[Donghae’s Day] See You Later

donghae-instagram2

Author : Ilana Hawa

Tittle : See You Later

Cast. : Song Jiyoo

Lee Donghae

Genre : Romance, sad(?)

Rating : General

Lenght :Oneshoot

 

Hai.. Aku ikut meramaikan event ini. Semoga suka sama ff yg kutulis. mohon saran dan kritiknya. Aku sedang mencoba untuk jadi penulis ff yang baik. Ini murni hasil karyaku. Gomawo.

 

***

Buku novel berhalam tebal ditangannya jadi objek yang menarik buat gadis cantik berambut hitam panjang dengan lesungan di kedua sudut bibirnya. Namanya Song Jiyoon. Sejak pagi tadi hingga pukul 11 siang ini, Jiyoon masih asyik dengan aktifitas membacanya itu. Entah sejak kapan kekasih Donghae Super junior itu, mempunyai kebiasaan membaca novel. Biasanya Jiyoon lebih memilih menonton drama- drama yang di bintangi Donghae atau pria tampan lainnya.

Jiyoon memang berstatus sebagai kekasih Donghae sejak 2 tahun yang lalu. Pertemuan tak sengaja di Kona beans, membuat mereka berdua saling jatuh cinta. Dan hubungan itu hanya member yang mengetahuinya. Ada satu kalimat yang menarik perhatiannya. ‘Hubungan sembunyi-sembunyi itu seperti bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan hubungan seperti itu juga mudah mencapai titik jenuh’.

Klik. Suara kombinasi pintu apartemennya yang di buka, mengalihkan sejenak fokus Jiyoon dari novelnya. Tak berapa lama, muncul sosok pria tampan dengan kaos hitam dan celana denim panjang plus topi hitam. Jiyoon memandang Donghae dalam diam. Mereka sudah tidak bertemu dari berapa hari yang lalu. Donghae sibuk mempersiapkan wajib militernya. Dan besok waktu keberangkatannya.

“Chagiya..”Donghae berjalan pelan kearah Jiyoon. Menjatuhkan tubuhnya tepat di samping gadis itu dan mencium puncak kepala Jiyoon.

“Mwohae?”Lanjutnya diikuti kepalanya yang bersandar penuh pada kepala sofa.

“Membaca novel yang baru kubeli kemarin.”Sahut Jiyoon. Membaca kembali novelnya dan memusatkan perhatiannya buku itu saja.

“Novel apa yang kau baca?”Donghae mengambil buku itu, dan berdecak melihat betapa tebalnya novel kekasihnya.”Kau tidak mengantuk membacanya? Eo? Tentang cinta sembunyi-sembunyi?”Donghae kembali menatap Jiyoon.

Jiyoon mengangguk.”Ne. Kau lupa, aku sedang menjalani hubungan sembunyi-sembunyi, dari Elf dan juga dari wartawan.”Ungkap Jiyoon sakartis. Raut wajahnya terlihat dingin. Entah kenapa, setelah membaca kalimat itu membuat perasaannya tidak karuan. Tentang hubungannya dan tentang pria itu. Dia merasa sampai kapanpun hubungan mereka tidak akan berhasil. Dan ada satu ketakutan, bahwa Donghae suatu hari nanti akan bosan dengannya. Donghae mengerutkan alisnya. Merasa ada yang aneh dengan kekasihnya.

“Ada apa denganmu sayang?”Donghae menegakkan tubuhnya dan memutar posisinya menghadap Jiyoon. Sementara Jiyoon menghela nafas dan membuang pandangannya ke sisi lain apartemen. Dia tahu ini hanya ketakutannya saja. Donghae pun tidak mengatakan kalau dirinya bosan pada Jiyoon. Donghae menggenggam tangan Jiyoon dan mengelus jari-jarinya dengan lembut. Jiyoon menoleh, menatap mata Donghae yang memang selalu memancarkan keteduhan yang mampu membuatnya tenang. Begitupun sekarang, hatinya mulai tenang saat tangan kokoh itu menggenggam tangannya. Melupakan ketakutan tak beralasannya.

“Hubungan sembunyi-sembunyi. Buku itu menyindirmu? Ada kalimatnya yang membuatmu…”.

“Lupakan saja. Mianhae..aku terbawa perasaanku tadi. Tak apa donghae~ssi.”Canda Joyoon di akhir kalimatnya. Dia menusuk-nusukan jarinya dipipi Donghae. Dia selalu senang menggoda Donghae dengan memanggilnya formal seperti tadi. Dan biasanya Donghae akan langsung mengacak-acak rambutnya atau pun mengelitiknya. Tapi kini pria itu diam. Menatap Jiyoon dalam-dalam. Ada kesedihan dimatanya

“Waegeurae?”Jiyoon ikut menggenggam tangan Donghae. Mengeratkan gengamannya. Terlihat Donghae menghela nafas. Dan membuka topi yang sejak tadi masih di pakainya. Dia mulai mengerti. Jika Jiyoon sedikit mulai goyah dengan perasaannya. Belum sempat Donghae membuka mulutnya. Tawa dari Jiyoon menggema di dalam apartemen berwarna putih itu. Bahkan kini gadis itu menutup seluruh wajahnya dengan novel tadi. Mencoba menyembunyikan tawanya.

“Hei. Kenapa kau tertawa?”Donghae menatap Jiyoon bingung. Bukankah tadi Jiyoon-nya terlihat tidak baik-baik saja? Bahkan gadisnya itu terlihat sulit sekali menghentikan tawanya. Setiap kali dia melihat Donghae, tawanya langsung pecah kembali. Ada yang salah denganku?

   Baru kali kau kalah dari Eunhyuk oppa soal ketampanan.” ujarnya di sela tawanya.

“Maksudmu?”Donghae mengerutkan alisnya.

“Ige. Rambutmu.”Jiyoon menyentuh rambut Donghae.”Menurutku kau tetlihat buruk dengan potongan rambut itu. Wajahmu aneh dan bentuk kepalamu juga aneh. Eunhyuk oppa jauh lebih tampan.”Jawab Jiyoon santai. Sesekali menutup mulutnya menahan tawa.

Donghae melebarkan matanya.”Mworago?! Hei! Ini memang potongan rambut seseorang yang akan masuk wajib militer. Kenapa kau mempermasalahkannya?!”Donghae merengut tak terima. Dia juga terus-terusan mengelus rambutnya. Raut wajah prianya seperti anak kecil. Tapi memang Jiyoon tak bisa bohongi, kalau kali ini Donghae memang kalah tampan dari sahabatnya, Eunhyuk.

Jiyoon tertawa. Kali ini hanya kekehan. Dia selalu suka ekpresi Donghae yang seperti itu. Terlihat menggemaskan. Tak menyangka jika pria seperti ini akan menginjak usia 28tahun esok hari, bertepatan dengan jadwal masuk wamilnya untuk menjadi polisi. Polisi tampan nan menggemaskan.

“Dan apa tadi kau bilang, kau jelas-jelas memuji pria lain di depanku. Kau minta dihukum ya?”Seru Donghae. Menggeser duduknya lebih dekat dengan Jiyoon.”Kau tidak takut, hukuman apa yang akan kuberikan padamu?”

Jiyoon tertawa remeh.”Mwoya? Apa yang memang yang akan kau lakukan? Kau akan mengelitikku? Aku sudah kebal dengan itu.” Jiyoon kembali membaca novelnya. Walau tidak benar-benar serius. Dia harus sedikit waspada dengan ancaman ‘hukuman’ dari Donghae.

“Keurae?”Donghae menggeleng.”Kau salah chagiya. Kali ini, aku akan menghukummu…dengan ciuman 100 kali.”Ungkap Donghae. Tersenyum menang saat raut wajah Jiyoon sedikit berubah merah. Mungkinkah gadisnya sedang merona?.

“Mwo? Ciuman 100 kali?” Jiyoon menoleh ke arah Donghae.

“Ne. Karena kau memuji Eunhyuk di depannku dan aku tidak suka. Aku tidak suka, matamu memperhatikan pria lain. Termasuk Eunhyuk.” kali ini wajah mereka berhadapan lumayan dekat.”Kita akan mulai untuk ciuman yang pertama.”

Donghae tersenyum. Merasa senang karena Jiyoon hanya diam. Donghae yakin kali ini gadis itu tidak akan menolak. Mata indah gadis itu hanya mengerjap, melihat wajah Donghae semakin dekat dengan wajahnya. Donghae memejamkan matanya, saat bibirnya hampir menyentuh bibir merah Jiyoon. Bukan bibir lembut Jiyoon yang dirasakannya, justru bibir tipis Donghae menyentuh kerasnya sampul buku novel milik Jiyoon. Donghae membuka matanya. Tatapannya langsung tertuju pada tatapan tajam Jiyoon.

“Andwe!”Serunya tegas. Donghae menghela nafas. Mengerucutkan bibirnya. Pria itu kembali duduk dengan tegak.

“Dasar pelit! Bahkan kita belum melakukannya selama 2 tahun.”Gerutuan Donghae berujung gumaman di akhir kalimatnya.

Jiyoon tersenyum.”Seorang pria akan berubah menjadi berbahaya saat dia mempunyai kesempatan. Kita hanya berdua disini. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganku.”Jelas Jiyoon. Membuka kembali halaman di novelnya.

“Kau ini! Aku hanya ingin menciummu! Kenapa kau begitu ketakutan. Sudahlah! Aku tidak mau membahas itu. Aku ingin tidur.”Donghae merebahkan kepalanya dipangkuan Jiyoon. Jiyoon hanya diam. Membiarkan kekesihnya tidur di atas pangkuannya. Hanya sebatas itu.

“Aku akan menginap.”Tambah Donghae. Matanya sudah terpejam. Hanya pura-pura. Hanya untuk menunggu reaksi Jiyoon atas pernyataannya barusan. Jiyoon mengerutkan alisnya. Menurunkan bukunya dan menatap Donghae yang dia tahu hanya berpura-pura memejamkan matanya.

“Menginap? Andw…”Ucapan Jiyoon terputus karena donghae meletakan jari telunjuknya di bibir Jiyoon. Dengan cepat Jiyoon menyingkirkan jari itu.

“Dongahae! Bangunlah!”Jiyoon mengguncang-guncang bahu Donghae.”Aku tidak mau kau menginap disini. Kau jangan mencari kesempatan!”

Donghae membuka matanya lagi.”Apa sih yang kau bicarakan? Aku tidak akan melakukan hal itu! Aku sudah berjanji, akan menjagamu sampai kita menikah nanti. Bangunkan aku sore hari.”Dongahe melipat kedua tangannya didepan dada. Kini dia benar-benar memejamkan matanya. Jiyoon masih pada posisinya. Menatap Donghae yang mungkin sudah masuk ke alam mimpinya. Donghae tak tahu raut wajah Jiyoon berubah sendu. Menikah? Menikah? Menikah? Jiyoon mengusap lembut rambut Donghae. Mengusapnya berkali-kali. Ironis sekali. Kekasihnya itu harus pergi wajib militer disaat hari itu juga ulang tahunnya. Dimana seseorang harusnya berbahagia, merayakan ulang tahun dengan orang-orang terdekatnya.

“Kau tahu apa yang dikatakan buku ini? Hubungan sembunyi-sembunyi seperti bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak. Dan di hubungan seperti itu, akan mudah mencapai titik jenuh. Aku merasa hubungan kita tidak akan berhasil Donghae. Dan aku takut kau tiba- tiba menjauh karena kau mulai bosan padaku.”Gumam Jiyoon. Matanya mulai memerah.

“Benarkah..Hubungan kita akan sampai pernikahan? Seperti yang kau bilang? Aku bahkan tidak berani untuk membayangkannya.”Jiyoon menghapus airmatanya. Gadis itu mengambil bantal sofa dan menaruhnya dibawah kepala Donghae, menggantikan pangkuannya. Jiyoon berjalan kedapur. Dia ingin membuatkan sesuatu untuk ulangtahun Donghae. Donghae membuka matanya. Dia sudah hampir tidur, sebelum kata-kata Jiyoon membangunkannya lagi. Donghae mendengarnya. Semua yang di ucapkan Jiyoon, Donghae mendengarnya. Pria itu menatap Jiyoon di ujung dapur sana.

“Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku juga akan mengusahakan yang terbaik untuk hubungan kita. Seandainya kau tahu, aku justru yang takut. Takut kau pergi karena Lelah dengan hubungan ini. Elf sangat berharga buatku tapi kau jauh lebih berharga, Jiyoonie.”Lirih Donghae. Yang kini benar-benar memejamkan matanya untuk tidur. Dia mulai mengantuk.

Tak tahu sudah berapa lama dia tidur. Donghae membuka matanya saat cahaya matahari sore masuk di sela pintu balkon apartemen yang terbuka. Selimut hangat membalut tubuhnya di sofa. Donghae mengedarkan pandangannya ke sekitaran isi apartemen. Sepi sekali. Dimana Jiyoonie?

“Jiyoonie.”Donghae bangkit dari sofa. membungkus kembali tubuhnya dengan selimut. cuaca di luar terasa dingin. Dia berjalan ke arah dapur mengambil botol air minum dan menenggaknya hingga habis.

“Jiyoonie. Neo eodiya?”Seru Donghae kencang. Pria itu menuju kamar gadisnya. Dia memasukan kepalanya. Tempat tidur Jiyoon masih rapi. Tapi dari arah kamar mandi, dia mendengar suara shower yang menyala. Donghae tersenyum. Kekasihnya itu sedang mandi. Donghae memutuskan untuk ke balkon, menikmati matahari sore yang indah. Kesukaan Jiyoon. Dia duduk di sofa. Melihat indahnya matahari sore, tak membuat Donghae berhenti berpikir tentang semuanya. Wajib militernya besok. Ulang tahunnya. Hubungannya dengan Jiyoon dan tanggapan Elf, jika mereka tahu soal hubungan mereka berdua. Posisi Sungmin hyungnya saja dulu begitu sulit. Bahkan Saeun mendapati komentar, ejekan yang sangat kasar. Dia tidak mau Jiyoon mengalami itu. Aroma kopi membuat Donghae kembali dari lamunannya. Dia menoleh saat secangkir kopi di depan matanya.

“Secangkir kopi, untuk menemanimu menikmati Sunset di dinginnya cuaca musim gugur.”Ujar Jiyoon. Ikut duduk disamping Donghae.

“Boleh juga. Gomawo.” sahut Dongahae, langsung mencicipi kopi buatan Jiyoon.

Jiyoon tersenyum dan meminum coklat hangat kesukaannya.

“Kalau kau menginap, kau tidak bisa merayakan ulang tahunmu juga pesta perpisahan dari oppadeul yang lain. Tak apakah?”

“Tak apa. Aku sudah bilang pada mereka, malam sebelum aku wamil aku akan menghabiskan waktuku denganmu. Dan mereka juga bilang, kalau kau lebih membutuhkan aku daripada mereka. Apa itu benar?” Donghae bertanya sambil menahan senyum. Jiyoon tak menyahut. Dia diam dan hanya sesekali meminum coklatnya. Donghae tersenyum lebar. Dia tahu, buat Jiyoon, diam itu berarti Iya.

“Apa yang akan kau berikan padaku? Kau tidak lupa kalau aku ulang tahun besok kan?”

“Kado apa yang kau inginkan?”Pertanyaan Jiyoon, sontak membuat Donghae menengok cepat ke arahnya. Senyum aneh mengembang di bibir pria itu.

“Kau akan memberikan apapun yang ku inginkan?”Seru Dongahae dengan mata berbinar.

“Ne. Hanya untuk hari ini, karena kau akan berulang tahun.”Sahut Jiyoon. Gadis itu kembali meminum coklatnya. Dia tidak suka kalau minuman coklat itu menjadi dingin.

“kalau begitu…bagaimana kalau malam ini, aku tidur di kamarmu?”Donghae terlihat menaik turunkan alisnya.

Jiyoon menaikan sebelah alisnya.”Mworago? Apa sofa diruang tamu kurang nyaman untukmu? Nan shireo!”Kini Jiyoon sibuk memotret pemandangan sunset dengan Handphonenya.

“Ayolah. Akan terasa dingin malam ini jika tidur di sofa. Aku tidak akan melakukan apapun. Aku janji.”Donghae menaikian satu tangannya.

Jiyoon menghela nafas. Menatap lama Donghae yang raut wajahnya penuh dengan pengharapan.

“Andwe! Lupakan penawaranku tadi. Kau mandilah.”Jiyoon bangkit dari duduknya. Berjalan kedalam apartemen. Meninggalkan Donghae yang merengut masam.

“Aku menciumnya tidak boleh. Aku hanya ingin tidur dikamarnya juga tidak boleh. gadis itu!”Donghae menghela nafas”Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengannya. Hari ini akan menjadi perpisahan kami. Aku juga tidak mungkin membawanya mengantarku besok. Lagipula aku harus pulang pagi-pagi sekali. Apa gadis itu sudah bangun?”Donghae berdecak. Mengelus kasar rambut pendeknya. Dan beranjak masuk ke dalam. Hari sudah mulai berganti malam.

Donghae keluar dari kamar mandi tamu dekat ruang makan. Menenteng handuk putih di bahu kanannnya. Mengenakan celana training dan kaos putih. Sesekali donghae masih mengelap air diwajahnya. Langkahnya terhenti, melihat meja makan penuh dengan makanan, kue tart kecil cantik beserta satu lilin berwarna krem tengah menyala. Ada sup rumput laut juga. Khas untuk seseorang yang sedang berulang tahun.

Ceklek. Pintu di sebrang meja makan terbuka.Donghae bisa melihat, Jiyoon keluar dari kamarnya, dengan celana panjang hitam panjang dan kaos putih pendek. Rambutnya hanya diikat asal.

“Kenapa kau hanya berdiri disitu? Ayo makan.”Jiyoon menarik tangan Donghae untuk duduk di salah satu bangku. Dan Jiyoon duduk disebrang bangkunya.

“Kau…membuat semua ini?”Tanya Donghae, masih terlihat bingung.

Jiyoon mengangguk.”Ne. Mianhae..aku membuat sup rumput laut ini sekarang, Karena besok kau sudah akan pergi. Lalu aku juga menyiapkan kue ulang tahun untukmu sekarang juga. Aku tidak bisa menunggu hingga tengah malam nanti. Aku tidak mau kau tidur terlalu malam. Tak apa kan, kita merayakan ulang tahunmu di jam makan malam saja?”Ujar Jiyoon. Memandang Donghae dengan pandangan menuntut. Donghae tersenyum lalu mengacak rambut Jiyoon pelan. Dia merasa terharu. Donghae tidak membutuhkan pesta ulang tahun meriah dan diliput banyak media. Donghae sangat bahagia. Di ulang tahunnya yang terakhir sebelum masuk wajib militer, dia senang bisa merayakannya bersama Jiyoon. Walau hanya sekedar makan malam biasa.

“Ucapkan permohonanmu, setelah itu tiup lilinnya.”Seru Jiyoon menggeser kue tart kecil itu lebih dekat ke arah Donghae.

“Baiklah.”Donghae memejamkan matanya.”Semoga..semua berjalan kearah yang lebih baik. Untuk Super Junior, untuk hubungan kita dan untukmu.”Donghae membuka matanya lalu meniup lilin. Dia Memandang Jiyoon yang juga memandangnya. Jiyoon tersenyum walau matanya sedikit memerah.

“Saengil chukkae hamnida..”Gumam Jiyoon. Kini mata gadis itu benar-benar mengeluarkan air mata. Dia sedih karena setelah ini, pria di depannya akan jauh darinya selama 2tahun. Walau mereka memang jarang bertemu karena kesibukan jadwalnya, tapi terasa aneh jika Donghae benar-benar tak bisa di temuinya sama sekali.

“Sekarang kau makan sup rumput lautnya.”Kini mangkuk sup itu yang di geser Jiyoon. Tanpa menunggu Donghae gadis itu juga mulai menyantap makan malamnya. Donghae masih diam menatap Jiyoon yang melahap makananya dengan airmata yang sesekali jatuh ke atas piringnya. Donghae tahu, Jiyoon tidak suka dipeluk ketika sedang menangis. Dia hanya ingin di biarkan sendiri. Jadi Donghae hanya menggenggam tangan Jiyoon diatas meja. Mengelusnya juga mengeratkannya. Berusaha membuat gadis itu tenang. Donghae juga ikut memakan sup rumput lautnya dalam diam.

Jiyoon lagi-lagi menguap untuk yang kesekian kalinya. Tubuhnya berguling lagi kesamping. Dia menguap beberapa kali tapi matanya tidak bisa dipejamkan. Dia memikirkan pria yang sedang tidur di sofa ruang tamunya. Ini adalah terakhir mereka bertemu. Dan mungkin saat Jiyoon bangun Donghae sudah pergi. Dia masih ingin menghabiskan waktu dengan Donghae. Tapi tidak tahu harus bagaimana.

“Jinjja ish..”Jiyoon turun dari tempat tidurnya. Beranjak keluar kamar. Donghae terlihat nyenyak dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Jiyoon mendekat. Berdiri sejenak di depan Donghae kemudian Jiyoon berjongkok menatap Donghae lebih dekat.

“Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Tetaplah sehat. Semoga ada hal baik untuk hubungan kita. Seperti doamu.”Jiyoon berujar pelan. Mendekati wajah Donghae dan mencium keningnya.”Saengil Chukkae.”

Jiyoon masih memandang Donghae yang tertidur di depannya. Tersenyum dan mengelus kening pria itu. Tanpa di duga Donghae membuka matanya. Menatap Jiyoon kemudian bangun dari tidurnya. Sementara Jiyoon masih berjongkok di tempatnya tadi. Mengerjapkan matanya. Mendongak, melihat Donghae yang sekarang duduk manis di depannya. Pipinya memerah, sadar kalau dia sudah melakukuan hal memalukan dengan memcium Donghae lebih dulu. Walaupun hanya di kening.

“Duduklah disini.”Donghae menarik pelan tangan Jiyoon. Membawanya untuk duduk disampingnya. Donghae menahan senyum saat Jiyoon hanya diam saja.

“Wae? Ada yang ingin kau katakan padaku?”

Jiyoon menggeleng. Pipinya masih merah. Donghae sekuat tenaga menahan senyum dan hasratnya ingin memeluk Jiyoon yang ada di depannya.

“Kau tak bisa tidur ya?”

Jiyoon hanya mengangguk.

“Hah.. Apa yang akan kita lakukan sekarang? Kau mau nonton tv? Atau.. Kubuatkan coklat hangat?”

Lagi. Jiyoon tak bersuara hanya menggelengkan kepalanya. Donghae tahu, gadis ini pasti masih malu atas kejadian tadi. Donghae mengacak rambut Jiyoon.

“Aku akan membuatkan coklat hangat untukmu.”Donghae beranjak pergi ke dapur. Tapi langkahnya berhenti saat suara pelan Jiyoon terdengar.

“Kau jangan kemana-kemana. Walaupun hanya membuat coklat hangat, tapi itu juga membuang waktu.”Gumam Jiyoon. Walaupun hanya gumaman tapi Donghae bisa mendengarnya. Donghae kembali duduk disamping Jiyoon. Merangkul bahu gadis itu dan merebahkan kepala Jiyoon di pundaknya. Dia sekarang tahu, Jiyoon juga sama sepertinya meresahkan pertemuan terakhir mereka ini.

“Besok kau akan pulang kerumah, atau kedorm?”Jiyoon tengah asyik memainkan jemari Donghae.

“Aku akan ke dorm. Berpamitan dengan Hyungdeul dan Dongsaengdeul sebelum mereka melaksanakan jadwal mereka masing-masing.”

“Mereka tidak mengantarmu?”

“Ani. Seandainya pun mereka tidak ada jadwal, aku tidak mengizinkan mereka mengantarku. Hanya beberapa member Exo yang menemaniku.”Donghae mengelus rambut Jiyoon. Jiyoon tersenyum di balik pelukan Donghae. Benar-benar nyaman dan hangat. Selama beberapa jam mereka hanya diam dalam posisi seperti itu.

“Selamat jalan. Sampai bertemu lagi.”Guman Jiyoon membuat Donghae mengeratkan pelukannya. Mata pria itu sedikit memerah.

“Aku masih disini. Kenapa kau sudah mengucapkan salam perpisahan?”Donghae sekuat tenaga menahan suaranya.

“Karena saat aku bangun nanti, kau pasti sudah pergi. Jaga dirimu. Tetaplah sehat sampai kau kembali. Aku mengantarkanmu dari sini.”

Donghae mencium puncak kepala Jiyoon berkali-kali. Salam perpisahan itu terjadi. Donghae menangis dalam diamnya.

“Hiduplah dengan baik disini. Makanlah dengan baik. Tunggu aku kembali. Selamat tinggal..sampai bertemu lagi.”

Tak ada jawaban dari Jiyoon. Dari gerakan nafasnya, Donghae tahu Jiyoon sudah tertidur. Donghae melepaskan pelukannya dan membaringkan Jiyoon di sofa. Menyelimutinya dengan selimutnya tadi. Donghae duduk dilantai menghadap Jiyoon. Menatapnya tanpa henti. Mencoba merekam wajah gadis yang sudah menemaninya selama 2 tahun ini.

“Sempai bertemu lagi…Song Jiyoon.”Donghae mendekatkan wajahnya dan menyapukan satu ciuman di bibir Jiyoon. Donghae menghela nafas. Merebahkan kepalanya di dekat tangan Jiyoon.

                 END

 

3 Comments (+add yours?)

  1. Laili
    Oct 31, 2015 @ 18:42:08

    Yah sedih… keinget lagi Donghae pas mau wamil. Huwe… kangen oppa….
    Overall bagus, cuma paragrapnya masih kurang rapi. Lebih baik satu paragraf itu jgn ada lebih dari satu percakapan.
    Keep writing…

    Reply

  2. Imyneohins
    Nov 01, 2015 @ 16:34:15

    Hwaaaa jd kangen donghae TTTTATTTT ffnya bagus kok, kalimatnya rapi dan feelnya kerasa. Fighting!🙂

    Reply

  3. olaf03
    Nov 21, 2015 @ 17:57:49

    Syedih terharu
    kangen ama dongek
    Jadi pengen nangis

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: