[Donghae’s Day] Precious Memories

b15lh

Aku terbangun dari tidurku. Lagi-lagi aku bermimpi tentangnya. Dia yang kurindukan. Aku menyibak selimutku dan tanganku membuka laci nakas yg terletak tepat di samping tempat tidurku. Tanganku meraih sebuah buku yang tersimpan di dalam laci itu. Buku ini adalah buku yang unik menurutku. Buku ini hanya terdiri dari 8 lembar halaman. Tapi buku ini pun sangatlah berarti untukku. Buku ini disampul dengan kertas berwarna biru laut. Juga ada hiasan-hiasan seperti kerang kecil yang mempermanis tampilan buku ini. Banyak pula stiker bintang yang tertempel pada covernya. Pada setiap halaman buku ini pula, tertempel sebuah daun dari maple tree yang tentunya sudah dikeringkan. Aku memang menyukai maple tree, apalagi pada musim gugur.

~~~~~

Aku pun mulai membuka halaman pertama buku ini. Tertulis “My Memory With Him” di halaman itu. Tulisan yang berwarna biru laut itu cukup menyita tempat, hampir separuh halaman. Di bawahnya sendiri tertulis “Jung Ra – Donghae”. Ya, akulah gadis bernama Jung Ra itu. Dan Donghae, aku yakin kalian sudah familiar dengan nama ini. Donghae yang aku maksud ini tidak lain adalah Donghae member Super Junior.

Jari ku mulai membalikkan halaman buku itu. Mataku mulai tertuju pada lembar kedua buku ini. Di atas daun itu, tertempel sebuah foto. Di dalam foto ini, tampak 2 orang anak berumur sekitar 9 tahunan. Mereka tampak sedang duduk di atas ayunan dan dengan latar belakang pohon-pohon rindang yang menambah keindahan foto itu. Raut wajah mereka tampak sangat ceria. Apalagi ditambah dengan tawa mereka yang terlihat sangat jelas di foto itu. Foto ini diambil oleh orang tuaku. Dan 2 anak di foto itu adalah aku dan Donghae. Kami memang sudah saling mengenal sejak kecil karena dia adalah tetanggaku. Dia pun adalah sahabat terbaikku. Semasa kecil dulu, kami memang sering bermain bersama.

Aku tersenyum sendiri melihat foto itu. Kami berdua masih terlihat imut di foto itu. Terutama Donghae. Neomu Kwiyeopta. Meskipun kenyataannya, dia masih terlihat imut sampai sekarang meskipun hampir 16 tahun telah berlalu.

~~~~~

Perhatianku mulai teralih pada halaman ketiga buku ini. Masih di atas sebuah daun maple, sebuah foto terpampang di halaman itu. Foto ini diambil pada saat kami masih SMA. Ini merupakan foto kami dengan latar belakang pohon maple. Kami berdua duduk di sebuah bangku tepat di bawah pohon itu. Kami berdua sama-sama tersenyum pada kamera yang dipegang oleh Hye Sun, nae yeodongsaeng.

“Hae-ya. Ayo kita kerjakan tugas ini. Kita kesini untuk mengerjakan tugas bukan?” tanyaku padanya karena sedari tadi aku melihat dia hanya mengetuk-ngetukkan pensil ke kepalanya. Terlihat seperti orang berpikir.

“Aku bingung apa yang mau aku lukis untuk tugas Park Sonsaengnim. Aku sedang tidak mood,” jawabnya  dengan raut wajah innocent.

“Ya!! Kalo mau menunggu sampai mood, tugas ini baru akan selesai tahun depan. Karena, aku tahu kau sangat benci pelajaran menggambar,kan?”

“Ah, I think you really know everything about me, my bestfriend.”

“Ah, daripada hanya diam di situ,  kalian mau aku foto nggak?”tawar Hye Sun yang kebetulan berada di situ.

“Boleh..Boleh.. Lagipula pemandangannya sangat bagus,”sahut Donghae antusias. “Ra~ya. Kita kesitu yuk. Pohon maple itu pasti sangat indah.”

Aku pun hanya menurutinya. Ia segera menarikku untuk duduk di sebelahnya dan ia langsung tersenyum ke kamera. Aku pun mengikutinya dan ikut tersenyum ke kamera.

~~~~~

Di halaman keempat buku ini ada sebuah foto satu grup anak SMA. Ini adalah foto kelulusan kami.

“Wah.. Daebak! Kamu berhasil menduduki peringkat kedua Jung Ra-ya,” katanya padaku. Aku yang masih melihat papan pengumuman dengan fokus pun langsung terkaget karena dia tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding. Hmm.. posenya cukup cool menurutku karena bisa kudengar siswi-siswi di sekitarku mulai berbisik-bisik kagum.

“Ini sindiran atau pujian sih? Kamu sendiri menduduki peringkat satu. Dasar jenius.”

“Tentu saja pujian. Tapi, apa kau tidak merasa kesal, tidak bisa meraih posisi pertama karena tidak sanggup mengalahkan kejeniusanku?”tanyanya dengan tingkat kepercayaandiri yang tinggi dan well, berlebihan.

“Tidak sama sekali Donghae-ssi. Aku sudah cukup puas dengan hasil usahaku belajar mati-matian. Tidak seperti kau yang sungguh beruntung bisa mendapat peringkat 1 tanpa perlu mati-matian menghapal semua bahan pelajaran. Thanks to kejeniusanmu.”

Kami pun memutuskan untuk menghampiri teman kami dan mengambil foto bersama. Kami memang akan melanjutkan study ke tempat yang berbeda-beda. Tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk meninggalkanMokpodan menempuh pendidikan ke luar negeri. Tapi aku dan Donghae memang tetap kuliah diMokpo. Kami pun masuk ke universitas yang sama. Memang sahabat yang tak terpisahkan. Bahkan tidak sedikit orang yang mengira hubungan kami ini adalah sepasang kekasih. Kami hanya bisa tersenyum menanggapi hal ini.

~~~~

Aku kembali membalikkan halaman buku ini. Mataku terpaku pada foto ini. Ini merupakan foto yang paling aku ingat. Ini adalah foto kami saat melihat sunset di pantai.

“Yeah. Mau merayakan kelulusan kita, Jung Ra-ya?”tanyanya.

“Tentu. Tapi aku tidak tahu mau ke mana.”

“Ah. Aku tahu. Kau ikut saja,” sahutnya dan langsung menyuruhku untuk naik ke motornya. Aku pun segera naik ke motor biru metaliknya dan mengikat rambutku yang tadinya digerai agar tidak berantakan tertiup angin. Tapi setelah aku mengikat rambutku, mengapa ia hanya menghidupkan mesinnya saja tanpa menjalankan motornya? Aneh.

“Hei, apa kau mau terjatuh?”tanyanya sambil sedikit menolehkan kepalanya ke belakang, melirik ke arahku.

“Ne?” tanyaku tak mengerti.

“Pegangan donk. Aku mau ngebut ni Jungra-ya.” Aku pun mulai memposisikan tangan ku pada pinggangnya. Bisa aku lihat dari kaca spion motornya bahwa ia menyunggingkan senyum kecil.

“Wah… Ini benar-benar indah Hae-ya,”sahutku takjub dengan apa yang ada di hadapanku ini. Laut biru terbentang luas di hadapanku. Ditambah lagi hanya ada sedikit pengunjung di pantai ini. Ketenangan memang tersirat dengan jelas di tempat yang disebut pantai ini. Aku pun menutup mataku dan merentangkan tanganku, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku. Indera pendengaranku pun dapat menangkap suara desiran ombak yang menerpa bebatuan. Sungguh sangat menenangkan.

“Bagaimana?”tanyanya yang meminta pendapatku. Aku pun membuka mataku perlahan dan menoleh ke arahnya yang berdiri di sampingku sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

“Daebak Hae-ya. Aku belum pernah pergi ke tempat seperti ini,” sahutku sambil tersenyum ke arahnya dan kembali menatap ke arah laut.

“Kau belum pernah ke pantai? Maksudku, kau sudah belasan tahun tinggal diMokpodan belum pernah ke pantai?”tanyanya menatapku heran.

“Bukan itu maksudku. Aku sudah pasti pernah ke pantai, tapi baru kali ini aku berada di pantai yang sangat indah dan sepi seperti ini,”jawabku sambil tetap menatap ke arah laut lepas, tanpa menoleh ke arahnya.

“Kau suka temapt ini?”

“Tentu saja. Neomu johayo,”jawabku bersemangat.

“Sebenarnya, tempat di mana kita berdiri sekarang ini bukanlah tempat terbaik pantai ini,”serunya dan tersenyum misterius ke arahku. Aku pun menoleh heran ke arahnya

“Ikut aku.” Ia pun menarik tanganku dan aku pun hanya mengikutinya.

“Ya, inilah tempat terbaik dari pantai ini,”sahutnya bersemangat. Aku yang berdiri tepat di sebelahnya masih belum mengerti maksud ucapannya. Baru saat aku ingin bertanya apa yang di maksud, seolah bisa membaca pikiranku, dia berkata ,”5 menit lagi.” Aku pun hanya diam saja berdiri di sebelahnya sementara ia terus melirik jam tangan hitam yang ia pakai di pergelangan tangan kirinya.

Aku pun akhirnya mengerti apa maksudnya setelahlimamenit hanya berdiri di atas batu yang cukup besar itu. Jadi ini maksudnya.

“Bagaimana? Indah,kan?”tanya padaku sambil tetap menatap lurus ke depan. “Hmm…,”jawabku kagum. “Jujur, ini adalah pertama kalinya aku melihat sunset. Dan aku merasa sangat senang. Gomawo Hae-ya,”jawabku sambil sesekali menoleh ke arahnya meskipun ia masih fokus pada fenomena sunset yang hanya berlangsung sangat singkat itu.

“Hmm.. Sudah selesai. Ayo turun. Hati-hati karena batunya cukup licin,” katanya memperingatkanku.

“Iya Hae-ya,”sahutku sambil membalikkan tubuhku dan mulai melangkahkan kakiku. “Aku tidak ap—AhH !!”teriakku karena aku nyaris terpeleset. Ternyata batu ini lebih licin dari pada yang aku duga.

“See? Sudah aku bilang hati-hati,”sahutnya dari arah belakangku karena ia memang masih berdiri disanasementara aku sudah mulai melangkahkan kakiku. Ia pun berjalan menghampiriku yang terdiam di situ, tidak berani untuk bergerak lagi. Ia menjulurkan tangannya. “Pegang tanganku. Aku tidak mau dimarahi orang tuamu jika kau patah tulang karena jatuh dari atas batu,”serunya meledekku.

“Huuh,”sahutku sebal tapi tetap memegang erat tangannya. Aku tidak mau meresikokan tubuhku untuk terpeleset beneran. Ia pun meraih tanganku dan mulai menuruni batu itu sementara aku berjalan dengan sangat-sangat hati-hati di sebelahnya. Ia pun hanya tersenyum kecil melihat tindakanku.

~~~~~

Aku menatap foto selanjutnya. Tanpa sadar air mataku mulai menetes membasahi pipiku saat aku menatap foto ini. Bogoshipo. Neomu bogoshipo. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu sekarang. Aku berharap bahwa kau masih berada di sampingku sekarang. Aku masih belum siap jika harus kehilangan dirimu. Tapi sesuatu yang bernama “takdir”lah yang mengatur ini semua. Aku memang harus menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa kau memang tidak bisa berada di dekatku selamanya. Sesuatu yang diberi nama “perpisahan”. Bukanlah perpisahan yang bersifat sementara, tapi selamanya. Aku pun kembali menghapus air mataku.

Aku sedang berada di ruang kelas kampusku saat aku mendengar ponselku berbunyi. Aku yang sedang sibuk menata kertas-kertas di mejaku pun membuka tasku dan mengeluarkan sebuah ponsel yang berbunyi nyaring.

“Yeoboseyo,”jawabku sambil tetap merapikan kertas-kertas itu.

“Ra-ya…,”jawab orang di seberangsana. Dia adalah ommaku. Tapi, mengapa suaranya terisak-isak seperti ini?

“Ne. Omma? Waeyo?”

“Jungsoo…Jungsoo…Dia…Dia..”ommaku berkata terputus-putus.

“Jungsoo oppa?Adaapa omma?”tanyaku panik. Aku mempunyai firasat buruk. Aku takut terjadi apa-apa dengannya.

“Dia ….Dia.. mengalami kecelakaan..,”omma berkata sambil tetap terisak-isak.

“mwo?MWO?”aku tidak mempercayai pendengaranku. Kalimat yang aku dengar ini sangat membuatku shock. Handphoneku langsung terjatuh dari tanganku.  Kertas-kertas yang aku genggam di tangan lainnya langsung jatuh bebas ke lantai. Donghae tiba-tiba membuka pintu kelas dan langsung masuk karena memang hanya aku seorang yang berada di kelas itu. Ia pun langsung shock melihat aku yang menatap kosong ke arahnya. Ia mendekatiku.

“Hae-ya, antar..antarkan aku ke rumah sakit XXX.Jebal Hae-ya,”sahutku sambil menatap kosong ke depan. Ia yang tidak mengerti apa-apa pun hanya menurutiku.

Sesampainya disana, aku pun langsung menghampiri omma yang terduduk lesu di ruang tunggu. Ia masih mengeluarkan air mata. Begitu pula denganku yang tidak sanggup menghentikan air mata yang terus mengalir ini. Donghae yang berada disanapun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ia tahu sangat tidak mungkin untuk membuat kami berdua tenang sementara orang yang kami sayangi berada di dalam ruangan bernuansa putih itu, bertarung antara hidup dan mati. Aku pun kembali teringat kenangan bersama orang bernama Jungsoo yang adalah oppa kandungku.

“Ya. Ra-ya, kau kenapa? Lesu sekali?”sahutnya saat ia masuk ke kamarku dan mendapatiku duduk di atas kursi meja belajar dan menatap kosong ke arah kasur.

          “Aku kesal,oppa. Appa tidak mau membelikanku ponsel. Padahalkan aku sudah berusia 12 tahun. Oppa……,”sahutku merajuk ke arahnya. Jungsoo oppa memang oppaku yang berusia 7 tahun lebih tua dari padaku. Tapi, meski begitu, ia sudah bisa membantu Appa menjalankan perusahaan dan ia pun juga menerima gaji atas upaya kerasnya. Ia memang membantu Appa, tapi ia juga tidak lupa akan urusan kuliahnya. Aku memang salut padanya. Sedangkan adikku Hye Sun hanya berbeda 1 tahun dariku, dan sifat kami berdua memang tidak jauh berbeda.

          

          “Ponsel?Untuk apa Ra-ya?”tanyanya padaku sambil duduk di atas kasur, menatapku.

 

          “Aku ingin punya ponsel juga. Sepeti yang oppa tahu, tentu saja akan lebih mudah bagiku untuk menelpon ke rumah bila aku memang harus ikut pelajaran tambahan di sekolah. Aku juga bisa menghubungi temanku dengan mudah. Oppa sendiri tahu kan bahwa temanku kebanyakan sudah punya ponsel,”sahutku dengan nada merayu.

 

          “Aku mengerti Ra-ya. Tapi menurutku, Appa melarang karena kau dirasa masih belum terlalu memerlukannya. Kau kan bisa memakai telepon rumah jika ingin menghubungi temanmu,”sahutnya bijak.

 

          “Tapi, oppa. Aku benar-benar ingin. Tapi Appa tidak memperbolehkannya,” kataku dengan nada sedih dan putus asa.

 

          “Kau benar-benar menginginkannya?”

          “Ne. Oppa.”

          “Ya, sudah nanti aku bicarakan dengan Appa. Kau sekarang tidurlah. Kau harus sekolah besok.”

          “Ne, Oppa.” Dia pun berjalan keluar kamarku dan mematikan lampu kamarku. Dalam hatiku, aku bersyukur memiliki sosok Oppa sepertinya yang sangat sabar dan perhatian pada aku dan Hyesun.

          Pada hari ulang tahunku pun, dialah yang memberikan kado terindah buatku. Dia membelikanku sesuatu yang sangat aku inginkan. Ia memberikanku sebuah handphone yang cukup bagus menurutku. 

          “Ya!Jungsoo-ya.. Kan sudah Appa bilang ia belum memerlukan ponsel itu. Lebih baik kau saja yang memakainya. Dia belum memerlukannya,”sahut Appa saat Appa tahu isi kado pemberiannya.  

          “Biarlah Appa. Aku memang ingin memberikannya sebagai kado ulangtahunnya,”katanya sambil melirik ke arahku.

          Gomawo Oppa. 

Air mataku semakin mengalir deras mengingat kenanganku tentangnya. Tuhan, aku belum siap kehilangan dia. Dia adalah sosok Oppa yang sangat baik untukku. Ah, kata baik tidak cukup untuk mendeskripsikannya. Tiba-tiba dokter keluar dari ruang Oppaku. Kami memang harus siap kehilangan dia.

Di hari pemakamannya, aku, Omma, Appa dan Hye Sun tidak henti-henti nya meneteskan air mata. Bahkan Omma sampai pingsan di depan makamnya.

Sekembalinya aku ke rumah setelah pemakaman, aku langsung masuk ke kamarku. Aku meraih sebuah kotak. Kotak itu berisi benda-benda yang sangat beharga bagiku. Sampai saat ini, hanya ada 2 benda di dalamnya. Buku cerita pemberiannya Jungsoo oppa untuk menggantikan bukuku yang basah karena jatuh ke genangan air. Aku memang sangat menyukai buku itu, makanya aku menangis saat buku itu basah dan robek. Dan jungsoo oppa pun rela mencari buku yang memang langka itu hanya untukku. Aku sungguh bahagia saat itu. Benda kedua tentu saja ponsel itu. Meskipun ponsel itu sudah rusak, aku memang tidak ingin memperbaikinya. Apalagi membuangnya. Karena , 5 hari setelah aku menerima kado itu, omma menghampiriku dan mengatakan bahwa sebenarnya kado itu ia beli dengan hasil kerja kerasnya. Gaji pertama yang ia dapat memang ia pakai untuk membeli ponsel itu. Dan ponsel itu ditunjukkan untukku. Aku pun menangis semakin jadi saat teringat momen-momen itu.

~~~~~~

Aku pun menyeka air mataku. Dan menatap halaman terakhir buku itu. tidak ada foto di situ. Aku memang tidak sanggup menempelkan foto di atas daun mapple itu. Itu adalah halaman memori tentangku dan Donghae.

“Ra-ya. Aku mengikuti audisi dan berhasil lolos.”

“wah, baguslah. Berarti sebentar lagi aku akan mempunyai sahabat seorang artis,”jawabku bangga. Dia memang memberitahukan kabar itu saat kami berada di café campus.

“Aku akan keSeouluntuk training 2 hari lagi,”sahutnya sambil mengaduk-aduk minumannya. Deg. Perasaan apa ini? mengapa sepertinya aku tidak rela melepasnya keSeouluntuk mengejar cita-citanya??

“Pergilah, Hae. Aku mendukungmu. Aku menunggu kabar debutmu,ya. Dan juga, selama menjadi trainee, kau jangan macam-macam ya. Kurangi sifat jahilmu itu. hahaha…”

“YA!! Apa maksudmu?”sahutnya geram sambil mendaratkan pukulan di kepalaku.

“Ya, sakit tau. Oke, aku ada kelas sekarang. Aku pergi dulu ya. Aku akan menemuimu di Airport lusa. Oke??

“Ne. Ya sudah, pergi ke kelasmusana. Atau kau mau dihukum?”

“Ne. Annyong Hae-ya. Kau pulang saja, kelasku baru akan berakhir 2 jam lagi.”

“Ra-ya , apakah kau demam? Biasanya pun kau akan memaksaku menunggumu walaupun kelasmu baru akan berakhir 3 jam lagi,”ledeknya.

“Ya, biasanya pun kau protes. Pulanglah, bereskan barang-barangmu. Apalagi lusa kau akan keSeoul. Banyak yang musti kau bawakan??”

“Ah, kau benar. Baiklah, pergilah ke kelasmu. Aku pulang dulu,”sahutnya dan meraih tasnya. Kami berjalan ke pintu café dan berpisah jalan disitu setelah mengucapkan “bye-bye”

Sejujurnya, aku berbohong padanya. Aku sebenarnya tidak ada kelas lagi hari itu. Aku tidak tahu. Aku benar-benar ingin menghindarinya hari itu. Begitu pula hari setelahnya. Alasanku simple saja. Aku berbohong padanya dengan menyuruhnya untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya karena ia akan pergi untuk waktu yang lama. Alasanku yang sejujurnya tentu saja untuk menghindarinya. Aku pun bingung mengapa aku berbuat demikian.

Ya, dia pergi. Aku ikut mengantarkan kepergiannya. Aku hadir di bandara. Aku melambai ke arahnya meskipun hatiku berteriak satu kata “Khajima”. Jangan pergi. Tapi tentu aku tidak mungkin mengatakan hal ini terus terang di depannya. Ia telah pergi. Pergi untuk mengejar cita-citanya. Namun, ia pun juga pergi membawa sesuatu yang invisible. Ia pergi juga membawa hatiku. Bodohnya, aku baru menyadari bahwa aku mencintainya. Bukan sebagai sahabat, melainkan sesuatu yang lebih dari itu.

Jujur, 1 minggu pertama tanpanya terasa sangat sulit bagiku. Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya dalam hari-hariku. Dan tentu, aku harus terbiasa untuk hidup tanpanya. Parahnya, sama sekali tidak ada kabar darinya. Mungkin memang ia terlalu sibuk dengan jadwal traineenya.

Aku pun kembali menyeka airmataku saat teringat tentang kepergiaannya. Ani, bukan hanya kepergiannya, tapi juga kepergiaan cintaku. Sesuatu yang tidak ia ketahui, dan parahnya, terlambat untuk kuketahui. Aku pun meraih sebuah pena dari mejaku. Dan menulis kata “PERPISAHAN” pada halaman terakhir buku itu. sungguh, aku tidak sanggup bila setiap membuka buku ini, harus terpampang fotonya di bandara waktu itu. aku memang masih mengharapkan ia berada di sisiku. Bukan lagi sebagai sahabat, sebagai orang yang kucintai tepatnya.

Aku pun menutup buku ini. buku ini cukup menguras emosi.Adakalanya aku tersenyum dan menangis setiap kali mengenang sesuatu yang tersirat dan tersembunyi di setiap foto itu.

Epilog

Aku sudah lulus kuliah dengan hasil yang cukup. Memang, aku tidak menjadi mahasiswa terbaik. Alasannya satu, aku kehilangan motivasiku. Motivasiku adalah orang yang sanggup membuatku seperti mayat hidup selama 1 minggu kepergiannya. Ya, bodoh memang. Tapi, yang aku lakukan memang hanya menangisi kebodohanku. 8 tahun telah berlalu sejak kejadian di bandara itu. Aku pun sudah bekerja sebagai reporter untuk sebuah majalah diSeoul. Sementara ia, sudah berhasil mencapai cita-citanya menjadi artist. Ia menjadi member sebuah boyband bernama Super Junior. Memang sukses yang mereka raih, tapi, jalan yang panjang harus mereka tempuh. Banyak rintangan yang menghadang grup beranggotakan 13 orang ini.

Aku hari ini berada di sebuah gedung megah SM Ent. Dan hari ini, aku ditugaskan untuk mewawancarai sebuah kpop grup. Tapi aku masih tidak tahu siapa grup yang akan diwawancarai ini. Sesuatu yang menarik menurutku. Hal ini termasuk baru bagiku karena aku biasanya ditugaskan untuk melakukan wawancara dengan orang-orang dalam bidang di luar entertainment. Sebenarnya tugas untuk meliput grup ini adalah tugas temanku, HyeRa. Tapi, ternyata ia tidak masuk hari ini, sementara sangat sulit untuk menjadwal ulang wawancara ini karena jadwal sibuk grup ini.

Aku pun masuk ke ruangan interview itu. Tampak member SHINee sudah berada disana. Aku pun mewawancarai mereka. Mereka tampak sangat menyenangkan dan ramah selama wawancara. Wawancara singkat itu berakhir dalam waktu 1 jam karena mereka ada jadwal lain. Kami pun bersiap keluar dari ruangan itu. Aku melirik ke arah jam tanganku. Ah, sudah jam makan siang. Aku pun memutuskan untuk segera keluar dari ruangan itu, ketika handphoneku berdering.

“Ra-ya, kau masih di SM?”

“Ya, sajangnim.Adaapa?”tanyaku pada bossku itu.

“Tunggu disana. Kau perlu mewawancarai 1 grup lagi. Mereka memang dijadwalkan untuk diwawancara minggu depan, tapi pihak manajemen meminta agar jadwalnya diubah. Mereka sedang dalam perjalanan. Kau tunggu saja di ruang interview itu.”

“Ne. “ aku menjawab dengan malas dan kembali menghidupkan lampu ruangan itu. aku pun duduk di kursi dan berpikir2 siapakah tamu selanjutnya. Aku pun menyiapkan daftar pertanyaan dan mengeluarkan note kecilku. Tapi sengaja, saat aku mengambil note itu, buku bersampul biru itu terjatuh dari tasku. Aku hanya tersenyum menatap buku ini dan menatap sekilas halaman utama buku ini. Namanya masih terpampang jelas pada cover page buku ini. Terlalu fokus pada buku ini, aku sampai tidak menyadari bahwa ada sekitar 10 orang lain yang ada di ruangan ini selain aku tentunya. Aku mendongakkan kepalaku ketika mendengar suara berisik yang berasal dari ruangan itu. Tuhan, terima kasih. Aku bisa menemuinya lagi. Aku mengenali sosoknya meskipun ia sedang membelakangiku. Begitu ia menoleh ke arahku, dia langsung menarik tanganku keluar dari ruangan itu. Member lain hanya menatap kami dengan pandangan heran. Aku pun menaruh buku biru yang tadi aku pegang di atas meja.

“Ra-ya. Neomu bogoshipo.”sahutnya menatapku dalam ketika kami sudah berada di luar ruangan.

“Nado,”jawabku sambil tersenyum.

“Ra-ya, tahukah kau bahwa meskipun sekarang aku tinggal bersama member lainnya, aku sangat merasa kesepian??”

“benarkah?bukankah itu tidak mungkin?”tanyaku asal.

“Aku serius. Karena aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu. Dan sekarang aku hidup tanpa kau ada di sampingku. Sungguh berbeda. Tapi, tanpa diduga, kau muncul lagi sekarang. Saranghae.”katanya sambil tetap menatap mataku.

“Mwo?”tanyaku tak percaya. “Apa kau serius?”

“Ne. Jebal, jangan kecewakan aku,” masih tanpa mengalihkan perhatiannya dari mataku.

“Nado Saranghae,”ada perasaaan lega yang muncul di hatiku. Kata yang selama ini ingin aku ucapkan akhirnya terucap di hadapannya.

“HMMMM………..”aku dan Donghae menoleh ke arah pintu ruangan yang berada di samping kami. Tampak member suju sedang berdiri menatap kami iri.

“Jungra Donghae chukhae.”sahut member kompak.

“Bagaimana kau tahu nama yeojachinguku?”tanya Donghae penasaran.

“Hmm..yang baru punya yeojachingu. Tak heran kau belum punya pacar sampai sekarang. Ternyata ada orang yang kau tunggu-tunggu. Dan mengenai nama yeoja manis ini, semua tertulis rapi di buku ini,”sahut Eunhyuk Oppa sambil mengacungkan buku biru yang kuletakkan di meja keatas. Aku pun malu dan menundukkan kepalaku. Sedangkan Donghae hanya tersenyum ke arahku dan memelukku.

Aku harap tidak akan ada lagi “PERPISAHAN” di antara kita.

-the end-

Author:Vivi_Elf

2 Comments (+add yours?)

  1. savacalosa
    Nov 08, 2015 @ 01:05:50

    tadinya ngirain perpisahan mereka gara-gara kenapa gitu, atau donghae-nya meninggal B”) untung akhirnya happy ending~

    nice ff, thor, keep writing ya!

    Reply

  2. uchie vitria
    Nov 09, 2015 @ 10:16:10

    agak gk ngeh tadi ama ceritanya
    jadi ini bukan kenangan buruk kan mereka hanya berpisah sementara aja karna karier masing”
    toh udah kembali lagi

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: