Hee. Siapapun tahu bagaimana perasaan Yoon Hee pada Lee Donghae, termasuk seluruh teman-temannya di sekolah. Yoon Hee gadis yang selalu menempel pada kakak kelasnya itu akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya tempo hari. Tak tanggung-tanggung, ia melakukannya di depan semua orang saat jam istirahat di kantin yang sedang ramai-ramainya.

Donghae yang masih bingung harus menjawab apa, memutuskan untuk diam saja. Yoon Hee yang memang selalu berpikiran positif mengartikan diamnya pria itu karena membutuhkan waktu untuk memutuskan. Yoon Hee tak pernah berfikir kalau seandainya cintanya di tolak, ia selalu optimis. Lagi pula bagi Yoon Hee, diterima atau pun ditolak bukankah sama saja. Yang penting ia sudah jujur pada dirinya sendiri dan tentu saja pada Donghae. Dari pada nanti didahului gadis lain dan menyesal, bukankah lebih baik ia maju lebih dulu. Ia sangat berharap Donghae mau menerima cintanya.

Donghae tampak menarik nafas sejenak kemudian menurunkan gitar dari pangkuannya dan menyenderkannya di bangku. Ia menatap ke depan-ke hamparan dedaunan sisa musim gugur beberapa hari yang lalu.

“Yoon Hee-ya, Kau tahu ‘kan sebentar lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan?” Yoon Hee mengangguk menanggapi gumaman Donghae, “Kau juga tahu ‘kan kalau Appa[2] sedang sakit?” Yoon Hee kembali mengangguk. Ia tahu Ayah Donghae memang tengah sakit, beberapa hari yang lalu beliau baru saja keluar dari rumah sakit. Memang sih ia juga sedih melihat kondisi ayah pria yang disayanginya itu dalam keadaa tak baik, Tapi Yoon Hee bingung, apa hubungannya antara ayah Donghae yang tengah sakit dengan dirinya yang tengah menikmati musik Donghae.

Yoon Hee masih menatap Donghae bingung ketika wajah tampan itu menoleh-balas menatap dirinya. “Yoon Hee-ya, menganai pernyataan cintamu tempo hari, aku tahu kau sangat menyukaiku, tapi aku tak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu-pacaran, aku harus belajar dengan giat karena ujian kelulusan semakin dekat, aku juga harus bekerja paruh waktu untuk membantu meringankan biaya pengobatan Appa. Jadi aku minta maaf, aku…”

“Ahh, Donghae subae, maaf aku harus berlatih lagi. Turnamen sudah dekat!” sela Yoon Hee memotong ucapan Donghae, ia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan itu. Dan saat ini Yoon Hee tak ingin mendengar kata penolakan. Turnamen lari sudah di depan mata, ia tak mau hal itu mengganggu konsentrasinya. Lebih baik tetap berharap dan menjadikannya sumber semangat. “Dan mengenai pernyataan cintaku itu, jawabnya nanti saja kalau aku sudah pulang dan membawa tropi juara. Donghae sunbae berikan semangat untukku ya!!”

“Tapi Yoon Hee-ya…”

“Ahh~ dan ini undangan ulang tahunku, kau harus datang dan berikan hadiah terindah untukku!”

Yoon Hee berlari sebelum Donghae sempat mengeluarkan suaranya. Ia menatap kartu merah jambu yang kini berada di tangannya dan tersenyum kecil.

****

Tidak tahu mengapa suasana sarapan pagi ini terasa begitu aneh. Eomma[3] yang biasanya mengoceh ini dan itu, kini tampak diam-sibuk mengaduk sup tahu tanpa sepatah kata pun. Mata Yoon Hee beralih ke kanan-di mana ayahnya tengah termenung mengabaikan koran pagi yang biasa menjadi topik hangat perbincangan. Tak ada komentar apapun dari bibir tua itu, bahkan ketika Yoon Hee melirik koran pagi itu yang ternyata banyak menyajikan berita yang biasanya begitu menarik bagi Appa.

Yoon Hee bangkit menghampiri Ibunya yang tengah hamil tua, seingat Yoon Hee usia kandungan adiknya kini menginjak bulan ke delapan.

“Eomma gwaencanayeo[4]?” tanya Yoon Hee begitu melihat ibunya yang kini tampak pucat. Bibir yang biasaya merah merona itu kini tampak pucat dan pecah-pecah. Apakah Yoon Hee melewatkan sesuatu akhir-akhir ini, seingatnya semua baik-baik saja.

Yoon Hee masih menatap Ibunya khawatir ketika sampai beberapa detik tak mendapatkan sahutan sama sekali. Tangan Yoon Hee terangkat untuk menepuk pundak Ibunya dengan halus, “Tak baik memasak dengan menalamun, nanti masakannya gosong. Eomma sedang memikirkan apa?”

Ibu Yoon Hee sempat terkesiap sebelum akhirnya mampu mengontrol kembali emosinya. Ia tersenyum kecil melihat putrinya yang mengerutkan kening dengan ekspresi khawatir. Ia menggusak sesaat puncak kepala Yoon Hee membuat gadis itu memberenggut sebal. Ia membutuhkan waktu lama untuk menata rambutnya dan sekarang jadi berantakan lagi.

“Eomma baik-baik saja!” ucapnya dengan senyum hangat seperti biasa, “Lagipula selama hampir seumur hidup Eomma belum pernah ada yang bisa menggosongkan sup, kau tahu?”

Yoon Hee tertawa kecil menyadari kebodohanya. Ia tahu ia sama sekali tak bisa memasak, tapi Yoon Hee sendiri tak mengira bahwa ia sebodoh itu. Mana ada sup yang gosong, kecuali kuahnya yang menyusut. Tapi tunggu, kalau kuahnya menyusut sampai habis, bisa saja kan supnya gosong. Ahh~ entahlah, Yoon Hee tak ingin ambil pusing tentang hal itu.

“Eomma terlihat pucat, apa Eomma sakit? Apa terjadi sesuatu dengan uri Dongsaeng[4]?” tanyanya khawatir.

“Eomma tak apa, Gogjeongma[6]!” Ibu Yoon Hee kembali memberikan senyum hangatnya, tapi kali ini entah mengapa Yoon Hee melihat senyuman itu tak sehangat biasanya, “Kajja[7] kita sarapan, supnya sudah matang!”

****

Angin musim panas yang berhembus serasa meledakkan kedua pipi Yoon Hee dengan hangat, bayangan wajah Donghae yang tengah terpejam menikmati lagu muncul di benaknya. Bekal makan siangnya ikut melambai saat ia malangkah menyusuri koridor kelas tiga yang ramai karena jam istirat. Ia sesekali menggumamkan lagu kesukaan Donghae yang sudah sangat dihafalnya di luar kepala. Andai saja ia pandai bernyanyi atau bermain musik, mungkin sudah dari dulu ia akan meminta Donghae untuk berduet. Setidaknya untuk menemani latihan agar lebih menyanangkan. Yoon Hee terkikik sendiri membayangkan hal itu.

Yoon Hee langsung masuk ke dalam kelas Donghae begitu ia sampai. Ia berniat memberikan bekal makan siangnya, mengingat ia harus pulang lebih cepat hari ini. Besok sudah hari pertandingan dan pelatih Kim bersama atlet lain akan berangkat ke Seoul nanti termasuk Yoon Hee. Sekalian Yoon Hee ingin berpamitan pada pria yang hampir satu tahun ini mengisi hatinya.

“Yoon Hee-ssi, mencari Donghae?” Yoon Hee menoleh, mendapati seorang gadis bertanya ramah padanya. Senyum gadis itu begitu manis, membuat siapa pun terasa ingin ikut menarik bibir ke atas saat melihatnya.

Yoon Hee mengangguk semangat lengkap dengan senyum mengembang, “Nde Sunbae[8], Apa Jessica Sunbae melihatnya?”

Gadis itu menggeleng ringan melihat Yoon Hee yang selalu tampak antusias pada teman sekelasnya itu. Tak ada yang tak mengenal Yoon Hee, hampir semua siswa di SMA Mokpo mengenalnya. Gadis di tahun pertama yang mengejar seniornya, melakukan apa pun demi bisa dekat dengan pujaan hatinya.

“Kulihat tadi ia duduk-duduk di taman belakang!” jawab Jessica ramah, “Ngomong-ngomong bagaimana jawaban Donghae atas pernyataan cintamu tempo hari? Kalian sudah berpacaran, eoh? Ayo ceritakan padaku, kalian sudah pergi kencan kemana saja?”

Sontak kedua pipi Yoon Hee merona, “Ahh~ Sunbae jangan menggodaku!” ujar Yoon Hee malu-malu tapi detik berikutnya wajahnya berubah sayu menyadari bahwa Donghae bahkan sama sekali belum membarikan jawaban apa pun. Hampir sih, tapi kalau penolakan yang didapat, Yoon Hee lebih memilih untuk menunggu saja kalau itu bisa merubah jawaban Donghae. “Bahkan dia belum membarikan jawabanya…” ucapnya lesu.

“Apa? Bagaimana bisa?!”

Yoon Hee menghela nafas. Begitu lebih baik dari pada harus kecewa, “Aku permisi dulu Jessica Sunbae, kalau aku sudah mendapatkan jawabannya aku janji akan memberitahumu, jangan khawatir! Annyeong!” Yoon Hee melempar senyum sebelum berbalik meninggalkan kelas itu untuk menemui Donghae di taman belakang.

****

Hidup yang hanya satu kali ini terasa begitu berat bagi Donghae yang nyatanya masih duduk di bangku SMA. Ia melihat orang lain berjalan selangkah serasa melewati beberapa kilo sedangkan ketika ia mengayuh sepedanya cepat ia seperti tengah merangkak di atas tanjakan. Donghae tak pernah berpikir bahwa ia ingin seperti orang lain yang begitu mudah mendapatkan apapun, nyatanya di hadapan orang lain ia bisa membuat mereka iri dengan apa yang tampak darinya. Tapi bukankah apa yang tampak selalu menutupi apa yang sebenarnya tersembunyi di baliknya. Walau seandainya ia menampakkan apa yang tersembunyi itu, ia yakin tak akan mengubah apapun. Ayahnya tak akan serta merta mendapatkan biaya untuk oprasi, Kakaknya tak akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan atau ia akan diterima di suatu perusahaan rekaman seperti cita-cita selama ini. Tidak, itu tak membantu apapun. Mereka hanya akan memandangnya iba ketika melihat dirinya menangis, menampakkan simpati dan setelah itu mereka akan pergi dan melupakan dirinya.

Donghae menghembuskan nafasnya, menatap langit biru luas yang polos. Seperti tak ada apa pun di sana, benarkan langit saat ini dalam keadaan kosong? Kemana bintang-bintang yang biasanya paling semangat menghiasi langit? Kemana awan yang biasanya tampak ceria berarak kesana-kemari? Hanya matahari yang kini mampu tertangkap oleh mata Donghae, walau ia tak bisa sepenuhnya melihat matahari. Ia terlalu tangguh untuk orang biasa seperti Donghae.

Tangan kanan Donghae yang masih terlipat di bawah kepalanya sebagai bantal membuatnya menggunakan tangan kiri untuk melempar sebuah kaset sejauh yang ia bisa. Hingga sebuah bunyi Tuk kecil terdengar menandakan bahwa benda kotak kecil yang berisi rekaman suaranya itu ini telah terjatuh entah kemana, Donghae tak peduli. Ia tersenyum kecil sebelum memejamkan matanya. Ia sudah memutuskan bahwa ia akan menghirinya mulai saat ini. Mungkin bukan jalan Donghae untuk menjadi seorang penyanyi. Penolakan untuk kesekian kalinya membuat Donghae sadar, cita-citanya terlalu jauh melambung tinggi.

Semilir angin membuat Donghae merasa lebih nyaman. Apalagi wangi bunga yang terbawa olehnya, menjadi aroma terapi tersendiri bagi Donghae. Ia berharap setelah matanya terbuka nanti, akan ada hal lebih baik yang terjadi.

****

“Akh~”

Yoon Hee terpekik ketika merasakan benda keras menghantam pelipisnya. Tangannya terangkat untuk mengusap bagian yang terasa sakit. Yoon Hee meringis kecil ketika menyadari benjolan di pelipisnya. Sialan! Siapa yang berani melempar Yoon Hee?

Yoon Hee mengedarkan pandangannya hingga matanya tanpa sengaja menangkap sebuah benda persegi kecil tergeletak tak jauh darinya. Yoon Hee beringsut mengambil benda itu dan mengamatinya dengan kening berkerut.

“Kaset?” gumamnya. Yoon Hee membalik benda itu kemudian menemukan nama yang sangat tak asing baginya tertulis di sana.

Kaset milik Donghae. Yoon Hee tersenyum melupakan luka kecil di pelipisnya. Tapi sesaat kemudian kening Yoon Hee kembali berkerut, mengapa kaset itu dibuang? Bukankah itu kaset berharga bagi Donghae?

Ia ingat bagaimana dulu Donghae kelabakan mencari kaset itu ketika tak sengaja meninggalkannya di ruang OSIS. Tapi hari ini, kaset itu seperti dibuang dengan sengaja oleh seseorang hingga menghantam pelipisnya.

Yoon Hee sekali lagi mengedarkan pandangannya. Dan senyum merekah kembali terlihat menghiasi wajahnya ketika matanya menangkap tubuh Donghae yang tengah berbaring di bangku taman.

Yoon Hee perlahan mendekat. Tak terelakkan lagi senyum lebar di wajahnya. Kelihatanya Donghae sedang tertidur. Ini kesempatan bagus bagi Yoon Hee. Ia akan sepuasnya mengamati wajah Donghae sebelum nanti pergi ke Seoul, Tuhan memang maha adil.

Ia meletakkan bekal makan siangnya dan juga kaset itu di bawah bangku kemudian menunduk untuk bisa melihat Donghae lebih jelas. Donghae menggeliat kecil, tampak tak nyaman dalam tidurnya. Matanya seolah tengah kesulitan menyesuaikan diri, Yoon Hee mengernyit kemudian membalikkan badan dan matanya langsung tertutup begitu cahaya matahari terasa menyengat. Yoon Hee kembali tersenyum. Donghae tak nyaman dengan cahaya matahari yang terlalu menyengat, tentu saja bukankah saat ini tengah musim panas. Dan bagaimana mungkin Donghae tidur di tempat terbuka seperti ini?

Yoon Hee bergeser sedikit kemudian membuat tubuhnya lebih tinggi dengan berjongkok di atas lututnya berniat melindungi Donghae dari sinar matahari. Kini Donghae tampak lebih nyaman dengan posisinya.

Yoon Hee lagi lagi tersenyum. Tampannya, batin Yoon Hee. Tangannya terulur menyingkap helaian rambut Donghae yang menutupi sebagian kening pria itu, memainkan telunjuknya di sana, Memutar-mutar.

“Benar, ternyata memang selebar ini!” ia terkikik ketika telapak tanganya terasa pas menangkup kening Donghae, “Aku juga tak tahu mengapa, tapi aku benar-benar menyukai keningmu Donghae Sunbae! Aku iri padanya, karena di balik kening ini semua yang kau pikirkan ada di sana, melindunginya dan tak membiarkan siapapun tahu. Termasuk diriku!”

Yoon Hee menarik tangannya dan membuatnya bergabung dengan tangan lainnya untuk terkait di depan dada. “Mengapa Donghae sunbae begitu tertutup? Apa keningmu terlalu tebal untuk dapat membocorkan apa pun yang kau pikirkan? Aku juga kan ingin tahu perasaanmu padaku!” Yoon Hee memasang wajah merajuk, entah pada siapa. Ia tak mungkin merajuk pada Donghae, meski apa pun yang dilakukan pria itu.

Yoon Hee melepas kaitan tangannya di depan dada dan mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi dan memutarnya di sana. Ia berdehem sesaat sebelum memasang wajah angkuh, “Aku akan menyihirmu menjadi pangeran tampan yang paling periang, ceria dan… dan…” Yoon Hee nampak berpikir bingung ingin menyihir Donghae menjadi seperti apa, namun detik kemudian wajahnya kembali merekah saat berhasil menemukan sebuah ide yang menurutnya sangat bagus, “Dan sangat mencintai putri Im Yoon Hee yang cantik, menjalin kasih kemudian menikah dan hidup bahagia selamanya!”

Yoon Hee tak dapat menyembunyikan kikikannya. Ia tak menyangka bahwa dirinya bisa sekonyol ini. Donghae menggelit kecil membuat Yoon Hee menghentikan tawanya segera. Ia mengelus kening Donghae perlahan bermaksud menenangkan.

Ternyata mengaksikkan bermain dengan Donghae yang tertidur. Yoon Hee kembali mengamati wajah Donghae dengan cermat. Lagi-lagi kata tampan muncul di otaknya. Donghae yang terpejam seperti malaikat yang tengah tertidur. Hidung mancungnya dan bibir tipisnya yang indah. ‘Donghae sunbae seperti tak memiliki bibir atas saking tipisnya’ gumam Yoon Hee.

Yoon Hee manarik nafas sesaat, “Aku harus pergi Donghae sunbae, tapi aku tak tega kalau harus membangunkanmu.” Yoon Hee mendekatkan wajahnya, “Sampai jumpa nanti di hari ulang tahunku, Sunbae!” Yoon Hee menempelkan bibirnya di kening Donghae. Menciumnya sayang, entak keberanian dari mana sampai Yoon Hee melakukan hal itu. Donghae pasti marah jika ia bangun dan mendapati Yoon Hee mencium keningnya. Tapi berhubung Donghae tertidur jadi Yoon Hee dengan berani mengambil kesempatan itu.

Lama Yoon Hee tetap dalam posisi itu hingga ia menarik kembali wajahnya dengan senyum bahagia. Namun ketika ia menangkap mata Donghae yang terbuka sempurna-tengah menatapnya dengan kening berkerut membuat Yoon Hee kaget dan terjungkal ke belakang. Sungguh, matilah ia saat ini!

“Su-sunbae…”

“Apa yang sedang kau lakukan?”

****

Yoon Hee menatap lekat Donghae yang tengah menyantap bekal makan siangnya. Ia hampir saja mati saat menyadari Donghae memergokinya mencium kecing pria itu. Untung saja pria itu tak begitu mempermasalahkannya dan hanya berkomentar ‘Kau ternyata agresif ya?” tidak masalah dibilang agresif, kapan lagi ia akan mendapatkan kesempatan itu, sekali-kali kan tak apa. Kukuku~

Yoon Hee dengan cekatan memberikan air mineral ketika melihat bekal makan siangnya habis. Donghae menerimanya dan meneguk air mineral itu hingga tinggal setengahnya kemudian menghela nafas.

“Sejak tadi Donghae sunbae sudah tiga kali menghela nafas, apa ada masalah?”

“Tak ada.” Balas Donghae seadanya. Ia menatap datar ke depan melihat hamparan taman yang tampak kering di musim panas seperti saat ini. Kering, sama halnya dengan hatinya.

“Lalu mengapa kaset rekaman ini dibuang?”

“Kalau kau mau untukmu saja?”

“Bolehkah?”

“Iya.”

Yoon Hee tersenyum lebar kemudian menyimpan kaset itu ke dalam tas selempangnya. Ini barang yang berharga karena di dalamnya ada rekaman suara Donghae. Yoon Hee menyadari bahwa suara Donghae memang tak terlalu bagus, masih perlu banyak diasah tapi ada keunikan tersendiri dari suara pria itu. Suaranya sengau dan lembut disaat yang bersamaan hingga menimbulkan bunyi yang khas yang hanya dimiliki seorang Lee Donghae. Dan Yoon Hee sangat-sangat menyukainya. Apa sih yang tak disukai Yoon Hee dari pria itu.

“Donghae sunbae sedang ada masalah, ayo ceritakan padaku. Aku siap mendengarkannya kok!”

Donghae beralih menatap Yoon Hee membuat gadis itu harus mati-matian mengendalikan detak jantungnya saat ditatap selekat itu oleh orang yang dicintainya. Mata coklat bening itu begitu teduh dan dalam seolah banyak hal yang tersimpan di dalamnya.

“Apa kau tak lelah setiap hari menempel padaku?”

Yoon Hee agak terkesiap mendapati pertanyaan dari Donghae, namun secepat kilat ia kembali bisa menarik senyumnya. “Tidak, kalau perlu aku akan jadi plester agar bisa tetap melekat pada Donghae sunbae!”

“Kenapa begitu?”

“Karena aku mencintai Donghae sunbae!”

“Aku tak sesempurna itu untuk kau cintai seperti ini!”

“Kadang seseorang tak membutuhkan kesempurnaan untuk jadi sempurna. Dan aku hanya membutuhkan Donghae sunbae yang tak sempurna untuk menyempurnakan cintaku!”

Donghae menoleh cepat pada Yoon Hee, menatap gadis itu tak percaya. Bagaimana Yoon Hee bisa berkata seperti itu? Membuat Donghae semakin merasa bahwa dirinya tak pantas untuk gadis mana pun.

“Tadi adalah untuk ke lima kalinya aku ditolak oleh perusahaan rekaman dan aku masih harus berkonsentrasi dalam pelajaran disaat Appa tengah sakit dan berjuang untuk bertahan hidup dari hasil kerja paruh waktuku. Menurutmu apa aku masih punya waktu untuk memikirkan cinta?”

“Siapa bilang cinta butuh dipikirkan. Cinta itu hanya butuh dirasakan dan dibuktikan. Cinta tak akan membuat Donghae sunbae botak sama seperti ketika Sunbae memikirkan rumus matematika yang rumit itu, cinta tak akan membuat Donghae sunbae lupa dan menelantarkan Ayah sunbae yang tengah sakit, cinta tak akan membuat Sunbae kehilangan pekerjaan dan cinta tak akan menjadi penghambat Sunbae untuk menggapai cita-cita! Justru cinta akan membuat semuanya terasa semakin mudah…”

“Tapi cinta bisa membuatmu lupa bahwa masih ada banyak hal lain yang lebih penting untuk diprioritaskan dan…”

“Buktinya aku masih bisa berlari saat mencintai Donghae subae!” potong Yoon Hee, “Kenapa Donghae sunbae jadi pesimis begini? Tak peduli ditolak sampai berapa kali pun kalau perlu Donghae sunbae harus mencoba sampai seribu kali! Aku yakin akan membuahkan hasil yang manis. Donghae sunbae pasti jadi penyanyi terkenal nanti!”

“Mengatakannya saja memang mudah, tapi tak semudah melakukannya!”

“Memang sulit, tapi setidaknya kita sudah mencoba. Tak akan ada penyesalan dikemudian hari!”

Tak ada jawaban lagi dari Donghae. Ia memalingkan wajahnya dari Yoon Hee, kembali menatap kosong ke depan. Memikirkan lagi kata-kata gadis itu. Donghae Tak menyangka bahwa gadis itu juga bisa berpikir dewasa-bahkan lebih dewasa dari dirinya. Donghae pikir gadis itu hanya gadis manja yang terlalu optimis dengan apa pun yang dilakukannya, melupakan kenyataan bahwa coklat saja yang manis masih menyimpan kepahitan yang tak sedikit.

Tiba-tiba Donghae merasakan sepasang lengan melingkari tubuhnya, membawanya dalam sebuah dekapan yang Donghae akui-walau tak ingin-begitu hangat walau tubuh itu tak sebesar tubuhnya.

“Donghae sunbae kalau ingin menangis, menangis saja! Aku tak akan menertawakannya kok!”

“Kenapa aku harus menangis?” walau otaknya memerintahkan tubuhnya untuk melepas pelukan itu, tapi Donghae tak sanggup-entah karena apa, yang ia tahu ia begitu nyaman dalam dekapan gadis itu.

“Agar tak terlalu sesak, aku tahu Donghae sunbae sedang tertekan!”

“Sok tahu!” kedua lengan Donghae membalas dekapan itu, membenamkan kepalanya di pundak hingga gadis itu merasakan basah di bagian sana.

Yoon Hee tersenyum kecil, “Biar saja!” Donghae tak menjawab lagi dan menyembunyikan suara seraknya, “Donghae sunbae bersemangatlah! Aku tahu kau pasti bisa!”

“Kau memang gadis optimis ya!”

****

Hari ini benar-benar hari keberuntungan bagi Yoon Hee. Ia berhasil menjadi juara satu dalam kejuaraan lari interhigh, dan yang lebih membuat Yoon Hee membuncah adalah apa yang saat ini berada dalam genggamannya. Ia yakin Donghae akan sangat senang ketika kertas ini ia berikan padanya.

Ia sudah benar-benar tak sabar untuk bertemu pria itu, menagih hadiah ulang tahun dan meminta jawaban atas pernyataan cintanya. Semoga saja Dewi Fortuna benar-benar berpihak padanya, ia berjanji akan berkunjung ke panti asuhan setiap minggunya jika Donghae mau menjadikan dirinya sebagai pacar atau Yoon hee akan setiap hari memijat orang tuannya sebagai ungkapan rasa bersyukur. Apa pun yang kita dapatkan bukankah semua karena orang tua kita yang membuat kita lahit ke dunia ini.

Yoon Hee turun dari bis sekolah yang membawanya dari Seoul dengan tergesa-gesa. Ia akan meminta Ayahnya untuk mengemudi dengan kecepatan tinggi supaya bisa sampai di rumah dengan cepat dan bersiap untuk pesta ulang tahunnya nanti malam. Ia harus tampil cantik di depan Donghae. Ia juga berencana untuk memberikan potongan pertama kue ulang tahunnya untuk Donghae. Donghae pasti senang. Setelah itu mereka akan berbicara berdua saja di taman rumah, membicarakan kelanjutan hubungan mereka dan puncaknya Yoon Hee akan membarikan apa yang didapatnya selama berada di Seoul pada Donghae, brosur audisi untuk jadi trinee di sebuah perusahaan rekaman terkemuka di Korea. Yoon Hee sampai tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Donghae nantinya.

Yoon Hee mengedarkan pandangannya di lapangan tempat parkir bis yang ditumpanginya. Teman-temannya semua sudah dijemput oleh orang tua masing-masing, tapi sampai saat ini Ayah Yoon Hee belum juga datang padahal Yoon Hee sudah tak sabar untuk memamerkan medali emas yang diraihnya.

Yoon Hee mendesah kecewa dan memutuskan untuk duduk di atas tas besarnya sembari menunggu. Ia mengeluarkan ponselnya dan mendial nomor ayahnya. Tak aktif, apa Ayah sedang sibuk mempersiapkan pesta ulang tahunya? Ahh, tapi tetap saja Yoon Hee ingin cepat pulang.

Tiba-tiba Yoon Hee merasakan sentuhan di pundaknya. Gadis itu menoleh dan mendapati Donghae di belakannya.

“Donghae sunbae? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Yoon Hee bingung.

“Menjemputmu.” Jawab Donghae. Yoon Hee kembali terkesiap. Donghae menjemputnya? Ada angin apa? Memang sih rumah mereka berdekatan tapi selama ini Donghae tak pernah mau walau hanya sekedar untuk berangkat atau pulang sekolah bersama.

“Menjemputku?”

“Iya.”

“Bagaimana bisa?”

“Tentu saja bisa!” Yoon Hee ingin sekali memukul kepala Donghae seandainya saja ia tega, tapi Yoon Hee tak bisa melakukan hal itu, ia terlalu mencintai Donghae. Pria itu benar-benar membuat Yoon Hee gemas dengan wajah datarnya. Seharusnya bukan ekspresi seperti itu yang harus ditunjukkannya pada gadis yang dijemputnya pulang. Harusnya ia memasang senyum menawannya. Ingin sekali Yoon Hee menarik bibir Donghae ke atas.

“Donghae sunbae mulai mencintaiku ya?” tanya Yoon Hee langsung.

Donghae merinding mendengar pertanyaan itu, tapi saat ini bukan waktunya Donghae untuk kesal pada gadis itu. Ada hal yang lebih penting untuk gadis itu lakukan ketimbang harus berdebat dengannya dan mungkin setelah ini Donghae akan sulit menemukan gadis di depannya ini tersenyum. Donghae tak bisa membayangkan apa yang akan gadis ini lakukan ketika ia tahu apa yang terjadi.

“Donghae sunbae mengapa malah melamun?”

Donghae terkesiap, “Ahh, Aniyo… Ayo pulang!”

“Naik apa?”

“Sepeda.”

Yoon Hee mendudukan tubuhnya di boncengan sepada Donghae kemudian meletakkan kedua tangannya melingkari perut Donghae. Ia tersenyum bahagia. Benar, Dewi Fortuna memang sedang berpihak padanya. Yoon Hee memberanikan diri menyenderkan kepalanya pada pungung lebar Donghae ketika sepeda itu berlahan bergerak.

Yoon Hee marasa nyaman. Ia mulai menghitung detak jantung Donghae yang mampu ia rasakan di balik punggung pria itu. Jantung itu berdetak teratur hingga lama kelamaan semakin cepat membuat Yoon Hee kewalahan dan akhirnya tak bisa lagi menghitung. Apa Donghae kelelahan?

“Donghae sunbae? Aku berat ya?”

“Tidak, kenapa?”

“Jantung Donghae sunbae berdetak cepat sekali, apa karena kelelahan mengayuh sepeda?”

Donghae terdiam. Benar, ia juga merasakan jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat padahal ia yakin Yoon Hee tak seberat itu hingga membuatnya lelah. Donghae memegang dadanya merasakan lebih dalam. ‘Pelukan Yoon Hee membuat jantungku tak normal’

“Donghae sunbae?”

Donghae terkesiap tapi berusaha tetap terlihat tenang, “Hm?”

“Appa kenapa tak bisa menjemput?”

Donghae kembali terkesiap. Kali ini jantungnya berasa berdetak semakin menggila. “It… Itu…”

“Aku senang Donghae sunbae yang menjemputku!”

****

Yoon Hee turun dari sepeda Donghae segera setelah sampai di depan rumahnya. Ia mengernyit heran. Mengapa ruamahnya sudah banyak orang? Bukankah pesta ulang tahunnya masih nanti malam jam 07.00?

“Donghae sunbae bawakan tasku ya?” pinta gadis itu pada Donghae yang kini mengikutinya dari belakang. Donghae menerima tas itu dan membawa ke dalam rumah bersama Yoon Hee.

Yoon Hee membuka pintu rumahnya, namun tubuhnya membeku seketika bahkan sebelum ia menar-benar masuk. Ia melihat ibunya dengan hanbok[9] putih terduduk bersama orang-orang yang juga berpakaian sama di depan sebuah foto besar yang menampilkan seseorang yang tengah tersenyum bahagia. Sangat tampak sekali senyum itu begitu tulus. Yoon Hee ingat itu foto sebulan yang lalu ketika Ia diberikan kamera baru oleh Ayahnya. Yoon Hee memoto ayahnya ketika berada di kantor seusai rapat. Jas yang dikenakannya juga baru dibeli beberapa waktu lalu saat berlibur ke luar negeri, Yoon Hee sendiri yang memilihkannya.

Tapi mengapa foto itu dipajang di sana? Mengapa ada rangkaian bunga yang melingkarinya? Mengapa Ibu dan orang-orang itu mengenakan hanbok putih? Dan mengapa mereka semua tampak bersedih? Mengapa Ibu menangis? Lalu Ayah di mana? Ayah dimana, mengapa Yoon hee tak melihatnya?

“Yoonie…” Yoon Hee merasakan ibunya yang tengah mengandung adiknya itu memeluk tubuhnya sambil menangis. Yoon Hee tahu karena saat ini pundaknya terasa basah. Tapi Yoon hee masih belum mengerti, apa yang sebenarnya terjadi. Atau memang Yoon Hee tak ingin mengerti?

“Appa sudah pergi, Appa pergi meninggalkan kita! Bagaimana ini Yoonie? Apa yang harus kita lakukan?”

Lutut Yoon Hee terasa lemas seperti agar-agar. Ia ingin mengeluarkan suaranya tapi tak bisa. Tenggorokannya terasa tercekat hingga yang lolos hanya air matanya.

“Mengapa di hari ulang tahunku?”

****

Donghae kembali menatap brosur audisi di tangannya. Rasanya sesak sekali ketia ia mengingat bagaimana gadis itu menyerahkan kertas ini padanya. Ia berusaha tersenyum walau Donghae tahu hatinya sedang sakit. Binar yang selama ini terpancar sudah redup dalam sekejap. Donghae merindukannya, merindukan gadis yang selalu optimis terhadap apa pun yang lakukannya.

Seminggu sudah berlalu, tapi sampai saat ini Donghae belum berani menampakkan wajahnya di hadapan gadis itu-entah karena apa. Ia hanya merasa aneh, di saat dulu ia selalu disambut dengan tawa renyah dan kecerian oleh gadis itu tapi sekarang ia ikut merasakan sesak ketika melihat mata gadis itu yang meredup.

Gadis yang dulu memiliki segalanya itu kini hanya memiliki Ibunya dan adik yang bahkan belum lahir. Perusahaan Ayahnya bangkrut hingga membuat pria paruh baya itu memutuskan untuk bunuh diri meninggalkan Yoon Hee dan keluarganya.

Donghae mengintip dari balik pintu dapur yang terbuka. Memperhatikan Yoon Hee yang tengah serius dengan apa pun yang ada dalam pancinya. Donghae tak bisa membayangkan bagaiman rasanya masakan Yoon Hee karena ia tahu betul bahwa gadis itu tak bisa memasak.

Tiba-tiba Yoon Hee membalikkan tubuhnya hingga meraka bertemu pandang. Gadis itu tampak sedikit terkejut namun tak seekpresif dulu.

Yoon Hee tersenyum tipis, “Donghae sunbae sedang apa di sini?”

Donghae menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan perlahan mendekat pada gadis itu, “It.. Itu, aku…”

“Mau makan siang bersama? kebetulan Eomma belum pulang!”

Donghae hanya mengangguk kecil kemudian duduk di kursi makan menunggu Yoon Hee mengambil makanannya. Ia melihat gadis itu lagi, gadis itu tampak lucu dengan celemek kebesaran yang ia kenakan, kedua telapak tangannya tenggelam dalam sarung tangannya. Tanpa sadar Donghae mengulas senyum. Gadis itu tak penah mengeluh atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Ia hanya menjalaninya sebisa mungkin. Tak ada air mata kecuali ketika hari dimana pemakaman ayahnya berlangsung.

Yoon Hee meletakkan panci berisi sup tahu panas di atas meja kemudian mengambil dua mangkuk, menyerahkan satu yang sudah diisi sup pada Donghae.

“Donghae sunbae jangan takut, supnya enak kok!” Yoon Hee kembali mengulas senyumnya kemudian menyantap sup di mangkuknya sendiri. Kalau siutasinya seperti dulu pasti gadis itu sudah heboh mengatakan ini dan itu, tapi sekarang Donghae merasa lain. Walau gadis itu tetap tersenyum namun Donghae masih melihat kepahitan di sana.

Donghae mengernyit ketika sup itu menyapa lidahnya. Benar ini sup tahu? Mengapa rasanya manis sekali? Padahal Donghae tak suka makanan yang manis. “Yoon Hee-ya, mengapa supnya terasa manis?”

Yoon Hee sontak mengangkat kepalanya, “Benarkah?”

“Iya, jadi terasa aneh…”

Yoon Hee menggaruk belakang kepalanya sambil tersentum canggung, “Mungkin aku salah memberikan gula. Dimakan saja Donghae sunbae, jarang-jarang kan bisa mencicipi masakan gadis cantik sepertiku, atau mungkin karena orang yang membuat terlalu manis jadi supnya ikut manis ya?” Yoon Hee terkekeh dan kembali melanjutkan makannya dalam diam.

Donghae sudah tak tahan. Gadis itu sangat terlihat memaksakan senyumnya. Walau ia tak berhak menuntut, tapi Donghae ingin gadis itu bisa jujur padanya. Kalau ia ingin menagis, menangis saja tak perlu berakting ceria seperti itu. Donghae tiba-tiba saja merasa kesal sendiri.

Donghae beranjak dari kursi yang didudukinya kemudian berjalan memutar ke arah Yoon Hee, menarik gadis itu berdiri kemudian entah karena apa iya berani mencium gadis itu langsung. Jantung Donghae berdetak cepat menyadari apa yang tengah dilakukannya. Dapat ia lihat mata gadis itu terbuka lebar, tampak terkejut.

Bukan hanya Yoon Hee yang membeku di tempatnya, Donghae pun merasa kaku, shock atas apa yang dilakukannya sendiri. Demi Tuhan, Donghae spontan melakukan hal itu. Ia bahkan merasa otaknya tak pernah menyuruhnya melakukan hal itu.

Donghae menjauhkan wajahnya dari Yoon Hee dengan gugup, “Ma… maafkan aku!”

Yoon Hee masih diam kendati Donghae telah melepaskan ciumannya. Raut kaget di wajahnya belum hilang, sama seperti beberapa detik yang lalu.

“Yoon Hee-ya…”

“Donghae sunbae besok ke Seoul untuk audisi kan? semoga sukses ya…” Yoon Hee kembali memaksakan senyumnya.

“Yoon Hee-ya…”

“Tak usah dipikirkan, aku tahu Donghae sunbae tak bermaksud melakukan hal itu.”

Entah mengapa Donghae merasa kecewa ketika mendengar jawaban dari gadis itu. Ia tak tahu mengapa, tapi ia merasakan sesak ketika apa yang dilakukannya dianggap sesuatu yang tak ada artinya.

“Bu… bukan begitu Yoon Hee-ya… aku… aku, Saranghae[10]…”

****

Donghae mendesah kecewa. Berkali-kali ia melongok kesamping, di balik jendela kaca kereta api yang kini tengah ditumpanginya. Ia sangat berharap Yoon Hee datang, walau hanya untuk sekedar berpamitan mengucapkan sampai jumpa nanti. Tapi gadis itu tak pernah menampakkan batang hidungnya padahal Donghae sudah memberi tahu bahwa ia akan tinggal di Seoul mulai hari ini.

Donghae lolos audisi dan sekarang ia diharuskan menjalani masa karantina di Seoul sebelum debutnya. Itu artinya untuk wantu yang lama ia akan meninggalkan Mokpo bersama semua kenangan yang ada. Semua tak akan terasa berat jika tak ada Yoon Hee. Tapi sekarang Donghae merasa kehilangan ketika harus meninggalkan gadis itu.

Donghae menghela nafas, menyendarkan pungung lelahnya di sandaran kursi kereta.

‘Kadang seseorang tak membutuhkan kesempurnaan untuk jadi sempurna. Dan aku hanya membutuhkan Donghae sunbae yang tak sempurna untuk menyempurnakan cintaku’

Kereta perlahan melaju, Donghae tersenyum tipis dan menutup matanya.

‘Suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi. Kita akan menyempurnakan apa yang belum sempurna!’

****

Yoon Hee menatap lagi pintu rumahnya yang sudah tertutup rapat. Koper di tangan kanannya terasa begitu berat. Ia menoleh ketika sentuhan lembut menyapa pundaknya. Ia mendongak, ikut memberikan senyum pada Ibunya.

Yoon Hee tidak pernah tahu ternyata menahan air mata bisa sesakit ini. Yoon Hee juga tak pernah tahu untuk tersenyum bisa sesulit ini. Ketika ia meletakkan telapak tangannya di depan dada, ada sesuatu yang terasa mengganjal di sana. Ada yang belum bisa lepas seutuhnya hingga tak bisa membuatnya bernafas dengan leluasa.

Tapi hari tetap berlanjut. Matahari tetap bersinar meski kadang bulan merebut tempatnya. Musim semi masih akan datang lagi tahun depan, tak akan pernah ada musim panas sepanjang tahun, masih ada musim gugur dan musim dingin. Dan memang seperti inilah hidup.

Kita berjalan meninggalkan hari kemarin, melupakan kenangan pahit dan mengingat yang indah sebagai pengobat rindu. Kita berjalan untuk hari esok, selangkah demi selangkah menuju ke tempat dimana hari esok itu tiba. Sekarang tak penting, apakah kita sedang berlari atau pun berjalan, cepat atau lambat kita tetap akan mencapai tempat itu meskipun jalan di depan tampaknya jauh. Suatu saat kita akan mencapai langit biru yang luas dan penuh kebebasan.

‘Meskipun kita tidak tahu kemana kita akan pergi. Suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi sudah dengan identitas asing….’

FIN

  1. Panggilan untuk kakak kelas (senior).
  2. Ayah.
  3. Ibu.
  4. Ibu tidak apa-apa?
  5. Adik kita.
  6. Ayo.
  7. Iya, kakak.
  8. Pakaian tradisional korea.
  9. Aku mencintaimu.

4 Comments (+add yours?)

  1. hilma nugraheny
    Oct 25, 2015 @ 22:26:39

    Woaahhh… keren… kata katanya bagus…
    Ceritanya ala-ala gantung (?) Gitu ya… maksudku awalnya ku kira bakal di ceritain pertemuan mereka pas donghae udh jadi artis… tappi… aku suka bgt yg kyk gini… jdi kegeregetan (?) Ceritanya gk berkurang… ^^

    Reply

  2. Anica
    Oct 26, 2015 @ 00:21:48

    Endingnya gantung thor ini butuh sequel :3 Ayo dong kasih sequelnya oke

    Reply

  3. leekhom
    Oct 28, 2015 @ 20:25:38

    Ulalaa..tulisan’a rapi bgt dibaca’a enak mesli ending’a ngegantung masih kasian sekali mereka gk bersama lepas dari ending’a cerita’a keren😀

    Reply

  4. Futry
    Jun 21, 2016 @ 16:55:43

    Bakalan kebawa mimpi nih thor. Plis kasih sequel. Ffnya daebak. Jjang!❤

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: