[Donghae’s Day] Shadow

140410-donghae-3

[Ficlet/G] Shadow
Author: Minhye_harmonic aka fie
Cast: Donghae, OC (Siwon as cameo)
Genre: Romance
Length: Ficlet
Rating: G
Warning: OC, AU
Disclaimer: Donghae and Siwon belong to themselves. I’m the owner of the plot!

A/N: Thx for my beloved sister: Hotaru Yuhime yang udah luangin waktunya buat ngoreksi diksi cerita saya yang sumpah ancur banget T^T… thx sista *hugkisshotaeonni*  .. thx for my sister-in-law: choi putriàkwon yoora 😄 😄 😄 yang udah mau sebagai pembaca pertama ff.saya.. dan mengoreksi typo 😄 😄.. *lempar kyuhyun ke putri*

Don’t be silent reader J

Be a good reader J

***
PAGI datang menjelang. Cahaya mentari membias masuk dari kaca jendela, namun terhalangi oleh tirai putih gading hingga hanya seberkas yang lolos; tepat
mengenai wajah pemuda yang tertidur di sana. Membangunkannya. Matanya perlahan
terbuka, lalu membelalak kaget kala mendapati sesosok gadis berbaring
disampingnya. Gadis itu balik menatapnya dan memberikan senyum cerah untuknya.
Sejenak sang pemuda nampak terkesima. Sedetik kemudian, raut wajahnya
berubah menjadi pilu.

“Donghae, bangun!” seru gadis itu riang sembari menarik-narik ujung selimutnya.
Entah sejak kapan gadis itu telah berada di luar area ranjang, tertawa-tawa kecil. Si pemuda―Lee Donghae―malah bergeming di ranjangnya. Sekilas ia menatap gadis
itu lalu dialihkan tatapannya ke langit-langit kamar, kemudian kembali diliriknya tempat
gadis itu tadi berada. Si gadis telah raib.

Donghae bangkit dari pembaringan. Lalu berjalan tersaruk-saruk menuju dapur setelah membasuh wajahnya di kamar mandi. Gadis itu kini berdiri di sebelahnya, terlihat geram karena melihatnya tengah merebus mie instan. Donghae hanya melirik sekilas, lalu menghiraukan gadis itu―lagi.
“Sudah kubilang, jangan terlalu sering makan mie instant!”

Begitu juga di saat Donghae tengah menyantap sarapannya. Jelas, gadis itu duduk di sana, di kursi seberang meja makan. Ekspresinya terlihat cemberut.
“Dengarkan istrimu bicara!”
Dan lagi-lagi Donghae mengacuhkannya. Walau dalam lubuk hatinya yang terdalam, Donghae ingin sekali memeluk dan mencium si gadis.
***
Dengan langkah tergesa, Donghae menyusuri tepi sungai Han. Dalam balutan dress putih selutut yang melambai ditiup angin, gadis itu masih setia mengikutinya. Secepat apa pun Donghae mengayunkan kaki, gadis itu selalu ada di
belakangnya―tak pernah tertinggal jauh.

Kelelahan. Itu yang dirasakan Donghae sekarang. Segera saja ia menduduki bangku taman terdekat yang ia temui―melepas penat seraya menyeka dahinya yang bercucuran peluh.

“Sungai yang indah.”
Dalam keadaan lelah fisik dan psikis, Donghae menoleh. Wajah ceria si gadis menyambut. Mata gadis itu menatap ke arah sungai, sedangkan jemarinya mengelus
kelopak mawar putih yang digenggamnya.
Berusaha keras―Donghae memejamkan mata erat, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Terlihat aneh bagi orang-orang yang kebetulan lewat dan melihatnya. Sayup-sayup terdengar suara tawa renyah dan bunyi kecipak air. Dikuatkannya batin untuk membuka mata. Bisa Donghae lihat. Sang gadis―istrinya―tengah bermain air dan
tertawa-tawa gembira.

“Donghae! Ayo main! Asyik lho!!”
Langsung saja Donghae meraih tas kerjanya dan pergi dari tempat itu. Ia tak tahan lagi.
***
“Ah, Donghae. Kau tidak pulang?” Tanya Siwon―rekan kerjanya―sewaktu melewati meja Donghae.
Donghae mengangkat wajahnya dari layar komputer dan menggeleng pelan.
“Ah?” Gelengan Donghae berhasil menorehkan tautan alis dan kernyitan dahi di wajah Siwon. “Kau tidak ingin menemui istrimu? Bukankah ini hari pernikahan
kalian?”
Donghae tersenyum miris. Ia hampir―atau memang sengaja, entahlah–melupakan hari ini. Dan ironisnya lagi, yang mengingatkan Donghae bukan istrinya, melainkan temannya.
“Kau tidak rindu padanya?”
Mungkin orang lain yang mendengar pasti mengira Siwon
tengah menggoda Donghae. Tetapi tidak–ekspresi wajah Siwon tidak menunjukkan bahwa ia
tengah menggoda rekan kerjanya itu.

Rasanya detik itu nafas Donghae sesak tiba-tiba.
***
Donghae keluar dari gedung tempatnya bekerja, dan gadis itu langsung menyambutnya riang. Dengan penampilan seperti biasa―dress putih selutut dan
bunga mawar putih di genggaman―ia terus mengikuti kemana pun Donghae melangkah. Terus. Terus. Terus. Dan terus. Tak peduli bagaimana Donghae selalu berusaha mengenyahkan
aura keberadaannya.

Kaki Donghae berhenti mengayun. Mata Donghae menangkap sosok gadis itu lagi, yang―entah bagaimana―kini tengah melambai dari dalam sebuah toko, menunjuk rangkaian mawar putih
dengan riang.
Dialihkannya pandangan ke samping.
“Donghae. Aku mau itu~” Rengekan itu terdengar jelas di gendang telinga Donghae. Mau tak mau Donghae
mengembalikan fokus pandangannya. Ternyata gadis itu sudah berdiri di
hadapannya, memasang wajah aegyo dan puppy eyes.
Tetap menghiraukan gadis itu, Donghae masuk ke dalam toko bunga. Membeli sebuket bunga yang ditunjuk istrinya tadi.
***
Kilat datang. Langit terbungkus awan hitam menggulung. Angin mendesah galau, melengkapi potret sore melankolis kota Seoul. Donghae turun dari taksi―ia tidak
membawa mobil karena tidak bisa menyetir. Ditutupnya pintu taksi tanpa melepas pandangan dari gerbang di hadapannya. Sebuah gerbang besar, suram; gerbang
pemakaman.

Berat. Langkah Donghae berat mengarungi jejeran nisan.
Udara menjadi sesak kala ia berhenti di depan sebuah nisan. Mata Donghae
memanas. Dengan gemetar diletakannya buket bunga itu―mawar putih. Donghae mencoba tersenyum
walau air matanya telah turun, bersamaan dengan tangisan langit yang seolah memahami
isi hati Donghae.

Bisa ditangkapnya―lagi―sosok istrinya yang terbalut dress selutut dan
mengenggam mawar putih. Ia berdiri di sebelah nisan, berhadapan dengannya. Tak ada satu titikpun air yang membasahi tubuhnya. Hati Donghae makin miris. Dia
mencoba menggapai tubuh istrinya, namun tangannya seakan mengibas hujan dan
udara di sekitarnya. Dia mengerang frustasi sewaktu sosok itu menghilang dalam
sekejap.

“SARANGHAE!!!!!!” Teriak Donghae disela suara gemuruh guntur.
“Nado, Donghae.”
Seketika Donghae membeku. Suara itu begitu jelas. Terlalu jelas.

*THE END*

1 Comment (+add yours?)

  1. savacalosa
    Nov 09, 2015 @ 00:08:41

    Yaduu… Kasian Donghae masih belum bisa lepas dari bayang-bayang istrinya. Anyway maksudnya yang terakhir itu apa? Masa’ istrinya bangkit lagi?/plak

    Nice ff thor! Keep writing ya ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: