[Donghae’s Day] To The One I Love

BdD_NLaCAAAXJgh.jpg-large

Author  : krezyeee

Theme  : romance

Tittle      : To the One I Love

Genre    : Romance, comedy, happy ending

cast        : lee donghae, Han cheonsa ( OC), And other cast

Rating   : PG-13

Length  : One Shoot

 

~0~

 

Raut wajah cheonsa kembali terlihat muram begitu sebuah perusahaan lagi-lagi menolak lamaran pekerjaannya. Dengan berat hati, cheonsa mencoba untuk tersenyum kepada jung ji woon, lelaki tua di hadapannya yang telah mewawancarainya, mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai tanda terima kasih karena telah memberikan waktu kepadanya untuk sekedar memberinya kesempatan untuk memperlihatkan potensinya.

“Mohon agasshi[1] untuk tetap bersabar dan jangan mudah untuk putus asa” ji woon menepuk bahu cheonsa untuk memberikannya sedikit harapan untuk lebih berlapang dada.

Tak luput perlakuan ji woon tersebut membuat cheonsa begitu penuh dengan rasa keheranan. Untuk waktu sebelumnya, setiap orang yang mewawancarainya selalu bersikap tegas dengan pandangan begitu meremehkan atau bahkan berbicara dengan nada keras kepadanya karena cheonsa hanyalah seorang gadis yang merupakan lulusan dari sekolah menengah atas, tetapi lelaki tua di depannya itu begitu berbanding terbalik dengan orang-orang yang pernah ia temui sebelumnya.

Karena tidak ingin terlalu banyak berpikir, cheonsa pun segera mengakhiri pembicaraan panjang mereka yang terasa membuang-buang waktu tersebut.

“nde[2].Gomapseumnida[3]. Saya pamit pergi, tuan” cheonsa kembali membungkuk dan selanjutnya membalikan badannya, berjalan dengan langkah gontai menuju pintu keluar dari ruangan tersebut.

 

~0~

 

Di sebuah ruangan, terlihat seorang lelaki tua tengah melakukan perbincangan yang serius dengan seorang lelaki muda tepat dihadapannya. Lelaki tua tersebut terlihat begitu geram atas apa yang telah lelaki muda itu utarakan beberapa waktu yang lalu.

“Lee donghae” geram sang lelaki tua dengan nada yang terdengar sarat dengan kekesalan yang begitu memuncak pada sosok yang ada di hadapannya itu.

“Aku mengangkatmu sebagai cucuku, membesarkanmu, mendidikmu sampai kau seperti sekarang ini dan kau malah menginginkan untuk melepas semua yang telah aku berikan kepadamu begitu saja, tidakkah kau pikir ini sangat menggelikkan?” tanya lelaki tua dengan nada begitu keras, kentara sekali antara perasaan kesal dan kecewa yang memuncak didalam dirinya.

“harabeonim[4]!” lee donghae menghentikan ucapannya. Jelas terlihat oleh kedua sudut matanya, sosok yang berada di depannya tersebut tengah penuh diliputi rasa kekecewaan atas dirinya. Bukan tanpa alasan ia mengutarakan apa yang ada dalam hatinya. Sejujurnya, ia merasa lelah untuk selalu hidup berada dibawah kehendak sang kakek dan selalu mengikuti apa yang sang kakek inginkan terhadap hidupnya.Impiannya untuk bisa menghirup udara bebas, menjadi dirinya sendiri, dan berusaha untuk hidup dengan usahanya sendiri. Itulah satu-satunya alasan terkuat lee donghae, kenapa ia benar-benar menginginkan untuk pergi dari rumah yang bahkan lebih terlihat seperti istana tersebut dan melepas semua kemewahan yang telah ia dapatkan selama masa hidupnya.

“harabeonim, tidak bisakah anda untuk mempertimbangkannya?” lee donghae benar-benar berharap, ia menatap sang kakek di hadapannya dengan penuh kecemasan menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut sang kakek tua konglomerat tersebut.

“Semua orang didunia ini menginginkan untuk hidup seperti kau, tapi kau malah ingin melepasnya begitu saja. Kurasa kau sudah gila, Lee donghae” tegas sang kakek.

“Kau pikir, kau akan hidup sejahtera jika kau keluar dari rumah ini, lee donghae?” tanya sang kakek dengan pandangan meremehkan.

“harabeonim, saya telah beranjak dewasa, saya bisa menjaga diri saya sendiri. Mohon izinkan saya!” seketika secercah harapan meledak dalam pikiran lee donghae setelah ia menerima pertanyaan dari sang kakek tersebut.

“ka[5]!” seketika lee donghae mendongak mendengar nada suruhan dari sang kakek.

“harabeonim” gumam lee donghae.

“Pergi dari hadapanku sekarang juga!” amarah sang kakek benar-benar sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

“harabeonim”.

“ka!” sang kakek kembali berteriak tak terkendali.

Tidak ingin semakin memperkeruh suasana dan membuat amarah sang kakek meledak yang berpotensi untuk mengancam kesehatannya, lee donghae kali ini menyerah untuk meyakinkannya. Dengan langkah yang begitu berat, lee donghae berbalik memunggungi sang kakek dan berjalan menuju pintu keluar dari ruangan tersebut. Sejenak, ia terdiam sebelum benar-benar keluar dari ruangan tempat kakeknya tinggal.

“Mohon harabeonim untuk mempertimbangkannya!”.

Sang kakek membuang nafas dan mengalihkan pandangan penuh kekesalannya dari sosok tegap di depannya.

“Aku tidak akan pernah mempertimbangkannya, lee donghae. Lupakan semua keinginan tololmu itu dan kuanggap perbincangan kita kali ini tidak pernah terjadi. Sekarang, keluar dari ruanganku!” sang kakek berkata dengan tegas. Lee donghae sendiripun hanya bisa memejamkan matanya, menghela nafas penuh kekecewaan atas keputusan sang kakek. Masih dengan langkah begitu berat, juga dadanya yang terasa penuh oleh sesak, ia keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintu begitu saja dengan pandangan yang sarat dengan kekosongan.

Di dalam ruangan yang telah lee donghae tinggalkan, tubuh sang kakek merosot dan terduduk lemah begitu saja. Raut wajahnya terlihat begitu pucat, tangannya ia arahkan untuk memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Sejujurnya, lelaki tua yang sudah telalu rentan itu tidak tahu bagaimana sikap yang harus ia perlihatkan untuk menghadapi situasi saat ini. Berbagai hal terus berkecamuk didalam pikiran lelaki tua tersebut, sebelum tiba-tiba suara telepon berdering di sampingnya, mengalihkan perhatiannya.

Dengan pelan lelaki tua tersebut beranjak dari tempat duduknya untuk mengangkat gagang telepon. Sampai pada akhirnya, ujung gagang telepon tersebut kini bersentuhan dengan telinganya.

“annyeonghasimnikka[6], sajangnim[7]” seru seseorang di seberang telepon.

“nde. Ini aku sendiri, jang. Apakah telah ada perkembangan yang kau dapatkan?”

“Sesuai dengan perkiraan anda, sajangnim. Sore ini, agasshi pergi melamar pekerjaan pada sebuah cabang dari salah satu perusahaan anda.Namun, dengan menyesal harus saya katakan bahwa agasshi tetap ditolak mentah-mentah, sajangnim”.

“Kurang ajar. Siapa yang berani menolak mempekerjakan cucuku, jang?” amarah sang kakek yang hampir reda, kembali tersulut.

“Mohon anda untuk tenang, sajangnim. Mohon maafkan atas kelancangan saya ini, tetapi bukankah anda sendiri yang mengatakan untuk tetap merahasiakan status agasshi sebagai cucu anda?” tanya jang begitu hati-hati.

Sang kakek tersentak mendengar ucapan jang. “kau benar, jang. Aku hanya terlalu emosi mendengar penuturanmu barusan”.

“Hidup cucuku benar-benar penuh dengan kemalangan, begitu kan jang?” gumam sang kakek sarat dengan penuh penyesalan.

“Dengan penuh penyesalan, harus saya katakan jika agasshi memang telah mengalami kesulitan semasa hidupnya, sajangnim”.

“Dengan kenyataan seperti ini, tidakkah anda ingin untuk segera membawanya kerumah ini, sajangnim?” tanya jang dengan ragu membuat Sang kakek seketika tertohok dengan ucapan jang tersebut. Di dalam hati terdalamnya, sang kakek benar-benar sudah ingin mengakuinya dan membawa cucu kandung satu-satunya tersebut kemari sejak dahulu. Tetapi, beberapa faktor membuat ia harus mengurungkan niatnya tersebut, terutama faktor dari adanya pergolakan politik yang sedang terjadi dalam perusahaan mengingat lee donghae yang ingin menyerahkan posisinya. Hal-hal tersebut membuatnya harus bersabar, menunggu waktu yang tepat, dan menyiapkan dirinya sendiri untuk segala resiko jika ia membeberkan semua kebenaran yang telah ia tutupi selama ini.

“sajangnim, sepertinya anda sedang dalam suasana hati tidak baik. Benarkah dugaan saya?” terka jang pada sang kakek.

Tak bisa menyangkal praduga jang, Sang kakek sedikit tersenyum mendapat pertanyaan tersebut. “kapan kau salah menerka,jang? Sudah berpuluh-puluh tahun hidup di sampingku, Kau tidak mungkin tidak mengetahui bagaimana diriku”.

“terlalu banyak hal yang tengah aku pikirkan, jang. Sepertinya, aku benar-benar membutuhkan waktu untuk beristirahat sejenak. Jika ada perkembangan lagi, segera hubungi aku kembali, jang”.

Tanpa menunggu balasan dari jang, kakek mengakhiri pembicaraan dan menutup teleponnya begitu saja. Ia beranjak menuju sisi tempat tidur, berniat untuk memBaringkan tubuhnya beberapa waktu sekedar untuk mengistirahatkan dirinya dari penat yang berhasil mengalihkan fokusnya dari sang cucu.

 

~0~

 

Dijalanan besar, Lee donghae terlihat tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan yang masih terbilang normal. Kegusaran jelas dapat dipastikan dari perilakunya dalam mengemudi. Pikirannya terlihat dengan jelas tengah melayang pergi entah kemana, pandangannya pada jalanan terlihat begitu kosong, membuat khawatir orang yang tidak sengaja melihat keadaannya yang tengah mengendarai mobil tersebut.

Tidak menyadari warna dari rambu-rambu lalu lintas yang telah berpindah menjadi merah, lee donghae hampir saja menabrak seorang gadis yang tengah menyebrang jika saja kesadarannya tidak segera kembali. Lee donghae segera menghentikan mobilnya yang hanya berjarak beberapa centi meter dari tempat sang gadis yang tengah duduk tertunduk lemah karena tarlalu kaget dan ketakutan dengan kedatangan mobil yang hampir saja merenggut nyawanya tersebut.

Terlihat orang-orang yang tengah berada di sekitar lokasi kejadian, dengan segera berbondong-bondong mendekati tempat sang gadis berada. Lee donghae segera memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan dengan raut muka ketakutan sekaligus cemas. Ia segera keluar dari mobilnya, mendekati gadis yang hampir ia tabrak untuk melihat kondisinya yang sekarang telah orang-orang tuntun ke pinggir jalanan untuk ditenangkan. Lee donghae terus mengucapkan rasa bersalahnya, membungkukan badannya kepada setiap orang yang memaki perbuatannya yang hampir merenggut nyawa orang lain tersebut. Pada akhirnya, orang-orang tersebut satu-persatu pergi membubarkan diri setelah sang gadis mengatakan jika dirinya dalam keadaan baik-baik saja dan tidak perlu untuk mengkhawatirkannya.

“agasshi, apa kau benar-benar tidak terluka?” tanya donghae khawatir.

“aku baik-baik saja, tuan” jawab sang gadis lemah semakin menundukkan kepala melihat lututnya yang terasa sedikit nyeri.

“Mungkin memang aku yang terlalu ceroboh tadi”.

“animnida[8]. Akulah yang bersalah disini, agasshi. Tadi, Aku memang benar-benar sedang tidak berkonsentrasi” lee donghae menyangkal pengakuan sang gadis.

“apa yang terjadi dengan lututmu, agasshi?” seketika lee donghae benar-benar cemas melihat sang gadis meringis kesakitan memegangi lututnya, spontan tubuhnya ikut merosot untuk melihat dengan lebih jelas keadaan lutut dari sang gadis.

omo[9]. Kau terluka, agasshi. Kita harus segera pergi kerumah sakit, mungkin saja ada luka di bagian tubuhmu yang lain” cemas lee donghae terus memusatkan perhatiannya pada lutut sang gadis.

“animnida. Ini hanya luka kecil saja, tuan”.

“bagaimana mungkin…” seketika ucapan lee donghae terhenti begitu pandangan kedua matanya bertemu pandang secara tak sengaja dengan kedua mata sang gadis. Jantungnya tiba-tiba terasa aneh untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pernafasannya seakan terhenti ketika melihat binar dari sorot mata sang gadis di hadapannya tersebut. Kedua bola mata yang berwarna keabuan yang seakan menyala memperlihatkan sorot mana yang indah namun mencerminkan sesuatu yang amat dalam dan pedih sekaligus menyejukkan orang yang memandangnya. Lee donghae seakan telah tersihir oleh sorot mata gadis itu. Ia tidak bergerak sedikitpun, sebelum tiba-tiba sang gadis berubah posisi terlebih dahulu dan tiba-tiba saja berdiri.

“biarkan aku pergi, tuan!” Sang gadis beranjak pergi meninggalkan lee donghae yang masih bingung dengan apa yang terjadi dengannya barusan.

Lee donghae baru tersadar dari lamunannya ketika sang gadis sudah berjalan agak jauh dari posisinya.

“agasshi, jamkkanmanyo[10]!” lee donghae berdiri, ia segera berlari mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh sang gadis dan mencengkeram tangan kirinya. Gadis tersebut akhirnya berbalik dan menatap tajam pada lee donghae.

“aku tidak bisa lepas tangan begitu saja, agasshi. Aku yang telah membuatmu terluka, maka akupula yang harus bertanggung jawab. Untuk itu, biarkan aku membawamu ke rumah sakit” lee donghae mencoba meyakinkan. Sang gadis mengernyit, tersentak dengan ucapan lee donghae.

“Baik, tuan. aku akan menurutimu, kau puas?” gadis tersebut menyerah, tidak mau membuang-buang waktu untuk berdebat dengan lelaki dihadapannya. Lee donghae yang merasa menang, seketika tersenyum mendengar jawaban dari sang gadis, tanpa berkata-kata lagi iapun menuntun gadis yang sedikit terpincang-pincang tersebut kedalam mobilnya.

 

~0~

“Bagaimana, cheonsa-ya[11]? Apa yang dikatakan uisanim[12]?” lee donghae segera memberondong pertanyaan pada gadis yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.

Di perjalanan menuju rumah sakit, mereka berdua memang sempat berbincang-bincang, saling memperkenalkan diri masing masing, sehingga membuat mereka terlihat lebih akrab seperti sekarang.

“tidak ada luka yang serius, donghae… oppa[13]. Kekhawatiranmu berlebihan, lututku hanya sedikit lecet” terlihat cheonsa yang masih agak canggung untuk memanggil lee donghae dengan panggilan yang lebih akrab seperti barusan tersebut.

“sukurlah jika memang begitu” lee donghae terlihat lega mendengarnya. Ia baru saja berniat memegang bahu cheonsa untuk menuntunnya, sebelum gadis itu malah bergeser berlawanan arah dengan posisi donghae berdiri.

“tidak perlu, donghae.. oppa. Aku bisa pulang sendiri. Terima kasih karena telah mengobatiku” Cheonsa membungkukan badannya dan berniat untuk pergi, sebelum donghae kembali menghalangi langkahnya. Cheonsa tercekat mendapat perlakuan seperti ini kembali dari lee donghae, lelaki yang baru ia kenal beberapa jam terakhir tersebut. Ia kembali mendongak, menatap lee donghae dengan garang.

“aku tidak bisa membiarkan seorang wanita pulang sendiri ketika waktu sudah beranjak mendekati malam seperti ini, cheonsa-ya. Apalagi, Aku yang bertanggung jawab membuatmu pulang pada waktu hampir malam seperti ini. Untuk itu, aku harus mengantarmu pulang sampai di depan rumahmu dengan selamat dan kau, tidak berhak untuk menolaknya” tanpa menunggu jawaban dari cheonsa, lee donghae mecengkram tangan kanannya dan membawanya berjalan keluar dari rumah sakit. Secercah perasaan aneh menyelimuti hati cheonsa. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mendapat perlakuan istimewa seperti sekarang. Iapun hanya bisa menuruti kemauan lee donghae dan mengikutinya dengan pasrah, tanpa sedikitpun melakukan penolakan dan mengeluarkan komentar dari mulutnya.

 

~0~

 

“Jadi disini tempatmu tinggal, cheonsa-ya?” di depan sebuah rumah yang sangat sangat telihat begitu sederhana, lee donghae terlihat ragu untuk bertanya pada cheonsa.

“nde. Seperti yang kau lihat, oppa. ini memang rumahku” jawab cheonsa.

“sepertinya rumahmu terlihat begitu sepi, cheonsa-ya. Dimana kedua orangtuamu? apakah mereka belum pulang dari bekerja?” tanya lee donghae dengan cukup hati-hati.

Seketika pertanyaan tersebut membuat raut wajah cheonsa berubah dan donghae baru menyadari jika apa yang telah dikatakannya barusan telah membuat cheonsa bersedih.

“apa sesuatu terjadi dengan kedua orangtuamu, cheonsa-ya? Maaf jika aku telah menyinggungmu” lee donghae merasa amat bersalah atas ucapan yang ia lontarkan Barusan.

“animnida. Tidak apa, oppa. Dahulu, disini aku hanya tinggal berdua dengan ibu angkatku. Beberapa bulan yang lalu, beliau baru saja meninggal. Sekarang, aku hanya tinggal sendiri, oppa” cheonsa mencoba tersenyum pada donghae, tidak ingin membuat lee donghae kembali merasa bersalah padanya.

“aku masuk ya, oppa. Segeralah pulang kerumah. Annyeonghasimnikka, oppa” tidak menunggu jawaban donghae, cheonsa berbalik dan berjalan kedalam rumah meninggalkannya yang tengah termangu dalam posisi menatap setiap langkah cheonsa. Lee donghae masih tidak bisa percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar sekarang. Tidak bisa mempercayai, bahwa ada seseorang yang tinggal di tempat seperti yang terlihat didepannya, dan juga apa yang di dengarnya barusan dari mulut cheonsa membuat ia benar-benar kagum pada sosok tersebut. Di tengah kepiluan yang dihadapi oleh cheonsa, ia masih bisa telihat tegar dan tersenyum seperti barusan, dan itu membuat lee donghae semakin terlarut akan perasaannya pada sosok yang baru ia kenal beberapa jam tersebut. Tekadnya menjadi semakin besar untuk mencapai impiannya yang terhalang oleh sang kakek. Ia berniat untuk terus berusaha meyakinkan sang kakek.

 

~0~

 

Di dalam sebuah kamar megah yang bahkan terlihat lebih luas dari rumah yang di tempati oleh cheonsa, lee donghae tengah berjalan kesana-kemari, memegang telepon genggamnya dengan gusar. Ia tengah menimbang-nimbang untuk menghubungi cheonsa ataukah tidak. Lee donghae melempar teleponnya tersebut ketempat tidur dengan cukup ragu. Ia terdiam beberapa saat memperhatikan telepon genggam yang tergeletak begitu saja diatas tempat tidur untuk menimbang-nimbang kembali keputusannya. Pada akhirnya, ia mengambil telepon genggam tersebut dan dengan bergerak cepat ia menekan tombol berangka satu. Cukup lama ia menunggu dengan perasaan gusar, akhirnya sambungan tersebut terhubung dengan seseorang.

“annyeong[14]” sapa cheonsa di seberang sana.

ah, annyeong, cheonsa-ya” ucap lee donghae begitu gugup.

oh, donghae oppa?” tanya cheonsa.

“nde. Ini aku, cheonsa-ya”.

“oppa, ada apa meneleponku selarut ini?”.

“hanya merindukanmu” ujar lee donghae spontan tanpa ia sadari.

“apa? Apa yang oppa katakan barusan?” cheonsa tidak terlalu jelas mendengar ucapan lee donghae.

“tidak, lupakan. Aku tidak mengatakan apapun, cheonsa-ya” Lee donghae langsung saja mengelak saat tersadar dengan apa yang baru saja ia katakan.

ah, sukurlah. Kukira ada sesuatu yang ingin oppa sampaikan” lee donghae mendesah lega mendengar penuturan cheonsa.

ehm, apa yang tengah kau lakukan selarut ini, cheonsa-ya? Kukira kau sudah tidur dan tidak akan mengangkat teleponku” gumam lee donghae.

“aku sedang berbenah untuk pulang, oppa”

“pulang? Bukankah kau sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu bersamaku, cheonsa-ya?” tanya donghae penasaran.

“yang oppa katakan memang benar. Tetapi, aku berangkat lagi setelah oppa pergi”.

“memangnya kau pergi kemana sampai selarut ini, cheonsa-ya?”.

“aku pergi ke Bar untuk bekerja, oppa” ucap cheonsa terlihat ragu.

“apa? Bar? Apa yang tengah kau lakukan disana, cheonsa-ya?” donghae terlihat benar-benar khawatir mendengar pernyataan cheonsa.

“oppa, kenapa aku merasa kau khawatir denganku? Aku disini hanya bekerja sebagai pelayan yang menyiapkan minuman, tidak lebih” cheonsa mencoba menjelaskan.

“kau masih disitu kan? Kau tunggu di depan Bar, jangan pergi kemana-mana. Smskan alamat Bar tersebut padaku, aku akan segera menjemputmu”.

“oppa” belum selesai cheonsa ingin memprotes, lee donghae sudah mengakhiri pembicaraan mereka sepihak. Cheonsa pun malah menuruti perkataan lee donghae.

 

 

~0~

 

“Oppa, kenapa kau diam saja?” cheonsa merajuk karena tidak satu patah katapun keluar dari mulut lee donghae begitu ia melajukan mobilnya sejak beberapa menit yang lalu.

“oppa, kenapa kau seperhatian ini padaku? Kita tidak memiliki hubungan apapun, tidakkah sikap oppa terlalu berlebihan untuk orang sepertiku?” cheonsa mengeluarkan argumennya.

“bagaimana mungkin aku bisa mengacuhkan gadis yang kusukai untuk pergi ke tempat seperti itu sampai tengah malam seperti ini, cheonsa-ya?” lee donghae akhirnya bersuara.

“oppa” cheonsa membekap mulutnya, terkejut dengan pernyataan lee donghae barusan.

“apa yang oppa katakan barusan, tidak benar bukan? Oppa bercanda, kan?”

“Ini terlalu cepat, oppa”

“aku menyukaimu, itu benar, cheonsa-ya. Kurasapun, ini memang terlalu cepat. Tetapi, itulah perasaan yang aku rasakan untukmu Sejak pertama kali melihatmu setelah kecelakaan tadi sore. Tidakkah kau bisa melihat ketulusanku?”

“oppa” cheonsa masih tidak bisa mempercayai sebuah ungkapan perasaan yang masuk kedalam pendengarannya barusan. Cheonsa menjadi gugup dan seketika canggung untuk duduk berdampingan dengan lee donghae. Kesunyian tiba-tiba saja tercipta dari pembicaraan kedua orang tersebut. Tidak ada sepatah katapun meluncur dari bibir lee donghae atau cheonsa kala itu, sampai akhirnya mobil yang tengah dikendarai oleh lee donghae berhenti tepat di depan kediaman cheonsa.

Begitu menyadari jika ia telah sampai pada tempat tujuannya, cheonsa segera beranjak membuka pintu untuk keluar dari dalam mobil.

“oppa, terima kasih sudah mau mengantarku pulang. Maaf untuk merepotkanmu” cheonsa berucap sembari membungkuk sesaat sebelum ia benar-benar menutup pintu mobil lee donghae.

“cheonsa-ya” panggil lee donghae. Cheonsa yang mendengarnya samar-samar, tidak menggubris sama sekali dan terus melangkahkan kakinya memasuki rumah sedangkan Lee donghae masih tetap tak bergeming ditempatnya memandang kepergian cheonsa.

 

~0~

 

“Jang, kau kemari pasti untuk memberitahukanku sesuatu bukan?” kakek megernyit menatap jang dengan pandangan penasaran.

“nde. Anda benar, sajangnim”

“lantas, apa yang ingin kau sampaikan padaku?

“begini, sajangnim. Beberapa hari terakhir ini, bawahan saya melihat tuan muda hampir setiap hari mengunjungi tempat bekerja agasshi dan terlihat mendekatinya walaupun agasshi sepertinya acuh tak acuh kepadanya”

“benarkah?” sang kakek sempat terkejut dengan penjelasan dari jang meskipun pada akhirnya ia tersenyum lega.

“Inikah takdir yang begitu mempermainkan, jang? Benar-benar ironi dan penuh keterkejutan” ucapan sang kakek berakhir dengan tawa terbahak-bahak dengan perasaan senang yang meluap.

“jang, Kurasa kau juga harus mengawasi donghae”.

 

 

~0~

 

Tok,tok,tok.

Terdengar suara ketukan pintu di kediaman cheonsa yang membuat ia harus menghentikan pekerjaannya yang tengah mencuci piring. Cheonsa melepas sarung tangan pada kedua telapak tangannya dan beranjak menuju pintu bagian depan rumahnya. Begitu cheonsa membuka pintunya, raut keterkejutan tak bisa ia sembunyikan begitu melihat sosok seseorang yang wajahnya tak bisa terlihat oleh kedua matanya karena terhalangi oleh seikat bunga tak ia kenal jenisnya yang terbungkus dengan rapi. Sosok tersebut menurunkan ikatan bunga tersebut dengan pelan.

“donghae oppa” kaget cheonsa.

“Apa yang tengah kau lakukan pagi-pagi seperti ini di kediamanku, oppa?” tanya cheonsa dengan pandangan menyelidik.

Lee donghae tersenyum, “hanya ingin menyapamu di pagi hari yang begitu dingin, dan memberikanmu ini” donghae menyerahkan bunga tersebut pada cheonsa.

“ini, apa oppa?” cheonsa masih tidak bisa mencerna dengan baik arti dari perilaku lee donghae.

“ini adalah bunga daisy. Kau pernah mendengarnya?” cheonsa hanya mengangguk menanggapi pertanyaan lee donghae.

“pernahkah kau tahu lambang dari bunga daisy ini?” dan cheonsa hanya menggeleng tanda tak tahu.

“kau lihat bunga daisy yang berwarna kuning, bunga ini melambangkan sebuah kehangatan dan semangat. Sama seperti dirimu, han cheonsa. Bersamamu membuatku untuk pertama kalinya bisa merasakan perasaan hangat itu seperti apa, dan kau pula yang menjadi penyemangat dalam rutinitasku yang benar-benar sangat membosankan”

ah, lihatlah yang putih ini juga. Putih melambangkan kepolosan, kemurnian, kelembutan juga kesederhanaan dan Itu semua bisa aku lihat dan aku rasakan darimu, cheonsa-ya”

“yang terakhir, bunga ini yang paling penting dari semua bunga” lee donghae mengeluarkan setangkai bunga mawar putih di depan cheonsa yang sempat ia sembunyikan di balik punggungnya.

Cheonsa memandang lee donghae dengan pandangan yang sulit untuk diartikan, kentara sekali antara pandangan penuh akan sebuah kekaguman, terharu dan rasa tak percaya pada sosok di depannya itu.

“kau pasti tahu arti dari mawar putih kan, cheonsa-ya?” lee donghae balik menatap cheonsa dengan lekat.

“aku hanya tahu sedikit, oppa“ Cheonsa hanya mengangguk dan bergumam pelan dengan pandangan tetap ia fokuskan pada lee donghae.

“mawar putih ini melambangkan sebuah cinta sejati, kesucian hati dan kemurnian dari cinta. Inilah yang ingin aku ungkapkan padamu melalui bunga-bunga ini, cheonsa-ya. Tidak ada sama sekali keraguan dalam perasaanku terhadapmu. Mengenalmu dan mengetahuimu lebih dalam menjadikanku sosok yang berbeda, menjadikanku seseorang yang lebih baik”.

“lihatlah kedalam mataku, han cheonsa. Apa kau melihat kebohongan tertera di dalam sana?” cheonsa menggeleng lemah menanggapi pertanyaan lee donghae.

“tidakkah kau melihat sebuah ketulusan dariku?” Lee donghae menatap cheonsa dengan penuh perasaan menunggu jawaban dari cheonsa.

“aku melihatnya, oppa. Aku melihatnya” tanpa bisa terbendung lagi, cheonsa berhambur memeluk tubuhnya yang tentunya disambut oleh kelegaan yang begitu besar oleh lee donghae.

“aku mencintaimu, han cheonsa” lee donghae berucap dengan tulus di dekat telinga cheonsa.

“aku juga mencintaimu, lee donghae”

Lee donghae melepaskan pelukannya dan menatap cheonsa dengan pandangan tak percaya dengan ucapan yang di utarakan oleh cheonsa barusan.

“jadi, selama ini kau juga mencintaiku?” tanya donghae dengan nada menggoda.

“oppa, aku tidak akan menerimamu seperti sekarang jika aku tidak mencintaimu” cheonsa menggembungkan pipinya.

“dasar kau” lee donghae mengacak rambut cheonsa dengan gemas.

“oppa, kau pagi-pagi sekali kemari, apakah sempat sarapan terlebih dahulu?”

“melihat senyummu aku sudah merasa kenyang, cheonsa-ya”

“aku serius, oppa” cheonsa merenggut mendengar jawaban dari donghae.

“baiklah, baiklah. Sebenarnya, pagi ini aku sama sekali belum sarapan. Aku terlalu bersemangat untuk segera menemuimu”

“oppa, kau tidak menyayangi tubuhmu” cheonsa terlihat kesal mendengar penuturan donghae.

“kalau begitu, aku sarapan disini saja bersamamu, bagaimana?” bela donghae.

ehm, boleh-boleh saja. Tetapi, sepertinya aku kehabisan bahan makanan. Aku hanya memiliki kimchi[15] dan ramyeon[16] saja, oppa. Apa kau mau? Makanan yang selalu oppa makan pasti makanan-makanan mewah”

“tidak juga. Kau tahu? Kimchi adalah salah satu makakan kesukaanku. Untuk ramyeon, aku benar-benar ingin sekali mencobanya. Di rumah, aku sama sekali tidak diperbolehkan memakan makanan instan”

“Cheonsa-ya, bagaimana kalau kita pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan? sepertinya hanya kimchi dan ramyeon saja tidak akan membuat kita kenyang” usul lee donghae sembari mengusap-usap perutnya.

“oppa ini sepertinya rakus juga ya” gumam cheonsa bercanda dan membuat lee donghae terkekeh.

“baiklah, oppa. Aku ganti baju dulu sebentar, nde? Kau tunggu disini!”

 

~0~

 

Untuk kesekian kalinya, Cheonsa kembali terkekeh melihat kelakuan lee donghae yang membawa sekarung kecil penuh dengan lobak besar ditangannya.

“oppa, simpan lagi itu. Kau kira kita akan memasak untuk seratus orang?” cheonsa memperlihatkan bungkus kecil dari lobak yang akan mereka masak.

Bagaimana mungkin cheonsa tidak berkspresi seperti itu ketika lagi-lagi lee donghae membawa makanan yang besar ke dalam troli belanjaannya. Kali ini, bahkan lee donghae memanggul sekarung kentang didalam bahunya yang sukses membuat cheonsa mendelik tidak percaya.

“oppa” kesal cheonsa menatap donghae tajam. Lee donghae yang mengerti tatapan mematikan itu seketika terkekeh dan segera mengembalikan sekarung kentang tersebut ketempat asalnya.

Tanpa sepengetahuan cheonsa yang tengah sibuk memilih bahan makanan, lee donghae memasukan berbagai makanan ringan kedalam troli. Begitu dirasa cukup bahan makanan yang diperlukan oleh mereka, Cheonsa kembali mendekati troli belanjaannya. merekapun segera pergi ke depan kasir untuk membayar.

“joesonghamnida[17] eonni[18], ini sepertinya tidak jadi saya beli” ujar cheonsa begitu melihat barang yang tidak ia kenal pernah ia masukkan kedalam troli.

ah, ini juga, ini, yang itu juga eonni” cheonsa sibuk menyingkirkan berbagai makanan yang pastinya dimasukkan oleh lee donghae kedalam troli belanjaannya. ia berbalik dan menatap garang lee donghae yang langsung berpura-pura mengalihkan pandangannya kesembarang tempat.

“oppa” geram cheonsa dengan penuh tekanan.

 

~0~

 

“Cheonsa-ya, Kenapa kau menyimpan kembali makanan yang sudah kusiapkan tadi, heum?” tanya lee donghae begitu mereka menyimpan kantong berisi belanjaan di dapur.

“oppa ini, aku harus berhemat. Uangku samasekali tidak cukup untuk membeli semua yang oppa bawa tadi”.

“bukankah aku bisa yang membayarnya?”

“tidak boleh. Oppa itu sebagai tamu disini, dan aku sebagai tuan rumah harus melayanimu dengan sebaik-baik dan semampu yang aku bisa” ucap tegas cheonsa membuat lee donghae terpana menatapnya penuh bangga. Dalam waktu sepersekian detik, donghae mencium bibir cheonsa sekilas meluapkan rasa bahagia didalam hatinya setelah berhasil menaklukan hati cheonsa. Tak urung, perlakuannya tersebut membuat cheonsa seketika mematung untuk beberapa saat. Cheonsa memegang bibirnya yang masih jelas terasa bekas perbuatan dari lee donghae itu.

“oppa” dengan masih memegang bibirnya, cheonsa memandang lee donghae tak percaya.

“kau telah merebut ciuman pertamaku”.

Lee donghae terkekeh melihat perilaku cheonsa yang terlihat seperti anak kecil itu, “tidak apa kan? Sekarang aku sudah menjadi kekasihmu, jadi wajar-wajar saja untukku melakukannya”

“bagi oppa ini memang wajar, tetapi bagiku? Ini pertama kalinya dalam hidupku”

“kenapa oppa tiba-tiba melakukannya?”

“jadi aku harus bagaimana, heh? Apa aku harus meminta izin terlebih dahulu?” Lee donghae mendekatkan tubuhnya pada cheonsa. Cheonsa sendiripun dengan tiba-tiba mendorong tubuh lee donghae menjauh sampai ia hampir terjatuh.

“menjauh! menjauh dariku, oppa! Jangan dekat-dekat!” interupsi cheonsa sembari mengacungkan jari telunjuknya.

“kubilang menjauh oppa, bukan mendekat!”

“oppa, kau tidak boleh mendekatiku lebih dari jarak satu meter, mengerti?”

“mworago[19]? Han Cheonsa, kau tidak boleh menghukumku seperti itu” protes lee donghae saat mendapatkan interupsi dari cheonsa.

“salah sendiri menciumku tiba-tiba. Tetap pada posisimu atau aku tidak akan memasakkanmu makanan, oppa!”

“yak[20], han cheonsa! Tarik kembali interupsimu itu, kau tidak bisa melakukan itu padaku”

“oke, ku akui aku salah. Aku minta maaf, sungguh. Aku tidak akan melakukannya lagi tanpa seizinmu”

“sekali tidak tetap tidak, oppa”

ah, jinjja[21]. Gadis ini, kenapa suatu waktu bisa menjadi sangat dewasa dan bisa menjadi terlalu kekanak-kanakkan seperti sekarang” gerutu lee donghae.

“apa yang kau katakan barusan, oppa? Kau mau aku menghukummu menjadi 2 meter, begitu? keureom[22]” ucap cheonsa menyilangkan tangannya.

“ani[23], animnida. Aku tidak mengatakan seperti itu, han cheonsa” dengan tampang lugunya, lee donghae langsung mengangkat kedua tangannya kedepan dada, menyangkal. Ia memukul-mukul kepalanya dengan tangan, sekali lagi menyesali perkataanyang keluar dari mulutnya.

 

~0~

 

“jadi, perkembangan apalagi yang kau temukan, jang?” tanya sang kakek penasaran.

“mereka berdua ternyata memang benar-benar memiliki hubungan yang cukup serius, sajangnim. Beberapa hari terakhir ini, mereka sering terlihat pergi dan menghabiskan waktu bersama” jelas jang.

“sudah kuduga. Ini perkembangan yang benar-benar menggembirakan. Kurasapun, aku tidak perlu membawa cucuku kemari dengan tanganku sendiri” sang kakek tersenyum entah tengah memikirkan cara apa untuk membawa cucunya kembali.

 

 

~0~

 

“Lee donghae, darimana saja kau selarut ini baru kembali?” lee donghae yang baru saja akan memegang kenop pintu kamarnya untuk masuk, terkejut dengan seruan tersebut. Ia berbalik dan melihat sang kakek tengah berdiri tegap menyilangkan kedua tangannya dengan pandangan penuh akan pertanyaan.

“harabeonim”.

“masuk ke dalam kamarmu dan lekas bersihkan dirimu! Setelah itu, segera datang keruanganku! ada beberapa hal yang akan harabeonim rundingkan denganmu” setelah berkata, sang kakek membalikan badannya dan berjalan menjauhi lee donghae yang tengah diliputi rasa penasaran dengan apa gerangan hal yang ingin kakeknya itu rundingkan dengannya.

 

~0~

 

Lee donghae terlihat ragu ketika akan memasuki ruangan tempat dimana kakeknya berada, ia membuka sedikit demi sedikit pintu dengan gerakan begitu lambat.

“masuk, lee donghae!” sang kakek yang mengetahui kedatangannya segera menginterupsinya untuk segera masuk.

Lee donghae kini tengah duduk di sofa dengan posisi yang berhadapan dengan sang kakek. Belum ada perbincangan yang terjadi diantara mereka sampai akhirnya sang kakeklah yang memulai pembicaraan.

“lee donghae, apa kau sungguh ingin pergi dari rumah ini dan meninggalkan semua kemewahan yang telah aku berikan padamu?” sang kakek bertanya dengan cukup serius.

“nde, harabeonim”

“benarkah? Kau sungguh tidak akan menyesal dengan keputusanmu itu?” seketika lee donghae mendongak menatap sang kakek dengan pandangan mata berbinar, tak percaya dengan ucapan sang kakek.

“nde, harabeonim” jawab lee donghae yakin.

“baiklah. jika memang itu adalah keputusan akhirmu, harabeonim tidak bisa mencegahmu”.

“nde?” lee donghae cukup terkejut dengan pernyataan sang kakek.

“ya. Harabeonim akan membiarkanmu pergi, tetapi ada satu hal yang harabeonim minta padamu, lee donghae”

“kau sudah mengetahui sejak lama jika kau bukanlah cucu kandungku, dan cucu kandungku yang sebenarnya tengah berada diluar sana tanpa sebuah kepastian bagaimana kehidupannya. Beberapa waktu yang lalu, harabeonim telah menemukan keberadaannya dan harabeonim menginginkan kau, lee donghae, untuk membawanya kemari. Setelah kau membawanya kemari dan membuatnya tinggal, kapanpun kau ingin pergi dari rumah ini, aku akan membiarkanmu dengan senang hati”

“ini adalah foto dan biodata keseluruhan cucuku, kau bisa melihat dan membawanya untuk dipelajari” sang kakek menyimpan selembaran foto dan kertas berisi biodata di atas meja dihadapan lee donghae. Setelah itu, sang kakek berdiri dan berjalan pergi dari ruangannya meninggalkan lee donghae yang masih berkutat dengan pemikirannya.

Lee donghae pada akhirnya membungkuk untuk mengambil selembaran foto dari gadis yang merupakan cucu kandung dari kakeknya.Tidak seperti dirinya yang menjadi alat tukar dengan gadis tersebut demi kepuasan sang kakek dahulu yang menginginkan penerus untuk perusahaannya berasal dari keluarganya. Standar perusahaan yang lebih memilih laki-laki sebagai pemimpin yang di anggap lebih berkompeten membuat sang kakek yang dulu masih berpikiran picik akhirnya rela menukar sang cucu aslinya dengan lee donghae disaat mereka masih bayi.

Lee donghae membalikkan foto untuk melihat rupa dari gadis yang telah ia ambil posisinya tersebut. Kedua matanya melotot, tubuhnya bergetar seketika begitu melihat rupa dari sosok seorang gadis yang ia kenal terpampang pada selembar kertas yang tengah ia pegang. Dengan gerakan cepat, lee donghae menyimpan kembali foto tersebut dan mengambil selembaran kertas lain yang berisi riwayat hidup sang gadis. Lee donghae mematung, begitu ia membaca tulisan paling atas dari kertas itu yang berisi nama dari cucu sang kakek yang tidak lain adalah Han cheonsa.

“cheonsa-ya, kau” lee donghae bergumam dengan bibir yang bergetar.

“tidak mungkin, bagaimana ini bisa terjadi” dengan tubuh yang masih bergetar lee donghae tiba-tiba merasa tidak memiliki kekuatan. Kertas yang tengah di pegangnya jatuh begitu saja ke lantai. Ia sandarkan tubuhnya pada punggung sofa sekedar untuk meredakan kegelisahannya. Kenyataan ini benar-benar membuatnya gamang. Sekarang, perasaannya benar-benar hancur ketika harus memilih antara bersama orang yang dicintainya yang sudah dipastikan akan segera tinggal dirumah ini ataukah impian besarnya yang kini sudah memiliki titik kepastian untuk menjadi kenyataan.

 

~0~

 

Hati cheonsa tak tenang, ia terlihat gusar mengingat kekasihnya, lee donghae, yang sudah beberapa hari terakhir ini sama sekali tidak pernah menghubunginya satu kalipun. Seringkali ia mencoba untuk menghubungi atau mengiriminya pesan terlebih dahulu. Tetapi, lee donghae sama sekali tak pernah mengangkat teleponnya ataupun sekedar membalas pesannnya walau singkat.

Beberapa kali sudah ia dimarahi oleh sang atasan karena diketahui melamun saat bekerja. Ia sering menengok ke tempat duduk di dalam Bar yang biasa lee donghae dudukki saat menunggunya selesai bekerja. Biasanya lee donghae akan melambaikan tangannya sembari memperlihatkan senyuman manisnya kepadanya.

Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi berkecamuk di dalam pikiran cheonsa ketika memikirkan lee donghae. Tidak tahu apa yang harus ia perbuat, karena bahkan ia lupa untuk menanyakan dimana tempat tinggal dari kekasihnya tersebut, membuat cheonsa hanya pasrah dan menunggu kabar dari sang kekasih dengan sabar. Rutinitasnya pun kembali seperti sebelum lee donghae masuk kedalam kehidupannya, kecuali perasaannya yang kini begitu hampa.

 

~0~

 

Cheonsa tengah bersiap-siap untuk pergi bekerja ketika tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Ia bergegas menuju pintu berharap seseorang yang mengetuk pintunya tersebut adalah kekasihnya.

“donghae oppa” seketika senyum berkembang dari bibir cheonsa begitu melihat lee donghae ada di depannya.

“beberapa hari ini oppa kemana saja? Kenapa oppa tidak pernah mengabariku? Apa sesuatu terjadi dengan oppa?” berbagai pertanyaan keluar dari bibir cheonsa dengan perasaan khawatir saat melihat lee donghae terlihat begitu pucat.

Tanpa berbicara sepatah katapun lee donghae memeluk cheonsa dengan sangat erat seakan ia takut kehilangan sosok yang tengah di dekapnya itu. Seketika air mata meluncur begitu saja dari pelupuk mata donghae merasakan kehangatan yang menjalar dalam hatinya.

“maaf, maafkan oppa, cheonsa-ya”

“ani. Animnida, oppa tidak perlu meminta maaf seperti ini. Yang terpenting, sekarang kan oppa sudah kembali”.

Cheonsa melepaskan pelukan lee donghae dan memegang kedua pipi donghae dan melihat wajahnya dengan seksama.

“oppa, apa kau sakit? Kenapa wajahmu begitu pucat seperti ini?” khawatir cheonsa.

Lee donghae memegang kedua tangan cheonsa dan memandangnya dengan sorot mata penuh kelembutan “ani, oppa tidak apa. Oppa baik-baik saja”

“cheonsa-ya, sebenarnya oppa ingin membawamu ke suatu tempat dan mengenalkanmu pada seseorang. Jadi, untuk hari ini kau bolos bekerja dulu, nde?” lee donghae menatap cheonsa penuh keseriusan.

“memangnya oppa akan membawaku kemana?” tanya cheonsa penasaran.

“kau akan tahu nanti” tanpa menunggu persetujuan cheonsa, lee donghaepun menuntun cheonsa menuju mobilnya.

 

~0~

 

“oppa ini dimana?” cheonsa bertanya-tanya ketika tangannya di cengkeram dengan sangat kuat oleh lee donghae memasuki pelataran rumah yang begitu luas dan besar, mungkin lebih diartikan jika rumah di depannya tersebut lebih besar daripada rumah yang ditinggali oleh presiden amerika sekarang.

“hanya rumah yang kutinggali, cheonsa-ya”

“omo, jadi ini rumah oppa? Jangan katakan jika oppa akan mengenalkanku kepada keluarga oppa, Omo aku belum siap” cheonsa terlihat gelisah.

“ani. Bukan itu. Jangan khawatir. Apapun yang terjadi nanti kau harus percaya sepenuhnya padaku, nde? Aku benar-benar mencintaimu, han cheonsa” lee donghae meyakinkan.

ehm” cheonsa mengangguk, bernafas dengan lega meskipun didalam hatinya terselip rasa penasaran akan sosok yang akan lee donghae perkenalkan padanya.

 

~0~

Lee donghae dan cheonsa memasuki sebuah ruangan, Masih dengan tangannya yang memegang tangan cheonsa, lee donghae berhenti beberapa meter di depan seseorang yang tengah berdiri memunggungi mereka.

“harabeonim” panggil lee donghae. Tak lama sang kakekpun berbalik dan menatap kedua orang tersebut.

“lihatlah, saya telah membawanya kehadapan anda” sang kakek berjalan kehadapan cheonsa, matanya tengah meneliti setiap inch dari wajah cheonsa sampai akhirnya ia memeluk cheonsa dengan erat. Cheonsa sendiri yang tidak tahu menahu apa yang tengah terjadi hanya bisa menurut dan tidak melakukan penolakan sebelum sang kakek bergumam dan mengatakan bahwa dirinya adalah cucu sang kakek.

“mworago?” cheonsa melepaskan pelukannya begitu saja. Ia terlihat masih bingung dengan apa yang tengah terjadi dan hanya menatap donghae penuh pertanyaan.

“oppa, apa yang sebenarnya tengah terjadi?”

“ han cheonsa, dengarkan aku. Harabeonim ini memangadalah kakek kandungmu”

“oppa, benarkah?”

“ Jadi, dia adalah kakek yang dulu dengan teganya membuangku? Oppa, jangan katakan jika….” mata Cheonsa berkaca-kaca memandang lee donghae dengan penuh kekecewaan.

“tidak. Semua yang ada dalam pikiranmu tidak benar, han cheonsa. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, ku mohon percayalah padaku”

“lee donghae ” tiba- tiba sang kakek menyela pembicaraan mereka berdua.

“keluarlah, tinggalkan kami berdua”

“harabeonim, tetapi….” sebagai jawaban, sang kakek hanya bergumam, dan menganggukan kepalanya pada lee donghae sebagai isyarat jika sekarang itulah yang terbaik.

Lee donghae akhirnya menyerah, sebelum ia keluar dari ruangan tersebut, ia sempat memandang cheonsa sekilas dengan tatapan penuh harap padanya.

“saranghae[24]” bisik donghae pada cheonsa sebelum ia benar-benar keluar meninggalkan kakek dan cucu tersebut.

 

~0~

 

Cheonsa masih terpuruk dengan kenyataan yang ada didepannya sekarang. Tubuhnya bergetar, ia masih terlalu gamang untuk percaya pada ucapan lee donghae ataukah ia harus mempercayai pemikirannya sendiri. Sang kakek yang tengah menatapnya dengan penuh kerinduan memegang pundak cheonsa, menuntunnya untuk duduk di sofa sekedar berusaha untuk meredakan sedikit kegusarannya.

“maaf, maafkan harabeonimmu ini, nak. Jika ada yang lebih pantas dari kata maaf untuk aku ucapkan, aku akan melakukannya. Harabeonim akan memberikan seluruh sisa hidup harabeonim padamu untuk menebus semua kesalahan yang telah harabeonim lakukan dimasa lalu”

“salahkanlah harabeonim, jangan menyalahkan donghae! Dari awal dia tidak tahu jika kau adalah cucu harabeonim. Nak, tidak ada unsur kesengajaan pada hubungan kalian, semua yang telah terjadi karena takdir yang telah mengikat kalian berdua”.

“Sejak awal, harabeonim sudah mengetahui hubungan kalian berdua”.

“jangan menyalahkan orang baik seperti dia” cheonsa tercekat mendengar penuturan dari sang kakek, ia menegakkan kepalanya manatap sang kakek dengan mata berkaca- kaca, melihat kesungguhan sang kakek.

Dengan pelan tapi meyakinkan, sang kakek menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas tatapan cheonsa.

“ kejarlah donghae. Kau tidak tahu apa yang telah ia korbankan demi dirimu. Percayalah pada harabeonim, kau tidak perlu ragu dengan perasaanmu” sang kakek menepuk pundak cheonsa memberinya kepastian untuk memilih apa yang terbaik baginya.

Tak lama, cheonsapun beranjak. Ia berhenti sebentar, menutup kedua matanya dan membuang nafas begitu saja. Selanjutnya, cheonsapun berlari keluar ruangan untuk menyusul lee donghae sedangkan sang kakek hanya bisa tersenyum, terharu dengan apa yang dilihatnya sekarang.

Cheonsa berlari dan terus berlari sampai akhirnya ia menemukan lee donghae tengah berjalan keluar dari rumah tersebut.

“oppa!” teriak cheonsa dari jauh. Mendengar suara yang begitu ia kenal, lee donghae seketika berbalik dan melihat cheonsa yang tengah berlari menuruni tangga. Lee donghae terpaku dengan apa yang dilihatnya. Seketika bibirnya melengkung membentuk senyuman indah begitu melihat cheonsa kini sudah berada beberapa meter di depannya. Mereka saling terdiam, memandang satu sama lain dengan tatapan penuh cinta yang terpancar dari binar mata kedua insan tersebut. Sampai akhirnya, mereka saling berlari, mendekap satu samalain demi menumpahkan seluruh perasaan cinta mereka.

“saranghae, han cheonsa” bisik lee donghae dengan tulus.

“nde, oppa. mian[25], jeongmal[26] mianhae[27] karena sempat mengingkari janjiku pada oppa untuk mempercayaimu” dengan mata yang berkaca-kaca, cheonsa semakin mendekap tubuh lee donghae.

“ani, gwaenchanhayo[28]. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu karena telah mengambil posisimu selama ini, cheonsa-ya”

 

~0~

 

Lee donghae dan cheonsa kini tengah berada diberanda kamar baru yang ditempati cheonsa. Mereka terlihat tengah bersantai dengan posisi cheonsa yang sedang tiduran dengan bagian kepala berada di pangkuan lee donghae.

“oppa” panggil cheonsa

hem, wae[29]?”

“apakah oppa tidak menyesal sudah membuang jauh-jauh mimpi oppa?”

“kenapa kau bertanya seperti itu, hem?”

Tiba-tiba suasana menjadi serius diantara mereka berdua. Lee donghae menatap mata cheonsa dengan inten yang seketika saja membuat cheonsa gugup dibuatnya. Donghae mengeratkan jari-jari tangan kirinya dengan tangan cheonsa, sedangkan tangan kanannya ia pakai untuk mengelus puncak kepala cheonsa.

“untuk seseorang yang aku cintai, kenapa aku harus menyesali keputusan yang telah aku buat, hem?”

“Akan menjadi penyesalanku seumur hidup jika aku melepasmu, han cheonsa. Kau seperti kertas putih yang benar-benar masih polos. Kau seperti jarum pada tumpukan jerami yang begitu sulit untuk ditemukan. Aku mencintaimu tanpa syarat, jadi..” belum selesai donghae melanjutkan, kata-katanya sudah terpotong oleh ciuman sepintas cheonsa yang seketika membuatnya terpana.

“yak, Han cheonsa!” seketika lee donghae berdiri yang membuat kepala cheonsa terbentur dengan sofa.

“oppa, kau kenapa? Seharusnya kau senang kan aku menciummu?” cheonsa menggerutu sembari memposisikan badannya untuk berdiri dan mendekati lee donghae.

“menjauh! menjauh dariku, han cheonsa! Jangan dekat-dekat, kau sudah mencuri ciuman keduaku!” interupsi lee donghae sembari memundurkan wajahnya.

“kubilang menjauh han cheonsa, bukan mendekat!”

“han cheonsa, kau tidak boleh mendekatiku lebih dari jarak dua meter, mengerti?”

“mworago? YAK! Oppa menyalin kata- kataku!” teriak cheonsa tidak terima.

 

-THE END-

[1]Dari bahasa korea“아가씨”, memiliki arti “nona”
[2]Dari bahasa korea “데” , memiliki arti “ya”
[3] Dari bahasa korea “고맙습니다”, memiliki arti “terima kasih”
[4]Dari bahasa korea “할아버님”, memiliki arti kakek
[5]Dari bahasa korea “가” , memiliki arti “pergi”
[6]Dari bahasa korea “안녕하십니까”, memiliki arti selamat pagi,siang,sore atau malam
[7]Dari bahasa korea “사장님”, memiliki arti direktur atau presiden dalam perusahaan
[8]Dari bahasa korea “아닙니다” , memiliki arti tidak
[9]Dari bahasa korea “오모”, memiliki arti astaga, ya tuhan
[10]Dari bahasa korea “잠깐만요”, memiliki arti “tunggu”
[11] tambahan“Ya” dipakai untuk memanggil seseorang sebagai nilai kesopanan dan keakraban
[12]Dari bahasa korea “위사님”, memiliki arti “dokter”
[13]Dari bahasa korea “오빠”, memiliki arti “kakak” (panggilan dari seorang wanita kepada lelaki yang lebih tua, Biasanya Dipakai setelah nama)
[14]Dari bahasa korea “안녕”, memiliki arti “selamat pagi,siang,sore, atau malam” tetapi informal
[15]Makanan tradisional korea, salah satu asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas
[16] Mie kuah yang berasal dari korea
[17]Dari bahasa korea “즤송합니다”, memiliki arti “maaf”
[18]Dari bahasa korea “언니” , memiliki arti “kakak” (panggilan dari wanita kepada wanita lainnya yang lebih tua)
[19]Dari bahasa korea “뭐라고”, memiliki arti “apa yang kau katakan?”
[20]Dari bahasa korea “약”, memiliki arti “hey”
[21]Dari bahasa korea “진짜”, memiliki arti “benar-benar”
[22]Dari bahasa korea “그럼”, memiliki arti “baiklah”
[23]Dari bahasa korea “아니”, memiliki arti “tidak” (dalam informal)
[24]Dari bahasa korea “사랑해”, memeliki arti “aku mencintaimu”
[25]Dari bahasa korea “미안”, memiiki arti “maaf”
[26]Dari bahasa korea “정망”, memiliki arti “sungguh”
[27]Dari bahasa korea “미안해”, memiliki arti “aku minta maaf”
[28] Dari bahasa korea. Memiliki arti “tidak masalah”
[29]Dari bahasa korea“왜”, memiliki arti“kenapa”

2 Comments (+add yours?)

  1. Hwang Risma
    Oct 29, 2015 @ 19:54:17

    Ceritanya menarik, donghae kaya cinta pada pandangan pertama gitu sama cheonsa, tapi menurut aku waktu donghae merasa suka sama cheonsa itu terlalu cepet ya, entah alurnya kecepatan atau donghaenya emang udang suka sama cheonsa kekeke 😀 good job thor!~^^ ditunggu ff selanjutnya

    Reply

  2. uchie vitria
    Oct 30, 2015 @ 11:43:40

    emang impian donghae pengen jadi apa
    dan aku agak bingung sich ngejelasinnya tapi tahu maisud ceritanya

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: