[Donghae’s Day] Melody of You

tumblr_n7ktbpyejm1qbtf5qo1_1280

Tittle : Melody of You

Author: @littlemiu_

Genre : Romance, Comedy, School Life, Fantasy

Rated : PG – 13

Cast :

  • Donghae [Super Junior]
  • Ryeowook [Super Junior]
  • Kim Yoojin [OC]

Supported Cast :

  • Eunhyuk [Super Junior]
  • Shindong [Super Junior]

 

Melody of You

 

Annyeong Haseyo, Lee Donghae imnida,” Donghae berkata memperkenalkan dirinya pada seluruh isi kelas barunya itu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, memperhatikan murid satu kelasnya yang nantinya akan menjadi teman barunya itu.

“Mohon bantuannya,” lanjut Donghae menundukkan kepalanya. Dan setelah ia selesai memperkenalkan dirinya pada seluruh isi kelas, ia membawa dirinya ke meja kosong yang ada di barisan paling belakang ruang kelas itu.

Ya, hari itu adalah hari pertama Donghae masuk ke sekolah barunya. Ayahnya di pindah tugaskan ke Seoul yang membuatnya—juga keluarganya—harus ikut pindah ke Seoul yang berarti ia juga harus pindah sekolah.

Teman baru, suasana baru, sekolah baru, dan tentunya pengalaman baru baginya. Ia belum pernah pindah sekolah sebelumnya—kecuali ketika ia naik kelas dari Junior High School ke Senior High School, ini adalah kali pertamanya ia pindah sekolah di tengah – tengah tahun ajarannya di kelas 11.

Donghae menarik nafas panjang sambil menyunggingkan senuyum kecil di bibirnya. Hari ini adalah hari pertamanya di sekolah itu dan ia berharap hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan baginya.

***

Bel istirahat berbunyi dan semua murid yang ada di kelas itu segera berhamburan keluar dari kelas entah menuju ke mana. Donghae masih tetap di tempatnya. Selama dua jam pelajaran yang berlangsung barusan, ia terkadang memikirkan hal apa yang harus ia lakukan di hari pertamanya di sekolah barunya itu.

Donghae nyaris menarik dirinya keluar dari kelas ketika dua orang teman sekelasnya datang menghampirinya membuatnya kembali duduk di kursinya.

Annyeong,” ucap salah seorang dari mereka.

Donghae tersenyum kecil, “annyeong,” balasnya.

“Aku Lee Hyukjae dan dia Shin Donghee. Tapi kami biasanya di panggil Eunhyuk dan Shindong,” ujar laki – laki bernama Eunhyuk itu pada Donghae.

“Mau keluar bersama kami? Kami mau ke kantin,” tanya Shindong menawarkan membuat Donghae berpikir sejenak mendengarnya.

Tapi Donghae menggelengkan kepalanya sekilas pada mereka sambil menyunggingkan sebuah senyum maaf pada kedua orang teman barunya itu. “Maaf, tapi sepertinya aku harus pergi ke Ruang Kepala Sekolah dulu sebelum bisa pergi – pergi bersama kalian,” ujar Donghae menolak dengan halus.

Eunhyuk dan Shindong mengangguk – anggukkan kepalanya mengerti. Sebagai seorang murid pindahan pasti banyak hal yang harus ia urus sebelum ia benar – benar bisa tenang belajar di sekolah barunya.

“Ah, pasti banyak hal yang harus kamu urus ya,” ujar Eunhyuk. “Baiklah, kita bisa pergi ke kantin lain kali!” lanjutnya meringis lebar pada Donghae.

Donghae mengangguk pelan dan setelah mereka berdua mengucapkan salam perpisahan pada Donghae, mereka berdua keluar dari kelas menuju ke kantin seperti yang mereka bilang sebelumnya tadi.

Donghae tersenyum lega. Hari pertamanya di sekolah itu ia sudah mendapatkan dua teman baru. Yah permulaan yang baik bukan baginya?

Juga yang ia katakan sebelumnya tadi memang benar, ia harus ke Ruang Kepala Sekolah untuk menyerahkan beberapa surat pindah dan berkas – berkas lain. Ia mengambil satu buah amplop cokat besar lalu berjalan keluar dari kelas menuju ke Ruang Kepala Sekolah.

***

Ye, kamsahamnida,” Donghae berkata sembari membungkukkan tubuhnya tepat sebelum ia keluar dari Ruang Kepala Sekolah. Ia berbalik dan kembali berjalan mengikuti arah saat ia datang ke Ruang Kepala Sekolah itu, kembali ke kelasnya.

Dan sambil menyunggingkan senyum tipis di bibirnya ia mengedarkan pandangannya ke sekitar lorong yang sekarang sedang ia lalui itu. Sekolah barunya itu termasuk sekolah mewah dengan fasilitas yang sangat memadai. Di kelasnya ia memiliki dua buah AC dan lorong yang sedang ia lalui sekarang pun entah kenapa terasa mewah.

Tapi langkah kakinya terhenti ketika ia mendengar suara alunan musik yang lembut. Ia mengerutkan keningnya, menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi di sekitarnya sekarang sangat sepi. Dan sepertinya tak ada orang lain di sekitarnya selain dirinya sendiri.

“Piano?” gumam Donghae setelah ia memperhatikan baik – baik suara yang terdengar di telinganya. Suara dentingan piano yang lembut tapi… entah kenapa rasanya begitu sedih dan menyayat hati.

Donghae kembali berjalan, kali ini mengarah pada arah suara itu berasal. Dan langkahnya terhenti ketika ia menyadari jalan menuju ke tempat yang mengarah pada suara piano itu terlihat cukup mengerikan. Sepertinya lorong asal suara itu adalah bangunan lama yang belum terenovasi.

Donghae mengangkat bahu cuek, bukankah sudah biasa jika sekolah memiliki bangunan tua yang belum di renovasi? Ia kembali berjalan dan berhenti ketika ia telah sampai pada sebuah ruangan dengan pintu kayu yang terlihat tua.

Pintu kayu itu sedikit terbuka membuat Donghae menjulurkan kepalanya mengintip dari balik celah pintu yang terbuka itu. Dan benar, suara alunan piano itu berasal dari ruangan itu.

Donghae meluruskan posisi tubuhnya, lalu membuka pintu itu perlahan. Ia masuk ke dalam ruangan itu sambil melayangkan pandangannya kesekitar ruangan itu. Dan ia mengasumsikan ruangan itu sebagai ruang musik karena ditengah – tengah ruangan itu terdapat satu buah piano yang sedang dimainkan oleh seseorang, juga terdapat beberapa alat musik lainnya yang ada di sekitar ruangan itu.

Donghae memiringkan tubuhnya melihat siapa orang yang sedang bermain piano di saat istirahat berlangsung itu. Seorang laki – laki yang dengan pintar memainkan piano itu.

Tapi permainan piano laki – laki itu terhenti ketika ia menyadari kehadiran Donghae di tempat itu. Masih dengan tangannya di atas tuts – tuts piano, ia menolehkan kepalanya pada Donghae yang tersenyum padanya.

Donghae tersenyum canggung pada laki – laki itu. Laki – laki itu mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, menatapnya dengan tatapan heran dan bingung.

“Permainan piano yang bagus,” ujar Donghae.

Tapi laki – laki itu tidak membalas. Ia masih terdiam menatap Donghae yang justru membuat Donghae bingung dan salah tingkah. Apakah ada yang salah dengannya hingga membuat laki – laki asing yang baru saja bermain piano itu menatapnya dengan tatapan seolah ia sedang melihat hantu?

Laki – laki itu memiringkan kepalanya sebentar, menarik tubuhnya dari kursi piano lalu mendekat pada Donghae.

“Apa kamu sedang bicara denganku?” tanya laki – laki itu.

Donghae mengangguk pelan, “ya, sepertinya tidak ada orang lain lagi yang ada di tempat ini selain kau,” ujar Donghae.

Laki – laki itu mengerutkan keningnya. Ia berjalan kembali ke kursi piano itu dan duduk kembali di sana dengan tampang berpikir.

Melihatnya, Donghae mengikuti laki – laki itu lalu duduk di samping kursi panjang yang biasanya ada di depan sebuah piano. Donghae memperhatikan laki – laki itu yang menatap kosong pada tuts piano di hadapannya.

“Aku belum pernah melihatmu,” ujar laki – laki itu.

“Ya, aku baru saja pindah ke sekolah ini hari ini,” balas Donghae membuat laki – laki itu menganggukkan kepalanya mengerti. “Lee Donghae. Salam kenal,” lanjut Donghae memperkenalkan dirinya. Yah, tidak ada yang salah bukan jika ia menambah teman di sekolah barunya itu?

Laki – laki itu memperhatikan uluran tangan Donghae yang menunggu untuk segera ia balas. Tapi laki – laki itu tidak segera membalas uluran tangan Donghae membuat Donghae mendekatkan tangannya lebih dekat pada laki – laki itu.

“Oh, Kim Ryeowook,” balas laki – laki bernama Ryeowook itu terlihat hati – hati menjabat tangan Donghae.

“Kamu.. benar – benar bisa melihatku?” tanya laki – laki itu ragu.

Donghae mengangguk sekilas, merasa sedikit aneh dengan pertanyaan Ryeowook.

“Benarkah?”

Donghae kembali mengangguk.

Ryeowook mendesah pelan, sepertinya ada hal yang membuatnya terlihat sangat sedih. Ryeowook kembali meletakkan jari – jarinya di atas tuts piano dan menekan – nekan piano itu dengan tidak teratur, tidak seperti sebelumnya ketika Donghae mendengar suara piano itu dari luar.

“Kamu tahu,” Ryeowook tiba – tiba berkata, menolehkan kepalanya pada Donghae yang menatapnya dengan tatapan bingung. “Aku sebenarnya sudah meninggal,” lanjut Ryeowook membuat Donghae melebarkan kedua matanya, tapi satu detik kemudian Donghae tertawa pelan.

“Jangan bercanda,” balas Donghae tak percaya. Mana mungkin ia percaya laki – laki yang sedang ada di sampingnya itu, yang baru saja bicara dan berjabat tangan dengannya itu adalah seseorang yang telah meninggal? Hantu?

Ryeowook mengeleng – gelengkan kepalanya beberapa kali. “Aku serius,” katanya meyakinkan Donghae. Tapi Donghae tetap saja tertawa dan merasa bahwa Ryeowook sedang bercanda sekarang.

“Bagiamana bisa kamu seorang hantu sementara baru saja kita berjabat tangan?” ucap Donghae.

Ryeowook menghela nafas pelan. “Baiklah, jika kamu tidak percaya aku akan buktikan padamu,” katanya membuat Donghae menelan ludahnya.

Ryeowook berdiri dari duduknya dan perlahan kakinya melayang dari atas lantai lalu terbang kesana kemari di dalam ruang musik itu.

Donghae membulatkan kedua matanya bulat – bulat dan satu detika kemudian, ia terjatuh di atas lantai.

“Ya!” kaget Ryeowook melihat Donghae tiba – tiba pingsan di sana. Ia menurunkan tubuhnya lalu berlutut di samping tubuh Donghae. Ia menepuk – nepukkan telapak tangannya pada wajah Donghae tapi Donghae tetap tidak terbangun.

***

“Ukh..” erang Donghae. Ia membuka kedua matanya perlahan, mendudukkan dirinya di atas lantai sembari memperhatikan sekitarnya.

“Kamu sudah sadar?” tanya sebuah suara yang tiba – tiba mengangetkan Donghae dan membuat Donghae terlonjak ketika mendengarnya. Ia menolehkan kepalanya dan melihat Ryeowook ada di sampingnya.

“Ka-kau.. jadi yang barusan bukan mimpi?” tanya Donghae menunjuk – nunjukkan telunjuknya pada Ryeowook yang hanya dibalas dengan anggukkan pelan dari Ryeowook. Donghae nyaris kembali menjatuhkan punggungnya lagi di atas lantai tapi dengan segera Ryeowook menahannya.

“Hey! Hey! Jangan pingsan lagi dong!” seru Ryeowook menahan tubuhn Donghae.

Donghae menghela nafas pelan dan menyerah untuk kembali berhadapan dengan seorang hantu. “Aku ingin pingsan lagi saja, siapa tahu aku hanya bermimpi sekarang,” Donghae berkata dengan nada memohon.

Dan tiba – tiba Ryeowook mengulurkan tangannya mencubit pipi Donghae, membuat Donghae merintih pelan. “Kamu sedang tidak bermimpi sekarang, Lee Donghae,” ujarnya.

“Baiklah, baiklah,” balas Donghae mengelus lembut sebelah pipinya setelah Ryeowook mencubitnya. “Lalu apa yang kamu inginkan dengan menunjukkan dirimu padaku?” tanya Donghae.

“Aku tidak menunjukkan diriku padamu! Kamu sendiri yang bisa melihatku,” jawab Ryeowook.

“Oh.” Donghae menurunkan pandangannya pada lantai. Di hari pertamanya di sekolah baru, ia bertemu dengan seorang hantu. Bagaimana bisa nasibnya begitu buruk? Yang ia harapkan di hari pertamanya di sekolah adalah teman baru dan pengalaman baru. Ya, sebenarnya ini adalah pengalaman baru baginya, bertemu seorang hantu.

“Hey? Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Ryeowook mengibas – ibaskan tangannya di depan wajah Donghae. Donghae menggeleng pelan.

“Tidak ada,” balas Donghae.

“Eh, tapi kamu tidak terlihat seperti hantu,” tambah Donghae.

“Aku? Aku hantu yang tampan,” balas Ryeowook membuat Donghae tertawa keras. Ryeowook berdecak pelan melihat respon Donghae yang tidak menyenangkan itu padanya.

Donghae berhenti tertawa ketika melihat wajah kesal Ryeowook, “tapi sepertinya kamu memang hantu yang tampan,” lanjut Donghae meringis lebar. “Kamu tahu, hantu yang biasa aku lihat di film – film itu sangat mengerikan,” tambahnya di sambut dengan anggukkan pelan dari Ryeowook.

“Ya, aku tahu aku tampan,” balas Ryeowook berbangga diri.

“Lalu apa yang membuat hantu tampan ini meninggal?” tanya Donghae yang langsung membuat raut wajah Ryeowook yang tadinya senang menjadi sedih. Sebuah kesedihan mendalam sangat terlihat jelas dalam raut wajahnya nyaris sama seperti yang Donghae rasakan saat ia mendengar alunan piano Ryeowook.

Ryeowook menghela nafas panjang, ia meluruskan kakinya ke depan sembari bersandar pada dinding di belakangnya. “Ceritanya panjang,” katanya lemas.

“Kalau begitu, aku akan mendengarnya,” Donghae berkata tersenyum kecil pada Ryeowook.

***

“Aku terkena penyakit, leukemia,” Ryeowook memulai bercerita, ia memandang ke langit – langit ruangan itu dengan tatapan lirih.

“Leukimia?” Donghae bertanya dibalas dengan anggukan pelan dari Ryeowook.

“Bukan leukemia biasa, leukemia yang parah. Dan dokter sendiri telah memfonis hidupku tidak akan lama lagi. Dan benar, aku sudah meninggal sekarang,” Ryeowook berkata. “Mungkin itu alasan kenapa saat menjadi hantu aku masih tampan,” tambahnya membuat Donghae memicingkan kedua matanya. Di saat ia sedang mendengarkan cerita Ryeowook dengan serius, ia masih sempat bercanda.

“Aku tahu semua orang pasti akan meninggal dan aku sendiri tidak menyalahkan siapapun tentang kenapa aku harus meninggal di saat aku masih muda,” lanjut Ryeowook.

“Jika kamu tidak marah karena kamu meninggal, maksudku kamu tidak menyesal karena meninggal kenapa kamu sekarang menjadi hantu. Setahuku jika seseorang meninggal dengan tenang, ia tidak akan menjadi hantu—tapi itu yang aku dengar dari beberapa orang, aku tidak tahu yang sebenarnya,” ujar Donghae merasa aneh.

Ryeowook memang tidak telihat seperti seorang hantu yang berbahaya, seorang hantu yang memiliki dendam seperti yang ada dalam film – film horror. Ia bahkan terlihat seperti seorang anak sekolah yang baik dan berbakat dalam musik.

“Tapi jika seseorang yang meninggal itu masih memiliki sesuatu yang belum ia tuntaskan di dunia, sepertinya ia akan terus bergentayangan menjadi hantu sampai sesuatu yang belum tuntas itu menjadi tuntas,” balas Ryeowook, tersirat sebuah penyesalan dalam kalimatnya.

Donghae menaikkan sebelah alisnya mendengar penjelasan panjang lebar yang meluncur dari mulut Ryeowook itu. “Jadi.. ada sesuatu yang belum kamu tuntaskan di dunia ini?” tebak Donghae setelah ia berhasil mengerti kalimat yang Ryeowook ucapkan padanya.

Ryeowook mengangguk sekilas.

“Apa?” tanya Donghae. “Oh, tapi aku tidak bermaksud untuk ikut campur dengan keperluanmu itu, hanya saja jika kamu mau bercerita mungkin aku bisa sedikit membantu?” tambah Donghae cepat – cepat sebelum Ryeowook sempat berpikir bahwa ia seseorang yang suka ikut campur urusan orang lain.

“Sebenarnya aku memang ingin minta tolong padamu karena hanya kamu yang bisa melihatku di sekolah ini.”

“Apa?”

“Aku ingin minta maaf pada seseorang. Itu hal yang ingin aku lakukan sebelum aku benar – benar pergi dari dunia ini,” ujar Ryeowook.

“Minta maaf?” tanya Donghae menaikkan sebelah alisnya.

Ryeowook mengangguk. “Ya, sebelum aku meninggal, aku sempat bertengkar dengan seorang gadis, gadis yang sangat aku sayangi. Namanya Kim Yoojin, ia juga bersekolah di sekolah ini.”

“Apa yang membuat kalian bertengkar?” tanya Donghae penasaran.

“Aku… tidak memberitahukan padanya tentang penyakitku. Baru seminggu sebelum aku meninggal, ia tahu yang sebenarnya. Jadi ia marah padaku,” jelas Ryeowook.

Donghae menganggukkan kepalanya pelan.

“Setiap hari aku bermain piano di sini dan selalu berharap ada seseorang yang bisa mendengar suara pinao itu. Dan akhirnya kamu datang. Aku sangat berharap kamu bisa membantuku,” Ryeowook berkata, memiringkan tubuhnya memandang Donghae dengan tatapan memohon pada Donghae.

“Hey, ini hari pertamaku bersekolah disini dan aku harus membantu seorang hantu?”

“Ayolah, kumohon,” Ryeowook kembali memohon – mohon pada Donghae, ia bahkan menarik – narik lengan seragam Donghae agar Donghae mau membantunya.

Donghae tertawa pelan, “aku hanya bercanda. Aku akan membantumu,” ujar Donghae meringis lebar pada Ryeowook. Dan dengan segera Ryeowook langsung memeluk tubuh Donghae erat – erat.

“Gomawo!”

***

“Kamu membolos? Di hari pertamamu pindah sekolah?” tanya Eunhyuk tak percaya.

“Ani,” tukas Donghae terlihat meyakinkan. “Aku.. aku hanya sedikit pusing kemarin, jadi aku memutuskan untuk pergi ke ruang kesehatan,” lanjut Donghae mencari alasan yang tepat kenapa ia tidak masuk saat pelajaran tadi. Dan sebenarnya jika ia pikir baik – baik, ia memang sedang merasa pusing sekarang. Bagaimana ia tidak pusing jika ia baru saja bertemu dengan seorang hantu?

“Oh ya?” tanya Shindong meneguk minumannya. Donghae mengangguk santai agar ia tidak terlihat mencurigakan.

“Apakah kalian tahu gadis yang bernama Kim Yoojin?” tanya Donghae tiba – tiba ketika ia mengingat soal Ryeowook serta tentang ia akan membantu hantu itu.

“Yoojin-ssi?” Eunhyuk bertanya.

“Ya.”

“Memang ada apa dengan Yoojin-ssi? Kenapa kamu mencarinya?” tanya Eunhyuk penasaran. Ia memajukan tubuh bagian depannya, memicingkan kedua matanya, menatap curiga pada Donghae.

“Jangan – jangan..” Eunhyuk kembali berkata, membuat Donghae menelan ludahnya susah payah. Apakah Eunhyuk juga tahu tentang hantu itu? “Jangan – jangan kamu menyukai Yoojin-ssi?” Eunhyuk melanjutkan kalimatnya membuat Donghae sedikit bernafas lega.

Ia bisa di kira gila jika mengatakan bahwa: aku bertemu dengan hantu dan hantu itu memintaku untuk membantunya menyelesaikan urusannya yang belum selesai di dunia ini. Siapa yang akan percaya dengan penjelasan yang terdengar konyol itu?

“Aku—” kalimat Donghae terhenti. Ia kembali berpikir setelah bernafas lega, apa yang harus ia katakan pada kedua teman barunya itu?

“Ya, aku meyukainya,” lanjut Donghae tersenyum aneh. Berbohong, ya, hanya itu satu – satunya jalan agar ia bisa tahu siapa Kim Yoojin. Dengan begitu, kedua orang teman barunya itu pasti akan memberitahunya siapa gadis bernama Yoojin itu.

Eunhyuk menarik tubuhnya kembali ke belakang dan bersandar pada kursi kantin yang sedang ia duduki sekarang. Ia mengangguk – anggukkan kepalanya, mengerti. “Ara, Yoojin-ssi memang cantik,” ujar Eunhyuk.

“Geurae. Dia satu kelas dengan kita,” gumam Shindong yang sedari tadi hanya mendengarkan Eunhyuk dan Donghae bicara.

“Benarkah?” Donghae bertanya tak percaya.

“Itu!” seru Shindong tertahan—mengacuhkan pertanyaan Donghae—ketika seorang gadis masuk ke dalam ruang kantin itu. Ia menggerakkan kepalanya pada gadis itu yang membuat Donghae langsung mengalihkan pandangannya pada arah gerak kepala Shindong.

Seorang gadis dengan rambut hitam yang panjangnya melebihi bahunya masuk ke dalam kantin itu. Dan seperti yang Eunhyuk dan Shindong katakan padanya, gadis itu memang cantik, tapi… sarat wajahnya menandakan ada sebuah kesedihan tertera di wajahnya—walau ia sedang tersenyum tipis sekarang.

“Jadi, gadis itu,” gumam Donghae dengan kedua matanya yang masih mengikuti arah Yoojin berjalan masuk ke dalam kantin.

***

“Aku sudah bertemu dengannya dan aku satu kelas dengannya,” Donghae berkata pada Ryeowook yang ada di sampingnya.

“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Aku harus segera meminta maaf padanya sebelum aku menghilang,” balsas Ryeowook di lanjutkan dengan helaan nafas panjang.

Donghae mengerutkan keningnya tak mengerti. Bukankah Ryeowook baru akan pergi dari dunia ini jika ia telah berhasil minta maaf pada Yoojin? Kenapa ia sekarang malah berkata ia akan menghilang? “Apa maksudmu?” tanya Donghae segera dari pada berkutat dengan pikirannya sendiri.

“Aku mendengar dari salah seorang guru yang lewat di tempat ini bahwa… tempat ini akan segera di hancurkan lalu di renovasi. Sudah ada ruang musik yang lebih canggih dari ruang musik ini, jadi jika ruang musik ini menghilang maka…” Ryeowook menghentikan kalimatnya, rasanya sangat berat baginya untuk mengatakan kalimat itu, “aku akan menghilang sebelum sempat meminta maaf pada Yoojin,” lanjutya.

“Aku… masih tidak mengerti.”

“Jadi begini, aku bertemu pertama kali dengan Yoojin saat aku sedang bermain piano sambil bernyanyi di sini dan aku menjadi dekat dengan Yoojin juga di ruang musik ini, menurut kesimpulan yang aku buat sendiri, karena aku ingin meminta maaf padanya maka aku hanya bisa bergentayangan di ruangan ini, aku tidak bisa pergi dari ruangan ini. Dan jika ruangan ini menghilang, itu artinya aku akan ikut menghilang,” jelas Ryeowook.

Donghae mengangguk – anggukkan kepalanya mengerti.

“Akan aku usahakan agar kamu bisa segera bertemu dengannya,” ujar Donghae tersenyum kecil pada Ryeowook berselingan dengan bel istirahat selesai berbunyi.

Donghae mengangkat kepalanya ketika bel itu berbunyi sangat nyaring dan memekakan telinganya. “Kalau begitu aku ke kelas dulu ya. Aku tidak mungkin membolos lagi di hari ke duaku di sekolah ini,” katanya nyaris mengangkat tubuhnya untuk pergi dari ruang musik tua itu, tapi Ryeowook menahan tangan Donghae.

Donghae menoleh kebelakang dengan tatapan bertanya.

“Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan padamu,” Ryeowook berkata dengan wajah khawatir. “Ini penting!” lanjutnya meyakinkan Donghae agar Donghae tetap di sana dan mendengarkan kalimat pentingnya.

Donghae menggeleng pelan. “Tapi ketepatan kehadiranku di jam pelajaran juga penting Kim Ryeowook. Aku akan datang kemari lagi besok,” tukas Donghae melepaskan pegangan tangan Ryeowook dari pergelangan tangannya dan segera berlari menuju ke kelasnya sebelu ia terlambat dan mendapat hukuman, sedangkan Ryeowook hanya memandangnya dengan tatapan kecewa.

***

Donghae mengetuk – ketukkan jarinya di atas meja sambil berpikir, bagaimana caranya untuk bisa membuat Yoojin bertemu dengan Ryeowook? Ia bahkan tidak mengenal Yoojin, ah, Yoojin pasti mengenalnya karena ia memperkenalkan diri di depan kelas saat pertama kali masuk ke sekolah itu. Tapi, tidak mungkin tiba – tiba ia mengajak Yoojin untuk ikut dengannya ke ruang musik tua itu.

“Donghae-ya,” sapa seseorang dari samping Donghae, Eunhyuk. Donghae menoleh dan tersenyum kecil pada Eunhyuk.

“Ada apa?” tanya Donghae.

“Apa yang sedang kamu pikirkan?”

“Tidak ada,” balas Donghae mengelak. Eunhyuk meyipitkan kedua matanya menatap Donghae.

“Pasti Yoojiin-ssi?” tebak Eunhyuk dan tepat! Ia memang sedang memikirkan Yoojin sekarang. “Kamu tahu, dulu Yoojin-ssi pernah menyukai seseorang, tapi sekarang orang itu sudah meninggal,” lanjut Eunhyuk.

Mendengarnya nama Ryeowook langsung terlintas di kepalanya. “Oh, benarkah?”

Eunhyuk mengangguk – anggukkan kepalanya. “Tapi mereka belum sempat menjadi sepasang kekasih, ya karena orang itu meninggal,” tambah Eunhyuk memalingkan wajahnya pada seorang gadis yang sedang duduk di serong tempat mereka sekarang sedang duduk.

Dan tiba – tiba sebuah ide kecil terlintas dalam kepala Donghae. Ia tersenyum diam – diam, ia telah menemukan satu cara untuk bisa membuat Yoojin bertemu dengan Ryeowook. Dengan sedikit bantuan dari teman barunya itu.

***

“Hey! Hey!” seru Donghae sedikit berlari masuk ke dalam ruang musik tua itu. Ia mendengar Ryeowook masih bermain piano di dalam ruang musik itu dan ketika ia berseru tadi, suara piano itu berhenti.

Ia melihat Ryeowook sedang menatapnya dengan tatapan bingung dan bertanya – tanya.

“Aku telah berhasil membuat Yoojin-ssi akan kemari, jadi segeralah bersiap – siap!” ujar Donghae duduk di samping Ryeowook yang masih terkejut mendegar kabar dari Donghae itu.

“Benarkah?” tanya Ryeowook tak percaya. Donghae mengangguk sekali dan tegas dan sebuah senyuman kecil terbentuk di bibir Ryeowook ketika akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan Yoojin dan meminta maaf padanya.

“Aku meminta salah seorang temanku untuk memberitahu Yoojin-ssi bahwa ada guru yang memanggilnya di ruang ini, jadi ia akan datang segera,” jelas Donghae.

Tapi raut wajahnya kembali berubah, kali ini berubah menjadi raut wajah khawatir seperti saat terakhir kali Donghae melihat Ryeowook. “Ada apa?” bingung Donghae melihat perubahan ekspresi wajah Ryeowook.

“Soal hal penting yang ingin aku bicarakan padamu,” Ryeowook berkata pelan dan ragu. Donghae menaikkan sebelah alisnya, semakin bingung dengan hantu di sampingnya itu.

“Yoojin tidak bisa melihatku, ia juga tidak bisa mendengar suara piano yang aku mainkan di sini. Jadi…” Ryeowook menghentikan kalimatnya, merasa tak yakin dengan hal yang akan ia ucapkan untuk melanjutkan. “Jadi aku harus meminjam tubuhmu untuk membuatnya dapat mendegar dan melihatku,” lanjut Ryeowook membuat kedua mata Donghae terbelalak tak percaya.

“A—apa?” tanya Donghae merasa ia salah mendengar, merasa bahwa telinganya tiba – tiba saja berdengung ketika Ryeowook meluncurkan kalimat itu padanya.

“Aku harus meminjam tubuhmu agar aku bisa bertemu lalu meminta maaf padanya,” ulang Ryeowook.

“Tapi aku belum pernah kerasukan hantu!” Donghae berkata sedikit merasa ketakutan. Bagaimana ia tidak ketakutan sekarang jika tubuhnya akan di pinjam seorang hantu?

“Aku juga belum pernah melakukannya!” ucap Ryeowook panik. “Aku sudah ingin mengatakannya padamu kemarin, tapi kamu malah pergi begitu saja, dan sekarang kamu datang dengan membawa kabar bahwa Yoojin akan segera kemari,” tambah Ryeowook kesal mengingat kemarin Donghae mengacuhkannya dan pergi tanpa mendengar hal penting yang akan ia beritahukan terlebih dahulu.

Donghae membuka mulutnya lalu menepukkan telapak tangannya keras – keras pada dahinya. Ia tidak tahu jika kemarin Ryeowook akan mengatakan hal sepenting ini. “Kamu harusnya lebih menahanku kemarin!” ucap Donghae.

Ryeowook menghela nafas pelan. “Kita tidak bisa saling menyalahkan begini,” katanya menundukkan kepalanya menatap tuts piano yang ada di hadapannya itu. “Jika kamu memang tidak setuju jika aku meminjam tubuhmu..” Ryeowook menghela nafas pelan, memerosotkan bahunya sebelum kembali melanjutkan, “aku juga tidak bisa memaksamu. Aku juga belum pernah mencobanya, jadi aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak,” ujarnya terlihat sangat sedih.

Donghae menelan ludahnya, melihat Ryeowook yang seperti kehilangan semangat seperti itu entah kenapa tiba – tiba membuatnya merasa bersalah. Ia sendiri yang mengatakan akan membantu Ryeowook jadi jika ia tidak jadi membantu itu artinya ia melanggar janjinya sendiri.

Tapi ia juga tidak pernah berpikir jika Ryeowook akan membutuhkan tubuhnya juga untuk bertemu dengan Yoojin. Yang ia pikirkan adalah Ryeowook bisa bertemu dengan Yoojin, meminta maaf, lalu pergi dengan tenang dari dunia manusia. Ia tidak pernah berpikir bahwa Yoojin tidak dapat melihat Ryeowook dan Ryeowook tidak bisa bertemu dengan Yoojin tanpa meminjam tubuhnya.

Donghae menghela nafas pelan. “Baiklah.”

***

Yoojin berjalan menuju ke ruang musik tua yang sudah tidak pernah di pakai lagi itu. Ia menghela nafas pelan, kenapa seorang guru memanggilnya untuk datang ke tempat itu sementara tempat itu adalah tempat yang membuatnya memiliki berbagai kenangan dengan Ryeowook.

Langkahnya terhenti ketika ia mendengar sebuah suara alunan musik terdengar samar. Yoojin menaikkan sebelah alisnya. “Apakah guru yang memanggilku itu Yoon Sonsaengnim?” gumam Yoojin menerka – nerka siapa guru yang memanggilnya, Yoon Sonsaengnim adalah satu – satunya guru musik di sekolah itu, jadi mungkin sekarang Yoon Sonsaengnim yang sedang bermain piano.

Ia kembali terhenti ketika ia telah sampai tepat di depan pintu ruangan itu. Suara piano itu terdengar jelas sekarang. Suara alunan piano yang pernah ia dengar sebelumnya, lagu saat pertama kali ia bertemu dengan Ryeowook. Dan tiba – tiba saja, jantungnya berdetak sangat cepat dan tidak teratur.

Berbagai kenangannya bersama Ryeowook kembali terbayang dalam kepalanya. Semua kenangan indah itu membuat dadanya sesak ketika mengingat bahwa ia tidak akan pernah bisa lagi memebuat kenangan lagi dengan Ryeowook. Dan satu hal lagi yang membuat dadanya semakin terasa sesak, mengingat bagaimana perpisahannya dengan Ryeowook, perpisahan menyedihkan.

Yoojin menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya sebelum ia menurunkan gagang pintu ruang musik tua itu dan membukanya perlahan.

Yoojin memperhatikan sekitarnya, ruangan itu masih sama seperti terakhir kali ia datang ke ruangan itu, hanya saja sekarang ruang musik itu lebih berbau tua dan terlihat tidak terawat.

Alunan musik itu terhenti. Yoojin mendekatkan dirinya pada piano besar itu untuk melihat siapa yang sedang bermain piano sekarang. Dan kedua alisnya saling bertautan ketika melihat siapa orang itu.

“Lee Donghae-ssi?” heran Yoojin.

Donghae tersenyum kecil pada Yoojin saat mata mereka bertemu. “Yoojin-ah,” ucap Donghae menarik tubuhnya berdiri di hadapan Yoojin.

Yoojin tercekat ketika mendegar suara Donghae, ia terdengar seperti… Ryeowook.

“Aku… aku Ryeowook, Yoojin-ah,” lanjut Donghae.

Yoojin menaikkan sebelah alisnya tak mengerti. Bagaimana Donghae bisa berkata bahwa dirinya adalah Ryeowook? Lagi pula, bukankah Donghae murid baru di sekolah itu? Dari mana ia tahu tentang Ryeowook.

Yoonjin tertawa sinis mendengarnya. “Jangan beracanda,” ucap Yoojin melipatkan kedua tangannya di depan dadanya. “Jadi sebenarnya yang memanggilku kemari kamu, bukan guru, huh?” tanyanya dengan nada ketus.

“Yoojin-ah, ini benar – benar aku, Kim Ryeowook,” Donghae kembali berkata mencoba untuk meyakinkan Yoojin. Ya, yang sekarang berada di hadapan Yoojin memang Donghae tapi di dalam tubuh itu ada Ryeowook, Ryeowook yang telah berhasil masuk ke dalam tubuh Donghae dan meminjamnya untuk meminta maaf pada Yoojin.

Yoojin kembali tertawa. “Bagaimana kamu bisa menjadi Ryeowook? Juga bagaimana kamu tahu tentang Ryeowook?” tanya Yoojin tak percaya.

“Aku meminjam tubuh Donghae karena hanya Donghae yang bisa melihatku dan karena ada hal yang ingin aku sampaikan padamu,” Ryeowook kembali berkata.

“Kalau memang benar begitu, buktikan padaku jika kamu benar – benar Ryeowook,” ucap Yoojin menelan air liurnya susah payah, entah kenapa suara yang ia dengar dari mulut Donghae terdengar sangat sama dengan Ryeowook, nada dan cara bicaranya sama.

Ryeowook menghela nafas pelan, ia tahu tidak akan semudah itu Yoojin mempercayai perkataannya. “Baiklah,” ucapnya pelan. Ia kembali mendudukkan dirinya di atas kursi piano dan kembali memainkan alunan musik yang sama seperti yang ia mainkan sebelumnya, tapi kali ini, ia bermain sambil bernyanyi.

Yoojin memperhatikan baik – baik Donghae bermain piano. Dan ketika Donghae mulai bernyanyi, ia membuka kedua matanya lebar – lebar ketika suara yang keluar dari bibir Donghae adalah suara nyanyian yang khas yang dimiliki oleh Ryeowook.

Beberapa manit berlalu dan Ryeowook telah selesai menyanyikan satu lagu pertemuannya dengan Yoojin, ia mengangkat kepalanya menatap lirih pada Yoojin. “Lagu saat pertama kali kita bertemu di ruangan ini,” ucap Ryeowook tersenyum lemah.

Dan bahkan tatapan itu nyaris sama dengan tatapan Ryeowook.

“Lalu lagu ini,” Ryeowook kembali menarikan jari – jarinya di atas tuts – tuts piano. “Lagu yang aku buat saat ulangtahunmu,” lanjut Ryeowook. Ryeowook kembali berdiri dari duduknya. “Jadi apakah kamu sudah percaya sekarang?” tanya Ryeowook.

Yoojin menatap ragu pada Donghae—Ryeowook—yang ada di hadapannya. Semua yang Donghae lakukan di hadapannya adalah yang biasanya Ryeowook lakukan. Dan tanpa ia sadar, satu demi satu tetes air mata mengalir dari kedua matanya.

“Hey, jangan menangis,” ucap Ryeowook kaget ketika melihat Yoojin meneteskan airmata. Ia mengulurkan kedua tangannya dan menyeka airmata itu dengan ibu jarinya lalu menyentuh kedua pipi Yoojin lembut.

“Bagiamana bisa?” gumam Yoojin bertanya lebih pada dirinya sendiri.

“Karena masih ada hal yang ingin aku sampaikan padamu sebelum aku benar – benar pergi,” ujar Ryeowook lembut dengan seulas senyum kesedihan di bibirnya.

“Kamu menyebalkan sekali! Kenapa kamu meninggalkanku?! Aku bahkan tidak bisa berada di sisimu di saat kamu menghadapi penyakitmu,” seru Yoojin tertahan sembari memukul – mukulkan tangannya di dada Donghae.

Ryeowook menghela nafas pelan. Ia menurunkan tangannya pada bahu Yoojin. “Maafkan aku, maaf karena aku tidak memberitahumu tentang penyakitku, maaf karena aku membuatmu marah, maaf karena aku… aku belum sempat mengucapkan kata suka padamu,” Ryeowook berkata, membuat airmata Yoojin kembali mengalir dan kali ini mengalir lebih deras dari yang tadi.

“Hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu. Aku benar – benar meminta maaf padamu Yoojin-ah, aku tidak bisa menjadi seseorang yang berguna bagimu,” tambah Ryeowook.

Yoojin mengigit bibir bawahnya keras. “Aku juga minta maaf maaf karena aku marah padamu tidak seharusnya aku marah saat itu yang hanya memperburuk keadaan. Maaf jika aku juga belum sempat mengatakan suka padamu,” Yoojin berkata suaranya terdengar bergetar.

Ryeowook tersenyum kecil. Ia menghela nafas lega ketika urusannya di dunia itu telah selesai. “Aku tahu kamu menyukaiku, aku tahu pesonaku memang terlalu hebat,” canda Ryeowook membuat Yoojin tertawa pelan.

“Dan karena urusanku di dunia ini telah selesai, aku bisa pergi dari dunia ini dengan tenang. Aku harap, kamu bisa hidup lebih bahagia dari sekarang. Berjanjilah padaku?”

“Ya, aku berjanji padamu. Aku akan lebih bahagia dari sekarang,” ucap Yoojin membuat Ryeowook tersenyum lega.

“Selamat tinggal Yoojin-ah,” ucap Ryeowook pada Yoojin. “Ah, sampaikan terimakasihku pada Donghae karena ia telah rela meminjamkan tubuhnya padaku ya,” pinta Ryeowook meringis lebar, dan untuk yang terakhir kalinya, ia tersenyum lembut pada Yoojin sebelum ia benar – benar pergi.

“Selamat tinggal, Ryeowook-ah,” gumam Yoojin. Dan berselang beberapa detik setelah itu, tubuh Donghae langsung terjatuh di atas lantai ruangan membuat Yoojin terkejut dan sadar bahwa Ryeowook baru saja meminjam tubuh Donghae.

“Donghae-ssi!” seru Yoojin berlutut di samping tubuh Donghae yang terpejam. Dan karena ia bingung harus berbuat apa, Yoojin hanya bisa menatap khawatir bercampur cemas pada Donghae.

“Ukh…” erang Donghae dan perlahan kedua matanya kembali terbuka. Donghae mengulurkan tangannya, menyentuh kepalanya yang terasa pusing itu lalu duduk di atas lantai ruangan.

Ia menyipitkan matanya ketika melihat seseorang berada di sampingnya dan perlahan ia dapat melihat bahwa gadis itu adalah Kim Yoojin.

“Apa kamu baik – baik saja?” tanya Yoojin cemas. Donghae mengangguk sekilas.

“Jadi Yoojin-ssi, apakah Ryeowook sudah bicara denganmu?” tanya Donghae dengan volume suara yang pelan. Yoojin mengangguk pelan.

“Baguslah, sepertinya aku tidak akan mau untuk dirasuki lagi oleh hantu,” ujar Donghae karena setelah Ryeowook keluar dari tubuhnya kepalanya benar – benar terasa pusing. Yoojin tersenyum kecil mendengarnya.

“Ah, Ryeowook menitip salam padamu, ia berterimakasih karena kamu sudah mau meminjamkan tubuhmu padanya,” ujar Yoojin.

“Oh? Dia masih sempat menyampaikan salam?” heran Donghae.

“Ya. Terimakasih pula, karenamu aku bisa bicara dengan Ryeowook, walau hanya sebentar,” Yoojin berkata tersenyum kecil pada Donghae yang mengangguk padanya.

“Lebih baik jika sekarang kita kembali ke kelas, Yoojin-ssi.”

“Tapi, apa kamu sudah merasa baikkan?”

“Ya, aku rasa,” balas Donghae menarik tubuhnya berdiri. Dan bersama, mereka berdua keluar dari ruangan itu.

Tapi langkah Donghae terhenti ketika tiba – tiba ia mendegar sebuah dentingan ringan piano dari ruang musik tua itu. Ia menolehkan kepalanya kebelakang lalu memicingkan kedua matanya menatap pada pintu ruang musik tua itu yang telah tertutup rapat.

Menyadari Donghae menghentikan langkahnya, Yoojin ikut menghentikan langkahnya dan menatap bingung pada Donghae. “Ada apa?” tanyanya.

Donghae mengerjapkan kedua matanya beberapa kali lalu menggeleng cepat. “Ani, tidak ada apa – apa,” katanya kembali berjalan ke depan, menyamai langkah Yoojin.

***

Ryeowook terkikik pelan, “Aku hanya ingin bermain piano sebentar disini sebelum aku benar – benar pergi,” ujarnya mengangkat – angkat kedua bahunya lalu mengedikkan sebelah matanya.

“Ada yang salah?” lanjutnya meringis lebar.

 

END.

3 Comments (+add yours?)

  1. Laili
    Nov 03, 2015 @ 04:36:15

    Bagus…. udah rapi nulisnya. Gampang dipahami. Pokoknya keren dah….
    Keep writing…

    Reply

  2. yufita
    Nov 03, 2015 @ 10:48:40

    keren..
    sering-sering aja author buat ff kayak gini yaa🙂

    Reply

  3. ayu diyah
    Nov 09, 2015 @ 13:42:47

    lucu yah.. hihi
    biasa nya klu hantu gtu biasa nyeremin.. hehehe
    tpi malah bikin ngakak guling2

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: