[Donghae’s Day] About To Spread Your Shine

suju08-1

“Kami duluan ya!”

Youngja dan Hwangjin melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum sambil mengangguk, menatap mereka yang perlahan berjalan jauh sambil bergandengan tangan. Aku menghela nafas, lalu sembari berdiri berjalan pulang menuju rumah. Angin bertiupan sana-sini, aku merapatkan mantelku, berlari-lari kecil menuju gerbang kampus yang masih jauh di depan mata.

Bip-bip!

Aku mengambil ponselku, membukanya.

Kau dimana? Mengapa susah sekali berhubungan denganmu? Kau tahu, aku sangat mencintaimu, jangan kau ucapkan kata-kata itu lagi! Aku pasti selalu bersamamu!Sekarang kau ada dimana…. Aku merindukanmu… Tolong, balas pesanku~~~ Aku hampir mau mati tak mendengar kabarmu~ Aku merindukanmu...

Aku lebih merindukanmu, Lee Donghae. Sangat merindukanmu. Walaupun sering aku melihatmu dimana-mana, seiring semakinnya kau bersinar. Lebih sakit perasaanku melihatmu bersinar namun kau tak menampakkan sinarmu sedikitpun padaku.

Aku menutup ponselku, kembali berjalan. Apapun yang berurusan dengan Super Junior Lee Donghae lebih baik aku acuhkan saja. Semenjak mereka mengeluarkan album baru, aku lebih banyak berdiam diri menjauhkan hidupku dengan hidupnya. Segalanya menjadi rumit, hingga aku mencapai satu kesimpulan, aku tak mungkin bertahan menjadi kekasihnya.

Aku tidak bisa menjadi kekasih seorang idola.

Bertahan atas hubungan ini, aku tak bisa… Aku akan menyalahkan diriku sendiri. Aku tak layak menjadi kekasihnya. Tak pernah layak.

Yang bagusnya, aku baru menyadari hal ini. Aku terlalu terpukau dengan bayangan cerita indah kisah cinta yang akan ku jalani dengan seorang Lee Donghae. Aku tidak menyadari resiko yang bakal kuhadapi.

Bukan masalah fans atau gosip yang beredar, namun masalahnya ada padaku. Aku tak sadar kepada diriku sendiri, aku yang bodoh ini, bersanding dengan seorang Lee Donghae pujaan setiap gadis di tempatku berpijak, sampai kapanpun tak kan pernah bisa. Hingga aku merubah sikapku atau fisikku, aku tetap tidak bisa menyamai sinarnya.

Dan yang aku tahu, jika hubungan ini dilanjutkan, aku hanya akan mendapat sakit hati menyalahkan diriku sendiri. Aku tak mau itu. Lebih baik aku pergi dari kehidupannya dari pada aku terjatuh lunglai mengejar langkahnya.

Aku tersadar dari lamunanku, dan menyadari bus sudah datang. Aku masuk kedalam bis, dan mencari tempat duduk di belakang. Ku renggangkan tubuhku, menguap selebar-lebarnya, untungnya bis ini kosong setengahnya. Memandang ke jalanan melalui jendela, lihat banyak pasangan berlalu-lalang di trotoar menikmati kisah cintanya.

Lalu aku menangkap bayanganku sendiri, dengan mata sayu dan wajah dekil bertaburan debu.

Itu pantulan wajahku di jendela. Ah, baiklah… Aku semakin bertambah kesal. Kualihkan pandanganku ke arah depan, lorong bis yang kosong. Mataku menangkap sepasang kepala sedang bertautan di barisan kursi sebelah kiri. Menjijikan~ sepertinya lebih baik buatku untuk menutup mata atau tidur sungguhan.

Aku hendak menutup mata ku hingga ponselku bergetar lagi.

Lee Donghae calling

Aku membuka flip ponselku dan menjawab panggilannya.

“Kenapa tidak membalas pesanku? Kau dimana?”

Aku tersenyum mendengar suara khawatirnya. Aku bisa membayangkan rautan wajahnya yang panik… Yang sebentar lagi mungkin akan jarang aku temui.

Membayangkan keputusan yang akan kukatakan padanya secepatnya.  Tapi aku sendiri tak tahu kapan aku bilang itu padanya.

“Sayang, kenapa kau diam? Jawab aku, ku mohon…”

Dadaku bergejolak, jantungku seperti berhenti berdetak. Aku tak tahu harus berkata apa… aku mengigit bibir bagian bawah, dan akhirnya aku menghela nafas. “Aku juga merindukanmu.”

Hening sesaat di bagian Donghae, sedangkan aku sudah bercucuran airmata. Rasa tidak tahanku terhadap hubungan yang tak mungkin aku jalani lagi… Rasa jauh terhadapnya padahal kami hanya terpisah puluhan mil… Aku meremas dadaku kesakitan. Aku memang tak bisa menjadi kekasih seorang Lee Donghae. Tapi aku tahu keinginan ku untuk menjadi kekasihnya sangat besar…

Tapi aku tak sanggup lagi. Tak sanggup.

“Kau menangis? Sayang?” tanyanya.

Bingo.

Perkataannya tersebut malah membuat aku menangis lebih kencang. Luapan perasaanku kutumpahkan kedalam tangisan… Sungguh, aku memang tak pantas bersamamu, Donghae-ah… Aku tak sanggup…

Sayup-sayup dari helaan nafasku yang tak teratur, aku mendengar ia berisak tangis.

“Jangan menangis… Ku mohon, aku tak tahan mendengarmu menangis…”

Airmataku yang sudah berhenti bercucuran kembali lagi turun. Aku menangis dalam diam. Begitupun Donghae. Aku tak tahu mengapa kami bisa begini… Aku benar-benar tidak sanggup. Aku menutup ponselku, dan melanjutkan tangisanku. Tangisan sia-sia.

**

Entah, tiba-tiba aku berjalan kesini. Aku rasa jika harus diselesaikan, harus hari ini juga. Aku tidak mau menunggu-nunggu waktu yang tepat. Setiap waktu pasti baik. Aku tak mau membuat hatiku tersayat lagi menyimpan kegundahanku. Aku harus menemuinya sekarang juga.

Dan disini aku berdiri. Firasatku membawaku ke depan pintu ini, lantai ini, tidak di lantai yang satunya. Aku menghela nafas, berharap aku bisa mengatakan hal ini. Puncak segala kekhawatiranku terhadapmu.

Walaupun aku tahu aku sebenarnya tak mau.

Aku menekan bel, dan derap kaki sayup terdengar. Intercom dinyalakan, “Siapa?”

Kim Heechul. Teringat pesannya jika aku ingin berkunjung ke dorm dengan ia di balik pintu. Aku tersenyum lemah, dan langsung bernyanyi,

“Rokuko-rokuko-rokuko, malhaebwa,” suara sumbangku kuhadapkan ke intercom.

“Aaah! Kau! Oke, kata kunci diterima!”

Suara berisik dari gagang pintu dan decitan bersahutan. Lalu pintu terbuka, wajah yang sudah ku duga-duga muncul.

“Ya, kenapa kau? Lusuh! Apa-apaan ini?” teriaknya terlonjak sambil membulatkan matanya. “Mengapa kau jadi jelek begini, hah? Ya, aku tidak punya adik sepertimu! Adik iparku harus cantik! Kenapa kau tidak berdandan sedikit jika mau kesini?”

Aku melengos masuk, membiarkan Heechul oppa menatapku aneh. Aku duduk di lantai membuka sepatu kets ku.

“Ada apa denganmu? Lama tak bertemu kok kau jadi begini? Kau sakit?”

Aku mengganti sepatuku menjadi sendal rumah berwarna merah muda. Aku masuk ke dalam ruangan ogah-ogahan.

“Sudahlah Hyung, mungkin dia capek.” Sahut Sungmin oppa yang sudah berdiri dihadapanku. Aku menoleh ke Heechul oppa yang masih melongo menatapku. Aku menatap ke depanku kembali, ke arah Sungmin oppa.

Aku tersenyum menatapnya, lalu menatap sendal yang ku pakai. “Pinjam ya,”

Aku menunggu tanggapannya. Ia bergerak kikuk sambil melihat sendalnya yang ku pinjam. “Eng… Ya…”

Aku berjalan meninggalkan Sungmin yang pasti masih menatapku bingung. Langkahku menuju ruang tamu. Dan entah mengapa firasatku benar.

Donghae disitu, bersama yang lainnya, lengkap. Mereka menyadari aku datang, terlonjak kaget sama seperti Heechul oppa. Aku menghentikan langkahku, berdiri menatapnya yang sedang duduk memandangi lantai. Kedua tangannya bertaut. Di tautan tangannya terselip ponsel, ia mengenggamnya erat. Urat nadinya tergurat jelas, seperti hendak keluar dari kulit.

Aku lama menatapnya, menunggu ia mendongakkan kepalanya. Dan akhirnya ia menyadari kedatanganku. Mata kami bertemu.

Matanya masih menatapku dan perlahan ia berdiri dari duduknya, hendak menghampiriku. Buru-buru aku memberi isyarat agar dia tidak menghampiriku, memberikan telapak tanganku kearahnya.

Aku menarik nafas, mengatur setiap hembusan nafas, mengontrol emosiku. Namun sayangnya, itu semua sudah runtuh. Airmataku tanpa disuruh sudah turun, dadaku ngilu tak beralasan. Pandanganku kabur, karna mata tergenang air. Perlahan kulihat siluetnya bergerak, aku berjalan mundur.

Aku takut ia menghampiriku, takut ia menyentuhku, menghapus aimataku.

Intinya, aku takut. Aku pikir ini waktu yang tepat, jiwaku sudah yakin aku akan melakukannya hari ini juga.

Tapi kenyataannya melihatnya saja aku sudah menciut.

Mungkin… Aku terlalu mencintainya. Aku tidak tahu. Tapi aku tahu cintaku ini tidak pantas… Ia tak pantas mendapatkan cinta dariku. Memilihku.

Maka dari itu aku putuskan untuk mengatakan ini. Hatiku bergejolak menentangnya, walau di lain sisi aku tahu aku sudah cukup letih dengan hal ini semua.

Aku menghapus airmataku, dan mengucek mataku dan siluetnya menjadi nyata kembali. Raut wajahnya terlihat jelas, panik.

“Donghae-ya…” bibirku bergetar hebat.

Ia sendiri balas menatapku, sama paniknya. Aku menarik nafas perlahan, hendak melanjutkan perkataanku.

Tapi tak bisa.

Lidahku kelu, dan airmata merajalela di wajahku. Aku menutup mulutku dan menangis sejadi-jadinya. Pertahananku runtuh, aku jatuh terduduk dilantai. Menangis.

Aku tak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa menangis.

Luka dihatiku menjadi menganga lebar. Nyaliku menjadi ciut seketika… Mengapa bisa menjadi seperti ini?

Rasanya seperti hampir tak bisa bernafas… Dadaku sesak tak karuan, aku mengcengkram lantai yang tak bisa ku cengkram. Aku bertumpu pada tanganku.

Lalu kurasakan sepasang tangan merangkulku, memegang lenganku dan menuntunku berdiri. Aku tak sanggup melawan lagi, aku menurutinya tanpa mengetahui siapa dia.

“Jangan menangis…” aku membenarkan pendengaranku dengan menatap orang yang menolongku, Jongwoon oppa.

Aku tersenyum kepadanya, senyum-tak-senyum, menegakkan berdiriku. Ku kumpulkan lagi kekuatanku yang muncul kembali akibat sentuhan Jongwoon oppa yang menguatkanku. Aku kembali tersenyum kepadanya, walau aku tak tau ini senyuman atau bukan, wajahku sudah berantakan akibat airmata mengalir terus-menerus.

Lalu aku mencarinya… Dan menemukannya. Masih ditempat ia berdiri tadi.

Namun kali ini dengan wajah bercucuran airmata. Yang pasti hatiku makin pedih melihatnya.

Tidak. Tidak bisa. Aku tak bisa menunda ini lagi. Biar semua asaku pergi asal aku mengatakan hal ini. Aku menarik nafas untuk kesekian kalinya, menguatkan diriku. Aku pasti bisa.

“O-oppa… Aku sekarang tak seperti yang kau harapkan dulu… A-a-a-aku tak bisa lagi bersamamu,”

Aku memejamkan mataku, airmata kembali lagi mengalir, aku tak sanggup menatapnya.

“A-a-aku, aku, aku tak bisa menjadi kekasihmu… Harapan yang kau ucapkan waktu itu sia-sia… Aku, aku tak bisa kuat seperti yang kau harapkan, gadis yang kuat mendampingi Lee Donghae…”

Aku terisak pelan, dadaku seperti tertusuk pisau, nyeri hingga jantungku ngilu. Aku menatapnya samar-samar, lalu menunduk.

“Bukan yang kau inginkan… Tak bisa mendampingimu, a-aku memang tak pantas mendampingimu… Ceritamu yang menanggapku dapat menopangmu di awal hubungan kita hanyalah angan… Aku tak bisa seperti itu, aku tak bisa menguatkanmu, memberimu semangat, karna aku tak pantas untukmu…”

Aku meringis, merasakan dadaku kembali seperti tertanam pisau.

“Aku tak pantas, oppa… Kita sudahi saja… Aku tak bisa bersamamu, kau akan jatuh jika bersamaku… Tak mungkin orang seperti mu bersanding denganku, kau terlalu..”

“Tidak,” suaranya mengelegar memotong perkataanku. Aku mendongak, mendapati raut wajahnya yang berbeda.

“Apanya yang tidak, itu semua benar… Aku tak selalu bersamamu, menolongmu, mendukungmu…”

“Itu bukan salahmu! Aku juga tak bisa bersamamu… Ku mohon maafkan aku!” teriaknya dengan airmata. Teriakannya mengagetkanku, aku makin terisak mendengarnya berteriak, dadaku tertusuk lagi. Aku menundukkan kepalaku, menolak gambarannya di penglihatanku, bercucuran airmata.

Aku mendengar ia melangkah kearahku, aku sudah bisa melihat kakinya didekatku. Aku berurai airmata lagi, tetesannya hampir mengenai kakinya. Pelan tapi pasti,kedua tangannya memegang masing-masing lenganku. Aku bergidik didalam kesedihan.

“Tidak… ini bukan salahmu. Kita sama-sama saling tak mendukung, itu tidak apa-apa! Mari kita ulang lagi, mari kita saling mengingatkan! Jangan mengatakan hal itu!” pekiknya, menguncangkan tubuhku.

Aku menggeleng lemah, masih menunduk ke bawah, tak sanggup menatapnya. Aku menangis lagi.

“Tidak…” mataku seperti kucuran air dari keran. Aku memberontak dari pegangannya, namun ia malah menarikku kedalam pelukkannya, sehingga aku menangis di dekapannya. Hati ku sudah mati rasa. Dadaku mengalami rasa sakit kesekian kalinya. Ia menangis di pundakku, basah kurasakan dihampir seluruh tubuhku. Aku sudah tak berdaya.

Kami masih saling menangisi diri sendiri, dan dengan segenap sisa tenagaku, aku mendorongnya menjauh dariku.

“Tolong, oppa, ini demi kebaikanmu juga… Aku tak mau kau hilang arah, aku mau kau masih ditempatmu sekarang, menjajaki hingga ke tempat tertinggi… “

“Kalau begitu, kau harus bersamaku! Kau janji menemaniku hingga aku sukses, itukan janjimu! Tepati janjimu!”

“Mana bisa aku mendukungmu jika caranya seperti ini? Aku tidak bisa, kau cari orang lain yang dapat menggantiku… Adanya kau tak dapat meraih semua itu jika bersamaku… Ku mohon oppa…”

“TIDAK, AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN MU PERGI! KALAU BEGITU, LEBIH BAIK AKU MENJAUHKAN MIMPIKU! LEBIH BAIK AKU BERSAMAMU!”

Entah apa yang merasukiku mendengar kata-katanya, membias kelu ke seluruh tubuhku. Aku menjerit. Aku menjerit seperti kesetanan, airmata menemani jeritanku. “DEMI CINTAKU PADAMU! TOLONG DENGARKAN DONGHAE-YA! DEMI KEBAHAGIAAN KITA MASING-MASING!”

Aku menjerit tak berdaya, aku meraung-raung dalam tangisku, kembali jatuh terduduk, meratapi dadaku yang benar-benar mati rasa sekarang.

Aku gila. Bisa dikatakan aku sudah sinting. Aku berteriak di tempat orang, yang sama sekali bukan tempat tinggalku. Aku sudah masa bodoh dengan tatapan yang lain, aku cuma ingin membantunya menjadi dirinya yang seutuhnya, tanpa embel-embel aku. Membantunya dalam kebahagiaannya, membantuku dalam kebahagiaanku juga. Untuk kebaikan masing-masing.

Aku menghapus airmata menggunakan punggung tanganku, menatap nanar Donghae yang ikut bersimpuh di depanku. Aku berdiri dengan susah payah, menatapnya sendu, berusaha kuat dengan suaraku.

“Dengarkan Donghae-ah, aku, benar-benar salahku tak memikirkan ini semua dari awal hubungan kita. Maafkan aku Donghae, tapi aku sudah memikirkan ini matang-matang, maafkan aku sudah membuatmu mencintaiku, aku pun mencintaimu Donghae-ah… Tapi cintaku ini tidak dapat memenuhi segala kekuranganku, kekuranganmu… Dari beberapa waktu yang lalu, minimnya hubungan kita… Maafkan aku… Aku benar-benar minta maaf Donghae-ya… Sekarang, tolong lupakan aku, fokuslah terhadap pekerjaanmu, carilah gadis yang bisa memenuhi janjinya, bukan seperti aku… Dan bahagialah…”

Aku menutup mata, menghela nafasku dan kembali mengusap pipi serta mata. Tak henti-hentinya airmata mengalir.

Menatapnya yang masih menatap lantai, airmata berceceran dimana-mana. Aku menghela nafasku untuk sekian kali.

“Selamat tinggal, Donghae-ya…” airmataku mengalir kembali. Dan berbisik parau, “Saranghae,”

Aku berlari dari ruangan itu, menghiraukan teriakan yang lain. Aku memakai sepatuku asal-asalan. Tiba-tiba ketika hendak aku membuka pintu, tanganku di tarik dari belakang.

“Jangan begitu.” Hyukjae menatapku sendu, terlihat disudut-sudut matanya ada airmata juga.

Aku menggelengkan kepalaku, menahan airmataku yang akan keluar lagi, “Ini untuk kebaikannnya, ku mohon…”

“Aku yang memohon kepadamu, jangan begini, tolong jangan rendahkan dirimu… Aku tahu kau bisa melakukannya, aku mohon, demi Donghae… Kau mencintainya kan?”

Pipiku kembali basah. Aku terisak. “Aku tak bisa… Aku hanya gadis biasa, bukan gadis super yang dapat mengimbanginya, aku tahan dengan segala macam makian, tapi aku benar-benar tidak layak mendampinginya… Aku mohon, Hyukjae-ya, mengertilah aku…”

Pegangan Hyukjae di tanganku mengendur perlahan. Ku bungkukan badan seraya airmata mengalir. Ku tegakkan badanku untuk menatapnya terakhir kali. Aku membalikkan badanku dan membuka pintu, keluar dari tempat itu. Aku menutup pintunya perlahan, kembali menangis menyandar di pintu.

Ketika semuanya sudah kuungkapkan, bukan melegakan jiwaku, namun melukai ragaku.

Tangisku sepertinya sudah terkuras habis. Aku berlari keluar dari lingkungan ini, merapatkan mantelku, sesekali terisak sisa tangis tadi. Dan terbersit apa yang dilakukan Donghae.

Kilau sang bintang yang terus bertambah kilaunya setiap malam. Tak pernah terhalang oleh awan malam yang berjalan. Kilau yang akan semakin berkilau. Aku, tak bisa menggapai kilaunya, dengan cara apapun kilauku tak akan melebihi sinarnya. Bintang yang akan selalu bersinar, bisa menerangi jagat raya. Donghae pasti bisa, bisa hidup tanpaku.

Namun tidak aku, yang kini harus bisa melupakannya. Demi langkahku kedepan.

*

3 years after~

“Terimakasih! Semoga datang kembali~” ucap sang pelayan ramah memberi salam kepadaku. Aku tersenyum membalasnya, dan keluar dari pintu yang telah ia bukakan khusus untukku.

Aku berjalan mengikuti orang-orang didepanku. Ku rogoh kantung kertas yang kubeli dari toko tadi, mengambil kue beras dan mengunyahnya. Karna tak tahu mau kemana, aku ikut arus orang-orang ramai disekelilingku. Aku malas pulang, aku malas berdiam diri dirumah atau mengerjakan paper bos ku yang sama malasnya dengan aku. Lebih baik aku berkeliling kota dari pada suntuk di rumah. Hingga aku sudah di pinggir kelokan sungai terpanjang di negri ini. Aku duduk di anak tangga, mengamati liuk air sesuai alur beton yang dibuat, mengamati pantulan sinar bulan di air yang sedang beriak. Aku tersenyum melihat anak kecil memainkan balon berbentuk hati. Aku berdiam diri cukup lama, sambil menghabiskan makanan yang ku beli tadi. Aku mengeluarkan notebook ku, mencicil pekerjaan yang sudah tertunda karna rekan kerjaku pergi berbulan madu.

Setelah merasa cukup bosan, aku menaruh notebook ku kedalam tas, dan berjalan tanpa arah. Aku merindukan Seoul… 2 tahun lamanya dinas di Taiwan membuatku janggal dengan perubahan pesat negara ini.

Saat aku melangkah melewati etalase-etalase toko dan restoran, mataku menangkap layar kaca dipinggir jalan seberangku, layarnya sungguh sangat besar dan lebar, mencolok semua mata orang yang lalu-lalang, termasuk aku.

Lalu muncul sekelebat hitam-putih di layar tersebut, orang berputar-putar, dengan percikan-percikan kecil air atau embun… Aku mengenali orang itu, Siwon.

Siwon berputar, lalu Heechul oppa.

Aku langsung terhenti, jantungku berdegup cepat. Aku tahu ini apa.

Lalu Sungmin oppa, Kyuhyunnie, Hyukjae-ya… Shindong oppa!

Sekelebat Lee Donghae…. Aku terpukau, mungkin aku menganga sendirian disini, mungkin aku sendiri yang bersikap aneh begini, tapi… Sungguh… Ia sangat berbeda.

Jongwoon oppa, Ryeonggu… Jungsoo oppa. Terakhir. Aku tertawa hampa melihatnya seperti itu… Ya Tuhan.

Dan mereka mulai menari. Sekelilingku ikut berhenti menatap layar kaca yang sungguh lebar itu, jernih dan mengkilau. Gadis-gadis remaja disekitar mulai mengikuti nadanya, dan beberapa ibu-ibu tersenyum menatap layar juga. Aku kembali menatap layar dari menatap sekelilingku, berdiri disitu ternganga, menunggu kemunculan Donghae.

Dan dia disana, menari dengan gaya, sepertinya bertumbuh dewasa dengan cepat, seperti pertumbuhan negara ini…

Tak ayal aku tersenyum, mengingat kisah kasih kami masa lalu. Kini ia bisa berdiri sendiri, tanpa ada aku disampingnya. Ucapannya yang ia tak bisa mencapai keinginannya tanpa aku disisinya terpatahkanlah sudah. Kini aku menatapnya sebagai gadis biasa, bukan kekasihnya. Melihatnya sukses bersama grupnya sebagai orang biasa, bukan sebagai orang terdekatnya. Dan pastinya ia sudah mencapai puncak, yang ia impikan.

Kurasakan hatiku mencelos gembira, walau ada sebersit luka yang terbuka, itu tak sebanding dengan senyumku yang mengembang, mengetahui Donghae dapat menjalani hidupnya tak seperti yang terakhir ia katakan dulu.

Ia bisa menjalani hidupnya dengan baik. Sangat baik. Walau ini hanya sebuah klip lagunya, aku sudah mengarisbesarkan perjalanan hidupnya sangat baik.

Pikiranku menerawang kemana-mana setelah melihat mereka di dalam layar. Masa lalu ku bersama Donghae muncul kembali, masa bahagia bersama personil yang lain juga bermunculan di benakku.

Ku putuskan untuk meninggalkan kerumunan orang yang menonton Super Junior di layar kaca. Kembali ke hidupku yang baru selama 3 tahun terakhir, keluar dari hidup Lee Donghae. Aku berjalan mantap menuju jalanan didepan etalase-etalase lain, berjalan menuju hidupku sendiri. Sayup-sayup terdengar para gadis berteriak ‘Bonamana! Bonamana!’

Aku hanya bisa menoleh kembali ke layar besar sembari mengucap, sayonara.

*End

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: