[Eunhyuk’s Day] SWEET AND SOUR

recipe_detail_0ee28a645718ab08dbf3473b141b956d

SWEET AND SOUR

Pernah diposting di http://gameizzeyong.wordpress.com/ dengan judul yang sama tetapi cast yang berbeda. All copyrights belong to me.

By @izzEvil

***

Chocolate is sweet and most strawberries are sour. But do you know? I love strawberries. If I have to choose, I’d prefer strawberries over chocolate🙂

***

Dia datang menemuiku di flat sederhana yang aku tempati, memasang wajah masam, dan berjalan tergesa-gesa ke arahku. Sementara aku berjongkok di depan mesin cuci sambil memicingkan mata padanya.

Berhenti tepat beberapa kaki saja dariku, dia berkacak pinggang. “Kau tak lihat jam berapa sekarang?”

“Sepuluh?” Aku mengernyit.

“Dan kau masih belum bersiap-siap.” Dia menyatakan, kentara sekali dia sangat kesal. “Kupikir kau memintaku untuk mengantarkanmu ke kantor pos.”

“Itu benar,” Aku bangkit, menyandarkan sebagian berat tubuhku pada mesin cuci. “tapi aku belum selesai me-laundry pakaian kotorku.” Kataku sambil menunjuk benda elektronik yang sedang memutar-mutar pakaianku.

Dia mendesah berat, sebelum akhirnya menyerah dan menjatuhkan dirinya di atas sofa. “Cepat selesaikan, lalu kita pergi.”

Aku mengangguk, tersenyum kecil padanya kemudian melanjutkan kegiatanku. Kami tidak mengatakan apapun lagi selama beberapa menit, malah terlarut dalam diam yang cukup membuatku jengah. Mau bagaimana lagi? Aku sibuk dengan cucian kotorku.

Melalui sudut mataku, aku melirik Hyukjae dan menemukannya sudah tidak duduk di sofa lagi, melainkan berdiri jauh di sudut ruangan. Dia berdiri di depan jendela, punggungnya menghadapku, sementara dia menatap ke luar. Aku bertanya-tanya apa yang ada di kepalanya saat ini? Apakah dia memikirkan tawarannya padaku beberapa hari yang lalu?

***

Saat aku memasuki flat kecil Girim, aku menemukan gadis itu sedang berjongkok di depan sebuah mesin cuci. Memejamkan mata, aku menahan kekesalanku sebisa mungkin. Saat aku membuka mata lagi, dia sedang menatapku dengan tampang tanpa bersalahnya.

Dia bilang, pagi-pagi sekali aku harus menjemputnya lalu mengantarkannya ke kantor pos. Aku tidak tahu untuk apa, tapi aku selalu menuruti permintaannya. Apapun. Dia hanya tidak ingin mengakui itu pada dirinya sendiri. Padahal aku sedang tidak enak badan dan masih sangat ngantuk, tapi ini demi dirinya.

Tetapi di sinilah dia, berkutat dengan pekerjaan yang tak pernah aku sendiri coba lakukan seumur hidupku. Dia bahkan belum mengenakan baju untuk pergi, melainkan masih dibalut tank top hitamnya dan celana tidur selutut. Dia tampak… sangat biasa, tetapi juga manis dalam waktu yang bersamaan.

Aku langsung memborbardirnya dengan kalimat tak sabaranku, dia bilang dia masih harus menyelesaikan pekerjaannya. Yah, terserah saja, aku lelah dan ingin duduk. Aku mencoba membuat diriku nyaman di sofa-yang sudah tidak lagi empuk-milik Girim, tapi tidak bisa. Aku tidak tahan dengan pemandangan di dalam flat ini, semuanya tampak usang dan hampir tidak layak pakai lagi. Seharusnya Girim segera keluar dari flat ini dan mencari tempat tinggal yang lebih baik dan layak. Tidak tahan lagi, aku bangkit kemudian berjalan ke sudut ruangan. Berdiri di depan jendela sambil menatap pemandangan pagi di luar sana.

Terlarut dalam keheningan, aku berpikir untuk memberikan Girim yang dia butuhkan. Kurasa aku akan membelikannya apartemen saja, itu pun jika dia mau menerimanya.

“Kau sedang tidak enak badan, ya?” Suara Girim mengembalikanku dari lamunan. Aku mengangguk pelan tapi tidak menoleh padanya, tetap  berdiri memunggunginya. “Suaramu serak dan sedikit aneh.”

“Aku terkena flu.” Aku memberitahunya.

“Oh.”

“Omong-omong, untuk apa kau ingin pergi ke kantor pos?” Berbalik, aku melangkah mendekatinya dan berdiri di dekat lemari es. “Mengambil barang?”

“Yup.” Dia bangkit, melirik mesin cuci yang menunjukkan waktu pengeringan akan selesai dalam tiga menit, lalu melangkah ke arahku. “Jam tangan yang aku pesan dari China.”

Aku mendengus. “Lagi? Kau suka sekali membeli jam tangan.”

Dia terkekeh. “Oh iya, nanti di perjalanan kita mampir beli makanan ya? Aku belum makan apapun sejak semalam.”

Aku mengumpat keras dalam hati. Gadis ini harus belajar lagi untuk mengurus dirinya sendiri dengan benar. Dia selalu membuatku cemas.

“Kau tidak makan semalam?” Tanyaku, padahal aku tahu jawabannya. Dia menggeleng tapi tetap tersenyum. Aku benci senyumnya, seolah dia pikir dia ini baik-baik saja. Kenyataannya tidak. Dia membutuhkan seseorang untuk memperhatikannya. “Jangan melakukannya lagi lain kali.”

Girim mengedikkan bahu. “Kau ini sok perhatian sekali.” Cibirnya sambil menjulurkan lidah, sementara aku memutar bola mataku.

“Sejauh yang aku tahu, aku memang sangat perhatian padamu.” Ikrarku. “Kau lah yang tidak pernah memberi perhatian padaku.”

“Kau sudah mendapatkannya dari kekasihmu, lalu untuk apa kau perlu perhatianku?”

Dia benar, tapi perhatiannya lah yang sangat aku inginkan saat ini. “Girim, itu berbeda.” Aku mendekat, membelai pipinya. “Aku ingin perhatian yang banyak darimu, seperti mengingatkanku untuk tetap menjaga kesehatanku lewat sms atau telepon, atau juga chatting. Tidak bisakah kau melakukan itu untukku?”

***

“Tidak bisa.” Aku berkata tegas.

Tolol sekali, Hyukjae tolol.

“Kenapa tidak bisa?”

“Itu bukan tempatku, tidak semestinya-”

“Girim-”

“Hyukjae,” Aku menyela selagi sebelum dia sempat melanjutkan. “aku bukan tipe wanita yang suka mengirimi temannya perhatianku, apalagi kepada seorang pria. Aku hanya mengirim pesan dan melakukan panggilan penting saja.”

“Bahkan kepada teman-teman wanitamu?” Tanyanya, sedikit tidak percaya dengan pengakuanku.

Aku mengangguk. “Ya.”

Memang seperti ini lah aku, tidak terlalu suka mengobrol mengenai masalah yang tidak penting dengan seseorang, meskipun hanya menanyakan kabar. Aku tidak suka basa-basi, aku tidak suka menanyakan kabar, aku hampir menjadi wanita anti-sosial. Maksudku, seperti yang lainnya, aku suka meng-update status di media sosial tapi hanya itu. Tidak ada interaksi dengan orang lain, jika ada pun tidak banyak. Aku jarang mengirimi sms dan menelepon.

“Kau harus mengubah cara hidupmu suatu saat.” Komentar Hyukjae. Kemudian aku mendengar bunyi dentingan dari mesin cuci. “Nah, sudah selesai. Cepat ganti bajumu, kita segera berangkat.”

***

Di dalam mobil selama perjalanan, aku bercerita tentang bagaimana teman-teman yang tinggal di sebelah flatku mem-bullyku. Tidak benar-benar dibully sebetulnya, hanya bentuk dari sebuah kasih sayang dan perhatian yang dituangkan dalam tindakan bodoh. Yah, begitulah teman-temanku. Aku bercerita panjang lebar, sementara dia menyetir dengan penuh khidmat. Setelah dua puluh menit bercerita dan hanya mendapatkan respon beberapa kali anggukan, aku menyerah.

Memanyunkan bibir, aku bergumam. “Percuma saja.”

“Huh?” Dia menoleh, mengernyitkan dahi. Heran, ya, aku sangat heran. Dia bisa merespon sebuah gumaman, tapi tidak dengan cerita. “Kau bilang apa barusan?”

“Tidak ada.”

“Oke, kau marah padaku.”

“Tidak.”

“Artinya iya.” Hyukjae mendesah. “Kenapa semua wanita mengatakan tidak marah ketika mereka sebetulnya memang benar-benar marah?”

“Karena mereka cukup malas menjelaskan alasan kenapa mereka marah. Seharusnya pria bisa menemukan jawabannya sendiri.” Protesku.

“Bagaimana kaum pria bisa mengetahui masalah wanita jika mereka diam dan tidak menjelaskannya?” Timpalnya. Aku menghela nafas kasar, kemudian mencubit perutnya, membuatnya memekik. “Aw, apa yang kau lakukan?”

“Mencubitmu.”

“Aku tahu tapi untuk apa?”

“Karena kau adalah pria yang paling menyebalkan di dunia.”

Jawabanku cukup kuat sehingga manjur untuk membuat pria manapun bungkam, termasuk Hyukjae. Aku melemparnya tatapan penuh kemenangan. Sisa perjalanan kami habiskan dalam diam.

Aku berhasil mengambil jam tanganku dan kami segera pulang setelahnya. Suasana di perjalanan tidak berbeda dari sebelumnya, malah membuatku semakin kesal. Aku sempat mendapati Hyukjae melirik ke arahku beberapa kali, mungkin hanya untuk memastikan apakah aku masih marah atau tidak, kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke jalan.

Tiba-tiba saja fokus dan perhatianku teralihkan oleh sebuah Chocolate House yang baru saja kami lewati. Seolah tidak mau kehilangan pemandangan toko yang menyediakan berbagai jenis cokelat itu, aku sampai memutar kepalaku hingga ke belakang.

Hyukjae terkekeh. “Kau bisa melukai lehermu, kau tahu.” Katanya geli.

“Aku ingin ke sana.” Pintaku dengan nada memohon, menatapnya penuh harap.

“Serius?” Hyukjae bertanya tidak percaya. “Kau ini apa? Lima tahun?”

“Aku dua puluh tiga tahun dan aku suka stroberi.” Aku berkoar. “Apa itu salah?”

“Sebentar,” Hyukjae mengerutkan dahi kebingungan. “Itu toko cokelat, bukan stroberi.”

“Aku tahu, tapi mereka bilang di sana juga terdapat banyak stroberi yang dilumuri cokelat.” Aku merengek. “Dan aku ingin mencicipinya.”

Hyukjae menggelengkan kepalanya. “Kau harus berusaha lebih keras jika kau ingin merayuku untuk pergi ke sana.” Ujar Hyukjae, tahu betul maksud dari rengekanku.

“Apa? Kau ingin aku melakukan apa?”

“Cium aku.”

Sontak aku melempar bantal leher yang ada di tanganku ke wajahnya dan berteriak. “Bermimpi saja sana!”

Hyukjae tertawa terbahak-bahak. “Kau bertanya tadi.”

Aku mendengus sambil mendelik tajam padanya. “Aku bukan kekasihmu, minta saja pada kekasihmu.”

“Tidak bisa kau saja?”

“Tidak.” Aku menggeleng mantap.

Sekali lagi, dia terkekeh. Rupanya dia suka sekali membuat lelucon atas diriku. Sialan.

“Girim,”

“Hmm?”

“Jika kau dituntut untuk memilih antara aku dan stroberi, mana yang lebih kau inginkan?”

Aku menyeringai, pertanyaan yang sangat mudah. Dasar bodoh. “Tentu saja stroberi.”

*FIN*

4 Comments (+add yours?)

  1. meynininx90
    Nov 01, 2015 @ 19:37:01

    Wkwkwk…..plih strowberry……… Klh ma buah mlh

    Reply

  2. Laili
    Nov 03, 2015 @ 03:45:51

    Keren… bahasanya ringan tapi ceritanya bener2 bagus. Gampang dicerna. Good job. Keep writing…. 😀

    Reply

  3. uchie vitria
    Nov 03, 2015 @ 14:02:06

    aku juga bakal milih strawberry lah hahahahaha

    Reply

  4. ayu diyah
    Nov 09, 2015 @ 13:54:31

    hahhh… hyukjae bner2 tipe cowok penggoda, udh punya pcr kan.. msih aja godain cwe lain.. tsskkk

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: