[Eunhae’s Day] Lee

827907892

Tittle          : Lee

Author         : Nara Kim

Main Cast    : Kim Nara

Lee Donghae

Lee Hyukjae

Kim Yesung

Genre          : Romantic, Comedy, Friendship.

Lenght         : Oneshoot

 

***

Malam Minggu, Nara duduk termenung sembari menatap langit yang dihiasi bulan dan taburan bintang, kedua tangannya memegang erat sisi trampolin yang didudukinya. Tubuh 160 cm nya dibalut baju hangat lengan panjang berwarna coklat yang ia beli saat mengikuti event fanbase bernama ‘Sparkyu’ bulan lalu. Baju itu cukup hangat untuk menjaga dirinya dari dinginnya malam ini. Bosan menatap kelangit, gadis itu beralih menundukkan kepalanya sembari mengayunkan kakinya yang dibalut sepatu berwarna hitam.

Tangannya meraih ponselnya yang berkedip dan membaca beberapa pesan dan notice dari akun facebooknya. Raut wajahnya berubah muram saat melihat deretan pesan yang isinya hampir sama. Deretan huruf dengan judul besar-besar itu membuat gadis itu ingin menyusul pria berjulukan ‘Anchovy’ itu ke dorm mereka. Dorm Super Junior. Nara akan mengatakan ‘Jangan pergi’ meski itu akan terlihat nekad dan gila mengingat dirinya hanya seorang fangirl.

Eunhyuk dan kedua member Super Junior lainnya dijadwalkan mengikuti wajib militer menyusul—

Nara tidak melanjutkan kalimat itu, ia sudah tahu hal ini sebelumnya. Ia meletakkan kembali ponselnya dan kembali merenung. Ia akan bangkit dan pergi dari tempat itu ketika telinganya menangkap suara Donghae yang menyapanya dari arah belakang.

“Nara.. Itu, kau?” Donghae bertanya ketika tubuh tegaknya sudah berada didekat Nara. Gadis yang diajak bicarapun hanya tersenyum sebagai jawaban. Mengetahui Donghae mau meluangkan waktu untuknya disela kesibukan, hati Nara sedikit menghangat. Buktinya, Donghae mau menghampiri Nara yang memaksa bertemu meski kini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.

“duduklah,” itu suara Nara. Donghae memposisikan dirinya duduk disamping Nara, lalu ia merebahkan tubuhnya diatas trampolin dan menarik lengan gadis itu sekalian. Hingga tubuh Nara hampir menubruk Donghae jika gadis itu tidak siaga.

“Yakk—“

“Aku lelah sekali, biarkan seperti ini, sebentar saja.” Donghae menopangkan tangan kanan dibelakang kepalanya dan tangan kirinya sebagai bantal untuk gadis itu.

“sudah lama sekali, ya?” Donghae bertanya, Nara menoleh dengan alis terangkat. Reflek ia menatap lagi kelangit karena kaget dengan jarak wajahnya dan Donghae yang begitu dekat. Bahkan ia menahan nafas saat wajahnya menoleh pada Donghae tadi.

“Apanya yang lama sekali?” tanya Nara. Berusaha menormalkan suaranya yang mungkin akan terdengar aneh ditelinga Donghae.

“Kita berdua. Emm.. maksudku, saat kita disini, dibelakang rumahku dan diatas trampolin ini, aku bahkan ingat saat kau menangis dan mengadukan aku pada eommamu karena terpeleset jatuh dari atas trampolin.”

Nara tersenyum mendengar kembali cerita masa kecilnya dulu. “ya.. aku bahkan membuatmu dimarahi Appaku seharian, maaf untuk itu.”

“tidak.” Donghae mengusap rambut gadis itu pelan. “tidak apa-apa. itu masa lalu.”

Hening. Nara terpaku dengan sentuhan Donghae dipuncak kepalanya, perlahan semburat merah mulai merayapi wajahnya.

“jadi, tujuanmu kesini adalah..?” Donghae menggantungkan ucapannya, menunggu sahutan gadis disampingnya itu. Pria itu melirik sekilas ke arah Nara dan tersenyum saat gadis disampingnya itu menggigit bibir bawahnya gemas. Donghae tahu Nara tengah gugup jika melakukan itu.

“aku..”

“Aku ingin bercerita banyak hal padamu. 2 bulan tidak bertemu, itu berarti kau berhutang banyak waktu pada sahabatmu ini,”

“Oke, baiklah. Aku akan mendengarkan ceritamu. Jadi, kali ini tentang apa?”

“banyak yang ingin ku ceritakan, tapi aku bingung harus memulainya darimana?”

“mulai saja dari apa yang kau fikirkan saat ini,” Donghae mengusulkan, tapi Nara menggeleng. “banyak hal yang kufikirkan”

Donghae memutar bola matanya dan mengembuskan nafas, menjadi sahabat seorang Kim Nara adalah hal menyenangkan dan membuat frustasi dalam waktu yang berdekatan.

“bagaimana kalau tentang Hyukjae?” Usul Donghae lagi.

“jangan menyebut namanya lagi didepanku, kami sedang bertengkar.” Nara mengalihkan pandangannya pada lampu temaram dibelakang rumah Donghae. menyembunyikan matanya yang terasa memanas, yang mungkin akan diketahui Donghae sebentar lagi.

“eh? Wae?” tanya Donghae heran, tidak biasanya gadis itu mengeluhkan hubungannya dengan Hyukjae. Nara menghindari mata Donghae yang ingin menatap matanya.

“dia akan pergi ke Jerman.. untuk… dua tahun.” Dan setelah itu Donghae langsung menarik Nara ke dalam pelukannya setelah mendengar nada bergetar diakhir kata yang gadis itu ucapkan. Ia tau, sahabatnya ini butuh tempat bersandar saat ini, karena kedua orang tua Nara yang memilih tinggal diluar negeri untuk mengurusi bisnis. Gadis itu hanya punya Hyukjae dan dirinya dikota ini.

“Ssstt.. aku ada disini, Ra-ya, tenanglah” suara Donghae pelan menyapa pendengaran Nara. Gadis itu sudah sesenggukan didada Donghae dan membasahi jaket Donghae.

“dia.. Dia bahkan tidak mengatakan apapun, aku mengetahuinya dari orang lain.” Suara serak Nara mencoba melanjutkan ceritanya.

“astaga, anak itu!” gumaman Donghae semakin membuat Nara semakin deras meneteskan air matanya.

“kenapa semuanya ingin meninggalkanku? Oppa, katakan kenapa..”

Donghae memejamkan matanya sembari mengusap punggung gadis itu.

“Appa dan Eomma bahkan ada diTaiwan saat ulang tahunku, dan sekarang, dia, pria itu juga ingin meninggalkanku, dia tidak mengatakan apapun dan baru hari ini memberitahuku akan pergi ke Jerman minggu depan, hiks.. aku sebenarnya salah apa pada mereka?”

“Eunhyuk oppa bahkan akan mengikuti wajib militer.. hiks”

“Ssst.. tenanglah..” bisik Donghae pelan, dia tidak tega sahabatnya menangis dan bersedih. gadis itu sampai membahas tentang biasnya diSuper Junior juga. hatinya ikut teriris.

“Kau masih punya aku, tenanglah..”

“kau tidak akan pergi, kan?”

DEG!

Itu tandanya dia menyuruhmu untuk tetap tinggal, Hae!

Donghae menghentikan tangannya yang mengusap punggung gadis itu. Ia menggeleng pelan saat bisikan entah darimana itu merasuki fikirannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia bahagia, jika gadis itu menyuruhnya untuk tidak pergi. Maka setidaknya ada satu sisi dihati Nara yang menginginkan Donghae selalu berada disampingnya. Tapi mengingat gadis itu memiliki Hyukjae. Donghae harus mengubur dalam-dalam perasaan itu lagi. Detik berikutnya ia kembali mengusap rambut Nara, menenangkan gadis itu lagi.

“Kau lihat? aku masih disini, kan? Jadi tenanglah. Aku tidak akan kemana-mana” Suara Donghae membujuk Nara agar berhenti menangis.

Butuh lima belas menit gadis itu untuk meredakan isakannya, rasa sakit itu masih menganga lebar didalam hatinya. Jika Hyukjae memberitahukannya jauh-jauh hari ia akan mempersiapkan hatinya, dan mencoba memaklumi itu. tapi ini sudah keterlaluan, pria itu selalu meminta Nara melaporkan berbagai kegiatannya bak jurnalis koran, dan Nara tidak pernah meminta apapun dari Hyukjae selain kesetiaan dari pria bergummy smile itu. dia keterlaluan!—batin Nara menjerit.

Donghae bangun dari posisi tidurnya dan diikuti Nara setelahnya. Ia mengusap air mata gadis pelan.

“Nara.. Kau pernah mendengar istilah Long distance relationship?” suara Donghae menyadarkan Nara untuk kembali ke alam nyata.

“LDR?” ulang Nara. Donghae mengangguk.

“kau tau hubunganku dan Yoon Ra dulu, kan?” Donghae bertanya. “ya. Kalian berhubungan jarak jauh. Kau di Seoul dan dia di Jepang”

“Kau tau kenapa aku tidak ingin mempertahankannya?” Nara menggeleng polos mendengar pertanyaan itu. dia memang tidak tau kronologi kandasnya hubungan Donghae-Yoon Ra dulu karena Donghae tidak ingin menceritakannya. Tapi kini pria itu membahasnya kali ini.

“karena dia mengingkari janjinya, dia berjanji hanya setia padaku. Tapi tanpa aku tahu dia sudah menikah dan mempunyai anak sekarang.” Nara melihat Donghae tersenyum miris disampingnya. Iapun ikut meringis mendengar nada pilu sahabatnya itu.

“dan aku ingin kau tidak memiliki masalah yang sama. Hyukjae memang playboy, itu dulu. Dan aku melihat perubahan drastis setelah dia mengenalmu. Aku yakin kau dan dia bisa mempertahankan hubungan ini walaupun hingga 2 atau 3 tahun ke depan. Bahkan kurasa lebih.”

“oppa, kau berlebihan.”

“dia pria brengsek dan teman terbaik yang pernah aku temui, dia beruntung bisa mendapatkanmu. Percayalah, Ra-ya. Dia tidak seburuk Hyukjae yang dulu,”

“bicarakan ini dengannya baik-baik, jangan melibatkan emosimu. Kau tahu, dia mudah tersulut emosi.”

“tapi—“

“Nara! Kim Nara!” Nara menoleh ketika namanya dipanggil dengan keras, ia turun dari trampolin, menyambar ponselnya yang tergeletak disisi trampolin dan berpamitan pada Donghae.

“ada Yesung oppa dirumah, Appa yang menyuruhnya untuk menginap.” Nara tidak tahu kenapa ia mengatakannya pada Donghae, dia hanya terbiasa berbicara semua hal pada Donghae.

“aku harus pergi. Dan, tentang jaketmu, aku akan menggantinya dengan semangkuk ramen, bagaimana? Datanglah kerumahku besok. Dan aku akan memasakannya untukmu” Nara memperbaiki tatanan rambutnya dan tersenyum pada Donghae.

“terimakasih untuk malam ini, kau sahabat terbaikku, oppa. “ Nara menerima usapan Donghae dikepalanya dan berlalu pergi sebelum suara Yesung kembali menggema.

Donghae kembali merebahkan tubuhnya dan menatap langit malam yang semakin menunjukkan taburan bintang dan bulan, samar-samar ia mendengar suara Yesung dan Nara.

“kau kemana saja, huh? Kau mau aku mati tergantung dipohon cabe jika appamu tahu kau keluyuran hingga selarut ini?”

“ya-ya.. maaf aku hanya mencari udara segar. ayo, kepala besar, sepertinya aku lapar. Bagaimana kalau aku memasak sup buntut dangkoma? Sepertinya rasanya enak.”

“jangan pernah mencoba untuk melakukannya!”

“kenapa tidak boleh? Daging kura-kura sangat enak jika aku yang memasaknya.”

“yakk!! Awas kau ya!”

Setelah itu Donghae tidak mendengar suara Yesung maupun Nara lagi dan memilih menatap balkon kamar Nara yang masih diterangi lampu dan kemudian gelap beberapa menit setelahnya. Ia tersenyum dan bangkit berdiri dan kembali masuk ke dalam rumah karena malam semakin larut saat itu.

Selamat malam, NaRa-ya

*

Minggu pagi yang cerah, Nara menuruni anak tangga dari lantai dua rumahnya dengan kaos lengan pendek dan juga celana selutut. Rambutnya ia gelung asal, menyisakan beberapa anak rambut yang terhelai manis disisi wajah gadis itu.

“Putri Kim sudah bangun rupanya,” Nara mengernyit melihat dua pria dengan baju dan sepatu olahraga yang hampir basah kuyup karena keringat.

“kalian sedang apa?” Nara bertanya sembari menghampiri mereka. ia berdiri didekat pantri dapur dan mengamati kegiatan langka dua pria itu.

“memasak” itu suara Donghae. Pria itu tengah tersenyum ke arahnya dan memegang spatula.

“menurutmu apa? Menyembelih daging kura-kura?” kini suara Yesung terdengar khas dengan gurauannya.

“ku pikir kau akan memikirkan tawaranku, aku akan membelikanmu peliharaan baru jika kau mau menyumbangkan dangkoma sukarela padaku”

Yesung mendengus kesal mendengar gurauan Nara. Pria itu berdiri disamping kompor yang tengah menyala. Nara terkikik pelan. Ia berjalan masuk ke dalam dapur, berniat mengambil sebotol air karena ia kehausan.

“Hey, bukankah itu tawaran menarik? Dangkkoma sudah tua dan aku ingin sekali memakannya”

“tidak akan pernah!” Yesung akan melempar sendok yang ia pegang tapi Nara sudah berlari menghindar darinya dengan tawa cekikikan yang amat kentara. Gadis itu bersembunyi dibalik punggung Donghae. meminta perlindungan pada sahabatnya.

“Oppa, tolong aku dari si kepala besar!”

“kau tidak bisa lari! Tidak sebelum kau menarik ucapanmu!”

“shireo!”

Donghae hanya tersenyum melihat kedua orang itu dan mencoba melerai mereka. kemudian ia melanjutkan irisan bawang yang sempat tertunda karena perdebatan Yesung dan Nara beberapa menit lalu.

*

Nara duduk diatas kursi dan menumpukan tangan dan kepalanya diatas meja makan, sesekali ia mengusap keningnya yang sedikit memerah karena terkena pukulan sendok Yesung. Pria dengan sebutan generasi bapak pertama dangkoma itu benar-benar melayangkan sendok ke arah Nara disaat gadis itu lengah. Saat itu Nara tengah memasak ramen untuk Donghae, sebagai balas budi katanya. Tapi gadis itu kurang waspada hingga Yesung mengambil kesempatan untuk balas dendam. Kekanakan sekali.

Nara mengerucutkan bibirnya saat Yesung menghampiri meja makan dengan piring dan mangkok, diekori Donghae dibelakangnya.

“Makanlah, jangan berharap ini adalah sop buntut kura-kura, karena kau tidak akan mendapatkannya selama aku masih disini” Yesung menyodorkan piring dan mengambilkan nasi untuk sepupunya itu. Nara menerimanya dengan diam dan mulai memakan masakan Yesung. Sedangkan Donghae duduk diantara Yesung dan Nara dengan semangkuk ramen dihadapannya. Gadis itu menepati janjinya untuk memasakkan ramen untuk Donghae.

Baru saja Yesung ingin berceloteh lagi suara bel pintu berbunyi mengusik kegiatannya.

“Biar aku saja,” Donghae cepat-cepat berdiri dan berjalan ke arah pintu utama. Ia menarik knop dan kedua mata sipitnya sedikit terbelalak melihat siluet pria bermarga Lee dihadapannya.

*

Nara meletakkan piring-piring yang sudah ia cuci dirak, menatanya rapi dan teratur. Ia menerima uluran gelas dari Yesung dan meletakkannya bersisian dengan gelas lain. Sebagai seorang sepupu yang menyebalkan, Yesung bisa diandalkan dalam urusan dapur dan mencuci piring. Maka dari itu, Nara tidak pernah mengusir Yesung, karena pria itu benar-benar membantunya yang tidak berbakat dalam memasak. Nara hanya bisa menghangatkan sup, memasak air, membuat ramen, dan oh! Jangan lupa, dia juga bisa menuangkan air ke dalam gelas. LoL.

Nara mengambil lap dan mengusap tangannya yang basah agar kering. Dia merapikan baju yang ia kenakan dan membenahi tatanan yang digelung asal. Nara menarik nafas dalam dan menghembuskannya, dia melakukannya selama beberapa kali sampai Yesung menegurnya.

“kau seperti akan dilamar seorang pangeran, jangan gugup!” Yesung, pria itu sedari tadi memperhatikan gelagat Nara yang lebih gugup dari siswi yang akan mendapatkan ciuman pertamanya. Yesung melirik ke arah Hyukjae yang berada diruang tamu dan kembali pada Nara.

“fighting!” Yesung mengangkat satu tangannya keatas. Memberi semangat pada gadis itu.

*

Si kepala besar benar, aku tidak boleh terlihat gugup dihadapan pria itu. tunjukkan kau itu kuat, Nara! Ya, Kau bisa!

Nara melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, ia mendudukkan diri disamping Hyukjae yang tengah fokus pada layar televisi.

“maaf membuatmu menunggu lama,” Nara berucap, ini basa-basi dan gadis itu merasa kaku sekarang.

“tak apa,” Hyukjae menoleh dengan senyum yang bisa melelehkan Nara jika gadis itu adalah es batu.

“b..Bagaimana kabarmu?”

Pabo! Pertanyaan macam apa itu?

“aku baik”

“heyy.. kenapa gugup, hmm?” Hyukjae dapat merasakan tangan Nara bergetar. Ia mengusapkan tangannya pada puncak kepala Nara. Nara tersenyum kaku.

Tentu saja karena kau!

“tidak apa-apa,” Nara menundukkan kepalanya dan memandangi karpet berbulu dibawahnya.

“Hari ini aku ingin mengajakmu berkeliling, eh, tidak! Bukan hanya hari ini, tapi juga 6 hari kedepan.”

Nara menoleh dengan mata berbinar, tapi pandangannya kembali menunduk sedih. “kenapa? Bukankah kau ingin pergi?”

“aku tidak ingin gadis yang ku cintai bersedih karena kepergianku. Aku ingin dia tetap tersenyum saat itu tiba. Aku ingin kau tetap tersenyum, Ra-ya” Hyyukjae mengusap sisi wajah Nara pelan. Menatap lekat-lekat ke kedua bola mata gadis itu.

“ganti bajumu, dan bersiaplah. Ini akan sangat menyenangkan.”

*

Nara turun dari mobil Hyukjae dengan dress selututnya, disamping tubuhnya berdiri pria bertubuh tegap itu tengah mengulurkan tangan kearahnya. Meminta gadis itu menautkan jari jemari mereka dan mulai melangkah. Bergandengan tangan sembari mengelilingi taman kota adalah salah satu jadwal romantis yang wajib dilakukan seminggu sekali oleh Nara dan Hyukjae. Mereka akan mengelilingi taman dan menyapa semua orang. Bermain dengan anak kecil, berlarian bersama Bugsy –anjing kecil peliharaan tukang kebun ditaman itu- ataupun lomba makan es krim dan berakhir dengan bersandar dibawah pohon besar karena kelelahan.

Seperti saat ini, Nara tengah memesan dua es krim jumbo saat dia mendengar sayup-sayup suara Hyukjae yang tengah tertawa dan dia membalikkan badannya untuk memuaskan rasa penasarannya. Dia ikut menyunggingkan senyumnya saat Hyukjae kembali tertawa terpingkal-pingkal bersama dengan gadis berhidung mancung disampingnya.

“Ini es krimnya, Nona.” Nara menoleh dan menyerahkan dua lembar uang pada penjual es krim dan berjalan menghampiri Hyukjae yang terbaring diatas rerumputan dengan senyum manis terpatri dibibirnya.

“Tumben sekali ada anak yang mau bercanda denganmu,” Nara duduk disamping tubuh Hyukjae dan menempelkan es krim itu pada pipi tirus pria itu. Hyukjae terbangun dan meraih es krimnya.

“memangnya kenapa?” Hyukjae balik bertanya. Nara tertawa. “tentu saja itu kemajuan pesat. Cita-citamu kan menjadi seorang ayah. Aku heran, disaat orang lain bercita-cita menjadi guru, ilmuwan maupun dokter, kau malah ingin menjadi seorang ayah.”

Nara mencibir, tapi senyuman manis tidak lepas dari bibir gadis itu. Hyukjae ikut tersenyum. Ia meraih tangan gadis itu mendekat. Ia menyandarkan kepalanya dibahu gadis itu.

“aku sudah tidak ingin lagi, Ra-ya” Pernyataan hyukjae membuat gadis itu menoleh dari es krimnya. “wae?”

Hyukjae diam, kemudian tersenyum. Ia mengusap poni Nara pelan.

“kau akan tau jawabannya.” Ujar Hyukjae dengan mata terpejam.

“tapi aku tidak suka menunggu untuk tau jawabannya,” Nara mengerucutkan bibirnya lucu.

“tidak akan lama” Hyukjae lagi-lagi mengusap rambut milik Nara.

*

Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Hyukjae membawa Nara ke rumahnya, dan ia tidak menyangka jika hari itu seseorang berkunjung ke appartemennya. Saat ia melihat ke arah Nara, gadis itu malah tengah tersenyum ramah pada tamu tak diundang itu. hyukjae mengira kalau Nara akan cemburu dan meluapkan kemarahannya melihat ada gadis lain diappartemen, tapi dugaannya meleset jauh. Dua gadis itu, Nara dan tamu tak diundang itu cepat akrab. Seperti dua sahabat yang lama tidak bertemu. Hyukjae memutuskan untuk masuk ke ruang dapur dan memasak untuk makan siang. Meninggalkan dua gadis yang mendadak seperti saudara kembar.

“Jadi.. namamu adalah Nara, eonni?” Mata bulat itu meneliti gadis dihadapannya dengan mata memicing. “Y-ya”

“pantas saja,” gumam gadis bermata bulat itu lagi. Sedangkan Nara mengangkat satu alisnya mendengar ucapan gadis itu.

“Pantas apa?” Nara menyuarakan pikirannya. Gadis yang diketahui bernama Lee Yu Na itu tersenyum.

“pantas saja Hyuk oppa sangat mencintaimu, kau begitu baik, dan.. cantik!” Lee Yu Na merogoh ponselnya dan mengarahkan ponselnya pada Nara.

Jpret! Nara mengerjap kaget. Kenapa gadis itu malah memotretnya?

“lihat! Kau bahkan sangat cantik!” Yu Na menunjukkan ponselnya yang menampilkan wajah alami Nara.

“Jangan berlebihan, aku hanya mengenakan bedak tipis. Kau juga sangat cantik, Yuna-ssi.”

Nara balik memuji Yu Na dan memotret balik gadis yang malah menampilkan wajah cengo. “anieyo,”

“kalian berisik sekali! Semua wanita cantik! Jadi jangan ada yang berdebat saat aku memasak!” Suara Hyukjae terdengar dari arah dapur. Nara dan Yu Na tertawa cekikikan.

“Kau seorang ELF?” Nara menatap Yu Na dengan menyelidik. Yu Na melihat kaos biru yang dipakainya dan tersenyum. “Ya. Aku ELF. Apa kau ELF juga?”

“tentu saja,” Nara menganggukkan kepalanya. “Wooaaa, benarkah? Siapa biasmu? Kyuhyun atau Donghae?”

“eunhyuk,” Nara mengucapkannya sembari tersenyum. “ooo, lain kali aku ingin menonton super junior bersamamu, eonni.”

“ya, aku juga.”

“ladies, bisakah kalian membantuku? Aku kesulitan dengan masakanku sendiri” suara Hyukjae terdengar lagi, Yu Na bangkit dari duduknya menoleh pada Nara. “ayo, Eon!”

“sebenarnya aku malu untuk mengatakannya, tapi aku benar-benar payah dalam memasak. Kau saja yang membantunya.”

“o, benarkah? Kalau begitu, aku titip ponselku padamu, eonni.”

Nara mengangguk sebagai jawabannya, ia menerima ponsel gadis itu dan melihat punggung Yu Na hilang dibalik dinding.

*

chogi chogi chogi wa, joa chogi chogi wa wa, chogi chogi chogi wa. Can you feel it? Can you feel it?

Nara mendongakkan kepalanya saat mendengar dering lagu sub-unit Super Junior D&E dari ponsel Yu Na, ia meraih ponsel itu dan membaca sederet nomor dilayar. Baru saja Nara ingin menuju dapur untuk memberitahu Yu Na, dering lagu itu berhenti. Nara menyentuhkan jari telunjuknya pada layar, dan Cling! Kuncinya terbuka secara otomatis. Yang ia lihat pertama kali adalah wallpaper Kyuhyun Super Junior saat photoshoot album Devil. Ia tersenyum sejenak, kemudian mencari menu panggilan untuk melihat siapa penelpon itu.

  1. 088-xxx-xxx
  2. Hyukkie chu
  3. Hyukkie Chu
  4. Hyukkie Chu
  5. Hyukkie Chu
  6. Hyukkie chu
  7. Hyukkie Chu

Nara melotot melihat deretan nomor dan nama kontak yang berada dalam daftar panggilan masuk. Ia terkejut melihat nama yang tertulis ‘Hyukkie Chu’ disana memenuhi hampir 90% daftar kontak yang menghubungi nomor Yu Na hari ini. Nara membekap mulutnya sendiri saat ia dengan nekad melihat nomor ponsel kontak bernama ‘Hyukkie Chu’ itu, itu jelas-jelas nomor milik Hyukjae karena Nara sangat hafal nomor pria itu.

Ia meremas bagian bawah dress miliknya dan melanjutkan langkahnya menuju dapur. Bagaimanapun ia harus memberitahu Yu Na dan meminta penjelasan pada gadis itu maupun pada Hyukjae tentang semua ini. mungkin saja mereka hanya sahabat, seperti dia dan Donghae, atau Yu Na adalah saudara hyukjae dari jauh. Ya! Nara harus berfikir positif saat ini.

*

Dibawah rintikan hujan, dibawah tangisan langit yang diselimuti awan hitam dan petir, aku akhirnya bisa meluapkan rasaku saat itu. tidak ada yang tau, tidak ada yang mengerti tentangku. Tidak ada yang bisa melihatku menangis, tidak boleh ada yang melihatku terpuruk.

Tidak peduli dengan pandangan orang-orang padaku, tidak peduli seberapa bingungnya hyukjae saat mengetahui aku tidak ada dalam appartemennya. Dia tidak akan peduli. Aku melihatnya berciuman dengan Yu Na dan itu sudah menjelaskan semuanya. Aku akan menemuinya lagi besok, jika dia tidak menjelaskan apapun. Aku akan melepaskannya! Sungguh!

Tapi pria itu datang lagi, pria yang berbeda dari Hyukjae, pria yang membagi bahunya padaku. Menyenderkan tubuhku pada tubuhnya dan mengayomiku dari derasnya hujan petang itu. Donghae tidak membawa payung, dia tidak memakai jas hujan, dia tidak membawa kendaraan atau apapun. Tapi aku seperti sudah kembali pulang pada ‘rumah’ku bersamanya. Dia membawaku menuju halte bus. Dia tidak melepas jaket kebanggaannya dan memakaikannya padaku. Dia tidak mau mengorbankan dirinya kedinginan. Aku kecewa, tentu. Tapi dia benar, jika aku dalam posisinya aku juga akan melakukannya.

Sebagai gantinya, dia menggenggam tanganku dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Dia tersenyum saat aku memperhatikan tangan kami yang bertautan. Aku ikut tersenyum. Dia benar-benar orang yang selalu ada dalam hidupku!

Oh! Jangan lupakan! Catatan untukmu, Hae. Kenapa kau.. astaga! Kenapa aku semesum ini? bayanganmu menciumku petang itu terus berputar diotakku seperti kaset rusak yang terus berputar ulang! tolong katakan jika ciumanmu padaku, bukanlah mimpi!

Donghae-ah! Saranghae!!

Nara! Apa yang kau harapkan? Dia sahabatmu! Bodoh sekali kau!

Sept 2015

Inara—Kim Nara

*

Part 2

5 Days Later..

Kim Nara turun dari mobil hitam Donghae saat kendaraan mewah itu memasuki kawasan sebuah cafe bernuansa klasik. Nara berdiri menghadap bangunan gedung yang sengaja dibuat dengan dua lantai itu. Satu sudut bibirnya tertarik ke atas, menciptakan senyum miris. Disinilah dulu kisah cintanya dengan Hyukjae dimulai, dan ia akan mengakhirinya juga ditempat ini. Menyedihkan.

Nara menoleh saat merasakan bahunya ditepuk pelan, ia mengganti senyum mirisnya dengan senyum manis untuk pria disampingnya itu. Lee Donghae. ia mengatakan lewat matanya bahwa ia akan baik-baik saja walaupun tanpa ditanya.

Donghae membalas senyum Nara dan mengusap poni Nara gemas. Rambut cokelat gadis itu dihiasi dengan bando hitam dan tubuhnya dibalut dress dengan warna senada. Warna yang sangat jarang Nara gunakan seumur hidupnya, baginya warna hitam kental dengan suasana duka. Dan hatinya memang tengah berduka sekarang.

“Aku akan menjemputmu, hubungi aku jika sudah selesai.” Donghae lagi-lagi mengusap rambut Nara. Ia kembali memasukkan tubuhnya ke dalam mobil dan melambai pada gadis itu sebelum benar-benar melajukan mobilnya dari kawasan cafe.

Nara membalikkan tubuhnya kembali menghadap gedung cafe. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Ia memasuki pintu cafe dan disambut senyum ramah dari salah satu pegawai disisi pintu masuk. Ia mengedarkan pandangannya dan tatapannya langsung meredup saat melihat Hyukjae sudah menunggunya dengan Yu Na di sisi pria itu.

Mari kita akhiri ini, dan semuanya selesai!!. Batin Nara, pilu.

*

“Eonni..” Yu Na tegang dalam duduknya, Hyukjae langsung menggenggam tangan Yu Na erat. Yu Na menoleh ke arah Hyukjae dengan wajah pucat pasi. Saat Nara mendudukkan pantatnya, Yu Na tersenyum canggung pada gadis yang lebih tua darinya itu. jika saat itu Nara bisa berteriak, maka ia akan memaki Yu Na dengan seribu kata tajam miliknya. Tapi gadis dengan dress hitam itu diam dan memilih menelan kembali sumpah serapahnya, ia harus terlihat baik-baik saja didepan Hyukjae. Kekasihnya, oh, bolehkah Nara menyebutnya mantan kekasih? Secara tidak langsung, hubungan mereka sudah kandas lima hari lalu.

“Eonni.. aku.. aku bisa jelaskan” Yu Na melepaskan genggaman tangan Hyukjae padanya dan berkata-kata pada Nara dengan nada gugup luar biasa. Tapi tidak lama tangan Yu Na kembali digenggam Hyukjae. Hal itu membuat Nara mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“tidak perlu ada yang dijelaskan,” Nara berkata dengan nada rendah sembari menatap keluar jendela cafe. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya seolah oksigen disekitarnya menipis. “Selamat atas hubungan kalian, selamat juga karena membuatku begitu bodoh tidak menyadarinya.”

Nara tertawa sumbang dengan ucapan menyakitkannya, bibirnya mengeluarkan tawa tetapi matanya merah dan berkaca-kaca.

“Eonni..” lirih Yu Na. Gadis bermata bulat itu menggeleng pelan. “Aku tidak—“

“Baguslah kalau kau sudah mengetahuinya, aku bosan untuk berakting didepanmu,” itu suara Hyukjae. Nara menoleh sekilas dan kembali menatap keluar jendela. Jika gadis itu bilang akan baik-baik saja, ia berbohong. Ia meremas kedua tangannya dibawah meja kuat-kuat, mengalihkan desakan air mata yang ingin keluar membasahi pipinya.

“Oppa..”Sela Yu Na pilu.

“Ya. Aku juga bosan memiliki kekasih sepertimu, Hyukjae..” Nara berdesis pelan nan tajam. Remasan jari jemarinya yang saling bertautan semakin kuat.

“Ya. Aku pun begitu.” Hyukjae menatap santai ke arah Nara yang wajahnya memerah padam. Pria itu melempar pelan sebuah undangan berwarna merah hati di depan Nara.

“Aku tidak ingin mengundangmu, tapi Yu Na ingin kau datang.” Nara diam tanpa mengiyakan maupun menolak undangan itu. ia berdiri dan menatap kedua pasangan laknat itu dengan tatapan datar.

“Jika tidak ada lagi yang ingin kau ucapkan, aku akan pergi.” Nara mengambil tas talinya dan menggantungkannya dibahu. Ia berbalik kembali ke arah Hyukjae saat sebuah ide gila melintas diotaknya.

“Oh, Hyukjae-ya.. ku ucapkan terima kasih atas semuanya.”Nara tersenyum sinis diakhir kalimatnya dan meraih sebuah gelas dan mengguyur isinya tepat di atas kepala mantan kekasihnya. Yu Na melongo kaget dan buru-buru mengambil tisu untuk Hyukjae.

“Rasakan itu!” desis Nara pelan dan berbalik pergi ditengah-tengah sorotan mata para pengunjung cafe yang padat. Gadis dengan rambut cokelat itu tersenyum lega saat tubuhnya berhasil keluar dari cafe yang bagaikan neraka itu. ia menghirup oksigen sepenuh-penuhnya dan menghembuskannya dengan senyum bahagia. Senyum yang terbit begitu cerah setelah lima hari yang kelam dan menyakitkan.

Nara baru saja ingin menghubungi Donghae, tapi kembali menurunkan ponselnya saat gadis itu melihat mobil pria itu melaju pelan ke arahnya. Ia mengernyit saat ia membuka pintu mobil, wajah Yesunglah yang dilihatnya. Sepupunya itu melambaikan tangan dengan senyum ala sayonara. Nara memutar bola matanya jengah.

“Kemana Donghae oppa?” Tanya Nara, gadis itu duduk dikursi belakang mobil.

“Dia menjemput seseorang dibandara.” Yesung bersuara dari balik kemudi. Ia mulai melajukan mobil hitam itu meninggalkan kawasan cafe.

“Dia tidak mengatakan apapun padaku,”sahut Nara pelan, gadis itu sibuk dengan ponselnya. Ia membuka kotak pesan, kotak panggilan, maupun akun SNS-nya dan ia tidak menemukan pesan dari Donghae tentang hal ini.

“Itulah alasannya kenapa aku menjemputmu, nona manis.”Nara mendengus kesal dan mempraktekkan gerakan orang ingin muntah saat Yesung memanggilnya dengan sebutan ‘nona manis’.

“Kau dibayar berapa olehnya? Tumben sekali kau mau berpisah dengan Dangkkoma, dia kan kekasihmu.”

Yesung hanya tersenyum saat Nara menanyainya seperti itu, ia memilih fokus pada jalanan luas didepannya dari pada gadis bermarga Kim di jok belakang itu. membuat kepala pusing saja, batinnya mengejek. Ia melirik Nara dari ekor matanya, gadis itu tengah menguap dan tengah sibuk membaringkan tubuhnya nyaman.

“Aku akan tidur, jika sudah sampai bangunkan aku.”Ujar Nara layaknya putri kerajaan antah berantah yang memerintah pada pelayannya. “Oh.. Jangan berani menggendong tubuhku sampai ke kamar. Karena itu hanya akan membuatmu sakit tulang dalam sekejap.”

“Ya, aku tau. hanya kau gadis kurus dengan berat tubuh seperti karung beras.”

Nara tertawa pelan, ia mengalihkan pandangannya dan menatap langit-langit mobil Donghae. tidak lama, matanya terpejam dan ia terlelap dalam tidur nyenyak.

*

Mata indah Nara mengerjap beberapa kali saat kepulan asap berwarna putih menyapa wajahnya, ia mengedarkan matanya menatap satu per satu orang yang duduk dalam satu meja dengannya itu. Kim Yesung. Lee Donghae. seorang gadis yang familiar dimata Nara dan seorang gadis kecil bermata sipit. Nara mengucek matanya saat kepulan asap itu mengenai wajahnya dan harum manis coklat hangat didepannya menusuk hidungnya, menggoda untuk dicicipi. Hari sudah malam dan arloji milik Yesung menunjukkan pukul 7 malam.

Nara merasa ia adalah gadis idiot urutan pertama di Korea Selatan yang selama 30 menit terakhir hanya diam melihat ke empat orang dihadapannya tengah tertawa-tawa tanpa dirinya. Ia hanya melamun dan ia merasa amnesia. Nara hanya mengingat ia tertidur dimobil Donghae dan bangun karena pantatnya dipukul secara tidak manusiawi oleh Yesung. Setelah itu, Yesung menyeretnya keluar dari mobil dengan omelan ala emak-emak arisan dan menyuruhnya untuk mencuci muka. Nara yang tidak tahu apa-apa kaget bukan main saat ia melihat orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya. Astaga, gadis itu baru sadar ini adalah dibandara. Dan ia malu sekali bertemu Donghae dengan wajah bantal khas bangun tidurnya. Ditambah lagi dengan dua orang perempuan berbeda umur itu yang terasa familiar dimatanya. Ia merasa pernah mengenal gadis dengan mantel berbulu itu.

Ah,

Lee Yoon Ra.

 

*

Ku pikir aku akan baik-baik saja. Ku pikir hatiku akan baik-baik saja. Ku pikir semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku salah, benar-benar salah.

Setelah cafe klasik masuk kedalam list ‘tempat yang ku benci’, rupanya bandara mulai tertulis dalam balcklistku. Sialan. Yesung sialan. Kepala besar sialan. Dangkkoma sialan.

Donghae.. astaga.. kenapa dia tidak bisa ku sebut sialan? Jelas-jelas dia yang menyeretku masuk ke dalam perasaan tak menentu ini. sungguh, aku membenci hal yang belum pasti. Seperti kau menebak jarum berbentuk apa yang kau ambil diantara tumpukan jarum lain. Tentunya sebelum tanganmu terluka parah. Tidak bisa diprediksi.

Yesung pernah bertanya padaku, setelah pulang dari bandara. Dia memberiku majalah dan aku hanya bisa bertanya-tanya dalam pikiranku. Ia mengajakku untuk bermain kuis dengan sebuah pertanyaan dari majalah tersebut. Bukan tentang menang atau kalah dari permainan itu. satu hal. Pertanyaan Yesung saat ia membaca halaman penuh dengan cerpen cinta dan sahabat.

Apa yang membuat persahabatan wanita dan pria bisa hingga bertahun-tahun lamanya?

Dia menjawab, menurutku tidak ada yang benar-benar murni. Pasti ada alasannya, entah itu dari pihak wanita maupun pria. Jika memang persahabatan murni. Itu adalah persahabatan yang sangat langka didunia ini.

Setelah itu si kepala besar berkata padaku. ‘seperti kau dan Donghae. aku tidak tau apa yang terjadi pada kalian. Tapi aku melihat kau murung akhir-akhir ini.’

‘ini bukan karena tugas dan ujian sekolahmu. Ini karena kau selalu sedih saat aku menyinggung Donghae. aku benar, kan?’

‘Nara jika kau ada ketertarikan atau sejenis itu dalam persahabatan kalian. Ku rasa, hubungan kalian tidak lagi bisa disebut persahabatan.”

Dan setelah itu. aku perlahan mulai menyetujui pendapat Yesung. Awalnya aku tidak percaya bahwa aku berpaling begitu cepat. Tapi.. aku benar-benar merasakannya. Aku jatuh cinta lagi, Tuhan. Pada Lee-ku. Lee Donghae.

*

7 day later

Nara menatap miris pada jendela kaca dikamarnya, matanya memandang lurus ke arah luar. Ia menghapus air matanya yang lancang menetes begitu saja. Di luar sana, Donghae bersama gadis masa lalunya tengah duduk bersama diatas trampolin. Tempat favorit Nara. Tidak hanya itu, nyonya Lee, ibu Donghae datang dengan nampan berisi cemilan dan dua buah gelas minuman. Tangan kanan Nara memegang erat kerah bajunya sendiri, menikmati rasa sesak yang kian merebak masuk dalam rongga hatinya. Sesekali ia menghapus buliran-buliran air dipipinya.

Sudah terlambat, Nara! Kau terlambat untuk mengetahui perasaanmu sendiri! sekarang, terima akibatnya!

Ia membalikkan badannya cepat saat Donghae mendongak ke arah balkon kamarnya, ia tidak ingin Donghae tahu kesedihannya, itu akan membebani pria itu.

Sudah satu jam berlalu, Nara masih pada kegiatannya mengamati halaman belakang rumah Donghae. dari kamarnya, ia bisa melihat Lee Yoon Ra tengah duduk diatas ayunan dengan seorang anak perempuan dan Donghae berdiri dibelakang untuk mendorong ayunan itu. tangisan Nara semakin deras melihat adegan itu. ia menarik tirai biru disisi jendela dan menutup jendela itu. seketika kamarnya menjadi gelap. Nara menelungkupkan badannya diatas bantal, menangis sepuas-puasnya untuk merenungi kisah cintanya yang tragis. Kisah cinta yang ia rangkai dan harapkan seperti kisah putri dongeng, kini hanya tinggal sepenggal cerita mengenaskan, miris!

*

“Nara, kemarilah, nak!” Suara tuan kim membuat Nara menoleh dari bukunya. Gadis itu tengah belajar untuk menghadapi test besok pagi. “ya, Appa.”

“Appa dan eomma ingin memberi sesuatu untukmu,” jeda sesaat. Tuan kim menatap fokus pada mata Nara. “anggap saja ini permohonan maaf dari kami, untukmu, Ra-ya.”

“kami terlalu sibuk dengan bisnis sehingga lupa kami memilikimu disini,”Tuan kim mengeluarkan dua buah kertas dari saku jasnya. “ini tiket kereta api ke Busan. Akhir-akhir ini kau sering melamun dan mengurung diri dikamar, Appa tahu kau sangat merindukan kota kelahiranmu, kan? Pergilah bersama Donghae. dia bisa mengajakmu berkeliling.”

Nara menerima tiket itu dengan senyum canggung. Jika ia ditanya apa ia senang saat ini? dia akan menjawab, tentu saja. Liburan gratis ke Busan setelah test dan ujian yang menyesakkan, siapa yang akan menolak? Tapi mengingat ia harus mengajak Donghae, rasa sakit itu datang lagi menyusupi hatinya.

“Aku akan memikirkannya dulu,”

*

Hari ini Nara memakai kaos lengan pendek dan celana jeans panjang, ia berdiri didepan pintu utama rumah sederhana itu sembari memencet tombol bel disisi pintu. Ia meremas tali tas yang dipakainya saat tidak ada tanda-tanda sahutan maupun orang yang akan membukakan pintu untuknya. Ia menghembuskan nafas, mungkin lain kali, pikirnya sedih. Ia hendak berbalik saat mendengarkan suara langkah kaki dari dalam rumah.

CKLEK

“Nara?” Donghae datang dengan mata membulat dan ekspresi kagetnya.

“mm.. hai?!” Nara melambaikan tangannnya pada Donghae dan menurunkan tangannya lagi dengan cepat. Ia merasa canggung sekali setelah beberapa hari tidak bertemu Donghae.

“ada apa?” Donghae bertanya dengan tersenyum. Nara menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang selalu tersipu malu melihat senyum menawan itu.

“aku ingin memberikan tiket ini, appa ingin kau menemaniku selama diBusan.”

“oo, benarkah? Aku harus memikirkannya dulu, akhir-akhir ini aku sibuk sekali. terimakasih karena sudah mengajakku,” Donghae lagi-lagi tersenyum.

Sibuk apanya? Sibuk menemani Lee Yoon Ra bermain dengan anaknya, kau bilang itu sibuk? astaga!

“ya, kalau begitu, aku akan—“

“kau tidak mau mampir? Sudah lama kan kau tidak ke rumahku?” tanya Donghae. Nara terdiam kaku ditempatnya, 3 detik berikutnya ia mengangguk.

*

Saat hari keberangkatan ke Busan.

Nara menatap ke luar jendela mobil milik Donghae, disampingnya, pria bermarga Lee itu sibuk menyetir sesekali mengamati dua perempuan yang ada dikursi belakang. Bibir pria itu tersenyum saat celotehan salah satu dari perempuan itu mengundang tawa dan senyum. Jika Donghae tengah tersenyum, maka Nara akan berekspresi dengan kebalikannya. Ia cemberut setengah mati didalam mobil Donghae yang terasa sangat panas walau ada AC sekalipun. Nara menyibukkan diri dengan menatap keluar jendela ataupun mengotak-atik ponselnya hingga mati daripada menjadi munafik dengan ikut tersenyum seperti ketiga orang lainnya. Lee Donghae. Lee Yoon Ra. Dan ah!—Nara tidak ingat siapa gadis kecil menggemaskan itu.

Oh! Namanya Candy!

“Candy-ya, kau sangat lucu.” Lee Donghae menolehkan kepalanya ke belakang dengan senyum yang sama menggemaskannya dengan anak kecil. Nara lagi-lagi memutar bola matanya dengan malas sembari menghela nafas. Tepat setelah itu, mobil Donghae berhenti. Nara menoleh dengan wajah penasaran dan ingin bertanya ‘ada apa?’ tapi ia telan kembali pertanyaannya karena Candy dan ibunya, -Lee Yoon Ra turun dari mobil Donghae. Haruskah Nara merasa senang dengan itu? Tapi kemana mereka akan pergi?

“Rumahku ada diujung gang, Donghae-ssi. Terimakasih sudah mengantar kami,” Seolah mengetahui pemikiran Nara, Lee Yoon Ra berpamitan sembari menggandeng Candy yang sibuk melambaikan tangan pada Donghae.

Nara mengerjapkan matanya saat menyadari Lee Yoon Ra memanggil Donghae dengan sebutan formal. Mereka terlihat kaku saat berbicara, selama berada didalam mobil Donghae hanya berbicara informal pada Candy dan dirinya. Oh! Haruskah Nara juga merasa senang dengan hal ini?

“Nara-ssi, jika kau ingin mampir. Datanglah kapanpun, Candy ingin sekali bermain denganmu. Tapi akhir-akhir ini kau sibuk dengan sekolah. Iya, kan, Candy-ya?” Gadis kecil berkepang dua itu mengangguk-angguk.

“Sampai jumpa, eonni.” Candy melambaikan tangannya juga pada Nara. Ia memperlihatkan gigi putihnya saat tersenyum. Mau tak mau, Nara membalas senyuman gadis itu.

“N..ne..”

*

Donghae menepikan mobilnya ditengah hujan deras yang mengguyur jalanan yang tengah dilewatinya, ia menolehkan kepalanya pada Nara yang sibuk menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya satu sama lain. Donghae menggeram frustasi, mobilnya macet dan ia membuat sahabatnya kedinginan tanpa berbuat apapun. Tidak ada jaket, tidak ada baju hangat, ponselnya dalam keadaan mati. Ia menyesal karena menolak menggunakan tiket gratis yang diberikan Nara tempo hari. Harusnya mereka sudah ada di Busan dan meminum coklat panas dirumah Kim halmoni—nenek Nara.

Donghae merasa ia menjadi pria yang sangat tidak berguna, walaupun itu untuk sahabatnya sendiri. walaupun itu untuk orang yang dicintainya. Ia masih terdiam sembari memutar otak atau menunggu hingga hujan berhenti.

Nara menoleh dengan mata terbelalak saat Donghae tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arahnya. Gadis bermarga Kim itu menahan nafas dan menerka-nerka apa yang akan dilakukan Donghae padanya.

Apakah akan terjadi seperti difilm-film?—Pikirnya.

Tapi Nara harus menelan kekecewaan saat Donghae hanya melepaskan sabuk pengaman ditubuhnya.

“Apa kita akan berteduh, oppa?” Nara mengedarkan pandangannya ke luar mobil dan tidak menemukan halte bus maupun bangunan disekitar mereka.

“Tidak.”Donghae menekan tombol disisi tempat duduknya, hingga kursi itu bergeser sedikit dan memberi celah untuk Donghae. Pria itu sudah berpindah duduk dikursi belakang. Nara menatapnya bingung.

“Kesini,” Ajak donghae sembari menepuk tempat kosong disampingnya, Nara menurut dan berpindah posisi disamping Donghae. “Hujannya lebat sekali. Tidak mungkin juga ada penginapan disekitar sini,”

“Ya,” Nara mengiyakan.

“boleh aku memelukmu?” Nara menoleh. “a..apa?”

“Kau kedinginan, kan?” Nara mengangguk. Donghae langsung menarik bahu Nara dan mendekapnya. Mata donghae terpejam rapat saat merasakan jantungnya berkali-kali lipat berdetak lebih cepat.

“Oppa,” Nara bersuara pelan. Kepalanya mendongak dan kembali menunduk lagi saat matanya bertemu mata teduh milik Donghae.

“Ada apa?”

“Tidak apa-apa. Tidak jadi”

Hening. Nara maupun Donghae sama-sama diam dan meresapi detak jantung masing-masing ditengah derasnya hujan.

“Omong-omong, aku menemukan ini saat kau berkunjung kerumahku.” Donghae mengeluarkan sebuah buku kecil dengan pena didalamnya. Nara menatap benda itu nanar.

“Diary-ku”Suara Nara tercekat ditenggorokkannya. “A..apa kau membacanya?”

“Ya.” Donghae meneguk ludahnya saat Nara merebut paksa benda itu darinya. Bahkan pelukan hangat diantara mereka sudah terlepas.

“Berapa banyak?” Nara menatap lurus ke depan, tangan gadis itu bergetar.

“Hanya dua Halaman terakhir,” ujar Donghae pelan. Nara terpaku sejenak. “Jadi—Kau sudah tau?”

“Ya.” Lagi-lagi Donghae berbicara dengan singkat.

“Bagaimana menurutmu?”

“Apa?”

“Persahabatan kita, menurutmu, apa itu masih bisa disebut sahabat?”

“Siapa yang peduli tentang itu? Jika perasaanmu terbalaskan. Kenapa harus memusingkannya?”

“Huh? Apa maksudmu?”

“Aku membalas perasaanmu, Ra-ya. Apa itu kurang jelas bagimu?”

Kerutan didahi Nara perlahan memudar dan berganti dengan senyum manis. Donghae ikut tersenyum.

“Tidak apa-apa kan kalau kita berteduh disini? Hujannya deras sekali,” ujar donghae dan dibalas sebuah anggukan kecil dari Nara. Gadis itu berhambur memeluk Donghae dan larut dalam tidurnya ditengah hujan petang itu. Sebelum mata gadis itu benar-benar terpejam, sayup-sayup ia mendengarkan suara pelan Donghae ditelinganya.

“Apa aku baru saja menyatakan cinta pada sahabatku?”

“Hu’um,” Nara mengucek matanya yang setengah terpejam untuk tetap terjaga.

“Itu tadi norak sekali, kan?”

“tidak juga.” Gadis bermarga Kim itu menguap. Ia membenarkan posisi duduknya dan kembali memeluk Donghae.

“Jadi jawabanmu apa?”

“Apa?” Nara mendongak dengan satu mata setengah tertutup. Donghae menggeram gemas, ia mencubit gemas pipi Nara hingga gadis itu harus membuka kembali matanya.

“Kau mencintaiku, tidak?”

“Donghae-ah, aku ingin tidur!”

“Kutanya, apa kau mencintaiku”

“Kau sudah membaca diaryku. Jadi untuk apa aku menjawabnya?”

“Tinggal jawab ‘ya’ atau ‘tidak’, Ra-ya..”

“Issh!”

“Ra-ya.”

“Ya. Apa kau puas?” Nara mengatakannya dengan pipi memerah, entah karena cuaca yang dingin atau karena ia memang tengah merona.

“AH! Aku mencintaimu!”

“Oppa! Diamlah!”

“Aku mencintaimu, Ra-ya..”

“LEE!!”

“Hahahaha..”

*

Tidak peduli seberapa panjang kisah masa laluku. Seberapa indah dan menyakitkan kenangan itu. mau tidak mau kenangan hanyalah sesuatu yang hanya bisa di-ingat dan dikenang. Lee, ayo kita rangkai hari ke depan bersama, kau dan aku^^

Lupakan tentangku yang buta tidak melihat ke arahmu, Maafkan aku dan masa kelam-mu. Lee Donghae. Saranghaeyo.

 

The End

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: