[Donghae’s Day] My Bridal’s Groom

finished

 

 

Judul                     : My Bridal’s Groom

Author                  : Charene

Main cast             : Lee Donghae

Kim Cheonsa

Soo Hyerim

Genre                   : romance, hurts

Rating                   : PG-15

Author Notes    : Gomawo buat siapa aja yang udah mau nyempetin baca ff oneshot pertama saya yang abstrak ini.  Jeongmal gomawo juga buat siapa aja yang udah mau ngasih kritik dan saran yang berguna banget. Mian kalo banyak typo(s) dan ceritanya yang mungkin udah biasa. Happy Reading ^^

Seoul

Awan mendung berarak ke langit Seoul, menumpahkan rintikan hujan dan membawa angin yang menari-nari bersama dedaunan. Membuat semua pejalan kaki merapatkan jaketnya dan mencari tempat untuk berteduh. Termasuk seorang pria yang baru saja menghangatkan tubuh tegapnya di dalam sebuah kafe.  Seorang pelayan menghampirinya dengan membawa nampan berisi kopi hitam dengan cream di atasnya, kopi yang selalu dipesannya tiap ia mampir ke sana.

Pria itu mengambil ponselnya dari dalam kantong dan memainkan jemarinya di atas tombol. Ia meletakkan ponselnya di telinga kanannya kemudian meraih cangkir kopinya yang masih mengepul. “Aku di kafe. Kalau kau mau, kau bisa kemari.” Katanya pada seseorang di ujung telepon. Setelah sambungan telepon terputus ia meniup kopinya agar tak terlalu panas, lalu menyeruputnya.

Tak lama terdengar suara bel yang gemerincing dari arah pintu diikuti langkah kaki yang mendekat ke arah pria itu. “Donghae-ya.” sapa seorang gadis yang baru saja datang dengan senyum manis yang selalu tersulam di bibirnya hanya untuk pria di hadapannya saat ini.

Pria bernama Donghae itu hanya menarik sedikit ujung bibirnya ke atas. Senyum yang akhir-akhir ini sering dilemparkannya pada gadis itu, gadis yang tak pernah jauh darinya tiga tahun terakhir ini.

“Jadi apa yang ingin kau katakan? Apa ini tentang makan malam kita?” tanya gadis itu seraya mengambil tempat duduk di depan Donghae. “Oh, aku tidak akan memaksamu lagi. Kalau kau sibuk, kau bisa…” lanjut gadis itu nyaris tanpa jeda.

“Cheonsa,” potong Donghae dengan sedikit menunduk. “Ini.. bukan tentang makan malam.” Lanjutnya.

“Lalu?” tanya Cheonsa masih memerkan senyumnya.

“Ini tentang,” Donghae terdiam sejenak. Lalu mulutnya terbuka seakan hendak menyampaikan sesuatu namun tertutup kembali. “Besok… Ayo kita pergi berdua.” Lanjutnya.

Pupil mata Cheonsa melebar, tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Sudah lama Donghae, kekasihnya, tak mengajaknya berkencan. Akhir-akhir ini Cheonsa yang paling sering mengajak Donghae bertemu. “Jinjja? Apa ini kencan?” tanya Cheonsa memastikan, takut kalau ia salah dengar.

Donghae mengangguk sebagai jawaban. Lalu tersenyum, senyum yang menyimpan beribu makna. “Kau yang tentukan waktu dan tempatnya. Hubungi aku nanti.”

“Syukurlah,” gumam Cheonsa. “Ng, maksudku. Baiklah akan ku hubungi kau nanti.” Lanjutnya tanpa menyembunyikan kegembiraan yang menyelimuti hatinya.

‘Pada akhirnya apa yang ada di pikiranku tak tersampaikan padanya. Senyum itu terlalu indah untuk dihapus dari wajahnya.’ Batin Donghae sambil menatap Cheonsa yang kini memamerkan deratan giginya yang rapi.

Kemudian Donghae membunuh waktunya untuk mendengar segala ocehan Cheonsa. Tentang pekerjaannya, tentang Eommanya, dan tentang harapan-harapannya dengan Donghae di kemudian hari.

——

                Donghae melemparkan tubuhnya ke ranjang, apa yang kini dirasakannya sama sekali bukan keinginannya. Baru saja Donghae menghabiskan malam bersama Cheonsa. Hal yang selalu diimpikannya 4 tahun lalu.

Setahun berusaha memasuki hati Cheonsa, setahun mengenal kebiasaan Cheonsa yang menggigit bibir bawahnya saat gelisah, setahun mengenal kesukaan Cheonsa akan menari, setahun mengetahui begitu besar usaha Cheonsa meraih cita-citanya, setahun mengenal sifat buruk Cheonsa yang sedikit egois. Apapun yang dikenal Donghae dari Cheonsa membuatnya merasa begitu beruntung bisa mengenalnya. Hingga bara keberanian itu menyala dalam dirinya. Donghae mendatangi stasiun radio Kiss the Radio yang sering didengarkan Cheonsa. Dengan iringan petikan gitar Donghae melantunkan lagu ‘No Other’ milik boyband Super Junior, yang ditujukannya untuk seorang Kim Cheon Sa. Dan satu tahun itu berakhir dengan hubungan hangat yang mereka rajut selama tiga tahun. Sampai detik ini.

Donghae memejamkan kelopak matanya rapat-rapat. Bayangan senyum Cheonsa selalu membayangi benaknya.  Senyum yang dulu begitu dipujanya. Senyum yang dapat membuat hatinya berdesir. Senyum yang selalu ingin dilihatnya di wajah cantik Cheonsa.

Namun kini… Donghae menjambak rambutnya kuat-kuat, ia marah pada dirinya sendiri. Kini… rasa sayang dan cinta yang Donghae pernah rasakan perlahan menguap. Tergantikan rasa bosan dan lelah yang selalu dirasakannya saat berdua dengan Cheonsa. Mungkin tiga tahun melahap habis rasa yang dimilikinya terhadap Cheonsa. Mungkin Donghae harus menjauh dari Cheonsa untuk sementara waktu.

Donghae tahu ia begitu bodoh. Seminggu ini yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana cara memutuskan hubungannya dengan Cheonsa tanpa harus menyakiti perasaannya. Walaupun begitu, saat melihat Cheonsa yang terlihat begitu bahagia saat bersamanya selalu mengagalkan niatnya untuk memutuskan hubungan mereka.

“Cheonsa-ya. Eottokhae? Eottokhae?”

——

                Matahari tergantung di langit, membagikan kehangatannya ke setiap sudut Seoul. Sangat kontras dengan awan mendung yang menyapu cahayanya kemarin. Siang ini, Donghae sengaja datang ke teater tempat Cheonsa biasa berlatih melekuk-lekuk tubuhnya hingga membentuk gerakan yang indah. Donghae sengaja menjemput Cheonsa untuk kencan mereka.

Dalam diam Donghae melihat Cheonsa yang bergerak dengan begitu gemulai, membuatnya sedikit terpana, sebentar, lalu perasaan kagum itu lagi-lagi hilang entah ke mana. Kini Donghae tengah menikmati senyum Cheonsa yang terus melekat saat ia menari. Senyum yang biasa dilihatnya. Melihat hal ini membuat Donghae ikut tersenyum lega. Ternyata masih ada hal lain yang dapat membuat Cheonsa tersenyum selain dirinya. Setidaknya hal ini dapat meringankan rasa bersalah yang menggerogoti hatinya.

——

                Seperti janjinya Donghae akan menemani Cheonsa ke tempat yang diinginkannya. Sambil menyetir mobilnya, ia melempar pandang ke jalanan yang mereka lalui. Sepertinya, ia mengenali jalan ini. Jantungnya nyaris berhenti berdetak saat membaca tulisan Kiss the Radio yang tercetak pada sebuah papan iklan.

“Ini…” gumam Donghae.

“Ya, kita ke studio Kiss the Radio.” Jawab Cheonsa. “Aku ingin kau bernyanyi lagi untukku.” Lanjut Cheonsa.

Donghae menoleh ke arah Cheonsa lalu tersenyum tipis.

“Lagu yang sama seperti tiga tahun lalu.” Lanjut Cheonsa.

Donghae diam tak bergeming lalu kembali memfokuskan dirinya pada kemudi mobil.

Apakah Cheonsa mencoba kembali mengingatkan Donghae akan masa bahagia mereka? Jika iya, ini akan menjadi lebih sulit untuk Donghae untuk meninggalkan Cheonsa.

——

                Donghae menatap dua personel Super Junior, Eunhyuk dan Ryeowook yang sedang tertawa bersama, dengan tatapan kosong dan bosan. Haruskah Donghae bernyanyi untuk Cheonsa? Terlebih lagu tersebut sudah tak lagi menggambarkan perasaannya.

“Yaaa.. kali ini kita kembali kedatangan tamu. Seorang namja tampan yang datang kemari bersama seorang yeoja cantik.” Seru Eunhyuk bersemangat.

“Tampaknya mereka tengah kasmaran.” Timpal Ryeowook dengan nada yang dibuat-buat.

“Sepertinya begitu. Aahh, Cheonsa-ya kau membuatku cemburu. Namjachingumu begitu tampan.” goda Eunhyuk disambut tawa renyah Cheonsa.

“Cheonsa-ya jangan mendengarkan monyet yadong ini. Yak langsung saja, Donghae akan menyanyikan lagu untuk siapa lagi kalau bukan Cheonsa…” kata Ryeowook disambut tepuk tangan riuh dari Cheonsa, Ryeowook, dan Eunhyuk.

Donghae meraih gitar yang bersandar di dinding yang dingin. Dimainkan intro dari melodi yang akan dimainkannya. Cheonsa mengerutkan keningnya, tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Detik berikutnya saat Donghae mulai menyanyikan  sebaris lirik, air mata Cheonsa tak lagi dapat terbendung. Lirik yang dinyanyikan Donghae bukanlah lirik No Other yang diharapkan Cheonsa dapat didengarnya kembali. Melainkan lagu A Short Journey milik Super Junior yang amat dikenalnya. Lagu yang menggambarkan sebuah perpisahan singkat.

Oh Baby say Goodbye Oh jamsiman Goodbye

Annyeongiran maleun jamsi jeobeodulge

Jeo munuel yeolgoseo han geoleum naemilmyeon

Ko ggeuteuro jeonhaejuneun neoul sumgyeol

Sambil menatap lurus ke dalam iris coklat Cheonsa, Donghae menyanyikan baris demi baris lagu itu.

Geureo ddo haega jigo dali ddeuneun oneul yeoksi byeonhami eobneunde

Oh  wae jagguman nae mameun ireohge bbareuge dalrajineunji

Paran haneul dalmeun geudaeui moseubun eoneu saenga bireul naerigo

Ibtsoke momi jeojeumyeon heureuneun nunmul ddawon gamchwodulge yeah

Saat gitar berhenti berbunyi, air mata Donghae mengalir membasahi pipinya. “Mianhae…” bisiknya yang dapat didengar Cheonsa. Tangis Cheonsa mengeras, ia berlari meninggalkan ruangan itu, diikuti Donghae yang tak lagi tahan melihat Cheonsa menangis. Meinggalkan Eunhyuk dan Ryeowook yang saling memandang dengan tatapan bingung.

Cheonsa berlari hingga ke tempat parkir. “Cheonsa-ya!” suara Donghae menghentikan langkah kaki Cheonsa. Tampak napas Cheonsa yang tak beraturan. Donghae mendekatinya, rasanya ingin sekali dapat memeluk Cheonsa yang terlihat begitu lemah. Namun Donghae mengurungkan niatnya. Jika Donghae memeluknya, itu akan membuat Cheonsa semakin sulit melepas Donghae. Donghae tak ingin terus memanipulasi perasaannya.

“Mianhae…” hanya itu yang meluncur dari bibir Donghae.

“Aku sudah tahu hal ini akan terjadi. Aku hanya tak mengira akan secepat ini.” Ungkap Cheonsa.

Donghae terdiam, ingin mendengar perkataan Cheonsa lebih lanjut.

Cheonsa membalik tubuhnya dan menatap mata Donghae dengan intens. Diusapnya pipi Donghae. “Matamu… tak lagi berbinar saat bertemu denganku, tak lagi memandangku saat aku di dekatmu.” Kata Cheonsa, air matanya terus mengalir. “Bibirmu… tak lagi tersenyum untukku, tak lagi mengucapkan kata-kata manis yang dulu sering kudengar.” Lanjutnya. Cheonsa menarik tangannya dari pipi Donghae.  Lalu ia tersenyum, kali ini senyum yang nampak di wajah Cheonsa justru membuat Donghae merasa sangat bersalah. “Saat itulah aku tahu, hatimu bukan milikku lagi.” Lanjut Cheonsa.

“Kau…” Donghae bersuara.

“Seharusnya aku yang minta maaf. Selama ini aku berpura-pura tidak tahu akan hal ini. Aku membiarkan diriku tenggelam dalam kebahagiaan yang fana. Maafkan aku membuatmu terpaksa berada di sisiku. Aku begitu egois.” Itulah kalimat terkahir Cheonsa sebelum Cheonsa berlari pergi. Pergi dari hidup Donghae.

——

Mokpo

Donghae tidak ingin terlalu lama terlarut pada rasa bersalahnya pada Cheonsa. Bukan berarti ia tak peduli pada gadis yang namanya pernah terukir di hatinya. Donghae hanya ingin memulai langkah yang baru, Donghae ingin kembali merasakan debaran yang dulu pernah ada saat bersama Cheonsa dengan orang lain.

Donghae pun kembali ke kampung halamannya di Mokpo. Tempat kelahirannya sekaligus tempat kelahiran ikan-ikan segar korea. Untuk satu bulan ke depan ia akan tinggal bersama Eomma dan Appanya persis seperti dulu sebelum Donghae hijrah ke Seoul. Sang Eomma dan Appanya merangkum tubuh Donghae dalam satu pelukan. Dan ini adalah kali pertama Donghae senang setelah berpisah dari Cheonsa. Sebuah kemajuan kecil yang cukup berarti.

Sore ini Donghae memutuskan untuk menghabiskan hari pertamanya di Mokpo dengan berjalan di kompleks rumahnya yang masih dapat dihafalnya

Langkah Donghae terhenti saat melihat sebuah pohon besar dengan rumah kecil yang bertengger di ujungnya. “Rumah pohon?” gumamnya. Tiba-tiba sekelebat ingatan muncul di otaknya. Dulu tak pernah seharipun dilewatkannya tanpa rumah pohon ini.

——

“Donghae? Lee Donghae?” panggil seseorang diantara riuhnya pedagang pasar yang menjajakan ikannya. Namun sayang suara itu tak sampai ke telinga Donghae yang sedang membantu mengangkut ikan ke kios Eommanya.

“Donghae!” tiba-tiba seorang gadis muncul di hadapannya membuat Donghae terlonjak kaget dan nyaris menumpahkan bawaannya. Gadis itu terkekeh dan membantu Donghae membawa sebagian ikannya.

“Nuguya?” tanya Donghae.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Apakah udara di Seoul membuatmu lupa padaku?” tanya gadis itu.

Donghae mengerutkan dahinya, menunjukkan bahwa dirinya tengah berpikir keras. “Hyun Ra? Hyunra-ya?” gumamnya setelahnya.

Senyum cerah langsung mengembang di bibir tipis Hyunra. “Sudah kuduga, mana mungkin kau melupakan gadis scantik aku.” Katanya sembari menepuk-nepuk keras pundak Donghae. Dan kedua kalinya Donghae nyaris menumpahkan ikan-ikan Eommanya.

Donghae mendengus mendengarnya. “Mana mungkin aku lupa pada gadis Iblis sepertimu.” Balas Donghae.

“Ya!” protes Hyunra kali ini benar-benar memukul pundak Donghae hingga ikan-ikan itu benar-benar tumpah.

——

Matahari di mokpo bersinar begitu terik menciptakan butiran peluh yang perlahan mengalir membasahi wajah Donghae. Berapa kali Donghae menyekanya, peluh itu tak pernah berhenti bercucuran. Donghae baru saja membantu Eommanya menjual ikan-ikan. Sebagai ganti karena Donghae sudah ceroboh menumpahkan ikan-ikan yang dibawanya tadi.

Belum hilang rasa lelah Donghae, Hyunra sudah kembali menariknya. “Ya! Mau ke mana?”

Akhirnya mereka tiba di rumah pohon yang dilihat Donghae kemarin.

“Ayo naik.” Ajak Hyunra menggandeng tangan Donghae.

“Rumah pohon ini masih kuat?” tanya Donghae.

Hyunra tertawa ringan. “Kenapa? Takut?”

Donghae tersenyum sinis lalu memanjat rumah pohon dari sisi lain. “Yang terakhir naik harus menari dan berjoget di tengah pasar.” Tantang Donghae dengan gesit menapakkan kakinya pada anak-anak tangga.

“Senang akan melihatmu berjoget di tengah pasar.” Ucap Hyunra yang kini tengah melihat Donghae dari atas rumah pohon. Donghae memandangnya datar, “Sial.” Umpatnya.

Donghae menemukan banyak barang miliknya sewaktu kecil termasuk barang milik Eommannya yang diambilnya tanpa sepengetahuannya. Demikian Hyunra yang kini sudah mengobrak-abrik tumpukan barang yang sudah terlihat tua.

Tiba-tiba Donghae teringat sesuatu. “Hyunra-ya.. bukankah kau pindah ke Seoul setelah tamat SD?” tanya Donghae.

“Ne, aku lebih dulu ke sana daripada dirimu.” Jawab Hyunra.

“Kenapa kita tidak bertemu?” tanya Donghae lagi.

“Ya! Kau pikir Seoul selebar halaman rumahmu?” jawab Hyunra terkekeh.

“Lalu sedang apa kau di sini?” tanya Donghae, banyak sekali hal yang ingin ditanyakannya.

Hyunra terdiam. “Bagaimana kalau kubilang untuk bertemu denganmu?” tanya Hyunra.

“Aku?” Donghae menunjuk dirinya sendiri dengan mata membulat.

“Bercanda. Hanya.. liburan. Kau sendiri? Kau kemari untuk melupakan cintamu yang kandas di Seoul?” tebak Hyunra tepat sasaran.

Raut wajah Donghae berubah, bayangan Cheonsa yang menangis lagi-lagi menghantui dirinya.

“Bercanda lagi. Kenapa kau begitu serius, Hae?” tanya Cheonsa terbahak melihat wajah Donghae, seperti remaja labil yang tengah putus cinta.

Dengan gerakan cepat Donghae memiting gadis yang sudah dikenalnya belasan tahun itu hingga gadis itu menjerit-njerit yang dibuat-buat.

——

Donghae merengut. Entah mengapa ia harus membuat taruhan bodoh itu. Dan entah mengapa ia benar-benar berdiri tepat di tengah pasar, di tengah kerumunan orang.

Sementara Hyunra melihat wajah Donghae yang ditekuk dari kejauhan sebagai pemandangan yang menyenangkan.

Hyunra mulai menekan tombol mulai lalu, lagu Genie milik Girls Generationmelantun ke seluruh telingan pengunjung. Sementara Donghae panik dan menatap Hyunra dengan tatapan membunuh. Namun semenit kemudian Donghae sudah mulai bernyanyi dan menari di depan beribu pasang mata ajjumah-ajjumah, ia sudah memutus urat malunya.

Ajjumah-ajjumah itu berbisik satu sama lain, sampai akhirnya mereka menikmati goyangan Donghae dan ikut menari, bukan gerakan Genie, lebih ke gerakan yang hanya dapat dipahami ajjumah-ajjumah. Tapi Donghae tetap menari bersama ajjumah-ajjumah itu. Lalu dihampirinya Hyunra, ditariknya masuk ke lautan pengunjung. Donghae memberiinstruksi gerakan girly ala Girls Generation. Bukannya ikut menari Hyunra malah tertawa terbahak-bahak. Dan lambat laun tubuhnya mulai mengikuti gerakan Donghae. Namun Hyunra malah terpelesat, dan layaknya dongeng-dongeng sebelum tidur, Donghae menangkap tubuh Hyunra dan mereka menatap satu sama lain.

Hari itu adalah satu hari dimana Donghae benar-benar tidak mengingat nama Cheonsa.

——

Hyunra menyandarkan tubuhnya pada dinding rumah pohon. Diam-diam diliriknya Donghae yang tengah terlelap di pundaknya. Donghae yang masih sama seperti yang terakhir dilihatnya. Namun kini Donghae kecil tengah berubah menjadi pria dewasa yang tampan dan… Hyunra langsung menggelengkan kepalanya. Mengusir jauh-jauh apa yang dipikirkannya. Apa yang dirasakannya.

“Cheonsa-ya…” igau Donghae dalam tidurnya. Membuat Hyunra menoleh.

“Cheonsa?” ulang Hyunra.

——

“Hahaha.. apa kau masih ingat saat kau berkata dengan angkuhnya, ‘Aku lebih besar darimu, aku akan menghajarmu.’,” Tanya Hyunra sambil menirukan suara Donghae kecil.

Malam ini mereka tengah duduk di dalam rumah pohon, memandang langit Mokpo yang begitu sunyi, nyaris tanpa bintang, dan kembali mengingat apa yang mereka pernah lalui saat kecil.

“Tapi kau tak pernah melakukannya.” Lanjut Hyunra sambil tersenyum. “Dan kau ingat saat aku memaksamu bermain mempelai laki-laki dan mempelai perempuan? Kau menangis karena tak mau menikah denganku.” Kata Hyunra lagi lalu tertawa

Donghae ikut tertawa, lalu tawa itu berubah menjadi senyum jahil. “Apa kau ingat saat kau menantangku untuk menciummu?” tanya Donghae terkekeh.

Wajah Hyunra memerah. “Ya! Saat itu aku masih kecil. Kenapa kau mengingatnya?!” protes Hyunra.

“Lalu saat aku mencoba melakukannya, kau malah berlari ketakutan.” Lanjut Donghae seraya tertawa sambil memegangi perutnya yang sakit.

“Baiklah, sekarang coba lakukan lagi kalau berani. Aku tak akan lari.” Tantang Hyunra tanpa pikir panjang.

Tawa Donghae berhenti, matanya memandang lurus ke mata Hyunra.

Hyunra mengerutkan keningnya. Mengutuki dirinya atas apa yang dikatakannya barusan.

Demikian Donghae. Pikirannya kembali melayang sewaktu kecil dulu, saat Donghae diam-diam menyukai Hyunra. Saat ia harus menyembunyikan semua perasaannya agar ia bisa tetap bersama Hyunra. Saat ia begitu terpukul begitu Hyunra pergi sebelum Donghae mengungkapkan perasaannya. Apakah semua perasaannya pada gadis di hadapannya ini masih tetap sama? Perasaan Donghae terhadap Cheonsa begitu cepat berubah. Mengapa Donghae bisa berpikir perasaannya pada Hyunra masih tetap sama?

Cheonsa. Lagi-lagi nama itu terngiang di telinganya. Donghae harus segera melupakannya. Donghae merapatkan jaraknya dengan Hyunra. Memajukan wajahnya hingga hanya tersisa beberapa senti.

‘Bruk!’ Hyunra mendorong Donghae hingga menjauh.

“Aku akan menikah.” Kata  membuat Donghae terkejut bukan main. “Kedatanganku ke sini, untuk meminta restu dari Eomma dan Appaku.” Lanjutnya.

Donghae menatap Hyunra tak percaya.

“Dulu… Aku menyayangimu. Tapi kau tak pernah memandangku lebih dari seorang teman. Dan saat itulah aku menyerah. Aku bertemu dengan pria ini di Seoul. Dia mirip denganmu, hanya saja ia begitu spontan menyatakan perasaannya. Mianhae, aku sudah terbawa perasaan masa lalu. Tapi kini aku mencintainya seorang.” Lanjut Hyunra menundukkan kepalanya.

——

Seoul

Satu bulan berikutnya…

                Donghae kembali ke Seoul. Kehadirannya di Seoul juga karena ingin menghadiri pernikahan Hyunra…. dan Cheonsa.

Donghae menatap dua gadis itu dengan senyum mengembang. Gaun pengantin yang membalut tubuh mereka masing-masing membuat mereka terlihat bertambah cantik. Donghae sedikit terkejut saat tahu Hyunra dan Cheonsa adalah teman baik di Seoul. Sangking dekatnya mereka melangsungkan pernikah di saat dan di tempat yang sama.

Saat itu setelah mendengar pengakuan Hyunra sebulan yang lalu, Hyunra menceritakan banyak hal tentang kehidupannya di Seoul. Juga tentang Cheonsa, sahabatanya, yang begitu menyayangi Donghae.

Namun kini Hyunra dan Cheonsa sudah hidup dengan kebahagiaan mereka masing-masing. Tanpa Donghae. Donghae kehilangan Hyunra karena sikap pengecutnya, dan begitu ia berani mengutarakan rasa cinta itu pada Cheonsa, ia justru menyia-nyiakannya. Namun Donghae kini senang, keputusannya untuk memutuskan Cheonsa waktu itu membuat Cheonsa bisa bertemu dengan pria yang lebih baik darinya. Walau kini Donghae sadar ia masih berharap dapat melihat senyum Cheonsa yang dulu hanya ditujukan untuknya. Kini Donghae bahagia karena masih bisa tersenyum walau bukan karenanya.

Donghae mengangkat kedua lengannya, kemudia dua gadis itu menyelipkan tangannya masing-masing ke dalam lengan itu. Donghae menuntun mereka menuju altar. Dan saat mempelai pria datang, Donghae melepaskan tangannya dari Cheonsa dan Hyunra dengan senyum tulus. Cheonsa dan Hyunra langsung menghambur memeluk mempelai pria masing-masing.

Donghae tersenyum bahagia karena orang-orang yang dicintainya bahagia. Hanya menunggu waktu agar Donghae bisa bahagia atas kebahagiaannya sendiri.

—END—

2 Comments (+add yours?)

  1. uchie vitria
    Nov 03, 2015 @ 13:53:58

    ya ampun ngenes banget nasibmu bang nemo
    gk dapet siapa” kan akhirnya
    terlalu berpegang ama masa lalu sampai melupakan cinta disisimu
    menyakiti hati keduanya malahan kamu sendiri yang tersakiti
    kadang apa yang kamu harapkan gk sesuai drngan yang kamu inginkan
    penyesalan selalu diakhir
    nice story

    Reply

  2. Elva
    Nov 18, 2015 @ 19:45:01

    Aigoo … poor donghae !
    Lagian sihh kebanyakan jaim, jadinya ngenes sendiri khan ?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: