[Eunhae’s Day] My Answer Is You

awan

Title: My Answer Is You

Author: SungRIMIN

Cast:

  • Lee Donghae
  • Park SungRin OC
  • Eunhyuk
  • Ryu Eunri OC

Rating: PG-15

Genre: Sad

***

Eunri tertidur dalam diam di samping kursi pengemudi mobil sedan hitamnya. Kedua headseat nya mengatung di kedua telinganya, mengalunkan sebuah lagu indah penghantar tidur yang berjudul With You milik Chris Brown. Mobil sedan nya melaju kencang meninggalkan Incheon, menuju Seoul, tempat tinggalnya saat ini.

Selang beberapa jam kemudian, ponselnya bergetar. Ia merutuki ponselnya karena telah membangunkannya dari tidur panjang yang menyenyakan itu. Ibu jarinya bergerak aktif membuka tombol kunci pada touchscreen ponselnya. Untuk mengetahui siapa yang mengiriminya pesan di tengah malam seperti ini.

‘Donghae’ itulah nama seseorang yang muncul di layar ponsel milik Eunri. Donghae adalah seseorang yang selalu memberi perhatian lebih padanya. Yang selalu ada untuknya, di saat suka maupun duka. Kekasih? Bukan. Hanya teman biasa. Itu menurut pandangan Eunri, tapi menurut Donghae?

‘Apa kau baik-baik saja?’

Begitulah isi pesan tersebut. Eunri membuang nafas berat. Dan segera membalas pesan tersebut.

‘Iya, Aku baik-baik saja.’

Eunri melepas headseatnya saat pesannya terkirim. Ia menoleh ke kaca mobilnya. Pemandangan malam kota Seoul. Ia mulai berfikir, sudah berapa lamakah ia tertidur? Ia tak menyangka sudah berada di kota tempat tinggalnya setelah bermain di Incheon bersama teman-temannya.

Ponselnya bergetar kembali. Ia sudah tau siapa pengirimnya, pasti pengirim yang sama, Donghae.

‘Baguslah, aku sangat mengkhawatirkanmu.’

Ia langsung menekan tombol kunci pada ponselnya yang berada di sisi kanan. Ia tak berniat membalas pesan itu karena ia tahu apa yang terjadi jika ia membalas pesan temannya itu, ini akan jadi percakapan panjang karena Donghae akan terus membalas pesannya sampai Eunri menghentikannya sendiri.

Ia kembali menoleh ke kaca mobilnya, memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit yang terbangun rapih di sisi jalan, cahaya-cahaya lampu yang menerangi kota Seoul, para manusia dan kendaraan yang berlalu lalang disana. Ia membuka kaca tersebut agar dapat leluasa melihat sisi kesunyian yang tergambar di Kota Seoul pada tengah malam.

Semilir angin menerpa wajah cantik Eunri, ia mempunyai lekuk wajah yang terbentuk sempurna dengan alis tebal bak orang india, hidung mancung, bibir tipis berwarna pink alami tanpa lapisan lipgloss, sepasang lesung pipi yang menuai di balik pipi chubby nya, dan sepasang mata cantik yang terbentuk seperti bulan sabit saat ia tertawa. Begitu sempurnanya wajah makhluk tuhan yang satu ini. Tak heran, banyak orang yang menyukainya karena paras cantik nya.

Rika menatap langit dari balik mobil. Melihat sejuta bintang yang berkilap dilangit sana. Begitu banyak dan sangat indah. Bintang yang selalu mampu menghiasi seluruh jagad raya. Bintang yang tampak selalu hadir pada malam hari, menemani sang rembulan untuk menjalani tugasnya, tak pernah ia sesekali absen dari tugasnya. Karena ia tahu, apabila ia tak muncul, dunia ini akan merasa sedih, dunia akan kehilangan cahaya keterangan. Dan, akan gelap gulita.

Setetes air jatuh membasahi bumi. Eunri membuka kaca mobil, mengadahkan tangannya keatas langit. Hujan. Ia menatap langit di atas sana, langit yang gelap menjadi gelap gulita. Bintang diatas sana sudah tak terlihat oleh matanya, hanya ada bulan yang belum menghilang dari singgahsananya. Ia langsung menutup kaca mobilnya karena hujan turun semakin deras.

Eunri terdiam sejenak, memikirkan sesuatu yang mengganggu otaknya. Tiba-tiba ia teringat pada pesan Donghae tadi, ‘Baguslah, aku sangat mengkhawatirkanmu.’. Dia baru ingat bahwa feeling Donghae tak pernah meleset. ‘Apa maksud ucapannya?’ ia berkutat pada hatinya. Ia bingung, apa ia harus mempercayai ucapan Donghae apa tidak? Tapi ia tak bisa membohongi hatinya. Bahwa saat ini, ia merasa gelisah.

“Pak!” Eunri menepuk pundak supirnya. “Bawa mobilnya hati-hati ya. Ini hujan, jalanannya licin.” Eunri memperingati supir andalan keluarganya, dan di balas dengan anggukan pak supir.

Ponselnya bergetar kembali. Kini, ia berharap orang yang bernama Donghae yang mengiriminya pesan.

‘Hati-hati di jalan. Aku sungguh mengkhawatirkanmu.’

Yap, Lee Donghae lah yang mengiriminya pesan. Dan detik itu juga jantungnya berdebar kencang. Entah apa yang merasuki dirinya sampai ia berfikir bahwa ia bisa mati saat ini. Ia menggeleng keras, membuang pikiran negatif di otaknya. Pesan Donghae hanya di bacanya, ia tak membalasnya. Bukan karena tidak mau, melainkan, takut.

Lampu lalu lintas yang berada di sisi jalan sudah berwarna hijau. Mobil yang ditumpangi Eunri melesat di barisan pertama, mendahului beberapa mobil di belakangnya yang bisa terhitung dengan jari.

Di arah berlawanan, terlihat sebuah Truck besar berwarna merah melaju di luar jalur yang sudah ditentukan. Cahaya lampu mobil itu menyorot kearah mobil sedan milik Eunri. Suasana di dalam mobil sedan tersebut mulai gaduh. Kedua manusia yang berada di dalamnya hanya bisa berteriak memohon pada mobil tersebut agar menghentikan laju nya. Tapi apa daya, semua yang di takdirkan tuhan tak akan pernah bisa berubah. Semua skenario yang telah di buat Tuhan harus dijalankan oleh manusia. Dan manusia, tak bisa merubah skenario tersebut walau ia bersujud meminta permohonan pada Tuhan.

***

“Sungrin! Sungrin!” Donghae menghantam pintu kerja sahabatnya. Sedangkan orang yang dipanggil hanya terlonjak kaget saat menulis sesuatu pada kertas kerjanya.

“Ambil mata ku Rin! Ambil, Sungrin!!” Donghae mengguncang tubuh Sungrin.

“Apa maksudmu, hah??” Sungrin mencoba menenangi Donghae.

Donghae menarik kursi dibelakangnya, dan segera mendudukinya. “Apa kau tidak tahu tentang Eunri saat ini?”

Sungrin menggigit bibir bawahnya, pandangannya ia tunjukkan pada meja kerjanya. “Aku tak tahu.”

Donghae bernafas panjang. Ia menyandarkan punggung pada sandaran kursi berwarna hitam, “Aku tahu kau bohong!”

Sungrin terkesiap, ia membulatkan matanya mendengar penuturan Donghae. Ia berusaha menatap sepasang manik mata Donghae yang tertuju pada langit-langit ruang kerjanya.

“Kau tahu? Eunri mengalami kecelakaan yang menyebabkannya buta. Serpihan kaca-kaca mobilnya menusuk kedua matanya, dan darah terus mengalir di kedua matanya. Aku ingin mendonorkan mataku untuknya, agar ia bisa melihat dunia lagi.”

“Tapi syarat yang paling utama sebagai pendonor mata adalah si pendonor harus sudah tak bernyawa. Dan kau? Kau masih hidup, Hae. Kau masih hidup!!” nada bicara Sungrin naik satu oktaf. Hawa kemarahan telah menyuluti dirinya saat ini.

“Aku rela tak bernafas lagi asal seseorang bahagia, Rin” tutur Donghae memohon pada sahabatnya yang telah mendapat gelar Dokter.

“Siapa? Eunri? Eunri sudah bahagia walaupun kau ada! Dia sudah punya Siwon, kekasihnya! Kenapa kau tak suruh Siwon saja untuk mendonorkan matanya?!” kali ini, Sungrin sudah diambang kemarahannya.

“Aku mohon padamu, Sungrin!”

“Aku tidak mau!” Sungrin menyilangkan kedua tangannya sambil bersender pada kursi singgahsananya.

“Yasudah, aku akan mencari Dokter spesialis mata yang lain.” Donghae menggeser kursinya kebelakang. Melangkahkan kakinya keluar dari ruang kebesaran Sungrin.

“Tunggu!” suara itu, Donghae tau akan terjadi seperti ini. “Baiklah, aku akan memeriksa matamu, untuk mengetahui apa mata mu cocok untuk Eunri.” Donghae menarik sudut bibirnya puas mendengar perkataan Sungrin yang menyetujui keputusannya.

Donghae berbaring di tempat tidur yang berdominan berwarna hitam. Cahaya lampu yang menyilaukan menambah penerangan diruang prakter Dr. Park Sungrin. Tahap-demi tahap ia jalani demi mendonorkan kedua kornea matanya. Ia tak peduli ajalnya sudah di depan mata. Ia sudah mempersiapkan diri saat raganya berjumpa dengan malaikan pencabut nyawa. Ia sudah rela dirinya bertemu dengan malaikat yang akan menanyakan sesuatu hal di alam kubur nanti. Dan ia juga siap untuk menjalani siksa kubur yang akan diberikan Tuhan olehnya. Karena, tak ada orang yang tidak mempunyai dosa. Satu dosa, akan dibalas diakhirat nanti. Dan seluruh manusia, akan kembali kepada penciptanya.

“Apa mata ku cocok untuk Eunri?” tanya Donghae saat turun dari tempat tidur tersebut.

“Tidak.” Hanya itu yang bisa Sungrin ucapkan sambil mengigit bibir bawahnya.

“Janganlah berbohong.”

“Kenapa kau bisa beranggapan seperti itu?” tantang Sungrin.

“Aku tahu karena saat kau berbohong, kau selalu menggigit bibir bawah mu.”

Ucapan Donghae sukses membuat tangan Sungrin melesat di bibir nya, mengusap pelan seakan berbicara ‘Rahasiamu telah terbongkar’. “Aku memang tak bisa berbohong padamu!”

“Aku ingin, operasi transplatasi kornea ini dilakukan sekarang juga. Dan aku tak ingin kau yang mendampingiku!” Donghae keluar dari ruangan membiarkan Sungrin yang sedang kacau saat ini.

***

Ruang operasi tertutup rapat. Terdapat dua orang manusia yang terbaring diatas tempat tidur. Bertukar organ yang buruk dengan yang bagus. Mengakhiri hidup dan menjalani hidup. Seseorang berambut panjang sudah terlelap didalam mimpinya. Tak sabar menunggu hari esok dimana warna dunianya telah kembali. Sedangkan orang yang satunya, masih belum memejamkan matanya, ia masih ingin melihat cahaya lampu yang menyinari ruang operasi, sebelum ia menutup mata untuk selamanya.

Seseorang masuk kedalam ruang operasi dengan pakaian serba hijau. Ia menuntun kakinya tepat kearah pasien laki-laki tersebut. Seseorang itu membuka maskernya sambil tersenyum getir. Menahan seluruh air mata yang hendak jatuh membasahi pipinya. Pelupuk matanya sudah digenangi air mata yang sengaja ia tahan. Tak ingin ia tumpahkan air mata ini dihadapan orang yang hidupnya tak akan lama lagi. Sebuah kematian yang berasal dari kemauannya sendiri, bukan takdir tuhan. Tapi ini memang skenario yang diberikan tuhan olehnya.

Lelaki itu tersenyum kepada perempuan berbaju hijau. Senyumnya yang seperti malaikat membuat perempuan itu meneteskan air mata. Tangan kekarnya dengan siap menghapus air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Lelaki itu tampak kuat menghadapi semua keputusannya. Karena ia yakin, keputusan ini akan membuat beberapa orang bahagia.

“Kenapa kau disini?” Donghae menggenggam kuat tangan mulus Sungrin.

“Aku yang akan menjadi pendampingmu saat operasi transplantasi kornea, Hae.” Ucapnya tercekat.

“Aku kan sudah bilang, aku tidak ingin kau menjadi pendampingku.”

“Maafkan aku karena sudah membohongimu tadi. Tapi aku mohon, beri aku kesempatan untuk melihatmu terakhir kali!” setetes air mata mengalir di pipinya.

“Kau pikir, aku memintamu untuk tidak menjadi dokter pendampingku karena kau telah membohongiku?” Donghae tertawa kecil, “Tidak, Rin.” Ia menguatkan genggaman pada tangan Sungrin. “Karena aku tak ingin melihat orang yang aku sayangi sedih karena kematianku.”

Kata-kata itu sukses membuat jantung Sungrin berhenti berdetak. “Aku sadar, kalau aku telah menyia-nyiakan orang sepertimu, orang yang begitu memperhatikanku, menyayangiku, dan mencintaiku setulus hati. Tapi, aku malah tertarik pada orang yang acuh pada diriku sendiri. Dan sekarang, aku sudah belajar arti dari sebuah cinta.” Lanjut Donghae.

“Kau dan Eunri sama. Aku dan Eunhyuk sama.” Perkataan itu membuat otak Bella terbelit-belit. “Maksud kata-kata ku adalah, Kau dan Eunri sama-sama mengacuhkan orang yang menyayangimu dengan tulus. Aku dan Eunhyuk sama-sama mengejar cinta yang tak pasti.”

Sontak, Sungrin menunduk, tatapan matanya kosong saat ini. “Kau tahu Eunhyuk?” tanya Donghae. “Orang yang menyayangimu tulus sepenuh hati. Dan dia adalah orang yang kau acuhkan selama ini!” perkataan itu sukses membuat hati Sungrin mencelos. “Kau tidak pernah tau rasanya di acuhkan oleh seseorang yang kau cintai. Kalau hanya bertepuk sebelah tangan, itu masih belum seberapa asal orang yang kau cintai tak acuh padamu!”

“Itu yang aku dan Eunhyuk rasakan. Tapi aku tak ingin kau juga ikut merasakannya. Maka dari itu, aku sudah melupakan Eunri dan beralih untuk membalas perasaanmu padaku. Tapi aku sadar, bahwa ada Eunhyuk yang siap berjaga di sampingmu saat kau butuh, maka dari itu aku mundur.”

“Sekarang, aku sudah tau bagaimana cara mempersatukanmu dengan Eunhyuk. Walaupun kau menolaknya sekuat apapun, aku yakin kau pasi terjatuh kedalam pelukannya. Dan ini rahasia, kau akan tahu saat kau bertemu Eunhyuk.”

Sungrin mengusap air matanya dengan punggung tangannya yang terbebas dari genggaman maut Donghae, ia tak kuasa mendengar dongeng yang terlontar dari mulut Donghae. “Apa kau tahu, kalau Eunhyuk mengidap penyakit jantung?” Bella menggeleng kuat. “Aku sudah duga hal ini akan terjadi. Kau sama sekali tak peduli pada kehidupan Eunhyuk sekarang.” Sungrin berurair air mata kembali. Dengan sigap, Donghae mengusap setiap tetesan air mata itu dengan ibu jarinya. “Pesanku padamu, jangan pernah kau sia-siakan orang yang menyayangimu dengan tulus. Karena, mencari orang yang tulus menyayangi kita susah untuk ditemui.” Donghae kembali mengusap punggung tangan wanita dihadapannya. Menguatkan batin perempuan ini yang sedang kacau. “Sekarang, kau harus lanjutkan tugasmu sebagai dokter. oke!”

Sungrin mengangguk mendengar aba-aba yang dilontarkan Donghae untuknya. Ia segera mengambil jarum suntik untuk membius seluruh tubuh Donghae, agar ia tak merasakan sakit saat menjalani operasi transplantasi kornea mata. Tangannya gemetar saat jarum suntik sudah menempel pada kulit Donghae. Air matanya terus mengalir sampai seluruh pipinya basah. Isakan tangis Sungrin memenuhi seluruh ruangan. Di atas sana, Donghae sudah tak bisa menahan air matanya melihat Sungrin yang masih belum bisa ikhlas dengan keputusannya. Ia juga pasti akan melakukan hal yang sama apabila ia di posisi Sungrin. Sedetik kemudian, Sunrin ambruk memeluk tubuh Donghae. Donghae bangun dari posisinya, memeluk bidadari kecilnya yang sedang hancur saat ini. Membelai rambut hitamnya yang tertutup topi berwarna hijau. Mengelus punggungnya seakan semuanya baik-baik saja. “Aku sudah bilang padamu, jangan kau jadikan dirimu sebagai saksi berakhirnya hidupku ini! Tolong serahkan tugas ini kepada Dokter yang lain agar aku bisa tenang di alam sana!”

Sungrin menyudahi pelukan Donghae, mengusap air matanya dan meyakinkan diri agar ia tetap kuat. “Baik, aku sudah ikhlas menerima ini semua. Dan tugas ini, akan aku serahkan kepada dokter yang lain.” Sungrin mengukir senyum getir untuk pertama kalinya setelah dirinya hancur berkeping-keping. Dan Donghae yang berada di hadapannya juga ikut tersenyum karena ia yakin bahwa Sungrin akan kuat.

***

Tangisan seluruh manusia terdengar di atas tanah merah yang masih basah. Menangisi seseorang yang teramat baik di dunia ini. Sungrin hanya bisa melihat dari jauh tanah pemakaman itu, yang bertuliskan nama Donghae di nisan tersebut. Ia sudah tak bisa menangis lagi karena ia janji, ia akan ikhlas dengan keputusan yang dibuat oleh Alm. Donghae. Walau menyesakkan, tapi ia harus kuat.

Sepasang bola mata itu berpandangan dengan bola mata miliknya. Ya, bola mata Donghae yang berada di dalam tubuh Eunri menatap jelas ke arah Sungrin yang berdiri jauh disana. Ia tak sanggup melihat mata itu kembali, ia takut air matanya turun seketika.

“Sungrin!!” suara teriakan itu sukses membuat satu tetes air matanya turun membasahi pipi. Eunri mengguncang tubuh mungilnya yang terasa begitu lemas.

“Kenapa kau tidak bilang padaku bahwa mata ini adalah milik Donghae??? Kenapa?? Kenapa Sungrin kenapaa???” Eunri jatuh terduduk di atas tanah, menyenderkan punggungnya di sandaran pohon besar yang menjulang tinggi keatas. Disampingnya, ada Siwon, kekasihnya yang selalu siap berada disamping Eunri.

“Itu sudah menjadi keinginan Donghae. Dan aku tak bisa mengingkari keinginannya.” Air matanya turun semakin deras.

“Tapi kau juga temanku, Rin. Kau, Aku, Donghae, Siwon, dan Eunhyuk sudah seperti keluarga! Kenapa kau tega merahasiakan ini padakau? Kenapa??? Kalau aku tau pendonornya adalah Donghae, aku lebih baik kehilangan penglihatanku dari pada kehilangan Donghae!!!!” Eunri masih tumbang, ia mengguncang kaki Sungrin dengan kuat. “Aku belum sempat meminta maaf padanya, Sungrin!” lirihnya.

‘ Jangan pernah kau sia-siakan orang yang menyayangimu dengan tulus.’ Ia teringat perkataan Donghae kemarin. Ia benar, mungkin Eunri sudah terlambat untuk meminta maaf. Tapi Sungrin belum. Ia masih bisa berkesempatan untuk bertemu Eunhyuk dan meminta maaf atas perlakuannya yang tidak mengenakkan. Dan ia berjanji akan memulai, mencintainya.

***

Selangkah demi selangkah Sungrin susuri di koridor Rumah Sakit tempat ia bekerja. Ia sama sekali tak mendapat informasi tentang keberadaan Eunhyuk sekarang. Bahkan Donghae pun tak memberitahu tempat tinggal Eunhyuk saat ini.

“Sungrin!” suara sahutan itu sukses membuat ia menoleh ke sumber suara.

Pemandangan mengejutkan berada disampingnya. Seorang lelaki tampan dengan tinggi kurang lebih 180 cm, berbaju biru khas pakaian Rumah Sakit dan selang infus yang berada di sisi kirinya. Seseorang yang dicari Sungrin saat ini. Betapa sayang nya Tuhan padanya karena telah menjawab semua teka-teki kehidupannya.

“Eunyuk?” bisiknya kecil. mungkin hanya ia yang bisa mendengarnya.

Orang yang dipanggil Eunhyuk itu menghampiri seorang perempuan berjas putih khas Dokter tersebut. Mata mereka bertemu pandang. Sangat lekat dan tak bisa teralihkan. Semakin dekat jarak tubuh mereka, saat itu juga mereka merasakan debaran jantung yang luar biasa kencangnya,

“Kau tahu? Aku tak pernah merasakan debaran jantung sekencang ini sebelumnya.” Kata-kata ini sukses membuat Sungrin salah tingkah dan mengalihkan pandangannya.

“Aku kira, aku tak bisa merasakan nikmatnya dunia ini. Ternyata, tuhan berkata lain.” Ia mengadahkan kepalanya ke langit-langit. “Ada seseorang yang baik hati memberikan jantungnya untukku.” Matanya menangkap manik mata Sungrin yang tengah memperhatikannya. “Orang itu adalah, Donghae”

Sungrin terkesiap, ia membungkam mulutnya sendiri tak mempercayai hal itu. “Ia ingin membuat kita bersatu dalam ikatan cinta. Walupun aku sendiri tak yakin kalau kau akan mencintaiku juga. Kau yang selalu berharap pada Donghae mengurungkan niatku untuk menjadikanmu kekasih di dunia dan di akhirat.”

Sungrin terngiang kembali dengan ucapan Donghae tempo hari, “Aku bersedia untuk berusaha mencintaimu juga.” Jawaban pasti terucap jelas dari bibir mungil Sungrin.

“Untuk apa kalau pada dasarnya kau hanya mencintai jantung milik Donghae yang bersarang ditubuhku? Lebih baik, aku yang mengakhiri semua perasaan ku padamu.”

Sungrin menggeleng kuat. Ia memegang tangan Eunhyuk yang terbebas dari infus lalu memeluknya. Ia kembali meneteskan air mata saat ucapan Eunhyuk terlontar dari bibirnya, sungguh menyakitkan hati. “Aku menyesal karena telah menyia-nyiakan mu! Aku benar-benar minta maaf atas perlakuan acuh ku padamu! Donghae telah mengajariku apa arti cinta, pengorbanaan cinta dll. Dan aku tak ingin kehilangan kau, Eunhyuk! Aku tak ingin!” air mata pun turun dari pelupuk mata Eunhyuk. Ia tak menyangka orang yang ia cintai mempunyai sisi lemah seperti ini.

Eunhyuk menepuk pundak Sungrin untuk menenangkannya, “Kalau itu yang kau mau, ayo kita jalani bersama mulai saat ini.” Eunhyuk melepaskan pelukannya dan menatap calon masa depannya dengan senyuman indah. Ia mengelus rambut hitam panjang pemilik nama Park Sungrin, sehingga pemilik nama tersebut tersenyum tanpa uraian air mata. Mereka berdua yakin, ini adalah pilihan hidup mereka. Satu orang pergi, tumbuh sejuta kebahagiaan. Semoga Donghae yang melihat ini di Surga, bisa tersenyum bahagia karena sukses memberi lembaran baru pada dua insan yang putus harapan. Dan semoga kebahagiaannya tak hanya mereka berdua rasakan, tetapi semua orang terdekat juga harus merasakannya.

***

 

 

 

EPILOG

Doa doa telah terpanjatkan di atas makam yang hampir rata oleh tanah. 2 wanita dan 1 lelaki menyudahi doa mereka. Kini giliran taburan bunga yang mereka hiasi di sekitar pemakaman dengan bertuliskan nama Lee Donghae di nisan tersebut.

“Sudah hampir 6 tahun ya kita tak berjumpa.” Ucap wanita berambut hitam lebat yang akrab di panggil, Sungrin.

“Iya. Maafkan kami Hae karena kami menetap di Busan saat kami menikah. Di Seoul, kenangan pilu terlalu melekat dihati kami. Jadi kami putuskan untuk menetap di Busan.” Ucap sang lelaki yang kini menjadi suami Sungrin, Eunhyuk.

“Ini, aku perkenalkan buah cinta aku dan Eunhyuk, Lee Jikyung namanya.” Sunngrin mengisyaratkan Jikyung, anaknya untuk lebih dekat ke makam Donghae.

“Hae, mungkin tanpa bantuan mu, aku dan Sungrin tak akan pernah bersatu. Aku benar-benar tak bisa melupakan kebaikan mu sampai kapanpun!” keluarga kecil yang terjalin selama 6 tahun akhirnya bahagia didepan makam sang pejuang besar yang merelakan kebahagiaan nya untuk 2 insan ini. Sungguh sangat berjasa dirimu untuk mereka berdua dan organ tubuh yang kau berikan begitu banyak mengundang kebahagia di dunia ini. Terima kasih.

 

END

1 Comment (+add yours?)

  1. annie_heneciatriples
    Nov 01, 2015 @ 12:53:12

    typo ya thor ..
    yg seharusnya sungrin malah bella ..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: