[Eunhyuk’s Day] SMILE MORE, CRY NOT

Smile More, Cry Not

SMILE MORE, CRY NOT

FF ini belum pernah diposting dimana pun.

By. izzEvil (http://gameizzeyong.wordpress.com/)

***

Smile more, cry not.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku, mengalun indah seperti sebuah lagu romantis. Ketika kami menghadapi kesulitan, ketika kami merasa begitu menyedihkan, ketika aku sudah tidak sanggup lagi menanggung semuanya, dia akan berkata, “Smile more, cry not.”

Empat tahun menjalani kehidupan yang jauh dari pusat perhatian umum sudah menjadi kebiasanku, kebiasaan kami. Kami mencoba untuk membaur meskipun kadang kala tatapan sinis beberapa tetangga mengarah kepada kami.

Status merupakan penyebab utamanya. Status hidupku dan dia.

Aku terlahir sebagai putri kaya raya, sementara dia hanya seseorang dari kalangan biasa.

Kebanyakan orang menghindari kehidupan semacam ini, mereka lebih memilih untuk dicintai meskipun dengan penuh kepura-puraan. Tetapi aku bukan salah satunya, kami bukan salah satunya. Untuk hal tersebut kami sangat bersyukur.

Tak apa, mereka hanya tidak tahu yang sebenarnya. Biar mereka melakukan apapun yang mereka pikir benar, karena yang menjalani kehidupan kami adalah kami.

Setidaknya kami saling memiliki, itu sudah lebih dari cukup.

“Hyukjae belum pulang?” Tanya Henry, adikku.

Dia datang dua kali seminggu untuk membawakan bahan makanan, apapun yang dapat dia temukan di rumah. Atau jika tidak ada, dia akan membelikannya untuk kami. Seperti sekarang, dia sedang memilah beberapa sayuran dan daging sapi di atas meja. Kurasa dia sengaja membelikan daging sapi hanya karena ini hari spesial kami, ulang tahun pernikahan kami.

“Haruskah kau bertanya?” Aku memberinya tatapan sinis, membantunya mencuci sayuran.

Henry terkekeh. “Kau tahu, aku tidak pandai membuka pembicaraan. Jadi mengertilah kalau itu hanya basa-basi.”

“Apa katamu?” Kataku seraya menepuk punggungnya. “Maksudmu kau canggung padaku? Kau ini adikku bukan?”

Tidak dapat dipercaya. Bocah sialan ini masih berpikir kami ini bersaudara tapi bicara padaku saja dia merasa canggung. Aku berdecak dalam hati. Henry dan Hyukjae sahabat bahkan sebelum aku mengenal suamiku itu. Kedekatan kedua pria itu tidak dapat dipisahkan bagai benang yang kusut.

Dia mengangguk dan menatapku, tapi tatapannya secara mengherankan berubah menjadi sangat serius. “Noona,”

“Hmm?”

“Apa kau tidak lelah hidup seperti ini?” Tanyanya penuh keprihatinan.

Aku mengerti apa yang sedang Henry coba tanyakan padaku, dia hanya cemas. “Tidak, aku justru sangat senang selagi—”

“Hyukjae selalu ada di sampingmu.” Dia menyelesaikan kalimatku, kemudian mendengus. “Ini kedengaran seperti drama menyedihkan yang sering Eomma tonton di rumah.”

“Eomma sering menonton drama seperti itu?”

“Ya, dan aku heran kenapa dia terus bersikukuh memegang peran antagonis padahal dia tahu dia ada di pihak yang salah.”

Aku tertawa, benar-benar tertawa keras. “Ini bukan drama, Henry. Ini kenyataan.” Aku memberitahunya. “Kami telah memilih jalan kami sendiri, terlepas apakah Eomma menentang pernikahan kami atau tidak, aku dan Hyuk merasa inilah jalan yang benar.”

“Aku tahu.” Henry menggaruk kepalanya dengan gerakan kasar, dia tampak putus asa. “Setidaknya kalian bisa berbaikan, aku benci melihat hubungan kau dan Eomma retak. Aku berada pada posisi yang serba membingungkan, antara menuruti perintah orang tua atau membela kakakku.”

“Pilihlah posisi di mana kau merasa itu yang paling benar, kau sudah dewasa.”

“Kurasa aku akan terus membela Hyuk hyung karena baru-baru ini Ibu mulai jengah denganku.”

“Jengah, kenapa?”

“Kurasa dia mulai menyesal telah melahirkanku.”

Aku tersenyum geli, pemikiran anak bodoh. Ya, dia memang masih polos. “Kurasa kau terlalu banyak mengonsumsi drama menyedihkan itu.” Aku menjitak pelan kepalanya. “Sekarang bantu aku membuat makan malam untuk kakakmu, dan jangan berdiri saja di situ.”

***

Aku membuka mata hanya untuk menemukan kegelapan. Samar-samar aku mendengar suara percakapan, kemudian sadar bahwa suara itu milik Hyukjae dan Henry.

Ketika mataku mulai bisa beradaptasi dengan kegelapan yang ada, perlahan-lahan aku ingat bahwa aku sedang berbaring di atas ranjang. Melirik ke arah jam dinding dan mendapati bahwa sekarang pukul satu dini hari.

Aku ingat, makan malam tadi aku hanya makan berdua dengan Henry setelah memastikan bahwa Hyuk tidak akan pulang cepat. Sedikit kecewa mungkin saja, karena malam itu adalah malam peringatan ulang tahun pernikahan. Seharusnya dia tidak melupakan hari penting seperti itu. Akhir-akhir ini, Hyuk selalu pulang larut dan aku heran apa yang menyebabkannya demikian.

“Hyung, jika Noona tahu apa yang kau kerjakan untuk memberinya makan, dia akan sangat marah.” Suara Henry terdengar samar tapi aku masih bisa menangkap apa yang mereka bicarakan.

“Aku tahu apa yang aku lakukan, Henry. Berhentilah menceramahiku!”

“Dia tidak tahu, ‘kan, kalau kau berhenti dari model?”

“Diam, Henry!” Hyukjae membentaknya. Sejak kapan suamiku membentak sahabat yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri? “Semua yang kulakukan adalah demi istriku. Kau pikir mudah menjadi model dengan semua gunjingan di sekelilingmu, serta tatapan sinis mereka padamu? Lebih baik aku berhenti dan menjadi buruh.”

“Hyung—”

Nafasku tercekat mendengar semua pengakuan Hyukjae. Dia terdengar kesal saat menjelaskan hal tersebut tetapi juga penuh dengan ketulusan. Aku tahu dia sedang melindungiku, aku tahu dia sedang mempertahanku. Aku juga tahu bahwa dia…

“Aku sangat mencintainya, aku rela melakukan apapun demi dirinya.”

***

“Selamat pagi,”

Hyukjae mengecup keningku, pipi kiriku, pipi kananku, kemudian hidungku. Aku menyipitkan mata merasakan matahari pagi menyinari wajahku, tepat saat dia mengecup bibirku.

“Hai,” Sapaku dengan suara serak.

Aku tersenyum menyabut hari baru, harapan baru. Menyambut Hyukjae, belahan jiwaku. Aku berharap hari ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya, terlepas dari pertengkaran yang terjadi semalam.

“Kau tidur nyeyak?” Dia bertanya seraya mengelus leherku menggunakan jari-jarinya yang terampil, kemudian jari-jari itu digantikan oleh hidungnya. Aku tahu kebiasaannya, dia sedang menghirup aroma tubuhku ke dalam paru-parunya. “Hmm… baumu enak.”

Aku ingin sekali berbohong padanya, mengatakan bahwa tidurku begitu nyenyak. Namun aku tidak bisa, aku tidak terlatih untuk melakukan hal tersebut dan Hyukjae pasti akan segera tahu.

“Tidak terlalu.”

“Apanya yang tidak terlalu, hmm? Tidurmu atau baumu?” Dia menggodaku.

Aku berusaha untuk melepaskan diri dengan duduk tegap dan menatapnya serius. “Hyuk,”

Hyukjae mengernyit. “Apa ada yang tidak beres? Kenapa kau mendadak seperti ini?”

“Aku mencemaskanmu.” Aku mengaku. Dan memang benar, aku terlalu cemas padanya sampai-sampai aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. “Kau tidak pulang saat makan malam.”

Dia tersenyum, sebuah senyum yang membuat hatiku tidak pernah bosan untuk berjingkrak dalam kegembiraan, membuatku meleleh. “Maaf tidak datang pada peringatan pernikahan kita yang ke-empat.”

“Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?” Tanyaku sambil menahan air mata yang hampir menetes.

Ekspresinya yang seolah kami baik-baik saja nyaris membuatku runtuh, dia tidak bisa terus menyembunyikan kebenaran, ‘kan?

Dia mendekat, melingkarkan lengannya ke sekeliling tubuhku dan memelukku erat. “Smile more, cry not.”

Cukup. Aku sudah sering mendengarnya mengatakan itu, apa dia pikir dengan tersenyum bisa menyelesaikan semua permasalahan ini?

“Aku mendengar pembicaraanmu dengan Henry.” Kataku lirih. “Kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah berhenti menjadi model? Kenapa kau tidak bilang bahwa semua ini salahku? Kau tidak harus hidup denganku jika kau tidak bahagia, Hyuk. Aku tidak seharusnya kabur dari rumah dan menjadi anak durhaka hanya untuk lari dengan—”

“Sshhh.” Hyukjae melepasku dan meletakkan jari telunjuknya pada bibirku, membungkamku dalam sekejap. “Aku menyesal tidak memberitahumu, tapi aku tidak pernah menyesal menikahimu. Apakah kau menyesal telah memilihku dibanding ibumu?”

Aku menggeleng pelan. Aku tidak pernah menyesal, karena itu adalah pilihanku. “Tidak.”

Dia tersenyum lagi seraya membelai pipiku. “Kau adalah keajaiban nyata yang menjadikanku pria terbahagia di dunia ini. Aku rela melakukan apapun demi menghidupi keluarga kita, demi kau dan aku dan—”

Aku tidak membiarkannya melanjutkan kalimatnya karena detik berikutnya yang aku lakukan adalah menciumnya dengan segenap hatiku, seluruh cintaku, dan menumpahkan semuanya dalam ciuman itu. Aku tersenyum lebar dalam ciuman itu, mendadak kecemasanku menguap dan terganti oleh kebahagiaan yang tiada tara.

Dia tidak perlu mengatakan demi siapa lagi dia melakukan semua perngorbanan itu, karena aku merasakan dengan jelas dua jantung yang berdetak di dalam tubuhku. Buah cinta kami.

***

“Tunggu di sini.” Hyukjae berbisik pelan di telingaku lewat jendela mobil yang memisahkan kami.

Dia berdiri di depan pintu mobil dengan tatapan kebingungan, tidak fokus, dan semua itu membuatku cemas.

“Kau mau ke mana?” Tanyaku sambil mengelus perutku yang sudah semakin membengkak. “Kau tampak kurang sehat, Hyuk.”

“Aku baik-baik saja.” Dia mengecup keningku sebelum menambahkan. “Tunggu saja di dalam mobil, aku harus menemui seseorang di taman.”

“Hyuk—” Tenggorokanku tercekat dan aku tidak dapat menyuarakan apa yang ingin aku katakan. Kenapa rasanya seperti dia akan pergi jauh? Air mata mulai terbendung, aku merasa begitu emosional.

“Tunggu di sini.” Kali ini dia mencium bibirku lalu tersenyum. “Smile more, cry not, ingat?”

“Tapi kenapa aku tidak boleh ikut?”

“Apa kau percaya padaku?”

Aku mengangguk. “Ya.”

“Maka tunggulah di sini.” Katanya dan mulai melangkah menuju taman.

Sambil menatap punggungnya ketika dia mulai melengang pergi, aku berbisik. “Aku mencintaimu.”

Dia sempat menoleh dan memberiku gummy smilenya sesaat sebelum menjauh dari pandanganku. Perasaanku campur aduk, perasaan aneh yang mengandung firasat buruk di dalamnya.

Tiba-tiba saja aku ingin menangis sekencang-kencangnya.

Orang bilang, ibu hamil memang terkesan emosional dan perasa. Tetapi aku tidak yakin apakah perasaan tidak baik ini disebabkan oleh kehamilanku atau memang ada sesuatu yang lain yang akan terjadi pada Hyukjae. Jelas aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya, tapi aku tidak bisa mencegahnya karena dia sudah pergi.

Aku menunggu di dalam mobil itu. Hingga langit menggelap dan cahaya matahari digantikan oleh terangnya rembulan, aku masih menunggunya.

Henry datang tepat ketika aku nyaris lelah menunggu dan berniat keluar dari mobil untuk menyusul Hyukjae. Dia membuka pintu mobil dan dengan tampang tenangnya mengisi kursi pengemudi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Begitu heran dengan sikap anehnya, aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Apa yang kau lakukan, Henry? Dimana suamiku?” Tuntutku dengan suara yang hampir serak karena menahan air mata.

“Noona, dia tidak akan kembali.”

“Kau bicara apa, sih? Aku tidak sedang ingin bercanda, jadi beritahu aku dimana dia sekarang.”

Henry malah mengabaikanku dengan menyalakan mesin mobil. Saat mobil mulai melaju, aku menjerit keras padanya untuk berhenti tetapi dia tidak menuruti perintahku. Aku memukul lengannya berkali-kali seraya meminta penjelasan, tetapi dia hanya menggelengkan kepalanya. Setelah melakukan perjuangan yang lama, memohon penjelasan darinya, akhirnya aku menyerah. Aku memanglingka wajahku sesudah melihat ekspresi Henry. Wajah muram dan sedih yang dia perlihatkan semakin membuatku kesal tetapi juga cemas. Apa yang sebenarnya terjadi?

Smile more, cry not.” Dia berkata lirih, membuatku langsung menoleh ke arahnya. “Dia sering berkata seperti itu padamu, ‘kan?”

Aku mengangguk, sementara air mata sudah membasahi pipiku entah sejak kapan. Aku tidak suka ke arah mana Henry membawa pembicaraan ini. Aku takut.

“Itu adalah pesan yang harus selalu kau ingat, Noona.” Dia menambahkan.

“Jangan membuatku berpikir yang tidak-tidak, Henry.” Kataku dengan nada mengancam, meskipun aku tahu benar bahwa ketakutanku akan segera dibuktikan dengan kalimat Henry berikutnya.

“Dia tidak meninggalkanmu, dia hanya melakukan hal terbaik yang bisa dia lakukan untukmu.” Katanya dan mendengar itu, hatiku tertohok. Sangat, sangat dalam. “Ibu masih memerankan peran antagonisnya hingga detik ini. Apa kau tahu hal terburuk yang dia lakukan pada kalian?”

“Tidak.”

“Ibu membuat suamimu kesulitan diterima kerja di semua tempat di Korea.”

“Dan itu adalah alasan kuatnya meninggalkanku!?” Bentakku tak terima.

“Bukan,” Henry sempat ragu sebelum melanjutkan. “alasan kuat Hyukkie Hyung adalah dia takut dia tidak dapat membesarkan anak kalian dengan keterbatasannya sekarang. Dia meninggalkanmu karena dia mencintaimu.”

“Bohong.” Aku menggeram di antara kemarahan dan kesedihanku yang tak berujung. “Pembohong.”

“Hiduplah dengan tersenyum tanpanya,”

“Kau tahu aku tidak bisa!”

“dan jangan menangisinya.”

“Persetan dengan semua itu!”

“Noona, dia berjanji dia akan kembali padamu jika kau terus setia menunggunya dan menjalani kehidupanmu dengan penuh senyuman.” Aku berhenti mengumpat dan menatap Henry, menatapnya tepat di mata dan terpaku. Apa yang barusan dia bilang? Hyukjae akan kembali padaku? “Dia akan kembali untuk merebutmu dari ibu, membuat kau dan anak kalian menjadi manusia paling bahagia di dunia ini.”

*FIN*

3 Comments (+add yours?)

  1. Mairajuu
    Oct 27, 2015 @ 21:27:57

    Huaaaa…..aku akan setia menunggumu hyuk

    Reply

  2. @dyahlarasatis
    Oct 29, 2015 @ 07:02:10

    Entah karna ceritanya sedih, atau karna kedua biasku jadi castnya, jadi kebawa suasana..
    Eunhyuk-ah, henry-ya ㅠ.ㅠ

    Reply

  3. arni07
    Nov 04, 2015 @ 07:46:41

    huwa nyesek bgt baca ini

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: