[Donghae’s Day] D & Y

D & Y

donghae-ceci-mag-sep-2012-4

Cast : Lee Donghae

Lee Yoogeun

Genre : Hope, Family

Rate : PG-13

Author: Rizki Amalia

***

Lelaki itu mengayuh sepedanya dengan kuat. Sandal jepitnya yang nyaris putus dan mungkin akan membuat kakinya tidak lagi beralas, tidak menyurutkan kayuhannya. Kaos tipis yang menutupi tubuhnya sudah basah sejak tadi. Peluh juga sudah membanjiri wajah putihnya. Nafasnya terdengar cepat dan tidak karuan.

 

Terik matahari membuat matanya harus menyipit dan mengerjap berkali-kali untuk mengatur pandangan. Baginya ini musim panas yang berlebihan. Panasnya berbeda. Sesekali satu tangannya mengusap peluh yang terus menetes didahi, lalu kembali fokus mengayuh sepeda.

 

Pria itu melaju kencang menembus padatnya jalan raya dimana banyak terdapat mobil mengkilap serta kendaraan bermotor lainnya. Ia memang bukan satu-satunya pengendara sepeda disana, tetapi mungkin hanya dia yang masih setia dengan sepeda keluaran tahun 1990 itu.

 

“Aiss..kenapa rasanya jauh sekali,” gerutunya dalam hati melihat ia masih terjebak dijalan raya yang padat, bukan jalanan sepi menuju tempat yang harusnya sejak tadi ia datangi. Ia benar-benar lupa. Memorinya bekerja tidak baik hari ini dan dengan bodohnya melupakan hal penting. Maka dengan harapan belum ada kata terlambat, ia terus melaju. Gedung besar yang ingin ia datangi entah kenapa terasa dua kali lipat dari jarak yang seharusnya. Jauh sekali.

 

Kini ia terbebas dari area dimana hanya ada kendaraan elit yang lewat. Sekarang ia bergerak pada jalan satu arah dan beruntung, tidak seramai tadi. Dan harusnya, gedung yang ia tuju tinggal satu kilometer lagi. Ia percepat gerakan kakinya lebih dan lebih.

 

Brukk. Ia lempar sembarangan kendaraannya itu diantara deretan mobil mewah yang terparkir. Ia memang sudah sampai dan dengan tidak sabar berlari memasuki gerbang. Karena terburu-buru dan tidak begitu memperdulikan jalan, ia bertubrukan dengan seorang pria petugas keamanan.

 

“Ah mianhe. Saya buru-buru,” ujar pria itu sopan lantas membungkuk 90 derajat. Ia sudah pasang ancang-ancang akan lari lagi, tapi pria berkumis itu menahannya, “Tunggu !”

 

“Saya benar-benar harus cepat, maaf.” Lelaki bercelana jeans yang lesuh itu sudah bergerak lagi. Namun, si petugas bertubuh tambun itu kembali menahannya.

 

“Ya.. Donghae-ssi dengar dulu. Kau mau menemui Yoogeun bukan ? Memangnya kau tahu letak ruang acaranya ?”

 

“Astaga, benar juga,” pria bernama Donghae itu menepuk jidatnya kuat, “Jadi dimana ?”

 

“Dari sini, belok kiri lalu cari ruangan dengan tulisan aula pada pintu. Silahkan masuk dan berikan Yoogeun dukungan. “ si petugas itu tersenyum ramah lalu menyemangati Donghae dengan mengangkat satu tangannya. Donghae balas tersenyum dan cepat berlari menuju tempat yang dituju. Sesekali ia harus bertubrukan dengan orang-orang yang melintas. Sebagian memandangnya bingung atau bisa disebut jijik, Sebagian menunduk sebagai permintaan maaf. Begitu sampai didepan pintu yang dicari-cari, ia dorong dengan kasar.

 

BRAKK

 

Semua mata tertuju pada tersangka pembuka pintu yang membuat suasana terganggu. Donghae belum sadar akan situasi sekitarnya dan mengedarkan pandangan di atas panggung yang tidak begitu besar didepannya. Ia perhatikan wajah bocah-bocah yang duduk berderet di sebelah kiri panggung. Matanya berhenti pada seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun yang tengah tersenyum padanya.

 

“Yoogeun-ah. Hwaiting !” teriaknya seolah tidak ada makhluk lain disana. Yoogeun tersenyum lalu meletakkan telunjuknya didepan bibir. Donghae mengernyit bingung lalu matanya menelisik sekitar. Coba membaca satu persatu pikiran orang-orang yang memandangnya horror. Hmm..ia seperti mangsa paling lezat yang siap diterkam penghuni hutan. Semua mata melihatnya dengan tatapan lapar. Ia baru sadar, didepannya terdapat puluhan kursi tersusun rapi dimana nyaris tidak ada tempat kosong. Ia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal lalu membungkuk agak lama.

 

“Mianhe…” Setelah mengucapkan kata singkat itu, Donghae bergerak mencari-cari satu kursi kosong untuknya. Beberapa pasang mata masih betah untuk memperhatikannya. Entah apa yang mereka pikirkan. Donghae tidak begitu perduli. Tatapan macam itu sudah sering ia dapati yang bisa diartikan sebagai tatapan tidak suka. Pasti karena penampilan. Ahh persetan. Donghae masih sibuk bergerak kesana kemari lalu seorang wanita paruh baya yang dikenal Donghae sebagai guru di sekolah ini mendekati. Ia menuntun Donghae untuk duduk di barisan paling depan dimana ada satu kursi yang kosong.

 

Donghae tersenyum ramah pada wanita dan pria berpakaian rapi disebelah kiri dan kanannya. Meski tidak mendapat respon baik atau tepatnya diacuhkan, Donghae tetap tersenyum. Ia alihkan pandangan kedepan untuk melihat aksi selanjutnya. Ia tidak tahu apa ia pantas disebut terlambat. Ia tidak tahu apa adiknya, Yoogeun sudah tampil. Maka ia hanya duduk tenang menunggu dan berharap jika datang diwaktu yanag tepat.

 

“Ya..sekarang kita akan tampilkan peserta selanjutnya. Lee Yoogeun”

 

“Huwaa Yoogeun-ah kau pasti bisa !” seru Donghae yang reflex berdiri lalu melompat girang. Lagi-lagi ia menjadi pusat perhatian dengan tingkah seperti itu. Dan seakan tidak melihat, Donghae kembali duduk dengan tangan terus melambai-lambai pada adiknya. Suara tepukan menyambut Yoogeun yang sudah bersiap dengan microphone didepan.

 

Seketika suasana hening. Yoogeun terlihat menutup mata beberapa detik. Donghae menatapnya cemas. Keceriaannya berganti takut. Takut kalau adiknya melakukan kesalahan karena gugup. Satu detik, dua detik, tiga detik, Yoogeun membuka mata. Ia pandang hyungnya sekali lagi, lalu menatap ke depan. Ia tarik nafas panjang.

 

“Lagu ini kupersembahkan untuk hyungku yang tidak tampan yang duduk disana.” Yoogeun buka suara dan membuat Donghae untuk ketiga kalinya jadi perhatian, tepatnya bahan tertawaan, karena setelah kalimat polos dari bocah itu, hampir seluruh penonton tertawa.

 

Donghae melotot dengan membesarkan matanya yang sipit itu. Yoogeun tidak menanggapi dan kembali focus. Setidaknya cara tadi bisa membuatnya menghilangkan rasa gugup.

 

I have a dream, a song to sing

To help me cope with anything

 

If you see the wonder of a fairy tale

You can take the future even if you fail

 

I believe in angels, something good in everything I see

I believe in angels, when ia know the time is right for me

 

I’ll cross the stream, I have a dream.

I’ll cross the stream, I have a dream

 

Yoogeun menyelesaikan nyanyiannya. Hening, sepi. Tidak ada tepukan tangan yang menyambut seperti peserta lain. Yoogeun menggigit bibirnya. Apa nyanyiannya begitu buruk ?.

 

Prok prok….

 

Satu tepukan tangan berawal dari seseorang yang duduk disebelah Donghae. Bahkan ia berdiri lantas menepuk tangan diudara. Perlahan, satu persatu orang disekitar Donghae ikut berdiri dan dalam seketika suasana hening itu berubah riuh oleh tepukan dan seruan para penonton berdasi dan pakaian rapi itu. Donghae belum mengikuti reaksi orang-orang sekitar. Matanya masih memandang satu persatu dari mereka, mencari-cari jika itu mungkin hanya bualan. Tapi rasanya tidak. Ini sungguhan dan kenapa ia harus ragu lalu masih duduk ?

 

Donghae akhirnya berdiri dan seolah tidak mau kalah ia bertepuk tangan paling keras. Ia berteriak dan memberitahukan pada orang-orang siapa bocah yang bernyanyi dengan indah itu, “Dia Yoogeun, dongsaengku.”

 

Belum puas seperti itu, Donghae juga melompat-lompat tidak jelas dan sesekali bersiul. Bahkan saat orang-orang sudah selesai mengapresiasi penampilan Yoogeun, Donghae masih berdiri sendiri bertepuk tangan. Lagi, ia menggantikan para peserta dipanggung untuk dilihat.

 

Yoogeun yang sebenarnya ingin langsung turun lalu memeluk Donghae, harus menahannya. Ia harus duduk kembali bersama peserta lain alias teman-temannya sendiri. Ia adalah peserta akhir yang artinya akan tiba saatnya para juri berdiskusi menentukan pemenang. Ini bukan sekedar kompetisi disekolah yang memperebutkan piala. Ini sangat berarti bagi Yoogeun sebagai pengakuan. Ia ingin untuk pertama kalinya, ia diakui. Ia dianggap dan diperhitungkan. Bukan lagi menjadi bahan tertawaan, bahan ejekan, sasaran untuk di bully. Melihat respon penonton, guru, dan teman-temannya atau jika boleh ia menyebutnya musuh, ikut bertepuk tangan. Maka apapun hasilnya, kalah , menang, ia sudah cukup mendapat apa yang diinginkan. Pengakuan.

 

Kepala sekolah, seorang wanita paruh baya dengan kacamata bening sudah berdiri di tengah panggung dengan sebuah kertas ditangan. Sesekali ia membenarkan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak bergeser, lalu berdehem pelan. Yoogeun tidak lagi begitu ingin memasang telinga untuk mendengar apa yang disampaikan. Meski sepertinya ia adalah satu-satunya peserta yang mendapat respon luar biasa, bukan berarti Juri sependapat. Terlebih ia nekat membawakan lagu bahasa inggris. Bisa dipastikan para juri yang notabene adalah guru seni lulusan Amerika itu akan banyak mengoreksi pengucapannya.

 

“Ehem,” sang kepala sekolah berdehem lagi. Itu membuat Donghae gemas dan serasa ingin merampas kertas itu dan biar ia saja yang membaca dengan lantang. Tentu saja jika yang tertera adalah nama Yoogeun. Jika bukan, maka kertas akan ia serahkan kembali.

 

“Ditangan saya sudah ada tiga nama terbaik. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, jika pemenang pertama akan mewakili sekolah untuk mengikuti kompetisi antar sekolah. Maka…bersiaplah !”

 

Musik pengiring diputar. Alunan yang terdengar menegangkan hasil petikan gitar dan dentungan drum itu membuat semua orang menarik nafas gugup. Kecuali Yoogeun. Bocah berambut hitam pekat itu justru duduk santai sambil memainkan kedua kakinya. Ia mengambil permen karet dari saku celana lalu mengunyahnya. Entah memang proses menuju penyebutan nama itu yang lama atau karena keahlian Yoogeun sendiri, balon-balon sudah bisa dihasilkannya dari permen karet tadi.

 

“Pemenang ketiga jatuh pada……Choi Minho !!!”

 

Prok prok prok…

 

Suara tepukan menggema seisi ruangan. Sepasang pria dan wanita paruh baya yang duduk tepat dibelakang Donghae berdiri. Sepertinya nama yang disebut tadi adalah nama anak mereka. Yang penting itu bukan nama Yoogeun. Donghae bernafas lega, tentu saja ia mengincar juara pertama.

 

“Pemenang kedua jatuh pada……Lee Yoogeun”

 

Prok prok prok…

 

Tepukan tangan kembali membahana tapi kali ini diikuti tatapan tidak percaya dari beberapa orang, beberapa juga sibuk dengan argumennya, mungkin tidak sependapat. Bagaimana reaksi Donghae ? Dia masih duduk dengan menoleh-noleh ke arah penonton, mencari siapa orang tua bocah bernama Lee Yoogeun. Tetapi ia tidak menemukan ada sepasang orang tua yang berpelukan seperti tadi. Ia kembali menatap ke panggung dan terkejut melihat adiknya sudah berdiri bersebelahan dengan pemenang ketiga tadi.

 

Donghae berusaha menarik perhatian adiknya yang masih asik membentuk balon dari permen karet. “Sst..Yoogeun ! Yoogeun ! Kau kenapa ada disitu ? pemenang pertama belum disebutkan,” ujarnya pelan, takut suaranya tidak terkontrol seperti tadi.

 

Yoogeun tidak menjawab karena terhalang jarak. Ia hanya mengangkat bahu tidak perduli. Donghae masih tidak mengerti dan menunggu pengumuman pemenang pertama.

 

“Dan pemenang pertama adalah…. Kim Jongin !”

 

Prok prok prok…

 

Sepasang suami istri yang duduk disebelah Donghae berdiri dan berpelukan. Donghae semakin bingung kenapa tidak ada nama adiknya. Ia arahkan matanya ke panggung dan melihat proses pembagian hadiah dimana adiknya, Lee Yoogeun mendapatkan piala kecil dengan tulisan ‘juara II’. Oke, ini aneh bagi Donghae. Ia tidak merasa mendengar nama adiknya dan sekarang adiknya menerima piala juara kedua. Sedangkan menurut telinga dan matanya yang masih normal, adiknya pantas mendapat juara pertama.

 

“Selamat kepada para pemenang. Dan Kim Jongin akan mewakili sekolah pada kompetisi bulan depan. Atas kerjasamanya hari ini saya ucapkan terima kasih. “

 

Kepala sekolah mengakhiri kalimat penutupnya dan membiarkan penonton behamburan ke panggung tentu saja utnuk menghampiri anak mereka. Sedangkan Donghae masih duduk, membiarkan adiknya yang turun dari panggung menghampirinya. Bocah itu tersenyum dan memperlihatkan pialanya.

 

“Hyung tidak suka?” tanya Yoogeun yang kemudian membuang permen karetnya asal. Beruntung hanya mendarat disalah satu kursi bukan pakaian pria beruban disebelah Donghae.

 

“Apa benar kau mendapat juara ke dua?” tanya Donghae tanpa menjawab pertanyaan adiknya. Ia menggaruk kepalanya yang sedikit berketombe itu.

 

“Aiss. Ternyata percuma saja. Hyung tidak suka” Yoogeun memajukan bibirnya dan sudah ancang-ancang akan pergi. “Eitss !” Donghae menahan lengannya. Yoogeun menoleh dengan bibir yang lebih maju lagi, cemberut.

 

“Jangan marah dulu. Hyung hanya tidak menyimak. Lagipula harusnya kau mendapat juara satu,” ungkap Donghae sambil bangkit dari duduk lalu menawarkan satu tangannya pada Yoogeun. Bocah itu tidak menjawab tetapi menyambut uluran tangan kakaknya. Mereka berjalan beringan keluar aula.

 

“Jadi ? Kau setuju kan kalau harusnya kau juara satu?” tanya Donghae sekali lagi. Mereka sudah keluar dari aula dan berjalan menuju parkiran dimana sepeda kesayangan tadi dilempar sembarangan.

 

“Aku tidak perduli hyung. Juara satu, dua atau tiga. Apa bedanya ? Yang penting aku berhasil membuktikan pada Xiumin dan gengnya yang menyebalkan itu kalau aku bisa mengalahkan mereka,” ujar Yoogeun bangga.

 

Donghae menghentikan langkahnya lalu berjongkok menyamakan tinggi dengan Yoogeun. “Apa yang kau bicarakan ? Hyung tidak tahu kau punya musuh haha..” Donghae tidak bisa menahan tawanya membayangkan bagaimana adiknya berkelahi dengan musuhnya. Yoogeun makin memajukan bibirnya.

 

“Mereka menghinaku tidak bisa apa-apa. Tidak punya apa-apa. Tidak punya orang tua, uang dan segalanya. Mereka juga mengejek sepatuku yang robek.” keluh Yoogeun santai. Entah karena dia yang bermental baja atau karena belum paham apa arti ejekan itu, ia tidak menampakan tengah bicara hal berat, tetap santai seperti menceritakan bagaimana ia mendapat nilai bagus saat ulangan.

 

Donghae tertegun. Ia berhenti tertawa dan menatap adiknya tak percaya. Benarkah adiknya mengalami hal seperti itu ? Bagaimana tentang ceritanya selama ini jika semua teman-temannya menerima dan memperlakukannya dengan baik ?

 

“Aku hanya tidak terima kalau mereka mulai menjelek-jelekkan Umma, Appa dan Donghae hyung. Aku jawab mereka dengan berkata jika aku punya orang tua yang mengawasiku dari surga. Aku punya hyung yang bernama Lee Donghae yang selalu merasa dirinya tampan tapi selalu bisa ku andalkan. Aku…”

 

GREP

 

Donghae tidak sanggup mendengarnya. Ia dekap tubuh mungil adiknya erat. Ia benar-benar tidak tahu itu. Semua yang dialami adiknya ia pikir semua baik-baik saja. Sekarang semua seperti ia yang disudutkan. Ia merasa tidak becus menjaga Yoogeun yang bahkan untuk hal seperti permusuhan pun ia buta tuli. Yoogeun baru berusia 9 tahun dan harusnya ia dalam masa-masa bermain bersama teman-teman. Yoogeun terlalu cepat merasakan kerasnya hidup. Dan kalimat-kalimat pembelaan tadi, Donghae tidak tahu bagaimana itu bisa terucap dari bibir bocah 9 tahun.

 

Donghae melepas pelukannya lalu mengusap puncak kepala Yoogeun yang membuat anak itu menggerutu tidak jelas sambil merapikan rambutnya.

 

“Aiss hyung..kenapa kau suka sekali merusak tatanan rambutku ?” tanya Yoogeun kesal. Donghae tersenyum geli, “Heh..bicaramu kenapa makin hari seperti orang tua ? Lagi pula tatanan rambut mana yang kau maksud ?” tanya Donghae sambil menghancurkan lagi rambut adiknya. Ia berlari cepat menuju parkiran meninggalkan Yoogeun yang mengomel ditempat.

 

“Haha… Yoogeun-ah ! Ayo cepat !”

 

 

——–^^^^^——–

 

Donghae mengayuh sepedanya santai. Tidak seperti tadi dimana ada hal yang harus dikejar. Sekarang ia dan Yoogeun yang duduk dibelakang hanya perlu pulang maka tidak perlu mengayuh dengan kekuatan penuh.

 

Mereka berada dijalan raya sekarang. Masih bisa dikatakan pagi meski sudah hampir jam 11, maka bersepeda santai seperti ini lebih baik dan menyehatkan. Setidaknya bagi Yoogeun, bagi Donghae hari ini ia tidak kekurangan olahraga kaki itu. Mengantar koran, mengantar Yoogeun ke sekolah, lalu menuju kedai tempat ia bekerja, kembali lagi ke sekolah, itu sudah cukup bukan ?

 

“Yoogeun-ah. Sejak kapan kau bisa berbahasa inggris huh?” tanya Donghae dengan menaikan nada bicaranya karena mereka tengah berada di jalan yang ramai.

 

“Siapa bilang aku bisa ? Aku hanya menghapalkan liriknya dengan bantuan guru bahasa inggris,” jawab Yoogeun polos.

 

“Haha…” Donghae tertawa mendengar penjelasan Yoogeun. Ia pikir adiknya punya kemampuan terpendam yakni sudah pandai berbahasa asing itu.

 

Donghae melihat sebuah penjual eskrim di seberang jalan lalu berhenti. Ia meminta Yoogeun untuk menunggu saja dan ia menyeberang untuk membeli eskrim. Selama menunggu, Yoogeun berdiri bersandar pada kaca pembatas sebuah toko sepatu. Ia mencoba untuk bersiul tetapi tidak berguna. Ia sudah mempelajari bagaimana bersiul dengan benar tetapi tidak ada suara yang dihasilkan.

 

Ia mendesah pelan lalu berbalik. Matanya menemukan deretan sepatu sepak bola yang terpajang tepat didepannya. Hmm ia jadi menyesal kenapa kakaknya harus berhenti disini. Jalan ini memang kerap dilewati mereka dan setiap melewati toko ini sebisa mungkin Yoogeun membuang muka, berusaha tidak tertarik dengan benda yang tersusun rapi disana. Dan sekarang ia dipaksa untuk melihatnya.

 

Akhirnya ia mendekat juga. Memperhatikan sepatu-sepatu model terbaru dan tentu saja produksi perusahaan ternama. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Yoogeun. Ia lebih fokus pada kertas label harga yang menempel. Ia menelan ludah susah. Harganya 50 kali lipat dari gaji harian kakaknya. Sesaat ia terpikir bagaimana jika sepatu itu ia kenakan, tapi hanya sesaat ia kemudian menggeleng.

 

“Yoogeun-ah !” seru Donghae sambil menyeberang jalan dengan dua cup eskrim strawberry. Ia hampiri Yoogeun yang berusaha biasa dengan tidak lagi memandang sepatu-sepatu itu.

 

“Ini…” Donghae memberinya satu cup eskrim yang langsung disambut baik oleh Yoogeun.

 

“Hyung..ayo kita pulang !” ajak Yoogeun sambil menjilat eskrimnya.

 

“Kenapa ? Kita habiskan dulu eskrimnya oke !” tawar Donghae yang tengah berjongkok di samping sepedanya sambil menikmati eskrim kesukaannya.

 

“Kita makan eskrim sambil jalan. Sepedanya tidak usah dipakai.” Yoogeun nampak bersikeras ingin cepat-cepat pergi menjauh dari toko yang menggodanya itu. Donghae mengangguk setuju lalu mendorong sepedanya. Mereka melangkah santai disisi jalan melewati deretan toko elit dimana salah satunya menggangu Yoogeun.

 

 

______^^^^^______

 

 

“Yoogeun-ah ! Yoogeun-ah !!!” seru Donghae dari kejauhan sambil berlari mendekati Yoogeun yang tengah bermain sepak bola bersama teman-temannya. Yoogeun tadinya tidak begitu perduli dan memilih melanjutkan tendangan penaltinya yang tadi tertunda. Ia dan kiper bertubuh tambun itu bertatapan sejenak. Seolah tengah menjadi pusat perhatian dan sama-sama sebagai penentu kemenangan, mereka menarik nafas panjang. Setelah tiupan peluit yang tidak begitu nyaring karena tiupan teman Yoogeun yang kurus itu, Yoogeun mulai maju, menendang ke arah kiri dan….

 

“Aiss..” Yoogeun menendang kembali bolanya yang mental setelah membentur tiang gawang. Ini karena tubuh kipar yang memenuhi gawang, makanya Yoogeun sulit menemukan celah. Ahh bukan ! Ini karena konsentrasinya terganggu oleh teriakan Donghae. Maka sekarang kakaknya yang polos itu akan mendapat balasan.

 

“Yoogeun-ah !” Donghae sudah sampai didepan Yoogeun dengan senyum lebarnya. Dengan nafas belum teratur, Donghae coba bercerita.

 

“Hah..Hyung..hhah..ak..”

 

“Hyung tahu tidak ? Aku harusnya bisa menang.” Gerutu bocah itu, kesal pasti.

 

“Apa yang kau bicarakan huh ? Hyung capek-capek lari kesini dan kau mau memarahiku ? Dengar ! Hyung kemari untuk memberitahu kalau Hyung sudah mendapat pekerjaan tetap. Mulai besok Hyung akan bekerja.” ungkaap Donghae gembira. Ia membuka kedua tangannya menunggu reaksi Yoogeun.

 

“Waa.. Chukhae Hyung !” Yoogeun memeluk Donghae erat, melupakan insiden gagal menjebol gawang tadi. Lalu Donghae mengangkat tubuh adiknya yang sudah tidak seringan dulu ke udara. Mereka tertawa bersama ditengah teriknya matahari. Teman-teman Yoogeun yang tadinya berniat menunggu Yoogeun menyelesaikan urusannya, sekarang sudah kembali bermain.

 

“Oh ya. Memangnya Hyung dapat pekerjaan apa ?” tanya Yoogeun saat mereka duduk berdua di pinggir lapangan menjadi penonton teman-teman Yoogeun yang bermain sepak bola.

 

“Hyung dapat pekerjaan sebagai office boy di sebuah perusahaan. Gajinya lumayan. Lihat saja ! bulan depan Hyung akan membelikanmu sepatu baru.” Donghae tersenyum lalu melihat ke arah adiknya yang nampak bingung.

 

“Hyung tahu setiap kita melewati toko itu, kau pasti berusaha tidak melihat,” tebak Donghae yang nyatanya 100 % benar. Yoogeun menunduk. Ternyata Donghae tau semuanya. Ia pikir ia cukup berhasil menyembunyikan keinginannya memiliki sepatu baru. Dan itu bukan sepatu sekolah. Meski sudah berkali-kali sobek dibeberapa bagian, sepatu itu masih bisa dipakai setelah dijahit atau di lem oleh Donghae.

 

“Hyung tahu kau menginginkan sepatu untuk bermain sepak bola,” tebak Donghae lagi dan itu juga benar. Donghae mengacak rambut Yoogeun yang anehnya bocah itu tidak marah seperti biasa. “Yoogeun-ah, Hyung janji, bulan depan saat sudah menerima gaji, hyung akan membelikanmu sepatu. Bukan hanya untuk bermain sepakbola, tetapi juga untukmu sekolah.”

 

Yoogeun tersenyum lalu bersikap seperti biasa, cuek dan santai, “Aiss…Hyung seperti peramal. Sok tahu. Kalau Hyung membelikanku sepatu, aku terima. Tidak juga tidak masalah.”

 

_____^^^^^_____

 

 

Office boy. Itulah pekerjaan Donghae yang baru seminggu ini ia geluti. Pekerjaan yang mengharuskannya berkutat dengan benda-benda seperti sapu, ember, kain pel, dan sejenisnya. Dan itu bukan hambatan mengingat benda-benda seperti itu sudah sangat bersahabat dengannya. Maka saat keberaniannya tempo hari yaitu menolong seorang pria kaya yang dirampok berbuah hasil, ia tidak akan melewatkannya. Ya, pekerjaan ini datang dari pria yang ditolongnya itu.

 

Memang terdengar biasa, hanya seorang office boy atau pria yang bertanggung jawab atas kebersihan dan juga kebutuhan perut para karyawannya. Tapi bagi Donghae ini luar biasa. Sebelumnya, ia hanya pekerja serabutan. Hanya pengantar koran lah satu-satunya pekerjaan yang setia ia lakukan. Dan sekarang ia bekerja secara tetap, dengan gaji yang untuk sederajat dirinya sudah cukup. Ada satu lagi yang membuatnya tidak mungkin menolak pekerjaan itu. Perusahaan yang ia tempati ternyata adalah tempat dimana para artis Korea terkenal berkumpul alias SM Entertainment. Melihat para artis lalu lalang adalah bonus dari pekerjaannya. Meski kadang beberapa dengan santainya melintas dengan sepatu kotor didepannya tanpa berpikir jika ia baru saja mengepel. Ahh tidak masalah, bukankah memang itu tugasnya ?

 

“Hyung ! Bangun ! Sejak kapan hyung jadi pemalas begini ?” Yoogeun sudah berkali-kali mengguncang tubuh Donghae. Ini sudah jam 8 dan pria sok tampan itu belum membuka mata. Bergerak saja tidak. Yoogeun yang sudah kehabisan akal akhirnya pergi ke kamar mandi lalu mengambil air gayung.

 

Yoogeun masih cukup waras untuk tidak langsung menyemburkan air itu. Ia hanya memercikkan airnya di wajah putih Donghae. Ia tertawa geli saat melihat ekspresi terganggu sang kakak karena ulahnya. Tak lama, Donghae mulai bereaksi lebih dengan membuka mata. Tapi tiba-tiba ia bangkit, “Ahra-ya ! Aku menyukaimu !” serunya yang tiba-tiba sudah dalam posisi duduk. Yoogeun cukup terkejut dan membulatkan mulut mungilnya. Tapi sedetik kemudian ia menyeringai.

 

“Donghae oppa ! Maaf, aku tidak menyukaimu. Hahahahahahaha” tawa Yoogeun tidak bisa ditahan setelah meniru gaya bicara gadis yang sepertinya diimpikan Donghae itu. Ia gadis penjaga toko buku dimana Donghae biasa membelikan peralatan sekolah Yoogeun. Donghae yang masih berusaha mencerna semuanya hanya menatap adiknya dengan bingung. Ia garuk-garuk kepalanya lalu perlahan tubuhnya jatuh menimpa kasur dan selimut. Hanya mengigau rupanya.

 

“Ya Hyung ! Siapa yang menyuruhmu tidur lagi ? Aiss.. Ikan ini.” Yoogeun kehilangan kesabaran. Ia tarik nafas panjang lalu bersiap.

 

“DONGHAE HYUNG !!! BANGUN !!! SUDAH JAM 8 “

 

Tanpa disangka-snagka Donghae buru-buru bangkit lalu bergerak tidak jelas alias mondar mandir didepan Yoogeun sambil menggaruk kepalanya. Yoogeun hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kakaknya yang seperti itu. Bukannya bersiap mandi justru sibuk dengan segala resiko yang mungkin diterima karena terlambat.

 

“Bagaimana ini Yoogeun-ah ? Kenapa kau tidak membangunkanku ? Hyung bisa dimarahi.”

 

“Hyungku tersayang, aku sudah membangunkan Hyung sejak jam 6 dan Hyung tidak bangun juga,” ucap Yoogeun kesal lalu pergi keluar kamar meninggalkan Donghae yang masih bergerak ala setrika. Tak lama pintu kamar kembali terbuka dan bocah penyuka strawberry itu menyembulkan kepalanya, “Hyung, ada Ahra Noona mencarimu. Tapi ia hanya mau bertemu dengan Donghae Hyung yang sudah mandi. Kekkkk” Yoogeun terkekeh melihat Donghae bergegas keluar menuju kamar mandi begitu mendengar nama gadis itu.

 

Donghae mandi kilat dan sepertinya hanya menyemburkan tiga gayung air ke tubuh tanpa sabun dan gosok gigi. Lalu memakai pakaian seragam kebanggaannya. Tanpa sempat merapikan rambutnya, ia sambar tas kecil yang selalu ia bawa kemana-mana itu dan meluncur ke teras rumah dimana menurut Yoogeun, ada Ahra di sana.

 

“Yoogeun-ah ? Mana Ahra ?” tanya Donghae sambil memanjangkan leher mencari keberadaan gadis berpipi tembem itu. Yang ditanya hanya mengangkat bahu cuek sambil memainkan bola milik temannya.

 

“Aku tidak bilang dia di sini. Maksudku, dia menunggu Hyung di toko. Kekkkkk” Yoogeun tertawa kecil sambil menendang-nendang pelan bola sepaknya, tidak memperdulikan tatapan memakan ala Donghae. Karena diacuhkan, dan karena ia sudah sangat terlambat, ia memilih mengeluarkan sepeda lalu bergegas menuju kantor.

 

Baru dua minggu ia bekerja di perusahaan besar itu dan sekarang ia sudah melakukan kesalahan. Maka ia harus mengayuh sepeda lebih cepat dibanding saat ia harus ke sekolah Yoogeun kala itu. Seragam biru yang ia kenakan sudah basah karena keringat. Tenaganya tidak sebanyak biasa karena tidak sempat menenggak minuman atau menyantap sedikit nasi. Ia belum sarapan.

 

Ia jadi teringat Yoogeun. Bukankah artinya adiknya itu juga belum sarapan ? Dua minggu kebelakang ia sengaja bangun lebih pagi dari biasa untuk menyiapkan sarapan dan juga makan siang. Maka saat ia tidak bisa pulang karena pekerjaan, Yoogeun tetap bisa mengisi perut sepulang sekolah.

 

Ckittttttttttttt

 

Donghae mengerem mendadak tepat di depan sebuah toko sepatu yang kerap membuat Yoogeun tidak betah berlama-lama di sini. Donghae turun dari sepedanya lalu mendekat. Ia berdiri didepan etalase yang memajang sepatu sepakbola. Satu tangannya bergerak seolah tengah menyentuh salah satu diantaranya yang menurutnya akan disukai Yoogeun. Lalu matanya mengarah pada label harganya. Hmm apa ia tidak salah liat ? Sepertinya sepatu itu bertambah mahal saja. Ahh. Tapi gajinya bulan depan sangat cukup untuk membeli sepatu itu.

 

Ia kembali menaiki sepeda dan melaju kencang menuju kantor. Sepertinya ia harus menyiapkan telinga mendengar omelan Leeteuk, kepala office boy disitu. Meski awalnya ia terlihat seperti malaikat dan cepat akrab dengan Donghae, nyatanya ia juga orang pertama yang akan berteriak karena pekerjaan salah satu anak buahnya tidak beres. Dan mengingat wajah malaikat itu tiba-tiba berubah seperti macan kelaparan, membuat Donghae tidak mau menjadi salah satu yang berbuat kesalahan.

 

 

_______^^^^^_______

 

 

Yoogeun berdiri di barisan depan. Ia dan kawan-kawan sebayanya tengah mendengarkan instruksi dari pelatih sepak bolanya atau tepatnya guru olahraga di sekolah. Ini bukan jam pelajaran olahraga, bahkan saat diminta berkumpul tadi, Yoogeun tengah maju kedepan mengerjakan soal matematika yang sangat dibencinya. Ia merasa perlu sujud syukur karena menjadi salah satu pemain sepak bola di sekolahnya, sehingga tadi ia punya alasan kuat untuk tidak mengerjakan kumpulan angka-angka membingungkan itu.

 

Yoogeun dengan santainya memainkan kedua kakinya di lantai. Kadang ia ketukkan, atau dilayangkan ke depan dan belakang. Ia tidak begitu penasaran dengan pengumuman yang akan diberi tahu. Meski itu terlihat penting mengingat mereka sampai dikumpulkan saat jam pelajaran, bukan jam istirahat.

 

“Ya..Lee Yoogeun. Jangan main-main lagi, dengarkan !” perintah sang guru berkaos putih itu. Yoogeun hanya memperlihatkan cengirannya.

 

“Jadi..Saya mengumpulkan kalian di sini untuk memberitahukan bahwa pertandingan melawan sekolah Cheong Nam di majukan menjadi minggu depan. Kita harus…….”

 

Yoogeun tidak lagi tertarik mendengar lanjutannya. Mendengar kalimat pertama saja sudah membuatnya yang tidak bisa diam menjadi tidak berkutik. Apa telinganya masih berfungsi dengan benar ? Pertandingan dimajukan minggu depan ?

 

Yoogeun menunduk menatap kakinya, tepatnya sepatu hitam yang ia pakai sekarang. Ia teringat sepatu yang semalam di lem tanpa sepengetahuan Donghae. Ia pikir akan berguna, tetapi pagi tadi saat mengeceknya, tenyata usahanya tidak berhasil, alias seperti akan lepas lagi.

 

Donghae memang sudah berjanji akan segera membelikannya sepatu baru, tapi jika pertandingan dipercepat, ia harus menggunakan sepatu itu, terpaksa. Mau bagaimana lagi ? Yoogeun coba tidak ambil pusing. Hal-hal menyebalkan dengan istilah pas-pasan ini sudah biasa baginya. Jadi, kenapa kali ini harus dipikirkan ?

Yoogeun sudah duduk di lantai kamarnya sambil melihat-lihat sepatunya yang lusuh. Mata sipitnya memperhatikan beberapa bagian yang bolong. Hmm sepertinya itu bukan masalah. Yang jadi masalah adalah bagian bawahnya yang hampir terlepas. Ia rasa perlu memperbaikinya lagi dengan lem, maksudnya lem yang tidak sedikit. Maka ia bangkit menuju lemari pakaian dan menemukan benda yang dicari. Maka sekarang ia sudah siap dengan segala peralatan didepan.

 

“Yoogeun..Hwaiting !” menyemangati diri sendiri rupanya.

 

Bocah itu asik melakukan pekerjaannya. Duduk bersila dilantai, mengelem tiap bagian yang dirasa perlu. Sekitar 30 menit ia melakukan itu bahkan tidak sadar Donghae sudah berdiri bersandar pada pintu memperhatikannya.

 

“Ehem,” Donghae berdehem untuk menarik perhatian Yoogeun. Akhirnya bocah itu mengangkat wajahnya dan sedikit terkejut mendapati hyungnya.

 

“Eh ? Hyung sudah pulang ?” tanyanya coba sebiasa mungkin.

 

“Sudah sejak 10 menit yang lalu,” jawab Donghae lalu ikut bersila didepan Yoogeun. Ia usap pelan puncak kepala adiknya. Dan tentu saja Yoogeun akan menggerutu kesal. Tetapi Donghae hanya menanggapinya dengan tersenyum. Ia perhatikan wajah adiknya yang semakin larut dalam kegiatan itu. Ah..dua minggu lagi. Dua minggu lagi ia akan menerima gaji pertama dan akan langsung ia gunakan untuk membeli sepatu.

 

“Kau sudah makan ?” tanya Donghae sambil menumpu dagunya dengan tangan.

 

“Sudah,” jawab Yoogeun tanpa menoleh.

 

“Sudah mandi ?”

 

“Tentu saja sudah.”

 

“Sudah belajar ?”

 

“Sudah.”

 

“Sud…”

 

“Hyung !!!” potong Yoogeun kesal karena sejak tadi Donghae menanyakan hal-hal sepele yang pasti sudah diketahui jawabannya. Donghae tidak memperlihatkan ekspresi bersalah. Hanya memamerkan cengirannya.

 

“Hehe..Hyung hanya ingin mengobrol denganmu, hmm perlu bantuan ?” Yoogeun menggeleng. Tak sampai 10 menit setelah obrolan yang menyenangkan bagi Donghae ( tapi menyebalkan bagi Yoogeun ), akhirnya pekerjaan Yoogeun selesai. Ia angkat dan bolak-balikkan hasil karyanya dan sepertinya cukup puas. Dengan ini ia tidak perlu memberitahukan Donghae tentang dimajukannya jadwal pertandingan.

 

Masalah hubungannya dengan Xiumin the geng saja bisa ia tutupi dengan baik, dan baru ia ceritakan dua minggu lalu. Apalagi untuk masalah ini ? Terlebih Donghae sekarang terpaksa menghabiskan pagi hingga malam di kantor, maka Yoogeun merasa aman saat nanti harus bertanding tanpa sepengetahuan Donghae. Seperti hari ini dan beberapa hari yang lalu saat ia harus pergi latihan di lapangan dekat sekolah, Donghae sama sekali tidak mencium keanehan. Yoogeun selalu pulang lebih dulu dan Donghae pikir semua berjalan seperti biasa.

 

“Huh…” keluh Donghae yang baru saja menghampas tubuhnya ke kasur. Ia bahkan tidak mengucapkan ‘aku pulang’ seperti biasa. Tubuhnya benar-benar diporsir hari ini. Entah kebetulan atau direncanakan, tiga teman seprofesinya di kantor mendadak sakit dan tidak bisa hadir. Maka pekerjaannya melipat ganda. Dan seolah sedang terkena sindrom wanita datang bulan atau apa, Leeteuk sikepala office boy itu marah-marah tidak jelas padanya. Setiap pekerjaan yang dilakukan selalu berakhir dengan kalimat, ‘Hae…Ini belum bersih ! Astaga, apa yang kau kerjakan ? Ya ampun, kau belum menyelesaikan ini..’ dan masih banyak lagi.

 

Yoogeun datang menghampiri Donghae yang sudah terlelap. Bocah 9 tahun itu tersenyum memperhatikan wajah polos hyungnya. Ia duduk di pinggir tempat tidur lalu dengan hati-hati membuka seragam Donghae yang berkeringat itu. kemudian ia gantikan dengan piyama yang baru saja kering sore tadi. Kini Yoogeun bergerak ke bawah untuk melepas sepatu Donghae. Dan ia merasa…buta.

 

Ia tidak pernah tahu kalau sepatu hyungnya itu separah ini. Ini bahkan lebih buruk dibanding sepatu miliknya. Dengan gerakan super hati-hati ia lepaskan sepatu itu. Ia bolak balikkan untuk memperhatikan setiap sisinya. Sepertinya lebih baik jika gaji pertama Donghae digunakan untuk membeli sepatunya sendiri. Bukankah besok adalah hari pertandingannya ? maka jika minggu depan Donghae membelikannya sepatu akan terlihat sia-sia, sedangkan pertandingan berikutnya masih sangat lama.

 

Yoogeun tersenyum lembut. Senyum yang tak pernah ia perlihatkan pada siapapun termasuk Donghae. Senyum yang selalu ia sembunyikan dibalik sikap jutek & cueknya. Perlahan ia dekatkan wajahnya lalu mengecup dahi Donghae.

 

“Mimpi indah Hyung…”

 

_____________D & Y______________

 

 

Yoogeun duduk dengan gelisah di ruang ganti. Saat teman-temannya sudah siap dengan mengikat tali sepatu, memakai kaos kebanggaannya, atau persiapan lain, Yoogeun justru masih setia pada bangku panjang itu tanpa melakukan apa-apa. Ia gugup ? Jawabannya IYA. Yoogeun yang selalu kuat itu nyatanya takut juga. Bagaimanapun, biasanya Donghae selalu disampingnya, menyemangati dan berteriak paling keras dibangku penonton, Bahkan pernah Donghae bersikeras memakaikannya sepatu meski ditolak olehnya. Dan sekarang, saat ia menghadapi pertandingan persahabatan yang cukup bergengsi ini karena musuhnya merupakan musuh bebuyutan, ia harus berdiri sendiri, menyemangati diri sendiri meski sebenarnya ia tidak kekurangan itu. Toh ada teriakan dukungan dari teman-teman, tuntunan dari pelatih. Tapi tetap saja, ada yang kurang.

 

“Yoogeun-ah ! Kenapa kau masih disitu ? Cepat pakai kostum dan sepatumu !” teriakan dari sang pelatih membuyarkan lamunan Yoogeun. Ia berdiri dan menarik nafas panjang, “Yoogeun-ah !!! Kau pasti bisa !”

 

Sementara di tempat lain, alias di kantor, Donghae duduk di salah satu anak tangga, memejamkan mata dengan memeluk gagang sapu. Ia tertidur sejak 5 menit yang lalu, dan orang-orang yang lalu lalang tidak berminat membangunkannya, justru menjadikannya bahan tertawaan. Kondisi tubuhnya memang tengah tidak bagus sejak pagi. Bahkan ia nyaris bangun kesiangan lagi kalau bukan karena teriakan Yoogeun yang entah sejak kapan punya suara sekeras itu. Dan sekarang, karena memaksakan melakukan hal-hal berat, ia kehilangan kerja sama dengan tubuhnya yang meminta diistirahatkan.

 

“Donghae-ah !” panggil Leeteuk sambil mengguncang bahu pria berkulit putih itu. Donghae bereaksi lalu perlahan membuka mata. Sedikit terkejut mendapati Leeteuk, si kepala office boy yang baginya memiliki dua kepribadian itu. Tapi melihat wajahnya yang tersenyum hangat seperti sekarang, seperti melihat sisi malaikatnya.

 

“Kau sakit huh ? Pulanglah !” perintah Leeteuk sambil duduk di samping Donghae.

 

“Ah..Tidak. Aku hanya mengantuk, sebentar lagi akan melanjutkan pekerjaan,” bantah Donghae meski dari cara bicaranya pun jelas sekali ia berbohong. Leeteuk menggeleng lalu menawarkan satu tangannya pada Donghae. Yang jadi sasaran menatapnya bingung tetapi tetap memberikan tangannya.

 

“Pulanglah ! Aku tahu kau sakit,” perintah Leeteuk sekali lagi setelah menarik Donghae untuk berdiri. Donghae tidak bisa lagi mengelak. Pria didepannya ini punya sesuatu dimana sulit bagi orang lain untuk menolak perintahnya. Maka setelah membungkukan badan 90 derajat, Donghae berjalan menjauh.

 

Sepanjang perjalanan, ia tidak begitu berkonsentrasi. Bahkan sekali ia nyaris salah mengambil jalan. Jadi sekarang ia hanya berjalan sambil menuntun sepeda kesayangannya. Jika boleh, ia ingin sekali meminta tolong pada bosnya yang baik hati itu untuk mengantarnya pulang dengan mobil mewah. Haha Donghae sedang berkhayal yang tidak-tidak, efek sakitnya mungkin.

 

“Donghae Hyung ?” sapa seorang bocah seumuran Yoogeun yang berpapasan di jalan. Donghae yang benar-benar lelah berusaha memfokuskan pandangan dan menemukan Choi Minho, salah satu teman adiknya.

 

“Minho ?” tanya Donghae memastikan. Bocah yang ditanya tidak mengangguk atau menggeleng, “Hyung tidak ke Lapangan ?” tanyanya.

 

“Lapangan ?” tanya Donghae balik.

 

“Iya..untuk menonton Yoogeun bertanding. Biasanya Hyung selalu menonton kan ?”

 

“Ha?”

 

Seolah tengah terbangun dari tidur panjangnya, Donghae perlu beberapa detik untuk mencerna kata-kata bocah berambut gondrong itu. Lapangan ? Yoogeun ? Bertanding ?

 

“Astaga..benarkah itu ?” tanya Donghae dengan membulatkan mata sipitnya. Mata dan tubuhnya sudah segar.

 

“Hyung tidak tahu ? Ya ampun… ayo cepat kesana !”

 

Dan tanpa disuruh dua kali pun, Donghae bergegas menaiki sepedanya, memutar arah menuju lapangan tempat dimana Yoogeun biasa bertanding. Rasa sehat mendadak datang sehingga ia tidak perlu nyaris jatuh lagi untuk mengayuh sepeda.

 

“Yoogeun-ah..kenapa kau tidak bilang ?” batinnya. Sepanjang ia melewati jalan, pikirannya terbagi antara melewati padatnya jalan, menyalip kendaraan-kendaraan keren disekitarnya, dan tentu saja tentang Yoogeun. Ia sudah membuat bocah itu berangan-angan dengan janji akan membelikannya sepatu baru. Tetapi lihat sekarang ? Ia bahkan tidak tahu jika pertandingannya adalah hari ini yang artinya Yoogeun masih mengenakan sepatu lamanya yang sudah tidak begitu layak pakai.

 

“Argh..”

 

Donghae menambah kekuatannya mengayuh. Ia benar-benar harus cepat. Dan bersyukur, pagar lapangan tempat dimana pertandingan berlangsung sudah terlihat. Begitu sampai, ia lempar sembarangan sepeda lalu berlari menuju ke dalam. Beruntung tidak butuh tiket atau uang untuk masuk. Hiruk pikuk teriakan penonton terdengar jelas. Entah situasi bagaimana yang mereka teriyaki, yang jelas bukan teriakan gol.

 

Donghae sudah memasuki lapangan atau tepatnya stadion kecil dimana pertandingan usia anak-anak seperti ini di gelar. Suara penonton yang berteriak makin kencang menyambut kedatangannya di tribun kelas 1. Dengan susah payah ia mencari-cari bangku kosong. Ia berjalan hati-hati melewati deretan bangku penonton. Beberapa mendorong tubuhnya karena merasa pandangan terhalangi. Ia lanjut berjalan sampai akhirnya menemukan satu tempat kosong.

 

Sekarang ia perlu memanjangkan leher dan memfokuskan pandangan mencari-cari tubuh mungil Yoogeun. Posisinya tidak begitu bagus sehingga tidak begitu jelas siapa bocah yang tengah menggiring bola menuju gawang tersebut. Tetapi..dari suara duo komentator yang tidak begitu bagus di speaker, Donghae dapat mendengar jika si penggiring bola adalah Lee Yoogeun alias adiknya. Segera ia berdiri dan ikut bersorak.

 

“Yoogeun-ah ! Hyung disini ! Hwaiting !!!!!” serunya nyaring meski jelas Yoogeun tidak akan mendengarnya. Tetapi sekitarnya jelas mendengar dan kini memandangnya aneh. Donghae sadar dan balas menatap mereka satu persatu. Matanya melihat salah satu spanduk bertulisakan Cheng Nam School. Oh..Jadi dia salah tempat. Ia berjalan menjauh dengan senyum malu-malu. Melihat-lihat dimana tepatnya letak kumpulan sporter sekolah adiknya. Tidak butuh waktu lama ia sudah bergabung dengan kumpulan orang tua yang memegang spanduk sekolah Yoogeun. Maka sekarang ia tidak perlu ragu untuk berteriak paling keras.

 

Yoogeun terus menggiring bola, melewati gangguan duo gelandang, dan berhasil mengecoh salah seorang pemain belakang. Sedikit lagi ia akan berhadapan satu lawan satu dengan kipar. Tetapi dua pemain belakang siap menghadangnya didepan. Lalu matanya melihat salah satu temannya mengangkat tangan. Maka dengan sedikit trik, ia berhasil mengecoh musuh dan menyodorkan umpan pada temannya. Tak butuh waktu lama, temannya dengan kostum bernomor 7 itu menendang bola ke arah kanan dengan keras dan…

 

“GOLLLLLLLL”

 

Seruan penonton dari sekolah Yoogeun menyambut gol kedua itu sekaligus penyama kedudukan di 5 menit awal babak ke dua. Donghae cukup terkejut saat melihat papan skor. Ia pikir 1-0, ternyata 1-1. Ohh jadi mereka kebobolan lebih dulu ? Donghae kembali fokus ke lapangan. Terdengar duo komentator kembali mengoceh. Donghae merasa ingin mengambil alih profesi itu, benar-benar tidak bagus.

 

“Ya..itu…aduh…sekarang bola justru lebih banyak jatuh dikaki pemain dari Gang Nam School. Dan…ya ya.. bola terlepas aiss…”

 

Begitu kira-kira komentarnya, dan Donghae yakin, bukan hanya ia yang sekarang ingin menyeret mereka dan melakban mulutnya. Ah..kembali ke lapangan.

 

Waktu terus berlanjut. Posisi masih sama kuat yakni 1-1 dan tak terasa waktu sudah menunjukan menit ke 90. Dari pinggir lapangan, wasit mengangkat papan tambahan waktu, 2 menit. Sekarang gawang dari kubu Yoogeun terancam, Seorang pemain yang memang paling di andalkan itu berhasil menggocek bola, menipu Yoogeun dan kawan-kawan dan kini sudah mendekati gawang. Tanpa pikir lagi, ia melakukan shoot dan..

 

“Aaaa..”

 

Teriakan penonton bertambah saat melihat bola membentur tiang dan justru jatuh ke kaki Yoogeun. Dengan semangat ia bawa bola menuju tengah lapangan, ia sodorkan pada temannya dan mereka berlari bersama menuju gawang. Karena musuh terlalu asik menyerang, kini hanya ada satu pemain belakang sebagai penonpang sang kipar. 2 lawan satu. Melihat posisi Yoogeun yang lebih memungkinkan, pemain bernomor punggung 7 itu melakukan hal yang sama seperti Yoogeun tadi. Yoogeun sempat ragu saat merasakan bagian bawah sepatunya akan lepas. Tapi ia tetap berlari.

 

“Saat keraguan datang, tutup matamu, bayangkan wajah Umma, Appa dan jangan lupakan wajah Hyungmu yang tampan ini. maka saat itu, keyakinan akan datang menutupi semuanya,”

 

Yoogeun menutup mata sejenak, kemudian saat si nomor 7 itu memberi umpan, tanpa ampun Yoogeun menendangnya kuat.

 

“GOLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL”

 

Separuh penonton alias para pendukung Gang Nam School berdiri serempak dan berteriak. Donghae tak mau ketinggalan dengan melompat heboh. Meneriaki nama adiknya, bersiul, atau bertepuk tangan, banyak yang ia lakukan sebagai luapan bahagia. Teriakannya makin kencang saat Yoogeun dan kawan-kawan berlari ke pinggir lapangan melakukan selebrasi unik. Mereka menggoyangkan pinggul, menari tidak jelas tepatnya. Lalu si nomor 7 meletakkan kaki Yoogeun di pahanya. Ia buat gerakan seolah tengah membersihkan sepatu tersebut.

 

Prittttttttttttttttttt

 

Wasit meniupkan peluit tanda pertandingan berakhir. Serentak para pemain dari Cheong Nam School terduduk lesu. Meski hanya friendly match, pertandingan ini tetap penting bagi menjaga gengsi mereka yang belum pernah kalah. Di pinggir lapangan, sang pelatih Gang Nam School berinisiatif untuk mengangkat tubuh Yoogeun dan kini bocah itu terlempar berkali-kali di udara. Sejenak Yoogeun menutup mata, merasakan tubuhnya seperti terbang. Hembusan angin sore membuat tubuhnya yang berkeringat sedikit tersegarkan. Untuk sesaat Yoogeun teringat sang kakak. Andai dia ada disini.

 

Para pemain sudah memasuki ruang ganti tentu saja dengan hawa kemenangan yang masih terasa. Termasuk Yoogeun, dengan santai ia menuju loker untuk mengambil tasnya. Saat ia menutup pintu lokernya, ia terkejut menemukan seseorang yang sejak tadi ia pikirkan berdiri dengan bersandar pada dinding.

 

“Hyung?”

 

______________D & Y_____________

 

 

Seorang pria berseragam biru khas office boy berjalan santai di pinggir jalan yang tengah lengang. Di punggungnya, seorang bocah bersandar tenang. Sesekali si pria akan menggerutu kesal karena keberatan. Tapi bukannya menurunkan bocah yang makin menggelayut di belakangnya, ia justru membenarkan posisi mencari kenyamanan.

 

“Yoogeun-ah…” panggilnya pelan.

 

“Hmm…”

 

“Mianhe…” ucap pria itu alias Donghae.

 

“Untuk ?”

 

“Harusnya aku bisa membelikanmu sepatu lebih cepat. Harusnya tadi kau..”

 

“Aiss Hyung..Santai saja. Pertandingan sebenarnya itu bulan depan, jadi gampanglah soal sepatu.”

 

Donghae tersenyum. Ia benarkan sekali lagi posisi Yoogeun di punggungnya. Bocah itu..selalu saja bersikap seolah bisa mengatasi semuanya. Padahal dari segi umur saja belum mencapai setengah usia Donghae. Tetapi sikapnya lebih baik dibanding dia.

 

“Yoogeun-ah…” panggilnya lagi. Tapi kali ini sangat pelan.

 

“Hmm..”

 

“Mana yang kau pilih ? Menjadi penyanyi atau pemain sepak bola huh ?”

 

“Pemain sepak bola yang bisa bernyanyi,” jawab Yoogeun santai. Ia benamkan wajahnya di punggung Donghae.

 

“Hm..Sekarang mungkin kita bukan apa-apa. sekarang mungkin aku hanya seorang pria yang tidak bisa membuatmu menggapai langit. Tapi Hyung yakin, suatu saat nanti, kau akan menggapai itu. Kau anak teraneh dan terkuat yang Hyung punya. Tetaplah seperti ini, tetapi jangan lagi bermain petak umpet seperti ini, tidak ada lagi yang boleh kau sembunyikan. Kita akan melaluinya bersama, Hyung akan menggendongmu, kalau perlu Hyung carikan tangga tertinggi hingga kau bisa menyentuh langit itu, ok ?”

 

Tidak ada jawaban. Donghae guncang tubuh adiknya pelan yang justru dijawab dengan dengkuran. Ia miringkan kepalanya berusaha melihat, agak susah tapi sudah jelas kalau bocah itu tertidur. Ia pasti kelelahan. Donghae menengadahkan kepala, melihat hamparan bintang yang menurut matanya, membentuk sususan yang begitu rapi.

 

“D & Y. Indah sekali….”

 

5 Comments (+add yours?)

  1. Rosya
    Nov 03, 2015 @ 14:40:05

    Mengharukan sekali ceritanya :’)
    Donghae kakak yg sangaaaaaat baik.

    Reply

  2. tartar
    Nov 03, 2015 @ 18:38:27

    hadeeeehhh bahasanya ringan tp mnguras air mata…
    bagus bgt

    Reply

  3. arni07
    Nov 04, 2015 @ 11:05:02

    sangat tersentuh,,kegigihan dan kesabaran yg mereka hadapi untuk menjalani hidup

    Reply

  4. AlmightyPrincess
    Nov 05, 2015 @ 20:47:28

    Maniss banget aiiih 😂
    Kirain bakal sad ending alhamdulillah yaaa kagak hihi..
    Suka sama karakter donghae yg begini. Polos polos ngeselin :3

    Reply

  5. acyi2512
    Nov 08, 2015 @ 01:32:46

    Ceritanya baguuusss
    Gaya penyampaian ceritanya juga bagus..
    Alur ceritanya juga baguss..
    Feelnya dapett bangettt
    Tema brothership nya kerasaa bangett
    Sukak sekali😄

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: