[Eunhae’s Day] Falling In Love

eunhae__spao_by_eunhaeisloved-d48mbv0

Falling In Love

 

Author : Sherinda RS

Cast : Lee Hyuk Jae

Kwon Sunjoo

Lee Donghae

Genre : Comedy, Romance, and Sadness

Rating : PG 13

 

Eunhyuk POV

Pagi yang cerah di Seoul. Tapi, sayang tidak secerah hatiku saat ini. Aku terduduk lesu di kursi sofa di dalam dorm. Seminggu ke depan, Super Junior free. Tapi, itu tidak berarti apa apa bagiku. Aku terlalu sedih dan risau untuk menikmati cuaca Seoul pagi ini.

Satu satunya cara agar rasa kelam ini hilang adalah dengan menemui Sunjoo. Ne, Kwon Sunjoo, ia yeoja yang begitu cantik dan manis. Senyumnya begitu ceria dengan tatapan mata yang tulus. Aku tidak akan pernah lupa saat saatku bersamanya.

Hari ini, sebenarnya aku berniat untuk menyatakan perasaanku padanya. Tapi, pasti akan menjadi hal yang sulit. Sudah semalaman aku berpikir cara yang bagus untuk menyatakan perasaan padanya. Namun, belum aku dapatkan teknik yang paling ampuh untuk mengikat hati lembut yeoja itu.

“Galau?” Tanya Donghae sembari menyikut lengan kiriku. Aku mengangguk lesu tanpa menatapnya. “Ada apa memangnya?”

“Sunjoo.” Jawabku singkat tanpa melirik sedikit pun kearahnya.

“Ah, yeoja[1] itu.” Gumam Donghae. “Yeoja aneh yang banyak jerawat itu, kan?”

Aku menoleh, menyeritkan dahiku sebentar padanya, “Apa maksudmu? Itu Sunjae!”

“Kalau begitu, pasti yeoja yang sering membeli coklat di supermarket, yang badannya bulat seperti bola?”

“Itu Sunhae.”

“Berarti yeoja yang berkacamata besar dengan komedo di hidungnya?”

“Itu Sunbaek. Bukan dia!”

“Lalu, yang mana?” Tanya Donghae sembari mengingat yeoja yeoja yang dekat denganku.

“Yeoja yang sudah susah payah kudekati dua bulan ini, Kwon Sunjoo.” Kataku dengan raut wajah bangga.

“Oh, yeoja cantik itu.” Gumam Donghae. “Ada apa dengannya? Kau ingin melamarnya?” Tanya Donghae.

“Tidak, aku ingin menyatakan perasaanku padanya.” Jawabku sembari melirik kearah Donghae sedikit.

“Oh, itu, serahkan saja padaku. Kau bisa berguru padaku.” Tawarnya sembari sedikit membusungkan dada.

Aku menghela napas panjang, “Berguru katamu? Ah, sudahlah lupakan, aku merasa tidak percaya diri. Pasti akan gagal akhirnya, ia pasti akan menolakku!”

Donghae menatapku dengan sorot pandangan yang sulit diartikan. “Kau bilang apa tadi? Tidak percaya diri?” Tanyanya dengan nada kesal. “Yak! Kau tak boleh begitu!” Serunya. “Kita harus semangat. SIAPA KITA?!”

“EUNHAE!”

“APA MARGA KITA?!”

“LEE!”

“SIAPA NAMAMU?!”

“EUNHYUK!”

“SIAPA NAMAKU?!”

“DONGE!”

“Hahaha… itu kau bukan aku!” Dengusnya dengan diawali tawa yang terpaksa. “Karenanya kau harus tunjukkan bahwa kau bisa! hidup EUNHAE!” Serunya sembari mengepalkan tangannya keatas bak seorang pejuang di medan perang.

“ Ne, hidup EUNHAE!” Teriakku juga. Aku kembali menunduk lemas, “Tapi, aku…”

“Apa lagi?”

“Aku ingin makan pisang.”

“…………..”

Aku terkekeh didepan Donghae. Ia memandangiku dengan tatapan kesal lalu beranjak pergi meninggalkanku.

***

“Yeoja sangat senang jika diberi hadiah.” Donghae mulai mengguruiku. Aku memperhatikannya dengan seksama. “Biasanya hadiah yang diberikan berupa coklat dengan kesan yang sangat romantis. Tapi, akan lebih bagus lagi jika kau memberinya perhiasan.” Lanjutnya.

“Perhiasan seperti cincin atau kalung begitu?” Tanyaku. Donghae mengangguk. “Bagusnya berlian atau emas?”

Ia mendengus, “Tidak usah terlalu mewah, diberi perak dengan permata kecil pun seorang yeoja akan sangat senang. Yang penting caramu memberinya bukan hadiah yang ingin kau berikan.” Jawabnya.

“Arasseo[2].” Kataku. “Aku akan membelinya sekarang juga.” Lanjutku semangat.

“Oh, tidak perlu, aku sudah memilihkan sebuah kalung yang bagus untuk Sunjoo.” Ujar Donghae. Ia mengeluarkan sebuah kotak mungil yang telah dibungkus dengan kertas kado berwarna violet dengan pita ungu tua diatasnya. Donghae lalu melemparkan kotak itu padaku.

Aku membuka kotak itu, “Indah sekali. Apa ini sebuah kalung emas putih? Dan bandulnya ini, permata ungu berkilauan. Apakah ini sebuah berlian?” Tanyaku sembari mengagumi kalung itu.

“Bukan, itu cuma permata imitasi saja.”

“Apa katamu?”

“Ah, tidak bukan apa apa.” Jawabnya. Aku menyipitkan mataku, melihatnya dengan tatapan curiga. “Bukan apa apa! Jangan melihatku begitu!” Serunya. “Sekarang lebih baik kau pergi ke rumahnya dan memberikannya ini. Ingat, harus dengan cara yang paling romantis untuk memberinya hadiah ini.” Katanya.

Aku mengangguk dan tersenyum, menampilkan sederetan gigiku, “Kau benar. Baiklah, aku akan segera pergi ke rumahnya.” Kataku.

“Jangan lupa untuk mengganti kalungnya, itu sangat mahal.” Timpal Donghae datar.

Aku mendengus, tidak menghiraukan perkataannya tadi sama sekali. Segera aku berlari ke kamarku untuk bersiap siap.

***

“Nanana…” Dendangku saat sudah selesai bersiap siap. Aku merasa sangat sempurna hari ini. Tubuhku begitu segar dan wangi. Rasa percaya diriku juga kembali. Selain itu, kemeja merah tua dengan celana jeans hitam panjang membuatku terlihat semakin tampan.

Aku baru saja ingin melangkah pergi, tapi tiba tiba aku teringat akan sesuatu. “Kunci mobil.” Gumamku. Aku merogoh kantung celanaku, tidak ada kunci mobil disana, hanya ada kotak hadiah dan ponselku. Pasti kunci mobilnya ketinggalan di kamar.

Aku lalu menaruh kotak hadiah dan ponselku diatas meja yang tak jauh dari tempatku berdiri. Dengan langkah cepat, segera aku ke kamar dan mengambil kunci mobilku. Setelah kunci mobil kudapatkan, aku pun mengambil hadiah dan ponselku diatas meja tadi lalu segera pergi ke rumah Sunjoo dengan mobil.

Perjalanan kurang lebih 15 menit dari dorm Super Junior. Rumahnya sederhana, bertipe minimalis memang, namun dalamnya sangat rapi dan nyaman. Sunjoo tinggal sendirian di rumahnya, kedua orang tuanya sudah meninggal. Ia bekerja sebagai sekretaris direktur di salah satu perusahaan besar.

TING TONG… TING TONG…

Aku menekan bel yang ada didepan pintu rumahnya. Beberapa menit kemudian, pintunya pun terbuka dan keluarlah sosok manis dengan kulit seputih susu dan rambut hitam sepanjang bahu. ia tersenyum padaku.

“Ah, oppa[3], kupikir siapa.” Ujarnya. “Ayo masuk, oppa!” Ajaknya.

Aku melemparkan senyumku lalu segera masuk dan duduk diatas sofa hijau miliknya. Sunjoo menyuguhkan segelas teh hangat untukku. “Kenapa tiba tiba mampir ke rumah? Biar kutebak! Pasti Super Junior sedang free.” Katanya membuka pembicaraan.

“Ne, aku bingung mau melakukan apa di dorm, jadi kuputuskan untuk mengunjungimu.” Tuturku. Aku menyesap teh hangat buatan Sunjoo sedikit. “Hmm… seperti biasa, teh buatanmu selalu yang terenak.” Pujiku.

“Ah, oppa bisa saja.” Katanya. “Oppa juga, wangi sekali hari ini. Oppa terlihat sangat tampan dengan setelan kemeja merah tua yang oppa kenakan.”

Kalimat terakhirnya langsung membuatku seakan akan seperti terbang melayang. Ribuan kupu kupu rasanya memenuhi perutku. “Ah, kau juga cantik hari ini.” Balasku, balik memuji. “Aku juga punya sesuatu untukmu.”

Aku lalu mengeluarkan kotak mungil ungu itu. Tapi, sepertinya ada yang berbeda, warna pitanya sedikit lebih muda daripada warna pita kotak hadiah yang diberikan Donghae sebelumnya. Ah, masa bodoh! Yang penting aku dapat menyatakan perasaanku padanya.

“Ini untukku?” Tanya Sunjoo yang langsung disertai anggukan kepalaku cepat. Ia tersenyum lalu mengambil kotak mungil yang kusodorkan itu. “Gomawo[4], aku tak sabar ingin melihat apa isinya.”

Sunjoo lalu membuka pita itu dengan cermat. Jari jarinya yang lentik dan anggun bergerak dengan cepat dan cekatan. Ah, Sunjoo… dia memang malaikat yang tiada cacatnya. Tangannya lalu membuka kotak mungil itu dan ia pun melihat isinya.

Betapa terkejutnya aku saat melihat isi kotak itu! Isinya bukan lagi kalung perak dengan bandul permata ungu, melainkan sebuah cekungan berwarna putih kecil. Sunjoo mengambilnya dan melihatnya dengan seksama.

“Apa ini?” Tanyanya padaku.

Suhu tubuhku rasanya mulai naik. Aku begitu gugup dan benar benar tidak tahu harus berbuat apa. Didalam cekungan itu ada sebuah gulungan kertas kecil yang diikat oleh pita. Sunjoo pun mengambilnya dan segera membaca tulisannya. Aku ingin sekali menghentikannya, tapi sayangnya terlambat.

“Untuk ddangkoma sayang.” Baca Sunjoo. “Ini aku hadiahkan untukmu sebuah tempat untuk minum. Tempat minummu yang dulu sudah berlumut, jadi aku hadiahkan ini di hari yang special ini. Aku harap kau senang. Dari pacarmu.”

Sunjoo mendongak kearahku dan menatapku dengan pandangan tanya, “Ddangkoma? Jadi oppa menyamaiku dengan kura kura itu!” Serunya kesal.

Aku menggeleng, “Bukan begitu, aku sebenarnya ingin…”

“Oppa jahat!”

“Sunjoo, ini cuma salah paham saja.”

“Oppa sangat jahat!” Teriaknya. “ Cepat pergi dari sini!”

PRANGG… BRENG… PRONGG… BRANG… BRONG…

Aku berlari terbirit birit dari rumahnya. Panci, penggorengan dan spatula semuanya melayang diudara dan terbang kearahku. Sunjoo sepertinya benar benar marah dan tersinggung. Aku menyesal sekali, karena telah memberinya hadiah yang salah.

Seharusnya aku memeriksa isinya sebelumnya. Aku benar benar ceroboh. Pasti hadiahku tertukar saat aku menaruh kotak hadiahnya diatas meja tadi. Pantas saja warna pitanya lebih muda sedikit daripada warna pita hadiah yang ingin kuberi padanya.

***

Aku masuk kedalam dorm dengan wajah ditekuk. Donghae langsung menghampiriku.

“Bagaimana? Lancar?”

Aku menggeleng, “Ditolak mentah mentah.” Jawabku. “Bahkan aku diusir. Hadiahnya tertukar dengan hadiah milik ddangkoma. Sulit membedakannya, habis warnanya sama sama ungu.” Kataku.

Donghae terkekeh, “Aku minta maaf ya, soal itu.”

“Memangnya kenapa?”

“Kertas kado yang kugunakan untuk membungkusnya adalah sisa dari kertas kado yang digunakan Yesung hyung[5]. Makanya warnanya sama.”

PLETAK!

Aku menjitaknya keras lalu mendengus didepan wajah Donghae. Ku langkahkan kakiku lemas ke kamarku. Ah, sial! Andai saja tidak tertukar, Sunjoo pasti tidak akan marah dan tidak akan melempariku dengan alat alat dapur seperti tadi. Huh!

***

Hari ini aku mencoba untuk menyatakan perasaanku lagi. Donghae ikut denganku hari ini untuk memastikan tidak ada yang salah. Cara yang kugunakan sederhana saja, hanya berbicara dengan tulus dari hatiku akan perasaanku padanya dan langsung menawarkannya untuk menjadi pacarku. Ah, Eunhyuk, kau benar benar cerdas!

Bel pintu rumah Sunjoo menggema. Pintu pun lalu terbuka dan keluarlah Sunjoo dengan pakaian santainya. “Oppa?” Tanyanya. Ia sempat bingung dengan kehadiranku dan Donghae yang terbilang tiba tiba. “Masuklah kedalam.”

Kami pun masuk dan segera duduk di sofa ruang tengah miliknya. Sunjoo tersenyum kearah kami. Kejadian kemarin sepertinya sudah dilupakan olehnya. Aku lega melihatnya.

Donghae lalu mengedip genit kearahnya. Aku melihat kearah Sunjoo, ia terlihat terkejut akan kedipan genit Donghae. Aku mendengus dan segera kuinjak kakinya.

“AW!” Teriak Donghae. Ia melototiku, “Beraninya kau!” Bisiknya geram.

“Waeyo?” Aku balas berbisik. “Kau juga! Beraninya kau memberinya kedipan genit seperti itu padanya.” Lanjutku sembari berbisik.

“Ada apa dengan kalian?” Tanya Sunjoo saat melihat perilaku aneh kami. Aku dan Donghae hanya terkekeh dihadapannya. “Kalian pasti haus, biar aku ambilkan minuman dahulu.” Katanya mencairkan suasana yang semakin lama semakin abstrak. Sunjoo lalu pergi meninggalkan kami berdua kearah dapur.

“Hari ini pasti berhasil.” Timpal Donghae dengan nada pasti dan yakin. “Kau akan beruntung karena ada aku.”

Aku hanya terdiam sembari menatapnya datar. Stress sekali rasanya! Aigoo[6]! Padahal hanya menyatakan perasaan saja, tapi rasanya seperti disiksa.

“Itu kemeja baru?” Tanyaku.

Donghae mengangguk, “Kenapa kau bisa tahu?”

“Tentu saja aku tahu, harganya masih tergantung di kerah lehermu.” Jawabku. “Kau ini, membuatku malu saja!” Seruku.

Donghae terkekeh sebentar, “Pantas saja leherku sedari tadi gatal.” Katanya. “Tolong lepaskan, ya, Hyukkie!” Pintanya.

Aku lalu beranjak dari kursi dan berdiri menghadap kearahnya. Dadaku kucondongkan sedikit kearah Donghae. Wajah kami berhadapan dan jaraknya lumayan dekat. Tanganku menarik kertas berterakan harga yang digantung dibelakang kemeja milik Donghae. Lumayan sulit karena tali putih untuk menggantungkan kemeja sangat keras dan kuat.

“Bisakah kau cepat menarik talinya?” Tanya Donghae. “Aku sudah menahan napas daritadi.” Lanjutnya.

“Aish… kau ini! Diamlah sebentar. Dasar phabo[7]! Kenapa harus menahan napas segala?” Tanyaku.

“Karena napasmu itu bau sekali. Aku tak tahan menghirupnya.” Jawab Donghae dengan susah payah. Sepertinya ia kehabisan napas karena terlalu lama tidak menghirup oksigen. “Kau tidak memakai parfum mulut?” Tanyanya.

“Benda apa lagi itu? Memangnya ada parfum untuk mulut?” Tanyaku yang tak tahu dan tak ingin tahu serta sama sekali tak mau tahu kepada Donghae yang sok tahu.

Donghae tidak menjawabnya, ia sibuk menahan napas. Aku tertawa sebentar melihatnya, “Lihat wajahmu, seperti orang menahan kentut.” Ejekku sembari terus berusaha melepaskan kertas harga yang tergantung di kerah lehernya. Donghae menatapku kesal.

“KYAAAAAA!”

Aku dan Donghae sontak menoleh kearah sumber suara itu. terlihat Sunjoo sedang menatap kami dengan wajah terkejut. Matanya membulat sempurna. Aigoo! Jangan jangan ia berpikir bahwa aku dan Donghae ini……..

“Sunjoo ini tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aku dan Donghae tidak seperti itu.” Kataku meyakinkannya.

Sunjoo masih terdiam dan terlihat begitu shock. Ia mengangkat tangannya yang bergemetar lalu menunjuk kearahku, “Oppa, itu…”

“Kau hanya salah paham. Jebal[8], ini tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Bukan begitu oppa, itu…”

“Sunjoo, aku ini memang dekat dengan Donghae, kami memang teman sekamar di dorm. Tapi, bukan berarti aku dengannya seperti itu.”

“Oppa aku…”

“Sunjoo, percayalah padaku. Aku tidak begitu dengannya. Jebal, aku bukan orang yang…”

“OPPA DENGARKAN AKU DULU!” Potongnya dengan volume suara yang tinggi. Aku langsung melompat kaget dan refleks memeluk Donghae. Kami berdua gemetar ketakutan melihat wajah Sunjoo yang sudah memerah padam.

“Aku tidak mempermasalahkan tentang itu, oppa!” Serunya kesal. “Aku terkejut dan shock karena melihat celana oppa yang robek dibagian… pantatnya.” Katanya dengan nada ragu di kata ‘pantat’. “Saat oppa menungging tadi, celana dalam oppa terlihat. Robeknya besar sekali. Karenanya aku sangat terkejut sampai sampai berteriak begitu.” Lanjutnya.

Donghae terlihat menahan tawa. Aku mencubit lengannya dan memberinya sinyal agar tidak tertawa.

“Biar aku jahitkan celana oppa.” Tawar Sunjoo. “Aku ambilkan dahulu peralatan jahitnya.” Sunjoo lalu berlalu menuju kamarnya untuk mengambil jarum dan benang serta alat alat lain yang sekiranya dibutuhkan.

Aku melirik kearah Donghae. Ia masih menahan tawa sembari sedikit terkikik. Aigoo! Orang ini, beraninya dia. Aku terus mencubiti lengannya sampai tawanya benar benar berhenti.

Sunjoo lalu kembali dengan membawa peralatan jahit, “Nah, oppa, lepaskan celana oppa sekarang. Aku ingin menjahitnya, sebentar saja, kok!” Suruhnya sembari tersenyum.

“Melepaskan celana?” Tanyaku disertai anggukan olehnya. “Ah, jangan! Rasanya pasti aneh jika celanaku dilepas.” Tolakku.

Sunjoo menyeritkan dahinya, “Lalu, bagaimana cara aku menjahitnya jika celananya tidak dilepas?” Tanyanya.

Aku tersenyum kearahnya, “Itu mudah.” Lalu, aku pun berjalan mendekatinya dan menunggingkan badanku didepannya. Sehingga wajah Sunjoo tepat menghadap ke pantatku. “Nah, sekarang kau boleh menjahitnya.” Kataku.

BROTT…

Belum saja Sunjoo menggerakkan jarum jahitnya suara itu sudah keluar dari pantatku. Aku pun terkejut dan langsung menahan napas agar tidak kentut lagi.

BROTT…

Untuk yang kedua kalinya, aku membuang gas tepat didepan wajah Sunjoo! Aigoo! Kulirik sedikit kearah Donghae, bermaksud meminta bantuan. Tapi sayang, Donghae masih asyik terkikik melihat keadaanku yang sengsara ini.

Aku menolehkan kepalaku sebentar kebelakang, melihat Sunjoo. Wajahnya sudah mulai memerah, menahan amarah. Ia menghela napas berkali kali dan matanya terlihat membara. Lalu, seperti dugaanku, ia pasti akan…

“OPPA!” Teriaknya geram.

PRANGG… BRENG… PRONGG… BRANG… BRONG…

Lagi lagi alat alat dapur terbang kearahku dan Donghae. Kami berlari terbirit birit keluar rumah Sunjoo seperti orang yang sedang dikejar setan.

“Aigoo! Yeoja itu mengerikan sekali!” Ujar Donghae setelah kondisi sekitar aman. Napasnya tersengal, “Hampir saja aku terkena penggorengan tadi. Huft… untung saja, aku berhasil menghindarinya.” Katanya.

“Ah, kau ini!” Decakku kesal. “Kau datang kesana hanya membuat sial saja! Sekarang aku tidak dapat menyatakan perasaanku. Aku sudah dua kali gagal!” Teriakku depan wajahnya.

“Itu sih, bukan salahku.” Elak Donghae. “Siapa suruh kau kentut di depan wajahnya. Memalukan saja!” Lanjutnya.

Aku mendengus kearahnya dan segera pergi meninggalkannya menuju mobil. Kenapa sih, nasibku bisa sesial ini jika berhadapan dengan yeoja? Ya Tuhan! Apa salahku?!

***

Aku merenung memikirkan nasibku didekat meja makan. Hari ini aku benar benar murung. Aku malu sekali dengan kejadian kemarin. Apa yang harus aku katakan pada Sunjoo? Aku ingin sekali minta maaf padanya, tapi tidak tahu bagaimana caranya.

Didepanku, Kyuhyun sedang bermain PSP dengan asyiknya. Aku menatapnya sembari melamun memikirkan Sunjoo. Ah, yeoja itu, kecantikannya benar benar luar biasa. Memilikinya dan menjadikannya yeojachingu sangatlah sulit.

Aku terus menatap Kyuhyun bermain PSP. Tapi, tiba tiba saja sosok Kyuhyun berubah, bergantikan dengan sosok Sunjoo yang sedang bermain PSP.

Cantik sekali. Aku terus menerus membatin dan memuji kecantikan Sunjoo. Mataku terus menatap mata Sunjoo yang sedang bermain PSP. Sunjoo lalu mendongak kearahku dan tersenyum. Aigoo! Matanya benar benar cemerlang dan berkilauan. Aku tersenyum senyum sendiri melihat kecantikannya itu.

PLETUK!

Sebuah apel hijau terbang dengan mulus dan mengenai kepalaku. Sosok Sunjoo yang cantik kini berubah menjadi sosok Kyuhyun. Ia menatapku dengan tatapan datarnya.

“Wae[9]? Kenapa melihatku dengan wajah tersenyum senyum begitu?” Tanyanya.

Mwo[10]?! Jadi, yang tadi itu hanya imajinasiku saja?

Aku terkekeh sebentar didepan Kyuhyun yang menatapku dengan pandangan abstraknya yang datar dan terkesan agak sinis, “Gwaenchana[11].” Jawabku singkat. Kyuhyun mendengus dan meneruskan bermain PSP.

Donghae tiba tiba datang sembari memungut apel yang tadi dilempar Kyuhyun. Ia menggigitnya sedikit lalu duduk disampingku. “Sedang menyesali kejadian kemarin?” Tanyanya lalu tertawa.

Aku mendengus, “Diamlah! Aku bersumpah tidak akan mengikuti cara cara konyolmu itu lagi.” Kataku.

“Waeyo? Padahal, aku punya satu cara lagi yang pasti akan berhasil. Ini cara paling jitu untuk menyatakan cinta pada seorang yeoja.” Tuturnya. “Kau pasti penasaran!”

Ia benar, aku memang penasaran. Tapi, aku memilih untuk menahan rasa penasaran itu. “Tidak, siapa yang penasaran.” Bantahku. “Cara caramu itu tidak akan pernah berhasil!” Lanjutku.

“Tapi, ini cara yang paling jitu.”

Aku meliriknya sedikit, “Kau bisa memastikannya?” Tanyaku. Donghae mengangguk. “Baiklah, aku pakai caramu itu, tapi jika tidak berhasil, kau mati ditanganku!”

“Seram amat!” Serunya. “Jangan begitu! Lebih baik begini, coba kau lihat kearah Kyuhyun!” Suruh Donghae setengah berbisik. Aku pun melihat kearah Kyuhyun yang sedang asyik bermain PSP. Donghae lalu mendekati kepalanya supaya ia dapat membisikku dengan leluasa.

“Ada apa dengannya?” Tanyaku setengah berbisik juga.

“Begini, jika kau berhasil kita buang PSP Kyuhyun, tapi jika kau tak berhasil kita buang juga PSP Kyuhyun.” Desisnya. “Adil bukan?”

Aku tersenyum dengan smirk evil seperti Kyuhyun, “Ya, itu sangat adil.” Kataku. Kami berdua menatap Kyuhyun yang sedang bermain PSP dengan tatapan evil ala EunHae. “PSP itu pasti akan enyah!” Bisikku dan disertai anggukan setuju Donghae.

Kyuhyun mendongak lalu menatap kami dengan tatapan datarnya, “Wae? Kenapa menatapku? Mau dilempari apel lagi?” Tanya Kyuhyun. Ia lalu mengambil dua buah apel diatas meja dan berancang ancang untuk melempari kami berdua.

Melihat perilaku evil magnae[12] itu, aku dan Donghae langsung mengambil seribu langkah dan meninggalkannya sendirian dengan tenang di ruang makan.

***

Hari ini aku kembali mencoba untuk menyatakan perasaanku pada Sunjoo. Cara jitu yang dikatakan Donghae adalah cara sederhana yang mudah dan terbilang sudah pasaran. Dia bilang, yeoja paling senang jika diberi sebuket bunga dan diperlakukan secara romantis.

Aku berjalan melewati pekarangan rumah Sunjoo dengan rasa percaya diri yang tinggi. Sebuah karangan bunga yang terdiri dari mawar merah yang penuh cinta, lily putih yang anggun dan beberapa sentuhan bunga lylac ungu manis aku bawa untuknya.

Pintu rumah Sunjoo terbuka sedikit. Sebelum menekan bel, aku bermaksud untuk mengintip dan melihatnya. Rupanya sedang ada tamu di rumah Sunjoo.

Aku membuka pintu rumahnya lebih lebar lagi agar aku bisa melihat siapa gerangan yang bertamu ke rumahnya. Mataku tertuju pada si tamu yang duduk satu sofa dengan Sunjoo. Hatiku langsung panas ketika mengetahui bahwa tamu itu adalah seorang namja yang begitu dekat dengan Sunjoo. Mereka terlihat dekat sekali. Dan yang benar benar membuat aku cemburu adalah senyum manis yang terus dilemparkan Sunjoo pada namja itu.

Mereka menoleh kearah pintu dan melihatku. “Oppa?” Tanya Sunjoo bingung.

Dengan cepat, kusembunyikan karangan bunga itu dibelakang punggung. “Mianhae[13], aku tidak bermaksud mengganggu kalian berdua.” Kataku menahan rasa sakit hati. “Sunjoo-ya, mianhae, aku telah mengganggumu, aku tidak akan marah jika kau sudah berpacaran dengannya. Gomawo Sunjoo karena telah menjadi teman yang baik untukku, aku tidak akan melupankanmu.”

Dengan berat hati aku lalu berlari meninggalkan mereka berdua. Matahari sudah terbenam di ufuk barang dan petang menjelang. Aku terus berlari, tidak peduli dengan mobilku yang diparkirkan didepan rumah Sunjoo.

“Oppa!” Teriak Sunjoo dari kejauhan. Aku meliriknya sedikit dan melihatnya berlari mengejarku. Tidak peduli, aku terus berlari meninggalkannya. Lebih cepat dan lebih cepat lagi.

“Oppa!” Teriaknya terus menerus. Sakit sekali rasanya melihatnya dengan namja[14] lain.

Lalu, dengan terpaksa, aku berhenti berlari, membiarkan Sunjoo mengejarku. Ia berhenti didepanku dengan napas tersengal. Aku membuang wajahku supaya ia tidak bisa menatap sisa sisa pengecut di wajahku.

“Oppa, salah sangka. Itu bukan pacarku.” Katanya setelah napasnya agak teratur. “Dia temanku dan hari ini dia datang berkunjung. Sungguh, dia bukan pacarku!” Serunya meyakinkanku.

Sakit dihatiku langsung berkurang ketika mendengar pernyataannya, “Benarkah itu?” Tanyaku.

Sunjoo mengangguk, “Ne, sejak awal orang yang aku suka bukan dia. Tapi, orang lain.” Jawabnya sembari tersenyum padaku.

“Siapa orangnya?”

“Oppa.”

Jawabannya langsung membuatku melayang terbang hingga ke langit ketujuh. Aku menatapnya berbinar binar, “Aku orang yang kau sukai?” Tanyaku. Sunjoo mengangguk, “Tapi, dua hari kemarin aku sudah membuatmu marah sampai sampai kau melemparkan barang barang dapur kearahku. Kupikir kau membenciku.”

Sunjoo menggeleng, “Tidak, aku menyukai oppa, sangat menyukai oppa.” Katanya. Ia lalu melihat karangan bunga yang aku pegang, “Indah sekali.” Pujinya. “Apa ini untukku?”

Aku mengangguk, “Tentu saja, ini untuk yeoja yang tercantik.” Aku lalu menyodorkan karangan bunga itu untuknya.

Ia tersenyum dan menikmati bau wangi bunga itu sebentar. “Wanginya. Gomawo oppa!” Ujarnya.

“Ne, cheonmaneyo[15].” Balasku. “Sunjoo, setelah aku mengetahui perasaanmu yang sebenarnya padaku. Maukah kau menjadi yeojachingu-ku? Aku begitu menyayangimu.” Kataku menyatakan perasaanku padanya.

Sunjoo tersenyum, “I do!”

Beribu ribu kupu kupu rasanya langsung memenuhi perutku. Aku tersenyum bahagia melihat yeoja cantik didepanku itu. Dia mau menjadi pacarku! Dia mau menjadi pacarku! Yeah! PSP Kyuhyun akan ku buang! Yeah!

“Kalau begitu, coba pejamkan matamu, ada yang ingin aku berikan.” Kataku.

Sunjoo lalu menurut dan memejamkan matanya. Aku menghela napas panjang, meredakan degup jantungku yang berdetak dengan kencangnya. Mataku lalu terpejam dan aku dekatkan kepalaku ke kepalanya, bermaksud untuk menciumnya. Tapi…

BRUKK…

Suara itu tiba tiba terdengar dan mataku refleks terbuka. Sunjoo tak ada lagi dihadapanku. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah.

“SUNJOO!” Teriakku ketika mendapati tubuhnya tergolek lemas diatas trotoar jalan. Matanya terpejam, ia seperti orang yang pingsan dengan tiba tiba.

“Sunjoo!” Panggilku terus menerus sembari mengguncangkan badannya. Ia tidak juga bangun, “Sunjoo! Ini tak lucu!” Seruku. Aku terus berharap bahwa yang ia lakukan hanya tipuan kecil belaka yang biasa dilakukan oleh pasangan kebanyakan, “Sunjoo!”

Aku lalu menoleh kearah kanan dan kiri, mencari bantuan. “Tolong!” Teriakku. “Ada yang butuh bantuan! Tolong!” Aku terus berteriak dan terus berteriak. Kerongkonganku rasanya sudah kering karena terus berteriak. Jalanan dekat rumah Sunjoo ini memang sangat sepi. Jarang sekali ada orang apalagi mobil hilir mudik ketika malam, bahkan terkadang tidak ada sama sekali.

“Sunjoo! Bertahanlah!” Teriakku. Mataku mulai perih dan air mata serta merta keluar dengan mulusnya dari pelupuk mataku. Aku terus menggucangkan badannya dan mendekapnya erat.

Dari kejauhan, terlihat ada seseorang berlari. Ia mendekat kearah kami. Itu adalah teman Sunjoo yang bertamu ke rumahnya tadi. Ia berjongkok dihadapan kami dan dengan cekatan mengeluarkan alat alat kedokteran dari dalam tas koper hitam yang dibawanya.

Aku melihatnya dengan tatapan heran, “Siapa kau?” Tanyaku.

“Aku teman sekaligus Dokter pribadi Kwon Sunjoo.” Jawabnya tanpa menolehkan sedikit pun pandangannya kepadaku.

“Dokter pribadi?” Tanyaku padanya. Ia mengangguk. “Tapi, Sunjoo memangnya sakit apa? Kenapa sampai harus memiliki dokter pribadi segala?”

Ia berhenti bekerja sebentar lalu mendongak dan melihatku bingung. Beberapa detik kemudian, ia kembali bekerja lagi, “Apa Sunjoo tidak pernah memberi tahu tentang penyakitnya padamu? Ia sudah menderita penyakit ini lebih dari tiga bulan lamanya. Ada gangguan di jantungnya dan semakin hari gangguannya itu semakin parah.” Jelasnya. “Pasti ia tidak mau memberitahumu karena takut kau khawatir.”

Air mata sudah membasahi semua permukaan pipiku sekarang. “Cepat sembuhkan dia!” Teriakku dengan penuh pengharapan kepada dokter itu. “Cepat sembuhkan dia! Buatlah dia sadar kembali! Buatlah pacarku sadar kembali!” Teriakku dengan emosi yang meluap luap.

Dokter muda itu terus bekerja. Ia memeriksa detak jantung Sunjoo dan memberinya oksigen lewat tabung oksigen yang ia bawa tadi.

“Sial!” Decaknya. “Napas dan detak jantungnya melemah, kita harus ke rumah sakit sekarang juga.” Katanya.

“Tidak ada rumah sakit disini, hanya ada klinik di perempatan jalan sana. Sekitar 800 meter dari sini.” Tuturku.

“Itu cukup. Kalau begitu, biar aku ambilkan mobilku dulu dan mengantarnya kesana.” Kata si dokter muda itu. “Kau tunggulah disini dengan Sunjoo.” Suruhnya.

“Tidak ada waktu lagi!”

Tanpa menunggu jawabannya, aku lalu mengangkat tubuh Sunjoo dan berlari ke klinik terdekat. Tubuh Sunjoo cukup berat dan tanganku rasanya ingin patah karena menopang masa badannya. Aku terus berlari meskipun kecepatan lariku tidak secepat biasanya. Dalam hati, aku terus berdoa dan berharap agar Sunjoo bisa diselamatkan.

Lebih dari 10 menit aku berlari dan akhirnya sampai ke klinik terdekat. Sunjoo langsung ditangani oleh dokter yang bekerja disana. Aku menunggu di ruang tunggu dengan kekhawatiran yang mendalam.

Dokter lalu keluar dari ruangan dan aku langsung menanyakan keadaannya. “Terlambat.” Katanya. “Ia sudah pergi menghadap Yang Maha Kuasa sekitar lima menit lalu. Kami sudah berusaha, tapi Tuhan berkata lain.”

Dentuman keras rasanya langsung menghantam kepalaku. Aku berlari, melihat kearah wajah Sunjoo yang sudah pucat pasi. Tubuhku semuanya gemetar dan kepalaku terasa sangat pusing. Bahkan disaat akhir napasnya, wajah Sunjoo masih begitu cantik.

“AARGGH!” Sesalku disamping kasur tempat Sunjoo terbaring. Andai aku lebih cepat lima menit mengantarnya ke klinik ini! Andai aku tidak berlari dan tidak membuatnya mengejarku hingga sampai seperti ini! Aku hanya dapat menghardik diriku sendiri. Aku ini bodoh! Aku ini namja yang sangat bodoh! Namja yang tak berguna. Lebih baik aku saja yang mati, jangan Sunjoo!

“Kwon Sunjoo!” Tangisku. Tuhan! Kenapa takdir yang kau berikan harus semiris ini? Tuhan! Tidak bisakah kau membuatnya hidup lebih lama lagi? Tidak bisakah kau memberinya kesempatan untuknya untuk terus bersamaku, mengejar mimpinya dan impiannya? Tuhan! Kenapa harus sekejam ini? Kenapa?!

Seorang perawat menutup wajahnya dengan kain putih. Aku terus menangis, menyesali semua takdir yang sudah tergurat di kertas dunia Yang Maha Kuasa. Padahal, dia baru saja menjadi pacarku. Padahal, belum ada lima menit dia menikmati indahnya berbagi rasa cinta denganku! Belum ada lima menit aku menyatakan perasaanku padanya! Belum ada lima menit!

Mataku rasanya berkunang kunang dan penglihatanku berkurang. Suara suara yang kudengar kini hanya menjadi sayup sayup suara samar. Makin lama, yang aku lihat semakin menghitam. Lalu, kesadaranku berkurang dan aku pun terjatuh pingsan.

***

Nisan putihnya menjulang keatas. Aku menatapnya terus tanpa berkedip. Didekat nisan itu, terdapat foto Sunjoo dengan karangan bunga manis untuknya. Seseorang yang paling kucintai, paling kudambakan dan paling kukasihi kini sudah tiada lagi untuk selama lamanya.

“Sudahlah! Relakan saja dia pergi.” Ujar Donghae sembari menepuk pundakku. “Masih banyak yeoja di dunia ini. Kau bisa cari penggantinya yang lebih baik.” Katanya.

“Tidak mau!” Tolakku. “Sunjoo lebih baik dari yeoja yang ada di dunia ini. Dia paling cantik, yeoja yang dapat mengerti aku. Cuma dia yeoja yang paling aku cintai. Huaa…” Kataku dengan tangis diujung kalimat.

“Ah, kau ini cengeng sekali!” Seru Donghae. “Masih ada Sunbaek, kan? Kau bisa mengejar cintanya!” Lanjutnya.

“Sunbaek?” Tanyaku. “Si komedo maksudmu? Aish… masa namja tampan dan paling hebat sedorm Super Junior ini disuruh berpasangan dengan si komedo itu, mau ditaruh dimana wajahku ini!” Tolakku.

Donghae mendengus, “Ya sudah kalau begitu.” Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari jacketnya. “Untuk menghiburmu, jadi aku berikan ini. Ambillah!”

Aku menoleh dan melihat apa yang dipegang Donghae.

Itu pisang!

Benar benar pisang!

Pisang!

Pisang!!!

PISANG!!!

Tapi, kenapa dia harus memberiku pisang?

Aku mendengus, “Bukan saatnya untuk makan pisang.” Tolakku. “Simpan saja pisangnya untuk nanti.” Suruhku.

“Ah, yang benar?” Tanya Donghae menggodaku. Ia terus menyodorkan pisangnya ke depan wajahmu, “Ah, lihat pisang ini, menggiurkan sekali. Kuningnya sangat menggoda dengan lekuk badan yang lonjong sempurna. Pasti rasanya manis dan lezat.” Katanya.

Aku melirik sedikit kearah pisang itu. Benar, begitu kuning dan lonjong. Pasti lezat. Luarnya saja sudah terlihat menggiurkan. Aku menelan ludahku.

“Boleh, deh!” Kataku lalu memakan pisang yang disodorkan Donghae.

“Benar kan, kau pasti mau.” Ujarnya sembari menepuk pundakku. Aku tidak menghiraukannya dan masih sibuk dengan mulutku yang sudah penuh dengan pisang. “Masih banyak pisang di mobilku. Kau boleh menghabiskannya, yang penting sekarang kita pulang dulu. Ayo!” Ajaknya. Aku mengangguk lalu mengikuti Donghae pergi meninggalkan makam Sunjoo.

Sunjoo, mungkin kita tak bisa bersama. Tapi, aku berjanji di hatiku yang paling dalam, aku akan terus mengingatmu dan tidak akan pernah melupakanmu. Nanti, pasti akan aku cari sosok cantik dirimu di surga. Ragamu memang sudah hilang, tapi jiwamu tetap hidup selamanya dalam benakku.

*THE END*

 

 

 

 

 

 

[1] Perempuan, wanita, gadis
[2] Aku tahu, mengerti
[3] Kakak lelaki (disebut oleh perempuan)
[4] Terima kasih
[5] Kakak lelaki (disebut oleh lelaki)
[6] Astaga, ya ampun
[7] Bodoh
[8] Tolong, mohon, kumohon
[9] Kenapa
[10] Apa
[11] Tidak apa apa, tak apa apa
[12] Yang termuda, yang paling muda
[13] Maaf
[14] Laki laki
[15] Sama sama

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: