[Eunhyuk’s Day] WHAT KIND OF PROPOSITION IS THAT?

WKOPIT

WHAT KIND OF PROPOSITION IS THAT?

Pernah diposting di http://gameizzeyong.wordpress.com/ dengan judul yang sama tetapi cast yang berbeda. All copyrights belong to me.

By @izzEvil

***

“Aku ingin menceritakan sesuatu.” Katanya, matanya menunjukkan bahwa dia serius dan aku yakin aku melihat sedikit semburat kesedihan di sana.

“Cerita saja.” Kataku sambil memainkan ponselku.

Ya, kami sedang duduk di sebuah kafe di tengah padatnya lalu lalang distrik Gangnam. Sudah sekitar tiga bulan kami tidak bertemu, bukan karena jarak, tapi lebih kepada kesibukan. Kami justru bekerja pada bidang yang sama dan di kota yang sama, waktu luang adalah masalahnya. Kami bahkan tidak sempat bertemu pada hari natal, karena aku sudah melesat terlebih dahulu ke kampung halamanku di Busan.

Pertemuan ini adalah idenya, bahkan tempat duduk yang kami tempati adalah keputusannya. Jadi, bukan salahku kalau suara kami teredam oleh bisingya deruman mobil karena kami duduk di teras.

“Kau tidak terlihat antusias.” Katanya muram.

Aku mendongakkan kepala untuk menatapnya, sambil mendesah dalam-dalam aku berkata. “Percayalah, kau tahu aku. Ini memang caraku menanggapi orang yang sedang berbicara, bukan berarti aku tidak antusias.” Tekanku.

“Oke,” Dia juga mendesah. “aku telah menghancurkan hubungan seseorang.” Akunya, wajahnya serius.

Aku harus menahan tawaku agar tidak keluar melihat ekspresinya itu, alih-alih malah berdeham. “Siapa kali ini?”

Alisnya terangkat sebelah, dahinya berkerut. “Maksudmu? Kau terdengar seperti ini bukan masalah yang baru.”

“Memangnya bukan?” Aku mengernyit.

“Girim,”

“Oke, oke, lanjutkan.”

“Namanya tidak penting, kau tidak mengenalnya. Tapi dia berpisah dengan kekasihnya baru-baru ini.”

Aku mendengus. “Lalu kau berpikir ini salahmu?”

“Mungkin,” Ujarnya tak terlalu yakin.

“Apakah kalian melakukan hubungan diam-diam?” Tanyaku, terkesan menginterogasi. Dia mengangkat bahunya, dan aku hilang kendali saat itu juga. “Hyukjae, demi Tuhan kau sudah punya kekasih. Dan wanita itu juga kalau aku tidak salah dengar ceritamu.” Omelku kecewa.

Hyukjae selalu begini, aku adalah wanita pertama yang hampir menjadi mainannya. Dia pernah menyatakan bahwa dia menyukaiku, tapi aku pura-pura tidak mendengarnya. Maksudku, hey, dia sudah punya kekasih! Lalu apa yang dia harapkan dariku? Menjadi selingkuhannya? Tidak terima kasih.

“Bukan salahku.” Hyukjae membela diri. Apa katanya? Bukan salahnya?

“Bagaimana mungkin semua kekacauan ini bukan salahmu? Kau selalu menyulut api di tengah padang rumput kering!” Bentakku kesal.

“Dia bilang dia menyukaiku. Dia wanita yang… ya, bisa dibilang sejak awal aku mengenalnya, sangat agresif. Aku tidak bisa menghindarinya karena dia terus mengirimiku pesan dan meneleponku.” Akunya sambil menundukkan kepala.

“Bodoh,” Aku memukul pundaknya. “aku tidak mau ikut campur dengan urusanmu. Kau memang selalu membuat hal-hal menjadi rumit. Bahkan selama empat tahun denganku saja…” Aku berhenti, segera menutup mulutku dengan telapak tangan.

Sial, aku hampir keceplosan.

“Dengamu… apa?”

“Dengar,” Aku mendesah berat, kemudian menatapnya dalam-dalam. “seorang wanita tidak akan bergerak tanpa sinyal, maksudku, jika kau tidak melakukan sesuatu yang bisa memancingnya mendekatimu, maka dia tidak akan mendekatimu. Nah, mengaku saja kalau kau telah memberinya sinyal-sinyal salah itu.”

“Hmm,” Hyukjae mengetuk dagunya beberapa kali dengan pelan, seolah dia sedang menimbang-nimbang apakah dugaanku tepat atau tidak. Namun aku tahu, aku tahu dirinya, jadi sudah kupastikan jawabannya adalah iya. “kurasa ya.”

Aku menjitak kepalanya, mendapatkan sebuah ringisan kekanakan darinnya. “Jangan mempermainkan wanita seenaknya, Hyukjae!”

Kurasa aku terdengar seperti ibu-ibu yang mengomeli anaknya, tapi aku tidak peduli. Bocah ini harus diberi pelajaran!

“Aku hanya bersikap baik padanya, dia saja yang salah sangka. Sejak saat itu dia mulai mengirimiku pesan, pesan suara, bahkan meneleponku.” Hyukjae mengadu, membela dirinya sendiri. “Lalu beberapa hari lalu dia bilang kalau dia putus dengan kekasihnya, aku tidak tahu. Aku sudah sering bilang padanya bahwa aku tidak bisa memutuskan kekasihku dan beralih padanya, dan bilang juga jika dia ingin bersamaku maka kami harus melakukannya dengan hati-hati. Aku tahu, hubungan kami ini berbahaya karena itulah aku selalu berhati-hati. Tapi kau tahu, perempuan itu ceroboh dan membuat dirinya sendiri ketahuan oleh kekasihnya.”

Aku menghela nafas dalam-dalam, menahan rasa kesal dan amarahku. “Hyukjae,” Aku memanggilnya pelan dan tegas. “kau lah yang menawarkannya hubungan diam-diam, jadi itu bukan salahnya.”

Hyukjae mendesah lemas. “Jadi aku harus bagaimana?”

“Jauhi dia dan berhenti membuat kekacauan. Kau tidak bisa membahayakan hubunganmu yang sudah kau dan Jaerim jalin selama bertahun-tahun hanya karena wanita baru ini.” Aku memberitahunya. “Aku kasihan pada Jaerim, kenapa dia sial sekali harus mendapatkan kekasih yang tidak setia sepertimu?”

“Girim!”

“Apa?” Aku balik membentaknya. “Aku benar, kan? Aku sudah sering bertemu pria sepertimu dan aku tahu bagaimana wanita akan menanggapinya, tapi beruntung lah aku tidak seperti mereka. Aku tidak terjebak rayuanmu.” Kataku sambil mengangkat bahu.

Hyukjae memejamkan matanya, seperti sedang menahan keputusasaannya berbicara denganku. Lalu dia bangkit dari kursinya dan mengambil kursi di sebelahku, dia memajukan wajahnya di depan wajahku dan menatapku lekat-lekat. Jarak sedekat ini membuatku tidak nyaman.

“Jadi menurutmu, hubungan kita selama ini seperti apa?”

Aku mengernyit, kenapa dia jadi membahas hal lain? “Seperti apa, apanya?” Aku balik bertanya, heran.

“Bukankah sama saja? Aku dan kau terlibat hubungan yang aneh selama hampir lima tahun.” Ujarnya.

Dia punya poin di sana, dia benar. Kami memang sahabat, tidak ada rahasia di antara kami dan kami sangat terbuka terhadap satu sama lain. Yah, mungkin tidak terlalu banyak jika sudah menyangkut kekasihnya, Im Jaerim. Namun, mana ada persahabatan yang langgeng antara wanita dan pria? Pasti ada salah seorang di antaranya yang jatuh cinta. Begitulah yang terjadi pada kasusku.

Setahun setelah mengenalku, karena Hyukjae juga sering mengantarku pulang, dia menyatakan perasaannya. Dia bilang dia suka padaku, dan yah, seperti yang aku bilang aku tidak pernah menanggapinya. Tetapi hubungan kami terus berjalan selayaknya dua sahabat, meskipun entah dia menganggapnya seperti itu atau tidak. Dia sering mengatakan bahwa dia akan selalu ada jika aku membutuhkannya. Ya, itu benar, dia selalu ada  untukku. Dia bahkan selalu memberiku kado-kado yang tidak aku sangka-sangka, semua barang yang paling aku butuhkan a.k.a kebalikannya. Dulu, dia pernah memberi sepasang sepatu wanita dan sebuah kemeja kotak-kotak berwarna hitam. Ya Tuhan! Aku ini sangat tomboy dan apa yang dia lakukan? Membelikanku sepatu wanita? Dengan sebuah kemeja? Itu sama sekali tidak cocok. Seharusnya dia membelikanku converse saja, bukan berarti aku menuntut hadiah darinya. Menyedihkan.

Aku tersenyum kecil mengingat kenangan bodoh itu, dan sepertinya Hyukjae memergokiku. Dia langsung menyerbuku dengan kalimat andalannya. “Nah, lihat, kau tersenyum seperti orang gila. Kau pasti sedang memikirkanku.”

“Bermimpi saja sana!” Sangkalku, menjulurkan lidah seperti anak kecil ke arahnya.

“Kau yakin?” Hyukjae menggodaku. Sial, bocah tengik ini!

“Diamlah, Hyuk, atau aku akan menggorok lehermu di muka umum.”

Hyukjae tersenyum penuh makna. Dia meletakkan sikunya di atas meja dan memangku wajahnya dengan telapak tangan, matanya menatapku lebih lekat dari yang bisa kubayangkan, jika saja itu bisa. “Girim,” bisiknya.

“Hmm?” Kataku, pura-pura cuek dan malah sibuk dengan ponselku lagi.

“Kau sedang kosong, kan?”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, sekarang ini kau sedang tidak menjalin hubungan dengan pria lain, kan?” Tanyanya penuh antusias. Aku mengangguk. Dia tersenyum lebar dan ketika akhirnya dia berbicara, aku tidak menyangka dia akan menanyakan hal yang terduga dan membuatku terperangah. “Bagaimana jika kau menjadi simpananku?”

Bangkit dari kursiku, aku meledak saat itu juga seraya memberinya tatapan membunuh. “Kau sudah gila, ya!?”

“Sshhh, pelankan suaramu.” Hyukjae berbisik, dia ikut bangkit dan tangannya berusaha membungkam mulutku, tapi aku segera menampiknya. Aku melihat wajah paniknya, dia juga melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa suaraku tidak memancing perhatian.

Bedebah satu ini.

“Anggap saja kita tidak pernah membicarakan hal ini, aku pergi.” Kataku sambil memutar tumit dan bersiap untuk pergi.

“Hey, hey, tunggu.” Hyukjae menarik lenganku, memaksaku berputar dan menghadapnya. “Aku serius, Girim. Jangan coba menyangkal bahwa kau tidak merasakan chemistry di antara kita, karena aku merasakannya.”

Aku terdiam. Pria ini benar-benar mustahil.

“Biar kuperjelas,” Aku mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dalam gaya yang mendramatisir. “kau memintaku untuk menjadi simpananmu, sementara kau punya, berapa, satu atau dua yang lain? Jangan bercanda denganku, Lee Hyukjae.”

“Aku akan menyelesaikan urusanku dengan yang lain dan hanya fokus padamu.”

“Kenapa tidak sekalian saja kau putuskan kekasihmu?”

“Kau tahu aku tidak bisa melakukan itu.” Ungkapnya.

“Dan kau pastinya sudah tahu jawabanku.” Aku menatapnya tajam.

Yang tidak kusangka adalah, Hyukjae menyentuhkan tangannya pada pipiku, membelaiku lembut. “Aku ingin melakukan ini denganmu sejak dulu, aku hanya ingin membuatmu bahagia dengan memanjakanmu. Jadi pikirkanlah baik-baik, kumohon, Girim.” Bisiknya di bibirku. “Aku harus pergi, hubungi aku jika kau sudah menemukan jawabanmu, oke?” Dengan itu, dia mengecup keningku singkat kemudian pergi.

Butuh waktu yang lama untuk memproses kejadian yang baru saja berlangsung, kepalaku rasanya mau pecah. Ini terlalu banyak, terlalu… besar untuk dipertimbangkan. Apa yang harus aku lakukan? Jawaban apa yang harus aku berikan padanya?

Dia bilang, dia hanya ingin membuatku bahagia dengan memanjakanku. Bagaimana bisa? Bagaimana hal itu mungkin terjadi, sedangkan dia membuat resiko mematahkan dua hati wanita sekaligus. Aku tidak mau mengambil resiko itu, tapi aku… sial, aku sendiri tidak tahu apa yang aku inginkan!

Dan yang lebih bodoh lagi, bagaimana bisa aku lupa bahwa kami sedang berada di tempat umum saat dia mencium keningku? Sangat memalukan.

*FIN*

3 Comments (+add yours?)

  1. Laili
    Oct 31, 2015 @ 18:31:08

    Wah, keren…. Sequel dong…. Asli ini gantung bgt. Seperti apa kelanjutan kisah mereka?

    Reply

  2. salsakyu
    Nov 01, 2015 @ 04:38:21

    Gila.. Ini kereen!! Eunhyuk sialan brengsek! Arggh.. Greget!!

    Reply

  3. ayu diyah
    Nov 09, 2015 @ 13:59:18

    hah… Hyukjae,,,, penggoda wanita … tukang php, tukang selingkuh, suka bikin cewek baper.. sebel bngt sama model cowok kyak gini.. di dunia nyata, klu ada cowok model gini, udh di bejek2 cewek sekampung mah..
    heh.. knpa malah emosi.. heheh #abaikan

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: