[Eunhyuk’s Day] SEXY, FREE & SINGLE

hyukss

SEXY, FREE & SINGLE

Author : Vanessa Patricia

Casts :

  1. Lee Hyukjae
  2. Oh Moni

Length : 4,856 words

Rating  : PG-13

Themes :

  1. Humour
  2. Happy ending
  3. Parenthood

***

Hyukjae’s POV

Dorm Super Junior, 11.00 a.m.

Aku mengerang kesal ketika mendengar ringtone HP-ku memecah ketenangan pagi ini. Aish, jinjja![1] Siapa coba yang meneleponku sepagi ini?! Apa dia tak tahu kalau aku baru tidur jam 3 pagi, dan sekarang baru jam 11?!

Lalu kuhela nafas lega ketika gadget yang ditemukan Steve Jobs itu berhenti menjerit. Aku-pun bersiap memasuki alam mimpi lagi saat HP-ku berbunyi lagi. Kusibakkan selimutku kasar. Aigoo![2]

“Yeoboseyo[3]!” sapaku kasar saat mengangkat telepon ini.

“Hyukjae!” sentak seorang wanita diseberang sana yang langsung membuatku melek 100%, “Eomma[4] tidak membesarkanmu untuk suka membentak begitu!”

Oow… My Mommy is calling…

“Hmm… Iya Eomma, mian[5],” jawabku gelagapan.

“Kau baru bangun?” tanya Eomma, “Jam segini?”

“Eomma, aku bahkan baru tidur jam 3,”

“Jam 3 itu 8 jam yang lalu. Sudah waktunya bangun, anakku sayang,” tukas Eomma.

Kuhela nafasku, “Geurae[6], ada apa, Eomma, meneleponku pagi-pagi?”

“Sekali lagi harus Eomma tekankan, ini sudah siang,” ujar Eomma, “Kapan kau pulang, Nak? Kau tidak rindu rumah?”

“Ani[7], dorm lebih enak,” sahutku enteng seraya keluar. Ups, ternyata benar kata Eomma, sudah waktunya bangun. Karena kulihat semua member sudah asyik dengan kegiatan mereka masing-masing, kecuali Ryeowook, Kangin dan Leeteuk yang terkenal kerbau.

“MWO?!”[8]

“Peace, Mom,” ujarku menyengir, “Mungkin nanti malam. Besok selama 3 hari kedepan aku diliburkan manajemen,”

Eomma bertepuk tangan puas, “Geurae, Eomma akan menunggumu,”

Kukernyitkan keningku, kenapa Eomma antusias sekali ingin aku pulang? Biasanya saja saat aku pulang disambut dengan ulekan sambal yang ia beli dari pedagang Indonesia yang ada di Paris waktu itu, atau minimal sandal hotel yang beliau bawa pulang.

Hahaha^^ Abaikan kata-kataku barusan.

“Jangan lupa bawa temanmu ya,” sambung Eomma membuyarkan lamunanku.

“Ha? Temanku?” ulangku, “Maksudnya?”

Eomma tertawa evil (Ups, Eomma ketularan evil-nya Kyuhyun), “Eomma yakin kau paham,”

“Ah, Eomma…”

“Sudah ya, Eomma harus menyiapkan sarapan. Annyeong![9]

Dengan kejinya, Eomma memutuskan sambungan secara sepihak. Kujauhkan ponselku, menatap heran benda itu.

“Hyuk-ah[10], kenapa kau melihat ponselmu begitu?” tanya Kyuhyun.

“Panggil aku ‘Hyung’[11], babo[12]!” jawabku sambil tetap menatap ponselku, “Ani, Eomma-ku meneleponku. Dia sangat ingin aku pulang bersama temanku. Aneh kan? Belum lagi tiba-tiba Eomma memutuskan teleponnya. Eomma-ku sepertinya ketularan evil-mu karena terlalu sering kau jadikan tempat bermanja kalau Eomma-mu tak ada,”

Aku mendongak, dan… VOILA! Kyuhyun sudah kembali kesebelah Sungmin sambil bermain PSP. Sialan! Sejak tadi aku ngomong sendiri dong?

Apa maksud Eomma menyuruhku membawa temanku? Tidak biasa-biasanya Eomma lembut begitu. Aish, untuk apa kupikirkan terus? Bawa teman? Bawa saja Donghae atau Junsu, mereka kan temanku. Tapi, kenapa aku merasa ada yang aneh dengan kata-kata Eomma tadi ya?

AH! Aku tahu! Kenapa Eomma bilang beliau mau buat sarapan jam segini? Itu berarti… Eomma juga bangun kesiangan dong?! Cih, begitu memarahi anaknya karena bangun jam 11.

“Tadi mengoceh sendiri, sekarang mengomel sendiri,” komentar Donghae yang kebetulan lewat, “Hyuk-ah, aku jadi takut padamu,”

Aku hanya manyun.

***

Rumah Hyukjae, 07.00 p.m.

“Eomma, aku pulang!” seruku yang langsung disambut jitakan Eomma yang tergopoh-gopoh menghampiriku.

“Jangan teriak-teriak dirumah,” tukas Eomma.

Aku memamerkan gummy smile-ku, “Annyeong, Eomma. Bogosipeoyo,”[13]

Eomma memelukku erat, “Nado, Hyuk-ah,”[14] jawabnya lalu mengurai pelukannya, “Masuklah,”

“Ne,” sahutku, “Eomma, aku bawa temanku kemari,”

Senyum Eomma langsung terkembang. Ia menatapku antusias, “Nugu? Eoddi?”[15]

“TADAA!”

Seseorang langsung membungkukkan badan dan tersenyum manis menatap Eomma, “Annyeong haseyo, Eommonim,”[16]

Eomma menganga. Namun sejenak kemudian ia menggetok kepalaku dengan sandal rumahnya, “Ya! Hyukjae babo! Untuk apa kau mengajak Donghae kemari?!”

Aku menatap cengo Eomma, “Lho? Bukannya Eomma menyuruhku membawa pulang temanku? Donghae temanku, Eomma,” ujarku, “Sebenarnya aku mau mengajak Junsu. Tapi kupikir Eomma sudah bosan dengannya karena sejak kecil dia temanku,”

Eomma mengacak rambutnya frustasi, “Aish, jinjja! Anakku bodoh sekali,”

“Memang benar, Eommonim,” timpal Donghae.

***

Rumah Hyukjae, 06.00 a.m.

“Morning,” sapaku sambil duduk disalah satu kursi makan dirumahku.

Sora Noona[17] yang melihatku hanya mencibir, “Cih, sejak kapan kau sok pintar berbahasa Inggris?”

“Sejak Super Junior terkenal secara global,” tukasku bangga, “Dan ini bukan sok pintar, tapi pintar, Noona,”

“Mana ada orang pintar yang bahkan tak mengerti apa maksud ucapan Eomma-nya ditelepon,” sindir Eomma seraya mengoleskan sebuah roti dengan selai strawberry. Ah, itu pasti untukku.

Lagi-lagi kutampilkan gummy smile kebanggaanku.

“Untuk apa kau tersenyum bodoh begitu? Memang kau sudah sikat gigi sampai berani jemur gigi?” ejek Sora yang langsung membuatku naik darah. Aish, kenapa keluargaku ketularan evil-nya maknae itu sih?!

“Sudahlah, sarapan dulu. Bertengkarnya nanti saja kalau Appa[18] sudah berangkat kerja,” ujar Appa menengahi situasi panas di medan perang, eh, di meja makan ini.

“Habis anakmu itu bikin aku sakit kepala saja, Yeobo[19],” adu Eomma lalu melahap setangkup roti isi strawberry tadi. Ah, ternyata bukan untukku. (=,=)”

“Jangan mengadu,” jawab Appa yang membuatku senang karena masih ada yang membela, “Memang sejak lahir dia sudah suka membuatmu sakit kepala, untuk apa kau mengadu padaku lagi?”

Aish, sambungan kalimat itu tak enak sekali sih. Kukira Appa akan membelaku, ternyata ujung-ujungnya mengejekku juga. Cih, pengaruh Kyuhyun benar-benar mempengaruhi keharmonisan keluargaku!

“Hyukjae-ya[20],” panggil Appa membuat kegiatanku mengunyah roti isi strawberry buatanku sendiri terhenti.

“Ne, Appa?”

“Apa kau benar-benar tak mengerti maksud Eomma-mu menyuruhmu membawa pulang temanmu?” tanya Appa yang langsung kujawab anggukan mantap. Memang aku tak mengerti.

“Maksud Eomma itu, bawalah yeojachingu-mu[21] kemari, babo. Bukan membawa pulang Donghae,” ujar Sora.

UHUK!

Sontak aku tersedak. Kuminum cepat-cepat susu yang ada disebelahku. Ah, sial! Sudah tersedak, susunya panas pula. Eomma sepertinya benar-benar ingin menyiksaku.

“Yeojachingu?” ulangku tak percaya.

“Ne,” ujar Eomma, “Harusnya yang kau bawa pulang itu yeoja[22], bukan namja[23] seperti Donghae,”

“Ah, Eomma, Donghae-kan couple-ku. Bukannya sama saja dengan aku membawa pulang yeojachingu-ku[24]?”

Eomma melemparku dengan sendok, “Kau mau membuat Eomma jantungan ha?!”

Belum sempat aku menjawab, Sora sudah menyambung, “H… Hyuk-ah, kau… Kau gay?”

“Ani, Noona,” tukasku, “Aish, aku hanya bercanda,”

“Hajima![25]” suruh Appa, “Makan lagi, jangan bertengkar disini,”

“Tapi, Yeobo…”

“Nanti habis makan saja kau lanjutkan lagi omelanmu. Aku butuh sarapan sebelum kerja, bukan ocehanmu ke Hyukjae,” ujar Appa yang membuat suasana meja makan agak tenang. Kenapa agak tenang? Karena menurutku situasi belum sepenuhnya aman, mengingat saat ini Eomma masih menatapku dengan pandangan ingin membunuhku.

Yeojachingu? Aish, kenapa harus membicarakan itu sih?

***

Kamar Hyukjae, 10.00 a.m.

“Hyuk-ah,” sapa Eomma menghampiriku. Aku hanya mengalihkan pandanganku sejenak dari TV yang kutonton lalu kembali berkonsentrasi kesana seraya memasukkan beberapa potong kue kering hasil rampokanku dari kamar Sora.

BRUK

Eomma sudah duduk ditepi ranjangku, “Kau sibuk?”

“Ne, aku sibuk menonton Running Man,” jawabku enteng.

Eomma menghela nafas, “Kau sudah mandi?”

Aku menggeleng, “Ini liburan, Eomma. Mandi juga libur,”

“Aigoo~ Pantas bau sekali,” kata Eomma, “Mandi dulu sana!”

“Nanti saja,” ujarku, “Eomma kemari hanya ingin menyuruhku mandi atau ada hal yang mau dibicarakan?”

“Ini soal permintaan Eomma kemarin, Hyuk-ah,”

“Temanku itu?” tanyaku yang dijawab anggukannya, “Wae, Eomma?[26]

“Kapan kau mengajak temanmu kemari?”

“Semalam aku sudah mengajak Donghae, tapi Eomma malah mengusirnya. Teman siapa lagi yang harus kuajak?” jawabku polos.

Hei, itu memang benar. Semalam Eomma mengusir Donghae mentah-mentah, bahkan sebelum ia masuk ke rumahku. Untung saja Sora Noona yang baik hati berhasil membujuk Eomma untuk mengajak kami makan dulu. Baru setelah makan aku mengantar Donghae kembali ke dorm. Ingat, aku belum siap kehilangan couple-ku akibat dia tak bisa mengendarai mobil sendiri. Lagipula, mobilnya siapa yang akan dia bawa ke dorm kalau tadi dia tidak bawa mobil? Mobilku? Never!

“Bukan teman yang begitu, Chagi[27],” ujar Eomma yang kentara sekali menahan emosi, “Yeojachingu. Kekasihmu. Kapan kau akan membawanya kemari?”

Aish, membicarakan yeojachingu lagi.

“Aku tidak punya,” Nah, jawaban aman kan? Lagipula bisa-bisa Eomma jantungan kalau dengar jawabanku yang sebenarnya.

“Jeongmalyo?[28]” selidik Eomma, “Lalu, kenapa Eomma dapat berita kau sedang berpacaran dengan salah satu staf SM?”

GLEK!

Hei, kenapa Eomma tahu soal itu? Ah, baiklah, akan kuceritakan sedikit. Sebenarnya aku memang sedang berpacaran. Aku berpacaran dengan Oh Moni, salah satu tim stylish SuJu dan SHINee. Lalu, kenapa aku tak mau mengaku? Alasannya hanya satu, karena Eomma cukup alot soal pekerjaan pacarku. Intinya, aku takut Eomma tak setuju dengan hubunganku karena pekerjaan Moni itu.

“Karena kau bekerja dibidang entertainment, minimal carilah kekasih yang bekerja kantoran,” ujar Eomma, “Eomma tak mau kau bilang kau terlibat cinta lokasi dengan teman seprofesimu,”

See? Bagaimana bisa aku mengaku soal Moni didepan Eomma kalau aku terus teringat ultimatumnya waktu natal kemarin?

“Hyuk-ah?”

“Ani, Eomma,” elakku, “Ah, Eomma dapat gosip itu darimana? Murahan sekali,”

Mianhae[29], Moni-ku sayang. I love you forever, peace!

“Jinjja?[30]

Aku mengangguk lalu menepuk dadaku bangga, “Kalau Eomma tidak lupa, I’m sexy, free and single,”

“Itu lagu terbarumu kan? Tak usah pamer, Hyuk-ah,” ujar Eomma datar.

“Aku bukan pamer, hanya menjelaskan statusku ke Eomma. Aku ini memang pria sexy yang masih bebas dan single,”

Eomma mencibir, “Sexy? Badan kerempeng begitu kau bilang sexy?”

“Tapi abs-ku bagus, Eomma,” ujarku tak mau kalah lalu mengangkat sedikit kaosku, “Nah, bagus kan otot ini?”

“Bagus punya Siwon,”

Kutatap datar Eomma. Oh please deh, kuda itu memang semua ototnya berbentuk kotak-kotak sepertinya. Tapi setidaknya aku adalah member kedua dengan otot terbaik kan? Ayolah, puji aku sesekali.

“Kalau begitu, bagaimana dengan Kang Hyosim itu?”

“Ha?” ujarku melongo, “Ya, Eomma! Dia cuma mantan kekasihku. Kami sudah putus setahun yang lalu. Jangan mengungkit dia lagi,”

“Jinjjayo?[31]

“Ne,”

Eomma menghela nafas, “Lalu, siapa kekasihmu? Kau harus ingat umur, Hyuk-ah. Kau sudah 26 tahun, waktunya kau mengenalkan kekasihmu pada Eomma,”

“Ah, Eomma. Jungsoo Hyung yang mau masuk wamil saja belum punya kekasih. Kenapa aku harus bingung?”

“Tapi setidaknya dia menunjukkan ketertarikan pada istri virtualnya itu,”

Aish, pecinta We Got Married[32]. (=,=)”

“Itu cuma script, Eomma,” tukasku menghentikan pembicaraan yang semakin melantur tak jelas ini, “Sudahlah, Eomma, jangan merecokiku terus soal jodohku, arra[33]? Suatu hari pasti aku akan membawa pulang seorang yeoja dan mengenalkannya pada Eomma,”

“Eomma tak mau menunggu lagi!” ujar Eomma, “Nanti malam Eomma akan mengatur pertemuan dengan teman Eomma,”

“Ha? Maksud Eomma?”

“Eomma akan menjodohkanmu dengan anak teman Eomma,” tukas Eomma.

Aku belingsatan, “Ya, Eomma! Aku bisa cari jodohku sendiri, tak usah dijodohkan. Aku tak mau,”

“Tidak bisa. Keputusan Eomma sudah bulat,” ujar Eomma final, “Kau pikir bagaimana perasaan Eomma melihat anak Eomma hanya bekerja terus-menerus tanpa memikirkan kehidupan pribadinya? Setidaknya kalau ada yeoja untukmu, Eomma kan bisa tenang,”

“Apanya yang tenang? Itu akan menambah beban pikiranku, Eomma!”

Jelas menambah beban pikiran. Dijodohkan? Ayolah, Moni bisa memasukkanku dalam cairan foundation atau melumuriku dengan eyeliner cair kalau dia tahu aku akan dijodohkan.

“Tapi Eomma tak perlu khawatir orientasi seksual anak Eomma berubah,” kata Eomma yang membuatku terhenyak, “Kau kira Eomma tak risih melihatmu bukannya dijodohkan dengan yeoja, malah dijodohkan dengan Donghae? Yah, walau Eomma tahu itu cuma persahabatan dan lucu-lucuan, tapi Eomma agak risih, Hyuk-ah,”

“Eomma…”

“Tak ada tapi-tapian! Keputusan Eomma sudah bulat! Nanti malam kau akan Eomma jodohkan dengan anak teman Eomma, tak peduli kau mau atau tidak. Arraseo?![34]

Aku semakin belingsatan, “Eomma…” mohonku memelas.

Eomma tetap pada keputusannya. Beliau keluar dari kamarku dengan langkah panjang. Aish! Eotteohke?[35]

***

Heaven Cafe, 03.00 p.m.

“Oppa,” panggil seorang yeoja yang membuatku mendongak. Lalu aku tersenyum lebar mendapati yang datang adalah Oh Moni. Kalian tahu kan siapa dia? Satu-satunya putri hatiku.

Aku berdiri dan memeluknya sebentar, namun pelukan itu sarat makna, penuh dengan emosi yang meluap-luap akibat beberapa hari tak bertemu. Memang, menjelang comeback SuJu dengan album keenam, kami jarang sekali bertemu.

“Bogosipeoyo,” ujarku penuh kasih.

“Nado,” sahutnya lalu mengurai pelukanku. Ia kemudian duduk didepanku dan tersenyum menatapku. Tapi… Hei, kenapa sepertinya ada sesuatu yang mengganjal padanya ya? Senyumnya terlihat tidak tulus begitu.

“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Moni.

“A… Ani. Neon… Neomu yeppeuda,[36]” ujarku akhirnya.

Pipinya menampilkan semburat merah muda, “Gomawo,[37]” jawabnya lalu membuka buku menu, “Oppa sudah pesan?”

“Aku hanya pesan jus, aku sudah makan,” jawabku, “Makanlah kalau belum makan siang,”

“Aku tidak bernafsu,” ujarnya lalu memanggil pelayan, “Aku pesan chocolate milkshake satu dan kentang goreng satu,”

“Ne, Agassi[38], mohon ditunggu sebentar,” ujar pelayan itu lalu meninggalkan kami.

“Kenapa tidak makan? Bukannya kau bilang baru selesai rapat soal style SuJu di album keenam nanti?”

Ia menggeleng lemah, “Aku tidak nafsu makan, Oppa,”

“Tapi nanti kau bisa sakit,” kataku prihatin, “Lihat itu. Bahkan bajumu saja sudah kelihatan kebesaran,”

Ia menatapku datar, “Kau lupa? Ini kan kaos hadiahmu, yang memang ukurannya kebesaran 1 nomer,”

“Ah, jinjjayo?” tanyaku sambil menggaruk belakang kepalaku yang sebenarnya tidak gatal, “Mianhae, aku lupa,”

“Permisi,” kata pelayan menginterupsi pembicaraan kami sejenak lalu menata pesanan Moni diatas meja, “Silahkan, Agassi,”

“Gomawoyo[39],” kata Moni. Pelayan itupun meninggalkan kami berdua lagi. Moni mengambil kentang goreng itu dan mencomotnya buru-buru.

“Pelan-pelan saja, Chagi,” ujarku. Kenapa dia kelihatan emosi begitu sih? Aish, bagaimana caranya aku bilang kalau aku harus putus karena aku akan dijodohkan kalau dia seperti setan begini?

Ia menatapku emosi, “Mian, Oppa, aku sedang bad mood,”

“Wae?[40]

Ia mengacuhkanku dan tetap mencomot kasar kentang gorengnya. Beberapa orang melihatnya dengan tatapan aneh. Aku hanya tersenyum maklum melihatnya begitu. Kebiasaannya kalau bad mood, akan memakan apapun dengan kasar dan buru-buru, tentu dalam porsi yang banyak, mengabaikan kenyataan ia harus menjaga berat badannya.

Ia menyeruput milkshake-nya dengan kasar juga. Setelah habis hampir setengah gelas, dan kentang gorengnya juga tinggal beberapa potong, ia mulai terlihat tenang.

“Sudah tenang?” tanyaku lembut yang ia balas anggukan.

“Mianhae, Oppa,” ujarnya lirih.

“Gwaenchana,[41]” jawabku, “Ada apa denganmu? Kok terlihat marah-marah begitu? Kau bad mood kenapa?”

Ia diam. Ah, kenapa diam terus sih? Belum lagi dia menunduk, seolah menyembunyikan wajahnya. Ada apa dengan kekasihku ini?

“Moni-ya,” panggilku selembut mungkin.

HIKS

Kukernyitkan dahiku. Kenapa ada isakan?

“Moni-ya, nalhaebwa,[42]” suruhku.

Ia mendongak dan aku terkejut melihatnya menangis. Hei, kenapa dengannya? Apa aku menyakitinya? Sepertinya aku belum bilang soal perjodohkanku kan?

Aku gelagapan, “M… Moni-ya… Waeyo?”

Ia menunduk dan menutup mukanya dengan kedua belah telapak tangannya, “Oppa~ Hiks,”

Aku segera beranjak kesampingnya dan memeluknya erat. Kucium puncak kepalanya dan mengelus-elus rambut serta punggungnya, “Ada apa? Malhaebwa[43],”

Ia terus menangis sesenggukan dalam dekapanku. Kurasakan kaosku yang bagian dada basah. Tapi tak masalah. Yang penting aku tahu apa alasannya menangis.

“O… Oppa…”

“Ne?”

“Mianhae,”

Dahiku berkerut, “Wae?”

“Aku…” ujarnya menggantung, “Aku tak bisa melanjutkan hubungan ini, Oppa,”

JDER!

Petir seolah menyambarku. Hei, maksudnya apa ini?

“Aku… Aku dijodohkan, Oppa,” lanjutnya, “Eomma menjodohkanku dengan anak temannya, karena dia pikir aku belum berpacaran,”

Kenapa kasusnya sama sepertiku?

“Eotteohke, Oppa? Eotteohke?” isaknya lagi.

Aku terus berusaha menenangkannya. Diam-diam aku berpikir, kenapa ceritanya sama? Kenapa dia juga dijodohkan? Aish, ini semua karenaku. Karena sikap pecundangku yang tak berani menghadapi kenyataan.

Andai aku mengabaikan ultimatum Eomma soal pekerjaan kekasihku, pasti aku sudah bisa mengenalkan Moni ke keluargaku. Andai aku mengabaikan statusku yang selebriti ini, pasti aku bisa memperkenalkan diri sebagai calon menantu dikeluarga Oh.

Ia mendongak menatapku, “Oppa~ Katakan sesuatu. Apa kau marah?” rengeknya.

Aku menggeleng, “Aniya, aku tak marah,” ujarku, “Karena aku juga harus bilang sesuatu padamu,”

“Hm?”

“Aku juga ingin kita mengakhiri hubungan ini,” kataku selembut mungkin, menghindari emosinya, “Aku… Aku juga dijodohkan,”

Matanya membulat menatapku, “Mwo?![44]

Aku mengangguk. Ia berdecak, “Kenapa kita bisa sama nasibnya ya, Oppa?”

Bukannya menjawabnya, aku justru mendekapnya lebih erat. Biar saja orang-orang menganggap kami bermesraan tak pada tempatnya. Ini hari terakhir kami berpacaran!

“Mianhae, Moni-ya,”

“Ha?”

“Karena aku terlalu takut pada Eomma-ku, aku tak berani mengenalkanmu. Karena aku juga takut pada Eomma-mu, aku tak berani memperkenalkan diri pada keluargamu,” ujarku, “Jeongmal mianhae[45]. Ini semua kesalahanku. Ini semua karena aku pengecut,”

“Oppa, kau bicara apa sih?” kata Moni lembut, “Memang ini sudah takdir kita, terlepas dari ketakutan kita pada orangtua kita masing-masing,”

“Chagi~” panggilku membuatnya mendongak. Kutatap tajam dia lalu kumajukan perlahan wajahku. Ia tetap diam, seolah tersihir oleh mataku. Perlahan tapi pasti jarak diantara kami mengecil lalu

CHU~

Kucium lembut bibirnya. Hanya sebentar, namun lagi-lagi sarat akan makna. Tautan bibir kami terlepas. Kutatap lembut dia yang sudah menundukkan wajahnya lagi, menyembunyikan semburat merah yang mewarnai kedua pipinya.

“Jadi… Sekarang kita putus?” tanyaku.

Ia menghela nafasnya, “Kenapa kau menanyakannya setelah kita berciuman, ha?” ujarnya, “Sepertinya memang harus begitu, Oppa. Aku tak mau mengecewakan keluargaku lagi,”

“Nado,” sahutku. Aku juga ikut menghela nafas berat, “Ah, kita bukan kekasih sekarang,”

Ia menatapku dengan mata bulatnya yang besar itu, “Tapi kita tetap teman kan?” tanyanya dengan ceria. Tapi aku tahu pasti, ada selaput tipis bening dimatanya, namun ia menahannya mati-matian.

Aku tersenyum, “Of course, baby,”

Ia menunduk. Sekilas kulihat air mata perlahan menuruni pipinya. Aigoo~ Kalau bukan karena aku gengsi harus menunjukkan sisi lemahku pada yeoja, aku ingin sekali menangis sekarang. Hanya karena sikap pecundangku, hubungan kami jadi seperti ini.

“Na jigeum sexy, free and single?[46]” ujar Moni masih menunduk. Aku terkekeh dalam hati. Memang benar kan? Karena kami sudah putus, maka ia statusnya free and single. Sexy? Okelah, kuakui. Bentuk badannya hampir sama bagusnya dengan badan anak-anak SNSD.

“Ne,” jawabku, “Nado. I’m sexy, free and single,[47]

Kalau aku benar-benar sexy kan? Hahaha^^

Kami terdiam, sibuk menyelami pikiran masing-masing, sampai akhirnya ia berkata, “Geurae, kalau begitu aku harus pulang sekarang. Eomma sudah menyuruhku pulang lebih awal untuk persiapan perjodohanku nanti malam,”

“Kau juga dijodohkan nanti malam?” tanyaku.

“Ne,” sahutnya singkat lalu menyedot milkshake-nya.

“Lagi-lagi kita sama,” kataku, “Aku juga nanti malam,”

“Geurae, selamat berjuang, Oppa, semoga beruntung,”

“Neodo,[48]” ujarku.

“Milkshake-ku sudah habis. Aku pulang dulu ya?” ujarnya, “Oppa, traktir aku untuk terakhir kalinya, oke? Oppa baik sekali,”

Aku melongo melihatnya yang sudah berdiri dan berusaha keluar. Dasar pelit. Bilang saja tak mau bayar sendiri.

“Annyeong,” katanya begitu berdiri disamping meja.

Ia sudah berbalik namun dengan cepat kucekal pergelangan tangannya. Kubalikkan badannya menatapku dan kutarik dia sampai menempel padaku. Lalu kukecup lagi bibirnya. Ia terbelalak, semua pengunjung juga terbelalak melihat kelakuanku, namun kuabaikan.

Kutarik bibirku dan menatapnya dengan senyuman, “Ciuman perpisahan, Moni-ya,” kataku, “Annyeong, hati-hati dijalan,”

Ia tertawa kecil, “Annyeong. Jangan lupa bayarkan pesananku,” ujarnya kemudian meninggalkanku di cafe ini. Aku kembali duduk, mengabaikan tatapan kaget dan aneh semua pengunjung yang melihat adegan intim tadi. Kuhela nafasku.

Yeah. Setelah ini, aku harus berhenti bersikap pecundang. Aku harus tegas. Daripada aku harus kehilangan kekasih lagi.

***

Rumah Hyukjae, 07.00 p.m.

“Sudah siap?” tanya Sora menerobos masuk kamarku.

Aku menoleh, “Tak bisakah kau ketuk pintu dulu, Noona?”

Ia menyengir, “Mian,”

Kuraih jasku yang sudah kusiapkan diatas ranjang lalu menghampiri kakakku itu, “I’m ready,”

Ia mencibir namun membiarkanku lewat duluan, “Sudah kubilang, jangan sok pintar berbahasa Inggris didepanku,”

***

Sapphire Restaurant, 07.45 p.m.

“Eomma~ Kemana teman Eomma itu?” rengekku yang mulai kesal menunggu tamu kehormatan itu. Cih, begini sikap keluarga yang akan jadi calon besan keluargaku? Suka terlambat? I hate it!

“Sabarlah, Hyuk-ah. Eomma sudah berusaha menghubungi mereka kok,” sahut Eomma dan tetap berkonsentrasi dengan ponselnya.

“Sabar, Hyuk-ah,” ujar Appa yang tenang-tenang saja sambil sibuk dengan iPad-nya. Jangan salah kira. Appa tidak sibuk mengerjakan sesuatu disana. Bisa kupastikan beliau sedang asyik menyelesaikan level Angry Bird.

Aku berdecak, “Ck~ Aku ke toilet dulu,”

Tanpa menunggu jawaban, aku segera beranjak ke kamar kecil yang ada dalam restoran mewah itu. Eomma sudah setengah berteriak, “Ya!” serunya namun kuacuhkan.

Sesampainya di toilet, tentu aku tak melakukan apa-apa. Memang aku tidak merasa butuh ke toilet. Aku hanya malas menunggu disana. Kuhela nafasku, saat bosan begini paling asyik kalau menelepon Moni. Dia pasti akan menemaniku sampai bosanku hilang, tak peduli walau saat itu pekerjaannya banyak.

Benar-benar kekasih yang baik kan? Sayang dia sudah meninggalkanku. Ah ani, tepatnya, sayang kami sudah membatalkan komitmen setia diantara kami. Kami sudah putus kan?

Kuraih ponselku dan menekan sebuah kontak. Terdengar nada sambung hingga ada suara seorang namja diseberang sana.

“Yeoboseyo,” sapanya.

Aku tersenyum kecil, “Donghae-ya,”

Lalu selama beberapa menit kedepan, kuhabiskan dalam salah satu bilik toilet sambil bertelepon ria. Untung ini restoran, bukan toilet umum, jadi tak banyak yang mengantri. Aku bisa berdiam didalam toilet selama yang aku mau.

TUT

Nada sebuah telepon menyela pun terdengar. Aku langsung berkata, “Hm, Donghae-ya, sudah dulu ya? Ada telepon masuk. Nanti kuhubungi lagi,”

“Ne. Selamat berjuang, buddy! Semoga perjodohanmu sukses,”

“Amin,”

“Dan Moni akan jadi milikku,” godanya. Memang dulu aku dan Donghae sempat berebut Oh Moni itu. Namun nasibku lebih beruntung saat itu, karena stylish cantik satu itu lebih memilihku daripada Donghae si Man Number 3.

“Terserah kau saja,” ujarku mengakhiri teleponku dengan Donghae. Lalu kuterima telepon yang baru masuk itu, “Yeoboseyo,”

“Neoneun eoddiye?[49] Tamunya sudah datang, babo[50],” ujar Sora tanpa membalas sapaanku.

“Geurae, aku akan kesana,” sahutku lalu berjalan kembali ke mejaku seraya memasukkan ponselku kedalam saku jasku.

Aku berjalan, sengaja kulambatkan langkahku supaya tidak cepat sampai sana. Ingat, aku bahkan belum rela 100% harus melepaskan Moni demi perjodohan sialan ini.

“Mian, anakku sedang ke toilet,” ujar Eomma yang dapat kudengar. Kulihat meja memang sudah penuh. Setidaknya ketambahan 3 orang. Kulihat seorang yeoja berambut hitam panjang terurai sepunggung yang dihiasi bando putih dengan mengenakan gaun selutut berwarna putih juga tengah duduk anggun disana. Entah mengapa rasanya aku tak asing dengan yeoja itu.

“Tapi tadi aku sudah meneleponnya, Ahjussi[51], Ahjumma[52], Saeng-ah[53]. Tenang saja,” sambung Sora lalu mendongak dan tak sengaja menatapku yang baru datang, “Ah, itu dia,”

Aku berdiam ditempatku sementara semua orang dimeja itu berdiri. Serempak ketiga orang baru itu menoleh. Jujur, aku lumayan penasaran dengan yeoja bergaun putih itu. Dan begitu ia menoleh menatapku, mataku membulat kaget. Begitu pula dengannya.

Ia menunjukku dengan wajah terkejutnya, “H… Hyukjae Oppa?”

“Moni?” ujarku sama kagetnya.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Eomma.

***

Tepi Sungai Han, 08.30 p.m.

“Kau tidak kedinginan?” tanyaku sambil melihat sesosok yeoja yang duduk disebelahku ini. Kami -aku dan Moni- memang sedang duduk diatas kap mobilku sambil menatap bintang yang kebetulan terlihat jelas di musim panas ini.

Moni menatapku datar, “Ini musim panas, Oppa,”

“Tapi ini malam hari, Chagi,” ujarku berkilah, “Lihat, kau cuma pakai gaun selutut begitu, tanpa lengan lagi. Kau bisa masuk angin,”

“Apa kau tak punya istilah yang lebih elit? Masuk angin? Aigoo~ Kalau kau tidak lupa, bulan lalu siapa yang masuk angin setelah kita sama-sama menerobos hujan?” jawabnya mengingatkanku akan peristiwa memalukan yang terjadi bulan lalu itu, “Lagipula siapa yang mengijinkanmu memanggilku ‘Chagi’, ha?”

Aku langsung memaksanya menatapku, “Kau masih marah padaku soal ‘Hyosim’ tadi?”

“Aish, jinjja! Kenapa kau menyebutkan dia lagi ha?!” ujarnya ketus lalu menatap kedepan lagi. Sekarang ia tidak melihat bintang lagi, melainkan melihat Sungai Han.

Aku tersenyum simpul. Ingatanku pun melayang ke kejadian di Sapphire Restaurant tadi. Tempat keluargaku dan keluarganya bertemu.

. . .

Ia menunjukku dengan wajah terkejutnya, “H… Hyukjae Oppa?”

“Moni?” ujarku sama kagetnya.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Eomma.

“Ne,”

“Aigoo~ Anak kita benar-benar berjodoh,” ujar Eomma Moni.

“Maksud Eomma apa?” tanya Moni bingung.

“Kalian dijodohkan, Sayang,” jawab Eomma Moni dengan senyum yang terus terkembang.

Aku dan Moni berpandangan lalu berseru bersamaan, “MWO?!”

“Aku,” ujar Moni menunjuk dirinya sendiri lalu menunjukku, “Dan monyet ini, dijodohkan?”

Terdengar semua orang dimeja ini menahan tawa mendengar mantan kekasihku dan calon tunanganku ini menyebutku ‘monyet’. Aish, kebiasaannya kumat lagi. Memang sebelum berpacaran dia suka sekali memanggilku ‘monyet’ kalau tidak ‘teri’.

Kujitak kepalanya, “YA!” ujarku lalu menatap keluargaku lagi, “Apa aku benar-benar dijodohkan dengannya, Eomma?”

“Ne,”

“Tapi kata Eomma, Eomma tak mau punya menantu yang bekerja dibidang yang sama denganku,” kataku, “Moni ini stylish di SM, Eomma. Itu artinya dia sama denganku,”

“Dan Eomma juga bilang Eomma tak mau punya menantu artis,” timpal Moni, “Walau dia berwajah seperti monyet dan berbadan seperti teri, dia juga artis, Eomma. Dia Eunhyuk Super Junior,”

PLETAKK

“Aw! Appo, Oppa![54]” ringis Moni.

“Berhenti mengejekku,” tukasku.

“Kami sudah tahu,” ujar Eomma membuatku terkejut.

“Lalu, kenapa justru kami dijodohkan?”

Eomma berpandangan sejenak dengan Eomma Moni lalu tersenyum lebar, “Karena kami mau jadi besan. Jadi kami mengesampingkan fakta calon menantu idaman kami,”

“Jadi aku tetap bukan calon menantu yang baik untuk Ahjumma, begitu?” tanya Moni pada Eomma.

“Aniyo, bukan begitu. Kau tetap calon menantu yang baik untukku, Moni-ya. Aku kan kenal kau dari kecil, walau kau tak kenal Ahjumma,” jawab Eomma yang membuat Moni bernafas lega, “Setidaknya kau lebih baik daripada Kang Hyosim itu,”

DEG!

Aduh, kenapa Eomma harus menyebut nama Kang Hyosim sih? Dia memang mantan kekasihku yang hubungannya denganku berlangsung cukup lama, sekitar 3 tahun. Namun menjelang aku comeback dengan Mr. Simple, kami putus. Mengingat lama dan eratnya hubunganku dan Hyosim itulah yang membuat Moni agak tidak suka kalau ada yang menyebut nama ‘Hyosim’ lagi.

Moni menatapku tajam, “Kau pernah membawa Hyosim kerumahmu?!”

“Itu…”

“Pernah, Saeng-ah. Sekitar awal tahun 2011, tapi ternyata Juli dia sudah putus,” timpal Sora. Sekilas kulihat ia menyengir lebar. Sialan! Dia mau membuat Moni marah?

“Oppa, Hyosim Eonni kan malah model, kenapa kau berani mengenalkannya ke keluargamu, sedangkan aku yang cuma stylish SM saja kau tak berani mengenalkanku?!” semprotnya.

Aish! Eotteohke? Moni is going to explode!

“Ah, aku benci padamu, Oppa!” ujar Moni lalu berjalan keluar restoran meninggalkan kami. Aku memperhatikan gadis itu dengan bingung.

“Ya! Kenapa kau diam saja?! Kejar Moni!” suruh Appa menyadarkanku.

“Ah, geurae. Annyeonghi gyeseyo, yeorobun,[55]” jawabku lalu segera mengejar calon tunanganku itu.

Oh Moni, jakkamanaeyo[56].

. . .

Kupeluk dia dari samping, “Kau masih marah, Chagiya?”

Ia meronta dari pelukanku, “Jangan memanggilku begitu dan jangan memelukku!”

“Wae? Aku kan calon tunanganmu,”

“Memangnya aku sudah bilang aku mau?” tanya Moni dan menatapku tajam.

Aku tersenyum simpul lalu

CHU~

Kukecup singkat bibirnya, membuatnya terbelalak. Ia memukul lenganku, “Apa-apaan kau?!”

“Kau malu, Chagiya,” ujarku terkekeh, “Itu tandanya kau mau. Sudahlah, jangan malu-malu lagi. Tinggal bilang ‘iya’ saja apa susahnya?”

Ia menghela nafas, “Dasar narsis,”

“Tapi narsis-ku pada tempatnya. Aku yakin kau tak akan menolakku,” ujarku lalu menatapnya lagi, “Benarkan?”

“…”

Aku turun dari kap mobil membuatnya bingung. Dan wajah bingungnya makin kentara ketika melihatku berlutut didepannya. Kuraih tangannya lalu kucium punggung tangannya. Aku mendongak, menatapnya penuh cinta, “Moni-ya, saranghaeyo. Jeongmal saranghae. Would you be my girl again?”[57]

Ia menatapku dengan berkaca-kaca, “Oppa~”

“Eottae?[58] Kau mau?”

Ia menatapku dalam lalu mengangguk, “Nado saranghae, Oppa,”[59]

Aku langsung berdiri dan menariknya dalam pelukanku. Kupeluk dia erat-erat, tak peduli apa dia akan kehabisa nafas atau bagaimana. Aku hanya ingin memberitahunya kalau aku sangat mencintainya lewat pelukan ini. Sekali lagi, ini pelukan sarat makna, penuh cinta.

“Saranghae, Chagiya,” ujarku sambil memeluknya.

“Nado saranghae, Oppa,” sahutnya membalas pelukanku.

Hahaha^^ Perjalanan cinta yang unik kan? Tapi kupikir, andai aku tak bersikap pecundang, kurasa aku tak akan mendapat kesempatan seberharga ini kan?

Oh Moni, nan jeongmal saranghaeyo!!![60]

***

EPILOG

Studio Foto, 10.00 a.m.

“Haruskah aku pakai ini?” tanyaku dengan tatapan apa-kau-yakin-aku-harus-pakai-ini-? setelah melihat pakaian seperti apa yang harus kukenakan untuk teaser.

Moni mengangguk-angguk, “Temanya beautiful males, jadi kau harus pakai ini,”

“Beautiful males? Tapi kenapa Jongwoon Hyung dan Kyuhyun justru terlihat tampan?” tanyaku protes. Hei, itu sungguhan. Pakaian yang mereka kenakan untuk teaser itu justru membuat mereka terlihat tampan, bukan cantik.

Yesung terkekeh, “Itu karena aku memang lebih tampan darimu, monyet,”

“Dan ini,” kataku sambil mengangkat sebuah benda seperti bando yang ada hiasan bunganya didepannya, “Haruskah kupakai ini untuk menutup mataku?”

Moni mengangguk lagi, “Exactly,”

“Jinjja!” umpatku.

“Sudahlah. Bagiku kau tetap tampan mau pakai pakaian seaneh apapun, arra?! Cepat ganti baju, akan kudandani kau setelah ini,” tukasnya. Aku tersenyum kecil mendengar kata-katanya.

“Arra, arra, aku memang tampan,” ujarku narsis. Aku pun masuk dalam kamar ganti dan berganti pakaian. Keluar dari sana, aku langsung didandani. OMG, bayangkan! Aku harus pakai wig! Jinjja! Beautiful males ini benar-benar menyiksaku!

“Hyukjae! Giliranmu!” seru manajer-ku menyuruhku masuk ke area foto. Aku pun masuk.

“Annyeong haseyo,” sapaku pada sang fotografer yang masih sibuk membidik berbagai benda dengan kameranya.

Ia menurunkan kameranya lalu tersenyum, “Annyeong haseyo, Eunhyuk ssi,”

Aku terpaku. Ya Tuhan, fotografernya wanita! Cantik pula.

“Eunhyuk ssi, tolong kau kesana dan duduk disana, arra?” ujarnya mengarahkan gayaku.

“Ah, aku harus berpose seperti apa? Bukankah aku harus menunjukkan sisi femininku?” tanyaku.

Fotografer itu tertawa, “Tak usah bingung. Berposelah biasa, nanti akan kupilih yang terbaik,” ujarnya, “Lagipula menurutku kau tidak terlalu cantik dengan pakaian itu. Kau tetap tampan dan, mian, sexy menurutku,”

Aku terkekeh, “Ya, arraseo. Aku memang tampan dan sexy,” ujarku, “Karena memang aku ini sexy, f…”

PLETAKK

“Aw!” pekikku lalu menoleh dan bersiap memarahi siapapun yang sudah menjitakku, namun niatku langsung kuurungkan, “Ch… Chagiya~”

Moni mendekatkan mulutnya ke telingaku lalu berbisik, “Remember, Lee Hyukjae ssi. You’re not single anymore, arraseo?!”[61]

GLEK!

“A… Arraseo,” ujarku agak takut.

Lee Hyukjae is sexy, free and single has a girlfriend.

THE END

[1] Aish, astaga!
[2] Astaga! / Aduh!
[3] Halo
[4] Ibu
[5] Maaf
[6] Baiklah
[7] Tidak
[8] “APA?!”
[9] Sampai jumpa!
[10] Partikel yang diberikan dibelakang nama panggilan seseorang untuk memberikan kesan akrab
[11] Panggilan laki-laki kepada laki-laki yang lebih tua
[12] Bodoh
[13] “Halo, Ibu. Aku merindukanmu,”
[14] “Aku juga, Hyuk-ah,”
[15] “Siapa? Dimana?”
[16] “Halo. Apa kabar, Ibu?”
[17] Panggilan laki-laki kepada perempuan yang lebih tua
[18] Ayah
[19] Sayang
[20] Partikel yang diberikan dibelakang nama panggilan seseorang untuk memberikan kesan akrab
[21] Kekasihmu
[22] Perempuan / Wanita / Pemudi
[23] Laki-laki / Pria / Pemuda
[24] Kekasihku
[25] Berhenti!
[26] Kenapa, Ibu?
[27] Sayang
[28] Benarkah?
[29] Maaf
[30] Benarkah?
[31] Benarkah?
[32] Reality show dimana ditunjukkan kehidupan jika sepasang artis menjadi suami istri
[33] Mengerti?
[34] Mengerti?!
[35] Bagaimana?
[36] “Ti… Tidak. Kau… sangat cantik,”
[37] Terimakasih (dengan bahasa yang kurang formal)
[38] Panggilan kepada seseorang yang belum dikenal
[39] Terimakasih
[40] Kenapa?
[41] Tak masalah
[42] “Moni-ya, lihat aku,”
[43] Katakan padaku
[44] Apa?!
[45] Aku benar-benar minta maaf
[46] “Aku sekarang sexy, free and single?”
[47] “Ya,” jawabku, “Aku juga. Aku sexy, free and single,”
[48] Kau juga
[49] Kau dimana?
[50] Bodoh
[51] Paman
[52] Bibi
[53] Adik
[54] “Aw! Sakit, Oppa!”
[55] “Ah, baiklah. Aku pergi dulu, sampai jumpa, semua,”
[56] Oh Moni, tunggu aku.
[57] “Moni-ya, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Maukah kau jadi kekasihku lagi?”
[58] Bagaimana?
[59] “Aku juga mencintaimu, Oppa,”
[60] Oh Moni, aku benar-benar mencintaimu!!!
[61] “Ingat, Lee Hyukjae ssi. Kau tidak sendiri lagi, mengerti?”

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: