[Donghae’s Day] This Confession

don

Author: Alifa Egitia Nuringtyas

 

Title: This Confession

 

Cast: Lee Donghae, Song Geum Hwa

 

Genre: Sad, Romance, Memories

 

Rating: PG 13

 

***

 

I lost my mind, the moment I saw you..

A never-ending happy ending, happily ever after..

Sharing and learning countless emotions everyday with you..

Tell me, if this is love..

***

 

Author POV

 

Namja itu terus melangkah, meninggalkan jejak ditengah hujan deras yang mengguyur kota Seoul saat ini. Langkah demi langkah di rasakannya sangat hampa dan seakan tidak bertapak. Ia berhenti dan terduduk lemas di tepi jembatan penyebrangan. Matanya terpejam, dan tanpa sadar ia telah mengeluarkan setetes air mata yang mengalir lepas melewati hidung dan bibirnya.

 

Hawa dingin malam yang menusuk setiap inci tulang rusuk dan berpotensi untuk membekukan ujung jari tangan dan kakinya, tak membuatnya beranjak di tengah udara malam yang semakin menyiksa ini. Pandangannya mengabur, seiring dengan semakin deras air matanya yang keluar. Ia menekan dadanya yang terasa panas bergemuruh karena terluka, kepalanya berkunang-kunang.

Ia meremas sebuah kertas dan melemparkannya kesembarang arah, tangan kanannya membentuk sebuah kepalan dan dengan cepat memukul wajahnya sendiri. Hal itu ia lakukan hanya untuk membuatnya tenang saat ini. Walaupun sebenarnya mustahil. Lubang dihatinya saat ini sedang menganga lebar. Luka itu tidak terlihat, tapi jelas sangat terasa. Ada sebuah himpitan yang seakan-akan melarangnya untuk bernafas.

 

Ia memejamkan kedua matanya, mencoba mengusir rasa sakit yang mendera batinnya dan juga mencoba untuk mengusir rasa dingin yang seolah-olah kini tengah membekukan syaraf didalam tubuhnya sedikit demi sedikit.

 

Namja itu menangkupkan kedua tangan kekarnya didepan wajahnya. Mencoba untuk menahan air matanya yang semakin deras keluar.

 

“Arghhhh !!”

Flasback

Author POV

Hari pertama musim semi, di Seoul, Korea Selatan. Geum Hwa melangkahkan kedua kakinya dengan tas persegi coklat yang menggantung di lengan kanannya. Kupluk putih yang melekat di kepalanya melindunginya dari guguran daun momiji yang berjatuhan di sekitarnya. Ia mengenakan mantel berwarna coklat dengan pasangan rok putih se-betisnya.

 

Taman pertama di Korea dengan paduan gaya Barat Klasik danTradisional Korea itu telah memikat Geum Hwa dengan pesona alamnya, sehingga membuatnya senang untuk sering berkunjung. Berbagai macam bunga yang berwarna-warni menemani langkah damainya. Matanya yang teduh menerawang, ia mencari tempat duduk yang strategis sehingga dapat memperlihatkan keseluruhan isi dari taman tersebut. Tidak perlu waktu lama untuk mencari. Dengan sekejap mata, ia sudah mendapatkannya.

 

Kursi panjang dibawah rindangnya pohon dan menghadap tepat ke arah danau yang terdapat di taman tersebut. Geum Hwa segera menempatkan dirinya diatas kursi bercat kecoklatan itu. Ia terdiam sejenak dan memejamkan kedua matanya. Angin musim semi berhembus, membuat rambut hitamnya bergerak dengan perlahan. Ia tersenyum dengan mata yang masih terpejam.

Ia membuka kedua matanya secara perlahan, merentangkan kedua tangannya dan kembali fokus memandangi pemandangan di hadapannya. Sesekali ia tertawa senang karena melihat beberapa anak kecil yang tengah bermain di sekitarnya.

 

Tapi, raut wajahnya berubah saat gendang telinganya tidak menangkap sebuah suara khas yang sering di dengarnya. Ia menyeritkan dahinya, kedua mata indahnya menerawang, menyapu seluruh sudut dari taman tersebut. Ia terus mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sedetik kemudian, kedua matanya berhenti di salah satu bangku taman yang terletak di bawah rindangnya pohon momiji. Bangku itu kosong, beberapa helai daun momiji yang berwarna kemerahan berguguran di sekitar bangku tersebut.

 

Yeoja itu menggelengkan kepalanya, ia terus mencoba untuk berfikir positif tentang namja itu.

 

“Kau pasti akan kembali bukan?” Ia tersenyum. Ya, dirinya percaya bahwa namja itu pasti akan kembali lagi.

 

Dengan perlahan ia melirik sedikit jam berwarna silver yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya. Ia menghela nafas panjang dan akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Kedua kakinya melangkah dengan perlahan meninggalkan taman tersebut.

 

Flashback Off

 

“Kau namja bodoh Lee Donghae. Arghh!!”

 

Namja itu berdiri dan memaki dirinya sendiri. Ia mengacak rambut hitamnya dan melepas dasi yang dikenakannya dengan kasar. Rahangnya mengeras dan wajahnya merah menahan amarah, kedua tangannya terkepal keras.

 

TESS TESS

 

Namja itu mengadahkan kepalanya dan merasakan air hujan yang kini telah membasahi sebagian dari jas hitam yang dikenakannya.

 

BUKK

 

Ia jatuh terduduk dan memukul trotoar yang terletak disebelahnya dengan keras. Luka dikanan kanannya makin menjadi saat ia kembali memukul trotoar tersebut terus-menerus.

 

“Aku hancur tanpamu Geum Hwa-ya..”

 

Flasback

 

Author POV

 

Keesokan harinya, Geum Hwa kembali mendatangi taman tersebut. Ia terus melangkah dengan seulas senyuman yang tercipta dari lengkungan di kedua sudut bibir tipisnya. Tubuh rampingnya di balut dengan dress berwarna peach cerah dan sweater rajutan yang mentupi bagian bahunya yang terbuka.

 

Ia mengedarkan pandangannya keseluruh taman dan berhenti saat menemukan sebuah bangku kosong di sudut taman. Ia kembali tersenyum dan dengan perlahan berjalan mendekati bangku tersebut.

 

Neon mudji, hangsang eolmana, neol sarang ha neunji..
(
You always ask, how much I love you)
Gakkeumsshik, ajik meon, mirae kkaji buranhae haji..
(
Sometimes, you get worried about the far ahead future)

Geokjeong hajima neol gwerob hajima, naegen wanbyeokhan saram ingeol..
(
Don’t worry, don’t torture yourself)
Summan shwi eo do, hwajang anhaedo, neon areum dawo, nun busheo..
(
You are my perfect love)

 

Langkahnya terhenti, ia menolehkan kepalanya dan mendapati seseorang yang tengah memainkan biola tepat di bangku yang berada di sebrang danau. Geum Hwa terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia terus menatap namja itu dengan senyuman manis di bibir merah mudanya.

 

Haru e hanbeon man neol saenggakhae..
(
Even if you’re just breathing, even if you don’t have makeup on)

Deo isangeun andwae, akkyeo dul geoya..
(
You are beautiful, eye-blinding, I think of you just once a day)
Himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman..
(
It can’t be more, because I’m saving you up, the sunshine of a hard day)
Isseo jun damyeon O.K. geugeollo dwae..
(
If only you are here, it’s OK, that’s all I need)
Lantunan suara biola itu berhenti. Geum Hwa tersadar dan segera berjalan menjauh. Namja itu meletakkan biolanya, ia mengangkat sedikit kepalanya dan tersenyum seraya menatap punggung Geum Hwa yang semakin menjauh.

 

Tangan kanannya merogoh sesuatu di balik saku celananya. Sebuah buku sketsa kecil. Namja itu, atau lebih tepatnya Donghae tersenyum dan memperhatikan dengan seksama buku tersebut. Nama Song Geum Hwa tertulis jelas di lembar pertama buku tersebut. Donghae kembali tersenyum, dan memasukkan kembali buku sketsa kecil itu ke dalam saku celananya.

 

***

 

Geum Hwa dengan perlahan menempatkan dirinya di atas kursi panjang yang terletak di sudut taman tersebut. Ia menghela nafas, dan kembali tersenyum mengingat kejadian tadi. Namja itu menatapnya! Sungguh, ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Hatinya masih berdebar-debar dengan kencang, seakan memaksa jantungnya untuk melompat. Sesekali ia melirik sang namja dengan biola yang masih duduk dengan tenang di bangku tersebut.

 

Ia memejamkan matanya dan kembali fokus pada tujuannya datang kemari. Dikeluarkannya beberapa benda dari dalam tas berwarna putih yang di bawanya. Cat air, kanvas, kuas, dan sebuah wallet.

 

Ia menaruh kanvas tersebut di pangkuannya. Tangan kanannya mengambil kuas dengan perlahan dan mulai menggambar sebuah seketsa sederhana di atas kanvas putih bersih tersebut. Ia menggambar keadaan taman, danau yang berkilauan tertimpa sinar matahari dan juga guguran daun-daun momiji yang berwarna merah oranye.

 

Neol bomyeon, pyeonhae ireon mal, neon shilheo haetjiman..
(
When I see you, I feel comfortable, even though you don’t like it when I say that)

Haengbokhae, hajiman, yeojeonhi neon buranhae haetji..
(
I’m happy but still you are nervous)
Ye shim hajima neol gwerob hijima, sashil sunjinhan saram ingeol..
(
Don’t doubt- don’t torture yourself)
Sarang seureon nun useum neomchil ttae, neon areum dawo, nun busheo..
(
Actually, this is a pure love)

Sesaat ia menghentikan aktifitas menggambarnya. Matanya menatap lurus kedepan satelah mengendengar lantunan lagu tersebut. Pandangannya tertumbuk pada seorang namja yang tengah memainkan biola. Ya, namja itu masih setia duduk dengan tenang saraya memainkan biola dan menciptakan keadaan yang damai karena suara merdu dari permainan biola-nya tersebut.

Haru e hanbeon man neol saenggakhae..
(
Even if you’re just breathing, even if you don’t have makeup on)

Deo isangeun andwae, akkyeo dul geoya..
(
You are beautiful, eye-blinding, I think of you just once a day)
Himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman..
(
It can’t be more, because I’m saving you up, the sunshine of a hard day)
Isseo jun damyeon O.K. geugeollo dwae..
(
If only you are here, it’s OK, that’s all I need)
“A Day – Super Junior”

Geum Hwa kembali tersadar. Ia menarik kedua sudut bibirnya dan dengan sendirinya tangan terampil-nya mulai menggambar sebuah siluet di antara lukisannya yang telah setengah jadi. Entah mengapa, hatinya kembali berdegup kencang. Ia terus menggambar dengan sesekali melirik namja tersebut.

SRETT

Geum Hwa menyoretkan garis terakhir di kanvasnya dan mendesah lega. Gambarnya telah selesai, dan ia pun merasa puas. Yeoja itu tersenyum seraya memperhatikan gambarnya yang telah sempurna. Setetes peluh mengalir lepas dari dahinya. Kedua matanya berulang kali teralih, antara melihat lukisannya dan juga melihat namja di sebrang danau tersebut.

Ya, ia melukis namja tersebut. Namja dengan balutan mantel hitam dan juga celana panjang dengan warna yang senada. Sebuah syal berwarna putih melilit indah di leher jenjangnya. Matanya terpejam menikmati alunan nada biola-nya sendiri. Kulit putih pucatnya sama sekali tidak dapat mengurangi ketampanannya tersebut. Itu adalah gambaran dari lukisan Geum Hwa yang sesungguhnya.

Geum Hwa membereskan peralatannya, dan memasukkannya ke dalam tas putih yang di bawanya. Ia kemudian menggantungkan tas putih tersebut di lengan kirinya, sementara tangan kanannya memeluk lukisan itu. Ia kembali menatap namja tersebut yang masih duduk dengan segelas kopi panas di tangannya. Geum Hwa mengulum senyumnya, dan kemudian beranjak dari tempatnya duduk.

Geum Hwa menghela nafas panjang ketika ia telah benar-benar keluar dari jalan setapak di Seongnakwon Park. Entah mengapa sebagian dari dirinya menolak untuk pergi dari taman tersebut. Tapi dengan segera Geum Hwa menggelengkan kepalanya dan menghapus perasaan itu.

Flasback Off

 

Ia tersenyum miris saat mengingatnya kembali. Dengan cepat ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah buku sketsa kecil dengan nama Song Geum Hwa yang tertulis dengan indah dilembar pertama buku tersebut. Ia membukanya, dan menemukan gambar siluet seorang namja yang tengah memainkan sebuah biola. Itu dirinya..

 

“Aku hanya namja bodoh yang mencintaimu Geum Hwa-ya, kembalilah..”

 

Tangan namja tersebut terangkat, dan menghapus air mata yang menggenang di kedua pipinya. Ia menghembuskan nafas dengan teratur dan menegakkan kepalanya dengan tatapan sendu. Kedua kakinya melangkah secara perlahan. Matanya menatap lurus ke arah jalan raya kosong di hadapannya.

 

“Apa yang harus kulakukan sekarang Geum Hwa-ya? Aggrrh”

 

Flasback

 

Author POV

 

BRUKK

 

“Jeongsonghamnida..” Geum Hwa menunduk sebagai rasa formalitas. Sedangkan namja dihadapannya hanya terdiam dengan tatapan yang mengarah lurus kearah dirinya.

 

“Song Geum Hwa imnida” Ucapan Geum Hwa refleks membuat namja dihadapnnya tersentak dan dengan cepat mengalihkan pandangannya kesembarang arah.

 

“Lee Donghae imnida” Namja tersebut megulurkan tangannya kearah Geum Hwa dan tersenyum tipis.

 

DEG

Lagi-lagi jantung Geum Hwa tidak dapat di ajak berkompromi. Jantung itu bergerak dengan sendirinya untuk berdetak makin cepat. Geum Hwa menundukkan wajahnya yang merona dan membalas uluran tangan Donghae.

Sedetik kemudian kesunyian mendominasi keadaan disekeliling mereka. Geum Hwa melirik Donghae dan kembali tersenyum, ia dengan cepat mengambil biola yang sedari tadi digenggam oleh Donghae dan memainkannya asal.

 

“Apa yang kau lakukan?!” Donghae tersentak, tidak menduga dengan perlakuan spontan Geum Hwa tadi. Ia menatap Geum Hwa yang masih memainkan biolanya dengan asal.

 

“Naega? Bermain biola. Apakah kemampuanku bagus? Apakah aku bisa menyaingimu?” Ujar Geum Hwa dan kembali menekuni biola tersebut. Donghae tersenyum tipis dan menatap Geum Hwa yang kini tengah memainkan biola layaknya memainkan sebuah gitar.

 

“Bodoh. Mana bisa kau memainkan biola seperti itu.. mendekatlah” Donghae mendekati Geum Hwa dan memeluknya dari belakang, mencoba mengajarkannya bermain biola.

 

Kedua pipi Geum Hwa merona, wajahnya dan wajah Donghae saat ini hanya berjarak setengah jengkal, bahkan ia bisa merasakan desahan nafas Donghae yang menabrak wajahnya.

 

“Ini senar A, untuk seorang pemula seperti dirimu, kau harus terus menggesek senar ini untuk pelatihan. Kajja, cobalah” Jelas Donghae dan membantu Geum Hwa yang terlihat kesulitan. Geum Hwa memfokuskan pandangannya kearah senar biola dan menggeseknya perlahan.

 

“Kurasa kau sudah melakukannya dengan baik. Yap, sekarang kembalikan biolaku” Donghae mengambil biolanya dan berjalan menjauhi Geum Hwa.

 

Geum Hwa mendengus kesal, ia berlari mengejar Donghae dan merentangkan kedua tangannya di hadapanan Donghae.

 

“Ya! Ajari aku bermain biola, kumohon..” Ucap Geum Hwa dan segera menjatuhkan dirinya dihadapan Donghae.

 

Donghae berjongkok, mencoba menyeimbangkan tubuhnya dengan tubuh Geum Hwa yang saat ini tengah terduduk diatas tanah. Geum Hwa memejamkan matanya, mulutnya tanpa henti nengucapkan permohonan kepada Donghae.

 

“Lee Donghae-ssi, aku ingin mencobanya. Kau bisa memberiku satu kesempatan, tidak tidak.. dua kesempatan”

 

Donghae tertawa kecil saat mendengar permohonan Geum Hwa. Entahlah, ia berfikir bahwa gadis dihadapannya ini begitu polos. Ia pun dengan perlahan menempelkan jari telunjuknya tepat didepan bibir Geum Hwa dan menatap Geum Hwa dalam.

 

“Apa imbalan yang kudapatkan jika aku mengajarimu bermain biola?” Tanya Donghae. Geum Hwa terdiam, jantungnya kembali berpacu dengan cepat saat mata Donghae kembali mentapnya dalam dan intens.

 

“Aku.. akan memberikanmu apapun” Ucap Geum Hwa cepat. Donghae menyeringai dan membalikkan tubuhnya.

 

“Apapun?” Tanyanya memastikan. Geum Hwa mengangguk yakin, ia pun bangkit dan berjalan mendekati Donghae.

 

“Baiklah. Besok aku akan mulai mengajarimu” Ujar Donghae dan segera berjalan menjauhi Geum Hwa. Geum Hwa tersenyum penuh kemenangan, daun momiji berguguran dan jatuh mengenai kepalanya. Ia mengambil salah satu daun momiji tersebut, dan menerbangkannya begitu saja.

 

“Aku mencintainya, Tuhan.. Izinkan aku bertahan lebih lama”

 

Flasback Off

 

Namja itu terdiam sejenak, dan tiba – tiba saja ia berlari menembus rintikan air hujan di hadapannya. Matanya memerah, bibirnya pun membiru, kontras dengan wajahnya yang semakin pucat. Ia terus berlari tanpa memperdulikan kakinya yang mulai terasa beku karena suhu kota Seoul yang saat ini diatas rata – rata. Matanya melirik sedikit kearah jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya dan ia pun memperlambat laju larinya.

 

Seongnakwon Park, 23.00 KST

 

Ia berhenti berlari dan jatuh terduduk diatas tanah. Tangannya meraih sebuah daun momiji yang berada di sekitarnya. Daun itu basah, namun tetap utuh sebagai satu kesatuan. Dengan perlahan ia pun meletakan daun itu kembali.

 

Namja itu bangkit dan melangkahkan kedua kakinya menuju salah satu bangku taman yang sudah sangat dihafalnya. Ia menatap bangku tersebut dan segera menempatkan dirinya diatas bangku itu. Tangannya terangkat dan mengambil sebuah kertas kecil yang berisi serangkaian tangga nada dari lagu Let’s Not yang sedari tadi tergeletak diatas bangku tersebut. Ia membacanya sebentar, dan dengan cepat ia meremas kertas itu hingga tak berbentuk.

 

Flashback

 

Author POV

 

Semilir angin berhembus cukup keras sore itu. Awan hitam bahkan sudah menyelimuti sebagian daerah dari Seongnakwon Park, tapi hal itu tidak membuat gadis itu beranjak dari posisinya. Ia tetap menunggu kehadiran seseorang yang sangat ditunggunya. Ia merapatkan syal berwarna putihnya dan melirik sedikit sebuah jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.

“Apa aku terlalu cepat datang?” Ucapnya bermonolog. Ia berdiri dan berjalan menuju gerbang Seongnakwon Park. Matanya terus menyapu seluruh sudut dari taman tersebut, dan akhirnya..

BRUKK

“Jeongsonghamnida..” Geum Hwa menunduk dan terus-menerus mengucapkan kata maaf. Sedangkan namja dihadapnnya hanya tersenyum tipis saat menatap Geum Hwa.

“Kau terlalu ceroboh” Ucap Donghae. Geum Hwa tersentak kaget dan segera menegakkan tubuhnya. Ia menatap Donghae dan dengan cepat kedua sudut bibirnya tertaik memperlihatkan senyuman manisnya.

“Kupikir kau tidak akan datang” Tutur Geum Hwa seraya memainkan beberapa helai daun momiji di sekitar kakinya. Ia melirik biola yang tengah digenggam Donghae dan kembali tersenyum tipis.

“Aku bukan tipe orang yang suka mengingkari janji” Ucap Donghae singkat. Geum Hwa menganggukkan kepalanya pelan. Donghae pun segera berjalan melewati Geum Hwa dan mencari sebuah bangku di sekitar taman tersebut.

Geum Hwa terdiam ditempatnya berdiri, dan menatap punggung Donghae yang semakin menjauh.

“Perasaan ini terus tumbuh, Lee Donghae. Aku tidak bisa menghapusnya”

***

I soon gani majima kirago, geutolok saranghan geu dehga eh..
(Saying that this moment is the last to you whom i loved so much)
Nun dollilyuh hehdo oolmyuh meldallyuhdo, geunyang shiltamyuh heh uhjimeul malhan naya..
(Even if you try to turn it back, even if you hold onto me crying, i was the one who said no and bid our farewell)
Nan hangsang ganghan chukman hajiman, pyungseng nuh hana jikil jashin ubssuh dduhnan bigubhan namjaya..
(I always act strong, but i’m a cowardly man didn’t have the confidence to protect you forever and left)

Geum Hwa mencoba fokus dalam permainan biolanya dan sesekali melirik kearah kertas berisi serangkaian tangga nada yang diulurkan Donghae kearahnya. Donghae tersenyum tipis dan kembali menatap Geum Hwa seraya mencoba menghayati lagu yang tengah Geum Hwa mainkan.

Dashin na gateun saram saranghaji malgo..
(Don’t love someone like me again)
Dashin geuriwuhhal saram mandeulji malgo..
(Don’t make someone to miss again)
Nuhman barabogo nuh anim an dwesuh..
(One who looks at only you and needs only you)
Harudo mot buttil mankeum saranghae jooneun saram manna jaebal..
(Meet someone who loves you so much they can’t go a day without you.. please)
“Let’s Not – Super Junior”

Geum Hwa tersenyum tipis saat menyelesaikan satu reff dari lagu yang diulurkan Donghae. Tanpa sadar setetes air mata mengalir lepas dari dalam pelupuk matanya. Ia dengan cepat menghapusnya dan kembali menatap Donghae.

“Bagaimana permainan biolaku?” Tanyanya pelan. Donghae merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna dark blue dari dalamnya.

“Kau sangat menghayati lagunya, kau tahu artinya?” Tanya Donghae seraya menyerahkan sapu tangannya kepda Geum Hwa. Tangan Geum Hwa terangkat dan mencoba meraih sapu tangan Donghae. Berkali-kali ia mencoba meraihnya, tapi mendadak pandangannya buram, ia pun memejamkan matanya dan terdiam sejenak.

“Neo gwenchana? Sapu tangannya ada disini, cepat hapus air matamu..” Donghae dengan cepat meraih tangan Geum Hwa dan memberikan sapu tangannya. Geum Hwa pun menghapus air matanya dan tersenyum tipis.

“Gomawo..” Ucap Geum Hwa lirih. Donghae melihat perubahan pada raut wajah Geum Hwa, ia pun memilih untuk diam.

“Itu lagu perpisahan, mengapa kau memberikan lagu seperti itu kepadaku?” Tanya Geum Hwa. Donghae menatap Geum Hwa dan menghela nafas sejenak.

“Aku tidak memiliki maksud apapun” Jawab Donghae. Geum Hwa menundukan wajahnya dan menangis dalam diam. Donghae tetap terdiam, tidak menyadari bahwa yeoja disebelahnya itu tengah menangis.

Keadaan disekitar mereka mulai sepi. Matahari mulai bergerak tenggelam di ufuk barat sana. Donghae berdiri dan dengan perlahan melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Geum Hwa sendirian.

Flashback Off

Namja itu kembali berdiri dan berjalan menuju tepi sungai yang berjarak sekitar lima meter didepannya. Ia merogoh saku jas hitamnya dan mengambil kembali sebuah buku sketsa yang tadi sempat dikeluarkannya. Tangan kanannya tergerak dan membuka buku sketsa tersebut.

Ia berhenti dilembar kedua, kedua matanya menemukan beberapa bercak darah dikertas tersebut. Tanpa ia sadari, setetes air mata menetes lepas dari dalam pelupuk matanya lalu terjatuh tepat diatas kertas tersebut.

Ini diary, sebuah goresan tinta dari perasaan seorang Song Geum Hwa.

Friday, 27th June

 

Perlahan namun pasti aku mulai mengerti..

Mencoba menahan diri untuk berfikir tentang hal yang positif memang bukanlah hal mudah..

Selamanya aku tidak akan pernah dapat menjangkaunya..

Aku hanyalah seorang gadis rapuh, tidak memiliki kekuatan ataupun kesempatan sama sekali..

Ia tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya kurasakan saat ini..

Aku lelah, sangat lelah dengan ini semua yang membuatku ingin menutup mata sejenak, melepas angan negatif yang berkecamuk dan berharap ini hanyalah sebuah angin lalu..

 

Aku terdiam. Dadaku berdenyut merasakan sakit yang luar biasa. Bagaikan ditikam oleh sebuah tombak dan dipaksa untuk mencabutnya kembali. Miris.

 

“Geum Hwa..”

 

Flashback

 

Author POV

 

Angin semilir dengan perlahan menggerakan rambut bergelombang milik Geum Hwa. Ia tetap terdiam ditempatnya, tangannya masih terlihat sibuk menyingkirkan rerumputan yang menjulang hingga sebatas betisnya, wajahnya tampak menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan mendalam. Ia terus menyingkirkan rerumputan yang menghalangi pengelihatannya dan kembali mencari sebuah kertas yang baru saja ia dapatkan dari hasil pemeriksaan pagi tadi.

 

Tiba-tiba sebuah suara khas menyapu gendang telinganya, ia pun berbalik dan menemukan seorang namja yang tengah berdiri dengan tenang dan tersenyum tipis.

 

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Donghae. Geum Hwa menggeleng dan berdiri dihadapan Donghae.

 

“Kau sendiri.. Apa yang kau lakukan disini?” Geum Hwa bertanya balik. Donghae tidak merespon, ia hanya mengangkat biolanya dan memainkannya perlahan.

 

What if geudega nal saranghal geotman gata..

(What if, it seems like you’re going to love me)
Jogeum gidarimyeon naege ol geotman gataseo..
(
Because it seems like you’re going to come to me if I wait just a little)
Ireon gidaero naneun geudael ddeonal so eobjyo..
(
With these anticipation, i can’t leave you)
Geuruhke shigani ssahyeo apeumi dweneun geol..
(
Even though I know that as time accumulates)
Jal algo isseumyeonso.. Oh girl..
(It becomes pain.. Oh girl)
“What If – Super Junior”

 

Geum Hwa terdiam. Ia menggelengkan kepalanya dan kembali fokus menemukan sebuah benda yang sejak tadi dicarinya. Donghae pun menghentikan permainannya, ia menatap Geum Hwa dan mendekatinya perlahan.

 

“Mengapa kau memintaku untuk berhenti mengajarimu bermain biola?” Tanya Donghae pelan, hampir seperti berbisik. Geum Hwa menghela nafas sejenak, ia pun berusaha tidak mempedulikan omongan Donghae dan tetap fokus mencari.

 

“Wae? Ada apa denganmu?” Tanya Donghae lagi. Geum Hwa tetap terdiam, dan berusaha semakin menjauh dari Donghae.

 

“Aku sudah tidak bisa memainkan biola lagi Donghae-ah, syaraf motorik ku menolaknya dan itu sangat menyiksa” batin Geum Hwa pilu.

 

Donghae tetap mengejar Geum Hwa. Berusaha meminta penjelasan dari gadis tersebut. Ia pun menarik tangan Geum Hwa dan menatapnya dalam, tepat kedalam manik matanya.

 

“Wae? Kau melanggar kesepakatan” Donghae makin kuat mencengkram lengan Geum Hwa. Sedangkan gadis itu hanya meringis sambil sesekali mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Donghae.

 

“Jauhi aku, kau tidak berhak lagi berada disekitarku!” Ucap Geum Hwa kasar. Donghae terdiam, dengan perlahan cengkramannya terlepas dan meninggalkan bekas berwarna kemerahan dipergelangan tangan Geum Hwa.

 

Geum Hwa terduduk dan menangis terisak. Donghae tetap terdiam, tidak mengerti keadaan yang sedang terjadi saat ini.

 

“Semuanya sudah tidak berarti lagi, Hae” Ucap Geum Hwa ditengah isakannya. Donghae mendekatkan dirinya kearah Geum Hwa dan menggengam tangannya.

 

“Semuanya sudah berubah..” Lanjut Geum Hwa. Donghae tetap terdiam, mulutnya seakan kaku, membisu dihadapan gadis tersebut.

 

Flashback Off

 

Monday, 19th August

 

Sesak..

Hingga saat ini, saat dimana aku hampir tidak dapat bernafas dan memandangnya lagi aku sama sekali tidak tahu bagaimana perasaannya terhadapku..

Aku hanya seorang yeoja bodoh yang terlalu mengharapkannya..

 

“Mian, kami sudah tidak dapat berbuat banyak..”

“Penyakit Spinocerebellar Degeneration atau Ataxia yang kau idap sudah mengerogoti kerja saraf motorik bagian dalam otak..

“Kami sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Sekali lagi, mianhe..”

 

Kini..

Aku sudah tidak dapat berbuat banyak..

Rasa sakit ini kembali menyerangku, takut bahkan gelisah kehilangan dirinya kembali menyergapku, aku benar-benar takut..

 

Namja itu terdiam. Matanya memandang kosong kearah depan dengan berbagai pikiran berkecamuk di dalam otaknya. Setitik air mata menetes kembali, mengalir melewati pipi dan hidungnya. Linangan airmatanya seakan tak bisa dihentikan meski pandangan mata namja itu telah berubah kosong. Ia bergeming, tetap terdiam dengan berjuta-juta bayangan tentangnya melayang-layang di benaknya sendiri.

 

Flashback

 

Author POV

Rintik hujan masih terdengar. Geum Hwa bisa mendengarnya dengan jelas. Matanya terpejam rapat menikmati sensasi yang tak sering ia dapat seperti ini. Ia kembali membuka kedua matanya dan menatap lurus kearah sebuah jendela dihadapannya. Menyapu seluruh pemandangan kota Seoul dari jendela Rumah Sakit ini.

Geum Hwa tersenyum tipis dan kembali menutup jendela tersebut. Ia berusaha untuk duduk, dan usahanya berhenti saat dirasakannya gelombang vertigo itu kembali menyerangnya. Kepalanya berputar, merasakan pening yang luar biasa. Hidungnya tiba-tiba mengeluarkan setetes cairan berwarna merah.

Ia tetap tersenyum, dengan perlahan punggung tangannya terangkat dan menghapus cairan merah tersebut. Ia berdiri dan terdiam sejenak. Kedua kakinya melangkah dengan perlahan meninggalkan ruangan tersebut. Ia terus berjalan dan tanpa sadar kedua kakinya melangkah menuju sebuah tempat, Seongnakwon Park.

Seongnakwon Park

Geum Hwa berjalan dengan perlahan dan terhenti ketika seorang namja menghalangi jalannya. Ia mengangkat kepalanya dan terdiam sejenak. Donghae.. namja itu kini tengah berdiri dihadapannya. Donghae menghela nafas dan menarik pergelangan tangan Geum Hwa pelan. Geum Hwa tidak memberikan respon, tapi tubuhnya mengikuti kemana arah Donghae berjalan.

Mereka berdua terduduk disalah satu bangku taman yang tepat menghadap kearah barat, tempat matahari terbenam. Donghae menghela nafas sejenak, matanya terpejam dan mulai berbicara.

“Sejujurnya, sejak dulu aku sering memperhatikanmu” Ucap Donghae pelan. Geum Hwa terdiam. Lebih memilih membungkam bibir mungilnya.

“Kau berbeda” Lanjut Donghae tanpa menatap Geum Hwa. Tatapannya terfokuskan kearah depan, hanya menatap kosong. Geum Hwa menundukkan kepalanya, air matanya menetes dan jauh membasahi baju rumah sakitnya.

“Tidak ada yang bisa kau harapkan dari diriku” Geum Hwa akhirnya bersuara. Ia tetap menundukkan kepalanya, seakan tidak sanggup menatap Donghae lebih lama.

“Aku berharap banyak kepadamu” Donghae melirik Geum Hwa dan kembali mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Aku tidak bisa berbuat apapun saat ini” Ucap Geum Hwa pelan, hampir seperti berbisik.

“Kau masih memiliki banyak kesempatan, waktumu masih panjang” Ujar Donghae. Tangan kanannya meremas sebuah kertas berlogokan Seoul International Hospital, sebuah kertas pemeriksaan milik Geum Hwa dan membuangnya asal.

“Waktuku tinggal sedikit” Ucap Geum Hwa lirih. Donghae terdiam, sama sekali tidak bisa menyangkal perkatan Geum Hwa.

Keheningan mendominasi keadaan disekeliling mereka. Donghae tetap terduduk dengan pandangan kosong kedepan, sedangkan Geum Hwa hanya menundukkan wajahnya.

“Bagiku, kau masih memiliki waktu yang panjang” Ucap Donghae. Air mata kembali menetes dari dalam pelupuk mata Geum Hwa.

“Jangan mengatakan sesuatu yang mustahil” Ujar Geum Hwa. Yeoja itu menatap Donghae dan mati-matian berusaha menahan desakan air matanya.

“Aku meyakininya” Donghae menolehkan kepalanya dan menatap Geum Hwa dalam. Yeoja itu menghela nafas panjang dan kembali menjauhi pandangan mata Donghae.

TESS

Donghae tersentak dan segera mengambil sebuah sapu tangan didalan saku celananya. Sedangkan Geum Hwa hanya berusaha menutupi tetesan carian merah pekat tersebut dengan menutupi hidungnya menggunakan jari telunjuknya. Donghae menarik pergelangan tangan Geum Hwa dan menutupi darah tersebut dengan sapu tangan berwarna putihnya. Ia menatap Geum Hwa dan merutuk atas kebodohan dirinya yang tidak dapat mengungkapkan perasaannya sekarang juga.

“Perlahan-lahan syaraf motorikku akan dengan sendirinya melupakan caranya bekerja, ini membuatku lumpuh total, Hae” Ucap Geum Hwa sendu. Donghae tidak mempedulikannya dan hanya terfokus pada cairan berwarna merah pekat yang terus mengalir dari dalam hidung Geum Hwa.

“Hae, dengarkan aku” Geum Hwa meraih tangan kanan Donghae dan menatap matanya dalam. Ia kembali mengeluarkan air mata dari dalam pelupuk matanya, membiarkan air mata itu mengalir dan membasahi setengah dari wajahnya.

“Hentikan semua ini! Kau tahu posisiku saat ini, Hae. Aku tidak akan bertahan lebih lama lagi” Ucap Geum Hwa terisak. Donghae balas menatapnya dan mendekap tubuh Geum Hwa kedalam pelukkan hangatnya.

“Saranghae” Ucap Donghae pelan. Hening untuk sejenak, hingga akhirnya Geum Hwa bersuara.

“Neo.. Michigeseo?” Balas Geum Hwa dengan suara bergetar. Jauh didalam lubuk hatinya, ia bersumpah demi apapun kebohongan yang telah diucapkannya kali ini begitu menyiksa. Membohongi perasaannya sendiri, dan bagai menghujam hati namja dihapannya dengan ribuan tombak penolakan.

Donghae terdiam, dan menatap Geum Hwa yang kini menatapnya dengan pandangan kosong. Ia meraih kepala Geum Hwa dan meletakannya dibahu lebarnya. Mencoba menenangkan gadis tersebut.

“Aku lelah, Hae” Lanjut Geum Hwa dan kembali terisak. Nafasnya menderu, menahan sebuah gejolak pada dadanya yang seakan ingin meledakan dirinya. Sebuah gelombang vertigo kembali menyerang kepalanya. Perlahan tapi pasti, hembusan nafas gadis itu memelan.

“Aku ingin mengakhirinya secepat mungkin. Membiarkanmu mendapatkan cinta yang baru” Ucap Geum Hwa terbata. Donghae tetap terdiam. Namja itu tahu, Geum Hwa saat ini sedang berusaha menahan rasa sakitnya.

Geum Hwa dengan gerakan pelan mulai memejamkan matanya, mencoba membuat dirinya nyaman didalam dekapan Donghae. Nafasnya makin memelan, hingga akhirnya kesadaran gadis itu nol, sama sekali tidak dapat merasakan apapun lagi.

“GEUM HWA”

Flashback End

Saturday, 25th August

 

Ia datang..

Wajah itu, wajah yang sangat ingin kutemui saat ini..

Lee Donghae..

Menghirup aroma tubuhnya lagi, menatap wajahnya kembali, mendengar suaranya dan suara detak jantungnya..

Cukup dengan ini, aku sudah bersyukur akan hari istimewa yang terasa buruk sebelumnya..

Hanya mendengar permainan biolanya kembali itu sudah sangat membuatku bisa bernafas lega..

Ia lah sumber oksigen utamaku..

Bisakah waktu berhenti untuk saat ini?

 

Donghae menutup buku tersebut dan memasukkannya kembali kedalam saku celananya. Ia beranjak dan melangkahkan kedua kakinya menjauhi Seongnakwon Park. Kepalanya menunduk, menatap ratusan daun momiji yang basah karena cipratan air hujan.

Ia terus berjalan hingga akhirnya langkah kedua kakinya berhenti disalah satu area pemakaman. Ia berhenti sejenak dan mencabut setangkai bunga mawar putih dihadadapannya Kedua matanya menyapu seluruh are pemakaman tersebut. Ia menghela nafas, dan kembali melangkahkan kedua kakinya.

Flashback

Author POV

Namja itu terdiam, ia berdiri didepan sebuah pintu ruangan dan membisu menatap pemandangan dihadapannya. Melihat tubuh Geum Hwa dengan berbagai alat kedokteran yang melekat di tubuhnya membuat ia benar-benar tidak sanggup mengucapkan apapun. Ia mengela nafas sejanak, dan kembali terduduk di salah satu kursi rumah sakit.

CKLEK

Ia mendongakan kepalanya, menatap beberapa dokter dan perawat yang baru saja keluar dari ruangan Geum Hwa. Ada sebuah perasaan dalam dirinya untuk bertanya bangaimana keadaan Geum Hwa. Tapi niat itu diurungkannya. Ia lebih memilih memasuki ruangan Geum Hwa dan menemaninya.

“Bagaimana kabarmu?” Donghae terduduk tepat disebelah kanan Geum Hwa. Tangannya terangkat dan menyisipkan beberapa rambut Geum Hwa yang terlihat berantakan ke belakang telinga gadis tersebut.

“Kau pasti sembuh” Ucap Donghae pelan. Ia menatap Geum Hwa dan tersenyum tipis. Setetes air mata keluar dari dalam matanya. Ia dengan cepat menghapusnya dan kembali menatap wajah Geum Hwa yang terlihat pucat.

Dengan gerakan perlahan jari-jemari Geum Hwa bergerak. Menandakan bahwa masih ada kehidupan didalam dirinya. Kedua matanya mengerjap, mencoba menyesuaikan dengan keadaan disekelilingnya. Ia membuka matanya sedikit dan terpaku menatap Donghae yang kini terduduk disebelahnya.

“Kau datang” Ucap Geum Hwa pelan. Donghae tersenyum tipis dan mengelus puncak kepala Geum Hwa. Yeoja tersebut tersenyum, walaupun terlihat sangat kaku karena bibir pucatnya.

Sebuah alat pendeteksi jantung di atas meja semakin pelan berbunyi. Geum Hwa menatap nanar alat tersebut dan menggenggam erat telapak tangan Donghae.

Geum Hwa dapat merasakan kepalanya seakan berputar. Ia diserang sebuah gelombang vertigo yang membuat kesadarannya semakin berkurang. Kedua matanya menatap Donghae lemah, ia melirik sedikit alat pendeteksi jantung tersebut dan menghembuskan nafas berat.

“Mau kupanggilkan dokter?” Tanya Donghae pilu. Ia menatap wajah Geum Hwa yang semakin memutih. Ia tahu, inilah saatnya.

“Aniyo. Dengan kau memelukku, itu sudah cukup” Jawab Geum Hwa berbisik. Donghae tersenyum miris, ia sedikit membungkuk dan dengan segera mendekap erat tubuh ringkih Geum Hwa. Hembusan nafas berat Geum Hwa menabrak lehernya. Ia tetap memeluk tubuh Geum Hwa yang makin melemah.

Donghae kembali meneteskan air matanya. Begitu sesak saat melihat yeoja yang dicintainya kini terbaring lemah. Ia pun makin mempererat pelukkannya pada Geum Hwa.

 

“Saranghae” Ucap Donghae tepat ditelinga Geum Hwa. Yeoja tersebut tersenyum tipis, sebelum dirinya benar-benar meninggalkan Donghae. Ia membuka mulutnya dan berucap pelan.

 

“Nado” Geum Hwa mengucapkan kata tersebut dengan sangat pelan, tapi masih dapat diterima oleh alat pedengaran Donghae. Sedetik kemudian pelukkan Geum Hwa terlepas, bersamaan dengan bunyi nyaring dan garis lurus tergambar dengan jelas di alat pendeteksi jantung tersebut.

 

Namja itu menghembusakan nafas panjang. Dapat ia rasakan semilir angin musim dingin yang berhembus melalui jendela Rumah Sakit yang terbuka dan mengenai wajahnya. Ia melepaskan Geum Hwa yang kini terbaring kaku di dekapannya dan mengenggam erat tangan dinginnya. Dengan perlahan Donghae melepaskan pelukkannya dan memperbaiki posisi tidur Geum Hwa.

 

Seorang dokter memasuki ruangan Geum Hwa dan langsung mendekati tubuh Geum Hwa. Ia memeriksa denyut nadinya, dan menatap Donghae dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Donghae terdiam sejenak dan dengan perlahan menjauhi ruangan tersebut.

 

“Kau berhak untuk bahagia, saranghae” batin Donghae.

 

Flashback Off

 

Perlahan namun pasti Donghae merunduk dan menjatuhkan dirinya dan menatap sebuah gundukan tanah dihadapannya. Rasa kehilangan yang terasa begitu menyesakan dadanya kembali datang. Ia mengelus perlahan sebuah nisan didepan dirinya yang mengukirkan nama gadisnya dengan apik.

Ia tersenyum tipis dan meletakkan setangkai mawar putih yang digenggamnya sejak tadi kepermukaan makan tersebut. Kedua matanya menyapu seluruh sudut dari makam tersebut. Beberapa daun momiji tampak terjatuh diatas makam tersebut.

Musim gugur akan segera berakhir, mungkin itulah sebabnya ribuan daun momiji makin sering berjatuhan. Semilir angin musim dingin menerpa wajah teduh Donghae, sebuah garis lengkung menghiasi bibir tipisnya.

“Just like to be a momiji leaves, feel to be free and fly to be a star” Ucap Donghae pelan. Ia mengucap ulang beberapa kata yang selalu tertulis diatas kanvas milik Geum Hwa. Mungkin kata-kata itulah yang membuat yeojanya bertahan selama ini.

Namja itu bangkit dan terdiam sejenak. Kedua matanya tanpa henti memandang makam tersebut. Ia kembali tersenyum dan mulai melangkahkan kedua kakinya pergi.

Sebuah siluet seorang yeoja tampak berdiri dan menatap punggung Donghae yang semakin menjauh. Yeoja dengan balutan dress putih panjang yang menjuntai indah. Helaian rambut hitam bergelombangnya bergerak tertiup angin. Bibirnya pucat, sangat kontras dengan keadaan disekelilingnya yang mulai gelap. Perlahan-lahan siluet itu menghilang bagaikan debu, dan meninggalkan sebuah bisikan kecil..

“Saranghae”

Semburat berwarna dark blue mulai timbul dilangit yang mulai menghitam. Matahari mulai kembali ke peraduannya di ufuk barat sana. Keadaan area pemakaman itu mendadak sepi, hanya menyisakan kesunyian didalamnya.

END

 

 

 

 

 

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. Eunsang
    Oct 26, 2015 @ 15:16:12

    Baca ff ini sambil dengarin lagu kyuhyun at close.jadi baper😥

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: