[Eunhyuk’s Day] Just Let Me Alone

Screen-Shot-2013-10-06-at-8.14.55-AM-694x450

 

Sendiri itu menyenangkan. Kau bisa pergi kemanapun yang kau mau. Kau bisa membuat jadwal selama 1 bulan penuh semaumu. Kau bisa berbuat apapun tanpa ada yang mengganggumu.

Karena itu aku suka kata itu. Sendiri.

Tidak ada yang melarangmu. Tidak ada yang mengacaukan jadwalmu. Bahkan tidak akan ada yang protes ketika kau mencukur semua rambut dari kepalamu.

Sayangnya kata itu hanya ada dalam angan-anganku.

Aku tidak pernah bisa sendirian dalam hidupku. Akan selalu ada keluarga, teman, guru, supir bis, siapapun dia, yang mengacaukan hidup yang sudah kuatur dengan rapi. Bahkan aku tidak bisa mendapatkan privasi dalam kamarku sendiri!

“Jane, sudah berapa kali kubilang ketuk pintu dulu sebelum masuk kamarku!”sergahku galak. Lagi-lagi Jane melakukannya. Dia saudara kembarku. Secara fisik kami sangat mirip. Rambut coklat kami, bentuk badan, bahkan keinginan. Untuk yang terakhir itu, Jane lebih sering mengikutiku.

“Memang kau sedang apa sih sampai aku tidak boleh tahu?” balasnya. Aku mendengus keras dan berbalik menghadap komputer, menyelesaikan tugas-tugasku.

“Hei, Julie, maukah kau menemaniku berbelanja? Aku butuh pakaian untuk ke pesta sabtu nanti.” pintanya. Biarpun fisik kami tidak memiliki perbedaan, tapi sifat kami sangat bertolak belakang.

“Kau kan masih punya banyak di lemarimu.”
jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputerku.

“Ah, itu sudah tidak bagus. I need something new!” ujarnya. Dia duduk diatas ranjangku dan menyilangkan lengan di depan dadanya.

“Tidak bisa, aku sibuk.”

“Come on Julie, please…”

“Tidak bisa. Tugas ini harus kuselesaikan hari ini!” Jane beringsut dari ranjang dan ikut melihat layar komputer dari balik punggungku.

“History? Bukannya ini masih dikumpulkan minggu depan?” ucapnya.

“Aku harus menyelesaikan semuanya hari ini, mengerti?” ucapku dingin, tepat di depan wajahnya. Dia berlari dan memanggil Mom. Aku tidak peduli, aku harus selesaikan tugas ini hari ini.

Aku bisa mendengar langkah kaki Mom di tangga. Dan suara pintu dibuka dibelakangku. Aku tidak menoleh, tidak ingin.

“Julie, bukankah adikmu memintamu mengantarnya?” tanya Mom halus. Dia membelai lembut punggungku. Tapi aku tahu, ini merupakan perintah. Dan akan ada perang dunia dalam rumah ini jika aku tidak menurutinya.

Jadi, aku menyimpan seluruh tugasku dalam soft drive lalu mematikan komputerku. Tanpa suara aku mengganti celanaku dengan celana jins dan sweater untuk menutupi t-shirt belel yang kupakai.

“Kau hanya memakai itu?” tanya Jane. Aku meliriknya.

“Kau mau kuantar atau tidak?” dia menyeringai lebar dan berlari ke kamarnya.

*

Kenapa sih perempuan selalu harus memakai pakaian baru saat pergi ke pesta? Padahal gaun pesta yang baru kau beli sebulan yang lalu, masih tergantung rapi di dalam lemari. Aku tidak pernah ke pesta, aku benci keramaian dan segala tetek bengek ritual jika kau akan pergi kesana.

Dan disinilah aku sekarang. Di sebuah butik, di mall terbesar dikotaku. Menunggu adikku menemukan gaun yang cocok untuknya.

“Menurutmu ini bagaimana?” tanyanya. Dia memakai gaun berwarna putih yang memperlihatkan punggungnya. Ini sudah gaun kelima yang dicobanya.

“Hm…”

“Ah, bagaimana?” tanyanya lagi.

“Yeah… Better.” dia tersenyum puas dan berbalik menuju kamar pas. Kesempatan itu akhirnya kugunakan untuk berjalan-jalan sendirian di dalam mall. Tidak ada yang kulakukan, hanya melihat-lihat sekelilingku.

“Hai Julie!” sapa seseorang dibelakangku. Aku menoleh, ternyata Spencer. Si cowok tukang ikut campur. Dia menyeringai lebar ketika melihatku. Dia mengganti tatanan rambutnya kurasa, karena poni ala Justin Bieber kini malah mencuat ke atas.

“Oh,hai.” balasku malas.

“Sendirian?” tanyanya lagi. Ya, sebelum aku bertemu denganmu!

“Tidak, aku bersama adik ku.”

“Oh, lalu mana dia?” kepalanya menoleh ke kiri dan kanan mencari Jane.

“Mencoba gaun pestanya di sana.” jawabku seraya menunjuk butik yang kutinggalkan barusan.

“Pesta?”

“Yeah, di rumah Andrew.”

“Ah… Si pengeran itu.” ucapnya, dia mengangguk-anggukan kepalanya seperti seorang detektif yang telah memecahkan sebuah kasus. Profil seorang cowok seumuranku dengan rambut dan mata berwarna coklat muncul. Tubuhnya jauh lebih tinggi dari Spencer dan dia punya banyak sekali otot yang selalu dia pamerkan pada setiap cewek di sekolah.

“Kau tidak ikut?” lanjutnya.

“Tidak, aku tidak suka keramaian.” jawabku, lalu melangkah pergi. Tapi sepertinya dia mengikutiku. Aku dapat mendengar langkahnya dibelakangku.

“Dan sepertinya kau sangat bosan berada disini. Ayo ikut aku!” ajaknya dari balik punggungku. Dia menarik tanganku lalu berlari menyusuri deretan toko dalam mall itu. Dia membawaku menuju tangga darurat dan berlari menaiki anak-anak tangga itu satu demi satu.

Kami terengah-engah ketika sampai di atap. Tapi tangannya tidak pernah lepas dari genggamanku.

“Apa yang kau lakukan!” harusnya ini merupakan pertanyaan, tapi bagiku lebih seperti pernyataan keras. Seolah-olah dia telah menculik ku.

“Aku hanya menolongmu.” jawabnya santai, seolah-olah apa yang dia lakukan ini benar.

“Menolong? Kau memang tukang ikut campur!” sungutku. Tapi dia hanya tersenyum dan menarik ku menuju ke tepi.

“Santailah sedikit. Kau tahu, kau terlihat sangat menyeramkan bila terus-terusan berekspresi seperti itu.” ucapnya. Dia menautkan kedua alis dan mengerucutkan bibirnya, membuatnya tampak seperti seekor monyet yang kelaparan.

“Ahahahaha….” tawaku meledak. Wajahnya benar-benar lucu!

“Hei, bagaimana jika kau terus seperti itu saat di sekolah nanti?”

*

Tidak ada berubah dengan diriku. Aku masih senang dengan kesendirianku. Hanya saja si cowok tukang ikut campur itu selalu berusaha masuk keduniaku.

“Kenapa sih kau selalu makan sendirian? Berbeda sekali dengan Jane. Lihat, mejanya penuh dengan teman-temannya.” ucapnya saat jam makan siang.

Aku selalu memilih meja paling pojok sehingga tidak akan ada yang menggangguku. Aku akan berada disana sendirian, kecuali jika semua meja terisi penuh dan tidak ada lagi tempat kosong selain mejaku. Orang-orang itu akan duduk bersamaku lalu makan dalam diam.

Aku tidak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Spencer. Tapi sepertinya diapun tidak lelah menunggu. Dia melahap burgernya sambil terus menatapku.

Aku menaruh garpuku. Aku tidak bisa meneruskan makan siang jika terus ditatap seperti itu.

“Aku tidak suka keramaian.” jawabku singkat. Dia merubah posisi tubuhnya. Tidak lagi menatapku. Aku mengambil garpuku dan mulai menghabiskan spaghetiku. Sebentar lagi waktu makan siang habis.

“Hm… Aku pun begitu.” aku mendelik tak percaya. Spencer cukup terkenal di kampus, hanya saja berbeda dari sang pangeran Andrew. Dia terkenal karena kekonyolannya. Dan aku sering melihatnya dikelilingi banyak sekali teman.

“Jika aku sedang sangat lelah dan ingin tidur.” lanjutnya, dia menyeringai lebar. Lebar sekali, sampai kau bisa melihat seluruh gusinya.

“Kita berbeda.” ucapku singkat. Mengelap mulutku, lalu pergi dari sana.

“Kau tidak bisa terus menanggung semuanya sendirian.” ucapnya.

*

Aku sangat suka malam hari. Orang-orang sudah berada di rumah mereka masing-masing, sehingga kau tidak lagi mendengar deru mobil yang dipacu dijalanan. Ayah dan ibuku sudah terlelap 1 jam yang lalu. Tapi aku masih bisa mendengar suara bisik-bisik Jane dari kamarku. Sepertinya Aiden menelponnya lagi. Yeah, cowok yang menyukainya dan cukup bodoh untuk diperdaya oleh Jane.

Aku membuka jendela kamarku. Udara dari luar segera menyeruak masuk. Aku tersenyum saat angin menerpa wajahku. Rasanya sangat menyegarkan.

“Ouch!” tiba-tiba ada kerikil yang mendarat mulus diatas kepalaku. Mataku mencari-cari siapa yang dengan tidak sopan melemparnya. Akhirnya aku menemukan sosok si pelempar. Dia mengangkat kedua tangannya dan melambai ke arahku. Spencer.

Aku mengambil jumperku dan segera berlari ke bawah. Oh aku lupa, aku bisa berlari tanpa suara.

“Apa yang kau lakukan disini!” desisku. Aku tidak ingin membuat orang-orang terbangun.

“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan.” jawabnya ringan.

“What!? Kau sudah gila!” ucapku. Aku berbalik dan akan kembali ke dalam ketika dia menarikku dan mencium bibirku. Aku mendorong dan menamparnya.

“Sialan kau!” setelahnya aku berlari kembali ke kamarku. Jane berdiri di ambang pintu kamarku.

“Kau tidak pernah bilang kau punya pacar.” ucapnya. Dia menyilangkan lengannya di depan dada dan bersender di pintu, sengaja menghalangi jalanku.

“Siapa dia?” tanyanya. Aku menariknya keluar dan segera mengunci pintu. Aku masih bisa mendengarnya memperingatkanku untuk berhati-hati dari balik pintu.

Spencer sialan!

*

Jane masih bertanya-tanya siapa yang menciumku semalam. Topi yang dipakai Spencer berhasil menutupi wajahnya, sehingga Jane menyebutnya pria misterius. Aku masih beruntung karena Jane berbaik hati tidak membocorkannya di rumah. Tapi, aku sudah dapat membayangkan yang terjadi nanti.

“Hai, Julie.” aku menutup pintu lokerku dan mendapatkan wajah Spencer disana. Tidak seperti biasanya, dia terlihat sangat lesu.

“I’m sorry.” ucapnya tanpa berani memandang wajahku. Dia terus memainkan ujung kemejanya.

“Untuk apa?”

“Karena kemarin aku telah mencium mu.” ucapnya. Aku segera membekap mulutnya. Tingginya 15 cm diatasku, sehingga aku harus menjulurkan lenganku.

“Jangan ungkit soal itu lagi, paham?” desisku. Ia mengangguk mengiyakan. Aku melengang pergi. Tidak akan kubiarkan ini terjadi untuk sekian kalinya padaku! Tidak akan!

*

Aku membolak-balik buku kimiaku. Mencoba mengerti rumus-rumus yang ada di dalam sana. Tapi percuma. Bagaimanapun aku berusaha, aku tetap tidak mengerti.

Aku mengalihkan pandanganku dari rumus-rumus itu. Langit terbentang luas diatasku. Semilir angin menerpa wajahku lembut. Aku memejamkan mata menikmati itu semua.

“Kau terbiasa tidur siang disini ya?” aku membuka mataku. Spencer telah disampingku. Dia menaruh tasnya dan bersandar pada batang pohon yang sama. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Lalu memasang earphone ditelinga kanannya, dan memasang satunya ditelinga kiriku.

“Kau pasti suka.” ucapnya lagi. Dia lalu menutup matanya.

Who Is dari Bruno Mars mengalun lembut ditelingaku. Dan tanpa sadar, perlahan aku menutup mataku dan bersandar di bahunya.

*

Aku tidak pernah tahu jika sebuah ciuman bisa mengikat seseorang lebih dari borgol. Kau tidak bisa pergi kemanapun, dan membuatmu ketergantungan.

Aku jadi ingat teman sekelasku Mary, dia sering sekali mencium pacarnya. Di loker, di lorong, di bawah pohon. Dan dia menangis keras saat pacarnya itu mencampakannya. Rasanya menjijikan jika kau harus melihatnya seperti itu.

Dan aku berusaha agar itu tidak terjadi padaku. Meskipun akhir-akhir ini sikapku melunak pada Spencer.

Dia tahu aku tidak suka keramaian, karena itu dia selalu menemaniku dalam diam. Dia juga tidak banyak bicara terhadapku akhir-akhir ini. Hanya tersenyum, dan kadang menggenggam tanganku.

Aku mendesah perlahan, berusaha mengeyahkan semuanya dari pikiranku. Tapi tidak bisa. Dia melekat erat dalam ingatanku.

“Julie…” panggil Jane. Dia melangkah masuk perlahan lalu duduk diatas ranjangku. Aku berbalik menghadapnya.

“Sepertinya aku tahu siapa cowok misterius itu.” ucapnya. Lalu dia tersenyum. Seharusnya, senyum itu menjadi senyumku juga. Namun saat itu, aku tidak bisa tersenyum sama sekali.

*

“Spencer, maukah kau menjelaskan padaku rumus ini. Aku tidak mengerti.” pinta Jane, pada saat aku dan Spencer sedang duduk-duduk di bawah pohon, dengan suara genitnya. Ugh, aku tidak suka mendengar suaraku sendiri dengan nada seperti itu. Tubuhnya merapat pada Spencer, sehingga membuat Spencer terjepit diantara kami berdua.

Teman-temannya mulai menyahuti kami dari jauh. Membuat wajahnya memerah saat dia menjelaskan rumus-rumus itu padanya.

Aku tahu, itu hanya alasan Jane saja. Karena sebelumnya, aku melihat dia dengan mudah memecahkan soal dengan rumus itu. Aku bangkit dan beranjak pergi. Sejak dulu jalanku cukup cepat, aku tidak pernah bisa berjalan santai.

“Kenapa kau pergi?” tanya Spencer. Aku nyaris sampai dikelas sebelum dia mengejarku.

“Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian.” jawabku dingin.

“Kau cemburu?”

“Tidak.”

“Kau cemburu.”

“Tidak sama sekali.” Spencer menggaruk belakang telinganya. Grogi.

“Aku tidak akan dekat-dekat gadis lain jika kau tidak suka.” katanya.

*

Butuh berapa lama bagimu untuk melupakan apa yang telah kau ucapkan? 1 menit? 5 menit?

Banyak sekali orang mengumbar janji tanpa tahu apakah bisa menepatinya atau tidak. Hari ini kau akan mengatakan A, sedangkan besok kau mengatakan sebaliknya. Aku tidak pernah sepenuhnya percaya pada orang, bahkan pada orang tua dan guruku.

Aku hendak menyimpan buku-bukuku di dalam loker ketika aku mendengar suara orang setengah berbisik dari lorong yang kulalui.

“I love you…” aku mengenal bisikan itu, itu Spencer. Jadi aku memutuskan untuk berjalan sedikit lagi. Ingin melihat pada siapa dia mengatakannya.

Dan aku melihat Jane disana. Dengan rambut coklatnya yang dikucir kuda, sweater merah marun, celana jins, dan sepatu kets. Aku nyaris merasa dirikulah yang berada disana.

“Buktikan.” ucap Jane. Spencer mencondongkan wajahnya dan menautkan bibirnya pada bibir Jane. Jane mendapatkan apa yang dia inginkan.

Entah kenapa aku merasa tenagaku dihisap saat melihat itu semua. Aku menjatuhkan buku-bukuku dan berlari. Saat itu, entah bagaimana caranya, aku lupa teknik berlari tanpa suara.

*

Aku berjalan dengan dagu terangkat saat masuk ke dalam kelas. Tidak akan kubiarkan mereka mengalahkanku. Aku tetap sendiri sampai makan siang. Kulihat Aiden di pojok kantin,di meja yang biasa kutempati, berusaha memasukan sandwich ke dalam mulutnya dengan malas-malasan. Sepertinya Jane memutuskannya semalam. Karena dia hampir tidak memiliki aura kehidupan lagi.

Nampaknya kantin bukan tempat yang tepat untukku saat ini. Jadi aku berbalik dan melangkah menuju tangga. Aku terus menaiki anak-anak tangga itu hingga tiba di atap. Langit biru seperti biasa, dan awan berarak-arak membentuk gambaran yang tidak jelas. Sewaktu kecil aku sering bertanya-tanya apa Tuhan yang membuat lukisan di langit seperti itu? Aku berjalan hampir ke tepi.

“Jangan melompat!” aku menoleh. Ternyata Spencer. Dia terlihat terengah-engah. Aku mengalihkan pandanganku lagi dan berjalan lebih ke tepi. Atap sekolahku tidak dikelilingi pagar. Dan membuatmu nampak seperti orang yang akan terjun jika berdiri di tepinya.

Namun kadang-kadang melihat semuanya dari atas sini lebih menyenangkan, daripada harus terus-terusan berada dibawah.

“Aku pikir Jane itu kau! Dia terlihat mirip sekali denganmu kemarin! Bahkan wanginya. Jadi kupikir itu kau!” dia berteriak. Namun aku tidak peduli. Aku terlalu sibuk memperhatikan tim football yang sedang berlatih dilapangan.

“Julie! Tatap aku!” teriaknya lagi dan tiba-tiba saja dia menarikku, menjauh dari tepi. Aku menepis tangannya.

“Apa yang kau lakukan!? Dari dulu sudah kubilang jangan pernah mendekatiku! Aku tidak mau melihat Jane merebut semua milikku!” semua kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa bisa kurem. Aku membekap mulutku sendiri. Rahasia yang begitu lama kusimpan, kini malah ditelanjangi oleh diriku sendiri.

“Jadi itu sebabnya kau selalu menutup dirimu dari teman-teman? Kau tidak ingin terluka?” aku tidak menjawab. Aku memalingkan wajahku darinya.

“Kau tidak tahukan rasanya terus-terusan harus mengalah. Menyerahkan semua milikmu hanya karena adikmu menginginkannya?” ucapku lirih. Mataku terasa panas. Apakah aku akan menangis?

Spencer melingkarkan lengannya di pinggangku. Dia mengecup puncak kepalaku.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya membuatmu percaya padaku. Hanya, ajari aku untuk mengenalimu. Bahkan saat mataku tidak bisa melihat, kupingku tidak bisa mendengar.” ucapnya ditelingaku. Entah mengapa aku mengangguk.

Dalam sekejap benteng yang kubangun mengelilingi diriku runtuh dihadapannya. Aku belajar darinya tentang kepercayaan. Aku belajar darinya tentang persahabatan. Aku belajar darinya tentang kasih sayang dan cinta.

Dan dia belajar dariku menikmati hidup dalam kesendirian.

***

-the end-

2 Comments (+add yours?)

  1. uchie vitria
    Nov 09, 2015 @ 09:53:35

    semoga spencer benar” menepati janjinya hanya untuk julie
    dan gk membiarkan dia sendirian
    udah keliatan kan kalo jane emang gk respect ama saudara kembarnya sendiri

    Reply

  2. Fanabiko
    Dec 09, 2015 @ 19:10:10

    Udah pernah baca ff ini berulang ulang dan tetep kesenengan waktu liat judulnya ada disini. Melting berkali kali><

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: