[Eunhyuk’s Day] Death Party

suju-album-15

Tittle:  Death Party

Genre :   Romance

Cast:   Eunhyuk ( Lee Hyukjae)

Cinta itu mengerikan

Bisa datang tiba-tiba

Saat satu kedipan, saat degup tak beraturan, saat hembusan angin

Namun mirisnya, bisa pergi sama cepatnya.

Eunhyuk melangkah pasti kearah makam itu. “Annyeong!” sapanya ramah. Kemudian dia duduk di tepi makam dan meletakkan bunga yang dipegangnya tadi. “Sudah lima tahun,” gumamnya sendiri sambil mengelus nisan makam itu. Dia menghela napas. “Sekarang aku sudah jadi idola yang terkenal tahu. Kalau kau masih hidup kurasa kita akan sulit menutupi hubungan kita.” Eunhyuk kemudian terkekeh. “Tapi aku rindu sekali padamuu~~~” Eunhyuk terus berbicara dengan makam itu. Dipandangi makam itu kemudian. Makam berukir nama gadis itu dan tanggal kematiannya. Tanggal dimana Eunhyuk bertemu dan berpisah dengan gadis itu.

***

“Aku tidak mau tahu Hyukjae! Kenakan pakaianmu sekarang dan kita pergi!” Kemudian Ibu Eunhyuk membanting pintu kamar. Eunhyuk menghela napas berat. Sebenarnya dia ingin mengikuti training saja malam ini. Bagaimanapun dia seorang trainer yang akan segera debut. Namun melihat kemarahan ibunya tadi dengan embel-embel ‘jangan buat ayahmu malu!’ Eunhyuk terpaksa ikut ke pesta ini.

Disini dia hanya duduk diam dengan piring penuh makanan di pangkuannya. Rahangnya terus mengunyah dan tatapannya bosan. Sesekali dia harus beranjak. Ayahnya akan memperkenalkannya dengan pejabat-pejabat itu. Eunhyuk akan berjabat tangan dengan mereka, memamerkan senyum palsu kemudian kembali ke tempatnya. Dan lagi giginya akan terus berbenturan. Atau mungkin sesekali Eunhyuk harus membuka mulut. Saat beberapa gadis berusaha menarik perhatiannya dan mengajaknya mengobrol. Eunhyuk akan mengobrol dengan mereka namun terkesan tak acuh. Senyum tersungging di bibirnya saat gadis-gadis itu akhirnya menyerah dan meninggalkannya.

Iseng dia menatap sekeliling. Melihat suasana pesta megah itu. Namun tiba-tiba matanya berhenti di satu titik. Dia terdiam, terpesona melihat gadis yang juga duduk diam disitu. Gadis ini berbeda. Gaun krem selutut membalut tubuhnya. Kotras dengan kulit madunya yang indah ditimpa lampu pesta. Rambutnya tergerai dicat agak kepirangan. Dia hanya menggunakan anting putih kecil sebagai perhiasan. Penampilannya sederhana, namun dia punya pesona sendiri.

Dan perlahan Eunhyuk beranjak dari duduknya dan mendekati gadis itu. “Annyeonghaseyo, Eunhyuk imnida,” kata Eunhyuk memperkenalkan diri. Gadis itu sedikit menatap Eunhyuk heran. “Annyeonghaseyo… Ahn Sora imnida. Senang bertemu denganmu,” balasnya kemudian menjabat tangan Eunhyuk. “Mianhae, Eunhyuk itu nama lengkapmu? Jadi nama keluargamu?” tanyanya bingung. Eunhyuk tertawa pelan, “Eunhyuk adalah stage nameku. Aku akan debut sebagai artis sebentar lagi. Nama asliku Lee Hyukjae.”

“ah…” gumam gadis itu sambil mengangguk-angguk mengerti. “Eunhyuk-sshi, kau tidak suka dengan pesta ini?” tanya Sora pelan. “Aku bukan tidak suka pesta ini. Tapi memang tidak suka pesta,” jawab Eunhyuk. Dalam hati Eunhyuk bersyukur karena Sora mau membuka percakapan lebih dulu. Jujur dia bingung tadi mau memulai percakapan dari mana. “Ngomong-ngomong dari mana kau bisa tahu aku tidak suka pesta?”

Sora tertawa pelan, “Aku dari tadi memerhatikanmu. Kau hanya duduk diam dan tak memepedulikan sekitarmu,” jawabnya. “dan sepertinya Sora-sshi, kau sama denganku. Aku juga melihat kau hanya duduk menatapi pesta ini tanpa melakukan apapun,” kata Eunhyuk menantang. Sora mengangguk sambil menatap seseorang lurus. “Eunhyuk-sshi, kau lihat wanita itu?” tanya Sora sambil menunjuk seorang gadis berpenampilan glamour dengan gaun hitam mininya dan kuku yang dicat merah mencolok. “Waeyo?” tanya Eunhyuk. “Gadis itu tadi menggodamu. Harusnya kau member perhatian lebih kepada gadis itu. Dia mantan kekasih komposer terkenal dari New York.” Sora kemudian menatap Eunhyuk. Menunggu Eunhyuk berhasil menelan sushi yang baru dikunyahnya. “Mian. Tapi aku tidak suka barang bekas,” jawab Eunhyuk singkat kemudian terkekeh.

Mata Sora melebar awalnya. Namun kemudian dia ikut tertawa bersama Eunhyuk. “Ternyata kau pilih pilih ya,” komentar Sora. Eunhyuk hanya mengangkat bahu,”menurutmu?” kemudian dia tersenyum.

“Sora-sshi, apakah kau tahu bahwa pesta ini dibuat karena umur putri bungsu keluarga ini yang tinggal dua hari?” tanya Eunhyuk basa-basi. “Tentu saja aku tahu,” jawab Sora kemudian mengambil kue dari piring Eunhyuk. “Apa pendapatmu mengenai kenyataan itu?” kata Eunhyuk kemudian. Dia menatap Sora yang masih mengunyah. “Bagaimana kalau kau diluan yang mengemukakan pendapatu?” jawab Sora tak jelas masih dengan mulut penuhnya.

“Hmmmm….” Eunhyuk memasang tampang berpikir. “Menurutku seharusnya keluarga mereka menanyakan keinginan si putri yang sebenarnya di saat-saat terakhirnya. Karena jujur saja harusnya ini pesta yang menyedihkan. Namun semua orang disini saling bercengkrama dan bersuka ria. Benar-benar aneh. Belum lagi daritadi sang putri tidak menunjukkan batang hidungnya,” komentar Eunhyuk panjang lebar. Sora bergumam menyetujui pendapat Eunhyuk. “Hei, bagaimana menurut pendapatmu?”

Sora menghela napas, “Ntahlah…” dia kemudian menatap Eunhyuk, “Kau sudah mengucapkan semua asumsiku.”

“Yaa~~ Tidak boleh begitu. Itu sih namanya kau curang!” kata Eunhyuk. Sora tertawa kecil lagi,”Aku serius Eunhyuk-sshi. Hey… ngomong-ngomong kita cepat sekali akrab ya,” kata Sora. Eunhyuk terdiam sebentar, kemudian bergumam mengiyakan. Dia kemudian melihat orang-orang yang berdansa. “Putri Sora…” tiba-tiba Eunhyuk berlutut di hadapan Sora dan meraih tangan Sora. “Pangeran ini memang tidak begitu pandai dalam berdansa, namun maukah putri menemani pangeran ini berdansa?”

Sora mengerjab-ngerjab melihat perlakuan Eunhyuk. “Baiklah pangeran. Tapi asal kau tahu aku juga bukan pedansa yang baik,” kata Sora sambil menyambut ajakan Eunhyuk dengan pipi memerah. Mereka turun ke lantai dansa. Sora memulai langkah pertamanya, dan diikuti langkah Eunhyuk. Diantara kerumunan pedansa lain mereka berdansa dengan indahnya. Pandangan Sora meluluhkan hati Eunhyuk sementara hangat dari tangan Eunhyuk di punggung Sora sangat membuatnya nyaman. Rambut Sora sesekali berkibar. Mereka mendalami gerakan mereka. Menatap ke manik mata satu sama lain. Lincah diliputi rasa cinta. Bak burung robin yang terbang di angkasa.

“Eunhyuk-sshi, taukah kau kalau berdansa dengan lelaki yang kusuka adalah salah satu impianku?” tanya Sora di sela-sela dansa mereka. “Begitukah? Apakah kau sudah mewujudkan mimpimu itu?” tanya Eunhyuk balik. Pipi Sora bersemu lagi diiringi senyumnya yang menampakkan sedikit gigi putih dan rapinya. “Aku sedang mewujudkanh mimpi itu sekarang. Berarti aku sedang mewujudkannya kan?”

Mata Eunhyuk langsung melebar,”jadi yang kau maksud aku?” Sora mengangguk malu. Dan merekahlah senyum Eunhyuk, rasa yang terbalaskan. Rasa bahagianya tak bisa ditutupinya. Mereka masih berdansa, hingga akhirnya Eunhyuk menyadari perubahan warna wajah Sora. “Sora-sshi, kau sakit? Kita berhenti saja…”

“Tidak!” Sora langsung menolak tawaran Eunhyuk. “Aku tidak apa-apa,” lanjut Sora. “Tapi Sora-sshi—“ Eunhyuk menghentikan ucapannya saat dia merasakan tangan Sora makin erat memeluknya. “Arraseo…”

“Eunhyuk-sshi, gomawoyo… kau memberikan hari yang indah padaku. Jeongmal gomawoyo. Senang sekali bisa bertemu denganmu,” kata Sora sambil menyenderkan kepalanya di dada Eunhyuk. “Aku juga Sora-sshi. Sangat senang bisa bertemu denganmu,” jawab Eunhyuk sambil memaksakan seulas senyum. Bagaiamanpun sulit tersenyum dengan keaadan Sora sekarang.

Tapi memang ada yang tak beres. Peluh mulai mengalir dari pelipis Sora. Sora mulai menginjak kaki Eunhyuk dan itu terjadi lebih dari sekali. Tiba-tiba Sora ambruk. Eunhyuk langsung menangkap tubuh Sora. “Sora!!! Sora!!! Gwenchana?” racau Eunhyuk sambil mengguncang-guncang tubuh Sora.

Lupakan jawaban Sora! Sora nampak sesak dan sulit bernapas.

“Sora!!! Sora!!! Tolong!!!” Eunhyuk berteriak-teriak histeris. Musik Waltz yang lembut berhenti  dimainkan. Seluruh pandangan sekarang menuju ke mereka. Eunhyuk berusaha memberikan napas buatan kepada Sora karena tak ada satu orang pun yang berani mendekati mereka. Tangan Eunhyuk dan Sora saling menggenggam. Berharap adanya suatu keajaiban yang tiba-tiba membuat Sora bisa bernapas. “Sora… kumohon bertahan… semuanya tolong!!!”

Namun tiba-tiba genggaman Sora melemah. Deru napasnya tak terasa lagi dan tak ada detak disana. Bibirnya tak lagi bergerak-gerak berusaha mencari napas. Eunhyuk mematung. “Nak…” tiba-tiba seseorang menyentuh pundak Eunhyuk. Eunhyuk menoleh masih dengan pandangan yang shock. “Relakan dia… ini sudah saatnya,” katanya, si empunya pesta. Kemudian dia menyentuh ujung matanya yang mulai berair. “Soooraaaaa!!!! Sayang…” tiba-tiba seorang wanita berteriak histeris. Si nyonya rumah.

Eunhyuk kembali menatap Sora. Bibirnya masih manis, kulitnya masih indah. Dia masih cantik. “Soo..rraaa…” suara Eunhyuk  bergetar. Dia mengelus rambut Sora yang lembut. Tubuhnya berguncang diiringi isakan. “Tuan… maaf kami akan membawa mayat nyonya Sora,” kata seorang pelayan yang menghampiri Eunhyuk. Eunhyuk menatap Sora lagi untuk yang terakhir kali. “Sora-sshi, jangan menipuku. Ireona…” kata Eunhyuk pelan. “Tuan…”

“Bahkan saat tidur pun kau begitu cantik Sora-sshi. Aku mencintaimu. Makanya kau harus bangun dan dengar pernyataanku,” lanjut Eunhyuk lagi. Dia masih menangis, wajahnya merah. Tangannya masih menggenggam tangan Sora dan memandang kedua mata yang tertutup itu. Ada harapan di hatinya agar mata itu terbuka. “Tuan kami mohon, nyonya Sora sudah tiada,” tegur pelayan itu lagi. Eunhyuk terisak lagi mendengar pernyataan itu. Dia memeluk Sora dan tangisnya makin pecah membahana.

Ahn Sora adalah sang putri yang umurnya tinggal dua hari itu. Kenyataan yang menyakitkan.

***

“Jincha! Aku waktu itu seperti orang gila. Hatiku memberontak kalau kau sudah meninggal,” kata Eunhyuk. Dia membersihkan debu yang mengotori batu nisan itu. Terukir nama Ahn Sora disitu. “Hehehe… kau jangan marah ya aku punya kekasih baru. Tenang saja aku tak akan pernah melupakan cinta pertamaku.”

Kemudian Eunhyuk beranjak, “Sora-ya… aku pergi dulu ya. Aku ada kegiatan lagi. Annyeong!” dia membungkuk ke makam itu lalu pergi. Semilir angin berhembus, membuat poni Eunhyuk berantakan. Eunhyuk menyeka poninya, dan saat itu juga Eunhyuk mendengar seperti suara Sora berkata hati-hati padanya. Suara lembut yang khas itu. Eunhyuk tersenyum. Ntah itu halusinasi atau memang Sora lah yang berbicara dari sana, dia senang sekali.

 

-THE END-

1 Comment (+add yours?)

  1. uchie vitria
    Nov 09, 2015 @ 10:04:39

    astaga cerita singkat manis tapi ngeness juga
    gk nyangka kalo cinta mereka sesingkat itu

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: