[Donghae’s Day] A Clever Way For Love

389851

Tittle              : A Clever Way For Love

Author            : EunheeHAE / @Diah8876

Cast                : Lee Donghae, Choi Siwon (Andrew Choi), Lee Eunhee (OC)

Lenght            : Oneshot

Genre             : School-life, Romance, Friendzone

Rating                        : PG 13

 

A Clever Way For Love

 

Mungkin aku yang bodoh…

Menyia-nyiakan kesempatan yang ada dan hanya berdiam diri menahan gengsi

Berharap kau memahami perbuatan tanpa kata

Tapi aku salah…

Rasa sakit itu memuncak saat kau menyebut namanya…

Memuji orang lain di hadapanku

Pria sempurna yang begitu memesonamu

Memerangkap hatimu yang kuharap hanya milikku…

 

Lee_Donghae

 

 

Donghae menggeliat senang tepat ketika dentang bel pulang sekolah berbunyi. Bukan hanya dirinya, namun sebagian besar siswa di kelas itu juga merasakan hal yang sama. Tanpa menunggu sang guru menyelesaikan materi Integral—yang hanya tinggal setengah lagi selesai—siswa-siswa di ruang kelas itu mulai ribut memasukkan barang bawaannya ke dalam tas.

“Hae, aku pulang—”

“Kau tidak pulang bersamaku lagi?” Donghae memotong ucapan seorang gadis yang duduk di depannya. Lee Eunhee. Gadis bermata bulat dan memiliki rambut hitam panjang itu adalah sahabat Donghae sejak kecil.

“Aku ada janji dengan—”

“Andrew lagi?” Sekali lagi Donghae menyela. Namun kali ini dengan penekanan pada setiap katanya. Sudah hampir dua mingguan ini Donghae mendengar Eunhee selalu membicarakan lelaki tampan sempurna bernama Andrew Choi yang dikenalnya saat di Hangang Park. Bahkan, sudah hampir sepekan Eunhee tak pernah lagi pulang sekolah bersamanya. Lagi-lagi karena lelaki misterius bernama Andrew itu.

“Yeah, begitulah,” Eunhee membalas sembari tersenyum lebar tanpa sedikit pun peduli pada rasa kesal Donghae.

“Kalau begitu, aku ikut denganmu!”

“Apa?”

“Kau tidak dengar? Aku mau ikut denganmu!” tegas Donghae dan berdiri dari bangkunya. “Ayo!”

“Hey, kau tidak ingat kalau—”

“Yeah, Andrew lelaki pemalu. Dia tak suka dikenalkan dengan siapa pun.” Donghae mengulang kata-kata Eunhee yang selalu diungkapkan gadis itu setiap kali mengelak ketika dirinya minta dikenalkan dengan lelaki yang membuat sahabatnya itu jatuh cinta.

“Kalau sudah tahu, kenapa memaksa?”

“Bilang saja kau tak ingin diganggu saat berpacaran dengannnya.” Donghae merengut, hingga Eunhee tak tahan untuk tersenyum.

“Kenapa kau ingin sekali berkenalan dengan Andrew? Kau cemburu aku dekat dengannya?” Eunhee menaikkan salah satu alisnya dan menatap Donghae penuh minat.

“Kenapa aku harus cemburu?” Donghae mengumpat pelan dalam hati. Bukan kalimat itu yang ingin dikatakannya. Tentu ia cemburu, dan hal itu cukup mengganggunya. Selama ini Donghae tak pernah menyadari bahwa dirinya menyukai Eunhee. Tapi Donghae merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa begitu sakit, setiap kali mendengar cerita Eunhee tentang pria sempurna itu.

“Ya sudah. Kalau begitu aku—”

“Aku hanya takut dia bukan lelaki baik seperti yang kau kira,” sela Donghae cepat ketika Eunhee baru akan memutar tubuhnya.

“Oh, terima kasih. Kau tak perlu memperingatkan aku,” balas Eunhee dingin lalu melangkah meninggalkan Donghae yang belum sempat menahannya lagi.

“Sial!” maki Donghae kesal sembari menggebrak meja di depannya. Ekspresi murung di wajah Donghae mendadak berganti cerah ketika sebuah ide cemerlang melintas di otaknya. “Lee Eunhee, kau pikir… aku ini bodoh?” desis Donghae dengan seringai lebar menghiasi bibir tipisnya.

 

Entah sudah berapa lama Donghae berjongkok di antara rimbunan Chrysanthemum putih dan kuning yang menghiasi Hangang Park, taman terluas di Ibu kota Korea Selatan itu. Sepulang sekolah tadi, Donghae mengikuti Eunhee karena sangat penasaran dengan sosok bernama Andrew Choi itu. Bahkan, ia rela tak mengindahkan jeritan cacing-cacing di perutnya hanya untuk memata-matai sang sahabat. Namun yang membuat lelaki itu heran, hingga kini Andrew Choi tak juga menampakkan batang hidungnya. Yang bisa dilihatnya dari kejauhan hanyalah Eunhee yang duduk seorang diri di sebuah kursi kayu panjang di tepi sungai Han. Ia mulai ragu tentang keberadaan lelaki itu.

Ini gila! batin Donghae sembari menyingkirkan beberapa helai daun maple berwarna kecoklatan yang jatuh mengenai kepalanya.

Eomma1, kau lihat kakak itu? Apa yang dia lakukan di sana ya?”

Donghae terkesiap mendengar gumaman nyaring yang berasal dari belakang tubuhnya dan buru-buru berdiri dari posisinya saat ini. Lelaki itu berbalik dan mendapati seorang bocah lelaki berumur 5 tahunan sedang menatapnya bingung.

“Ha-hai… adik kecil,” sapa Donghae tak kalah bingungnya.

“Kau sedang apa Hyeong2? Main petak umpet?”

“Ah, ya. Begitulah!” Donghae menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Benarkah? Bolehkah aku ikut bermain bersamamu?” Bola mata bocah kecil itu berbinar-binar senang.

“Junseong-a3! Ayo cepat pulang. Appa4 menunggu kita di rumah.”

Donghae mendesah lega. Setidaknya, pengganggu kecil itu akan segera pergi, begitu pikirnya. “Nah, Ibumu sudah memanggil. Sebaiknya kau pulang saja… Junseong-a,” balas Donghae senang.

“Hae?!”

 

 

1: Ibu

2: Sebutan kakak laki-laki untuk pembicara laki-laki

3: Sufiks yang ditambahkan untuk memanggil seseorang yang sangat akrab (teman sebaya, orang yang lebih muda, dsb)

4: Ayah

Namun belum sempat Donghae tersenyum, sebuah sapaan dari suara yang sangat dikenalnya membuat Donghae membeku. Lelaki itu buru-buru memutar tubuhnya dan sekali lagi hanya bisa menunjukkan ekspresi dungu andalannya ketika mendapati Eunhee berdiri di depannya dengan pandangan yang tak bisa diartikan.

“Hai, Hee…” sapa Donghae hangat seolah-olah ia tak pernah membuat kesalahan apapun.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku—”

“Astaga… jangan bilang kau sengaja membuntutiku!” sela Eunhee cepat dan Donghae meringis. “Aigoo5! Kenapa kau melakukan itu Hae? Apa kau tak punya kegiatan lain yang bisa kau lakukan?”

“Itu semua karena kau.” Donghae buru-buru mengubah ekspresi bersalahnya dan pura-pura merengut seolah-olah dirinyalah yang dirugikan saat ini.

“Aku?” Eunhee menunjuk dirinya sendiri.

“Ya, kau.” Donghae melangkah keluar dari rimbunan bunga musim gugur itu lalu berjalan ke arah kursi yang tadi ditempati Eunhee sementara gadis itu mengikuti di belakangnya. “Kalau kau mau mengenalkan lelaki itu padaku, mungkin aku tak akan penasaran begini.”

“Tapi—”

“Mana ada lelaki sempurna yang pemalu semacam itu?” sela Donghae dingin. “Kalau dia memang benar-benar serius denganmu, ia tak akan malu bila dikenalkan dengan siapa pun. Lagipula, aku hanya sahabatmu. Bukan orang tuamu. Kenapa ia harus menolak?”

“Iya, aku tahu. Tapi—“

“Satu lagi,” potong Donghae cepat. “Mana ada seorang gentleman, yang membiarkan gadisnya menunggu selama dua jam lebih di tengah cuaca sedingin ini?”

“Itu bukan urusanmu!” Eunhee membentak marah.

“Oh, itu urusanku Lee Eunhee, karena dia beurusan dengan sahabatku. Dan aku tak akan membiarkan seorang pun menyakitimu.”

Eunhee mendengus, “Terima kasih atas kepedulianmu. Setidaknya… ia tak membiarkanku menunggu selama bertahun-tahun. Seperti yang telah dilakukan seseorang padaku!” bantah Eunhee berang.

Donghae mengerutkan keningnya bingung. “M-maksudmu?”

“Kau pikirkan saja sendiri!”

“Hey…”

Mengabaikan seruan Donghae, Eunhee menjerit keras-keras, “Aku pulang!”

 

“Dia benar-benar tampan. Matanya, hidungnya, mulutnya… semuanya begitu sempurna. Kurasa, tak ada satu pun kekurangan darinya.”

Donghae mendengus keras ketika mengulang kembali apa yang diceritakan Eunhee tentang Andrew hari itu. Melempar bantal ke sisi tempat tidur, Donghae menghampiri cermin besar yang tergantung di sudut kamarnya. Lelaki itu mengamati pantulan tubuhnya dengan seksama. Memperhatikan setiap detail di wajahnya tanpa melewatkannya sedikit pun.

“Kurasa… aku juga tampan.” Donghae tersenyum bangga. “Mata, hidung dan mulutku tak kalah indah dari deskripsi Eunhee tentang Andrew itu,” gumam Donghae pada dirinya sendiri.

“Bahkan, senyumnya begitu mempesona dengan dua lesung pipi yang selalu menghiasi saat bibir itu tertarik.”

 

 

5: Ungkapan dalam bahasa Korea untuk menyatakan, Ya Tuhan, Astaga, atau semacamnya.

“Y-yeah… aku memang tak memiliki lesung pipi,” gumam Donghae lagi, “tapi senyumku juga tetap mempesona!” Donghae mengangguk yakin dan menyeringai senang seolah bangga dengan dirinya sendiri. “Eunhee saja yang bodoh karena tak menyadarinya.”

Tubuhnya yang tinggi dan otot-ototnya yang terbentuk sempurna, seolah ingin memastikan bahwa dirinya memang benar-benar sosok lelaki sempurna idaman semua wanita.”

Donghae mengumpat. Kali ini dirinya tak memiliki alasan lain untuk membantah sosok Andrew yang digambarkan Eunhee adalah lelaki sempurna. Sejak dulu, Donghae selalu minder pada tinggi badannya yang di bawah rata-rata teman sekelasnya.

Sial, batin Donghae kesal. “Tapi setidaknya… aku masih memiliki bentuk otot yang bagus untuk dipamerkan.”

“Dipamerkan pada siapa?”

Donghae terkesiap dan cepat-cepat memutar tubuhnya ketika mendengar suara sang kakak—Lee Donghwa—di ambang pintu. “Hyeong!”

“Kau sedang memuji dirimu sendiri?” ejek Donghwa geli lalu melangkah menghampiri Donghae.

“Ti-tidak… aku hanya—”

“Mengakulah! Aku mendengar semua yang kau katakan tadi.”

“Apa? Sejak kapan kau berada di sini?”

Donghwa tergelak melihat ekspresi kaget adiknya. “Lihatlah! Wajahmu lucu sekali.”

Hyeong!” Donghae merengut kesal hingga tawa Donghwa semakin keras.

“Sudahlah,” Donghwa bergumam setelah berhasil menghentikan tawanya. “Kalau kau memang mencintai gadis itu. Kenapa tak kau perjuangkan? Jangan malu hanya karena kau kalah tampan.”

“Aku tidak kalah tampan!” bantah Donghae cepat. Merasa tersinggung dengan komentar sang kakak.

“Oh, baiklah… kalah tinggi?”

“Hey!”

Donghwa terkekeh pelan. Diraihnya bahu sang adik lantas menggiringnya ke arah pintu. “Betapapun tampan lelaki itu. Jangan sekalipun menyerah. Tunjukkan bahwa kau lebih mencintainya. Seorang gadis pasti akan bertekuk lutut bila ada lelaki yang sangat mencintainya dengan tulus.”

“Hmm… kau terdengar seperti pakar percintaan.”

“Kau mengerti sekarang?”

“Yeah, aku mengerti.” Donghae mengangguk. “Tapi… apa yang harus aku lakukan?”

Donghwa buru-buru melepaskan rangkulannya dan menatap Donghae heran. “Aigoo… kau ini bodoh atau dungu?”

“Jangan mengejekku!” Donghae merengek.

“Apa kau sudah menunjukkan padanya kalau kau mencintainya? Setidaknya, mengucapkan bahwa kau menyukainya?” Donghae menggeleng pelan. “Bodoh!” Donghwa menyentil dahi Donghae dan lelaki itu meringis kesakitan.

Hyeong!”

“Katakan padanya! Kau tak akan tahu bagaimana perasaannya jika tak kau tanyakan langsung.”

Bagaimana bila dia sudah memiliki orang lain dan aku tak memiliki kesempatan sama sekali untuk mendapatkannya? Pikir Donghae kesal.

 

Donghae melangkah gontai di sepanjang lorong dengan kepala tertunduk. Berpikir. Cara apa yang bisa dipakainya untuk menyampaikan perasaannya pada Eunhee. Setelah semalam memaksa-maksa Donghwa untuk memberinya saran, Donghae tetap tak memiliki ide apapun untuk melakukannya. Baginya, hal ini bahkan lebih sulit dari mengerjakan soal matematika sekalipun.

“Apa yang kau cari? Uang?”

Donghae tersentak dan cepat-cepat menoleh ke samping kanan ketika mendengar suara Hyukjae yang entah sejak kapan berada di sana. “Kau mengagetkanku.”

“Oh, maaf. Kurasa, kau yang melamun hingga tak menyadari bahwa kita sudah terlewat dari kelas yang dituju.” Hyukjae menunjuk ruang kelas III.D di sampingnya.

Donghae seketika menghentikan langkahnya dan menyadari dirinya sudah lewat dua kelas dari tempat yang seharusnya. III.B. Sial, batin Donghae frustasi lalu mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia terlalu sibuk memikirkan cara untuk memberitahu Eunhee tentang perasaannya, hingga dirinya bertingkah sekonyol itu.

“Ada yang mengganggumu Hae?”

“Tidak ada.”

Mengabaikan Hyukjae, Donghae berbalik arah dan cepat-cepat masuk ke kelasnya. Senyum Donghae terkembang saat melihat sosok Eunhee tengah mengobrol bersama dua orang temannya—Hyoeun dan Maeri—di sudut kiri ruangan. Tanpa repot-repot meletakkan tasnya dulu, Donghae menghampiri gadis itu.

“Hee, aku perlu bicara padamu.”

“Katakan saja di sini!” Donghae bisa mendengar nada ketus dari ucapan Eunhee.

“Hey, kau masih marah padaku?”

“Apa kau perlu bertanya?” Eunhee mengalihkan tatapannya pada Donghae dan bersedekap. “Katakan saja, apa maumu?”

Mianhaeyo6.” Donghae menundukkan kepalanya penuh sesal. Bukan reaksi ini yang diharapkannya. Ia ingin Eunhee yang dulu. Bersahabat dan ramah. Bila begini, bagaimana ia bisa mengungkapkan perasaannya pada Eunhee. Donghae sama sekali tak menyangka bahwa apa yang dilakukannya kemarin membuat Eunhee benar-benar marah. “Maafkan aku Hee,” ulang Donghae ketika tak mendengar jawaban apa-apa dari Eunhee. “Aku janji tak akan mengulanginya lagi. Sungguh!”

“Apa aku bisa mempercayaimu?”

Mata Donghae melebar dan buru-buru mengangkat wajahnya menatap Eunhee. “Tentu.”

“Kita bicara di atap. Sepulang sekolah.”

“Hmm… atap? Y-yeah, baiklah. Kau mau aku membawakanmu es krim?” Donghae membuntuti Eunhee yang kini berjalan ke bangkunya.

“Terserah,” balas gadis itu santai. “Asal jangan lupa membawa dirimu.”

“Hey, tentu saja!” Donghae terkekeh pelan dan menghela nafas lega. Setidaknya, gadis itu sudah tak marah lagi padanya. Walau ia sedikit ragu mengingat permintaan Eunhee yang mengajaknya bertemu di atap sepulang sekolah nanti. Apa ia akan mengenalkan Andrew padaku?

 

Donghae mendapati dirinya gugup. Sejak tadi ia hanya mondar-mandir di balik pintu yang menghubungkan tempat itu dengan atap sekolahnya. Dia memang meminta Eunhee mengenalkannya dengan Andrew. Tapi kini dirinya justru ketakutan di saat Eunhee mungkin akan mengabulkan permintaannya sendiri.

“Sial. Apa yang harus kulakukan?” Donghae berdeham singkat lalu mulai mengatur ekspresi wajahnya seolah-olah ia sedang berhadapan langsung dengan lelaki itu. “Hai, aku Lee Donghae. Sahabat terbaik Eunhee.” Donghae berbicara pada pintu di depannya dengan tangan terulur ke depan.

 

 

6: Maaf

 

Setelah beberapa saat hening, lelaki itu menepuk keningnya sendiri lalu kembali mondar-mandir tidak jelas. Setelah lelah berjalan, Donghae sekali lagi menghentikan langkahnya di depan pintu, dan mulai berlatih untuk yang kedua kali. “Jangan coba-coba menyakiti Eunhee. Kalau kau tak ingin mati di tanganku! Ah, tidak… tidak!” Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi dan lagi-lagi mondar-mandir tanpa arah di depan pintu yang masih tertutup itu tanpa berniat membukanya.

“Kenapa kau bicara pada pintu?”

Donghae terkesiap. Saat itu juga memutar tubuhnya. “Hyuk?” sebut Donghae ketika mendapati teman sekelasnya itu sedang berdiri di sisi tangga.

Mengabaikan Donghae, Hyukjae melangkah mendekati pintu dan memperhatikan pintu besi berwarna abu-abu pekat itu lekat-lekat. “Apakah pintu ini bisa mendengar ucapanmu?”

“Hey! Tentu saja tidak,” sungut Donghae kesal.

“Lalu, kenapa tadi kau bicara padanya?” Hyukjae kini menempelkan telinganya pada pintu itu seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan Donghae.

“Aku tidak sedang bicara padanya!” bantah Donghae setengah kesal juga geli di saat bersamaan. “Aku… hanya sedang berlatih drama.”

“Drama?” Hyukjae membulatkan matanya. Tampak sangat tertarik dengan pernyataan Donghae. “Benarkah? Di mana kau mendaftar? Aku ingin ikut juga. Siapa tahu aku bisa mendapat peran utama di drama itu.”

Donghae hampir terkikik mendengar gumaman lugu Hyukjae. Drama? Kau mau saja kubohongi Hyuk, pikir Donghae geli.

“Katakan padaku Hae!” Hyukjae memaksa sembari menarik-narik lengan baju Donghae.

Terhibur dengan tingkah Hyukjae, Donghae sengaja melanjutkan bualannya, “Di Klub Drama—“

Tanpa menunggu ucapan Donghae selesai, Hyukjae langsung melompat menuruni anak tangga sekaligus dua-dua dan berseru girang. “Aku akan jadi aktor hebat!”

Dasar bodoh! Batin Donghae sembari terkekeh pelan.

Teringat kembali pada Andrew dan Eunhee yang mungkin sedang menunggunya di balik pintu itu, Donghae berdeham singkat untuk menetralkan suaranya dan kembali memasang ekspresi serius. “Kau… Andrew Choi? Tinggalkan Eunhee, dia milikku!” Donghae bergumam lagi tapi kali ini disertai senyum puas tersungging di bibirnya. “Yeah, kurasa—” Dering ponsel yang berasal dari saku celananya menyela ucapan Donghae. “Ah, Eunhee,” gumam Donghae senang ketika membaca nama si penelepon.

“Ha—“

“Di mana kau? Aku sudah kedinginan di sini. Kau mau membuatku mati membeku?” cerocos Eunhee sebelum sempat Donghae menyapa.

“Ah, maaf. Aku sampai, sebentar lagi.”

“Jangan lama-lama!”

“Iya—”

Tut… tut.. tut..

Donghae menggerutu karena belum sempat membalas, Eunhee sudah memutus sambungan teleponnya. Apakah karena keberadaan lelaki bernama Andrew Choi itu? Jadi dia tak mau berlama-lama bicara di telepon bersamaku? Batin Donghae kesal.

Menarik nafasnya dalam-dalam, Donghae akan memutar kenop pintu di depannya ketika teringat ia belum membeli dua buah es krim seperti yang dijanjikannya pagi tadi. “Bodoh!” Donghae menepuk keningnya ringan dan berlari ke kantin terdekat untuk membelinya.

 

Membuka mulut lebar-lebar, lalu mengatupkannya lagi. Namun tak ada sedikitpun suara yang dikeluarkan. Itu yang terus dilakukan Donghae saat dirinya baru saja membuka pintu dan mendapati Eunhee di sana. Mata sipit Donghae terbelalak lebar mendapati gadis yang sudah hampir 5 tahun ini dikenalnya sedang berdiri membawa sebuah nampan berisi tart berukuran kecil. Sementara di sampingnya, sebuah meja dan dua buah kursi sengaja disiapkan Eunhee. Bukan hanya itu, ada sebuah nampan lain berisi Miyeok guk7 buatan Eunhee. Gadis itu menyiapkan pesta kejutan untuknya, bukannya berkencan dengan lelaki bernama Andrew Choi itu. Mendadak rasa hangat menelusup dalam relung hati Donghae.

Saengil Chukhae8!” seru Eunhee sembari tersenyum lebar.

“Kau…”

“Jangan terlalu lama, cepat tiup lilinnya! Kau tahu? Kue ini sudah hampir meleleh karena terlalu lama menunggu. Miyeok guk buatanku juga sudah dingin bahkan mungkin sekarang bau matahari.”

Donghae tersenyum senang lalu meniup lilin berjumlah 18 buah itu penuh semangat. Ia benar-benar lupa pada hari ulang tahunnya karena terlalu fokus dengan lelaki bernama Andrew Choi itu. Kenyataan bahwa Eunhee tak benar-benar marah padanya, membuat Donghae sedikitnya merasa lega. “Gomawo9.”

“Kau harus mentraktirku!”

“Tentu! Apa yang kau inginkan?” Donghae mengangsurkan es krim vanilla di tangannya. “Dan ini, anggap saja sebagai permulaan.”

“Hmm… jangan bilang ini untuk menyuapku!” Eunhee menatap Donghae penuh selidik.

“Menyuap?”

“Yeah, agar aku memaafkanmu!” Eunhee mengingatkan ketika Donghae terlihat bingung.

“Oh, ayolah! Lee Eunhee tak mungkin bisa terlalu lama marah padaku.”

“Tsk, percaya diri sekali! Kau tidak ingat bagaimana ekspresi wajahmu pagi tadi?” Eunhee mencibir.

Donghae memalingkan wajah untuk menyembunyikan pipinya yang memerah. Kata-kata Eunhee kali ini tepat sasaran. Dan ia tak ingin gadis itu memergokinya. “Baiklah-baiklah! Aku mengaku salah,” balas Donghae pasrah lalu duduk di salah satu kursi yang tadi sengaja disiapkan Eunhee. Meraih nampan berisi sup rumput laut dan menyuapnya. Enak, batin Donghae senang. Ia selalu menantikan Miyeok guk buatan Eunhee di setiap ulang tahunnya tiba. Yang istimewa dari Miyeok guk buatan Eunhee adalah gadis itu selalu menambahkan seafood seperti kerang atau cumi yang merupakan makanan favorit Donghae ke dalamnya.

Hening beberapa saat. Donghae dan Eunhee sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tanpa sadar, Donghae menekan-nekan kedua pipinya dengan jari telunjuk dan ibunya jarinya. Melihat tingkah Donghae, Eunhee mengerutkan kening bingung.

“Hae, apa yang kau lakukan?”

“Huh?” Donghae mengalihkan perhatiannya pada Eunhee sementara kedua jari itu masih setia menekan-nekan pipinya.

Omo10! Jangan bilang kau melakukan itu agar kau memiliki lesung pipi!” goda Eunhee dan Donghae membelalak kaget.

“Apa?”

 

 

7 : Sup berbahan dasar rumput laut yang selalu dibuat saat seseorang di Korea sedang merayakan hari lahirnya. Karenasup rumput laut sangat baik dikonsumsi bagi wanita hamil dan menyusui sehingga selalu dikaitkan dengan hari kelahiran seseorang.

8 : Selamat Ulang Tahun

9 : Terima kasih

10 : Ungkapan bahasa Korea yang menyatakan keterkejutan.

“Kau tak akan memiliki lesung pipi dengan cara seperti itu Hae! Walau kau terus melakukannya sampai hari kiamat tiba,” ejek Eunhee geli.

“Hey!” Donghae berdiri dari tempat duduknya. “Kenapa aku harus menginginkan lesung pipi?” gerutu Donghae. “Aku sudah sangat tampan tanpa lesung pipi.”

“Karena Andrew…” Eunhee menghentikan kalimatnya ketika melihat ekspresi Donghae berubah masam. Hening kembali menyelimuti. Hanya desir angin musim gugur dan gemerisik bungkus es krim yang baru saja dibuka yang terdengar.

“Hee…”

Eunhee menghentikan kegiatannya menjilat es krim lantas menoleh pada Donghae. “Apa?”

“Apa kau… benar-benar menyukai Andrew Choi itu?”

Terdengar helaan nafas berat Eunhee. “Ya, aku menyukainya.”

Donghae membuang muka dan mendengus keras. “Setelah ia membatalkan janjinya dan membuatmu menunggu?”

“Kau sudah berjanji tak akan membuatku marah lagi Hae,” Eunhee mengingatkan.

“Aku tahu. Tapi aku hanya ingin melindungimu dari lelaki hidung belang sepertinya,” bantah Donghae kesal.

“Kau tak mengenalnya. Jangan menghakimi dia seperti itu.”

“Makanya, kenalkan aku padanya. Agar aku yakin kau berada di tangan yang tepat.”

Eunhee menatap Donghae tanpa berkedip. Seolah-olah lelaki di depannya adalah keajaiban Tuhan yang sangat langka. Mata teduh pria itu juga membalas tatapan Eunhee. Memancarkan aura hangat dan peduli yang membuat gadis itu cepat-cepat mengalihkan perhatiannya pada pot bunga yang diletakkan sembarangan di sudut pembatas atap. “Kenapa kau merasa perlu melakukannya?”

“Karena aku peduli padamu Hee!”

Eunhee mendengus keras. “Aku tak butuh kepedulianmu!” Gadis itu beranjak dari kursinya dan hendak melangkah pergi ketika Donghae menahan pergelangan tangannya.

“Baiklah. Maafkan aku. Ayo… kita makan. Aku mentraktirmu!”

 

***

 

Dua minggu berlalu semenjak kejadian itu. Donghae tak lagi memaksa Eunhee untuk mengenalkannya pada lelaki bernama Andrew Choi yang hingga kini terus diceritakan Eunhee. Walau telinganya terasa panas setiap kali Eunhee bercerita tentang momen-momen indah yang dilalui gadis itu bersama Andrew, Donghae berusaha tetap menjadi pendengar yang baik. Hal itu ia lakukan karena dirinya tak ingin kehilangan sahabat baiknya. Gadis itu bahkan bukan hanya bercerita padanya tentang Andrew Choi, tapi juga pada sahabat-sahabatnya yang lain. Hingga suatu hari, Donghae menemukan banyak keganjilan yang mengarah pada kesimpulan bahwa lelaki itu tidak nyata. Dengan kata lain, Andrew Choi hanyalah imajinasi Eunhee semata.

Hari ini, untuk yang kesekian kalinya Donghae berhasil membuntuti Eunhee di sebuah Mall besar di kawasan perbelanjaan terkenal Myeong-dong tanpa sepengetahuan gadis itu, dan sekali lagi Donghae tak mendapati lelaki bernama Andrew Choi itu bersama sang sahabat. Tidak mungkin bila lelaki itu ingkar janji lagi, sedangkan keesokan harinya Eunhee selalu muncul dengan cerita-cerita baru tentang kebersamaan mereka yang disampaikannya pada Donghae dan sahabat Eunhee yang lain.

Bukan hanya membuntuti Eunhee, Donghae juga sempat menanyakan pada keluarga gadis itu. Ibu, Adik dan juga Ayahnya. Semuanya tak ada yang mengenal sosok lelaki sempurna bernama Andrew. Beberapa kartu ucapan yang dikatakan Eunhee adalah pemberian Andrew juga tak luput dari penyelidikan Donghae. Dan sejak awal lelaki itu sangat yakin bahwa tulisan itu adalah tulisan tangan Eunhee sendiri. Bukan Andrew.

Donghae memperbaiki letak beanie putih dan kaca mata hitam yang dipakainya sebagai penyamaran, lalu masuk ke sebuah toko pernak-pernik di mana Eunhee baru saja keluar dan mulai memperhatikan sekelilingnya.

“Ada yang bisa dibantu Tuan?” Seorang pelayan toko menghampirinya.

Donghae tersenyum sembari memutar otak. Ia ingin tahu apa yang dibeli Eunhee dari tempat itu sebelumnya. “Emm… Nona, kau tahu gadis bergaun biru dengan rambut dikepang dua yang baru saja ke mari?”

“Ah, gadis itu. Ya, tentu saja saya ingat. Ada apa Tuan?”

“Dia… kekasihku.” Donghae berbohong. Walau jujur, ia sangat menginginkan status itu benar-benar melekat padanya. “Aku sengaja membuntutinya untuk mencari tahu ia menginginkan apa. Sebentar lagi dia berulang tahun, jadi… aku ingin memberinya barang yang disukainya.”

“Romantis sekali!” seru pelayan itu.

“Terima kasih.” Donghae mengangguk sopan. “Jadi… apakah tadi, Nona itu menyukai sesuatu di sini?”

“Ah, sayang sekali Tuan. Nona tadi sudah membelinya sendiri,” kata pelayan itu penuh sesal. “Dia membeli sebuah cincin silver lucu yang tadi dipajang di sudut sini. Sangat cantik!”

“Tunjukkan padaku, mana cincin yang diberikan Andrew untukmu?”

“Aduh, cincinnya tertinggal di rumah saat mandi tadi. Besok akan kubawa. Aku janji!”

Donghae terdiam. Teringat pada percakapannya dengan Eunhee kemarin siang. Jadi, Eunhee sengaja membeli cincin itu di sini? Hanya karena ia ingin menunjukkannya padaku? Ini tak bisa dibiarkan. Dia semakin bertingkah aneh dan delusional! Aku takut ia semakin kehilangan akal sehatnya bila tak kuingatkan. Besok, aku harus mengingatkannya.

“Tuan, adakah yang bisa dibantu lagi?”

“Ah, tidak. Terima kasih.” Donghae meninggalkan toko itu dengan sebuah tekad baru yang diyakininya dapat menyelamatkan Eunhee.

 

Donghae sama sekali tak mengindahkan jeritan panik teman sekelasnya yang kini sibuk menyalin pekerjaan rumah beberapa siswa terpandai di kelas itu. Lelaki tampan pemilik rambut cokelat gelap itu justru sibuk menghampiri Eunhee lalu menarik lengan gadis yang selama ini menjadi sahabat baiknya ke sudut ruangan. Jauh dari teman-temannya yang lain. “Hee, aku mau bicara denganmu.”

“Ah, Hae… kebetulan sekali. Aku juga mau menun—”

Mengabaikan kata-kata Eunhee, Donghae menyela datar. “Aku tak punya waktu!” Air muka Donghae tampak kelam, sekelam bola mata hitamnya yang menatap Eunhee tanpa berkedip. Bila tatapan bisa membekukan, mungkin Eunhee sudah berubah menjadi sebongkah es batu saat ini.

“Kau kelihatan serius sekali. Ada masalah besar?” Eunhee mengerutkan keningnya heran.

“Sangat besar.”

“Oh, benarkah? Katakan padaku ada apa?”

“Andrew Choi…”

“Kau bertemu dengannya? Aku tak menyangka—”

“Dia hanya khayalanmu.”

“Apa?”

“Kau tak mendengarku?” Donghae mendesis.

“Tentu saja aku mendengarmu,” bentak Eunhee, nada suaranya meningkat setengah oktaf dari sebelumnya. “Atas dasar apa kau bicara begitu?”

“Cincin yang ada di tanganmu. Kau yang membelinya sendiri!” tuduh Donghae langsung.

“Tidak, ini pemberian Andrew!” Eunhee berkeras.

“Jangan terlalu banyak berkhayal Hee! Sebaiknya kau cari lelaki yang nyata di sekitarmu! Aku tak mau kau menjadi gadis yang mulai kehilangan akal sehatmu seperti ini!”

“Aku tidak terima kau menganggapku kehilangan akal. Aku tidak gila Hae, dan siapa yang berkhayal?”

“Aku membuntutimu! Dan aku tak pernah melihat lelaki yang menurutmu sempurna itu!” Donghae menghela nafasnya cepat dan melanjutkan. “Aku juga tak melihatnya saat kau bilang bahwa kau jalan bersamanya di Namsan Tower hari itu.”

Eunhee diam. Nafasnya memburu karena amarah yang kini memuncak. “Jadi, selama ini kau membuntutiku seolah-olah aku ini penjahat yang sedang diburu polisi?” bentak Eunhee tak percaya. Tak mampu lagi menahan desakan air mata yang kini memburamkan sosok Donghae di depannya. “Terserah! Lakukan saja apa maumu! Sekali lagi kukatakan, aku tidak gila. Aku masih sangat waras. Suatu saat nanti, kau akan menyesali perbuatanmu!” Eunhee mengakhiri pertengkaran itu dan melangkah ke bangkunya tepat saat bel masuk berbunyi.

Ya, dan kau juga akan menyadari betapa berharganya aku bagimu, batin Donghae kesal.

“Hae, apa kau sudah mengerjakan PR bahasa Inggris yang kemarin diberikan guru Song pada kita?” Donghae tersadar dari lamunannya ketika mendengar Hyukjae bertanya.

“Apa? PR…?”

“Bahasa Inggris,” ulang Hyukjae dan saat itu juga Donghae melotot.

“Aishh, Bodoh! Sepertinya aku akan dikeluarkan lagi hari ini.”

 

***

 

Suasana kelas mendadak sepi saat seorang pria paruh baya berkaca mata tebal bersama seorang pemuda tampan masuk. Beberapa siswa perempuan bahkan berbisik-bisik mengomentari siswa baru yang kini berdiri di depan kelas mereka. Tidak begitu dengan Eunhee. Gadis itu terhenyak menyadari sosok lelaki sempurna yang kini berdiri ada di depannya. Dia!

Baru dua hari yang lalu dirinya dan Donghae berdebat soal keberadaan Andrew Choi, bahkan hingga kini ia dan Donghae tak bertegur sapa. Namun kini, lelaki itu berada di tempat ini, di kelasnya sendiri. AndrewIni tidak mungkin terjadi!

“Pagi anak-anak! Aku ingin mengenalkan siswa baru. Pindahan dari Swiss.” Lelaki paruh baya bernama Han Seolji itu mengumumkan. “Ayo perkenalkan dirimu!” katanya pada siswa baru bertinggi 183 cm itu.

Annyeong Haseyo11, namaku Choi Siwon. Senang bertemu kalian semua.”

Eunhee cepat-cepat menoleh ke belakang, menatap Donghae yang terlihat bingung. “Ada masalah?” tanya pria itu sembari mengangkat bahu.

“Dia… Andrew!”

“Apa?” Donghae berteriak yang tentu saja menarik perhatian seluruh kelas.

“Donghae, ada yang ingin kau tanyakan pada siswa baru ini?” Han Seolji bertanya ketika mendengar gumaman siswanya yang duduk di bangku kedua dari belakang itu.

Donghae meringis dan menggaruk belakang kepalanya. Hal yang selalu dilakukannya saat gugup. “Ah, sebenarnya…”

 

 

11: Apa kabar!

“Tanyakan saja kalau kau ingin menanyakan sesuatu tentangku!” Siwon menimpali dengan senyum berhias lesung pipi, persis sama seperti yang diceritakan Eunhee saat itu. Hingga Donghae semakin yakin bahwa lelaki yang kini berdiri di depan kelasnya, benar-benar sama dengan lelaki yang dideskripsikan Eunhee sebagai Andrew Choi beberapa minggu yang lalu.

Menyerah karena tak ada lagi yang bisa dilakukannya, Donghae sengaja bertanya untuk memperkuat dugaannya. “Emm… begini. Aku hanya ingin bertanya, mengapa tiba-tiba kau memutuskan untuk pindah ke sekolah ini?”

Siwon kembali tersenyum, “Aku memutuskan pindah ke sekolah ini karena… ada seorang gadis yang kusukai dan sedang menungguku di sini.”

Donghae tertegun. Ia bisa merasakan tatapan puas Eunhee melalui ekor matanya. Tidak. Ini tak mungkin terjadi!

 

Bel istirahat berdentang dua kali, Donghae cepat-cepat berdiri ketika dilihatnya Eunhee sudah akan meninggalkan bangkunya menghampiri Siwon. “Hee, dia Siwon. Bukan Andrew!” desis Donghae tajam.

Eunhee mengerutkan kening bingung. “Andrew adalah nama Inggrisnya.”

“Ini tidak masuk akal.”

“Apanya yang tidak masuk akal? Jadi kau masih menganggapku gila setelah apa yang kau lihat hari ini?” Eunhee menggerutu. “Minggir! Aku ingin menemuinya.”

“Tidak. Kau tak boleh menemuinya!” Donghae berkeras, menghadang di depan gadis itu.

“Kenapa?” Eunhee menatap Donghae lekat-lekat. “Kenapa kau ingin menghalangiku?”

“Karena…” Aku sangat mencintaimu dan benar-benar tidak rela jika kau bersama lelaki lain. Donghae kesal karena dirinya seolah kehilangan semua stok kata-kata yang sudah dirangkainya dan hanya bisa mengungkapkan semua kata cinta itu dalam hati.

“Katakan! Aku tak punya waktu,” Eunhee mendesis.

“Karena…”

“Bodoh! Cepat minggir! Andrew-ku sudah pergi.” Eunhee mendorong Donghae ke samping dan melangkah keluar kelas. Rasa sakit di hati Donghae muncul mendengar Eunhee mengucapkan kata ‘Andrew-ku’ seolah-olah keduanya sudah saling memiliki satu sama lain dan sama sekali tak bisa dipisahkan.

“Katakan padanya! Kau tak akan tahu bagaimana perasaannya jika tak kau tanyakan langsung.” Kata-kata Donghwa malam itu, kembali terngiang dalam benak Donghae.

“Baiklah Hee, akan kubuktikan bahwa aku memang yang terbaik untukmu,” desis Donghae yakin.

 

Ruang kelas, kantin, ruang olah raga hingga ruang guru, Eunhee tak ditemukannya di manapun. Donghae lelah, dan memutuskan untuk duduk di sebuah kursi panjang tanpa sandaran di belakang gedung sekolahnya. Matanya terus menyusuri gedung bertingkat tiga di depannya. Berharap Eunhee muncul dan ia bisa meyakinkan gadis itu bahwa dirinyalah yang terbaik untuknya. Menyatakan semua yang dirasakannya untuk gadis itu. Walau sedikit terlambat, tapi Donghae merasa harus melakukannya. Ia benar-benar tak ingin kehilangan Eunhee. Sekalipun ia harus bersaing dengan si tampan Siwon.

Gemerisik dedaunan dari rimbunan Anthurium merah yang menghiasi taman belakang sekolah membuat Donghae menoleh. Lelaki itu menyipitkan matanya untuk mencari asal suara di sela-sela rerimbunan itu.

“Bagaimana bisa jatuh? Coba cari lagi, pasti ada di sekitar sini.” Donghae berdiri tegak ketika mendengar suara berat Siwon dari balik rerimbunan itu.

Jangan-jangan…

Oppa12, aku tak bisa menemukannya.” Mata Donghae melebar.

Itu… bukan suara Eunhee… Siwon bersama… wanita lain?

“Ah, ketemu!” Saat itu juga, Donghae bisa melihat dua sosok tampan dan cantik muncul dari balik rerimbunan Anthurium merah di hadapannya. Choi siwon bersama seorang gadis yang dikenalnya bernama Park Daera. Kapten Cheerleader dari kelas II.A. Adik kelasnya. Gadis itu tersenyum senang sembari memakai benda yang diyakini Donghae berupa gelang silver.

Tanpa sadar, mulut Donghae terbuka dan bergumam. “Jadi, wanita itu…”

“Oh, Lee Donghae-ssi13. Kau di sini rupanya,” sapa Siwon ramah sembari merangkulkan lengannya di bahu Daera, seolah ingin menjawab pertanyaan yang tersimpan dalam benak Donghae.

“Hai Sunbae14,” sapa Daera ramah dengan senyuman ala superstar miliknya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Dengan perasaan tak menentu, Donghae menggeleng tegas, “Tidak—ah, apa… kalian melihat Eunhee?” Ia berubah pikiran dan memilih menanyakan hal itu pada pasangan di depannya.

“Eunhee Sunbae? Ah, pantas saja kau terlihat menyedihkan begitu. Ternyata kau terpisah dari pasangan jiwamu,” kelakar Daera yang hanya ditanggapi senyum tipis Donghae. “Tadi kami tak sengaja bertemu dengannya di depan kantin. Entah apa yang terjadi, sepertinya ia tak jadi masuk ke tempat itu, dan sesudahnya… aku melihatnya naik menuju tangga di—“

“Ah, gomawo,” Donghae menyela ucapan Daera lalu cepat-cepat pergi dari tempat itu. Eunhee… ternyata kau di sana!

 

Donghae terengah dengan nafas yang masih satu-satu, kedua sudut bibirnya tertarik, tepat setelah dirinya membuka pintu ke atap sekolah dan mendapati Eunhee berdiri di sana. Rambut panjang Eunhee tergerai tertiup angin musim gugur yang dinginnya menusuk hingga ke sum-sum.

Bodoh, kenapa sama sekali tak terpikirkan olehku? batin Donghae sebal. Donghae baru ingat bahwa atap sekolah adalah tempat favorit mereka. Keduanya sering menghabiskan waktu di sana saat jam istirahat berlangsung. Walau belakangan ini, keduanya jarang sekali berkumpul di tempat itu. Lagi-lagi karena obsesi Eunhee pada sosok Andrew.

“Hee…” Donghae berhasil mengeluarkan suaranya setelah menghalau helaan nafasnya yang masih sedikit tersengal.

Lelaki itu bisa melihat ketegangan Eunhee ketika membalik tubuhnya. “Apa yang kau lakukan di sini? Membuntutiku lagi?”

“Aku yakin kau sudah melihatnya.” Donghae mengabaikan pertanyaan Eunhee sebelumnya.

“Melihat apa?”

“Daera dan Siwon!” Hening. Eunhee sama sekali tak membuka mulutnya untuk sekedar membalas pernyataan Donghae. Bibir Eunhee bahkan terlihat bergetar karena gugup. “Aku tahu kau sedang sedih Hee, tapi kumohon sadarlah! Siwon bukan Andrew… lelaki itu hanya khayalanmu!”

“Aku tidak berkhayal. Dia Andrew dan aku tidak gila,” Eunhee berkeras lalu memalingkan wajahnya ke tempat lain. Menghindari bersitatap dengan Donghae.

 

 

 

12: Sebutan kakak laki-laki untuk pembicara perempuan

13: Sufiks yang ditambahkan untuk sapaan resmi (Tuan, Nona)

14: Senior

Donghae mendekat, meraih kedua bahu Eunhee dan memaksa gadis itu menatapnya. “Jangan biarkan dirimu larut terlalu jauh dalam khayalan. Kau boleh berimajinasi tentang sosok sempurna yang kau inginkan menjadi kekasihmu. Tapi manusia sempurna itu tak pernah ada Hee. Sadarlah! Aku tak pernah menganggapmu gila atau sejenisnya. Aku hanya ingin kau sadar sebelum dirimu terseret terlalu jauh pada obsesi yang mungkin bisa membahayakan jiwamu. Jangan hidup dengan khayalan yang tak mungkin bisa kau gapai. Nikmati hidupmu dengan seseorang yang nyata dan benar-benar menyayangimu.”

“Tidak ada orang seperti itu dalam hidupku.” Gadis itu menunduk dalam-dalam seolah ingin menyembunyikan raut wajahnya dari Donghae.

“Ada.” Donghae mengeratkan cengkramannya di bahu Eunhee. “Aku orangnya. Aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Aku rela melakukan apa saja untuk mendapatkanmu.”

Donghae merasa lega ketika akhirnya ia berhasil menghalau ego-nya sendiri dan mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam dalam hatinya, lelaki itu bisa merasakan Eunhee menegang dari gerakan bahunya. “Kau sahabatku Hae.”

“Tidak. Aku tak mau menjadi sahabatmu lagi. Aku ingin menjadi kekasihmu. Seseorang yang selalu ada untukmu. Mencintaimu dengan segenap hatiku.” Donghae meraih tangan Eunhee yang terasa dingin di tangannya dan menggenggam dua tangan mungil itu erat, seolah ingin memberi kehangatan di tengah cuaca sedingin itu.

Eunhee mengangkat wajahnya, menatap Donghae dalam diam. Merasakan teduhnya tatapan Donghae di balik bola mata sekelam malam itu. Perlahan, Eunhee membuka mulutnya dan bergumam lirih, “Hae, maukah… kau membelikanku Es Krim?”

Seketika senyum lebar menghiasi bibir tipis Donghae. Lelaki itu menyingkirkan anak rambut yang tergerai di kening Eunhee. “Tentu! Kau tunggu di sini. Jangan ke mana-mana. Aku akan membelinya untukmu.”

Eunhee mengangguk dan menatap punggung Donghae yang mulai menjauh. Seulas senyum hangat terkembang di bibir mungilnya. Tanpa sadar, Eunhee menyentuh dada kirinya yang sejak tadi terasa sakit oleh hentakan keras dan cepat yang berasal dari jantungnya sendiri. Akhirnya… kau mengungkapkannya juga Donghae-a. Aku tak menyangka kemampuan aktingku sangat baik hingga membuat lelaki bodoh itu sadar, bahwa aku benar-benar berarti dalam hidupnya, Eunhee membatin puas.

 

Senja mulai tampak. Semburat jingga mewarnai langit sore di akhir musim gugur ini. Beberapa pengunjung terlihat memadati Hangang Park untuk sekedar menikmati merahnya suasana musim gugur di senja hari. Eunhee menghentikan langkahnya tepat di depan baliho super besar yang sudah sebulan ini terpampang di sana. Sebuah baliho yang menampilkan sosok sempurna Choi Siwon. Putera pertama dan calon pewaris tunggal kerajaan bisnis terbesar di Korea Selatan—Hyundai Corporation.

Mata bulat lebarnya meneliti sosok Siwon yang tampak begitu sempurna dalam balutan jas hitam resmi dengan rambut tertata rapi. Namun betapapun sempurna sosok itu di matanya, Eunhee tetap tak bisa mencintainya sebesar ia mencintai lelaki bodoh yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun. Lee Donghae. Senyum Eunhee terkembang begitu saja ketika kejadian di sekolah terlintas di otaknya.

“Hai Andrew… terima kasih atas bantuanmu selama ini.”

 

 

Terkadang… untuk mendapatkan cinta, dibutuhkan sedikit kecerdikan.

 

Lee_Eunhee

 

~ FIN ~

2 Comments (+add yours?)

  1. Cuckoo
    Oct 28, 2015 @ 13:45:10

    ^^

    Reply

  2. chobyul
    Oct 31, 2015 @ 10:27:05

    nice story,,,ceritanya bagus, unik, bahasanya jg oke. puas bacanya…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: